Aldo dan Ian. Kita sama-sama tahun kedua.” Jawab Farzan, menjabat
tangannya.
“Kak, kalau ada mata-mata berarti mereka tau keberadaan kita juga dong.”
Ian membuka suara, dari raut wajahnya terlihat jelas dia merasa khawatir.
Bagas menghela napasnya. “Ya begitulah.”
~.~
Matahari sudah berada ditengah, menunjukkan hari sudah siang. Daritadi
sekelompok ambulans terus datang mengingat banyak sekali mahasiswa
yang terluka. “Ini gak bagus. Kita gak bisa terus kayak gini.” Bagas
membuka suara. “Hari ini sepertinya kita gak bakal bisa pulang.” Ungkap
Zidan, salah satu mahasiswa yang bertugas dalam medis tadi.
Malamnya, para demonstrator terpaksa lari ke kampus terdekat untuk
beristirahat. Lampu semua mereka matikan. Tidak ingin tertangkap
mata-mata dan pasukan pemerintah lain yang pastinya sedang berpatroli.
Di dalam kegelapan, sepasang mata masih terbuka, pikirannya kembali
mengingat kejadian sore tadi.
“ Kita harus buat rencana.” Ucap Bagas, menatap mata semua mahasiswa yang
berada di aula kampus itu. Dia memang sengaja untuk mengumpulkan semua
orang disini.
“Kalau terus begini kita pasti akan tertangkap. Tujuan kita sekarang adalah
menyelamatkan sukarelawan dan juga teman-teman kita yang tadi diculik.”
“Jadi, maksudmu apa?” Seorang mahasiswa bertanya.
“Kalau mereka menggunakan kekerasan, maka kita balas dengan kekerasan juga.”
Seluruh aula langsung menjadi hening.
Percakapan itu terus saja berputar di kepalanya. Dirinya masih merasa ragu
untuk melakukan kekerasan. “Farzan tidur.” Suara serak akibat baru saja
terbangun dari tidurnya menyadarkan lelaki yang sedari tadi terhanyut
99
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
dalam pikirannya itu. Seperti biasa Ian selalu membangunkannya dari
lamunannya. “Iya.” Jawabnya singkat, menutup matanya menunggu kantuk
datang menjemput.
~.~
Siapa yang menyangka kalau unjuk rasa ini akan berubah menjadi perang
tumpah darah? Tentunya tidak ada. Bahkan setelah pembuatan strategi
semalam, para mahasiswa nekat menculik mata-mata dan juga pasukan
pemerintah untuk mengambil senjata mereka dan mengorek informasi.
Suara sorakan, peluru ditembakkan dan besi yang saling bergesekkan dapat
terdengar di sekitar wilayah kantor pusat. Para mahasiswa saling
bekerja-sama dan membagi kelompok. Ada kelompok informan yang akan
menyusup ke dalam kantor, kelompok yang bertarung, kelompok medis,
dan kelompok rahasia yang nantinya akan menyandera para mata-mata dan
pasukan lawan.
“Dimana kalian menyembunyikan sukarelawan dan teman-teman kami?”
Bagas membuka suara. Suaranya menimbulkan gaung dikarenakan mereka
melakukan interogasi di sebuah gedung kosong tak jauh dari kampus
tempat mereka menginap semalam. Sejujurnya Farzan dan dua temannya
itu agak ragu akan keputusan mahasiswa-mahasiswa lain. Tapi, mengingat
banyaknya korban, mereka mengubur keraguan itu dalam-dalam.
Bagas melihat kearah mata-mata yang sudah terikat di kursi itu dengan
tatapan dingin. Gelak tawa keluar dari mulut mata-mata itu, jelas tidak ada
niatan untuk menjawab pertanyaan yang diarahkan kepadanya. “JAWAB!”
Tumbukan kepalan tangan ke kepala terdengar nyaring. Refleks, Ian
memejamkan kedua matanya.
Darah mata-mata itu mengotori lantai. Senyum remeh sama sekali tidak
luntur dari wajahnya. “Lalu? Apa yang akan kau lakukan jika saya tetap
bungkam?” Mata-mata itu terkekeh, tidak memperdulikan bajunya yang
100
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
sudah dinodai cairan merah kental. Bagas mengarahkan pistol tepat di
dahinya. Sontak, Farzan. Ian, dan Aldo membelalakkan mata mereka.
“Kak!” Pekik Aldo.
“Akan kubunuh kau.” Suara Bagas seakan berdengung di telinga Farzan.
Suaranya terdengar lebih dingin dan gelap dari biasanya, memberi kesan
menyeramkan. Ia menarik pelurunya, “KAK BERHEN—“
Suara tembakkan memenuhi ruangan itu. Tatapan ketakutan tertampang
jelas di wajah ketiga serangkai itu. Darah menyiprat ke baju Bagas, tubuh
mata-mata yang sudah tidak bernyawa itu ditendangnya ke sembarang
arah. “Sekarang giliranmu.” Ucapnya kepada mata-mata lain yang mereka
tangkap, badannya terikat dan babak belur.
“Gua tanya sekali lagi, dimana kalian menyembunyikan kawan dan
keluarga kami!” Suara Bagas meninggi, mukanya memerah akibat frustasi.
Mata-mata itu sedikit pucat melihat rekan kerjanya sudah terkulai tidak
bernyawa dihadapannya. Farzan dan yang lainnya hanya bisa terdiam,
terlalu takut untuk membuka suara. “Farzan, Aldo! Keluarga kalian juga
ditahan mereka kan? Kenapa kalian diam saja?!”
Farzan mengangkat kepalanya, teringat akan bunda nya. Begitu juga Aldo
yang langsung mencengkram bajunya mengingat kedua orang tuanya. “Iya,
tapi—“ Belum saja Aldo menyelesaikan ucapannya, Farzan melangkahkan
kakinya ke arah mata-mata itu. Dikeluarkannya selembar foto dari kantong
almamaternya.
“Apa kau pernah melihat orang ini?” Lelaki itu menatap tahanannya
dengan tajam. Ada harapan dibalik suaranya yang tegas.
Mata-mata itu melihat foto yang ditunjukkan Farzan dengan malas. Sisi
mulutnya terangkat menunjukkan seringaian. “Hm? Ooh, dia huh?” Farzan
meneguk ludahnya. Jantungnya berdegup sangat keras. Berharap akan
segera mengetahui keberadaan sang bunda. “Tentu saja aku mengingatnya,
101
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
dia adalah wanita yang sangat cantik.” Mata-mata itu menyerigai lebih
lebar, tawa kecil keluar dari mulutnya.
Rahang Farzan mengeras. “Dimana dia.” Ucapnya dengan penuh
penekanan pada setiap kata. Tahanan mereka mengendikkan bahunya.
“Entah.” Jawabnya enteng. Tangan Farzan bergetar, mencoba
mempertahankan rasionalitasnya.
“Aku gak tau, yang pasti dia sudah tidak ada disini. Pimpinan sudah
menjualnya dan beberapa sukarelawan lain ke pelelangan.” Nafas Farzan
memburu, dicengkramnya kerah mata-mata itu. “Apa kata—“ Mata-mata
itu tersenyum bodoh ke arahnya.
“Iya, dia sudah dijual, harganya mahal lagi. Lumayan buat membayar
hutang negara. Kamu harusnya bersyukur karena dia telah berjasa pada
negara ini—”
Farzan mencengkram kedua pipi mata-mata itu dengan kasar, membanting
kepalanya ke dinding dengan keras. “JANGAN BERCANDA!” Air mata
mengalir dengan deras. Urat sarafnya tertampang jelas di leher dan
lengannya. “KAU APAKAN BUNDAKU!” Berkali-kali ia tubrukkan kepala
mata-mata itu ke dinding. Pikirannya sudah kalut.
“FARZAN BERHENTI!” Bahkan ketika dua temannya sudah menahan dan
meneriakinya, dia tidak bisa berhenti. Emosinya telah mengambil alih
dirinya sepenuhnya. Wajahnya memerah akibat frustasi, kepala dan
telinganya berdengung sangat keras. Adrenalinnya bertubi-tubi.
Senyum hangat bundanya yang selalu menenangkannya disaat ia merasa
lelah, suara merdu bundanya saat memanggil namanya, masakan lezat
bundanya yang selalu menemaninya saat ia sedang belajar, pelukan penuh
kasih sayang bundanya yang selalu ia tolak, semua itu....
Sudah tidak ada.
102
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Jika saja, saat itu ia tau kalau itu adalah terakhir kalinya ia akan bertemu
dengan bundanya. Jika saja ia tau perpisahan akan terjadi secepat ini....
Ia terjatuh, menggenggam dadanya yang terasa amat sangat sesak. “Aku
bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih...” Lirih Farzan. Isakan
pilu tiada henti keluar dari mulutnya. Ian dan Aldo setia berada
disampingnya, menepuk-nepuk punggungnya guna menenangkan.
Keduanya juga menangis. Bagas yang sedari tadi meyaksikan kejadian ini
hanya bisa menghela napas. “Pindah dulu. Mayatnya biar gua yang
beresin.” Bisiknya lembut.
~.~
Berisik. Meskipun tidak ada yang berbicara sama sekali, pikirannya sangat
berisik. Ketiganya saat ini berada di taman belakang kampus, mencoba
menenangkan diri. “Ayo kita bertarung.” Farzan berdiri, memecahkan
keheningan. “Selagi bunda masih hidup, gua gak bisa diam aja disini.”
Sambungnya.
Aldo yang mendengar itu terlihat tidak setuju, Ian menundukkan
kepalanya. “Zan, gua tau ini berat tapi kumohon ikhlasin aja. Kalau
memang para sukarelawan sudah dilelangkan, kita gak bisa berbuat
apa-apa.” Tutur Aldo.
“Gua tau, Al. Makanya gua mau turun ngelawan mereka. Gua gak bisa
biarin mereka hidup tenang begitu aja!” Sorot mata Farzan menajam. Ruas
jarinya memutih akibat dikepal terlalu keras. Aldo menghembuskan
napasnya. “Zan, jangan kayak gini. Bunda lu pasti gak mau lu kayak gini.
