i DAFTAR ISI PRAKATA 1 SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI 3 SAMBUTAN KETUA UMUM BADAN PERFILMAN INDONESIA 5 SAMBUTAN KETUA KOMITE FFI 7 SAMBUTAN KETUA BIDANG PENJURIAN 9 TEMA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 11 PEREMPUAN PERFILMAN INDONESIA 12 LINIMASA 13 KOMITE FESTIVAL FILM INDONESIA 2021-2023 18 CATATAN PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 23 DUTA FFI 2022 24 KATEGORI PENGHARGAAN 25 SISTEM PENJURIAN FILM CERITA PANJANG 29 SISTEM PENJURIAN FILM NON CERITA PANJANG 33 SISTEM PENJURIAN KRITIK FILM 35 SISTEM PEMILIHAN FILM, AKTRIS, DAN AKTOR PILIHAN PENONTON 37 TAHAP SELEKSI AWAL 38 TAHAP REKOMENDASI 40 ASOSIASI PROFESI PERFILMAN 40 PERWAKILAN ASOSIASI PROFESI PERFILMAN INDONESIA 41 FILM CERITA PANJANG REKOMENDASI ASOSIASI 43 FILM CERITA PENDEK REKOMENDASI Dafta ASOSIASI 44 r Isi
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 ii KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 FILM ANIMASI PENDEK REKOMENDASI ASOSIASI 46 FILM DOKUMENTER PANJANG REKOMENDASI ASOSIASI 47 FILM DOKUMENTER PENDEK REKOMENDASI ASOSIASI 48 KRITIK FILM REKOMENDASI ASOSIASI 50 TAHAP NOMINASI 52 NOMINASI PENGHARGAAN PIALA CITRA 57 NOMINASI PENGHARGAAN KHUSUS 63 TAHAP PEMENANG 64 DEWAN JURI AKHIR 64 DEWAN PENGABDIAN SEUMUR HIDUP UNTUK FILM 72 NOMINASI FILM CERITA PANJANG TERBAIK 73 AUTOBIOGRAPHY 75 BEFORE, NOW & THEN (NANA) 79 MENCURI RADEN SALEH 83 NGERI-NGERI SEDAP 87 SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS 91 NOMINASI KATEGORI SPESIFIK TERBAIK 95 NOMINASI FILM CERITA PENDEK TERBAIK 119 BASIYAT: BATHE MY CORPSE WITH WINE 121 CULAS 123 DANCING COLORS 125 MEMBICARAKAN KEJUJURAN DIANA 127 PASUKAN SEMUT 129 THE SCENT OF RAT CARCASSES 131 NOMINASI FILM ANIMASI PENDEK TERBAIK 133 BLACKOUT 135 DESA TIMUN: BOLA 137 JAMBRONG & GONDRONG 139 NUSA ANTARA (THE ARCHIPELAGO) 141 WIRA SANG PENDEKAR CILIK 143 NOMINASI FILM DOKUMENTER PANJANG TERBAIK 145 ATAS NAMA DAUN 147 ININNAWA: AN ISLAND CALLING 149 MENCARI IBU 151 RODA-RODA NADA 153 SEGUDANG WAJAH PARA PENANTANG MASA DEPAN 155 NOMINASI FILM DOKUMENTER PENDEK TERBAIK 157 GIMBAL 159 KEMARIN SEMUA BAIK-BAIK SAJA 161 KOESNO, JATI DIRI SOEKARNO 163 LADY ROCKER SYLVIA SAARTJE 165 MARAMBA 167 SINTAS BERLAYAR 169 TASANEDA SASANDU DALEN 171 NOMINASI KRITIK FILM TERBAIK 173 MENUJU MALAM ANUGERAH 175 MALAM ANUGERAH PIALA CITRA FESTIVAL FIM INDONESIA 2022 193 PERAIH PIALA CITRA & PENGHARGAAN KHUSUS FFI 2022 203 CATATAN DEWAN JURI AKHIR & DEWAN PENGABDIAN SEUMUR HIDUP UNTUK FILM 215 KOMITE & PANITIA FFI 2022 231
KATALOG FFI 1 PRAKATA KEJERNIHAN GAGASAN & TEMA Film yang memiliki kejernihan gagasan dan tema yang relevan dengan situasi dan perkembangan zaman. 1 2 3 KUALITAS TEKNIS & ESTETIKA Film dengan pencapaian teknis dan estetika berkualitas yang mendukung keutuhan gagasan dan tema. PROFESIONALISME Film yang merefleksikan profesionalisme dan keterampilan pembuat film dalam mewujudkan gagasannya. Geliat kebangkitan insan film Indonesia pasca pandemi dan prestasi sineas perempuan di kancah internasional kembali mewarnai ekosistem perfilman Indonesia. Kelahiran karya mereka memperkaya pelaksanaan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) yang ke-42 tahun ini dengan cerita, tema, hingga capaian kualitas teknis yang beragam. Di tahun ini pula, Festival Film Indonesia (FFI) memberikan apresiasi tertinggi kepada perempuan perfilman Indonesia. Mereka telah menjadi bagian dari dinamika perfilman Indonesia, terlibat berkarya dari depan layar hingga ke belakang layar pada setiap lini, sejak film mulai diproduksi secara lokal hingga saat ini. Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) ke-42 yang bertema Perempuan: Citra, Karya & Karsa ini diselenggarakan dengan mengutamakan kriteria: 1
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 2 Komite FFI 2021-2023 mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Bapak Nadiem Anwar Makarim beserta jajarannya, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Ibu Sri Mulyani Indrawati beserta jajarannya, Menteri Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia, Bapak Erick Thohir beserta jajarannya, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Bapak Sukardi Rinakit, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo beserta jajarannya, Pemerintah Kabupaten Magelang, Bapak Zaenal Arifin beserta jajarannya, Ketua Badan Perfilman Indonesia, Bapak Gunawan Paggaru beserta jajarannya, Ketua Lembaga Sensor Film, Rommy Fibri Hardiyanto beserta jajarannya, asosiasi-asosiasi profesi perfilman Indonesia, dan seluruh komponen ekosistem perfilman Indonesia atas dukungan dan kerja samanya selama persiapan dan pelaksanaan FFI 2022. Salam Sinema! ORISINALITAS Film yang orisinal dari karya-karya yang sudah ada. KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 4 PRINSIP KEBERAGAMAN Film yang lugas memaparkan budaya inklusif dalam kebhinekaan Indonesia. 5 NUANSA BARU Film yang membawa nilai-nilai kebaruan, baik dalam hal teknis, cara tutur, unsur genre maupun tema. 6 2
KATALOG FFI 3 SAMBUTAN 3 Sambutan: Nadiem A. Makarim Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 4 Salam budaya, Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang penghargaan tertinggi di dunia perfilman Indonesia yang telah memberikan dampak besar terhadap perkembangan dan kemajuan kebudayaan kita. Penyelenggaraan FFI bukan sekadar tentang kompetisi di antara para sineas, tetapi juga menjadi peta untuk membaca dinamika perjalanan perfilman Indonesia. Salah satu unsur penting dalam dinamika tersebut adalah andil besar perempuan dalam membangun ekosistem perfilman Indonesia. Kita mengenal Ratna Asmara sebagai sutradara film perempuan Indonesia pertama yang semangatnya dilanjutkan oleh Chitra Dewi, Sofia W.D., dan Ida Farida. Dan sekarang, Indonesia memiliki semakin banyak sineas film perempuan dengan karyakarya membanggakan yang menorehkan penghargaan di kancah internasional. Kehadiran perempuan sangatlah penting untuk membangun ekosistem perfilman Indonesia yang maju dan menjunjung tinggi nilai-nilai inklusivitas. Oleh karena itulah FFI 2022 digelar dengan mengusung tema “Perempuan: Citra, Karya & Karsa”. Para duta FFI 2022, yakni Cut Mini, Marsha Timothy, Prilly Latuconsina, serta Shenina Cinnamon, juga mewakili para tokoh perempuan Indonesia yang inspiratif citra, karya, dan karyanya. Kami di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah berkomitmen untuk terus hadir untuk memberikan dukungan dan fasilitasi kepada para sineas film guna mendorong lahirnya karya-karya berkualitas yang menghibur dan mendidik. Demi pemajuan kebudayaan Indonesia, mari kita terus bergerak serentak mewujudkan Merdeka Belajar, Merdeka Berbudaya. Nadiem Anwar Makarim Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 4
