Jasmine Az-Zahra
49
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Ghaffara Imtiyaz Adelia
50
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Fitri hanifah pramadani
51
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Narendra Lejar P
52
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Neyva Rifdah Mulin
53
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Sulthan Arkan
54
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Saniya Rhausani Rully
55
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Ghaziyah Ilmi
56
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Yuzza Altaffaric Yogaswara
57
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Febry irawan
58
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Aisha Luvena P.
59
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Arkana Ihsan
60
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Muhammad Akram Rimeka
61
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Emirsyah Fajar Siswoyo
62
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Faiz Atthariq Kusindra
63
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Farrel Mushaffa Ikhsan
64
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Bagian 2
KUMPULAN PANTUN
65
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
M Azka Dhiestra
Pergi ke taman naik kuda
Semut nakal suka menyengat
Bangkitlah wahai para pemuda,
Nikmati perjuangan penuh semangat.
Bermain-main bersama kawan
Malam-malam lihat tanggal
Zaman sekarang zaman persaingan,
Pemuda yang malas akan tertinggal.
66
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Muhammad Hammas Fathurrahman
67
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Khansa Syakirah
Jalan-jalan ke Italia,
Hanya untuk makan pizza.
Untuk apa banyak bicara,
Banyak berbuat lebih utama.
68
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Quinnzia Ermystin Asila Kurniawan
Pemuda
Kemerdekaan adalah persembahan
Para pemuda di masa lalu
Masa muda jangan kau sia-siakan
Masa depan bangsa ada di pundakmu
69
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Khalfan sidiq arsenjaya
Jalan jalan ke Amerika
Pulangnya bertemu pejabat
Wahai semua pemuda
Mari majukan negeri ini dengan semangat
Makan tomat
Minumnya air
Ayo bekerja dengan giat
Untuk bersaing di dunia luar
70
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
M.Real Rizaq
Semangat pemudaku
Mengejar elang hingga malam
Tentunya takkan terkejar itu elang
Walaupun semangat mulai padam
Jangan sampai semangatmu hilang
71
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Arva Andyalauda Wicaksono
Mengantar surat lewat burung merpati
Suratnya untuk keluarga tercinta
Walau kami menimpa ilmu ke luar negeri
Kami akan selalu ada, bagi indonesia tercinta
Jalan-jalan ke taman kota
Melihat banyak kendaraan beroda
Mari kita peringati sumpah pemuda
Dengan berkarya bagi nusa dan bangsa
Mencari nafkah di pagi
Bekerja keras sepanjang hari
Walau kami tidak segigih para pemuda-pemudi
Kami akan belajar sepenuh hati
72
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Rheinaya Ardine
Ada singa di Taman Raya
Jalannya mengendap mencari mangsa,
Pemuda yang baik bukan yang kaya raya,
Tapi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Pergi ke pasar membeli pisang raja,
Tidak lupa membeli ikan ,
Kaya dan miskin sama saja,
Keadilan harus selalu ditegakkan.
Pergi ke sekolah melihat pohon akasia
Pulangnya lewat jalan Braga
Kita harus membela Negara Indonesia
Sampai habis jiwa raga.
73
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Naufal Auliya Yusran
Kalau ada kotoran dihati
Jangan lupa harus mandi
Yang tua akan diganti
Pemuda akan menjadi
Mengambil duit selagi ada
Supaya tidak dicuri
Jaga dirimu selagi muda
Masa depanmu sedang menanti
Kayu dibakar jadi abu
Apinya panas berbahaya
Manfaatkan umur mudamu
Untuk dimasa tua nantinya
Ada pencuri sedang kabur
Ahkirnya terkena tangkap
Jadi orang jangan takabur
Supaya tidak terperangkap
Hati hati kalau sedang halu
Jangan sampai menjadi galak
Apakah engkau tidak malu
Sudah berumur namun masih anak anak
74
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Bagian 3
KUMPULAN PUISI
75
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Kinanti Annisa Putri Dianri
Kau menyebut dirimu pemuda?
