MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
2) Penjamah makanan
Pasal 2
3) Sentra pedagang makanan jajanan
Pasal 3
f. Peraturan Menteri KesehatanRI Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003
tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran
1) Pengertian
Pasal 1
39
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
2) Penyelenggaraan
Pasal 2
Pasal 3
Pasal 4
3) Penetapan Tingkat Mutu
Pasal 7
Pasal 8
specimen
40
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
4) Sanksi
Pasal 13
g. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/Menkes/SK/VI/2011
Tentang Hgiene Sanitasi Jasaboga
1) Ketentuan umum
Pasal 1
2) Penggolongan
Pasal 2
3) Laik Higiene Sanitasi
Pasal 3
41
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Pasal 4
Pasal 5
Pasal 6
Pasal 7
4) Persyaratan Higiene Sanitasi
Pasal 8
Pasal 9
42
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
5) Pembinaan dan Pengawasan
Pasal 10
Pasal 11
Pasal 12
7) Sanksi
Pasal 13
.
h. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2 Tahun 2013 tentang Kejadian
Luar Biasa Keracunan Pangan
1) Ketentuan Umum
43
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
2) Kewaspadaan KLB Keracunan Pangan
Pasal 3
3) Penetapan KLB Keracunan Pangan
Pasal 5
Pasal 6
4) Penanggulangan KLB Keracunan Pangan
Pasal 8
44
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Pasal 9
Pasal 13
Pasal 19
5) Sumber Daya
Pasal 22
Pasal 23
45
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
6) Laporan Penanggulangan
Pasal 27
7) Peran Serta Masyarakat
Pasal 28
46
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
8) Pembinaan dan Pengawasan
Pasal 29
Pasal 30
i. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
033/Menkes/Per/VII/2012tentangBahan Tambahan Pangan
1) Ketentuan Umum
Pasal 1
Acceptable Daily Intake
Maximum
Tolerable Daily Intake
47
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Pasal 2
Pasal 3
ntifoaming agent
Anticaking agen
Antioxidant)
Carbonating agent
Emulsifyingsalt
Packaging gas
Humectant)
Glazing agent
Sweetener
Carrier
Gelling agent
Foaming agent
Acidityregulator
Preservative
Raising agent
Thickener
Firming agent
Flavourenhancer
Bulking agent
Stabilizer
Colour retention agent
Flavouring
Flour treatment agent
Colour
Propellant
Sequestrant
2) Jenis dan Batas Maksimum BTP yang diizinkan
Pasal 5
48
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
3) Label
Pasal 12
4) Pembinaan dan Pengawasan
Pasal 15
Pasal 16
j. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 034 Tahun 2012 tentang Batas
Maksimum Melamin Dalam Pangan
1) Ketentuan Umum
Pasal 1
2) Batas Maksimum Melamin Dalam Pangan
Pasal 2
Pasal 3
Pasal 4
49
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
3) Pengawasan
Pasal 5
Pasal 6
k. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 43 Tahun 2014 tentang Higiene
Sanitasi Depot Air Minum
1) Ketentuan Umum
Pasal 1
Pasal 2
50
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
2) Persyaratan Higiene Sanitasi
Pasal 3
3) Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
Pasal 4
Pasal 5
Pasal 6
Pasal 8
Pasal 13
Pasal 14
4) Penyelenggaraan
Pasal 16
51
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Pasal 17
Setiap pemilik DAM wajib melakukan pengawasan terhadap pemenuhan
persyaratan Higiene Sanitasi secara terus menerus.
Pasal 19
(1) Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Higiene
Sanitasi pemilik dan Penjamah DAM wajib mengikuti
narasumber/fasilitatoran/kursus Higiene Sanitasi.
(2) Narasumber/fasilitatoran/kursus Higiene Sanitasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Kementerian
Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, KKP atau lembaga/institusi lain yang memiliki
wilayah kerja khusus atau lembaga/institusi lain sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Peserta narasumber/fasilitatoran/kursus yang telah lulusdapat
diberikan sertifikat yang ditandatangani oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala KKP dan penyelenggara
narasumber/fasilitatoran/kursus.
(4) Materi narasumber/fasilitatoran/kursus mengacu kepada kurikulum
danmodul narasumber/fasilitatoran yang diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan.
