Page ii
KATA PENGANTAR :
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat
menyelesaikan penulisan buku Cerpen Remaja. Dalam
penyusunan Cerpen Remaja penulis telah berusaha
semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan penulis.
Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari
kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan
maupun tata bahasa.
Kami menyadari tanpa arahan dari guru
pembimbing serta masukan – masukan dari berbagai
pihak tidak mungkin kami bisa menyelesaikan tugas
Cerpen Remaja ini. Cerpen Remaja ini dibuat sedemikian
rupa semata-mata untuk membangkitkan kembali minat
baca siswa/i dan sebagai motivasi dalam berkarya
khususnya karya tulis. Untuk itu penulis hanya bisa
menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak
yang terlibat, sehingga kami bisa menyelesaikan cerpen
remaja ini.
Demikian semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.
[Date] ii
Page iii
DAFTAR ISI :
DAFTAR ISI :
KATA PENGANTAR : .................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................... iii
MOTTO.................................................................................... iv
BAB 1........................................................................................1
Fall in love at first sight ............................................................1
BAB 2......................................................................................11
CAFETARIA .............................................................................11
BAB 3......................................................................................26
Not the end of everything .....................................................26
BAB 4......................................................................................40
Mengikuti takdir ....................................................................40
PENUTUP :..............................................................................52
BIOGRAFI................................................................................53
[Date] iii
MOTTO :
“Never regret a day in your life. Good days bring
you happiness and bad days give you
experience.”
Page 1
BAB 1
Fall in love at first sight
Hari ini adalah hari pertama ku sekolah
setelah libur kenaikan kelas, ya aku sudah kelas 12,
Sebelum itu aku ingin memperkenalkan diri terlebih
dahulu namaku adalah Dasha Fyneen aku anak
terakhir dari 2 bersaudara. Aku mempunyai kakak
laki-laki namanya adalah Danendra Gantari kalian
bisa memanggilnya Nendra. Aku berbeda 5 tahun
dengannya.
Saat ini aku sedang berada di koridor sekolah
menuju mading.Tetapi langkah kakiku terhenti
karena ada seseorang yang memanggil namaku
“DASHAA.....” teriaknya
Itu suara sahabat ku perkenalkan namanya Alesya
aku biasa memanggilnya eca.
“Suuttt...jangan keras-keras” ucapku sambil
memandang sekitar
“hehe...maaf kelepasan” balasnya sembari terkekeh
“halah alesan...”
“hehe...eh ngomong-ngomong kamu udah tau
kelasnya dimana?” tanya Alesya
[Date] 1
Page 2
“Belum, ini baru mau ke mading” jawabku
“kalau begitu ayo bareng!” ajaknya
Setelah melihat mading dan ternyata mereka
satu kelas. Mereka pun berjalan bersama menuju
kelasnya. Selama perjalanan mereka mengobrol
sambil bercanda ria.
“aku seneng banget akhirnya kita sekelas lagi, jadi
aku gak perlu ribet nanya tugas lagi deh” tutur
Alesya sambil tersenyum jahil.
“yee itu mah kamu aja kali” kata Dasha menampilkan
wajah jengkelnya
“hahaha.. tuh tau” balas Alesya sambil terkekeh
“yasudah yuk ke kelas!” ajak Dasha
Sesampainya mereka di kelas, mereka pun
mencari tempat duduk barisan pojok, dan mereka
duduk sebangku. Keadaan kelas semakin ramai.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya guru
pun masuk, semua langsung duduk dengan rapih
begitupun dengan Dasha dan Alesya.
“selamat pagi anak-anak, perkenalkan nama ibu
adalah Erna kalian bisa memanggil bu Erna, saya
adalah wali kelas kalian, selanjutnya kalian boleh
memperkenalkan diri kalian satu persatu.
perkenalannya maju ke depan ya nak, sebutkan
nama, alamat rumah dan cita-cita ya nak.” ucap bu
Erna
[Date] 2
Page 3
"mulai dari kamu ya, silahkan" lanjut bu Erna pada
siswa paling depan pojok sebelah kiri dekat dengan
pintu.
satu persatu siswa/i maju ke depan dan mulai
memperkenalkan dirinya.
"perkenalkan nama saya Naresh Gilvan Astara,
saya tinggal di Jalan XXX, cita cita saya ingin
menjadi yang terbaik buat orang tua," tutur laki-laki
yang bernama Naresh itu, semua murid yang
mendengarnya pun terkekeh. Naresh pun juga ikut
terkekeh mengikuti yang lain.
Tidak apa-apa, lelucon sesaat sebelum
memulai kelas dan materi yang baru bukanlah ide
yang buruk. Selepas Naresh memperkenalkan diri,
selanjutnya murid yang lain maju secara bergilir.
Begitu seterusnya, hingga tiba saatnya salah satu
siswa dengan penampilan yang sangat rapih
dengan setelan rambutnya yang ditata sedemikian
rupa.
Jantung Dasha berdebar dua kali lipat,
darahnya juga berdesir hebat hingga membuat
Dasha sampai meremang. Siapa? Siapa lelaki yang
ia lihat itu? Bahkan lelaki itu hanya menampilkan
tatapan datar tak berekspresi saat maju kedepan.
"Perkenalkan nama saya Christian Alexander, saya
tinggal di Jalan XXX, cita-cita ingin menjadi seorang
CEO."
[Date] 3
Page 4
DEGGG…Bagai tombak yang memanah
tepat di dada Dasha, mendengar cowok itu
memperkenalkan diri dengan suara bariton khasnya
membuat siapa pun yang mendengar suara itu
langsung jatuh cinta. Tak lupa juga dengan wajah
tampannya yang menambah kesan cool di depan
sana.
Dasha sampai benar-benar fokus melihat cowok itu
sampai ia kembali duduk di tempatnya.
"Oh my god, if he is my soul mate, then bring us
closer. if he's not my soul mate, it's okay at least
bring us closer god.." Dasha langsung mengarang
tidak jelas dalam hatinya.Alesya yang sedari tadi
memandang Dasha menggerutu dan mengucapkan
kalimat tidak jelas walau tidak terdengar, berpikir
ada apa dengan sahabatnya itu?
"Sha, kamu kenapa?" Tanya Alesya
"Hah? Eh, oh, ah anu engga.. Engga les gapapa
hehehhe," Balas Dasha dengan mimik kaget saat di
tanya Alesya.
‘Dasha gak kaya biasanya’, pikir alesya.
Perkenalan terus berlanjut, kini saatnya
Dasha memperkenalkan dirinya. Kaki jenjangnya ia
langkahkan dengan penuh percaya diri menuju ke
depan. Ia menarik nafas perlahan guna mengurangi
rasa gugup yang berdatangan.
[Date] 4
Page 5
"Perkenalkan nama saya Dasha Fyneen, saya
tinggal di XXX, cita-cita saya ingin menjadi seorang
psikolog. Salam kenal semuanya," Tutur Dasha
sembari menampilkan senyumannya.Namun,
ditengah perkenalan Dasha tadi Dasha tak sengaja
melihat Alex yang tengah memperhatikan dirinya.
Ya, benar mereka melakukan kontak mata sesaat.
Disitu, Dasha merasa jantungnya tidak bisa
terkontrol dengan baik.Ditambah lagi, ternyata Alex
masih memperhatikan dirinya sampai ia selesai
perkenalan diri.
'Gausa begitu, gabaik buat jantung aku' gumam
Dasha dalam hatinya.
