The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini ditulis oleh siswa siswi SMP Islam Sinar Cendekia dalam rangka bulan bahasa dan sumpah pemuda 2020

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by eha subekha, 2020-12-07 23:31:29

Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Buku ini ditulis oleh siswa siswi SMP Islam Sinar Cendekia dalam rangka bulan bahasa dan sumpah pemuda 2020

Keywords: buku karya

Jasmine Az-Zahra 

49
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Ghaffara Imtiyaz Adelia 

 

   

50
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Fitri hanifah pramadani 

   

51
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Narendra Lejar P 

 
52
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Neyva Rifdah Mulin 

 

  

53
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Sulthan Arkan 

    

54
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Saniya Rhausani Rully 

 

  
55

Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Ghaziyah Ilmi 

   

56
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Yuzza Altaffaric Yogaswara 

 

57
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Febry irawan 

 

   

58
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Aisha Luvena P.  

59
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Arkana Ihsan 

 
60
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Muhammad Akram Rimeka 

61
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Emirsyah Fajar Siswoyo 

62
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Faiz Atthariq Kusindra 

63
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Farrel Mushaffa Ikhsan 

64
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Bagian 2 

 

KUMPULAN PANTUN 

   

65
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

M Azka Dhiestra  

 
 
Pergi ke taman naik kuda 
Semut nakal suka menyengat 
Bangkitlah wahai para pemuda, 
Nikmati perjuangan penuh semangat. 
 
 
Bermain-main bersama kawan 
Malam-malam lihat tanggal 
Zaman sekarang zaman persaingan, 
Pemuda yang malas akan tertinggal. 

66
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Muhammad Hammas Fathurrahman 

67
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Khansa Syakirah 
 
 

 

Jalan-jalan ke Italia,   
Hanya untuk makan pizza. 
Untuk apa banyak bicara, 
Banyak berbuat lebih utama. 

68
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Quinnzia Ermystin Asila Kurniawan 

 

 

Pemuda 

 

Kemerdekaan adalah persembahan 

Para pemuda di masa lalu 

Masa muda jangan kau sia-siakan 

Masa depan bangsa ada di pundakmu   

69
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Khalfan sidiq arsenjaya 

 

 

Jalan jalan ke Amerika 

Pulangnya bertemu pejabat 

Wahai semua pemuda 

Mari majukan negeri ini dengan semangat 

 

 

Makan tomat 

Minumnya air 

Ayo bekerja dengan giat 

Untuk bersaing di dunia luar   

70
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

M.Real Rizaq   
 
  Semangat pemudaku 

Mengejar elang hingga malam   
Tentunya takkan terkejar itu elang 

Walaupun semangat mulai padam 
Jangan sampai semangatmu hilang 

71
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Arva Andyalauda Wicaksono 

 
 

Mengantar surat lewat burung merpati 

Suratnya untuk keluarga tercinta 

Walau kami menimpa ilmu ke luar negeri 

Kami akan selalu ada, bagi indonesia tercinta 

 

Jalan-jalan ke taman kota 

Melihat banyak kendaraan beroda 

Mari kita peringati sumpah pemuda 

Dengan berkarya bagi nusa dan bangsa 

 

Mencari nafkah di pagi 

Bekerja keras sepanjang hari 

Walau kami tidak segigih para pemuda-pemudi 

Kami akan belajar sepenuh hati   

72
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Rheinaya Ardine 

 

 

Ada singa di Taman Raya 

Jalannya mengendap mencari mangsa, 

Pemuda yang baik bukan yang kaya raya, 

Tapi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa. 

 

 

Pergi ke pasar membeli pisang raja, 

Tidak lupa membeli ikan , 

Kaya dan miskin sama saja, 

Keadilan harus selalu ditegakkan. 

 

 

Pergi ke sekolah melihat pohon akasia 

Pulangnya lewat jalan Braga 

Kita harus membela Negara Indonesia 

Sampai habis jiwa raga.   