Yang selalu bersikap biasa saja terhadap masalah
Dan kau masih menyebut dirimu seorang pemuda?
Mendengar jeritan saja, kau merasa jijik
Pemuda saat ini selalu bungkam ketika diminta untuk mengkritisi
Pemuda saat ini mengaku sedang mengejar prestasi
Tetapi nyatanya hati mereka sangat antipati
Sebuah sumpah yang telah kau lupakan
Sebuah hari istimewa yang kau acuhkan
Ini bukan tentang perayaan tanpa arti
Tetapi ini dari rakyat yang masih memiliki hati
Mereka hanya butuh gerakan nyata
Dari kita, dan dari pemuda yang mengaku cinta pada negerinya
76
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Rafi Aulia
Suara Pemuda
Di saat hak-hak ditindas
Dimana bumi pertiwi dirampas
Di sanalah harapan baru akan menetas
Ketidakadilan sosial akan dihempas
Para pemuda yang berpeci
Datang dari segala arah untuk memberi
Dengan segala harapan yang amat tinggi
Demi nusantara separuh hati
Bersatu demi kebebasan
Berunding demi keadilan
Indonesia Raya mereka gemakan
Sumpah Pemuda mereka suarakan
77
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Inayah Malihah Burhanuddin
Pemuda Pemudi Indonesia
Wahai pemuda pemudi Indonesia
Berjuanglah untuk bangsa
Bersatu padu untuk tanah air Indonesia
Karena kami pemuda Indonesia
Wahai pemuda pemudi Indonesia
Janganlah ingkar pada janji pemuda
Janji yang kami kukuh kah untuk bangsa
Untuk mu Indonesia
Wahai pemuda pemudi Indonesia
Mengikat erat satu Bahasa
Bahasa yang mempersatukan kita semua
Bahasa Indonesia
78
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Alisha Chairani Adlin
Generasi Harapan Bangsa
Bagaikan kobaran api di atas jerami
Serta panas teriknya sang mentari
Itulah kobaran jiwa mereka
Bagaikan gemuruh petir di kala hujan
Serta gulungan ombak yang mampu menggulung
Semua yang dilalui
Itulah cerminan semangat mereka
Mereka? siapakah mereka?
Aku, kamu, dia adalah bagian dari mereka
Pemuda pemudi harapan bangsa
Sang pembela tanah air tercinta
Dahulu…
Pemuda pemudi rela mati ikut berjuang
Demi merebut kemerdekaan Indonesia
Menyerang bagai ombak
Menerjang para penjajah
79
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Saat ini …
Pemuda pemudi rela berkorban
Demi menjadi tonggak pertahanan bangsa
Membangun negeri tercinta
Dan mengukir prestasi sampai ke kancah dunia
Tetaplah kobarkan semangat kita
Wahai pemuda pemudi
Generasi harapan bangsa
80
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Raisya haziq ramadhani
Pemuda…
Dulu waktu kau tak sanggup berjalan sendiri
Ibu memegang tangan lalu menuntunmu sampai kau mampu berjalan
Disaat engkau tak sanggup untuk memecahkan masalahmu sendiri
Ayah berada di sampingmu untuk membantumu
Lalu disaat kau tak mampu menahan rasa sakitnya luka
Ayah dan ibu memelukmu sambil mengobati rasa sakitmu
Kini, kakimu bukan hanya bisa berjalan sendiri, tetapi berlari kencang
Menggapai semua mimpi dan harapan dalam hidupmu..
Menghadapi segala permasalahan dengan keberanian dan semangatmu…
Menghalau segala luka dengan kebahagian yang ada dalam hidupmu
Mencoba memeluk dan menaklukkan dunia dengan tekadmu
Pemuda…
Di pundakmu, terdapat harapan dan cita-cita bangsa ini
Di hatimu, terdapat rasa dan cinta akan bangsa ini
Di nafasmu, terhembus kehidupan akan kelangsungan bangsa ini
Bersatulah…. Kita bangun bangsa tercinta ini…
Bangsa Indonesia…
81
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Andita Sri Widiandari
Pemuda
Hembusan angin menyapaku
Bukit-bukit tersusun rapih nan indahnya
Aku merebahkan diri diatas rumput
Mengenang masa itu
Ruang itu dipenuhi keriuhan
Atmosfer kebangkitan terlihat sangat membara
Lihatlah pemuda-pemudi itu
Semangat mereka sangat menggebu-gebu
Hei, apa yang mereka ucapkan?
