The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

DIKTAT MODUL NUSANTARA PROGRAM PERTUKARAN MAHASISWA SE INDONESIA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI PMM ANGKATAN 1<br>MODUL BHINNEKA 14 KALI<br>MODUL INSPIRASI 3 KALI<br>MODUL REFLEKSI 7 KALI<br>MODUL KONTRIBUSI SOSIAL 1 KALI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Musthofa Kamal, 2023-02-19 23:09:18

DIKTAT MODUL NUSANTARA PROGRAM PERTUKARAN MAHASISWA SE INDONESIA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI PMM ANGKATAN 1

DIKTAT MODUL NUSANTARA PROGRAM PERTUKARAN MAHASISWA SE INDONESIA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI PMM ANGKATAN 1<br>MODUL BHINNEKA 14 KALI<br>MODUL INSPIRASI 3 KALI<br>MODUL REFLEKSI 7 KALI<br>MODUL KONTRIBUSI SOSIAL 1 KALI

Keywords: modul nusantara,modul bhinneka,modul inspirasi,modul refleksi,pmm1

Page 0 of 88 DIKTAT MODUL NUSANTARA PROGRAM PERTUKARAN MAHASISWA SE INDONESIA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI PMM ANGKATAN 1 KODE MATA KULIAH : MN0620068204 NAMA DOSEN : Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, AH, S.Th.I, M.S.I NIDN : 0620068204 UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO 2021


Page 1 of 88 LOGBOOK KEGIATAN MODUL BHINNEKA 14 KALI MODUL INSPIRASI 3 KALI MODUL REFLEKSI 7 KALI MODUL KONTRIBUSI SOSIAL 1 KALI


Page 2 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 1 1. Nama Kegiatan Pengantar Perkuliahan: Pengenalan Kebinekaan di Universitas Sains Al-Qur'an dan Wilayah Wonosobo 2. Tujuan kegiatan Mengenalkan kepada mahasiswa aspek kebinekaan dan kearifan lokal di UNSIQ dan kabupaten Wonosobo 3. Tanggal kegiatan Sabtu 25 September 2021; jam 07.00WIB-11.00WIB 4. Tempat Link Zoom: https://zoom.us/j/95423278754?pwd=Um1RNEV5WHNvb1pERDJFWTczYkRtZz09. Pada tahapan selanjutnya dilakukan pengayaan secara luring. 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 16 mahasiswa, 3 mentor, 1 dosen Narasumber Nara Sumber: Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan modul 1 kebinekaan ini dilakukan secara daring melalui zoom meeting. Pengenalan lokasi kearifan lokal di kampus UNSIQ, pengenalan kabupaten Wonosobo, pengenalan kearifan lokal di daerah Dieng Wonosobo. Mahasiswa, mentor, kita ajak menyimak tayangan video kreasi modul nusantara UNSIQ dan Youtube dan menonotn secara bersama live via zoom melalui spada dikti.


Page 3 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut karena kegiatan dilakukan secara daring, interaksi dilakukan dengan penjelasan lokasi kebinekaan secara interaktif langsung via zoom, antar dosen sebagai narsum, mentor mahasiswa dan peserta modul nusantara


Page 4 of 88 8. Kesan dan Pesan mahasiswa dan para peserta sangat antusias, dengan adanya adanya banyak pertanyaan dan respon positif dengan diskusi interaktif peserta dengan narsum dosen, mentor.kegiatan dimulai jam 07.00-09.00WIb Wonosobo, 25 September 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 5 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 2 1. Nama Kegiatan Modul Kebinnekaan 2: Kearifan Lokal Wonosobo 2. Tujuan kegiatan Mengenalkan kepada para mahasiswa modul nusantara tentang berbagai budaya dan ragam kearifan lokal di daerah kabupaten wonosobo 3. Tanggal kegiatan 2 Oktober 2021 4. Tempat Zoom meeting: Dr. Mustofa Kamal UNSIQ is inviting you to a scheduled Zoom meeting. Topic: Modul Kebinnekaan 2: Kearifan Lokal Wonosobo Time: Oct 2, 2021 07:00 AM Jakarta Join Zoom Meeting https://zoom.us/j/92853529321?pwd=QVZxU1VTMHY4L3lidlZkZ0ZiRHhUUT09 Meeting ID: 928 5352 9321 Passcode: modulns2 Selanjutnya dilakukan pengayaan luring ke tempat-tempat yang dijelaskan 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 16 mahasiswa, 3 mentor, 1 dosen Narasumber Nara Sumber: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Ahmad Verry Virmansyah 3. Dedel Suchi 4. M. Nasrullah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Mahasiswa kami ajak melihat secara virtual berbagai keragaman budaya dan kearifan lokal di wonosobo. pada sesi modul 2 binneka ini, kami terangkan dan tunjukkan secara virtual tentang: tradisi cukur rambut gimbal, tari lengger, carica dieng dan mie ongklok wonosobo. Setelah mengenal beberapa point ragam budaya wonosobo tersebut, harapannya, para mahasiswa ketika diterjunkan secara luring ke wonosobo, sudah bisa adaptasi dengan baik dengan budaya dan kearifan lokal wonosobo.


Page 6 of 88


Page 7 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut tantanganya: kegiatan masih virtual di beberapa pertemuan kuliah modul nusantara pertemuan awal. tindak lanjut: lokasi lokasi penjelasan dalam materi ini akan kami konfimrasi secara langsung bersamam mahasiswa ketika mereka sudah sampai secara luring di wonosobo sekitar bulan novemver 2021 8. Kesan dan Pesan wonosobo adalah kota yang merindukan Wonosobo, 2 Oktober 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 8 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 3 1. Nama Kegiatan Kunjungan ke Desa Adat dan Desa Wisata di Kabupaten Wonosobo 2. Tujuan kegiatan melihat potensi potensi adat dan keragaman budaya, potensi wisata di desa desa adat wonosobo, seperti di desa kadipaten giyanti selomerto, desa igirmanik, desa sembungan, pasar lawas kumandang 3. Tanggal kegiatan 9 Oktober 2021 4. Tempat Daring Zoom: https://zoom.us/j/98869420736?pwd=WjNPYkd3MUxuUkpNenpvVGxVVDE3QT09#succes s Desa kadipaten giyanti selomerto, desa igirmanik, desa sembungan, pasar lawas kumandang 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 16 mahasiswa, 3 mentor, 1 dosen Narasumber Nara Sumber: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Ahmad Verry Virmansyah 3. Dedel Suchi 4. M. Nasrullah Narasumber: Ibu Siti Latifah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan kegiatan kunjungan ke desa adat dan desa wisata di daerah wonosobo ini dilaksanakan secara virtual. Kegiatan kunjungan ini diharapkan bisa memperkaya pemahaman dan pengenalan ragam budaya, adat, ragam wisata dari beberapa desa wisata khas di wonosobo. Para mahasiswa diharapkan dapat memperkaya khasanah ragam adat istiadat dan ragam budaya lokal di daerah wonosobo.


Page 9 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut mahasiswa diberikan tugas untuk mereview potensi ragam adat budaya di wonosobo, yaitu potensi kekayaan budaya pada wayang kedu gagrak wonosobo, pakaian adat pisowanan wonosobo 8. Kesan dan Pesan mahasiswa bisa membawur dengan suasana desa adat di daerah wonosobo. POtensi budaya dan wisata yg baik dna positif, bisa di adopsi kedaerah asal mahaisswa, seperti model pasar lawas kumandangn yg berbilai bisnis dan wisata adat Wonosobo, 9 Oktober 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 10 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 4 1. Nama Kegiatan Kunjungan ke rumah Ibadah agama agama di wonosobo 2. Tujuan kegiatan memperkenalkan budaya toleransi beragama, menghargai perbedaan dan keragaman tempat ibadah dan ritualitasnya 3. Tanggal kegiatan 16 Oktober 2021 4. Tempat Masjid Baitul Quran, Masjid Jami, Masji al mansur, masjid dieng, masjid al furqon, Gerja Katolik wonosobo, gereja betel protestan wonosobo, vihara wonosobo, klenteng wonosobo, pura wonsobo, candi dieng, Candi Borobudur https://zoom.us/j/91932995494?pwd=REtseGtTQ3hFMXpBdGQzRUpRRzRydz09#success kegiatan selanjutnya dilakukan pengayaan luring ke lokasi-lokasi tersebut. 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 16 mahasiswa, 3 mentor, 1 dosen Narasumber Nara Sumber: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Ahmad Verry Virmansyah 3. Dedel Suchi 4. M. Nasrullah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Kunjungan Ke tempat Ibadah Agama agama di Wonosobo Hampir selama sepuluh tahun saya pribadi banyak mengunjungi tempat-tempat ibadah pemeluk agama lain, utamanya tempat ibadah pemeluk agama lain yang ada di berbagai kabupaten dan provinsi. Kali ini kita akan melihat tempat ibadah agama agama di Wonosobo, yaitu masjid, gereja, klenteng, vihara, pura.


