The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

PDF Biologi (Portofolio Biologi Kelas XI) - Tan Rendy XI IPA 1

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tanrendy0509, 2021-06-14 09:04:53

PDF Biologi (Portofolio Biologi Kelas XI) - Tan Rendy XI IPA 1

PDF Biologi (Portofolio Biologi Kelas XI) - Tan Rendy XI IPA 1

Keywords: Biologi

• Dura mater, lapisan terluar, tebal, kuat, 2 lapisan. Terdapat ruang
subdural yang memisahkan dura mater dan araknoid. Lapisan
terluarmelekat pada kranium.
Otak dan medula spinalis memiliki substransi abu-abu dan putih.

• Substansi abu-abu, membentuk bagian luar otak dan bagian dalam
medula spinalis.

• Substansi putih, membentuk bagian dalam otak dan bagian luar
medula spinalis.

A. Otak (Serebral)
Tersusun atas 100 milyar neuron yang terhubung sinapsis.

1) Bagian-bagian otak
a. Serebrum (otak besar)
Mengisi bagian depan dan atas rongga otak. Bagian luarnya
substransi abu-abu disebut korteks sebral, sedangkan dalamnya
substansi putih dsebut nukelus basal (ganglia basal).
• Korteks serebral, menempati 80% massa otak. Terbagi
menjadi dua belahan (hemisfer serebral), yaitu sisi kanan
dan kiri yang dihubungkan serat pita tebal bahan putih
disebut korpus kalosum. Setiap hemisfer menjadi 4 lobus
dan memiliki fisura (ceruk dalam) dan sulkus (ceruk
dangkal). Are fungsional korteks serebral:
- Area motor primer, mengendalikan aktivitas motor
yang terlatih dan kemampuan berbicara.
- Area sensor korteks, meliputi are sensor, are visual, are
auditori, area olfaktori, dan area pengecap (gustatori).
- Area asosiasi, meliputi area frontal (pusat intelektual
dan fisik), area somatik (penafsiran bentuk dan tekstur
objek), area visual, area auditorik, dan area wicara
Wernicke (pusat bicara dan wicara)
• Nukleus basal, merupakan pusat koordinasi motor.
b. Diensefalon
Terletak di antara serebrum dan otak tengah tersembunyi di
blik hemisfer serebral. Bagian-bagian diensefalon:
• Talamus, untuk menerima dan meneruskan impuls ke
korteks otak besar, sistem kesadaran dan kontrol motor.

95

• Hipotalamus, mengendalikan aktivitas sistem saraf
otonom/tak sadar, pusat pengaturan emosi, memengaruhi
keseluruhan sistem endokrin.

• Epitalamus, pita sempit yang berperan dalam dorongan
emosi, bagian pinealnya berperan dalam fungsi endokrin.

c. Sistem limbik (rinensefalon)
Sistem limbik adalah cincin struktur-struktur otak depan yang

mengelilingi otak dan saling berhubungan. Sistem limbik berfungsi
dalam pengaturan emosi, mempertahankan kelangsungan hidup,
pola perilaku sosioseksual, motivasi, dan belajar.
d. Mesensefalon (otak tengah)

Otak tengah adalah bagian otak pendek yang menghubungkan
pons dan serebelum (otak kecil). Otak tengah berfungsi sebagai
jalur penghantar dan pusat refleks, serta meneruskan informasi
penglihatan dan pendengaran. Otak tengah, pons, dan medula
oblongata disebut batang otak.
e. Pons varolii (jembatan varol)

Pons berfungsi untuk mengatuir frekuensi dan kekuatan
bernapas.
f. Serebelum (otak kecil)

Serebelum adalah bagian otak yang sangat berlipat, berfungsi
untuk mempertahankan keseimbangan, kontrol gerakan mata,
meningkatkan kontraksi otot, serta koordinasi gerakan sadar
keterampilan.
g. Medula oblongata

Medula oblongata berfungsi mengendalikan frekuensi denyut
jantung, tekanan darah, pernapasan, gerakan alat pencernaan
makanan, menelan, muntah, sekresi kelenjar pencernaan, dan
gerakan refleks seperti bersin.
h. Formasi retikuler

Formasi retikuler berfungsimemicu dan mempertahankan
kewaspadaan serta kesadaran.