Apa gak cukup kamu bunuh mata-mata itu?” Aldo menatap ke arahnya,
matanya memerah akibat menangis tadi.
“Farza—“
103
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
“DIAM KAMU! KAMU TAU APA?!” Bentak Farzan, memotong perkataan
Aldo. Lantas Aldo pun berdiri, menatap ke arah Farzan tidak terima.
“Bukan cuma lu ya yang kehilangan seseorang disini! GUA JUGA
KEHILANGAN ORANG TUA GUA!” Aldo meninggikan suaranya.
“Jangan gegabah, Zan! Kita gak boleh tersulut emosi!” Keduanya saling
menatap satu sama lain dengan tajam. Farzan mendecakkan lidahnya.
“Oke kalau begitu. Biar gua aja yang turun.” Ucap Farzan lalu meraih pistol
curiannya dari mata-mata tahanan mereka dan melangkahkan kakinya
keluar.
“Farzan! Tunggu!” Ian berteriak, mengejar Farzan tanpa berpikir dua kali.
Meninggalkan Aldo seorang diri. “Woi Ian! Sial!” Aldo melempar
almamaternya. Kembali duduk dengan perasaan kesal. “Kenapa mereka
sangat bodoh?” Desisnya.
~.~
“Hei! Farzan tunggu!”
Ian terus berteriak, mengejar Farzan yang sudah lebih dulu pergi. “Farzan!”
Ia mencengkram lengan pemuda itu. “Tunggu dulu!” Farzan menatap ke
arahnya sinis. Ia langsung melepaskan lengannya dari genggaman lelaki itu
dengan kasar. “Pergi lu!” Ucapnya kemudian berlari menuju tempat
pertempuran. Ian menggigit bibir bawahnya, dengan gugup ikut menyusul
Farzan.
Keadaan di sekitar kantor pusat sangat mencekam. Peluru ditembakkan
kemana-mana, darah berserakan di sepanjang jalan, tubuh yang terbaring
tidak berdaya pun dapat terlihat sejauh mata memandang. Ian bergidik
ngeri. “Farzan!” Dia mencoba memanggil. Tetapi usahanya nihil.
Ditengah-tengah suara teriakkan dan peluru diluncurkan, suaranya hanya
menghilang di udara. Dengan susah payah, dia mencoba menerobos.
104
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
“Farzan, kau berada dimana?” Bisiknya pelan. Suara peluru ditarik datang
tidak jauh dari arah dirinya berdiri, membuatnya terlonjak kaget.
“Hee, ada siapa disini? Sendirian, dek?” Sejumlah pria berparuh baya
datang ke arahnya, dengan tangan yang gemetaran Ian mengangkat
pistolnya.“Pergi!” Teriaknya ketakutan. Para pria itu terkekeh, menendang
pistol itu dari tangannya. Membuat tubuhnya ikut terjatuh.
“FARZAN!”
~.~
“Mati kalian semua....mati!” Farzan terus saja menggeramkan kata-kata itu
sembari menembakkan peluru dengan asal ke arah sisi lawan. “Sial!”
Dengan kesal ia mengeluarkan HP yang sedari tadi terus saja bergetar di
kantongnya dengan kasar. Perasaannya makin memburuk setelah melihat
nama pemanggilnya. Lelaki itu berdecak, berjalan ke tempat yang lebih
tenang.
“Dengar ya, Aldo. Pokoknya gua gak bakal dengerin ocehan lu—“
“IAN MANA?!” Potong pemanggilnya tergesa-gesa. “Ck, palingan juga
udah balik. Dia gak bakal berani turun ke sini.” Jawab Farzan remeh.
Jarinya bergerak menuju tombol mati.
“Dia gak jawab panggilan gua berkali-kali, Zan!” Deg, jantungnya berdetak.
Selama mereka berteman dengan Ian, tidak pernah dia tidak menjawab
panggilan dari mereka. Apalagi sampai berkali-kali. “Ini gua udah ada di
pinggir-pinggir tempat kekacauan nih. Dari tadi gua udah nyariin Ian di
berbagai tempat tapi gak ketemu juga!” Pekik Aldo, suaranya bergetar.
Perasaannya tidak baik. Dirinya gelisah, ketakutan memenuhi sekujur
tubuhnya. “Temui gua di depan kampus. Sekarang.” Tidak menunggu
105
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
jawaban, Farzan langsung memutuskan panggilannya. Ia gak bisa
kehilangan seseorang lagi. Pokoknya gak bisa.
Indra penglihatannya menemukan figur temannya yang tengah mengetuk
kakinya ke aspal dengan tidak sabar. “Farzan!” Sahut Aldo. Penampilannya
saat ini acak-acakan. Farzan bahkan terlihat lebih buruk. “I-Ian...d-dia
dima—“ Farzan bahkan tidak bisa membentuk kata-kata. Pikirannya
benar-benar kacau, terlalu terkejut dengan banyaknya hal yang terjadi hari
ini.
“K-kita harus tenang dulu. Tarik napas dalam-dalam.” Tutur Aldo. Mereka
menghirup udara bersama-sama, lalu menghembuskannya keluar. “Tadi lu
liat dia ngikutin sampe masuk ke tempat kekacauan itu gak?” Tanya Aldo,
berusaha mengatakannya selembut mungkin agar tidak memicu kepanikan
Farzan kembali.
Dengan wajah yang sudah menahan tangis, Farzan menggeleng perlahan.
“Gua terlalu terpancing emosi tadi...” Ucapnya kecewa, kecewa pada
dirinya sendiri. Aldo menahan berbagai sumpah serapah yang sudah berada
diujung lidahnya. Bagaimana pun juga, ini bukan sepenuhnya salah Farzan.
“Farzan! Aldo!” Seseorang berlari ke arah mereka. Nafasnya
terengah-engah. “Lho, kak Zidan?” Aldo mengerjapkan matanya. Dengan
cepat ia keluarkan HP miliknya, menunjukkan sebuah video kepada kedua
pemuda itu. Ekspresi mereka yang awalnya kebingungan berubah menjadi
terkejut seketika. Nafas mereka tertangkap di tenggorokan.
Di video itu terpampang Ian yang sedang diseret dan dihajar habis-habisan
oleh sekelompok pasukan pemerintah. Tubuhnya dipenuhi darah, bahkan
terlihat kesulitan untuk mempertahankan kesadarannya.“I-ini—“ Farzan
menolehkan pandangannya ke Zidan yang masih mengatur pernapasannya.
“Para informan yang mengirimkannya.”
106
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Jantung Farzan seakan berhenti, tubuhnya lemas, lehernya terasa seperti
dicekik. “A-apa...?” Tubuhnya bergetar hebat, matanya yang sudah sembab
kembali berkaca-kaca. Aldo mematung, keringat dingin membasahi
keningnya, nafasnya tersendat-sendat.
Zidan menoleh ke belakang, spontan Farzan dan Aldo pun ikut melihat ke
arah yang ditunjukkan pemuda itu. Sekelompok mahasiswa tampak sedang
membawa keranda, dengan tubuh diatasnya. Tetapi itu bukan sembarang
tubuh. “Kami minta maaf.” Ucap Zidan, menjatuhkan badannya untuk
berlutut dihadapan mereka, diikuti dengan wajah sendu dan tangis
mahasiswa lainnya.
“Kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya.” Isaknya.
Terlampau terkejut, mata Aldo memutar ke atas. Sebelum akhirnya
tubuhnya jatuh, kehilangan kesadaran sepenuhnya. Farzan bergetar hebat,
kakinya melemas sampai akhirnya lututnya menyentuh aspal. Paru-parunya
terasa menyempit, membuatnya kesulitan bernapas. Kepalanya
berdengung, kali ini lebih keras dari yang tadi. Tangannya terangkat untuk
mencenngkram kepalanya.
‘Tidak, ini tidak mungkin terjadi.’
Matanya membelalak sepenuhnya, tetesan air mata terus mengalir tanpa
henti. Ia meringkukkan tubuhnya. Tangannya dengan kasar menarik
rambutnya sendiri. Perutnya terasa mulas, jantungnya berdegup sangat
kencang di dadanya seperti ingin keluar. Paru-parunya terasa panas akibat
kekurangan oksigen.
‘Tidak!’
Suara panggilan rekan-rekannya tidak tertangkap oleh indra
pendengarannya. Pandangannya memudar, panca indranya tidak berfungsi.
107
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Dirinya terlanjur jatuh dalam lubang kegelapan. Sampai kegelapan
benar-benar menyelimutinya secara menyeluruh.
“—zan!”
“Far-an!”
“Fa-zan!”
“Hei, Farzan!”
Sebuah panggilan menyadarkannya dari lamunannya. Telinganya
menangkap suara statis dari monitor. “Akhirnya kamu sadar juga.” Zidan
tersenyum, disampingnya juga ada Bagas yang terlihat sangat khawatir.
Tubuh Farzan dibaluti oleh baju pasien. Terdapat selang infus yang
menempel padanya.
“Makan dulu. Kamu udah dua hari gak makan, kan?” Ucap Zidan lembut,
berusaha menyembunyikan kesedihannya kala melihat tatapan kosong dari
kawan seperjuangannya itu. Melihat tidak ada respon dari Farzan, Zidan
memutuskan untuk bercerita. Kata dokter, Farzan tidak boleh sampai
terlalu terhanyut ke dalam pikirannya.
“Tadi kita ngejenguk Aldo. Yah, walau sih maunya gua bilang keadaannya
membaik tapi ya, kenyataannya gak ada perkembangan sama sekali.” Zidan
tersenyum sedih. Bagas hanya memantau mereka dari sofa di ujung
ruangan.
“Jujur gua sedih waktu tau dia sampai masuk ke rumah sakit jiwa. Padahal
dia tuh anaknya pintar dan bijaksana. Dia bahkan lebih dewasa dari gua
yang udah di tahun keempat.”Semakin lama bercerita, suaranya semakin
bergetar.
