MODUL TUGAS UTS
PKN
Disusun oleh :
Ukhtiana Nur Arba’i Choirunnisa
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun E-
Modul ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam E-Modul
ini kami akan membahas mengenai “Pendidikan Kewarganegaraan”.
E-Modul ini telah dibuat dengan sumber dan beberapa pihak untuk membantu
menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan E-Modul ini. Oleh
karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan E-Modul ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada E-Modul ini. Oleh
karena itu kami meminta pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang
dapat membangun harapan kami untuk penyempurnakan E-Modul selanjutnya.
Akhir kata semoga E-Modul ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
I
DAFTAR ISI
COVER TUGAS UTS ......................................................................................
KATA PENGANTAR ...................................................................................... I
DAFTAR ISI ..................................................................................................... II
BAB 1 ............................................................................................................... 1-9
A. KAJIAN TEORITIS PENTINGNYA PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN ...... 1-5
B. KAJIAN HISTORIS PENTINGNYA PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN ...... 6-7
C. KAJIAN YURIDIS PENTINGNYA PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN ........ 8-9
BAB II ............................................................................................................... 10-17
A. SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN .............. 10-13
B. PENTINGNYA PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA ........................ 13-16
C. HUBUNGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DENGAN PPBN .............. 16-17
BAB III ............................................................................................................. 18-24
A. PENGERTIAN MENGENAI NEGARA........................................................................ 18
B. PENGERTIAN BANGSA ............................................................................................. 18-19
C. SIFAT NEGARA ........................................................................................................... 19
D. FUNGSI NEGARA ....................................................................................................... 19-20
E. ARTI WARGANEGARA .............................................................................................. 20-21
F. PROSES BERBANGSA DAN BERNEGARA ............................................................. 21-24
BAB IV ............................................................................................................. 25-38
A. ZAMAN PRASEJARAH ............................................................................................... 25-29
B. ZAMAN HINDU/BUDHA ............................................................................................ 30-31
C. KEDATANGAN ISLAM .............................................................................................. 31-33
D. PENJAJAHAN BANGSA EROPA ............................................................................... 33-35
E. PERUMUSAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA ..................................... 35-38
BAB V .............................................................................................................. 39-46
A. PENGERTIAN FILSAFAT ........................................................................................... 39
B. PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT ............................................................ 39-41
C. PENGERTIAN SISTEM ............................................................................................... 41
D. PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT ............................................................ 41-43
E. PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI ........................................................................... 43-46
II
BAB VI ............................................................................................................. 47-57
A. HAK ASASI MANUSIA ............................................................................................... 47-50
B. HAK DAN KEWAJIBAN WARGANEGARA INDONESIA ..................................... 51-55
C. KEWAJIBAN WARGANEGARA INDONESIA ......................................................... 55
D. PERBEDAAN PENERAPAN HAK ASASI MANUSIA DI NEGARA LAIN ............ 55-57
KISI-KISI UTS ................................................................................................. 58-80
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 81-83
III
BAB 1
PENTINGNYA PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
A. Kajian Teoritis Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan ( Civic Education ) merupakan salah
satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “Value-bazed education”
(Sunarso, dkk, 2006: 1)
Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan menurut Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No.22 Tahun 2006 tentang Standar isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menegah adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada
pembentukan karakter warga negara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untukl menjadi warga Negara
Indoensia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh
Pancasila dan UUD 1945.
Secara konseptual Pendidikan Kewarganegaraan diartikan sebagai penyiapan
generasi muda (Siswa/i) untuk menjadi warga Negara yang memiliki
pengetahuan, kecakapan dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi
aktif dalam masyarakat (Samsuri, 2011: 28). Selanjutnya, Nu’man Sumantri
mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian Pkn, yaitu program
pendidikan yang berintikan demokrasi politik, yang dapat diperluas dengan
sumber-sumber pengetahuan lainnya, Positive Influence pendidikan sekolah,
masyarakat, orang tua, yang kesemuanya itu diproses untuk melatih pelajar-
pelajar berpikir kritis, analitis, dan bertindak demokratis dalam mempersiapkan
hidup demokrasi dengan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 (Cholisin,
2000: 1.8).
Pada intinya Pendidikan Kewarganegaraan adalah suatu mata pelajaran yang
berisi pendidikan politik, yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan
lainnya.
1
2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
Tujuan dari Pendidikan Kewarganegaraan diatur dalam Lampiran
Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah. Tujuannya adalah agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut.
1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu
kewarganegaraan
2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak
secara cerdasdalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara, serta anti-korupsi
3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkankarakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia
secara langsungatau tidak langsung dengan memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi.
Sementara itu, Ahmad Sanusi mengemukakan konsep-konsep pokok yang
lazimnya merupakan tujuan Civic Education padaumumnya adalah sebagai
berikut( Cholisin (2000: 1.17).
1) Kehidupan kita di dalam jaminan-jamnan konstitusi.
2) Pembinaan bangsa menurut syarat-syarat konstitusi.
3) Kesadaran warga negara melalui pendidikan dan komunikasi
politik.
4) Pendidikan untuk (ke arah) warga negara yang betanggung jawab.
5) Latihan-latihan berdemokrasi.
6) Turut serta secara aktif dalam urusan-urusan politik.
7) Sekolah sebagai laboratorium demokrasi.
8) Prosedur dalam pengambilan keputusan.
9) Latihan-latihan kepemimpinan.
10) Pengawasan demokrasi terhadap lembaga-lembaga eksekutif
dan legislatif.
11) Menumbuhkan pengertian dan kerja sama internasional.
Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulannya dan
keterkaitannya satu sama lain dari tujuan PKn itu sendiri yaitu untuk
membentuk warga negara yang baik tentunya warga negara yang baik di
sini yang memahami dan mampu melaksanakan peranannya sebagai
warga negara untuk ikut serta membangun negara yang demokratis,
berkemanusiaan dan berkeadilan sosial atau yang dalam istilah reformasi adalah
warga negara yang mampu ikut serta dalam membangun masyarakat madani
2
(civil society) sebagai karakter masyarakat Indonesia baru yang berpedoman
dengan Pancasiladan UUD 1945.
3. Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan
Menyimak tujuan PKn di atas, dapat diketahui bahwa PKn memiliki
tiga fungsi pokok yakni sebagai wahana pengembangan warga negara
yang demokratis yaitu berfungsi mengembangkan kecerdasan warga
negara (civic intellegence), berfungsi dalam membina warga negara
yang memliki sikap tanggung jawab (civic responsibility) serta berfungsi
dalam mendorong warga negara untuk berpaeran serta dengan terlibat
aktif dalam berbagai kegiatan (civic participation).
4. Ruang Lingkup
Cakupan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang digagas dalam
satuan kurikulum nasional dalam lampiran Permendiknas No. 22 tahun
2006 meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1) Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam
perbedaan, Cintalingkungan, Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia,
Sumpah Pemuda, KeutuhanNegara Kesatuan Republik Indonesia,
Partisipasi dalam pembelaan Negara, Sikap positif terhadap Negara
Kesatuan Republik Indonesia, Keterbukaan dan jaminan keadilan
2) Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan
keluarga, Tatatertib di sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat,
Peraturan-peraturan daerah,Norma-norma dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara, Sistem hukum danperadilan nasional, Hukum dan
peradilan internasional.
3) Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, Hak dan
kewajiban anggotamasyarakat, Instrumen nasional dan internasional
HAM, Pemajuan, penghormatandan perlindungan HAM.
4) Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong royong, Harga diri
sebagaiwarga masyarakat, Kebebasan berorganisasi, Kemerdekaan
mengeluarkanpendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri,
Persamaan kedudukanwarga Negara.
5) Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi
yang pertama,Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di
Indonesia, Hubungan dasarnegara dengan konstitusi.
3
6) Kekuasan dan Politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan,
Pemerintahandaerah dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan
sistem politik,Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat
madani, Sistem pemerintahan,Pers dalam masyarakat demokrasi.
7) Pancasila, meliputi: kedudukan Pancasilasebagai dasar negara dan
ideologi negara,Proses perumusan Pancasilasebagai dasar negara,
Pengamalan nilai-nilaiPancasiladalam kehidupan sehari-hari,
Pancasilasebagai ideologi terbuka.
8) Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri
Indonesiadi era globalisasi, Dampak globalisasi, Hubungan
internasional dan organisasiinternasional, dan Mengevaluasi
globalisasi.
Dari pemaparan di atas dapat dikemukakan bahwa ruang lingkup PKn
tidak hanya memuat aspek kognitif semata, tetapi juga memuat aspek afektif
dan psikomotorik. Materi pokok PKn selalu berkaitan dengan nilai-nilai dasar
sebagai syarat untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang dicita-
citakan, yang menyadari akan hak dan kewajiban sebagai warga negara
yang demokratis.
Misalnya ideologi, hak-hak asasi manusia, hak dan kewajiban warga negara,
proses pemerintahan sendiri, nilai-nilai masa lampau yang dianggap luhur
dan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk mempersiapkan warga negara
untuk masa depan. Dan nilai-nilai dasar itu dikembangkan dari tingkat
individual, keluarga, lokal, regional, nasional sampai internasional.
Kesemuanya ini tidak hanya melibatkan substansi pengetahuan semata,
tetapi keterampilan dan karakter kewarganegaraan juga diikutsertakan.
5. Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan
Menyimak tujuan PKn di atas, dapat diketahui bahwa PKn memiliki
tiga fungsi pokok yakni sebagai wahana pengembangan warga negara
yang demokratis yaitu berfungsi mengembangkan kecerdasan warga
negara (civic intellegence), berfungsi dalam membina warga negara
yang memliki sikap tanggung jawab (civic responsibility) serta berfungsi
dalam mendorong warga negara untuk berpaeran serta dengan terlibat
aktif dalam berbagai kegiatan (civic participation).
4
Tiga kompetensi warga negara tersebut dianggap sejalan dengan tiga
komponen pendidikan kewarganegaran yaitu pengetahuan
kewarganegaraan (civic knowledge), ketrampilan kewarganegaraan (civic skill),
dan karakter kewarganegaraan (civic disposition) (Winarno, 2013: 19).
Uraian tersebut menggambarkan bahwa PKn memiliki fungsi sebagai
wahana dalam membina warga negara yang mampu memiliki tanggung
jawab, partisipasi aktif dan cerdas dalam memberikan kritik dan masukan
pada para penyelenggara negara sebagai upaya membangun kontrol sehingga
ada keseimbangan.
6. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan diartikan sebagai mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan
mampu melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya untuk menjadi
warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang
diamanatkan oleh Pancasiladan UUD 1945.
Kecenderungan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang hanya
berorientasi pada pemahaman tentang civic knowledge yang sebatas
mengajarkan konsep-konsep ilmuan Pendidikan Kewarganegaraan yang
sifatnya hafalan. Oleh karena itu, orientasi pada civic knowledge harus
dilanjutkan pada pengembangan sub ranah civic skills sebab pada dasarnya
civic skills siswa tidak dapat dipisahkan dengan civic knowledge. Ada
asumsi bahwa dengan mengembangkan pemahaman civic knowledge, maka
pengembangan civic skills akan berkembang juga, namun tidak
demikian termasuk juga dalam pengembangan pemahaman civic
disposition(Winarno, 2013: 166).
