The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Senyuman di Batas Senja ini adalah buku keempat sekaligus buku solo pertama saya yang merupakan rangkaian kisah percintaan selama kuliah. Buku ini dapat terangkai berkat cerita dari salah satu pembaca blog saya yang menjadi ujung tombak seluruh tulisan dalam buku ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hapsaripuspita9, 2021-07-21 11:05:59

Senyuman di Batas Senja

Senyuman di Batas Senja ini adalah buku keempat sekaligus buku solo pertama saya yang merupakan rangkaian kisah percintaan selama kuliah. Buku ini dapat terangkai berkat cerita dari salah satu pembaca blog saya yang menjadi ujung tombak seluruh tulisan dalam buku ini.

menatapku tapi, aku hanya tersenyum tipis
menanggapinya. Dia juga bertanya kenapa
penampilanku berbeda dan bodohnya aku
menimpali pertanyaan itu dengan bertanya
siapakah temannya yang mendadak viral.

_____ ... _____

Semester 4 adalah semester dimana aku
berusaha keras untuk move on. Semester dimana
aku harus berusaha keras menebus kesalahanku
disemester sebelumnya karena IPK turun drastis.
Tidak sedikit orang yang menganggap remeh hal
itu tapi, perjuanganku untuk bebas dari semua ini
tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku
selalu tidak bisa menahan jika air mata ini tiba-
tiba bertumpah ruah atau bayangan tentangnya
muncul seketika. Tapi, atas izin Allah
membawaku pada postingan-postingan
instagram Kang Abay. Aku pun terinspirasi
membeli salah satu novel beliau “Cinta dalam

Ikhlas” yang pada akhirnya memang berpengaruh

pada usahaku untuk move on.

Aku tidak pernah melupakannya, aku hanya belajar melepaskan dan
mengalihkan fokus saja. (CDH, 248)

Penggalan kalimat dalam novel itu sangat
membantuku kala hati ini terjebak masa lalu.
Walau pada akhirnya aku hanya berada
diperambangan move on tapi seketika semua
tentangnya sirna saat kehadiran dia yang
mendadak viral mewarnai hidupku. Tapi, aku
tidak sadar jika luka itu belum sembuh dan aku
terus menambah luka itu.

Aku “Kamu udah di Malang belum ?”

Dia “Belum cinta”
Dalam hati, apaan sih ngapain juga ada
emoticonnya gitu.

_____ ... _____

Dia sedang ada dikampung halamannya Kota
Industri yang ada diujung barat Indonesia. Saat
dia kembali ke Kota Malang aku menanyakan
perihal hal tersebut. Pesan beremoticon yang
tidak hanya typo karena pastinya mengandung
makna.

Dia “Iya, aku suka tapi aku gak mau pacaran aku maunya komitmen.”

Ingin rasanya aku menjerit dan berteriak
kencang. Tapi kini hadirnya dengan sejuta
harapan itu tepat kala hati ini patah karena salam
paham dan terjebak rasa. Aku pun mengiyakan
jawabannya. Namun, dalam hati kecilku berkata
lain.

“Pita, kamu udah hijrah tapi masih deket sama cowok ?”

“Pita, lihat penampilanmu sekarang. Tapi, kamu masih berani ketemuan
sama dia ?”

“Pita,kamu sering ikut kajian muslimah yang selalu mengingatkan jika cinta
sejati itu hanya cinta kepada Allah SWT tapi kamu akan mengulangi

kesalahan yang sama. Menjalin hubungan tak halal. Iya, kamu komitmen
tapi apa bedanya sama pacaran kalau yang dilakukan seperti itu ?”

Aku berkali-kali mengucap istigfar. Sebelum jauh
melangkah segera aku mengakhirinya. Tapi,
bodohnya aku berkata padanya bukan karena
alasan yang mencuat dihatiku. Aku malah
mengatakan semua kekurangannya dan
meragukannya. Bodohnya lagi, baru aku sadar
semua itu setelah aku menempuh kuliah kerja
nyata.

_____ ... _____

Udara siang hari menemaniku melihat bazar buku
disamping halaman rektorat. Salah satu deretan
buku mengingatkanku pada salah satu video clip
yang pernah menjadi status whatsappnya. Tanpa
aba-aba aku langsung membawa buku itu ke kasir
lalu membayarnya.

Tubuhku masih terasa lelah tapi, hatiku sangat
antusias untuk mengetahui apa sebenarnya isi
buku “Senja dan Pagi” yang ditulis oleh Allfy Rev

dan Linka Angelia. Mengetahui jika video clip itu
tersimpan diyoutube aku segera mencarinya.

Sejak saat itu tiada hari tanpa aku mengingatnya.
Hingga diklat salah satu organisasi mahasiswa
pun kembali mempertemukan kita. Aku yang
sempat meninggalkannya dengan begitu sadis
tapi, dia bisa menerima kehadiranku kembali.
Tapi, semua itu tidak bertahan lama. Semester
genap membuatku kembali mengalihkan fokus
juga bersama dengan diriku yang terus
menggoreskan luka semakin dalam pada hatiku
sendiri. Membuka hati untuk banyak orang yang
bisa jadi mereka hanya lalu lalang dihidupku.