“Dia benar-benar gak bisa ngingat kejadian itu. Dia terus tersenyum tanpa
beban. Justru karena itu, gua jadi merasa lebih tersayat lagi.” Senyuman
tetap ia paksakan di wajahnya meskipun air matanya tak dapat ia tampung
108
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
lagi. Hatinya terasa berat akan penyesalan. Zidan terus berandai-andai, jika
saja saat itu dia dan yang lainnya tidak terlambat, mungkin saja akhirnya
tidak akan seperti ini. Mungkin saja masa depan ketiga pemuda itu tidak
akan hancur.
Memang yang berdiri dan menang pada akhirnya adalah para mahasiswa.
Tetapi, berapa banyak yang harus mereka korbankan?
109
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Vinaya Chandra
Pemuda
“Jun jun, tau gak kemaren ada apaan?” tanya Rian yang baru datang, duduk
berhadapan dengan Juna yang masih menikmati makan siangnya.
Juna mendengus kemudian menatap Rian malas, “Mending makan dulu.
Ghibah nya nanti,” balas Juna. Pemuda itu sudah tahu jelas apa yang ingin
dibicarakan oleh sahabatnya, pasti pembicaraan yang tidak penting.
“Kemaren Budi ditindas lagi sama gengnya Hendra, disiram air toilet,” ujar
Rian yang membuat Juna tiba-tiba kesal.
“Dan biar aku tebak, gak ada yang nolongin Budi tapi malah direkam terus
di s hare di sosmed?”
Rian menggaruk tenguknya yang tidak gatal, “Yaa… yakan kamu tahu
sendiri Hendra itu kayak gimana orangnya. Semua orang pasti takut sama
dia,” jawab Rian, “sebenernya kasian juga sih sama Budi… tapi yang ada
kalau aku bantu malah aku kena juga.”
“Lagian Hendra kenapa masih begitu deh sama Budi?”
“Kamu tahukan kalau Budi beda agama, daerah dan kulit sama kita. Budi
juga berprestasi, mungkin Hendra iri dan karena itu dia nindas Budi.”
“Terus disana gak ada satupun orang yang nolong Budi? Gak ada yang
peduli gitu sama Budi?”
Rian menggeleng, “Lagian itu juga bukan urusan kita.”
Juna mendengus, “Sebenarnya penindasan itu bukan hal yang paling buruk
di dunia ini,” ucapnya tiba-tiba.
110
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
“Terus apa?”
“Apatis.”
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar tawa Hendra serta
teman-temannya dari kejauhan. Menertawai Budi yang kepalanya
ditumpahkan oleh mie ayam, Juna yang melihatnya tentu menjadi kesal.
Amat kesal sampai ia mengepalkan tangannya. Dan parahnya, tidak ada
yang membantu Budi, melainkan merekam kejadian tersebut dan ikut
menertawakan.
Tidak terima temannya diperlakukan seperti itu, Juna berjalan
meninggalkan tempat duduknya, mengabaikan Rian yang melarang Juna
ikut-ikutan dan kini dirinya sudah berhadapan dengan Hendra.
Tanpa rasa takut, Juna membantu menyingkirkan sisa mie ayam di atas
kepala Budi, serta membantunya berdiri. Dapat dilihat raut wajah Hendra
yang berubah masam. Tatapan tajamnya tertuju pada Juna yang kini ikut
menatapnya.
“Ohhh, jadi sekarang Budi ada pahlawannya nih?” sarkas Hendra angkuh.
Di susuli tawaan teman-temannya di belakang.
“Setidaknya aku berbuat hal yang benar, tidak seperti kamu yang berbuat
hal bodoh.”
Keadaan di kantin semakin ricuh, bertahun-tahun baru kali ini ada
seseorang yang menantang Hendra, tentu siswa-siswi yang ada di kantin
terkejut.
“Kamu mau berakhir seperti Budi juga?”
“Dan kamu mau berakhir seperti orang yang kurang moral?”
111
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Hendra terdiam.
“Lebih baik kamu berubah, apa untungnya menindas orang? Teman
sebangsamu sendiri lagi, walau beda daerah, agama dan kulit tapi kita
semua saja. Sesulit itukah saling menghargai? Kasihan yah pahlawan yang
sudah berjuang susah payah untuk rakyatnya tetapi rakyatnya untuk
melakukan hal kecil seperti menghargai saja tidak bisa. Percuma dong sila
kedua kita pelajari tapi tidak diterapkan?”
Hendra mendegus, “Terus kamu mau aku ngapain? Minta maaf sama
Budi?”
“Iya. Aku cuma mau kamu menghargai Budi, menerima dia apa adanya.
Berhenti memperlakukan Budi seenaknya.”
“Dan kalau aku nggak mau?”
“Bilang aku anak pengadu, tapi aku melaporkan untuk hal yang baik.
Rekaman kamu yang menindas Budi akan ku tunjukkan kepada guru, tapi
aku masih memberikan kamu kesempatan. Tinggalkan Budi dan aku
sendiri serta tidak menindas Budi lagi, dan aku tidak akan memberikan
rekaman itu kepada guru. Tetapi jika kamu masih berbuat seperti itu, akan
aku adukan soal kamu menjual contekan ulangan tengah semester kemarin
dan rekaman kamu menindas Budi.”
Ancaman? Iya. Di dunia memang tidak ada yang sempurna, sebaik apapun
kau berperan. Selalu ada celah disana untuk sesuatu yang tidak diinginkan
tetap terjadi.
Setidaknya ia menjauhkan Budi dan Hendra. Ia tidak tahan lagi melihat
Budi yang diperlakukan tidak pantas.
112
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Hendra yang tentu tidak mau mengulang ulangan tanpa contekan, lebih
baik menahan untuk tidak menindas Budi lagi dan menuruti keinginan
Juna. Jujur, perkataan Juna tadi cukup membuat Hendra tersadar. Kata
Hendra pengecut, tapi dirinya akan meminta maaf pada Budi.
Lewat aplikasi.
“Oke.” Setelah berucap seperti itu, Hendra yang sadar akan sikap buruknya
dan rasa malunya langsung meninggalkan kantin, disusul oleh kedua
temannya di belakang.
Jika kita peduli, semua akan berubah. Jika kita berani, semua akan berubah.
Hidup lebih bermakna jika kita saling membantu, mulai dari hal kecil,
peduli.
113
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Maritza Rifa Nariswari
Pagi itu. Jam menunjuk kearah angka 5. Terdengar jelas coretan-coretan
pena. Suasana rumah tampak senyap selain ruangan itu. Tak ada pula yang
mengetuk atau sekedar memanggil nama gadis berambut hitam teruai
panjang. Sebab, penghuni di rumah tersebut masih tertidur selain dirinya.
Kantung matanya lambat hari kian menghitam. Jari- jemarinya pun
semakin lentik bak seorang penulis professional. Pandangan gadis itu tetap
tertuju pada lembaran-lembaran kertas yang ia gunakan untuk
menuangkan semua ide-idenya yang telah penuh di benaknya. Mentari
baru saja menerima panggilan semesta untuk menggantikan bulan. Dunia
sastra serta angan angannya berhasil membutakan dunia nyata gadis itu.
“Sial” umpatnya, ketika ia tersadar kembali dan melihat arloji ditangannya.
Gadis itu bernama Anita.
Seseorang mengetuk pintu kamar Anita. Tok, Tok, Tok. Kurang lebih
menyerupai suara ketukan pintu tersebut. Bayangan hitam menerpa wajah
pria berkumis tebal yang tengah memerhatikan Anita dari ujung pintu.
Firasat buruk mulai menggerogoti hati Anita. “Tenang Anita “batin Anita
berusaha menenangkan diri. Anita menatap langit-langit kamar bernuansa
coklat, tak berani menatap kedua bola mata sang ayah.
“kamu sedang apa? “ suara serak itu lagi-lagi menggema di telinga Anita.
“A-aku tengah mengerjakan tugas” dalih Anita. Langkah sang ayah seakan
hendak menghampiri keberadaan Anita. Tatapan benci sang ayah membuat
Anita terperosok dalam rasa takutnya. Kedua lutut Anita terus bergemetar.
Degupan jantung Anita semakin berlari tanpa arah. Habislah aku.., batin
Anita kerap mengatakan hal yang sama. Ku lihat Ibu dengan sepiring
sarapan ditangannya. “Ayo makan terlebih dahulu” kata ibu. Ayah menoleh
114
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
kearah ibu. Senyuman Ibu bak malaikat. Begitu berseri-seri meski situasi
tampak kurang memadai. Aku seperti tengah berada di dalam situasi di
mana negara merah putih ini belum mencapai kemerdekaan. Penuh
tekanan.
Seusai aku menikmati sarapan pagi, Ibu menarik lenganku menuju
kamarnya. Sedangkan ayah, entah pergi kemana. aku yakin ibu ingin
memarahiku. Ku tatap keriput-keriput yang telah menempel di wajah
cantiknya. “Jagalah mimpimu” katanya. Aku tak menyangka ibu akan
mengatakan hal tersebut. Apakah itu artinya ibu mulai mendukung
mimpiku menjadi penulis?
“kamu tahu gak kenapa Indonesia bisa merdeka seperti ini? “ Tanya ibu.
Aku mengernyitkan dahiku, sebab bingung mengapa tiba-tiba ibuku
membahas hal tersebut. Ibu melanjutkan kalimatnya. “Indonesia merdeka
karena keberanian para pahlawan yang berani melewati masa masa
penjajahan” katanya. Kini, aku megerti pertanyaan yang di ajukan ibu. Ibu
benar. Aku tidak boleh putus asa. “Baik bu, aku akan terus meminta
pengertian ayah atas mimpiku” kataku. “Bodoh. Kau pikir pahlawan kita
pernah meminta pengertian penjajah atas kemerdekaan kita? “ Tanya ibu.
Aku menggeleng. “tapi ayah bukan orang jahat” aku menyela ucapan
malaikat tanpa sayap tersebut. Tampaknya aku belum paham maksud dari
perumamaan ibu. Raut wajah ibu tampak khawatir. “ayah itu hanya
menjadi penjahat saat menghentikan mimpimu. “ucap ibu. Aku yakin aku
akan memerdekakan mimpiku dari penjajah mimpi. Ibu meminjamkan
laptopnya padaku. Aku segera menggunakan laptop tersebut dan mulai
memperjuangkan mimpiku selayaknya pahlawan kemerdekaan. Aku
menutup telingaku saat ayah memarahiku, mengatakan bahwa dunia sastra
membuat aku menjadi seperti orang gila. 3 tahun kemudian. Aku merdeka.
