MEMBELAH LAUTAN, MENYATUKAN PERBEDAAN
LUKMAN NUL HAKIM, M.PD BEST
DR. TEDI PERMADI, M.HUM CULTURE
DR. YUNUS ABIDIN, M.PD BOOKS OF 2022
PENULIS:
LUKMAN NUL HAKIM
TEDI PERMADI
YUNUS ABIDIN
DESAIN SAM
PUL & TATAK LETAK
ARUN SUFAJAR
DITERBITKAN
PERTAMA OLEH
Daftar isi
Daftar isi .................................................. i
Tepung Tawar .......................................... 1
Kalimantan Utara ................................... 6
Pembagian Administratif ........................ 9
Tarakan .................................................10
Suku Tidung........................................... 14
Iraw Tengkayu ....................................... 17
Bagian-bagian Padaw Tuju Dulung ....... 24
Pakan (Sesajian).................................... 57
Glossarium ............................................ 75
Daftar Pustaka ………………………………….80
Biografi penulis ..................................... 77
Barcode Buku Digital………………………….84
i
Tepung Tawar
Buku PADAW TUJU DULUNG pada
upacara adat Iraw Tengkayu di Kota Tarakan ini
merupakan salah satu saksi dari keberadaan suku
Tidung di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara.
Kekayaan alam, ramah tamah, serta keelokan seni
terpantul dalam seni budaya yang dimiliki oleh
masyarakat
suku Tidung
Kota Tarakan.
Orang-orang
Tidung di
Tarakan,
terutama
yang bermukim di daerah pesisir diantara
rindangnya pohon bakau yang menghiasi muara-
muara sungai serta riuh mesin perahu nelayan -
merupakan masyarakat pemulia warisan
peninggalan leluhur yang diberi nama upacara adat
budaya Iraw Tengkayu.
Masyarakat suku Tidung pada umumnya
mengetahui perahu tujuh haluan atau yang lebih
1
dikenal dengan sebutan Padaw Tuju Dulung,
merupakan sarana upacara adat Iraw Tengkayu.
Upacara tersebut dilakukan untuk mengenang
jaman kejayaan raja Tidung pada zamanya. Namun,
pengetahuan masyarakat umum terbatas pada
bentuknya saja, meskipun pada kenyataanya Padaw
Tuju Dulung yang dilarung ke tengah laut kaya akan
makna dan perlambangan baik yang tersemat
maupun yang tersirat didalam rangkainya.
Iraw Tengkayu dilaksanakan untuk
mengenang jaman kejayaan raja Tidung di tanah
Kalimantan bagian utara dengan berpagar muara-
muara sungai dan berhalaman hamparan laut.
Upacara adat ini mulai sulit ditemukan di
Kalimantan Utara karena rangkaian dari pembuatan
Padaw Tuju Dulung ditransmisikan secara lisan
dari mulut ke mulut, bersama dengan tata cara
pelaksanaan puncak acara yang dilaksanakan secara
sakral, dan khidmat dengan keyakinan yang teguh.
Buku Padaw Tuju Dulung (Perahu Tujuh
Haluan) pada upacara adat Iraw Tengkayu ini
terbagi atas beberapa bab dan membahas makna-
makna yang
2
terdapat pada Padaw Tuju Dulung baik yang
tersemat maupun tersirat sesuai informasi yang
didapatkan penulis dari sumbernya secara langsung.
Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto
dokumentasi yang berkaitan dengan upacara adat
Iraw Tengkayu khususnya Padaw Tuju Dulung
sebagai objek utama dalam penulisan buku ini.
Panduan tahap demi tahap agar memungkinkan
para pembaca mendapatkan pengetahuan budaya
masyarakat Tidung sebagai penduduk asli kota
Tarakan sehingga para pembaca dapat memahami
nilai-nilai yang terdapat pada upacara adat Iraw
Tengkayu, yaitu sebagai sarana menghormati
peninggalan leluhur dengan terus saling menjaga
keharmonisan sesama masyarakat suku Tidung dan
dapat hidup damai berdampingan dengan
masyarakat suku lainnya.
Buku ini dapat terselesaikan dan terbit atas
dukungan dari berbagai pihak, untuk itu kami
haturkan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak
yang terlibat. Tentunya buku ini tidak akan dapat
hadir di hadapan kita semua tanpa dukungan penuh
3
dari salah satu sesepuh tokoh adat Tidung Tarakan,
yaitu Datu Norbeck serta bimbingan dari para dosen
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia,
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tiada
henti-hentinya memberikan arahan serta
supporting hingga terselesaikanya buku ini dan para
rekan-rekan di balik layar yang memiliki kesabaran
dan ulet dalam membantu penyusunan buku ini.
Buku kecil ini kami persembahkan kepada
masyarakat Kalimantan Utara, khususnya
masyarakat suku Tidung yang masih setia dalam
menjaga budaya adat mereka.
Semoga hadirnya buku ini dapat memantik
lahirnya karya-karya baru yang berfokus terhadap
kebudayaan yang terdapat di tanah kelahiranya
masing-masing, untuk menjaga agar kebudayaan
yang dimiliki oleh masyarakat setempat tetap lestari
di tengah-tengah perkembangan zaman.
Mempertahankan adat istiadat bukanlah pemikiran
kuno melainkan menjaga kekayaan yang telah
diwariskan oleh para leluhur kita.