B. Sumsum Tulang Belakang (Medula Spinalis)
Medula spinalis berbentuk silinder memanjang dari batang otak

medula oblongata hinga ruas ke-2 tulang pinggang, panjangnya sekitar 45
cm, berdiameter 2 cm. Berfungsi mengendalikan berbagai aktivitas refleks
tubuh, komunikasi antara otak dengan semua bagian tubuh, serta
menghantarkan rangsangan koordinasi antara otot dan sendi ke serebelum.

96

1) Struktur bagian dalam (substansi abu-abu)
Tanduk atau kolumna mengandung banyak badan sel, dendrit

asosiasi, neuron eferen, dan akson tidak bermielin.
a. Tanduk posterior (dorsal)
b. Tanduk anterior (ventral)
c. Tanduk lateral
d. Komisura abu-abu
2) Struktur bagian luar (substansi putih)

Mengandung akson bermielin. Terbagi menjadi funikulus
(kolumna) anterior, posterior, ventrolateral, dan lateral. Dalam
funikulus terdapat traktus spinal, yaitu:
a. Traktus sensor (asenden), berperan dalam penyampaian informasi

dari tubuh ke otak. Informasi seperti nyu\eri, posisi tubuh, tekanan.
b. Traktus motor (desenden), berperan dalam membawa impuls motor

dari otak ke medula spinalis dan dari saraf spinal menuju tubuh.

5. Sistem Saraf Tepi (SST)

Sistem saraf tepi (perifer) terdiri atas jaringan saraf yang berada di luar

otak dan medula spinalis. Sistem ini meliputi saraf kranial dari otak dan saraf

spinal dari medula spinalis. Pada SST terdapat ganglion, yaitu struktur

lonjong yang mengandung badan sel neuron dan sel glia yang ditunjang

jaringan ikat..

A. Saraf Kranial

Saraf kranial terdiri atas 12 pasang saraf.

No. Nama Saraf Kranial Fungsi

1. Saraf olfaktori (CN I) Indra penciuman

2. Saraf optik (CN II) Indra penglihatan

3. Saraf okulomotor (CN III) Impuls dari dan ke otot mata

4. Saraf troklear (CN IV) Impuls dari dan ke otot sadar mata

5. Saraf trigeminal (CN V) Impuls otot mastikasi, wajah,
hidung, dan mulut

6. Saraf abdusen (CN VI) Impuls dari dan ke otot rektus
lateral mata

7. Saraf fasial (CN VII) Impuls ekspresi wajah, lidah,
kelenjar air mata dan saliva

8. Saraf vestibulokoklear (CN Impuls dari indra pendengaran
VIII)

9. Saraf glosofaring (CNIX) Impuls otot bicara, menelan,
kelenjar lidah, rasa pada lidah

97

10. Saraf vagus (CN X) Impuls organ pada toraks dan
abdomen
11. Saraf aksesori spinal (CN XI) Impuls faring, laring, trapezius,
12. Saraf hipoglosal (CN XII) dan stemokleidomastoid
Impuls dari dan ke otot lidah

B. Saraf Spinal
Saraf spinal terdiri atas 1 radiks posterior (serabut sensori memasuki

korda) dan radiks anterior (serabut motor meinggalkan korda). Setiap
radiks memasuki atau meninggalkan korda membentuk 7-10 cabang
radiks. Saraf spinal terdiri atas 31 pasang saraf yang muncul dari segmen-
segmen medula spinalis dan namanya sesuai nama ruas tulang belakang.
Saraf serviks 8 pasang (C1-C8), saraf toraks 12 pasang (T1-T12), saraf
lumbar 5 pasang (L1-L5), saraf sakrum 5 pasang (S1-S5), dan saraf
koksiks 1 pasang.

SST meliputi serat-serat saraf yang membawa infromasi antara sistem

saraf pusat dan bagian tubuh lainnya (perifer). Berdasarkan arah impuls, SST

dibagi menjadi divis aferen (membawa informasi dari reseptor menuju SSP)

dan eferen (membawa instruksi SSP ke organ efektor otot atau kelenjar)

Sistem saraf eferen dibagi menjadi sistem saraf somatik (serat-serat

neuron motor otot rangka) dan sistem saraf otonom (serat-serat neuron motor

otot polos, otot jantung, dan kelenjar). Sistem saraf otonom dibagi menjadi 2

berdasarkan fungsinya, yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf

parasimpatis.