Dalam mengembangkan ketiga komponen Pendidikan Kewarganegaraan
tersebut diperlukan desain pembelajaran khusus yang di dalamnya tetap
memperhatikan ranah kognitif, psikomotorik dan efektif. Secara umum
desain pembelajaran tersebut memuat :
a. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai;
b. Merumuskan materi Pendidikan Kewarganegaraan yang nantinya
akan dijadikan bahan belajar;
c. Merumuskan model sekaligus didalamnya metode pembelajaran
yang sesuai;
d. Mengembangkan media pembelajaran yang sesuaidengan karakteristik
materi dan mengarah pada pencapaian tujuan; dan
5
e. Mengembangkan alat evaluasi yang mampu mengembangkan civic
skills dan civic disposition (Winarno, 2013: 167-168).
B. Kajian Historis Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
Secara historis, pendidikan kewarganegaraan dalam arti substansi telah dimulai
jauh sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka.
PKn pada saat permulaan atau awal kemerdekaan lebih banyak dilakukan pada
tataran sosial kultural dan dilakukan oleh para pemimpin negara bangsa. Dalam
pidato-pidatonya, para pemimpin mengajak seluruh rakyat untuk mencintai
tanah air dan bangsa Indonesia. Seluruh pemimpin bangsa membakar semangat
rakyat untuk mengusir penjajah yang hendak kembali menguasai dan
menduduki Indonesia yang telah dinyatakan merdeka. Pidato-pidato dan
ceramah-ceramah yang dilakukan oleh para pejuang, serta kyai-kyai di pondok
pesantren yang mengajak umat berjuang mempertahankan tanah air merupakan
PKn dalam dimensi sosial kultural.
Contohnya seperti bagaimana upaya bung tomo membentuk pemahaman bangsa
indonesia yang sebelumnya terpecah-pecah yang kemudian pada tanggal 28
Oktober dinyatatakan sebagai Sumpah Pemuda. Saat spanyol, portugis masuk
ke dalam bangsa indonesia sudah dihadang oleh pahlawan-pahlawan kita yang
gagah berani dan kaum wanita karena mereka memiliki kesadaran untuk
melakukan pembelaan pada tanah airnya.
Pada masa awal Orde Lama sekitar tahun 1957, isi mata pelajaran PKn
membahas cara pemerolehan dan kehilangan kewarganegaraan, sedangkan
dalam Civics (1961) lebih banyak membahas tentang sejarah Kebangkitan
Nasional, UUD, pidato-pidato politik kenegaraan yang terutama diarahkan
untuk "nation and character building” bangsa Indonesia.
Pada awal pemerintahan Orde Baru, Kurikulum sekolah yang berlaku
dinamakan Kurikulum 1968. Dalam kurikulum tersebut di dalamnya tercantum
mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara. Dalam mata pelajaran tersebut
materi maupun metode yang bersifat indoktrinatif dihilangkan dan diubah
dengan materi dan metode pembelajaran baru yang dikelompokkan menjadi
Kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila.
Dalam Kurikulum 1968 untuk jenjang SMA, mata pelajaran Pendidikan
Kewargaan Negara termasuk dalam kelompok pembina Jiwa Pancasila bersama
Pendidikan Agama, bahasa Indonesia dan Pendidikan Olah Raga. Mata
pelajaran Kewargaan Negara di SMA berintikan: (1) Pancasila dan UUD 1945;
6
(2) Ketetapan-ketetapan MPRS 1966 dan selanjutnya; dan (3) Pengetahuan
umum tentang PBB.
Dalam Kurikulum 1968, mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran wajib
untuk SMA. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan
korelasi, artinya mata pelajaran PKn dikorelasikan dengan mata pelajaran lain,
seperti Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, Hak Asasi Manusia, dan
Ekonomi, sehingga mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara menjadi
lebih hidup, menantang, dan bermakna.
Kurikulum Sekolah tahun l968 akhirnya mengalami perubahan menjadi
Kurikulum Sekolah Tahun 1975. Nama mata pelajaran pun berubah menjadi
Pendidikan Moral Pancasila dengan kajian materi secara khusus yakni
menyangkut Pancasila dan UUD 1945 yang dipisahkan dari mata pelajaran
sejarah, ilmu bumi, dan ekonomi. Hal-hal yang menyangkut Pancasila dan UUD
1945 berdiri sendiri dengan nama Pendidikan Moral Pancasila (PMP),
sedangkan gabungan mata pelajaran Sejarah, Ilmu Bumi dan Ekonomi menjadi
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (lPS).
Sesuai dengan perkembangan iptek dan tuntutan serta kebutuhan masyarakat,
kurikulum sekolah mengalami perubahan menjadi Kurikulum 1994. Selanjutnya
nama mata pelajaran PMP pun mengalami perubahan menjadi Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang terutama didasarkan pada
ketentuan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pada ayat 2 undang undang tersebut dikemukakan bahwa isi kurikulum setiap
jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat: (1) Pendidikan Pancasila; (2)
Pendidikan Agama; dan (3) Pendidikan Kewarganegaraan.
Pasca Orde Baru sampai saat ini, nama mata pelajaran pendidikan
kewarganegaraan kembali mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat
diidentifikasi dari dokumen mata pelajaran PKn (2006) menjadi mata pelajaran
PPKn (2013).
Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa secara historis, PKn di Indonesia
senantiasa mengalami perubahan baik istilah maupun substansi sesuai dengan
perkembangan peraturan perundangan, iptek, perubahan masyarakat, dan
tantangan global. Secara sosiologis, PKn Indonesia sudah sewajarnya
mengalami perubahan mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat. Secara
politis, PKn Indonesia akan terus mengalami perubahan sejalan dengan
perubahan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, terutama perubahan
konstitusi.
7
C. Kajian Yuridis Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
Secara yuridis, keberadaan Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi
cukup kuat, dan sebagai mata kuliah yang wajib diikutioleh seluruh mahasiswa.
Hal itu tampak jelas dalam pasal 37 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sesuai dengan tuntutan dan perubahan
masyarakat di era reformasi, mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di
Perguruan Tinggi, telah dilakukan perubahan paradigma menuju kepada
paradigma humanistik yang mendasarkan pada asumsi bahwa mahasiswa adalah
manusia yang mempunyai potensi dan karakteristik yang berbeda-beda.
Pendahuluan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal
37 menyatakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat tentang
Pendidikan Kewarganegaraan yang bertujuan untuk membentuk peserta didik
menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaandan cinta tanah air.
Dengan telah dituangkannya Pendidikan Kewarganegaraan dalam Undang-
undang Sistem Pendidikan Nasional, ini berarti bahwa pendidikan
kewarganegaraan memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam
pembentukan nation and character building. Namun demikian, dalam
pelaksanaannya ia sangat rentan terhadap bias politik praktis penguasa,
sehingga cenderung lebih merupakan instrumen penguasa daripada sebagai
wahana pembentukan watak bangsa.
Substitusi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan untuk menemukan format
baru pendidikan demokrasi di Indonesia sekaligus mengantisipasi tuntutan
global. Globalisasi ditandai oleh kuatnya pengaruh lembaga-lembaga
kemasyarakatan internasional dan juga pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
8
RANGKUMAN
A. Kajian Teoritis pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
No.22 Tahun 2006 tentang Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menegah adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan karakter
warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan
kewajibannya untukl menjadi warga Negara Indoensia yang cerdas, terampil
dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Tujuannya
untuk membela Bangsa dan Negara.
B. Kajian Historis pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
Secara historis, pendidikan kewarganegaraan dalam arti substansi telah dimulai
jauh sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka. PKn pada
saat permulaan atau awal kemerdekaan lebih banyak dilakukan pada tataran
sosial kultural dan dilakukan oleh para pemimpin negara bangsa.
C. Kajian Yuridis pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan berada dalam UU No.20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
9
BAB II
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
DAN HUBUNGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
DENGAN PPBN
A. Sejarah Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan
Sejarah Pendidikan Kewarganegaraan (Civics Education) di dunia
diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 1790 di Amerika Serikat.
Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (civics education) agar penduduk
Amerika Serikat yang memiliki keragaman suku bangsa yang berasal dari
banyak negara di dunia yang datang ke Amerika. Diharapkan dengan “Civics”
akan memiliki satu indentitas sebagai bangsa Amerika. Di Indonesia, pelajaran
civics telah ada sejak zaman Hindia Belanda dengan nama “Burgerkunde”.
Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan resmi masuk dalam kurikulum
sekolah di Indonesia pada tahun 1968. Saat terjadi pergantian tahun ajaran yang
awalnya Januari – Desember dan diubah menjadi Juli – Juni pada tahun 1975,
nama pendidikan kewarganegaraan diubah oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Indonesia menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Nama mata
pelajaran PMP diubah lagi pada tahun 1994 menjadi Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn).
Pada saat itu, mata pelajaran Civics atau kewarganegaraan, pada dasarnya
berisikan pengalaman belajar yang digali dan dipilih dari disiplin ilmu sejarah,
geografi, ekonomi, dan politik, pidato-pidato presiden, deklarasi hak asasi
manusia, dan pengetahuan tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa (Somantri,
1969:7). Istilah Civics tersebut secara formal tidak dijumpai dalam Kurikulum
tahun 1957 maupun dalam Kurikulum tahun 1946. Namun secara materiil
dalam Kurikulum SMP dan SMA tahun 1957 terdapat mata pelajaran tata
negara dan tata hukum, dan dalam kurikulum 1946 terdapat mata pelajaran
pengetahuan umum yang di dalamnya memasukkan pengetahuan mengenai
pemerintahan. Mata pelajaran PMP ini terus dipertahankan baik istilah maupun
isinya sampai dengan berlakunya Kurikulum 1984 yang pada dasarnya
merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975 (Depdikbud: 1975 a, b, c dan
1976).
10
Dengan diberlakukannya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20
tahun 2003, diberlakukan kurikulum yang dikenal dengan nama Kurikulum
berbasis Kompetensi tahun 2004 dimana Pendidikan Kewarganegaraan berubah
nama menjadi Kewarganegaraan. Tahun 2006 namanya berubah kembali
menjadi Pendidikan Kewarganegaraan, dimana secara substansi tidak terdapat
perubahan yang berarti, hanya kewenangan pengembangan kurikulum yang
diserahkan pada masing-masing satuan pendidikan, maka kurikulum tahun 2006
ini dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
1. Perkembangan di Indonesia
✓ Sebelum Proklamasi Kemerdekaan
Pada jaman Hindia Belanda di kenal dengan nama “Burgerkunde”. Pada waktu
itu ada 2 buku resmi yang digunakan, yaitu :
a. Indische Burerschapkunde, yang di bicarakan dalam buku tersebut,
masalah masyarakat pribumi. Pengaruh barat, bidang sosial,
ekonomi, hukum, ketatanegaraan dan kebudayaan, masalah
pertanian, masalah perburuhan. Kaum menengah dalam industri dan
perdagangan, terbentuknya dewan rakyat, masalah pendidikan,
kesehatan masyarakat, pajak, tentara dan angkatan laut.
b. Rech en Plich (Bambang Daroeso, 1986: 8-9) karangan J.B.
Vortman yang dibicarakan dalam buku tersebut yaitu : Badan
pribadi yang mengutarakan masyarakat dimana kita hidup, obyek
hukum dimana dib icarakan eigondom eropah dan hak-hak atas
tanah. Masalah kedaulatan raja terhadap kewajiban-kewajiban warga
negara dalam perinta Hindia Belanda. Masalah Undang-Undang,
sejarah alat pembayaran dan kesejahteraaan.