Malam hening memecahkan pikiranku. Tiba-tiba
saja semua tentangnya terlintas jelas dipikiranku.
Awalnya aku mengabaikannya tapi kejadian itu
terus berulang setiap harinya. Sampai tiba

pembagian kelompok KKN aku menemukan
nomor kontaknya. Saat kucoba menyimpan
nomornya, ternyata status whatsappnya muncul
tentu saja hal itu membuatku terkejut dan
tertawa riang. Dengan malu-malu akhirnya aku
meninggalkan komentar disana. Betapa tidak
semakin girang saat dia dengan cepat membalas
pesanku. Aku akui memang, perasaan itu tumbuh
tapi tidak lama ia tertutupi kemilau kisah cinta
lokasi di KKN.

Anehnya, dari setiap peristiwa cinta yang kulalui
hatiku selalu berpihak lagi kepadanya. Seolah
hatiku terkunci kepadanya. Tapi, bagaimana
dengan rencanaNya jika ternyata aku tidak

berjodoh dengan Dia. Bukankah skrenarioNya

yang terindah lalu apa lagi yang masih
diresahkan.

Senyuman
dibatas
senja

Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi tapi, aku
sudah keluar kamar dengan rapi mengenakan
almamater serta sepatu fantofel.

“Lho, Mbak Pipit wes gawe almamater.” ucap ibu kepada
adikku yang masih duduk dikelas 4 Sekolah Dasar.

Betapa tidak bersyukurnya aku karena Allah telah
menjawab doaku agar aku bisa belajar di
universitas. Bahkan, masih terngiang dalam
benakku setahun yang lalu begitu menggerutunya
aku pada hidup. Aku sama sekali tidak punya arah
dan tujuan hidup. Tidak bisa melanjutkan
pendidikan diperguruan tinggi kala itu seakan
semua hidup dan mimpi-mimpiku terhenti.
Hingga akhirnya aku menemukan satu lirik lagu
yang begitu memotivasiku.

Bila dunia membuatmu kecewa
Karena semua cita-citamu tertunda
Percayalah segalanya telah diatur semesta
Agar kita mendapatkan yang terindah

(Adera, Catatan Kecil)

Dulu aku sangat sedih ketika melihat postingan
teman-temanku yang mengisahkan kehidupan
mereka saat kuliah. Jadi, aku putuskan untuk
tidak memposting apapun atau memberitahu
siapapun jika memang tidak mendesak tapi,
kalimat yang baru saja dikatakan ibu wakil rektor
3 membuatku mengurungkan semua itu.

“Saya memberitahu semua gelar yang saya miliki bukan untuk sombong.
Tapi, untuk memotivasi anda semua.”

Satu minggu sudah kulalui program pengenalan
pendidikan tinggi. Kini, tiba saatnya aku benar-
benar menjadi seorang mahasiswa. Begitu
bahagianya aku saat hari pertama kuliah sampai
semua anak dikelas aku ajak berkenalan satu
persatu tanpa ada rasa malu atau pun canggung.
Rasanya aku seperti kembali sekolah lagi.
Antusiasku pun begitu menggebu dihari pertama
kuliah ketika salah seorang dosen mengajukan
pertanyaan.

“Ada yang ingin ditanyakan ?”

Sontak aku mengangkat tangan dan beliau pun
memilihku sebagai penanya pertama. Entah apa
pertanyaan yang aku ajukan kala itu yang jelas
semua teman-teman kelasku menertawakannya.
Aku tak ambil pusing walaupun ditertawakan.
Mungkin karena aku diselimuti rasa bahagia yang
begitu tebal sehingga aku berfikir ya
Alhamdulillah bisa bikin orang ketawa.

Hari demi hari kulalui dengan penuh keceriaan
dan canda tawa. Namun, aku menyembunyikan
sesuatu dari itu. Aku tidak ingin teman-temanku
tahu dari jurusan apa aku saat SMK dulu. Hingga
pada akhirnya aku bersama dengan beberapa
teman menghadap dosen pembimbing akademik.

“Lho, dari SMK jurusan busana butik kenapa sekarang ambil program
studi PGSD ?”

“Disuruh orang tua pak.”

“Kok mau anda ?”

Aku hanya diam, tersenyum tipis dan berkata
dalam hati “hadewww”

____ … ____

Semester 1 adalah waktu dimana semangatku
begitu menggebu-gebu. Aku sangat antusias
belajar ini itu. Aku pun juga sangat tertarik
dengan berbagai kegiatan yang diadakan
organisasi mahasiswa dikampus. Pada akhirnya,
aku pun mengikuti dua organisasi mahasiswa
HMPS PGSD dan UKM Penalaran.