Page 11 of 88 Selama mengadakan kunjungan di mana pun di negara Indonesia ini, kita bisa diterima dengan baik. Tidak ada saling curiga dan tidak ada sesuatu yang aneh dalam alur dialog antarmereka. Terasa selama mengadakan dialog dan tukar pikiran saling memahami dan memberikan penghormatan terhadap pemeluk agama dan keyakinan masing-masing. Justru dengan banyak mengadakan dialog tersebut semakin tumbuhnya berbagai pengertian, pemahaman terkait apa-apa yang sesungguhnya menjadi bibit-bibit kesalahpahaman antarpemeluk agama dan keyakinan itu.


Page 12 of 88 Keterbukaan terhadap apa-apa yang diperbolehkan dan dilarang dalam agama dan keyakinan sering kali menjadi perbincangan hangat di antara mereka. Berakhir dengan pemahaman dan pengertian baru. Sehingga justru antarmereka mempunyai respon yang baik dengan berbagai hal terkait hubungan sosial dengan menempatkan yang seharusnya dan senyatanya dalam ranah hubungan sosial kemasyarakatan. Hingga pemahaman itu mencapai masalah hidangan pun sebagai bentuk sambutan perjamuan dalam konteks bertamu, pesta pernikahan, dan acara-acara lainnya menjadi perhatian yang sangat intens. Kondisi semacam ini penting, agar dapat mengedepankan toleransi dan moderasi beragama, di samping perlu tidak menyalahi hukum/ fiqih ibadah antar masing maisng agama. Karena realitas dalam kehidupan di Kabupaten Wonosobo, adalah kota kecil, kehidupan keberagaman sedikit heterogen dibanding dengan tempat-tempat lainnya, amyoritas di dominasi oleh muslim dengan bangunan masjidnya. Karena itu berbagai kearifan jadi jaminan untuk makna berbagai kebersamaan. Menyimak realitas di atas, perlu membangun hubungan yang harmonis. Ketidakharmonisan dalam hubungan sosial kemasyarakatan hanya akan memperburuk keadaan dan semakin melemahkannya pengelolaan berbagai potensi yang seharusnya dapat dikembangkan bersama. Konflik sangat dekat dengan ketidakberdayaan kondisional masyarakat. Sudah banyak yang dapat disaksikan di sejumlah tempat lain, dengan konflik yang tidak ada ujungnya antarsuku, golongan, agama dan keyakinan semakin menambah runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan dan berbagai pelecehan norma agama yang tidak terkendali. Demikianlah berbagai kunjungan saya bersama dengan anggota FKUB Wonosobo di sejumlah tempat ibadah pemeluk agama lain berjalan dengan baik. Tidak lain bertujuan agar dapat saling memahami dan menghargai perbedaan dalam realitas kehidupan. Agar antarumat beragama dapat hidup berdampingan dengan aman, tenteram, rukun dan damai. Hubungan baik antarumat pemeluk agama dan keyakinan suatu keniscayaan dan hubungan umat pada agama dan keyakinan masing-masing sebagai suatu pilihan. Sangat azazi! Sekali lagi, Sangat azazi! Sebagai sumpah bahasa agama, sumpah makna Berbangsa, dan sumpah hakekat pijakan Tanah Air Indonesia Raya. 7. Tantangan dan Tindak Lanjut mahasiswa tertatanam semangat toleransi dalam mengharagai keragaman dan perbedaan cara beribadah 8. Kesan dan Pesan mahasiswa semakin mengharagai arti sebuah perbedaan Wonosobo, 16 Oktober 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 13 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 5 1. Nama Kegiatan Membaca Islam Wonosobo & Kunjungan ke Makam 2. Tujuan kegiatan Memberi pemahaman sejarah agama islam masuik ke wonosobo, proses akulturasi budaya dan islamisasinya. Mahasiswa ditugaskan untuk menceritakan sejarah masuknya agama nya masing masing di daerah masing masing, sehingga bisa dipahami proses damai, akulturasi masuknya sebuah agama. 3. Tanggal kegiatan 23 Oktober 2021 4. Tempat makam makam bersejarah di wonosobo, makam syekh qutbudin, makam syekh kolodete dieng, makam seyikh abdullah selomanik, makam mbah muntaha https://zoom.us/j/94827816765?pwd=eUx3c2lSakJjbDIvb0NCbGcyUENOQT09#success 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 16 mahasiswa, 3 mentor, 1 dosen Narasumber TIM Modul: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Ahmad Verry Virmansyah 3. Dedel Suchi 4. M. Nasrullah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan kegiatan dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang islamisasi di wonosobo. dilanjutkan kunjungan ke makam para penyebar islam wonosobo. Pesan modul ini adalah adanya akulturasi agama dengan budaya lokal wonosobo.


Page 14 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut mahaisswa menjadi paham proses akulturasi budaya dengan masuknya agama islam dan agama agama yang lain di daerah asal para mahasiswa


Page 15 of 88 8. Kesan dan Pesan menjadi momen toleransi Wonosobo, 23 Oktober 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 16 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 6 1. Nama Kegiatan Interelasi agama agama di wonosobo 2. Tujuan kegiatan memahamkan dan menumbuhkan budaya tolerasni 3. Tanggal kegiatan 30 Oktober 2021 4. Tempat media virtual, menonton film documenter https://zoom.us/j/93565203844?pwd=MUN0ZlBIQTRTTUhRbTU2eE1GejNUQT09#success selanjutnya dilakukan pengayaan secara luring ke lokasi-lokasi yang sudah dijelaskan. 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 16 mahasiswa, 3 mentor, 1 dosen Narasumber Nara Sumber: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Ahmad Verry Virmansyah 3. Dedel Suchi 4. M. Nasrullah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Mahasiswa diajakan mengkaji resolusi konflik dan model model toleransi antar agama 7. Tantangan dan Tindak Lanjut mahasiswa menyimak film dokumenter tolerasnsi agama agama, kemudian dilakukan ujian (mid exam) sebagai alat ukur pemahaman interelasi agama, toleransi dan resolusi konflik agama.


Page 17 of 88 8. Kesan dan Pesan menarik dan penuh tantangfan Wonosobo, 30 Oktober 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 18 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 7 1. Nama Kegiatan Bentuk Toleransi beragama di daerah Wonosobo. Kunjungan kebinekaan ke pura girimulyo, desa candiyasan, kec. Kertek kab. Wonosobo. 2. Tujuan kegiatan Memupuk spirit toleransi beragama antar mahasiswa PMM 3. Tanggal kegiatan 20 Nopember 2021 4. Tempat Luring Kunjungan kebinekaan ke pura girimulyo, desa candiyasan, kec. Kertek kab. Wonosobo. 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 12 mahasiswa luring, 4 mhasiswa mengikuti daring spada, 3 mentor, 1 dosen Modul, 1 Dosen Fasilitator TIM Luring: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Nul Ngaffan, M.Kom 3. Ahmad Verry Virmansyah 4. Dedel Suchi 5. M. Nasrullah Narasumber: Dr. M. Ali Mustofa Kamal, Bapak Agus Candiyasan 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan pada kunjungan dan observasi langsung bersama 12 mahasiswa PMM ini sekaligus mengantar saudari Radiyta merayakab hari kuningan dan ritual nya di pura tersebut. Para mahasiswa PMM yang diajarkan memiliki sifat toleransi dan bineka dengan fenomena perbedaan ritual keagamaan tersebut.