Selang beberapa waktu, perkenalan diri
selesai. Bu Erna memberi waktu kepada murid-
murid untuk melakukan adaptasi dengan teman-
teman baru. Anggap saja hari ini FreeClass karena
kenaikan kelas. Seisi kelas pun bersorak gembira,
begitu juga dengan Dasha dan Alesya.Banyak murid
yang mulai bergaul dengan murid lain. Sedangkan
Dasha? Ia merasa bosan dan hampa.Tidak tahu
ingin melakukan apa karena sebagian murid di kelas
ini sudah ia kenal dari kelas 11 lalu. Kepalanya ia
topangkan diatas tangannya, melihat orang-orang
yang saling berbaur. Pandangannya teralih melihat
sosok Alex sedang berbicara dengan satu
siswi.Terlihat siswi itu begitu akrab bicara dengan
Alex, namun yang Dasha lihat Alex hanya diam dan
hanya mendengarkan apa yang siswi itu
[Date] 5
Page 6
katakan.Dasha baru pertama kali melihat sosok Alex
di sekolah ini, ia belum pernah sama sekali bertemu
atau saling menyapa dari dulu. Mungkin murid
pindahan atau memang Dasha yang tidak pernah
sadar?
"Tidak ingin kenalan denganku? Siapa tau kenalan
dapet id line aku hahahaha.." Kata Dasha pelan lalu
terkekeh sendiri, matanya masih memandang sosok
Alex disana.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Dasha
merasakan 'first love'-nya pada Alex. Ia ingin
bertegur sapa dengan Alex namun hati kecilnya
berkata lain. Ia akan menunggu waktu yang tepat
agar bisa dekat dengannya. Jika Dasha bertindak
tanpa berpikir apa yang akan terjadi kedepannya itu
akan membuat Alex merasa ilfeel padanya.
Pandangan masih sama, tiba-tiba Alex menghadap
ke belakang dan sangat pas matanya bertemu
dengan mata Dasha.
Ini kali kedua mereka melakukan kontak mata.
Namun kali ini berbeda, Alex nampak tersenyum
kecil padanya. Senyum yang hampir tidak terlihat
tetapi Dasha dapat melihat itu. Gadis itu
memalingkan wajahnya ke arah lain selepas
seperkian detik lalu. Pipinya sedikit merona,
mungkin Dasha akan mendapatkan hobi baru kali ini.
Senam kontak mata dengan Alex. Hahaha,
[Date] 6
Page 7
memang dasar kisah remaja selalu saja ada yang
unik.
KRIIINNGGG!!!
Bel istirahat berbunyi, seluruh murid
berhamburan keluar kelas menuju kantin. Alesya
sudah meminta mengajak Dasha pergi ke kantin
namun gadis itu menolak karena Ia sudah
membawa bekal.
Mau tidak mau Alesya dengan berat hati pergi
ke kantin seorang diri. Dan tersisa tujuh orang yang
masih di kelas termasuk Dasha.
"Dasha, sini join." Ucap seseorang padanya, ah
ternyata itu Naomi teman Dasha dari kelas 11
walaupun beda kelas. Dasha mengangguk, Ia pergi
menuju meja Naomi dan teman-teman lainnya.
"Seneng banget akhirnya kita bisa satu kelas" Ucap
Naomi antusias
Dasha tersenyum sembari mengangguk, "Iya bener
banget, syukurlah kita bisa satu kelas." Balasnya.
Mereka memakan bekal bersama sampai
Alesya kembali ke kelas dan ikut bergabung dengan
yang lain. Mereka bercanda ria membahas hal
random dengan asiknya.
"Eh guys, itu si Alex anak sini beneran atau gimana?
Aku belum pernah lihat dia soalnya" Ucap Melany
tiba-tiba
[Date] 7
Page 8
"Ih iya aku juga baru liat dia, anak pindahan gak
sih?" Timpal Sisca
"Alex bukan anak pindahan, dia asli orang sini.
Cuma katanya dia suka absen kelas aja, dari kelas
11 yang aku tahu Alex masuk sekolah seminggu
cuma tiga kali doang." Kata Naomi menyela kedua
ucapan temannya itu.
Keempatnya melongo tak percaya dengan
apa yang Naomi katakan. Murid seganteng Alex
ternyata punya sifat yang berbanding terbalik
dengan apa yang Dasha pikirkan.
Ini mungkin di luar ekspresi Dasha. Tetapi,
Dasha tidak mementingkan hal itu. Toh selagi bisa
dekat dengan Alex dan berusaha membuat
kepribadian nya menjadi lebih baik tidak ada
salahnya kan? Pikirnya.
"AAAAAAAAAAAA OMG HELLOWWW!! Senang
banget akhirnya dapet ID Line Alex!! Awww" Teriak
seorang siswi membuat kelima gadis yang tengah
makan santai terkejut.
"Ihhhh seriuss Na?? Oh my god lucky banget sih
kamu jadi iri deh!" Seru siswi lain dengan tampilan
sedikit menornya.
"Serius! Gak bohong aku nih liat"
"Ihh iyaaa jadi kepengen kaya kamu deh omg!!"
[Date] 8
Page 9
Dasha, Aleysha, Naomi, Sisca dan Melany
hanya memperhatikan tingkah ketiga siswi yang
datang tiba-tiba sambil menggerutu tidak jelas
menyebut nama Alex. Dasha melanjutkan makan
bekalnya, tak lupa ia mendengarkan apa yang ketiga
siswi itu bicarakan. Ingat, Dasha memiliki
pendengaran yang cukup tajam.
'Itu cewek yang tadi ngajak Alex bicara tapi ga di
respon Alex juga, kan?' Gumamnya dalam hati.
Tidak ada angin, tidak ada badai. Alex tiba-
tiba datang ke kelas, membuat ketiga siswi tadi
semakin berteriak tidak jelas membuat gendang
telinga ingin pecah rasanya.
"OI BERISIK BRIANNA! Kalau mau latihan vokal
high note jangan disini!" Seru Naomi, ia tidak tahan
dengan ocehan siswi tersebut.
"Apasih kamu Naomi, diem aja deh kamu itu gak di
ajak please." Balas gadis bernama Brianna itu
dengan wajah jengkelnya.
"Dih, siapa juga yang mau di ajak sama kamu?
Keluar sana makan kek atau apa jangan teriak-teriak
gak jelas di kelas."
"Emang aku teriak? Engga kan guys? Ya kan Bella,
Jihan?" Tanyanya pada kedua teman di samping
nya. Keduanya pun menggeleng setuju dengan apa
yang Brianna katakan.
[Date] 9
Page 10
Dasha, Alesya, Sisca dan Melany? Hanya
menonton sambil mengunyah makanannya masing-
masing. Ini seperti adegan di film-film saja.
Meributkan hal yang sepele.Gadis yang bernama
Brianna itu diam sambil memutar bola matanya
malas.
Dasha melihat ke arah Alex yang tengah
membaca buku sambil mendengarkan musik
dengan earphone nya. Tampan sekali, pikirnya.
"Nikmat mana yang engkau dustakan." Gumamnya
dalam hati.
Dilihat dari segimana pun di mata Dasha, Alex terlalu
sempurna baginya.
---
‘Dapat mengenal mu dari dekat adalah harapan
terbesarku.’ -Dasha fyneen
[Date] 10
Page 11
BAB 2
CAFETARIA
KRIIIIIIIINNGGGGGGG!!!
Bunyi alarm menggema diseluruh ruangan
bernuansa grey peach yang dihiasi penuh dengan
stiker ataupun lukisan kupu-kupu. Diraihnya sumber
bunyi suara berisik itu lalu dimatikannya.
Dasha mulai membuka matanya perlahan,
menyambut hari senin pagi dengan caci makian,
tidak maksudnya senyuman.