115
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Ketika aku menyaksikan orang yang tengah bermain panjat pinang.
mengingatkanku pada kesulitanku menuju puncak dan meraih mimpiku.
116
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Aisha Yasmin
“TEGAK GERAK!”
Dengan serentak seluruh barisan menurunkan hormatnya kepada sang
merah putih yang telah berkibar diujung tiang bendera. suara penurunan
hormat para peserta bergerumuh keras ke seluruh halaman sekolah.
“ih- berisik sekali ya” ucap Arik sembari menghisap kembali rokoknya
dengan kesalnya, teman seperjuangannya pun juga mengeluarkan
asap-asap rokok ke segala arah. “benar apa sih gunanya upacara begitu,
mending kita h angout kan ya? Haha” ucap salah satu teman Arik. KLOTAK
KLOTAK KLOTAK , tanpa mereka sadari suara yang entah darimana
asalnya itu semakin mendekat, dan mendekat, dan mendekat. Lalu salah
satu dari mereka memanjat pagar ke dalam pekarangan sekolah. Arik dan
temannya yang lain keheranan “ada apa sih?” tanya Arik kepada temannya
yang memanjat itu. “Bu Siti woi!, masa kalian lupa sih?” ucapnya dengan
panik dan dengan sekejap ia telah menghilang ke sisi lain pagar. Seluruh
geng Arik pun panik dan mereka pun berbondong-bondong berusaha
memanjat pagar ke dalam pekarangan sekolah.
Sayangnya Arik tertinggal di paling belakang, Arik berusaha untuk
bersembunyi di belakang kotak usang yang ia temukan di sekitarnya.
KLOTAK KLOTAK KLOTAK suara itu telah berada di dekat Arik, arik
semakin panik dan hanya dapat berdiam di balik kotak itu. “Saya tau kalian
ada di sini! KELUAR SEKARANG atau saya akan keluarkan dari sekolah!” .
dengan berat hati Arik pun harus menyerahkan dirinya, dengan keringat
yang bercucuran di keningnya. “mari ikut saya sekarang!” ucap Bu Siti
tegas sembari menggiring Arik ke arah ruang BK. Ketika sampai di depan
117
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
ruang BK , Bu Siti meninggalkan Arik dan mengalihkan arahannya ke Pak
Budi yaitu guru BK di sekolah itu. Pak Budi tersenyum dan
mempersilahkan Arik masuk ke ruangannya. Di dalam ruangan itu, Arik
diberi beberapa nasehat dan konseling akan kegiatan yang ia lakukan tadi.
Dan tentu saja Arik tidak peduli dan beberapa kali berusaha untuk
memotong pembicaraan Pak Budi.
Dengan muka kecewa Pak Budi pun menulis sebuah laporan di kertas A4
yang ia masukkan ke dalam amplop, amplop itu diserahkannya kepada
Arik. “apa ini? Surat peringatan lagi? Saya sudah banyak pak , tidak butuh!”
ucap Arik dengan angkuhnya. Pak Budi hanya tersenyum dan berkata
“tidak, berikan saja amplop ini ke orang tuamu” , percakapan mereka pun
berakhir dan Arik dipersilahkan kembali ke kelas. Tentunya saat Arik
kembali ke kelas ia menjadi bahan tertawaan seluruh kelas, bahkan teman
seperjuangannya sendiri hanya bisa terdiam di pojok kelas. Arik tidak
peduli dan ia pun duduk di tempat duduknya.
Hari sudah gelap dan Arik belum kunjung pulang ke rumah, orang tua Arik
khawatir dan berencana menelfon polisi. Tetapi tiba-tiba Arik mengetuk
pintu depan rumah. “Arik kemana saja kau nak?!” tanya ibu Arik dengan
khawatirnya, Arik hanya terdiam dan masuk ke dalam kamarnya untuk
istirahat. Di malam harinya ibunya Arik masuk kedalam kamar anaknya
tersebut dan mengecek temperatur Arik. “fuh- untung tidak demam” di
saat yang bersamaan ia melihat secarik amplop yang tergeletak di lantai.
Ibunya itu pun membawa amplop itu dan membacanya dengan ayah Arik di
ruang tamu. Ibu Arik menangis membaca amplop itu, dan ayah arik
menjadi emosi dan saat itu juga ia membangunkan arik dari tidurnya , arik
pun terbangun dengan kagetnya.
118
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
“ARIK Sejak kapan kamu sudah bolos hah?!” ucap ayah Arik dengan kesal,
“ahh emang kenapa sih yah, Namanya juga masih muda! Emang kenapa
sih?!” ucap Arik dengan ketus. “Kamu ingin jadi apa nanti hah?!
Bagaimana kamu bisa sukses kalau kamu seperti ini nak?!” , dengan kesal
Arik pun keluar dari kamarnya dan mengunci dirinya di dalam Gudang
yang biasa ia pakai untuk bersembunyi. Gebrakan ayahnya di pintu tidak
mengganggunya. Arik pun kembali tertidur di dalam Gudang itu.
Arik dibangunkan dengan suara senapan yang keras serta teriakan warga.
Arik panik dan segera keluar dari Gudang. Ia melihat sekitarnya dan entah
kenapa ada sesuatu yang ganjal. Arik dengan kebingungan berteriak
mencari ibu dan ayahnya, tetapi mereka tidak ada di mana-mana. Arik
keluar dari rumah. Disana ia melihat pemandangan yang ia tidak pernah
lihat sebelumnya, di pekarangan rumahnya yang biasa di hiasi rumput hijau
, di saat itu hanya dihiasi oleh darah dan rumput kering. Arik kebingungan
dengan pemandangan yang mengerikan itu. “Angkat tanganmu atau mati!”
ucap seseorang di belakangnya. Arik tersentak dan mengangkat tanganya
dengan ketakutan, ia bahkan tidak berani untuk melirik ke belakang. Lalu
DOR
Suara senapan bergema di belakang Arik, Arik fikir ia sudah mati di saat
itu. Tapi nyatanya tidak. Arik dikagetkan dengan tangan yang memegang
bahunya “hei tenang..apa kau baik baik saja?” ucap seorang lelaki. Arik
menengok ke arah sumber suara itu. Disana ia melihat seorang lelaki
seumurannya yang memakai baju lusuh dengan membawa senapan di
tangannya, “t-tolong jangan bunuh aku!, aku tidak salah apa-apa!” ucap
Arik dengan keras. “shhhhhhh” ucap pria itu dengan menutup mulut Arik,
Arik hanya dapat terdiam. Dan di antara keheningan itu banyak suara
pria-pria lainnya yang melewati rumah Arik .tetapi entah mengapa mereka
119
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
terlihat seperti tentara. Lelaki itu pun mengarahkan Arik untuk
mengikutinya ke tempat yang lebih aman.
Lelaki itu menawarkan Arik air, dan Arik pun meminumnya. “jadi, siapa
namamu?” ucap lelaki itu kepada Arik. “oh-aku Arik” , dengan
kebingungan lelaki itu menjawab “Arik? Nama yang unik ya. Namaku
Tejoe, kalau boleh tau kenapa kau berada di area ini?. Bukankah seluruh
penduduk sudah di evakuasi ya?” Arik sama sekali tidak mengerti apa yang
Tejoe katakan dan hanya melihatnya dengan kebingungan.
“mau aku antarkan?” tanya Tejoe. “kemana?” jawab Arik dengan
kebingungan. “kemana lagi? Ke tempat evakuasi. Kamu tidak mau mati
kan?” ucap Tejoe dengan muka ramah. Arik sama sekali tidak mengerti
akan situasi yang telah terjadi. Tetapi setelah melihat pemandangan yang
mengerikan ia lebih ingin hidup daripada mati. Sehingga Arik dituntun
oleh Tejoe melalui hutan di sekitar situ, yang seingat Arik tidak pernah ada
di sana. Di dalam hutan, sesekali Tejoe akan meminta Arik untuk
menunduk dan diam. Perjalanannya tidaklah mudah. Mereka harus
melewati berbagai rintangan di dalam hutan itu. Setelah beberapa jam telah
berlalu akhirnya mereka pun memutuskan untuk istirahat untuk sejenak.
Tejoe terlihat kelelahan karena telah mengawal Arik selama berjam-jam
melalui hutan tersebut. Tetapi entah kenapa Tejoe terlihat siap sedia, dan
tetap berusaha untuk menjaga Arik agar aman. “Tejoe” panggil Arik. “ya?
Ada apa?” jawab Tejoe sembari memasak makanan yang ia temukan di
hutan. “kita bersembunyi dari apa sih? Sepertinya mereka sangat
berbahaya” , dengan seketika Tejoe terdiam dan menjawab “dari pasukan
nippon lah, dari apa lagi?”. Arik teringat akan kata-kata itu. Tetapi ia tidak
mengingat dari mana ia pernah mendengarnya. “pasukan nippon?” jawab
Arik, “ya, mereka adalah pasukan yang menjajah kita. Mereka sangat
120
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
berbahaya” jelas Tejoe kepada Arik. Sehingga Arik pun bertanya kembali
“kenapa kau menyelamatkanku? Kan bisa saja kau biarkan saja” . Tejoe
terdiam dan menjawab dengan muka sedih “kau mengingatkanku sedikit
dengan adekku, adekku ditangkap oleh pasukan nippon dan sekarang
sudah entah dimana”, Arik pun juga tersedih akan berita itu. Tejoe pun
melihat langit dan berkata “suatu hari nanti, kita pasti bisa merdeka. Aku
yakin. Dan ketika saat itu tiba aku ingin kita dapat merasa aman kembali”
Arik hanya dapat mendoakan hal yang sama. Mereka pun menutup mata
mereka dan terlelap di bawah ribuan bintang di langit.