KATALOG FFI 5 SAMBUTAN 5 Sambutan: Gunawan Paggaru Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 6 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas terselenggaranya perhelatan Festival Film Indonesia (FFI) 2022 yang baru saja selesai dengan penuh sukacita. Merupakan kebahagiaan tersendiri, pada perhelatan Piala Citra ini kita dapat saling bertemu dan saling menyapa. Walaupun pandemi COVID sempat merenggut kebahagiaan ini, namun tidak dapat memadamkan semangat insan perfilman Indonesia untuk tetap terus berkarya. Melalui beberapa rangkaian kegiatan FFI 2022, jelas memperlihatkan wujud kecintaan masyarakat terhadap film-film karya anak bangsa. Hal ini sebagai bukti bahwa kita telah memasuki pintu kejayaan film Indonesia. Salah satu wujud nyata itu adalah peningkatan market share film Indonesia sebesar 61% melampui film impor yang hanya sebesar 39% saja. Capaian yang luar biasa ini tidak hanya dapat kita raih sebagai dampak pasca pandemi COVID, tetapi capaian ini merupakan capaian tertinggi yang berhasil kita raih di sepanjang sejarah perfilman kita. Prestasi yang menggembirakan kita semua ini tentu saja sebagai hasil dari kerja keras kita semua, seluruh pemangku kepentingan perfilman, dan dukungan pemerintah yang terus menerus tanpa henti melakukan pembinaan dalam upaya menumbuhkembangkan ekosistem perfilman Indonesia. Badan Perfilman Indonesia mengucapkan selamat serta salam hormat kepada seluruh penggiat perfilman Indonesia, pemerintah, pewarta, dan para penonton setia film Indonesia–yang tidak pernah lelah untuk terus menghidupi perfilman Indonesia. Mari kita terus bersama-sama menjalin dan menguatkan kolaborasi, dari sisi edukasi, produksi, distribusi, dan ekshibisi, baik di dalam maupun di luar negeri. Marilah kita terus bergandengan tangan untuk menjaga dan meningkatkan keberhasilan ini. Keberhasilan yang telah kita capai ini, tentu saja harus sejalan dengan tujuan perfilman kita sesuai dengan yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan UU no. 33 tahun 2009 tentang perfilman, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karenanya, mari kita mulai kembali bekerja bersama untuk merancang caracara berproduksi yang lebih baik, yang memanusiakan pekerja film, dan melindungi pekerja film perempuan, serta kelompok lainnya yang terinklusi secara sosial. Terus mencari cara-cara penyelesaian masalah-masalah yang muncul karena penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran etika yang masih terdengar dalam industri kita. Dengan semangat bersama memajukan perfilman Indonesia, sekali lagi kami ingin mengajak Bapak, Ibu, teman-teman semua untuk mengenang teman-teman baik dan rekan kerja kita, insan-insan perfilman terbaik yang telah berpulang dalam dua tahun terakhir ini. Kepada penyelenggara FFI tahun ini, kami haturkan hormat sebesar-besarnya. Dengan berbagai dialog sehat tentang format, sistem, dan ketentuan yang berlangsung di dalamnya, semoga penyelenggaraan FFI tahun ini bisa menjadi dasar bagi perbaikan dan penyempurnaan penyelenggaraan di tahun-tahun selanjutnya. Badan Perfilman Indonesia sekali lagi menghaturkan selamat kepada kita semua, dalam semangat kebersamaan memajukan perfilman Indonesia yang tercermin dalam penyelenggaraan Festival Film Indonesia tahun ini. Kepada segenap Tim Kurasi, Juri Awal, Akademi Citra, dan Juri Akhir, serta anggota Komite FFI, seluruh asosiasi profesi dan komunitas perfilman sebagai bagian penting dari pemangku kepentingan, serta seluruh pihak lainnya yang terkait dengan kebijakan yang bekerja keras untuk menyukseskan penyelenggaraan FFI 2022. Semoga semangat kemajuan film Indonesia oleh FFI 2022 terpelihara! Maju terus perfilman Indonesia! Gunawan Paggaru Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 6
KATALOG FFI 7 SAMBUTAN 7 Sambutan: Reza Rahadian Ketua Komite FFI 2021 - 2023
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 8 Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatnya sehingga seluruh rangkaian kegiatan Piala Citra Festival Film Indonesia 2022 dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Bapak Nadiem A. Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI beserta seluruh jajaran, Bapak Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek RI beserta jajarannya, Bapak Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek RI beserta jajarannya, Bapak Sukardi Rinakit, Staf Khusus Presiden RI, Badan Perfilman Indonesia, asosiasi-asosiasi profesi perfilman, dan seluruh komponen ekosistem perfilman Indonesia yang terlibat sejak awal hingga malam anugerah. Terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga besar Komite FFI 2021-2023 dan Tim Kerja FFI 2022 yang telah bekerja keras sehingga kegiatan Piala Citra Festival Film Indonesia 2022 dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Andil besar perempuan dalam membangun ekosistem perfilman Indonesia sejak film pertama kali diproduksi di Indonesia hingga hari ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan telah mengisi peran-peran penting dalam ekosistem perfilman Indonesia, baik di depan layar maupun di belakang layar, dari produser, sutradara, penulis skenario, pengarah sinematografi, penyunting gambar, penata artistik, dan beragam peran lainnya pada lini produksi perfilman. Sayangnya, mereka sering terlupakan dan sering tak tercatat sebagai sebuah investasi besar dan penggerak pertumbuhan industri perfilman. Oleh karena itu, FFI 2022 digelar dengan mengangkat tema “Perempuan: Citra, Karya & Karsa”. Kata Citra melambangkan keindahan perempuan yang abadi, kata Karya melambangkan ciptaan yang lahir, dan kata Karsa melambangkan sumber kekuatan keindahan karya yang lahir dari perempuan. Perempuan sebagai insan adalah sumber kelahiran, sedangkan perempuan dalam perfilman Indonesia adalah sumber kelahiran karya. Melalui tema ini, kami mengapresiasi dan memperkenalkan tokoh-tokoh perempuan dalam perfilman Indonesia. Salah satunya adalah Roekiah yang menjadi inspirasi dari tema dan poster FFI 2022. Roekiah merupakan sosok legendaris yang berpengaruh dalam sejarah perfilman Indonesia. Kemunculannya sebagai bintang film perempuan pertama di era tahun 1930-an telah membawa cerita baru bagi perfilman Indonesia. Selain itu, FFI tahun ini telah melahirkan sejumlah program baru yang kami tayangkan melalui kanal YouTube FFI dengan narasumber yang didominasi oleh perempuan. Program-program tersebut adalah PEREMPUAN (Percakapan Empat Puan), Selaras Sineas, Gambar Hidup, Dua Sineas, dan Lebih Dekat Dengan. Melalui program-program tersebut, kami akan terus menyuguhkan informasi seputar perfilman Indonesia yang mengedukasi dan juga menghibur. Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua pihak, khususnya para sineas dan kritikus film yang telah mendaftarkan karyanya ke FFI 2022. Senang sekali melihat karya yang kami terima tahun ini memiliki keragaman tema, gagasan, dan latar belakang budaya dari Sumatera hingga Papua. Film-film tersebut mengangkat tema lokal dengan beragam budaya dan bahasa. Para pemain dari lintas generasi di film yang tayang di bioskop, platform digital, hingga festival internasional juga memberikan warna tersendiri. Dengan beragamnya karya yang mendaftar ke FFI 2022 ini, semoga bisa menjadi pertanda baik untuk kemajemukan perfilman Indonesia yang terus bergerak maju. Akhir kata, saya mengucapkan selamat kepada penerima penghargaan Festival Film Indonesia 2022. Maju terus perfilman Indonesia. Reza Rahadian Ketua Komite FFI 2021 - 2023 KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 8
9 SAMBUTAN Sambutan: Garin Nugroho Ketua Bidang Penjurian FFI 2021 - 2023
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 10 Salam budaya. Salam sinema. Salam kebersamaan. Sistem penjurian hibrida pada Festival Film Indonesia periode 2021-2023 dirancang berkesinambungan setiap tahunnya. Aspek penting dalam Penjurian FFI berpijak pada tiga hal, yaitu pertama, peran asosiasi film dan para insan film peraih Piala Citra melalui Akademi Citra, sebagai bentuk demokrasi dan penghormatan terhadap profesionalisme dan dedikasi para insan film, kedua adalah sistem dewan juri untuk menempatkan film sebagai produk budaya yang dinilai tidak hanya dengan kacamata kuantitatif, tapi juga secara kualitatif yang diwakili oleh para pakar di bidangnya, dan ketiga adalah keterlibatan publik guna menumbuhkan partisipasi dan menjangkau publik yang seluas-luasnya. Selain keterlibatan Akademi Citra, FFI tahun ini juga disempurnakan dengan Ruang Penayangan FFI, sebuah platform daring untuk kemudahan proses dan keamanan penjurian. Setelah masa pandemi, sebagian besar film Indonesia akhirnya kembali tayang di bioskop dan film-film Indonesia yang bersaing di ajang festival internasional semakin membawa prestasi. Namun, hal ini tidak menyurutkan kreativitas dan ragam film-film yang diproduksi untuk jaringan OTT. Film-film pendek semakin menjamur dan dipenuhi nama-nama baru yang penuh semangat, produksi film-film dokumenter dan animasi pun semakin menunjukkan ragamnya. Karya film tahun ini hadir dengan penuh keragaman, cara bertutur, genre, hingga tema dan generasi baru. Tahun ini terdaftar sebanyak 74 judul film cerita panjang, 309 judul film cerita pendek, 38 judul film animasi pendek, 83 judul film dokumenter pendek, dan 13 judul film dokumenter panjang. Komite FFI juga menerima sebanyak 135 judul karya kritik film, dan lebih dari 28.362 masyarakat Indonesia telah berpartisipasi untuk kategori Film, Aktor, dan Aktris Pilihan Penonton. Angka ini menunjukkan geliat produksi film dan antusiasme publik terhadap film Indonesia yang semakin meningkat. Pada tahap penjurian, sebanyak 121 orang asosiasi-asosiasi yang terlibat pada penentuan Tahap Film Rekomendasi, 89 orang Akademi Citra pada Tahap Film Nominasi, serta Dewan Juri Akhir yang berjumlah total 24 orang berembuk untuk menentukan pemenang 23 kategori penghargaan Piala Citra dan penghargaan khusus. Mereka terdiri dari sembilan juri Film Cerita Panjang, tiga juri Film Cerita Pendek, tiga juri Film Animasi Pendek, tiga juri Film Dokumenter yang menilai Film Dokumenter Pendek dan juga Film Dokumenter Panjang, tiga orang Dewan Pengabdian Seumur Hidup Untuk Film, dan tiga juri untuk kategori Kritik Film. Pilihan nominasi yang dihasilkan dari pemungutan suara Akademi Citra menunjukkan kualitas yang tepat dan beragam, baik dari segi genre maupun kualitasnya. Dan, catatan tersendiri pada proses Penjurian Tahap Akhir, Dewan Juri melakukan pilihannya secara demokratis dengan saling berbagi pengetahuan dan pandangan sesuai latar belakang masing-masing yang memperkaya proses diskusi penjurian membaca peta film Indonesia. Proses penjurian tidak akan berjalan tanpa para juri yang berdedikasi penuh profesionalitas dalam melakukan tugasnya menilai film-film Indonesia tahun ini. Apresiasi tertinggi saya ucapkan atas kerja sama, kedisiplinan, dan usaha bersama seluruh juri yang bekerja memberikan hasil terbaik hingga tercapainya para peraih penghargaan Piala Citra, Penghargaan Tanete Pong Masak (Karya Krtik Film), Penghargaan Ratna Asmara (Film Pilihan Penonton), Penghargaan Benyamin Sueb (Aktor Pilihan Penonton), dan Penghargaan Rima Melati (Aktris Pilihan Penonton), juga kepada Dewan Pengabdian Seumur Hidup Untuk Film untuk pilihannya kepada Rima Melati, tokoh pemeran perempuan penuh talenta yang sangat berjasa pada perkembangan film Indonesia hingga saat ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam pelaksanaan FFI 2022, yaitu seluruh jajaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, Badan Perfilman Indonesia, asosiasi-asosiasi profesi perfilman Indonesia, Akademi Citra, seluruh Komite Kerja FFI, dan seluruh pendukung yang terlibat. Selamat atas pencapaian insan film Indonesia pada tahun 2022. Selamat kepada para pemenang untuk seluruh kategori. Salam kemajuan ekosistem perfilman Indonesia. Garin Nugroho Ketua Bidang Penjurian FFI 2021 - 2023 KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 10
11 TEMA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 TEMA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Perempuan:
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 12 KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Perempuan sejak dahulu telah menjadi ikon industri jasa dan kreatif, khususnya industri perfilman. Mereka memberi warna pada industri ini dan mengelola kepopuleran karya-karya film yang dihasilkan. Sayangnya, mereka sering terlupakan dan sering tak tercatat sebagai sebuah investasi besar dan penggerak pertumbuhan industri perfilman. Perempuan Perfilman Indonesia
11 TEMA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 TEMA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Perempuan:
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 12 KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Perempuan sejak dahulu telah menjadi ikon industri jasa dan kreatif, khususnya industri perfilman. Mereka memberi warna pada industri ini dan mengelola kepopuleran karya-karya film yang dihasilkan. Sayangnya, mereka sering terlupakan dan sering tak tercatat sebagai sebuah investasi besar dan penggerak pertumbuhan industri perfilman.