4
Di
ujung tepung
tawar ini,
semoga para
pembaca
selalu
mendapatkan berkah dan keimanan yang kuat
sebagaimana pesan dari salah satu tiang tertinggi
atau tekalak yang terdapat di bagian depan meligay
Padaw Tuju Dulung, berupa simbol bahwa tiada
yang Agung dan tinggi selain Allah SWT.
Bandung, 2022
Tim Penulis
5
Kalimantan Utara
Provinsi Kalimantan Utara sebelumnya
merupakan bagian provinsi Kalimantan Timur.
Melalui Undang-
Undang Nomor 20
tahun 2012,
Kalimantan Timur
bagian utara
dimekarkan menjadi
sebuah provinsi yang otonom.
Provinsi Kalimantan Utara terdiri atas
lima wilayah administrasi dengan empat kabupaten
dan satu kota madya, yaitu Kabupaten Bulungan,
Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan,
Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan. Ibukota
Provinsi Kalimantan Utara adalah Tanjung Selor,
dan berada di Kabupaten Bulungan. Berikut ini
merupakan gambaran umum aspek geografis dan
demografi, kesejahteraan masyarakat, pelayanan
umum, daya saing daerah, indeks pembangunan
manusia, dan kawasan perbatasan. Luas dan Letak
Geografi Provinsi Kalimantan Utara memiliki luas ±
6
75.467,70 km2 , terletak pada posisi antara 1140
35’22” – 1180 03’00” Bujur Timur dan antara 1 0
21’36” - 40 24’55” Lintang Utara. Provinsi
Kalimantan Utara memiliki luas lautan seluas 11.579
Km2 (13% dari luas wilayah total).
Secara administratif Provinsi Kalimantan Utara
berbatasan dengan negara Malaysia tepatnya
dengan negara bagian Sabah dan Serawak, Batas
daerah daratan sekitar 1.038 km garis perbatasan
antara Provinsi Kalimantan Utara dengan Negara
Malaysia. Sebelah Utara : Negara Sabah (Malaysia)
Sebelah Timur : Laut Sulawesi Sebelah Selatan :
Provinsi Kalimantan Timur Sebelah Barat : Negara
Sarawak (Malaysia) Posisi geografis Provinsi
Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan
Malaysia membuat provinsi ini berada di lokasi
strategis terutama dalam pertahanan dan keamanan
negara. Selain itu, menurut Undang-Undang No. 20
Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi
Kalimantan Utara, diketahui bahwa provinsi ini juga
berada di jalur pelayaran internasional (Alur Laut
Kepulauan Indonesia/Archipelagic Sealand
7
Passage) dan merupakan pintu keluar/outlet ke Asia
Pasifik.
8
Pembagian Administratif
Kalimantan Utara dipimpin oleh seorang
Gubernur yang dipilih secara langsung oleh rakyat
pada tahun 2015. Pada pemilihan tersebut Irianto
Lambrie dan Bpk. Udin Hianggio terpilih sebagai
Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Utara.
Kabupaten/Kota Kecamatan Desa Kelurahan
1. Malinau terdapat 15 kecamatan dan 109 desa
2. Bulungan terdapat 10 kecamatan dan 81 desa
3. Tana Tidung terdapat 5 kecamatan dan 29
desa
4. Nunukan memiliki 16 kecamatan, 232 desa
serta 8 kelurahan.
5. Tarakan memiliki 4 kecamatan, dan 20
kelurahan
6. Kalimantan Utara secara keseluruhan
terdapat 50kecamatan, 459desa, dan 20
kelurahan.
9
Tarakan
Kerajaan Tidung atau juga dikenal dengan
Kerajaan Tarakan (Kalkan/Kalka) adalah sebuah
kerajaan yang memerintah Suku Tidung di
Kalimantan Utara, berkedudukan di Pulau Tarakan
dan berakhir di
Salimbatu.
Keberadaan
Kerajaan Tidung
Kuno ini dimulai
kira-kira pada tahun
1076 hingga 1557 M,
di bawah pengaruh
Kesultanan Sulu.
Dinasti Tenggara
dimulai pada tahun 1557 s.d 1916 M, Dinasti ini
pertama kali dipimpin oleh Amiril Rasyd Gelar
Datoe Radja Laoet dan berakhir ketika dipimpinoleh
Datoe Adil. Dinasti Tenggara terletak di daerah
Pamusian, Tarakan Tengah. Dimulai dengan
masuknya perusahaan minyak Belanda dengan
nama BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) pada
10
tahun 1896 untuk menemukan keberadaan sumber
minyak di Pulau Tarakan. Pemerintah Hindia
Belanda merasa perlu menempatkan seorangAsisten
Residen di pulau ini yang membawahi 5 (lima)
wilayah, yaitu: Tanjung Selor, Tarakan, Malinau,
Apau Kayan dan Berau. Namun, pada masa pasca
kemerdekaan, Pemerintah Indonesia merasa perlu
mengubah status perkawinan Tarakan menjadi
Kabupaten Tarakan sesuai dengan Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1963.