Semua dimulai ketika aku berada disemester 2.
Aku harus benar-benar memanajemen waktu
dengan baik walau hasilnya masih nihil. Betapa
riwehnya aku kala itu yang disibukkan dengan
tugas-tugas kuliah, kegiatan organisasi, dan aku
masih bekerja part time. Tapi sejauh itu aku
sangat menikmatinya. Aku masih bisa tersenyum
dan semangat menjalani hidup.

Hingga menjelang semester 3, aku dikejutkan
dengan sebuah kenyataan. Aku menjalin
hubungan dengan seseorang yang pada akhirnya
hanya menggoreskan luka dihatiku. Sampai aku
dipertemukan dengan seseorang yang Allah

kirimkan untuk menunjukkan hidayahNya.
Bagiku, semester 3 adalah semester paling fatal
dalam perjalananku selama kuliah karena begitu
mudahnya aku meninggalkan kewajibanku hanya
demi memikirkan seseorang yang sama sekali tak
mengharapkan aku ada dalam hidupnya. Tak
hanya itu, demi dia aku sudah meninggalkan
banyak orang terdekatku yang kehadirannya
lebih berharga dari dia yang hanya sekedar
singgah.

Walau aku harus menghadapi kenyataan dengan
IPK menurun drastis, mendengar banyak hujatan
“kamu sih cemburuan”

“Kamu sih terlalu over protective dia jadinya risih”

“Cuma gitu aja ngapain nangis”

“Udahlah gak usah baperan”

Please!  semua itu tidak akan memperbaiki
apapun, tidak bisa membuat dia kembali, juga
tidak bisa merubah IPK ku yang buruk menjadi
baik. Aku tahu aku salah, tapi bukan itu yang aku

inginkan. Semua komentar-komentar yang sama
sekali tidak membangun itu hanya keluar masuk
telingaku. Dan aku masih tetap setia dengan
untaian air mata yang masih saja mengalir.
Bayangan tentangnya masih sama hanya saja
situasinya kini berbeda. Semua itu sudah
menghilangkan keceriaan yang telah kubangun
selama ini. Memporak porandakan kehidupanku
tanpa kutahu bagaimana caranya memperbaiki.
Setiap kuceritakan pada temanku jawabannya
sama atau lebih tepatnya, aku sama sekali tidak
mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sampai
aku bertemu dengan ketua 3 Ledma Al Farabi.

“Mbak, gimana sih caranya move on ?”

“Kembalikan semua pada Allah dek.”

Seolah ada petir yang menyambarku.
Astagfirullahaladzim berkali-kali aku mengucap
istigfar. Diiringi linangan air mata aku pun
tersadar, selama ini aku sudah sangat jauh
dariNya. Disemester 4 aku kembali menata
hidupku, kehidupan yang sudah sangat jauh dari

Allah SWT. Dititik itu aku kembali memulai
perjalanan hijrah dalam hidupku. Memang tidak
mudah tapi, Allah selalu menunjukkan jalanNya.
Allah selalu menghadirkan orang-orang baik
entah seseorang dari masa lalu, orang-orang yang
hanya sepintas aku tahu bahkan orang-orang
yang sama sekali tidak aku kenal.

Termasuk pertemuan dengan salah seorang
pembaca setia blogku. Aku memang suka menulis
sejak masih SD namun, tulisanku hanya sekedar
diary atau curahan hati. Dan aku lebih mudah
menulis atau mengolah kata-kata ketika aku
dirundung pilu. Patah hati kala itu telah
mengantarkanku untuk kembali menulis diblog
yang sudah sangat lama vakum. Awalnya aku
hanya sekedar menulis untuk menumpahkan
seluruh isi hati tapi, tanpa kusangka begitu
banyak komentar positif dimana banyak pembaca
yang menyukai tulisanku. Aku pun semakin
bersemangat untuk menulis dan aku merubah

sedikit konsep diary yang hanya sekedar curahan
hati menjadi kisah motivasi.

“Kamu sudah lama ya nulis-nulis gitu, gimana sih caranya ?”

“Enggak, cuma diary aja. Tapi true story lho.”

“Tapi bagus lho, kapan-kapan kita kolab yuk.”

Obrolan singkat itu pun kini membawaku duduk
disebuah café dengan ditemani es krim oreo.
Senja kala itu membawaku bertemu dengan salah
seorang pembaca setia blogku. Waktu yang
seharusnya aku hadir diseminar proposal
sahabatku harus kurelakan untuk bertemu
dengannya. Dan itulah yang melandasi semua
tulisan dalam buku ini.

Sebenarnya sudah lama aku dan dia
merencanakan pertemuan ini, kupikir hanya
sekedar pertemuan biasa untuk kolaborasi karya
namun, betapa terkejutnya aku dengan semua
penjelasan runtut yang ia ceritakan.