13 Perempuan di Depan Layar PEREMPUAN PERFILMAN INDONESIA pelopor dan idola perfilman, juga ikon mode dan kecantikan. Pada era selanjutnya, bermunculan wajahwajah baru yang meramaikan industri perfilman Indonesia yang notabene masih didominasi oleh pria. Ada yang terus bertahan, tetapi tak sedikit yang menghilang. Ratna Asmara, Dhalia, Sofia W.D., Fifi Young, Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriati Iskak, dan Tuty S. adalah beberapa nama yang muncul dengan karya keartisan dan kepopulerannya masingmasing. Tidak hanya di depan layar, mereka juga berkiprah di belakang layar, baik sebagai sutradara, penulis maupun produser. Pada awal perkembangan film di masa pendudukan Belanda, perempuan mulai terlibat secara kreatif di depan layar. Maroana menjadi pembuka jalan perempuan pribumi untuk terlibat di industri film dengan bermain di Loetoeng Kasaroeng (1926), film bisu pertama dengan cerita asli dan pemain pribumi, meskipun diproduksi oleh perusahaan asing, NV Java Film Company. Soekria, Ining Resmini, N. Noerhani, Momo, Soekarsih, dan beberapa nama lainnya lalu hadir sebagai generasi awal aktris pribumi. Pada Terang Boelan (1937), film laris yang menghidupkan kembali industri perfilman yang nyaris punah dan menginspirasi banyak produksi film selanjutnya, termasuk di Malaya Britania (Singapura dan Semenanjung Malaysia), Roekiah (1917-1945) hadir mempertegas jalan “karier” keaktrisan yang telah dirintis. Bersama Rd. Mochtar, Roekiah disebut sebagai selebriti yang memperkenalkan konsep “bintang pelaris” di industri perfilman. Ia menjadi salah satu Terang Boelan Produser. Albert Balink Penulis. Saeroen 1937 13
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 14 Perempuan di Belakang Layar Sejak awal tahun 1950-an hingga akhir tahun 1990-an tercatat hanya ada empat perempuan yang berhasil menapaki karier sebagai sutradara di industri perfilman. Mereka adalah Ratna Asmara, Sofia W.D., Chitra Dewi, dan Ida Farida. Ratna Asmara adalah sutradara perempuan pertama di industri perfilman Indonesia. Pemilik nama asli Suratna ini mengawali kariernya sebagai seorang penari dan penyanyi di kelompok sandiwara Dardanella pada awal tahun 1930-an, sebelum akhirnya bergabung di kelompok Bolero pimpinan suaminya, Andjar Asmara pada akhir 1930-an dan menjadi bintang Bolero. Ia membintangi tiga film Andjar Asmara, yaitu Kartinah (1940), Noesa Penida (1941), dan Djauh Dimata (1948), serta satu film Suska (Sutan Usman Karim) yang berjudul Ratna Moetoe Manikam (1941). Pada tahun 1950, Ratna menyutradarai film pertamanya berjudul Sedap Malam (1951) yang naskahnya ditulis Andjar Asmara, diproduseri Djamaludin Malik, dan diproduksi oleh Persari. Ia juga menyutradarai dua film lainnya, Musim Bunga di Selabintana (1951) dan Dr. Samsi (1952). Ratna mendirikan perusahaan film, Ratna Films, pada tahun 1953, yang kemudian berganti nama menjadi Asmara Film, dan membuat dua film, Nelajan (1953) dan Dewi dan Pemilihan Umum (1954). Setelah Ratna Asmara, Sofia W.D. juga berkiprah sebagai sutradara. Sofia memulai debutnya dengan bermain di film Air Mata Mengalir di Tjitarum (1948) yang diproduksi oleh Tan & Wong Bros. Selain berakting, ia juga menjadi penata skrip (Senen Raja, 1954 dan Si Bego Menumpas Kutjing Hitam, 1970) dan banyak mempelajari teknik penyutradaraan, kamera, dan penataan gambar dari Yoshua dan Othniel Wong bersaudara, sutradara dan juru kamera perfilman Hindia Belanda yang beretnis Tionghoa. Film Badai Selatan (1960) yang diproduksi oleh CV Ibukota Film menjadi awal karier Sofia KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Dr. Samsi Sutradara. Ratna Asmara Penulis. Andjar Asmara 1952 Sedap Malam Sutradara. Ratna Asmara 1951 14
1952 Singa Betina dari Marunda Sutradara. Sofia W.D. Produser. A. Sutrisno Sudomo 1971 Bertjinta dalam Gelap Sutradara. Chitra Dewi Produser. Chitra Dewi sebagai sutradara. Ia kemudian menyutradarai beberapa film, yaitu Singa Betina dari Marunda (1971), Bengawan Solo (1971), Melawan Badai (1974), Tanah Harapan (1976), Jangan Menangis Mama (1977), dan Halimun (1982). Pada tahun 1974, ia mendirikan perusahaan film, PT Dirgahayu Jaya Film, yang berfokus pada pembuatan film dokumenter. Selain sebagai sutradara, ia juga seorang produser dan peraih Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik lewat film Mutiara dalam Lumpur (1972) di FFI 1973. Roro Patma Dewi Tjitrohadikusumo atau lebih dikenal dengan nama Chitra Dewi memulai kiprahnya dengan bermain di film Tamu Agung (1955), tapi lebih terkenal lewat film laris Perfini, Tiga Dara (1956), yang disutradarai Usmar Ismail. Di akhir 1960-an, ia terlibat di belakang layar dengan mendirikan perusahaan filmnya sendiri, Chitra Dewi Film Production, sambil tetap berakting di depan kamera. Ia memproduksi lima film dan menyutradarai tiga film di antaranya, yaitu Bertjinta dalam Gelap (1971), Dara-Dara (1971), dan Penunggang Kuda dari Tjimande (1971). Ia dikenal sebagai bintang film tiga zaman dan meraih Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik lewat film Gara-Gara Istri Muda (1977) di FFI 1979. Terakhir, Ida Farida, seorang jurnalis dan penulis cerpen yang kemudian terjun ke industri film atas ajakan Sofia W.D. Ia memulai kariernya sebagai pengawas skrip (script girl) di film Melawan Badai (1974) dan asisten sutradara film Jangan Menangis Mama (1977). Ia mulai menjadi sutradara di film yang ditulisnya sendiri, Guruku Cantik Sekali (1977) dan berlanjut ke film-film lainnya, antara lain Busana dalam Mimpi (1980), Perawan-Perawan (1981), Merenda Hari Esok (1981), Tirai Malam Pengantin (1983), Tante Garang (1983), Asmara di Balik Pintu (1984), Tak Ingin Sendiri (1985), Sabar Dulu Dong…! (1989), Semua Sayang Kamu (1989), Perempuan Kedua (1990), Mutiara di Khatulistiwa (1990), dan Barang Titipan (1991). Ia pernah menyutradarai film