73
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Naufal Auliya Yusran 

 

Kalau ada kotoran dihati 

Jangan lupa harus mandi 

Yang tua akan diganti 

Pemuda akan menjadi 

 

Mengambil duit selagi ada 

Supaya tidak dicuri 

Jaga dirimu selagi muda 

Masa depanmu sedang menanti 

 

Kayu dibakar jadi abu 

Apinya panas berbahaya 

Manfaatkan umur mudamu 

Untuk dimasa tua nantinya 

 

Ada pencuri sedang kabur 

Ahkirnya terkena tangkap 

Jadi orang jangan takabur 

Supaya tidak terperangkap 

 

Hati hati kalau sedang halu 

Jangan sampai menjadi galak 

Apakah engkau tidak malu 

Sudah berumur namun masih anak anak   

74
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Bagian 3 

 
 

KUMPULAN PUISI 

 

 

 
 

75
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Kinanti Annisa Putri Dianri   

 

Kau menyebut dirimu pemuda? 
Yang selalu bersikap biasa saja terhadap masalah 
Dan kau masih menyebut dirimu seorang pemuda? 

Mendengar jeritan saja, kau merasa jijik 
 

Pemuda saat ini selalu bungkam ketika diminta untuk mengkritisi 
Pemuda saat ini mengaku sedang mengejar prestasi 
Tetapi nyatanya hati mereka sangat antipati 
 
Sebuah sumpah yang telah kau lupakan 
Sebuah hari istimewa yang kau acuhkan 
Ini bukan tentang perayaan tanpa arti 
Tetapi ini dari rakyat yang masih memiliki hati 
 
Mereka hanya butuh gerakan nyata 

Dari kita, dan dari pemuda yang mengaku cinta pada negerinya 

76
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Rafi Aulia 
 

Suara Pemuda    
 

Di saat hak-hak ditindas 
Dimana bumi pertiwi dirampas 
Di sanalah harapan baru akan menetas 
Ketidakadilan sosial akan dihempas 

 
Para pemuda yang berpeci 
Datang dari segala arah untuk memberi 
Dengan segala harapan yang amat tinggi 
Demi nusantara separuh hati 

 
Bersatu demi kebebasan 
Berunding demi keadilan 
Indonesia Raya mereka gemakan 
Sumpah Pemuda mereka suarakan 

77
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Inayah Malihah Burhanuddin 

 

Pemuda Pemudi Indonesia 

 

Wahai pemuda pemudi Indonesia 

Berjuanglah untuk bangsa 

Bersatu padu untuk tanah air Indonesia 

Karena kami pemuda Indonesia 

 

Wahai pemuda pemudi Indonesia 

Janganlah ingkar pada janji pemuda 

Janji yang kami kukuh kah untuk bangsa 

Untuk mu Indonesia 

 

Wahai pemuda pemudi Indonesia 

Mengikat erat satu Bahasa 

Bahasa yang mempersatukan kita semua 

Bahasa Indonesia   

78
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Alisha Chairani Adlin 

Generasi Harapan Bangsa 
 

Bagaikan kobaran api di atas jerami 
Serta panas teriknya sang mentari 

Itulah kobaran jiwa mereka 
 

Bagaikan gemuruh petir di kala hujan 
Serta gulungan ombak yang mampu menggulung 

Semua yang dilalui 
Itulah cerminan semangat mereka 

 
Mereka? siapakah mereka? 
Aku, kamu, dia adalah bagian dari mereka 
Pemuda pemudi harapan bangsa 
Sang pembela tanah air tercinta 

 
Dahulu… 
Pemuda pemudi rela mati ikut berjuang  
Demi merebut kemerdekaan Indonesia 
Menyerang bagai ombak 
Menerjang para penjajah 

 
 

79
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

 

Saat ini … 

Pemuda pemudi rela berkorban  

Demi menjadi tonggak pertahanan bangsa 

Membangun negeri tercinta 

Dan mengukir prestasi sampai ke kancah dunia 

 

Tetaplah kobarkan semangat kita 

Wahai pemuda pemudi 

Generasi harapan bangsa   

80
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Raisya haziq ramadhani 

Pemuda… 

 

Dulu waktu kau tak sanggup berjalan sendiri 

Ibu memegang tangan lalu menuntunmu sampai kau mampu berjalan 

Disaat engkau tak sanggup untuk memecahkan masalahmu sendiri 

Ayah berada di sampingmu untuk membantumu 

Lalu disaat kau tak mampu menahan rasa sakitnya luka 

Ayah dan ibu memelukmu sambil mengobati rasa sakitmu 

 

Kini, kakimu bukan hanya bisa berjalan sendiri, tetapi berlari kencang 

Menggapai semua mimpi dan harapan dalam hidupmu.. 

