The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku berisi tentang budidaya kelor, manfaat dan pengolahan kelor serta analisis finansialnya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by agus.kuok, 2022-01-19 14:16:10

KUPAS TUNTAS KELOR : Pesona Tanaman Ajaib

Buku berisi tentang budidaya kelor, manfaat dan pengolahan kelor serta analisis finansialnya

Keywords: kelor

A. Mengenal Tanaman Kelor Gambar 1. Kebun kelor milik masyarakat di Deli Serdang

Dunia tak selebar daun kelor. Yah, peribahasa ini seringkali Di Indonesia, kelor juga memiliki nama yang berbeda-beda untuk
kita dengar, membuat kita jadi penasaran seperti apa kelor tiap daerah, di antaranya murong (Aceh), munggai (Sumatera Barat),
itu. Apa sih daun kelor, dari mana asalnya, dan apa saja kilor (Lampung), kelor (Jawa Barat dan Jawa Tengah), marongghi
manfaatnya? Berikut serba-serbi daun kelor yang kami rangkum (Madura), kiloro (Bugis), parongge (Bima), kawano (Sumba),
untuk Anda sehingga kita benar-benar mengenal kelor. marungga/hau fo (Timor), moltong (Flores) dan kelo (Ternate).

Sebenarnya kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang Sebagai tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia, kelor
tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Siapa mengira masih memiliki banyak manfaat dan telah lama dimanfaatkan untuk berbagai
banyak masyarakat yang belum mengenal kelor meskipun dari macam keperluan masyarakat di masing-masing daerah. Sebaran
penampakannya saja. Berdasarkan sejarah, tanaman kelor berasal kelor yang cukup luas membuktikan tanaman ini gampang tumbuh.
dari kaki gunung Himalaya atau India Utara. Kemudian menyebar ke Persyaratan tumbuhnya juga terbilang cukup ringan, kelor mampu
Afrika dan negara-negara tropika, hingga ke sub tropis termasuk
Indonesia. Saat ini masyarakat Indonesia semakin mengenal kelor dan Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [2]
banyak menanamnya baik di pekarangan maupun di lahan terbuka,
yang khusus untuk tanaman kelor. Apalagi kelor memiliki segudang
manfaat bagi kehidupan manusia.

Tanaman kelor saat ini sudah banyak tersebar di Indonesia
mulai dari Aceh hingga Merauke. Nama kelor sangat akrab di telinga
masyarakat Indonesia, namun kelor memiliki nama yang sangat
banyak, bahkan hingga ratusan namanya. Di negara lain, kelor
mendapat nama berbeda-beda, seperti horse radish tree, drumstick
tree, benzolive tree, marango, mlonge, moonga, mulangay,
malunggay, nebeday, saijhan, sajna atau ben oil tree.

tumbuh hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), B. Kelor Kaya Manfaat
namun tumbuh baik secara optimal pada ketinggian hingga 400 meter.
Bahkan di tempat asalnya, kelor sering ditemukan tumbuh pada Manfaat kelor yang paling utama dan dikenal adalah manfaat
ketinggian 1.400 mdpl. Selain itu kelor juga mampu tumbuh dengan pangan karena kandungan nutrisi dan gizinya yang tinggi, berguna
baik pada semua jenis tanah, namun tumbuh paling baik pada tanah- bagi tubuh manusia maupun hewan termasuk ternak pada umumnya.
tanah yang mengandung pasir atau lempung berpasir dengan pH Bahkan kelor sudah lama dimanfaatkan untuk pengobatan baik secara
optimum adalah 5-9. Meskipun banyak tumbuh di tanah mineral, modern maupun tradisional karena tingginya kandungan nutrisi yang
namun di beberapa tempat di Sumatera, kelor bisa tumbuh subur di ada pada kelor. Namun manfaat yang paling mudah kita peroleh dari
tanah gambut. kelor adalah makanan yang menyehatkan. Karena kelor sangat mudah
dibudidayakan baik di lahan sempit seperti pekarangan maupun di
Di Indonesia kelor mampu tumbuh dengan baik pada daerah kebun atau ladang.
yang memiliki tipe iklim A seperti Riau dan Sumatera Barat, hingga
pada wilayah semi arid dengan tipe iklim E seperti NTT dan NTB. Hal Dari beberapa hasil penelitian, selain mudah dibudidayakan,
ini membuktikan bahwa peluang untuk membudidayakan kelor di kelor memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi seperti kandungan
Indonesia dalam rangka untuk mendapatkan varietas terbaik atau vitamin C yang tujuh kali lebih tinggi dari jeruk. Selain itu kandungan
unggul masih sangat terbuka lebar. Berdasarkan hasil penelitian calciumnya juga empat kali lebih tinggi dari calcium yang terdapat
Ridwan dkk (2021), kelor yang terdapat di berbagai daerah di pada susu. Kandungan vitamin A pada kelor empat kali lebih tinggi
Indonesia memang memiliki perbedaan dari penampilan luarnya dari kandungan dalam wortel, dan masih banyak kandungan gizi
(morfologi) maupun kandungan zat-zat tertentu (misal: flavonoid, lainnya seperti potassium yang tiga kali lebih tinggi dibandingkan
antioksidan) di dalamnya. potassium dalam pisang, juga kandungan proteinnya yang lebih tinggi
dari yogurt.

Bahkan kandungan zat besi pada daun kelor dinyatakan 25 kali
lebih tinggi dari kandungannya dalam bayam. Daun kelor diketahui
juga memiliki kandungan senyawa-senyawa antioksidan seperti
flavonoid, tannin, saponin, steroid dan vitamin. WHO juga menobatkan
kelor sebagai pohon ajaib (miracle tree), setelah melakukan studi dan
menemukan bahwa tumbuhan ini berjasa sebagai penambah

Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [3]

kesehatan berharga murah selama 40 tahun lebih di negara-negara Budidaya kelor secara umum meliputi pemilihan materi
termiskin di dunia (Krisnadi, 2015). perbanyakan (semai), persemaian, pemeliharaan bibit dan
penanaman.
Berbicara manfaat kelor memang seakan tak ada habisnya,
oleh karena itu sudah selayaknya masyarakat mau dan mampu untuk Pemilihan Materi Perbanyakan
membudidayakan kelor. Terlebih pada masyarakat pedesaan yang Budidaya kelor dapat dilakukan dengan dua cara, yakni cara
akses terhadap obat-obatan relatif lebih terbatas dari masyarakat
perkotaan, maka menanam jenis-jenis tanaman yang kaya manfaat generatif dan cara vegetatif. Cara generatif adalah budidaya kelor
seperti kelor menjadi suatu pilihan yang sangat baik. menggunakan materi perbanyakan berupa benih atau biji kelor.
Sedangkan cara vegetatif menggunakan materi perbanyakan berupa
C. Budidaya Kelor stek batang atau cabang. Secara ringkas perbedaan dari keduanya
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Perbedaan budidaya kelor secara generatif dan vegetative

No Aktivitas Cara generatif Cara vegetatif
1. Asal materi
2. Wadah / media Benih/biji Stek batang/cabang
Polibag/ bak tabur Polybag/ langsung tanam
3. Pemilihan materi Matang, warna coklat, kering bagian luar, utamakan Stek cabang/batang yang lurus; segar
benih di pangkal dan tengah buah kehijauan
4. Skarifikasi Perendaman air 2-3 jam Sesegera mungkin ditanam
5. Ukuran materi Pilih benih yang besar, diameter ≥ 1 cm Diameter > 3 cm; panjang minimal 40 cm

Pada tabel di atas dijelaskan secara ringkas perbedaan budidaya kelor tumbuh hingga mencapai tinggi 11-12 meter. Selain itu tanaman kelor
secara generatif dan vegetatif. Keuntungan dari cara generatif adalah yang tumbuh dari biji/benih biasanya akan memproduksi buah yang
tanaman kelor akan memiliki akar tunjang yang kuat dan akar serabut lebih banyak juga.
yang lebih banyak sehingga tanaman lebih kokoh dan kuat, mampu
Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [4]

Gambar 2. Salah satu pohon induk kelor tunjang, selain itu biasanya akan menghasilkan produksi buah yang
lebih sedikit.
Namun tanaman kelor yang tumbuh dari benih akan memilikii
ukuran pohon yang cukup besar dan menyulitkan saat memanen Satu hal yang harus diperhatikan dalam memperbanyak kelor
daunnya bila tidak sering dilakukan pemangkasan. Sebaliknya baik dari biji atau stek, pastikan bahwa biji dan stek yang digunakan
tanaman kelor yang ditumbuhkan dengan cara vegetatif dengan asal masih segar. Biji yang masih segar terlihat dari bagian dalam bijinya
materi menggunakan stek cabang/batang, ukuran pohonnya relatif yang terlihat masih berwarna putih dan basah. Sedangkan stek yang
lebih kecil dan lebih cepat waktu mulai memanennya. Namun tanaman masih segar terlihat dari warna kulit bagian dalam yang masih
kelor dari stek umumnya kurang kokoh karena tidak memiliki akar kehijauan dan basah. Selain itu, usahakan memilih materi
perbanyakan yang berasal dari pohon indukan yang memiliki tampilan
bagus, seperti kokoh tidak bengkok, tidak terlalu tinggi atau rendah,
tahan pemangkasan, cabang, daun dan buahnya banyak, cukup
matang umurnya dibandingkan pohon lainnya (sebaiknya diameter >
10 cm), tidak terserang penyakit, pertumbuhannya cepat, serta tidak
soliter/tumbuh sendirian (Santoso, 2018).

Persemaian
Persemaian kelor meskipun secara sederhana namun tetap

memerlukan perhatian serius sebagaimana persemaian pada
umumnya. Kegiatan persemaian kelor dilakukan melalui tahapan
kegiatan persiapan persemaian, pencampuran media tumbuh,
penaburan benih dan penanaman stek, serta pembuatan naungan bila
diperlukan.

Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [5]

1. Persiapan Persemaian tersedia bisa gunakan salah satunya saja. Pukan dan kompos

Persiapan persemaian meliputi lokasi persemaian, menjadi pilihan utama menggantikan pupuk kimia, mengingat

wadah/polibag, media tanam, bahan dan peralatan. Lokasi kelor akan dikonsumsi terutama bagian daunnya, sehingga

persemaian sedapat mungkin dipilih yang terbuka dan bebas dari pemilihan pupuk yang berbahan organik sangat mutlak untuk

naungan jangka panjang, seperti adanya pohon atau bangunan kesehatan.

yang menaungi. Lokasi persemaian juga harus datar dan bebas Bahan dan peralatan yang diperlukan cukup sederhana

banjir atau genangan, serta memiliki MEDIA SEMAI dan relatif tersedia di sekitar kita. Selain
akses yang mudah untuk dijangkau. polibag dan media tanam, bahan-bahan
Yang paling penting adalah lokasi Media tabur cukup menggunakan pasir seperti fungisida nabati dan naungan juga
persemaian harus memiliki sumber air dengan ukuran medium. Ukuran partikel pasir diperlukan. Fungisida nabati merupakan
yang stabil baik pada musim penghujan maksimal 0,2 mm. Hal ini untuk menjaga agar fungisida yang berbahan utama dari zat aktif
maupun kemarau. yang ada pada tumbuhan seperti mimba,
drainase tetap baik sehingga benih kunyit dan sirih. Pembahasan tentang
Wadah atau tempat untuk mendapatkan kelembapan yang optimal. fungisida nabati disajikan dalam bab khusus
menumbuhkan bibit kelor, baik secara Media semai berupa tanah hitam, pukan, dalam buku ini. Selanjutnya peralatan yang
generatif maupun vegetatif digunakan kompos dan sekam bakar. Perbandingan diperlukan adalah standar kebutuhan
polybag karena alasan praktis dan campurannya adalah 3 tanah hitam, 1 pupuk persemaian pada umumnya, seperti selang,
murah, khusus untuk cara generatif dapat kandang, 1 kompos dan 1 sekam bakar ember/wadah air, gembor, cangkul, sekop,
juga biji ditaburkan terlebih dahulu
(3:1:1:1)

menggunakan baki/kotak ukuran tertentu dan sebagainya. Selain itu media tanam

yang memiliki dinding sisi rendah (7-10 cm). Selanjutnya yang seluruhnya sangat dianjurkan untuk dilakukan sterilisasi dari

perlu disiapkan sebelum pelaksanaan persemaian adalah media organisme pengganggu tanaman. Metodenya dapat

tanam untuk kelor, yang meliputi 4 macam media, yakni tanah menggunakan pemanasan dengan sinar matahari, goreng sangrai

hitam, pupuk kandang (pukan), kompos dan sekam bakar. Namun (di atas tungku dan wajan/wadah dari logam) media tanam dan

bila sulit untuk mendapatkan sekam bakar bisa diganti dengan penyemprotan menggunakan pestisida nabati (berbahan alami

pasir. Demikian juga bila salah satu dari pukan atau kompos tidak seperti kunyit, mimba, dan sirih).

Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [6]

2. Media tabur dan semai polibag saat telah muncul 2-4 helai daun (3-4 hari dari mulai

Pada budidaya secara generatif maupun vegetatif, berkecambah). Hal ini untuk mencegah terjadinya etiolasi dan

menggunakan campuran media semai/tumbuh yang sama. putusnya akar saat dipindah karena terlalu panjang. Sedangkan

Sedangkan media tabur hanya dibutuhkan untuk budidaya secara stek kelor dapat ditanam sesegera mungkin pada polibag dan

generatif tak langsung. Media tabur cukup menggunakan pasir media yang telah disiapkan dengan cara menancapkan sedalam

saja dengan ukuran medium, yakni ukuran partikel pasir tak lebih sekitar ¼ panjang stek.

dari 0,2 mm. Hal ini untuk menjaga agar drainase tetap baik 4. Naungan

sehingga benih mendapatkan kelembapan PEMELIHARAAN BIBIT Kelor pada umumnya membutuhkan
yang optimal. Media semai berupa tanah cahaya matahari penuh untuk pertumbuhannya.

hitam, pukan, kompos dan sekam bakar. Pemeliharaan bibit meliputi kegiatan Namun iklim tropis dengan intensitas yang cukup
penyiraman, penyiangan, grading, tinggi seringkali menjadi kendala tersendiri bagi
Perbandingan campurannya adalah 3 tanah shading, topping, pemupukan, dan bibit-bibit tanaman yang masih muda. Sehingga
perlindungan bibit dari organisme seringkali persemaian perlu menyediakan
hitam, 1 pupuk kandang, 1 kompos dan 1 naungan untuk melindungi bibit-bibitnya. Pada
pengganggu tanaman (OPT). semai/bibit kelor naungan dengan paranet atau
sekam bakar (3:1:1:1). Hasil penelitian

Kurniawan (2019) menunjukkan,

penambahan sekam bakar pada media

semai kelor meng- hasilkan pertumbuhan daun-daun kering menjadi kurang cocok

terbaik. Namun apabila sulit mendapatkan, maka sekam bakar mengingat kelor memerlukan sinar matahari penuh untuk

dapat diganti dengan pasir. Untuk pukan dan kompos, minimal pertumbuhannya. Maka peng-gunaan naungan maksimal 40

digunakan salah satunya bila kesulitan mendapatkan keduanya. persen ditambah plastik transparan/bening menjadi pilihan

3. Penyemaian benih dan stek utama untuk bibit bibit kelor yang masih muda (kurang dari 1

Setelah media siap, benih kelor dapat disemai dengan bulan).

cara menanam benih sedalam 1-2 cm. Benih kelor yang bagus Pemeliharaan Bibit
paling cepat mulai berkecambah pada hari ke-5. Pada

penyemaian benih menggunakan wadah khusus dengan media Bibit merupakan bahan tanaman yang akan menentukan

pasir, benih yang telah tumbuh harus segera dipindahkan ke bagaimana kualitas tanaman yang akan dihasilkan. Oleh karenanya,

Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [7]

penanganan bibit mulai dari awal semai hingga siap tanam menjadi hal Penyiangan adalah proses pembersihan atau pembebasan

yang sangat penting dan menentukan. Penanganan yang tepat bibit dari tumbuhan liar atau gulma yang mengganggu bibit.

termasuk bagaimana bibit itu dipelihara di persemaian akan Kegiatan penyiangan bibit kelor dilakukan secara manual dengan

membentuk fisik dan kualitas bibit tersebut. Pemeliharaan bibit mencabut gulma dan membakarnya di tempat khusus. Gulma

merupakan salah satu faktor penting dalam penanganan bibit. harus dibersihkan karena selain menjadi pesaing bagi

Pemeliharaan bibit meliputi kegiatan penyiraman, penyiangan, grading, pertumbuhan bibit, gulma juga berpotensi menjadi pintu awal

shading, topping, pemupukan dan perlindungan bibit dari organisme masuknya penyakit dan hama tanaman seperti jamur, virus, kutu

pengganggu tanaman (OPT). PEMELIHARAAN BIBIT dan sebagainya. Kegiatan penyiangan
1. Penyiraman semestinya dijadikan kegiatan rutin yang

Penyiraman bibit kelor sebaiknya Gulma harus dibersihkan karena selain terjadwal dengan baik, seperti 3-5 hari atau

dilakukan terutama pada saat musim menjadi pesaing bagi pertumbuhan bibit, seminggu sekali.
kemarau. Pada musim kemarau pada gulma juga berpotensi menjadi pintu awal 3. Grading

umumnya penyiraman dilakukan masuknya penyakit dan hama tanaman Grading merupakan kegiatan menata dan

sebanyak 2x dalam sehari. Namun, ada seperti jamur, virus, dan kutu. mengurutkan bibit sesuai dengan urutan

prinsip yang harus diingat dan ukurannya. Setelah dilakukan grading, maka bibit

dipedomani, yakni bahwa penyiraman akan nampak rapi mulai dari yang ukurannya

dilakukan hanya pada kondisi media tumbuh bibit sudah mulai paling kecil hingga paling besar, sehingga pucuk-pucuk bibit akan

kering. Atau dengan kata lain penyiraman harus dilakukan secara nampak seperti garis linear yang miring ke atas. Kegiatan grading

tepat, tidak terlalu banyak atau kurang air. ini seharusnya juga menjadi agenda rutin yang terjadwal dengan

Pada kondisi cuaca yang kurang panas, bisa jadi media baik. Apabila dapat terlaksana secara rutin, maka pekerjaan

tumbuh bibit cukup disiram satu kali sehari pada sore hari. grading ini akan menjadi sangat ringan mengingat perubahan

Penyiraman bibit yang dilakukan 1x sehari, sebaiknya dilakukan dimensi bibit yang akan merata setelah dilakukan grading yang

pada sore agar bibit lebih mudah beradaptasi dengan suhu dan pertama. Tujuan dari grading ini adalah untuk meratakan distribusi

penyerapan air sebelum siap melakukan proses fotosintesis. input untuk bibit seperti air, cahaya dan pupuk agar bibit yang kecil

2. Penyiangan tidak terhalang oleh yang besar. Selain itu grading juga mencegah

Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [8]

terjadinya akar bibit menembus polibag dan masuk ke dalam naungan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada bibit kelor
tanah (Pinyopusarerk, 2010). muda (<1 bulan) dan terbongkarnya media tumbuh. Naungan
4. Shading (naungan) ringan (maksimal 40 persen) yang ditambahkan plastik transparan
Naungan untuk bibit kelor sesungguhnya tidak terlalu dibutuhkan sangat baik untuk bibit kelor muda. Pada bibit kelor yang dinaungi
mengingat kelor membutuhkan cahaya penuh untuk tersebut, tetap diperhatikan kelembabannya, meskipun saat itu
pertumbuhannya. Hanya saja pada lokasi atau daerah tertentu adalah musim hujan. Penyiraman diperlukan bila media tumbuh
yang memiliki intensitas hujan yang tinggi, maka perlu diberikan bibit sudah mulai hilang kelembabannya.

Gambar 3. Bunga, benih, dan bibit kelor

Beberapa hasil penelitian menunjukkan, kelor dapat ditanam dengan jarak rapat hingga 0,5 meter x 0,5 meter, bahkan 0,3 meter x 0,3 meter
(Surahman, 2018). Namun, jarak tanam ideal adalah 1 meter x 1 meter atau 1 meter x 2 meter dengan pertimbangan ruang untuk tumbuh dan

ruang untuk beraktivitas seperti memanen dan menanam tanaman semusim. Dengan jarak 1 meter x 2 meter, semestinya pemanenan dan
pemangkasan dilakukan secara rutin, agar tajuk kelor tetap mendapatkan ruang tumbuh yang optimal.

Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [9]

Penanaman Kelor terbaik, dengan pertimbangan kandungan hara dan bahan organik

Bibit kelor termasuk bibit yang cepat pertumbuhannya, pada yang cukup optimal dan relatif aman bagi lingkungan dan

umur 3 bulan bibit kelor sudah siap untuk ditanam. Namun usia terbaik manusia. Namun pada umumnya kelor mampu tumbuh dengan

bagi bibit kelor untuk ditamam adalah sekitar 4 bulan, dengan baik meskipun hanya menggunakan pupuk kandang atau kompos

pertimbangan jaringan kayu telah terbentuk serta perakarannya sudah saja (salah satunya). Pupuk dasar yang telah disiapkan,

banyak dan kuat. Demikian juga untuk bibit yang berasal dari stek usia dimasukkan pada lubang tanam yang dibuat dengan ukuran

3-4 bulan merupakan usia optimal untuk penanaman di lapangan. minimal 30 cm x 30 cm x 30 cm. Selanjutnya, sangat dianjurkan