Waktu SMA dulu aku kenal sama salah seorang
kakak tingkat. Meskipun aku malu-malu tapi, dia
sudah berhasil mencuri perhatianku. Hingga pada
akhirnya kita pun tergabung dalam satu organisasi
yang sama. Aku dan dia ditempatkan dalam satu
bidang yang sama saat ikut OSIS kala itu. Singkat
cerita, akhirnya kita menjalin hubungan karena,
tanpa aku sadari ternyata selama ini dia sudah
memperhatikanku dalam diam. Hari demi hari kita
lalui dengan sangat indah, setiap saat disekolah
selalu bersama, dia selalu mengantar jemputku
setiap hari, dan dia selalu tahu apa yang aku
butuhkan. Suatu ketika dia membelikan aku
sepatu olahraga karena dia tahu aku suka sekali
jogging. Itu hanya satu contoh kecil dan masih

banyak lagi kejutan-kejutan yang dia lakukan
untuk membuatku bahagia. Selama aku menjalin
hubungan dengannya, dia sama sekali tidak
pernah bercerita tentang ayahnya selalu ibu dan
adiknya yang ia ceritakan. Ternyata sejauh aku
menjalin hubungan dengannya, baru kutahu
bahwa ia adalah anak yatim yang sudah lama
ayahnya telah meninggal dunia. Tapi, bukan fakta
itu yang mengejutkanku, dia mengenalkanku pada
salah seorang perempuan cantik yang dikenalkan
sebagai saudaranya. Ya, aku memang percaya
bila itu saudaranya namun, kenapa hatiku seakan
pecah berkeping-keping ketika melihatnya
bersama dengan wanita lain. Aku mencoba berfikir
positif dan usahaku didukung oleh saudara

perempuannya. Ia menjelaskan siapakah laki-laki
yang kini tengah menjadi orang special dalam
hidupku, dia pun juga mendukung hubunganku
dengannya. Ternyata, masih ada lagi fakta yang
begitu mengejutkan. Aku melihat lagi, kini dia
bersama dengan wanita lain dan bukan saudara
perempuannya. Hatiku begitu terpukul kenapa dia
begitu tega melukai perasaanku. Kala itu aku
betul-betul marah padanya tapi, aku tidak mau
kehilangan dia sosok yang sudah lama menjadi
tambatan hati dalam hidupku. Namun, hubungan
kita kembali terbangun. Saudara perempuannya
telah membantuku untuk menjelaskan betapa aku
sangat mencintainya. Dia pun meminta maaf dan
dengan mudahnya aku memaafkan karena

memang kala itu aku sangat dibutakan oleh cinta.
Waktu terus bergulir, kini aku sudah menginjak
akhir masa sekolah dan dia pun tentu sudah
belajar diperguruan tinggi. Hingga suatu hari,
ketika dia datang kerumahku dan saat itu memang
kondisi rumahku sepi tak ada orang kecuali kita
berdua yang tengah memadu kasih. Dia
merenggut kesucianku tapi, aku tak bisa
menyalahkannya karena aku sendiri pun juga tak
bisa mengelak kemauannya karena begitu butanya
cinta. Kejadian itu tak sekali bahkan berkali-kali
terjadi hingga membuatku dan dia kecanduan.
Namun, lagi-lagi dia mengulangi kesalahan yang
sama. Dia menjalin hubungan dengan wanita lain
dibelakangku. Kejadian itu tepat ketika aku

menghadapi ujian akhir sekolah. Kini hubungan
kami benar-benar berakhir, dia lebih memilih
perempuan lain yang baru saja dikenalnya. Hatiku
tak hanya hancur bahkan remuk tak berbentuk.
Berhari-hari aku mencucurkan air mata, aku sama
sekali tak bisa berkonsentrasi dengan ujian akhir
sampai aku dinyatakan lulus dengan nilai yang
sangat minim. Aku sangat sedih tak hanya perkara
cinta tapi, penyesalan tiada akhir kepada orang
tuaku yang lebih menyayangiku daripada dia. Aku
tak bisa mempersembahkan hasil akhir yang
membanggakan kepada orang tuaku. Meski kedua
orang tuaku tak tahu bila anaknya telah ternodai
mereka sama sekali tidak marah dengan nilai
kelulusanku yang bisa dikatakan tidak bagus. Tapi,

entah kenapa aku tetap tidak bisa melupakannya.
Bukan karena kejadian fatal namun, karena begitu
banyaknya kenangan yang telah kita buat
bersama.

“Jadi, sekarang kamu masih ada hubungan sama dia ?”

“Hanya sekedar teman karena dia sudah memiliki kekasih
dan aku pun kini tengah dekat dengan seseorang.
Sebenarnya, aku juga takut dengan hubungan dekat ini. Aku
takut mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Tapi,
sejauh ini dia tidak pernah mengungkit masa laluku bahkan
dia bisa membuatku menjadi lebih baik.”

“Yaudah, hati-hati lho ya. Nanti kalau patimun gak selesai
skripsinya.”

“Patimun ?”