Adapun tujuan dari buku tersebut, yakni: agar rakyat jajahan lebih memahami
hak dan kewajibannya terhadap pemerintah Hindia Belanda, sehingga
diharapkan tidak menganggap pemerintah belanda sebagai musuh tetapi justru
memberikan dukungan dengan penuh kesadaran dalam jangka waktu yang
panjang.
Pada tahun 1932 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan yang
disetujui Volksraad, bahwa setiap guru harus memiliki izin. Dalam
pertimbangannya adalah banyak guru sekolah partikelir bukanlah lulusan
sekolah guru, dan yang berhak mengajar hanyalah lulusan sekolah guru.
Sedangkan lewat pendidikan non-formal terutama dilakukan oleh para tokoh
pergerakan nasional yakni bung Karno dan Bung Hatta. Pelaksanaan pendidikan
politik baik yang dilakukan oleh guru-guru sekolah partikelir maupun yang
11
dilakukan para tokoh pergerakan nasional, pada prinsipnya dapat di nyatakan
sebagai “cikal bakal” pendidikan politik atau PKn di Jaman Indonesia merdeka.
✓ Sesudah Proklamasi kemerdekaan
Gambaran Nu’man Somantri (1976: 34-35), yakni :
a. Kewarganegaraan (1957)
Isi pelajaran kewarganegaraan adalah membahas cara memperoleh dan
kehilangan kewarganegaraan.
b. Civics (1961)
Isi civics banyak membahas tentang sejarah kebangkitan nasional . Uud, pidato-
pidato politik kenegaraan yang terutama diarahkan untuk “nation and character
building” Bangsa Indonesia seperti pada waktu pelaksanaan civics di America
pada tahun-tahun setelah declaration of Independence Amerika.
c. Pendidikan Kewargaan Negara (1968)
Diberlakukannya kurikulum 1975, PKn pada prinsipnya merupakan unsur dari
PMP. Lahirnya UU no.2 Tahun 1989 tentang SPN (Sistem Pendidikan
Nasional). menunjuk pasal 39 ayat 2, yang menentukan bahwa PKn bersama
dengan pendidikan Pancasila dan Pendidikan Agama harus di muat dalam
kurikulum semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan maka PKn akan
mengalami perkembangan lagi.
Menurut ali emran (1976: 4) isi PKn meliputi :
• Untuk SD : pengetahuan Kewargaan negara, sejarah Indonesia, ilmu
Bumi.
• Untuk SMP : Sejarah kebangsaan, kejadian setelah kemerdekaan, UUD
1945, Pancasila, Ketetapan MPRs.
• Untuk SMA : Uraian pasal-pasal dari UUD 1945 yang dihubungkan
dengan tatanegara, sejarah, ilmu bumi dan ekonomi.
Tahun 1970 PKn difusikan ke dalam mata pelajaran IPS. Tahun 1972, dalam
seminar di Tawangmangu Surakarta, menetapkan istlah ilmu kewargaan Negara
(IKN) sebagai pengganti CIVICS, dan pendidikan Kewargaan Negara (PKn)
sebagai istilah civic Education. Dengan demikian, IKN lebih bersifat teoritis
dan PKn lebih bersifat praktis antara keduanya merupakan kesatuan tak
terpisahkan, karna perkembangan PKn sangat tergantung pada perkembangan
IKN.
12
d. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Menurut Kurikulum
1994.
Kurikulum 1994 mengintegraiskan antara pengajaran Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan dengan nama mata pelajaran PPKn.
2. Perkembangan PKN Pada Masa Transisi Demokrasi
Perkembangan PKn pada era Orde Baru, ternyata lebih ditentukan faktor
kepentingan untuk membangun negara (state Building) ketimbang untuk
membangun bangsa (Nation Building). Hal tersebut di sebabkan karena:
• Kemerosotan nilai estetika dan moral para penyelenggara negara yang
sudah kehilangan semangat pengabdian, pengorbanan kejujuran dan
keikhlasan.
• Hukum lebih merupakan alat kekuasaan dari pada alat keadiland an
kebenaran.
• Fandalisme, paternalisme dan absolutisme
• Posisi dan peran ABRI lebih merupakan alat kekuasaan dari pada alat
negara untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat
.
Kondisi di atas berpengaruh pada perubahan kurikulum PPKn dan pelaksanaan
pengajarannya di lapangan yang lebih menekankan untuk mendukung status
quo atau legitimasi dan pembenaran (justifikasi) berbagai kebijakan rezim orba
dari pada untuk meningkatkan pemberdayaan warga Negara dalam
berhubungan dengan negara. Dalam era reformasi, tantangan PPKn semakin
berat. Masalah substansinya, karena tidak memberikan gambaran yang tepat
tentang nilai Pancasila sebagai satu kesatuan. Dengan adanya perubahan UU
No. 2 tahun 1989 yang diubah dengan UU No. 2 tahun 2003 tidak dieksplisitkan
lagi nama pendidikan Pancasila, sehingga tinggal Pendidikan Kewarganegaraan.
Begitu pula kurikulum 2004 memperkenalkan istilah Pengganti PPKn dengan
kewarganegaraan/pendidikan kewarganegaraan. Perubahan nama ini juga
diikuti dengan perubahan isi PKn yang lebih memperjelas akar keilmuan yakni
politik, hukum dan moral.
B. Pentingnya Pendidikan Pendahuluan Bela Negara
Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) adalah pendidikan dasar bela
negara guna menumbuhkan kecintaan kepada tanah air, kesadaran berbangsa
dan bernegara Indonesia, keyakinan akan kebenaran Pancasila sebagai ideologi
negara ( Nasionalisme ), kerelaan berkorban untuk negara, serta memberikan
awal bela negara.
Bela Negara adalah tekad, sikap dan tindakan yang teratur, menyeluruh, terpadu
dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa
13
dan bernegara Indonesia serta keyakinan akan kebenaran Pancasila sebagai
ideologi negara dan kerelaan berkorban guna meniadakan setiap ancaman, baik
dari luar maupun dari dalam negeri, yang membahayakan kemerdekaan dan
kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa, keutuhan wilayah dan
yurisdiksi nasional serta nilai – nilai Pancasila dan Undang – Undang Dasar
1945.
Nasionalisme adalah “suatu kondisi pikiran, perasaan atau keyakinan
sekelompok manusia pada suatu wilayah geografis tertentu, yang berbicara
dalam bahasa yang sama, memiliki kesusasteraan yang mencerminkan aspirasi
bangsanya, terlekat pada adat dan tradisi bersama, memuja pahlawan mereka
sendiri dan dalam kasus-kasus tertentu menganut keyakinan yang sama”.
Sering dikatakan bahwa semangat nasionalisme dan patriotisme, khususnya di
kalangan generasi muda Indonesia telah memudar. Beberapa indikasinya adalah
munculnya semangat kedaerahan seiring dengan diberlakukannya otonomi
daerah, ketidakpedulian terhadap bendera dan lagu kebangsaan, kurangnya
apresiasi terhadap kebudayaan dan kesenian daerah, konflik antar etnis yang
mengakibatkan pertumpahan darah.
Memudarnya nasionalisme dan patriotisme mungkin juga disebabkan oleh
tiadanya penghayatan atas arti perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Sedikit
sekali kelompok masyarakat yang merayakan hari Kemerdekaan dengan acara
syukuran dan do’a bersama mengingat jasa para pahlawan yang telah
mengorbankan nyawa mereka untuk mencapai kemerdekaan ini.
Demikian pula Sumpah Pemuda, yang sebenarnya adalah modal awal persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia jauh sebelum kemerdekaan, kini seolah hanya
merupakan pelajaran sejarah yang tidak pernah dihayati dan diamalkan.
Munculnya gerakan separatisme dan konflik antar etnis membuktikan tidak
adanya kesadaran bahwa kita adalah satu tanah air, satu bangsa, dan satu
bahasa.
Harus diakui bahwa ada faktor-faktor politis, ekonomi dan psikologis yang
menyebabkan gerakan-gerakan separatis maupun konflik antar etnis itu,
misalnya masalah ketidakadilan sosial dan ekonomi, persaingan antar kelompok
dan sebagainya. Kurang tanggapnya pemerintah baik di pusat maupun daerah
untuk mengantisipasi atau segera menangani berbagai permasalahan itu
menyebabkan tereskalasinya suatu masalah kecil menjadi konflik yang
berkepanjangan. Tujuan PPBN adalah mewujudkan warga negara Indonesia
yang memiliki tekad, sikap dan tindakan yang teratur, menyeluruh, terpadu dan
berlanjut guna meniadakan setiap ancaman baik dari dalam maupun dari luar
negeri yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan
14
persatuan bangsa, keutuhan wilayah dan yuridiksi nasional serta nilai-nilai
Pancasila dan UUD 1945.
Melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara, pemerintah berharap warga
negara Indonesia dapat mengerti, menghayati dan sadar serta yakin untuk
menunaikan kewajibannya dalam upaya bela negara, dengan ciri-ciri:
1) Cinta Tanah Air
Cinta tanah air ialah mengenal dan mencintai wilayah Indonesia hingga selalu
waspada dan siap membela tanah air Indonesia terhadap segala bentuk
ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang dapat membahayakan
kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia oleh siapapun dan dari
manapun.
2) Sadar berbangsa Indonesia
Maksud dari sadar berbangsa Indonesia, selalu membina kerukunan, persatuan,
dan kesatuan di lingkungan keluarga, pemukiman, pendidikan, dan pekerjaan
serta mencintai budaya bangsa dan selalu mengutamakan kepentingan bangsa di
atas kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan.
3) Sadar bernegara Indonesia
Sadar bernegara Indonesa yaitu sadar bahwa bertanah air, bernegara dan
berbahasa satu yaitu Indonesia, mengakui dan menghormati bendera Merah
Putih, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Lambang Negara Garuda Pancasila
dan Kepala Negara serta menaati seluruh peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
4) Yakin akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi Negara
Yakin akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi Negara berarti yakin akan
kebenaran Pancasila sebagai satu-satunya falsafah dan ideologi bangsa dan
negara Indonesia yang telah terbukti kesaktiannya dalam penyelenggaraan
kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk tercapainya tujuan nasional.
5) Rela berkorban untuk bangsa dan Negara
Rela berkorban untuk bangsa dan Negara yaitu rela mengorbankan waktu,
tenaga, pikiran, dan harta baik benda maupun dana untuk kepentingan umum,
sehingga pada saatnya siap mengorbankan jiwa raga bagi kepentingan bangsa
dan negara.
6) Memiliki kemampuan bela Negara
a) Diutamakan secara psikis (mental) memiliki sifat-sifat disiplin, ulet,
kerja keras, mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku,
15
percaya akan kemampuan sendiri, tahan uji, pantang menyerah dalam
menghadapi kesulitan untuk mencapai tujuan nasional.
b) Secara fisik (jasmaniah) sangat diharapkan memiliki kondisi kesehatan
dan keterampilan jasmani, yang dapat mendukung kemampuan awal bela negara
yang bersifat psikis.
C. Hubungan Pendidikan Kewarganegaraan dengan PPBN
Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan menurut Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No.22 Tahun 2006 tentang Standar isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menegah adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada
pembentukan karakter warga negara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untukl menjadi warga Negara
Indoensia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh
Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan tujuan utama nya adalah untuk
menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap serta perilaku yang
cinta tanah air dan bersendikan kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, serta
ketahanan nasional dalam diri para calon-calon penerus bangsa yang sedang dan
mengkaji dan akan menguasai imu pengetahuaan dan teknologi serta seni.
Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN ) adalah pendidikan dasar bela
negara guna menumbuhkan kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan
bernegara Indonesia, keyakinan akan Kesaktian Pancasila, kerelaan berkorban
bagi Negara, serta memberikan kemampuan awal bela negara. Sedangkan
tujuan dari PPBN sendiri adalah mewujudkan warga negara Indonesia yang
memiliki tekad, sikap dan tindakan yang teratur, menyeluruh, terpadu dan
berlanjut guna meniadakan setiap ancaman baik dari dalam maupun dari luar
negeri yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan
persatuan bangsa, keutuhan wilayah dan yuridiksi nasional serta nilai-nilai
Pancasila dan UUD 1945.
Jadi hubungan PKN dengan PPBN adalah Pendidikan pembentukan karakter
warga negara yang dapat memahami dan mampu melaksanakan hak dan
kewajibannya untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil,
dan berkarakter sehingga dapat menumbuhkan kecintaan pada Tanah Air,
Kesadaran Berbangsa dan Bernegara, Berkeyakinan akan Kesaktian Pancasila,
serta Rela Berkorban.
16
RANGKUMAN
A. Sejarah Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan
Istilah Civics secara formal tidak dijumpai dalam Kurikulum tahun 1957
maupun dalam Kurikulum tahun 1946. Namun secara materiil dalam Kurikulum
SMP dan SMA tahun 1957 terdapat mata pelajaran tata negara dan tata hukum,
dan dalam kurikulum 1946 terdapat mata pelajaran pengetahuan umum yang di
dalamnya memasukkan pengetahuan mengenai pemerintahan.
Pada tahun 1975, nama pendidikan kewarganegaraan diubah oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menjadi Pendidikan Moral Pancasila
(PMP). Nama mata pelajaran PMP diubah lagi pada tahun 1994 menjadi
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Kurikulum yang dikenal
dengan nama Kurikulum berbasis Kompetensi tahun 2004 dimana Pendidikan
Kewarganegaraan berubah nama menjadi Kewarganegaraan. Tahun 2006
namanya berubah kembali menjadi Pendidikan Kewarganegaraan, kurikulum
tahun 2006 ini dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
B. Pentingnya Pendidikan Pendahuluan Bela Negara
Tujuan PPBN adalah mewujudkan warga negara Indonesia yang memiliki
tekad, sikap dan tindakan yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut guna
meniadakan setiap ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri yang
membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan
bangsa, keutuhan wilayah dan yuridiksi nasional serta nilai-nilai Pancasila dan
UUD 1945.
C. Hubungan Pendidikan Kewarganegaraan dengan PPBN
Hubungan PKN dengan PPBN adalah Pendidikan pembentukan karakter warga
negara yang dapat memahami dan mampu melaksanakan hak dan kewajibannya
untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter
sehingga dapat menumbuhkan kecintaan pada Tanah Air, Kesadaran Berbangsa
dan Bernegara, Berkeyakinan akan Kesaktian Pancasila, serta Rela Berkorban.
17
BAB III
PENGERTIAN, SIFAT DAN FUNGSI NEGARA
A. Pengertian mengenai Negara
➢ Negara
Istilah negara merupakan terjemahan dari de staat (Belanda), the state (Inggris),
L’etat (Perancis), statum (Latin), lo stato (Italia), dan der staat (Jerman).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia negara adalah persekutuan bangsa
yang hidup dalam satu daerah/wilayah dengan batas-batas tertentu yang
diperintah dan diurus oleh suatu badan pemerintah dengan teratur.
Negara adalah suatu daerah atau wilayah yang ada di permukaan bumi yang
didalamnya terdapat suatu pemerintahan yang mengatur ekonomi, politik,
sosial, budaya, pertahanan keamanan, dan lain sebagainya.
Adapun pengertian menurut beberapa ahli, diantaranya adalah :
▪ Roger F. Soltau : Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau
mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat.
▪ Prof. R. Djokosoetono : Negara adalah suatu organisasi manusia atau
kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.
▪ Prof. Mr. Soenarko : Negara ialah organisasi manyarakat yang
mempunyai daerah tertentu, dimana kekuasaan negara berlaku
sepenuhnya sebagai sebuah kedaulatan.
Negara juga memiliki unsur antara lain :
• Rakyat
• Wilayah
• Pemerintah yang Berdaulat
• Pengakuan dari Negara Lain
B. Pengertian mengenai Bangsa
Bangsa adalah sekumpulan manusia yang bersatu pada satu wilayah dan
memunyai keterikatan dengan wilayah tersebut.
Berikut Ini Merupakan Pengertian Bangsa Menurut Para Ahli :
18
• Ernest Renan (Perancis)
Bangsa merupakan suatu kelompok manusia yang berbefa dalam sebuah ikatan
batin yang dipersatukan sebab mempunyai persamaan, cita-cita, dan sejarah
yang sama.
• Otto Bauer (Jerman)
Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang mempunyai persamaan sebuah
karakter sebab persamaan nasib serta pengalaman sejarah budaya yang tumbuh
berkembangan dengan bersama tumbuh kembangnya bangsa.
C. Sifat Negara
Menurut Miriam Budiardjo (2010), Negara mempunyai sifat-sifat khusus yang
merupakan manifestasi dari kedaulatan yang dimilikinya dan yang hanya
terdapat pada Negara saja dan tidak terdapat pada asosiasi atau organisasi
lainnya. Sifat-sifat Negara tersebut pada umumnya adalah:
a. Memaksa Agar peraturan perundang-undangan ditaati dan dengan
demikian penertiban dalam masyarakat tercapai serta timbulnya anarki
dicegah, maka Negara memiliki sifat memaksa, dalam arti mempunyai
kekuasaan untuk memakai kekerasan fisik secara legal. Sarana untuk itu
adalah polisi, tentara, dan sebagainya. Unsur memaksa yang lain
misalnya, dalam pengenaan pajak.
b. Monopoli Negara mempunyai sifat monopoli dalam menetapkan tujuan
bersama dari masyarakat. Dalam rangka ini Negara dapat menyatakan
bahwa suatu aliran kepercayaan atau aliran politik tertentu dilarang hidup
dan disebarluaskan, oleh karena itu dianggap bertentangan dengan tujuan
masyarakat.
c. Totalitas yaitu keseluruhan tata tertib dan perundang-undangan di sebuah
negara berlaku atas semua orang tanpa pandang ras ataupun agama, hal
ini berguna demi menuju ke tercapainya warga yang diharapkan
semuanya.
D. Fungsi Negara
• Fungsi Pertahanan dan Keamanan
Negara wajib melindungi unsur negara(rakyat, wilayah, dan pemerintahan) dari
segala ancaman, hambatan, dan gangguan, serta tantangan lain yang berasal dari
internal atau eksternal. Contoh: TNI menjaga perbatasan negara
• Fungsi Keadilan
19
Negara wajib berlaku adil dimuka hukum tanpa ada diskriminasi atau
kepentingan tertentu. Contoh: Setiap orang yang melakukan tinfakan kriminal
dihukum tanpa melihat kedudukan dan jabatan.
• Fungsi Pengaturan dan Keadilan
Negara membuat peraturan-perundang-undangan untuk melaksanakan
kebijakan dengan ada landasan yang kuat untuk membentuk tatanan kehidupan
bermasyarakat, berbangsan dan juga bernegara.
• Fungsi Kesejahteraan dan Kemakmuran
Negara bisa mengeksplorasi sumber daya alam yang dimiliki untuk
meningkatkan kehidupan masyarakat agar lebih makmur dan sejahtera.
E. Pengertian Warganegara
Warga Negara menurut KBBI adalah penduduk sebuah negara atau bangsa
berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya yang mempunyai
kewajiban dan hak penuh sebagai seorang warga dari negara itu.
Secara umum, Warganegara adalah semua orang yang secara hukum merupakan
anggota resmi dari suatu negara tertentu. Warganegara bisa berupa warga
negara lokal atau warga negara asing di sebuah negara.
Menurut A.S. Hikam (2004) Pengertian warga negara adalah anggota dari suatu
komunitas atau kelompok yang membentuk suatu negara.
Menurut Purwadarminta Pengertian warga negara merupakan orang yang secara
hukum merupakan anggota dari suatu negara.
Menurut Stanley E. Ptnord dan Etner F.Peliger
Arti warga negara didefinisikan sebagai sebuah pengkajian yang berkaitan
dengan tugas-tugas pemerintahan, hak dan kewajiban warga negara.
Menurut Wolhoff Pengertian warga negara adalah bentuk keanggotaan dari
suatu bangsa tertentu yaitu sejumlah manusia yang memiliki ikatan satu sama
lainnya karena adanya kesatuan bahasa, kehidupan sosial, budaya, serta
kesadaran nasionalnya.
Secara umum terdapat 2 asas kewarganegaraan untuk menentukan warga negara
seseorang. Yang pertama adalah Asas Ius Sanguinis yang didasarkan pada
keturunan darah atau kewarganegaraan orang tuanya. Yang kedua adalah Asas
Ius Soli yang didasarkan pada tempat kelahiran seseorang. Indonesia
menerapkan asas Ius Sanguinis. Tiap warga negara memiliki hak dan kewajiban
20
tertentu. Di Indonesia, hak dan kewajiban warga negara diatur dalam UUD
1945 antara lain pada pasal 27 dan 28.
F. Proses Berbangsa dan Bernegara
• Masa sebelum kemerdekaan
Proses berbangsa dan bernegara pada zaman sebelum kemerdekaan lebih
berorientasi pada perjuangan dalam melawan penjajah. Dari tinjauan sejarah :
a. Peristiwa kedukan bukit. Prasasti ini berbahasa melayu kuno dan berhuruf
pallawa, bertuliskan “marvuat vanua siddayatra subhiksa”, yang artinya
kurang lebih adalah menbentuk negara sriwijaya yang jaya, adil, makmur,
sejahtera dan sentausa. Prasasti ini berada di bukit siguntang dekat
palembang yang bertarikh syaka 605 atau 683 masehi.
b. Kerajaan majapahit (1293-1525). Kalau sriwijaya sistem
pemerintahannya dikenal dengan sistem ke-datu-an, maka majapahit
dikenal dengan sistem keprabuan. Kerajaan ini berpusat di Jawa Timur
dibawah pimpinan dinasti Rajasa, dan raja yang paling terkenanl adalah
Brawijaya. Majapahit mencapai keemasan pada pemerintahan Raja
Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gadjah Mada yang terkenal dengan
sumpah palapa.
c. Berdirinya oraganisasi massa bernama Budi Utomo oleh Sutomo pada
tanggal 20 Mei 1908 yang menjadi pelopor berdirinya oraganisasi-
oraganisasi pergerakan nasional lain dibelakang hari. Dibelakang Sutomo
ada dr. Wahidin Sudirohusodo yang selalu mebangkitkan motivasi dan
kesadaran berbangsa terutama kepada para mahasiswa STOVIA (School
Tot Opleiding Van Indische Artsen).
d. Sumpah pemuda yang diikrarkan oleh para pemuda pelopor persatuan
bangsa Indonesia dalam Kongres Pemuda di Jakarta pada 28 Oktober
1928. Ikrar tersebut berbunyi:
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa
Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air yang satu, Tumpah
Darah Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa
Indonesia.
e. Pemerintah Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada
bangsa Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945. Janji itu diampaikan
oleh Perdana menteri Jepang Jenderal Kunaiki Koisu (penggangti
21
Perdana Menteri Tojo) dalam Sidang Teikuku Gikoi (Parlemen Jepang).