Sebuah tiga kalimat yang kuat sekali
Tangan mereka terkepal keras
Itulah sumpah pemuda
Wahai pemuda
Di tanganmu, rapatkanlah persatuan
Jadilah patriot gagah nan berani
Tegakkan kebenaran dan keadilan
Untuk Negeri kita ini, Indonesia
82
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Muhammad Ilyas Faiq
Pemuda adalah penerus masadepan bangsa
Pemuda yang kuat cerminan bangsa yang kuat
Pemuda pintar lagi cerdas adanya guru bangsa
83
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Ahmad Ghazy Ar Rayyan
Wahai para pemuda pendahulu
Yang telah hidup puluhan tahun berlalu
Yang telah membuat semua bersatu
Mengabadikan lentera nusantara
Dikala sekarang telah tiada
Gema janji sumpahmu tetap masih meraung
Meraung keras di seluruh penjuru sudut bangsa ini
28 Oktober, karenamu Pemuda Indonesia melebur
Menjadi sebuah pedang yang diasah tajam
Siap digunakan untuk mengisi kemerdekaan ini
Terimakasih sumpahmu
28 Oktober kan digemakan selalu sampai nanti
Mentari tenggelam di seberang timur
Kusulam bendera merah putih dengan benang
Merah yang berani putihnya yang suci
Tanggal 28 Oktober harus lah dikenang
Sebagai masa bangsa-bangsa jadi satu
84
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Malik Hakiim Prastowo
Persahabatan buaya dan burung
Pada suatu hari, seekor burung sedang mengelilingi hutan yang sangat besar
untuk mencari makanan. Tiba-tiba dia melihat seekor buaya yang sedang
kesakitan dipinggir sungai, dia segera turun untuk melihat keadaan si buaya.
Ternyata, buayanya sedang sakit gigi. Dia melihat banyak biji-bijian di gigi
buaya, kemudian dia mencoba untuk membantunya. Akhirnya, buaya itu
sudah tidak sakit lagi dan berjanji untuk membalas kebaikan si burung.
Pada lain hari, burung tertangttap oleh pemburu, tiba-tiba buaya datang
dan mengusir pemburu itu. Dan burung berterimakasih kepada buaya
tersebut. Sehingga mereka jadi saling membantu, burung membantu
membersihkan gigi buaya, dan buaya melindungi burung
85
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
86
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Bagian 4
KUMPULAN CERITA PENDEK
87
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Haidar Izzuddin
Pagi ini matahari menyapaku dengan sinarnya,
kulitku terasa hangat oleh cahaya.
Memelukku menyelamatkanku dari dingin pagi.
kulihat bendera merah putih yang masih berkibar di depan rumah sisa dari
perayaan 17 Agustus kemarin.
Rasa nasionalisme ini seakan tertibkan oleh semangat,
saat melihat bendera pusaka.
Merah darah juga putih tulang melambangkan manusia.
Kemanusiaan itu seperti terang pagi ini,
akan tetapi orang-orang telah membuat bendera merah putih usai perayaan
17 Agustus kemarin,
ini kah apa yang terjadi terhadap negara kita?
dulu Bapak bangsa kita sudah menumpahkan darah Murni Indonesia hanya
untuk perayaan saja?
Wahai Pemuda Pemudi Indonesia bangkitlah dan lihat apa yang terjadi
terhadap negara kita.
Korupsi dan lain-lain, inikah takdir Indonesia wahai penerus bangsa
berjiwa Patriot?
Beranikah kalian akan membuat negara ini menjadi yang lebih baik seperti
visinya Bapak Bangsa?