“Iya, patimun…. Patah hati gagal move on, wkwkwk.”

Kami pun tertawa bersama sembari menikmati
seduhan es krim oreo. Disela-sela canda tawaku
dan dia kala itu, aku melihat kearah barat.

Tepatnya, senja disore hari yang begitu indah.
Benar memang jika selama ini banyak sekali yang
mengidolakan senja bahkan, sobat haluku begitu
terobsesi dengan kata senja dan semesta.

Senja itu memang indah tapi, keindahannya
hanya sesaat. Begitu juga dengan cerita yang baru
saja diceritakan pembaca setia blogku ini.
Keindahan nafsu belaka yang berujung
kekecewaan. Melalui ceritanya seketika aku ingat
orang tuaku yang sangat over protective menjaga
pergaulanku bahkan, tak jarang aku kesal jika
harus diatur seperti ini dan itu. Sesuatu yang
menurutku sebuah penjara sesungguhnya adalah
penjagaan. Anak adalah amanah terbesar Allah
kepada umatNya. Dan orang tuaku selalu
berusaha keras menjaga amanah itu. Lalu
masihkah aku mengutarakan alasan untuk tidak
mensyukuri nikmatMu ?

Masih menikmati seduhan es krim oreo aku pun
tersadar, ternyata selama ini senja sudah
menghadirkan banyak kenangan dalam hidupku.

Selain mengingatkan pada Erlin sobat haluku,
senja juga mengingatkanku kala up-grading tahun
lalu.

“Itu lho dek, langitnya bagus ya.”

Aku pun tersenyum sambil memandangnya 

Manajemen
Hati

“Kalau gak mau dibuat sakit hati ya jangan
bikin sakit hati orang lain.”

Kalimat itu benar-benar membiusku untuk
mengingat semua kejadian yang telah lalu. Semua
memang berawal ketika aku tidak berusaha keras
menjaga hati. Aku membiarkan perasaan itu
tumbuh indah hingga berbuah dan berbunga.
Saat ia layu, aku malah menumpahkan air keruh
yang jelas hanya menambah kotor bukan
membersihkan tanaman layu itu.

Aku termenung dengan tubuh terlentang diatas
kasur sembari menatap langit-langit kamar.
Ternyata selama ini aku hanya menghabiskan
waktu kuliah untuk menjadi budak cinta. Aku

sangat malu kala banyak orang melihatku indah

padahal diri ini hanya tawanan dosa. Dimulai sejak

semester 3 kala aku mulai menjalin hubungan tak
halal dengan seseorang. Semester 4, 5, dan 6

menjadi saksi dimana aku masih belum berdamai
dengan luka hati kala itu. Berusaha keras aku
mengeja perasaan hingga muncullah sebuah
pertanyaan.

“Sebenarnya, siapa yang ada dihatimu. Kenapa

kamu selalu gagal, kamu selalu payah jika ada

didunia percintaan ?”

Hatiku berucap keras melantangkan kalimat itu.
Sejak itu pula, sepertinya hati ini mati rasa. Tak
ingin lagi aku merasakan cinta bahkan aku selalu
menjauhi apapun yang berhubungan dengan
cinta walau hanya sekedar quotes atau lagu.
Bukan, ternyata itu semua terjadi karena aku
jauh dariNya hingga aku tak tahu jika Dialah
pemilik skenario terindah. Tiga tahun silam, saat
aku resmi berstatus mahasiswa aku merancang
tujuan hidupku selama kuliah salah satunya, saat
wisuda nanti aku ingin sudah berstatus halal
dengan dia iya dia  yang namanya tertulis
dilauh mahfudz. Tapi, itu hanya rencanaku bukan

rencanaNya. Rasanya aku sudah mendahului dan
memaksakan takdirNya kala itu.

____ … ____

Pikiranku hanya terpusat pada satu orang. Dia
yang lahir dan besar dikota industri, ketika ia
berani mempercayakan hatinya padaku tapi aku
menerimanya kala luka itu belum sepenuhnya
sembuh. Aku pernah berbohong tentang
perasaan itu tapi, tidak ketika aku menceritakan
semua keindahan tentangnya. Rangkaian kata
pun tercipta dari sepenggal kisahku bersamanya.

Dengan penuh keceriaan kuabadikan momen indah kala itu. Tak
kusangka ternyata dirimu terekam dalam kamera androidku. Namun,
siapa sangka gadis yang berhasil mengabadikan momen itu harus
merasakan luka yang menyayat parah dihatinya hingga seseorang
berkata “biar lupa sama dia kamu harus menemukan orang baru”
tapi, aku salah mengartikan siapa orang baru itu walau pada
akhirnya aku simpulkan itu kamu. Apa perlu kujelaskan awal mula
kita bertemu hingga menjadi asing. Kurasa kau pun sudah tahu
jawabannya walau sesuai sudut argumenmu. Kau cukup tahu jika
ternyata kau tak hanya terperangkap dalam kamera androidku tapi

juga hidupku. Ragamu bisa kemana-mana tapi bagaimana bisa semua
tentangmu masih terukir indah ?

