The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini ditulis oleh siswa siswi SMP Islam Sinar Cendekia dalam rangka bulan bahasa dan sumpah pemuda 2020

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by eha subekha, 2020-12-07 23:31:29

Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Buku ini ditulis oleh siswa siswi SMP Islam Sinar Cendekia dalam rangka bulan bahasa dan sumpah pemuda 2020

Keywords: buku karya

Aldo dan Ian. Kita sama-sama tahun kedua.” Jawab Farzan, menjabat 
tangannya. 

“Kak, kalau ada mata-mata berarti mereka tau keberadaan kita juga dong.” 
Ian membuka suara, dari raut wajahnya terlihat jelas dia merasa khawatir. 
Bagas menghela napasnya. “Ya begitulah.” 

~.~ 

Matahari sudah berada ditengah, menunjukkan hari sudah siang. Daritadi 
sekelompok ambulans terus datang mengingat banyak sekali mahasiswa 
yang terluka. “Ini gak bagus. Kita gak bisa terus kayak gini.” Bagas 
membuka suara. “Hari ini sepertinya kita gak bakal bisa pulang.” Ungkap 
Zidan, salah satu mahasiswa yang bertugas dalam medis tadi. 

Malamnya, para demonstrator terpaksa lari ke kampus terdekat untuk 
beristirahat. Lampu semua mereka matikan. Tidak ingin tertangkap 
mata-mata dan pasukan pemerintah lain yang pastinya sedang berpatroli. 
Di dalam kegelapan, sepasang mata masih terbuka, pikirannya kembali 
mengingat kejadian sore tadi. 

“​ Kita harus buat rencana.” Ucap Bagas, menatap mata semua mahasiswa yang 
berada di aula kampus itu. Dia memang sengaja untuk mengumpulkan semua 
orang disini. 

“Kalau terus begini kita pasti akan tertangkap. Tujuan kita sekarang adalah 
menyelamatkan sukarelawan dan juga teman-teman kita yang tadi diculik.” 

“Jadi, maksudmu apa?” Seorang mahasiswa bertanya.  

“Kalau mereka menggunakan kekerasan, maka kita balas dengan kekerasan juga.” 
Seluruh aula langsung menjadi hening. 

Percakapan itu terus saja berputar di kepalanya. Dirinya masih merasa ragu 
untuk melakukan kekerasan. “Farzan tidur.” Suara serak akibat baru saja 
terbangun dari tidurnya menyadarkan lelaki yang sedari tadi terhanyut 

99
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

dalam pikirannya itu. Seperti biasa Ian selalu membangunkannya dari 
lamunannya. “Iya.” Jawabnya singkat, menutup matanya menunggu kantuk 
datang menjemput. 

~.~ 

Siapa yang menyangka kalau unjuk rasa ini akan berubah menjadi perang 
tumpah darah? Tentunya tidak ada. Bahkan setelah pembuatan strategi 
semalam, para mahasiswa nekat menculik mata-mata dan juga pasukan 
pemerintah untuk mengambil senjata mereka dan mengorek informasi. 

Suara sorakan, peluru ditembakkan dan besi yang saling bergesekkan dapat 
terdengar di sekitar wilayah kantor pusat. Para mahasiswa saling 
bekerja-sama dan membagi kelompok. Ada kelompok informan yang akan 
menyusup ke dalam kantor, kelompok yang bertarung, kelompok medis, 
dan kelompok rahasia yang nantinya akan menyandera para mata-mata dan 
pasukan lawan. 

“Dimana kalian menyembunyikan sukarelawan dan teman-teman kami?” 
Bagas membuka suara. Suaranya menimbulkan gaung dikarenakan mereka 
melakukan interogasi di sebuah gedung kosong tak jauh dari kampus 
tempat mereka menginap semalam. Sejujurnya Farzan dan dua temannya 
itu agak ragu akan keputusan mahasiswa-mahasiswa lain. Tapi, mengingat 
banyaknya korban, mereka mengubur keraguan itu dalam-dalam. 

Bagas melihat kearah mata-mata yang sudah terikat di kursi itu dengan 
tatapan dingin. Gelak tawa keluar dari mulut mata-mata itu, jelas tidak ada 
niatan untuk menjawab pertanyaan yang diarahkan kepadanya. “JAWAB!” 
Tumbukan kepalan tangan ke kepala terdengar nyaring. Refleks, Ian 
memejamkan kedua matanya. 

Darah mata-mata itu mengotori lantai. Senyum remeh sama sekali tidak 
luntur dari wajahnya. “Lalu? Apa yang akan kau lakukan jika saya tetap 
bungkam?” Mata-mata itu terkekeh, tidak memperdulikan bajunya yang 

100
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

sudah dinodai cairan merah kental. Bagas mengarahkan pistol tepat di 
dahinya. Sontak, Farzan. Ian, dan Aldo membelalakkan mata mereka. 
“Kak!” Pekik Aldo. 

“Akan kubunuh kau.” Suara Bagas seakan berdengung di telinga Farzan. 
Suaranya terdengar lebih dingin dan gelap dari biasanya, memberi kesan 
menyeramkan. Ia menarik pelurunya, “KAK BERHEN—“ 

Suara tembakkan memenuhi ruangan itu. Tatapan ketakutan tertampang 
jelas di wajah ketiga serangkai itu. Darah menyiprat ke baju Bagas, tubuh 
mata-mata yang sudah tidak bernyawa itu ditendangnya ke sembarang 
arah. “Sekarang giliranmu.” Ucapnya kepada mata-mata lain yang mereka 
tangkap, badannya terikat dan babak belur. 

“Gua tanya sekali lagi, dimana kalian menyembunyikan kawan dan 
keluarga kami!” Suara Bagas meninggi, mukanya memerah akibat frustasi. 
Mata-mata itu sedikit pucat melihat rekan kerjanya sudah terkulai tidak 
bernyawa dihadapannya. Farzan dan yang lainnya hanya bisa terdiam, 
terlalu takut untuk membuka suara. “Farzan, Aldo! Keluarga kalian juga 
ditahan mereka kan? Kenapa kalian diam saja?!”  

Farzan mengangkat kepalanya, teringat akan bunda nya. Begitu juga Aldo 
yang langsung mencengkram bajunya mengingat kedua orang tuanya. “Iya, 
tapi—“ Belum saja Aldo menyelesaikan ucapannya, Farzan melangkahkan 
kakinya ke arah mata-mata itu. Dikeluarkannya selembar foto dari kantong 
almamaternya.  

“Apa kau pernah melihat orang ini?” Lelaki itu menatap tahanannya 
dengan tajam. Ada harapan dibalik suaranya yang tegas. 

Mata-mata itu melihat foto yang ditunjukkan Farzan dengan malas. Sisi 
mulutnya terangkat menunjukkan seringaian. “Hm? Ooh, dia huh?” Farzan 
meneguk ludahnya. Jantungnya berdegup sangat keras. Berharap akan 
segera mengetahui keberadaan sang bunda. “Tentu saja aku mengingatnya, 

101
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

dia adalah wanita yang sangat cantik.” Mata-mata itu menyerigai lebih 
lebar, tawa kecil keluar dari mulutnya. 

Rahang Farzan mengeras. “Dimana dia.” Ucapnya dengan penuh 
penekanan pada setiap kata. Tahanan mereka mengendikkan bahunya. 
“Entah.” Jawabnya enteng. Tangan Farzan bergetar, mencoba 
mempertahankan rasionalitasnya. 

“Aku gak tau, yang pasti dia sudah tidak ada disini. Pimpinan sudah 
menjualnya dan beberapa sukarelawan lain ke pelelangan.” Nafas Farzan 
memburu, dicengkramnya kerah mata-mata itu. “Apa kata—“ Mata-mata 
itu tersenyum bodoh ke arahnya.  

“Iya, dia sudah dijual, harganya mahal lagi. Lumayan buat membayar 
hutang negara. Kamu harusnya bersyukur karena dia telah berjasa pada 
negara ini—” 

Farzan mencengkram kedua pipi mata-mata itu dengan kasar, membanting 
kepalanya ke dinding dengan keras. “JANGAN BERCANDA!” Air mata 
mengalir dengan deras. Urat sarafnya tertampang jelas di leher dan 
lengannya. “KAU APAKAN BUNDAKU!” Berkali-kali ia tubrukkan kepala 
mata-mata itu ke dinding. Pikirannya sudah kalut.  

“FARZAN BERHENTI!” Bahkan ketika dua temannya sudah menahan dan 
meneriakinya, dia tidak bisa berhenti. Emosinya telah mengambil alih 
dirinya sepenuhnya. Wajahnya memerah akibat frustasi, kepala dan 
telinganya berdengung sangat keras. Adrenalinnya bertubi-tubi. 

Senyum hangat bundanya yang selalu menenangkannya disaat ia merasa 
lelah, suara merdu bundanya saat memanggil namanya, masakan lezat 
bundanya yang selalu menemaninya saat ia sedang belajar, pelukan penuh 
kasih sayang bundanya yang selalu ia tolak, semua itu.... 

Sudah tidak ada. 

102
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Jika saja, saat itu ia tau kalau itu adalah terakhir kalinya ia akan bertemu 
dengan bundanya. Jika saja ia tau perpisahan akan terjadi secepat ini.... 

Ia terjatuh, menggenggam dadanya yang terasa amat sangat sesak. “Aku 
bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih...” Lirih Farzan. Isakan 
pilu tiada henti keluar dari mulutnya. Ian dan Aldo setia berada 
disampingnya, menepuk-nepuk punggungnya guna menenangkan. 
Keduanya juga menangis. Bagas yang sedari tadi meyaksikan kejadian ini 
hanya bisa menghela napas. “Pindah dulu. Mayatnya biar gua yang 
beresin.” Bisiknya lembut. 

~.~ 

Berisik. Meskipun tidak ada yang berbicara sama sekali, pikirannya sangat 
berisik. Ketiganya saat ini berada di taman belakang kampus, mencoba 
menenangkan diri. “Ayo kita bertarung.” Farzan berdiri, memecahkan 
keheningan. “Selagi bunda masih hidup, gua gak bisa diam aja disini.” 
Sambungnya.  

Aldo yang mendengar itu terlihat tidak setuju, Ian menundukkan 
kepalanya. “Zan, gua tau ini berat tapi kumohon ikhlasin aja. Kalau 
memang para sukarelawan sudah dilelangkan, kita gak bisa berbuat 
apa-apa.” Tutur Aldo. 