Realisasi dari janji itu maka dibentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 29 April 1945 dan
dilantik pada 28 Mei 1945 peristiwa ini yang menjadi tonggak awal
proses Indonesia menjadi Negara.
f. Pembentukan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) setelah
sebelumnya memebubarkan BPUPKI pada 9 Agustus 1945. Badan yang
mulanya buatan Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia,
setelah Jepang takluk pada sekutu dan setelah diproklamirkan
kemerdekaan Indonesia, maka badan ini mempunyai sifat “Badan
Nasional” yang mewakili seluruh bangsa Indonesia.
g. Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dan penetapan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pada
sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Peristiwa ini merupakan peristiwa
yang terpenting karena merupakan titik balik dari negara yang terjajah
menjadi negara yang merdeka.
• Proses berbangsa dan bernegara pada masa sekarang
Proses berbangsa dan bernegara pada masa sekarang erat kaitannya dengan
hakikat pendidikan kewarganegaraan, yaitu upaya sadar dan terencana untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati
diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam
bela negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara.
Negara Indonesia merupakan negara yang berkembang dan negara yang akan
melangkah maju membutuhkan daya dukung besar dari masyarakat,
membutuhkan tenaga kerja yang lebih berkualitas, dengan semangat loyalitas
yang tinggi. Negara didorong untuk menggugah masyarakat agar dapat tercipta
rasa persatuan dan kesatuan serta rasa turut memiliki. Masyarakat
harus disadarkan untuk segera mengabdikan dirinya pada negaranya, bersatu
padu dalam rasa yang sama untuk menghadapi krisis budaya, kepercayaaan,
moral dan lain-lain. Negara harus menggambarkan image pada masyarakat agar
timbul rasa bangga dan keinginan untuk melindungi serta mempertahankan
negara itu sendiri.
Dalam proses berbangsa dan bernegara itu juga diperlukan penciptaan identitas
bersama.
Identitas sebagai bangsa dan negara Indonesia dapat dilihat pada:
• Bendera Negara yaitu Sang Merah Putih
• Lambang Negara yaitu Garuda Pancasila
• Lambang negara yaitu Garuda Pancasila
• Slogan / semboyan yaitu Bhineka Tunggal Ika
22
• Sarana komunikasi / bahasa negara yaitu Bahasa Indonesia
• Lagu kebangsaan yaitu Indonesia Raya
• Pahlawan – pahlawan rakyat pada masa perjuangan nasional seperti
Pattimura, Hasanudin, Pangeran Antasari dan lain – lain.
Dengan terwujudnya identitas bersama sebagai bangsa dan negara Indonesia
dapat mengikat eksistensinya serta memberikan daya hidup. Sebagai bangsa dan
negara yang merdeka, berdaulat dalam hubungan internasional akan dihargai
dan sejajar dengan bangsa dan negara lain. Identitas bersama itu juga dapat
menunjukkan jatidiri serta kepribadiannya. Rasa solidaritas sosial, kebersamaan
sebagai kelompok dapat mendukung upaya mengisi kemerdekaan. Dengan
identitas bersama itu juga dapat memberikan motivasi untuk mencapai kejayaan
bangsa dan negara di masa depan.
23
RANGKUMAN
A. Pengertian Negara
Negara adalah suatu daerah atau wilayah yang ada di permukaan bumi yang
didalamnya terdapat suatu pemerintahan yang mengatur ekonomi, politik,
sosial, budaya, pertahanan keamanan, dan lain sebagainya.
B. Pengertian Bangsa
Bangsa adalah sekumpulan manusia yang bersatu pada satu wilayah dan
memunyai keterikatan dengan wilayah tersebut.
C. Sifat Negara
- Memaksa
- Memonopoli
- Totalitas ( Mencakup seluruh nya )
D. Fungsi Negara
- Fungsi Pertahanan dan Keamanan
- Fungsi Keadilan
- Fungsi Pengaturan
- Fungsi Kesejahteraan dan Kemakmuran
E. Arti Warganegara
Warga Negara menurut KBBI adalah penduduk sebuah negara atau bangsa
berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya yang mempunyai
kewajiban dan hak penuh sebagai seorang warga dari negara itu.
F. Proses Berbangsa dan Bernegara
Proses berbangsa dan bernegara pada masa sebelum kemerdekaan lebih
mengacu pada perjuangan melawan penjajah, sedangkan pada masa sekarang
mengacu pada upaya bela Negara melalui pendidikan,penciptaan identitas
bersama,dan memiliki hubungan internasional dengan Negara lain.
24
BAB IV
PROSES PERUMUSAN PANCASILA
A. Zaman Prasejarah
Zaman Pra Sejarah atau Pra Aksara adalah masa kehidupan manusia sebelum
mengenal tulisan. Pra Sejarah atau Pra Aksara atau Nirleka ( Nir : Tidak ada,
Leka : Tulisan ) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu zaman,
dimana pada zaman itu belum mengenal tulisan. Sehingga komunikasi pada
zaman ini masih menggunakan tradisi lisan ( oral traditional ).
Berlangsungnya zaman Pra Sejarah ini berlangsung pada Abad ke-3 Masehi
sampai Abad ke-4 Masehi. Setelah itu manusia mengenal tulisan, bukti nya
seperti ada nya batu tertulis di Muara Kaman, Kalimantan Timur.
I. Pembagian Zaman Sejarah berdasarkan Geologi
• Masa Arkaekum ( Masa tertua )
Pada zaman ini bumi masih dalam proses pembentukan. Keadaan bumi masih
labil, masih menyerupai bola gas. Pada masa ini belum ada tanda-tanda
kehidupan. Zaman ini diperkirakan sekitar 2500 juta tahun yang lalu.
• Paleozoikum ( Zaman Kehidupan Pertama )
Zaman ini disebut juga dengan Zaman Primer. Masa ini berlangsung sekitar
500-245 juta tahun yang lalu. Kondisi bumi walaupun belum secara menyeluruh
dikatakan sudah lebih stabil. Adanya tanda-tanda kehidupan berupa makhluk
bersel satu yang lebih dikenal dengan nama Mikroorganisme.
• Mesozoikum ( Zaman Kehidupan Kedua )
Zaman ini disebut juga dengan Zaman Sekunder. Masa ini berlangsung sekitar
140 juta tahun yang lalu. Suhu di bumi sudah semakin stabil. Pada zaman ini di
dominasikan oleh hewan-hewan berukuran besar ( Dinosaurus ), sehingga
disebut jaman Reptil. Pada akhir masa ini mulai muncul jenis burung dan
mamalia.
25
• Neozoikum atau Kainozoikum ( Zaman Hidup Baru )
Pada zaman ini kehidupan mulai berkembang dengan pesat. Zaman ini dibagi
menjadi Zaman Tersier dan Zaman Kuarter.
a. Zaman Tersier,
Zaman ini berlangsung sekitar 60 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini ditandai
dengan munculnya jenis Primata, seperti Kera.
b. Zaman Kuarter
Zaman ini dibagi menjadi dua kala, yaitu kala Pleistosen/Diluvium dan kala
Holosen/Aluvium. Pada kala Pleistosen diperkirakan manusia purba mulai
mulai munculdan pada kala Holosen manusia purba telah berkembang lebih
sempurna lagi, yaitu jenis Homo Sapien dengan ciri-ciri seperti manusia
sekarang.
II. Ciri Zaman Sejarah Indonesia
• Zaman Batu
Zaman ini dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :
a. Palaeolitikum ( Zaman Batu Tua )
Zaman ini ditandai dengan adanya dua kebudayaan, yaitu :
- Kebudayaan Pacitan
- Kebudayaan Ngandong
Manusia pendukung kebudayaan tersebut :
- Pacitan : Pithecanthropus Erectus
- Ngandong : Homo Wajakensis dan Homo Soloensis
Pada zaman ini, alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum
dihaluskan. Contohnya :
- Kapak Genggam, banyak ditemukan di daerah pacitan. Disebut dengan
Chopper ( Alat Pemotong ).
- Alat dari tulang binatang atau tanduk rusa, alat penusuk ( Belati ), Ujung
tombak bergerigi.
- Flakes, yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat
dipergunakan untuk mengupas makanan.
Alat-alat dari tulang dan flakes, termasuk hasil kebudayaan Ngandong.
Kegunaan alat-alat itu pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan,
mengumpulkan ubi, dan buah-buahan.
26
b. Mesolithikum ( Zaman Batu Tengah )
Zaman ini meliputi :
- Kebudayaan Kjokken Moddinger ( Kebudayaan sampah daur )
- Kebudayaan Abre Souche Roche ( Kebudayaan dalam gua-gua )
Ciri zaman Mesolithikum :
-Alat - alat zaman ini hampir sama dengan zaman paleolithikum
-Ditemukannya bukti-bukti kerang dipinggir pantai yang disebut ”Kjoken
Modinger” ( Sampah Dapur ). Kjoken=Dapur, Modinger=Sampah.
Alat-alat pada zaman Mesolithikum
-Kapak Genggam ( Pebble )
- Kapak Pendek ( Hache Courte )
- Pipisan ( Batu-batu penggiling )
Kapak-kapak tersebut terbuat dari batu kali yang dibelah. Alat-alat di atas
banyak ditemukan di daerah Sulawesi, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Flores.
c. Neolithikum (Zaman Batu Muda)
Pada zaman ini terdapat dua kebudayaan, yaitu :
1. Kebudayaan Kapak Persegi, misalnya : Beliung, pacul dan torah untuk
mengerjakan kayu. Alat ini ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Bali,
Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan.
2. Kebudayaan Kapak Lonjong, ditemukan di daerah Papua, Seram,
Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa, dan Serawak.
Contoh alat-alat zaman ini selain Kapak Persegi dan kapak Lonjong adalah :
1. Kapak Bahu, sama seperti kapak persegi, hanya bagian yang diikatkan
pada tangkainya diberi leher.
2. Perhiasan ( Gelang dan Kalung dari batu yang indah ) ditemukan di Jawa
Barat.
3. Pakaian ( Dari Kulit Kayu )
4. Tembikar ( Periuk Belanga ), ditemukan di daerah Sumatera, Jawa,
Sunda.
d. Megalithikum ( Zaman Batu Besar )
Hasil dari zaman megalithikum sebagai berikut :
1. Menhir, adalah tugu batu yang didirikan sebagai tempat pemujaan untuk
memperingati arwah nenek moyang.
2. Dolmen, adalah meja batu, merupakan tempat sesaji dan pemujaan
kepada roh nenek moyang, yang digunakan untuk kuburan.
3. Sarkofagus atau keranda, bentuk seperti lesung yang mempunyai tutup.
27
4. Kubur Batu/Peti Mati yang terbuat dari batu besar yang masing masing
papan batunya lepas satu sama lain.
5. Punden Berundak-undak, bangunan tempat pemujaan yang tersusun
bertingkat-tingkat.
• Zaman Logam
Zaman ini terbagi menjadi 2 zaman, yaitu :
a. Zaman Perunggu
Hasil zaman perunggu yang ditemukan di Indonesia sebagai berikut :
1. Kapak Corong ( Kapak Perunggu ), banyak ditemukan di Sumatera
Selatan, Jawa Barat, Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, dan Papua.
Kegunaannya sebagai alat perkakas.