Saat hatiku kala itu terkuka kau hadir bagaikan jarum suntik yang
menawarkan kesembuhan namun, juga menusuk hingga relung hati
terdalam. Tapi, tenang saja kau tak bersalah aku saja yang rela
membiarkan raga ini tertsuk jarum suntik nan tajam meski pada
akhirnya aku sadar bila aku akan jatuh kelubang yang sama. Setelah
menusuk kalbu terdalam sepertinya jarum itu sudah patah karena ia
rela mengobati luka hati yang menjadi bumerang padanya. Untukmu
disana semoga Allah selalu melimpahkan berkah supaya kau terus
semangat menjalani kehidupan.

Naluriku terjebak khayalan dan fakta namun, aku masih belum bisa
mengikuti kepergianmu. Aku tahu aku salah tapi, apa aku tidak
berhak menentukan kemana aku bahagia. Sayangnya kebahagiaan
yang kupilih tak lagi berpihak. Kau pergi saat bumerang memainkan
perannya. Jika jarum jam berjalan mundur aku akan memilih waktu
dimana kita menjadi asing supaya kini tak ada lagi kata asing
diantara kita.

Tak ada lagi bunyi notifikasi khusus atau dering telfon yang
membuatku panik karena tak ada sehelai kain yang menutupi
kepalaku. Hanya lantunan melodi diiringi puisi yang menjadi candu

untuk menulis rangkaian kata ini. Sekali lagi jika jarum jam bisa
berjalan mundur saat ini kita akan tetap menjadi asing tapi sampai
kapanpun takkan ada rangkaian kata ini. Seperti yang pernah kau
katakan tak perlu orang lain cukup aku dan kamu yang menjadi
saksi cerita itu.

Sama halnya seperti kuliah, cinta juga mengajarkan banyak hal tapi
tak pernah ada dalam kurikulum sekolah. Tiba-tiba saja ia tumbuh
melangit tanpa suara hingga tak mampu dijelaskan oleh logika.
Membuatku tersesat diruang hampa, diapit dinding tebal tak
berkesudahan, diselimuti putus asa, dibalut kesendirian dan
mengobrak abrik kenangan penuh luka. Bebalnya aku masih
memberi ruang padanya membuat pikiranku gagal hingga setetes
luka menghujani rasa. Namun, berkat uluran tangan orang sekitar
aku bisa melesat tanpa penghalang. Aku beruntung bisa sampai
dititik ikhlas. Kurikulum yang tak pernah diajarkan sekolah selama
ini membuatku tersesat tapi, ia menawarkan pahitnya pelajaran dan
manisnya pengalaman.

Bagiku berada diusia kepala dua sudah bukan saatnya berpetualang.
Terutama pencarian tentang cinta. Kini aku pun tahu, cara
menunggumu dengan memperbaiki diriku, ikhlas dengan semua
ketetapanNya, mengosongkan hati untuk cintaNya dan percaya bila

suatu saat IA akan menghadirkan seseorang yang mencintaiku
sepenuh hatinya. Sungguh, aku tidak tahu dimana ujung perjalanan
ini tapi aku selalu menemukan alasan untuk berjuang salah satunya
menjadi skema kebahagiaan masa depanmu yang selalu dibahagiakan
oleh senyum manismu.

Mbak Mega “Jadi, masih mikirin yang ada dikota industri ?”

Aku “Kalau ingat pasti. Tapi, sekarang harus pinter-pinter

memanajemen hati. Suka dan berharap jadi pendamping hidupnya itu cuma
keinginanku bukan rencana terindahNya.”

_____ ... _____

Cahaya
mentari

Dulu, aku selalu berfikir jika cinta itu hanya
kepada lawan jenis. Seiring berjalannya waktu
banyak orang mengatakan jika cinta itu kepada
semua makhluk hidup didunia ini manusia,
hewan, tumbuhan bahkan pekerjaan atau benda
kesayangan. Tapi, juga pernah suatu hari
seseorang berkata padaku cinta sejati itu hanya

cinta kepada Allah.

Memang benar, cinta yang sesungguhnya
hanyalah cinta kepada Allah. Semua yang ada
didunia ini tidak pernah kekal bahkan orang tua,
keluarga, dan orang-orang terdekat yang selalu
ada untuk kita suatu saat juga akan meninggalkan
kita. Melalui semua ujian cinta Allah memberiku
jalan untuk semakin mengenalNya tepatnya Allah
menunjukkan jika cinta sejati hanyalah
kepadaNya. Karena, disetiap ujian cinta yang
kulalui Allah juga mengujiku dengan
menunjukkan siapa teman yang benar-benar
tulus atau sekedar modus. Allah juga

menunjukkan jika cinta keluarga terutama orang
tua diatas segalanya mewakili cinta Allah seperti
yang sering kita dengar ridho orang tua adalah
ridho Allah SWT.