Page 19 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut bagaimana para mahaisiswa bisa tertanam semangat bertoleransi secara riil dalam kehidupan ermasyarakat dan sehari hari 8. Kesan dan Pesan berkesan dan bermanfaat. mahasisswa pmm menghargai ritual kuningan sdr raditya yg beragama hindu Wonosobo, 20 Nopember 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 20 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 8 1. Nama Kegiatan Ragam warisan budaya di wonosobo, kunjungan budaya secara langsung ke candi candi di dieng 2. Tujuan kegiatan Observasi langsung mahsw PMM pada hari Ahad, 28 November 2021, Candi-Candi di Dataran Tinggi Dieng 3. Tanggal kegiatan 28 Nopember 2021 4. Tempat Luring Desa Dieng Kab Banjarnegara-Wonosobo 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 12 mahasiswa luring, 4 mhasiswa mengikuti daring spada, 3 mentor, 1 dosen Modul, 1 Dosen Fasilitator TIM Luring: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Nul Ngaffan, M.Kom 3. Ahmad Verry Virmansyah 4. Dedel Suchi 5. M. Nasrullah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Candi Dieng merupakan sebuah kompleks candi yang berasal agama Hindu-Siwa, terletak di tanah dataran tinggi Dieng (Dihyang), dengan ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut, berukuran panjang 1 km dan lebar 0,8 km. Di sebelah utara terletak Gunung prahu dan dari arah gunung ini mengalir Sungai Tulis ke arah selatan, masuk ke dataran tinggi Dieng dan dahulunya membentuk semacam danau yang dikenal dengan nama Bale Kambang. Agar air tidak terlalu penuh terdapat saluran berupa pipa yang disebut Saluran Aswatama yang sebagian ditemukan di dekat Candi Arjuna. Candi-candi di Dataran Tinggi Dieng diberi nama-nama tokoh pewayangan, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Gatotkaca. Melihat nama-namanya, jelas bukan nama tokoh Mahabharata India karena termasuk di dalamna nama punakawan Semar. Hal itu berarti nama-nama tersbut bukan nama asli candi-candi Dieng. Dilihat dari 21 Bangunan, Candi Dieng terbagi menjadi 5 Kelompok. 4 Kelompok bangunan ceremonial site( tempat pemujaan) yaitu : Kelompok Candi Arjuna (pendawa 5) Kelompok Candi Gatut Kaca Kelompok Candi Bhima Kelompok Chandi Dwarawati/Parikesit.


Page 21 of 88 Kelompok Candi Magersari. Dan Kelompok Kelima adalah bangunan tempat tinggal (setlement site ) yang sisa-sisa puingnya masih bisa anda lihat disekitaran komplek candi Arjuna. 7. Tantangan dan Tindak Lanjut Baru-baru ini, Komplek candi yang lain juga ditemukan, yaitu Candi Setyaki. Sebagaimana pada umumnya candi-candi di Jawa, Candi Dieng memiliki corak agama Siwa. Dari sebuah Prasasti yang ditemukan didalam kompleks, terdapat angka tahun 713 saka atau sama dengan 809 masehi, sehingga kemungkinan besar Candi-Candi Dieng berasal dari abad VIII-IX. Namun terdapat kemungkinan lain bahwa Candi-candi tersebut ada yang lebih tua yaitu dari sekitar pertengahan abad VIII. Candi-candi di Dieng memiliki nama-nama tokoh pewayangan seperti Candi Arjuna, candi Semar, Candi Srikandi, Candi untadewa,Candi Sembadra, Candi Bima, Candi Dwarawati,Candi Gatotkaca. Tapi nama-nama tersebut jelaslah bukan saduran Tokoh Mahabharata, hal tersebut terlihat dari nama salah satu Candi yang adalah tokoh Punakawan yaitu Candi Semar. Kompleks Candi Dieng diperkirakan merupakan bangunan Candi Siwa Tertua dari Masa Klasik Tua. 8. Kesan dan Pesan mahasiswa memahami warisan hindu dan budaya jawa kuno berupa candi Wonosobo, 28 Nopember 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 22 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 9 1. Nama Kegiatan Observasi langsung mahsw PMM pada hari Sabtu, 4 Desember 2021, Sejarah Budaya Wonosobo: Kunjungan ke Museum Candi di daerah Wonosobo dan Dieng 2. Tujuan kegiatan memberikan wawasan budaya lokal wonosobo kepada para mahasiswa PMM 3. Tanggal kegiatan 4 Desember 2021 4. Tempat Luring Museum Kailasa Dieng, Desa Dieng Kulon Komplek Candi Arjuna, Kab. Bajarnegara 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 12 mahasiswa luring, 4 mhasiswa mengikuti daring spada, 3 mentor, 1 dosen Modul, 1 Dosen Fasilitator TIM Luring: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Nul Ngaffan, M.Kom 3. Ahmad Verry Virmansyah 4. Dedel Suchi 5. M. Nasrullah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Museum Kailasa yang berdiri di atas lahan seluas 560 meter persegi terdiri dari dua bangunan. Bangunan yang ada di sisi depan merupakan bangunan yang pertama dibuat. Bangunan ini didirikan pada tahun 1984. Di dalam bangunan ini, disimpan berbagai benda yang berhubungan dengan candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Bagian-bagian candi yang disimpan di museum ini untuk menghindari pencurian atau karena tidak diketahui posisinya di bangunan candiBatu-batuan andesit yang digunakan untuk membangun candi. Di Dataran Tinggi Dieng, terdapat beberapa daerah yang menyimpan batu andesitMuseum Kailasa buka dari jam 07.00 sampai 16.00 WIB. Tiket masuk ke museum ini seharga Rp5.000 per orangRatna merupakan bagian kemuncak yang merupakan lambang trimurti. Keberadaannya menunjukkan candi tersebut berlatar belakang HinduBangunan kedua diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada 28 Juli 2008Karena berada di ketinggian, ada beberapa flora yang hanya tumbuh di kawasan Dataran Tinggi Dieng, seperti purwaceng dan caricaMuseum Kailasa di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, merupakan tempat yang harus dikunjungi sebelum mengeksplorasi DiengMuseum yang terdiri dari dua bangunan dan berdiri di atas lahan seluas 560 m2 ini menyimpan berbagai informasi penting tentang Dataran Tinggi DiengSelain Ratna, tersimpan pula berbagai jenis kemuncak lain. Semua koleksi di museum ini berasal dari kompleks candi yang ada di Dataran Tinggi DiengKoleksi di bangunan kedua lebih beragam, seperti keadaan geografis Dataran Tinggi Dieng, flora dan fauna, kesenian,


Page 23 of 88 candi, hingga kehidupan masyarakat DiengLuas candi di Dataran Tinggi Dieng diperkirakan seluas 90 hektare, sehingga upaya pelestarian candi menjadi hal penting untuk dikomunikasikanBangunan yang berada di bagian depan dibangun pada tahun 1984. Bangunan ini menyimpan berbagai benda yang terkait dengan candi. Masuk ke dalam bangunan ini, pengunjung akan menemukan berbagai arca, mala, makara, kemuncak atau atap candi, lingga dan yoning, tungku untuk menaruh sesaji, nandi atau tunggangan Dewa Syiwa dan Dewi Durga yang bertubuh singa dan berkepala sapi, mahakala, batu penutup, kinara kinari (mahluk khayangan), dan siva trisirah atau Dewa Syiwa yang memiliki tiga wajah. Semua benda yang disimpan di bangunan pertama merupakan bagian dari candi-candi yang ada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Benda-benda tersebut disimpan di museum ini demi alasan keamanan atau tidak ditemukan posisinya dalam sebuah bangunan candi. Sementara, bangunan kedua diresmikan pada tanggal 28 Juli 2008 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, Jero Wacik. Di ruangan ini, tersimpan koleksi yang lebih beragam. Pengunjung dapat mengetahui sejarah terbentuknya Dataran Tinggi Dieng setelah letusan Gunung Prahu Tua, sumber batu andesit (batu yang digunakan dalam pembuatan candi) yang ada di Dataran Tinggi Dieng, serta sistem kepercayaan masyarakat Dieng. Di bangunan ini juga disajikan informasi mengenai keragaman kesenian dan kebudayaan yang tumbuh di masyarakat Dieng, dan perihal anak berambut gimbal. Di sini juga terdapat sebuah ruang untuk menonton film. Film yang diputar di sini menceritakan keseharian masyarakat Dieng. Museum Kailasa buka setiap hari dari jam 07.00 WIB sampai dengan jam 16.00 WIB. Tiket masuk ke tempat ini Rp5.000 per orang.