“Gua tau, Al. Makanya gua mau turun ngelawan mereka. Gua gak bisa 
biarin mereka hidup tenang begitu aja!” Sorot mata Farzan menajam. Ruas 
jarinya memutih akibat dikepal terlalu keras. Aldo menghembuskan 
napasnya. “Zan, jangan kayak gini. Bunda lu pasti gak mau lu kayak gini. 
Apa gak cukup kamu bunuh mata-mata itu?” Aldo menatap ke arahnya, 
matanya memerah akibat menangis tadi. 

“Farza—“ 

103
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

“DIAM KAMU! KAMU TAU APA?!” Bentak Farzan, memotong perkataan 
Aldo. Lantas Aldo pun berdiri, menatap ke arah Farzan tidak terima.  

“Bukan cuma lu ya yang kehilangan seseorang disini! GUA JUGA 
KEHILANGAN ORANG TUA GUA!” Aldo meninggikan suaranya. 
“Jangan gegabah, Zan! Kita gak boleh tersulut emosi!” Keduanya saling 
menatap satu sama lain dengan tajam. Farzan mendecakkan lidahnya. 

“Oke kalau begitu. Biar gua aja yang turun.” Ucap Farzan lalu meraih pistol 
curiannya dari mata-mata tahanan mereka dan melangkahkan kakinya 
keluar.  

“Farzan! Tunggu!” Ian berteriak, mengejar Farzan tanpa berpikir dua kali. 
Meninggalkan Aldo seorang diri. “Woi Ian! Sial!” Aldo melempar 
almamaternya. Kembali duduk dengan perasaan kesal. “Kenapa mereka 
sangat bodoh?” Desisnya. 

~.~ 

“Hei! Farzan tunggu!”  

Ian terus berteriak, mengejar Farzan yang sudah lebih dulu pergi. “Farzan!” 
Ia mencengkram lengan pemuda itu. “Tunggu dulu!” Farzan menatap ke 
arahnya sinis. Ia langsung melepaskan lengannya dari genggaman lelaki itu 
dengan kasar. “Pergi lu!” Ucapnya kemudian berlari menuju tempat 
pertempuran. Ian menggigit bibir bawahnya, dengan gugup ikut menyusul 
Farzan. 

Keadaan di sekitar kantor pusat sangat mencekam. Peluru ditembakkan 
kemana-mana, darah berserakan di sepanjang jalan, tubuh yang terbaring 
tidak berdaya pun dapat terlihat sejauh mata memandang. Ian bergidik 
ngeri. “Farzan!” Dia mencoba memanggil. Tetapi usahanya nihil.  

Ditengah-tengah suara teriakkan dan peluru diluncurkan, suaranya hanya 
menghilang di udara. Dengan susah payah, dia mencoba menerobos. 

104
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

“Farzan, kau berada dimana?” Bisiknya pelan. Suara peluru ditarik datang 
tidak jauh dari arah dirinya berdiri, membuatnya terlonjak kaget.  

“Hee, ada siapa disini? Sendirian, dek?” Sejumlah pria berparuh baya 
datang ke arahnya, dengan tangan yang gemetaran Ian mengangkat 
pistolnya.“Pergi!” Teriaknya ketakutan. Para pria itu terkekeh, menendang 
pistol itu dari tangannya. Membuat tubuhnya ikut terjatuh.  

“FARZAN!” 

~.~ 

 

“Mati kalian semua....mati!” Farzan terus saja menggeramkan kata-kata itu 
sembari menembakkan peluru dengan asal ke arah sisi lawan. “Sial!” 
Dengan kesal ia mengeluarkan HP yang sedari tadi terus saja bergetar di 
kantongnya dengan kasar. Perasaannya makin memburuk setelah melihat 
nama pemanggilnya. Lelaki itu berdecak, berjalan ke tempat yang lebih 
tenang. 

“Dengar ya, Aldo. Pokoknya gua gak bakal dengerin ocehan lu—“ 

“IAN MANA?!” Potong pemanggilnya tergesa-gesa. “Ck, palingan juga 
udah balik. Dia gak bakal berani turun ke sini.” Jawab Farzan remeh. 
Jarinya bergerak menuju tombol mati. 

“Dia gak jawab panggilan gua berkali-kali, Zan!” Deg, jantungnya berdetak. 
Selama mereka berteman dengan Ian, tidak pernah dia tidak menjawab 
panggilan dari mereka. Apalagi sampai berkali-kali. “Ini gua udah ada di 
pinggir-pinggir tempat kekacauan nih. Dari tadi gua udah nyariin Ian di 
berbagai tempat tapi gak ketemu juga!” Pekik Aldo, suaranya bergetar.  

Perasaannya tidak baik. Dirinya gelisah, ketakutan memenuhi sekujur 
tubuhnya. “Temui gua di depan kampus. Sekarang.” Tidak menunggu 

105
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

jawaban, Farzan langsung memutuskan panggilannya. Ia gak bisa 
kehilangan seseorang lagi. Pokoknya gak bisa.  

Indra penglihatannya menemukan figur temannya yang tengah mengetuk 
kakinya ke aspal dengan tidak sabar. “Farzan!” Sahut Aldo. Penampilannya 
saat ini acak-acakan. Farzan bahkan terlihat lebih buruk. “I-Ian...d-dia 
dima—“ Farzan bahkan tidak bisa membentuk kata-kata. Pikirannya 
benar-benar kacau, terlalu terkejut dengan banyaknya hal yang terjadi hari 
ini. 

“K-kita harus tenang dulu. Tarik napas dalam-dalam.” Tutur Aldo. Mereka 
menghirup udara bersama-sama, lalu menghembuskannya keluar. “Tadi lu 
liat dia ngikutin sampe masuk ke tempat kekacauan itu gak?” Tanya Aldo, 
berusaha mengatakannya selembut mungkin agar tidak memicu kepanikan 
Farzan kembali. 

Dengan wajah yang sudah menahan tangis, Farzan menggeleng perlahan. 
“Gua terlalu terpancing emosi tadi...” Ucapnya kecewa, kecewa pada 
dirinya sendiri. Aldo menahan berbagai sumpah serapah yang sudah berada 
diujung lidahnya. Bagaimana pun juga, ini bukan sepenuhnya salah Farzan.  

“Farzan! Aldo!” Seseorang berlari ke arah mereka. Nafasnya 
terengah-engah. “Lho, kak Zidan?” Aldo mengerjapkan matanya. Dengan 
cepat ia keluarkan HP miliknya, menunjukkan sebuah video kepada kedua 
pemuda itu. Ekspresi mereka yang awalnya kebingungan berubah menjadi 
terkejut seketika. Nafas mereka tertangkap di tenggorokan. 

Di video itu terpampang Ian yang sedang diseret dan dihajar habis-habisan 
oleh sekelompok pasukan pemerintah. Tubuhnya dipenuhi darah, bahkan 
terlihat kesulitan untuk mempertahankan kesadarannya.“I-ini—“ Farzan 
menolehkan pandangannya ke Zidan yang masih mengatur pernapasannya. 
“Para informan yang mengirimkannya.” 

106
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Jantung Farzan seakan berhenti, tubuhnya lemas, lehernya terasa seperti 
dicekik. “A-apa...?” Tubuhnya bergetar hebat, matanya yang sudah sembab 
kembali berkaca-kaca. Aldo mematung, keringat dingin membasahi 
keningnya, nafasnya tersendat-sendat.  

Zidan menoleh ke belakang, spontan Farzan dan Aldo pun ikut melihat ke 
arah yang ditunjukkan pemuda itu. Sekelompok mahasiswa tampak sedang 
membawa keranda, dengan tubuh diatasnya. Tetapi itu bukan sembarang 
tubuh. “Kami minta maaf.” Ucap Zidan, menjatuhkan badannya untuk 
berlutut dihadapan mereka, diikuti dengan wajah sendu dan tangis 
mahasiswa lainnya.  

“Kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya.” Isaknya. 

Terlampau terkejut, mata Aldo memutar ke atas. Sebelum akhirnya 
tubuhnya jatuh, kehilangan kesadaran sepenuhnya. Farzan bergetar hebat, 
kakinya melemas sampai akhirnya lututnya menyentuh aspal. Paru-parunya 
terasa menyempit, membuatnya kesulitan bernapas. Kepalanya 
berdengung, kali ini lebih keras dari yang tadi. Tangannya terangkat untuk 
mencenngkram kepalanya. 

‘Tidak, ini tidak mungkin terjadi.’ 

Matanya membelalak sepenuhnya, tetesan air mata terus mengalir tanpa 
henti. Ia meringkukkan tubuhnya. Tangannya dengan kasar menarik 
rambutnya sendiri. Perutnya terasa mulas, jantungnya berdegup sangat 
kencang di dadanya seperti ingin keluar. Paru-parunya terasa panas akibat 
kekurangan oksigen.  

‘Tidak!’ 

Suara panggilan rekan-rekannya tidak tertangkap oleh indra 
pendengarannya. Pandangannya memudar, panca indranya tidak berfungsi. 

107
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Dirinya terlanjur jatuh dalam lubang kegelapan. Sampai kegelapan 
benar-benar menyelimutinya secara menyeluruh. 

“—zan!” 

“Far-an!” 

“Fa-zan!” 

“Hei, Farzan!”  

Sebuah panggilan menyadarkannya dari lamunannya. Telinganya 
menangkap suara statis dari monitor. “Akhirnya kamu sadar juga.” Zidan 
tersenyum, disampingnya juga ada Bagas yang terlihat sangat khawatir. 
Tubuh Farzan dibaluti oleh baju pasien. Terdapat selang infus yang 
menempel padanya. 

“Makan dulu. Kamu udah dua hari gak makan, kan?” Ucap Zidan lembut, 
berusaha menyembunyikan kesedihannya kala melihat tatapan kosong dari 
kawan seperjuangannya itu. Melihat tidak ada respon dari Farzan, Zidan 
memutuskan untuk bercerita. Kata dokter, Farzan tidak boleh sampai 
terlalu terhanyut ke dalam pikirannya. 

“Tadi kita ngejenguk Aldo. Yah, walau sih maunya gua bilang keadaannya 
membaik tapi ya, kenyataannya gak ada perkembangan sama sekali.” Zidan 
tersenyum sedih. Bagas hanya memantau mereka dari sofa di ujung 
ruangan. 

“Jujur gua sedih waktu tau dia sampai masuk ke rumah sakit jiwa. Padahal 
dia tuh anaknya pintar dan bijaksana. Dia bahkan lebih dewasa dari gua 
yang udah di tahun keempat.”Semakin lama bercerita, suaranya semakin 
bergetar.  