Saat pertama kali aku merasakan luka hati yang
begitu dalam, orang tuaku selalu memberikan
kejutan tanpa aku minta. Begitu juga dengan
keluarga dan
teman-temanku.
Dua tahun yang
lalu, saat kelasku
meraih juara 2
lomba flashmop
aku sangat
bahagia seketika itu pula aku lupa jika hatiku kala
itu tengah patah.

Tak hanya itu, selalu saja aku bisa mendapat
asupan kebahagiaan dari setiap orang-orang yang
aku temui. Mereka seolah cahaya matahari yang
selalu menyinari bumi tapi sinar padanya tak
pernah padam. Mereka selalu bisa menebarkan

kebahagiaan tapi kebahagiaan dalam dirinya tak
pernah sirna. Sepertinya, sebelum diri ini
menyandang gelar sebagai seorang ibu dan istri
itulah yang harus aku pelajari bagaimana menjadi
cahaya matahari untuk orang lain.

You are my sunshine

Alumni Skavela Tata Busana 2016

Peduli Jilbab Regional Malang

Mungkin ada beberapa tempat yang menjadi
sumber luka hati itu tapi, sebagian besar dari
mereka mengajarkanku banyak hal tentang
kehidupan. Tak jarang juga aku sering membaca
pengalaman dari kehidupan mereka yang kulihat.
Setiap aku tahu bagaimana kisah hidup mereka
aku selalu bisa bersyukur dan seolah menjadi self
reminder bagiku. Salah satu cerita yang
membuatku bersyukur, aku pernah bertanya
pada salah satu teman KKN sejak kapan ibunya
jadi guru. Dia pun bercerita jika sejak kecil ibunya
lebih sibuk dengan urusannya mendidik anak
bangsa walau ia tinggal tak jauh dari orang tua
tapi dia merasa kesepian karena tak merasakan
sepenuhnya sosok ibu hadir didekatnya.
Pikiranku pun melayang mengenang cerita ibuku
kala itu yang rela melepas jabatannya sebagai
guru bahkan membiarkan ijazah kuliahnya
tergeletak begitu saja didalam lemari agar bisa
mendidikku sepenuhnya. Dulu aku sangat jengkel
jika dilarang pergi main dan ibu selalu
overprotective saat aku keluar rumah. Sekesal itu,

hingga sempat berfikir kenapa sih aku gak bisa
seperti anak-anak lain yang bebas kesana kemari
mau apa-apa izinnya harus detail ada temen yang
datang kerumah pun kadang ibu tidak langsung
percaya jika mereka benar-benar anak baik.

Jawabannya kutemukan setelah aku bertemu
dengan orang-orang dilingkaran matahari itu.
Dari cerita mereka yang kehilangan
keperawanan, orang tua yang sangat sibuk
dengan pekerjaannya, Ya Allah maafkan aku
selama ini sering lalai mengucapkan syukur
kepadaMu.

charger
iman

Mendengar kata muslimah sangat indah tapi
bagiku menjadi seorang muslimah tidaklah
mudah. Persoalan terbesar yang kualami ada
dalam dunia percintaan dimana aku harus jatuh
bangun membangun rasa yang tak jarang hati ini
sering dibutakan olehnya. Menjaga ikhtilat, tidak
berkhalwat, menjaga iffah dan izzah, juga
menjaga pandangan adalah beberapa contoh
kegiatan yang mudah diucapkan tapi bagiku
cukup sulit dilakukan. Dengan bergabung menjadi
anggota Peduli Jilbab, Mahasiswi Tanpa Pacaran
dan Sisterlillah menjadi salah satu caraku untuk
semakin dekat kepada Allah SWT dengan ini juga
menjadi salah satu caraku mengupgrade iman
dan perlahan-lahan bisa menjauhi hal-hal yang
membuatku jatuh pada cinta yang semu.

Buku menjadi salah satu temanku bercerita baik
saat hatiku patah atau tengah terbuai bahagia.
Aku suka sekali membaca buku-buku self
improving bertema muslimah atau islami. Dari
buku-buku itu tak jarang aku menemukan banyak

motivasi dan yang selalu kucari adalah motivasi
bagaimana seorang muslimah bisa menjaga hati
dari cinta yang tak pasti.