Sinar hangat menerpa muka arik dan membangunkannya, di sampingnya
Tejoe sudah bangun terlebih dahulu dan sudah siap-siap untuk
melanjutkan perjalanan ke tempat evakuasi.
Seperti sebelumnya, kita harus benar-benar berhati-hati ketika melewati
hutan itu. Karena ada beberapa pasukan yang lalu Lalang di dalam hutan
itu.
Setelah beberapa saat Arik melihat sebuah jalan keluar hutan itu yang
disana terdapat beberapa orang yang sudah berkumpul. “apakah ini
tempatnya?” tanya Arik kepada Tejoe, “ya ini tempatnya”.setelah
perjalanan yang jauh akhirnya mereka sampai dengan aman. Tejoe berjalan
di depan Arik untuk melaporkan laporannya kepada pemuda lain yang
sedang berkumpul disana. Seluruh mata pun tertuju kepada Arik. Arik
memperhatikan bahwa beberapa pemuda di perkumpulan itu masih muda,
tetapi dengan tekad yang kuat mereka bahkan siap untuk berjuang.
Sedangkan Arik sendiri hanya membuang-buang waktunya, sehingga
momen itu pun menumbuhkan suatu kesadaran dalam diri Arik. Setelah
menunggu untuk beberapa menit Arik pun akhirnya diperbolehkan untuk
121
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
di evakuasi bersama penduduk lainnya. Arik diarahkan ke sebuah truk oleh
Tejoe, Arik pun duduk di dalam truk itu. “jaga dirimu ya Arik, kita harus
berpisah disini.aku harus melanjutkan perjuanganku di sini” ucap Tejoe
kepada Arik. Arik pun mengangguk dan Tejoe pun kembali berkumpul
dengan para pemuda lain.
Setelah beberapa saat truk evakuasi pun akan pergi ke tempat evakuasi,
tetapi tiba-tiba terdengar suara senapan di udara dan keadaan pun menjadi
panik. Para pemuda bersiap melawan pasukan yang datang demi menjaga
para penduduk yang dievakuasikan. Diantara para pemuda itu adalah
Tejoe, Arik melihat Tejoe gemetaran ketika menunggu kedatangan
pasukan nippon, tetapi Tejoe terlihat siap untuk melawan mereka.
Truk pun berjalan menjauh dari situasi yang sudah mulai rusuh karena
pasukan nippon telah datang, dari kejauhan Arik masih dapat melihat
Tejoe melawan mereka, tetapi DOR seketika sebuah senapan telah
menembak Tejoe, yang menyebabkan tejoe untuk jatuh ke tanah, Tejoe
berdiri dengan lumpuh dan berusaha untuk tetap berjuang. tetapi, DOR
tembakan kedua ditembakan kepada Tejoe. Arik yang melihat
pemandangan mengerikan itu ingin membantu mereka juga untuk
melawan nippon tetapi penduduk di truk memberi tau Arik bahwa itu
adalah hal yang berbahaya. Arik pun hanya dapat meringkuk dengan
sedihnya selagi truk berjalan menjauh dari Kawasan perang itu. Arik
merasa bersalah kapada Tejoe yang telah membantunya, seharusnya Tejoe
masih hidup jika ia tidak membantuku, bahkan aku belum berterimakasih
kepadanya. Rasa penyesalan Arik pun tertanam di hatinya dan Arik pun
terlelap tidur.
Arik terbangun dengan pemandangan yang sudah tidak asing baginya,
‘dimana aku…’ gumamnya sembari mengusap air mata yang telah turun di
122
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
pipinya. Setelah ia menenangkan dirinya sejenak ia pun sadar bahwa
tempat itu adalah Gudang rumahnya. Ia pun keluar memanggil kedua
orang tuanya dengan harapan mereka masih ada disana. Dan benar saja
kedua orang tuanya sedang solat subuh di ruang tamu. Arik pun
mengambil air wudhu dan menyusul rakaat mereka. Seusai solat Arik
khawatir akan kemarahan kedua orang tuanya karena ia telah menjadi anak
yang buruk bagi mereka, tetapi ibunda Arik hanya tersenyum ramah dan
terisak “Arik kenapa tidak keluar dari Gudang? Ibu khawatir nak” ucap
ibunya dengan memeluk Arik, ayah arik pun juga memberikan raut muka
khawatir akan Arik. Arik pun sadar bahwa ia telah menjadi anak yang tidak
baik bagi mereka dan arik pun meminta maaf kepada mereka.
Arik pun di pagi harinya pergi ke sekolah sebagai karakter yang baru. Ia
telah menjadi anak yang baik dan patuh kepada guru-gurunya.
Beberapa bulan telah berlalu, dan suatu hari di pelajaran sejarah ia
mempelajari tentang masa-masa pemuda Indonesia melawan penjajah, di
dalam foto buku paketnya ia sekilas teringat dengan mimpi yang ia alami
serta juga tejoe yang telah membantunya menjadi dirinya yang sekarang.
‘kurasa mimpi itu memanglah petanda bagiku’ gumam Arik sembari
melihat-lihat halaman buku sejarahnya dengan tersenyum.
123
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Sophia Nafisa Junita
“ Kenapa kalian ini? Kok satu kelas nilainya jelek semua!” ucap pak Jono, guru
matematika SMP kami setelah membagikan kertas ulangan kami yang sudah
dinilai. Beliau sangat kecewa, lalu mengatakan, “Bapak akan memberi PR lebih
banyak kepada kalian, sebagai latihan supaya kalian tidak ketinggalan dengan
kelas-kelas lain. Kumpulkan minggu depan. Paham?!”.
“Paham, pak” jawab kami pelan, sambil menunduk. D uh, bapak ini kayak gatau
aja pelajaran lain PR nya juga setumpuk, pikirku dalam hati. B iarlah, biar tambah
pintar, hehehe, lanjutku dalam hati. Pulang sekolah, aku langsung sibuk lagi.
Membantu mebereskan rumah , mengerjakan PR-ku, dan lain-lain. Tidak terasa,
sudah malam. Aku pergi ke kamarku untuk beristirahat.
Aku sering mendengar berita di televisi tentang berbagai peristiwa di negeri ini.
Kerusuhan, kemiskinan, kejahatan-kejahatan, dan lainnya terjadi di Indonesia.
Sedih sekali mendengarnya, apa yang bisa kulakukan? Aku pernah bertanya
kepada orangtuaku tentang hal itu, lalu mereka menjawab, “Belajar saja yang rajin,
itu tugasmu sebagai pelajar. Nanti kalau sudah besar kamu bisa mengubah nasib
negara ini. Masa depan negara ada di tangan kalian, pemuda bangsa Indonesia.”
1 minggu kemudian….
“ Woi, Ela”, Rika, temanku, memanggilku sambil menepuk pundakku. Aku yang
sedang membaca buku pelajaran menoleh. “ Dipanggil terus nggak nyahut. Rajin
banget nih.” Katanya sambil terkekeh. “ Iya maaf, keasikan baca-baca. Kenapa?”
tanyaku. Rika berkata, “ Nanti kan ada pelajarannya pak Jono, bolos yuk. Males
ketemu dia, galak banget dia. Banyak anak kelas ini yang mau bolos. Mau ikut
nggak?
Aku berusaha tersenyum sambil menjawab “Rika, bolos itu nggak baik. Pak Jono
galak demi kebaikan kita. Agar kita punya masa depan lebih baik. Agar pemuda
Indonesia bisa mengubah nasib negara kita ini. Kalau pemuda nya malas-malasan,
bagaimana kita sendiri bisa sukses? Bagaimana Indonesia ke depannya?”. Rika
termenung. Aku diam saja sambil menatapnya. Tak lama kemudian, rika berkata “
Oke, aku nggak jadi bolos. Aku mau memberitahu yang lain, biar nggak bolos.
Nggak baik.” Ia lalu berbalik dan menghampiri beberapa murid lain, sambil
berbicara sesuatu. Aku tersenyum senang dan kembali meneruskan membaca buku.
124
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Seusai jam istirahat pertama pukul sepuluh adalah jam pelajaran matematika. Pak
Jono datang ke kelas kami dengan muka seramnya itu. Setelah mengucap salam,
pak Jono bertanya dengan nada galak khasnya, “ Semuanya sudah mengerjakan
PR?”. Sebagian kecil menjawab “Sudah”, beberapa menjawab “Sebagian”, namun
sebagian besar diam tak bersuara. Pak Jono mendelik, “Yang lain belum
mengerjakan ya?” tanyanya. Sebagian besar menggeleng. Ekspresi wajah pak Jono
yang awalnya galak berubah menjadi sedikit lembut. Dengan perlahan ia berkata
“Bapak tahu kok sebelumnya kalian berencana untuk bolos pelajaran bapak. Tapi
lupakan saja hal itu. Tahu nggak kenapa bapak sering marah-marah ke kalian?”.
Seluruh murid di kelas menatap wajah pak Jono, menggeleng pelan. Pak Jono
tersenyum sedikit, kemudian melanjutkan, “Bapak bukannya jahat sama kalian.
Bapak hanya ingin kalian disiplin, lebih paham dengan pelajarannya. Agar kalian
bisa berguna untuk bangsa dan negara. Maafkan bapak kalau selama ini kalian
merasa tertekan. Bapak hanya berharap kalian, para pemuda bangsa, bisa membuat
Indonesia semakin maju.” Kami saling menatap satu sama lain, sungguh aneh
melihat guru yang kelihatannya tidak peduli, galak, tapi bisa berkata hal semacam
itu. Kami para pemuda berjanji akan mewujudkan harapan guru dan orangtua
kami.
125
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Bagian 5
KUMPULAN ESSAY
126
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Alya Nareswari S R
pemuda adalah generasi muda bangsa yang aktif dalam
memperjuangkan negara selain itu pemuda sangat berpengaruh bagi
kehidupan pembangunan dalam suatu negara.
Sebagai pemuda indonesia pasti memiliki peran sebagai generasi
penerus bangsa yaitu membangun pendidikan,memiliki semangat juang
yang tinggi, meraih cita-cita mewujudkan warga bangsa yang cerdas.