Kaki jenjangnya ia langkahkan menuju kamar
mandi. Namun, sebelum itu ia pergi bercermin untuk
melihat betapa berantakan dirinya saat bangun tidur.
Air liur (iler) masih tercetak jelas di bagian sudut-
sudut bibirnya, rambut yang berantakan, wajah yang
terlihat sangat murung dan kusam.
"Seperti gembel." Gumamnya pelan.
Tiga puluh menit telah berlalu, kini sang gadis
sudah rapih dengan seragamnya dan siap untuk
pergi ke sekolah.Ia ingat hari ini adalah hari tepat ke
tiga bulannya menjadi kakak kelas yang sebentar
lagi akan lulus.
Apa kalian ingat dengan Alex? Si cowok tipe
idealnya seorang Dasha Fyneen. Hubungan mereka
tidak lebih dari seorang teman, apa kalian tahu?
[Date] 11
Page 12
Sepertinya sedikit miris melihat kedua peran utama
kali ini.
Mereka hanya dekat jika ada tugas yang di
lakukan secara berkelompok. Dasha akui bahwa
Alex cukup pintar walaupun memiliki kepribadian
yang bertolak belakang dengan pikiran nya. Lebih
simpel nya anggap saja Alex dan Dasha seimbang
dalam hal belajar.
----
Kini Dasha sudah sampai disekolah nya. Ia
berjalan menelusuri koridor sampai di depan
kelasnya. Dilihatnya Alesya yang baru juga datang
melambaikan tangan ke arahnya.
"Yo! Kamu udah tau tugas PPKN kali ini ngapain
aja?" Ucap Alesya membuka percakapan di antara
keduanya.
Dasha menggeleng pelan sambil memasang wajah
bingungnya.
"Serius? Aku kira si manusia ambis satu ini bakal
selalu tahu tugas apa aja yang di kasih guru"
Lanjutnya sambil terkekeh.
"Memang tugas apa?" Kini Dasha bertanya.
[Date] 12
Page 13
"Buat projek PPKN secara berkelompok, materinya
pengaruh perkembangan iptek bagi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam
bidang politik." Jelas Alesya membuat Dasha
menghela nafasnya pelan.
"Huh... Okey. Semangat, Tuhan bersama kelas 12,"
Ucap Dasha membuat temannya itu tertawa geli.
Ini adalah reaksi pasrah dari seorang Dasha si anak
ambis ternyata.
"Untuk kelompok nya masih sama atau
bagaimana?" Tanya Dasha
"Ada sedikit perubahan, kelompok kita Naomi dan
Jason di ganti sama Naresh dan Alex. Jadi kelompok
kita sisa aku, kamu, Devina, Alex dan Naresh."
"Oh.. Oke."
Yakinlah, dibalik kata 'oh' seorang Dasha ada
hati yang sedang bergejolak. Bagai di serang
hamparan kupu-kupu dalam perutnya. Ini situasi
yang sangat beruntung baginya.
Ah iya hampir lupa, kalian tahu? Dasha dan Alex
ternyata—beda agama.
Alex menganut agama Kristen, sudah jelas
juga bahwa namanya memang ada unsur kaum
nasrani. Christian Alexander, nama yang indah
namun sangat mustahil untuk di gapai.
[Date] 13
Page 14
Jujur saja, cukup berat bagi Dasha untuk menerima
kenyataan ini.
Terkadang Dasha berpikir bahwa cinta tidak
selalu indah. Maka dari itu, Dasha berusaha
melupakan bahkan mengurangi tindakan atau sikap
seolah-olah ia menyukai Alex saat berada di
dekatnya.
Dasha pernah membaca beberapa kutipan.
ada... yang kelewat dekat hanya saja berbeda minat;
satu ingin lebih, satu lagi merasa cukup sebagai
sahabat. alhasil, meski sudah sejauh apapun
berkutat, keduanya tak pernah terikat.
Tuhan, mengapa cinta masa remaja begitu sulit?
---
Jam menunjukan pukul sembilan tepat. Kini,
seluruh murid berhamburan keluar karena bel
istirahat sudah berbunyi. Seperti biasa, Dasha
mengambil kotak bekalnya. Tiba-tiba Alex masuk ke
kelas membuat gadis itu sedikit terkejut.
Tidak, yang lebih mengejutkan nya lagi, Alex
menghampiri meja Dasha lalu menarik bangku
depan dan duduk menghadap gadis itu.
"Mau kerjakan tugas dimana?" Tanya Alex tiba-tiba.
[Date] 14
Page 15
DAMN. Ayo kontrol jantungmu Dasha! Ini hanya di
ajak bicara bukan apa-apa tenang saja.
"Terserah, aku ikut kalian saja." Balasnya sambil
membuka kotak bekalnya
"Ah oke. Kalau begitu, mau di cafetaria aja?"
"Bukan ide yang buruk, baiklah. Aku akan tanyakan
anak-anak yang lain setuju atau tidak" Ucap Dasha
dengan senyum tipisnya.
Alex diam tak berkutik. Pandangannya entah
mengapa terus kearah gadis di depannya itu.
Sedangkan Dasha? Tidak sadar bahwa ia di
perhatian oleh Alex karena sibuk dengan
makanannya.
Srett..
Dasha merasakan ada sentuhan tangan di
atas kepalanya. Ia menoleh dan melihat ke arah Alex
sambil mengikis jarak. Berkisar hanya lima belas
senti kira-kira jarak mereka.
Alex menarik tangannya lalu membuang sesuatu ke
sembarang arah.
"K-kamu ngapain??" Tanya Dasha sedikit terbata.
"Ada kotoran di atas hijabmu." Balasnya
menampilkan ekspresi datar seperti biasanya.
"O-ohh.. Makasih Alex.."
[Date] 15
Page 16
"Sama sama."
Hening. Kedua belah pihak berdiam diri,
bagai kalut dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba
Alex menyodorkan coklat kemasannya pada Dasha.
Gadis itu mengerutkan dahinya, Alex yang paham
dengan tatapan itu langsung berbicara.
"Buat kamu, saya tidak terlalu suka coklat." Jelasnya
Tidak suka coklat, lalu kenapa membelinya?
Manusia aneh. Pikir Dasha.
BRAAKKK!!!
Pintu kelas terbuka dengan kencangnya
membuat dua insan ini terkejut. Saking kerasnya,
kotak makan bekal Dasha sampai jatuh kesamping
akibat tak sengaja tersenggol. Alex yang melihat
Dasha kerepotan membersihkan makanan yang
tumpah pun ikut turun tangan.
"ALEX!! Kamu disini rupanya, ih aku cariin juga.
Kemana aja sih kamu?" Tutur gadis bernama
Brianna itu.
Alex tak menanggapi ucapan Brianna, ia
hanya fokus membantu Dasha. Brianna yang
merasa dirinya di abaikan Alex pun mendekatinya
sambil memegang bahu Alex.
"Alex sayang.." Ucap Brianna membuat Alex
semakin kesal.
[Date] 16
Page 17
"Jangan pegang-pegang!" Kata Alex sambil
menepis tangan gadis centil itu.
"Ih kok kamu gitu sih? Apa salah aku coba. Hmm..
Kamu sama si Dasha gembel ngapain nih?"
Dasha yang mendengar namanya di sebut
dengan sebutan tak pantas, lantas menoleh dan
berdiri. Ia tak Terima dengan ucapan Brianna
barusan.
"Gembel sebut gembel." Tutur Dasha dengan wajah
sinisnya pada Brianna.
Brianna pun tak terima, ia kembali mengejek Dasha
dengan ucapan tak senonoh.
"Kamu! Berani banget kamu ya sama aku!" Tak ada
angin tak ada hujan, Brianna dengan berani menarik
hijab Dasha dengan kencangnya.