Perbedaan Saraf Simpatis Saraf Parasimpatis

Asal serat saraf Berasal dari toraks dan Berasal dari area
lumbar medula spinalis kranium (kepala) dan
sakrum

Ukuran serat Pendek Panjang
praganglion

Ukuran serat Panjang Pendek
pascaganglion

Jenis neurotransmiter Asetilkolin dan Asetilkolin (serat
noradrenalin (serat kolinergik)
adrenergik)

Efek Untuk aktivitas fisik Untuk keadaan tenang
berat

9.2.3 Portofolio 3 Bab IX

98

Analisis Organ Sistem Indra

1. Indra Penglihat (Mata)

Mata adalah sistem optik yang mengfokuskan berkas cahaya pada

fotoreseptor dan mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf. Bagian-

bagian:

A. Aksesori Mata

• Alis, untuk melindungi mata dari keringat.

• Orbita, lekukan tulang berisi bola mata.

• Kelopak mata, melindungi mata dari kekeringan dan debu.

• Otot mata (2 pasang otot rektus dan sepasang otot sadak), untuk

menggerakkan mata ke arah vertikal, horizontal, dan menyilang.

• Air mata, mengandung garam, mukosa, dan lisozim ntuk

membasahi permukaan mata dan mempertahankan kelembapan.

B. Struktur Mata

1) Lapisan luar bola mata

• Tunika fibrosa, lapisan terluar keras.

• Sklera, tersusun dari jaringan ikat fibrosa warna putih,

memberi bentuk pada bola mata, dan sebagai tempat pelekatan

otot ekstrinsik.

• Kornea, untuk mentransmisi dan memfokuskan cahaya.

2) Lapisan tengah bola mata

• Koroid, bagian terpigmentasi, untuk mencegah refleksi internal

berkas cahaya, dan banyak pembuluh darah untuk memberi

nutrisi.

• Badan siliari, berpembuluh darah dan otot bersilia, berfungsi

dalam akomodasi penglihatan (mengubah fokus objek).

• Iris, bagian berwarna pada mata, terdiri atas jaringan ikat dan

otot untuk mengendalikan diameter pupil.

• Pupil, ruang terbuka bulat untuk dilalui cahaya.

3) Lensa, struktur bikonveks bening di belakang pupil dan bersifat

elastis.

4) Rongga mata, ruang anterior berisi aqueous humor (cairan bernutrisi

untuk lensa dan kornea), sedangkan ruang posterior berisi vitreous

humor (gel transparan untuk mempertahankan bentuk bola mata dan

posisi retina terhadap kornea).

5) Retina (selaput jala), lapisan terdalam mata, tipis dan transparan.

Tersusun dari:

99

• Bagian luar, terpigmentasi dan menyimpan vitamin A.
• Bagian dalam, terdapat sel-sel batang (mengandung pigmen

rodopsin, tidak sensiif terhadap warna, dan bekerja pada
malam hari) dan sel-sel kerucut (mengandung iodopsin, sensitif
terhadap warna, dan bekerja pada siang hari).
• Lutea makula, area berkas kekuningan terletak agak lateral dari
pusat.
• Fovea sentralis (bintik kuning), pelekukanjika bayangan jatuh
tepat di bintik kuning, bayang terlihat dengan jelas.
• Saraf mata, terbentuk dari akson sel-sel ganglion dan
terhubung di sisi superior kelenjar hipofisis.
• Bintik buta (diskus optik), bagian tidak berfotoreseptor.

Mekanisme melihat:

- Cahaya dipantulkan oleh benda ditangkap oleh mata, menembus kornea
dan diteruskan melalui pupil.

- Intensitas cahaya yang telah diatur oleh pupil diteruskan menembus lensa
mata dan ke retina.

- Daya akomodasi lensa mengatur cahaya, agar jatuh tepat di titik bintik
kunign retina.