Page 24 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut Museum ini memberikan tantangan kepada para mahasiswa , bagaimana kondisi pemugaran budaya dan penemiuan artefak candi dan patu8ng di zaman purba dieng, yaitu sejarah para kejayaan sanjaya dan syailendra 8. Kesan dan Pesan mahasiswa sangat senang dan penuh antusisas untuk mengetahui kisah syaelandra dan sanjaaya. Wonosobo, 4 Desember 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 25 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 10 1. Nama Kegiatan Observasi langsung mahsw PMM pada hari Sabtu, 4 Desember 2021, Modul Kebhinnekaan 10: Kekhasan Makanan Lokal: Kunjungan ke Tempat pembuatan carica, geblek, tempe kemul, mie ongklok 2. Tujuan kegiatan Memberikan pengalaman langsung ke pmahsw PMM tentang makanan dan kuliner khas wonosobo 3. Tanggal kegiatan Sabtu, 18 Desember 2021 4. Tempat Luring Desa Dieng Kulon, Resto Ongklok Bugangan Wonoosobo 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 12 mahasiswa luring, 4 mhasiswa mengikuti daring spada, 3 mentor, 1 dosen Modul, 1 Dosen Fasilitator TIM Luring: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Nul Ngaffan, M.Kom 3. Ahmad Verry Virmansyah 4. Dedel Suchi 5. M. Nasrullah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan 11 MAKANAN KHAS WONOSOBO RASANYA MANJA DI LIDAH Makanan khas Wonosobo menjadi kuliner wajib yang harus dicicipi ketika berlibur ke kawasan pegunungan Dieng ini. Tak hanya lezat, beberapa makanan tradisional berikut ini cocok disantap sambil minum teh hangat di tengah udara Wonosobo yang dingin. Tak hanya lezat, makanan tradisional Wonosobo juga dikenal murah meriah. Apa saja Makanan Khas Wonosobo yang wajib kamu coba 1. Mi Ongklok 2. Carica 3. Keripik Jamur 4. Megono Dll


Page 26 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut mahasissa tertantang melihjat potensi bisnis kulioner khas wonosobo 8. Kesan dan Pesan enak dan klezat, bikin nagih Wonosobo, 18 Desember 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 27 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 11 1. Nama Kegiatan Kunjungan Binneka PMM UNSIQ ke Pabrik Yuasa: sentra pembuatan produksi Carica khas Wonosobo 2. Tujuan kegiatan Memberi wawasan dan pengalaman langsung ke mahasiswa PMM tentang pembuatan Carica di Pabrik Yuasa Food 3. Tanggal kegiatan 27 November 2021 4. Tempat Pabrim Yuasa Food, Sibunderan Munggang Wonosobo 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 12 mahasiswa luring, 4 mhasiswa mengikuti daring spada, 3 mentor, 1 dosen Modul, 1 Dosen Fasilitator TIM Luring: 1. Dr. M. Ali Mustofa Kamal 2. Ahmad Verry Virmansyah 3. Dedel Suchi 4. M. Nasrullah 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Kota Wonosobo yang terletak kurang lebih 92 kilometer dari Kota Semarang sebagai Propinsi Jawa Tengah, Wonosobo memang menyimpan banyak potensi wisata, baik wisata alam maupun wisata boga. Wisata alam yang dapat dikunjungi antara lain Candi Hindu. Pendawa Lima yang dibangun pada abad ke sembilan, Kawah Dieng dan Sinila yang sampai sekarang masih aktif, Telaga Warna dan Telaga Balaikambang. Selain itu, kita juga bisa menemui anak-anak berambut gimbal sejak lahir. Wisata Boga yang ditemui juga tak kalah menarik, disana kita bisa menemui berbagai camilan khas Wonosobo seperti kacang koro, kripik jamur, dendeng, bahkan purwaceng (Pimtinella pruacen), yang dikenal sebagai obat kuat (viagra) lokal. Kuliner yang paling khas di Wonosobo adalah manisan carica, dimana carica adalah buah pepaya gunung dengan buah kecil, yang disajikan dalam campuran manisan dan sirup serta dikemas dalam botol serupa botol selai. Pada tahun 1980-an di Wonosobo berdiri PT. Dieng Jaya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengalengan buah-buahan agro (hortikultura) dan jamur merang (champignon), dengan jumlah karyawan antara 3200-3500 orang dengan produksi sekitar 1,5 juta ton jamur segar per tahun. PT. Dieng Jaya waktu itu merupakan produsen jamur terbesar di dunia, apabila dibandingkan dengan total produksi jamur segar dari Amerika Serikat, Eropa dan Asia yang hanya sekitar 1,3 juta ton dan 700 ton manisan carica per tahun. PT. Dieng Jaya berhenti beroperasi pada tahun 2003, penutupan PT. Dieng Jaya tidak hanya berpengaruh pada lebih dari 3200-3500 karyawan yang mendadak kehilangan pekerjaan, tetapi juga pada sekitar 700 keluarga petani plasma yang bekerja sama dengan


Page 28 of 88 perusahaan ini yang menggunakan pola inti rakyat (PIR). (Anonim, 2003) Setelah PT. Dieng Jaya tidak beroperasi lagi, para agen dan toko-toko yang menjual produk manisan carica dan sirup menjadi kesulitan mendapatkan produk tersebut, sementara petani buah kesulitan melempar produk carica sampai buah banyak yang busuk. Permintaan pasar yang cukup besar para agen dan melimpahnya bauh carica ini kemudian ditanggapi oleh Bapak Trisila untuk membuat industri kecil manisan dan sirop carica. Pada tahun 2005 berdirilah CV. Yuasa Food, Kepodang Mas, Usaha bersinar, kebanyakan merupakan mantan karyawan dari PT. Dieng Jaya yang berada di Wonosobo dan sekitarnya. Saat ini diketahui ada sekitar lebih dari 20 produsen manisan buah carica dan sirup carica di Wonosobo, yang terbagi dalam dua kelompok yaitu Kelompok Usaha Maju Bersama yang diketuai oleh Ibu. Hj. Uswatun di Desa Tieng Kejajar dan Kelompok Usaha Bersinar yang diketua oleh Bapak H. Sutoyo, dari hasil Ibm carica 2013 kemarin maka dipilih CV. Kepodang Mas desa Kalianget dan CV. pemilik manisan CV. Yuasa Food Desa Kejajar Kabupaten Wonosobo. Dari tinjauan lapangan pada program IbM rata-rata produsen syrup/manisan carica adalah mantan karyawan Dieng Jaya. Kendala yang dihadapi hampir sama yaitu banyak UKM carica yang muncul belakangan ini, menimbulkan bahan baku baru terpenuhi 60%, modal, kualitas kadang tidak sama dan sertifikat HACCP sebagai syarat eksport bahan pangan. Dalam hal ini disepakati permodalan ditanggung oleh Dinas Koperasi dan UKM yang akan menghubungkan dengan lembaga keuangan yang ada di Kabupaten Wonosobo (BRI). Perbaikan kualitas akan dilakukan oleh UKM bersama Program Studi Diploma III Teknik Kimia Undip sehingga kualitas produk seragam, kualitas yang terkontrol dalam setiap tahapan proses ini merupakan persyaratan dalam memperoleh sertifikat HACCP. Bahan baku kerja sama UNDIP dengan Dinas Pertanian Kab. Wonosobo untuk pengaturan pola tanam dan budi daya tanaman carica. Dengan pola PIR (perkebunan inti rakyat), carica berbuah sepanjang musim dengan pola PIR maka distribusi buah carica ke perusahaan dapat merata. Kekurangan bahan baku yang terjadi saat ini dapat terpenuhi sehingga kebutuhan pasar tercukupi. Adanya laboratorium mini, penataan manajemen keuangan dan budi daya tanaman diambah promosi yang gencar ini diharapkan dapat mempercepat UKM Carica Go internasional. Pembuatan Standart operasinal Prosedure sehingga di hasilkan produk yang mempunyai kualitas yang sama, dengan melakukan control tiap tahapan proses sehingga didapat kualitas produk yang sama. Untuk Yasa food akan melakukan deversifikasi produk dari syrop carica menjadi Pulpy Carica, Podang Mas mengejar sertifikasi HACCP sebagai persyaratan untuk eksport, Maju Makmur melakukan pembenahan laboratorium mengontrol kualitas dari produknya. Sedangkan standart operasi prosedure pembuatan manisan carica dan syrop carica adalah sebagai berikut: Prosedure Produksi Manisan Carica a. Setelah buah carica diterima dari petani kemudian dilakukan sortasi sehingga didapat buah carica yang bagus. b. Pengupasan dilakukan oleh mayoritas tenaga kerja wanita, mengingat sifat buahnya yang sangat banyak mengandung, getah para pekerja memakai sarung tangan.