Menghadapi segala permasalahan dengan keberanian dan semangatmu… 

Menghalau segala luka dengan kebahagian yang ada dalam hidupmu 

Mencoba memeluk dan menaklukkan dunia dengan tekadmu 

Pemuda… 

Di pundakmu, terdapat harapan dan cita-cita bangsa ini 

Di hatimu, terdapat rasa dan cinta akan bangsa ini 

Di nafasmu, terhembus kehidupan akan kelangsungan bangsa ini 

Bersatulah…. Kita bangun bangsa tercinta ini… 

Bangsa Indonesia…   

81
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Andita Sri Widiandari 

Pemuda  

 

Hembusan angin menyapaku 
Bukit-bukit tersusun rapih nan indahnya 

Aku merebahkan diri diatas rumput 
Mengenang masa itu 

 

Ruang itu dipenuhi keriuhan 
Atmosfer kebangkitan terlihat sangat membara 

Lihatlah pemuda-pemudi itu 
Semangat mereka sangat menggebu-gebu 

 

Hei, apa yang mereka ucapkan? 
Sebuah tiga kalimat yang kuat sekali 

Tangan mereka terkepal keras 
Itulah sumpah pemuda 

 

Wahai pemuda 
Di tanganmu, rapatkanlah persatuan 

Jadilah patriot gagah nan berani 
Tegakkan kebenaran dan keadilan 
Untuk Negeri kita ini, Indonesia 

  

82
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Muhammad Ilyas Faiq   

Pemuda adalah penerus masadepan bangsa 
Pemuda yang kuat cerminan bangsa yang kuat 
Pemuda pintar lagi cerdas adanya guru bangsa 

83
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Ahmad Ghazy Ar Rayyan 

Wahai para pemuda pendahulu  
Yang telah hidup puluhan tahun berlalu  

Yang telah membuat semua bersatu  
Mengabadikan lentera nusantara  

 
Dikala sekarang telah tiada 
Gema janji sumpahmu tetap masih meraung  
Meraung keras di seluruh penjuru sudut bangsa ini  
28 Oktober, karenamu Pemuda Indonesia melebur  

 
Menjadi sebuah pedang yang diasah tajam 
Siap digunakan untuk mengisi kemerdekaan ini  

Terimakasih sumpahmu  
28 Oktober kan digemakan selalu sampai nanti 

Mentari tenggelam di seberang timur  
 

Kusulam bendera merah putih dengan benang  
Merah yang berani putihnya yang suci  
Tanggal 28 Oktober harus lah dikenang  
Sebagai masa bangsa-bangsa jadi satu 

84
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Malik Hakiim Prastowo 

 
Persahabatan buaya dan burung 

 
Pada suatu hari, seekor burung sedang mengelilingi hutan yang sangat besar 
untuk  mencari  makanan.  Tiba-tiba  dia  melihat  seekor  buaya  yang  sedang 
kesakitan dipinggir sungai, dia segera turun untuk melihat keadaan si buaya. 
Ternyata,  buayanya  sedang  sakit  gigi.  Dia  melihat banyak biji-bijian di gigi 
buaya,  kemudian  dia  mencoba  untuk  membantunya.  Akhirnya,  buaya  itu 
sudah  tidak  sakit  lagi  dan  berjanji  untuk  membalas  kebaikan  si  burung. 
Pada  lain  hari,  burung  tertangttap  oleh pemburu, tiba-tiba buaya datang 
dan  mengusir  pemburu  itu.  Dan  burung  berterimakasih  kepada  buaya 
tersebut.  Sehingga  mereka  jadi  saling  membantu,  burung  membantu 
membersihkan gigi buaya, dan buaya melindungi burung 

  

85
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

  

86
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Bagian 4 

KUMPULAN CERITA PENDEK 

87
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Haidar Izzuddin 

Pagi ini matahari menyapaku dengan sinarnya,  

kulitku terasa hangat oleh cahaya.  

Memelukku menyelamatkanku dari dingin pagi. 

kulihat bendera merah putih yang masih berkibar di depan rumah sisa dari 

perayaan 17 Agustus kemarin. 

Rasa nasionalisme ini seakan tertibkan oleh semangat, 

saat melihat bendera pusaka. 

Merah darah juga putih tulang melambangkan manusia. 