1. Jarak tanam dan lokasi penanaman PENANAMAN KELOR untuk disemprot atau disiram menggunakan
Penanaman bibit kelor di fungisida nabati (berbahan dasar kunyit,
Dalam proses penanaman kelor yang perlu mimba, sirih, dan sebagainya). Dosis atau
pekarangan atau halaman rumah, jarak diperhatikan adalah (1) jarak antar tanaman; (2) takaran pupuk yang digunakan minimal
tanam dapat disesuaikan dengan pupuk dan lubang tanam; dan (3) pemeliharaan adalah 1 kilogram dan tidak lebih dari 2
kondisi yang ada, namun diusahakan

ditanam pada tempat-tempat yang kilogram. Lubang tanam yang telah diberi
terbuka atau masih mendapatkan sinar matahari secara penuh pupuk dan fungisida nabati selanjutnya dibiarkan selama minimal

pada pagi dan siang hari. Selain pengaturan jarak tanam, bibit 5 hari untuk mematikan mikroorganisme pengganggu tanaman.
kelor sebaiknya ditanam pada tempat-tempat yang tidak Setelah minimal 5 hari lubang tanaman dibiarkan terbuka, maka
tergenang air baik temporal maupun permanen. Pada tempat- bibit kelor dapat ditanam, setelah terlebih dahulu pupuk yang
tempat yang tergenang, akar kelor biasanya tidak mampu diletakkan dicampur dengan tanah.
bertahan karena kesulitan dalam respirasi dan rentan terhadap 3. Pemeliharaan tanaman kelor

serangan jamur. Namun pada tempat-tempat yang cenderung Kelor mampu tumbuh dengan baik pada tempat-tempat

kering dan berpasir biasanya kelor dapat tumbuh dengan baik. yang kurang subur bahkan ekstrim kering. Namun demikian

2. Pupuk dan lubang tanam untuk pertumbuhan yang optimal tetap diperlukan pemeliharaan
Pupuk dasar untuk penanaman bibit kelor, sangat minimal berupa pemupukan dan penyiraman. Untuk pemupukan
dapat dilakukan satu bulan sekali menggunakan pupuk kandang,
dianjurkan menggunakan pupuk organik baik berasal dari kompos terutama pada saat musim penghujan.
maupun pupuk kandang. Campuran dari keduanya adalah yang

Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [10]

PERAWATAN BIBIT TANAMAN dari 6 bulan dan pada saat musim kemarau. Sedangkan
KELOR pemupukan tanaman kelor bisa dilakukan 3 bulan sekali
menggunakan pupuk organik sampai umur tanaman mencapai
Pemupukan dapat dilakukan satu bulan sekali 12 bulan, dan dilakukan pemupukan juga pada saat terlihat
menggunakan pupuk kandang, terutama pada saat tanda-tanda tanaman kurang subur.
musim penghujan. Pada musim kemarau pemupukan
sebaiknya dikurangi atau dihentikan terlebih dahulu. Demikian budidaya kelor secara praktis dan sederhana
Penyiraman dapat dilakukan pada saat musim kemarau, yang dapat mendatangkan manfaat besar bagi kesehatan kita.
Sebagaimana diketahui, kesehatan merupakan anugerah rezeki
minimal satu hari sekali pada sore hari. yang sangat besar dan berharga bagi kita. Namun masih
banyak yang belum menyadarinya dan cenderung tidak mau
Pada musim kemarau pemupukan sebaiknya dikurangi tahu. Salah satu penyebabnya adalah belum munculnya rasa
atau dihentikan terlebih dahulu. Penyiraman dapat dilakukan sakit atau penyakit pada tubuhnya, serta adanya persepsi bahwa
pada saat musim kemarau, minimal satu hari sekali pada sore menjaga/merawat kesehatan itu mahal dan ribet. Melalui
hari. Tanaman kelor pada beberapa lokasi juga mendapat budidaya dan konsumsi kelor secara rutin, diharapkan mampu
serangan hama dan penyakit seperti ulat daun dan jamur akar. menyediakan bahan pangan yang murah dan menyehatkan bagi
Penyiraman tanaman kelor dilakukan saat umur tanaman kurang masyarakat.***

Bab 1 Budidaya Kelor, mudah dan banyak manfaat [11]



Habitat asli kelor (Moringa oleifera) pertama kali ditemukan di kaki pegunungan Himalaya pada ketinggian hingga 1.400 dari permukaan laut
(dpl) pada tanah endapan alluvial atau di sepanjang aliran sungai (Roloff et al., 2009). Tanah alluvial merupakan tanah muda yang belum
mengalami pelapukan intensif dan teksturnya tergolong liat berpasir. Bila ditinjau dari asalnya, maka lokasi yang sesuai untuk pertumbuhan
tanaman kelor adalah tanah dengan tingkat kesuburan sedang hingga tinggi, jenis tanah berpasir namun terdapat kandungan liat atau mineral, dan
ketersediaan air tercukupi. Pada habitat aslinya ini, kelor mendapat unsur hara dari endapan mineral yang terbawa oleh aliran sungai. Endapan
alluvial biasanya memiliki kondisi lahan yang kering namun lapisan tanah di bawahnya jenuh dengan air. Selain itu, tanaman yang tumbuh di
endapan alluvial biasanya mendapat sinar matahari secara penuh karena lokasinya yang terbuka. Tanaman yang tumbuh di lokasi dengan sinar
matahari penuh biasanya jarang terkena penyakit maupun hama tanaman.

Di Indonesia, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sudut tumbuh daun lebih ke arah vertikal untuk mengurangi input
sebagai penghasil daun kelor berkualitas tinggi. Jenis tanah yang energi pada tengah hari yang terik.
tersebar di Provinsi NTT adalah jenis tanah muda hasil pelapukan
batuan kapur seperti grumusol, litosol, regosol, alluvial, latosol, A. Pupuk Organik Untuk Memacu Pertumbuhan Kelor
mediterania dan renzina. Jenis tanah tersebut memiliki kesuburan
rendah, pH tanah cenderung netral hingga basa dan mengandung liat. Penggunaan pupuk organik untuk budidaya kelor selain
Kandungan liat pada tanah yang kurang subur dapat menguntungkan meningkatkan performa tumbuh juga menghemat biaya bertani.
tanaman karena liat dapat menyimpan air dan nutrisi. Provinsi NTT Pemberian pupuk organik pada tanaman akan menghasilkan produk
juga dikenal sebagai daerah beriklim kering dengan curah hujan tanaman yang aman konsumsi bagi manusia. Selain itu, pemberian
tahunan yang sangat rendah. Intensitas sinar matahari di Provinsi NTT pupuk kandang yang dicampur langsung dengan media tanam hingga
juga melebihi rata-rata intensitas matahari di provinsi lainnya di homogen akan lebih mudah diserap tanaman dibanding pupuk kimia
Indonesia. Tanaman yang dapat tumbuh di lahan kering memiliki yang ditebarkan di sekitar perakaran kelor. Hal ini berkaitan dengan
mekanime adaptasi agar dapat bertahan hidup. Mekanisme adaptasi sistem perakaran kelor yang memiliki area perakaran sempit. Pupuk
tersebut antara menutup stomata lebih cepat untuk mengurangi yang ditebar di atas permukaan tanah juga rentan tercuci air hujan.
kehilangan air, memperluas sistem perakaran, bentuk daun yang kecil,
Keunggulan lainnya pupuk organik adalah mampu
melepaskan unsur hara dalam jumlah sedikit bagi tanaman. Oleh
karena itu, ketersediaan nutrisi pupuk kandang bagi tanaman akan

Bab 2 Pupuk organik, pemacu pertumbuhan kelor [13]

berlangsung lebih lama dibanding dari pupuk kimia. Adanya suplai juga dapat memperbaiki kondisi tanah menjadi lebih gembur dan

nutrisi dalam jangka waktu yang lama dari pupuk kandang membuat mampu menyerap air. Tekstur pupuk kandang yang seperti spons

tanaman lebih subur dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit. dapat menyerap dan menyimpan air yang berasal dari air hujan atau

Pupuk organik merupakan jenis pupuk yang sering air limpasan. Karakteristik pupuk kandang ini sesuai dengan sifat

ditambahkan ke dalam media penyemaian, pembibitan maupun tumbuh kelor yang memerlukan kodisi lahan yang kering namun

penanaman tanaman kelor. Jenis pupuk organik tersebut dapat berupa memiliki kecukupan air.

pupuk kandang maupun pupuk hijau yang sudah Kebutuhan pupuk kandang untuk

mengalami pengomposan dan telah matang. Pupuk kandang dapat berupa pupuk penanaman kelor di lahan bisa disesuaikan dengan
Pupuk kandang dapat berupa pupuk dari kotoran dari kotoran ayam, kambing, sapi atau kondisi di lapangan, namun biasanya sebanyak 1-2
ayam, kambing, sapi atau kerbau. Ciri pupuk Kg per tanaman. Hal yang perlu diperhatikan adalah
organik matang antara lain CN rasio 10:1 hingga kerbau. Ciri pupuk organik matang pupuk kandang yang diaplikasikan ke tanaman
20:1, suhu pupuk organik terasa seperti suhu air antara lain CN rasio 10:1 hingga 20:1, kelor adalah pupuk kandang yang telah matang
tanah, berwarna hitam dan berbau tanah (SNI dikomposkan. Pada pupuk kandang yang belum
Spesifikasi Kompos dari Limbah Domestik suhu pupuk organik terasa seperti matang terdapat pathogen yang dapat merugikan
Organik, 2004). Pupuk organik dapat digunakan suhu air tanah, berwarna hitam dan tanaman. Selain itu, aplikasi pupuk kandang yang
sebagai media penyemaian maupun pembibitan berbau tanah (SNI Spesifikasi Kompos belum matang juga menyebabkan persaingan
dari Limbah Domestik Organik, 2004).

kelor dengan penambahan beberapa bahan nutrisi antara tanaman dan mikroba serta kerusakan

organik lainnya antara lain sabut kelapa, arang sekam padi atau sebuk akar tanaman karena temperatur lingkungan menjadi lebih panas.

gergaji. Penggunaan bahan organik tambahan (sabut kelapa, arang

Pemberian pupuk kandang pada kelor diperlukan hingga sekam padi, serbuk gergaji) pada media tumbuh bibit kelor

terbentuk akar yang mantap, yaitu sekitar 4 bulan. Saat perakaran dimaksudkan untuk meningkatkan aerasi tanah dan porositas tanah.

sudah terbentuk dengan baik, tanaman akan lebih siap memenuhi Media tanam yang terlalu lembab dapat menyebabkan akar menjadi

kebutuhan haranya sendiri. Penambahan pupuk kandang juga dapat busuk dan tanaman mudah terserang jamur. Komposisi tanah, pupuk

dilakukan sekiranya kelor menampakkan gejala stunting atau kandang dan bahan organik lainnya yang sering digunakan untuk

pertumbuhan lambat. Selain menyuplai unsur hara, pupuk kandang media tanam kelor adalah 3:1:1.

