The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Diandra Ratnali, 2023-10-24 02:03:54

Antologi Cerpen 9C kel 1 b perempuan

Antologi Cerpen 9C kel 1 perempuan

i


i HAK CIPTA SEJUTA TINTA KEHIDUPAN Copyright © 2023 Katrina Arl Rouza, dkk. Penulis: Katrina Arl Rouza, dkk. Editor: Kanaya Azzahra Octarina, Chika Zahra Camiela, Nadia Astrela Firas Sejati Penata Letak: Diandra Ratna Paramitha Li Ilustrasi Isi: Nafisha Mahira dan Katrina Arl Rouza Penata Sampul: Katrina Arl Rouza Katalog dalam terbitan Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Desain sampul menggunakan sumber daya dari internet/freepik


ii KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirrahim Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji dan syukur atas karunia Allah SWT. yang melimpah di seluruh alam semesta, serta junjungan kepada Nabi Muhammad SAW. beserta para sahabat dan keluarganya. Rasa syukur kami panjatkan kepada Allah, yang mana atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan Antologi Cerpen karya siswi kelas 9C kelompok 2. Kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam proses penulisan buku Antologi Cerpen ini. Kami mohon maaf apabila ada kekurangan berupa salah pengetikan atau semacamnya dalam buku Antologi Cerpen ini, karena kami hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Serta kami ucapkan terimakasih kepada bapak/ibu guru kami yang telah membimbing kami dalam proses pembuatan buku Antologi Cerpen ini. Serta memberikan saran dan masukan untuk perbaikan karya-karya kami yang lebih baik. Antologi ini ditulis berdasarkan imajinasi atau bahkan pengalaman hidup dari sang penulis, yang kemudian dituangkan dalam bentuk cerita pendek. Antologi ini kami buat sedemikian rupa, guna membangkitkan dan semangat para pemabaca untuk membaca dan menulis. Semoga Antologi Cerpen ini dapat dipahami oleh pembaca, sehingga akan memotivasi dan bermanfaat bagi pembelajaran. Sekian, terimakasih atas perhatiannya. Cilegon, 20 Oktober 2023


iii DAFTAR ISI HAK CIPTA.......................................................................................................................... i KATA PENGANTAR ..........................................................................................................ii DAFTAR ISI........................................................................................................................ iii SEJUTA TINTA KEHIDUPAN ............................................................................................. 1 Abdi Di Kota ......................................................................................................................... 11 Guratan Satin ......................................................................................................................... 22 NEVER GO OUT OF STYLE............................................................................................... 29 LIKA-LIKU PENTAS SENI ................................................................................................. 35 RONA HASHA .................................................................................................................... 41 RUANG ADIWARNA ......................................................................................................... 47 Tentang Penulis..................................................................................................................... 54


1 Sejuta Tinta Kehidupan Katrina Arl Rouza Hangat sinar mentari lembut menyirami bumi penuh kasih sayang, burung berkicauan menyanyikan okestra selamat pagi, kepul kabut menyelimuti lereng pegunungan. Terlihat dari kejauhan sebuah desa kecil yang tersembunyi di antara pegunungan. Para warga desa yang bersiap untuk melakukan aktivitasnya di pagi hari dengan penuh semangat, sama seperti ayah kavian. Aku kavian, aku tumbuh dalam keterbatasan dan kesederhanaan pedesaan, setiap hari aku membantu orang tuaku merawat ladang, mengembala ternak, dan menikmati keindahan alam di sekitarku. Aku gemar membaca buku dan menulis cerita, saat ini aku ingin mengungkapkan perubahan kehidupanku dengan segores tinta di secarik kertasku. Waktu demi waktu berlalu langit berubah menjadi senja, hari ini langit terlihat mendung dengan hembusan anginnya, namun ini membuatku semakin bersemangat. Aku melihat dari dalam jendela teman sebayaku yang sedang memainkan permainan tradisional, tak lupa aku juga di ajak untuk bermain bersama, teman kavian menghampiri rumahnya “kaviaaan main yuk” sorak teman ku, akupun berlari menuju mereka. Mereka pun bermain bersama dengan asyik. Tak lama, aku memerhatikan langit, langit berubah yang mulanya bersinar terang kini menjadi awan yang begitu gelap, aku berpamitan dengan teman-temanku dan bergegas pulang. Sedikit demi sedikit rintik hujan jatuh membasahi tanah dan meneteskan rintik hujannya ke tubuhku yang sedang berlari kecil menuju rumah, hembusan angin menusuk tulang-tulangku membuat suasana begitu dingin. Aku menatap hujan dari dalam jendela dengan secangkir teh hangat, dan menutupi tubuhku dengan selimut tebal, suara hujan membuat hatiku tenang, hujan semakin deras, disaat suara gemuruh rintik hujan yang begitu deras, aku menulis segores tinta di buku ku.


2 “Jika hujan telah turun.. jangan melihat apa yang jatuh, namun lihatlah apa yang akan tumbuh.” Hujan berlalu begitu saja, langit menjadi gelap gulita, terlihat rembulan dan bintang-bintang dari kejauhan yang berbinar-binar di antara gelapnya langit. Hari hariku sangat indah dan tenang membuatku selalu nyaman dengan tempat tinggalku. Namun, suatu hari, peristiwa tidak terduga terjadi. Sebuah pabrik besar di dirikan di dekat desaku, pabrik ini membawa banyak perubahan bagi kehidupan desa, suara mesin yang bising mengubah kedamaian desa, dan kepulan asap pabrik yang mengubah udara menjadi kotor. Namun banyak yang tertarik dengan peluang pekerjaan di pabrik baru ini, termasuk orang tua Kavian. "Dengan bekerja di pabrik, kita bisa mendapatkan lebih banyak uang Vian. Kita bisa memberikanmu pendidikan yang lebih baik dan masa depan yang cerah," kata ayah Kavian dengan penuh harap. Awalnya aku merasa cemas dengan perubahan ini, namun akhirnya aku menerima dengan terbuka. Selang beberapa minggu keluargaku berpindah ke kota yang berjarak beberapa kilometer dari desa, aku bersandar di kursi mobil, menatapi jalan dari jendela dengan iringan music di telingaku, sambil membaca buku menikmati perjalanan. Sesampainya di kota aku merasa kagum melihat kepadatan bangunan dan ragam aktivitas. Semuanya tampak begitu sibuk dan cepat, aku mulai menghadapi tantangan adaptasi. Aku harus bersekolah di sekolah yang jauh berbeda dengan sekolah di desa. Teman-teman sekelasku yang berbicara dengan bahasa kota yang modern, sementara aku masih menggunakan bahasa daerah. Hari pertamaku bersekolah di kota, saat di kelas aku disuruh untuk memperkenalkan diri oleh guru, aku memperkenalkan diriku dengan bahasa daerah di tempat tinggal sebelumnya, sedikit murid kelasku yang ingin berteman denganku dikarenakan aku masih menggunakan kata-kata yang baku, meskipun aku mengalami kesulitan di awal aku bertekad untuk belajar dan beradaptasi. Suara bel istirahat menggema di seluruh koridor sekolah, riuh hiruk pikuk suara murid-murid yang kegirangan berlarian menuju kantin, “Vian


3 lu ga mau ikut kita ke kantin?” tanya Jovi dan teman yang lain di kelas Kavian. “Terimakasih kalian saja aku bawa bekal kok dari rumah,” ucap kavian. Kavian mengambil bekalnya yang ia bawa dari rumahnya, ia duduk memakan bekal sambil membaca sebuah buku. Kavian sangat gemar membaca buku ia selalu membawa buku kemana pun ia pergi. Saat sedang membaca buku datang teman sekelasnya, yaitu Demian, dia menghampiri meja Kavian. Demian merupakan anak yang lebih berkecukupan, pintar dalam bidang teknologi, sosial maupun seni dan dia pandai dalam seni bela diri pencak silat. Demian juga merupakan anak yang popular di sekolah ini. Demian duduk di sebelah kavian. “Hai gue Demian salam kenal ya.” “Oh iya, aku Kavian salam kenal juga,” ucap Kavian yang sedang mengunyah makanannya. “Soory ganggu, lo anak pindahan dari desa ya?” “Oh iya aku pindahan dari desa, karena ayahku pindah pekerjaan di pabrik baru ini.” “Oh gitu, di desa lo ada tradisi pencak silat ya?” “Iya, aku sering melihat ayahku berlatih pencak silat, dulu aku pernah mengikuti lomba pencak silat namun tidak juara, memangnya ada apa?” “Berhubung gue ketos, kata kepsek, sekolah kita bakal ada lomba pencak silat, lo mau ga jadi perwakilan sekolah bareng gue? Nanti kita latihan bareng,” ucap Demian dengan penuh antusias. “Aku gak yakin bakal bisa ngasih juara untuk sekolah, dulu aku berlatih dengan giat tapi tetap saja aku tidak bisa mendapatkan juara.” “Ga dapet juara belum tentu lo kalah Vian, lo dah berani tampil aja udah keren banget, nanti kita bisa latihan bareng kok, pasti bisa!” ucap Demian menyemangati Kavian. “Oke aku bakal latihan terus, gimana kalau minggu kita latihan bareng” “Oke! btw bahasa lo baku banget gue jadi ga enak pake gue, lo. ”


4 “Hehe biasanya di desaku masih menggunakan kata-kata yang baku jadi belum tebiasa deh” “Oh okelah, gue balik ke tempat duduk gue ya bentar lagi bel,” ucap Demian sambil bangkit dari tempat duduknya. “Iya,” tegur Kavian. Bel pun berbunyi, pembelajaran dilalui hingga waktunya pulang pun tiba. Aku mengayuh sepedah kecilku menuju rumah. *** “Assalamu’alaikum bu, yah aku pulang.” Aku menceritakan kepada ayah bahwa aku akan ikut perlombaan pencak silat, “Waalaikumsalam, wah hebat nanti ayah ajarkan teknik pencak silat ya,” ucap ayah Kavian. Aku belajar banyak hal baru di sekolah. Setiap sepulang sekolah, aku selalu menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di taman kota merenungi dan mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Sementara itu ayahku merasa rindu akan kehidupan sederhana yang dulu mereka jalani, bersama dengan ibuku, mereka tetap menjaga tradisi desa mereka, dengan merawat kecil di belakang rumah.