produksi Malaysia, Suara Kekasih (1986), dan meraih Piala Citra untuk Skenario Terbaik lewat film Semua Sayang Kamu (1989) di FFI 1989. Selain sutradara, produser perempuan juga telah unjuk gigi kala itu. Tuty S. memulai kariernya dengan bermain di film Hanja Sepekan (1955) dan menjadi produser pada tahun 1971 lewat film Tiada Maaf Bagimu. Sepanjang kariernya, ia bermain di lebih dari 50 judul film dan memproduseri 12 judul film. Sebaliknya, Tuti Mutia memulai kariernya sebagai produser film Fadjar Ditengah Kabut (1966) lalu delapan film lainnya, sebelum akhirnya bermain di enam film hingga awal tahun 80-an. Setelah itu, Budiati Abiyoga hadir sebagai produser dari awal tahun 80-an hingga saat ini lewat perusahaan film yang ia dirikan, PT Prasidi Teta Film. Ia memproduseri film debut Garin Nugroho, Cinta dalam Sepotong Roti (1991), yang meraih lima Piala Citra, termasuk kategori Film Terbaik, di Festival Film Indonesia 1991. Ia juga turut memproduseri Surat Untuk Bidadari (1994) yang meraih penghargaan di festivalfestival film internasional, seperti Festival Film Internasional Berlin, Festival Film Internasional Tokyo, dan Festival Film Taormina di Italia. Tahun 90-an merupakan titik nadir ekosistem perfilman Indonesia. Jumlah produksi film yang sangat rendah, tema seks dan eksploitasi perempuan yang meresahkan masyarakat, kemunculan teknologi optis, perkembangan televisi swasta nasional, perubahan tuntutan pasar, serbuan budaya pop asing, hingga perubahan politik dan kebijakan perfilman merupakan beberapa penyebab mati surinya perfilman Indonesia. Di tengah kondisi suram tersebut, produksi kolaboratif dan independen yang dilakukan Garin Nugroho seakan menjaga api perfilman Indonesia tetap menyala di kancah perfilman internasional. Sutradara. Garin Nugroho Produser. Budiati Abiyoga Sutradara. Ida Farida Produser. Puji Agung 1991 1989 Cinta dalam Sepotong Roti Semua Sayang Kamu
15 Kebangkitan Perfilman dan Peran Perempuan Kini Setelah mati suri selama satu dekade, perfilman Indonesia kembali menggeliat dengan dinamika baru yang memberi peluang bagi semua orang, termasuk perempuan. Jumlah perempuan di industri perfilman Indonesia semakin meningkat dibanding era sebelumnya. Mereka mengisi semua lini kreatif dan produksi yang dulunya didominasi oleh pria, seperti sutradara, produser, penulis skenario, penata kamera, penyuting gambar, pengarah artistik, dan lain-lain. Rima Melati memulai debutnya sebagai sutradara lewat film Blanco, the Colour of Love (1997), satu dari dua film yang sempat ia sutradarai di sepanjang kariernya. Christine Hakim juga berkolaborasi dengan Garin Nugroho dengan memproduksi film Daun di Atas Bantal (1998), baik sebagai pemeran Daun di Atas Bantal Sutradara. Garin Nugroho Produser. Christine Hakim 15 maupun produser. Film ini memenangkan penghargaan Film Terbaik di Festival Film Asia Pasifik 1998, ditayangkan pada sesi Un Certain Regard di Festival Film Cannes 1998 dan menjadi perwakilan Indonesia di ajang Academy Awards ke-71 tahun 2000. Film ini juga memberikan kemenangan bagi Christine Hakim sebagai Aktris Terbaik di Festival Film Asia Pasifik 1998. Setelah dua sutradara perempuan, Mira Lesmana dan Nan T. Achnas, yang berkolaborasi dengan Riri Riza dan Rizal Mantovani membuat film Kuldesak (1998) dan menginspirasi kebangkitan kembali perfilman Indonesia, lahir sutradara-sutradara, sinematografer hingga produser perempuan. Nama-nama seperti seperti Nia Dinata, Shanty Harmayn, Lola Amaria, Upi, Djenar Maesa Ayu, Tyas Abiyoga, Ucu Agustin, Sheila Timothy, 1998 PEREMPUAN PERFILMAN INDONESIA
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 16 KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Petualangan Sherina Sutradara. Riri Riza Ca Bau Kan Produser. Mira Lesmana Sutradara . Nia Dinata Produser. Afi Shamara & Nia Dinata 2000 2002 Pritagita Arianegara, Gina S. Noer, Anggi Frisca, dan lain-lain, turut mewarnai perfilman Indonesia dan karya-karyanya diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional. Sebagai bagian dari ekosistem perfilman, mereka bisa menyampaikan aspirasi dan memberikan inspirasi dengan menjadi pencerita kisahnya sendiri, dengan tema, sudut pandang, dan pendekatan yang lebih perempuan. Mereka juga mendapat pengakuan dan penghargaan yang sama. Mouly Surya menjadi sutradara perempuan pertama yang meraih Piala Citra untuk Sutradara Terbaik lewat film Fiksi (2008) di FFI 2008 dan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) di FFI 2018. Selain itu, beberapa film terbaik pemenang Piala Citra Festival Film Indonesia juga lahir dari tangan dingin sutradara perempuan, seperti Arisan! 16 Kuldesak Sutradara & Mira Lesmana, Produser. Nan T. Achnas, Riri Riza & Rizal Mantovani (Nia Dinata, 2003), Fiksi (Mouly Surya, 2008), dan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya, 2017) untuk kategori Film Cerita Panjang, serta Sabotase (Hadrah Daeng Ratu, 2009), Jemari yang Menari di Atas Luka (Putri Sarah Amelia, 2020), Donor ASI (Ani Ema Susanti, 2011), Di Batas Kekuasaan (Nur Fitriah Napiz 2012), Dolanan Kehidupan (Afina Fahru M. & Yopa Arfi Y., 2014), Denok dan Gareng (Dwi Susanti Nugraheni, 2013), You and I (Fanny Chotimah, 2020), dan Invisible Hopes (Lamtiar Simorangkir, 2021) untuk kategori Film Non Cerita Panjang. © Miles Films
Arisan! 2003 Fiksi Sutradara. Mouly Surya Produser. Parama Wirasmo, Tia Hasibuan & Sapto Soetarjo 2017 2008 Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Sutradara. Mouly Surya Produser. Rama Adi & Fauzan Zidni 2020 You and I Sutradara. Fanny Chotimah Produser. Yulia Evina Bhara, Amerta Kusuma & Tazia Teresa Darryanto Sutradara . Nia Dinata Produser. Afi Shamara & Nia Dinata
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Sutradara. Edwin Produser. Meiske Taurisia & Muhammad Zaidy Laut Memanggilku Sutradara. Tumpal Tampubolon Produser. Mandy Marahimin Di tingkat internasional, karya-karya film yang disutradarai atau diproduseri oleh perempuan juga diperhitungkan oleh sineas dunia. Dalam dua tahun terakhir, film-film seperti Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) diproduseri Meiske Taurisia, Yuni (2021) disutradarai Kamila Andini dan ditulis bersama Prima Rusdi, Dear to Me (2021) disutradarai Monica Vanesa Tedja dan diproduseri Astrid Saerong, Laut Memanggilku (2021) diproduseri Mandy Marahimin, Before, Now & Then (Nana) (2022) ditulis dan disutradarai Kamila Andini dan diproduseri Gita Fara, meraih unggulan dan penghargaan di festivalfestival besar dunia. Selain itu, Autobiography (2022), film cerita panjang pertama Makbul Mubarak yang diproduseri Yulia Evina Bhara juga memenangkan penghargaan FIPRESCI (Federasi Kritikus Film Internasional) pada sesi Orizzonti & Parallel di Festival Film Venice 2022 dan penghargaan utama di Festival Film Internasional Tokyo Filmex 2022. Kini, setelah 96 tahun perempuan Indonesia memulai kiprahnya di industri perfilman, ruang gerak untuk berkreasi dan berkarya semakin luas dibanding era sebelumnya. Meskipun masih banyak catatan-catatan penting yang menjadi pekerjaan rumah bersama, representasi perempuan semakin membaik dan memperkaya kompleksitas ekosistem perfilman Indonesia. 2021