2. Nekara Perunggu berbentuk berumbung perunggu yang berpinggang atau
mirip dengan dandang yang ditelungkupkan. Ditemukan di daerah
Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa, Rote, Leti, Selayar.
3. Moko berbentuik seperti nekara namun dengan ukuran yang lebih kecil
dan ramping. Ditemukan di daerah Kepulauan Alor.
4. Bejana Perunggu, bentuknya seperti gitar spanyol tetapi tanpa tangkai.
Hanya ditemukan di Madura dan Sumatera.
5. Arca-Arca Perunggu, dan Perhiasan atau Manik-manik.
b. Zaman Besi
Alat-alat yang ditemukan adalah :
1. Mata Kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu, berfungsi untuk
membelah kayu.
2. Mata Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuhan.
3. Mata Pisau
4. Mata Pedang
5. Cangkul, dan lain-lain.
III. Kehidupan Masyarakat Pra Sejarah
➢ Food Gathering
Ciri zaman ini adalah :
• Mata pencaharian berburu dan mengumpulkan makanan.
• Nomaden, yaitu hidup berpindah-pindah dan belum menetap.
• Tempat tinggalnya Gua-Gua.
28
• Alat yang digunakan terbuat dari batu kali yang masih kasar, tulang, dan
tanduk rusa.
➢ Food Producing
Ciri zaman ini adalah :
• Sudah mulai menetap.
• Pandai membuat rumah sebagai tempat tinggal.
• Cara menghasilkan makanan dengan bercocok tanam.
• Mulai terbentuk kelompok masyarakat.
• Alat terbuat dari kayu, tanduk, tulang, bambu, tanah liat, dan batu dan
sudah diasah.
➢ Zaman Perundagian
Ciri zaman ini adalah :
• Manusia telah pandai membuat alat-alat dari logam dengan keterampilan
keahlian khusus.
• Teknik pembuatan benda dari logam disebut A Cire Perdue.
• Tingkat perekonomian rakyat telah mencapai kemakmuran.
• Sudah mengenal sistem bercocok tanam.
• Telah mencapai taraf perkembangan sosial dan ekonomi yang mantap.
➢ Manusia Purba di Indonesia :
Jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia
1. Meganthropus
- Hidup antara2 s.d 1 juta tahun yang lalu.
- Badannya tegak
- Hidup mengumpulkan makanan
- Makanannya tumbuhan
- Rahangnya kuat
2. Pithecanthropus
- Hidup antara 2 s.d 1 juta tahun yang lalu.
- Hidup berkelompok.
- Hidungnya lebar dengan tulang pipi yang kuat dan menonjol
- Mengumpulkan makanan dan berburu
- Makanannya Daging dan Tumbuhan.
3. Ciri Jenis Homo
- Hidup antara 25.000 s.d 40.000 tahun yang lalu.
- Muka dan Hidung lebar.
- Dahi masih menonjol.
- Taraf kehidupannya lebih maju daripada sebelumnya.
29
B. Zaman Hindu/Budha
• Perkembangan pengaruh Hindu-Budha di Indonesia
a. Perkembangan pengaruh Agama Buddha
Penyiaran agama Buddha lebih awal daripada Hindu. Adanya misi penyiaran
agama yang disebut Dharmadhuta. Tersiarnya agama Buddha di Indonesia
diperkirakan sejak abad ke-2 M, dibuktikan dengan Patung Budha dari
perunggu di Jember dan Sulawesi Selatan. Terdapat 2 aliran dalam agama
Buddha, yaitu :
1. Buddha Mahayana ( Kendaraan besar menuju Surga )
2. Buddha Hinayana ( Kendaraan kecil menuju Surga )
b. Perkembangan pengaruh Agama Hindu
Proses masuknya Agama Hindu melalui Pedagang. Namun, ada beberapa teori
lain sebagai berikut :
1. Teori Sudra, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia
dibawa oleh orang India yang berkasa Sudra. Teori ini didukung oleh
Von Van Faber.
2. Teori Waisya, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia
dibawa oleh orang India yang berkasta Waisya. Teori ini didukung oleh
N.J Krom.
3. Teori Ksatria, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia
dibawa oleh orang India yang berkasta Ksatria. Teori ini didukung oleh
C.C. Berg.
4. Teori Brahmana, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke
Indonesia dibawa oleh orang India yang berkasta Brahmana. Teori ini
didukung oleh J. C. Van Leur.
5. Teori Arus Balik, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke
Indonesia dibawa oleh orang Indonesia itu sendiri.
c. Pengaruh Agama Hindu dan Buddha di Indonesia
Diantaranya :
1. Kepercayaan, bangsa indonesia mulai menganut kepercayaan Hindu
Buddha walaupun tidak meninggalkan budaya aslinya, seperti memuja
Roh Nenek Moyang.
2. Pemerintahan, bangsa indonesia mulai mengenal sistem pemerintahan
kerjaan dan meninggalkan sisitem pemerintahan kepala suku.
3. Sosial, misalnya adanya sistem kasta.
4. Ekonomi, tidak begitu besar pengaruh ekonominya.
5. Kebudayaan, terlihat dari hasil-hasil kebudayaan seperti bangunan candi,
seni sastra, dll.
30
• Perkembangan kerjaan Hindu-Buddha di Indonesia
a. Kerajaan Kutai, yang terletak di Kalimantan Timur yaitu di hulu Sungai
Mahakam.
b. Kerajaan Tarumanegara, yang terletak di wilayah barat Pulau Jawa pada
abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi.
c. Kerajaan Holing, yang terletak di Jawa bagian Utara pada abad ke-7
masehi.
d. Kerjaan Melayu, yang terletak di Pulau Sumatera.
e. Kerajaan Sriwijaya, yang terletak di pantai timur Sumatera Selatan,
tepatnya di Palembang.
f. Kerajaan Mataram Kuno, yang terletak di Mataram.
g. Kerajaan Medang Kamulan, yang terletak di Jawa Timur.
h. Kerajaan Kediri, terletak di Jawa Timur.
i. Kerajaan Bali, dan
j. Kerajaan Majapahit.
C. Kedatangan Islam
• Proses masuk dan berkembangnya Islam
a. Bukti-bukti masuknya Islam ke Indonesia
Berikut ini bukti-bukti masuknya Islam ke Indonesia :
1. Catatan Marcopolo, islam telah masuk ke Samudera Pasai pada tahun
1292 M.
2. Catatan Ma Huan, pada awal abad ke-15 Masehi sebagian masyarakat
kota di Pantai Utara Jawa telah memeluk Agama Islam.
3. Buku Suma Oriental karya dari Tome Pires, buku penjelajahan portugis
ini memuatan catatan penyebaran Agama Islam di Sumatra, Kalimantan,
Jawa sampai Malukupada abad ke- 16 Masehi.
b. Sumber-sumber berita masuknya Agama dan Kebudayaan Islam di
Indonesia.
Diantaranya sebagai berikut :
1. Berita Arab. Kegiatan para pedagang di Kerajaan Sriwijaya dibuktikan
dengan adanya sebutan pedagang arab di Kerajaan Sriwijaya, yaitu
Zabaq, Zabay, atau Sribusa.
2. Berita Eropa, Berita ini datangnya dari Marcopolo. Ia adalah orang Eropa
yang pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Indonesia. Di sini ia
menemukan adanya Kerajaan Islam yaitu Samudera Pasai.
3. Berita India. Para pedagang India aktif mengajarkan Agama dan
Kebudayaan islam kepada masyarakat yang dijumpai.
4. Berita Tiongkok. Berita ini diketahui melalui catatan dari Ma-Huan.
31
c. Saluran Penyebaran Islam
1. Perdagangan
Sejak abad ke-7 M, para pedagang islam dari Persia, Arab, dan India telah ikut
ambil bagian dalam kegiatan perdagangan di Indonesia. Hal ini menimbulkan
terjalinnya hubungan perdagangan antara masyarakat dan pedagang Islam.
2. Politik
Kepentingan politik dilaksanakan melalui perluasan wilayah kerajaan, yang
diikuti pula dengan penyebaran agama Islam.
3. Tasawuf
Mereka aktif menyebarkan dan mengajarkan Agama Islam yang disesuaikan
dengan kondisi alam pikiran dan budaya masyarakat pada saat itu.
4. Perkawinan
Para pedagang Arab Gujarat dan Persia yang kebanyakan orang kaya, banyak
menikahi orang indonesia terutama dari kalangan keluarga Kerajaan yang
masuk Islam.
5. Pesantren
Melalui pesantren yang dibuat oleh para ulama, banyak anak-anak yang dididik
agama.
6. Peranan Para Wali
Di pulau Jawa terkenal dengan nama Wali Songo, mereka giat menyebarkan
Agama Islam di Pulau Jawa.
7. Media Kesenian
Misalnya dalam wayang kulit ada cerita “Layang Kalimo Solo”, yaitu kalimat
syahadat.
• Perkembangan Islam di Indonesia
Pedagang-pedagang Gujarat yang ada di indonesia bukan hanya berdagang
tetapi juga untuk menyebarkan agama yang mereka anut. Kerajaan Samudera
Pasai adalah kerajaan pertama yang menganut Agama Islam di Indonesia. Pada
abad ke-14 M, Malaka mulai berkembang sebagai pusat perdagangan di Asia
Tenggara walaupun pada mulanya malaka merupakan suatu perkampungan
nelayan.
Makin lama makin besar kekuasaan orang-orang islam dalam dunia
perdagangan di daerah Timur. Orang-orang Gujarat yang menyiarkan
pengajaran Agama Islam kepada orang Jawa tidak menemui kesulitas.
32
Beberapa faktor yang mempermudah perkembangan Agama Islam sebagai
berikut :
1. Dalam ajaran Agama Islam tidak dikenal dengan adanya perbedaan
golongan dalam masyarakat.
2. Agama Islam cocok dengan jiwa pedagang.
3. Sifat bangsa indonesia yang ramah tamah memberi peluang untuk bergaul
lebih erat dengan bangsa lain.
4. Islam dikembangkan dengan cara damai.
• Nilai-nilai Kebudayaan Agama Islam
Nilai dijelaskan berikut.
1. Nilai Persatuan, yang muncul pada zaman Islam di Indonesia terlihat
jelas, ketika bangsa-bangsa indonesia mengusir bangsa asing.
2. Nilai Musyawarah, merupakan hal yang sangat penting dalam
pemerintahan kerajaan.
3. Nilai Keadilan Sosial, dilandasi oleh ajaran-ajaran Islam seperti tentang
zakat, sedekah dan lain sebagainya.
4. Nilai Toleransi beragama, dengan cara damai.
5. Nilai Cinta Tanah Air, kerajaan islam melakukan berbagai bentuk
perlawanan untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari penduduk
Bangsa Eropa.
6. Nilai Budaya, contohnya : Kaligrafi, Seni Ukir, Seni Bangunan, dll.
D. Penjajahan Bangsa Eropa
• Latar Belakang masuknya Bangsa Eropa di Indonesia
1. Jatuhnya Konstantinopel ke Turki Usmani pada tahun 1453 sehingga
bangsa Eropa mencari rempah-rempah ke Eropa.
2. Pembuktian Teori Heliosentris dan Nicholas Copernicus.
3. Berkembangnya ilmu Pengetahuan dan Teknologi, termasuk dalam
bidang Geografis dan Navigasi.
4. Adanya kisah perjalanan Marcopolo yang dibukukan dalam 2 bukunya
yang berjudul Imago Mundi dan I’ll Millione.