“Dia benar-benar gak bisa ngingat kejadian itu. Dia terus tersenyum tanpa 
beban. Justru karena itu, gua jadi merasa lebih tersayat lagi.” Senyuman 
tetap ia paksakan di wajahnya meskipun air matanya tak dapat ia tampung 

108
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

lagi. Hatinya terasa berat akan penyesalan. Zidan terus berandai-andai, jika 
saja saat itu dia dan yang lainnya tidak terlambat, mungkin saja akhirnya 
tidak akan seperti ini. Mungkin saja masa depan ketiga pemuda itu tidak 
akan hancur.  

Memang yang berdiri dan menang pada akhirnya adalah para mahasiswa. 

Tetapi, berapa banyak yang harus mereka korbankan?   

109
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Vinaya Chandra 

Pemuda 

 

“Jun jun, tau gak kemaren ada apaan?” tanya Rian yang baru datang, duduk 
berhadapan dengan Juna yang masih menikmati makan siangnya.  

Juna mendengus kemudian menatap Rian malas, “Mending makan dulu. 
Ghibah nya nanti,” balas Juna. Pemuda itu sudah tahu jelas apa yang ingin 
dibicarakan oleh sahabatnya, pasti pembicaraan yang tidak penting.  

“Kemaren Budi ditindas lagi sama gengnya Hendra, disiram air toilet,” ujar 
Rian yang membuat Juna tiba-tiba kesal.  

“Dan biar aku tebak, gak ada yang nolongin Budi tapi malah direkam terus 
di s​ hare​ di sosmed?” 

Rian menggaruk tenguknya yang tidak gatal, “Yaa… yakan kamu tahu 
sendiri Hendra itu kayak gimana orangnya. Semua orang pasti takut sama 
dia,” jawab Rian, “sebenernya kasian juga sih sama Budi… tapi yang ada 
kalau aku bantu malah aku kena juga.” 

“Lagian Hendra kenapa masih begitu deh sama Budi?” 

“Kamu tahukan kalau Budi beda agama, daerah dan kulit sama kita. Budi 
juga berprestasi, mungkin Hendra iri dan karena itu dia nindas Budi.” 

“Terus disana gak ada satupun orang yang nolong Budi? Gak ada yang 
peduli gitu sama Budi?” 

Rian menggeleng, “Lagian itu juga bukan urusan kita.” 

Juna mendengus, “Sebenarnya penindasan itu bukan hal yang paling buruk 
di dunia ini,” ucapnya tiba-tiba. 

110
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

“Terus apa?” 

“Apatis.” 

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar tawa Hendra serta 
teman-temannya dari kejauhan. Menertawai Budi yang kepalanya 
ditumpahkan oleh mie ayam, Juna yang melihatnya tentu menjadi kesal. 
Amat kesal sampai ia mengepalkan tangannya. Dan parahnya, tidak ada 
yang membantu Budi, melainkan merekam kejadian tersebut dan ikut 
menertawakan. 

Tidak terima temannya diperlakukan seperti itu, Juna berjalan 
meninggalkan tempat duduknya, mengabaikan Rian yang melarang Juna 
ikut-ikutan dan kini dirinya sudah berhadapan dengan Hendra.  

Tanpa rasa takut, Juna membantu menyingkirkan sisa mie ayam di atas 
kepala Budi, serta membantunya berdiri. Dapat dilihat raut wajah Hendra 
yang berubah masam. Tatapan tajamnya tertuju pada Juna yang kini ikut 
menatapnya. 

“Ohhh, jadi sekarang Budi ada pahlawannya nih?” sarkas Hendra angkuh. 
Di susuli tawaan teman-temannya di belakang. 

“Setidaknya aku berbuat hal yang benar, tidak seperti kamu yang berbuat 
hal bodoh.” 

Keadaan di kantin semakin ricuh, bertahun-tahun baru kali ini ada 
seseorang yang menantang Hendra, tentu siswa-siswi yang ada di kantin 
terkejut.   

“Kamu mau berakhir seperti Budi juga?” 

“Dan kamu mau berakhir seperti orang yang kurang moral?” 

111
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Hendra terdiam.  

“Lebih baik kamu berubah, apa untungnya menindas orang? Teman 
sebangsamu sendiri lagi, walau beda daerah, agama dan kulit tapi kita 
semua saja. Sesulit itukah saling menghargai? Kasihan yah pahlawan yang 
sudah berjuang susah payah untuk rakyatnya tetapi rakyatnya untuk 
melakukan hal kecil seperti menghargai saja tidak bisa. Percuma dong sila 
kedua kita pelajari tapi tidak diterapkan?” 

Hendra mendegus, “Terus kamu mau aku ngapain? Minta maaf sama 
Budi?” 

“Iya. Aku cuma mau kamu menghargai Budi, menerima dia apa adanya. 
Berhenti memperlakukan Budi seenaknya.” 

“Dan kalau aku nggak mau?” 

“Bilang aku anak pengadu, tapi aku melaporkan untuk hal yang baik. 
Rekaman kamu yang menindas Budi akan ku tunjukkan kepada guru, tapi 
aku masih memberikan kamu kesempatan. Tinggalkan Budi dan aku 
sendiri serta tidak menindas Budi lagi, dan aku tidak akan memberikan 
rekaman itu kepada guru. Tetapi jika kamu masih berbuat seperti itu, akan 
aku adukan soal kamu menjual contekan ulangan tengah semester kemarin 
dan rekaman kamu menindas Budi.” 

Ancaman? Iya. Di dunia memang tidak ada yang sempurna, sebaik apapun 
kau berperan. Selalu ada celah disana untuk sesuatu yang tidak diinginkan 
tetap terjadi.  

Setidaknya ia menjauhkan Budi dan Hendra. Ia tidak tahan lagi melihat 
Budi yang diperlakukan tidak pantas.  

112
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Hendra yang tentu tidak mau mengulang ulangan tanpa contekan, lebih 
baik menahan untuk tidak menindas Budi lagi dan menuruti keinginan 
Juna. Jujur, perkataan Juna tadi cukup membuat Hendra tersadar. Kata 
Hendra pengecut, tapi dirinya akan meminta maaf pada Budi. 

Lewat aplikasi. 

“Oke.” Setelah berucap seperti itu, Hendra yang sadar akan sikap buruknya 
dan rasa malunya langsung meninggalkan kantin, disusul oleh kedua 
temannya di belakang. 

Jika kita peduli, semua akan berubah. Jika kita berani, semua akan berubah. 

Hidup lebih bermakna jika kita saling membantu, mulai dari hal kecil, 

peduli.   

113
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Maritza Rifa Nariswari 

Pagi itu. Jam menunjuk kearah angka 5. Terdengar jelas coretan-coretan 
pena. Suasana rumah tampak senyap selain ruangan itu. Tak ada pula yang 
mengetuk atau sekedar memanggil nama gadis berambut hitam teruai 
panjang. Sebab, penghuni di rumah tersebut masih tertidur selain dirinya. 
Kantung matanya lambat hari kian menghitam. Jari- jemarinya pun 
semakin lentik bak seorang penulis professional. Pandangan gadis itu tetap 
tertuju pada lembaran-lembaran kertas yang ia gunakan untuk 
menuangkan semua ide-idenya yang telah penuh di benaknya. Mentari 
baru saja menerima panggilan semesta untuk menggantikan bulan. Dunia 
sastra serta angan angannya berhasil membutakan dunia nyata gadis itu. 
“Sial” umpatnya, ketika ia tersadar kembali dan melihat arloji ditangannya. 
Gadis itu bernama Anita. 

Seseorang mengetuk pintu kamar Anita. Tok, Tok, Tok. Kurang lebih 
menyerupai suara ketukan pintu tersebut. Bayangan hitam menerpa wajah 
pria berkumis tebal yang tengah memerhatikan Anita dari ujung pintu. 
Firasat buruk mulai menggerogoti hati Anita. “Tenang Anita “batin Anita 
berusaha menenangkan diri. Anita menatap langit-langit kamar bernuansa 
coklat, tak berani menatap kedua bola mata sang ayah. 

“kamu sedang apa? “ suara serak itu lagi-lagi menggema di telinga Anita. 
“A-aku tengah mengerjakan tugas” dalih Anita. Langkah sang ayah seakan 
hendak menghampiri keberadaan Anita. Tatapan benci sang ayah membuat 
Anita terperosok dalam rasa takutnya. Kedua lutut Anita terus bergemetar. 
Degupan jantung Anita semakin berlari tanpa arah. Habislah aku.., batin 
Anita kerap mengatakan hal yang sama. Ku lihat Ibu dengan sepiring 
sarapan ditangannya. “Ayo makan terlebih dahulu” kata ibu. Ayah menoleh 

114
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

kearah ibu. Senyuman Ibu bak malaikat. Begitu berseri-seri meski situasi 
tampak kurang memadai. Aku seperti tengah berada di dalam situasi di 
mana negara merah putih ini belum mencapai kemerdekaan. Penuh 
tekanan. 

Seusai aku menikmati sarapan pagi, Ibu menarik lenganku menuju 
kamarnya. Sedangkan ayah, entah pergi kemana. aku yakin ibu ingin 
memarahiku. Ku tatap keriput-keriput yang telah menempel di wajah 
cantiknya. “Jagalah mimpimu” katanya. Aku tak menyangka ibu akan 
mengatakan hal tersebut. Apakah itu artinya ibu mulai mendukung 
mimpiku menjadi penulis? 

“kamu tahu gak kenapa Indonesia bisa merdeka seperti ini? “ Tanya ibu. 
Aku mengernyitkan dahiku, sebab bingung mengapa tiba-tiba ibuku 
membahas hal tersebut. Ibu melanjutkan kalimatnya. “Indonesia merdeka 
karena keberanian para pahlawan yang berani melewati masa masa 
penjajahan” katanya. Kini, aku megerti pertanyaan yang di ajukan ibu. Ibu 
benar. Aku tidak boleh putus asa. “Baik bu, aku akan terus meminta 
pengertian ayah atas mimpiku” kataku. “Bodoh. Kau pikir pahlawan kita 
pernah meminta pengertian penjajah atas kemerdekaan kita? “ Tanya ibu. 

Aku menggeleng. “tapi ayah bukan orang jahat” aku menyela ucapan 
malaikat tanpa sayap tersebut. Tampaknya aku belum paham maksud dari 
perumamaan ibu. Raut wajah ibu tampak khawatir. “ayah itu hanya 
menjadi penjahat saat menghentikan mimpimu. “ucap ibu. Aku yakin aku 
akan memerdekakan mimpiku dari penjajah mimpi. Ibu meminjamkan 
laptopnya padaku. Aku segera menggunakan laptop tersebut dan mulai 
memperjuangkan mimpiku selayaknya pahlawan kemerdekaan. Aku 
menutup telingaku saat ayah memarahiku, mengatakan bahwa dunia sastra 
membuat aku menjadi seperti orang gila. 3 tahun kemudian. Aku merdeka. 