19 PEREMPUAN PERFILMAN INDONESIA SUMBER Alkhajar, ENS. 2010. Masa-Masa Suram Dunia Perfilman Indonesia (Studi Periode 1957-1968 dan 1992-2000). Jurnal Komunikasi Massa 3(1):1-19. Biran, MY. 2009. Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa. Jakarta: Komunitas Bambu. Nugroho, G. 2020. Memoar Garin Nugroho: Era Emas Film Indonesia 1998-2019. Yogyakarta: Warning Books. Nugroho, G. 2022. Garin Nugroho 40 Years of Work (1981-2021): A Micro Map of Indonesian Crisis. Jakarta: Garin Workshop, Radepa Studio & Madani Film Festival. Pranata, G. 2021. Melihat Produksi Loetoeng Kasaroeng, Film Bisu Pertama Indonesia. National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/132855487/ melihat-produksi-loetoeng-kasaroeng-film-bisu-pertamaindonesia?page=all Autobiography Sutradara. Makbul Mubarak Produser. Yulia Evina Bhara 17 Before, Now & Then Sutradara. Kamila Andini Produser. Ifa Isfansyah & Gita Fara Yuni Sutradara. Kamila Andini Produser. Ifa Isfansyah & Chand Parwez Servia Swestin, G. 2009. In the Boy’s Club: A Historical Perspective on the Roles of Women in the Indonesian Cinema 1926 – May 1998. Jurnal Ilmiah SCRIPTURA 3(12): 103-111. http://filmindonesia.or.id/ https://id.wikipedia.org/wiki/Chitra_Dewi https://id.wikipedia.org/wiki/Dhalia https://id.wikipedia.org/wiki/Ida_Farida https://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Film_Indonesia https://id.wikipedia.org/wiki/Ratna_Asmara https://id.wikipedia.org/wiki/Roekiah https://id.wikipedia.org/wiki/Sofia_W.D. https://id.wikipedia.org/wiki/Terang_Boelan https://id.wikipedia.org/wiki/Tiga_Dara 2022
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 20 Linda Gozali Sekretariat Festival Film Indonesia 2021-2023 Komite KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 18
KOMITE FESTIVAL FILM INDONESIA 2021-2023 Reza Rahadian Ketua Komite Garin Nugroho Ketua Bidang Penjurian Linda Gozali Sekretariat Inet Leimena Ketua Bidang Acara Gita Fara Keuangan dan Pengembangan Usaha Emira P. Pattiradjawane Humas Penjurian Resti Ghina Ulfah Media Sosial & Website Nazira C. Noer Humas Acara Arya Ibrahim Ketua Pelaksana
ANUNG SARI, LYDIA TRI ARYANI, TRI SUCI MEILAWATI, MAGDA JULIA KHAIRUNISSA RINO NOVERIO, I GUSTI AGUNG AYU NOVITASARI, ROBERTUS DARREN RADYAN, IDA WAYAN PANGSUA DHARMA, PUTU AFRI HARDYANA, YAKOB JATI YULIANTO Tim Pelaksana RIVALDI F. HARUN, RIZKY F. ZULHAN Tim Keuangan Tim Pengembangan Usaha
19 TEGUH ZAENOERI, YANTI WIJATNO, YUDITH HASYIM RIDLA AN-NUUR S., KHARISMA RHANY, LUSI TRIANA, MIKE R. RUQAYA, RULIKA ROESLI SUGAR NADIA, HAFIZ HUSNI, HERA ANNISA, FATIMAH LILIANI, WAHID AINUR RAFENDA Tim Sekretariat Tim Acara Tim Penjurian KOMITE, TIM KERJA & VOLUNTER FESTIVAL FILM INDONESIA 2022
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 20 KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 IVAN MAKHSARA, MUHAMMAD GHIFAR, NOVA MOCHTAR, TALITHA MAILANGKAY, FADHLURROHMAN, MADELEINE KERENHAPUKH TOMASOA, SALWA ENA RATIOSA, TASYA AZIZA DARA NINGGAR, AHMAD NURFADILAH, ALITA RAMADHANTI, DIAN PURNAMASARI, DIANA HANDYARSIWI, INDRA GUNAWAN, LUKE TRINITA, RATQA GHAISANI, RAYMOND GILBERT, RULITA SANI Tim Humas Acara Tim Media Sosial & Website ANDI F. YAHYA, FREDERIKA K. DAPAMANIS, TRI PUTRA SEPTIANTO Tim Humas Penjurian KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022
21 KOMITE, TIM KERJA & VOLUNTER FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Komite & Tim Kerja Festival Film Indonesia 2022
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 22 KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Volunter Festival Film Indonesia 2022
23 Memasuki tahun 2022, Komite FFI 2021- 2023 sudah mulai melakukan pendataan peraih Piala Citra Festival Film Indonesia untuk penyempurnaan sistem penjurian. Data tersebut menjadi rujukan untuk membentuk Akademi Citra FFI yang beranggotakan para insan film yang pernah meraih Piala Citra, masih terlibat aktif dalam produksi dan kegiatan perfilman, serta terdaftar pada salah satu asosiasi profesi perfilman. Selain sebagai bentuk penghargaan, Akademi Citra FFI diharapkan dapat menjadi platform bagi para peraih Piala Citra untuk berbagi, bersinergi, dan berkolaborasi ke depannya. Anggota Akademi Citra FFI juga berperan dalam menentukan nominasi sesuai kategori yang pernah diraih. Tahun ini, terdata sebanyak 109 anggota Akademi Citra 2022 dan 89 orang di antaranya berpartisipasi sebagai Juri Nominasi Festival Film Indonesia 2022 untuk kategori Film Cerita Panjang. Komite FFI 2021-2023 juga menyediakan Ruang Penayangan FFI bekerja sama dengan Bioskop Online. Ruang Penayangan FFI ini memanfaatkan kemajuan teknologi digital yang penyimpanan dan keamanan materi film dan proses penjurian. Ruang Penayangan FFI ini juga memudahkan kerja Tim Kerja Penjurian untuk mengelola distribusi film dan kegiatan penjurian pada sebuah platform yang aman. Masa kerja Komite FFI 2021-2023 kini tersisa satu tahun. Semoga kerja yang belum usai bisa selesai di masa yang tersisa. Perubahan untuk kemajuan perfilman Indonesia bukanlah hal yang mudah. Perubahan memerlukan perencanaan yang matang, kebijakan yang integratif, proses yang panjang, dan kerja sama lintas profesi. Di tahun kedua ini, Komite Festival Film Indonesia (FFI) 2021-2023 melanjutkan kerjanya untuk membenahi sistem dan teknis penyelenggaraan Festival Film Indonesia, bekerja sama dengan para anggota ekosistem perfilman, baik insan perfilman, asosiasi-asosiasi profesi, maupun lembaga dan institusi pemerintah terkait. CATATAN PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA Catatan Piala Citra Festival Film Indonesia
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 24 Prilly Latuconsina Shenina Cinnamon KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Marsha Timothy Cut Mini Duta FFI 2022 Cut Mini, Marsha Timothy, Prilly Latuconsina, dan Shenina Cinnamon adalah empat perempuan perfilman Indonesia dengan beragam karya dan sederet prestasi di tingkat nasional dan internasional. Mereka menjadi Duta Festival Film Indonesia 2022 mewakili generasinya yang dapat memberikan inspirasi dan aspirasi tentang kiprah dan karya perempuan, khususnya di industri perfilman Indonesia.
23 Perubahan untuk kemajuan perfilman Indonesia bukanla hal yang mudah. Perubahan memerlukan perencanaan yang matang, kebijakan yang integratif, proses yang panjan dan kerja sama lintas profesi Di tahun kedua ini, Komite Festival Film Indonesia (FFI) 2021-2023 melanjutkan kerja untuk membenahi sistem da teknis penyelenggaraan Festi Film Indonesia, bekerja sama dengan para anggota ekosist perfilman, baik insan perfilm asosiasi-asosiasi profesi, maupun lembaga dan institu pemerintah terkait.