Kemanusiaan itu seperti terang pagi ini,  

akan tetapi orang-orang telah membuat bendera merah putih usai perayaan 

17 Agustus kemarin, 

ini kah apa yang terjadi terhadap negara kita? 

dulu Bapak bangsa kita sudah menumpahkan darah Murni Indonesia hanya 

untuk perayaan saja? 

Wahai Pemuda Pemudi Indonesia bangkitlah dan lihat apa yang terjadi 

terhadap negara kita. 

Korupsi dan lain-lain, inikah takdir Indonesia wahai penerus bangsa 

berjiwa Patriot? 

Beranikah kalian akan membuat negara ini menjadi yang lebih baik seperti 

visinya Bapak Bangsa?   

88
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Nadia Alya Afifa 
 

Layar tv berkedip, berganti dari satu saluran ke saluran yang lain seiring 
dengan irama tombol remote yang dipencet. Suara pintu tertutup 
terdengar, disambut oleh langkah kaki yang tergesa-gesa turun dari tangga. 
Dilihatnya dari sofa seorang wanita paruh baya yang cantik sedang sibuk 
memasukkan barang-barang ke dalam tas selempang kecilnya. 

“Farzan, bunda berangkat dulu ya nak. Sudah ditunggu tetangga nih.” Ucap 
wanita paruh baya itu. Farzan yang sedari tadi hanya sibuk menekan-nekan 
remote pun mengangguk dan mencium tangan bundanya yang saat ini 
sudah berdiri di hadapannya. “Nanti kalau lapar angetin aja ya makanan di 
kulkas. Bunda udah siapin.” 

“Iya, bunda. Aku tau kok. Hati-hati di jalan.” Senyuman tipis terukir di 
bibir sang bunda. Tangannya terangkat untuk mengusak-ngusak rambut 
anak semata wayangnya sebelum akhirnya melambaikan tangan. “Dadahh.” 
Wanita itu pun keluar dari kediaman mereka, wajahnya menghilang di 
balik pintu. 

Farzan menghembuskan nafasnya, merasa bosan. Baru saja ia akan 
mengganti saluran tv nya lagi, tiba-tiba sebuah berita menarik 
perhatiannya. Posisi duduknya ia luruskan, menatap layar kaca itu dengan 
seksama. 

“Telah diketahui bahwa saat ini pemerintah akan melakukan uji coba 
vaksin kepada para sukarelawan. Total sudah 7 bulan karantina diterapkan 
di negara kita akibat virus menular yang menyebar sehingga menjadi 
pandemi. Walau penyakit sebenarnya yang disebabkan oleh virus ini sama 
sekali tidak pernah dijelaskan secara detail, para masyarakat benar-benar 
sangat menunggu kedatangan vaksin ini—“ 

89
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Lelaki itu mendengus. Ia ambil remote yang tergeletak disampingnya dan 
langsung mematikan tv. “Omong-kosong.” HP nya berdering. Membuat dia 
menengadahkan kepalanya ke arah benda persegi panjang yang terletak di 
meja kecil di sebelahnya. Kedua sudut bibirnya terangkat lantas melihat 
nama pemanggilnya. 

”Woi Ian, ngapain manggil-manggil?” Ucapnya bercanda, dapat 
didengarnya suara kekehan dari sebrang sana. “Apaan sih lu? Kayak gak 
biasa gua telfon aja.” Farzan pun menggelengkan kepalanya. Jujur akibat 
karantina ia jadi tidak bisa sering-sering bertemu dengan sahabatnya ini. 
Sebenarnya ia merasa jenuh, tapi tentunya tak akan ia katakan secara 
terbuka. 

“Eh tapi serius nih.” Salah satu alisnya terangkat heran setelah mendengar 
intonasi Ian berubah menjadi serius. Farzan hanya berdeham sebagai tanda 
kalau ia mendengarkan. “Gua denger-denger pemerintahan kita 
berhubungan sama pasar gelap.” Mendengar penuturan sahabatnya Farzan 
hanya bisa mengeluarkan nafasnya. Tak habis pikir dia dengan sahabatnya 
yang selalu saja mengatakan hal yang aneh-aneh. 

“Hoaks itu mahh. Jangan mudah percaya sama berita yang kayak begitu.” 
Suara decihan dapat di dengarnya. Meskipun mereka tidak bertatap muka, 
Farzan dapat membayangkan sahabatnya kini sedang memutar kedua bola 
matanya. “Gua serius ih. Menurut lu mencurigakan banget gak sih 
sukarelawan harus datang langsung ke kantor pusat? Padahal kan biasanya 
juga tinggal datang ke rumah sakit di daerahnya kan? Rasanya kayak ada 
sesuatu deh.” 

