akan diterapkan kewaspadaan isolasi yang terdiri dari kewaspadaan
standar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi.
B. Persiapan Pengambilan Sampel Kultur Pemeriksaan Laboratorium
Kultur diambil untuk mengisolasi mikroorganisme yang menyebabkan infeksi
klinis. Sebagian besar spesimen kultur didapat dengan menggunakan apusan steril
disertai dengan media (padat atau air kaldu/broth), wadah steril mangkuk bertutup, dan
spuit steril dengan botol steril berisi media cair. Setelah didapat, spesimen kultur harus
segera dibawa ke laboratorium (tidak lebih dari 30 menit) karena beberapa organisme
akan mati jika tidak ditempatkan dalam media yang tepat dan terinkubasi.
1. Persiapan pengambilan dan pengiriman sampel ke lab
Fase Pemeriksaan Mikrobiologi
Pre-Analitik
a. Pengambilan Spesimen
1) Spesimen harus berasal dari daerah infeksi yang benar dan
menghindari adanya kontaminasi dari daerah sekitarnya.
2) Waktu pengumpulan spesimen harus tepat
3) Jumlah yang diambil harus memadai agar dapat diperoleh
pertumbuhan mikroorganisme yang maksimal
4) Menggunakan alat pengambilan sampel, kontainer, media
kultur/transpor yang sesuai
5) Sebaiknya melakukan kultur sebelum pemberian antibiotika
6) Pengambilan sampel untuk smear juga diikutsertakan
7) Dilabel dengan benar
b. Transportasi Spesimen
1) Kondisi sampel dipertahankan seperti awal
2) Wadah kontainer yang akan dikirim harus sesuai (tidak terlalu besar)
3) Apabila spesimen labil terhadap panas maka menggunakan dry ice atau ice
pack.
4) Menggunakan media transpor tidak perlu memakai dry ice.
5) Menggunakan wadah selain dari gelas (kaca)
c. Penerimaan Spesimen dan Observasi Awal
1) Observasi awal sebaiknya di dalam biosafety cabinet (BSC) untuk
melihat adanya kontaminasi bahan lain.
2) Petugas harus menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan,
masker, jas laboratorium
44
3) Meneliti adanya data pasien
2. Jenis-Jenis Sampel
Sebagian besar spesimen untuk uji kultur dapat berupa darah, sputum, feses,
sekresi tenggorok, eksudat luka, atau urin. Uji ini memerlukan waktu 24 sampai 36
jam untuk menumbuhkan organisme, dan 48 jam untuk mendapatkan laporan
mengenai pertumbuhan dan kulturnya.
3. Strategi Pengambilan Sampel Spesimen Kultur
a. Cuci tangan sangat penting dilakukan sebelum dan sesudah pengambilan
spesimen.
b. Bawa segera spesimen untuk uji kultur ke laboratorium setelah pengambilan.
c. Ambil spesimen sebelum terapi antibiotik diberikan. Jika klien sedang
mengkonsumsi antibiotik, jenis obat harus dicantumkan dalam formulir
laboratorium.
d. Wadah atau tabung uji untuk pengumpulan spesimen harus steril. Teknik aseptik
harus diterapkan selama pengumpulan. Kontaminasi spesimen dapat
menimbulkan temuan uji positif palsu dan/atau transmisi organisme.
e. Konfirmasi dengan laboratorium mengenai jenis teknik yang digunakan.
1) Darah
Bersihkan kulit klien sesuai dengan prosedur institusi. Biasanya kulit digosok
terlebih dahulu dengan povidin-yodium (betadine). Yodium dapat mengiritasi
kulit sehingga penggunaan zat tersebut diganti dengan benzalkonium klorida
atau alkohol. Bersihkan bagian atas botol kultur dengan yodium dan biarkan
sampai mengering. Botol harus sudah berisi media kultur. Kumpulkan 5
sampai 10 ml darah vena dan masukkanke dalam botol tersebut. Tabung
vakumkhusus yang mengandung media kultur untuk darah dapat digunakan
selain botol kultur.
2) Sputum
Wadah atau Mangkuk Steril: Untuk uji kultur, ambil sputum pada dini hari
sebelum sarapan. Instruksikan klien untuk batuk mendalam beberapa kali
agar sputum dapat keluar. Minta klien tidak meludah ke dalam wadah steril
yang digunakan. Ludah dan sektert yang menetes sebelumnya dapat
mengkontaminasi spesimen sputum. Pasang tutup pada wadah steril. Wadah
jangan diisi terlalu penuh dan dibawa segera ke laboratorium. Sampel
sputum tidak boleh didiamkan sampai berjam - jam di sisi tempat tidur klien,
kecuali pemeriksa memang membutuhkan spesimen sputum 24 jam (dalam
45
hal ini, wadah steril eksta juga harus ditinggalkan). Acid-Fast Bacilli (Kultur
TB): Ikuti instruksi yang tertera pada label wadah. Kumpulkan 5 sampai 10 ml
sputum, dan bawa segera sampel ke laboratorium atau simpan dalam lemari
pendingin. Tiga spesimen sputum mungkin diperlukan, satu spesimen tiap
hari selama 3 hari berturut - turut. Periksa pelabelan yang benar.
3) Feses
Kumpulkan sampel feses yang berdiameter kira - kira 2,5 cm. Gunakan spatel
lidah steril dan tempatkan spesimen feses tersebut kedalam wadah steril
bertutup. Penyakit atau organisme yang menjadi dugaan sumber harus dicatat
dalam formulir laboratorium. Spesimen feses tidak boleh mengandung urin.
Klien tidak boleh diberi barium atau minyak mineral yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri.
4) Tenggorok
Gunakan kapas apusan steril atau apusan berujung poliester. Perlengkapan
kultur yang steril dapat digunakan. Lakukan apusan pada amandel yang
meradang atau berulkus dan/atau area dibawah faring pada tenggorok.
Letakkan aplikator dalam tabung kultur yang berisi media kulturnya. Bawa
segera spesimen kultur tenggorok ke laboratorium. Jangan berikan obat
antobiotik sebelum pengambilan kultur.
5) Luka
Gunakan perlengkapan kultur yang berisi apusan kapas steril atau apusan
berujung poliester dan tabung yang berisi media kultur. Lakukan apusan
eksudat cairan luka dan letakkan apusan dalam tabung yang mengandung
media kultur. Kenakan sarung tangan steril jika terdapat volume drainase
purulen yang berlebih.
6) Urin
Pengambilan spesimen urin (Aliran tengah) yang bersih: Pengambilan
spesimen urin yang bersih merupakan metode yang paling lazim dilakukan
untuk mengumpulkan spesimen urin dengan tujuan uji kultur. Terdapat
perlengkapan ninkateterisasi, yang digunakan berdasarkan instruksi yang
bertahap. Kateterisasi untuk kultur urin jarang dianjurkan. Biasanya klien yang
mengumpulkan urinnya sendiri untuk kultur sehingga klien harus diberikan
penjelasan yang lengkap, sesuai dengan instruksinya. Penis atau vulva harus
dibersihkan dahulu dengan baik. Jika tiba waktu pemeriksaan, terdapat dua
46
macam spesimen urin (2 sampai 10 ml) yang diperlukan untuk verifikasi
organisme, dan bersifat sebagai cadangan spesimen seandainya terjadi
kontaminasi pada spesimen urin. Kumpulkan spesimen urin aliran tengah
pada dini hari, atau sesuai yang dianjurkan, di dalam wadah steril. Tutup
wadah harus terpasang dengan rapat dan spesimen urin harus segera dibawa
ke laboratorium bakteriologi atau dimasukkan ke dalam lemari pendingin.
Cantumkan pada label wadah tentang nama klien, tanggal, dan waktu
pengambilan urin yang tepat (mis., 27/7/04 pk. 8 pagi). Catat jenis obat
antibiotik atau sulfonamid yang dikonsumsi klien pada formulir laboratorium.
4. Penolakan Sampel
Kriteria penolakan spesimen untuk kultur:
a. Label salah atau tidak berlabel
b. Botol rusak atau bocor
c. Tempat penampungan tidak steril / tidak sesuai
d. Kontaminasi benda asing yang jelas
e. Specimen yang ditulis pada lembar permintaan dan yang dikirim tidak sama.
f. Jumlah bahan pemeriksaan tidak memadai
g. Swab kering
h. Terdapat bekuan darah (clotting)
i. Medium mengandung antikoagulan lain selain SPS (Sodium
Polyathenolsulfonate).
47
BAB V
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI DI FASILITAS
PELAYANAN KESEHATAN
A. Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Untuk mencegah terjadinya HAIs maka diperlukan suatu program PPI yang
diatur oleh suatu organisasi PPI di fasyankes yang disebut Komite/ Tim PPI. Program
PPI ini mulai dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Resiko infeksi
dan kegiatan program dapat berbeda di tiap fasyankes tergantung pada kegiatan klinis,
jenis pelayanan, populasi pasien yang dilayani, lokasi geografi, jumlah pasien dan
jumlah pegawai.
Pengertian program adalah rencana berskala besar dan terperinci yang dibuat
untuk suatu tujuan rencana kegiatan atau pekerjaan yang akan dilaksanakan termasuk
waktu kapan setiap kegiatan itu harus terjadi atau akan dilaksanakan (Collins Cobuild
English Language Dictionary).