Tentunya Indonesia ingin membuat negaranya menjadi lebih maju,
oleh karena itu para pemuda harus memiliki karakter yang kuat untuk
membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi,
semangat nasionalisme.
127
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Muhammad Hamiz Ghani Ayusha
PEMUDA ADALAH HARAPAN MASA DEPAN BANGSA
Saat ini dunia sudah semakin berkembang. Setiap negara berusaha untuk
turut memberikan andil yang besar dalam menghadapi perkembangan
tersebut. Persaingan global juga semakin membesar. Tentu saja tidak
hanya dampak positif yang ditimbulkan dari persaingan global itu, Namun,
berbagai dampak negatif juga akan terjadi ke beberapa negara. Kerusakan
berbagai bidang akan terjadi. Hasil perjuangan para pahlawan akan sia sia
apabila tidak segera ada penanganan.
Siapa yang akan menolong negara ini?Tentunya, bukan golongan
anak-anak, karena mereka adalah tunas pucuk yang masih mencontoh, juga
bukan orang dewasa yang sudah usia dini, tidak hanya karena tenaga
mereka yang berkurang,Karena itu, dalam menanggapi persoalan-persoalan
tersebut sangat dibutuhkan peranan sekelompok atau sebagian dari
masyarakat itu sendiri ialah Kaum Muda, pada sisi lain kehidupan
bermasyarakat kita mengenal Istilah Pemuda yaitu individu yang bila
diamati secara biologis sedang mengalami pertumbuhan dan secara
psikologis sedang mengalami perkembangan Emosional, atas dasar itu
Pemuda menjadi sumber daya pembangunan masyarakat ataupun bangsa
baik saat ini maupun masa depan.
Keikut andilan Pemuda sangat diharapkan dalam menjawab berbagai
tantangan kondisi masyarakat maupun kondisi kebangsaan di negara ini,
pemuda menjadi sangat penting sebagai kelompok Pembaharu, pelopor
dan sebagai kelompok cendekia bijaksana untuk membendung besarnya
128
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
problematika yang terjadi, dari hal ini dapat kita meneropong lebih jauh
mengenai Eksistensi pemuda masa kini
Masalahnya sekarang adalah bagaimana cara membangun SDM pemuda
pemudi kita supaya dapat diandalkan untuk membawa masa depan
Indonesia supaya menjadi lebih baik? Semua itu memang berasal dari
kemauan para pemuda pemudi Indonesia sendiri. Tapi ada beberapa
langkah yang mungkin bisa membantu mendorong kemajuan kualitas para
pemuda pemudi Indonesia yang bisa dilakukan oleh para pendukung
kemajuan pemuda-pemudi termasuk pemerintah.
Cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM pemuda
pemudi adalah sebagai berikut:
1. Pembinaan bertujuan mengatur dan membina manusia
2. Melalui pelatihan.Pelatihan bertujuan untuk mengembangkan
individu dalam bentuk peningkatan keterampilan, pengetahuan dan
sikap.
3. Pendidikan. Pengembangan SDM melalui pendidikan bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan kerja, dalam arti pengembangan
bersifat formal dan berkaitan dengan karir.
4. Perekrutan
Perekrutan ini bertujuan untuk memperoleh SDM sesuai klasifikasi
kebutuhan organisasi dan sebagai salah satu alat organisasi dalam
pembaharuan dan pengembangan.
5. Melaluui Perubahan sistem.
Perubahan sistem memiliki tujuan untuk menyesuaikan sistem dan
129
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
prosedur organisasi sebagai jawaban untuk mengantisipasi ancaman
dan peluang faktor eksternal.
Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika mari kita perkokoh persatuan
dan kesatuan bangsa. Sebagai generasi muda kalian memiliki tanggung
jawab yang besar dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Posisi
kalian sebagai generasi penerus menuntut perilaku yang mampu
mendukung persatuan dan kesatuan. Kalian harus mampu menunjukkan
peran yang positif sebagai pemuda yang memiliki tanggung jawab moral
untuk kejayaan bangsa pada masa depan.
Bukan zamannya lagi bermalas-malasan dan melakukan tindakan-tindakan
yang tidak terpuji apalagi melakukan tawuran. Pemuda harus
bersungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan untuk menempa diri.
Pemuda adalah harapan akan masa depan Indonesia yang adil dan makmur
dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.
Pemuda juga diharapkan tetap terus menempa dirinya menjadi
pribadi-pribadi yang memiliki kematangan intelektual, kreatif, percaya
diri, inovatif, dan memiliki kesetiakawanan sosial dan semangat
pengabdian terhadap masyarakat, bangsa dan negara yang tinggi.
130
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Adhya Musyaffa Dharmayasa
Sekarang, kita sedang berada di masa-masa yang sulit. Mulai dari pandemi
hingga banyaknya isu-isu yang mengecewakan hati masyarakat. Walaupun
dalam masa sulit kita tidak boleh menyerah, kita harus tetap semangat,
produktif, dan kreatif khususnya pemuda.
Pemuda adalah Generasi penerus bangsa yang penuh akan semangat juang,
memiliki keberaniaan yang besar, teguh akan pendirian, dan memiliki
ide-ide yang cemerlang. Bahkan bapak proklamator kita, Ir. Soekarno
pernah berkata : “Berilah aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut
(gunung) semeru dari akarnya. B eri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang
dunia” . Dari pernyataan Soekarno ini, kita dapat menyimpulkan seberapa
pentingnya pemuda dan juga potensinya bagi bangsa dan negara.
Pemuda tidak bisa diremehkan begitu saja. Tidak sedikit pemuda yang
sangat disegani dan menjadi ahli dalam dunia Politik, Ekonomi, Sosial
budaya, Teknologi, maupun Agama. Di Indonesia, para pemuda memiliki
peran yang sangat penting dalam kemerdekaan Indonesia, karena mereka
ialah kelompok yang pertama kali bersatu untuk melawan penjajah dan
mereka mengikrarkan sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Di
Luar negeri, Mark Zuckerberg pada usia 20 tahun, ia mendirikan salah satu
media sosial yang paling sering digunakan di dunia yaitu Facebook. Di
dunia Islam, Muhammad Al-Fatih pada usia 21 tahun, ia menaklukkan
salah satu kota besar Ibukota kekaisaran Romawi yaitu Konstantinopel.
Namun kita dapat saksikan, mulai lemahnya semangat, terutama karakter
pada seorang pemuda. Oleh karena itu, kita harus membuang sikap-sikap
131
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
yang tidak sesuai dengan pemuda dan harus membangun sikap yang sesuai
dengan pemuda.
Dari sini kita bisa simpulkan, seberapa pentingnya pemuda dalam
kehidupan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda adalah seorang
generasi penerus bangsa yang penuh dengan semangat dan ide-ide yang
cemerlang. Pemuda akan terus memperjuangkan kebangkitan dan kejayaan
Indonesia . Seorang pemuda harus belajar dengan sungguh-sungguh agar
bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk, agar nanti bisa
menyuarakan kebenaran, dan juga agar bisa bermanfaat bagi bangsa
tercinta kita yaitu Indonesia.
132
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Dea Alverina Noor
Seorang pemuda adalah golongan manusia yang muda dan golongan
manusia yang dewasa mengembangkannya ke arah yang benar dan
bertumbuh menjadi golongan manusia yang dewasa yang baik. Dengan
masa pertumbuhannya seorang pemuda, ada banyak yang harus
dikembangkan. Seperti kedisiplinan, pengetahuan, kreatifitas dll. Selain itu
pemuda itu sebagai seorang yang akan meneruskan generasi-generasi
berikutnya yang akan datang dan generasi-generasi berikutnya itu akan
lebih membaik dan lebih maju berkat pemuda-pemuda yang sudah
memiliki pengetahuan dan kreatifitas yang banyak. Dan pemuda akan
meneruskan/ memajukan bangsa dalam tahun-tahun yang akan datang.
Dan seperti saat ini pun di generasi ini sudah ada banyak teknologi karena
sudah berkembangnya para pemuda tersebut. Dan pemuda akan menjadi
dewasa, dan seorang manusia dewasa akan mengembangakan/mengajar
ilmu dan pengetahuan yang mereka ketahui ke generasi-generasi pemuda
yang akan datang.
133
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Azwa Syafira Dayana Nasution
Pengaruh Pemuda bagi Bangsa Indonesia
Generasi muda adalah penentu masa depan bangsa ini, karena itu setiap
pemuda bangsa Indonesia termasuk yang masih berstatus pelajar,
mahasiswa ataupun yang sudak menyelesaikan pendidikannya merupakan
faktor-faktor penting yang sangat diandalkan oleh Bangsa Indonesia dalam
mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan
Bangsa. Hal ini sesuai dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh I.R.
Soekarno yaitu :
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri
aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” – Soekarno
Pemuda sejatinya merupakan tokoh utama dari kemajuan bangsa ini. Baik
buruknya suatu negara juga dilihat dari kualitas pemudanya, karena
mereka adalah penerus dan pewaris bangsa. Setiap pemuda bangsa harus
mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa maupun
negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, mampu
memahami pendidikan tentang kemajuan tekhnologi, dan dapat bersaing
secara global. Para pemuda juga harus mengetahui peran mereka sebagai
Agent of change, moral force d an sosial control, sehingga peran tersebut dapat
mereka terapkan secara baik dan benar di masa depan kelak.
Para pemuda juga harus belajar dari kesalahan pemuda Indonesia
terdahulu yaitu, pada tahun 1998 terjadi gerakan mahasiswa Indonesia,
Soeharto mendapatkan kecaman dari mahasiswa karena krisis ekonomi
yang membuat hampir setengah dari seluruh penduduk Indonesia
mengalami kemiskinan. Gerakan ini mendapatkan momentumnya saat
terjadinya krisis moneter pada pertengahan tahun 1997. Harga-harga
134
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang,
tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan
mahasiswa, gerakan mahasiswa ini pun didukung oleh masyarakat.