- Pada bintik kuning, impuls cahaya disampaikan oleh saraf optik ke otak.
- Cahaya disampaikan ke otak dan diinterpretasikan.

2. Indra Penciuman (Hidung)
Hidung (nasal) sebagai indra penciuman memiliki kemoreseptor

olfaktori yang berfungsi menerima rangsangan berupa bau atau zat kimia
berbentuk gas. Kemoreseptor olfaktori merupakan neuron khusus pada
epitelium olfaktori di langit-langit rongga hidung. Epitelium olfaktori
mengandung sel penunjang, sel basal, dan sel olfaktori. Sel olfaktori berupa
neuron bipolar berakhir pada rambut halus/silia di rongga hidung.

Mekanisme menghirup:
- Gas masuk ke hidung.
- Larut pada selaput mukosa.
- Merangsang silia sel reseptor.
- Rangsangan diteruskan ke otak untuk diolah.
- Jenis bau dapat diketahui.

100

3. Indra Pengecap (Lidah)
Lidah sebagai indra pengecap mimiliki kemoreseptor berupa kuncup

pengecap. Kuncup pengecap terdapat pada papila lidah, palatum (langit-
langit) lunak, epiglotis, dan faring. Papila lidah dibedakan menjadi:

• Papila 6filiformis, berbentuk kerucut, kecil, menutup bagian dorsum
lidah (permukaan atas), dan tidak mengandung kuncup pengecap.

• Papila fungiformis, berbentuk bulat, di ujung lidah, mengandung 5
kuncup pengecap setiap papila.

• Papila sirkumvalata, berbentuk menonjol, tersusun huruf V, di bagian
belakang lidah, mengandung 100 kuncup pengecap.

• Papila foliata, berbentuk sepeti daun, di tepi pangkal lidah,
mengandung 1300 kuncup pengecap di setiap lipantannya.

Kuncup pengecap terdiri atas sel-sel penunjang dan sel sensor
(pengecap) berambut. Substansi yang dirasakan harus berbentuk cairan atau
larut dalam air ludah. Area kepekaan rasa pada lidah:

• Pengecap rasa manis, di bagian ujung lidah.
• Pengecap rasa asin, hampir di seluruh area lidah, banyak terkumpul di

samping.
• Pengecap rasa asam, di bagian samping lidah agak belakang.
• Pengecap rasa pahit, di belakang pangkal lidah.

4. Indra pendengar (Telinga)
Telinga berfungsi sebagai indra pendengar yang mampu mendeteksi

gelombang bunyi/suara, serta berperan penting dalam keseimbangan dan
menentukan posisi tubuh.
A. Struktur Telinga

1) Telinga bagian luar
• Pinna/aurikula, yaitu daun kartilago yang menangkap
gelombang bunyi untuk diteruskan ke kanal auditori eksternal
(meatus) hingga membran timpanum.
• Membran timpanum (gendang pendengar), merupakan
perbatasan antara bagian luar dengan tengah yang berbentuk
kerucut. Membran timpanum memiliki tegangan dan ketebalan

101

yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara
mekanis.
2) Telinga bagian tengah, rongga berisi udara di dalam tulang temporal
• Tabung Eustachius (auditori), menghubungkan telinga tengah
dengan faring dan berfungsi menyeimbangkan tekanan udara
pada kedua sisi membran timpanum.
• Oskile auditori, meliputi 3 tulang pendengaran, yaitu maleus
(martil), inkus (landasan), dan stapes (sanggurdi). Tulang
pendengaran berfungsi mengarahkan getaran dari membran
timpanum ke fenestra vestibuli (tingkap oval) yang membatas
telinga tengah dengan dalam.
3) Telinga bagian dalam, di dalam tulang temporal
• Labirin osea (labirin tulang), merupakan ruang berliku berisi
cairan perilimfa. Labirin tulang terbagi menjadi 3, yaitu
vestibula (mengandung reseptor keseimbangan tubuh), kanalis
semisirkularis (3 buah saluran setengah lingkaran), dan koklea
(berbenuk seperti rumah siput, mengandung reseptor
pendengaran). Koklea terdiri ata 3 bagian, yaitu skala vestibuli
(atas), skala media (tengah), dan skala timpani (bawah). Skala
vestibuli dan timpani mengandung cairan perilimfa, skala
media cairan endolimfa. Skala vestibuli-tulang sanggurdi
melalui tingkap oval. Skala timpani-telinga bagian tengah
melalui tingkap bulat. Skala media atas dibatasi membran
vestibularis, agian bawah membran basilaris. Di atas membran
basilaris terdapat organ corti yang terdiri atas sel-sel rambut
dan penunjang.
• Labirin membranosa, merupakan serangkaian tuba berongga
dan berkantong berisi cairan endolimfa. 2 kantong yaitu
utrikulus dan sakulus yang dihubungkan duktus endolimfa. Di
dalam saluran setengah lingkaran terdapat duktus semisirkular
berisi cairan endolimfa. Pada kantong dan duktus mengandung
reseptor keseimbangan (ekuilibrium).