1. Tujuan Pengorganiasasian Program PPI
Mengidentifikasi dan menurunkan resiko infeksi yang didapat dan ditularkan diantara
pasien, staf, tenaga profesional kesehatan, tenaga kontrak, tenaga sukarela,
mahasiswa dan pengunjung.
Gambar 6. Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi ( PPI)
48
2. Kegiatan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
a. Kewaspadaan Isolasi
Kewaspadaan Isolasi adalah upaya untuk mencegah dan mengendalikan
penyebaran infeksi di RS. Kewaspadaan Isolasi terdiri dari 2 lapis yaitu
Kewaspadaan Standar dan Kewaspadaan Berdasar Transmisi
1) Lapis pertama Kewaspadaan Standard terdiri dari
a) Kebersihan tangan
b) Penggunaan Alat Pelindung Diri
c) Pemrosesan Alat Kesehatan
d) Penatalaksanaan Linen
e) Pengendalian Lingkungan
f) Pengelolaan limbah
g) Perlindungan Kesehatan Petugas
h) Penempatan Pasien
i) Etika batuk
j) Penyuntikan yang aman
k) Praktek lumbal punksi
2) Lapis kedua Kewaspadaan Berdasarkan Transmisi
a) Airborne
b) Droplet
c) Contact
b. Pencegahan Infeksi dengan Menerapkan Bundles HAIs
1) Penerapan bundles dan pencegahan Infeksi Aliran Darah Primer (IADP) pada
pemasangan kateter intravaskuler
2) Penerapan bundles dan pencegahan Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada
pemasangan pada pemasangan kateter urine menetap
3) Penerapan bundles dan pencegahan Ventilator Associated Pneumonia (VAP)
pada pemasangan ventilasi mekanik
4) Penerapan bundles dan pencegahan Infeksi Daerah Operasi (IDO) pada
tindakan pembedahan atau operasi
5) Penerapan bundles dan pencegahan luka decubitus pada pasien tirah baring
6) Penerapan bundles dan penegahan plebitis pada pemasangan kateter vena
perifer
c. Surveilans HAIs
1) Infeksi Daerah Operasi (IDO)
2) Infeksi Saluran Kemih (ISK)
49
3) Infeksi Saluran Pernapasan (HAP)
4) Infeksi Saluran Pernapasan berhubungan dengan pemakaian Ventilator (VAP)
5) Infeksi Aliran Darah Primer ( IADP )
6) Pola mikroorganisme (MDRO)
7) Plebitis
8) Dekubitus
9) KLB, Emerging re emerging dll
d. Pendidikan dan Pelatihan PPI
Untuk dapat melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi
dibutuhkan pendidikan dan pelatihan baik terhadap seluruh SDM fasilitas
pelayanan kesehatan maupun pengunjung dan keluarga pasien.
Bentuk pendidikan dan/atau pelatihan pencegahan dan pengendalian
infeksi terdiri dari :
1) Komunikasi, informasi, dan edukasi
2) Pendidikan dan pelatihan pencegahan dan pengendalian infeksi diberikan
oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau organisasi profesi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, serta petugas fasilitas
pelayanan kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang PPI, termasuk
Komite atau Tim PPI.
Pendidikan dan pelatihan bagi Komite atau Tim PPI dengan ketentuan
sebagai berikut :
a) Wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar danlanjut serta
pengembangan pengetahuan PPI lainnya.
b) Memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga pelatihan sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
c) Mengembangkan diri dengan mengikuti seminar, lokakarya dan
sejenisnya.
d) Mengikuti bimbingan teknis secara berkesinambungan.
e) Perawat PPI pada Komite atau Tim PPI (Infection Prevention and Control
Nurse/ IPCN) harus mendapatkan tambahan pelatihan khusus IPCN
pelatihan tingkat lanjut.
f) Infection Prevention and Control Link Nurse/IPCLN harus mendapatkan
tambahan pelatihan PPI tingkat lanjut.
50
Pendidikan dan pelatihan bagi Staf Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan
ketentuan sebagai berikut :
a) Semua staf pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan harus
mengetahui prinsip-prinsip PPI antara lain melalui pelatihan PPI tingkat
dasar
b) Semua staf non pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan harus dilatih
dan mampu melakukan upaya pencegahan infeksi meliputi hand hygiene,
etika batuk, penanganan limbah, APD (masker dan sarung tangan) yang
sesuai.
c) Semua karyawan baru, mahasiswa, PPDS harus mendapatkan orientasi
PPI.
d) Pendidikan bagi Pengunjung dan keluarga pasien berupa komunikasi,
informasi, dan tentang PPI terkait penyakit yang dapat menular.
Bimtek PPI ke Cleaning Service Bimtek PPI ke Petugas
Bimtek PPI Karyawan Baru
Gambar 7. Bimbingan Teknis PPI
51
Edukasi PPI kepada Mahasiswa Edukasi PPI kepada Pengunjung
Edukasi PPI kepada Penunggu
Pasien
Gambar 8. Edukasi Terkait PPI
Gambar 9. Leaflet Cuci Tangan dan Etika Batuk
52
e. Penggunaan Antimikroba yang Bijaksana
Program pengendalian resistensi antimikroba sinergi dengan program
pencegahan dan pengendalian infeksi yang merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Pemberian terapi antimikroba merupakan salah satu tata
laksana penyakit infeksi yang bertujuan membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroba di dalam tubuh. Mikroba yang melemah atau mati akibat
antimikroba, akan dihancurkan oleh sistem pertahanan tubuh secara alamiah.
Jika mikroba penyebab infeksi telah resisten terhadap antimikroba yang
digunakan, maka mikroba tersebut tetap bertahan hidup dan berkembang biak
sehingga proses infeksiterus berlanjut.
Suatu spesies bakteri secara alami dapat bersifat resisten terhadap
suatu antibiotik. Sifat resisten ini dapat terjadi misalnya karena bakteri tidak
memiliki organ atau bagian dari organ sel yang merupakan target kerja antibiotik.
Sifat resisten alami juga dapat terjadi karena spesies bakteri tertentu memiliki
dinding sel yang bersifat tidak permeabel untuk antibiotik tertentu. Suatu
populasi spesies bakteri belum tentu mempunyai kepekaan yang seragam
terhadap suatu antibiotik. Terdapat kemungkinan bahwa dalam suatu populasi
spesies tersebut sebagian kecil bersifat resisten parsial atau komplet secara
alami. Bila populasi yang heterogen tersebut terpapar antibiotik maka sebagian
kecil populasi yang bersifat resisten akan bertahan hidup dan berkembang biak
dengan cepat melebihi populasi bakteri yang peka dan dapat berkembang biak di
dalam tubuh pasien dan dikeluarkan dari tubuh (misalnya melalui tinja) sehingga
dapat menyebar di lingkungan. Keadaan ini yang disebut sebagai “selective
pressure”. Sifat resistensi suatu spesies atau strain bakteri dapat pula diperoleh
akibat perpindahan materi genetik pengkode sifat resisten, yang terjadi secara
horizontal (dari satu spesies/strain ke spesies/strain lainnya) atau vertikal (dari sel
induk ke anaknya).
Permasalahan resistensi yang terus meningkat diberbagai negara
termasuk Indonesia terutama terjadi akibat penggunaan antimikroba yang kurang
bijak. Hal ini berdampak buruk pada pelayanan kesehatan terutama dalam
penanganan penyakit infeksi. Pelaksanaan program pengendalian resistensi
antimikroba di pelayanan kesehatan yang melibatkan tim PPI sebagai salah satu
unsur diharapkan dapat mencegah muncul dan menyebarnya mikroba resisten
sehingga penanganan penyakit infeksi menjadi optimal. Pencegahan munculnya
mikroba resisten diharapkan dapat dicapai melalui penggunaan antibiotik secara
bijak („prudent use of antibiotics‟) dan pencegahan menyebarnya mikroba
resisten melalui pelaksanaan kegiatan PPI yang optimal.
53
B. Konsep Penggunaan Antimikroba
1. Pengertian Antimikroba
Antimikroba adalah bahan-bahan/obat-obat yang digunakan untuk
memberantas/ membasmininfeksi mikroba khususnya yang merugikan manusia.
Antibiotika adalah suatu senyawa kimia yang dihasilkan oleh
mikroorganisme yang dalam konsentrasi kecil mempunyai kemampuan menghambat
atau membunuh mikroorganisme lain.
2. Tujuan penggunaan Antimikroba
Berdasarkan tujuan pemakaiannya zat antimikroba dibagi menjadi 3 macam yaitu
antiseptik, antibiotik dan desinfektan.
a. Antiseptik
Antiseptik menurut Madigan et al., (2006) adalah senyawa kimia yang digunakan
untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan
hidup pada permukaan kulit dan membran mukosa.
b. Antibiotik
Antibiotik adalah senyawa kimia hasil metabolit sekunder mikroba yang mampu
mengatur atau menghambat pertumbuhan mikroba lain pada konsentrasi rendah
(Pelczar, 2008).
c. Desinfektan
Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pertumbuhan
mikroba pada suatu permukaan benda (Waluyo, 2005).