Page 29 of 88 c. Untuk mengurangi getah dari buah carica ini maka sebelum dikupas carica direndam dalam air panas sekitar 15 menit. Setelah itu baru dikupas, biji buah dikeruk dan dipisahkan dengan daging buahnya. d. Biji buah inilah yang nantinya diperas untuk membuat sirup yang memberi cita rasa khas pada buah. e. Biji buah ini berwarna hitam, dan di luarnya ada selaput putih yang membungkus seluruh biji. Biji dan selaput putih inilah yang disesap-sesap untuk menikmati buah carica secara tradisional. f. Setelah dipisahkan dengan bijinya, buah dipotong-potong dengan bentuk yang menarik dan supaya dapat dikemas dalam botol. Pembuatan sirup buah a. Biji beserta selaput yang melapisinya dengan ditambah sedikit air diperas, sampai keluar cairan kental yang berbau khas buah carica. Pemerasan dapat dilakukan berkalikali sampai aroma khas tersebut hilang. b. Setelah diberi air dan gula pasir secukupnya, sirup tersebut direbus sampai mendidih. c. Sirup yang sudah jadi harus disaring untuk dipisahkan dengan ampasnya. d. Buah dipotong-potong dan dicuci bersih dan setelah sirup jadi, keduanya langsung dicampur dan dikemas dalam botol. Prosesnya adalah sebagai berikut: (1) Botol dan tutup yang akan digunakan terlebih dahulu dicuci bersih. (2) Kemudian panci/dandang berisi air yang akan digunakan juga terlebih dahulu dipanaskan sampai airnya mendidih. ( stirilisasi secara sederhana ). (3) Buah yang telah dipotong-potong terlebih dahulu dimasukkan ke dalam botolbotol, botol yang telah berisi potongan buah ditimbang. (4) Sirup ditambahkan sampai botol penuh dan distirilisasi selama kurang lebih 15 menit. botol diambil dari dandang kembali dan ditutup rapat-rapat. (5) Proses pengawetan dilakukan dengan pateurisasi selama kurang lebih 15 menit. Cara pengawetan ini membuat buah carica dalam sirup bertahan sampai > 6 bulan. (6) Untuk proses produksi baik di Yuasa food kuantitasnya besar maupun, sedangkan di Podang Mas yang berbeda podang mas kualitas lebih baik sehingga daya simpan dapat mencapai 1tahun.


Page 30 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut mahasisiwa membuat dan mepraktekkan langsung proses pembuatan carica nanti di daerah masing maisng 8. Kesan dan Pesan bagus , menyenangkan dan amazing pola bisnis dan prosduksinya Wonosobo, 27 November 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 31 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 12 1. Nama Kegiatan Kunjungan Bhinneka ke Kawah si Kidang Dieng Banjarnegara 2. Tujuan kegiatan memberikan wawasan dan pengalaman kepada mahasiswa tentang ptensi wisata budaya di kawasan Kawah si Kidang Dieng Banjarnegara 3. Tanggal kegiatan Selasa, 30 November 2021 4. Tempat Luring: Kawah si Kidang, Dieng Banjarnegara 5. Jumlah Peserta dan Narasumber Jumlah mhsw PMM: 12 luring, daring 4 Mentor: 3 Pendamping: 1 Dosen: 1 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Dieng Plateau, Kawah Sikidang adalah kawah yang masih aktif dan mengeluarkan gas, uap air dan material vulkanik lainnya. Disamping memiliki sejarah geologi yang panjang, banyak kisah legenda dan mitos tentang Kawah Sikidang dan Anak Gimbal di Dieng. Kawah Sikidang merupakan salah satu obyek wisata alam yang berada di dataran tinggi Dieng Wonosobo, Jawa Tengah. Dataran Tinggi Dieng terbentuk karena letusan gunung Prahu Tua yang terjadi berabad-abad yang lalu, namun aktivitas vulkanik dikawasan ini masih berlangsung aktif hingga saat ini, salah satunya bisa kita saksikan di Kawah Sikidang. Kawah Yang Sering Berpindah dan Melompat-lompat Salah satu daya tarik dari Kawah Sikidang adalah legenda dari si kawah ini. Konon, pemberian nama Sikidang tidak bisa dilepaskan dari karakter si kawah yang hobi "melompat-lompat", yaitu terlihat dari letupan-letupan lumpur panas yang suka berpindah-pindah bahkan terkesan seperti melompat-lompat dari satu tempat ke tempat yang lain. Letak letupan-letupan kawah yang suka berpindah-pindah inilah yang diibaratkan seperti karakter seekor kidang (kijang) yang suka melompat-lompat. Terlepas dari legenda yang beredar, jika diperhatian lebih mendalam pada bagian tanah gersang berwarna keputihan yang berada di sekitar kawah masih terlihat aktivitas vulkanik di bawahnya. Di bagian lahan yang diberi tanda peringatan masih terlihat beberapa bagian yang mengeluarkan asap vulkanik dan juga lumpur yang cukup panas. Legenda Pangeran Kidang dan Anak Gimbal Selain informasi ilmiah geologi tentang Dataran Tinggi Dieng, tersebar meluas sebuah kisah dan legenda mengenai Kawah Sikidang dan Rambut Gimbal untuk melengkapi khasanah kearifan tradisional setempat. Pada masa lalu, di sekitar kawasan Dieng, hiduplah seorang


Page 32 of 88 gadis cantik yang bernama Shinta Dewi, dan kecantikan Shinta Dewi tersebar ke penjuru daerah sehingga banyak pemuda yang ingin meminangnya. Sayangnya, tidak ada yang berhasil meminang Shinta Dewi karena memberikan persyaratan mas kawin dalam jumlah besar. 7. Tantangan dan Tindak Lanjut mitologi kawah si Kidang dan Potensi wisata menjadikan keunikan sendiri pada lokasi kujungan binneka hari ini 8. Kesan dan Pesan