5) Pembinaan dan pengawasan
Pasal 20
(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan
Menteri ini dilakukan secara berjenjang oleh Menteri, Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
Kepala KKP.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diarahkan untuk:
a. mencegah dan mengurangi timbulnya risiko kesehatan dari Air
Minum yang dihasilkan DAM; dan
b. memelihara dan/atau mempertahankan kualitas Air Minum yang
dihasilkan DAM sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus mendayagunakan tenaga sanitarian yang telah memiliki
sertifikat sebagai tenaga pengawas higiene sanitasi pangan.
(4) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
melalui asistensi, bimbingan teknis, uji petik, monitoring dan
evaluasi.
(5) Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan melibatkan
organisasi profesi dan/atau asosiasi DAM.
Pasal 22
(1) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala KKP
melakukan pengawasan melalui Inspeksi Sanitasi terhadap
pemenuhan persyaratan Higiene Sanitasi DAM paling sedikit 2 (dua)
52
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
B. Pokok Bahasan 2 : Kebijakan Dan Strategi Di Bidang Penyehatan Pangan Siap
Saji
catering
self assessment
1. Inventarisasi / Pendaftaran TPP siap saji di kabupaten / kota / Kantor
Kesehatan Pelabuhan,
2. Penyusunan dan sosialisasi NSPK Higiene Sanitasi Pangan(HSP)
3. Penguatan Sumber Daya Petugas dan Penjamah Pangan
53
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
4. Pengawasan dan Sertifikasi TPP
5. Pengadaan alat Pemeriksa Kontaminasi Pangan Lapangan dan higiene kit
penjamah
6. Surveilans Keamanan Pangan dan KLB Keracunan Pangan
7. Higiene Sanitasi Pangan di tempat dan situasi khusus,
54
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
veneu,
55
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
e monev
VIII.REFERENSI
A. Undang - Undang
B. Peraturan Pemerintah
C. Keputusan/Peraturan Menteri
56
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
MATERI INTI 1
KEAMANAN PANGAN
MODUL ORIENTASI HSP
57
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
58
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
MATERI INTI 1
KEAMANAN PANGAN
I. DISKRIPSI SINGKAT
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
A. Tujuan Pembelajaran Umum
B. Tujuan Pembelajaran Khusus
III. POKOK BAHASANDAN SUB POKOK BAHASAN
A. Pokok Bahasan 1 : Isu-isu Keamanan Pangan
B. Pokok Bahasan 2 : Pencemar Pangan dan Alergen
C. Pokok Bahasan 3 : Penyakit Bawaan Pangan
59
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
D. Pokok Bahasan 4 : Pencegahan Pencemaran Pangan
E. Pokok Bahasan 5 : Standar Kualitas Pencemaran Pangan
IV. BAHAN BELAJAR
slide ppt, Liquid Crystal Display
V. METODE PEMBELAJARAN
VI. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. Langkah 1 : Pengkondisian (30 menit)
B. Langkah 2 : Pembahasan Pokok Bahasan(240 menit)
C. Langkah 3 : Rangkuman (30 menit)
60
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
VII. URAIAN MATERI
A. Pokok Bahasan 1 : Isu-isu Keamanan Pangan
1. Konsekuensi Ekonomi
foodborne disease
trichinellosis
foodborne diseases
Foodborne diseases
agent
foodborne diseases
:
Compylobacter
jejuni, Salmonella spp, Eschericia coli O 157:H7, Salmonella
spp, Shigella spp, Campylobacter spp; Yersinia );
Sisteria monocytogenes L. monocygenes
Compylobacter spp, Salmonellas, Yersinia enterocolitica
61
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Foodborne diseases
Salmonella spp, Staaphylococcus aureus
Bacillus cereus, Clostridium perfringens.
Campylobacter spp,
Helicobactero spp, Vibrio urinificus, Listeria monocytogenes, Yersinia enterocolitica,
S. aureus, B. cereus, C. perfringens Botulism.
62
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Enteric vibrio
Vibrio spp
2. Kerugian ekonomi
foodborne diseases
traveller’s diarrhea
traveller’s diarhea
63
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
irreversible
botulism, toxoplasmosis, cerebral cysticercosis, diarheal
mollusc intoxication, hepatitis brucellosis
3. Citra Negara
foodborn diseases
foodborn diseases
Vibrio cholerae
4. Teknologi Rekayasa Pangan
a. GMO (Genetically Modified Organism) / Pangan Rekayasa Genetik
Genetically modified organism
living modified organism
(Genetically Modified
Organism)
64
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
(precautionary approach).