C. Prinsip Penggunaan Antimikroba
1. Penggunaan Antimikroba yang Bijaksana
a. Penggunaan antibiotika bijak yaitu penggunaan antibiotika dengan spektrum
sempit, pada indikasi yang ketat dengan dosis yang adekuat, interval dan lama
pemberian yang tepat.
b. Kebijakan penggunaan antibiotika (antibiotic policy) ditandai dengan pembatasan
penggunaan antibiotika dan mengutamakan penggunaan antibiotika lini pertama.
c. Pembatasan penggunaan antibiotika dapat dilakukan dengan menerapkan
pedoman penggunaan antibiotika, penerapan penggunaan antibiotika secara
terbatas (restriced), dan penerapan kewenangan dalam penggunaan antibiotika
tertentu (reserved antibiotics).
d. Indikasi ketat penggunaan antibiotika dimulai dengan menegakkan diagnosis
penyakit infeksi, menggunakan informasi klinis dan hasil pemeriksaan
laboratorium seperti mikrobiologi, serologi, dan penunjang lainnya. Antibiotika
54
tidak diberikan pada penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau penyakit
yang dapat sembuh sendiri (self-timited).
e. Pemilihan jenis antibiotika harus berdasar pada:
1) Informasi tentang spektrum kuman penyebab infeksi dan pola kepekaan
terhadap antibiotika.
2) Hasil pemeriksaan mikrobiologi atau perkiraan kuman penyebab infeksi.
3) Profil farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotika.
4) Melakukan de-eskalasi setelah mempertimbangkan hasil mikrobiologi dan
keadaan klinis pasien serta ketersediaan obat.
5) Cost effective : obat dipilih atas dasar yang paling cost effective dan aman.
f. Penerapan penggunaan antibiotika secara bijak dilakukan dengan beberapa
langkah berikut:
1) Meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan terhadap penggunaan
antibiotika secara bijak.
2) Meningkatkan ketersediaan dan mutu fasilitas penunjang, dengan penguatan
pada laboratorium lain yang berkaitan dengan penyakit infeksi.
3) Menjamin ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten di bidang infeksi.
Mengembangkan sistem penanganan penyakit infeksi secara tim (teamwork).
4) Membentuk tim pengendali dan pemantau penggunaan antibiotika secara
bijak yang bersifat multi disiplin.
5) Memantau penggunaan antibiotika secara intensif dan berkesinambungan.
6) Menetapkan kebijakan dan pedoman penggunaan antibiotika secara lebih
rinci di tingkat nasional, rumah sakit, fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
dan masyarakat.
2. Antimikroba Profilaksis
Pemberian antibiotika sebelum (30–60 menit sebelum insisi pertama), saat
dan hingga 24 jam pasca operasi pada kasus yang secara klinis tidak didapatkan
tanda-tanda infeksi dengan tujuan untuk mencegah terjadi infeksi luka operasi.
Diharapkan pada saat operasi, konsentrasi antibiotika di jaringan target operasi
sudah mencapai kadar optimal yang efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri
kulit dan lingkungan (Avenia, 2009).
Prinsip penggunaan antibiotika profilaksis selain tepat dalam pemilihan jenis
juga mempertimbangkan konsentrasi antibiotika dalam jaringan saat mulai dan
selama operasi berlangsung. Rekomendasi antibiotika yang digunakan pada
profilaksis bedah dapat dilihat pada kebijakan penggunaan antibiotika profilaksis
bedah/tindakan medis dan PPA.
55
a. Tujuan pemberian antibiotika profilaksis pada kasus pembedahan:
1) Menurunkan dan mencegah kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO).
2) Menurunkan mordibitas dan mortalitas pasca operasi.
3) Menghambat munculnya flora normal resisten antibiotika.
4) Meminimalkan biaya pelayanan kesehatan.
b. Indikasi penggunaan antibiotika profilaksis ditentukan berdasarkan kelas operasi,
yaitu operasi bersih dan bersih kontaminasi.
c. Dasar pemilihan jenis antibiotika untuk tujuan profilaksis:
1) Sesuai dengan sensitivitas dan pola bakteri patogen terbanyak pada kasus
bersangkutan (EMPIRIS).
2) Spektrum sempit untuk mengurangi risiko resistensi bakteri.
3) Toksisitas rendah.
4) Tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap pemberian obat anestesi.
5) Bersifat bakterisidal.
6) Harga terjangkau.
Gunakan cephalosporin generasi I-II untuk profilaksis bedah. Pada
kasus tertentu yang dicurigai melibatkan bakteri anaerob dapat
ditambahkan metronidazol
Tidak dianjurkan menggunakan cephalosporin
generasi III-IV, golongan carbapenem, dan
golongan quinolone untuk profilaksis bedah.
d. Rute pemberian
1) Antibiotika profilaksis diberikan secara intravena.
2) Untuk menghindari risiko yang tidak diharapkan dianjurkan pemberian
antibiotika intravena drip.
e. Waktu pemberian
Antibiotika profilaksis diberikan ≤ 30 – makismal 60 menit sebelum insisi kulit.
f. Dosis pemberian
Untuk menjamin kadar puncak yang tinggi serta dapat berdifusi dalam jaringan
dengan baik, maka diperlukan antibiotika dengan dosis yang cukup tinggi. Pada
jaringan target operasi kadar antibiotika harus mencapai kadar hambat minimal 2
kali kadar terapi.
g. Lama pemberian
Durasi pemberian adalah dosis tunnggal.
Dosis ulangan dapat diberikan atas indikasi perdarahan lebih dari 1500 ml atau
operasi berlangsung lebih dari 3 jam (SIGN, 2008).
56
h. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko terjadinya ILO, antara lain:
1. Kategori/kelas operasi (Mayhall Classification) (SIGN, 2008).
Tabel 1. Kelas Operasi dan Penggunaan Antibiotika
Kelas Operasi Definisi Penggunaan
Antibiotika
Operasi yang dilakukan Kelas operasi bersih
pada daerah dengan terencana umumnya
kondisi pra bedah tanpa tidak memerlukan
infeksi, tanpa membuka antibiotika profilaksis
traktus kecuali pada beberapa
Operasi Bersih (respiratorius,gastrointestin jenis operasi, misalnya
al, urinarius, bilier), mata, jantung, dan
operasi terencana, atau sendi).
penutupan kulit primer
dengan atau tanpa
digunakan drain tertutup.
Operasi yang dilakukan Pemberian profilaksis
pada traktus (digestivus, pada kelas operasi
bilier, urinarius, bersih kontaminasi
Operasi Bersih- respiratorius, dipertimbangkan
Kontaminasi reproduksi kecuali manfaat dan risikonya
ovarium) atau operasi karena bukti ilmiah
tanpa diserta kontaminasi Mengenai antibiotika
yang nyata. profilaksis ditemukan.
Operasi yang membuka Kelas operasi
saluran cerna, saluran kontaminasi
empedu, saluran kemih, memerlukan antibiotika
Operasi saluran napas sampai terapi (bukan
Kontaminasi
orofaring, saluran profilaksis).
reproduksi kecuali ovarium
atau operasi yang tanpa
pencemaran nyata (Gross
Spillage).
Adalah operasi pada Kelas operasi kotor
perforasi saluran cerna, memerlukan antibiotika
Operasi Kotor saluran urogenital atau terapi.
saluran napas yang
terinfeksi ataupun operasi
57
Kelas Operasi Definisi Penggunaan
Antibiotika
yang melibatkan daerah
yang purulen (inflamasi
bakterial). Dapat pula
operasi pada luka terbuka
lebih dari 4 jam setelah
kejadian atau terdapat
jaringan nonvital yang luas
atau nyata kotor.
Tabel 2. Presentase Kemungkinan ILO Berdasarkan Kelas Operasi dan
Indeks Risiko
Kelas Operasi Indeks Ratio
012
Bersih 1,0% 2,3% 5,4%
Bersih-Kontaminasi 2,1% 4,0% 9,5%
Kontaminasi/Kotor 3,4% 6,8% 13,2%
2. Skor ASA (American Society of Anesthesiologist)
Tabel 3. Pembagian Status Fisik Pasien Berdasarkan Skor ASA
Skor ASA Skor ASA
1 Normal dan sehat
2 Kelainan sistemik ringan
3 Kelainan sistemik berat, aktivitas terbatas
Kelainan sistemik berat yang sedang menjalani pengobatan
4
untuk life support
Keadaan sangat kritis, tidak memiliki harapan hidup,
5 diperkirakan hanya bisa bertahan sekitar 24 jam dengan atau
tanpa operasi
3) Lama rawat inap sebelum operasi
Lama rawat inap 3 hari atau lebih sebelum operasi akan meningkatkan
kejadian ILO.
4) Ko-morbiditas (DM, hipertensi, hipertiroid, gagal ginjal, lupus, dll)
5) Indeks Risiko
58
Dua ko-morbiditas (skor ASA > 2) dan lama operasi dapat diperhitungkan
sebagai indeks risiko.
Tabel 4. Indeks Risiko
Indeks Risiko Definisi
0 Tidak ditemukan faktor resiko
1 Ditemukan 1 faktor resiko
2 Ditemukan 2 faktor resiko
6) Pemasangan implan
Pemasangan implan pada setiap tindakan bedah dapat meningkatkan
kejadian IDO
3. Antimikroba Terapeutik
a. Penggunaan antibiotika untuk terapi definitif adalah penggunaan antibiotika
pada kasus infeksi yang sudah diketahui jenis bakteri penyebab dan pola
resistensinya (Lloyd W., 2010).
b. Tujuan pemberian antibiotika untuk terapi definitif adalah eradikasi atau
penghambatan pertumbuhan bakteri yang menjadi penyebab infeksi,
berdasarkan pemeriksaan mikrobiologi.
c. Indikasi sesuai dengan hasil mikrobiologi yang menjadi penyebab infeksi.
d. Dasar pemilihan jenis dan dosis antibiotika.