88
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Nadia Alya Afifa
Layar tv berkedip, berganti dari satu saluran ke saluran yang lain seiring
dengan irama tombol remote yang dipencet. Suara pintu tertutup
terdengar, disambut oleh langkah kaki yang tergesa-gesa turun dari tangga.
Dilihatnya dari sofa seorang wanita paruh baya yang cantik sedang sibuk
memasukkan barang-barang ke dalam tas selempang kecilnya.
“Farzan, bunda berangkat dulu ya nak. Sudah ditunggu tetangga nih.” Ucap
wanita paruh baya itu. Farzan yang sedari tadi hanya sibuk menekan-nekan
remote pun mengangguk dan mencium tangan bundanya yang saat ini
sudah berdiri di hadapannya. “Nanti kalau lapar angetin aja ya makanan di
kulkas. Bunda udah siapin.”
“Iya, bunda. Aku tau kok. Hati-hati di jalan.” Senyuman tipis terukir di
bibir sang bunda. Tangannya terangkat untuk mengusak-ngusak rambut
anak semata wayangnya sebelum akhirnya melambaikan tangan. “Dadahh.”
Wanita itu pun keluar dari kediaman mereka, wajahnya menghilang di
balik pintu.
Farzan menghembuskan nafasnya, merasa bosan. Baru saja ia akan
mengganti saluran tv nya lagi, tiba-tiba sebuah berita menarik
perhatiannya. Posisi duduknya ia luruskan, menatap layar kaca itu dengan
seksama.
“Telah diketahui bahwa saat ini pemerintah akan melakukan uji coba
vaksin kepada para sukarelawan. Total sudah 7 bulan karantina diterapkan
di negara kita akibat virus menular yang menyebar sehingga menjadi
pandemi. Walau penyakit sebenarnya yang disebabkan oleh virus ini sama
sekali tidak pernah dijelaskan secara detail, para masyarakat benar-benar
sangat menunggu kedatangan vaksin ini—“
89
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Lelaki itu mendengus. Ia ambil remote yang tergeletak disampingnya dan
langsung mematikan tv. “Omong-kosong.” HP nya berdering. Membuat dia
menengadahkan kepalanya ke arah benda persegi panjang yang terletak di
meja kecil di sebelahnya. Kedua sudut bibirnya terangkat lantas melihat
nama pemanggilnya.
”Woi Ian, ngapain manggil-manggil?” Ucapnya bercanda, dapat
didengarnya suara kekehan dari sebrang sana. “Apaan sih lu? Kayak gak
biasa gua telfon aja.” Farzan pun menggelengkan kepalanya. Jujur akibat
karantina ia jadi tidak bisa sering-sering bertemu dengan sahabatnya ini.
Sebenarnya ia merasa jenuh, tapi tentunya tak akan ia katakan secara
terbuka.
“Eh tapi serius nih.” Salah satu alisnya terangkat heran setelah mendengar
intonasi Ian berubah menjadi serius. Farzan hanya berdeham sebagai tanda
kalau ia mendengarkan. “Gua denger-denger pemerintahan kita
berhubungan sama pasar gelap.” Mendengar penuturan sahabatnya Farzan
hanya bisa mengeluarkan nafasnya. Tak habis pikir dia dengan sahabatnya
yang selalu saja mengatakan hal yang aneh-aneh.
“Hoaks itu mahh. Jangan mudah percaya sama berita yang kayak begitu.”
Suara decihan dapat di dengarnya. Meskipun mereka tidak bertatap muka,
Farzan dapat membayangkan sahabatnya kini sedang memutar kedua bola
matanya. “Gua serius ih. Menurut lu mencurigakan banget gak sih
sukarelawan harus datang langsung ke kantor pusat? Padahal kan biasanya
juga tinggal datang ke rumah sakit di daerahnya kan? Rasanya kayak ada
sesuatu deh.”
Jelas Ian panjang lebar. Farzan yang tidak mengindahkan penjelasan
sahabatnya itu pun hanya bisa mengusap wajahnya kasar. “Udah ah.