Mekanisme mendengar:

- Gelombang bunyi (getaran) ditangkap daun kartilago telinga.
- Menjalar ke kanal auditori eksternal (meatus).
- Membentuk getaran pada membran timpanum.

102

- Menjalar ke osikel auditori (maleus, inkus, stapes).
- Menuju fenestra vestibuli.
- Terbentuk gelombang tekanan pada perilimfa skala vestibuli.
- Menjalar ke skala timpani.
- Menyebabkan getaran pada membran basilar.
- Sel-sel rambut melengkung.
- Memicu impuls saraf.
- Menjalar ke serabut saraf vestibulokoklear (CN VIII).
- Menjalar ke korteks auditori di otak.
- Bunyi diinterpretasikan.

5. Indra Peraba (Kulit)
Kulit sebagai indra peraba memiliki beberapa reseptor sensor untuk

mentransduksi stimulus dari lingkungan menjadi impuls saraf. Reseptor
sensor pada kulit:

• Korpuskula Pacini, mendeteksi tekanan yang dalam (kuat) dan
getaran, reseptor di jaringan subkutan, terdapat pada jari, telapak
tangan dan kaki.

• Korpuskula Meissner, mendeteksi rangsangan berupa sentuhan,
reseptor di jaringan dermis, terdapat pada ujung jari, bibir, papila
mamae, dan genitalia luar.

• Cakram Merkel, mendeteksi sentuhan dan sebagai resptor raba yang
beradaptasi lambat, reseptor di kulit tak berambut (misal ujung jari)
dan antara folikel rambut pada epidermis.

• Korpuskula Roffini, berperan sebagai reseptor tekanan dan tegangan di
sekitar jaringan ikat, terdapat di bagian dermis.

• Ujung bulbus Krause, mendeteksi tekanan sentuhan, kesadaran posisi,
dan gerakan. Terdapat di bibir, genitalia luar, serta dermis yang
berhubungan dengan rambut.

• Ujung saraf bebas (tidak memiliki lapisan seluler), mendeteksi rasa
nyeri, sentuhan ringan, dan suhu. Terdapat menyebar di jaringan tubuh
dan merupakan reseptor sensor utama pada kulit.

103

9.3 Tugas Bab IX
9.3.1 Tugas 1 Bab IX
Karya Anti NAPZA

104

BAB X

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

10.1 Jurnal Belajar Bab X
10.1.1 Jurnal Belajar 1 Bab X
Selasa, 4 Mei 2021
1. Pada pertemuan Biologi hari ini, bu Puspa mengirim link
meet pada pukul 08:13. Materi yang akan dibahas adalah
sistem reproduksi dan hanya dibahas dalam 1 pertemuan
ini saja. Organ reproduksi laki-laki meliputi skrotum,
testis, saluran pengeluaran, kelenjar aksesori, dan penis.
• Skrotum (kantong pelir) berupa kantong longgar
dari kulit, fasia (selaput pembungkus otot), dan otot
polos yang membungkus testis di luar tubuh,
skrotum berjumlah sepasang dan dipisahkan septum
internal.
• Testis dilapisi tunika albuginea (kapsul jaringan ikat
ke arah dalam, 250 lolubus) dan mengandung
tubulus seminiferus sebagai tempat terjadinya
spermatogenesis. Di dalam tubulus seminiferus
terdapat lapisan epitelium germinal tang
mengandung sel-sel batang (spermatogonium), sel-
sel Sertoli (untuk nutrisi spermatozoid dan
menghancurkan sel germinativum gagal), dan sel-
sel interstisial/Leydig (menyekresikan hormon
androgen).
• Saluran reproduksi:
- Epididimis, untuk menyimpan sperma (sekitar 6
minggu) hingga menjadi dewasa, motil, dan fertil.
- Saluran vas deferens, melanjutkan epididimis yang
meninggalkan skrotum ke vesikula seminalis.
- Duktus ejakulatorius (saluran ejakulasi), untuk
menerima sperma dari vas deferens dan
menyalurkan sekresi vesikula seminalis.
- Uretra, saluran kelamin dan saluran pembuangan
urine.
• Kelenjar aksesori:

105

- Vesikula seminalis, menghasilkan cairan kental
basa kaya akan fruktosa untuk menutrisi dan
melindungi sperma.

- Kelenjar prostat, menghasiljan cairan basa
menyerupai susu untuk meningkatkan motilitas
sperma pada pH 6-6,5.

- Kelenjar Cowper (bulbouretral), menghasilkan
cairan basa mengandung mukus (lendir) untuk
pelumasan.

• Penis, terdiri atas akar, badan, dan glans penis.
Berfungsi sebagai organ kopulasi, serta pengeluaran
urine dan semen.
Hormon reproduksi pada laki-laki yaitu hormon
testikular (testosteron, androstenedion, DHT, inhibin,
dan protein pengikat androgen), hormon hipofisis
(LH dan FSH), dan hormon hipotalamus (GnRH).
Gametogenesis pada laki-laki (spermatogenesis)
terjadi di tubulus semenniferus di dalam testis,
prosesnya yaitu mitosis (spermatogonium (2n)
membelahh mitosis menjadi spermatosit primer
(2n)), meiosis (spermatosi primer pada meiosis I
menjadi dua spermatosit sekunder (n), lalu pada
meiosis II menjadi 4 spermatid (n)), dan
spermiogenesis (spermatid matang menjadi
spermatozoid/sperma (n), memiliki kepala, leher, dan
ekor).

Organ reproduksi wanita meliputi ovarium (indung
telur), tuba Fallopi, uterus, bagina, dan vulva.
• Ovarium berjumlah sepasang di rongga pelvis,
berfungsi sebagai tempat oogenesis serta
menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.
Strukturnya terdiri atas kulit (korteks atau zona
parenkimtosa) dan inti (medula atau zona
vaskulosa).
• Tuba Fallopi berjumlah sepasang dan memiliki
bagian infundibulum (ujung terbuka dengan fimbria

106

menyapu oosit terovulasi), ampula (segmen tengah),
dan ismus (segmen dekat uterus), sebagai tempat
fertilisasi.
• Uterus adalah prgan tunggal berongga yang terletak
di antara rektum dan kandung kemih. Dindingnya
tersusun dari perimetrium, miometrium, dan
endometrium (sebagai tempat implantasi zigot dan
pertumbuhan janin). Endometrium terdiri atas 2
lapisan, yaitu stratum fungsionalis (mengandung
kelenjar, luruh saat menstruasi) dan stratum basalis
(dekat miometrium, tidak berubah saat menstruasi).
Bagian leher bawah uterus disebut serviks.
• Vagina merupakan tabung fibromuskular dengan
dinding elastis. Vagina berfungsi sebagai organ
kopulasi, serta jalan aliran menstruasi dan jalan
lahirnya bayi.
• Vulva (pudendum) adalah organ genitalia luar yang
terdiri atas mons pubis, labia major, labia minor,
klitoris, vestibula, orifisium uretra, dan mulut
vagina).
Hormon reproduksi wanita yaitu estrogen,
progesteron, LH, FSH, GnRH, HCG, laktogen
plasenta, tirotropin korionik, relaksin, prolaktin,
oksitosin, CRH, dan prostaglandin. Gametogenesis
pada wanita (oogenesis) terjadi di ovarium,
prosesnya terbagi menjadi 3, yaitu oogenesis pralahir
(oogonium (2n) membelah mitosis mengasilkan 6-7
juta oosit primer (2n) dan tetap pada tahap profase
meiosis I hingga pubertas), oogenesis pascalahir
(hanya 350-400 yang akan hidup dan diovulasikan
satu per satu setiap bulan selama tahun produktif),
dan oogenesis pascapubertas (hormon GnRH dan
gonadotropin menyebabkan folikel primordial
(pelapis oosit primer) berkembang menjadi folikel
primer lalu sekunder yang siap diovulasi. Sebelum
ovulasi, oosit primer membelah meiosis I menjadi
oosit sekunder (n) dan badan polar I (n). Oosit
sekunder metafase meiosis II dan berhenti,