115
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Ketika aku menyaksikan orang yang tengah bermain panjat pinang.   
mengingatkanku pada kesulitanku menuju puncak dan meraih mimpiku.  

116
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Aisha Yasmin 

 

“TEGAK GERAK!” 

Dengan serentak seluruh barisan menurunkan hormatnya kepada sang 
merah putih yang telah berkibar diujung tiang bendera. suara penurunan 
hormat para peserta bergerumuh keras ke seluruh halaman sekolah. 

“ih- berisik sekali ya” ucap Arik sembari menghisap kembali rokoknya 
dengan kesalnya, teman seperjuangannya pun juga mengeluarkan 
asap-asap rokok ke segala arah. “benar apa sih gunanya upacara begitu, 
mending kita h​ angout ​kan ya? Haha” ucap salah satu teman Arik. KLOTAK 
KLOTAK KLOTAK , tanpa mereka sadari suara yang entah darimana 
asalnya itu semakin mendekat, dan mendekat, dan mendekat. Lalu salah 
satu dari mereka memanjat pagar ke dalam pekarangan sekolah. Arik dan 
temannya yang lain keheranan “ada apa sih?” tanya Arik kepada temannya 
yang memanjat itu. “Bu Siti woi!, masa kalian lupa sih?” ucapnya dengan 
panik dan dengan sekejap ia telah menghilang ke sisi lain pagar. Seluruh 
geng Arik pun panik dan mereka pun berbondong-bondong berusaha 
memanjat pagar ke dalam pekarangan sekolah. 

Sayangnya Arik tertinggal di paling belakang, Arik berusaha untuk 
bersembunyi di belakang kotak usang yang ia temukan di sekitarnya. 
KLOTAK KLOTAK KLOTAK suara itu telah berada di dekat Arik, arik 
semakin panik dan hanya dapat berdiam di balik kotak itu. “Saya tau kalian 
ada di sini! KELUAR SEKARANG atau saya akan keluarkan dari sekolah!” . 
dengan berat hati Arik pun harus menyerahkan dirinya, dengan keringat 
yang bercucuran di keningnya. “mari ikut saya sekarang!” ucap Bu Siti 
tegas sembari menggiring Arik ke arah ruang BK. Ketika sampai di depan 

117
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

ruang BK , Bu Siti meninggalkan Arik dan mengalihkan arahannya ke Pak 
Budi yaitu guru BK di sekolah itu. Pak Budi tersenyum dan 
mempersilahkan Arik masuk ke ruangannya. Di dalam ruangan itu, Arik 
diberi beberapa nasehat dan konseling akan kegiatan yang ia lakukan tadi. 
Dan tentu saja Arik tidak peduli dan beberapa kali berusaha untuk 
memotong pembicaraan Pak Budi. 

Dengan muka kecewa Pak Budi pun menulis sebuah laporan di kertas A4 
yang ia masukkan ke dalam amplop, amplop itu diserahkannya kepada 
Arik. “apa ini? Surat peringatan lagi? Saya sudah banyak pak , tidak butuh!” 
ucap Arik dengan angkuhnya. Pak Budi hanya tersenyum dan berkata 
“tidak, berikan saja amplop ini ke orang tuamu” , percakapan mereka pun 
berakhir dan Arik dipersilahkan kembali ke kelas. Tentunya saat Arik 
kembali ke kelas ia menjadi bahan tertawaan seluruh kelas, bahkan teman 
seperjuangannya sendiri hanya bisa terdiam di pojok kelas. Arik tidak 
peduli dan ia pun duduk di tempat duduknya. 

Hari sudah gelap dan Arik belum kunjung pulang ke rumah, orang tua Arik 
khawatir dan berencana menelfon polisi. Tetapi tiba-tiba Arik mengetuk 
pintu depan rumah. “Arik kemana saja kau nak?!” tanya ibu Arik dengan 
khawatirnya, Arik hanya terdiam dan masuk ke dalam kamarnya untuk 
istirahat. Di malam harinya ibunya Arik masuk kedalam kamar anaknya 
tersebut dan mengecek temperatur Arik. “fuh- untung tidak demam” di 
saat yang bersamaan ia melihat secarik amplop yang tergeletak di lantai. 
Ibunya itu pun membawa amplop itu dan membacanya dengan ayah Arik di 
ruang tamu. Ibu Arik menangis membaca amplop itu, dan ayah arik 
menjadi emosi dan saat itu juga ia membangunkan arik dari tidurnya , arik 
pun terbangun dengan kagetnya.  

118
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

“ARIK Sejak kapan kamu sudah bolos hah?!” ucap ayah Arik dengan kesal, 
“ahh emang kenapa sih yah, Namanya juga masih muda! Emang kenapa 
sih?!” ucap Arik dengan ketus. “Kamu ingin jadi apa nanti hah?! 
Bagaimana kamu bisa sukses kalau kamu seperti ini nak?!” , dengan kesal 
Arik pun keluar dari kamarnya dan mengunci dirinya di dalam Gudang 
yang biasa ia pakai untuk bersembunyi. Gebrakan ayahnya di pintu tidak 
mengganggunya. Arik pun kembali tertidur di dalam Gudang itu. 

Arik dibangunkan dengan suara senapan yang keras serta teriakan warga. 
Arik panik dan segera keluar dari Gudang. Ia melihat sekitarnya dan entah 
kenapa ada sesuatu yang ganjal. Arik dengan kebingungan berteriak 
mencari ibu dan ayahnya, tetapi mereka tidak ada di mana-mana. Arik 
keluar dari rumah. Disana ia melihat pemandangan yang ia tidak pernah 
lihat sebelumnya, di pekarangan rumahnya yang biasa di hiasi rumput hijau 
, di saat itu hanya dihiasi oleh darah dan rumput kering. Arik kebingungan 
dengan pemandangan yang mengerikan itu. “Angkat tanganmu atau mati!” 
ucap seseorang di belakangnya. Arik tersentak dan mengangkat tanganya 
dengan ketakutan, ia bahkan tidak berani untuk melirik ke belakang. Lalu 
DOR 

Suara senapan bergema di belakang Arik, Arik fikir ia sudah mati di saat 
itu. Tapi nyatanya tidak. Arik dikagetkan dengan tangan yang memegang 
bahunya “hei tenang..apa kau baik baik saja?” ucap seorang lelaki. Arik 
menengok ke arah sumber suara itu. Disana ia melihat seorang lelaki 
seumurannya yang memakai baju lusuh dengan membawa senapan di 
tangannya, “t-tolong jangan bunuh aku!, aku tidak salah apa-apa!” ucap 
Arik dengan keras. “shhhhhhh” ucap pria itu dengan menutup mulut Arik, 
Arik hanya dapat terdiam. Dan di antara keheningan itu banyak suara 
pria-pria lainnya yang melewati rumah Arik .tetapi entah mengapa mereka 

119
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

terlihat seperti tentara. Lelaki itu pun mengarahkan Arik untuk 
mengikutinya ke tempat yang lebih aman. 

Lelaki itu menawarkan Arik air, dan Arik pun meminumnya. “jadi, siapa 
namamu?” ucap lelaki itu kepada Arik. “oh-aku Arik” , dengan 
kebingungan lelaki itu menjawab “Arik? Nama yang unik ya. Namaku 
Tejoe, kalau boleh tau kenapa kau berada di area ini?. Bukankah seluruh 
penduduk sudah di evakuasi ya?” Arik sama sekali tidak mengerti apa yang 
Tejoe katakan dan hanya melihatnya dengan kebingungan. 

“mau aku antarkan?” tanya Tejoe. “kemana?” jawab Arik dengan 
kebingungan. “kemana lagi? Ke tempat evakuasi. Kamu tidak mau mati 
kan?” ucap Tejoe dengan muka ramah. Arik sama sekali tidak mengerti 
akan situasi yang telah terjadi. Tetapi setelah melihat pemandangan yang 
mengerikan ia lebih ingin hidup daripada mati. Sehingga Arik dituntun 
oleh Tejoe melalui hutan di sekitar situ, yang seingat Arik tidak pernah ada 
di sana. Di dalam hutan, sesekali Tejoe akan meminta Arik untuk 
menunduk dan diam. Perjalanannya tidaklah mudah. Mereka harus 
melewati berbagai rintangan di dalam hutan itu. Setelah beberapa jam telah 
berlalu akhirnya mereka pun memutuskan untuk istirahat untuk sejenak. 

Tejoe terlihat kelelahan karena telah mengawal Arik selama berjam-jam 
melalui hutan tersebut. Tetapi entah kenapa Tejoe terlihat siap sedia, dan 
tetap berusaha untuk menjaga Arik agar aman. “Tejoe” panggil Arik. “ya? 
Ada apa?” jawab Tejoe sembari memasak makanan yang ia temukan di 
hutan. “kita bersembunyi dari apa sih? Sepertinya mereka sangat 
berbahaya” , dengan seketika Tejoe terdiam dan menjawab “dari pasukan 
nippon lah, dari apa lagi?”. Arik teringat akan kata-kata itu. Tetapi ia tidak 
mengingat dari mana ia pernah mendengarnya. “pasukan nippon?” jawab 
Arik, “ya, mereka adalah pasukan yang menjajah kita. Mereka sangat 

120
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

berbahaya” jelas Tejoe kepada Arik. Sehingga Arik pun bertanya kembali 
“kenapa kau menyelamatkanku? Kan bisa saja kau biarkan saja” . Tejoe 
terdiam dan menjawab dengan muka sedih “kau mengingatkanku sedikit 
dengan adekku, adekku ditangkap oleh pasukan nippon dan sekarang 
sudah entah dimana”, Arik pun juga tersedih akan berita itu. Tejoe pun 
melihat langit dan berkata “suatu hari nanti, kita pasti bisa merdeka. Aku 
yakin. Dan ketika saat itu tiba aku ingin kita dapat merasa aman kembali” 

Arik hanya dapat mendoakan hal yang sama. Mereka pun menutup mata 
mereka dan terlelap di bawah ribuan bintang di langit. 

Sinar hangat menerpa muka arik dan membangunkannya, di sampingnya 
Tejoe sudah bangun terlebih dahulu dan sudah siap-siap untuk 
melanjutkan perjalanan ke tempat evakuasi. 