"Apasih! Lepasin! Kamu yang tidak sopan sama aku!
Kamu ngatain orang seneng banget giliran di katain
balik gak terima. Gila dasar!" Dasha tak kalah kuat
menjambak balik rambut Brianna.
Alex yang panik pun langsung melerai kedua
makhluk yang sepertinya tak akur ini.
"Sudah sudah! Kamu Brianna, kalau bicara
ucapannya di jaga!" Bentak Alex pada Brianna.
"Tapi Alex.. Kan ucapan aku bener" Elak gadis
dengan penampilan menor itu.
[Date] 17
Page 18
"Tidak ada tapi-tapian. Minta maaf cepat sama
Dasha!" Seru nya membuat nyali Brianna menciut.
Sedangkan Dasha? Hanya diam sambil
membenarkan hijabnya yang berantakan sehabis di
jambak oleh Brianna. Sungguh manusia yang
menyebalkan. Gumam Dasha dalam hati
Brianna diam tak bergeming lalu pergi berlalu
lalang tanpa ada niat sedikit pun meminta maaf pada
Dasha. Tidak sopan sekali.
"Kamu tidak papa, Dasha?" Tanya Alex khawatir
"Engga papa kok, terima kasih ya Alex sudah
menolong ku." Balas Dasha sambil menunduk
merapihkan penampilannya. Hatinya kembali
bergejolak melihat Alex yang begitu khawatir
padanya.
---
Selepas kejadian beberapa jam lalu, akhirnya
bel pulang sekolah pun berbunyi. Dan rencana untuk
mengerjakan tugas proyek di cafe pun telah di
setujui oleh yang lain.
Jujur saja Dasha masih merasa kesal dengan
perlakuan Brianna tadi. Ini bukan kali pertama
Brianna berkelakuan buruk padanya. Dasha akui
ternyata hubungan pertemanan dirinya dengan
[Date] 18
Page 19
Brianna sangat buruk. Terlebih lagi Brianna anaknya
licik.
Mengapa selalu ada saja manusia yang iri
dengki pada kita ya? Dengan alasan yang tidak logis
dan penuh tanda tanya. Brianna membenci Dasha
karena ia merasa cemburu jika Dasha dekat dengan
Alex.
Nyatanya tidak seperti itu. Terkadang Alex
yang selalu mendekati Dasha dengan alasan
tertentu. Dasha tak habis pikir dengan pola pikir
seorang Brianna. Menurut nya rasa obsesi nya pada
Alex terlalu berlebihan.
---
Kini mereka berlima sudah sampai di tempat
yang telah di janjikan. Dasha duduk bersebelahan
dengan Alesya. Naresh, Devina dan Alex duduk
berurutan ke arah kanan, mereka memilih meja
bundar agar memudahkan kegiatan belajar mereka.
"Sebelum di mulai, silahkan pesan minuman atau
makanan. Biar saya yang traktir malam ini," Tutur
Alex tiba-tiba membuat yang lainnya kaget.
Wah wah ada apa gerangan dengan sosok Alex hari
ini. Cowok yang benar-benar di luar dugaan.
"Ehh.. Tidak usah lex kami akan bayar sendiri-
sendiri. Kami tidak mau merepotkan kamu" Sela
[Date] 19
Page 20
Devina, yang lainnya mengangguk setuju begitu pun
dengan Dasha.
"Tidak apa-apa. Pesan saja apa yang kalian mau,
saya tidak mau ada penolakan kali ini." Titahnya
membuat yang lainnya bungkam sejenak sambil
melirik ke arah lain secara bergantian.
"O-okey Terima kasih ya Alex" Ucap ke-empat nya
bersamaan.
Alex hanya mengangguk pelan lalu
memanggil seorang pelayan untuk memesan makan
dan minuman.
Setelah itu mereka berlima memulai kegiatan
belajar nya bersama. Tugas proyek kali ini memang
cukup menyusahkan. Pasalnya materi yang di
berikan oleh guru tidak ada dalam buku.
"Siapa yang cita-citanya ingin memukul pak Genta
adik adik?" Ucap Naresh dengan senyum horornya.
Naresh sepertinya terlihat pasrah.
"HAHAHAHAHAHAHA!!" Tawa ketiga temannya
pun keluar, Devina sampai terbahak-bahak melihat
tingkah konyol Naresh.
Dasha hanya terkekeh lalu melanjutkan
mencari kunci jawaban tugas mereka. Alex? Hanya
diam tak bergeming walaupun sudah melihat
kelakuan abstrak teman-teman lain. Apakah itu tidak
lucu?
[Date] 20
Page 21
Entah mengapa selama mengerjakan tugas
berlangsung Dasha seperti di tatap terus menerus
oleh seseorang. Dasha mengalihkan pandangannya,
mencari tau siapa yang menatapnya.
DEGG
Pandangan mereka bertemu, ternyata yang
menatapnya terus menerus ialah Alex. Dasha
seperti merasakan kupu-kupu berterbangan di
perutnya, debaran jantungnya terasa menggila.
'oh god...aku bisa gila jika Alex trus bersikap seperti
ini.' ucapnya dalam hati
"EKHEM.." Alesya berdehem membuat dua insan itu
cepat-cepat saling mengalihkan pandangannya.
"eh…"
"Dari matamu-matamu, ku mulai.." Naresh mulai
menyanyi dengan asiknya
"Jatuh cinta. Ku melihat-melihat ada bayangnya."
Timpal Alesya
'sepertinya ada masalah dengan jantungku' pikir
Alex.
'tuhan, aku malu' pipinya merona.
"H-hey apa sih kalian, nyanyi tidak jelas, kerjakan
tugasnya ayo!" Ucap Dasha mengelak berusaha
menghilangkan rona di pipinya.
[Date] 21
Page 22
"Wah wah sepertinya akan ada kapal baru, tapi
apakah endingnya sangat memuaskan nantinya?"
Celetuk Naresh sambil merangkul pundak Alex,
yang di rangkul hanya diam saja.
"Wuihh jangan deh, tembok nya tinggi bange-
Hmmph"
DEGG
Tidak ada hujan, tidak ada badai. Bak belati
yang menusuk tepat dan mendalam di dada Dasha.
Rasanya sakit sekali mendengar ucapan Alesya
barusan.
'Shit.' Gumam Alex dalam hatinya.
"Mulutmu ini, harus di jahit sepertinya les." Gerutu
Devina saat membekap mulut Alesya.
'Oh ya ampun, hampir saja aku ingin mengumpat.'
Dasha membatin.
"Hah?-EH!" Alesya membekap mulutnya sendiri,
entah mengapa. Sepertinya Dasha dapat teman
seperti Alesya karena hadiah dari ciki jaguar.
Bercanda.
Tidak. Kesampingkan soal perasaan masing-
masing terlebih dahulu, masih ada tugas yang harus
segera di selesaikan. Ini bukan saatnya untuk saling
mencuri pandang.
[Date] 22
Page 23
Dasha menarik nafasnya perlahan lalu mulai
membacakan kunci jawaban atas pendapatnya
setelah membaca buku berkali-kali.
'Mari kita serius, Dasha Fyneen.' Gumamnya pelan.
"Oke, maaf menyela tawa canda kalian. Bisakah kita
serius sekarang?" Ucap Dasha sedikit lantang.
Semuanya diam mendengar suara khas itu, mereka
tahu ini bukan lagi saatnya untuk bercanda.
Ah sepertinya Dasha mempunyai jiwa
pemimpin dalam mengatur teman-temannya agar
menjadi disiplin.