Jelas Ian panjang lebar. Farzan yang tidak mengindahkan penjelasan 
sahabatnya itu pun hanya bisa mengusap wajahnya kasar. “Udah ah. 

90
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Bundaku jadi sukarelawan ini. Jangan bikin aku khawatir.” Terangnya, ia 
pun memutuskan panggilannya. Lelaki itu bangkit dari posisinya, 
membawa kakinya ke lantai atas menuju kamarnya. “Ian ada-ada saja. 
Palingan juga dia cuma dengar rumor-rumor aneh.” Ucapnya sebelum 
akhirnya kedua matanya tertutup. 

~.~ 

Suara ketukan pintu yang keras membangunkannya dari tidurnya yang tak 
bermimpi. Terdengar dua suara yang familiar meneriakkan namanya dari 
luar. Dengan langkahnya yang masih tergontai, ia bergegas menuruni anak 
tangga dan segera membukakan pintu kepada tamunya yang tidak 
diundang ini. “WOI FARZA—“ 

“Iya ih gak usah teriak.” Ucapnya malas masih mengerjap-ngerjapkan 
matanya untuk menghilangkan kantuk, atau yang biasa disebut 
mengumpulkan nyawa. Kedua empu yang tadi menggebrak pintunya 
dengan kasar pun terkekeh, megusap-ngusap tengkuk leher mereka. “Lah 
Ian? Kok kamu disini? Terus Aldo juga ngapain? Kenapa ini tetangga 
ngumpul semua?” 

Pertanyaan terus keluar bertubi-tubi setelah Farzan tersadar dari pasca 
kebangunannya. “Wow pelan-pelan temanku. Daripada basa-basi gua 
langsung ke intinya aja deh.” Tutur Aldo, tetangganya sekaligus teman 
karibnya. Farzan hanya menggaruk-garuk sisi kepalanya sambil 
mengangguk, mengisyaratkan lawan bicaranya untuk melanjutkan. 

“Para sukarelawan menghilang.” Keheningan memenuhi atmosfir di sekitar 
mereka. Farzan yang tersentak akan perkataan temannya itu hanya bisa 
terdiam, mencoba untuk mencerna 3 kata yang terbilang sederhana itu. 
Tetapi baginya, saat ini kata-kata itu terdengar sangat berat.  

91
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Bunda. Sosok itu adalah yang pertama kali muncul dibenaknya. Mendadak 
jantungnya berpacu dengan sangat cepat. 

“Apa maksudmu? Jangan bercanda deh, ini gak lucu!” Ungkapnya, menolak 
untuk memercayai perkataan temannya itu. Mendengar ucapan Farzan, 
Aldo hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari 
mengusak surai rambutnya.  

“Ya gua juga maunya ini bercandaan, Zan. Tapi ini beneran! Orang tua gua 
gak pulang-pulang, tetangga yang jadi sukarelawan juga belum balik! Ini 
lagi ramai dibahas di media sosial.” Sekali lagi Farzan terdiam. “Kalian 
udah lapor ke polisi?” Farzan mencoba untuk tenang. Panik bukanlah hal 
terbaik untuk dilakukan disaat ini. 

“Ya, semuanya udah lapor ke polisi di daerah masing-masing tapi para 
pejabat tidak menggubris permasalahan ini.” Kekhawatiran nampak sekali 
di wajah Aldo. Ian yang sedari tadi berdiri disebelahnya hanya bisa 
menatap kedua temannya ini dengan rasa iba. 

Farzan memfokuskan penglihatannya pada tetangga yang sedang sibuk 
berlalu-lalang dengan panik sambil mencoba menelfon anggota keluarga 
mereka dan yang sedang berdiskusi. “Oke, sekarang kalian berdua nginap 
dulu di rumahku. Kita perlu menyelidiki ini lebih lanjut.” Aldo dan Ian 
mengangguk. “Memang itu rencana gua pas datang ke rumah lu.” Sambung 
Ian. 