5 . Di sekolah aku sangat senang bisa berteman dengan Demian. Mereka saling berlatih, Demian sering mengajarkan teknologi-teknologi modern kepada Kavian, dan Kavian juga mengajarkan tentang pencak silat yang di ajarkan oleh ayahnya.


6 Saat sekolahnya mengadakan perlombaan pencak silat, aku dan Demian mengajukan diri sebagai perwakilan di sekolahku. Kami sudah mempersiapkan diri sebelum pengumuman diadakannya lomba itu. Jadi aku dan Demian sudah sangat siap, kami juga saling men-support satu dengan yang lain. Waktu perlombaan pun tiba. Awalnya aku merasa cemas namun Demian menenangkanku bahwa kita pasti bisa. Kami pun menampilkan pencak silat dengan lihai, semua penonton kagum dengan penampilan kami. Dari awal gerakan hingga akhir tidak ada sedikit pun kesalahan gerakan dari kita berdua, semua orang menyaksikan dengan bangga. “Wah keren banget kalian, semoga bisa menang ya,” ucap Jovi dan teman yang lain. “Aminn terima kasih,” ucap Kavian dan Demian. Waktu demi waktu berlalu pengumuman lomba akhirnya akan di umumkan. Waktupun terus berjalan, aku selalu menunggu hasil perlombaanku. Ayahku selalu berpesan bahwa jika beliau tiada aku yang akan menjadi sepertinya yang pandai dalam pencak silat. *** Terik sinar mentari menembus kaca jendelaku. Aku bangkit dari ranjangku bersiap menuju sekolah. Aku terlambat menuju sekolahan, dan harus meninggalkan satu Pelajaran untuk menjalankan hukuman. Aku berdiri di tengah lapangan, disambut dengan teriknya matahari. Beberapa waktu kemudian bel istirahat pun berbunyi, aku melihat ramai muridmurid yang berkumpul di sudut mading. Aku bingung apa yang terjadi, ternyata itu adalah pengumuman lomba antar sekolahnya. Tertulis nama Kavian dan Demian di mading, bahwa mereka berdua memenangkan juara pertama dalam pencak silat. Aku kegirangan dan bangga kepada dirinku dan juga Demian. “Selamat ya atas keberhasilan kalian dalam berlomban ini, terimakasih sudah membanggakan sekolah kami,” ucap guru Kavian. Kavian merasa terharu karena ia bisa memenangkan lomba ini, karena dia sudah beberapa kali mengikuti lomba pencak silat namun gagal,


7 Aku pulang dengan membawa piagam dan piala emas yang berkilau. Aku mengayuh sepeda dengan cepat menuju rumah berniat memberitahu kepada orang tuaku bahwa aku berhasil memenangkan lomba ini. Namun saat aku memasuki komplek rumahku. Aku heran melihat bendera kuning yang ada di sekitar rumahku, hatiku gelisah, dan aku melihat banyak orang di depan rumahku. Aku memasuki rumah dengan cemas dan takut. Aku melihat ibuku yang menangis sambil menatap ku. Ia mengucapkan sepatah kata kepadaku “ vian.. ayahmu sudah tenang di atas sana,” ucap ibuku sambil menangis sesegukan. Aku yang baru sampai tak sanggup menahan air mata, kakiku gemetar mendengar ini, air mataku pecah seketika, hatiku campur aduk, namun mau bagaimana lagi? Sudah takdirnya, aku bingung harus sedih atau senang. *** Setiap sepulang sekolah, aku selalu datang ke makam ayah untuk mendoakannya, “yah, semoga ayah tenang ya di sana, aku berhasil yah, bisa memenangkan lomba ini,” ucap Kavian dengan sedih mengingat kenangan dengan ayahnya, aku akan selalu ingat pesan ayah. ”Kamu pasti bisa menjadi seperti ayah, kemauan kamu untuk sukses harus lebih besar dari ketakutanmu akan kegagalan, dan kamu jangan selalu bergantung kepada siapa pun, karena tidak semua orang yang datang di hidupmu akan selalu ada.” *** Aku sekarang hanya tinggal bersama ibu. Aku sering membantu ibu untuk menjual makanan tradisional buatan ibuku di sekolah untuk membiayai hidup kami. Banyak teman-temanku yang suka dengan makanan buatan ibu. Aku juga gemar dalam menulis puisi atau cerpen. Aku mengikuti lomba-lomba di sekolah ataupun di luar sekolah. Aku juga menciptakan berbagai macam buku dan banyak orang yang gemar membaca buku ku. Aku senang bisa menghasilkan uang dari hasil jerih payahku sendiri. Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi pemuda yang bijak dan berpengetahuan luas. Aku tahu bahwa orang yang selalu bersama kita belum tentu akan selamanya ada. Aku juga menemukan keseimbangan


8 antara dua kehidupan yang berbeda. Di kota, aku belajar tentang teknologi, ilmu pengetahuan, dan seni, sementara di desa aku menemukan tradisi-tradisi, ketenangan dan keindahan alam. Aku sering berbagi tentang pengalamanku pada teman di kota maupun di desaku. Kehidupan pedesaan dan perkotaan membawa manfaat besar bagi kehidupanku. Aku merasa beruntung dapat mengalami dua kehidupan yang berbeda dan memahami bahwa ke harmonisan dapat dicapai dengan memelihara akar budaya dan tradisi. Sambil membuka diri terhadap perubahan dan perkembangan, aku juga menjadi inspirasi banyak orang di desa maupun di kota. Dari sini, aku belajar tentang pentingnya saling memahami dan menghormati perbedaan. Kita semua bisa, jangan menyerah karena satu kesalahan, jadikanlah kesalahan itu menjadi acuanmu untuk menuju kesuksesan. Tidak ada proses mudah untuk tujuan yang indah, jadi janganlah kamu takut untuk gagal, jikalau pun kamu gagal maka bangkitlah kembali. Ini seutai kertasku dengan sejuta tinta tentang hidupku. Ku artikan bukan hanya tetesan air yang turun dari langit ke bumi, tapi sebuah gempuran rindu yang tidak bisa di sampaikan tanpa adanya tamu.


9 ABDI DI KOTA Chika Zahra Camiela Cahaya rembulan dan sunyinya malam menemani seorang remaja desa yang sedang mengemas barang-barangnya untuk berangkat ke kota besar dan melanjutkan sekolahnya di sana. Dia bernama Eliana, seorang remaja yang lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil yang terletak di kota Bandung, Jawa Barat. Ia seorang siswa yang sangat cerdas dan berprestasi di sekolahnya, walaupun dia dikenal sebagai anak yang sangat keras kepala. Ia merupakan anak tunggal dari keluarga yang terbilang kurang mampu dari segi ekonominya. Eliana mendapatkan beasiswa untuk lanjut ke perguruan tinggi. Hal itu membuat Eliana dan kedua orang tuanya sangat bahagia. *** Eliana sedang berbenah untuk berangkat ke kota besar nanti. Dia memeriksa semuanya terlebih dahulu. “Baju sudah, buku sudah, sepatu sudah… sepertinya semuanya sudah beres,” batin Eliana. Abah mengetuk pintu kamar Eliana dan masuk kedalam kamar. Abah duduk di samping Eliana dan berbicara dengannya. “Eliana.. Ini kali pertama abah melepas kamu sejauh ini. Kamu hatihati di sana yaa.. belajar yang benar jangan kebanyakan mainnya yaa,” nasihat Abah. “Iya nak.. Ingat, ibu dan abah selalu menunggu kamu di sini, jaga diri baik-baik ya,” Ibu tiba-tiba melanjutkan kata-kata Abah. “Eh ibu.. hehe pasti kok bu, Eli pasti jaga diri kok di sana, ibu dan Abah tenang aja,” jawab Eliana. Abah menepuk pundak Eliana dan berkata “Ingat Eliana, walau hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Walaupun di kota sana banyak sekali barang-barang canggih yang tidak ada di sini


10 dan orang-orang di kota pasti sudah mengikuti budaya-budaya luar, jangan sampai kau lupakan budaya desa kita ya nak.” “Tenang saja abah, Eliana pasti bisa menjaga budaya kita,” sambung Eliana. Mereka lanjut membenah barang-barang dan bersiap-siap untuk pergi tidur. Karena besok Eliana harus berangkat ke Jakarta. *** Eliana pergi ke Jakarta dengan menggunakan kereta. Ibu dan Abah mengantarkan Eliana ke stasiun. Sebelum kereta datang, Eliana berpamitan dengan orang tuanya dan meminta doa yang terbaik kepada mereka. “Ibu.. Abah.. doakan Eliana ya.. semoga disana Eliana bisa hidup dengan baik,” kata Eliana. Abah dan ibu hanya tersenyum sembari menahan rasa sedih mereka. Tak selang lama, akhirnya kereta pun tiba. Eliana mencium tangan kedua orang tuanya dan segera masuk kedalam kereta. Dari dalam kereta Eliana tersenyum pada orang tuanya. Di perjalanan Eliana berpikir apa yang harus dia lakukan disana agar tidak terlihat ketinggalan zaman. Karena dia paham pasti di jakarta orangorangnya sangat modern. Mulai dari bahasa, pakaian, makanan, dan lainnya. Eliana melihat kearah sekitar kereta. Dan melihat sekumpulan anak kota. Mereka terlihat menggunakan headphone, jaket, bahkan kacamata hitam. Eliana berniat mengikuti gaya mereka nanti. Dia jadi sedikit takut akan tertinggal. *** Sesampainya di jakarta, dia sangat terpesona dengan semua yang ada di sana. Dia bisa melihat semua yang tidak bisa ia temui di desa. Dan seketika, ada seseorang yang menepuk pundaknya dengan kencang. Spontan Eliana menoleh kebelakang dan dia terkejut dengan siapa yang ia temui di sana. Ternyata dia adalah teman Eliana semasa SMA di desa. Eliana tidak mengira kalau dia akan kuliah di kota juga.