107

dilepaskan dari ovarium (ovulasi). Jika oosit
sekunder dibuahi sperma, meiosis berlanjut hingga
terbentuk ootid (n) dan badan polar II (n). Ootid
berkembang menjadi ovum. Bu Puspa juga
menjelaskan tentnag siklus menstruasi dan fertilisasi.
Setelah materi pada PowerPoint selesai, bu Puspa
memberi tambahan edukasi tentang reproduksi laki-
laki dan wanita.
2. Pada pertemuan hari ini, bu Puspa banyak menjelaskan
karena waktu KBM yang dipersingkat dan 1-2 minggu
lagi akan ada libur hari raya Idul Fitri, jadi bu Puspa
harus mebgejar materi yang belum tersampaikan. Pada
pertemuan selanjutnya di hari Kamis, bu Puspa akan
menerangkan sistem pertahanan tubuh.

108

BAB XI

SISTEM PERTAHANAN TUBUH

11.1Jurnal Belajar Bab XI

11.1.1 Jurnal Belajar 1 Bab XI

Kamis, 6 Mei 2021

1. Pada pertemuan Biologi hari ini, bu Puspa membagikan

link pada pukul 08:04. Materi yang disampaikan adalah

BAB 11 Sistem Pertahanan Tubuh. Fungsi dari sistem

pertahanan tubuh adalah mempertahankan tubuh dari

patogen invasif, melindungi tubuh terhadap suatu agen

dari lingkungan eksternal serta zat kimia, menyingkirkan

sel-sel rusak, mengenali dan menghancurkan sel

abnormal. Mekanisme pertahanan tubuh terbagi menjadi

pertahanan nonspesifik (alamiah) dan pertahanan

spesifik (adaptif). Pertahanan nonspesifik merupakan

imunitas bawaan sejak lahir, berupa komponenn tubuh

normal, dan siap mencegah antigen yang masuk ke

dalam tubuh. Pertahanan nonspesifik yang pertama

adalah pertahanan fisik, kimia, dan mekanis terhadap

agen infeksi dengan kulit sehat dan utuh, membran

mukosa, cairan tubuh antimikroba, dan pembilasan oleh

air mata, saliva, dan urine. Pertahanan nonspesifik kedua

adalah fagositosis, inflamasi, dan protein antimikroba.

Fagositosis adalah proses penelanan dan

pencernaanmikroorganisme dan toksin yang berhasil

masuk ke dalam tubuh, prosesnya dilakukan neutrofil

dan makrofag yang bergerak secara kemotaksis,

makrofag dibedakan menjadi makrofag jaringan ikat

(histiosit, menetap), makrofag dan prekursor (monosit,

membentuk sel multinukleus), dan sistem fagosit

mononukleus (sistem retikuloendotelial).