Bab 2 Pupuk organik, pemacu pertumbuhan kelor [14]

Sementara, penambahan pupuk kandang dimaksudkan untuk Sebagai contoh, untuk memperoleh CN rasio bahan kompos
meningkatkan kadar unsur hara dalam tanah. Pupuk kandang dapat 25:1 diperlukan campuran daun hijau dan kotoran ayam dengan
menyuplai kebutuhan unsur hara makro (N, P, K, Ca dan Mg) serta perbandingan 1:1 (v/v; b/b). Sementara untuk mendapatkan CN rasio
berbagai unsur hara mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan bahan kompos 30:1, perbandingan daun hijau dan kotoran kambing
tanaman. Terlebih jika kesuburan tanah di lokasi penanaman tergolong atau sapi yang dibutuhkan adalah 1:2(v/v;b/b).
rendah. Untuk penanaman kelor di tanah masam, dapat ditambahkan
kapur pertanian atau dolomit. Pada tanah dengan pH mendekati netral, PANAS Gas: KOMPOS
unsur hara akan lebih mudah dimanfaatkan tanaman. -Ammonia (NH3)
-Karbondioksida (CO2)
Sementara itu, pembuatan pupuk kandang dapat dilakukan -Methane (CH4)
dengan atau tanpa menambahkan bahan organik lainnya. Dalam -Nitrous Oxide (N2O)
pengomposan kotoran hewan, biasanya ditambahkan larutan
dekomposer berupa effective microorganism (EM) atau orgadec untuk  Bahan Organik Tumpukan Bahan Kompos
mempercepat proses pengomposan. Penggunaan larutan dekomposer -Feces OKSIGEN
untuk pengomposan bahan organik, seperti kotoran hewan, bisa -Rumput/ranting/
disertai dengan menambahkan larutan gula untuk memberikan sumber daun tanaman
energi awal pada mikroba dekomposer. Selain kotoran hewan,
beberapa bahan organik lainnya yang dapat digunakan sebagai bahan  Bahan Anorganik
kompos antara lain dedaunan, sampah buah, jerami, serbuk gergaji -Air
kayu, kertas, sampah dapur, potongan rumput, sabut kelapa, sekam -Tanah
padi.
 Mikroba
Bahan organik seperti daun, jerami, sampah buah, sabut
kelapa, sampah dapur dan kertas perlu dicacah hingga berukuran kecil Gambar 4. Proses pengomposan
terlebih dahulu sebelum ditambahkan ke kotoran kandang. Komposisi
campuran kotoran kandang dan bahan organik lainnya disarankan Penghitungan CN rasio bahan kompos merupakan salah satu
pada kisaran CN rasio 25-30. faktor pendukung keberhasilan pengomposan. Pada campuran bahan
kompos dengan CN rasio melebihi 30, proses pelapukan bahan
organik memerlukan waktu yang lebih lama. Pada CN rasio tersebut,
mikroba kekurangan sumber energi berupa nitrogen untuk melakukan
aktivitas pelapukan. Sementara pada CN rasio di bawah 25, campuran
bahan organik kaya akan nitrogen sehingga mikroba enggan untuk
merombak bahan kompos. Penghitungan CN rasio bahan kompos

Bab 2 Pupuk organik, pemacu pertumbuhan kelor [15]

secara sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan tabel CN Jerami 80:1 Potongan rumput 19:1
rasio bahan organik (Tabel 2). Sebagai contoh, besaran CN rasio
rumput, kotoran ayam dan daun kering di tabel CN rasio secara Kertas 170:1 Rumput(kacang-kacangan) 25:1
berturut-turut adalah 15:1; 15:1 dan 70:1. Maka, untuk mendapatkan
CN rasio antara 25:1 hingga 30:1 dari campuran rumput, kotoran ayam Gergajian 500:1 Humus 10:1
dan daun kering, dapat dilakukan dengan mencampurkan:
Kayu 700:1 Jerami Alafafa 12:1

Sampah buah 35:1 Sampah dapur 15:1

Sumber: Microtack Organic Aquaculture & Wastewater Treatment

Dua bagian rumput =2 x 15 = 30 Supplies (2002).
Satu bagian kotoran ayam = 1 x 15 = 15
Satu bagian daun kering = 1 x 70 = 70 Lama pengomposan biasanya berlangsung satu hingga tiga
bulan. Sebelum dikomposkan, campuran bahan kompos ditambah
Sehingga CN rasio bahan kompos dengan air hingga bahan kompos akan terasa seperti spons basah
= = 28,75 dan 1-2 tetesan air akan menetes dari sela-sela jari. Campuran bahan
kompos tersebut lalu ditutup dengan plastik atau lapisan tanah hingga
Tabel 2. Kadar CN rasio bahan organik terjadi kenaikan temperatur.

Bahan Organik dengan Bahan organik dengan Nitrogen Tinggi Bahan kompos perlu dijaga suhunya agar selalu stabil 55° C
selama 14 hari agar benih gulma dan pathogen mati. Jika temperatur
Karbon Tinggi turun, maka pembalikan bahan kompos diperlukan agar temperatur
kembali meningkat. Begitu juga, jika selama pengomposan bahan
Sampah buah 35:1 Humus 10:1 kompos mengering maka perlu ditambah dengan air agar aktivitas
mikroba dekomposer tidak terganggu.
Daun 40:1 Jerami Alafafa 12:1
Kompos yang telah matang ditandakan dengan penyusutan
Tanaman tebu 50:1 Sampah dapur 15:1 volume sebesar 25 persen hingga 40 persen dan terjadi penurunan
temperatur. Pengujian kematangan kompos dapat dilakukan dengan
Limbah jagung 60:1 Kotoran hewan 15-25:1 menaburkan benih pada bahan kompos. Jika kompos telah matang

Bab 2 Pupuk organik, pemacu pertumbuhan kelor [16]

maka benih akan tumbuh 2 hingga 3 hari. Jika kompos belum matang, memiliki persentase hidup nol persen setelah tiga bulan tanam.

maka benih akan tumbuh lambat dan memiliki akar pendek. Namun, percobaan penanaman bibit kelor di lahan gambut dengan

penambahan pupuk kandang dan dolomit menunjukkan persentase

B. Peluang budidaya kelor di Riau hidup yang tinggi setelah 3 bulan tanam, yaitu sekitar 90.

Jenis tanah yang mendominasi di Provinsi Riau adalah Penanaman kelor di tanah podsolik merah kuning atau ultisol

organosol dan podsolik merah kuning (Badan Pertanahan, 2007 dalam memerlukan input pupuk untuk menyuplai kebutuhan hara tanaman.

Sinaga, 2015). Beberapa jenis tanah lainnya yang ditemui di Provinsi Pupuk kandang adalah jenis pupuk yang paling sesuai untuk

Riau adalah alluvial hidromorf, asosiasi latosol dan andosol, asosiasi meningkatkan pertumbuhan kelor. Penelitian yang dilakukan oleh

podsolik merah kuning dengan litosol, latosol, podzolik dan laterik. Sowmen et al. (2016) memperlihatkan pertumbuhan bibit kelor yang

Tanah organosol merupakan tanah gambut diberi pupuk kandang terlihat sama

yang dicirikan dengan pH tanah rendah dan Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan suburnya dengan kelor yang diberi pupuk
kaya bahan organik yang belum (2021) memperlihatkan bahwa semai kelor yang SP 36 dan batuan fosfat dengan dosis 100,
terdekomposisi. Sementara, tanah podsolik ditanam di tanah gambut memiliki persentase hidup 200 dan 300 (Kg per hektar). Pemberian
merah kuning adalah tanah yang telah pupuk kandang pada tanah masam dapat
mengalami pelapukan intensif sehingga nol persen setelah tiga bulan tanam. Namun, menurunkan jerapan P oleh logam Al
miskin unsur hara. percobaan penanaman bibit kelor di lahan gambut maupun Fe. Pupuk kotoran sapi memiliki
dengan penambahan pupuk kandang dan dolomit efek yang lebih baik pada tanah podsolik
Budidaya kelor di tanah gambut menunjukkan persentase hidup yang tinggi setelah dibanding kompos jerami. Selain dengan
sepertinya kurang menguntungkan karena aplikasi pupuk kandang, efektivitas pe-
sifat tanah gambut yang memiliki kemasaman 3 bulan tanam, yaitu sekitar 90.

tinggi. Pada tanah masam, pertumbuhan akar nambahan pupuk P pada tanah podsolik

tanaman terganggu karena pelapukan bahan organik terhambat dan merah kuning akan lebih meningkat jika didahului dengan pemberian

banyak terdapat polutan tanah seperti minyak tanah maupun Poycyclic dolomit. Aplikasi dolomit dapat meningkatkan pH tanah sehingga

Aromatic Hydrocarbon (PAH) (Neina, 2019). penambahan pupuk P akan lebih mudah dimanfaatkan tanaman.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2021) Intensitas cahaya matahari di Provinsi Riau termasuk tinggi,

memperlihatkan bahwa semai kelor yang ditanam di tanah gambut yaitu 85 Wh per hari. Suhu rata-rata udara harian di Provinsi Riau

Bab 2 Pupuk organik, pemacu pertumbuhan kelor [17]

adalah 27,2° C, dengan suhu minimum 20,6° C dan suhu maksimum dalam Sharie et al., 2018). Pengolahan tanah seperti penggemburan
35,2° C. Kondisi ini sesuai untuk pertumbuhan kelor yang adatif di maupun pembuatan guludan dapat mengurangi genangan air di tanah
lahan kering. Di habitat aslinya, kelor ditemukan di daerah terbuka ultisol. Apalagi, jenis tanah ultisol memiliki kandungan liat yang tinggi
dengan penyinaran penuh. Tanaman yang tumbuh di daerah dengan sehingga air hujan mudah menggenang. Sementara itu, tanah dengan
intensitas cahaya matahari tinggi akan memiliki aktivitas fotosintesa kandungan liat tinggi mudah untuk mengering atau mengeras saat
yang tinggi. Hasilnya, tanaman akan lebih cepat tumbuh dan segera musim kemarau. Tanah yang memadat saat kemarau bisa
menghasilkan buah atau biji. Umur panen juga lebih cepat sehingga menyebabkan tanaman tercekam karena aerasi daerah perakaran
akan menguntungkan petani. Tanaman yang mendapat intensitas terganggu.
cahaya matahari tinggi biasanya juga bebas dari serangan penyakit,
terutama yang disebabkan oleh jamur. Penambahan pupuk kandang maupun pupuk organik lainnya
dapat menjaga struktur tanah agar lebih gembur dan meningkatkan
Namun, tingginya curah hujan di Provinsi Riau rawan aerasi pada daerah perakaran. Berbeda dengan pupuk kandang,
menyebabkan kebusukan akar atau serangan penyakit dan hama pemberian pupuk kimia secara terus-menerus dalam jangka panjang
pada tanaman kelor. Curah hujan tahunan di Provinsi Riau sebesar dapat menyebabkan stuktur tanah semakin keras.*
2000-3000 mm dengan hari hujan sebanyak 160 hari (IRBI, 2013

Bab 2 Pupuk organik, pemacu pertumbuhan kelor [18]



Ekstensifikasi lahan dan sistem pertanaman kelor secara monokultur memunculkan permasalahan yaitu kerentanan terhadap organisme perusak
tanaman seperti serangan hama dan penyakit yang dapat ditemukan pada fase semai maupun tanaman dewasa. Hama dan penyakit pada

tanaman kelor ini menjadi kendala produksi dan faktor pembatas.

Sebelum membahas beberapa jenis hama dan penyakit pada tanaman kelor, perlu dijelaskan definisi hama dan penyakit guna menghindari

kesalahan dalam proses identifikasi. Dikutip dari laman pitchcare.com, hama adalah semua bentuk organisme tingkat tinggi seperti hewan

(serangga), dan tumbuhan (gulma) yang keberadaannya tidak diinginkan. Sedangkan penyakit adalah semua bentuk organisme tingkat rendah

seperti jamur, bakteri, dan virus yang memberikan dampak negatif terhadap kesehatan tanaman baik secara sistematis maupun struktur. Beberapa

istilah lain yang erat kaitannya dengan hama dan penyakit adalah gejala dan tanda. Kedua istilah ini sering kali tertukar dan menimbulkan

kebingungan. Untuk menghindari permasalahan tersebut, maka perlu dijelaskan mengenai terminologi kedua istilah tersebut.