Memasuki tahun 2022, Komite FFI 2021- 2023 sudah mulai melakukan pendataan peraih Piala Citra Festival Film Indonesia untuk penyempurnaan sistem penjurian. Data tersebut menjadi rujukan untuk membentuk Akademi Citra FFI yang beranggotakan para insan film yang pernah meraih Piala Citra, masih terlibat aktif dalam produksi dan kegiatan perfilman, serta terdaftar pada salah satu asosiasi profesi perfilman. Selain sebagai bentuk penghargaan, Akademi Citra FFI diharapkan dapat menjadi platform bagi para peraih Piala Citra untuk berbagi, bersinergi, dan berkolaborasi ke depannya. Anggota Akademi Citra FFI juga berperan dalam menentukan nominasi sesuai kategori yang pernah diraih. Tahun ini, terdata sebanyak 109 anggota Akademi Citra 2022 dan 89 orang di antaranya berpartisipasi sebagai Juri Nominasi Festival Film Indonesia 2022 untuk kategori Film Cerita Panjang. Komite FFI 2021-2023 juga menyediakan Ruang Penayangan FFI bekerja sama dengan Bioskop Online. Ruang Penayangan FFI ini memanfaatkan kemajuan teknologi digital yang penyimpanan dan keamanan materi film dan proses penjurian. Ruang Penayangan FFI ini juga memudahkan kerja Tim Kerja Penjurian untuk mengelola distribusi film dan kegiatan penjurian pada sebuah platform yang aman. Masa kerja Komite FFI 2021-2023 kini tersisa satu tahun. Semoga kerja yang belum usai bisa selesai di masa yang tersisa. h g ng, i. nya n ival a tem man, si CATATAN PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 24 Prilly Latuconsina Shenina Cinnamon KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Marsha Timothy Cut Mini Duta FFI 2022 Cut Mini, Marsha Timothy, Prilly Latuconsina, dan Shenina Cinnamon adalah empat perempuan perfilman Indonesia dengan beragam karya dan sederet prestasi di tingkat nasional dan internasional. Mereka menjadi Duta Festival Film Indonesia 2022 mewakili generasinya yang dapat memberikan inspirasi dan aspirasi tentang kiprah dan karya perempuan, khususnya di industri perfilman Indonesia.
23 Perubahan untuk kemajuan perfilman Indonesia bukanla hal yang mudah. Perubahan memerlukan perencanaan yang matang, kebijakan yang integratif, proses yang panjan dan kerja sama lintas profesi Di tahun kedua ini, Komite Festival Film Indonesia (FFI) 2021-2023 melanjutkan kerja untuk membenahi sistem da teknis penyelenggaraan Festi Film Indonesia, bekerja sama dengan para anggota ekosist perfilman, baik insan perfilm asosiasi-asosiasi profesi, maupun lembaga dan institu pemerintah terkait.
Memasuki tahun 2022, Komite FFI 2021- 2023 sudah mulai melakukan pendataan peraih Piala Citra Festival Film Indonesia untuk penyempurnaan sistem penjurian. Data tersebut menjadi rujukan untuk membentuk Akademi Citra FFI yang beranggotakan para insan film yang pernah meraih Piala Citra, masih terlibat aktif dalam produksi dan kegiatan perfilman, serta terdaftar pada salah satu asosiasi profesi perfilman. Selain sebagai bentuk penghargaan, Akademi Citra FFI diharapkan dapat menjadi platform bagi para peraih Piala Citra untuk berbagi, bersinergi, dan berkolaborasi ke depannya. Anggota Akademi Citra FFI juga berperan dalam menentukan nominasi sesuai kategori yang pernah diraih. Tahun ini, terdata sebanyak 109 anggota Akademi Citra 2022 dan 89 orang di antaranya berpartisipasi sebagai Juri Nominasi Festival Film Indonesia 2022 untuk kategori Film Cerita Panjang. Komite FFI 2021-2023 juga menyediakan Ruang Penayangan FFI bekerja sama dengan Bioskop Online. Ruang Penayangan FFI ini memanfaatkan kemajuan teknologi digital yang penyimpanan dan keamanan materi film dan proses penjurian. Ruang Penayangan FFI ini juga memudahkan kerja Tim Kerja Penjurian untuk mengelola distribusi film dan kegiatan penjurian pada sebuah platform yang aman. Masa kerja Komite FFI 2021-2023 kini tersisa satu tahun. Semoga kerja yang belum usai bisa selesai di masa yang tersisa. h g ng, i. nya n ival a tem man, si CATATAN PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 24 Prilly Latuconsina Shenina Cinnamon KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Marsha Timothy Cut Mini Duta FFI 2022
25 Kategori Penghargaan / Piala Citra Festival Film Indonesia 2022 KATEGORI PENGHARGAAN DAN SISTEM PENJURIAN 1. Film Cerita Panjang Terbaik 2. Sutradara Terbaik 3. Penulis Skenario Terbaik 4. Penulis Skenario Adaptasi Terbaik 5. Pengarah Sinematografi Terbaik 6. Pengarah Artistik Terbaik 7. Penata Efek Visual Terbaik 8. Penyunting Gambar Terbaik 9. Penata Suara Terbaik 10. Penata Musik Terbaik 11. Pencipta Lagu Tema Terbaik 12. Penata Busana Terbaik 13. Penata Rias Terbaik 14. Pemeran Utama Pria Terbaik 15. Pemeran Utama Perempuan Terbaik 16. Pemeran Pendukung Pria Terbaik 25 KATEGORI PENGHARGAAN DAN SISTEM PENJURIAN
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 26 Kategori Penghargaan / Penghargaan Khusus Penghargaan Tanete Pong Masak FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Kritik Film Terbaik Penghargaan Ratna Asmara FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Film Pilihan Penonton Penghargaan Benyamin Sueb FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Aktor Pilihan Penonton Penghargaan Rima Melati FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 Aktris Pilihan Penonton 17. Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik 18. Film Cerita Pendek Terbaik 19. Film Dokumenter Pendek Terbaik 20.Film Dokumenter Panjang Terbaik 21. Film Animasi Panjang Terbaik 22. Film Animasi Pendek Terbaik 23. Pengabdian Seumur Hidup Untuk Film KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 26 PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022
27 KATEGORI PENGHARGAAN DAN SISTEM PENJURIAN TANETE PONG MASAK RATNA ASMARA 27 Ratna Asmara (Sawah Lunto, 1913 – 10 Agustus 1968) mulai terlibat di industri film sebagai pemeran utama ketika suaminya, Andjar Asmara, diminta The Teng Chun untuk menyutradarai Kartinah (1940), sebuah film untuk Java Industrial Film (JIF). Ia juga menjadi pemeran utama di tiga film Andjar berikutnya, Ratna Moetoe Manikam (1941), Noesa Penida (1941), dan Djauh Dimata (1948). Pada 1950, atas permintaan Djamaluddin Malik dari Persari, ia menyutradarai film Sedap Malam yang skenarionya ditulis oleh Andjar Asmara. Film ini menjadikannya sebagai sutradara perempuan pertama di Indonesia. Ia kemudian menyutradarai film Musim Bunga di Selabintana (1951) dan Dr. Samsi (1952) untuk Djakarta Film. Pada 1953, ia mendirikan Ratna Films dan memproduksi satu film, Nelajan, sebelum berganti nama menjadi Asmara Films. Film terakhirnya, Dewi dan Pemilihan Umum (1954), dirilis untuk menyambut pemilihan umum pertama. Tanete Pong Masak (Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 6 Agustus 1953 – 10 Desember 2017) adalah satu dari sedikit akademisi film bergelar doktor di Indonesia. Karier akademisinya bermula dari studi sastra di Jurusan Satra Inggris, Universitas Hasanuddin. Ia melanjutkan studinya tentang linguistik terapan dan budaya Prancis di Université de Franche-Comté, Besançon, Prancis, dari 1976 sampai 1980 dengan beasiswa Pemerintah Prancis. Ia kemudian mengambil program doktoral tentang sejarah sosial dan sinema di École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS), Paris, dari 1980 sampai 1989. Disertasinya yang berjudul Le Cinéma Indonésien (1926–1967): Études d’Histoire Sociale dan dibukukan menjadi Sinema Pada Masa Soekarno oleh FFTV IKJ Press adalah satu dari sedikit literatur yang membahas aktivitas dan politik perfilman sebelum Orde Baru. Disertasi tersebut mengisi satu lubang besar dalam penulisan sejarah perfilman nasional.