Letak dan posisinya yang strategis mampu
menjadikan kecamatan Tarakan sebagai salah satu
sentra industri di Provinsi Kalimantan Timur bagian
utara sehingga pemerintah perlu meningkatkan
statusnya menjadi Kota Administratif sesuai dengan
Peraturan Pemerintah no. 47 Tahun 1981. Status
Kota Administratif ditingkatkan lagi menjadi
Kotamadya berdasarkan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 29 Tahun 1997 yangperesmiannya
dilakukan langsung oleh Menteri
11
Dalam Negeri pada tanggal 15 Desember 1997
(Akbarsyah, 2002: hlm.14)
Selanjutnya dengan dikeluarkannya Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi
Daerah statusnya berubah menjadi Kota dan
berdasarkan Undang-Undang
tersebut terjadi pemekaran dan pemekaran
daerah yaitu status desa di Kota Tarakan berubah
seluruhnya menjadi Kelurahan yang sebesar 20 (dua
puluh) Kelurahan.
Visi dan Misi :
Berdasarkan Peraturan
Daerah Kota Tarakan Nomor 6
Tahun 2014 tentang Rencana
Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD)
Kota Tarakan Tahun 2014 –
2019, Visi Pemerintah Kota
Tarakan: “Mewujudkan Tarakan Sebagai Kota
Perdagangan, Jasa , Industri, Perikanan, dan
Pariwisata yang Didukung Sumber Daya Manusia
12
dan Infrastruktur yang Handal dan Ramah
Lingkungan”
1. Selanjutnya, dalam rangka mewujudkan
tekad yang tertuang dalam Visi
Pembangunan Daerah tersebut di atas,
maka ditetapkanlah Misi Melaksanakan
Pengembangan dan Pembangunan
Kawasan Perdagangan, Jasa, Industri,
Perikanan, dan Pariwisata
2. Meningkatkan dan Mengembangkan
Kualitas Sumber Daya Manusia
3. Melaksanakan Peningkatan,
Pembangunan dan Pengembangan
Infrastruktur
4. Melaksanakan Pengembangan dan
Pembangunan Lingkungan Hidup.
Kondisi Wilayah
Secara geografis Kota Tarakan yang secara
geografis terletak pada 3°14'23” – 3°26'37” Lintang
Utara dan 117°30'50” – 117°40'12” Bujur Timur.
Kota Tarakan terdiri dari 2 (dua) pulau yaitu Pulau
Tarakan dan Pulau Sadau dengan luas wilayah
13
254,18 km2 dimana 98,22% atau 249,65 km2 berupa
daratan dan sisanya 1,78% atau 4,53 km2 berupa
lautan. batas-batas kota Tarakan terdiri dari:
• Sebelah Utara : Pesisir Pantai Kecamatan
Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan
• Sebelah Timur : Pesisir Pantai Kecamatan
Sesayap, Kabupaten Tana Tidung
• Sebelah Selatan : Laut Sulawesi
• Sebelah Barat : Pesisir Pantai Kecamatan
Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan.
14
Suku Tidung
Suku Tidung dalam (Norisman, 2018: hlm 11)
artinya gunung, merupakan nama etnis yang
berkaitan dengan asal-usul keberadaan suku
Tidung. Pada awalnya, mayoritas suku Tidung
menempati daerah-daerah perbukitan atau dtaran
yang lebih tinggi di sekitar laut di wilayah utara
Kalimantan.
Kelompok
etnis Tidung
dikategorikan
sebagai bagian
dari kelompok
Proto Melayu, bahkan sejumlah ilmuan
mengidentifikasikan suku Tidung sebagai bagian
dari rumpun Dayak Murut. Mengapa suku Tidung
diidentikan dengan suku Dayak itu desebabkan
karena suku Tidung masih menjalankan pola hidup
yang sederhana dan sebagai petani subsisten
dianggap sebagai bagian dari etnis Dayak yang
merupakan penduduk asli Kalimantan. Hal ini
disebabkan oleh masih digunakannya atribut-
15
atribut yang serupa, contohnya mandau (senjata
tradisional suku Dayak) (Muthoar, 2015: hlm 4).
Bahasa suku Tidung sangat mirip dengan beberapa
bahasa suku Dayak yang ada di Kalimantan Utara
yaitu, Dayak Agabag, Dayak Tenggalan, Dayak
Sementara, dan Dayak Tahol yang merupakan
bagian dari rumpun Dayak Murut (Hartatik, 2014:
hlm7).
Pendapat lain yang menyatakan suku Tidung
bukanlah bagian dari suku Dayak. Suku Tidung yang
tinggal di pegunungan mulai bermigrasi ke wilayah
pesisir pada saat ada perjanjian antara suku Tidung
dan suku Dayak, sehingga suku Tidung saat ini telah
lebih terkonsentrasi pada wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil di kawasan Kalimantan Utara dan
sekitarnya (Nanang, 2015: hlm 4).
16
Iraw Tengkayu
Iraw Tengkayu berasal dari bahasa Tidung
yang merupakan gabungan dari kata iraw yang
berarti perayaan atau pesta dan tengkayu yang
berarti wilayah air asin atau daerah pesisir pantai,
karena upacara ini berhubungan dengan laut maka
disebutlah ritual ini dengan Iraw Tengkayu.
Upacara adat ini merupakan titisan upacara adat
lama Suku Tidung yang diangkat kembali untuk
ditampilkan sebagai atraksi budaya. Setelah lama
ritual Iraw Tengkayu telah ditinggalkan oleh
masyarakat Suku Tidung karena tidak sejalan
dengan ajaran agama Islam yang dianut dan diyakini
oleh masyarakat suku Tidung.