Gejala adalah segala sesuatu yang timbul sebagai akibat adanya serangan hama dan penyakit yang dilihat dari sisi tanaman. Misalnya

nekrosis, klorosis, bercak daun, atau mati pucuk. Sedangkan tanda adalah segala tanda yang muncul sebagai akibat adanya serangan hama dan

penyakit yang dilihat dari sisi organisme pengganggunya. Misalnya adalah kotoran ulat yang berbentuk seperti kacang hijau.

A. Hama

1. Noorda blitealis

Hama ini termasuk dalam ordo Lepidoptera, family

Crambidae. Fase larva atau ulat merupakan fase yang berbahaya.

Bagian tanaman yang diserang oleh hama ini adalah daun dan

pucuk yang masih muda (Ministry of Agriculture & Farmers

Welfare, 2010). Gejala serangan hama ini ditandai adanya daun

yang berlubang yang diawali dengan kemunculan lapisan

transparan di bawah permukaan daun, adanya bekas gerekan

daun, dan mati pucuk yang jika dibiarkan dapat berdampak yang

signifikan pada pertumbuhan tanaman. Dalam satu tahun terdapat

dua kali puncak serangan yaitu sekitar bulan Maret hingga April Gambar 5. Ngengat (imago) Noorda blitealis

dan Desember hinga Januari. (Ministry of Agriculture and Farmers Welfare, 2010)

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [20]

Pada fase dewasa, hama ini memiliki bentuk ngengat Telah banyak teknik dan metode yang digunakan untuk
berwarna cokelat gelap dengan memiliki warna hitam pada bagian dapat mengendalikan serangan hama ini. Pertama, pengendalian
sayap dengan ada garis kecil berwarna putih pada bagian pangkal dapat dilakukan secara mekanis dengan mengumpulkan larva dan
sayap depan. pupa secara manual. Kedua, pengendalian secara fisik dengan
menggunakan perangkap cahaya (light trap) yang dilakukan pada
Ngengat dewasa meletakkan telur-telur di bawah malam hari. Ketiga, pengendalian secara biologi dengan
permukaan daun. Pada hari ketujuh, telur akan menetas menjadi memanfaatkan musuh alami seperti burung, laba-laba, atau
larva atau ulat yang kemudian akan bermetamorfosis menjadi bahkan penggunaan entomopatogen seperti jamur Beuvarria sp.
pupa pada hari ke 15. memiliki peluang luas untuk dapat diaplikasikan.

Gambar 6.Ulat (larva) Noorda blitealis Pilihan terakhir adalah secara kimia dengan memanfaatkan
Sebelum memasuki fase pupa, larva akan menuju ke tanah insektisida carbaryl 50 Wp (Wiryadiputra, 2012). Akan tetapi,
dan menjalani masa pupanya di dalam tanah. Fase dewasa atau penggunaan insektisida kimia memiliki dampak yang buruk, selain
imago akan muncul pada hari keenam setelah pupa. Sehingga dapat menyebabkan keracunan karena daun yang dimanfaatkan
total dibutuhkan waktu selama 21 hari bagi telur untuk dapat pada tanaman kelor akan terakumulasi racun, juga akan dapat
bermetamorfosis menjadi imago (Rachana et al., 2020). menyebabkan resistensi bagi hama ini apabila pengaplikasiannya
tidak mengikuti aturan yang telah dianjurkan.

HAMA PADA TANAMAN KELOR

1. Noorda blitealis
2. Gitona distigma Meigen

3. Indarbela quadrinotata Wlk

4. Achatina fulica Ferrusac

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [21]

Pilihan lain adalah penggunaan insektisida nabati. Telah buah dan menyebabkan busuk yang akan menjalar ke bagian

banyak hasil studi yang menunjukkan bahwa beberapa jenis pangkal buah. Hal ini dapat menyebabkan buah menjadi busuk

tanaman seperti nimba, sirih, kunyit, dan lainnya cukup efektif lalu kemudian kering. Jumlah rata-rata ulat pada gejala yang berat

dalam mengendalikan kelompok hama ulat (Caterpillar) dapat mencapai 20-28 larva tiap buahnya (Math et al., 2018).

(Wiryadiputra, 2012; Lubis et al., 2020). Lalat memiliki warna abu-abu kekuningan dengan mata

merah. Sayap lalat ini memiliki bintik gelap pada ujungnya dan titik

2. Gitona distigma Meigen hitam pada bagian coastal margin. Maggot berwarna krem

Hama ini termasuk dalam ordo diptera, family (Gambar 7). mekanisme hama ini menyerang tanaman kelor

Drosophilidae. Serupa dengan Noorda blitealis kasus serangan dimulai ketika lalat imago meletakkan sebanyak 3 s.d. 4 telur

terbanyak ditemukan pada fase larva. Gejala yang ditunjukkan oleh setiap grupnya pada alur polong buah muda (biasanya pada

serangan hama ini adalah buah kelor yang terlihat kering dan layu bagian ujung). Telur akan menetas menjadi larva pada hari ke 3-4.

(Math & Kotikal, 2015). Adapun perbedaan dengan Noorda blitealis Setelah itu lalat memasuki fase maggot atau larva pada hari ke 18

adalah bahwa jenis ini hanya menyerang buah kelor sehingga hingga 25 dan akan menuju ke tanah untuk menyelesaikan masa

sering disebut sebagai pupanya selama 5 hingga 9 hari

hama buah (fruit flies). sebelum menyelesaikan

Serangan diawali metamorfosisnya menjadi lalat

dengan lalat imago yang (Sharjana & Mikunthan, 2017).

meletakkan telur di dekat Beberapa teknik ini

buah. Setelah menetas dapat digunakan untuk

larva akan berusaha mengendalikan serangan hama

membuat lubang pada Gambar 7. (a) Lalat (imago) Gitona distigma dan (b) maggot (larva) Gitona ini seperti dengan menggunakan
bagian ujung buah kelor distigma teknik pancingan atau jebakan.
yang merupakan bagian Pada teknik ini, beberapa
terlunak. Aktivitas ini (Ministry of Agriculture and Farmers Welfare, 2010) senyawa seperti minyak

menyebabkan banyak cairan dan getah yang keluar dari bagian citronella, minyak eucalyptus, asam cuka, dan asam laktat dapat

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [22]

digunakan sebagai penarik (attractant) untuk menjebak lalat agar dewasa. Hama dan penyakit pada tanaman kelor ini menjadi
tidak hinggap ke buah kelor. Teknik lainnya adalah dengan kendala produksi dan faktor pembatas (Rajangam et al, 2001).
membersihkan buah-buah kelor yang telah busuk dan jatuh ke
permukaan tanah. Selain itu, teknik pembalikan tanah di sekitar 3. Indarbela quadrinotata Wlk
perakaran kelor diperlukan untuk membunuh pupa lalat ini dan Hama ini termasuk dalam family Metarbilidae, ordo
dapat pula ditambahkan dengan 4 persen endosulfan sebanyak 25
Kg per hektar. Pengendalian terakhir dengan menggunakan Lepidoptera. Serupa dengan dua jenis hama di atas, fase larva
insektisida kimia dapat digunakan apabila teknik-teknik di atas merupakan siklus yang paling merusak. Larva Indarbela
belum berhasil. Penyemprotan dengan menggunakan dichlorvos quadrinotata menyerang pada bagian batang tanaman kelor
76 SC 500 ml pada 500-750 ml air per hektar ketika polong telah sehingga sering disebut penggerek batang. Gejala serangan hama
berumur 20 hingga 30 ini terlihat dari adanya lubang bekas gerekan pada batang yang
hari dan dilanjutkan
dengan azadirachtin biasanya terbentuk lapisan
0,03 persen ketika pem- nekrosis atau pengeringan
bentukan buah pada hari luka di sekitar lubang yang
ke 35 dapat dilubangi. Sedangkan tanda
direkomendasikan untuk keberadaan hama ini adalah
mencegah serangan keberadaan material padat
seperti bekas serutan kayu
dan kotoran larva tersebut.

hama ini (Portal, 2016). Gambar 8. a) Ngengat (imago) Indarbela quadrinotata dan (b) Ulat (larva) Pada tahapan yang lebih
Ekstensifikasi Indarbela quadrinotata parah adalah kematian
jaringan batang dan pada
lahan dan sistem (Ministry of Agriculture and Farmers Welfare, 2010) skala yang lebih parah dapat
pertanaman kelor secara

monokultur memunculkan permasalahan yaitu kerentanan mematikan tanaman apabila jaringan pengangkut air dan makanan

terhadap organisme perusak tanaman seperti serangan hama dan rusak dimakan oleh ulat tersebut.

penyakit yang dapat ditemukan pada fase semai maupun tanaman

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [23]

Siklus hidup hama ini dimulai ketika ngengat dewasa, yang memiliki kurangnya kontak antara ulat dan insektisida yang disemprotkan
warna krem (Gambar 8), meletakkan telur secara berkelompok (Mathew & Rugmini, 1997).
pada bagian batang kelor. Telur akan menetas setelah 7-11 hari 4. Achatina fulica Ferrusac
menjadi larva atau ulat. Ulat-ulat yang menetas kemudian akan
mencari bagian batang yang lunak (biasanya bagian pucuk) dan Hama ini termasuk dalam ordo Sytromatophora famili
mulai membuat lubang ke arah bawah ke bagian yang berkayu. Ulat Achtinidae atau lebih dikenal sebagai golongan moluska (bekicot).
hanya beraktivitas pada malam hari dengan memakan bagian Hama ini menyerang daun dan pucuk tanaman kelor pada saat
dalam batang. Setelah 29 hari, ulat akan berubah menjadi pupa masih semai yaitu usia 1-3 bulan. Bekicot termasuk hewan
atau kepompong yang memakan waktu selama 20-25 hari herbivora yang bersifat invasive sehingga berpotensi menjadi
(Satyanarayana et. al., 2017). Setelah menyelesaikan fase pupa, hama berbagai tanaman baik sayuran dan tanaman pangan
ngengat dewasa hanya memiliki masa hidup 4-7 hari. (Global Invasive Species Database, 2021).

Beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk Gambar 9. Bekicot Achatina fulica
mengendalikan hama ini adalah (1) menjaga kebersihan (Ministry of Agriculture and Farmers Welfare, 2010)
perkebunan dari tumpukan kayu-kayu mati, (2) membunuh ulat
secara manual dengan memasukkan kawat tipis ke dalam lubang Gejala serangan hama ini ditandai dengan daun
yang yang dibuat oleh ulat itu sendiri, (3) pada tingkat serangan berlubang, bekas gigitan di tangkai daun, dan matinya pucuk.
yang lebih berat, penggunaan kapas yang telah diteteskan 0.5 ml/l
dichlorovos, dan (4) penyuntikan minyak tanah dan 0.5 ml/l
dichlorovos ke dalam lubang yang dibuat oleh ulat dan ditutup
dengan kapas atau tanah.