Seperti sebelumnya, kita harus benar-benar berhati-hati ketika melewati 
hutan itu. Karena ada beberapa pasukan yang lalu Lalang di dalam hutan 
itu. 

Setelah beberapa saat Arik melihat sebuah jalan keluar hutan itu yang 
disana terdapat beberapa orang yang sudah berkumpul. “apakah ini 
tempatnya?” tanya Arik kepada Tejoe, “ya ini tempatnya”.setelah 
perjalanan yang jauh akhirnya mereka sampai dengan aman. Tejoe berjalan 
di depan Arik untuk melaporkan laporannya kepada pemuda lain yang 
sedang berkumpul disana. Seluruh mata pun tertuju kepada Arik. Arik 
memperhatikan bahwa beberapa pemuda di perkumpulan itu masih muda, 
tetapi dengan tekad yang kuat mereka bahkan siap untuk berjuang. 
Sedangkan Arik sendiri hanya membuang-buang waktunya, sehingga 
momen itu pun menumbuhkan suatu kesadaran dalam diri Arik. Setelah 
menunggu untuk beberapa menit Arik pun akhirnya diperbolehkan untuk 

121
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

di evakuasi bersama penduduk lainnya. Arik diarahkan ke sebuah truk oleh 
Tejoe, Arik pun duduk di dalam truk itu. “jaga dirimu ya Arik, kita harus 
berpisah disini.aku harus melanjutkan perjuanganku di sini” ucap Tejoe 
kepada Arik. Arik pun mengangguk dan Tejoe pun kembali berkumpul 
dengan para pemuda lain. 

Setelah beberapa saat truk evakuasi pun akan pergi ke tempat evakuasi, 
tetapi tiba-tiba terdengar suara senapan di udara dan keadaan pun menjadi 
panik. Para pemuda bersiap melawan pasukan yang datang demi menjaga 
para penduduk yang dievakuasikan. Diantara para pemuda itu adalah 
Tejoe, Arik melihat Tejoe gemetaran ketika menunggu kedatangan 
pasukan nippon, tetapi Tejoe terlihat siap untuk melawan mereka.  

Truk pun berjalan menjauh dari situasi yang sudah mulai rusuh karena 
pasukan nippon telah datang, dari kejauhan Arik masih dapat melihat 
Tejoe melawan mereka, tetapi DOR seketika sebuah senapan telah 
menembak Tejoe, yang menyebabkan tejoe untuk jatuh ke tanah, Tejoe 
berdiri dengan lumpuh dan berusaha untuk tetap berjuang. tetapi, DOR 
tembakan kedua ditembakan kepada Tejoe. Arik yang melihat 
pemandangan mengerikan itu ingin membantu mereka juga untuk 
melawan nippon tetapi penduduk di truk memberi tau Arik bahwa itu 
adalah hal yang berbahaya. Arik pun hanya dapat meringkuk dengan 
sedihnya selagi truk berjalan menjauh dari Kawasan perang itu. Arik 
merasa bersalah kapada Tejoe yang telah membantunya, seharusnya Tejoe 
masih hidup jika ia tidak membantuku, bahkan aku belum berterimakasih 
kepadanya. Rasa penyesalan Arik pun tertanam di hatinya dan Arik pun 
terlelap tidur. 

Arik terbangun dengan pemandangan yang sudah tidak asing baginya, 
‘dimana aku…’ gumamnya sembari mengusap air mata yang telah turun di 

122
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

pipinya. Setelah ia menenangkan dirinya sejenak ia pun sadar bahwa 
tempat itu adalah Gudang rumahnya. Ia pun keluar memanggil kedua 
orang tuanya dengan harapan mereka masih ada disana. Dan benar saja 
kedua orang tuanya sedang solat subuh di ruang tamu. Arik pun 
mengambil air wudhu dan menyusul rakaat mereka. Seusai solat Arik 
khawatir akan kemarahan kedua orang tuanya karena ia telah menjadi anak 
yang buruk bagi mereka, tetapi ibunda Arik hanya tersenyum ramah dan 
terisak “Arik kenapa tidak keluar dari Gudang? Ibu khawatir nak” ucap 
ibunya dengan memeluk Arik, ayah arik pun juga memberikan raut muka 
khawatir akan Arik. Arik pun sadar bahwa ia telah menjadi anak yang tidak 
baik bagi mereka dan arik pun meminta maaf kepada mereka. 

Arik pun di pagi harinya pergi ke sekolah sebagai karakter yang baru. Ia 
telah menjadi anak yang baik dan patuh kepada guru-gurunya.  

Beberapa bulan telah berlalu, dan suatu hari di pelajaran sejarah ia 

mempelajari tentang masa-masa pemuda Indonesia melawan penjajah, di 

dalam foto buku paketnya ia sekilas teringat dengan mimpi yang ia alami 

serta juga tejoe yang telah membantunya menjadi dirinya yang sekarang. 

‘kurasa mimpi itu memanglah petanda bagiku’ gumam Arik sembari 

melihat-lihat halaman buku sejarahnya dengan tersenyum.   

123
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Sophia Nafisa Junita 

“ Kenapa kalian ini? Kok satu kelas nilainya jelek semua!” ucap pak Jono, guru
matematika SMP kami setelah membagikan kertas ulangan kami yang sudah
dinilai. Beliau sangat kecewa, lalu mengatakan, “Bapak akan memberi PR lebih
banyak kepada kalian, sebagai latihan supaya kalian tidak ketinggalan dengan
kelas-kelas lain. Kumpulkan minggu depan. Paham?!”.

“Paham, pak” jawab kami pelan, sambil menunduk. D​ uh, bapak ini kayak gatau
aja pelajaran lain PR nya juga setumpuk,​ pikirku dalam hati. B​ iarlah, biar tambah
pintar, hehehe,​ lanjutku dalam hati. Pulang sekolah, aku langsung sibuk lagi.
Membantu mebereskan rumah , mengerjakan PR-ku, dan lain-lain. Tidak terasa,
sudah malam. Aku pergi ke kamarku untuk beristirahat.

Aku sering mendengar berita di televisi tentang berbagai peristiwa di negeri ini.
Kerusuhan, kemiskinan, kejahatan-kejahatan, dan lainnya terjadi di Indonesia.
Sedih sekali mendengarnya, apa yang bisa kulakukan? Aku pernah bertanya
kepada orangtuaku tentang hal itu, lalu mereka menjawab, “Belajar saja yang rajin,
itu tugasmu sebagai pelajar. Nanti kalau sudah besar kamu bisa mengubah nasib
negara ini. Masa depan negara ada di tangan kalian, pemuda bangsa Indonesia.”

1 minggu kemudian….

“ Woi, Ela”, Rika, temanku, memanggilku sambil menepuk pundakku. Aku yang
sedang membaca buku pelajaran menoleh. “ Dipanggil terus nggak nyahut. Rajin
banget nih.” Katanya sambil terkekeh. “ Iya maaf, keasikan baca-baca. Kenapa?”
tanyaku. Rika berkata, “ Nanti kan ada pelajarannya pak Jono, bolos yuk. Males
ketemu dia, galak banget dia. Banyak anak kelas ini yang mau bolos. Mau ikut
nggak?

Aku berusaha tersenyum sambil menjawab “Rika, bolos itu nggak baik. Pak Jono
galak demi kebaikan kita. Agar kita punya masa depan lebih baik. Agar pemuda
Indonesia bisa mengubah nasib negara kita ini. Kalau pemuda nya malas-malasan,
bagaimana kita sendiri bisa sukses? Bagaimana Indonesia ke depannya?”. Rika
termenung. Aku diam saja sambil menatapnya. Tak lama kemudian, rika berkata “
Oke, aku nggak jadi bolos. Aku mau memberitahu yang lain, biar nggak bolos.
Nggak baik.” Ia lalu berbalik dan menghampiri beberapa murid lain, sambil
berbicara sesuatu. Aku tersenyum senang dan kembali meneruskan membaca buku.

124
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Seusai jam istirahat pertama pukul sepuluh adalah jam pelajaran matematika. Pak
Jono datang ke kelas kami dengan muka seramnya itu. Setelah mengucap salam,
pak Jono bertanya dengan nada galak khasnya, “ Semuanya sudah mengerjakan
PR?”. Sebagian kecil menjawab “Sudah”, beberapa menjawab “Sebagian”, namun
sebagian besar diam tak bersuara. Pak Jono mendelik, “Yang lain belum
mengerjakan ya?” tanyanya. Sebagian besar menggeleng. Ekspresi wajah pak Jono
yang awalnya galak berubah menjadi sedikit lembut. Dengan perlahan ia berkata
“Bapak tahu kok sebelumnya kalian berencana untuk bolos pelajaran bapak. Tapi
lupakan saja hal itu. Tahu nggak kenapa bapak sering marah-marah ke kalian?”.
Seluruh murid di kelas menatap wajah pak Jono, menggeleng pelan. Pak Jono
tersenyum sedikit, kemudian melanjutkan, “Bapak bukannya jahat sama kalian.
Bapak hanya ingin kalian disiplin, lebih paham dengan pelajarannya. Agar kalian
bisa berguna untuk bangsa dan negara. Maafkan bapak kalau selama ini kalian
merasa tertekan. Bapak hanya berharap kalian, para pemuda bangsa, bisa membuat
Indonesia semakin maju.” Kami saling menatap satu sama lain, sungguh aneh
melihat guru yang kelihatannya tidak peduli, galak, tapi bisa berkata hal semacam
itu. Kami para pemuda berjanji akan mewujudkan harapan guru dan orangtua
kami.
 
 
 

  

125
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Bagian 5 

KUMPULAN ESSAY 
 

   

126
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Alya Nareswari S R 

pemuda adalah generasi muda bangsa yang aktif dalam 
memperjuangkan negara selain itu pemuda sangat berpengaruh bagi 
kehidupan pembangunan dalam suatu negara.  

Sebagai pemuda indonesia pasti memiliki peran sebagai generasi 
penerus bangsa yaitu membangun pendidikan,memiliki semangat juang 
yang tinggi, meraih cita-cita mewujudkan warga bangsa yang cerdas.   

Tentunya Indonesia ingin membuat negaranya menjadi lebih maju, 

oleh karena itu para pemuda harus memiliki karakter yang kuat untuk 

membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, 

semangat nasionalisme.   