Ritual Iraw Tengkayu terakhir dilaksanakan
kira-kira pada tahun 1916. Pada tahun itu raja
Tarakan yang terakhir tertangkap dan di asingkan
oleh Belanda, yaitu Datu Adil sekitar abad ke 20.
Setelah sekian lama tidak dilaksanakan, akhirnya
pada tahun 1995 diadakan ritual Iraw Tengkayu
yang merupakan konsep dari Bapak Datu Noerbeck
dan dana masih di kumpul dari swadaya, khususnya
17
dari masyarakat Suku Tidung yang simpatik pada
ritual Iraw Tengkayu. Tahun 1996 ritual Iraw
Tengkayu dilaksanakan kembali secara swadaya
oleh suatu kepanitiaan yang dibentuk pemerintah.
Penyelenggraan ritual Iraw Tengkayu pada 28
September 1996, merupakan revitalisasi ritual Iraw
Tengkayu dahulu kala, yaitu digali dan dikemas
kembali sedemikian rupa. Ritual Iraw Tengkayu
tahun 1996 dan yang di zaman dahulu tentulah tidak
akan sama persis, upacara Iraw Tengkayu tahun
1996 lebih dinamis dan disertai beberapa aksi
tambahan, sehingga dengan demikian terlihat
semakin lebih semarak dan bervariasi karena
hadirnya beberapa pertunjukan antraksi.
Pada tahun 1998 bertepatan dengan peresmian
kota Tarakan dari kota administratif (kota) menjadi
kotamadya. Pada tahun 2001, ritual Iraw Tengkayu
dilaksanakan kembali dan pelaksanaannya
ditetapkan setiap dua tahun sekali pada tahun ganjil.
Maksud dari upacara Iraw Tengkayu, menurut
penuturan Datoe Norbeck, adalah pelarungan
perahu yang berisi hidangan sebagai bentuk rasa
18
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus
untuk mengenang zaman kejayaan raja Tidung.
Namun, sebelum dilarung akan ada parade atau
Karnaval Padaw, yaitu perahu hias yang diarak
keliling kota. Dibagian bawah perahu dipasang
beberapa bilah bambu yang digunakan para pemuda
untuk mengangkut Padaw Tuju Dulung. Padaw
Tuju Dulung memiliki 3 cabang yang disebut busur.
Busur di tengah terbuat dari 3 tingkat. Sedangkan 2
haluan lainnya di kanan dan kiri perahu dibentuk
menjadi 2 tingkat. Jika dihitung, semua level di
setiap arah, akan ada total 7. Angka 7 mewakili
jumlah hari dalam seminggu yang digunakan
sebagai simbol perjalanan hidup manusia yang
berulang seminggu sekali. Padaw Tuju Dulung yang
dibawa oleh para pemuda tersebut dicat dengan 3
warna berbeda, yaitu kuning, hijau, dan merah.
Bagian atas perahu dicat kuning. Dalam budaya
Tidung, kuning melambangkan kehormatan atau
sesuatu yang diagungkan. Itulah mengapa warna
kuning berada di bagian tertinggi Padaw Tuju
Dulung. Selain itu, hanya satu tiang tertinggi juga
19
melambangkan bahwa satu penguasa tertinggi alam
semesta adalah Yang Mahakuasa.
Pelaksanaan ritual Iraw Tengkayu selanjutnya
berjalan secara rutin karena sejalan dengan
kebijakan pihak Dinas Pariwisata Daerah Provinsi
Kalimantan Timur, yang memang berkeinginan
meluaskan program event pariwisata, dalam rangka
menambah event dalam kalender acara wisata di
Kalimantan Timur, dan adanya usulan parapencetus
ritual Iraw Tengkayu yang mendapat persetujuan
dari Bupati R.A. Bessing selaku kepala daerah
Tingkat II Bulungan. Berikut Rangkaian Upacara
adat Iraw Tengkayu;
1. Tahap Awal
Pada tahap ini sebelumnya para tokoh adat
suku Tidung berkumpul dan bermusyawarah untuk
menentukan hari dimulainya pembuatan Padaw
Tuju Dulung. Setelah disepakati bersama penentuan
harinya. Kemudian di mulailah pembuatan Padaw
Tuju Dulung dengan rentan waktu kurang lebih
selama 90 hari dengan situasi kondisi cuaca baik
(tidak hujan). Proses tahapan awal dimulai dengan
mendesain Padaw Tuju Dulung pada kertas karton
20
yang dilakukan dan di rancang oleh Datu Norbeck
(salah satu tokoh adat Tidung). Setelah proses
desain, bagian-bagian Padaw Tuju Dulung akan
mulai dibuat oleh para tukang yang telah ditunjuk
oleh tokoh adat Tidung.
2. Karnaval Padaw (Pawai Budaya)
Setelah semua bagian Padaw Tuju Dulung di
rangkai menjadi bentuk Padaw dengan utuh,
kemudian Padaw akan di arak menggunakan mobil
mengelilingi jalan utama kota Tarakan dan
kemudian akan berakhir di pantai amal yang berada
di Kota Tarakan. Acara carnaval juga dirangkai
dengan acara pawai budaya yang diikuti oleh
berbagai kalangan masyarakat kota Tarakan
diantaranya siswa-siswi seluruh sekolah yang berada
di kota Tarakan, instansi pemerintahan, serta
organisasi masyarakat dan masih banyak lainya.