1) Efikasi klinik dan keamanan berdasarkan hasil uji klinik.
2) Sensitivitas.
3) Biaya.
4) Kondisi klinis pasien.
5) Diutamakan antibiotika lini pertama/spektrum sempit.
6) Ketersediaan antibiotika (sesuai formularium rumah sakit).
7) Sesuai dengan Pedoman Diagnosis dan Terapi (PDT) setempat yang
terkini.
8) Paling kecil memunculkan risiko terjadi bakteri resisten.
e. Rute pemberian
antibiotika oral seharusnya menjadi pilihan pertama untuk terapi infeksi. Pada
infeksi sedang sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan antibiotika
parenteral (Cunha, BA., 2010). Jika kondisi pasien memungkinkan, pemberian
antibiotika parenteral harus segera diganti dengan antibiotika per oral.
f. Lama pemberian antibiotika definitif berdasarkan pada efikasi klinis untuk
eradikasi bakteri sesuai diagnosis awal yang telah dikonfirmasi. Selanjutnya
59
harus dilakukan evaluasi berdasarkan data mikrobiologis dan kondisi klinis pasien
serta data penunjang lainnya (IFIC., 2010; Tim PPRA Kemenkes RI., 2010).
D. Monitoring Penggunaan Antimikroba
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan peningkatan
morbiditas dan mortalitas. Monitoring penggunaan antibiotik diperlukan dalam
mendukung program pemerintah khususnya Dinas Kesehatan yang menyatakan
penggunaan antibiotik untuk penyakit ISPA non-pneumonia adalah kurang dari 20%.
Evaluasi penggunaan antibiotik ini menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%.
Antibiotik yang digunakan untuk ISPA non-pneumonia adalah sebanyak 9 jenis dan
antibiotik yang masuk dalam DU90% sebanyak 3 jenis yaitu amoksisilin 500 mg
(2,723 DDD/1000 pasien- -hari) dan
sefadroksil (0,202 DDD/1000 pasien-hari). Analisis data secara kuantitatif menggunakan
ATC/DDD menunjukkan bahwa antibiotik yang banyak digunakan adalah amoksisilin
(500 mg) 2723 DDD/1000 pasien-hari dan yang paling sedikit yaitu amoksisilin (125
mg/5 ml) 1,5 DDD/1000 pasien-hari. Efek peresepan penggunaan antibiotik jangka
pendek pada pelayanan pengobatan dasar dapat meningkatkan kejadian resistensi.
Diperlukan studi kualitatif untuk mengetahui pola ketidakrasionalan penggunaan
antibiotik di pusat pelayanan kesehatan masyarakat tersebut dan mengembangkan
model intervensinya.
Penggunaan antibiotik yang tinggi di setiap wilayah Indonesia menyebabkan
tingginya kemungkinan terjadi penggunaan berlebihan. Ketidakrasionalan penggunaan
antibiotik berdampak terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas, resistensi, dan
beban biaya. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyakit dengan
prevalensi yang tinggi khususnya di kabupaten di Gorontalo Utara.1 Infeksi pada
saluran pernapasan atas adalah kondisi akut yang paling sering didapati di pelayanan
kesehatan dasar (puskesmas).2 Sebagian besar ISPA yang terjadi disebabkan oleh
virus dan tidak memerlukan antibiotik.3 Sebuah studi di Amerika Serikat menemukan
bahwa lebih dari setengah kasus ISPA pada usia dewasa diberikan antibiotik spektrum
luas pada resep mereka (setelah dilakukan kontrol untuk diagnosis dan komorbiditas).4
Penggunaan antibiotik perlu dimonitoring karena diketahui bahwa penggunaan antibiotik
yang berlebihan dapat meningkatkan terjadi resistensi di komunitas dan hal inipun
menjadi fokus secara nasional maupun global.5 Diperlukan suatu studi penggunaan
antibiotik untuk meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik. WHO telah
menetapkan ATC/DDD dan DU 90% merupakan metode terstandar untuk studi
penggunaan obat6 dan keuntungan penggunaan studi ini adalah dapat dilakukan
pemaparan secara singkat. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan
antibiotik pada pasien ISPA nonpneumonia di salah satu Kabupaten Provinsi Gorontalo
60
dengan menggunakan metode analisis ATC /DDD dan DU90% pada periode September
2012 sampai dengan Agustus 2013. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan
kesadaran penggunaan antibiotik bagi tenaga kesehatan dan pemerintah setempat
dalam upaya peningkatan rasionalitas dalam penggunaan antibiotic dimasyarakat
61
BAB VI
ASSESMEN RESIKO INFEKSI DI FASYANKES
A. ICRA Program
Salah satu program dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan
kesehatan adalah melakukan pengkajian risiko.Pengkajian risiko sebaiknya dilakukan
setiap awal tahun sebelum memulai program dan dapat setiap saat ketika dibutuhkan.
1. Definisi
a) Risiko adalah potensi terjadinya kerugian yg dapat timbul dari proses kegiatan
saat sekarang atau kejadian dimasa datang (ERM, Risk Management
Handbook for Health Care Organization).
b) Manajemen risiko adalah pendekatan proaktif untuk mengidentifikasi, menilai dan
menyusun prioritas risiko, dengan tujuan untuk menghilangkan atau
meminimalkan dampaknya. Suatu proses penilaian untuk menguji sebuah proses
secara rinci dan berurutan, baik kejadian yang aktual maupun yang potensial
berisiko ataupun kegagalan dan suatu yang rentan melalui proses yang logis,
dengan memprioritaskan area yang akan di perbaiki berdasarkan dampak yang
akan di timbulkan baik aktual maupun potensial dari suatu proses perawatan,
pengobatan ataupun pelayanan yang diberikan.
c) Pencatatan risiko adalah pencatatan semua risiko yang sudah diidentifikasi,
untuk kemudian dilakukan pemeringkatan (grading) untuk menentukan matriks
risiko dengan kategori merah, kuning dan hijau.
d) ICRA adalah proses multidisiplin yang berfokus pada pengurangan infeksi,
pendokumentasian bahwa dengan mempertimbangkan populasi pasien, fasilitas
dan program:
1) Fokus pada pengurangan risiko dari infeksi,
2) Tahapan perencanaan fasilitas, desain, konstruksi, renovasi, pemeliharaan
fasilitas, dan
3) Pengetahuan tentang infeksi, agen infeksi, dan lingkungan perawatan, yang
memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi dampak potensial.
ICRA merupakan pengkajian yang di lakukan secara kualitatif dan kuantitatif
terhadap risiko infeksi terkait aktifitas pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan
kesehatan serta mengenali ancaman/bahaya dari aktifitas tersebut.
2. Tujuan
Untuk mencegah dan mengurangi risiko terjadinya HAIs pada pasien, petugas dan
pengunjung di rumah sakit dengan cara :
a) Mencegah dan mengontrol frekuensi dan dampak risiko terhadap :
62
1) Paparan kuman patogen melalui petugas, pasien dan pengunjung
2) Penularan melalui tindakan/prosedur invasif yang dilakukan baik melalui
peralatan,tehnik pemasangan, ataupun perawatan terhadap HAIs.
b) Melakukan penilaian terhadap masalah yang ada agar dapat ditindak lanjuti
berdasarkan hasil penilaian skala prioritas
3. Infection Control Risk Assessment
a. External
1) Terkait dengan komunitas: Kejadian KLB dikomunitas yang
berhubungan dengan penyakit menular: influenza, meningitis.
2) Penyakit lain yg berhubungan dengan kontaminasi pada makanan, air seperti
hepatitis A dan salmonela.
3) Terkait dengan bencana alam : tornado, banjir, gempa, dan lain- lain.
4) Kecelakaan massal : pesawat, bus, dan lain-lain.
b. Internal
1) Risiko terkait pasien : Jenis kelamin, usia, populasi kebutuhan khusus
2) Risiko terkait petugas kesehatan
a) Kebiasaan kesehatan perorangan
b) Budaya keyakinan tentang penyakit menular
c) Pemahaman tentang pencegahan dan penularan penyakit
d) Tingkat kepatuhan dalam mencegah infeksi (Kebersihan tangan,
pemakaian APD , tehnik isolasi),
e) Skrening yang tidak adekuat terhadap penyakit menular
f) Kebersihan tangan
g) NSI
3) Risiko terkait pelaksanaan prosedur
a) Prosedur invasif yang dilakukan
b) Peralatan yang dipakai
c) Pengetahuandan pengalaman dalam melakukan suatu tindakan
d) Persiapan pasien yang memadai
e) Kepatuhan terhadap tehnik pencegahan yang direkomendasikan
4) Risiko terkait peralatan
Pembersihan, desinfektan dan sterilisasi untuk proses peralatan:
a) Instrumen bedah
b) Prostesa
c) Pemrosesan alat sekali pakai
d) Pembungkusan kembali alat
e) Peralatan yang dipakai
63
5) Risiko terkait lingkungan
a) Pembangunan / renovasi
b) Kelengkapan peralatan
c) Pembersihan lingkungan
B. Alur Pengelolaan Resiko
Alur pengkajian Risiko Infeksi (Infection Control Risk Assesment/ ICRA) terdiri dari 4
(empat) langkah, yaitu :
1. Identifikasi Risiko
Proses manajemen risiko bermula dari identifikasi risiko dan melibatkan:
a. Penghitungan beratnya dampak potensial dan kemungkinan frekuensi munculnya
risiko.
b. Identifikasi aktivitas-aktivitas dan pekerjaan yang menempatkan pasien,
tenaga kesehatan dan pengunjung pada risiko.
c. Identifikasi agen infeksius yang terlibat, dan
d. Identifikasi cara transmisi.