11 Dia adalah Clara. Clara dikenal sebagai anak yang pemalas dan selalu tidur di kelas saat pembelajaran. “Hey, Eliana! Kenapa kamu ada disini?” tanya Clara. “Ahh.. ternyata kamu Clara, kukira siapa. Aku disini mau lanjut kuliah dan cari kerja, kamu sendiri ngapain disini?” jawab Eliana. “Aku pun mau kuliah. Ku dengar kau dapat beasiswa kan yaa di universitas negeri di sini,” Clara bertanya kembali. “Hehe.. Alhamdulillah, kamu kuliah disitu juga kah?” tanya Eliana. Clara mengangguk dan berjalan menarik tangan Eliana. Mereka berjalan-jalan sembari mengobrol menuju tempat yang akan mereka tinggali di sana. Awalnya Eliana belum menemukan tempat tinggal, tetapi dia ditawari untuk tinggal bersama Clara sementara di kost-annya. *** “Clara! Aku mau ke tempat itu deh, sepertinya disana banyak baju yang bagus!” antusias Eliana. “Oh, toserba? Ayo kita kesana! Aku juga mau beli beberapa pakaian!” balas Clara Eliana dan Clara pergi ke gedung besar bernama toserba itu. Di desa, Eliana tidak pernah melihat ada gedung sebesar itu. Biasanya penjual baju ada di toko atau pasar tradisional. Eliana sangat senang dan berpikiran untuk membawa Abah dan Ibunya kesini nanti. Eliana melihat beberapa pakaian yang ia lihat dipakai oleh orangorang yang berlalu lalang saat ia di kereta. Ia memilih beberapa pakaian, cardigan, celana, rok, serta kerudung dengan warna yang tidak senada, ia hanya melihat model pakaian. Sepertinya ia memang ingin mengikuti gaya baru. Ia tidak begitu khawatir dengan bayaran karena Ia membawa cukup banyak uang tabungannya yang memang ia sediakan untuk hal-hal seperti ini. “Banyak juga kau beli pakaian ya,” ucap Clara. “Hehe iya, mau coba gaya baru,” balas Eliana.


12 Pindah ke tempat lain, Eliana melihat beberapa aksesoris dan kacamata. Ia teringat juga bahwa orang-orang kota biasanya memakai halhal seperti itu. Ia membeli beberapa dan setelahnya mereka pulang ke kost-an baru mereka. *** Hari pertama kuliah pun tiba. Eliana bingung dengan apa yang harus ia kenakan nanti di kampus. Dia ingat dengan apa yang ia lihat kemarinsaat di dalam kereta. Jadi ia mencoba menggunakan pakaian seperti itu dan pergi ke kampus. Clara heran dengan apa yang dipakai Eliana.


13 “Hey, Eliana. Kamu akan menggunakan baju itu ke kampus? Serius?” tanya Clara. “Iya, memang kenapa? Apakah ada yang aneh?” Balas Eliana sembari menggendong tasnya. “Hehe.. tidak, bukan apa-apa kok,” lanjut Clara. Dia ingin memberi tahu Eliana, tetapi dia tahu sekali Eliana itu sangat keras kepala anaknya. Jadi dia membiarkan Eliana untuk sehari itu. Eliana dan Clara pun pergi ke kampus. Saat di jalan banyak sekali yang melihat kearah mereka berdua. Lebih tepatnya mereka menatap kearah Eliana. Mungkin karena pakaian yang ia kenakan dan mereka mengira kalau Eliana itu berlebihan. Bahkan, mereka saling berbisik ‘norak’. Clara sebenarnya merasa malu akan hal itu. Namun dia masih belum berani untuk mengingatkan Eliana. Sesampainya di kampus, banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi disana yang menatap Eliana. Bahkan ada yang ingin berkenalan dengan Eliana. Namun saat berbicara logatnya aneh. Seperti, dia ingin mengikuti logat bicara anak di sana, namun dia gagal akan hal itu. Untung saja anak yang mengajaknya berkenalan itu sangat baik dan tidak peduli akan hal tersebut. “Hai! Saya Jegar. Salken ya!” ucap anak tersebut. “Oh, hai juga! Aku Eliana,” jawab Eliana. Mereka mengobrol sampai jam belajar pun tiba. Mereka berjalan kekelas bersama, mereka tidak sadar kalau ternyata jegar dan Eliana sekelas. Hanya saja dengan Clara berbeda. Itu tidak menjadi masalah, mereka masih bisa bertemu saat istirahat. *** Kelas pun selesai, mereka keluar bersama dan pergi ke cafe dekat kampus. Mereka memesan makanan dan minuman. Eliana tidak mengetahui apa itu cafe. Eliana banyak sekali berkomentar, seperti, “Apa ini? kopi hitam doang 20.000? Mahal banget dah!” kata Eliana. “Itu memang segitu harganya, Eliana,” Clara menjelaskan.


14 Sedangkan Jegar hanya menahan tawa kecilnya. Disamping mereka juga ada beberapa anak dari kampus mereka. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang sangat populer di sekolahnya. Diketuai oleh seorang anak yang bernama Zara. Mereka sedang membicarakan keanehan Eliana. “Liat dia, aneh banget ga sih. Gue denger dia anak desa,” kata Zara. Teman-temannya menertawakan Eliana. Eliana tidak peduli akan hal itu. *** Beberapa hari sudah terlewati dan Eliana masih tetap menggunakan gaya barunya yang justru terlihat agak berlebihan. Sementara itu, Clara masih memikirkan bagaimana cara mengingatkan Eliana. Hari-hari belajar di kampus berjalan normal sampai suatu ketika ada insiden tidak mengenakan terjadi. Kala itu, Eliana sedang berada di kantin kampus bersama Clara dan Jegar. Eliana sedang memesan minuman sementara dua temannya menunggu di meja kantin. Brakkk.. “AAAAAAAAA!!” Suara gelas pecah bersamaan dengan suara teriakan menggema di kantin kampus yang sedang ramai itu. Eliana tidak sengaja menabrak Zara ketika ia sedang berbalik untuk menuju ke mejanya. “HEH! PUNYA MATA GAK SIH??” Teriak Zara pada Eliana. “Eh, m.. ma.. maaf aku.. eh gue gak sengaja.” Eliana mencari sapu tangan yang selalu ia taruh di kantung celananya karena perintah ibunya untuk melakukan itu. “LO TUH!” Teriak Zara lagi. “Maafin saya.. eh gue..” Balas Eliana sembari mengelapkan sapu tangannya pada baju Zara yang terkena tumpahan minuman. “AKU SAYA LO GUE, SEBENERNYA LO MAU NGOMONG APA. UDAH AH! AWAS!” Teriak Zara sekali lagi lalu meninggalkan Eliana disana dengan tatapan banyak orang menuju pada mereka berdua.


15 Clara dan Jegar langsung menghampiri Eliana dan membantu Eliana membersihkan sisa gelas yang jatuh tadi serta mengganti kerugiannya pada ibu kantin. “Kamu gak apa-apa?” tanya Jegar. “Aku.. gak apa-apa.. kayaknya..” balas Eliana yang masih tercengang. “Udah, udah. Ayo kita ke kelas aja.” ajak Clara. Sepanjang jalan, Eliana masih terpikirkan perkataan Zara tadi. Clara khawatir pada Eliana. Selama dulu satu sekolah dengannya, Clara tidak pernah mendengar Eliana dikata-katai seperti itu oleh orang lain, apalagi dihadapan banyak orang. Clara jadi takut terjadi sesuatu pada Eliana mendengar ucapan Zara tadi. Akan tetapi, ia juga takut malah menyakiti hati Eliana apabila ia mengatakan yang sebenarnya. Ia bercerita hal itu pada Jegar dan Jegar menyetujuinya. Walaupun Eliana adalah teman barunya, Jegar juga ikut sedih dan khawatir akan temannya itu. Akan tetapi juga, mereka belum tahu apa yang harus mereka lakukan untuk memberitahu Eliana. Pertimbangan Clara dan Jegar lainnya adalah melihat Eliana yang terlihat terlalu antusias mengikuti gaya orang di tempat barunya ini. Eliana terlihat sangat takut tertinggal dan takut tidak punya teman. Namun Clara dan Jegar sangat takut jika Eliana malah akan diganggu terus-terusan oleh mereka. Clara dan Jegar berniat ingin menasehati Eliana nanti sepulang dari cafe. *** Sore hari pun tiba, mereka bergegas pulang dan menyiapkan untuk hari esok. Di perjalanan, Clara dan Jegar memikirkan kata-kata yang akan mereka gunakan untuk menasehati Eliana. Tak sabar lagi, Jegar segera memberi tahu Eliana. “Eliana, maaf kalo saya ga sopan karena kita juga baru aja temenan, tapi saya mau ngasih tau kamu kalo kamu ga seharusnya seperti ini. Saya