Kini, aku tak lagi diresahkan dengan cinta.
Mengapa aku harus resah jika cinta sejati itu
sudah pasti bahkan sebelum aku lahir kedunia
Allah begitu menyanyangi lebih dari apapun
dengan merancang setiap skenario terindah bagi
hambaNya. Membuatku semakin mengenalnya
dengan mendatangkan banyak orang-orang baik
disekelilingku. Allah selalu menegurku dengan
cara terhalusnya, melalui serpihan-serpihan hati
yang patah Allah menyulap semua itu menjadi
kisah yang penuh pengajaran untukku. Pernah
suatu waktu aku sangat sedih karena begitu
merindukan dia yang tinggal dikota industri. Tak
kuasa aku menahan air mata dihadapan banyak
orang, seketika itu juga aku pergi ke mushollah
mengambil air wudhu lalu membentangkan
sajadah kehadapan kiblat. Lantunan doa dan
uraian air mata tak berhenti mengalir hingga tiba

suara adzan isya’. Selesai sholat isya’
pandanganku dialihkan pada seorang nenek yang
duduk dibelakangku sedari tadi. Dengan kaki
terseok dan tangan memegang dinding ia
berusaha berjalan keluar mushollah. Betapa
lemahnya diri ini, aku memiliki fisik yang
sempurna dan sehat tapi hanya persoalan cinta
semu tak jarang aku meninggalkan rabbku
padahal, orang lain dengan fisik yang bisa
dibilang tak sempurna masih berusaha datang
kemushollah hanya untuk memenuhi
panggilanNya. Tapi, aku tidak bisa sepenuhnya
menyalahkan rindu yang tak tertahan ini. Melalui
keresahan rindu itu Allah membuka mata hatiku
untuk melihat sekitar dengan menunjukkan
seseorang yang secara fisik berada dibawahku
namun imanku jauh dari padanya.

Selalu ada takdir indah yang Allah hadirkan untuk belajar pada kehidupan.
~Pitadiarist

Rencana Allah memang yang terindah. Kini, aku
sudah ada disemester 7 dan sebentar lagi
gerbang kelulusan telah nampak jelas didepan

mata. Bagaimana nanti kehidupanku setelah lulus
mungkin jika Allah tidak menimpahkan ujian
percintaan yang begitu rumit aku masih saja
terjebak disana. Allah punya rencana terbaik agar
aku bisa fokus dengan tugas akhir dan mengejar
mimpi-mimpiku yang tertunda. Lalu apakah aku
akan menjadi muslimah seutuhnya yang bebas
dari dosa?

Tentu tidak  aku hanyalah manusia biasa
tempatnya salah dan khilaf. Dengan kalimat itu
bukan berarti aku berharap kelak melakukan
kesalahan tapi, sebuah perjalanan pasti
mengalami jatuh bangun. Namanya juga
perjalanan gak akan mungkin selalu lurus
kalaupun jalannya lurus belum tentu mulus pasti
ada yang namanya lubang, tikungan,
perempatan, lampu merah, bahkan bisa ditilang.
Ujian akan terus datang dan aku percaya ujian
percintaan ini masih akan berlanjut dengan bab
nya masing-masing. Bedanya, kini aku tak lagi
fokus mencari cinta tapi memperbaiki diri agar

ditemukan oleh cinta sejati. Perasaan sesak
didada saat jauh darinya, rindu tak
berkesudahan, hingga takut kehilangan kini tak
lagi kurasakan meskipun aku masih menyimpan
namanya (kota industri). Bukankah jodoh adalah
cerminan diri, kalau kita sudah memperbaiki diri

dihadapan Allah maka tidak akan ada alasan bagi Allah

Bisauntuk tidak memberikan kita jodoh yang terbaik.

saja Allah mempertemukan jodoh kita didunia
untuk semakin memudahkan ibadah kita karena
menikah adalah melengkapi separuh agama nah,
separuhnya lagi dimana ada didalam diri kita
sendiri. Tapi, jika kematian yang menjemput kita
lebih dulu berarti Allah ingin kita bertemu
langsung denganNya sang pemilik cinta sejati.

Keep your heart and keep improving your self because of Allah SWT
~Pitadiarist

epilog

Epilog
Aku, kok jadi males ya sama sesuatu yang
berhubungan dengan cinta

Dokter Cinta “Gak boleh gitu pus, hidup itu harus seimbang.

Ibaratnya kamu kuliah, kalau kamu fokus kuliah kamu gak punya
pengalaman organisasi softskillmu bisa aja gak terasah. Tapi, kalau kamu
organisasi aja juga gak bagus bisa-bisa tujuan utamamu buat kuliah jadi
keteteran. Sama kayak kita hidup kalau kamu gak pernah lewati suka duka
tentang cinta kamu bisa bingung nanti kalau udah nikah.”

Aku “Tapi, jadi males aja gitu. Kayak gak pingin buka hati mau fokus aja

kuliah semester akhir terus ngejar karir.”

Dokter Cinta “Pelan-pelan aja pasti nanti sembuh, masa iya kamu

nanti gak mau nikah?”

_____ ... _____

Mentari mulai menenggelamkan sinarnya. Senja
kembali menjadi saksi pulihnya hati ini. Terima
kasih Ya Allah melalui perjalanan cinta yang
penuh luka Kau mengajariku banyak hal. Aku
percaya skenarioMu yang terindah tapi jika
ditanya tentang jodoh dan pernikahan hanya

Dia yang menjadi opsi jawabannya.

tentang
penulis




Click to View FlipBook Version