~.~ 

Pertama kali dari sekian seringnya mereka berkumpul, tidak ada satu 
percakapan pun yang terbentuk. Masing-masing disibukkan sendiri dengan 
kegiatannya di depan laptop masing-masing, memantau keadaan dari 
media sosial. “Demi apapun. Pemerintah benar-benar berusaha untuk 

92
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

menutup masalah ini. Padahal banyak sekali orang yang menghilang. Apa 
mereka masih waras?” 

Ian membuka suara, memecahkan kesunyian. “Makanya itu. Ada yang 
janggal ini. Apa mereka segitu kehabisan ide sampai buka-bukaan seperti 
ini?” Sambung Aldo. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepala 
mereka, tetapi sedalam apa pun mereka berpikir, mereka belum 
menemukan motif dibalik aksi pemerintah itu. 

“Kalau begini yang ada bisa terjadi demo besar-besaran.” Kedua lelaki itu 
mengangguk setuju atas pernyataan Ian, sama-sama sibuk melihat 
berita-berita di media sosial dari kenalan para sukarelawan yang sibuk 
meminta tolong dan para netizen yang meramaikan keadaan. “Semoga para 
sukarelawan baik-baik saja.” Ungkap Farzan. 

~.~ 

Dua hari yang menyesakkan dan penuh dengan protes telah berlalu, para 
masyarakat berusaha menyuarakan kecemasannya namun penjabat 
seakan-akan tuli, tidak memedulikan kecemasan itu sama sekali. Hari ini, 
demo besar-besaran akan berlangsung. 

Farzan, Ian, dan Aldo bersama dengan teman-teman satu kampusnya sudah 
merencanakan hal ini matang-matang dengan para perwakilan kampus 
yang mendatangi pertemuan pelaksanaan demonstrasi. Dengan perasaan 
yang gugup, mereka berangkat dari rumah Farzan menuju tempat 
berkumpul para demonstrasi di daerah mereka. 

Lupakan virus, keselamatan para sukarelawan lebih penting. Itulah hal 
yang terus-terus berputar di kepala mereka seperti kaset tua yang rusak.  

93
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Walau waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi, kawasan tempat 
berkumpul sudah ramai oleh para mahasiswa yang akan ikut serta 
berangkat menuju kantor pusat untuk protes. Senjata tidak mereka bawa 
karena tujuan dari demo ini hanyalah sebagai unjuk rasa dimana kekerasan 
tidak dibutuhkan. 

“Woi kalian.” Farzan membuka suara. Lantas kedua temannya itu menoleh 
ke arahnya. “Jangan jauh-jauh ya. Kita gak boleh sampai kepisah.” 
Mendengar penuturan Farzan, kedua lelaki lainnya terpekik geli. 
“PFFT—tumben lu baik gitu. Biasanya juga bodoamat.” Jawab Ian tertawa 
geli sambil memeluk perutnya. 

Alis kanan Farzan terangkat, menatap teman-temannya datar. “Oh yaudah. 
Kalau gitu pas nanti kalian keseret-seret gua tinggalin.” Gelak tawa kedua 
temannya makin menjadi-jadi. “Aish canda, bro. Baperan banget sih.” Aldo 
hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat argumen kekanakan 
kedua sahabatnya ini. 

~.~ 

“Oke semuanya! Sekali lagi saya ingin mengingatkan! Kita berkunjung ke 
kantor pusat bukan ingin menciptakan kegaduhan! Jangan ada yang 
melakukan tindak kekerasan! Jaga satu sama lain! Keselamatan semua 
anggota adalah yang terpenting, paham?” Ucap sang pembicara dengan 
pengeras suara. Suara sorakan memenuhi kawasan ini. 

“Kalau begitu, mari kita jalan! Ayo semuanya! HIDUP!”  

“HIDUP!” 

Suara sorakan memenuhi telinga selama perjalanan. Membuat pelintas ikut 
bersorak sorai bersama mereka dan mendo’akan keselamatan para 
demonstrator. Ditengah keramaian ini, Farzan terbuai dalam pikirannya. 

94
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Hatinya tidak tenang. Memikirkan nasib bundanya yang sudah dua hari 
tidak kunjung balik.  

Bagaimana jika ucapan selamat tinggal kecil mereka waktu itu adalah yang 
terakhir kalinya? Sudah berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa 
bundanya baik-baik saja. Sudah tidak terhitung berapa kali ia mencoba 
menghilangkan pikiran negatif itu, tapi apa hasilnya? Pikiran-pikiran itu 
terus saja muncul dan menghantui dirinya. Ia mencengkram baju di depan 
dadanya erat-erat.  