16 paham kamu pasti ga mau keliatan jauh banget dari yang lain. Tapi kamu harus bisa perhatiin dan pertimbangin lagi. Orang kota ga semuanya begitu kok,” Tegas jegar sembari mengisyaratkan kedua temannya untuk duduk di bangku tempat parkir kampus. “Iya Eli, kamu kayak gini mungkin bisa bikin orang ngeliat kamu seakan-akan norak, mungkin. Kamu ga harus kaya gini, cukup jadi diri kamu sendiri aja,” tanggap Clara. “Kita ngomong gini bukannya mau bikin kamu sakit hati atau apa, tapi kita takut kamu malah dianggap aneh dan diganggu sama orang-orang yang gak suka karena nganggep kamu aneh,” lanjut Clara. “Bener Eli. Kita ga larang kamu buat mengikuti style disini, tapi saya rasa lebih baik kamu jadi diri sendiri aja. Keberagaman juga penting. Dan belum tentu kamu gak akan ditemenin kalo kamu ga ikut gaya anak sini kok,” jelas Jegar. Eliana tidak menjawab mereka, dan hanya termenung. Dia menundukkan kepalanya. Tidak lama kemudian Eliana menjawab. “Kalian benar, aku ga seharusnya kaya gini, besok aku akan tunjukkan jati diri aku sebenarnya. Menjadi seorang anak desa yang modern,” jawab Eliana. Jegar dan Clara tersenyum lebar mendengar jawaban dari Eliana. Clara menggenggam tangan Eliana dan memberikan semangat. Jegar tersenyum dan berdiri, lalu berjalan di depan mereka. Jegar berpamitan dengan clara dan Eliana. Clara dan Eliana kemudian mencari angkutan, dan pulang ke kost-an mereka. *** Sesampainya di kost-an, mereka beristirahat dan menyiapkan untuk hari esok. Eliana melihat barang-barang yang diberikan ibu dan abahnya, dia melihat salah satu baju berlengan panjang warna coklat tua lengkap dengan celana bahan cokelat milik ibunya. Terlihat usang, tapi justru terlihat antik. Ia memasangkan baju berlengan panjang warna hitam itu dengan sebuah cardigan cokelat muda yang dibelinya beberapa hari lalu


17 di toserba. Eliana bertanya pada Clara. Dan Clara sangat senang melihat apa yang Eliana tunjukkan. “Nah, Ini baru Eliana yang aku kenal. Seorang anak desa yang pintar dan cantik!” kata Clara. “Anak desa juga bisa bergaya dan gak ketinggalan zaman. MODERN!” bangga Eliana. Eliana tersenyum sembari menyimpan baju yang tadi dia perlihatkan pada Clara. Eliana dan Clara pergi tidur agar tidak telat untuk bangun dan berangkat ke kampus besok.


18 Guretan Satin Diandra Ratna Paramitha Li Kalau ditanya, dimana tempat paling nyaman untuk mencari ide bagi karya lukisku selanjutnya, pasti akan ku jawab balkon di apartemen kecilku yang berada diujung kota Paris. Dan disinilah aku, menikmati angin hilir serta secangkir teh hangat yang selalu membuat kacamataku berembun, sembari netraku mengagumi kota Paris yang selalu indah saat petang datang. Benakku dipenuhi dengan warna acak serta objek-objek liar yang jika disatukan akan menjadi harmonisasi yang indah. Aku menarik nafas dalam dan baiklah, aku siap untuk bermain dengan kanvas untuk kesekian kalinya. “Ayo kita mulai, chèri”. Dean Adhinata, nama yang dulu orang tuaku beri untukku. Walaupun aku besar di Paris, hal itu tidak menutup fakta bahwa darah keturunan Jawa mengalir dalam tubuhku. Awalnya, keluargaku pindah ke Paris hanya untuk urusan pekerjaan saat aku masih berumur 8 tahun. Namun, kontrak pekerjaan mereka di Paris selalu diperpanjang. Terlalu lama di Paris juga membuat mereka lama-kelamaan jatuh cinta dengan kota cinta itu, sehingga kami memutuskan untuk menetap di Paris hingga waktu yang tak ditentukan. Seiring berjalannya waktu, rinduku terhadap tanah Jawa semakin bertambah setiap harinya. Hal ini mendorongku untuk mulai melukis hal-hal yang berbau budaya Jawa. Melakukannya, berhasil bagiku untuk melepas rindu dengan tanah sakral itu, setidaknya sedikit. Tak terasa aku masih melakukannya, bahkan setelah 12 tahun aku tinggal di kota ini. ***


19 Matahari petang sudah menyapa. Memamerkan cahaya oranye khasnya. Hanya alunan gamelan yang kuputar pada radio serta angin hangat khas musim semi menemaniku sore hari ini. Kanvas yang sudah kutaruh pada easel menjadi awalan bagi seluruh kegiatan indah ini. Beberapa tube cat juga kuletakan pada meja kecil di samping easel. Goretan warna sudah terlukis, menampilkan objek yang masih samar. Goretan lain juga ikut menghampiri, memperjelas bentuk sang objek. Jujur, aku selalu mencintai momen ini, momen dimana dunia seketika menjadi tenang dan fokusku hanya pada kanvas yang ada di depanku. Hingga.. “Tok! Tok! Tok! Yaan! Deaan! wooy!” Dan jujur, aku selalu membenci momen ini. Aku berjalan menuju pintu depan kamarku dan membukanya, di depanku terlihat sosok paling mengganggu di dunia ini. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Abimana, sering kupanggil Bima. Kami adalah teman satu universitas. Selain itu, ia adalah tetangga di apartemen tempat tinggalku, mengetahui bahwa ia juga orang Indonesia membuatku sering berbincang dengannya, hal itu yang membuatku kini akrab dengannya. Kami selalu berbincang menggunakan Bahasa Indonesia karena kata bima, “Biar nggak lupa rumah” “Bim! Bisa gak sih lu kalau manggil orang yang santai gitu.” Protesku yang hanya ia jawab dengan senyuman tanpa dosa. “Hehe ampun ndoro.” Sembari ia membungkukan badannya berlagak seperti seseorang yang meminta ampun kepada atasannya. “Mau apa?” Tanyaku galak.


20 “Eitss.. santai dong, gue di kamar lu yaa, bosen nih..” Pintanya. “Yaudah, jangan berisik tapi.” Peringatku padanya, sembari ku persilahkan ia untuk masuk. “Iya iya,” ia masuk kedalam kamarku. “Wiih lagi ngelukis? Ngelukis apa? Eh bentar gue tebak…” Ia mulai mengobservasi lukisanku. “Hm.. Wayang kulit lagi yaa?” Tebaknya. Tebakannya hanya ku jawab dengan anggukan. Sejak dulu wayang selalu menjadi objek favoritku untuk dilukis, detail-detail kecil serta cerita tersendiri dari setiap tokoh wayang selalu menarik perhatianku. Tidak aneh, sebagian besar dari lukisanku adalah tentang wayang, khususnya wayang kulit. Aku membawa ragaku untuk kembali ke posisi awal, duduk di depan lukisan setengah jadiku. Aku melanjutkan lukisanku sembari bima terus memperhatikan setiap gerak-gerik tanganku saat melukis.. “Yan, masih inget nggak pas gue cerita designer Vivienne Haydee pemilik Haydee’s Bloom lagi nyari pelukis gaya indonesia buat dikolaborasiin sama desain-desain barunya.” Ucap Bima, memulai topik pembicaraan malam hari ini. “Iya, emangnya kenapa?” Aku mengingat percakapanku dengan Bima beberapa hari yang lalu. Sebenarnya, aku tertarik untuk setidaknya mengirimkan beberapa sample lukisanku kepada desainer tersebut. Namun, niat itu aku urungkan karena aku tidak mau menyimpan harapan saat ternyata aku tidak terpilih untuk berkolaborasi dengannya. Sedangkan disana Bima hanya tersenyum jahil, apa ini? Jangan-jangan… “Bim.. Jangan bilang lu ngirim sample lukisan gue ke Vivienne Haydee..” Aku menoleh padanya, memberikannya tatapan menerka-nerka.