2. Analisa Risiko
a. Mengapa hal ini terjadi ?
b. Berapa sering hal ini terjadi ?
c. Siapa saja yang berkontribusi terhadap kejadian tersebut ?
d. Dimana kejadian tersebut terjadi ?
e. Apa dampak yang paling mungkin terjadi jika tindakan yang sesuai tidak
dilakukan ?
f. Berapa besar biaya untuk mencegah kejadian tersebut ?
3. Kontrol Risiko
a. Mencari strategi untuk mengurangi risiko yang akan mengeliminasi atau
mengurangi risiko atau mengurangi kemungkinan risiko yang ada menjadi
masalah.
b. Menempatkan rencana pengurangan risiko yang sudah disetujui pada masalah.
4. Monitoring Risiko
a. Memastikan rencana pengurangan risiko dilaksanakan.
b. Hal ini dapat dilakukan dengan audit dan atau surveilans dan memberikan umpan
balik kepada staf dan manajer terkait.
64
Dalam bentuk skema langka-langkah ICRA digambarkan sebagai berikut:
Gambar 10. Skema Langkah-Langkah ICRA
Sumber: Basic Consepts of Infection Control, IFEC, 2011
Tabel 5. Cara Membuat Perkiraan Risiko, Derajat Keparahan dan Frekuensi
Terjadinya Masalah
65
Tabel 6. Derajat Keparahan
Tabel 7. Keparahan dan Frekuensi Terjadinya Masalah
IFIC : Basic Conceptsof Infection Control
Jenis risiko dan tingkat risiko berbeda di setiap unit fasilitas pelayanan kesehatan,
seperti di IGD, ICU, instalasi bedah, rawat inap, laboratorium,
renovasi/pembangunan, dan lainnya. Pencatatan risiko adalah pencatatan semua
risiko yang sudah diidentifikasi, untuk kemudian dilakukan pemeringkatan (grading)
untuk menentukan matriks risiko dengan kategori merah,kuning dan hijau.
66
Pemeringkatan (grading) dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 8. Penilaian Probabilitas/ Frekuensi
Tabel 9. Penilaian Dampak Risiko
67
Tabel 10. Sistem yang Ada
SKOR: Nilai Probabilitas X Nilai Risiko/ Dampak X Nilai Sistem yang ada
Untuk Kasus yang Membutuhkan Penanganan Segera Tindakan sesuai Tingkat dan
Band Risiko
68
Tabel 11. Level/ Band Risiko
69
Pengkajian risiko pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan
kesehatan didapatkan melalui masukan dari lintar unit, yaitu:
a. Pimpinan
b. Anggota Komite PPIRS, IPCN / IPCN-link
c. Staf medik
d. Perawat
e. Laboratorium
f. Unit Produksi Makanan
g. Unit Pelayanan Laundri
h. Unit Perawatan Intensif
i. Unit Rawat Jalan
j. Unit Sanitasi dan Lingkungan
k. Instalasi Sterilisasi Pusat
l. Instalasi Laboratorium
m. Instalasi Farmasi
n. Instalasi Jenazah
o. Koordinator lain yang diperlukan
p. Komite Mutu
70
q. Staf PPIRS
r. IPCD/IPCO/IPCN/IPCN-link
s. Petugas kesehatan lain
t. Staf medik
u. Bidang Keperawatan
v. Bidang Teknik
w. Administrasi
Gambar 11. Prioritas Pengaturan
C. Infection Control Risk Assessmen ( ICRA ) Konstruksi
1. Pengertian ICRA Kontruksi
Infection Control Risk Assessment (ICRA) renovasi adalah suatu proses
kegiatan penilaian risiko pengendalian infeksi yang dilakukan dalam melaksanakan
renovasi bangunan di RSUD Dr. Iskak guna untuk mengontrol, mencegah atau
meminimalkan dampak proyek.
Penilaian Risiko Dampak Renovasi atau Konstruksi yang dikenal sebagai
Infection Control Risk Assessment (ICRA) adalah suatu proses terdokumentasi yang
dilakukan sebelum memulai kegiatan pemeliharaan, perbaikan, pembongkaran,
konstruksi, maupun renovasi untuk mengetahui risiko dan dampaknya terhadap
kualitas udara dengan mempertimbangkan potensi pajanan pada pasien.
Pre Contruction Risk Assessment (PCRA) renovasi adalah suatu proses
kegiatan penilaian resiko pra kontruksi atau sebelum konstruksi berlangsung secara
71
multidisiplin yang bertujuan untuk mengindetifikasi potensi resiko yang bisa timbul
dari kegiatan renovasi, kontruksi, pembongkaran dan lain sebagainya yang
berdampak pada pelayanan dengan mengembangkan strategi mitigasi resiko untuk
meminimalkan resiko.
2. Tujuan ICRA Kontruksi
ICRA renovasi bertujuan untuk mencegah dan mengurangi risiko terjadinya
dampak kegiatan renovasi yang dilakukan pada pasien, petugas, pengunjung dan
pelaksana proyek di rumah sakit dengan cara mencegah dan mengontrol frekuensi
dan dampak risiko terhadap paparan kuman pathogen akibat debu dampak renovasi.
ICRA renovasi juga bertujuan melakukan penilaian terhadap masalah yang ada agar
dapat ditindaklanjuti berdasarkan hasil penilaian skala prioritas.
D. Dampak Kontruksi / Renovasi
Dampak dari renovasi berisiko sangat besar terhadap petugas, pasien, pengunjung
maupun lingkungan bahkan bisa menyebabkan kematian yang meliputi dampak resiko
infeksi maupun non infeksi. Penyebab kematian yang sering terjadi antara lain:
1. Kecelakaan kerja (Jatuh, tersengat listrik, kebisingan tingkat tinggi / hearing loss dll)
2. Akibat adanya mikroorganisme dalam debu dampak renovasi yang akan
menyebarkan infeksi melalui udara antara lain :
a. Aspergillosis invasif memiliki 30-95% angka kematian
b. Amfoterisin B ginjal (ginjal) toksisitas
c. Spesies yang resisten terhadap obat Aspergillus Lentulus
d. Aspergillosis adalah penyakit yang mengancam jiwa terkait dengan konstruksi
yang tidak terkendali
E. Tata Laksana ICRA Kontruksi
1. Pra Kontruksi
Langkah kegiatan pelaksanaan pra konstruksi :
a. Adanya usulan perencanaan atau program pembangunan/ renovasi
b. Tim PCRA melakukan rapat koordinasi perencanaan pembangunan/ renovasi
antara lain tim perencana, pelaksana, pengawas, teknis, PPK, PPI, K3, IPS, dan
unit yang terdampak kontruksi
c. Tim PCRA mengevaluasi prioritas perencanaan pembangunan antara lain :
1) Prioritas kebutuhan
2) Prioritas keselamatan (pasien, petugas, pengunjung maupun lingkungan)
72
d. Tim PCRA membuat kriteria pembangunan gedung sesuai dengan standar
mengacu pada guideline atau peraturan perundang-undangan pembangunan
rumah sakit sesuai tipenya
e. Tim PCRA dan perencana berkoordinasi dalam pembuatan gambar dasar
bangungan (intern rumah sakit atau dengan konsultan)
f. Tim PCRA menyampaikan standarisasi bangunan kepada direktur (melalui rapat /
Nota Dinas)
g. Tim PCRA memberikan ijin kontruksi sesuai Identifikasi pekerjaan dan lokasi
pekerjaan (form terlampir)
h. Menyusun PCRA (HVA dan ICRA)
i. Pelaksanaan
1) Sebelum pekerjaan konstruksi dimulai dilakukan PCM (Pre Contruction
Meeting) untuk mengkomunikasikan langkah pekerjaan secara detail
(breafing) oleh semua Tim PCRA dengan kontraktor dan pekerja
2) Pihak kontraktor harus memenuhi persyaratan yang diberikan pihak Rumah
Sakit sesuai ketentuan selama pelaksanaan kontruksi
3) Dilakukan pengecekan kelengkapan sarana yang dibutuhkan sesuai kajian
PCRA oleh Tim PCRA
4) Dilakukan monitoring dan pengawasan oleh Tim PCRA sesuai tupoksi /
bagian masing-masing sesuai jadwal dan tingkat resiko
5) Apabila dalam pelaksanaan kontruksi tidak memenuhi /menyimpang dari
aturan yang diberikan Tim PCRA akan memberikan teguran sesuai tingkat
penyimpangan bahkan sampai melakukan pemberhentian pekerjaan bila
diperlukan
Langkah-Langkah dalam Menyusun PCRA
a. Langkah 1
Melakukan Assesmen resiko dan Identifikasi tipe/ jenis konstruksi kegiatan
proyek berdasarkan kriteria (mengisi form assesmen pre kontruksi terlampir) :
1) Perencanaan
2) Identifikasi area sekitar area proyek yang berpotensi terdampak
3) Faktor fisik adanya kebisingan, getaran dll
4) Lingkungan terkait bahan berbahaya
5) Kegagalan utilitas (listrik, air, gas medis dll)
6) Kualitas udara dan pengendalian infeksi antara lain :
a) Banyaknya debu yang di timbulkan
b) Potensial terjadinya pencemaran udara
c) Lama pekerjaan kontruksi
73
d) Jumlah sistem pendingin ruangan dan ventilasi terpadu
Tabel 12. Tipe Konstruksi
TIPE KONSTRUKSI
TIPE A TIPE B
Proses Inspeksi (non-invasif). Pekejaan dengan skala kecil, kegiatan
Termasuk kegiatan yang tidak durasi pendek, yang hanya akan
menghasilkan debu atau pekerjaan membuat debu minimal. Termasuk,
yang tidak memerlukan pemotongan namun tidak terbatas pada :
dinding, pengeboran, pengamplasan a. Pemasangan instalasi telepon dan
atau akses ke langit-langit selain jaringan komputer
untuk inspeksi visual seperti : b. Melakukan pembongkaran dinding
a. Memindahkan plafon untuk atau langit – langit dimana debu
inspeksi visual (batasan < 5 m2) masih dapat dikontrol
b. Pengecatan (bukan c. Memperbaiki area kecil pada
pengamplasan) dinding
c. Pekerjaan jaringan elektrik d. Pekerjaan pipa air (memutus
d. Pekerjaan pipa air (memutus sementara suplai air ≤ 30 menit
sementara pipa air ≤ 15 menit di dilebih dari 1 area perawatan)
area tertentu) e. Maksimal 4 plafon pengganti
e. Perbaikan pipa kecil tanpa solder genteng dalam 50 kaki persegi
dan bor f. Melakukan pemotongan/
f. Kegiatan yang tidak pengelasan dengan durasi pendek,
menghasilkan debu atau pengeboran, atau pengamplasan
membutuhkan pembongkaran dari daerah yang sangat kecil di
dinding atau langit – langit selain mana dapat menciptakan debu
untuk inspeksi visual kecil dan dapat dikendalikan
g. Kerja dengan kebutuhan listrik g. Perbaikan mekanik kecil.