“Farzan.” 

Sebuah suara menyadarkannya dari lamunan panjangnya yang tidak 
berujung. Ian, sahabatnya itu menatapnya dalam-dalam. “Jangan berpikir 
yang aneh-aneh. Semuanya akan baik-baik saja.” Jujur Ian sendiri juga 
meragukan perkataannya. Tetapi setidaknya, itu bisa membuat Farzan 
sedikit lebih tenang. Setidaknya ia masih memiliki harapan dan keyakinan 
yang akan membantunya untuk tidak tumbang nanti. 

~.~ 

Sesak. Ini sangat menyesakkan. Asap yang ditimbulkan gas air mata 
memenuhi lapangan disisi para demonstrator, menghalangi penglihatan 
mereka. Para pemuda yang berada disana berlari menghindar, membantu 
pemuda lain yang terjatuh dan terluka. Dengan lengan yang saling 
bertautan, Farzan, Ian, dan Aldo berlari bersama. Mencegah agar tidak ada 
satu pun dari mereka yang terpisah. 

Pikiran Farzan berkabut, membuat suara gemuruh di sekitarnya memudar 
di telinga. Matanya menyipit guna mempermudah melihat keadaan di 
sekelilingnya. Saat asap-asap disekitarnya hampir menghilang, para 
pasukan pemerintah itu melempar lebih banyak gas air mata. Sekali lagi 
sukses menghadang penglihatan mereka. Ditengah kehancuran ini, 
tiba-tiba saja terdengar suara peluru ditembakkan. 

95
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Tunggu, peluru?! 

Teriakkan yang memekikkan telinga terdengar tidak jauh dari tempat 
Farzan berdiri. Dengan panik dan ketakutan, Farzan menoleh. “DARAH! 
INI PELURU ASLI!” Pekik Aldo yang tadi langsung bergegas ke sisi 
mahasiswa yang tertembak. Orang-orang yang berada di sekitar sana 
terkesiap. Dengan cekatan, Aldo melepas almamaternya dan membalutnya 
di bahu lelaki yang tertembak itu. 

“Cepat hubungi ambulans!” Perintah Ian. Masih terkejut dengan kejadian 
yang baru saja menimpa teman seperjuangannya, Farzan terdiam. Melihat 
kedua temannya yang sibuk menangani orang itu. Di dekatnya ada 
beberapa mahasiswa yang mendokumentasikan kejadian ini dengan HP 
nya masing-masing. Bukankah seharusnya pengunaan senjata dilarang? 
Batinnya, dahinya berkerut. 

“Woi Zan! Jangan diem aja, bantuin gua ngangkut orang ini!” Aldo 
berdesis, membangunkan Farzan dari rantaian monolog pikirannya. Lelaki 
itu berjalan ke arah Aldo yang sedang berdiri membantu orang itu bertapak 
di kedua kakinya. Memposisikan dirinya di sisi kanan pemuda itu, Farzan 
melingkarkan tangan pemuda itu di lehernya dan mulai berjalan dengan 
perlahan ke tempat yang lebih sepi dengan Ian dan mahasiswa-mahasiswa 
lain yang menjaga sekitar. 

Baru saja mengambil beberapa langkah, suara peluru yang dilepaskan 
kembali terdengar, kali ini agak jauh dari posisi mereka. Teriakkan serta 
sorakan-sorakan kecewa terdengar dari para demostrator, merasa tidak 
layak diperlakukan seperti ini. Tentunya dalam peraturan negara sendiri 
pun hal ini dilarang. Karena itu, tidak ada satu pun dari pihak mahasiswa 
yang membawa senjata. 

“Weh, hati-hati. Kita harus keluar dari sini. Banyak banget peluru nyasar 
ini.” Ucap salah satu mahasiswa yang ikut gerombolan mereka. Farzan, Ian, 

96
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

dan Aldo hanya mengangguk dan yang lainnya langsung mendekat, tidak 
ingin tiba-tiba terpisah. 

“Kalian, lihat! Itu ada bantuan!” Pekik Ian. Lantas mereka semua melihat 
ke arah yang ditunjuknya. Disana, di depan sebuah toko yang ditutup, 
terlihat segerombolan mahasiswa yang sedang sibuk memberikan 
pertolongan pertama pada mahasiswa lain yang terluka dan juga 
karyawan-karyawan supermarket yang menyediakan kebutuhan pangan. 