21 “Iya gue kirim, pake e-mail gue tapi atas nama lu,” Jawabnya santai “Tapi Bim kok lu-“ Aku hampir saja mengeluarkan sumpah serapahku karena ia dengan seenaknya mengirim sample lukisanku tanpa persetujuan dariku, namun belum selesai berbicara ia sudah memotong perkataanku. “Gue kemarin liat lu searching tentang kolaborasi Vivienne. Ngeliat itu, gue nyimpulin kalo lu sebenarnya mau ikut, tapi lu takut gak bakal kepilih, dan setiap ada kesempatan lu selalu ragu dan akhirnya nolak dengan alasan yang sama. Gue juga inget, lu sering banget cerita kalau lu mau ngenalin budaya Indonesia di Paris kan? Ini bisa jadi kesempatan untuk lu buat ngenalin budaya indo yan. Kepilih ataupun nggak kepilih, itu urusan nanti,” potong Bima. Perkataannya sama sekali tidak salah, namun rasa ragu masih menghantuiku, rasanya aku ingin meminta Bima untuk menarik seluruh sample lukisanku dan membatalkannya. Namun setelah dipikir lagi, benar apa yang tadi dikatakan Bima, kepilih atau nggak itu urusan nanti. “Pengumuman yang kepilih bakal di kasih tau hari kamis besok lewat email, nanti gue kabarin.” Lanjut bima, perkataannya membuatku tersadar dari lamunanku. Hari kamis? Berarti 4 hari lagi, baiklah. “gue balik ke kamar yaa” ucapnya, yang lagi-lagi hanyaku jawab dengan anggukan kecil. Ia berjalanan menuju pintu keluar, “Bim!” Panggiku sebelum ia benar-benar keluar dari kamarku. “Makasih yaa” lanjutku. Mendengar itu, senyuman kecil terukir pada wajahnya. “iyaa, bonne chance (semoga beruntung) yan” setelah menyelesaikan perkataannya, ia langsung pergi dari kamarku, raganya menghilang dibalik pintu kamarku,


22 *** Hari-hari berikutnya tak seperti biasanya, benakku selalu di isi dengan pemilihan tersebut hingga tak terasa hari pengumuman tiba. Sepanjang hari rasa gugup menyelimutiku, aku takut gagal, takut berekspetasi terlalu tinggi, takut saat ternyata hasilnya tidak sesuai ekspetasiku. Namun, semua pikiran buruk itu aku coba buang sejauh mungkin dan menjalani hari sebiasa mungkin. Sepulang dari kelas rasanya lelah sekali. Namun ada hal yang lebih penting, pemilihan tersebut. Aku menunggu kabar dari Bima, jam dinding tetap berdetik dan aku tetap menunggu, terus menunggu, dan lagi-lagi menunggu. Waktu makan malam sudah hampir selesai, namun tidak ada kabar darinya. Diriku sudah hampir putus asa mengetahui kenyataan bahwa aku tidak terpilih. Hingga aku mendengar suara ketukan pelan dari pintu depan. Aku membukanya, dan terlihat Bima berdiri di depanku, wajahnya terlihat lesu, kepalanya ia tundukan. Hah.. memang sudah tidak ada harapan lagi. “Bim, gue nggak kepilih ya?” Tanyaku lesu. “Lu ngomong apaan sih? Lu kepilih, selamat ya yan!” ekspresinya yang awal terlihat sedih berubah menjadi girang sembari ia memperlihatkan layar handphonenya. Aku merebut handphone dari genggamannya dan membaca email dari Vivienne Haydee secara perlahan, e-mail itu berisikan pernyataan bahwa diriku terpilih untuk berkolaborasi dengannya. Aku menatap Bima tak percaya dengan apa yang baru saja aku baca. “Bim.. Kepilih Bim..” Hatiku berdebar kencang sembari hatiku kepalang senang, dan Bima menatapku dengan tatapan bangga. “Besok lu disuruh dateng ke kantornya, jam 10 pagi buat diskusi tentang kolaborasi ini,” jelas Bima, aku pun mengangguk


23 antusias. Malam itu aku tak bisa tidur, benakku membayangkan apa yang akan terjadi pada hari esok sepanjang malam. *** Hari jumat, pukul 9:45. Aku datang 15 menit lebih awal, Haydee’s Bloom, nama besar itu terpampang di depanku, ku tarik nafasku dalam dan melangkahkan kaki masuk ke dalam bangunan itu. Langkah kakiku membawaku ke meja resepsionis, menyebutkan namaku dan rencana pertemuan dengan Vivienne Haydee. Tak lama, resepsionis tersebut memanduku ke ruangan milik desainer tersebut, ia memintaku untuk menunggu di depan kantor Haydee dan meninggalkanku sendiri disana. 5 menit berlalu, “Dean Adhinata?” Suara feminim berlogat Prancis kental itu memanggilku, aku menoleh kearah suara tersebut dan seorang wanita paruh baya bergaya casual namun tetap terlihat klasik dengan kopi panas di tangannya melihat kearahku. Wajahnya terlihat familiar, itu adalah Vivienne Haydee. “10 menit lebih awal? Bagus Dean! Mari masuk,” pujinya sembari ia mempersilahkanku untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Perbincangan kami dimulai, berawal dari basa-basi ringan, ia bercerita masa kecilnya dihabiskan di Indonesia dan Haydee kecil tidak bisa menolak untuk jatuh cinta dengan adat dari setiap daerah di Indonesia, hal tersebut membuatnya ingin menuangkan aksen Indonesia pada beberapa desainnya, dan hal itu akan terwujud dengan projek kali ini. Tak lama perbincangan dilanjut dengan pembahasan tentang kolaborasi tersebut. Ia menjelaskan projek ini adalah kolaborasi dari 2 kultur yang berbeda yaitu Indonesia dan barat klasik. Hal ini cukup berbeda dari desain-desain haydee sebelumnya, yang cenderung bergaya barat klasik. Ia juga menjelaskan peranku di


24 projek ini adalah untuk melukis di baju hasil rancangan terbarunya dan desain dengan lukisanku akan menjadi desain utama di koleksi ini. Ia juga tak lupa untuk menyatakan koleksi ini akan di tampilkan pada salah satu acara mode paling bergengsi yaitu Paris fashion week. “Ada 10 desain yg harus kau lukis. Tentu saja tema yang akan diangkat di lukisanmu adalah tentang kebudayaan Indonesia, serta aku meminta kepadamu untuk sebisa mungkin melukiskan budaya dari setiap daerah di Indonesia, karena aku tidak mau melewatkan 1 daerah pun. Aku membebaskanmu untuk berkreasi sehebat mungkin, Kau memiliki waktu 10 bulan untuk menyesaikannya. Lakukanlah yang terbaik dean!” Aku tertegun dengan perkataannya, melukis budaya dari setiap bagian di Indonesia berartikan aku harus keluar dari zona nyamanku dan mulai mengeksplorasi budaya di setiap daerahnya, rasa ragu sempat terlintas di benakku namun kali ini aku tak akan mundur selain itu juga haydee terlihat sangat mempercayaiku dan aku tak akan mengecewakannya. “Tentu madame, terima kasih sudah mempercayaiku.” Ucapku formal. “Hahaha, tidak usah terlalu formal dean, santailah,” kekehnya, yang hanya aku balas dengan senyuman kaku. “Baiklah, mau kuantar ke ruang kerjamu?” *** Hari esok dan selanjutnya aku mulai berkerja untuk projek ini. Hari-hariku dihabiskan dengan terus mendalami budaya dari setiap bagian di Indonesia dan mencoba untuk melukisnya, Keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru ternyata tak seseram yang ada di benakku, tentu awalnya hal ini tidak mudah dan terasa merepotkan namun perlahan-lahan aku menikmati setiap Langkah


25 yang kubuat di projek ini. Memiliki sesorang positif disekitarku juga membuatku tidak terasa terbebani namun malah menikmati dengan projek ini. Bima selalu membantuku dalam mencari informasi dari setiap daerah dan Haydee selalu memberikanku ide serta masukannya yang selalu saja kreatif..


26 Semua berjalan lancar, hingga aku mulai untuk melukis pada desain gaun satin bergaya barat karya Haydee secara langsung. Melukis pada satin terasa sangat berbeda dengan melukis di atas kanvas, dan ini menjadi tantangan tersendiri bagiku. Kesalahan demi kesalahan terus menghampiriku, mulai dari warna yang cepat menyebar setiap aku menempelkan kuasku pada gaunnya sampai hasil akhir yang berbeda dari ekspetasiku. Aku sempat berada di titik terendahku, namun Bima selalu bersamaku memberikanku dukungannya. Haydee juga tidak menyalahkanku atas kesalahan-kesalahan tersebut. Karena menurutnya, setiap kesalahan memiliki keindahan yang belum terungkap, dan dari situ kau harus mengungkapnya sendiri dengan kerja kerasmu. *** Malam demi malam berlalu, menyisakanku di malam dingin ini dengan gaun-gaun terlukis indah yang kini terpajang kokoh di depanku. Pekerjaanku sudah selesai dan aku menyukainya. Diriku terduduk di depan deretan kesepuluh gaun tersebut, mengingat kembali manis-pahit apa saja yang sudah kulewati selama 10 bulan terakhir. Seluruh memori tersebut tersimpan indah di dalam pikiranku. Mungkin, tanpa Tindakan semaunya Bima dan rasa ‘ragu tapi mau’-ku, aku tak akan ada disini. Paris Fashion Week akan diadakan 1 minggu lagi, waktu yang cukup untukku beristirahat sejenak. Haydee tentu bersemangat setelah ia melihat hasil akhirnya, ia berkata lukisanku membawa kembali banyak memori di masa kecilnya. 1 minggu berlalu. Aku terduduk di kursi barisan depan runway, menikmati seisi acara hingga koleksi Haydee mulai ditampilkan. Hatiku berdegup kencang seraya menyaksikan para model dilapisi gaun dengan lukisanku diatasnya berlenggok ria di depanku. Sebagian penonton lainnya terkagum dengan gaun yang kini


27 tersinari lampu sorot itu. Lega menyelimutiku, dan disitulah rasa raguku terbayar sudah. *** Acara pada malam hari itu sudah berakhir. Menyisakanku, Bima dan Haydee diluar gedung tempat peragaan mode tersebut diselenggarakan. “Bukankah kita harus makan-makan untuk merayakan malam ini?” Ucap tiba-tiba Haydee yang langsung aku dan Bima setujui. Malam pada hari itu rasanya indah sekali. Aku berjanji tak akan melupakan malam itu.