kecil
h. Perbaikan Hardware pintu dan
jendela
i. Perbaikan penggantian
j. Melukis dinding
74
TIPE KONSTRUKSI
TIPE C TIPE D
Setiap pekerjaan yang Kegiatan yang menghasilkan banyak
menghasilkan tingkat debu dengan debu dan termasuk juga kegiatan
jumlah sedang - banyak. Dan setiap pembongkaran besar / re-konstruksi
pekerjaan yang membutuhkan serta konstruksi mayor. Termasuk
pembongkaran atau penghapusan pekerjaan :
komponen bangunan tetap atau a. Kegiatan yang membutuhkan
rakitan, pekerjaan dengan perekat, pekerjaan shift berturut – turut (lebih
cat, pelarut, pengencer dan dari 1 sift)
pembersih yang kuat, pekerjaan b. Membutuhkan pembongkaran berat
yang mengambil lebih dari satu shift c. Memindahkan seluruh area langit –
(8 jam perhari) untuk langit / plafon
menyelesaikan. Termasuk, jenis d. Pekerjaan pipa air (memutus
pekerjaan : sementara suplai air > 1 jam dan
a. Pengamplasan dinding untuk dilebih dari 1 area perawatan pasien)
pengecatan dinding e. Pembongkaran Mayor
b. Pembongkaran ubin pada lantai f. Konstruksi mayor yang membutuhkan
dan langit – langit ruangan waktu selama beberapa hari
dengan luas 20% dari total luas g. Konstruksi baru
c. Pembangunan dinding, lantai
dan langit – langit yang baru
d. Pekerjaan elektrik diatas langit –
langit (minor) dan pekerjaan
pemasangan kabel (mayor).
e. Pekerjaan pipa air (memutus
sementara suplai air 30 – 60
menit di lebih dari 1 area
perawatan)
f. Setiap pekerjaan pengeboran
dengan waktu yang lama
g. Setiap proses pengelasan atau
pemotongan di ruang area
perawatan
75
b. Langkah 2
Identifikasi kelompok resiko pasien
Tabel 13. Identifikasi Kelompok Resiko Pasien
76
c. Langkah 3
Matrik pengendalian infeksi antara kelompok resiko pasien dengan tipe
konstruksi kegiatan
Tabel 14. Construction Activity
Construction Activity/Risk Group Matrix
AKTIVITAS KONSTRUKSI Type A Type B Type C Type D
KELOMPOK RISIKO INFEKSI I II II
Rendah III / IV
IV
Menengah I II III IV
IV
Menengah-tinggi I II III / IV
Tinggi II III / IV III / IV
d. Langkah 4
Tindakan pengendalian infeksi dan keselamatan keamanan berdasarkan atas
tingkat/ kelas pengendalian
Tabel 15. Pengendalian Infeksi dan Kualitas Udara kelas I
Kelas I
PENGENDALIAN INFEKSI DAN KUALITAS UDARA
Sebelum Pekerjaan Saat Pekerjaan Saat Pekerjaan
Selesai
Berlangsung Berlangsung
1.Membersihkan area
1. PCM (Pre Construction 1. Melakukan
Meeting) untuk pekerjaan dengan konstruksi dari sisa
mengkomunikasikan meminimalisir material atau
langkah pekerjaan adanya debu pembongkaran
secara detail selama konstruksi
2. Menutup lokasi proyek berjalan 2. Menghilangkan
dengan pembatas 2. Segera menutup debu yang masih
sehingga menghindari kembali plafon atau tersisa selama proses
kontaminasi debu langit – langit konstruksi sebelum
3. Memberi tanda petunjuk setelah dilakukan meninggalkan area
/ peringatan yang jelas pembongkaran konstruksi
4. Rute transportasi barang 3. Akses keluar masuk
bersih tidak dekat pekerja bebas dari
dengan material yang puing – puing
terkontaminasi bangunan
4. Alat angkut material
harus tertutup
77
PENGENDALIAN INFEKSI DAN KUALITAS UDARA
Sebelum Pekerjaan Saat Pekerjaan Saat Pekerjaan
Berlangsung Berlangsung Selesai
5. Pintu keluar masuk
proyek selalu
tertutup
6. Mempertahankan
lingkungan
pekerjaan tetap
kering
7. Memastikan barang
– barang yang
mendukung
pertumbuhan
kuman tidak
digunakan
Tabel 16. Pengendalian Infeksi dan Kualitas Udara kelas II
Kelas II
PENGENDALIAN INFEKSI DAN KUALITAS UDARA
Sebelum Pekerjaan Saat Pekerjaan Saat Pekerjaan
Berlangsung Berlangsung Selesai
1. PCM (Pre Construction 1. Ketika sedang 1. Mengelap
Meeting) untuk proses permukaan dengan
mengkomunikasikan pemotongan, desinfektan.
langkah pekerjaan semprotkan sedikit 2. Membersihkan
secara detail air agar debu tidak permukaan dengan
2. Menutup pintu, jendela berterbangan kain pel basah atau
dan ventilasi yang tidak 2. Ketika mengangkut vacuum sebelum
digunakan untuk material dan meninggalkan area
menghindari debu sampah sisa konstruksi
3. Menutup lokasi proyek pembangunan 3. Membuka kembali
dengan pembatas menggunakan ventilasi, jendela
sehingga menghindari container yang dan pintu yang
kontaminasi debu tertutup sebelumnya
4. Menyediakan filtrasi 3. Segera menutup tertutup
pada local exhaust kembali plafon atau
5. Menggunakan isolasi langit – langit
78
PENGENDALIAN INFEKSI DAN KUALITAS UDARA
Sebelum Pekerjaan Saat Pekerjaan Saat Pekerjaan
Berlangsung Berlangsung Selesai
system HVAC di area setelah dilakukan
konstruksi untuk pembongkaran
mencegah kontaminasi 4. Akses keluar
pada sistem salurannya masuk pekerja
6. Memasang unit udara bebas dari puing –
negative portable, yang puing bangunan
harus dioperasikan 5. Pintu keluar masuk
selama masa konstruksi proyek selalu
7. Memperhatikan akses tertutup
untuk pekerja proyek 6. Bagian kebersihan,
dengan material dan sisa harus melakukan
pembongkaran, pembersihan lebih
sebaiknya dibedakan sering disekitar
8. Membedakan akses area yang
antara pekerja proyek berdekatandengan
dengan pasien dan area konstruksi
pekerja rumah sakit 7. Memonitoring filter
9. Memberi tanda petunjuk selama konstruksi
/ peringatan yang jelas berlangsung
10. Rute transportasi barang
bersih tidak dekat
dengan material yang
terkontaminasi
79
Tabel 17. Pengendalian Infeksi dan Kualitas Udara kelas III
Kelas III (Tambahan dari kelas I dan II )
PENGENDALIAN INFEKSI DAN KUALITAS UDARA
Sebelum Pekerjaan Saat Pekerjaan Saat Pekerjaan
Berlangsung Berlangsung Selesai
1. PCM (Pre Construction 1. Ketika sedang proses 1. Sistem ventilasi
Meeting) untuk pemotongan, harus dibersihkan
mengkomunikasikan semprotkan sedikit air setelah konstruksi
langkah pekerjaan agar debu tidak selesai
secara detail berterbangan 2. Mengalirkan air di
2. Menutup pintu, jendela 2. Udara didalam gedung area konstruksi
dan ventilasi yang tidak yang dilakukan dan sekitarnya
digunakan untuk renovasi akan sebelum ditempati
menghindari debu disirkulasikan keluar 3. Mengecek ulang
3. Menutup lokasi proyek secara berkala dengan suhu sebelum
dengan pembatas sistem HEPA Filter ditempati
minimal 2 lapis atau 3. Ada sumber listrik 4. Jangan melepas
menggunakan papan alternatif yang dapat penghalang debu
hingga langit - langit digunakan apabila terlebih dahulu
sehingga menghindari terjadi listrik mati sebelum pekerjaan
kontaminasi debu 4. Kontraktor wajib proyek selesai dan
4. Menyediakan filtrasi mengirimkan lembar dilakukan
pada local exhaust kerja ICRA, daftar pembersihan area
5. Membuat isolasi system kontrol dan kontak proyek secara
HVAC di area informasi di tempat menyeluruh dan
konstruksi untuk kerja siap untuk
mencegah kontaminasi 5. Mempertahankan digunakan.