Penyemprotan dengan menggunakan insektisida kimia
maupun nabati kurang memberikan hasil yang menggembirakan
karena sifat dari ulat ini yang selalu berada di dalam batang
sehingga efektivitas penyemprotan adalah rendah karena

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [24]

Akibat dari serangan hama tersebut adalah pertumbuhan tanaman berfungsi sebagai peraba dan 1 pasang tentakel panjang yang
kelor menjadi terhambat. Ciri tubuh hama ini memiliki tubuh yang terdapat mata pada bagian ujungnya.
tersusun atas struktur cangkang dan tubuh yang lunak. Kepala
bekicot terbagi dua yakni tentakel (panjang dan pendek) dan Bekicot mempunyai kemampuan reproduksi telur yang
mulut. Ciri morfologi hewan ini, panjang cangkang lebih kurang 6 tinggi yaitu antara 100-500 butir telur sehingga sulit dikendalikan.
cm dan diameter lebih kurang 3 cm. Pengendalian hama ini dapat dilakukan secara mekanis
(mengumpulkan dan memusnahkan hama) dan kimia
Warna cangkang didominasi oleh warna coklat (penggunaan molukosida niklosamida etanolamina 50 persen)
kemerahan dengan garis-garis warna kuning pucat (gambar 3.4). (Albuquerque et al., 2008).
Bekicot memiliki 2 pasang tentakel, 1 pasang tentakel pendek

B. Penyakit

Definisi lain menyebutkan bahwa penyakit merupakan suatu rangkaian proses fisiologis yang merugikan, yang disebabkan oleh
rangsangan terus menerus pada tumbuhan yang disebabkan oleh suatu penyebab primer. Penyebab primer di sini dapat berupa biotik (jamur,
bakteri, tumbuhan, virus, nematoda, dan protozoa) maupun abiotik (faktor lingkungan). Berikut ini beberapa penyakit yang umum ditemukan pada
tanaman kelor.

1. Penyakit busuk polong/buah meninggalkan bintik yang tidak rata di permukaan buah (Farming,
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cochliobolus 2020)

hawaiiensis. Penyakit ini menyerang polong yang mencapai Gejala penyakit diamati di seluruh permukaan polong,
tingkat kematangan di pohon dan menunjukkan pembusukan pada lebih mencolok di ujung stigma. Pada polong hijau, bintik cekung
skala luas. Polong akan terlihat menyusut dan terlihat lebih tipis elips atau memanjang dengan margin terangkat coklat kemerahan
dibandingkan polong yang sehat. Pada stadium lanjut, polong dapat diamati. Polong yang sakit menyusut ke dimensi yang lebih
yang membusuk akan mengering sebelum waktunya dan tipis di ujung stigmanya daripada yang sehat. Pada stadium lanjut

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [25]

perkembangan penyakit, polong menjadi busuk dan mengering biasanya pada fase semai berusia 3-4 bulan. Penyakit ini

sebelum waktunya, meninggalkan bintik-bintik yang tidak rata di menyebabkan pembusukan pada skala luas di pangkal batang

permukaan. Penyakit ini dominan pada daerah yang memiliki dan akar. Gejala penyakit terbentuk bercak hitam di pangkal

temperatur di atas 18ºC. batang dan meluas di sekeliling pangkal batang, munculnya hifa

Beberapa teknik pengendalian terhadap serangan penyakit jamur berwarna putih kecoklatan di pangkal batang dan akar serta

yang disebabkan oleh jamur dapat dilakukan dengan di media tanam, dan munculnya aroma fermentasi seperti bau

menggunakan fungisida baik kimia maupun nabati. Fungisida tape. Batang yang sakit lama-lama akan menyusut dan mudah

kimia memiliki sifat yang lebih efektif dan cepat dalam rebah/layu sehingga sering juga penyakit rebah batang. Pada

mengendalikan serangan penyakit ini. Akan tetapi, permasalahan stadium lanjut perkembangan penyakit, tanaman akan layu dan

lain berupa isu lingkungan dan mati karena tidak mendapat pasokan

meningkatnya resistensi makanan dari akar. Jamur ini mudah

penyakit di masa depan menyerang pada lingkungan yang

merupakan permasalahan yang lembab dengan temperatur diantara

harus diperhatikan dalam 27 oC s.d 34 oC (Gatan, 2020).

penggunaan fungisida kimia. Pengendalian terhadap

Fungisida nabati dapat menjadi penyakit yang disebabkan oleh jamur

alternatif dalam usaha ini disarankan lebih ke arah

pengendalian penyakit ini seperti Gambar 10. jamur Cochliobolus hawaiiensis manajemen persemaian. Hindari
ekstrak mimba, cengkeh, dan (en.wikipedia.org/wiki/Cochliobolus) penyiraman air yang terlalu banyak
minyak sereh wangi dilaporkan dan menyebabkan genangan sebab

memiliki tingkat efektivitas yang cukup baik. akar tanaman kelor sangat rentan. Pemakaian media tanam yang

cenderung berpasir sangat disarankan sebagai media tanam

2. Penyakit busuk pangkal batang/stem rot disease karena memiliki porositas yang lebih besar.

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani.

Penyakit ini menyerang pangkal batang dan akar tanaman kelor

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [26]

3. Penyakit layu daun menjadi pertimbangan. Akan tetapi, penggunaan jangka panjang

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cercospora spp., dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap resistensi jamur

Alternaria solani dan Septoria lycopersici. Penyakit ini menyerang patogen tersebut dan meningkatnya akumulasi fungisida pada

proses fotosintesis. Gejala penyakit ini ditandai dengan munculnya daun yang memiliki efek berbahaya jika dikonsumsi di kemudian

bintik-bintik coklat di hari. Pilihan lain adalah

daun kemudian dengan menggunakan

menyebar dan pestisida nabati yang

menutupi seluruh berasal dari ekstrak

permukaan daun. Pada tanaman yang memiliki

skala lebih serius, daun kandungan antifungi, seperti

akan menguning dan mimba, sereh wangi,

rontok. cengkeh, dan lain-lain

Kelembaban (Dotulong et al., 2019).

udara dan suhu Teknik mitigasi seperti

lingkungan yang tinggi Gambar 11. (a) Isolat jamur Rhizoctonia solani dan (b) Miselia jamur Rhizoctonia pemilihan bibit yang relatif
solani tahan penyakit, menerapkan
memiliki peranan yang sistem rotasi tanaman,
(www.balitkabi.litbang.pertanian.go.id/infotek/rhizoctonia-solani-penyebab-busuk- membersihkan sisa-sisa
penting dalam kanopi-pada-kedelai-di-lahan-pasang-surut/)

perkembangan dan

penyebaran spora jamur. Selain itu, penyakit ini memiliki inang tanaman yang mati, dan menghilangkan gulma yang dapat

yang relatif luas sehingga menjadikan pengendaliannya memang menjadi inang alternatif bagi jamur patogen tersebut.

relatif sulit. Kemunculan hama dan penyakit pada tanaman kelor

Ada dua cara dalam mengendalikan serangan penyakit dipicu oleh perubahan lingkungan yang cenderung ekstrim, pola

ini. Pertama dan yang memiliki efektivitas paling cepat adalah penanaman monokultur pada skala luas, dan tidak sterilnya

dengan menggunakan fungisida kimia. Selain efeknya yang cepat, media serta bibit yang digunakan. Pengendalian hama dan

kemudahan untuk mendapatkannya di toko-toko pertanian juga penyakit ke depannya perlu memperhatikan kesehatan

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [27]

ekosistem terutama pemanfaatan serangga predator dan jamur Gambar 12. Gejala serangan jamur Cercospora sp
entomopathogen. (www.ejurnal.litbang.pertanian.go.id)

Oleh sebab itu, manajemen pengendalian hama dan
penyakit yang meliputi seluruh aspek pengendalian yang bersifat
jangka pendek, menengah, dan panjang harus diterapkan untuk
mengurangi potensi terjadinya outbreak. Terlebih lagi
penggunaan pestisida dan fungisida kimia yang harus
memperhatikan aspek lingkungan dan akumulasinya di masa
depan.***

PENYAKIT PADA TANAMAN KELOR
Penyakit menyerang pada beberapa bagian tumbuhan.
Beberapa bagian tumbuhan yang sering menjadi sasaran
serangan penyakit adalah:
1. Penyakit busuk polong/buah
2. Penyakit busuk pangkal batang/stem rot disease
3. Penyakit layu daun

Bab 3 Mengenal hama dan penyakit pada tanaman [28]



Aktivitas untuk menghasilkan bahan pangan bisa dilakukan di lahan pertanian yang luas atau hanya di media yang relatif sempit seperti di rumah
kaca dan pekarangan rumah, bahkan di polybag, pot dan media air (hidroponik). Untuk menghasilkan produk pangan dengan jumlah dan mutu
yang memadai serta dalam kurun waktu yang bisa dipercepat, berbagai input teknologi dilakukan. Bagian dari input ini antara lain adalah melalui
pemupukan, baik pupuk yang diberikan dengan sasaran zona perakaran (pupuk akar), maupun yang langsung diberikan pada daun (pupuk
daun). Selain itu, agar terbebas dari berbagai gangguan yang mengancam pertumbuhan dan produktvitas tanaman, baik berupa hama, gulma
maupun penyakit, maka diberikan pestisida berupa pembasmi hama (insektisida), gulma (herbisida) dan penyakit (fungisida dan yang sejenis).

Umumnya, pupuk dan pestisida yang digunakan adalah berbasis bahan kimia sintesis. Bahan berbasis kimia ini telah memberi dampak
signifikan pada peningkatan jumlah dan mutu produk pangan, tetapi pada sisi lain diduga menimbulkan masalah serius, terutama yang terkait
dengan masalah lingkungan dan kesehatan. Hal ini antara lain karena adanya residu bahan kimia, baik di lahan maupun pada produk yang dipanen.
Residu bahan kimia tertentu dapat menggangu keseimbangan alam (ekosistem) dan bisa berdampak kepada menurunnya kesuburan lahan sebagai
akibat hilangya beberapa agen hayati (mikroorganisme) tertentu yang berperan dalam menyuburkan tanah. Kemudian, adanya residu bahan kimia
berbahaya yang ikut bersama produk pangan yang dipanen, apabila tidak dibersihkan secara benar dan kemudian dikonsumsi akan membahayakan
kesehatan manusia, karena bukan hanya makanan yang dikonsumsi tetapi juga residu kimianya pun ikut terkonsumsi dan masuk ke dalam tubuh
manusia.