90
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Bundaku jadi sukarelawan ini. Jangan bikin aku khawatir.” Terangnya, ia
pun memutuskan panggilannya. Lelaki itu bangkit dari posisinya,
membawa kakinya ke lantai atas menuju kamarnya. “Ian ada-ada saja.
Palingan juga dia cuma dengar rumor-rumor aneh.” Ucapnya sebelum
akhirnya kedua matanya tertutup.
~.~
Suara ketukan pintu yang keras membangunkannya dari tidurnya yang tak
bermimpi. Terdengar dua suara yang familiar meneriakkan namanya dari
luar. Dengan langkahnya yang masih tergontai, ia bergegas menuruni anak
tangga dan segera membukakan pintu kepada tamunya yang tidak
diundang ini. “WOI FARZA—“
“Iya ih gak usah teriak.” Ucapnya malas masih mengerjap-ngerjapkan
matanya untuk menghilangkan kantuk, atau yang biasa disebut
mengumpulkan nyawa. Kedua empu yang tadi menggebrak pintunya
dengan kasar pun terkekeh, megusap-ngusap tengkuk leher mereka. “Lah
Ian? Kok kamu disini? Terus Aldo juga ngapain? Kenapa ini tetangga
ngumpul semua?”
Pertanyaan terus keluar bertubi-tubi setelah Farzan tersadar dari pasca
kebangunannya. “Wow pelan-pelan temanku. Daripada basa-basi gua
langsung ke intinya aja deh.” Tutur Aldo, tetangganya sekaligus teman
karibnya. Farzan hanya menggaruk-garuk sisi kepalanya sambil
mengangguk, mengisyaratkan lawan bicaranya untuk melanjutkan.
“Para sukarelawan menghilang.” Keheningan memenuhi atmosfir di sekitar
mereka. Farzan yang tersentak akan perkataan temannya itu hanya bisa
terdiam, mencoba untuk mencerna 3 kata yang terbilang sederhana itu.
Tetapi baginya, saat ini kata-kata itu terdengar sangat berat.
91
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Bunda. Sosok itu adalah yang pertama kali muncul dibenaknya. Mendadak
jantungnya berpacu dengan sangat cepat.
“Apa maksudmu? Jangan bercanda deh, ini gak lucu!” Ungkapnya, menolak
untuk memercayai perkataan temannya itu. Mendengar ucapan Farzan,
Aldo hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari
mengusak surai rambutnya.
“Ya gua juga maunya ini bercandaan, Zan. Tapi ini beneran! Orang tua gua
gak pulang-pulang, tetangga yang jadi sukarelawan juga belum balik! Ini
lagi ramai dibahas di media sosial.” Sekali lagi Farzan terdiam. “Kalian
udah lapor ke polisi?” Farzan mencoba untuk tenang. Panik bukanlah hal
terbaik untuk dilakukan disaat ini.
“Ya, semuanya udah lapor ke polisi di daerah masing-masing tapi para
pejabat tidak menggubris permasalahan ini.” Kekhawatiran nampak sekali
di wajah Aldo. Ian yang sedari tadi berdiri disebelahnya hanya bisa
menatap kedua temannya ini dengan rasa iba.
Farzan memfokuskan penglihatannya pada tetangga yang sedang sibuk
berlalu-lalang dengan panik sambil mencoba menelfon anggota keluarga
mereka dan yang sedang berdiskusi. “Oke, sekarang kalian berdua nginap
dulu di rumahku. Kita perlu menyelidiki ini lebih lanjut.” Aldo dan Ian
mengangguk. “Memang itu rencana gua pas datang ke rumah lu.” Sambung
Ian.
~.~
Pertama kali dari sekian seringnya mereka berkumpul, tidak ada satu
percakapan pun yang terbentuk. Masing-masing disibukkan sendiri dengan
kegiatannya di depan laptop masing-masing, memantau keadaan dari
media sosial. “Demi apapun. Pemerintah benar-benar berusaha untuk
92
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
menutup masalah ini. Padahal banyak sekali orang yang menghilang. Apa
mereka masih waras?”