Namun beberapa mahasiswa terdahulu telah melakukan hal yang sama bagi
masyarakat sekarang, mengapa seperti itu? Dikarenakan mereka telah buta
oleh uang dan lupa terhadap perjuangan mereka di zaman dahulu untuk
memperbaiki ekonomi Indonesia, tidak sedikit pula kasus demo mahasiswa
yang terjadi sekarang dikarnakan hal yang telah dilakukan oleh mahasiswa
terdahulu. Dengan hal ini para generasi muda harus bisa belajar dan
menanamkan di dalam diri bahwa mereka tak akan melakukan hal yang
sama dan tak akan melupakan perjuangan mereka di zaman sekarang,
karena korupsi dan hal hal kotor yang dilakukan Sebagian pejabat
Indonesia, ini hanya akan merugikan bangsa Indonesia dan seolah olah
mereka hanya mementingkan keperluan mereka sendiri, karena itu kapan
bangsa Indonesia maju jika terus-terusan melakukan hal yang sama?
Tentunya pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh penerus dan perwaris
bangsa atau yang biasa disebut dengan pemuda Indonesia.
135
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Muhammad Athallah Ramadhan
Pemuda adalah tulang punggung peradaban suatu bangsa. Sebab di pundak
nya lah nasib sebuah bangsa akan ditentukan, apakah akan menjadi bangsa
yang maju atau menjadi bangsa yang terbelakang. Pada abad ke 14 nabi
Muhammad mengaskan penting nya peranan kaum muda bagi suatu
bangsa. Beliau begitu cermat dan serius dalam melakukan pembinaan
kepada kaum muda diantaranya seperti Ali, Usamah, Ibnu Abbas, Ibnu
Umar, dan sebagainya.
Sebagai pemuda muslim yang hidup di zaman millennial sekarang ini
mengalami banyak tantangan karena peradaban saat ini jauh dari sifat
islami
Beberapa karakter yang harus dimiliki oleh pemuda islam sebagai panduan
hidup :
Mutsaqqoful fikri ( wawasan yang luas )
Berwawasan luas adalah suatu kewajiban bagi seorang pemuda muslim
seperti salah satu sifat rasulullah saw “ fathanah” ( cerdas ), dengan
wawasan yang luas pemuda dapat mengamalkan ilmu yang dipelajari
kepada pemuda lain. Dengan ilmu tersebut digunakan untuk
menyampaikan kebenaran, menegakkan keadilan, melawan kemungkaran.
Harisun ‘ala Waqtihi ( disiplin waktu )
Sebagai pemuda islam yang berwawasan luas juga harus disiplin terhadap
waktu, disiplin terhadap waktu juga merupakan bentuk ketaatan kepada
Allah swt, menjauhkan dari sifat lalai dan dimudahkan rezekinya.
Naafi’un Lighoiri ( bermanfaat bagi orang lain )
136
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Maksud dari menjadi pemuda yang bermanfaat bagi orang lain adalah,
orang yang disekitar kita merasakan manfaat dari keberadaan kita di suatu
situasi atau tempat. Maka dari itu setiap pemuda muslim harus berusaha
semaksimal mungkin untuk mengambil peran yang baik dalam masyarakat.
Qodirun ‘alal Kasbi ( mandiri )
Pemuda muslim diwajibkan mandiri, terutama dari segi ekonomi,
menerima apa adanya, selalu bersyukur kepada Allah dan bertawakal,
hindari berhutang. Jika hutang terbawa mati, maka akan dipertanggung
jawabkan di akhirat, dan akan menjadi penghalang masuk surga.
Penghutang juga menyusahkan ahli warisnya
Qona’ah ( puas terhadap pemberian Allah )
Sebagai pemuda muslim yang hidup di zaman millennial harus pintar
pintar bersyukur terhadap pemberian Allah SWT. Belum tentu keadaan kita
saat ini lebih buruk dari orang lain, bisa jadi orang lain sedang mengakami
kesulitan dalam hidup nya.
Bersyukur terhadap pemberian Allah SWT ada banyak cara nya yaitu:
1. Bersyukur dengan hati
Bersyukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya
bahwa segala rezeki dan nikmat yang di dapat merupakan karunia dan
kemurahan Allah SWT.
2. Bersyukur dengan merawat kenikmatan
Apabila mendapat nikmat dari Allah SWT di harus kan untuk merawat
nya dengan sebaik-baik nya, sebagai contohnya kita memiliki tubuh
yang sehat maka di wajibkan untuk merawat nya dengan makan
makanan yang halal dan sehat.
137
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
3. Bersyukur dengan lisan
Jika seorang mukmin sangat percaya bahwa nikmat yang dapatnya
berasaal dari pemberian Allah maka dia akan mengucap Alhamdulillah
( segala puji bagi Allah ), oleh karena itu jika mendapat nikmat dari
seseorang lisannya tetap memuji Allah. Karna perlu disadari seseorang
tersebut adalah perantara Allah.
Sobaro yasbiru ( sabar )
Sebagai pemuda islam harus selalu sabar menghadapi ujian rintangan
hidup
Perlu diketahui Allah tidakk akan menguji diluar batas kemampuan umat
nya Ketika mendapatkan c obaan, maka bersabar dan ikhlas dengan apa
yang terjadi. Karena sesungguhnya Allah itu bersama d engan orang-orang
yang sabar.
Dengan menerapkan beberapa contoh perilaku diatas maka para pemuda
islam dapat diharapkan mampu membangun suatu bangsa yang maju,
membangkitkan peradaban islam berjaya kembali. Secara otomatis pahala
dan surga akan didapat. Kalau bisa berkarakter baik kenapa tidak ?
138
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Marva Olinda Sari
“ pemuda “
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mempunyai pemuda pemudi yang
siap setiap saat untuk mengibarkan bendera merah putih dan membela
Negara Indonesia. Dan kita sebagai pemuda penerus bangsa harus
memberi contoh yang baik kepada adik adik kita karena kelak mereka
nanti juga akan menjadi penerus bangsa. Di era milenial ini dengan
berkembangnya teknologi dengan pesat kita tidak boleh
menyalahgunakannya dengan hal yang salah karena bisa saja itu dapat
membuat Negara Indonesia menjadi pecah belah, contohnya seperti
masyarakat Indonesia menghina agama lain lewat kritikan dari sosial
media, itu dapat menyebabkan perselisihan antar agama. Maka dari itu kita
sebagai pemuda harus memberi contoh yang baik agar bangsa penerus
nanti, tidak melenceng. Di jaman dulu para pemuda dan pemudi sangat
kreatif dan inisiatif untuk memikirkan bagaimana caranya memerdekakan
Negara Indonesia. Dari situlah kita dapat hidup di jaman ini. Contoh
pemudi yang sangat berjasa bagi pendidikan perempuan pada jaman itu
yaitu R.A Kartini. Waktu itu di jaman R.A Kartini banyak perempuan yang
ditindas dan tidak dihargai karena mereka tidak berpendidikkan. Maka
dari itu R.A Kartini berinisiatif untuk membantu para perempuan agar
berpendidikkan dan mendirikan sebuah sekolah kecil untuk para
perempuan. Disana para perempuan di ajarkan menjahit, menulis,
membaca, dan lain-lain. Sampai sekarang R.A Kartini selalu dikenang
jasanya oleh masyarakat indonesia khususnya para perempuan, karena ia
yang membuat para perempuan Indonesia bangkit dan menjadi
berpendidikkan, sehingga para perempuan tidak ditindas lagi. Dari cerita
139
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
hidup R.A Kartini kita dapat mengambil hikmahnya bahwa kita sebagai
pemuda pemudi Indonesia teruslah menuangkan ide ide agar Negara
Indonesia menjadi Negara yang maju dan sejahtera. Ir. Soerkarno pernah
berkata “Berikan aku 1000 orang tua, niscahaya akan kucabut semeru dari
akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscahaya akan ku guncangkan dunia”.
Itulah kata kata bijak untuk para pemuda dari ir. Soekarno. Dan tidak lupa
juga Kita harus tetap mengingat bunyi teks sumpah pemuda yang ditulis
oleh Moehammmad Yamin. Kembali ke pembahasan tentang era milenial
kita sebagai pemuda harus berani membela kebenaran dan memberitahu
yang salah. Jangan sampai karena kita mempunayi jabatan tinggi di Negara
Indonesia kita menyalahgunakan jabatan itu seperti contohnya korupsi
uang rakyat. Perilaku seperti itu kita tidak boleh mencontohnya dan
memberi pelajaran bagi siapa yang berbuat melenceng seperti itu, karena
dengan berbuat itu akan menghambat majunya Negara Indonesia karena
banyaknya rakyat Indonesia yang miskin akibat uangnya disalahgunakan
oleh mereka yang mempunyai jabatan tinggi. Kita sebagai pemuda harus
menegakkan keadilan bagi semua masyarakat Indonesia barulah Negara
Indonesia bisa maju.