Biasanya acara carnaval Padaw akan di mulai sejak
pukul 10.00 wita hingga selesai sekira pukul
16.00wita. Sepanjang jalan saat diarak, Padaw Tuju
Dulung akan dikawal dan didampingi oleh tokoh
adat suku tidung, ada salah satu pemimpin yang
menabur beras kuning di sepanjang jalan hingga
21
sampai garis finis, yaitu pantai Amal Tarakan yang
merupakan tempat dilaksanakanya puncak acara
upacara adat Iraw Tengkayu.
3. Puncak Acara (Pelarungan Padaw Tuju Dulung)
Pada hari puncak upacara adat Iraw
Tengkayu akan dimulai sejak pagi hari pada pukul
08.00 wita. Acara pembukaan akan diawali dengan
beberapa hiburan kemudian dilanjutkan dengan
acara seremonial yang diisi dengan sambutan-
sambutan para tokoh adat dan sambutan para
pejabat kota dan pejabat Provinsi Kalimantan Utara.
Pada siang harinya akan dilanjutkan dengan tari-
tarian. Salah satunya tari kolosal yang diperagakan
oleh siswa-siswi pelajar di kota Tarakan yang telah
ditunjuk dengan diiringi music gambus dan nyayian
suku Tidung. Setelah tarian selesai dilakukan
kemudian akan dilakukan proses pelarungan Padaw
Tuju Dulung ke bibir laut dengan cara dipikul oleh
para pemuda adat yang telah di tunjuk oleh para
tokoh adat Tidung. Pada saat mengangkat Padaw
Tuju Dulung menuju bibir pantai, akan diiringi
dengan doa solawat dan suara tabuhan rebana
hingga sampai bibir pantai dengan ketinggian air
22
sekitar paha orang dewasa, setelah itu Padaw Tuju
Dulung akan dilepaskan di permukaan air laut dan
kemudian Padaw Tuju Dulung akan ditarik
menggunakan speedboat menuju ke tengah-tengah
laut secara perlahan-lahan. Setelah dipastikan
Padaw Tuju Dulung sampai ke tengah-tengah laut
dengan baik, maka para panitia dan seluruh
masyarakat Kota Tarakan yang menyaksikan
pelarungan Padaw Tuju Dulung akan Kembali ke
darat dan Kembali mengikuti rangkain acara
selanjutnya yaitu, penutupan yang biasanya akan
ditutup dengan syair-syair Tidung dan akan diakhiri
dengan doa.
Pendukung Lainya.
Upacara Iraw Tengkayu telah ditetapkan
sebagai Warisan Budaya takBenda Indonrsia oleh
Kementerian Budaya dan Pendidikan Republik
Indonesia pada tahun 2019. Upacara Iraw Tengkayu
memiliki daya tarik tersendiri karena memiliki
makna filosofis dan nilai seni yang tinggi, terutama
pada bagian perahunya (padaw). Perahu tersebut
dinamakan Padaw Tuju Dulung yang berasal dari
23
bahasa Suku Tidung yang memiliki arti tujuhhaluan.
Setiap fragmen yang terdapat dalam Padaw Tuju
Dulung akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.
24
BAGIAN-BAGIAN PADAW TUJU DULUNG
1. Dekorasi (hiasan)
Dekorasi adalah setiap bagian dari peralatan, jika
Makna dekorasi di gabungkan dengan teori
interaksionisme simbolik, yaitu interaksi manusia
yang dijembatani oleh penggunaan simbol dengan
menemukan makna dari tindakan orang lain. Arti
dekorasi menjadi cukup luas dan terkait dalam
banyak hal, tetapi secara sederhana, setiap bagian
dari suatu tempat seperti jalan, rumah, kamar,
ruangan, panggung, teater, taman, dan lorong-
lorong dihias dengan sebaik-baiknya sehingga
terlihat menarik dan berbeda dari tempat sekitarnya
(Wirawan, 2012 : 16). Berasal dari bahasa Inggris
dengan arti (hiasan) kini telah menjadi bahasa
serapan bahasa Indonesia dan biasa digunakan oleh
masyarakat pada umumnya.
Dekorasi tidak hanya terkait dengan tempat,
termasuk pula seni dan hiburan, jauh berbeda dari
fungsi dan definisinya di zaman dahulu. Seiring
dengan perkembangan zaman, banyak orang yang
25
mengkomersialkan jasa dekorasi sebagai mata
pencaharian. Dekorasi saat ini banyak diminati oleh
masyarakat terutama untuk kebutuhan event/event
maupun fenomena tertentu, seperti: dekorasi
pernikahan, ulang tahun, natal, permainan anak,
dekorasi gambar, dekorasi kamar pengantin,
pernikahan, permainan, pesta.
Oleh karena itu, leksikon dekorasi pada Padaw
Tuju Dulung di Kota Tarakan mengandung fungsi
nilai pelestarian seni budaya peninggalan terdahulu.