pada system salurannya tekanan udara negatif 5. Meninjau ulang
6. memasang unit udara di tempat kerja minimal kondisi area
negative portable, yang 0,01 "WG proyek dengan Tim
harus dioperasikan 6. Ketika mengangkut PPI sebelum
selama masa konstruksi material dan sampah melepas
7. memperhatikan akses sisa pembangunan pengahalang debu
untuk pekerja proyek menggunakan 6. Melepaskan
dengan material dan container yang tertutup penghalang debu
sisa pembongkaran, 7. Akses keluar masuk dengan hati – hati
sebaiknya dibedakan pekerja bebas dari untuk
8. Membedakan akses puing – puing meminimalkan
80
antara pekerja proyek bangunan debu dan kotoran
dari pekerjaan
dengan pasien dan 8. Frekuensi penggantian konstruksi
pekerja rumah sakit filter udara ditingkatkan
9. Memberi tanda petunjuk 9. Pintu keluar masuk
/ peringatan yang jelas proyek selalu tertutup
10. Rute transportasi 10. Segera menutup
barang bersih tidak kembali plafon atau
dekat dengan material langit – langit setelah
yang terkontaminasi dilakukan
11. Terdapat anteroom pembongkaran
11. Bagian kebersihan,
harus melakukan
pembersihan lebih
sering disekitar area
yang
berdekatandengan
area konstruksi
12. Membersihkan sampah
sisa konstruksi
sebelum meninggalkan
area konstruksi
13. Melakukan monitoring
tekanan negative di
area konstruksi dan
mendokumentasikan
setiap hari
14. Melakukan
pemeriksaan terhadap
pengahalang debu
setiap hari dan
mendokumentasikan
hasilnya
15. Sistem ventilasi yang
baru harus dilindungi
dari debu konstruksi
sampai pekerjaan
konstruksi selesai
81
Tabel 18. Pengendalian Infeksi dan Kualitas Udara kelas IV
Kelas IV(Tambahan dari kelas I, II dan III)
PENGENDALIAN INFEKSI DAN KUALITAS UDARA
Sebelum Pekerjaan Saat Pekerjaan Saat Pekerjaan
Berlangsung Berlangsung Selesai
1. Memberikan fasilitas
anteroom dan
meminta untuk setaip
pekerja yang masuk
dan keluar area
proyek melewati
anteroom. Anteroom
tersebut berguna
sebagai ruang antara
area proyek dengan
area non proyek, atau
daerah sekitar proyek
2. Pekerja konstruksi
akan membersihkan
area anteroom
sebelum pekerjaan
konstruksi diserah
terimakan ke pihak
rumah sakit
3. Pekerja menggunakan
apron atau baju
khusus ketika
memasuki area
proyek dan
melepasnya ketika
meninggalkan area
proyek
4. Setiap pekerja yang
masuk area proyek
wajib menggunakan
penutup sepatu.
82
e. Langkah 5
Melakukan Hazart Identification and Risk Assesment dengan menggunakan HVA
Tool (Hazart Vulnerability Assesment)
Tabel 19. HVA Tool (Hazart Vulnerability Assesment)
83
84
Hazard Identification And Risk Assessment
Tipe konstruksi : A / B / C / D
(Konstruksi / Renovasi / Pembongkaran
Tingkat Risiko : rendah / sedang / tinggi / sangat tinggi
Kelas Pengendalian : I / II / III / IV
Persyaratan K3 pada saat proses pembongkaran, renovasi dan konstruksi /
pembangunan gedung:
1. Terdapat pagar pembatas proyek dengan area perawatan di RS. Pagar
dipasang setinggi minimal 2m dengan bahan tahan lama
2. Terpasang rambu-rambu dan signase berupa:
a. Papan nama proyek
b. Simbol dan lambang K3
c. Tanda larangan merokok
d. Tanda area / daerah dengan akses terbatas
3. Lokasi proyek, minimal mempunyai 2 akses utama keluar yang mudah
teridentifikasi sebagai jalur evakuasi dan pintu keluar masuk area proyek
4. Terdapat akses pasien sementara yang memadai selama proses
konstruksi berlangsung
5. Area proyek harus menerapkan 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan
Rajin)
6. Terdapat ruang pertemuan di lokasi proyek
7. Terdapat kamar mandi sementara untuk pekerja proyek
8. Pekerja konstruksi dapat teridentifikasi (ID card/seragam) dan
menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dan disediakan oleh
kontraktor pelaksana
9. APD yang digunakan di lokasi proyek minimal helm proyek, ear plug,
sepatu safety dan sarung tangan
10. Kontraktor menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) yang siap
digunakan di lokasi proyek
11. Kontraktor menyediakan kotak P3K yang memadai dan siap digunakan
(minimal tersedia perban steril, iodin, antiseptik, plester, gunting)
12. Proyek diharapkan memiliki kegiatan rapat rutin dan safety talk/briefing
untuk pekerja
13. Kontraktor memastikan keamanan sumber listrik yang digunakan dalam
proses konstruksi
14. Area RS bebas dari asap rokok dan api
15. Pengukuran fisik pada area proyek dan lingkungan sekitar proyek sesuai
dengan persyaratan:
85
a. Kebisingan melebihi nilai ambang batas (NAB: 85 dB)
b. Getaran alat kerja yang kontak langsung maupun tidak langsung pada
lengan dan tangan pekerja tidak melebihi 4m/det2
c. Getaran yang kontak langsung maupun tidak langsung pada seluruh
tubuh tidak melebihi 0,5 m/det2
d. Kandungan debu maksimal di dalam udara area lokasi proyek dan
lingkungan sekitarnya tiidak melebihi 0,5 mg/m3
16. Pada proyek yang menggunakan B3 (bahan berbahaya dan beracun)
harus melakukan pengelolaan B3 sesuai dengan standard prosedur
operasional sebagai berikut:
a. Tempat penyimpanan B3 harus terpisah dari bahan lain dan dirancang
sesuai karakteristik B3
b. Tempat penyimpanan B3 wajib dilengkapi sistem tanggap darurat.
c. B3 yang disimpan harus memiliki MSDS (material safety data sheet)
d. B3 yang disimpan dapat diidentifikasi jenis dan karakteristiknya
e. Apabila kegiatan proyek memiliki limbah B3, maka tempat
pembuangannya harus terpisah dari limbah lain dan berkoordinasi
dengan bagian sanitasi
f. Apabila proyek menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib
melapor ke Tim K3
17. Kontraktor pelaksana melakukan sosialisasi pada seluruh pekerja proyek
mengenai:
a. Prosedur evakuasi pada saat terjadi bencana
b. Lokasi APAR
c. Lokasi titik kumpul aman
d. Prosedur penanggulangan kebakaran
e. Kode-kode emergensi yang diterapkan RS:
Kode merah / red code: kebakaran
Kode biru / blue code: henti jantung
Kode kuning / yellow code: bencana interna
Kode coklat / brown code: bencana eksternal
Kode orange / orange code: evakuasi
Kode ungu / purple code: ancaman bom
Kode hitam / black code: ancaman personal / penculikan bayi
18. Bangunan yang direnovasi sesuai standard K3 antara lain:
a. Setiap bangunan mempunyai minimal 2 akses keluar sebagai jalur
evakuasi
b. Setiap pintu harus mengarah/mengayun keluar
86
c. Kamar mandi sesuai dengan ketentuan, pintu harus
mengarah/mengayun keluar, menggunakan kunci K3 terdapat handrail
dan dilengkapi dengan nurse call
d. Setiap stop kontak dilengkapi dengan proteksi (child protection) minimal
di area anak-anak
e. Bangunan dilengkapi dengan sistem proteksi kebakaran seperti
instalasi fire alarm, smoke detector, hydran, sprinkler
f. Instalasi gas medis mudah teridentifikasi, terdapat penandaan pada
valve dan box panel harus terdapat sistem penguncian
19. Kontraktor wajib melaporkan kejadian kecelakaan kerja dan penyakit
akibat kerja kepada PPI dan K3RS
87
f. Langkah 6
Action Plan PCRA sesuai skor prioritas faktor resiko atau insiden dan PDCA
Form Action Plan PCRA
Tabel 20. Contoh : ACTION PLAN PCRA
88
g. Langkah 7
Menyusun Rencana Tindak Lanjut dari hasil Action Plan PCRA
2. Intra Kontruksi
a. Tim PCRA harus memeriksa penghalang debu dan tindakan perlindungan lainnya
secara teratur sesuai jadwal, dengan frekuensi tergantung pada hasil penilaian
resiko area yang terlibat.
b. Misalnya jika kontruksi atau renovasi mencakup area berisiko tinggi
direkomendasikan setiap hari dengan megisi form penilaian (terlampir).