Page 33 of 88 Bagus tempat lokasi nya dan sebagai objel wisata yang tertata dengan baik, alami. Wonosobo, 30 November 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 34 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 13 1. Nama Kegiatan Kunjungan ke Desa Adat Binangun: Penganut Aliran Kepercayaan dan Islam Aboge 2. Tujuan kegiatan memberikan wawasan dan pengalaman mahasiswa tentang aspek penganut kepercayaan yang diyakini seseorang, memotret aspek Epistemologi kepercayaan 3. Tanggal kegiatan Luring Minggu, 31 Oktober 2021 4. Tempat Desa Adat Binangun Kelurahan Mudal Kec Mojotengah 5. Jumlah Peserta dan Narasumber Jumlah mhsw PMM: 12 luring, daring 4 Mentor: 3 Pendamping: 1 Dosen: 1 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Kepercayaan Aboge masih bertahan dari generasi ke generasi di dusun Binangun. Penganutnya hidup rukun dan sangat menghargai keberagaman. Rumah berdinding kayu Albasia itu tampak paling tua, bila dibandingkan dengan bangunanbangunan rumah lain yang berderet di sekitarnya. Rumah itu memang sudah berumur seratus tahun lebih. Lebih tua dari usia para penghuninya. “Ini warisan dari kakek saya,” ujar Sarno Kusnandar, pemilik rumah, saat ditemui di rumahnya. Sarno merupakan tetua penghayat kepercayaan Aboge di daerah perbukitan yang sejuk nan indah, di dusun Binangun, desa Mudal, kecamatan Mojo Tengah, Wonosobo. Dialah yang sampai saat ini merawat rumah tua itu bersama istri dan anak-anaknya. Dia juga yang terus menjaga dan menjalankan kepercayaan Aboge dari waktu ke waktu. Bahkan, rumah Sarno itu sering dijadikan tempat berkumpul sejumlah warga dusun Binangun penganut kepercayaan Aboge dalam melakukan berbagai macam ritual. *** “Sejak kapan kepercayaan Aboge ada di Wonosobo?” Sarno sendiri mengaku tidak tahu persis kapan kepercayaan Aboge muncul pertama kali di Wonosobo, terlebih di dusunnya. Sejak kecil, kata dia, Aboge memang sudah diajarkan oleh orang tuanya. Turun temurun.


Page 35 of 88 Menurut Sarno, penganut kepercayaan Aboge memiliki kalender atau penanggalan sendiri. Kalender Aboge ini berbeda dengan kalender Hijriyah. Sebab itu, orang yang menggunakan kalender Aboge pasti berbeda dengan orang yang menggunakan kalender Hijriyah dalam menetapkan hari-hari penting seperti hari raya Idul Fitri, misalnya, dan hari-hari penting lainnya. Dalam kalender Aboge disebutkan bahwa dalam kurun waktu sewindu, terdiri dari tahun Alif, Ha, Jim, Awal, Za, Dal, Ba, Wau dan Jim akhir. Dalam satu tahun, terdiri dari 12 bulan. Satu bulan terdiri dari 29-30 hari, dengan hari pasaran berdasarkan penghitungan Jawa yakni Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Dan, hari pasaran pertama dalam tahun Alif jatuh pada hari Rabu Wage. Sebutan Aboge, lanjut dia, itu sebenarnya kepanjangan dari Alif Rebo Wage. “Aboge itu hanya kalenderisasi,” terang Sarno. Sambil menggulung rokok cengkehnya, Sarno mengisahkan bahwa dahulu, saat dirinya masih kecil, orang-orang di dusun Binangun kebanyakan, termasuk orang tuanya sendiri, sudah memeluk Islam. Tapi meski demikian, saat itu, mereka tetap menjalankan praktikpraktik kejawen dan menggunakan kalender Aboge dalam hidup kesehariannya. “Dulu penganut Aboge, biasa melaksanakan sholat lima waktu, sholat id, melaksanakan takbir di langgar (surau), itu dulu…,” pungkas Sarno. Tapi keadaan berubah. Saat ini, pemandangan itu tak ditemukan lagi. Sejak dua puluh tahun terakhir, terjadi banyak perubahan di dusun Binangun. Warga penganut Aboge sudah sama sekali melepaskan syariat islamnya. Mereka tak lagi melakukan sholat id di mesjid, melakukan takbiran dan sholat lima waktu. Mereka hanya cukup mengamalkan praktikpraktik kejawen semata. Dan tetap menggunakan kalender Aboge. Maka, penyebutan Islam Aboge di dusun Binangun yang sering dipakai media, dianggap kurang sepenuhnya tepat oleh Sarno.


Page 36 of 88 “Mengapa terjadi perubahan seperti itu?” Perubahan-perubahan tersebut, kata Sarno, disebabkan oleh banyaknya anak-anak muda yang sekolah agama (Islam), menyantri ke daerah-daerah lain dan kemudian memilih menggunakan kalender Hijriyah dari pada menggunakan kalender Aboge. Anak-anak muda dusun Binangun yang menyantri ke luar tersebut, membawa pemahaman baru saat mereka kembali pulang ke dusunnya. Selain itu, perubahan itu, tambah Sarno, juga dipengaruhi oleh masuknya teknologi media televisi di dusun Binangun. Orang-orang di dusun Binangun banyak yang memiliki televisi. Dan, media televisi kerap menayangkan pelaksanaan hari raya Idul Fitri yang tidak berbarengan dengan hari yang telah ditetapkan pemerintah, sebagai hal yang aneh. Sejak saat itu, warga Aboge yang masih menjalankan syariat islam, mulai dipandang negatif dan penuh dengan keganjilan, bahkan tak jarang mulai ada penyesatan, tatkala mereka melaksanakan Hari Raya Idul Fitri tidak berbarengan dengan hari yang ditetapkan pemerintah. Dari pada dianggap sesat dan berpotensi menggangu keharmonisan sosial, akhirnya warga Aboge di dusun Binangun memilih untuk tidak melaksanakan syariat islam lagi. Mereka juga tidak lagi melaksanakan sholat Id di mesjid saat hari raya, seperti biasa dilakukan sebelumnya. Sebagai gantinya, warga Aboge pada malam hari raya, berdasarkan penghitungan kalender Aboge, berkumpul di rumah Sarno untuk melakukan semedi. Pada esok harinya, mereka melakukan syukuran makan bersama di sebuah mesjid kecil yang berada tepat di depan rumah Sarno. Mesjid Al-Huda namanya. Warga Aboge mengundang semua warga Binangun tak peduli apapun keyakinannya. Mereka saling meminta maaf, lalu secara simbolik, melepaskan balon-balon terbang warna-warni. “Pada hari raya, Aboge cukup mengadakan tasyakuran, makan dan melepas balon. Semua datang dan ikut dalam acara itu,” jelas Sarno.


Page 37 of 88 Bagi Sarno, kerukunan dan kebersamaan itu sangatlah penting. Itu yang dia terus perjuangkan di dusunnya. Baginya, hakikat dari semua kepercayaan sebenarnya sama. Hari ini, warga di Binangun, jelas Sarno, sudah hidup rukun, saling menghargai, meskipun mereka berbeda dalam keyakinan, dalam tata cara peribadatan. “Orang islam dan penghayat sudah tidak ada sekat lagi,” tegas dia. Bahkan, kata Sarno, hidup keberagamaan yang hangat di dusun Binangun bisa dijadikan model bagi tempat-tempat lain. *** Tak hanya di lingkungan sosialnya, Sarno juga menunjukkan sikap toleransinya yang dalam di tengah-tengah keluarganya. Meski dia menganut kepercayaan Aboge, dia tidak pernah memaksakan keyakinannya pada keenam anak-anaknya. Anak gadisnya yang kelima, yang saat ini sedang kuliah di Yogyakarta, menganut islam. Bahkan, kata Sarno, dia menjadi muslimah yang taat dan “murni”, bila dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang lain, meskipun menganut islam, tapi masih menjalankan praktik-praktik kejawen dan menggunakan kalender Aboge. Sementara, anaknya yang ketiga, pernah masuk Kristen. “Saya enggak mengharuskan anak saya harus sama dengan saya,” tegas Sarno. Selain bekerja sebagai perangkat desa, dan dipercayakan untuk mengurusi ritual-ritual di hari penting oleh Dinas Pariwisata Wonosobo, lelaki yang setiap hari tetap bertani dan mencari rumput untuk pakan sapinya itu, membebaskan anak-anaknya untuk mengikuti agama apapun asalkan mendekatkan diri ke tuhan. “Kepercayaan yang saya anut itu kepercayaan lunak, menerima siapa saja,” ujarnya.