Menyadari adanya efek samping dari praktik budidaya meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian organik adalah
pertanian berbasis bahan kimia, maka muncul praktik budidaya yang daun kelor (Moringa oleifera).
berupaya meminimalkan penggunaan bahan kimia sintetis. Muncullah, A. Istimewanya Produk Organik
praktik pertanian organik dengan produk organiknya berupa pangan
organik, sayur organik, buah organik dan lain-lain. Dalam praktiknya, Dalam mengonsumsi makanannya, manusia tidak sekadar
untuk menyuburkan lahan dan produknya, pertanian organik ingin kenyang dan enak, tetapi juga sebisa mungkin menyehatkan dan
mengandalkan bahan-bahan alami, antara lain dari ekstrak tumbuh- dari produk pangan hasil budidaya berwawasan
tumbuhan. Salah satu bagian tumbuhan yang mempunyai potensi lingkungan. Keinginan ini salah satunya bisa diwujudkan dengan
yang menjanjikan untuk digunakan sebagai pupuk maupun pestisida mengonsumsi makanan organik yang mempunyai sifat istimewa
alami dalam rangka menyuburkan tanah (media tanam) serta karena aman, sehat tanpa pestisida kimia, kualitasnya lebih baik dan
penanganan pascapanennya terkendali (Widowati et al.,

Bab 4 Membangun kesuburan bersama kelor [30]

2018). Karakteristik ini bisa dihasilkan karena praktik budidaya ini, pada sisi yang lain menyebabkan produk-produk pertanian organik

pertanian organik memegang prinsip-prinsip: lahan yang digunakan umumnya dikonsumsi kalangan tertentu yang pendapatannya lebih

bebas dari cemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida, dari cukup, yakni kalangan menengah-atas, sehingga dari segi

menghindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetik, pemasaran dimungkinkan ada kendala (Khorniawati, 2014). Karena

menghindari penggunaan pupuk sintetis adanya risiko pemasaran, untuk

dan ZPT, menghindari penggunaan KEUNGGULAN PRODUK ORGANIK mengembangkan pertanian organik

pestisida kimia sintetis, menghindari Karakteristik ini bisa dihasilkan karena praktik budidaya dalam skala bisnis (usaha) maka aspek

hormon tumbuh dan bahan aditif sintetis pertanian organik memegang prinsip-prinsip: lahan yang kepastian pasar harus benar-benar

dan penanganan pascapanen dan digunakan bebas dari cemaran bahan agrokimia dari diperhatikan terlebih dahulu. Ketika

pengawetan bahan pangan pupuk dan pestisida, menghindari penggunaan pasarnya sudah jelas, usaha pertanian

menggunakan cara alami (Widowati et al., benih/bibit hasil rekayasa genetic, menghindari organik umumnya layak untuk

2018). penggunaan pupuk sintetis dan ZPT, menghindari dikembangkan. Sebagai contoh, analisa

Karena dihasilkan dari budidaya penggunaan pestisida kimia sintetis, menghindari finansial yang dilakukan oleh (Widowati

dengan praktik, syarat dan ketentuan hormon tumbuh dan bahan aditif sintetis dan et al., 2018) pada pertanian organik

yang ketat maka tidak heran apabila penanganan pascapanen dan pengawetan bahan bayam jepang (Horenso) menunjukan

produk-produk pertanian organik pangan menggunakan cara alami (Widowati et al., 2018). bahwa secara finansial pada harga jual

umumnya mempunyai nilai jual yang Rp29.500 per Kg dan produktivitas 11 Kg

istimewa. Di pasaran, harga produk per bedeng usaha ini menguntungkan

pertanian organik lebih mahal dibandingkan produk pertanian petani dengan indikator R/C rasionya sebesar 1,85.

konvensional (berbasis bahan kimia sintetis). Berdasarkan Jika pun aktivitas pertanian organik ini belum terlalu menarik

penelusuran terhadap situs-situs penjual online, sebagai contoh bisa untuk skala usaha, tetapi setidaknya bisa diperkenalkan pada skala

ditemukan bahwa jeruk lemon organik bisa dijual seharga Rp76.000 rumah tangga (keluarga). Misalnya untuk pertanian di sekitar

per Kg, beras organik Rp220.000 per Kg, kedelai organik Rp40.000 pekarangan, baik di lahan dengan luasan terbatas ataupun di polybag

per Kg, bayam organik Rp10.000 per ikat, cabai rawit merah dan pot. Hal ini ditujukan setidaknya untuk memenuhi konsumsi

Rp120.000 per Kg, dan lain-lain. Namun, dengan harga yang istimewa makanan sehat keluarga. Ketika beberapa kebutuhan makanan

Bab 4 Membangun kesuburan bersama kelor [31]

keluarga bisa dipenuhi dari hasil panenan organik yang dibudidayakan mengatasinya, umumnya dilakukan dengan pemberian pupuk yang
sendiri, maka akan terbentuk keluarga-keluarga yang membiasakan berbahan kimia sintetis seperti pupuk urea, NPK, TSP, ZA dan lain-
pola hidup sehat antara lain dengan mulai mengonsumsi makanan lainl. Masalah lain yang juga cukup serius adalah kehadiran
sehat berbasis pertanian organik. Ketika semakin banyak keluarga organisme pengganggu tanaman (OPT) baik berupa hama, gulma,
yang mengonsumsi bahan makanan “bebas” bahan kimia sintetis, maupun penyakit. Kondisi iklim Indonesia yang relatif hangat dan
maka hal ini merupakan salah satu ikhtiar untuk meningkatkan lembab serta bercurah hujan yang relatif tinggi ditambah dengan sinar
kesehatan dan imunitas keluarga. Sebuah ikhtiar positif yang patut matahari yang terus ada sepanjang tahun menyebabkan hama, gulma
didukung dalam kondisi pandemi Covid-19 yang mana imunitas tubuh dan penyakit tersebut jumlahnya beragam dan hadir sepanjang tahun.
harus terjaga dan ditingkatkan. Untuk mengatasi OPT dilakukan dengan aplikasi pestisida yang
umumnya juga berbahan kimia sintetis.
Pemasyarakatan pertanian organik untuk skala keluarga ini
bisa disinergikan dengan program pemerintah, misalnya dengan Penggunaan pupuk dan pestisida berbahan kimia sintetis
program Ocu Mapan di Kabupaten Kampar Riau. Ocu Mapan adalah dipandang mempunyai efek samping terhadap kesehatan dan
kepanjangan dari optimalisasi cara untuk meningkatkan mandiri lingkungan. Kendatipun demikian, praktik pertanian yang sama sekali
pangan. Sebuah program yang diprakarsai oleh Dinas Ketahanan meninggalkan penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetis dalam
Pangan Kabupaten Kampar Riau yang ditujukan terutama untuk waktu dekat nampaknya belum bisa, tetapi harus tetap dicita-citakan
menciptakan pangan mandiri di tingkat keluarga melalui budidaya dan diupayakan. Upaya yang bisa dilakukan antara lain adalah dengan
pertanian yang memanfaatkan ruang sekitar halaman rumah. meminimalisir efek samping dari bahaya kimia tersebut, antara lain
dengan melakukan edukasi kepada petani untuk tidak berlebihan
B. Kelor Si Penyubur dalam menggunakan pupuk dan pestisida, melengkapi diri dengan
Ilmuwan telah merumuskan bahwa setidaknya ada 4 perlengkapan yang bisa melindungi petani dari efek buruk bahan
kimia, memberikan edukasi kepada konsumen agar mencuci bersih
komponen penting yang dibutuhkan tanaman untuk bisa tumbuh, bahan makanan yang mereka konsumsi, dan lain-lain. Upaya lainnya
berkembang dan berproduksi dengan baik. Ketiganya adalah sinar adalah dengan mengurangi kebutuhan akan pupuk dan pestisida
matahari, gas karbon dioksida, air dan hara (nutrisi). Dari ketiganya, kimia, yakni dengan mengkombinasikannya dengan penggunaan
masalah umum yang cenderung ditemukan untuk praktik budi daya pupuk dan pesitisida alami (organik) seperti pupuk kandang, kompos,
pertanian di Indonesia adalah terkait keterbatasan hara. Untuk
Bab 4 Membangun kesuburan bersama kelor [32]

pupuk hijau dan pestisida nabati. Kemudian, upaya berikutnya adalah mensubtitusi peran pupuk dan pestisida kimia. Bahan alami tersebut

dengan sama sekali meninggalkan penggunaan bahan kimia sintetis setidaknya harus bisa berperan dalam menyuburkan media tanam,

yakni melalui pertanian organik. Ketiga upaya tersebut hendaknya menyuburkan hasil panenan, bisa digunakan sebagai bahan

dilakukan secara parallel dan terus-menerus serta di back-up oleh pembasmi OPT dan juga mudah didapatkan. Salah satu jenis bahan

berbagai hasil riset dan didukung oleh kebijakan. alami yang telah banyak diteliti dan mempunyai potensi yang

Untuk menuju produk pertanian sehat yang bebas bahan kimia menjanjikan untuk memenuhi persyaratan tersebut adalah daun kelor

sintetis yang dihasilkan dari pertanian organik diperlukan bahan-bahan (Moringa oliefera). Kandungan hara, mineral dan vitamin pada

alami yang mempunyai kemampuan untuk melengkapi dan bahkan tanaman kelor ditampilkan pada table di bawah ini.

Tabel 3. Kandungan hara, mineral, vitamin dan fenol pada daun kelor

Konsentrasi (%) Referensi

N 4,02 - 4,51 (Adiaha, 2017; Aluko et al., 2017; Undie et al., 2013)

P 0,116 - 1.21 (Adiaha, 2017; Undie et al., 2013) (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

K 1,71 – 2,17 (Adiaha, 2017; Undie et al., 2013) (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

Mg 0,011 - 0.12 (Adiaha, 2017; Undie et al., 2013) (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

Ca 1,39 - 13.6 (Adiaha, 2017; Undie et al., 2013) (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

Na 0,012 – 2,19 (Adiaha, 2017; Undie et al., 2013) (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

Fe 0,017 – 0,0 58 (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

Mn 0,0047 – 0,0114 (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

Zn 0,0013 – 0,0024 (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

Total Fenol 1,6 (Foidl et al., 2001)
Vit C 0,0007 – 0,001 (Foidl et al., 2001)

N 4,02 - 4,51 (Adiaha, 2017; Aluko et al., 2017; Undie et al., 2013)

P 0,116 - 1.21 (Adiaha, 2017; Undie et al., 2013) (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

K 1,71 – 2,17 (Adiaha, 2017; Undie et al., 2013) (Becker & Makkar (tidak dipublikasikan) dalam (Foidl et al., 2001)

Bab 4 Membangun kesuburan bersama kelor [33]