3. Post Kontruksi
a. Setelah selesai kontruksi harus diperiksa, mencakup area yang telah dibersihkan
dan didesinfeksi (seperti dinding, lantai, plafon dan ventilasi udara)
b. Mengisi form monitoring post kontruksi
c. Melakukan general cleaning pada ruangan post konstruksi
d. Dilakukan pemeriksaan kultur udara post kontruksi sebelum ruangan digunakan
terutama pada ruangan yang berisiko tinggi (ruang operasi, intensif dll)
e. Pemeriksaan air dilakukan bila pada saat kontruksi saluran air terganggu
f. Pengecekan standarisasi peralatan utility (gas medis, listrik dll)
g. Melakukan pelaporan kepada direktur dan pihak manajemen bahwa kegiatan
konstruksi telah selesai dan ruangan siap dipakai
89
BAB VII
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI DI FASYANKES
A. Konsep Dasar Kewaspadaan Isolasi
Ketika HIV/AIDS muncul pada tahun 1985, dibutuhkanlah suatu pedoman untuk
melindungi petugas pelayanan kesehatan dari terinfeksi. Oleh karena penularannya
termasuk Hepatitis C virus adalah melalui darah, maka disusunlah pedoman yang
disebut Kewaspadaan Universal (Universal Precaution). Sejak diberlakukan dan
diterapkan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya, strategi baru ini telah dapat
melindungi petugas pelayanan kesehatan (penularan dari pasien ke petugas) serta
mencegah penularan dari pasien ke pasien dan dari petugas ke pasien. Individu yang
terinfeksi HIV atau HCV tidak menunjukkan gejala penyakit atau terlihat sebagai
layaknya seseorang yang terinfeksi, maka Kewaspadaan Universal di modifikasi agar
dapat menjangkau seluruh orang (pasien, klien, pengunjung) yang datang ke fasilitas
layanan kesehatan baik yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. Pada tahun 1987
diperkenalkan sistem pendekatan pencegahan infeksi kepada pasien dan petugas
kesehatan, yaitu Body Substance Isolation (BSI) sebagai alternatif dari Kewaspadaan
Universal. Pendekatan ini difokuskan untuk melindungi pasien dan petugas kesehatan
dari semua cairan lendir dan zat tubuh (sekret dan ekskret) yang berpotensi terinfeksi,
tidak hanya darah. Body Substance Isolation (BSI) ini juga meliputi : imunisasi
perlindungan bagi pasien dan staf fasilitas layanan kesehatan yang rentan terhadap
penyakit yang ditularkan melalui udara atau butiran lendir (campak, gondong, cacar air
dan rubela), termasuk imunisasi hepatitis B dan toksoid tetanus untuk petugas,
mengkajiulang instruksi bagi siapapun yang akan masuk ke ruang perawatan pasien
terutama pasien dengan infeksi yang ditularkan lewat udara (Lynch dkk, 1990). Sistem
Body Substance Isolation (BSI) lebih cepat diterima daripada sistem Kewaspadaan
Universal karena lebih sederhana, lebih mudah dipelajari dan diterapkan dan dapat
diberlakukan untuk semua pasien, tidak hanya pada pasien yang didiagnosis atau
dengan gejala yang mungkin terinfeksi tetapi tetap berisiko bagi pasien dan staf lainnya.
Kelemahan sistem ini antara lain: membutuhkan biaya tambahan untuk perlengkapan
pelindung terutama sarung tangan, kesulitan dalam perawatan rutin harian bagi semua
pasien, ketidak pastian mengenai pencegahan terhadap pasien dalam ruang isolasi
serta penggunaan sarung tangan yang berlebihan untuk melindungi petugas dengan
biaya dibebankan kepada pasien.
Keberadaan kedua sistem ini pada awal 1990 mengakibatkan fasilitas pelayanan
dan petugas kesehatan tidak dapat memilih pedoman pencegahan mana yang harus
digunakan. Sehingga pada beberapa rumah sakit telah diterapkan Kewaspadaan
Universal, sedangkan yang lainnya menerapkan Isolasi Zat Tubuh. Kebingungan yang
90
terjadi semakin besar dimana rumah sakit dan staf merasa telah menerapkan
Kewaspadaan Universal, padahal sebenarnya mereka menerapkan Isolasi Zat Tubuh
dan sebaliknya, termasuk banyaknya variasi lokal dalam menginterpretasikan dan
menggunakan Kewaspadaan Universal dan Isolasi Zat Tubuh serta variasi kombinasi
penggunaan kedua sistem tersebut. Ditambah lagi dengan adanya kebutuhan untuk
menggunakan kewaspadaan tambahan bagi pencegahan penyakit yang ditularkan lewat
udara (airborne), droplet dan kontak badan, yang merupakan keterbatasan utama
Isolasi Zat Tubuh (Rudnick dkk 1993). Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan bertujuan untuk melindungi pasien, petugas
kesehatan, pengunjung yang menerima pelayanan kesehatanserta masyarakat dalam
lingkungannya dengan cara memutus siklus penularan penyakit infeksi melalui
kewaspadaan standar dan berdasarkan transmisi. Bagi pasien yang memerlukan isolasi,
maka akan diterapkan kewaspadaan isolasi yang terdiri dari kewaspadaan standar dan
kewaspadaan berdasarkan transmisi.
B. Kewaspadaan Standar
Kewaspadaan standar yaitu kewaspadaan yang utama, dirancang untuk
diterapkan secara rutin dalam perawatan seluruh pasien di rumah sakit dan fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya, baik yang telah didiagnosis, diduga terinfeksi atau
kolonisasi. Diterapkan untuk mencegah transmisi silang sebelum pasien di diagnosis,
sebelum adanya hasil pemeriksaan laboratorium dan setelah pasien didiagnosis.
Tenaga kesehatan seperti petugas laboratorium, rumah tangga, CSSD, pembuang
sampah dan lainnya juga berisiko besar terinfeksi. Oleh sebab itu penting sekali
pemahaman dan kepatuhan petugas tersebut untuk juga menerapkan Kewaspadaan
Standar agar tidak terinfeksi. Pada tahun 2007, CDC dan HICPAC merekomendasikan
11 (sebelas) komponen utama yang harus dilaksanakan dan dipatuhi dalam
kewaspadaan standar yaitu :
1. Kebersihan tangan
2. Penggunaan Alat Pelindung Diri
3. Pemrosesan Alat Kesehatan
4. Penatalaksanaan Linen
5. Pengendalian Lingkungan
6. Pengelolaan Limbah
7. Perlindungan Kesehatan Petugas
8. Penempatan Pasien
9. Etika Batuk
10. Penyuntikan yang Aman
11. Praktek Lumbal Punksi
91
Kesebelas kewaspadaan standar tersebut yang harus di terapkan di semua
fasilitas pelayanan kesehatan.
1. Kebersihan Tangan
a. Pengertian
Kebersihan tangan adalah suatu prosedur tindakan membersihkan tangan
dengan menggunakan sabun/antiseptik dibawah air mengalir atau menggosok
tangan menggunakan cairan berbasis alkohol.
b. Tujuan
1) Untuk menghilangkan kotoran dari kulit secara mekanis dan mengurangi
jumlah mikroorganisme di tangan
2) Mencegah agar tidak terjadi infeksi, kolonisasi pada pasien dan mencegah
kontaminasi dari pasien ke lingkungan termasuk lingkungan kerja petugas
c. Jenis Kebersihan Tangan
1) Handrub yaitu mencuci tangan mengguanakan cairan berbasis alkohol
(alcohol-based handrubs)
a) Dilakukan bila tangan tidak tampak kotor.
b) Waktunya 20 -30 detik.
2) Handwash yaitu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
a) Waktunya 40 -60 detik.
b) Dilakukan bila :
Tangan tampak kotor, terkena kontak cairan tubuh pasien yaitu darah,
cairan tubuh sekresi, ekskresi, kulit yang tidak utuh, ganti verband,
walaupun telah memakai sarung tangan.
Terkena cairan tubuh (darah, sekresi, ekskresi kulit yang tidak utuh, ganti
perban walaupun telah memakai sarung tangan), disaat tangan beralih
dari area tubuh yang terkontaminasi ke area lainnya yang bersih
walaupun pada pasien yang sama.
Bila tangan beralih dari area tubuh yang terkontaminasi ke area lainnya
yang bersih, walaupun pada pasien yang sama.
Yang harus diperhatikan dalam melakukan cuci tangan antara lain kuku petugas
harus selalu bersih dan terpotong pendek, tanpa kuku palsu, tanpa memakai
perhiasan cincin. Dalam penelitian : kulit dibawah perhiasan tempat kolonisasi
kuman, sulit dibersihkan/dekontaminasi
92
d. Indikasi Kebersihan Tangan (Lima Moment Cuci Tangan) :
1) Sebelum kontak pasien;
2) Sebelum tindakan aseptik;
3) Setelah kontak darah dan cairan tubuh;
4) Setelah kontak pasien;
5) Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien
Gambar 12. Lima Momen Cuci Tangan
e. Indikasi Kebersihan Tangan Lainnya
1) Segera setelah tiba di fasyankes
2) Sebelum masuk dan meninggalkan ruang pasien/ruang kerja
3) Sesudah dari kamar kecil
4) Bila tangan kotor
5) Sebelum meninggalkan fasyankes
6) Segera setelah melepaskan sarung tangan
7) Segera setelah keluar dari toilet atau membersihkan sekresi hidung
8) Sebelum dan setelah menyiapkan dan mengkonsumsi makanan
93