---
Tepat pukul 21.15, pekerjaan mereka telah
tuntas. Mereka merapihkan tas masing-masing tak
lupa juga membersihkan meja sehabis mereka pakai.
Setelah itu satu per satu pamit pulang dan sekarang
hanya tinggal Dasha dan Alex saja.
Dasha menelpon sang kakaknya namun tak
kunjung di angkat. Mungkin kakaknya sedang pergi
dan ponselnya tertinggal di rumah, sebab sedaritadi
hanya berdering saat di telepon.
"Ck! Ngeselin kemana sih bang nendra?!" Celetuk
Dasha tidak jelas.
"Ini udah mau jam 10, aku juga harus belajar di
rumah. Abang kemana sih? Gak biasanya ga angkat
telepon ih nyebelin banget!"
[Date] 23
Page 24
Alex yang sedari tadi melihat kelakuan
random Dasha, dimatanya itu terlihat sangat
menggemaskan. Entah mengapa hatinya terasa
menghangat jika berada di sisi Dasha.
"Kamu tidak pulang, Alex?" Tanya Dasha memecah
keheningan diantaranya.
"Kamu sendiri?"
"Jangan melempar pertanyaan dengan pertanyaan,
dasar" Gemas Dasha, rasanya ingin mencubit ginjal
mungil Alex. Nope.
Cowok itu tertawa namun yang uniknya saat
ia tertawa matanya akan tertutup sempurna dan
menarik garis ke bawah bak bulan sabit, ini kali
pertamanya Dasha melihat cowok dingin itu tertawa
di depannya.
Definisi tampan dan lucu menjadi satu.
Garis bibir ditarik. Mengurvakan sebuah
lengkungan manis. Yang mana membuat Dasha
kembali terhipnotis. Pada indahnya karya Tuhan
satu ini.
"Ingin saya antar pulang saja?" Tawar Alex
membuat Dasha menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak usah, terima kasih. Kakakku akan kesini 10
menit lagi, tadi ia sedang mandi makanya dia tidak
mengangkat teleponku." Jelasnya
[Date] 24
Page 25
Alex mengangguk paham, syukurlah. Malam
itu, selepas kerja proyek kedua insan ini saling
beradaptasi dan terbuka perlahan-lahan, sesekali
diiringi canda dan tawa. Sungguh malam yang
benar-benar Dasha harapkan telah terkabulkan.
Dalam isi hati Dasha sendiri pun ada rasa gelisah
yang masih bergejolak hingga saat ini.
Ia tidak ingin melawan takdir untuk terus-
menerus mengharapkan dia karena agama mereka
berbeda, tapi hatinya membutuhkannya.
---
‘hanya saja, sebuah kalimat aksara tidak akan cukup
untuk menceritakan bagaimana aku mencintaimu
dengan kesunyian.’ — Dasha Fyneen.
[Date] 25
Page 26
BAB 3
Not the end of everything
Malam yang sejuk menyelimuti kota Jakarta
saat ini. Cuaca yang pas untuk melakukan rutinitas
malam yaitu nongkrong bersama bagi para remaja.
Dasha duduk termenung di dekat jendela
yang mengarah langsung ke pemandangan gedung-
gedung tinggi ibu kota. Ia merasa jenuh dan bosan
terus-terusan berada di rumah.
Dirinya tidak tahu ingin melakukan apa tapi yang
jelas ia sangat ingin di ajak pergi keluar.
Dasha menghela nafasnya. Ia menjatuhkan
tubuhnya di atas kasur king size nya. Nyaman,
lembut, rasa kantuk yang mulai berdatangan ia
rasakan. Sudah lama sekali ia tidak merasakan ini
semenjak ia terus menerus fokus pada belajarnya.
"Hangat." Ucapnya dalam hati.
"Biasanya orang-orang kalau malam-malam begini
ngapain ya? Galau atau melanjutkan belajar sampai
kepala mau pecah?" Gumam Dasha pelan.
Kepalanya sangat pening, belum lagi
persoalan ia diberi kesempatan untuk ikut Olimpiade
yang di tawarkan oleh kepala sekolah. Ia tidak akan
sendiri, akan ada Alex yang menjadi pasangannya
untuk
[Date] 26
Page 27
menjadi perwakilan dari Satya Mandala High School.
"Aku tidak ingin mendapat genre hidup seperti ini,
ARRGHH TIDAK TAU LAH!!" Gadis itu menggesek-
gesekan kakinya di kasur bak anak kecil yang minta
balon namun tidak di kasih oleh ibunya.
Karena kedua murid ini ternyata memiliki
kemampuan yang hampir sama, dan selalu menjadi
sorotan di sekolahnya.
Adzan isya berkumandang, Dasha beranjak
dari tempat tidurnya lalu pergi ke kamar mandi untuk
berwudhu. Ia mengambil peralatan sholatnya dan
mulai menggelar sajadah.
Disisi lain, jari jemarinya ia dentingkan
beriringan dengan irama lagu yang tengah berputar.
Dirinya tengah bersantai selepas kejadian buruk
beberapa jam lalu yang ia dapatkan. Alex merasa
bahwa dirinya tak pantas untuk hidup di dunia
karena tekanan dari kedua orang tuanya.
Alex yang selalu di tuntut untuk menjadi yang
terbaik diantara keluarganya. Belum lagi kedua
saudara kandungnya terkadang ikut menekannya,
bukankah itu membuat diri dan kesehatan
mentalnya terganggu? Jujur saja ia butuh seseorang
yang benar-benar bisa Alex jadikan rumah dan
sandaran untuk saat ini.
Sesuatu terlintas di benaknya, ia ingin
menemui Dasha. Tapi bagaimana caranya? Melihat
[Date] 27
Page 28
hubungannya dengan Dasha sendiri pun masih ada
kata canggung. Oh Tuhan harus bagaimana Alex
kali ini?
Pikirannya kalut, belum lagi tentang tawaran
ikut Olimpiade mewakili sekolahnya. Ia benar-benar
merasa pikirannya tak bisa terkontrol.
Alex beranjak dari sofa lalu mengambil kunci
motor dan jaketnya di atas nakas. Ia menuruni anak
tangga dengan buru-buru, tak sengaja ia melihat
sosok pria paruh baya tengah menonton TV dengan
raut wajah seperti orang habis marah.
Christian Nevada, ayahanda Alex. Dengan
kepribadian yang egois dan tegas membuat
siapapun di rumah ini takut padanya.
"Mau kemana kamu?" Tanya sang ayah, Alex tak
menjawab dan hanya pergi berlalu lalang saja.
"Alex! Mau kemana kamu?!" Alex masih tak berucap
sepatah kata pun walaupun ayahnya sudah
membentak nya kembali.
Perasaannya campur aduk, saat ini ia benar-
benar tidak ingin di ganggu. Alex mengendarai
motornya tak tentu arah dengan kecepatan penuh.
Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Jika ia kembali ke rumah, hanya ada suara
lantang sang ayah yang terus menyuruhnya belajar,
belajar dan belajar sampai mimisan. Alex sudah
[Date] 28
Page 29
cukup muak dengan semua itu. Sekarang yang ia
perlukan hanyalah ketenangan.
Alex memarkirkan motor nya ditempat parkir
sebuah taman. Taman yang tampak begitu luas,
diiringi dengan berbagai macam tumbuhan dan
bunga yang terlihat baru bermekaran.
Ia duduk di sebuah bangku taman sambil
melihat pemandangan sekitar. Seperti nya di daerah
sini banyak yang berjualan.
Awalnya atensi hanya sekedar ingin
memandang para taman yang dihiasi remang.
Namun di sana tanpa sengaja netra yang
terjerembab. Pada paras anindya. Yang tampak
begitu Kirana kala syam kian memekat. Alex ingin
menghampiri orang itu, karena begitu familiar
wajahnya.