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 28 RIMA MELATI H. BENYAMIN SUEB Marjolien Tambajong (Tondano, 22 Agustus 1939 – Jakarta, 23 Juni 2022) atau lebih dikenal dengan Rima Melati, nama pemberian Presiden Soekarno, memulai kiprahnya di industri film lewat peran kecil di film Djuara Sepatu Roda (1958). Ia kemudian mendapat peran utama di film Kasih Tak Sampai (1961), hingga memutuskan cuti setelah menyelesaikan film Kunanti Jawabmu (1963). Tak lama berselang, ia kembali ke dunia peran dan bermain dalam film Laki-Laki Tak Bernama (1969) yang disutradarai oleh Wim Umboh. Sepanjang kariernya, ia telah bermain di lebih dari 100 film, termasuk film debut Teguh Karya, Wadjah Seorang Laki-Laki (1971), debut Sjumandjaja, Lewat Tengah Malam (1971), dan film kolaborasi Indonesia–Belanda, Max Havelaar (1975), serta menyutradarai dua film. Ia meraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik di FFI 1973 dan penghargaan Aktris Pendukung Terbaik di Festival Film Asia Pasifik 2005. H. Benyamin Sueb (Batavia, 5 Maret 1939 – Jakarta, 5 September 1995) memulai kiprahnya di industri film sebagai pemeran pendukung di film Honey, Money and Djakarta Fair (1970) yang disutradarai oleh Misbach Jusa Biran. Pada 1972, ia beradu peran dengan Rima Melati sebagai pemeran utama di film Intan Berduri (Turino Djunaidy, 1972) dan mendapatkan Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik di FFI 1973. Ia juga mendapatkan Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik di FFI 1977 lewat film Si Doel Anak Modern (Sjumandjaja, 1976). Selain berakting di depan kamera, lewat PT Jiung Film, ia juga memproduseri dan menyutradarai sendiri film-filmnya, di antaranya Musuh Bebuyutan (1974), Buaye Gile (1974), Benyamin Koboi Ngungsi (1975), Hippies Lokal (1976), dan Duyung Ajaib (1978). Sepanjang kariernya di industri film dari 1970 hingga 1992, ia telah bermain di lebih dari 50 film, memproduseri lima film, dan menyutradarai tiga film.
29 KATEGORI PENGHARGAAN DAN SISTEM PENJURIAN TAHAP SELEKSI AWAL a. Pendataan dilakukan oleh Komite Bidang Penjurian FFI 2021-2023 terhadap filmfilm Indonesia yang tayang selama periode 1 September 2021 – 15 September 2022 yang harus didaftarkan secara resmi oleh Rumah Produksi/ Produser masing-masing selambatlambatnya 31 Agustus 2022 melalui situs FFI. b. Komite Bidang Penjurian FFI 2021-2023 melakukan tahap seleksi administratif dan kurasi awal berdasarkan unsur penilaian pada syarat dan ketentuan. Film diseleksi menjadi 30 film yang pada tahap selanjutnya akan diseleksi oleh asosiasi profesi perfilman. TAHAP FILM REKOMENDASI a. Asosiasi profesi perfilman melalui perwakilan anggotanya (minimum 3 orang dan maksimum 20 orang) akan menonton 30 film seleksi awal melalui laman Ruang Penayangan FFI. b. Asosiasi dibebaskan untuk menentukan sendiri metode pemilihan Film Rekomendasi. Metode tersebut dapat berupa diskusi, pemungutan suara atau penunjukan langsung dari pengurus asosiasi. c. Asosiasi merekomendasikan 15 film yang memenuhi kriteria nilai-nilai profesionalisme dengan tetap menilai film secara menyeluruh (komprehensif) dalam formulir yang disediakan oleh Komite Bidang Penjurian FFI 2021-2023 dan ditandatangani oleh perwakilan asosiasi. d. Seluruh data yang masuk, melalui Akuntan Publik, akan ditabulasi menjadi 20 Film Rekomendasi Asosiasi berdasarkan ranking (pilihan terbanyak). 29 Sistem Penjurian Film Cerita Panjang
KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2021 30 Sistem Penjurian Film Cerita Panjang KATALOG FFI PIALA CITRA FESTIVAL FILM INDONESIA 2022 30
31 KATEGORI PENGHARGAAN DAN SISTEM PENJURIAN TAHAP FILM NOMINASI a. Anggota Akademi Citra akan menilai 20 Film Rekomendasi Asosiasi melalui laman Ruang Penayangan FFI. b. Anggota Akademi Citra akan menilai film sesuai kategori penghargaan Piala Citra yang pernah diraih dan memilih 3-5 nominasi. Anggota Akademi Citra juga akan memilih 3-5 film terbaik yang akan dinilai unsurnya secara keseluruhan (komprehensif). c. Khusus untuk para peraih kategori Film Terbaik (Produser) dan Sutradara Terbaik dapat memilih 3-5 nominasi pada minimal 10 kategori. d. Anggota Akademi Citra wajib memberikan skor pada masing-masing pilihan dengan rentang nilai 50-100 (kelipatan 5). e. Laman penilaian Nominasi akan muncul setelah anggota Akademi Citra menonton seluruh Film Rekomendasi Asosiasi. f. Semua nilai yang masuk akan dihitung oleh Akuntan Publik dan 5 (lima) peringkat tertinggi pada masing-masing kategori akan menjadi Nominasi FFI 2022. TAHAP FILM PEMENANG a. Proses penjurian akhir, yaitu pemilihan 1 (satu) pemenang, dilakukan oleh Dewan Juri Akhir FFI 2022, yang terdiri dari 9 (sembilan) orang perwakilan ekosistem perfilman Indonesia dengan beragam latar belakang profesinya. b. Dewan Juri Akhir dipilih oleh Komite FFI 2021-2023 berdasarkan rekomendasi atau usulan oleh masing-masing asosiasi profesi perfilman dan insan film. c. Komite Bidang Penjurian FFI 2021-2023 akan memberikan daftar nominasi beserta jadwal menonton bersama, dan juga Formulir Penjurian. d. Dewan Juri Akhir menilai film dari daftar nominasi dan tidak dapat mengubah hasil Nominasi yang telah ditetapkan oleh Juri Nominasi. e. Dewan Juri Akhir memberikan hasil pilihan dalam Formulir Penjurian yang selanjutnya akan didiskusikan dalam rapat penentuan Pemenang FFI 2022. f. Penentuan Pemenang FFI 2022 dilakukan dengan cara diskusi terbuka yang difasilitasi oleh Ketua Bidang Penjurian FFI dan diawasi oleh Akuntan Publik. g. Keputusan Dewan Juri Akhir disahkan oleh Akuntan Publik dan tidak dapat diganggu gugat. h. Jika terjadi pelanggaran hukum yang sudah ditetapkan oleh lembaga pengadilan pada unsur film yang memenangkan penghargaan Piala Citra FFI 2022, maka penghargaan yang diberikan pada kategori tersebut akan dibatalkan demi hukum. 31