28 NEVER GO OUT OF STYLE Kanaya Azzahra Octarina Sang surya telah terlihat, dengan sinarnya yang terang. Seorang pemuda yang bernama Shira terbangun dari tidurnya. Di hari yang cerah ini Shira akan pergi merantau dari desa ke kota karena dia akan melanjutkan pendidikannya di jenjang yang lebih baik. Shira diterima disalah satu universitas ternama di Indonesia yaitu Universitas Indonesia dengan jurusan Kedokteran. Keluarga Shira sangat bangga terhadap Shira, karena Shira merupakan anak tunggal dan merupakan satu-satunya anak di desa Bintang yang diterima di kampus ternama dan mendapatkan jurusan kedokteran. Shira memang bercita-cita menjadi dokter dikarenakan Shira ingin menjaga warga-warga di desa agar tetap sehat. Waktu kepergian Shira pun tiba, Shira berpamitan dengan keluarga dan juga warga desa Bintang, jika Shira sudah menjadi dokter, Shira membuat tekad untuk kembali ke desa Bintang dan menjadi dokter untuk seluruh warga desa Bintang. *** Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh akhirnya Shira telah sampai di kota tujuan, kota Jakarta. Shira sangat senang setelah sampai di Jakarta dan sangat tidak sabar untuk mengelilingi kota Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Pada hari pertama ini Shira memutuskan untuk segera mencari kosan yang telah dipesan sebelumnya dan beristirahat dikarenakan perjalanan yang Panjang. Shira menaiki angkutan umum yaitu TransJakarta, Shira pun baru pertama kali menaiki Transjakarta dan Shira merasa sangat senang dan menjadikan ini merupakan pengalaman pertama Shira yang takan pernah Shira lupakan. Setelah turun dari Transjakarta Shira memesan ojek online untuk pergi ke kosan yang akan Shira tempati selama kuliah ini. Shira pun baru pertama kali menggunakan aplikasi ojek online, dan Shira pun merasa sangat tertolong oleh ojek online dikarenakan kemudahan yang didapat untuk transportasi. Setelah sampai kosan Shira segera bertemu dengan ibu kosan untuk meminta kunci dan segera masuk ke kamar untuk bersih-bersih dan bersiap untuk istirahat. Sebelum beristirahat Shira tak lupa untuk mengabari ibu dan bapak di desa bahwa Shira sudah sampai Jakarta dengan selamat dan juga sudah berhasil sampai di kosan. Mendengar


29 kabar dari Shira, ibu dan bapak sangat lega dan memberi tau Shira untuk segera istirahat dikarenakan perjalanan yang jauh ini. Setelah kamar kosan Shira rapi dan bersih, Shira segera mandi dan siap-siap untuk beristirahat di kosan dikarenakan besok Shira ingin menelurusi kota Jakarta sebelum kuliah dimulai. *** Hari ini Shira memikirkan untuk pergi mengililingi kota Jakarta, dia ingin mengenal kota ini lebih dalam agar dia terbiasa. Dia sangat ingin sekali mengunjungi beberapa tempat salah satunya adalah Monumen Nasional ataupun yang biasa kita sebut dengan ‘MONAS’. Dia langsung bersiap-siap untuk pergi ke monas. Setelah dia sampai di Monas dia sangat terkesan karna bangunan yang sangat tinggi dan indah, dan saat itu juga dia langsung memotret foto sebanyak mungkin untuk dikirimkan ke keluarganya yang berada di desa. Setelah merasa puas dengan Monas dia berencana untuk pergi ke tempat lain, tetapi sangat disayangkan tiba-tiba ada hujan yang sangat deras, jadi Shira memilih untuk memesan taxi online untuk dia kembali ke kosan. Saat sampai di kosan dia langsung bersih-bersih dan membereskan untuk apa saja yang harus di bawa besok, dan Shira pun langsung terlelap dalam tidurnya. *** Hari ini adalah hari pertama Shira PKKMB atau Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru. Dia sangat tidak sabar untuk mengikuti PKKMB dia ingin mencoba mencari banyak teman baru di sana. Shira bersiap untuk pergi ke kampus memakai kemeja putih serta membawa almamaternya. Shira pun telah sampai di kampusnya, gedung nya terlihat sangat bagus dan sangat banyak orang orang seangkatannya. Saat dia mendapatkan tempat duduk, di sampingnya ada seorang perempuan, Shira ingin mengajaknya mengobrol tetapi dia takut, setelah di pikir pikir akhirnya Shira pun memberanikan diri. “Halo, boleh kenalan gak ya? Nama kamu siapa?” tanya Shira. “Boleh banget dong, nama aku Rellya. Nama kamu siapa?”


30 “Aku Shira. salam kenal ya, semoga kita bisa berteman dengan baik.” “Pasti dong!” seru Rellya dengan semangat. Seiringnya waktu berjalan Shira dan Rellya menjadi semakin dekat. Mereka pun selalu bersama sampai PKKMB hari terakhir. *** PPKMB pun telah selesai, untuk merayakan ini Shira dan Rellya memutuskan untuk pergi ke mall untuk berbelanja atau pun untuk bermain. Shira pun bersiap siap untuk pergi ke mall dengan pakaian nya yang bisa dibilang sangat biasa dan sopan. Shira dan Rellya akhirnya sudah bertemu di salah satu mall di Jakarta. Saat sedang jalan-jalan Shira melihat style orang-orang yang sangat bagus dibandingkan dirinya yang sangat tertutup dan biasa. “Orang-orang di Jakarta sangat mengenal fashion banget ya, beda banget sama aku yang gak ngerti sama style-style kaya gitu,” kata Shira. “Iya, kamu mau nyoba style yang kaya gitu?” “Tapi aku gak punya baju-baju kaya gitu.” “Gapapa, aku punya banyak kok. Nanti pulangnya ke rumahku aja yuk biar kamu bisa nyobain baju-baju kaya mereka, siapa tau kamu tertarik,” ajak Rellya “Serius gapapa?” “Gapapa banget! ayo kita main-main dulu.” Setelah mereka selesai berbelanja dan main, sesuai ajakan yang Rellya tawarkan mereka pergi ke rumah Rellya naik mobil milik Rellya. Sesampainya di rumah Rellya mereka langsung menuju ke kamar nya. Shira sangat terkejut ternyata rumah dan kamar Rellya sangatlah besar. Di kamar Rellya, Shira langsung ditawarkan untuk mencoba coba bajubaju yang disarankan bahkan Shira di beri kan baju oleh Rellya. “Kamu suka gak bajunya?” ucap Rellya.


31 “Suka banget! Tapi, emangnya ini gapapa buat aku? Ini bajunya masih bagus bagus banget.” “Gapapa buat kamu aja biar kamu bisa nyobain style-style baru.” “Makasih banget ya Rell,” kata Shira. *** Setelah hari itu, selama beberapa hari Shira selalu memakai baju dengan style yang baru, kemana pun itu. Memang bagus tapi Shira merasa aneh karna ini bukan dirinya yang biasa seperti ada yang mengganjal dalam dirinya saat Shira memakai baju itu. Akhirnya Shira pun memutuskan untuk cerita ke Rellya. “Aku tuh suka banget sama style ini, tapi aku merasa ini bukan diriku yang sebenarnya. Aku yang biasanya cuman pakai baju yang biasa biasa saja, bukan pakai baju yang bagus-bagus banget,” ucap Shira. “Kalo kamu memang merasa ga nyaman kamu bisa balik lagi aja ke style kamu yang lama. Style itu gak penting, yang penting itu kamu harus suka sama apa yang kamu pakai dan gausah peduliin pandangan orang lain ke kamu,” jawab Rellya. Setelah itu akhirnya Shira Kembali dengan baju baju nya yang lama dan tidak memedulikan pandangan orang lainkepada dirinya. Kini Shira telah menjalani harinya dengan normal dan sering menghabiskan waktunya untuk belajar, bermain Bersama Rellya dan tidak lupa untuk mengabarkan kedua orang tua nya yang berada di desa. *** Satu semester telah berlalu… Selama ini Shira sudah terbiasa sekali dengan budaya di kota, diapun selalu bermain dengan Rellya, tetapi dia tidak pernah lupa untuk belajar dengan sangat giat untuk menggapai cita-citanya untuk menjadi dokter. Shira sangat bahagia karena sekarang dia sudah memiliki banyak teman di kampusnya, semua ini di karenakan Rellya yang selalu memperkenalkan Shira kepada banyak orang.


32 Liburan semester ini Shira memutuskan untuk pulang ke desa karena dia sudah sangat rindu dengan keluarga nya. Dia sangat tidak sabar untuk bertemu orang orang di desa Bintang dan berbagi banyak cerita tentang pengalamannya yang berada di kota. Saat berada di perjalanan menuju ke desa Bintang dia melihat pemandangan di sekitarnya sambil mendengarkan lagu. dia selalu ingin pulang ke desa


33 dan bertemu keluarganya, Shira selalu mengingat kalimat yang ibunya pernah katakan saat ia diterima oleh Universitas Indonesia. “Walaupun kamu kuliah di tempat yang jauh, jangan pernah lupa untuk pulang ke desa ini.” ‘’


34 LIKA-LIKU PENTAS SENI Safina Aprilia Di pagi hari yang cerah, cahaya sang surya mengintip dari jendela dengan senyum cantiknya. Pancaran sang surya menunjukkan inilah waktunya manusia untuk menikmati hidupnya. Embun pagi yang menempel di rerumputan, serta angin yang berbisik-bisik di telingaku. Pagi ini aku berjalan menuju sekolah. Tak terasa, langkah demi langkah menghantarkanku pada lingkungan sekolah, teriakan-teriakan penghuni sekolah mulai terdengar, sungguh suasana yang ramai. Gia. Ya, itu nama yang diberikan oleh ibuku pada waktu itu. Aku seorang remaja berumur 14 tahun, aku seorang siswa di SMP Nusa Bangsa. Aku tinggal disebuah komplek yang terletak ditengah perkotaan. Sekarang aku sedang memperhatikan guruku yang sedang menjelaskan pelajaran seni budaya. “KRINGGG.. KRINGG” bel sekolah berbunyi, pertandawaktu istirahat telah tiba. Para siswa langsung memasukkan buku-bukunya ke dalam loker meja dan beranjak dari kursi keluar kelas. Aku, Leona, dan Edyn mengantri panjang di kantin untuk semangkuk mie ayam. Sesudah membeli mie ayam, kami mencari meja yang kosong. Kami memakan mie ayam itu sembari membicarakan pentas seni yang akan diadakan oleh sekolah bulan depan. “Eh, sekolah bakal mengadakan pentas seni bulan depan dan aku dengar-dengar hadiahnya menarik loh, kalian ngga ada ide gitu untuk pentas seni kita?” tanya Edyn sembari menyantap mie ayam miliknya. “Aku sih ada, gimana kalau pentas seni kita lebih mengarah ke tariantarian tradisonal,” Jawab Leona. “IH KUNO BANGET, lebih baik tarian modern saja, kesannya jadi terlihat lebih elegan!” ujar Gia dengan nada tinggi. “SUDAH SUDAH!! Kalian jangan ribut, nanti kita bicarakan lagi pulang sekolah,” ucapku mengakhiri pembicaraan.