"Dasha?" Sapa Alex pada gadis ber-hoodie merah
muda dengan celana training abu-abu tengah
membeli cumi bakar.
Merasa namanya terpanggil, gadis itu
menoleh. Dan ternyata benar, itu Dasha. Sedang
apa ia disini dan dengan siapa ia datang kesini, pikir
Alex.
"EH-Alex??? Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya
Dasha terkejut. Ini pertemuan yang sangat amat
mendadak. Ditambah Dasha tak memakai hijab, ia
[Date] 29
Page 30
hanya menutupi kepalanya dengan tudung kepala
dari hoodie nya. Memalukan, pikirnya.
"Hanya mencari udara segar, bagaimana dengan
kamu?" Balasnya
"Beli jajanan. Kamu cari udara segar sampai ke
rumah ku? Jauh sekali Alex" Dasha melongo tak
percaya, pasalnya jarak rumah mereka memang
cukup jauh. Apalagi Alex tak biasanya berkunjung
sampai kesini.
"Oh jadi rumahmu di sekitar sini ya?" Tanya Alex lalu
di dapati anggukan kepala dari Dasha.
"Mau cumi bakar?" Tawar gadis manis itu pada pria
favorit didepannya, yang di balas gelengan langsung
oleh sang empu.
"Aku tidak suka penolakan." Sang gadis
menampakkan ekspresi cemberut nya, kurva merah
ceri yang terlihat melengkung ke bawah
menandakan ada rasa kesedihan didalamnya. Alex
yang melihat itu tak kuasa menahan tawanya. Ini
terlalu lucu.
"Baiklah baiklah, terserah kamu saja."
---
[Date] 30
Page 31
Pada akhirnya mereka berdua duduk
bersama di bangku taman sembari makan dan
ngobrol dengan serunya.
Saat sedang bercerita Dasha merasa tidak
ada sahutan dari sampingnya, saat menoleh
kesamping di lihatnya Alex yang sedang melamun,
entah sedang memikirkan apa, yang pasti Dasha
berfikir pasti ada sesuatu yangterjadi padanya.
Dasha memberanikan diri untuk memegang bahu
Alex dan menyadarkannya.
DEG
Alex sadar saat merasakan ada sebuah tangan yang
menyentuh bahunya.
'eh..'
"Kamu kenapa?" tanya Dasha
"Hah..e-engga, ga kenapa-napa kok" Alex sedikit
terkejut dengan sapaan Dasha tadi.
"Kamu terlihat sedang ada masalah, kamu gabisa
bohongi aku lex"
"ceritakan saja jika ingin, keluarin semua keluh
kesahmu. dengan senang hati aku bakal dengerin
semuanya,"
Darah Alex berdesir, lagi dan lagi ia merasa
perasaan nyaman saat di dekatnya, Alex mulai
[Date] 31
Page 32
berfikir ternyata ada orang yang peduli padanya,
perasaanya benar-benar senang dan tenang.
Ia merasakan ketulusan saat Dasha berucap
seperti tadi. Namun ia ragu, ragu untuk bercerita.
Tapi saat dia menatap Dasha entah kenapa
keraguan itu seketika menghilang, yang ada hanya
perasaan nyaman. Akhirnya dia memilih untuk
bercerita,
"Saya hanya lelah, lelah dengan keluarga saya.
Ingin rasanya saya bebas seperti kamu dan yang
lainnya, tapi seperti nya susah sekali untuk di gapai.
Hahaha.. Ah entahlah bagaimana kedepannya nanti
saya hanya bisa pasrah." Entah mengapa mulut
Alex berucap dengan sendirinya
"Aku memang gatau rasanya bahkan kalaupun aku
di hadapi masalah seperti itu aku bakalan nyerah
duluan, tapi kamu?... Kamu kuat, kamu berhasil
bertahan sampai sejauh ini, jadi jangan pernah
menyerah ya, kalau kamu nyerah perjuanganmu
untuk bertahan sampai sejauh ini akan sia-sia."
Dasha berucap dengan lembutnya membuat hati
Alex kian menghangat.
"Kalaupun kamu butuh teman cerita atau pendengar,
jangan pernah ragu untuk menghubungi aku"
lanjutnya
"Terima kasih, kamu udah mau dengerin keluh
kesah saya. Rasanya saya benar-benar beruntung
[Date] 32
Page 33
bertemu denganmu, maaf karna saya mengganggu
waktu bersantai mu." Ucap Alex merasa tidak enak
pada gadis manis didepannya itu. Ia tidak pernah
menampilkan sisinya seperti ini. Sangat memalukan,
pikirnya.
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga senang bisa
menjadi pendengarmu. Selalu ada sakit yang tidak
bisa dijelaskan, dan ada kecewa yang tidak bisa
diungkapkan. Jangan khawatir akan bagaimana alur
cerita pada bab ini. Cukup jalani dan perankan,
Tuhan selalu menjadi sutradara yang terbaik."
Dasha berucap dengan lembutnya sembari
mengusap pundak Alex pelan. Alex yang tadinya
niat hati ingin memeluk gadis mungil di sebelahnya
ini tidak jadi karena takut. Dan pada akhirnya ia
hanya dapat berani mengelus puncak kepala Dasha,
itu pun juga sangat hati-hati ia lakukan.
Dasha pendengar yang baik, menurutnya.
Baru pertama kali ini ia mengungkapkan isi hati dan
pikirannya pada orang lain. Elio, teman dekatnya
saja bahkan tidak pernah tahu bagaimana Alex yang
sebenarnya.
'DAMN!! MAKSUDMU APA?!! Selalu saja membuat
hatiku bergoyah, tidak sopan dasar!' Ucap Dasha
dalam hatinya. Pipinya merona akibat malu
Sejak malam itu hubungan Alex dan Dasha
semakin dekat, dan sekarang Alex lebih banyak
[Date] 33
Page 34
bicara, itu membuat jantung Dasha tiap hari seperti
tidak dapat terkontrol dengan baik.
---
Jam menunjukan pukul dua belas siang.
Tentu saja ini adalah waktu istirahat kedua. Namun
Dasha masih memainkan jari jemarinya pada
komputer didepannya. Masih banyak tugas-tugas
yang ia belum selesaikan.
Bu Resti meminta tolong pada Dasha untuk
mengerjakan sesuatu. Bodohnya, Dasha mau-mau
saja padahal tugas ia sendiri masih banyak yang
belum selesai.
Memang benar, terkadang terlalu baik itu tidak baik.
Hahaha
Disisi lain, Alex yang tengah asik membaca
buku di kelas tiba-tiba dihampiri oleh bu Zahra. Guru
tersebut meminta tolong pada Alex untuk membantu
memindahkan buku tulis tugas anak kelas dua belas
A ke ruang lab komputer.
Alex mengangguk lalu membawa sekitar dua
pack buku tugas itu ke ruangan lab. Tibanya di sana
langsung ia taruh di atas meja buku-buku tersebut.
"Aduh gimana ini.."
[Date] 34
Page 35
Sama-sama ia mendengar suara seseorang.
Matanya menelusuri arah seisi lab, terlihat di pojok
ruangan ada satu meja yang memancarkan cahaya.
Pasti ada seseorang yang tengah memainkan
komputer disana, pikir Alex.
Ia berjalan mendekati meja tersebut dengan
pandangan waspada.
"Aku harus gimana.. Secepatnya ini harus
diselesaikan.. Ya Allah ya Rabbi tolonglah hamba.."
Ia mendengar suara yang sepertinya tengah
frustasi. Sesampai didepan meja, ternyata benar
ada orang disini. Gadis cantik berhijab dengan
wajah frustasinya, siapa lagi kalau bukan Dasha?