5. Lahirnya semboyan Gold, Glory, Gospel.
• Proses kedatangan Bangsa Eropa di Indonesia
1. Penjelajahan Bangsa Portugis
2. Penjelajahan Bangsa Spanyol
3. Kedatangan Bangsa Belanda di Indonesia
4. Kedatangan Bangsa Inggris di Indonesia.
33
• Perkembangan Kekuasaan Bangsa Eropa
1. Kekuasaan Bangsa Portugis di Indonesia
Untuk dapat menguasai dan memonopolikan perdagangan di Asia Selatan
bangsa portugis melakukan langkah-langkah berikut :
a. Memperluas kekuasaannya ke arah barat dengan menghancurkan armada
laut Turki sehingga bangsa portugis dapat mengawasi perdagngan dan
pelayaran di laut antara Asia dengan Eropa.
b. Memperluas kekuasaanya ke arah timur dengan menguasai Malaka,
sehingga dapat menghentikan dan menguasai aktivitas perdagangan.
2. Kekuasaan VOC di Indonesia
Pada tahun 1602, pedagang belanda membuat kelompok yang disebut
Vereenigde Oostindiche Compagne dan diberikan hak istimewa sebagai berikut:
a. Hak Monopoli untuk berdagang antara Amerika Selatan dengan Afrika
b. Hak memelihara angkatan perang, berperang, mendirikan benteng dan
menjajah.
c. Hak untuk mengangkat pegawai
d. Hak untuk memberikan pengadilan, mencetak, dan mengedarkan uang
sendiri.
3. Indonesia di bawah pimpinan Kerajaan Belanda
Pada akhir abad ke-18, VOC mengalami kemunduran akibat kerugian yang
sangat besar dan hutang yang sangat banyak. Maka pada tahun 1799, VOC
akhirnya dibubarkan. Pada tahun 1807, Republik Bataafsche dihapuskan dan
diganti oleh Kaisar Napoleon Bataafche diganti bentuknya menjadi kerajaan
Holland.
4. Pengaruh kekuasaan Prancis di Indonesia
Pada tahun 1792-1797 terjadi perang koalisi, dimana belanda mengalami
kekalahan dan pemerintah prancis mengambil alih pemerintahan Belanda
sehingga semua jajahan Belanda di bawah kekuasaan dari prancis.
5. Pemerintah Deandles di Indonesia
Pada tahun 1808, Herman Willem Deandles diangkat menjadi Jenderal atas
wilayah Indonesia. Tugas utamanya untuk mempertahankan Pulau Jawa dari
serangan pasukan Inggris. Pada tahun 1810, Kerajaan Belanda dibawah
pemerintahan Raja Louis Napoleon Bonaparte dihapuskan oleh Kaisar
Napoleon Bonaparte. Pada tahun 1811 digantikan oleh Gubernur Jenderal
Janssens.
34
6. Pemerintahan Jan Willem Janssens
- Janssens menggantikan Deandles pada tanggal 15 Mei 1811
- Masa pemerintahan janssens merupakan masa peralihan pemerintahan kolonial
belanda ke pemerintahan kolonial inggris.
7. Kekuasaan Inggris di Indonesia
Pada tahun 1811, tentara Inggris mengadakan serangan terhadap wilayah-
wilayah yang dikuasai Belanda, dan inggris menang. Pada tahun 1814,
kekuasaan prancis di belanda runtuh dan Ratu Belanda yang berada di inggris
yang menghasilan konvensi London yang isinya antara lain Inggris
mengembalikan semua daerah kekuasaan belanda yang pernah dikuasai oleh
Inggris, Belanda memperoleh kembali daerah Jajahannya.
8. Pemerintah Kolonial Belanda
Setelah dilakukan perjanjian antara Inggris dengan Belanda pada Konvensi
London, daerah Indonesia dikembalikan kepada Belanda.
E. Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara
Akibat kekalahan Jepang, Jepang ingin menarik simpati bangsa Indonesia
dengan menjanjikan kemerdekaan pada Indonesia. Kemudian dibentuklah
Dokuritsu Junbi Cosakai atau yang dikenal dengan BPUPKI (Badan Penyelidik
Usaha-Usaha Persiapan Indonesia), yang bertugas untuk menyampaikan semua
kebutuhan menjelang kemerdekaan Indonesia.
Setelah terbentuk, BPUPKI segera mengadakan persidangan pada 29 Mei 1945
sampai dengan 1 Juni 1945. Dalam persidangan terebut BPUPKI membahas
rumusan dasar negara untuk Indonesia merdeka. Dalam sidang tersebut,
terdapat berbagai pendapat mengenai dasar negara yang tepat untuk dipakai
bangsa Indonesia. Pendapat-pendapat tersebut disampaikan Mohammad Yamin,
Supomo, dan Ir. Soekarno.
• Rumusan dasar negara oleh Mohammad Yamin
Tokoh pertama yang mencetuskan dasar negara adalah Mohammad Yamin.
Moh. Yamin merupakan seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus,
dan ahli hukum. Pada tanggal 29 Mei 1945, Moh. Yamin mengusulkan dasar
negara dengan isi sebagai berikut:
a. Peri kebangsaan
b. Peri kemanusiaan
c. Peri ketuhanan
d. Peri kerakyatan
35
e. Kesejahteraan rakyat
Pidato tersebut dinamakan dengan Asas dan Dasar Negara Kebangsaan
Republik Indonesia. Yang menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan
tersebut berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan
yang telah lama berkembang di Indonesia.
• Rumusan dasar negara oleh Soepomo
Tokoh kedua yang mencetuskan dasar negara adalah Dr. Soepomo. Pendapat
terkait rumusan dasar negara dari Dr. Soepomo diungkapkan dalam pidatonya
pada sidang BPUPKI pada 31 Mei 1945. Dr. Soepomo mengusulkan dasar
negara dengan isi sebagai berikut:
a. Persatuan
b. Kekeluargaan
c. Keseimbangan lahir dan batin
d. Musyawarah
e. Keadilan sosial
Dr. Soepomo adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang juga dikenal
sebagai arsitek Undang-undang Dasar 1945, bersama dengan Mohammad
Yamin dan Soekarno.
• Rumusan dasar negara oleh Ir. Soekarno
Dalam pidatonya pada sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Soekarno
menyampaikan pidato yang berisi gagasan mengenai dasar negara yang terdiri
dari:
a. Kebangsaan Indonesia
b. Internasionalisme atau perikemanusiaan
c. Mufakat atau demokrasi
d. Kesejahteraan sosial
e. Ketuhanan Yang Maha Esa
Selain itu, Soekarno juga mengusulkan tiga dasar negara yang diberi nama
Ekasila, Trisila, dan Pancasila. Di mana akhirnya dasar negara yang dipilih
adalah Pancasila. Hal ini juga lah yang menjadikan kita sebagai warga
Indonesia setiap tanggal 1 Juni memperingati hari lahirnya pancasila, untuk
mengenang pancasila yang dirumuskan oleh Soekarno.
36
RANGKUMAN
A.Zaman Pra Sejarah
Zaman Pra Sejarah atau Pra Aksara adalah masa kehidupan manusia sebelum
mengenal tulisan. Pra Sejarah atau Pra Aksara atau Nirleka ( Nir : Tidak ada,
Leka : Tulisan ) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu zaman,
dimana pada zaman itu belum mengenal tulisan. Sehingga komunikasi pada
zaman ini masih menggunakan tradisi lisan ( oral traditional ).
Berlangsungnya zaman Pra Sejarah ini berlangsung pada Abad ke-3 Masehi
sampai Abad ke-4 Masehi. Setelah itu manusia mengenal tulisan, bukti nya
seperti ada nya batu tertulis di Muara Kaman, Kalimantan Timur.
B. Zaman Hindu/Budha
Penyiaran agama Buddha lebih awal daripada Hindu. Adanya misi penyiaran
agama yang disebut Dharmadhuta. Tersiarnya agama Buddha di Indonesia
diperkirakan sejak abad ke-2 M, dibuktikan dengan Patung Budha dari
perunggu di Jember dan Sulawesi Selatan. Proses masuknya Agama Hindu
melalui Pedagang.
C. Kedatangan Islam
Faktor yang mempermudah perkembangan Agama Islam sebagai berikut :
1. Dalam ajaran Agama Islam tidak dikenal dengan adanya perbedaan
golongan dalam masyarakat.
2. Agama Islam cocok dengan jiwa pedagang.
3. Sifat bangsa indonesia yang ramah tamah memberi peluang untuk bergaul
lebih erat dengan bangsa lain.
4. Islam dikembangkan dengan cara damai.
D. Penjajahan Bangsa Eropa
Latar Belakang masuknya Bangsa Eropa di Indonesia
1. Jatuhnya Konstantinopel ke Turki Usmani pada tahun 1453 sehingga
bangsa Eropa mencari rempah-rempah ke Eropa.
2. Pembuktian Teori Heliosentris dan Nicholas Copernicus.
3. Berkembangnya ilmu Pengetahuan dan Teknologi, termasuk dalam
bidang Geografis dan Navigasi.
4. Adanya kisah perjalanan Marcopolo yang dibukukan dalam 2 bukunya
yang berjudul Imago Mundi dan I’ll Millione.
5. Lahirnya semboyan Gold, Glory, Gospel.
37
E. Perumusan Dasar Pancasila
Akibat kekalahan Jepang, Jepang ingin menarik simpati bangsa Indonesia
dengan menjanjikan kemerdekaan pada Indonesia. Kemudian dibentuklah
Dokuritsu Junbi Cosakai atau yang dikenal dengan BPUPKI (Badan Penyelidik
Usaha-Usaha Persiapan Indonesia), yang bertugas untuk menyampaikan semua
kebutuhan menjelang kemerdekaan Indonesia.
Setelah terbentuk, BPUPKI segera mengadakan persidangan pada 29 Mei 1945
sampai dengan 1 Juni 1945. Dalam persidangan terebut BPUPKI membahas
rumusan dasar negara untuk Indonesia merdeka. Dalam sidang tersebut,
terdapat berbagai pendapat mengenai dasar negara yang tepat untuk dipakai
bangsa Indonesia. Pendapat-pendapat tersebut disampaikan Mohammad Yamin,
Supomo, dan Ir. Soekarno. Akhirnya dasar negara yang dipilih adalah Pancasila.
38
BAB V
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT DAN IDEOLOGI
A. Pengertian Filsafat
Filsafat adalah sebuah studi yang membahas segala fenomena yang ada dalam
kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan skeptis dengan mendalami
sebab-sebabnya, lalu dijabarkan secara teoritis.
Menurut KBBI, Filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi
mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya atau teori yang
mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan.
Secara Etimologi, Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu : Phillia yang berarti
Mencintai, dan Shopia yang berarti Kebijaksanaan
Jadi, bisa diartikan bahwa filsafat adalah Cinta akan Kebijakan dalam arti yang
sedalam-dalamnya.
B. Pancasila Sebagai Filsafat
Pancasila secara etimologis berasal dari dua kata yaitu Panca yang berarti Lima
dan Sila yang berarti Dasar. Filsafat sebagai metode menunjukkan cara berpikir
dan cara mengadakan analisis yang dapat di pertanggungjawabkan untuk dapat
menjabarkan ideologi pancasila.