127
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Muhammad Hamiz Ghani Ayusha 

PEMUDA ADALAH HARAPAN MASA DEPAN BANGSA 
Saat ini dunia sudah semakin berkembang. Setiap negara berusaha untuk 
turut memberikan andil yang besar dalam menghadapi perkembangan 
tersebut. Persaingan global juga semakin membesar. Tentu saja tidak 
hanya dampak positif yang ditimbulkan dari persaingan global itu, Namun, 
berbagai dampak negatif juga akan terjadi ke beberapa negara. Kerusakan 
berbagai bidang akan terjadi. Hasil perjuangan para pahlawan akan sia sia 
apabila tidak segera ada penanganan. 
 
Siapa yang akan menolong negara ini?Tentunya, bukan golongan 
anak-anak, karena mereka adalah tunas pucuk yang masih mencontoh, juga 
bukan orang dewasa yang sudah usia dini, tidak hanya karena tenaga 
mereka yang berkurang,Karena itu, dalam menanggapi persoalan-persoalan 
tersebut sangat dibutuhkan peranan sekelompok atau sebagian dari 
masyarakat itu sendiri ialah Kaum Muda, pada sisi lain kehidupan 
bermasyarakat kita mengenal Istilah Pemuda yaitu individu yang bila 
diamati secara biologis sedang mengalami pertumbuhan dan secara 
psikologis sedang mengalami perkembangan Emosional, atas dasar itu 
Pemuda menjadi sumber daya pembangunan masyarakat ataupun bangsa 
baik saat ini maupun masa depan.  
 
Keikut andilan Pemuda sangat diharapkan dalam menjawab berbagai 
tantangan kondisi masyarakat maupun kondisi kebangsaan di negara ini, 
pemuda menjadi sangat penting sebagai kelompok Pembaharu, pelopor 
dan sebagai kelompok cendekia bijaksana untuk membendung besarnya 

128
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

problematika yang terjadi, dari hal ini dapat kita meneropong lebih jauh 
mengenai Eksistensi pemuda masa kini 
 
Masalahnya sekarang adalah bagaimana cara membangun SDM pemuda 
pemudi kita supaya dapat diandalkan untuk membawa masa depan 
Indonesia supaya menjadi lebih baik? Semua itu memang berasal dari 
kemauan para pemuda pemudi Indonesia sendiri. Tapi ada beberapa 
langkah yang mungkin bisa membantu mendorong kemajuan kualitas para 
pemuda pemudi Indonesia yang bisa dilakukan oleh para pendukung 
kemajuan pemuda-pemudi termasuk pemerintah. 
 
Cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM pemuda 
pemudi adalah sebagai berikut: 

1. Pembinaan bertujuan mengatur dan membina manusia 
2. Melalui pelatihan.Pelatihan bertujuan untuk mengembangkan 

individu dalam bentuk peningkatan keterampilan, pengetahuan dan 
sikap. 
3. Pendidikan. Pengembangan SDM melalui pendidikan bertujuan 
untuk meningkatkan kemampuan kerja, dalam arti pengembangan 
bersifat formal dan berkaitan dengan karir. 
4. Perekrutan  
Perekrutan ini bertujuan untuk memperoleh SDM sesuai klasifikasi 
kebutuhan organisasi dan sebagai salah satu alat organisasi dalam 
pembaharuan dan pengembangan. 
5. Melaluui Perubahan sistem. 
Perubahan sistem memiliki tujuan untuk menyesuaikan sistem dan 

129
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

prosedur organisasi sebagai jawaban untuk mengantisipasi ancaman 

dan peluang faktor eksternal. 

Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika mari kita perkokoh persatuan 

dan kesatuan bangsa. Sebagai generasi muda kalian memiliki tanggung 

jawab yang besar dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Posisi 

kalian sebagai generasi penerus menuntut perilaku yang mampu 

mendukung persatuan dan kesatuan. Kalian harus mampu menunjukkan 

peran yang positif sebagai pemuda yang memiliki tanggung jawab moral 

untuk kejayaan bangsa pada masa depan. 

Bukan zamannya lagi bermalas-malasan dan melakukan tindakan-tindakan 

yang tidak terpuji apalagi melakukan tawuran. Pemuda harus 

bersungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan untuk menempa diri. 

Pemuda adalah harapan akan masa depan Indonesia yang adil dan makmur 

dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia. 

Pemuda juga diharapkan tetap terus menempa dirinya menjadi 

pribadi-pribadi yang memiliki kematangan intelektual, kreatif, percaya 

diri, inovatif, dan memiliki kesetiakawanan sosial dan semangat 

pengabdian terhadap masyarakat, bangsa dan negara yang tinggi.   

130
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Adhya Musyaffa Dharmayasa 

Sekarang, kita sedang berada di masa-masa yang sulit. Mulai dari pandemi 
hingga banyaknya isu-isu yang mengecewakan hati masyarakat. Walaupun 
dalam masa sulit kita tidak boleh menyerah, kita harus tetap semangat, 
produktif, dan kreatif khususnya pemuda.  

Pemuda adalah Generasi penerus bangsa yang penuh akan semangat juang, 
memiliki keberaniaan yang besar, teguh akan pendirian, dan memiliki 
ide-ide yang cemerlang. Bahkan bapak proklamator kita, Ir. Soekarno 
pernah berkata : “Berilah aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut 
(gunung) semeru dari akarnya. B​ eri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang 
dunia”​ . Dari pernyataan Soekarno ini, kita dapat menyimpulkan seberapa 
pentingnya pemuda dan juga potensinya bagi bangsa dan negara.  

Pemuda tidak bisa diremehkan begitu saja. Tidak sedikit pemuda yang 
sangat disegani dan menjadi ahli dalam dunia Politik, Ekonomi, Sosial 
budaya, Teknologi, maupun Agama. Di Indonesia, para pemuda memiliki 
peran yang sangat penting dalam kemerdekaan Indonesia, karena mereka 
ialah kelompok yang pertama kali bersatu untuk melawan penjajah dan 
mereka mengikrarkan sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Di 
Luar negeri, Mark Zuckerberg pada usia 20 tahun, ia mendirikan salah satu 
media sosial yang paling sering digunakan di dunia yaitu Facebook. Di 
dunia Islam, Muhammad Al-Fatih pada usia 21 tahun, ia menaklukkan 
salah satu kota besar Ibukota kekaisaran Romawi yaitu Konstantinopel. 

Namun kita dapat saksikan, mulai lemahnya semangat, terutama karakter 
pada seorang pemuda. Oleh karena itu, kita harus membuang sikap-sikap 

131
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

yang tidak sesuai dengan pemuda dan harus membangun sikap yang sesuai 
dengan pemuda. 

Dari sini kita bisa simpulkan, seberapa pentingnya pemuda dalam 

kehidupan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda adalah seorang 

generasi penerus bangsa yang penuh dengan semangat dan ide-ide yang 

cemerlang. Pemuda akan terus memperjuangkan kebangkitan dan kejayaan 

Indonesia . Seorang pemuda harus belajar dengan sungguh-sungguh agar 

bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk, agar nanti bisa 

menyuarakan kebenaran, dan juga agar bisa bermanfaat bagi bangsa 

tercinta kita yaitu Indonesia.   

132
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Dea Alverina Noor 

Seorang  pemuda  adalah  golongan  manusia  yang  muda  dan  golongan 
manusia  yang  dewasa  mengembangkannya  ke  arah  yang  benar  dan 
bertumbuh  menjadi  golongan  manusia  yang  dewasa  yang  baik.  Dengan 
masa  pertumbuhannya  seorang  pemuda,  ada  banyak  yang  harus 
dikembangkan. Seperti kedisiplinan, pengetahuan, kreatifitas dll. Selain itu 
pemuda  itu  sebagai  seorang  yang  akan  meneruskan  generasi-generasi 
berikutnya  yang  akan  datang  dan  generasi-generasi  berikutnya  itu  akan 
lebih  membaik  dan  lebih  maju  berkat  pemuda-pemuda  yang  sudah 
memiliki  pengetahuan  dan  kreatifitas  yang  banyak.  Dan  pemuda  akan 
meneruskan/ memajukan bangsa dalam tahun-tahun yang akan datang. 

Dan seperti saat ini pun di generasi ini sudah ada banyak teknologi karena 

sudah  berkembangnya  para  pemuda  tersebut.  Dan  pemuda  akan  menjadi 

dewasa,  dan  seorang  manusia  dewasa  akan  mengembangakan/mengajar 

ilmu  dan  pengetahuan  yang  mereka  ketahui  ke  generasi-generasi  pemuda 

yang akan datang.   

133
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Azwa Syafira Dayana Nasution 

Pengaruh Pemuda bagi Bangsa Indonesia 

Generasi muda adalah penentu masa depan bangsa ini, karena itu setiap 
pemuda bangsa Indonesia termasuk yang masih berstatus pelajar, 
mahasiswa ataupun yang sudak menyelesaikan pendidikannya merupakan 
faktor-faktor penting yang sangat diandalkan oleh Bangsa Indonesia dalam 
mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan 
Bangsa. Hal ini sesuai dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh I.R. 
Soekarno yaitu : 

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri 
aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” – Soekarno 

Pemuda sejatinya merupakan tokoh utama dari kemajuan bangsa ini. Baik 
buruknya suatu negara juga dilihat dari kualitas pemudanya, karena 
mereka adalah penerus dan pewaris bangsa. Setiap pemuda bangsa harus 
mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa maupun 
negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, mampu 
memahami pendidikan tentang kemajuan tekhnologi, dan dapat bersaing 
secara global. Para pemuda juga harus mengetahui peran mereka sebagai 
Agent of change, moral force d​ an​ sosial control​, sehingga peran tersebut dapat 
mereka terapkan secara baik dan benar di masa depan kelak.  

Para pemuda juga harus belajar dari kesalahan pemuda Indonesia 
terdahulu yaitu, pada tahun 1998 terjadi gerakan mahasiswa Indonesia, 
Soeharto mendapatkan kecaman dari mahasiswa karena krisis ekonomi 
yang membuat hampir setengah dari seluruh penduduk Indonesia 
mengalami kemiskinan. Gerakan ini mendapatkan momentumnya saat 
terjadinya krisis moneter pada pertengahan tahun 1997. Harga-harga 

134
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang, 
tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan 
mahasiswa, gerakan mahasiswa ini pun didukung oleh masyarakat. 