140
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
KUMPULAN ALAMAT BLOG SISWA SISWI SMP ISLAM SINAR
CENDEKIA
M Azka Dhiestra 9 abu bakar https://blogkita12123.blogspot.com/2020/10/blog-saya.html
Muhammad Athallah 8 andalusia https://www.blogger.com/u/1/blog/post/edit/preview/3723060672277404664
Ramadhan /5783647235516157528
Syakira Mumtazunissa 9 utsman bin
Risnandar affan https://inihanyasebuahtest.blogspot.com/2020/10/ceramah-dan-pidato.html
Muhammad Althaf Putra
Wardhana 8 iskandariyah https://bloggsalthaf.blogspot.com/2020/10/genshin-impact.html?m=1
yasir abdillah nurdin 7 Al https://yasirabdillahnurdin.blogspot.com/2020/10/ini-27-oktober-2020-saya-
khawarizmi belajar.html
Haidar Izzuddin 8 andalusia https://myforeheadisbig.blogspot.com/2020/10/africa.html?m=1
ruben 9 abu bakar https://www.blogger.com/u/2/blog/posts/
ILYAS MUHAMMAD AL 9 umar bin
FARUQI khattab https://ilyasalfaruqi.blogspot.com
Hanif Muhammad Idris 8 andalusia https://hahahaanif.blogspot.com/2020/10/bloggy.html
Achmad Ali ZidanePutra 8
Suryana konstantinopel https://zidanesuryana.blogspot.com/2020/10/aktifitas-weekend.html
https://skuysabimeluncur.blogspot.com/2020/10/warung-tegal.html
byaktha adhiharma putra 9 abu bakar https://skuysabimeluncur.blogspot.com/2020/10/warung-our-pride-food-indo
mie.html
9 umar bin Alshafakirana.blogspot.com
Alshafa chandrakirana khattab
Rheinaya Ardine 9 umar bin https://rheinayaardine.blogspot.com/2020/10/karya-bulan-bahasa-rheinaya.
khattab html
radhitya fauzan 8 andalusia https://radhityadheeto.blogspot.com/2020/10/mengenal-adobe-premier.html
Farrel TA 9 abu bakar f4rr31.blogspot.com
Riffat Zhafif Ardhana 9 umar bin https://indomieriffat.blogspot.com/2020/10/indomie-seleraku-eps-2-indomie-
khattab goreng.html
Raka givaro pane https://teachingstrategygames.blogspot.com/2020/10/how-to-be-good-at-cal
8 iskandariyah l-of-duty-ww2-nazi.html
141
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Khalfan sidiq A 8 iskandariyah https://khalfansa.blogspot.com/2020/10/ragu.html
Febry irawan 8 iskandariyah http://ceritanyairawan.blogspot.com
Stella safira Maryam 8 iskandariyah Stellamaryam.blogspot.com
7 Al atharsc.blogspot.com
Muhammad Athar Alvaro khawarizmi
Hafizh Yusa 9 umar bin https://ceritahapis.blogspot.com/
khattab
8
Nayla Rarasdya Ananda konstantinopel naylararasdya.blogspot.com
m.real rizaq 9 abu bakar ceritakudotnet .blogspot.com
Adhya Musyaffa 8 https://www.blogger.com/u/1/blog/post/edit/1175222803777133689/761961
konstantinopel 8762760419286
Sulthan Danendra Al 8 andalusia https://workshopsekolah.blogspot.com/2020/10/hari-blogger-nasional.html
fathir
9 ali bin abi https://workshophariini27oktober.blogspot.com/2020/10/workshop-hari-ini.ht
kayla kinanti sugandi thalib ml
Arva Andyalauda 7 Al https://arvatentangteman.blogspot.com/2020/10/?m=1
Wicaksono khawarizmi
imam fathurrahman 7 ibnu battutah https://tidaktau1.blogspot.com/2020/10/percobaan-1-dan-perkenalan.html
Quinnzia Ermystin asila 9 utsman bin
Kurniawan affan https://journalaja.blogspot.com/
8
Naufal Agustian Attarafie konstantinopel https://naufalagustian.blogspot.com/2020/10/my-daily-life.html
Khansa Syakirah 9 abu bakar https://punyakhansa.blogspot.com/2020/10/pantun-pemuda.html
Syurani Mustika https://satuuntuksemua24syu.blogspot.com/2020/10/wisata-di-pantai-pari.ht
7 ibnu battutah ml
9 ali bin abi https://mikhaspersonalblog.blogspot.com/
Mikhail Hanief Anindhito thalib
Falah Bilal 7 ibnu battutah https://bahasafalah.blogspot.com/2020/10/pantun-hari-pemuda-2020.html
Raisya haziq ramadhani 8 andalusia raisyahaziq.blogspot.com
Dea Alverina Noor 9 abu bakar readmycomic
https://rafisetiawan123.blogspot.com/2020/10/apa-itu-blogger.html
9 ali bin abi
Fahrellino Rafi Setiawan thalib
142
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
9 utsman bin
Marva Olinda Sari affan [email protected]
Rafi au;ia 9 utsman bin
Farrel Rayhan
Muhammad Akram affan rafibelajarpython.blogspot.com
Rimeka
8 iskandariyah https://haribloggger.blogspot.com/2020/10/hariblogger.html?m=1
8
konstantinopel MyBlogRimeka.Blogspot.com
Azwa Syafira Dayana 9 ali bin abi Azwasyafira.blogspot.com
Nasution thalib
Kinanti Annisa Putri
Dianri 9 abu bakar https://massewwoo.blogspot.com/2020/10/sumpah-pemuda.html
https://www.blogger.com/blog/posts/5562793202212821819
Maysha Sheva 9 umar bin
khattab
Fatih Muhammad 7 Al https://suarafatih.blogspot.com/2020/10/tanggal-20-maret-hampir-seluruh.ht
Athallah khawarizmi ml
Muhammad Ilham 7 ibnu battutah burungbesi444.blogspot.com
Maulana
Annisa Mulya Prastowo 7 ibnu battutah https://blogpunyakunisa.blogspot.com/2020/10/sumpah-pemuda.html
Malik Hakiim Prastowo 8
konstantinopel https://maliksincen.blogspot.com/2020/10/hari-pertama-sekolah-online.html
Aisha Yasmin
9 ali bin abi https://ayyesworld.blogspot.com/2020/10/
Sophia Nafisa Junita thalib
Aninda Ekaputri
Paramitha 8
Fayza Aurora Putri konstantinopel https://haloorang.blogspot.com/
Kurniawan
9 utsman bin https://www.blogger.com/u/2/blog/post/edit/1872862174074484929/274877
affan 0107260369759
9 utsman bin https://9caurora.blogspot.com/2020/10/sumpah-pemuda-dan-makna-nya-au
affan rora.html
https://ditawidian.blogspot.com/
andita sri widiandari 8 andalusia ditabahasa
Narendra Lejar P
Maritza Rifa Nariswari 8 https://narendralejar.blogspot.com/2020/10/lirik-lagu-separuh-aku-noah-ban
asiela khalila safithri konstantinopel d.html
Fathir Al Fieras Ibrahim
https://jurnalrifaa.blogspot.com/2020/10/27102020-tahun-2011-saya-dan-ke
8 iskandariyah luarga.html
https://www.blogger.com/blog/post/preview/1010378080371982041/468008
7 ibnu battutah 6276039973860
8 https://perjalanankelembahharau.blogspot.com/2020/10/perjalanan-ku-ke-le
konstantinopel mbah-harau.html
143
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
pixel andera 8 andalusia siswasinarcendekiablog
Farrel Mushaffa Ikhsan https://www.blogger.com/u/2/blog/post/edit/7034596871272150717/355688
Rafi alfarisi 9100442601352
Azka Pramujadi
naufal auliya yusran 8
konstantinopel FMI76.blogspot.com
9 umar bin rafialfaris1.blogspot.com
khattab
9 utsman bin
affan http://azkapramujadi.blogspot.com/
8 https://tonoudin.blogspot.com/2020/10/kumpulan-pantun-tentang-pemuda.h
konstantinopel tml
Bulan Cecillia Agatha 8 andalusia https://ddicelblog.blogspot.com/2020/10/2-akibat-covid-19.html
Rifa Zakee Az-Zahra
8
konstantinopel https://www.blogger.com/blog/posts/8224863877758667618?hl=en
Salsabila Nadhifah M 7 ibnu battutah salsabloogerindonesia
Faiz Haqqani 8 andalusia https://faizhaqqani.blogspot.com/2020/10/air-putih.html
7 Al reademir.blogspot.com
Emirsyah Fajar Siswoyo khawarizmi
Faiz Atthariq Kusindra 7 Al https://blogfaizhithit.blogspot.com/2020/10/hit-hit.html
khawarizmi
Harsya 9 umar bin Harsyaadrivardhana.blogspot.com
khattab
9 utsman bin
Muhammad Ilyas Faiq affan https://faiqfaiqs.blogspot.com/
Muhammad Hamiz 9 abu bakar hamizghani.blogspot.com ( kuy bacaaaa, saya penulis blog yang rAJIN
Ghani Ayusha lhoo)
Muhammad Abrar 9 umar bin https://www.blogger.com/u/1/blog/post/edit/2884528951345244332/169769
Mafaza khattab 889861920431
https://erickelmasri.blogspot.com/2020/10/apa-itu-arduino-uno-dan-apa-saja
erick 9 utsman bin .html
affan
Zahrina Nurul Ilma https://zahrinnurul.blogspot.com/
9 utsman bin
Fandhika affan fandhikaa.blogspot.com
9 ali bin abi
thalib
Muhammad Hammas 7 Al https://hammas7a-blog.blogspot.com/
Fathurrahman khawarizmi
Naila Farah Kirani 8
(Kirani) konstantinopel https://www.blogger.com/blog/posts/7233279991010605715
144
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita
Fawas Handoyo 8
Sulthan Arkan konstantinopel Kisahsejarah_PenegakIslam
Sajidinia Azalea
Emeninta 8 andalusia https://sulthanarkan.blogspot.com/2020/10/poster-pemuda.html
Cheryl Olivia 9 ali bin abi https://hahlamanta.blogspot.com/2020/10/tugas-karya-siswa-bulan-bahasa.
thalib html
Talitha Azzahra H
8
Jasmine Az-Zahra konstantinopel cheryloliva.blogspot.com
Shafiya https://workshopblogsc.blogspot.com/2020/10/workshop-di-smpi-sinar-cend
7 ibnu battutah ekia.html
8
konstantinopel halamanceritaa.blogspot.com
Blog Shafiya
8 https://www.blogger.com/u/1/blog/post/preview/5626680385014468224/810
konstantinopel 7456656180815908
qorby adhlan f 8
Teuku Nadiff Adzani konstantinopel https://adhfchill.blogspot.com/2020/10/pengalamanku-di-lampung.html
8 iskandariyah https://pemudanadiff.blogspot.com/2020/10/pemuda-pemudi-indonesia.html
Athirah Huwaida Laksito 9 abu bakar athirahceritera.blogspot.com
Sora willens 7 ibnu battutah w1ll3nss0r4.blogspot.com
9 utsman bin https://pelakuekonomifaiqghatfan.blogspot.com/2020/10/1-terjadinyaperdag
Faiq Ghatfan Musyaffa affan angan-antardaerah.html
145
Melejitkan Potensi, Menggapai Cita