Page 47
"yasudah aku akan duluan, jangan lupa untuk
menyusul ku, awas saja sampai tidak! "ancam
Alesya
"iya-iya" jawab Alesya meyakinkan
"oke kalo gitu bye" seru Alesya
"byee"
Selepasnya Alesya pergi ia menuju ke taman
belakang sekolah untuk bertemu dengan Alex,
sebelumnya Dasha sudah menghubungi Alex
terlebih dahulu lewat pesan yang dia kirim.
Terlihat di sana ia mendapati Alex yang
sedang duduk di bangku taman, tidak mau alex
menunggu lama lagi ia segera menghampirinya.
"Hai Alex!" sapa Dasha dengan senyuman cerianya
"Hai juga Dasha" balasnya dengan agak sedikit kaku
"ada apa kamu mengajak saya kesini?" tanya Alex
sedikit penasaran
"emm... Aku ingin mengatakan sesuatu pada mu,
apakah boleh?" tanya Dasha dengan ragu ragu
"tentu, tidak perlu sungkan denganku katakan saja"
jawab Alex
"Apa kamu pernah merasakan getaran di hatimu?
Yah mungkin ini sedikit tidak masuk akal, tapi
memang itu yang selalu aku rasakan saat
[Date] 47
Page 48
bersamamu." Ucap Dasha pelan, ia malu
sebenarnya mengatakan ini pada Alex namun selalu
tidak tahan jika terus di pendam.
Alex yang memang kriterianya memiliki
pendengaran yang cukup tajam, masih bisa
mendengar apa yang Dasha katakan.
"Maksud kamu?" Tanyanya dengan raut wajah yang
bingung
"Apa kamu pernah menyukai seseorang?"
Pertanyaan di jawab pertanyaan, Alex berpikir
bahwa Dasha sedang sakit. Sedari tadi membahas
hal yang Alex tidak mengerti.
Memang ya, pikiran dan hati perempuan sangat sulit
di prediksi.
"Suka seseorang?" Tanya Alex memastikan
Dasha menganggukkan kepalanya pelan,
pandangannya lurus kedepan sesekali melihat kotak
susu yang ia pegang. Dasha tidak cukup berani
melihat wajah Alex untuk saat ini.
"Pernah. Kenapa memangnya?"
"Bagaimana cara kamu mengutarakan isi hati kamu
padanya?"
"Saya tidak pernah bilang pada siapapun. Cukup
saya saja yang tau dan saya rasakan," Jawaban
[Date] 48
Page 49
Alex sedikit membuat keberanian Dasha untuk
menyatakan perasaan padanya menciut.
"Begitu.. Ini mungkin terlihat seperti mimpi. Saya
sedikit takut untuk mengatakan ini.." Dasha
menunduk perlahan, ucapannya sangat membuat
Alex penasaran. Sebenernya apa yang ingin dia
bicarakan?
"Katakan saja. Tidak perlu takut"
"Aku—"
Alex menunggu, dengan sabar mendengar apa yang
gadis mungil ini ingin katakan yang sesungguhnya.
"Sebenarnya aku.."
"Kenapa aku?" Sungguh Alex contoh pria yang
sabar.
"Maaf Alex.. Sebenarnya aku menyukai mu. Maaf
membuatmu menunggu, aku takut untuk
mengatakan ini, jika kamu ilfeel aku benar-benar
minta maaf. " Dasha memilin tangannya dan tanpa
sada menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa
gugup. Ucapan Dasha membuat Alex diam tak
bergeming. Melihat respon yang di berikan Alex
membuat Dasha benar-benar takut dengan jawaban
dan ekspresi Alex nanti.
Alex berusaha keras mencerna semua
perkataan yang Dasha ucapkan barusan. Benar
yang dikatakan Dasha, ini mungkin seperti mimpi.
[Date] 49
Page 50
Plot twist yang benar-benar terjadi, pikirnya.
Alex mengalihkan pandangan ke arah Dasha yang
sedang menundukkan kepalanya. Tanpa sadar
Lengkungan kurva manis tercipta dibibirnya.
"Aku juga menyukaimu, Dasha Fyneen."
Dasha tidak salah dengarkan?Jika ini mimpi
tolong sadarkan dia. Apa yang barusan di ucapkan
Alex tadi membuat jantungnya berdetak lebih cepat
dari biasanya seketika pipinya merah merona.
"A-aapa"
"saya sayang sama kamu, Tapi kita engga mungkin
bersatu, sha. Saya gamau ninggalin pencipta saya
hanya karena ciptaan nya. Begitu juga dengan
kamu" lanjut Alex
yang tadinya guratan wajah Dasha terlihat
senang berubah cepat menjadi murung. Ya sudah
seharusnya ia mempersiapkan hatinya menerima
fakta apa yang sudah di takdirkan oleh tuhan kepada
mereka.
"nyatanya setelah kita saling menyatakan perasaan
tetap tidak ada kemajuan ya lex... Sekuat apapun
cinta kita kepada hambanya tetapi jika tuhan sudah
berkehendak kita tidak bisa melawannya" ucap
Dasha dengan suara yang pelan seperti sedang
menahan tangisnya
[Date] 50
Page 51
"ya kita tetap tidak akan bisa melawan takdir yang
sudah di berikan" balas Alex dengan senyum
tipisnya
"kalau begitu setelah ini , mari kita tetap berteman,
aku berharap kita bisa menghapus perasaan ini
dengan perlahan lahan" Ujar Dasha dengan hati
yang sedikit tak ikhlas
"tentu, kita akan tetap menjadi teman hanya
keadaannya saja yang sedikit berbeda, lain kali mari
kita berbicara tanpa adanya perasaan ini dan di
gantikan dengan perasaan nyaman untuk dijadikan
teman" balas Alex
"pasti! Aku akan menunggu pertemuan kembali
dengan perasaan yang beda dan pastikan untuk
tidak canggung ya lex" ujar Dasha dengan sedikit
candaan
"hahah.. Baiklah sampai jumpa di lain waktu Dasha"
pamit Alex
"sampai jumpa di lain waktu Alex"
---
'aku mencintaimu tapi aku lebih mencintai tuhanku' -
Dasha fyneen
'Terima kasih sudah datang di hidupku alex, mari
kita bertemu di lain waktu dengan perasaan yang
sudah tak sama lagi'
[Date] 51
Page 52
PENUTUP :
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai
cerita pendek yang berjudul “SEAMIN TAPI TAK
SEIMAN“ . Penulis sadar cerita ini masih kurang
sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan
kritik dan saran dari semua pihak serta bimbingan
yang lebih baik lagi.
Cerpen ini penulis tulis atas dasar karangan penulis
dan yang penulis alami, jika ada kekurangan dan
kelemahan dalam cerpen ini, penulis memohon
maaf yang sebesar-besarnya. Penulis berharap
dengan di terbitkan cerita ini, dapat menghibur para
pembaca. Terima kasih
[Date] 52
Page 53
BIOGRAFI
Desnita Maharani, lahir di
Jakarta 14 Desember 2006,
sekarang menetap di
Jakarta timur. Nama
panggilan Desnita atau Nita,
merupakan anak kedua dari
dua bersaudara. Asal SMP
di SMPN 192 Jakarta, lulus
tahun 2022, dan
melanjutkan pendidikan di
SMKN 66 Jakarta dengan
jurusan Usaha Layanan
Pariwisata. Mempunyai hobi
membaca novel dan
mendengarkan musik. Cita-cita dulu ingin menjadi
seorang psikolog lalu berganti menjadi pramugari
ataupun travel agent, lulus sekolah ingin kuliah
ataupun kerja.
[Date] 53