Pancasila sebagai filsafat mengandung pandangan, nilai, dan pemikiran yang
dapat menjadi substansi dan isi pembentukan ideologi Pancasila. Sebelum
seseorang bersikap atau berbuat, terlebih dahulu ia akan berpikir tentang
perbuatan mana yang akan dia lakukan. Hasil pemikiran merupakan suatu
keputusan dan keputusan ini disebut nilai.
Pancasila dikatakan sebagai filsafat karena pancasila merupakan hasil
perenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh para pendahulu kita, yang
kemudian dituangkan dalam suatu sistem yang tepat. Pancasila memiliki 3
landasan pijak filosofis, yaitu :
39
a. Antologi
Antologi menurut Runes adalah teori tentang adanya keberadaan atau eksistensi.
Sedangkan menurut Aristetoles, sebagai filsafat pertama, Antologi adalah ilmu
yang menyelidiki hakikat sesuatu dan disamakan artinya sebagai metafisika.
Jadi, Antologi adalah bidang yang menyilidiki makna yang ada (eksistensi dan
keberadaannya), sumber ada, jenis ada, dan hakikat ada, termasuk alam,
manusia, metafisik, dan kesemestaan serta kosmologi.
b. Epistemologi
Epistemologi menurut Runes adalah bidang atau cabang filsafat yang
menyelidiki asal, syarat, susunan, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.
Kajian epistemologi filsafat pancasila dimaksudkan sebagai upaya untuk
mencari hakekat pancasila sebagai suatu sistem pengetahuannya.
Epistemologi Pancasila sebagai suatu obyek kajian pengetahuan pada
hakekatnya meliputi masalah sumber pengetahuan Pancasila dan susunan
pengetahuan Pancasila.
c. Aksiologi
Aksiologi menurut Runes berasal dari istilah Yunani, aksios yang berarti
nilai,manfaat,pikiran atau ilmu teori. Dalam pengertian yang modern disamakan
dengan teori nilai yakni sesuatu yang diinginkan, disukai atau yang baik, bidang
yang menyelidiki hakikat nilai, kriteria, dan kedudukan metafisika suatu nilai.
Kajian Aksiologi filsafat Pancasila pada hakikatnya membahas tentang nilai
praktis atau manfaat suatu pengetahuan tentang pancasila.
Pancasila juga memiliki 3 nilai yaitu :
a. Nilai dasar, adalah asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang bersifat
mutlak, sebagai sesuatu yang benar atau tidak perlu dipertanyakan lagi.
Nilai-nilai dasar dari Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan,
nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.
b. Nilai instrumental, adalah nilai yang berbentuk norma sosial dan norma
hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam peraturan dan
mekanisme lembaga-lembaga negara.
40
c. Nilai praksis, adalah nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam
kenyataan dari nilai dasar dan nilai instrumental.
C. Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systema) dan bahasa Yunani (sustema) adalah
suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang dihubungkan
bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi untuk
mencapai suatu tujuan.
Sistem adalah suatu kesatuan prosedur atau komponen yang saling berkaitan
satu sama lain, bekerja sama sesuai dengan peraturan yang ditetapkan sehingga
memiliki tujuan yang sama.
Pengertian sistem Menurut Arifin Rahman | Sistem adalam Webster New
Collegiate Dictionary bahwa terdapat kata "syn" dan "Histanai" yang berasal
dari bahasa Yunani berarti menempatkan bersama. Bahwa pengertian sistem
adalah suatu kumpulan pendapat pendapat, (collection of opinions), prinsip
prinsip (principles), dan lain lain yang membentuk suatu kesatuan yang
berhubung hubungan satu sama lain.
Pengertian sistem menurut Ludwig von Bertallanffy, Bahwa sistem adalah
sekumpulan unsur unsur yang berada dalam keadaan yang berinteraksi.
Pengertian sistem berdasarkan A.Hall dan R. Fagen, bahwa pengertian sistem
adalah sekumpulan objek, yang mencakup hubungan diantara objek tersebut
(understanding of the system is a set of objects, which includes the relationship
between the object), serta hubungan antara sifat yang mereka miliki (the
relationship between their properties)
D. Pancasila sebagai Sistem Filsafat
Pancasila sebagai Sistem Filsafat bisa dibagi menjadi 2 :
a. Deduktif : Hakikat pancasila, dianalisis dan disusun secara sistematis
sehingga mencapai keutuhan pandangan yang komprehensif.
b. Induktif : Gejala sosial budaya, merefleksikan dan menarik arti dan
makna yang hakiki sehingga mencapai keutuhan pandangan yang
komprehensisf.
41
Sistem Filsafat adalah kumpulan atau kesatuan pemikiran/ajaran yang saling
berhubungan dan mampu menjangkau seluruh realitas yang ada, mencakup
pemikiran teoritis tentang realitas adanya tuhan, alam, manusia, untuk mencapai
tujuan tertentu.
Pancasila dikatakan sebagai Sistem Filsafat, karena di dalamnya terdapat nilai-
nilai ketuhanan ( Theologi ), nilai manusia ( Antropologi ), nilai kesatuan (
Metafisika, yang berhubungan dengan pengertian hakekat satu ), kerakyatan (
Hakekat Demokrasi ) dan keadilan ( Hakekat Keadilan ).
Perbedaan filsafat pancasila dengan filsafat lain : Pancasila sebagai sistem
filsafat memiliki ciri khas yang berbeda dengan sistem-sistem filsafat lainnya,
seperti Materialisme, Idealisme, Rasionalisme, Liberalisme, Komunisme, dan
sebagainya.
Sila-sila pancasila yang merupakan sistem filsafat pada hakikatnya merupakan
suatu kesatuan organis. Artinya, antara sila-sila Pancasila itu saling berkaitan,
saling berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Pemikiran dasar yang
terkandung dalam pancasila yaitu pemikiran tentang manusia yang berhubungan
dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan dengan masyarakat bangsa.
Ciri-ciri Sistem Filsafat :
a. Sila-sila pancasila merupakan satu kesatuan sistem yang bulat dan utuh.
Dengan kata lain, apabila tidak bulat dan utuh atau satu sila dengan sila
lainnya terpisah – pisah maka itu bukan Pancasila.
b. Susunan pancasila dengan suatu sistem yang bulat dan utuh itu dapat
digambarkan sebagai berikut :
• Sila satu : Meliputi, mendasari, dan menjiwai sila ke 2,3,4,5
• Sila dua : Diliputi, didasari, dijiwai sila 1 dan mendasari serta
menjiwai sila 3,4,5
• Sila tiga : Diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2 dan mendasari serta
menjiwai sila 4,5
• Sila empat : Diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2,3 dan mendasari serta
menjiwai sila 4,5
• Sila lima : Diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2,3,4
c. Inti sila-sila Pancasila
• Tuhan = Causa Prima
• Manusia = Makhluk Individu dan makhluk Sosial
42
• Satu = Kesatuan memiliki kepribadian pribadi
• Rakyat = Unsur Mutlak negara, harus bekerja sama, dan gotong
royong.
E. Pancasila sebagai Ideologi
Ideologi berasal dari kata Yunani, Idein yang berarti melihat, atau idea yang
berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita dan Logos yang berarti Ilmu.
Ideologi secara etimologis adalah ilmu tentang ide-ide ( The Science of Ideas ),
atau ajaran tentang pengertian dasar (Kaelan, 2013: 60-61). Dalam KBBI,
Ideologi adalah kumpulan konsep parsisten yang dijadikan asas pendapat yang
memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup.
Secara umum, Ideologi adalah suatu kumpulan atau gagasan, ide, keyakinan
serta kepercayaan yang bersifat sistematis yang mengarahkan tingkah laku
seseorang dalam berbagai bidang kehidupan, seperti :
• Bidang Politik, termasuk bidang hukum, pertahanan dan keamanan.
• Bidang Sosial
• Bidang Keamanan
• Bidang Keagamaan.
I. Menurut beberapa para Ahli :
• Notonagoro
Ideologi menurut Notonagoro dapat dilihat dalam 2 sisi yaitu dalam arti luas
dan sempit. Ideologi dalam arti luas merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang
cita-cita dan tujuan suatu negara, sedangkan dalam arti sempit ideologi
memiliki arti yaitu cita-cita dan tujuan negara yang menjadi landasan atau dasar
dari teori dan praktik penyelenggaraan negara.
• Kaelan
Ideologi menurut Kaelan adalah sekumpulan gagasan, ide, keyakinan, atau
kepercayaan secara menyeluruh dan sistematis. Ideologi ini berkaitan erat dalam
mengatur tingkah laku suatu kelompok masyarakat tertentu dalam berbagai
aspek kehidupan, seperti bidang sosial, budaya, keagamaan, dan politik.
43
II. Makna Ideologi bagi Negara adalah cita-cita Negara. Fungsi ideologi
pancasila:
Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila digunakan sebagai ideologi
nasional bangsa Indonesia. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa pancasila
yang digunakan sebagai ideologi negara memiliki peranan atau fungsi yaitu:
• Sarana pemersatu bangsa Indonesia.
• Membimbing dan mengarahkan bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan.
• Memberikan motivasi untuk menjaga dan memajukan jati diri bangsa
Indonesia.
• Menunjukkan jalan serta mengawasi dalam upaya mewujudkan cita-cita
yang terkandung dalam pancasila.
• Menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia untuk menjaga keutuhan
negara.
• Menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme.
III. Tujuan Ideologi Pancasila :
• Menghendaki seluruh rakyat Indonesia untuk memiliki sikap religius,
memeluk agama sesuai dengan keyakinan, dan taat kepada Tuhan.
• Menanamkan dan menjunjung tinggi rasa saling menghargai dan
menghormati HAM (Hak Asasi Manusia).
• Menciptakan bangsa yang nasionalis dan menanamkan rasa cinta tanah
air kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
• Menciptakan bangsa yang demokrasi, yaitu mendahulukan kepentingan
umum untuk kesejahteraan bersama.
• Menciptakan bangsa yang adil, baik secara sosial maupun ekonomi,
sehingga seluruh rakyat Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk
mengembangkan usaha tanpa membeda-bedakan.
IV. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka
Sifat-sifat yang melekat pada pancasila maupun kekuatan yang terkandung
didalamnya yaitu pemenuhan persyaratan kualitas 3 Dimensi, yaitu :
a. Dimensi Realita
b. Dimensi Idealisme
c. Dimensi Fleksibilitas
44
Adapun Prinsip-prinsip Ideologi Pancasila :
a. Dalam kehidupan Beragama
b. Dalam kehidupan Sosial dan Budaya
c. Dalam kehidupan Politik
d. Dalam kehidupan Ekonomi
45
RANGKUMAN
Filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai
hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya atau teori yang mendasari
alam pikiran atau suatu kegiatan.
Pancasila sebagai Filsafat mengandung pandangan, nilai, dan pemikiran yang
dapat menjadi substansi dan isi pembentukan ideologi Pancasila.
Sistem adalah suatu kesatuan prosedur atau komponen yang saling berkaitan
satu sama lain, bekerja sama sesuai dengan peraturan yang ditetapkan sehingga
memiliki tujuan yang sama.
Pancasila sebagai sistem filsafat yaitu antara sila-sila Pancasila saling berkaitan,
saling berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Pemikiran dasar yang
terkandung dalam pancasila yaitu pemikiran tentang manusia yang berhubungan
dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan dengan masyarakat bangsa.
Pancasila sebagai Ideologi memiliki 3 dimensi, yaitu Dimensi Realita, Dimensi
Idealisme, Dimensi Fleksibilitas.
46