35 “Kriiingg..” bel sekolah kembali terdengar, pertanda waktu istirahat telah usai. Aku, Leona, Edyn kembali ke kelas untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya. *** Pukul empat sore, seluruh pembelajaran telah selesai. Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas. Waktunya pulang sekolah, aku menuju angkot jemputanku. Sesampainya di rumah, aku berganti pakaian. Lalu, aku duduk di sofa.


36 Tak lama kemudian… “Tut tutt.. tut tutt,” ponsel Gia berdering. Ternyata ia mendapat panggilan telepon dari Edyn dan Leona untuk membicarakan kembali tentang pentas seni yang diadakan oleh sekolahnya tersebut. “gaiis.. aku ada ide nih, gimana kalau kita mencampurkan keduanya antara tarian tradisional dan modern? tari Wonderland Indonesian sepertinya bagus tuh, bagaimana kalau kita menampilkan itu di pentas seni kita?” suara Edyn dari ponsel Gia. “Boleh tuh, Edyn. Sepertinya keren,” jawab Gia. “Wahh bagus, boleh banget tuh, Edyn,” jawab Leona. “Okee, kalau begitu besok sepulang sekolah kita latihan yaaa.” Sambung Edyn, lalu mengakhiri panggilan teleponnya. *** Keesokan harinya, sepulang sekolah.. Tiiin.. tiiinn.. terdengar suara klakson motor dari luar, ternyata itu motor Leona dan Edyn. Mereka datang ke rumahku untuk melakukan latihan pentas seni. “Ayoo.. silahkan masuk,” sambutku pada Leona dan Edyn. Kami langsung memulai latihan. Kami tak sabar menanti hari dimana pentas seni itu di mulai. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari sudah mulai malam, matahari tenggelam. Leona dan Edyn berpamitan padaku untuk pulang. “GIA, KITA PULANG DULU YAA,” saut Leona dan Edyn dari kejauhan. *** Hari demi hari, minggu demi minggu telah terlewati.. Tak terasa hari ini adalah hari dimana pentas seni itu dilaksanakan. Sebelum memulai perlombaan, di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama terlebih dahulu. Lalu, di lanjut dengan sambutan dari bapak kepala sekolah SMA Nusa Bangsa. Lomba pentas


37 seni pun dimulai. Kami merasa deg-degan karena takut tidak bisa menampilkan yang terbaik. “Arggh.. aku gak yakin bisa menampilkan yang terbaik saat tampil di atas panggung,” Ucapku pada Leona dan Edyn. “Ah sudah lah, tidak apa-apa, yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan yang terbaik,” jawab Leona dan Edyn. Tak lama kemudian.. aku, Leona, dan Edyn dipanggil untuk tampil diatas panggung. Kami mendapat urutan tampil pertama. Seluruh peserta lomba pentas seni telah tampil. Tak lama lagi akan ada pengumuman juara pentas seni terbaik. “Mohon perhatian semuanya! Sekarang adalah waktunya untuk mengumumkan juara penampilan pentas seni terbaik pada tahun ini.” suara mc terdengar jelas dari speaker. Jantungku berdebar kencang. “Sekarang kami umumkan juara penampilan terbaik pada tahun ini ialah pentas seni yang menampilkan tari Wonderland Indonesia, Selamat!” “Prok, prok, prok..” suara tepuk tangan bergemuruh. “HAH, KITA JUARA TERBAIK?!” ucap Gia terkaget-kaget. “Wah, iya nih! gak nyangka kalau kita bisa jadi juara terbaik tahun ini,” jawab Leona dengan gembira. “Edyn, kamu saja yang naik ke atas panggung untuk ambil hadiahnya,” sambung Leona. “IYA IYAA,” jawab Edyn bergairah, lalu dia naik ke atas panggung dan mengambil hadiahnya. “Ternyata benar ya, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha serta berkerja keras, pasti akan mendapat hasil yang terbaik.”


38 Rona Hasha Nafisha Mahira Suara jam silih berganti terdengar dalam hitungannya. Berirama bersama bunyi detak jantung yang terus berdetak di dalam ruangan yang diselimuti kesunyian tersebut. Niellé tidak bisa berbohong, ia sangat takut. Tersorot wajah ketakutan dari gadis berdarah blasteran Belanda dan Indonesia tersebut. Niellé adalah anak yang diketahui semua orang di sekolahnya rajin dan berparas cantik. Namun kali ini ia dipanggil melalui teman sekelasnya untuk pergi ke ruang yang semua siswa enggan untuk memasuki ruangan tersebut. Ya, ruangan tersebut adalah ruangan Bimbingan Konseling atau biasa disingkat ruangan BK. Niellé sangat heran dan bertanya-tanya apa yang sudah ia lakukan. Apakah karena gurunya sudah mengetahui hobi Niellé yang bisa dibilang kurang baik tersebut? *** Pukul sembilan malam. Guyuran air pada malam hari menjadi satu-satunya obat peluruh penat dari rasa lelah seharian. Niellé duduk terpaku memandangi rintik demi rintik air dari atmosfer yang mendarat tepat diatas tanaman pot milik Niellé di luar jendelanya. Ia teringat sesuatu. Fay, temannya tersebut ingin mengajak Niellé untuk mencoba grafitti art dengan dirinya. Niellé merasa tidak familiar dengan apa yang di sebutkan temannya tersebut. Ia pun mulai meraih laptopnya yang ia tinggalkan di tempat tidurnya untuk mencari tahu apa itu grafitti art. “Oh, aku sering liat ini dimana-mana ternyata. Bukannya hal kayak gini itu engga baik ya?” Niellé bergumam dengan dirinya sendiri sembari menggerakkan mouse laptop miliknya. Awalnya ia tampak ragu. Tapi, toh. Apa salahnya untuk mencoba sesuatu baru. Niellé pun mulai membuka handphone miliknya.


39 Mendadak, pintu kamarnya terbuka, terdengar cukup kencang hingga Niellé sontak menoleh ke arah pintu kamarnya. “Hi everybody, what’s up!!” Panjang umur. Fay muncul ketika Niellé hendak menghubungi kawannya tersebut. “wih, wihh, jangan melamum dong. Ayo kita pergi. aku udah bawa barang-barangnya, nih. Hujannya juga udah lumayan reda.” Ah, benar juga. Hujannya sudah mereda dan tersisa gumpalan awan yang samar-samar terlihat bersama jutaan kerlip cahaya bintang. Fay terlihat menenteng sebuah tas ransel berwarna hitam yang sedikit basah akibat terkena air hujan di perjalanannya. Belum sempat menanggapi ocehan temannya, Niellé sudah lebih dulu ditarik oleh Fay untuk turut mengikutinya. Niellé hanya bisa menghela nafasnya dan membiarkan perempuan berambut hitam legam pendek itu menuntunnya. *** Lampu-lampu berkelip pada beberapa tiang lampu di sepanjang jalan. Jalanan kini ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang setiap waktu. Beberapa pedagang kaki lima juga terlihat berjejer di tepi jalan. Letak tempat yang mereka tuju cukup dekat jika ditempuh dengan kendaraan. Namun, mereka memilih untuk berjalan sembari menikmati angin sejuk di malam hari itu. Setelah menyusuri beberapa jalan, Niellé dan Fay pun sampai di tempat tujuan mereka. Terdapat beberapa tembok kosong di pinggir jalan. Fay pun menaruh tas ranselnya dan membuka resleting tas tersebut. Ia mengeluarkan beberapa spray can, cat dan beberapa peralatan lainnya. Fay mengocok isi spray can tersebut dahulu lalu mulai menggerakkan spray can dengan lancar. Niellé mengamati cara Fay menggambar di tembok tersebut dalam diam. Beberapa bagian gambaran sudah selesai Fay buat dan beberapa spray can juga sudah tergeletak di bawah habis. “Fay. Grafitti art, tuh. asalnya dari mana sih?” Niellé bertanya untuk memecah keheningan.