Page 38 of 88 Karena sikap hidupnya yang penuh kearifan, Sarno begitu sangat disegani dan dihormati. Di dusunnya, dia sering diminta nasehat oleh para tetangganya. Tetapi, dia sendiri tak pernah memanfaatkan kondisi itu untuk mempengaruhi apalagi memaksakan kepercayaannya kepada orang lain, hanya atas nama menjaga keberlangsungan kepercayaan Aboge di dusun Binangun. Meski demikian, kaderisasi Aboge di dusun Binangun terus berlangsung. “Masih terus, karena yang muda masih banyak yang mengikuti kalender Aboge,” terang dia. Bahkan, di dusun Binangun, jumlah penganut kepercayaan Aboge paling banyak dari tempat-tempat lain di Wonosobo. Jumlah seluruh warga penganut kepercayaan Aboge di Wonosobo sekitar 500-an orang. Tetapi sebenarnya lebih. Menurut Sarno, angka itu hanya perhitungan kasar. 7. Tantangan dan Tindak Lanjut Penganut kepercayaan adalah fenomena keyakina seseorang, adalh sebuah perbedaan yang harus dihormati dan toleransi meskipun sudah ada agama agama yang diyakini di negeri ini 8. Kesan dan Pesan keyakinan adalah sesuatu yang harus dihormati. Wonosobo, 31 Oktober 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 39 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Kebhinekaan 14 1. Nama Kegiatan Kunjungan Binneka ke Candi Borobudur Magelang: Warisan Cagar Budaya Dunia 2. Tujuan kegiatan Memberikan wawasan dan pengalaman kebinekaan tentang cagar budaya nasional dan dunia yaitu Candi Borobudur 3. Tanggal kegiatan Minggu, 26 September 2021 4. Tempat Luring Candi Borobudur Kab. Magelang 5. Jumlah Peserta dan Narasumber Jumlah mhsw PMM: 12 luring, daring 4 Mentor: 3 Pendamping: 1 Dosen: 1 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Mengenal Sejarah dan Fungsi Candi Borobudur Candi Borobudur merupakan candi Buddha yang sekelilingnya merupakan taman luas dan berada di tengah gunung-gunung menjulang tinggi. Berikut sejarah dan fungsi mengenai candi. Candi Borobudur terletak di desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur juga masuk daftar tujuh keajaiban dunia. Candi umat Buddha ini dikelilingi taman luas dan berada di tengah gunung-gunung yang menjulang tinggi. Mengutip dari jurnal Pengaruh Taman Wisata Candi Borobudur Terhadap Kondisi Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kabupaten Magelang 1980-1997 bangunan candi dibangun pada abad ke-8 Masehi. Candi ini mulai diresmikan menjadi tempat wisata pada 15 Juli 1980. Kemudian, candi Borobudur ditetapkan sebagai Pusaka Budaya Dunia oleh UNESCO pada 1991.


Page 40 of 88 Fungsi Candi Borobudur Sebagai tempat bersejarah Tempat wisata keagamaan Tempat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan sejarah Bisa dipakai tempat penelitian matematika, seperti menghitung stupa Tempat ibadah umat Buddha Sejarah Candi Borobudur Mengutip jurnal Pesona Candi Borobudur Sebagai Wisata Budaya Di Jawa Tengah karya Reza Ayu Dewanti, candi Borobudur merupakan peninggalan dinasti Syailendra. Candi ini didirikan oleh penganut agama Buddha Mahayana. Bangunan ini dibentuk sekitar abad ke-8 pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi Borobudur termasuk kuil Buddha terbesar di dunia. Tujuan dibangun Candi Borobudur untuk memuliakan raja-raja Syailendra (775-850 M) yang telah bersatu kembali dengan dewa yang menjadi asal beliau. Candi dibangun sebagai ungkapan nyata dan rasa hormat mendalam pada leluhur. Selain itu, bangunan candi dipakai sebagai kesadaran terhadap kebesaran agama. Dari skripsi berjudul Relasi Makna Simbol Candi Borobudur Dengan Ajaran Buddha, pembuat candi Borobudur bernama Gunadarma. Candi ini dibangun dalam 5 tahapan: 1. Tahap pertama (780 Masehi) Pembangunan awal dilakukan di atas bukit. Bagian bukit diratakan dan pelataran diperluas. Tidak semua bahan pembuat candi dari batu andesit. Proses pembangunan bukit memakai tanah yang dipadatkan dan ditutup struktur batu. Struktur batu ini menyerupai cangkang dan membungkus bukit tanah. Sementara itu sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Awal pembangunan candi disusun bertingkat seperti piramida berundak. 2. Tahap kedua dan ketiga (792 Masehi) Tahap kedua, terdapat penambahan dua undakan berbentuk persegi. Bagian pagar langkan dan satu undak melingkar di atasnya. Bagian undak memiliki stupa tunggal yang besar. Bagian ketiga terjadi perubahan rancangan bangunan. Bagian undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk dibongkar. Stupa diganti tiga undak lingkaran, sementara stupa-stupa kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak. Stupa besar berada di bagian tengah. Para arkeolog menduga, awalnya Borobudur dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar. Sehingga stupa itu seperti mahkota yang berada di tengah. Tetapi stupa besar itu terlalu berat, sehingga mendorong struktur bangunan. Stupa yang terlalu besar ini dapat


Page 41 of 88 menggeser bangunan. Inti Borobudur hanyalah bukit tanah, sehingga tekanan bagian atas dapat menyebar ke bawah sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Akhirnya stupa induk diganti dengan teras-teras melingkar yang dihiasi stupa kecil. Stupa induk hanya satu yang berfungsi menopang dinding candi dan mencegah pergeseran. 3. Tahap Keempat (824 Masehi) dan kelima 833 Masehi Bangunan candi mengalami perubahan kecil, seperti penambahan pagar langkan terluar, penyempurnaan relief, perubahan tangga, pelebaran ujung kaki, dan pelengkung atas gawang pintu Deskripsi Candi Borobudur Candi Borobudur melambangkan alam semesta. Dalam agama Buddha, semesta dibagi menjadi tiga tingkat yaitu kamadhatu (dunia keinginan), rupadhatu (dunia berbentuk) dan arupadhatu (dunia tak terbentuk). Ketiga tingkat ini dibedakan berdasarkan relief-relief candi. Relief ini dibentangkan sepanjang 3 meter. Terdapat 1.460 pigura yang diselingi bidang-bidang pemisah berjumlah sekitar 1.212 buah. Di atas deretan pigura terdapat semacam pelipit yang membujur, memanjang sejauh satu setengah kilometer. Pelipit ini dihias dan membentuk rangkaian bunga teratai. Di bagian tas terdapat hiasan simbar berbentuk segitiga berjumlah 1.476 buah. Tingkat kamadhatu dan rupadhatu terdapat 1.472 stupa dan 432 arca Buddha yang mengitari seluruh penjuru mata angin. Pada tingkat terakhir terdapat 72 buah stupa yang melingkari stupa induk di puncak. Dibutuhkan sekitar dua juta potongan batu untuk membangun monumen ini.