Dekorasi adalah salah satu pendukung pada bagian
inti Padaw Tuju Dulung berkategori nomina (n)
yang terbuat dari papan kayu yang telah di
haluskann kemudian di ukir dengan gaya khas
ukiran Kalimantan utara dan diberi pewarnaan (cat)
emas (gold) untuk menambah estetika. Dekorasi
pada Padaw Tuju Dulung mengitari seluruh
pinggiran atap mahligai yang berada tepat di tengah-
tengah Padaw Tuju Dulung yang mengandung arti
betapa mulianya mahligai dengan derajat yang
tinggi dan agung sehingga pantas dijadikan tempat
26
tinggal seorang pemimpin atau raja. Berikut adalah
gambar dekorasi yang terdapat pada meligay.
Gambar Dekorasi (Dokumentasi Peneliti)
2. Motif Lilitan ular piton (Dilit mendolon)
Motif lilitan ular piton adalah gambaran atau
lukisan bermotif kulit ular piton berwarna merah,
kuning dan hijau atau dalam Bahasa tidung biasa
disebut lia, ijow, dan silow yang melilit penuh dari
bawah hingga atas pada tiang yang berbentuk bulat.
Motif lilitan ular piton sepadan dengan dengan kata
Dilit Mendolon pada masyarakat suku Tidung kota
Tarakan. Selain memiliki corak warna yang indah,
ular piton juga di kenal akan kekuatanya dalam
melilit mangsa atau buruanya, dan selain itu
27
masyarakat Dayak pada zaman dahulu percaya
bahwa daging ular salah satu obat dari penyakit kulit
dan pernapasan.
Masyarakat suku tidung meyakini bahwa motif
lilitan ular piton pada tiang mahligai pada Padaw
Tuju Dulung yang berwarna merah, kuning dan
hijau akan menjaga mahligai dari segala ancaman
sehingga tiang yang di lilitnya tetap kuat dan kokoh
tegak berdiri, memberikan rasa aman dan nyaman
serta terbebas dari segala ancaman sehingga siapa
saja yang berada di dalam mahligai akan merasakan
jiwa dan raganya nyaman sehingga membuatnya
sehat secara jasmani dan rohaninya. Masyarakat
suku Tidung Kota Tarakan percaya bahwa warna
merah melambangkan keberanian, hijau
kepercayaan dan keteguhan dan warna kuning
melambangkan suatu kehormatan derajat yang
sangat tinggi nan mulia. Sehingga ketiga warna itu
dipadukan menjadi satu dalam setiap tiangnya
dengan banyak harapan di dalamnya.
Dilit Mendolon adalah lukisan yang sengaja di
buat oleh masyarakat suku Tidung dengan model
28
ular piton yang melilit penuh pada lima tiang
Tekalak pada tiang – tiang dari Meligai pada Padaw
Tuju Dulung dengan warna merah, kuning dan hijau
yang berkategori nomina terbuat dari cat berwarna
yang menempel pada tongkat kayu yang terbuat dari
pohon albasia dengan tinggi 60 cm, kuas yang
digunakan untuk membuat motif Dilit Mendolon
adalah kuas lukis nomor 10 dan nomor 12. Berikut
adalah gambar Dilit Mendolon.
Gambar Dilit Mendolon (dokumentasi peneliti)
29
3. Dinding perahu (kapi)
Dinding perahu adalah penutup sisi samping
(penyekat) terbuat dari papan, triplek, bambu, besi
dan sebagainya (KBBI, 2020:107) Dinding Perahu
sepadan dengan kata Kapi pada masyarakat suku
Tidung di Kota Tarakan. Para nelayan maupun para
pembuat perahu sudah tidak asing lagi dengan kata
ini, karena kapi merupakan bagian penting dalam
sebuah perahu, kapal dan sejenisnya. Pada
umumnya dinding perahu terbuat dari kayu pilihan
dengan tujuan agar dapat menahan air masuk ke
dalam lambung kapal, selain itu kayu yang di pilih
juga merupakan kayu yang memiliki ketahanan pada
air, karena dinding perahu tidak hanya menahan air
namun juga sering terinjak oleh para nelayan yang
menaiki perahu tersebut. Di kalangan pengrajin
perahu di masyarakat suku Tidung di Kota Tarakan
ada sebuah kepercayaan bahwa sebelum di pasang
menjadi dinding perahu, kayu bahan dinding perahu
terlebih dahulu direndam dicairan solar, dan ada
Sebagian lagi yang melakukan pemanasan pada kayu
dengan cara di bakar oleh api yang menyala
30
dengan kehalian khusus agar kayu tidak terbakar.
Perlakuan tersebut bertujuan agar Ketika telah di
pasang menjadi dinding perahu, kayu tersebut tidak
mudah rapuh, tahan terhadap serangga pemakan
kayu dan tahan terhadap air.
Masyarakat suku tidung mempercayai bahwa
dinding perahu harus terjaga kekuatanya dan tidak
boleh bocor. Karena apabila dinding perahu tidak
kuat, maka akan mendatangkan petaka bagi siapa
saja yang berada di perahu tersebut dan dinding
perahu juga tidak boleh bocor karena itu akan
menyebabkan air masuk dan dapat
menenggelamkan perahu. Hal itu dimaknai bahwa
dalam berumah tangga nahkoda harus menjadi
dinding yang kokoh dan mampu menjaga rumah
tangganya dari segala ancaman agar rumah
tangganya tidak diterpa kehancuran. Tradsisi ini
masi diyakini dan dipercayai oleh masyarakat suku
Tidung dan terus dijaga, oleh karena itu leksikon
Padaw Tuju Dulung ini mengadung fungsi nilai
pelestarian tradisi turun temurun.