Ian membuka suara, memecahkan kesunyian. “Makanya itu. Ada yang
janggal ini. Apa mereka segitu kehabisan ide sampai buka-bukaan seperti
ini?” Sambung Aldo. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepala
mereka, tetapi sedalam apa pun mereka berpikir, mereka belum
menemukan motif dibalik aksi pemerintah itu.
“Kalau begini yang ada bisa terjadi demo besar-besaran.” Kedua lelaki itu
mengangguk setuju atas pernyataan Ian, sama-sama sibuk melihat
berita-berita di media sosial dari kenalan para sukarelawan yang sibuk
meminta tolong dan para netizen yang meramaikan keadaan. “Semoga para
sukarelawan baik-baik saja.” Ungkap Farzan.
~.~
Dua hari yang menyesakkan dan penuh dengan protes telah berlalu, para
masyarakat berusaha menyuarakan kecemasannya namun penjabat
seakan-akan tuli, tidak memedulikan kecemasan itu sama sekali. Hari ini,
demo besar-besaran akan berlangsung.
Farzan, Ian, dan Aldo bersama dengan teman-teman satu kampusnya sudah
merencanakan hal ini matang-matang dengan para perwakilan kampus
yang mendatangi pertemuan pelaksanaan demonstrasi. Dengan perasaan
yang gugup, mereka berangkat dari rumah Farzan menuju tempat
berkumpul para demonstrasi di daerah mereka.
Lupakan virus, keselamatan para sukarelawan lebih penting. Itulah hal
yang terus-terus berputar di kepala mereka seperti kaset tua yang rusak.
93
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Walau waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi, kawasan tempat
berkumpul sudah ramai oleh para mahasiswa yang akan ikut serta
berangkat menuju kantor pusat untuk protes. Senjata tidak mereka bawa
karena tujuan dari demo ini hanyalah sebagai unjuk rasa dimana kekerasan
tidak dibutuhkan.
“Woi kalian.” Farzan membuka suara. Lantas kedua temannya itu menoleh
ke arahnya. “Jangan jauh-jauh ya. Kita gak boleh sampai kepisah.”
Mendengar penuturan Farzan, kedua lelaki lainnya terpekik geli.
“PFFT—tumben lu baik gitu. Biasanya juga bodoamat.” Jawab Ian tertawa
geli sambil memeluk perutnya.
Alis kanan Farzan terangkat, menatap teman-temannya datar. “Oh yaudah.
Kalau gitu pas nanti kalian keseret-seret gua tinggalin.” Gelak tawa kedua
temannya makin menjadi-jadi. “Aish canda, bro. Baperan banget sih.” Aldo
hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat argumen kekanakan
kedua sahabatnya ini.
~.~
“Oke semuanya! Sekali lagi saya ingin mengingatkan! Kita berkunjung ke
kantor pusat bukan ingin menciptakan kegaduhan! Jangan ada yang
melakukan tindak kekerasan! Jaga satu sama lain! Keselamatan semua
anggota adalah yang terpenting, paham?” Ucap sang pembicara dengan
pengeras suara. Suara sorakan memenuhi kawasan ini.
“Kalau begitu, mari kita jalan! Ayo semuanya! HIDUP!”
“HIDUP!”
Suara sorakan memenuhi telinga selama perjalanan. Membuat pelintas ikut
bersorak sorai bersama mereka dan mendo’akan keselamatan para
demonstrator. Ditengah keramaian ini, Farzan terbuai dalam pikirannya.
94
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Hatinya tidak tenang. Memikirkan nasib bundanya yang sudah dua hari
tidak kunjung balik.
Bagaimana jika ucapan selamat tinggal kecil mereka waktu itu adalah yang
terakhir kalinya? Sudah berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa
bundanya baik-baik saja. Sudah tidak terhitung berapa kali ia mencoba
menghilangkan pikiran negatif itu, tapi apa hasilnya? Pikiran-pikiran itu
terus saja muncul dan menghantui dirinya. Ia mencengkram baju di depan
dadanya erat-erat.
“Farzan.”