Genetically Modified
Organism
Food and Drug Administration (FDA)
65
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
66
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
b. Iradiasi pangan
67
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
kilograys/radation unit of measure)
c. Bioterorisme
Centers for Disease Control and Prevention
economic tools
68
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
B. Pokok Bahasan 2 : Pencemar Pangan Dan Alergen
1. Pencemar pangan
a. Cemaran Mikrobiologi
Psychrophilic
Mesophilic
Thermophilic
psychrophilic
69
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
aerobic
anaerobic
fakultatif
Bacilus cereus
staphilococcus
70
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
71
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Salmonella
Clostridium botullinum Clostridium perfringens
72
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
b. Cemaran Kimia
Cadmium
Arsen (
mercury
Chromium
Stibium
Zinkum
Cupprum
73
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Pengemulsi
asam cyanida
c. Cemaran Fisik
hygienis
74
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
2. Alergen
a. Pengertian Alergen
alergen
b. Alergi Makanan
75
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
US Food Allergy
76
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
c. Gejala-gejala yang muncul saat alergi
d. Cara mencegah dan mengatasi alergi makanan
77
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
C. Pokok Bahasan 3 : Penyakit Bawaan Pangan
Penyakit bawaan pangan dikelompokkan menjadi 3 golongan :
1. Infeksi Akibat Pangan
a) Penyakit akibat pangan yang disebabkan virus.
sporadic endemis
sea food
gastroenteristis
sporadis.
calcivirus rotavirus
78
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
b) Penyakit akibat pangan yang disebabkan bakteri
tifoid
tifoid
Salmonella typhi
Salmonella paratyphi Salmonella paratyphi
Salmonella paratyphi
tifoid
79
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Vibrio cholera Vibrio
cholera
tifoid
Shigella
Shigella dysentri
Shigella
80
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
(tuberculosis), difteri dan leptospirosis
c) Penyakit akibat pangan yang disebabkan Protozoa
amoeba hystolytica Giardia
lamblia
carrier
d) Penyakit akibat pangan karena Parasit
Ascaris lumbricoides Oxyuris oxyura Taenia
saginata Taenia soleum Trichinella spiralis
Trichinella spiralis
Trichinella spiralis
Trichinella spiralis
81
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
2. Keracunan pangan
a) Keracunan pangan karena staphylococcus
staphylococcus
staphylococcus
staphylococcus
staphylococcus
b) Keracunan pangan Clostridium
clostridium botulinum
botulism
82
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Clostridium botulinum
Clostridium botulinum
c) Keracunan pangan Clostridium perfringens
Clostridium perfringens
Clostridium perfringens
Clostridium perfringens
83
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
d) Keracunan pangan karena Vibrio parahaemolyticus
Vibrio parahaemolyticus
cross contaminasi
e) Keracunan pangan karena Bacillus cereus
Bacillus cereus
84
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
3. Kontaminasi Pada Pangan
a) Yang berasal dari tanaman
Kalium Cianida atau Potassium Cianida
Asam
Sianida
Potasium Cianida
b) Yang berasal dari pangan laut
c) Zat kimia berbahaya dalam pangan
85
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
sodium nitrit
D. Pokok Bahasan 4 : Pencegahan Pencemaran Pangan
1. Pemilihan Bahan Pangan
2. Penyimpanan Bahan Pangan
3. Pengolahan Pangan
86
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
4. Penyimpanan Pangan
5. Pengangkutan Pangan
6. Penyajian Pangan
E. Pokok Bahasan 5 : Standar Kualitas Pencemaran Pangan
87
MODUL ORIENTASI KEAMANAN PANGAN SIAP SAJI
Beberapa contoh standar yang digunakan yaitu :
E. coli
a. Pestisida Abakmektin
Pestisida Aldrin
Pestisida Arsen
Pestisida Bromoksinil
b. Pestisida Aldikarb
Pestisida Asefat
Pestisida DDT
c. Pestisida Aldrin
Pestisida Azametilfos
Pestisida Brandiokarb
VIII. REFERENSI
88