Inflamasi/peradangan adalah reaksi lokal jaringan

terhadap infeksi atau cedera yang disebabkan karena

terbakar, toksin, produk bakteri, gigitan serangga, atau

pukulan keras. Tujuan inflamasi adalah membawa

fagosit dan protein plasma ke jaringan menginaktifkan

agen penyerang, membersihkan debris serta

mempersiapkan proses penyembuhan dan perbaikan

109

jaringan. Protein antimikroba nonspesifik adalah
interferon/IFN (protein antivirus untuk menghalangi
multiplikasi virus) dan komplemen (protein plasma tidak
aktif yang diaktifkan berbagai bahan antigen,
komplemen bertujuan untuk menghancurkan
mikroorganisme tapi terkadang merusak jaringan tubuh).
Pertahanan spesifik (adaptif) merupakan sistem
kompleks yang memberikan respon imun terhadap
antigen spesifik, komponennya adalah antigen (zat
merangsang respon imunitas, terutama menghasilkan
antibodi, bagiannya determinan antigen/epitop dan
hapten) dan antibodi (protein larut dihasilkan oleh sistem
imunitas, disebut imunoglobin (Ig), lima kelasnya adalah
IgA, IgD, IgE, IgG, dan IgM). Interaksi antibodi dan
antigen melalui fiksasi komplemen, netralisasi,
aglutinasi (penggumpalan), dan presipitasi
(pengendapan). Jenis imunitas dibedakan menjadi
imunitas aktif (kontak langsung dengan patogen) dan
imunitas pasif (antibodi dari satu individu dipindakan ke
individu lain). Sel-sel yang terlibat dalam respons
imunitas yaitu sel B (limfosit B), sel T (limfosit T),
makrofag, dan sel pembunuh alami (NK/natural killer).
Bu Puspa juga menerangkan mekanisme respons
imunitas humoral (diperantarai antibodi) dan imunitas
seluler (diperantarai sel).
2. Seperti pertemuan pada hari Selasa, bu Puspa lebih
banyak menerangkan materi karena sedang mengejar
materi. Terima kasih bu Puspa telah memberikan banyak
materi kepada kelas XI IPA 1 dan 2, juga memberi
kesempatan untuk lebih berani dalam menyampaikan
pendapat serta tambahan ilmu-ilmu lainnya.

110

111

REFLEKSI

• Peristiwa
Pembelajaran Biologi kelas XI IPA 1 & 2 yang dibimbing oleh Ibu

Puspani melalui pertemuan daring ini menggunakan media PowerPoint. Bu
Puspa menjelaskan materi tiap bab dan memberi kesempatan bagi teman-
teman untuk menyampaikan materi ataupun pendapat masing-masing. Setelah
itu, kewajiban bagi siswa/i yang hadir pada pertemuan daring untuk meng-
screenshoot bukti kehadiran dan mengisi jurnal belajar. Isi dari jurnal belajar
adalah materi yang disampaikan dan peristiwa apa saja yang terjadi saat
pertemuan daring berlangsung. Lalu, pada beberapa bab, Bu Puspa memberi
tugas portofolio berkaitan dengan bab yang sedang dibahas. Selama
pembelajaran Biologi, Bu Puspa tidak pernah memberi PR (pekerjaan rumah).

• Perasaan
Saat menulis jurnal belajar, portofolio dan tugas ini, penulis dituntut

untuk sabar dikarenakan rangkuman peristiwa dan materi yang disampaikan
cukup panjang. Selain kesabaran, penulis juga harus jujur akan jurnal belajar
yang dibuat karena setiap siswa/i hanya membuat jurnal belajar jika
menghadiri pertemuan daring di hari yang sama.

• Pembelajaran
Dengan adanya jurnal belajar dan portofolio, penulis belajar untuk

ulangan harian dari file yang sudah ada sehingga sangat praktis dan mudah
dipahami. Penggunaan kosa kata dan penyusunan kalimat penulis juga
berkembang karena menulis tugas mata pelajaran Biologi. Jurnal belajar dan
portofolio adalah kesepakatan bersama antara siswa/i dengan Bu Puspa

114

sebagai pengganti PR maka penulis harus memenuhi kewajiban tersebut.
Tidak hanya itu, metode ini mengharuskan siswa/i untuk fokus saat pertemuan
daring agar dapat mengisi jurnal belajar dan portofolio masing-masing.
• Perubahan

Perubahan dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring
mengharuskan penyesuaian metode pembelajaran. Metode jurnal belajar dan
portofolio sangat baik untuk mendapatkan fokus siswa/i saat guru
menerangkan. Akan tetapi, isi portofolio yang lumayan panjang
mengharuskan kelonggaran tenggat waktu agar siswa/i dapat menyelesaikan
portofolionya. Refleksi setiap semester sekiranya dibutuhkan agar guru mata
pelajaran tahu apakah metode ini cocok digunakan atau tidak.

113


Click to View FlipBook Version