40 “Grafitti art tuh dari New york, Amerika serikat. Awalnya cuma coretan-coretan di gerbong kereta terus menyebar ke dinding-dinding bangunan, kamu mau coba gambar?” Fay menyodorkan beberapa spray can yang sudah setengah terpakai. Niellé hanya mengangguk dan mengambil peralatan tersebut. Ia mulai menyemprotkan cat aerosol di permukaan dinding tersebut. Tak disangka, Niellé cukup handal dengan hal tersebut. Ia pun mulai menggambar dengan elok seraya bercanda ria dengan temannya tersebut. Waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Merekapun kini tuntas menyelesaikan gambarannya. Dengan perpaduan warna yang menonjol dan terbilang berantakan namun masih memiliki komposisi warna, garis, bentuk dan volume yang pas. Itulah keunikan grafitti art sendiri. “Akhirnya selesai.. tanganku udah pegel nih.” Niellé mengeluh sambil mengusap peluh yang mengalir di dahi dengan punggung tangannya. “Udah jam sebelas. pulang yuk, udah malem banget.” Fay mulai memasukkan peralatannya kedalam tas ransel miliknya lagi dan Menjinjingnya. Mereka pun kembali berjalan melewati beberapa rumah dan bangunan. Dan mereka sampai di simpang jalanan yang memisahkan antara rumah Niellé dan Fay. Fay pun berpamitan dengan melambaikan tangannya untuk pergi kerumahnya masing-masing. *** Sejak saat itupn Niellé mulai menyukai yang namanya grafitti art. Niellé selalu mengikuti Fay jika ia hendak melakukan grafitti art lagi. Niellé juga bertemu dengan beberapa teman-temannya dengan berbagai umur yang juga melakukan grafitti art. Sudah menjadi hal yang lazim jika anggota keluarganya melihat Niellé pergi keluar dengan membawa tas yang berisikan


41 peralatan gambarnya. Hari ini Niellé pun ingin menggambarkan karyanya lagi. Ia pun pergi ke salah satu tempat yang berada di pinggir rel kereta. Alih-alih bersama Fay, Niellé memutuskan untuk pergi dengan dirinya sendiri. Akhirnya iapun mulai menggambar perlahan di tembok dengan spray can nya yang telah ia kocok. Namun sewaktu ia tengah menggambar salah satu karyanya, ia sekilas melihat seseorang yang sedang menatap kearahnya. Niellé sedikit tidak nyaman tapi memilih untik tidak ambil pusing dan melanjutkan gambarnya tersebut. ***


42 Suasana kelas kini terdengar ricuh karena guru pelajarannya nihil entah sibuk pergi kemana. Niellé, yang sudah terbiasa dengan suasana kelas inipun melanjutkan sesi membaca bukunya. Tiba-tiba, fiana. salah satu teman sekelas Niellé menghampirinya. “Eh, Niellé. Tadi aku abis ke toilet ketemu Pak Jie. Pak Jie minta kamu buat ke ruangan bk. Aku engga tau buat apa. Tapi, goodluck ya!” Fianna berkata seraya melambaikan tangannya dan membalikkan badannya untuk kembali ke tempat duduknya. Deg. Niellé pun beranjak dari tempatnya dan berjalan melalui koridor sekolah menuju ruangan bimbingan konseling seraya memikirkan apa yang harus ia lakukan. Niellé menelan ludahnya. Dengan pelan, ia membuka pintu ruangan tersebut. Terlihat pak Jie dan Fay yang sedang duduk berhadapan. “Kenapa Fay juga ada disini?” “Akhirnya dateng juga, sini duduk di sebelah Fay. Bapak mau ngomong sama kalian berdua.” Pak Jie mempersilahkan Niellé untuk duduk bersebelahan dengan Fay. Hening. Pak jie belum membuka suara, Niellé dan Fay hanya bisa pasrah. Medeka tau sewaktu-waktu pasti Pak jie akan mengetahui tentang apa yang mereka telah lakukan. “Jadi, kalian buat grafitti art ya? Apakah kalian tau kalo itu bisa aja termasuk Vandalisme? Apalagi kalian engga izin sama sekali, kan?” Wali kelasnya memecahkan keheningan dengan pertanyaan yang sudah di perkirakan Niellé dan Fay. Walau begitu, mereka berdua tetap cemas. “Tapi kok bapak bisa tau?” Fay bertanya dengan nada yang sedikir bergetar. “Salah satu murid bapak melihat kalian berdua. Terutama Niellé. Tapi itu engga penting sekarang. Bapak disini cuma mau memperingati kalian. Menggambar grafitti art bisa aja dibilang Vandalisme di jalanan loh.”


43 Niellé yang merasa bersalah itu hanya bisa menunduk. Tapi ada ide yang timbul di otaknya, mungkin ia bisa pakai grafitti art dengan cara yang lebih baik. “Ah, Pak jie. Gimana kalau kita gambar grafitti art dipadukan dengan budaya Indonesia di sekolah ini? Karena bentar lagi hari kemerdekaan, kita bisa gambar seperti bendera Indonesia, makanannya, dan lebih banyak lagi.” Niellé mengusulkan gagasannya.“Iya, betul Pak! Kita juga bakal berhenti deh ngelakuin grafitti art tanpa izin” Fay mempertegas ide Niellé. “Hmm, oke. Nanti bapak bakal izin ke kepala sekolah terlebih dahulu. Tapi, janji ya untuk tidak menggambar-gambar di tembok sembarangan?” Pak Jie mengangguk dan menanggapi usulan mereka. “Janji pak, terimakasih!” Niellé dan Fay menjawab antusias dengam bersamaan. *** 16 Agustus. Dalam rangka kemerdekaan Indonesia, Niellé dan Fay berencana Menggambarkan beragam macam budaya Indonesia mulai dari makanan, baju adat dan masih banyak lagi sebelum hari kemerdekaan Indonesia esok tiba. Walau semulanya grafitti art berasal dari negara Amerika Serikat, Bisa saja dicampurkan budaya Indonesia agar terkesan menarik. Grafitti art tersebut pun akhirnya selesai, dengan perpaduan warna Merah, Putih dam warna-warna mencolok lainnya, membuat grafitti art tersebut menjadi unik dan keren. Niellé dan Fay pun mengagumi hasil karyanya sendiri. “nah, jadi keren. Lain kali jangan sembarang bikin Grafitti art di pinggir jalan lagi ya nak. Kecuali sudah izin dengan warga sekitarnya.” Pak Jie datang untuk melihatnya langsung. Besok akan diadakan Lomba-lomba untuk merayakan kemerdekaan


44 Indonesia dan Grafitti art ini sangat cocok dengan tema yang sudah disepakati Pak Jie, Niellé dan Fay. Walau hal tersebut semula terkesan buruk. Lakukanlah dengan niat baik, agar orang dapat melihat sisi baiknya.


45 RUANG ADIWARNA Nadia Astrela Firas Sejati Seorang gadis berparas cantik yang terlihat memakai seragam putih abu sedang melangkahkan kakinya menelusuri sepanjang lorong sekolah dengan membawa sebuah map ditangannya. Arah langkah kakinya berhenti sejenak sebelum memasuki ruangan yang sekarang ada di hadapannya itu, ia mendongakkan kepalanya dan melihat kearah nama ruangan yang berada di atas pintu ruangan tersebut. Bertuliskan “Ruang Guru” di atas sana. Setelah memastikan bahwa itu ruangan yang ingin dia tuju, gadis itu sempat menarik nafas panjang mempersiapkan dirinya, sebelum mengetuk pintu yang berada di hadapannya sebanyak tiga kali, sampai akhirnya suara yang ia kenal memintanya untuk masuk. Waktu berjalan begitu cepat. Gadis itu sudah duduk di sofa berhadapan dengan seorang guru yang tadi memintanya untuk masuk ke ruangan. “Bagaimana Sera? Sudah lengkap semuanya?” Pak Adam bertanya dengan ramah. Ya, namaku Sera, yang kini sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Belanda . “Sudah Pak, ini sisanya” Kata Sera sambil tersenyum ramah, lalu memberikan map yang tadi Sera bawa, ke Pak Adam. “Sudah lengkap semua, yaa. Kalian berdua yang terakhir” Kata Pak Adam sambil melihat ke arah Sera dan seorang laki – laki yang duduk di sebelah nya. Saat aku memasuki ruang guru tadi, laki – laki itu sudah lebih dulu duduk lalu berbincang dengan Pak Adam. Namanya Hesa,


46 seorang murid laki-laki yang cukup populer di sekolah ini karna prestasinya dibidang pencak silat. Dan kebetulan, dia juga menjadi salah satu murid yang terpilih mengikuti program pertukaran pelajar. “Kalian berdua dan tiga murid lainnnya akan berangkat lusa. Jangan lupa ya nak, kalian di sana untuk menambah pengalaman dan juga wawasan baru, lalu memperkenalkan budaya kita ke mereka saat festival budaya di sana nanti.” Kata Pak Adam berbicara dengan lembut menasehati kami agar tidak lupa dengan tujuan kami mengikuti program ini. *** Setelah mengunjungi ruang guru, Sera dan Hesa berbarengan keluar dari ruang guru dan ingin menuju kelas mereka masing - masing. “Udah siap sa?” Tanya Sera memecah keheningan yang dari tadi terus mengiringi langkah mereka berdua menyusuri lorong sekolah. Hesa yang berjalan di samping Sera pun menjawab “Udah, kalau kamu gimana, ra?” Katanya sambil terus berjalan, namun pandangannya kini ke arah Sera yang berjalan di sebelahnya. “Pastinya udah lah hehe, ngga sabar dehh lusa kita berangkat” jawab Sera. Dari pandangannya Hesa bisa melihat ekspresi bahagia Sera yang sangat menantikan untuk mengikuti program ini, arah pandangan Hesa berubah kembali ke arah langkah kaki nya dengan Sera di samping nya. Saat Sera dan Hesa melewati segerombolan murid, Sera dan Hesa bisa mendengar mereka membicarakan tentang program yang Hesa dan Sera ikuti, nada bicara mereka terdengar sinis, dan beberapa dari mereka juga melirik kami dengan tatapan merendahkan. Lalu salah seorang dari mereka berkata,


Click to View FlipBook Version