Namun beberapa mahasiswa terdahulu telah melakukan hal yang sama bagi 

masyarakat sekarang, mengapa seperti itu? Dikarenakan mereka telah buta 

oleh uang dan lupa terhadap perjuangan mereka di zaman dahulu untuk 

memperbaiki ekonomi Indonesia, tidak sedikit pula kasus demo mahasiswa 

yang terjadi sekarang dikarnakan hal yang telah dilakukan oleh mahasiswa 

terdahulu. Dengan hal ini para generasi muda harus bisa belajar dan 

menanamkan di dalam diri bahwa mereka tak akan melakukan hal yang 

sama dan tak akan melupakan perjuangan mereka di zaman sekarang, 

karena korupsi dan hal hal kotor yang dilakukan Sebagian pejabat 

Indonesia, ini hanya akan merugikan bangsa Indonesia dan seolah olah 

mereka hanya mementingkan keperluan mereka sendiri, karena itu kapan 

bangsa Indonesia maju jika terus-terusan melakukan hal yang sama? 

Tentunya pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh penerus dan perwaris 

bangsa atau yang biasa disebut dengan pemuda Indonesia.   

135
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Muhammad Athallah Ramadhan 

Pemuda adalah tulang punggung peradaban suatu bangsa. Sebab di pundak 
nya lah nasib sebuah bangsa akan ditentukan, apakah akan menjadi bangsa 
yang maju atau menjadi bangsa yang terbelakang. Pada abad ke 14 nabi 
Muhammad mengaskan penting nya peranan kaum muda bagi suatu 
bangsa. Beliau begitu cermat dan serius dalam melakukan pembinaan 
kepada kaum muda diantaranya seperti Ali, Usamah, Ibnu Abbas, Ibnu 
Umar, dan sebagainya. 

Sebagai pemuda muslim yang hidup di zaman millennial sekarang ini 
mengalami banyak tantangan karena peradaban saat ini jauh dari sifat 
islami 

Beberapa karakter yang harus dimiliki oleh pemuda islam sebagai panduan 
hidup :  

Mutsaqqoful fikri ( wawasan yang luas ) 

Berwawasan luas adalah suatu kewajiban bagi seorang pemuda muslim 
seperti salah satu sifat rasulullah saw “ fathanah” ( cerdas ), dengan 
wawasan yang luas pemuda dapat mengamalkan ilmu yang dipelajari 
kepada pemuda lain. Dengan ilmu tersebut digunakan untuk 
menyampaikan kebenaran, menegakkan keadilan, melawan kemungkaran. 
 
Harisun ‘ala Waqtihi ( disiplin waktu ) 
Sebagai pemuda islam yang berwawasan luas juga harus disiplin terhadap 
waktu, disiplin terhadap waktu juga merupakan bentuk ketaatan kepada 
Allah swt, menjauhkan dari sifat lalai dan dimudahkan rezekinya.   
 
Naafi’un Lighoiri ( bermanfaat bagi orang lain ) 

136
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Maksud dari menjadi pemuda yang bermanfaat bagi orang lain adalah, 
orang yang disekitar kita merasakan manfaat dari keberadaan kita di suatu 
situasi atau tempat. Maka dari itu setiap pemuda muslim harus berusaha 
semaksimal mungkin untuk mengambil peran yang baik dalam masyarakat. 
 
Qodirun ‘alal Kasbi ( mandiri ) 
Pemuda muslim diwajibkan mandiri, terutama dari segi ekonomi, 
menerima apa adanya, selalu bersyukur kepada Allah dan bertawakal, 
hindari berhutang. Jika hutang terbawa mati, maka akan dipertanggung 
jawabkan di akhirat, dan akan menjadi penghalang masuk surga. 
Penghutang juga menyusahkan ahli warisnya   
 
Qona’ah ( puas terhadap pemberian Allah ) 
Sebagai pemuda muslim yang hidup di zaman millennial harus pintar 
pintar bersyukur terhadap pemberian Allah SWT. Belum tentu keadaan kita 
saat ini lebih buruk dari orang lain, bisa jadi orang lain sedang mengakami 
kesulitan dalam hidup nya.  

Bersyukur terhadap pemberian Allah SWT ada banyak cara nya yaitu:  

1. Bersyukur dengan hati  
Bersyukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya 
bahwa segala rezeki dan nikmat yang di dapat merupakan karunia dan 
kemurahan Allah SWT. 

2. Bersyukur dengan merawat kenikmatan 
Apabila mendapat nikmat dari Allah SWT di harus kan untuk merawat 
nya dengan sebaik-baik nya, sebagai contohnya kita memiliki tubuh 
yang sehat maka di wajibkan untuk merawat nya dengan makan 
makanan yang halal dan sehat. 
 

137
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

3. Bersyukur dengan lisan   
Jika seorang mukmin sangat percaya bahwa nikmat yang dapatnya 
berasaal dari pemberian Allah maka dia akan mengucap Alhamdulillah 
( segala puji bagi Allah ), oleh karena itu jika mendapat nikmat dari 
seseorang lisannya tetap memuji Allah. Karna perlu disadari seseorang 
tersebut adalah perantara Allah.  
 

Sobaro yasbiru ( sabar ) 
Sebagai pemuda islam harus selalu sabar menghadapi ujian rintangan 
hidup  
Perlu diketahui Allah tidakk akan menguji diluar batas kemampuan umat 
nya ​Ketika mendapatkan​ c​ obaan, maka bersabar dan ikhlas dengan apa 
yang terjadi. Karena sesungguhnya Allah itu bersama​ d​ engan orang-orang 
yang sabar. 
 
Dengan menerapkan beberapa contoh perilaku diatas maka para pemuda 
islam dapat diharapkan mampu membangun suatu bangsa yang maju, 
membangkitkan peradaban islam berjaya kembali. Secara otomatis pahala 
dan surga akan didapat. Kalau bisa berkarakter baik kenapa tidak ?  

138
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Marva Olinda Sari 

“ pemuda “ 

 

Bangsa  Indonesia  adalah  bangsa  yang  mempunyai  pemuda  pemudi  yang 
siap  setiap  saat  untuk  mengibarkan  bendera  merah  putih  dan  membela 
Negara  Indonesia.  Dan  kita  sebagai  pemuda  penerus  bangsa  harus 
memberi  contoh  yang  baik  kepada  adik  adik  kita  karena  kelak  mereka 
nanti  juga  akan  menjadi  penerus  bangsa.  Di  era  milenial  ini  dengan 
berkembangnya  teknologi  dengan  pesat  kita  tidak  boleh 
menyalahgunakannya  dengan  hal  yang  salah  karena  bisa  saja  itu  dapat 
membuat  Negara  Indonesia  menjadi  pecah  belah,  contohnya  seperti 
masyarakat  Indonesia  menghina  agama  lain  lewat  kritikan  dari  sosial 
media, itu dapat menyebabkan perselisihan antar agama. Maka dari itu kita 
sebagai  pemuda  harus  memberi  contoh  yang  baik  agar  bangsa  penerus 
nanti,  tidak  melenceng.  Di  jaman  dulu  para  pemuda  dan  pemudi  sangat 
kreatif  dan  inisiatif  untuk  memikirkan bagaimana caranya memerdekakan 
Negara  Indonesia.  Dari  situlah  kita  dapat  hidup  di  jaman  ini.  Contoh 
pemudi  yang  sangat  berjasa  bagi  pendidikan  perempuan  pada  jaman  itu 
yaitu R.A Kartini. Waktu itu di jaman R.A Kartini banyak perempuan yang 
ditindas  dan  tidak  dihargai  karena  mereka  tidak  berpendidikkan.  Maka 
dari  itu  R.A  Kartini  berinisiatif  untuk  membantu  para  perempuan  agar 
berpendidikkan  dan  mendirikan  sebuah  sekolah  kecil  untuk  para 
perempuan.  Disana  para  perempuan  di  ajarkan  menjahit,  menulis, 
membaca,  dan  lain-lain.  Sampai  sekarang  R.A  Kartini  selalu  dikenang 
jasanya  oleh  masyarakat  indonesia  khususnya  para  perempuan,  karena  ia 
yang  membuat  para  perempuan  Indonesia  bangkit  dan  menjadi 
berpendidikkan,  sehingga  para  perempuan  tidak  ditindas  lagi.  Dari  cerita 

139
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

hidup  R.A  Kartini  kita  dapat  mengambil  hikmahnya  bahwa  kita  sebagai 
pemuda  pemudi  Indonesia  teruslah  menuangkan  ide  ide  agar  Negara 
Indonesia  menjadi  Negara  yang  maju  dan  sejahtera.  Ir.  Soerkarno  pernah 
berkata  “Berikan  aku  1000  orang  tua,  niscahaya akan kucabut semeru dari 
akarnya,  berikan  aku  10  pemuda,  niscahaya  akan  ku  guncangkan  dunia”. 
Itulah kata kata bijak untuk para pemuda dari ir. Soekarno. Dan tidak lupa 
juga  Kita  harus  tetap  mengingat  bunyi  teks  sumpah  pemuda  yang  ditulis 
oleh  Moehammmad  Yamin.  Kembali  ke  pembahasan  tentang  era  milenial 
kita  sebagai  pemuda  harus  berani  membela  kebenaran  dan  memberitahu 
yang salah. Jangan sampai karena kita mempunayi jabatan tinggi di Negara 
Indonesia  kita  menyalahgunakan  jabatan  itu  seperti  contohnya  korupsi 
uang  rakyat.  Perilaku  seperti  itu  kita  tidak  boleh  mencontohnya  dan 
memberi  pelajaran  bagi  siapa  yang  berbuat  melenceng  seperti  itu,  karena 
dengan  berbuat  itu  akan  menghambat  majunya  Negara  Indonesia  karena 
banyaknya  rakyat  Indonesia  yang  miskin  akibat  uangnya  disalahgunakan 
oleh  mereka  yang  mempunyai  jabatan  tinggi.  Kita  sebagai  pemuda  harus 
menegakkan  keadilan  bagi  semua  masyarakat  Indonesia  barulah  Negara 
Indonesia bisa maju. 