31
Kapi adalah salah satu leksikon pada Padaw Tuju
Dulung yang berkategori nomina terbuat dari
lembaran papan dengan Panjang 7meter dan lebar
3 meter. Dimana pada bagian depan kapi berbentuk
mengrucut dan bagian tengah hingga belakang
melebar sempurna, kapi pada Padaw Tuju Dulung
memiliki tiga bagian yaitu, kapi berwarna kuning
berada paling atas, kapi berwarna hijau berada di
bagian tengah dan bagian dasar kapi berwarna
merah dengan hiasan tabur merah. Berikut adalah
gambar kapi.
Gambar Kapi (dokumentasi peneliti)
32
4. Dinding perahu hijau (kapi Ijow)
Kapi ijow adalah salah satu leksikon pada
Padaw Tuju Dulung yang berkategori nomina
terbuat dari lembaran papan berwarna hijau
dengan Panjang 7meter dan lebar 3 meter. Pada
bagian depan kapi berbentuk mengrucut dan bagian
tengah hingga belakang melebar sempurna. Berikut
adalah gambar kapi ijow.
Gambar Kapi Ijow (dokumentasi Peneliti)
5. Dinding Perahu Merah (kapi Lia)
Kapi lia adalah salah satu leksikon pada Padaw
Tuju Dulung yang berkategori nomina terbuat dari
lembaran papan berwarna merah dengan Panjang
7meter dan lebar 3 meter berada di posisi dinding
33
paling bawah pada Padaw Tuju Dulung. Dimana
pada bagian depan kapi berbentuk mengrucut dan
bagian tengah hingga belakang melebar sempurna.
Berikut adalah gambar kapi lia.
Gambar Kapi Lia (dokumentasi peneliti)
6. Dinding Perahu Kuning (Kapi Silow)
Kapi silow adalah salah satu leksikon pada
Padaw Tuju Dulung yang berkategori nomina
terbuat dari lembaran papan berwarna kuning
dengan Panjang 7 meter dan lebar 2 meter berada di
posisi dinding paling atas pada Padaw Tuju Dulung.
kapi Silow tidak sama dengan kapi hijau dan merah,
pada kapi kuning ukuranya sedikit lebih kecil dan
posisi yang berada di atas dan di tengah antara
34
haluan kanan dan haluan kiri. Berikut adalah
gambar kapi silow.
Gambar Kapi Silow (dokumentasi peneliti)
7. Mahligai (Meligai)
Mahligai adalah tempat kediaman raja atau putri-
putri raja (dalam lingkungan istana) di tengah
taman berdiri bangunan yang indah sebagai suatu di
dalam istana (KBBI, 2020). Mahligai sepadan
dengan kata Meligai pada masyarakat suku Tidung
di Kota Tarakan. Sejak dulu hingga saat ini mahligai
dikenal sebagai kediaman raja, mahligai merupakan
rumah-rumahan yang di rancang sedemikian rupa
35
menurut tata cara adat suku Tidung Kota Tarakan
dan merupakan tempat untuk meletakkan Pakan
pada saat upacara adat suku Tidung di Kota Tarakan.
Meligai yang berada pada Padaw Tuju Dulung
mengkisahkan kediaman raja yang sangat mulia,
dan identik dengan keluarga-keluarga raja, itulah
sebabnya mengapa Pakan akan di tempatkan di
dalam meligai. Yaitu untuk memberikan
persembahan kepada Raja di tempat yang mulia.
Meligai terbuat dari rangkaian kayu triplek dengan
diameter lebar 50cm dan tinggi 60cm,memiliki
atap bersusun tiga, pada ujung atap mahligai
terdapat ukiran menyerupai ekor ikan hiu dan
terdapat empat pintu di setiap sisi mahligai,hampir
seluruh bagian mahligai berwarna kuningemas.
Ukiran ekor ikan hiu melambangkan kemudiuntuk
menentukan arah, selain itu ikan hiu
merupakan salah satu ikan yang memiliki kecepatan
yang luar biasa di bandingkan dengan ikan lainya,
empat pintu di setiap sisi mahligai melambangkan
empat empat mazhab pada agama islam dan bagi
siapa saja boleh memasuki pintu dari mana saja
36
yang ia kehendaki, dan warna kuning emas
merupakan warna yang menggambarkan derajat
yang sangat tinggi dan mulia. Berikut ini gambar
Meligai.
Gambar Meligay (dokumentasi peneliti)
8. Bendera Gantung (Panji Gating)
Bendera adalah sepotong kain atau kertas segi
empat atau segitiga (diikatkan pada ujung tongkat,
tiang, dan sebagainya) dipergunakan sebagai
lambang negara, perkumpulan, badan, dan
sebagainya atau sebagai tanda; panji-panji (KBBI,
37
2020). Adapun gantung memiliki makna dikaitkan
atau di tempelkan, sehingga bendera gantung
sepadan dengan kata Panji gating pada masyarakat
suku Tidung di Kota Tarakan.