Daun kelor mengandung hara/nutrisi (N,P,K dan lain- menyerang tanaman kubis. Ujicobanya menunjukkan hasil yang
lain) mineral dan vitamin yang relatif tinggi seperti yang terlihat dalam menggembirakan karena penggunaan konsentrasi ekstrak daun kelor
tabel. Daun kelor pun mengandung zat pengatur tumbuh (hormon) sebesar 50 persen (hasil maserasi) ternyata efektif membunuh ulat
yang diperlukan tanaman, terutama dari golongan sitokinin yang krop dengan nilai rerata kematian larva mencapai 70 persen. Hal ini
penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Asra et al., dikarenakan daun kelor mengandung senyawa bioaktif berupa
2020; Basra & Lovatt, 2016; Nasir et al., 2020). Selain itu, review alkaloid, flavonoid (0,18-1,64 persen), steroid, terpenoid, dan tannin
(Zulfiqar et al., 2020) terhadap berbagai hasil penelitian di dunia (20,60 mm/g) (Coppin et al., 2013; Laras, 2018; Pratama Putra et al.,
menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun kelor mampu meningkatkan 2017; Teixeira et al., 2014; Yulianto, 2020).
kemampuan toleransi tanaman terhadap stres kekeringan, salinitas
dan logam berat. Tidak hanya itu, penggunaan pupuk organik berbasis C. Membuat Biofertilizer dari Daun Kelor dan Aplikasinya
kelor ternyata mampu meningkatkan pH serta menjaga dan Walaupun daun kelor bisa digunakan langsung sebagai pupuk
meningkatkan kesuburan tanah (Anyaegbu, 2014; Undie et al., 2013).
Dengan sifat-sifat positif tersebut, daun kelor mempunyai potensi hijau atau terlebih dahulu didekomposisikan bersama bahan lainnya
besar untuk digunakan sebagai pupuk hijau, kompos, pupuk daun sebagai kompos, tetapi umumnya penelitian dan aplikasi penggunaan
(pupuk cair) dan pestisida nabati, biostimulant dan biofertilizer. Potensi daun kelor untuk tujuan pertanian berupa pupuk cair dari ekstrak
ini pun didukung oleh begitu banyak bukti ilmiah yang menunjukkan daunnya. Dari segi efektivitas dan fleksibitas, pupuk cair cenderung
bahwa pemberikan pupuk organik berbahan daun kelor dapat lebih unggul dibandingkan dengan kompos. Karena tanaman
meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tananaman seperti menyerap hara berupa zat terlarut, pada saat diaplikasikan hara yang
kentang, kedelai, gandum, stevia/daun manis, pakcoy, jeruk dikandung pada pupuk cair kelor akan lebih mudah dan cepat diserap
mandarin/kinnow, cabai merah, kacang panjang, bayam, jagung tanaman. Kemudian, pupuk cair bisa diaplikasikan baik berupa pupuk
manis, dan lain-lain (Abdullahi et al., 2017; Anyaegbu, 2014; Cahyono, daun, yakni langsung disemprotkan pada daun maupun langsung
2016; Hala et al., 2017; Jain et al., 2020; Kehinde-fadare & Ayodeji, disemprotkan di sekitar zona perakaran. Selain itu, pupuk dalam
2018; Lubis et al., 2019; Sari et al., 2020; Yasmeen et al., 2013). bentuk cair, melalui pengenceran, bisa langsung digunakan
sebagai sumber hara pada pertanian hidroponik. Oleh karena itu,
Potensi daun kelor sebagai biopestisida pun telah diungkap uraian akan diarahkan kepada tata cara pembuatan pupuk cair daun
oleh (Laras, 2018) pada penelitian pengendalian ulat krop yang kelor.

Bab 4 Membangun kesuburan bersama kelor [34]

Pupuk cair kelor bisa dibuat dengan berbahan murni daun kelor Berikut ini diuraikan tata cara pembuatan pupuk cair berbasis
(100 persen) atau dicampurkan dengan bahan lainnya seperti bahan daun kelor yang dianggap paling mudah dan contoh
cangkang pisang, daun Afrika daun kipahit dan lain-lain. Ektraksi daun aplikasinya. Diharapkan tata cara ini bisa ditiru secara luas oleh petani
bisa dilakukan dengan menggunakan pelarut air atau etanol. ataupun keluarga-keluarga yang ingin bercocok tanam di lahan sempit
Kemudian, pembuatannya bisa dilakukan dengan hanya atau pekarangan rumahnya.
menggunakan alat-alat sederhana yang mudah didapat petani atau
ditambahkan dengan penggunakan alat laboratorium. Cara Rajiman (Rajiman, 2019) mudah dilakukan karena
bahannya hanya daun kelor kering dan air. Siapkan daun kelor kering
angin sebanyak 1 Kg yakni kelor yang dikeringkan di

Gambar 13. Padi yang disemprot pupuk cair kelor dan hasilnya (Rokim)
Bab 4 Membangun kesuburan bersama kelor [35]

ruangan. Campurkan daun kering tersebut dengan 5 liter air, tata cara pembuatan pupuk cair kelor (Rokim, 2021). Rokim
kemudian diblender sampai halus. Kemudian lakukan penyaringan menyebutnya “Resep Pupuk Cair Organik Ala Rokim Askar”. Adapun
untuk mendapatkan esktraknya. Jika tidak langsung digunakan, tata caranya adalah:
larutan ekstraksi ini bisa disimpan pada suhu 0OC (Culver et al, 2012). 1. Siapkan beberapa peralatan yang diperlukan yakni ember plastik
Namun, apabila ingin digunakan langsung maka larutan ekstraksi bisa
diencerkan kembali dengan menambahkan air sesuai keperluan pupuk kapasitas 60 liter, pengaduk dari bambu/kayu, gayung, saringan.
dari tanaman yang akan disiram. Salah satu cara pengenceran yang 2. Siapkan bahan-bahan yakni, 2 Kg daun kelor (segar/basah), 2 Kg
bisa digunakan adalah dengan mencampur larutan ekstrak daun kelor
sebanyak 80 ml dengan 920 ml air. Campuran ini kemudian bisa daun Afrika (segar/basah), 1 Kg gula merah, 1 Kg gula putih, 1 Kg
diaplikasikan (disemprotkan) langsung ke tanaman pada waktu garam laut (dari tambak garam), 10 liter air cucian beras, 1 liter air
tertentu sesuai kebutuhan. Sebagai contoh pemberian pupuk cair kelor kelapa, sisa-siaa minuman (susu dan teh manis) dan sisanya air
pada bawang merah bisa dilakukan pada umur 2 dan 4 minggu setelah hujan sampai wadah penuh.
tanam (Rajiman, 2019). Cara ini memang belum dapat meningkatkan 3. Blender daun kelor dan daun Afrika (untuk memudahkan
produktivitas bawang merah, tetapi mampu meningkat jumlah tambahkan air secukupnya). Hasil blenderan ini masukan ke tong
daunnya. Dengan demikian, apabila pupuk cair kelor ini diaplikasikan bersamaan gula merah, gula putih, garam dapur.
pada jenis-jenis tanaman yang dipanen daunnya, seperti bayam, 4. Kemudian masukan air cucian beras, air kelapa, dan sisa air teh
kangkung, pakcoy, dan lain-lain dengan intensitas penyemprotan manis atau sisa air susu ke tong plastik, lalu penuhi tong tersebut
yang ditingkatkan (misalnya tiap pekan) kemungkinan hasil panenanya dengan air hujan atau air dari tempat lainnya.
akan meningkat. 5. Aduk-aduk (100 kali) semua bahan agar tercampur kemudian tutup
ember dengan rapi dan rapat.
Cara berikutnya adalah pembuatan pupuk cair kelor dengan 6. Lakukan pengadukan bahan 100 kali tiap hari.
tambahan bahan-bahan lainnya. Cara ini telah dikembangkan oleh 7. Memantau proses yang terjadi pada bahan. Jika proses berjalan
Rokim salah seorang alumni IPB yang sudah cukup lama dengan baik maka bahan-bahan yang awal mengapung akan
mengembangkan padi organik berbasis penggunaan pupuk cair kelor. tenggelam, kemudian di atas permukaan cairan bahan akan
Dalam halaman Facebooknya dan juga disampaikan dalam halaman muncul jamur, yang menunjukkan bahwa proses fermentasi
FB Himpunan Alumni IPB pada 5 Maret 2021 secara detail diuraikan berlangsung.

Bab 4 Membangun kesuburan bersama kelor [36]

8. Umumnya, setelah 15 hari fermentasi selesai, sehingga cairan liter, sehingga jumlah campuran airnya adalah 12-15 liter. Untuk
pupuk organik bisa dipanen dengan cara disaring dan dituang ke tanaman padi, penyemprotan dilakukan sepekan sekali yang mana
jerigen atau wadah lainnya. untuk 1 hektar sawah dibutuhkan 20 liter pupuk cair atau 10 tangki
semprotan. Dengan mengaplikasikannya, produktivitas padi yang
9. Pembuatan “Pupuk Cair Organik Ala Rokim Askar” telah selesai. dikelola Rokim di Karawang mencapai 7-8 ton per hektar. Selain itu,
pupuk cair kelor ini pun telah digunakan di “kebun” sayuran sekitar
Untuk aplikasi di lapangan, pupuk organik ini sebaiknya diencerkan pekarangan rumah di KKP IPB Baranang Siang Bogor yang digagas
dengan air sesuai kebutuhan jenis tanaman yang akan disemprot. oleh Komunitas Bahari dengan hasil yang meng- gembirakan.***
Sebagai contoh, Rokim menyebutkan bahwa untuk kapasitas alat
semprot 14-17 liter jumlah pupuk cair kelor yang dibutuhkan adalah 2

Gambar 14. Kebun pekarangan komunitas bahari yang memanfaatkan pupuk
cair kelor (Rokim)

Bab 4 Membangun kesuburan bersama kelor [37]



Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1973 mendefinisikan pestisida adalah zat kimia dan bahan lain serta jasad renik maupun virus yang
digunakan untuk memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman dan hasil pertanian.
Pestisida juga digunakan untuk mencegah pertumbuhan yang tidak dinginkan, seperti memberantas rerumputan yang dianggap sebagai gulma serta
dapat juga digunakan untuk mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman.

Pada kegiatan pertanian, pestisida kimia banyak digunakan karena dinilai praktis untuk mengendalikan serangan hama atau mengatasi
gulma. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dari segi lingkungan, pestisida kimia
dapat meracuni sumber air minum, meracuni makanan hewan, mengganggu ekosistem sungai dan danau, menyebabkan hujan asam, dan
sebagainya. Dari segi kesehatan manusia, pestisida kimia dapat meracuni manusia melalui mulut, kulit, dan pernafasan.

Sering tanpa disadari bahan kimia beracun tersebut masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang mendadak dan
mengakibatkan keracunan kronis. Seseorang yang menderita keracunan kronis, ketahuan setelah selang waktu yang lama, setelah berbulan atau
bertahun. Efek racun pestisida dapat bersifat karsinogenik (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), mutagenik (kerusakan genetik untuk generasi
yang akan datang), dan teratogenik (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan) (Ariyanti et al, 2017).

Saat ini masyarakat mulai menyadari akan dampak buruk (OPT), penggunaan insektisida sintetis seyogianya dipilih sebagai
residu pestisida sehingga mulai mencari alternatif pestisida yang tidak alternatif terakhir. Penggunaan pestisida harus mempertimbangkan
berdampak negatif terhadap lingkungan maupun kesehatan. Kebijakan dampak yang ditimbulkan dengan opsi sedini mungkin dan ditekan
di tingkat internasional telah mendorong pemerintah Indonesia seminimal mungkin.
mengeluarkan kebijakan nasional dalam hal perlindungan tanaman.
Pemerintah Indonesia diminta untuk menggalakkan program A. Pestisida Nabati
pengendalian hama terpadu (PHT) dengan mengutamakan Indonesia mempunyai keragaman flora yang sangat besar.
pemanfaatan agen pengendalian hayati hingga pemanfaatan pestisida
nabati. Lebih dari 400 ribu jenis tumbuhan telah teridentifikasi bahan kimianya
dan 10 ribu di antaranya mengandung metabolit sekunder yang
Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 tentang Penggunaan potensial sebagai bahan baku pestisida nabati (Saenong, 2016).
Insektisida Sintetis dan Sejenisnya. Dalam Bab II Pasal 19 ditegaskan Diperkirakan ada sekitar 1.800 jenis tanaman yang potensial sebagai
bahwa dalam rangka pengendalian organisme pengganggu tanaman pestisida nabati dapat digunakan untuk mengendalikan hama. Di

Bab 5 Pestisida nabati pembasmi hama alami [39]


Click to View FlipBook Version