"Dasha?" Sapa Alex
"OIT MAK CURUT KAU KEJEPIT!!" Siapa sangka,
Dasha malah kaget bukan main sampai-sampai ia
memperagakan gerakan silat dengan singkat.
Alex tergelak, melihat tingkah Dasha yang
terkejut seperti tadi baginya sangatlah lucu. Yang di
tertawakan semakin terkejut dalam hatinya. Kenapa
ada Alex disini, pikirnya.
"Alex? Loh kamu sedang apa disini?" Tanya Dasha
membuka obrolan.
"Harusnya saya yang nanya begitu. Saya disuruh
Ibu Zahra buat naruh buku tugas disini, kamu
[Date] 35
Page 36
sendiri?" Balasnya sembari mengambil sejenis kursi
eksekutif berwarna merah untuk ia duduki.
"Ah begitu.." Gadis itu menganggukkan kepalanya
dengan artian paham maksud Alex.
"Aku disuruh Ibu Resti bantu dia bikin proposal,
sedikit merepotkan sih karena tiba-tiba file yang
udah aku ketik hilang gitu aja. Aku harus gimana,
lex? Aku takut, aku kurang mengerti soal per-
komputeran.." Lanjutnys dengan wajah masam nan
suram, ekspresi yang begitu memprihatinkan.
Alex tersenyum, ia berdiri lalu menghampiri
meja Dasha. Dilihatnya benda persegi panjang yang
berdiri di atas meja itu dengan papan ketik
dibawahnya. Tangannya tertuju pada alat yang
bernama 'mouse', yang dimana alat itu masih
dipegang juga oleh Dasha.
DEG!
Jantung Dasha kembali berdebar dua kali
lipat. Oh Tuhan, mengapa harus begini? Dasha lelah
jika harus terus menerus seperti ini dengan Alex.
Bisa-bisa ia terkena serangan jantung yang ada.
"Yang mana yang hilang? Kamu klik opsi info lalu
Manage Document, lalu tekan icon ini.." Alex
menjelaskan secara rinci bagaimana cara
mengembalikan file yang hilang tadi. Namun
sayang,Dasha gagal fokus. Dasha malah terus
[Date] 36
Page 37
memperhatikan wajah tampan Alex dari samping, ia
hanya sedikit mendengarkan apa yang Alex jelaskan
tadi.
'GOD! HE'S SO HANDSOME! I SWEAR!'
Begitulah sekiranya isi hati Dasha ketika
dapat situasi seperti ini bersama Alex. Yah mau
bagaimana lagi, jika perempuan sedang jatuh cinta
mereka akan selalu salah tingkah. Dimanapun itu
dan kapanpun itu saat mereka berinteraksi dengan
seseorang yang mereka sukai.
"Nah, file-nya udah kembali deh," Ucap Alex tiba-tiba
membuat Dasha mengerjapkan matanya langsung.
"H-hah? Eh—oh i-iya bener file-nya udah kembali..
Keren kamu Alex! C-caranya gimana ya.. Wah gak
sangka aku sama kamu bisa sehebat ini!" Kata
Dasha sedikit gugup sambil terkekeh tidak jelas.
Alex yang mendengarnya pun malah
membuat garis lengkung jelas didahinya sembari
menaikkan alis.
"Kamu tidak denger penjelasan saya tadi?"
Pertanyaan Alex langsung membuat Dasha
mengalihkan pandangannya. Baiklah Dasha, mulai
hari ini kamu benar-benar harus mengontrol
debaran hatimu.
"Hah? Oh itu.. Tadi.. Aku.. D-denger kok.. Hehehe,
eumm.. Tadi kamu bilang kalau aku kayak gini lagi
[Date] 37
Page 38
harus tekan icon ini kan?" Ucapnya sambil
mengarahkan pandangan ke monitor dan menunjuk
beberapa icon disana.
Alex menggeleng pelan lalu tersenyum singkat, ia
mengubah posisi menjadi berdiri kembali.
"Bukan itu.. Hah.. Dasar kamu ini, kamu tekan ini lalu
ini. Saya tebak pasti kamu kelelahan karena tugas
Bu Resti ya? Makanya kamu gagal fokus." Alex
berucap dengan tangan terulur mengusap puncak
kepala Dasha singkat.
Dasha menelan salivanya dengan susah
payah. Berapa lama lagi ia akan terbebas dari
senam jantung? Ini perlakuan Alex yang kesekian
kalinya yang selalu membuat Dasha bisa jadi
terkena serangan jantung beneran.
"Sudah jam istirahat kedua, kamu tidak makan? Jika
belum, jangan telat makan. Saya harus kembali ke
kelas, sampai jumpa nanti."
Sebelum pergi, Alex sempat tersenyum
sampai kedua matanya membuat lengkungan sabit
dengan senyum manis khasnya. Dasha tak
bergeming. Pandangannya hanya terus mengarah
ke punggung Alex yang kian menjauh.
"Alex.. Kamu hanya bisa aku pasrahkan kepada
Tuhan yang Maha Esa saja." Gumamnya, lalu
melanjutkan kegiatannya setelah tak melihat lagi
punggung Alex yang menjauh.
[Date] 38
Page 39
---
‘Rasanya seperti tidak ada jarak di antara kita, yang
membuat diriku harus sadar bahwa diantara kita
masih ada pembatas yang tidak bisa di lewati.’
— Dasha Fyneen
[Date] 39
Page 40
BAB 4
Mengikuti takdir
Tiba hari terpenting dihidup antara Dasha dan
Alex. Mewakili Olimpiade antara Satya Mandala
High School dan SMA Victoria. Keduanya sudah
membulatkan tekad untuk menjadi perwakilan
sekolah mereka. Tidak ingin membuat nama
sekolah mereka buruk, mereka belajar mati-matian
sampai sampai Dasha jatuh sakit karena kelelahan.
Begitu pun Alex sampai mimisannya kembali
kambuh. Melihat persiapan keduanya begitu keras
sangat meyakinkan bahwa Satya Mandala High
School akan memenangkan kejuaraan Olimpiade
Sains kali ini. Namun, belum tentu hal itu akan terjadi
karena prediksi masa depan tidak ada yang tahu,
kan?
Dasha dan Alex baru saja sampai di lokasi
tempat perlombaan mereka. Sudah banyak peserta
dari sekolah unggulan berdatangan. Dasha yang
melihat itu, tiba-tiba saja dirinya merasa gemetar.
"Ayo, sha." Ajak Alex pada gadis di sampingnya itu.
"Eh.. Iya, lex." Dasha yang tadinya tengah
memperhatikan kerumunan peserta berlalu lalang
tersadar lalu mengikuti langkah kaki Alex dari
belakang.
[Date] 40
Page 41
Ada rasa takut dan gemetar yang datang
secara bersamaan. Belum memulai apapun, bulir-
bulir bening kecil tampak muncul di kening Dasha. Ia
sedikit merasa gugup saat ini.
Kaki jenjangnya ia langkahkan mengikuti
jejak kaki Alex. Namun, Alex menyadari ada sedikit
suatu hal aneh yang ia rasakan pada Dasha dilihat
dari segi gerak geriknya.
"Ada apa, sha? Kamu sakit?" Tanya Alex
"Oh.. Engga aku gapapa, lex. Kenapa emangnya?"
Balas Dasha diiringi senyum tipisnya.
"Wajah kamu pucet banget, serius engga sakit?
Saya takut kamu kenapa-kenapa" Terlihat jelas
cowok dengan manik mata Hazel itu menampilkan
ekspresi khawatirnya.
Dasha tersenyum menampilkan deretan gigi
rapihnya, membuat Alex diam-diam tersipu melihat
senyum khas gadis mungil itu.
"Tenang saja, aku tidak papa kok! Hanya sedikit
grogi saja tadi hehe" Kata Dasha
Senyumnya manis sekali, pikir Alex.
"A-ah.. Begitu rupanya.. Saya kira kamu sakit, saya
khawatir soalnya. Kamu tidak perlu grogi, selama
ada saya ada bersama kamu mari kita lewati semua
rintangan nya! Ayo cepat, kita sudah ditunggu pak
Ardan di depan sana." Ucap Alex dengan semangat
[Date] 41
Page 42
lalu menarik tangan Dasha perlahan dan kembali
berjalan.
Kini Dasha yang tersipu mendengar ucapan
yang Alex lontarkan tadi. Ditambah tangan
mungilnya di tuntun oleh Alex, itu semakin membuat
perasaan Dasha padanya semakin membesar.
Sayang di sayang, kenyataan tak berpihak pada
keduanya. Itu sangat menyakitkan.
---
Teriakan dan suara gemuruh tepuk tangan
kian menggema, ada juga tangis pilu yang di keluar
tanpa izin akibat terharu. Seperti saat ini, Sarah sang
ibunda Dasha ikut menghadiri acara Olimpiade anak
bungsunya itu. Sarah memeluk anak bungsunya
begitu erat, menumpahkan air mata bahagianya ke
dalam hijab sang anak.
Yah, seperti yang kalian pikirkan.
"Selamat nak, papa bangga sama kamu. Ternyata
kalian seimbang, makanya dapat memenangkan
Olimpiade ini." Ucap Dion, ayahanda Dasha sembari
menepuk pelan baju sang anak.
Pada akhirnya bulir bening di ambang manik
mata ikut jatuh tanpa seizinnya. Dasha merasa
semua hal yang ia lewati hanyalah mimpi. Ia tidak
percaya bahwa ia dan Alex akan benar-benar
berhasil kali ini. Mungkin Allah SWT telah
mendengar doa yang telah Dasha panjatkan. Sujud
[Date] 42
Page 43
syukur ia lakukan, tak lupa mengucapkan kata
Terima kasih dan 'alhamdulillah' berkali-kali.
"Bunda aku masih gak nyangka.. Hiks.. Bunda.. Aku..
Hiks.. Hueee" Layaknya anak kecil yang bicara
terbata sambil menangis, Sarah memancarkan
lengkungan kurva manis ke arah sang anak. Ia
kembali memeluk satu-satunya anak perempuannya
itu dengan erat.
"Ah ternyata aku kalah dengan adikku sendiri ya,"
Ucap Danendra, kakak laki-laki Dasha sembari
menghampiri lalu ikut memeluk sang adik.
"Huweee! Kak Nendraaa... Hiks.. Aku.. Masih.. Hiks..
Gak nyangka.."
Ini momen yang sangat menggemaskan bagi
Danendra. Melihat adik satu-satunya menangis
bahagia karena berhasil memenangkan Olimpiade
ketiga kalinya. Begitu pun dengan Dion, ayahanda
mereka, terlihat sangat puas dan bahagia melihat
keberhasilan anak bungsunya.
Disisi lain, Alex beserta keluarganya ikut turut
bahagia atas keberhasilan memenangkan
Olimpiade kali ini. Namun, keluarganya tidak
seheboh keluarga Dasha. Hanya beberapa kalimat
saja yang ayahanda Alex katakan pada sang anak
semata wayang nya.
[Date] 43
Page 44
"Tingkatkan prestasimu. Papa tidak ingin anak dari
keluarga Christian gagal." Ucap Nevada pada sang
anak dengan raut wajah yang serius.
Alex sudah menduga hal ini akan selalu
terjadi. Keluarga Alex memang terkenal dengan
sikap tegasnya. Tidak heran juga karena ayahanda
Alex ialah sang direktur sebuah perusahaan yang
cukup terkenal. Ia tidak mau keluarganya terdengar
bahkan di cap jelek oleh banyak pihak.
Wajah datar tak berekspresi Alex tampilkan.
Ucapan sang ayah sama sekali tidak membuatnya
senang ataupun sedih, bahkan yang Alex rasakan
hanyalah rasa bosan dan sedikit rasa sakit karena
ayahnya tidak pernah lagi memberinya kata selamat.
"Temanmu ternyata juga seimbang denganmu,
siapa namanya?" Tanya sang ayah
"Dasha Fyneen."
Mendengar nama itu, Nevada memalingkan
pandangan ke arah keluarga teman anaknya yang
tengah menangis bahagia di sebrang sana. Raut
wajahnya sama, datar tak berekspresi. Namun
disaat bersamaan itu, ayah Dasha pun melihat ke
arah keluarga Alex. Pandangan bertemu antara
Nevada dan Dion, Nevada menganggukkan kepala
sekali dengan tujuan memberi sapaan dan selamat
pada keluarga Dasha. Begitu pun sebaiknya, Dion
membalas anggukkan itu dengan tulus.
[Date] 44
Page 45
Alex memandang keluarga Dasha begitu
tenangnya, tanpa sadar seulas kurva manis
mengembang dengan sendirinya.
"Keluarga yang harmonis," Gumamnya, jujur saja
ada sedikit rasa iri yang ia miliki, keluarga yang
lengkap dan harmonis sangat ingin ia rasakan.
Mungkin tidak sekarang waktunya Alex merasakan
itu, namun suatu saat ia pasti akan merasakannya.
---
Satu minggu telah berlalu, selepas kedua
insan membawa pulang piala Emas besar atas
nama sekolah Satya Mandala High School, Alex dan
Dasha semakin menjadi siswa/I unggulan sekolah
mereka.
Keduanya semakin populer belakangan ini.
Selain melihat prestasi mereka yang luar biasa, ada
juga yang mengatakan bahwa Alex dan Dasha
benar-benar cocok. Namun tak sedikit juga yang
mengatakan walaupun mereka cocok mereka tetap
berbeda agama. Kenyataan yang cukup rumit untuk
Dasha terima.
Dasha melangkahkan kakinya di Koridor
sekolah sembari memainkan ponselnya. Banyak
siswa/i yang berlalu lalang dan bercanda ria
sebelum bel masuk berbunyi.
"Hey! Lihat anak itu gak? Kalo kamu perhatian dia
cukup cocok gak si sama si Alex yang katanya the
[Date] 45
Page 46
most wanted itu. Mereka sama-sama pinter juga,
aduh aku jadi iri.." Bisik salah seorang siswi pada
siswi lainnya, biarpun terdengar samar Dasha masih
bisa mendengarnya.
"tapi sayang banget mereka kan beda agama"
Rasa senang Dasha sedikit menghilang
mendengar kalimat terakhir itu. Pikirannya
berkecamuk dan sedikit terganggu dengat kalimat
itu.
Pukk
Seseorang berhasil menyadarkan Dasha yang
sedang melamun.
"Huh.. Kamu kenapa Dasha? Dari tadi aku
panggilkan kamu sama sekali tidak menyahut" ujar
Alesya dengan kesal
"tidak, aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing saja"
jawab Dasha dengan nada lesu
"Hah kalo gitu ayo kita ke uks" ujar Alesya terburu
buru dengan amat panik setelah mendengar
jawaban Dasha
"tidak perlu Alesya, mungkin aku hanya telat makan
saja" bantah Dasha dengan lemas
"kalo begitu ayo kita segera ke kantin" ajak Alesya
"kamu duluan saja, aku masih ada urusan sebentar"
tolak Dasha dengan halus
[Date] 46