  

140
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

KUMPULAN ALAMAT BLOG SISWA SISWI SMP ISLAM SINAR 
CENDEKIA 

M Azka Dhiestra 9 abu bakar https://blogkita12123.blogspot.com/2020/10/blog-saya.html

Muhammad Athallah 8 andalusia https://www.blogger.com/u/1/blog/post/edit/preview/3723060672277404664
Ramadhan /5783647235516157528

Syakira Mumtazunissa 9 utsman bin

Risnandar affan https://inihanyasebuahtest.blogspot.com/2020/10/ceramah-dan-pidato.html

Muhammad Althaf Putra

Wardhana 8 iskandariyah https://bloggsalthaf.blogspot.com/2020/10/genshin-impact.html?m=1

yasir abdillah nurdin 7 Al https://yasirabdillahnurdin.blogspot.com/2020/10/ini-27-oktober-2020-saya-
khawarizmi belajar.html

Haidar Izzuddin 8 andalusia https://myforeheadisbig.blogspot.com/2020/10/africa.html?m=1

ruben 9 abu bakar https://www.blogger.com/u/2/blog/posts/

ILYAS MUHAMMAD AL 9 umar bin

FARUQI khattab https://ilyasalfaruqi.blogspot.com

Hanif Muhammad Idris 8 andalusia https://hahahaanif.blogspot.com/2020/10/bloggy.html

Achmad Ali ZidanePutra 8

Suryana konstantinopel https://zidanesuryana.blogspot.com/2020/10/aktifitas-weekend.html

https://skuysabimeluncur.blogspot.com/2020/10/warung-tegal.html

byaktha adhiharma putra 9 abu bakar https://skuysabimeluncur.blogspot.com/2020/10/warung-our-pride-food-indo
mie.html

9 umar bin Alshafakirana.blogspot.com
Alshafa chandrakirana khattab

Rheinaya Ardine 9 umar bin https://rheinayaardine.blogspot.com/2020/10/karya-bulan-bahasa-rheinaya.
khattab html

radhitya fauzan 8 andalusia https://radhityadheeto.blogspot.com/2020/10/mengenal-adobe-premier.html

Farrel TA 9 abu bakar f4rr31.blogspot.com

Riffat Zhafif Ardhana 9 umar bin https://indomieriffat.blogspot.com/2020/10/indomie-seleraku-eps-2-indomie-
khattab goreng.html

Raka givaro pane https://teachingstrategygames.blogspot.com/2020/10/how-to-be-good-at-cal
8 iskandariyah l-of-duty-ww2-nazi.html

141
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Khalfan sidiq A 8 iskandariyah https://khalfansa.blogspot.com/2020/10/ragu.html
Febry irawan 8 iskandariyah http://ceritanyairawan.blogspot.com

Stella safira Maryam 8 iskandariyah Stellamaryam.blogspot.com

7 Al atharsc.blogspot.com
Muhammad Athar Alvaro khawarizmi

Hafizh Yusa 9 umar bin https://ceritahapis.blogspot.com/
khattab

8
Nayla Rarasdya Ananda konstantinopel naylararasdya.blogspot.com

m.real rizaq 9 abu bakar ceritakudotnet .blogspot.com

Adhya Musyaffa 8 https://www.blogger.com/u/1/blog/post/edit/1175222803777133689/761961
konstantinopel 8762760419286

Sulthan Danendra Al 8 andalusia https://workshopsekolah.blogspot.com/2020/10/hari-blogger-nasional.html
fathir
9 ali bin abi https://workshophariini27oktober.blogspot.com/2020/10/workshop-hari-ini.ht
kayla kinanti sugandi thalib ml

Arva Andyalauda 7 Al https://arvatentangteman.blogspot.com/2020/10/?m=1
Wicaksono khawarizmi

imam fathurrahman 7 ibnu battutah https://tidaktau1.blogspot.com/2020/10/percobaan-1-dan-perkenalan.html

Quinnzia Ermystin asila 9 utsman bin

Kurniawan affan https://journalaja.blogspot.com/

8
Naufal Agustian Attarafie konstantinopel https://naufalagustian.blogspot.com/2020/10/my-daily-life.html

Khansa Syakirah 9 abu bakar https://punyakhansa.blogspot.com/2020/10/pantun-pemuda.html

Syurani Mustika https://satuuntuksemua24syu.blogspot.com/2020/10/wisata-di-pantai-pari.ht
7 ibnu battutah ml

9 ali bin abi https://mikhaspersonalblog.blogspot.com/
Mikhail Hanief Anindhito thalib

Falah Bilal 7 ibnu battutah https://bahasafalah.blogspot.com/2020/10/pantun-hari-pemuda-2020.html

Raisya haziq ramadhani 8 andalusia raisyahaziq.blogspot.com

Dea Alverina Noor 9 abu bakar readmycomic
https://rafisetiawan123.blogspot.com/2020/10/apa-itu-blogger.html
9 ali bin abi
Fahrellino Rafi Setiawan thalib

142
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

9 utsman bin

Marva Olinda Sari affan [email protected]

Rafi au;ia 9 utsman bin
Farrel Rayhan
Muhammad Akram affan rafibelajarpython.blogspot.com
Rimeka
8 iskandariyah https://haribloggger.blogspot.com/2020/10/hariblogger.html?m=1

8
konstantinopel MyBlogRimeka.Blogspot.com

Azwa Syafira Dayana 9 ali bin abi Azwasyafira.blogspot.com
Nasution thalib
Kinanti Annisa Putri
Dianri 9 abu bakar https://massewwoo.blogspot.com/2020/10/sumpah-pemuda.html
https://www.blogger.com/blog/posts/5562793202212821819
Maysha Sheva 9 umar bin
khattab

Fatih Muhammad 7 Al https://suarafatih.blogspot.com/2020/10/tanggal-20-maret-hampir-seluruh.ht
Athallah khawarizmi ml

Muhammad Ilham 7 ibnu battutah burungbesi444.blogspot.com
Maulana

Annisa Mulya Prastowo 7 ibnu battutah https://blogpunyakunisa.blogspot.com/2020/10/sumpah-pemuda.html

Malik Hakiim Prastowo 8
konstantinopel https://maliksincen.blogspot.com/2020/10/hari-pertama-sekolah-online.html
Aisha Yasmin
9 ali bin abi https://ayyesworld.blogspot.com/2020/10/
Sophia Nafisa Junita thalib
Aninda Ekaputri
Paramitha 8
Fayza Aurora Putri konstantinopel https://haloorang.blogspot.com/
Kurniawan
9 utsman bin https://www.blogger.com/u/2/blog/post/edit/1872862174074484929/274877

affan 0107260369759

9 utsman bin https://9caurora.blogspot.com/2020/10/sumpah-pemuda-dan-makna-nya-au

affan rora.html

https://ditawidian.blogspot.com/

andita sri widiandari 8 andalusia ditabahasa
Narendra Lejar P
Maritza Rifa Nariswari 8 https://narendralejar.blogspot.com/2020/10/lirik-lagu-separuh-aku-noah-ban
asiela khalila safithri konstantinopel d.html
Fathir Al Fieras Ibrahim
https://jurnalrifaa.blogspot.com/2020/10/27102020-tahun-2011-saya-dan-ke
8 iskandariyah luarga.html

https://www.blogger.com/blog/post/preview/1010378080371982041/468008
7 ibnu battutah 6276039973860

8 https://perjalanankelembahharau.blogspot.com/2020/10/perjalanan-ku-ke-le
konstantinopel mbah-harau.html

143
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

pixel andera 8 andalusia siswasinarcendekiablog
Farrel Mushaffa Ikhsan https://www.blogger.com/u/2/blog/post/edit/7034596871272150717/355688
Rafi alfarisi 9100442601352
Azka Pramujadi
naufal auliya yusran 8
konstantinopel FMI76.blogspot.com

9 umar bin rafialfaris1.blogspot.com
khattab

9 utsman bin

affan http://azkapramujadi.blogspot.com/

8 https://tonoudin.blogspot.com/2020/10/kumpulan-pantun-tentang-pemuda.h
konstantinopel tml

Bulan Cecillia Agatha 8 andalusia https://ddicelblog.blogspot.com/2020/10/2-akibat-covid-19.html
Rifa Zakee Az-Zahra
8
konstantinopel https://www.blogger.com/blog/posts/8224863877758667618?hl=en

Salsabila Nadhifah M 7 ibnu battutah salsabloogerindonesia

Faiz Haqqani 8 andalusia https://faizhaqqani.blogspot.com/2020/10/air-putih.html

7 Al reademir.blogspot.com
Emirsyah Fajar Siswoyo khawarizmi

Faiz Atthariq Kusindra 7 Al https://blogfaizhithit.blogspot.com/2020/10/hit-hit.html
khawarizmi

Harsya 9 umar bin Harsyaadrivardhana.blogspot.com
khattab

9 utsman bin

Muhammad Ilyas Faiq affan https://faiqfaiqs.blogspot.com/

Muhammad Hamiz 9 abu bakar hamizghani.blogspot.com ( kuy bacaaaa, saya penulis blog yang rAJIN
Ghani Ayusha lhoo)
Muhammad Abrar 9 umar bin https://www.blogger.com/u/1/blog/post/edit/2884528951345244332/169769
Mafaza khattab 889861920431
https://erickelmasri.blogspot.com/2020/10/apa-itu-arduino-uno-dan-apa-saja
erick 9 utsman bin .html
affan
Zahrina Nurul Ilma https://zahrinnurul.blogspot.com/
9 utsman bin
Fandhika affan fandhikaa.blogspot.com

9 ali bin abi
thalib

Muhammad Hammas 7 Al https://hammas7a-blog.blogspot.com/
Fathurrahman khawarizmi

Naila Farah Kirani 8
(Kirani) konstantinopel https://www.blogger.com/blog/posts/7233279991010605715

144
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita

Fawas Handoyo 8
Sulthan Arkan konstantinopel Kisahsejarah_PenegakIslam
Sajidinia Azalea
Emeninta 8 andalusia https://sulthanarkan.blogspot.com/2020/10/poster-pemuda.html

Cheryl Olivia 9 ali bin abi https://hahlamanta.blogspot.com/2020/10/tugas-karya-siswa-bulan-bahasa.
thalib html
Talitha Azzahra H
8
Jasmine Az-Zahra konstantinopel cheryloliva.blogspot.com

Shafiya https://workshopblogsc.blogspot.com/2020/10/workshop-di-smpi-sinar-cend
7 ibnu battutah ekia.html

8
konstantinopel halamanceritaa.blogspot.com

Blog Shafiya
8 https://www.blogger.com/u/1/blog/post/preview/5626680385014468224/810
konstantinopel 7456656180815908

qorby adhlan f 8
Teuku Nadiff Adzani konstantinopel https://adhfchill.blogspot.com/2020/10/pengalamanku-di-lampung.html

8 iskandariyah https://pemudanadiff.blogspot.com/2020/10/pemuda-pemudi-indonesia.html

Athirah Huwaida Laksito 9 abu bakar athirahceritera.blogspot.com

Sora willens 7 ibnu battutah w1ll3nss0r4.blogspot.com

9 utsman bin https://pelakuekonomifaiqghatfan.blogspot.com/2020/10/1-terjadinyaperdag

Faiq Ghatfan Musyaffa affan angan-antardaerah.html

145
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita


Click to View FlipBook Version