Mereka pun sama-sama mengeluarkan nafas yang tanpa disadari tertahan. 
Dengan berhati-hati, Farzan dan Aldo melangkah sambil merangkul 
mahasiswa yang tertembak tadi, Ian sudah lebih dulu sampai disana untuk 
memberi taukan keadaan mereka. 

“Sini temannya dibaringkan dulu. Sebentar lagi ambulans datang.” Ucap 
seorang mahasiswa yang berada disana. “Tunggu dikit lagi ya, ambulans 
bakal datang.” Bisik Aldo pelan. Mahasiswa yang sedari tadi dirangkulnya 
hanya berdeham pelan sambil meringis kesakitan.  

“Arya. Nama gua Arya” Ungkapnya. Aldo tersenyum, “Gua Aldo. Terus 
yang ngerangkul kamu satu lagi itu Farzan. Kalau yang itu Ian.” Arya 
mengangguk, membisikkan terima kasih. 

Seperti yang dijanjikan, banyak ambulans datang tidak lama setelahnya, 
para medis segera turun dan mengangkut korban yang terluka. “Arya, cepet 
sembuh. Jaga diri ya.” Ucap Aldo, melambaikan tangannya. Arya hanya 
mengangkat jempolnya sebelum akhirnya, pintu ambulans ditutup. Ketiga 
serangkai itu dan para mahasiswa lainnya melihat kepergian ambulans itu 
dengan perasaan yang bercampur aduk. 

Ian menjatuhkan dirinya, merasa lelah. “Aku capek!” Kekehan kecil keluar 
dari mulut Farzan, Aldo mendengus. “Dih, yang semalam ribut sendiri 
nyiapin demo siapa?” Sarkas Aldo, mendudukkan dirinya disamping Ian 
diikuti Farzan. Ian memutar kedua bola matanya. “Bodoama—“ 

97
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Kericuhan kembali terdengar di balik kabut gas air mata itu, membuat 
perkataan Ian terpotong. “Ada apa lagi ini?” Ucap seorang mahasiswa tadi 
dengan waspada. Farzan menegakkan posisi duduknya. Siluet tubuh 
beberapa orang terlihat mendekati tempat ini. 

“TOLONG WOI ADA YANG KETIKAM!”  

Para mahasiswa yang membawa peralatan medis langsung bergegas 
menyiapkan obat-obatannya, terlihat orang yang berteriak tadi itu juga 
terluka, membawa seorang mahasiswa yang baru saja ditikam. 
“Pelan-pelan.” Dua mahasiswa lain datang ke arah mereka membawa 
mahasiswa yang tertikam itu.  

“Nih kompres tuh dahi lu, berdarah itu.” Orang yang membawa mahasiswa 
yang tertikam itu menerima kompresnya dan langsung menekannya ke 
dahinya yang terluka. 

“Hei uhh kak, apa yang terjadi?” Ingin mengetahui kejadian yang 
sebenarnya, Farzan memberanikan diri untuk bertanya. Orang itu menoleh, 
dapat dilihat dengan jelas wajahnya sudah babak belur. “Jujur gua juga gak 
tau.” Dia memberi sedikit jeda untuk mengambil napasnya, berjalan ke 
arah mereka bertiga dan mendudukan dirinya disamping mereka. 

“Padahal belum satu jam kita sampai disini, mereka udah pakai kekerasan 
aja. Belum lagi, tadi lumayan banyak mahasiswa yang diculik juga.” Ian 
membelalakkan matanya. “Diculik?!” Orang itu mengangguk. “Iya. 
Ternyata pemerintah menempatkan banyak mata-mata. Dan disaat 
kegaduhan terjadi mereka langsung beraksi. Benar-benar perbuatan kotor!” 
Ucapnya frustasi. 

Hembusan nafas kasar dikeluarkannya. Pandangannya teralih ke ketiga 
pemuda yang sedari tadi mendengarkan keluhannya itu. “Oiya, 
ngomong-ngomong nama kalian siapa? Gua Bagas, mahasiswa tahun 
ketiga.” Dia menjulurkan tangannya, mengganti topik. “Gua Farzan. Itu 

98
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita


Click to View FlipBook Version