Sebuah suara menyadarkannya dari lamunan panjangnya yang tidak
berujung. Ian, sahabatnya itu menatapnya dalam-dalam. “Jangan berpikir
yang aneh-aneh. Semuanya akan baik-baik saja.” Jujur Ian sendiri juga
meragukan perkataannya. Tetapi setidaknya, itu bisa membuat Farzan
sedikit lebih tenang. Setidaknya ia masih memiliki harapan dan keyakinan
yang akan membantunya untuk tidak tumbang nanti.
~.~
Sesak. Ini sangat menyesakkan. Asap yang ditimbulkan gas air mata
memenuhi lapangan disisi para demonstrator, menghalangi penglihatan
mereka. Para pemuda yang berada disana berlari menghindar, membantu
pemuda lain yang terjatuh dan terluka. Dengan lengan yang saling
bertautan, Farzan, Ian, dan Aldo berlari bersama. Mencegah agar tidak ada
satu pun dari mereka yang terpisah.
Pikiran Farzan berkabut, membuat suara gemuruh di sekitarnya memudar
di telinga. Matanya menyipit guna mempermudah melihat keadaan di
sekelilingnya. Saat asap-asap disekitarnya hampir menghilang, para
pasukan pemerintah itu melempar lebih banyak gas air mata. Sekali lagi
sukses menghadang penglihatan mereka. Ditengah kehancuran ini,
tiba-tiba saja terdengar suara peluru ditembakkan.
95
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Tunggu, peluru?!
Teriakkan yang memekikkan telinga terdengar tidak jauh dari tempat
Farzan berdiri. Dengan panik dan ketakutan, Farzan menoleh. “DARAH!
INI PELURU ASLI!” Pekik Aldo yang tadi langsung bergegas ke sisi
mahasiswa yang tertembak. Orang-orang yang berada di sekitar sana
terkesiap. Dengan cekatan, Aldo melepas almamaternya dan membalutnya
di bahu lelaki yang tertembak itu.
“Cepat hubungi ambulans!” Perintah Ian. Masih terkejut dengan kejadian
yang baru saja menimpa teman seperjuangannya, Farzan terdiam. Melihat
kedua temannya yang sibuk menangani orang itu. Di dekatnya ada
beberapa mahasiswa yang mendokumentasikan kejadian ini dengan HP
nya masing-masing. Bukankah seharusnya pengunaan senjata dilarang?
Batinnya, dahinya berkerut.
“Woi Zan! Jangan diem aja, bantuin gua ngangkut orang ini!” Aldo
berdesis, membangunkan Farzan dari rantaian monolog pikirannya. Lelaki
itu berjalan ke arah Aldo yang sedang berdiri membantu orang itu bertapak
di kedua kakinya. Memposisikan dirinya di sisi kanan pemuda itu, Farzan
melingkarkan tangan pemuda itu di lehernya dan mulai berjalan dengan
perlahan ke tempat yang lebih sepi dengan Ian dan mahasiswa-mahasiswa
lain yang menjaga sekitar.
Baru saja mengambil beberapa langkah, suara peluru yang dilepaskan
kembali terdengar, kali ini agak jauh dari posisi mereka. Teriakkan serta
sorakan-sorakan kecewa terdengar dari para demostrator, merasa tidak
layak diperlakukan seperti ini. Tentunya dalam peraturan negara sendiri
pun hal ini dilarang. Karena itu, tidak ada satu pun dari pihak mahasiswa
yang membawa senjata.
“Weh, hati-hati. Kita harus keluar dari sini. Banyak banget peluru nyasar
ini.” Ucap salah satu mahasiswa yang ikut gerombolan mereka. Farzan, Ian,
96
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
dan Aldo hanya mengangguk dan yang lainnya langsung mendekat, tidak
ingin tiba-tiba terpisah.
“Kalian, lihat! Itu ada bantuan!” Pekik Ian. Lantas mereka semua melihat
ke arah yang ditunjuknya. Disana, di depan sebuah toko yang ditutup,
terlihat segerombolan mahasiswa yang sedang sibuk memberikan
pertolongan pertama pada mahasiswa lain yang terluka dan juga
karyawan-karyawan supermarket yang menyediakan kebutuhan pangan.