Page 42 of 88 Candi Borobudur secara keseluruhan terdiri dari stupa. Stupa adalah salah satu bangunan tanda peringatan agama Buddha. Dalam bahasa Sansekerta, stupa berarti gundukan atau timbunan tanah. Candi ini berada di Borobudur berada di daerah dataran Kedu yang dikelilingi oleh gunung Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah utara, dan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan. Sejarah Candi Borobudur Ditelantarkan Candi Borobudur sempat ditelantarkan sekitar 928 dan 1006. Ketika itu Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur. Perpindahan ibu kota itu karena terjadi letusan gunung berapi dan candi Borobudur akhirnya ditinggalkan. Sekitar tahun 1.365, Mpu Prapanca dalam naskah Nagarakretagama ditulis ketika kerajaan Majapahit. Dalam naskah tersebut dia menyebutkan "Wihara di Budur" Sejarah Penemuan Kembali Candi Borobudur Candi Borobudur ditemukan pada 1814, ketika Indonesia tengah dijajah Inggris. Penemu candi tersebut adalah Sir Thomas Stanford Raffles ketika mengunjungi Semarang. Dia mendapat laporan temuan batu-batu berukir di bukit sekitar desa Bumisegoro, Karesidenan Magelang. Bukit tersebut diyakini sisa-sisa bangunan candi yang disebut budur. Raffles kemudian mengutus asistennya, Cornelius mengadakan penelitian. Cornelius akhirnya melakukan penelitian pada 1814. Pembersihan besar-besaran dilakukan dengan mengerahkan tenaga kerja kurang dari 200 orang. Pekerjaan pembersihan dilakukan selama beberapa tahun mulai dari 1817, 1825, dan 1835. Pemugaran Candi Borobudur Candi Borobudur telah dipugar beberapa kali. Pemugaran Candi Borobudur dilakukan pertama kali oleh Th. Van Erp dari tahun 1907 sampai 1911. Pemugaran kedua dilakukan pemerintah Indonesia yang bekerjasama dengan UNESCO. Pengerjaan pemugaran kedua ini berlangsung dari tahun 1973 sampai 1983. 7. Tantangan dan Tindak Lanjut mahasiswa bisa meliaht secara langsung kemegahan candi borobudur sehingga terbersit bagaimana proses pembuatannya dan pemeliharan cagar budaya tersebut


Page 43 of 88 8. Kesan dan Pesan asyik dan menyenangkan Wonosobo, 26 September 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 44 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Inspirasi 1 1. Nama Kegiatan Penerjunan dan Penyambutan Para Mahasiswa pertukaran pelajar Modul Nusantara di kampus Universitas Sains Alquran secara serentak daring via zoom 2. Tujuan kegiatan memberikan inspirasi dan pengenalan tentang kampus Universitas Sains Al-Qur'an kepada para mahasiswa outbond dan inbond dan modul nusantara program PMM MBKM dikti tahun 2021 di UNSIQ 3. Tanggal kegiatan 13 September 2021 4. Tempat Ruang Zoom: Sri Jumini is inviting you to a scheduled Zoom meeting. Topic: Sri Jumini's Zoom Meeting Time: Sep 13, 2021 08:00 AM Novosibirsk Join Zoom Meeting https://unnes-acid.zoom.us/j/93601974508?pwd=U0kxUXR2ckJJK2lrdVZHRTFnUUVQZz09 Meeting ID: 936 0197 4508 Passcode: 262686 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 16 mahasiswa modul nusantara, dari total, 100 mahasiswa 50 dosen UNSIQ 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan kegiatan ini berupa penyambutan dari Rektor UNSIQ kepada para mahasiswa outbond UNSIQ dan mahasiswa inbond ke unsiq dan modul nusantara. Pada kegiatan studium genera ini mengenalkan tentang budaya akademik di kampus UNSIQ.


Page 45 of 88


Page 46 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut para mahsiswa antusias untuk mengunjungi unsiq secara luring. Kami dosen modul nusantara kemudian membentukkoordinasi dengan para mahasiswa sejumlah 20 orang sebuah grup whatsaap untuk memudahkan komunikasi antara dosen pengampu dengan mahassiwa peserta moduil nusantara 8. Kesan dan Pesan kegiatan ini memberi kesan yang luar biasa. kesan pertama dengan unsiq begitu berharga. Wonosobo, 13 September 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Page 47 of 88 Logbook Dosen Pembimbing - Inspirasi 2 1. Nama Kegiatan Modul Inspirasi 2: Seminar Akulturasi agama, Budaya Toleransi antar Agama 2. Tujuan kegiatan memberikan wawasan fenomena dan praktik bertoleransi antar agama. menghadirkan narasumber dari CRCS Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Ibu Maurisa Zinira, S.Th.I, M.A, MA, Ph.D cand 3. Tanggal kegiatan 6 Nopember 2021 4. Tempat media daring zoom ; Dr. Mustofa Kamal UNSIQ is inviting you to a scheduled Zoom meeting. Topic: Modul 7: Modul Inspirasi 1: Seminar Akulturasi agama, Merawat Budaya Toleransi antar Agama Time: Nov 6, 2021 07:00 AM Bangkok Join Zoom Meeting https://zoom.us/j/91306258000?pwd=OWJ6VHY3NVRCV2dPY0pPR25zNERYZz09 Meeting ID: 913 0625 8000 Passcode: inspirasi7 Pengayaan kegiatan: Luring di Ponpes Hidayatul Qur’an Munggang 5. Jumlah Peserta dan Narasumber 16 Mahasiswa PMM 3 Mentor 1 dosen MN 1 Fasilitator 6. Deskripsi Singkat Hasil Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan seminar modul inspirasi ini menghadirkan narasumber dari CRCS Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Ibu Maurisa Zinira, S.Th.I, M.A, MA, Ph.D cand Tujuan Belajar: Peserta memahami perbedaan antar agama dan budaya dan mampu merefleksikan keragaman dalam kehidupan sehari-hari Meteri/Topik : Pengelolaan Keragaman Agama dan Budaya Peserta didik : Mahasiswa Lintas Agama Bahan/Materi : Film dan bacaan dari Indonesian Pluralities Durasi : 3 Jam (07.00-10.00) Penilaian : Keaktifan mahasiswa Langkah Pembelajaran: 1. Pengantar (15 menit: 07.00-07.15) Pengantar dan perkenalan. Mengenal peserta dan latar belakang pendidikan dan sosial. Tanyakan pandangan mereka terhadap agama dan kebudayaan yang berbeda. Bentuk kelompok agar mereka saling berinteraksi.


Page 48 of 88 2. Aktifitas 1: Menonton Film “Beragam Jalan MenyapaNya” (45 menit: 07.15-08.00) https://www.youtube.com/watch?v=cBXaz9IbCA0 dan “Beragama Lintas Budaya” (https://www.youtube.com/watch?v=hh4_pnX7Rgw) Masuk grup masing-masing. Diskusikan beberapa hal berikut: 1. Apa itu agama dan budaya? 2. Bagaimana hubungan keduanya? 3. Aktifitas 2: Pemaparan Materi “Memburu Makna Agama: Wilfred Cantwell Smith” dan Menonton film “Atas Nama Percaya” (https://www.youtube.com/watch?v=1ZVzK5NcrXc). Peserta masuk grup dan berdikusi (60 menit: 08.00-09.00) 1. Contoh reifikasi dalam film atas nama percaya 2. Contoh reifikasi dalam kehidupan sehari-hari 4. Aktifitas 3: Menonton film “Beta Mau Jumpa” dan pemaparan materi (45 menit: 09.00-09.45) (https://www.youtube.com/watch?v=pIsORJoEUgY) . Peserta berdiskusi tentang: a. Faktor yang melatarbelakangi konflik b. Inisiatif yang diambil oleh berbagai kelompok (perempuan, pemuda lintas Iman, pemerintah) 5. Pemaparan materi “Agama dan Perdamaian”, Kesimpulan dan Penutup (09.45- 10.00)


Page 49 of 88 7. Tantangan dan Tindak Lanjut Mahasiswa mampu memparktikkan pengalaman bertoleransi dan berinteraksi lintas agama 8. Kesan dan Pesan Toleransi itu indah, untuk merawat kerukunan beragama indonesia. Wonosobo, 6 Nopember 2021 Dosen Pengampu Modul Nusantara MN0620068204 Dr. Muhamad Ali Mustofa Kamal, M.S.I NIDN. 0620068204


Click to View FlipBook Version