Panji gating adalah salah satu pendukung pada
rangkaian Padaw Tuju Dulung yang berkategori
nomina. Panji Gating menempel pada seutas tali
yang terikat dari padaw bagian tengah depan hingga
tiang tekalak tengah meligai. Dibagian buritan juga
terdapat dua panji gating yang berada pada sisi
kanan dan sisi kiri yang menempel pada masing-
masing tali yang terikat dari tekalak bagian belakang
hingga bagian buritan padaw. Pada setiap tali
terdapat Sembilan bendera yang terbagi menjadi
tiga warna, yaitu tiga warna merah, tiga warna hijau
dan tiga warna kuning. Jika ditotalkan setiap seutas
38
tali terdapat Sembilan bendera yang menempel.
Berikut ini gambar panji gating.
Gambar Panji Gating (dokumentasi peneliti)
9. Bendera Bagian Depan (Panji Haluan)
Panji haluan salah satu leksikoan yang terdapat
pada Padaw Tuju Dulung yang berkategori nomina.
terdapat tiga panji haluan, dimana masing-masing
berada pada haluan kanan satu panji, haluan tengah
satu panji, dan haluan kiri satu panji. Panji haluan
berwarna kuning dan terdapat warna merah pada
pinggirnya. Masing-masing Panji haluan terikat
39
pada sebuah tongkat kecil berwarna kuning
berdiameter 3 cm dan tinggi 50 cm dengan bagian
atas yang runcing.
warna kuning pada panji haluan melambangkan
kemuliaan dan derajat yang tinggi, sedangkan warna
merah pada pinggirnya merupakan lambang tekat
keberanian. Berani yang dimaksud dalam hal ini
adalah berani dijalan kebenaran. Panji haluan
berada disetiap sisi haluan, yaitu haluan kanan,
haluan tengah, dan haluan kiri dengan tongkat panji
yang runcing pada bagian atasnya, dengan maksud
yaitu agar keberadaan Padaw Tuju Dulung selalu
mengarah ke tempat yang mulia dengan penuh
semangat dan tidak mudah menyerah dalam hal
kebaikan dan kebenaran, setiap hambatan dan
rintangan akan terus di hadapinya dengan niat yang
baik. Di bawah ini gambar Panji haluan.
40
Gambar Panji Haluan (dokumentasi peneliti)
10. Bendera Kapi (Panji kapi)
Panji kapi merupakan leksikon yang terdapat
pada Padaw Tuju Dulung yang berkategori nomina.
ada delapan belas panji yang tertancap pada kapi
Padaw Tuju Dulung sembilan pada sisi kanan dan
sembilan sisi kiri. Terdapat pula tiga jenis warna
pada panji kapi yaitu warna, merah, hijau dan warna
kuning.
41
panji kapi terbuat dari kain berbentuk segitiga
yang di ikatkan pada tiang kayu berwarna kuning
dengan tinggi 50cm dengan ujung tongkat lancip
menghadap keatas. Banyaknya panji kapi mengikuti
jumlah papok pada Padaw Tuju Dulung. jumlah
Panji kapi yang banyak melambangkan kebesaran
dan keramahan sang raja, selain itu panji kapi
sebagai pelindung seisi Padaw Tuju Dulung dari
gelombang dan marabahaya lainya. Warna merah
tanda berani, hijau keteguhan dan kepercayaan serta
warna kuning lambang dari kemuliaan dan
kebesaran. Berikut gambar Panji Kapi.
Gambar Panji Kapi (dokumentasi peneliti)
42
11. Bendera tiang (Panji Tekalak)
Panji tekalak merupakan leksikon yang terdapat
pada Padaw Tuju Dulung yang berkategori nomina.
Terdapat lima panji tekalak pada Padaw Tuju
Dulung yang berada tepat di atas meligai setiap
tekalak terdapat satu bendera yang terikat
diatasnya. Panji tekalak terbuat dari kain berwarna
kuning dan berwarna merah pada pinggirnya, kain
tersebut terikat pada tongkat kayu bermotif lilitan
ular berwarna merah, kuning dan hijau dengan
tinggi tongkat 70 cm dengan ujung yang runcing.
Warna kuning pada panji tekalak merupakan
simbol kemuliaan dan derajat yang sangat tinggidari
sang raja yang berada di dalam meligai, dan warna
merah dipinggirnya menyimbolkan keberanian.
Ujung tongkat yang runcing simbol dari
43
keyakinan dan niat yang baik. Di bawah ini gambar
panji tekalak.
Gambar Panji Tekalak (dokumentasi peneliti)
12. Bendera Buritan (Panji ulin)
Panji ulin merupakan leksikon yang terdapat
Padaw Tuju Dulung yang berkategori nomina.
terdapat tiga panji ulin yang terdapat pada Padaw
Tuju Dulung yang masing-masing berada pada
bagian belakang kanan, tengah dan kiri Padaw Tuju
Dulung, mengikuti panji haluan. Panji ulin
berwarna kuning dengan warna merah pada
pinggirnya dan terikat pada tongkat kayu berwarna
44
kuning dengan ujung runcing berdiameter tinggi
60cm.
Panji ulin sebagai simbol keselamatan serangan
ombak dari belakang, dan marabahaya lainya.
Warna kuning melambangkan kemuliaan dan
derajat yang tinggi dari raja yang berada pada
Padaw Tuju Dulung dan warna merah lambang
keberanian serta ujung yang runcing merupakan
lambang niat atau tekat yang teguh dan baik. Berikut
gambar panji ulin yang diambil langsung oleh
peneliti.
Gambar Panji Ulin (dokumentasi peneliti)
45