Mereka pun sama-sama mengeluarkan nafas yang tanpa disadari tertahan.
Dengan berhati-hati, Farzan dan Aldo melangkah sambil merangkul
mahasiswa yang tertembak tadi, Ian sudah lebih dulu sampai disana untuk
memberi taukan keadaan mereka.
“Sini temannya dibaringkan dulu. Sebentar lagi ambulans datang.” Ucap
seorang mahasiswa yang berada disana. “Tunggu dikit lagi ya, ambulans
bakal datang.” Bisik Aldo pelan. Mahasiswa yang sedari tadi dirangkulnya
hanya berdeham pelan sambil meringis kesakitan.
“Arya. Nama gua Arya” Ungkapnya. Aldo tersenyum, “Gua Aldo. Terus
yang ngerangkul kamu satu lagi itu Farzan. Kalau yang itu Ian.” Arya
mengangguk, membisikkan terima kasih.
Seperti yang dijanjikan, banyak ambulans datang tidak lama setelahnya,
para medis segera turun dan mengangkut korban yang terluka. “Arya, cepet
sembuh. Jaga diri ya.” Ucap Aldo, melambaikan tangannya. Arya hanya
mengangkat jempolnya sebelum akhirnya, pintu ambulans ditutup. Ketiga
serangkai itu dan para mahasiswa lainnya melihat kepergian ambulans itu
dengan perasaan yang bercampur aduk.
Ian menjatuhkan dirinya, merasa lelah. “Aku capek!” Kekehan kecil keluar
dari mulut Farzan, Aldo mendengus. “Dih, yang semalam ribut sendiri
nyiapin demo siapa?” Sarkas Aldo, mendudukkan dirinya disamping Ian
diikuti Farzan. Ian memutar kedua bola matanya. “Bodoama—“
97
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Kericuhan kembali terdengar di balik kabut gas air mata itu, membuat
perkataan Ian terpotong. “Ada apa lagi ini?” Ucap seorang mahasiswa tadi
dengan waspada. Farzan menegakkan posisi duduknya. Siluet tubuh
beberapa orang terlihat mendekati tempat ini.
“TOLONG WOI ADA YANG KETIKAM!”
Para mahasiswa yang membawa peralatan medis langsung bergegas
menyiapkan obat-obatannya, terlihat orang yang berteriak tadi itu juga
terluka, membawa seorang mahasiswa yang baru saja ditikam.
“Pelan-pelan.” Dua mahasiswa lain datang ke arah mereka membawa
mahasiswa yang tertikam itu.
“Nih kompres tuh dahi lu, berdarah itu.” Orang yang membawa mahasiswa
yang tertikam itu menerima kompresnya dan langsung menekannya ke
dahinya yang terluka.
“Hei uhh kak, apa yang terjadi?” Ingin mengetahui kejadian yang
sebenarnya, Farzan memberanikan diri untuk bertanya. Orang itu menoleh,
dapat dilihat dengan jelas wajahnya sudah babak belur. “Jujur gua juga gak
tau.” Dia memberi sedikit jeda untuk mengambil napasnya, berjalan ke
arah mereka bertiga dan mendudukan dirinya disamping mereka.
“Padahal belum satu jam kita sampai disini, mereka udah pakai kekerasan
aja. Belum lagi, tadi lumayan banyak mahasiswa yang diculik juga.” Ian
membelalakkan matanya. “Diculik?!” Orang itu mengangguk. “Iya.
Ternyata pemerintah menempatkan banyak mata-mata. Dan disaat
kegaduhan terjadi mereka langsung beraksi. Benar-benar perbuatan kotor!”
Ucapnya frustasi.
Hembusan nafas kasar dikeluarkannya. Pandangannya teralih ke ketiga
pemuda yang sedari tadi mendengarkan keluhannya itu. “Oiya,
ngomong-ngomong nama kalian siapa? Gua Bagas, mahasiswa tahun
ketiga.” Dia menjulurkan tangannya, mengganti topik. “Gua Farzan. Itu
98
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita