D. Infeksi Daerah Operasi (IDO)
Pengendalian Infeksi Daerah Operasi (IDO) atau Surgical Site Infections (SSI)
adalah suatu cara yang dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan kejadian infeksi
setelah tindakan operasi, misalnyaoperasi mata.
Paling banyak infeksi daerah operasi bersumber dari patogen flora endogenous
kulit pasien, membrane mukosa. Bila membrane mukosa atau kulit di insisi, jaringan
tereksposur risiko dengan flora endogenous. Selain itu terdapat sumber exogenous dari
infeksi daerah operasi.
Sumber exogenous tersebut adalah :
1. Tim bedah
2. Lingkungan ruang operasi
3. Peralatan, instrumen dan alat kesehatan
4. Kolonisasi mikroorganisme
5. Daya tahan tubuh lemah
6. Lama rawat inap pra bedah
Kriteria Infeksi Daerah Operasi
1. Infeksi Daerah Operasi Superfisial
Infeksi daerah operasi superfisial harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut
ini :
a. Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca bedah dan
hanya meliputi kulit, subkutan atau jaringan lain diatas fascia.
b. Terdapat paling sedikit satu keadaan berikut :
1) Pus keluar dari luka operasi atau drain yang dipasang diatas fascia
2) Biakan positif dari cairan yang keluar dari luka atau jaringan yang diambil
secara aseptik
3) Terdapat tanda–tanda peradangan (paling sedikit terdapat satu dari tanda-
tanda infeksi berikut: nyeri, bengkak lokal, kemerahan dan hangat lokal),
kecuali jika hasil biakan negatif.
4) Dokter yang menangani menyatakan terjadi infeksi.
2. Infeksi Daerah Operasi Profunda/ Deep Incisional
Infeksi daerah operasi profunda harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut
ini:
a. Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca bedah atau
sampai satu tahun pasca bedah (bila ada implant berupa non human derived
implant yang dipasang permanan) dan meliputi jaringan lunak yang dalam (misal
lapisan fascia dan otot) dari insisi.
144
b. Terdapat paling sedikit satu keadaan berikut
1) Pus keluar dari luka insisi dalam tetapi bukan berasal dari komponen
organ/rongga dari daerah pembedahan.
2) Insisi dalam secara spontan mengalami dehisens atau dengan sengaja dibuka
oleh ahli bedah bila pasien mempunyai paling sedikit satu dari tanda-tanda
atau gejala-gejala berikut: demam (> 38ºC) atau nyeri lokal, terkecuali biakan
insisi negatif.
3) Ditemukan abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenai insisi dalam
pada pemeriksaan langsung, waktu pembedahan ulang, atau dengan
pemeriksaan histopatologis atau radiologis.
4) Dokter yang menangani menyatakan terjadi infeksi.
3. Infeksi Daerah Operasi Organ/ Rongga
Infeksi daerah operasi organ/rongga memiliki kriteria sebagai berikut :
a. Infeksi timbul dalam waktu 30 hari setelah prosedur pembedahan, bila tidak
dipasang implant atau dalam waktu satu tahun bila dipasang implant dan infeksi
tampaknya ada hubungannya dengan prosedur pembedahan.
b. Infeksi tidak mengenai bagian tubuh manapun, kecuali insisi kulit, fascia atau
lapisan lapisan otot yang dibuka atau dimanipulasi selama prosedur
pembedahan.
Pasien paling sedikit menunjukkan satu gejala berikut :
1) Drainase purulen dari drain yang dipasang melalui luka tusuk ke dalam
organ/rongga.
2) Diisolasi kuman dari biakan yang diambil secara aseptik dari cairan atau
jaringan dari dalam organ atau rongga :
a) Abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenai organ/rongga yang
ditemukan pada pemeriksaan langsung waktu pembedahan ulang atau
dengan pemeriksaan histopatologis atau radiologis.
b) Dokter menyatakan sebagai IDO organ/rongga.
Pencegahan infeksi daerah operasi terdiri dari pencegahan infeksi sebelum operasi (pra
bedah), pencegahan infeksi selama operasi dan pencegahan infeksi setelah operasi.
1. Pencegahan Infeksi Sebelum Operasi (Pra Bedah)
a. Persiapan pasien sebelum operasi
1) Jika ditemukan ada tanda-tanda infeksi, sembuhkan terlebih dahulu infeksi
nya sebelum hari operasi elektif, dan jika perlu tunda hari operasi sampai
infeksi tersebut sembuh.
145
2) Jangan mencukur rambut, kecuali bila rambut terdapat pada sekitar daerah
operasi dan atau akan menggangu jalannya operasi.
3) Bila diperlukan mencukur rambut, lakukan di kamar bedah beberapa saat
sebelum operasi dan sebaiknya menggunakan pencukur listrik (Bila tidak ada
pencukur listrik gunakan silet baru).
4) Kendalikan kadar gula darah pada pasien diabetes dan hindari kadar gula
darah yang terlalu rendah sebelum operasi.
5) Sarankan pasien untuk berhenti merokok, minimun 30 hari sebelum hari
elektif operasi.
6) Mandikan pasien dengan zat antiseptik malam hari sebelum hari operasi.
7) Cuci dan bersihkan lokasi pembedahan dan sekitarnya untuk menghilangkan
kontaminasi sebelum mengadakan persiapan kulit dengan anti septik.
8) Gunakan antiseptik kulit yang sesuai untuk persiapan kulit.
9) Oleskan antiseptik pada kulit dengan gerakan melingkar mulai dari bagian
tengah menuju ke arah luar. Daerah yang dipersiapkan haruslah cukup luas
untuk memperbesar insisi, jika diperlukan membuat insisi baru atau
memasang drain bila diperlukan.
10)Masa rawat inap sebelum operasi diusahakan sesingkat mungkin dan cukup
waktu untuk persiapan operasi yang memadai.
11)Belum ada rekomendasi mengenai penghentian atau pengurangan steroid
sistemik sebelum operasi.
12)Belum ada rekomendasi mengenai makanan tambahan yang berhubungan
dengan pencegahan infeksi untuk pra bedah.
13)Belum ada rekomendasi untuk memberikan mupirocin melalui lubang hidung
untuk mencegah IDO.
14)Belum ada rekomendasi untuk mengusahakan oksigenisasi pada luka untuk
mencegah IDO.
b. Antiseptik tangan dan lengan untuk tim bedah
1) Jaga agar kuku selalu pendek dan jangan memakai kuku palsu.
2) Lakukan kebersihan tangan bedah (surgical scrub) dengan antiseptik yang
sesuai. Cuci tangan dan lengan sampai ke siku.
3) Setelah cuci tangan, lengan harus tetap mengarah ke atas dan di jauhkan dari
tubuh supaya air mengalir dari ujung jari ke siku. Keringkan tangan dengan
handuk steril dan kemudian pakailah gaun dan sarung tangan.
4) Bersihkan sela-sela dibawah kuku setiap hari sebelum cuci tangan bedah
yang pertama.
5) Jangan memakai perhiasan di tangan atau lengan.
146
6) Tidak ada rekomendasi mengenai pemakaian cat kuku, namun sebaiknya
tidak memakai.
c. Tim bedah yang terinfeksi atau terkolonisasi
1) Didiklah dan biasakan anggota tim bedah agar melapor jika mempunyai
tanda dan gejala penyakit infeksi dan segera melapor kepada petugas
pelayan kesehatan karyawan.
2) Susun satu kebijakan mengenai perawatan pasien bila karyawan mengidap
infeksi yang kemungkinan dapat menular. Kebijakan ini mencakup :
a) Tanggung jawab karyawan untuk menggunakan jasa pelayanan medis
karyawan dan melaporkan penyakitnya.
b) Pelarangan bekerja.
c) Ijin untuk kembali bekerja setelah sembuh penyakitnya.
d) Petugas yang berwewenang untuk melakukan pelarangan bekerja.
3) Ambil sampel untuk kultur dan berikan larangan bekerja untuk anggota tim
bedah yang memiliki luka pada kulit, hingga infeksi sembuh atau menerima
terapi yang memadai.
4) Bagi anggota tim bedah yang terkolonisasi mikroorganisme seperti S. Aureus
Bagi anggota tim bedah yang terkolonisasi mikroorganisme seperti S. Aureus
atau Streptococcus grup A tidak perlu dilarang bekerja, kecuali bila ada
hubungan epidemiologis dengan penyebaran mikroorganisme tersebut di
rumah sakit.
2. Pencegahan Infeksi Selama Operasi
a. Ventilasi
1) Pertahankan tekanan lebih positif dalam kamar bedah dibandingkan dengan
koridor dan ruangan di sekitarnya.
2) Pertahankan minimun 15 kali pergantian udara per jam, dengan minimun 3 di
antaranya adalah udara segar.
3) Semua udara harus disaring, baik udara segar maupun udara hasil resirkulasi.
4) Semua udara masuk harus melalui langit-langit dan keluar melalui dekat
lantai.
5) Jangan menggunakan fogging dan sinar ultraviolet di kamar bedah untuk
mencegah infeksi IDO.
6) Pintu kamar bedah harus selalu tertutup, kecuali bila dibutuhkan untuk
lewatnya peralatan, petugas dan pasien.
7) Batasi jumlah orang yang masuk dalam kamar bedah.
147
b. Membersihkan dan disinfeksi permukaan lingkungan
1) Bila tampak kotoran atau darah atau cairan tubuh lainnya pada permukaan
benda atau peralatan, gunakan disinfektan untuk membersihkannya sebelum
operasi dimulai.
2) Tidak perlu mengadakan pembersihan khusus atau penutupan kamar bedah
setelah selesai operasi kotor.
3) Jangan menggunakan keset berserabut untuk kamar bedah ataupun daerah
sekitarnya.
4) Pel dan keringkan lantai kamar bedah dan disinfeksi permukaan lingkungan
atau peralatan dalam kamar bedah setelah selesai operasi terakhir setiap
harinya dengan disinfektan.
5) Tidak ada rekomendasi mengenai disinfeksi permukaan lingkungan atau
peralatan dalam kamar bedah di antara dua operasi bila tidak tampak adanya
kotoran.
c. Sterilisasi instrumen kamar bedah
1) Sterilkan semua instrumen bedah sesuai petunjuk.
2) Laksanakan sterilisasi kilat hanya untuk instrumen yang harus segera
digunakan seperti instrumen yang jatuh tidak sengaja saat operasi
berlangsung. Jangan melaksanakan sterilisasi kilat dengan alasan
kepraktisan, untuk menghemat pembelian instrumen baru atau untuk
menghemat waktu.
d. Pakaian bedah dan drape
1) Pakai masker bedah dan tutupi mulut dan hidung secara menyeluruh bila
memasuki kamar bedah saat operasi akan di mulai atau sedang berjalan, atau
instrumen steril sedang dalam keadaan terbuka. Pakai masker bedah selama
operasi berlangsung.
2) Pakai tutup kepala untuk menutupi rambut di kepala dan wajah secara
menyeluruh bila memasuki kamar bedah (semua rambut yang ada di kepala
dan wajah harus tertutup).
3) Jangan menggunakan pembungkus sepatu untuk mencegah IDO.
4) Bagi anggota tim bedah yang telah cuci tangan bedah, pakailah sarung
tangan steril. Sarung tangan dipakai setelah memakai gaun steril.
5) Gunakan gaun dan drape yang kedap air.
6) Gantilah gaun bila tampak kotor, terkontaminasi percikan cairan tubuh pasien.
7) Sebaiknya gunakan gaun yang dispossable.
148
e. Teknik aseptik dan bedah
1) Lakukan tehnik aseptik saat memasukkan peralatan intravaskuler (CVP),
kateter anastesi spinal atau epidural, atau bila menuang atau menyiapkan
obat-obatan intravena.
2) Siapkan peralatan dan larutan steril sesaat sebelum penggunaan.
3) Perlakukan jaringan dengan lembut, lakukan hemostatis yang efektif,
minimalkan jaringan mati atau ruang kosong (dead space) pada lokasi operasi
4) Biarkan luka operasi terbuka atau tertutup dengan tidak rapat, bila ahli bedah
menganggap luka operasi tersebut sangat kotor atau terkontaminasi.
5) Bila diperlukan drainase, gunakan drain penghisap tertutup. Letakkan drain
pada insisi yang terpisah dari insisi bedah. Lepas drain sesegera mungkin bila
drain sudah tidak dibutuhkan lagi.
3. Pencegahan Infeksi Setelah Operasi Perawatan luka setelah operasi :
a. Lindungi luka yang sudah dijahit dengan perban steril selama 24 sampai 48 jam
paska bedah.
b. Lakukan Kebersihan tangan sesuai ketentuan: sebelum dan sesudah mengganti
perban atau bersentuhan dengan luka operasi.
c. Bila perban harus diganti gunakan tehnik aseptik.
d. Berikan pendidikan pada pasien dan keluarganya mengenai perawatan luka
operasi yang benar, gejala IDO dan pentingnya melaporkan gejala tersebut.
Catatan :
1) Belum ada rekomendasi mengenai perlunya menutup luka operasi yang
sudah dijahit lebih dari 48 jam ataupun kapan waktu yang tepat untuk mulai
diperbolehkan mandi dengan luka tanpa tutup.
2) Beberapa dokter membiarkan luka insisi operasi yang bersih terbuka tanpa
kasa, ternyata dari sudut penyembuhan hasilnya baik.
3) Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa luka insisi operasi yang bersih
dapat pulih dengan baik walaupun tanpa kasa.
4) Belum ada terbukti tertulis yang mengatakan bertambahnya tingkat
kemungkinan terjadinya infeksi bila luka dibiarkan terbuka tanpa kasa.
5) Namun demikian masih banyak dokter tetap menutup luka operasi dengan
kasa steril sesuai dengan prosedur pembedahan, dengan tujuan :
a) Menutupi luka terhadap mikroorganisme yang dari tangan.
b) Menyerap cairan yang meleleh keluar agar luka cepat kering.
c) Memberikan tekanan pada luka supaya dapat menahan perdarahan
perdarahan superficial.
d) Melindungi ujung luka dari trauma lainnya.
149
Selain pencegahan infeksi daerah operasi diatas, pencegahan infeksi dapat di lakukan
dengan penerapan bundles IDO yaitu :
1. Pencukuran rambut, dilakukan jika mengganggu jalannya operasi dan dilakukan
sesegera mungkin sebelum tindakan operasi.
2. Antibiotika profilaksis, diberikan satu jam sebelum tindakan operasi dan sesuai
dengan empirik.
3. Temperatur tubuh, harus dalam kondisi normal.
4. Kadar gula darah, pertahankan kadar gula darah normal.
150
BAB IX
MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN PPI
A. Audit Program PPI
Audit berarti melakukan pengecekan terhadap praktik aktualterhadap
standar yang ada, termasuk tentang membuat laporan ketidakpatuhan atau
isu-isu yang dipertimbangkan oleh tenaga kesehatan lainnya atau oleh
Komite PPI. Pemberitahuan hasil audit kepada staf dapat membantu mereka
untuk mengidentifikasi dimana perbaikan yang diperlukan. Audit internal
termasuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektifitas proses
manajemen risiko RS. Manajemen risiko dibuat untuk menciptakan
obyektifitas kemudian mengidentifikasi, melakukan analisis, dan respon
terhadap risiko-risiko tersebut yang secara potensial akan mempengaruhi
kemampuan RS untuk menyadari keobyektifannya. Auditor internal dapat
memberikan nasihat dan membantu mengidentifikasi risiko-risiko yang
bersifat darurat.
Standar audit internal membutuhkan perkembangan suatu rencana
dari proyek audit berdasarkan pada pengkajian risiko yang diperbaharui
setiap tahun dengan memakai konsep PDSA yaitu Plan, Do,Study, dan Act.
Siklus PDSA merupakan cara pintas untuk mengembangkan suatu rencana
untuk melakukan pengetesan perubahan (Plan), melaksanakan rencana
(Do), mengobservasi dan belajar dari konsekuensi yang ada (Study), dan
menentukan modifikasi apa yang harus dibuat (Act).
Pedoman Audit PPI harus dibuat berdasarkan referensi terbaru, dapat
diterima dan mudah diterapkan, bertujuan untuk mengembangkan kebijakan
dan prosedur PPI. Umpan balik hasil audit PPI kepada staf diharapkan akan
mewujudkan perbaikan melalui perubahan pemahaman (mind set) dan
perilaku petugas yang secara tidak langsung akan berdampak pada upaya
perubahan perilaku pasien dan pengunjung fasilitas pelayanan kesehatan.
Audit dapat dilakukan oleh Komite PPI atau petugas terpilih lainnya.
151
Gambar 33. Alur PDSA
1. Metode Audit
Prioritas dilakukan pada area yang sangat penting difasilitas
pelayanan kesehatan, antara lain area risiko tinggi, yang dievaluasi
melalui hasil surveilans atau KLB. Audit yang efektif terdiri dari suatu
gambaran lay out fisik, kajian ulang atau alur traffic, protocol dan
kebijakan, makanan dan peralatan dan observasi dari praktik PPI yang
sesuai. Audit harus dilaksanakan pada waktu yang sudah ditentukan,
dapat dilakukan dengan wawancara staf dan observasi keliling, audit ini
sederhana namun menghabiskan banyak waktu, sehingga disarankan
menggunakan siklus cepat rencana audit
2. Persiapan Tim Audit
Semua tenaga kesehatan dan staf pendukung harus
dimasukkan dalam persiapan suatu audit. Tim harus diberi pemahaman
bahwa tujuan audit adalah untuk memperbaiki praktik PPI yang telah
dilaksanakan. Pertemuan sebelum audit sangat penting untuk
menjelaskan dan mendiskusikan target dan objektif dari audit, bagaimana
hal tersebut akan dilakukan, dan bagaimana hasilnya akan dilaporkan.
Hal ini bukan berarti untuk menghukum atau mencari kesalahan.
152
Staf harus memahami bahwa pendekatan objektif dan audit
akan dilakukan secara konsisten dan kerahasiaannya akan dilindungi.
Tim audit harus mengidentifikasi para pemimpin di setiap area yang di
audit dan terus berkomunikasi dengan mereka. Pengambil keputusan
dan pembimbing perlu untuk mendukung tim audit jika terdapat
perubahan yang diperlukan setelah audit.
Pengisian kuisioner oleh pegawai tentang praktik PPI yang aman
harus dibagikan dan disosialisasikan sebelum adanya audit.Kuisioner
dapat dikembangkan terus-menerus membantu penentuan praktik area
yang harus diaudit. Responden mencantumkan identitas dengan
pekerjaan (contoh: perawat, dokter, radiographer, costumer services).
Kuisioner bisa dimodifikasi agar sesuai dengan departemen atau area
yang diaudit.Suatu tenggat waktu harus diberikan sehingga kuisioner
kembali tepat waktu. Satu orang pada setiap area survei harus
ditanyakan untuk memastikan kuisioner lengkap dan aman untuk
pengumpulan dan tabulasi oleh tim audit. Hasil dapat mempersilahkan
Komite PPI untuk menentukan dimana edukasi tambahan diperlukan.
Diseminasi hasil dan diskusi jawaban yang benar dapat digunakan
sebagai alat edukasi.
3. Prinsip-prinsip Dasar
Bundles adalah kumpulan proses yang dibutuhkan untuk perawatan
secara efektif dan aman untuk pasien dengan treatment tertentu dan
memiliki risiko tinggi. Beberapa intervensi di bundlebersama, dan ketika
dikombinasikan dapat memperbaiki kondisi pasien secara signifikan.
Bundles sangat berguna dan telah dikembangkan untuk VAP, ISK dan
IADP.
Suatu set bundles termasuk:
a. Suatu komitmen pernyataan dari tim klinis.
b. Chart sebab akibat yang menggambarkan bukti untuk praktik yang
optimal dan digunakan juga untuk RCA dari ketidaksesuaian, dalam
hubungannya dengan standar.
c. SOP untuk bundle termasuk kriteria spesifik.
d. Lembar pengumpul data.
e. Penjelasan bundle kepada staf klinik (grup diskusi, presentasi
slide).
Bundles secara khusus terdiri atas set kritikal kecil dari suatu prosedur
(biasanya 3-5), semuanya ditentukan oleh bukti kuat, dimana ketika
153
dilakukan bersama-sama menciptakan perbaikan yang bagus. Secara
sukses dalam melengkapi setiap langkah adalah suatu proses langsung
dan bisa diaudit.
4. Jenis Audit:
a. Toolkit audit dari “the Community and Hospital Infection Control
Association” Kanada.
b. Toolkit audit WHO.
c. Audit dilaksanakan pada :
d. Kebersihan tangan (kesiapan dan praktik, suplai seperti sabun,
tissue, produk handrub berbasis alkohol).
e. Memakai kewaspadaan standar/praktik rutin.
f. Menggunakan kewaspadaan isolasi.
g. Menggunakan APD.
h. Monitoring peralatan sterilisasi.
i. Pembersihan, disinfeksi, dan sterilisasi peralatan pakai ulang seperti
bronkoskopi, dan instrument bedah.
j. Pembersihan area lingkungan perawatan
k. Praktik HD, peralatan dan fasilitas.
l. Praktik PPI di OK, aseptik, dan antiseptik pra-bedah, kontrol alur,
persiapan kulit pasien, pencukuran (pada daerah khusus), kebersihan
tangan bedah, dan antibiotika profilaksis.
m. Praktik dan alat medis yang diproses ulang di klinik dan kantor dokter.
n. Isu-isu keselamatan kerja seperti tertusuk benda tajam/jarum,
vaksinasi petugas.
o. Manajemen KLB.
p. Alat audit sendiri untuk Komite PPI.
Data audit dapat digunakan sebagai tujuan/target tahunan program
PPI. Juga dapat membantu dalam pengambilan keputusan pemenuhan
standar di fasyankes.
5. Laporan
Hasil audit yang telah lengkap dikaji ulang bersama pihak manajemen dan
staf di area yang diaudit sebelum dilaporkan. Di dalam laporan harus
diinformasikan bagaimana audit dilakukan, metode yang dipakai, data
kepatuhan, temuan, dan rekomendasi.
Laporan audit bisa tercakup di dalam :
154
a. Laporan mingguan: memberikan umpan balik yang cepat (contoh
selama KLB atau setelah terjadi kejadian tertusuk jarum).
b. Laporan Bulanan: berisikan tentang surveilans, hasil audit,
edukasi, pelatihan, dan konsultasi.
c. Laporan per empat bulan: merupakan laporan formal termasuk
rekomendasi.
d. Laporan tahunan: suatu ringkasan audit yang dilaksanakan selama
setahun dan menghasilkan perubahan atau perbaikan, biasanya
diilustrasikan dengan grafik.
6. Perubahan Perilaku
Hasil audit dibutuhkan untuk memahami bagaimana melakukan
intervensi yang lebih tepat sehingga perubahan perilaku dapat dicapai.
B. Audit Hand Higiene
Kebersihan tangan adalah langkah utama untuk mengurangi infeksi. Mungkin termasuk
tindakan sederhana, akan tetapi tetapi kurangnya kepatuhan di antara penyedia layanan
kesehatan akan menjadi masalah di fasyankes. Berdasarkan penelitian terhadap aspek-
aspek yang mempengaruhi kepatuhan kebersihan tangan dan strategi promosi terbaik,
pendekatan baru telah terbukti efektif.
1. Tujuan Audit Hand higiene
a. Menentukan derajat kepatuhan petugas
b. Hasil observasi à menentukan intervensi promosi dan KIE HH.
c. Sebagai umpan balik bagi petugas
d. Membandingkan data dasar dengan data selanjutnya
2. Aturan pengamatan hand hygiene
a. Observasi langsung dengan metode terkini
b. Observer terlatih, paham metode dan alat observasi
c. Observasi dilakukan secara terbuka, tanpa mengganggu jam kerja, namun tetap
menjaga kerahasiaan.
155
Tabel 23. Contoh Tool Audit Fasilitas Kebersihan Tangan
Fasilitas: No. No. sesi*:
Pelayanan: Periode*: Observer
Bangsal: :
Departemen: Tgl: (inisial)
Negara**: (hari/bln/th)
No. Hal°:
Mulai/seles
ai Waktu: Kota**:
(jam:menit)
Lama Sesi:
(menit)
156
Formulir Observasi
Prof.cat Prof.cat Prof.cat Prof.cat
Kode Code Code Code
N° N° N° N°
Kese Indikasi Tindakan HH Kese Indikasi Tindakan HH Kese Indikasi Tindakan HH Kese Indikasi Tindakan HH
mpat mpat mpat mpat
an. seb-ps. an. seb-pas. HR an. HR an. seb-pas. HR
seb-asept. HR seb-asept. HW HW seb-asept. HW
1 1 set-drh.c tbh. Tidak HH seb-pas. Tidak HH 1 set-drh.c tbh. Tidak HH
set-pas. Glove 1 seb-asept. Glove set-pas. Glove
set-drh.c tbh. HW set.lkg ps. set.lkg ps.
set-pas. Tidak HH set-drh.c tbh.
set-pas.
set.lkg ps. Glove set.lkg ps.
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
seb-asept. seb-asept. seb-asept.
2 seb-asept. 2 set-drh.c tbh. HW 2 set-drh.c tbh. HW 2 set-drh.c tbh. HW
set-pas. Tidak HH set-pas. Tidak HH set-pas. Tidak HH
set-drh.c tbh. HW set.lkg ps. set.lkg ps. set.lkg ps.
Tidak HH Glove Glove Glove
set-pas.
Glove
set.lkg ps.
seb-pas. seb-pas. seb-pas. seb-pas.
seb-asept. HR seb-asept. HR seb-asept. HR seb-asept. HR
3 3 set-drh.c tbh. 3 set-drh.c tbh. 3 set-drh.c tbh.
set-pas. HW set-pas. HW set-pas. HW
set-drh.c tbh. HW set.lkg ps. Tidak HH set.lkg ps. Tidak HH set.lkg ps. Tidak HH
Tidak HH
set-pas. Glove Glove Glove
Glove
set.lkg ps.
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
seb-asept. seb-asept. seb-asept.
4 seb-asept. HW 4 set-drh.c tbh. HW 4 set-drh.c tbh. HW 4 set-drh.c tbh. HW
set-drh.c tbh. Tidak HH set-pas. Tidak HH set-pas. Tidak HH set-pas. Tidak HH
set-pas. set.lkg ps. set.lkg ps. set.lkg ps.
Glove Glove Glove Glove
set.lkg ps.
seb-pas. seb-pas. seb-pas. seb-pas. HR
seb-asept. HR seb-asept. HR seb-asept. HR seb-asept.
5 5 set-drh.c tbh. 5 set-drh.c tbh. 5 set-drh.c tbh. HW
set-pas. HW set-pas. HW set-pas. Tidak HH
set-drh.c tbh. HW set.lkg ps. Tidak HH set.lkg ps. Tidak HH set.lkg ps.
Tidak HH Glove
set-pas. Glove Glove
Glove
set.lkg ps.
seb-pas. seb-pas. seb-pas. HR seb-pas.
seb-asept. HR seb-asept. HR seb-asept. seb-asept. HR
6 5 set-drh.c tbh. 5 set-drh.c tbh. HW 5 set-drh.c tbh.
set-pas. HW set-pas. Tidak HH set-pas. HW
set-drh.c tbh. HW set.lkg ps. Tidak HH set.lkg ps. set.lkg ps. Tidak HH
Tidak HH Glove
set-pas. Glove Glove
Glove
set.lkg ps.
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
7 seb-asept. HW 6 seb-asept. HW 6 seb-asept. HW 6 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
8 seb-asept. HW 7 seb-asept. HW 7 seb-asept. HW 7 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
9 seb-asept. HW 8 seb-asept. HW 8 seb-asept. HW 8 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-ps. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
10 seb-asept. HW 1 seb-asept. HW 1 seb-asept. HW 1 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
11 seb-asept. HW 2 seb-asept. HW 2 seb-asept. HW 2 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
12 seb-asept. HW 3 seb-asept. HW 3 seb-asept. HW 3 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
4 seb-asept. HW 4 seb-asept. HW
13 seb-asept. HW 4 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
14 seb-asept. HW 5 seb-asept. HW 5 seb-asept. HW 5 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
157
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
4 seb-asept. HW 4 seb-asept. HW
15 seb-asept. HW 4 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
5 seb-asept. HW 5 seb-asept. HW
16 seb-asept. HW 5 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR seb-pas. HR
17 seb-asept. HW 4 seb-asept. HW 4 seb-asept. HW 4 seb-asept. HW
set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk set-drh.c tbh. tdk
set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas set-pas. set.lepas
set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn set.lkg ps. srg tgn
Revised August 2009
Keterangan :
OBSERVER : diisi nama jelas yang melakukan observasi
TANGGAL OBSERVASI : diisi tanggal observasi dilakukan, tanggal-bulan-tahun
UNIT/INSTALASI : diisi unit/instalasi saat observasi dilakukan, contoh : IRNA C
RUANG/LANTAI : diisi ruang/lantai saat observasi dilakukan, contoh:GPS Lt.6
Diperlukan data 200 opportunities per unit per satu periode observasi
Perawat/bidan : Perawat,Bidan, Siswa Kebidanan/keperawatan) 70%
Dokter : (Dokter umum, Dokter Spesialis, dokter konsultan, Co-Ass/PPDS)
10%
Petugas lain : (Pekarya,terapis,teknisi (Ahli gizi, pekerja social dan profesi lain yang
terlibat di pelayanan pasien) 20%
Opportunity : waktu diperlukan HH
Indikasi : alasan melakukan HH
158
Opportunity terdiri dari beberapa indikasi
Bef.pat : sebelum kontak dengan pasien
Bef.asept : sebelum melakukan tindakan aseptic
Aft.b.f. : sebelum terkena cairan tubuh pasien
Aft. Pat : setelah kontak denga pasien
Aft. P. surr : setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien
HH Action : Respon terhadap indikasi yang membutuhkan HH, berupa aksi positif
dengan melakukan HR atau HW atau aksi negative dengan
HR meninggalkan HR atau HW
HW
Missed : melakukan Handrub dengan disenfektan berbahan dasar alcohol
: Melakukan Handwash dengan sabun dari air
: tidak melakukan HR atau HW
Observer harus dapat melihat 1 indikasi untuk menghitung 1 opportunity (multiple
indications simultaneously occur dan determine one opportunity)
The Hand Hygiene action harus mewakili satu opportunity
The Hand Hygiene action dapat dilakukan dengan handrub atau handwashing bila tidak
dilakukan maka harus dihitung sebagai “missed”.
C. Audit APD
1. Pengertian
Audit Penggunaan APD merupakan proses yang sistematis, independen dan
terdokumentasi untuk memperoleh bukti audit dan mengevaluasinya secara obyektif
untuk menentukan sejauh mana kriteria audit / standar dipenuhi, terhadap
penggunaan APD. Audit Program PPI APD sangat perlu dilakukan untuk melihat
kepatuhan petugas dalam penggunaan APD. Penggunaan APD yang tidak tepat
akan meningkatkan cost dan media transmisi mikro organisme di fasilitas pelayanan
kesehatan
Bukti audit :
Rekaman, pernyataan mengenai fakta, atau informasi lain yang terkait dengan
kriteria audit dan dapat diverifikasi.
Kriteria audit :
Seperangkat kebijakan, prosedur, atau persyaratan
Menentukan apakah penggunaan APD dilakukan dengan baik dan mengunakan
tools
159
2. Tujuan Audit APD
a. Meningkatkan kepatuhan tenaga kesehatan dalam menggunakan APD
b. Meningkatkan mutu program PPI RS
c. Untuk mendapatkan data situasi terkini dan menentukan apakah kebijakan dan
SPO tertulis komite PPI perlu perbaikan
d. Penggunaan APD yang tidak tepat menambah cost
3. Bagaimana Melakukan Audit ?
a. Pengamatan dilakukan secara periodik selama periode sibuk.
b. Beritahukan kepada Kepala ruangan/unit atau penanggung jawab ruangan
sebelum pelaksanaan di lakukan.
c. Mengamati perilaku petugas kesehatan selama tindakan
d. Jika aktivitas cukup banyak dapat mengunakan alat bantu rekaman
e. Observasi dilakukan selama : 15 - 30 menit
f. Bila 5 menit tidak ada tindakan >>> pindah
g. Lebih mudah untuk mengamati salah satu anggota staf pada suatu waktu, tetapi
pengamatan lebih dari satu anggota staf dapat dilakukan secara simultan
h. Disarankan pengamatan terjadi setiap kuartal (3 bulan) di setiap AREA /
lingkungan.
i. Periode pengamatan selama 5 sampai 10 hari sejak hari ke hari mungkin terjadi
variasi
j. Pengamatan tambahan mungkin dilakukan bila ada wabah, transmisi silang dari
Multi Drug Resistensi.
4. Tools
a. Standar instrumen, akurat
b. Monitor kepatuhan tenaga kesehatan konsisten melakukan praktek PPI RS
c. Aspek manajerial:
1) Pedoman
2) Aspek Klinikal:SOP Penggunaan APD
3) Physical lay out, traffic flow
4) Supplies & Equipment
160
LEMBAR AUDIT FASILITAS ALAT PELINDUNG DIRI (APD )
FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN
BERI TANDA ( √ ) PADA KOTAK YA DAN TIDAK
NO ITEM YA TIDAK KETERANGAN
1 Ada kebijakan dan SPO
penggunaan alat pelindung diri
2 Tersedia masker di ruang
perawatan, intensif,tindakan sesuai
dengan kebutuhan
3 Tersedia sarung tangan on steril
dan steril di ruangan ,intensif dan
ruang tindakan sesuai dengan
kebutuhan
4 Tersedia topi di ruang perawatan
,intensif dan ruang tindakan sesuai
dengan kebutuhan
5 Tersedia gaun di ruang tindakan
sesuai dengan kebutuhan
6 Tersedia sandal/sepatu (yang
tertutup bagian depan) di ruang
tindakan
TOTAL JUMLAH YA ( A )
Score = X 100
TOTAL YA DAN TIDAK ( A dan B )
161
LEMBAR AUDIT KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI ( APD )
SARUNG TANGAN RUMAH SAKIT
BERI TANDA ( √ ) PADA KOTAK YA DAN TIDAK
Tanggal : Ruangan : Auditor:
NO ITEM YA TIDAK KETERANGAN
1 Memandikan pasien kulit tidak utuh
2 Vulva /Penis Hygiene
3 Menolong BAB
4 Menolong BAK
5 Oral Hygiene
6 Pengisapan lendir
7 Mengambil darah vena
8 Perawatan luka mayor
9 Perawatan luka minor
10 Perawatan luka infeksius
11 Mengukur TTV tidak menggunakan
sarung tangan
12 Melakukan penyuntikan
13 Pemasangan CVC line
14 Intubasi
15 Memasang Infuse
16 Memasang Dawer Catheter
17 Melap meja, monitor, syring pump
di pasien
18 Membersihka peralatan habis pakai
19 Transportasi pasien tidak
menggunakan sarung tangan
TOTAL JUMLAH YA ( A )
Score = X 100
TOTAL YA DAN TIDAK ( A dan B )
162
LEMBAR AUDIT KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI
BERI TANDA ( √ ) PADA KOTAK YA DAN TIDAK
Petugas : Tindakan : KETERANGAN
Tgl :
Ruangan : YA TIDAK
NO ITEM
1 Topi
2 Masker
3 Apron
4 Googles
5 Sarung tangan
6 Sepatu
TOTAL JUMLAH YA ( A )
Score = X 100
TOTAL YA DAN TIDAK ( A dan B )
Tingkat Kepatuhan / Level Of Compliance
Presentasi skor dapat di kategorikan dengan tingkat kepatuhan dalam bentuk
kepatuhan
Kategori :
a. Patuh > atau = 85 % ( kepatuhan baik )
b. Intermediate 76 – 84 % ( kepatuhan sedang )
c. Minimal < atau = 75 % ( kepatuhan minimal )
Pelaporan Hasil Audit
a. Hasil dilaporkan menurut prosentase yang seharusnya (YA) dibanding seluruh
jumlah item yang ditilik
b. Hasil diumpan-balikkan ke unit/fokus area yang diaudit
c. Laporan berbentuk diagram atau grafik agar pesan yang ingin ditampilkan mudah
dipahami
d. Laporan disertai usulan TINDAKAN terhadap masalah yang belum sesuai
standar (Action)
163
Penyimpangan Dalam Penggunaan APD
a. Gloves / sarung tangan - Hanya digunakan satu tangan
1) Dipakai buat menulis sehabis tindakan
2) Selesai memakai sarung tangan
3) Tergantung di leher dan dibawa kemana – mana - Habis di pakai disimpan
dalam kantong baju
4) Dianggap bukan barang infeksius
b. Gown
1) Dipakai keliling RS
2) Dipakai berhari – hari
c. Sepatu
1) Tidak dipakai di ruang tertentu
2) Menggunakan sandal terbuka (OR)
Catatan :
a. Petugas rumah sakit sangat beresiko tinggi terkontaminasi HAIs, namun HAIs
dapat dicegah salah satunya dengan penggunaan APD yang baik dan benar
b. Kepatuhan dalam penggunaan APD akan memberikan keamanan dan
kenyamanan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dan mengurangi cost
c. Audit PPI RS yang baik akan meningkatkan kinerja / kepatuhan tanpa adanya
kultur disalahkan guna meningkatkan mutu rumah sakit
D. Surveilans HAIs
1. Dasar-Dasar Surveilans
a. Definisi Surveilans
Surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan
terus menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau
masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan
penularan penyakit atau masalah kesehatan untuk memperoleh dan memberikan
informasi guna mengarahkan tindakan pengendalian dan penanggulangan
secara efektif dan efisien. Salah satu dari bagian surveilans kesehatan adalah
Surveilans infeksi terkait pelayanan kesehatan (Health Care Associated
Infections/HAIs).
Surveilans infeksi terkait pelayanan kesehatan (Health Care Associated
Infections/HAIs) adalah suatu proses yang dinamis, sistematis, terus menerus
dalam pengumpulan, identifikasi, analisis dan interpretasi data kesehatan yang
164
penting di fasilitas pelayanan kesehatan pada suatu populasi spesifik dan
didiseminasikan secara berkala kepada pihak-pihak yang memerlukan untuk
digunakan dalam perencanaan, penerapan, serta evaluasi suatu tindakan yang
berhubungan dengan kesehatan.
Kegiatan surveilans HAIs merupakan komponen penunjang penting
dalam setiap program pencegahan dan pengendalian infeksi. Informasi yang
dihasilkan oleh kegiatan surveilans berguna untuk mengarahkan strategi program
baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan maupun pada tahap evaluasi.
Dengan kegiatan surveilans yang baik dan benar dapat dibuktikan bahwa
program dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
b. Tujuan Surveilans HAIs di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
1) Tersedianya informasi tentang situasi dan kecenderungan kejadian HAIs di
fasilitas pelayanan kesehatan dan faktor risiko yang mempengaruhinya.
2) Terselenggaranya kewaspadaan dini terhadap kemungkinan terjadinya
fenomena abnormal (penyimpangan) pada hasil pengamatan dan dampak
HAIs di fasilitas pelayanan kesehatan.
3) Terselenggaranya investigasi dan pengendalian kejadian penyimpangan pada
hasil pengamatan dan dampak HAIs di fasilitas pelayanan kesehatan.
c. Metode Surveilans
1) Surveilans Komprehensif (Hospital Wide/Tradisional Surveillance)
Adalah surveilans yang dilakukan di semua area perawatan untuk
mengidentifikasi pasien yang mengalami infeksi selama di rumah sakit.Data
dikumpulkan dari catatan medis, catatan keperawatan, laboratorium dan
perawat ruangan.Metode surveilans ini merupakan metode pertama yang
dilakukan oleh Center for Diseases Control (CDC) pada tahun 1970 namun
memerlukan banyak waktu, tenaga dan biaya.
2) Surveilans Target (Targetted Surveillance)
Metode surveilans ini berfokus pada ruangan atau pasien dengan risiko
infeksi spesifik seperti ruang perawatan intensif, ruang perawatan bayi baru
lahir, ruang perawatan pasien transplan, ruang perawatan pasien hemodialisa
atau pasien dengan risiko: ISK, Surgical Site Infection (SSI)/IDO, Blood
Stream Infection (BSI)/IAD, Pneumonia (HAP, VAP). Surveilans target dapat
memberikan hasil yang lebih tajam dan memerlukan sumber daya manusia
yang sedikit.
165
3) Surveilans Periodik (Periodic Surveillance)
Metode Hospital Wide Traditional Surveillance yang dilakukan secara periodik
misalnya satu bulan dalam satu semester. Cara lain dilakukan surveilans
pada satu atau beberapa unit dalam periode tertentu kemudian pindah lagi ke
unit lain.
4) Surveilans Prevalensi (Prevalence Surveillance)
Adalah menghitung jumlah aktif infeksi selama periode tertentu.Aktif
infeksi dihitung semua jumlah infeksi baik yang lama maupun yang baru
ketika dilakukan survei.Jumlah aktif infeksi dibagi jumlah pasien yang ada
pada waktu dilakukan survei. Prevalence Surveillance dapat digunakan pada
populasi khusus seperti infeksi mikroorganisme khusus: Methicillin-Resistant
Staphylococcus Aureus (MRSA), Vancomycin Resistant Enterococci (VRE).
Berdasarkan beberapa metode diatas, yang direkomendasikan
adalah Surveilans Target (Targetted Surveillance) untuk dapat laik laksana
karena surveilans target dapat memberikan hasil yang lebih tajam dan
memerlukan sumber daya manusia yang sedikit.
d. Langkah-Langkah Surveilans :
1) Perencanaan
2) Pengumpulan data
3) Analisis
4) Interpretasi
5) Pelaporan
6) Evaluasi
e. Perencanaan Surveilans
1) Tahap 1 : Mengkaji populasi pasien
Tentukan populasi pasien yang akan dilakukan survei apakah semua
pasien/sekelompok pasien/pasien yang berisiko tinggi saja.
2) Tahap 2 : Menseleksi hasil/proses surveilans
Lakukan seleksi hasil surveilans dengan pertimbangan kejadian paling
sering/dampak biaya/diagnosis yang paling sering.
3) Tahap 3 : Penggunaan definisi infeksi
Gunakan definisi infeksi yang mudah dipahami dan mudah diaplikasikan,
Nosocomial Infection Surveillance System (NISS)misalnya menggunakan
National Health Safety Network (NHSN), Center for Disease Control (CDC)
atau Kementerian Kesehatan.
166
f. Pengumpulan Data
Tahap 4 : mengumpulkan data surveilans
1) Mengumpulkan data surveilans oleh orang yang kompeten, profesional,
berpegalaman, dilakukan oleh IPCN bersama IPCLN.
2) Memilih metode surveilans dan sumber data yang tepat.
3) Data yang dikumpulkan dan dilakukan pencatatan meliputi data demografi,
faktor risiko, antimikroba yang digunakan dan hasil kultur resistensi, nama,
tanggal lahir, jenis kelamin, nomorcatatanmedik, tanggal masuk RS. Tanggal
infeksi muncul, lokasi infeksi, ruang perawatan saat infeksi muncul pertama
kali. Faktor resiko: alat, prosedur, factorlainyang berhubungan dengan IRS,
Dataradiology/imaging : X-ray, CT scan, MRI, dsb.
4) Metode observasi langsung merupakan gold standard.
g. Analisis
1) Tahap 5 : Penghitungan dan stratifikasi
a) Incidence rate
Numerator adalah jumlah kejadian infeksi dalam kurun waktu tertentu.
Denominator adalah jumlah hari pemasangan alat dalam kurun waktu
tertentu atau jumlah pasien yang dilakukan tindakan pembedahan dalam
kurun waktu tertentu.
b) Menganalisis incidence rate infeksi
Data harus dianalisa dengan cepat dan tepat untuk mendapatkan
informasi apakah ada masalah infeksi rumah sakit yang memerlukan
penanggulangan atau investigasi lebih lanjut.
2) Tahap 6 : Stratifikasi risiko
Stratifikasi risiko infeksi berdasarkan kategori risk, yaitu klasifikasi operasi,
klasifikasi ASA, jenis dan T. Time
a) Klasifikasi Luka Operasi :
Operasi Bersih
Operasi Bersih Tercemar
Operasi Tercemar
Operasi Kotor atau dengan Infeksi.
b) Kondisi Pasien Berdasarkan American Society of Anesthesiologists (ASA
Score):
ASA 1 : Pasien sehat
ASA 2 : Pasien dengan gangguan sistemik ringan– sedang
ASA 3 : Pasien dengan gangguan sistemik berat
167
ASA 4 : Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam
kehidupan
ASA 5 : Pasien tidak diharapkan hidup walaupun dioperasi atau
Tabel 24. T. Time (T Point)
Stratifikasi Berdasarkan Indeks Risiko Menurut National Healthcare
Surveilance Network (NHSN)
a) Berdasarkan klasifikasi luka (kategori operasi)
Bersih 0
Bersih tercemar
Tercemar 1
Kotor
b) Berdasarkan klasifikasi kondisi pasien
ASA : 1 0
ASA : 2
ASA : 3
ASA : 4 1
ASA : 5
168
c) Durasi operasi / T.Time / T Point : 0
Sesuai dengan waktu yang ditentukan nilai
Lebih dari waktu yang ditentukan nilai 1
h. Interpretasi
Tahap 7 : Interpretasi
Interpretasi yang dibuat harus menunjukkan informasi tentang penyimpangan
yang terjadi. Bandingkan angka infeksi yang didapat apakah ada penyimpangan,
dimana terjadi kenaikan atau penurunan yang cukup tajam. Bandingkan rate
infeksi dengan NNIS/CDC/WHO. Perhatikan dan bandingkan kecenderungan
menurut jenis infeksi, ruang perawatan dan mikroorganisme patogen penyebab
bila ada. Jelaskan sebab-sebab peningkatan atau penurunan angka infeksi
rumah sakit dengan melampirkan data pendukung yang relevan dengan masalah
yang dimaksud.
i. Pelaporan
Tahap 8 : Laporan
1) Laporan dibuat secara periodik, tergantung institusi bisa setiap triwulan,
semester, tahunan atau sewaktu-waktu jika diperlukan.
2) Laporan dilengkapi dengan rekomendasi tindak lanjut bagi pihak terkait
dengan peningkatan infeksi.
3) Laporan didesiminasikan kepada pihak-pihak terkait.
4) Tujuan diseminasi agar pihak terkait dapat memanfaatkan informasi tersebut
untuk menetapkan strategi pengendalian infeksi.
j. Evaluasi
Tahap 9 : Evaluasi surveilance system
1) Langkah-langkah proses surveilans
2) Ketepatan waktu dari data
3) Kualitas data
4) Ketepatan analisa
5) Hasil penilaian : apakah sistem surveilans sudah sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan.
Hasil pelaksanaan surveilans merupakan dasar untuk melakukan perencanaan lebih
lanjut. Jika terjadi peningkatan infeksi yang signifikan yang dapat dikatagorikan
kejadian luar biasa, maka perlu dilakukan upaya penanggulangan kejadian luar
biasa.
169
E. Pelaporan Program PPI
IPCN membuat laporan rutin: 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun atau jika
diperlukan. Komite/Tim PPI membuat laporan tertulis kepada pimpinan
fasyankessetiap bulan dan jika diperlukan.
1. Pengertian Laporan
a. Laporan adalah sebuah bentuk dokumen atau penyajian yang berisi tentang
fakta suatu keadaan atau kegiatan. Fakta yang disajikan dan dirangkai tersebut
berkaitan dengan tanggung jawab yang diberikan kepada orang bersangkutan.
b. Suatu kegiatan mencatat semua data yang berkaitan dengan pelaksanaan
semua kegiatan dalam proram kerja pencegahan dan pengendalian infeksi dan
untuk selanjutnya di buat laporan, evaluasi dan tindak lanjut dan rekomendasi.
c. Mengkomunikasikan secara tertulis kepada Tim Kesehatan lain yang
memerlukan data kesehatan atau data kejadian infeksi secara teratur.
2. Fungsi Laporan
a. Sebagai sarana menyampaikan informasi dan komunikasi yang efektif antar
petugas kesehatan sehingga kesinambungan informasi dan upaya pelayanan
kesehatan dapat tercapai.
b. Sebagai bahan pertanggung jawaban
c. Sebagai bahan evaluasi terhadap hasil intervensi yang diberikan dan
dokumentasi
d. Merupakan dasar analisis masalah kesehatan pada individu, keluarga maupun
masyarakat
e. Sarana pengawasan
f. Sebagai bahan pengambilan keputusan
g. Sebagai sumber data untuk penelitian lebih lanjut
3. Ciri-Ciri Laporan
a. Ringkas
Dalam penulisan laporan, hanyalah hal-hal yang sifatnya pokok saja yang
ditulis. Dari hal-hal pokok tersebut diringkas, dikualifikasikan manakah hal-hal
yang berkaitan dengan tema kegiatan ataupun tugasnya. Dengan begitu
maka pimpinan atau penerima dapat mengetahui langsung dengan jelas tentang
laporan itu.
b. Logis
Tidak hanya ringkas, informasi laporan juga harus bersifat logis, artinya segala
keterangannya dapat ditelusuri dengan alasan yang masuk akal.
170
c. Lengkap
Pada awal disebutkan bahwasanya laporan disusun secara ringkas, namun
bukan berarti hal itu malah menghilangkan poin-poin penting. Laporan yang
sempurna adalah laporan yang tersusun secara lengkap dan ringkas.
d. Sistematis
Ringkas, logis, lengkap adalah sebagai pelengkap sistematisnya pembuatan
laporan. Sistematis sendiri berarti keterangan yang dikemukakan tersusun
secara rapih dan saling berkaitan
4. Jenis-Jenis Laporan
a. Laporan Berdasarkan Waktunya
1) Laporan berkala:
Laporan yang pembuatannya dilakukan secara rutin berkala dalam jangka
waktu tertentu, seperti laporan bulanan, Triwulan, Semester dan tahunan.
2) Laporan bentuk insidental:
Laporan yang dibuat saat diperlukan saja
b. Laporan Berdasarkan Penyampaiannya
1) Laporan Lisan
Sebuah informasi atau keterangan yang disampaikan secara langsung.
Kelemahan :
Kemungkinan yang dilaporkan hanyalah hal-hal yang baik- baik saja dan
bersifat subyektif.
Keuntungan :
Hasil dari kegiatan/intervensi yang telah dilakukan dan data yang telah
terkumpul dapat segera ditindaklanjuti dalam waktu yang lebih cepat.
2) Laporan Tertulis
Laporan sebuah informasi atau keterangan yang disampaikan secara tertulis.
Seperti naskah, memo, dan surat.
Kelemahan :
Memakan waktu dan biaya yang lebih.
171
Keuntungan :
Bisa lebih bersifat Objektif dan lebih terperinci serta pelaporan dapat bersifat
positif maupun negative
3) Laporan Visual presentasi
Laporan ini biasa disampaikan tatap muka dengan media
menggunakan power point.
Jenis Laporan PPI
a) Laporan Surveilans
b) Laporan KLB
c) Laporan Hasil Audit
d) Laporan Evaluasi Program
5. Laporan Mampu Menjawab
a. Isi laporan akan menjawab apa yang telah dilaksanakan ? (WHAT)
b. Di mana Hasil laporan tersebut dilaksanakan ? (WHERE)
c. Laporan berisikan waktu kejadian atau masalah tersebut didapatkan ? (WHEN)
d. Menjelaskan sumber kejadian dan siapa yang menyampaikan laporan (WHO)
6. Isi Laporan
a. Apakah Laporan tersebut itu benar-benar merupakan hasil surveilans aktif
b. Hasil digambarkan sebagai Incidence Rate nya.
a. Perbandingan hasil penghitungan dengan standard/Angka Nasional (Depkes),
WHO, CDC
b. Hal-hal lain yang sangat penting untuk dikemukakan dari hasil survei yang
ditemukan.
c. Memberikan Rencana tindak lanjut dan hasil perbaikan
7. Laporan PPI Berisi Hasil Pencapaian Program Kerja PPI
a. Penerapan Kewaspadaan Isolasi
b. Pelaksanaan Surveilans Infeksi
c. Pencegahan infeksi melalui implementasi bundles
d. Hasil monitoring penggunaan anti mikroba
e. Pendidikan dan pelatihan
f. Pelaksanaan ICRA Bangunan, dll
172
8. Susunan Laporan PPI
A. Judul Laporan
- Logo Rumah sakit
- Laporan perihal apa, nama tempat, bulan dan tahun
B. Pendahuluan/ Latar Belakang
1. Umum
- Menjelaskan hal-hal yang melatar belakangi pembuatan laporan
- Merupakan gambaran dari kegiatan PPI yang dilakukan di Institusi secara
global
- Bisa menampilkan data yang sudah ada sebelumnya
- Menyajikan hasil pelaksanaan program PPI yang telah dicapai dalam
kurun waktu tertentu
2. Maksud dan Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan program
3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup laporan program PPI meliputi rencana program yang tahun
berjalan
4. Dasar Hukum
Menyebutkan peraturan dan perundang-undangan yang berkaitan dengan
program yang dilaporkan
C. Pelaksanaan Kegiatan dalam Periode Tertentu
- (Tri wulan, semester atau tahunan) dan hasil pencapaiannya yang mengacu
pada stategi dari focus program sesuai dengan permasalahan yang di temukan
- Berisi daftar program kerja yang telah direncanakan dan dilaksanakan selama
kurun waktu tertentu
- Merupakan isi dari proses pelaksanaan kegiatan, rincian kegiatan yang
terdapat di program yang telah dibuat
D. Hasil Kegiatan/ Capaian dan Rencana Tindak Lanjut
1. Hasil Kegiatan isolasi,
- Hasil capaian HAI‟s, kepatuhan penerapan kewaspadaan
kepatuhan implementasi bundles, dll
- Disajikan dalam bentuk table, grafik batang atau line grafik
- Dilengkapi dengan analisa dan rekomendasi pada setiap hasil capaian
program
173
- Laporan tentang penyakit berpotensi KLB, tetap dilaporkan walaupun tidak
ada kejadian
- Tampilan data, angka yang di dapat dari pelaksanaan kegiatan bisa berupa
grafik, tabel, narasi
- Analisa
- Perbandingan data dengan RS lain, data sebelumnya jika sudah ada atau
berdasarkan literature
- Evaluasi capaian target dari program
2. Analisa dan rencana tindak lanjut
Analisa
Menjelaskan penyebab terjadinya penyimpangan dari standar yang di
tentukan
Rencana Tindak Lanjut
Menjelaskan tindak lanjut yang sudah dilakukan dan menyampaikan
rekomendasi untuk mengatasi masalah yang perlu diselesaikan
Laporan Surveilans HAIs
Dalam membuat laporan agar mudah di mengerti dan di pahami, dapat di sajikan
menggunakan grafik baik dalam bentuk batang, line, pie dll, dimana semuanya dapat
menggambarkan kejadian sesuai dengan kegunaan masing – masing.
1. Grafik Batang atau Histogram
adalah jenis grafik yang digunakan untuk menekankan perbedaan tingkat nilai
dari beberapa aspek. Grafik ini merupakan jenis grafik yang paling sederhana,
grafik ini juga sangat mudah untuk dipahami.
Gambar 34. Contoh Grafik Batang
174
2. Grafik Line
Grafik garis/line adalah jenis grafik yang umumnya digunakan untuk
menggambarkan suatu perkembangan atau perubahan dari waktu ke
waktu/trend line
Gambar 35. Contoh Grafik Line
3. Grafik Pie
Grafik ini digunakan apabila ingin mendapatkan grafik dalam bentuk kue
(lingkaran) dari sebuah deret data tunggal.
Fungsinya menunjukkan bagaimana point data berhubungan dengan
keseluruhan data.
Gambar 36. Contoh Grafik Pie
175
E. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan :
Menjelaskan kesimpulan dari hasil capaian program, baik keberhasilan maupun
hal- hal yang belum dapat dicapai termasuk hambatan/kendala dalam
pelaksanaan program
Saran :
Rekomendasi terhadap apa yang belum tercapai dalam program
F. Penutup
• Berisi kalimat penutup dalam sebuah laporan program kerja.
• Sebagai akhir dari suatu kegiatan
• Berupa rangkaian pernyataan / gambaran umum dari pembuatan laporan atau
kegiatan dalam pelaksanaan
176
BAB X
MATERI ANTI KORUPSI
A. Diskripsi Pembelajaran
Mata pembelajaran ini memfasilitasi pembentukan nilai-nilai dasar anti korupsi
pada peserta diklat PPI Tingkat Dasar melalui pembelajaran nilai-nilai dan
aktualisasinya. Mata pembelajaran ini disajikan berbasiskan pengalaman di masyarakat,
dengan penekanan pada proses internalisasi nilai-nilai dasar tersebut, melalui multi
metode dan media (ceramah interaktif, diskusi menonton film, studi kasus simulasi dan
demontrasi). Keberhasilan peserta dinilai dari kemampuan mengaktualisasikan nilai-nilai
dasar anti korupsi dalam mengelola dan melaksanakan tugas jabatannya.
B. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran pada mata diklat anti
korupsi, diharapkan peserta mampu membentuk perilaku yang amanah dan jujur serta
berperan dalam pencegahan korupsi dilingkungannya.
C. Pengertian Anti Korupsi
Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya kerusakan,
kebobrokan dan kebusukan. Selaras dengan kata asalnya, korupsi sering dikatakan
sebagai kejahatan luar biasa, salah satu alasannya adalah karena dampaknya yang
luar biasa menyebabkan kerusakan baik dalam ruang lingkup, pribadi, keluarga,
masyarakat dan kehidupan yang lebih luas. Kerusakan tersebut tidak hanya terjadi
dalam kurun waktu yang pendek, namun dapat berdampak secara jangka panjang.
Dalam modul ini diharapkan peserta dapat menyadari dampak perilaku dan
tindak pidana korupsi. Peserta dapat menyadari dengan sepenuh hati dampak dari
korupsi, karena kesadaran tersebut dapat menjadi kemauan kuat serta semangat tinggi
untuk menghindarkan diri dari perilaku dan tindak pidana korupsi, serta lebih jauh lagi
membangun kepedulian untuk mengajak dan membangun sistem atau lingkungan
berintegritas, agar semakin banyak orang yang terhindarkan dari perilaku dan tindak
pidana korupsi. Setelah mempelajari materi ini, diharapkan peserta mampu menyadari
dampak perilaku dan tindak pidana korupsi. Secara lebih khusus, Anda diharapkan
dapat :
1. Menjelaskan berbagai dampak dari perilaku dan tindak pidana korupsi
2. Memahami pengertian korupsi
3. Mengenali delik-delik tindak pidana korupsi yang berlaku di Indonesia
4. Memiliki niat, semangat dan komitmen melakukan pemberantasan korupsi
5. Membuat impian Indonesia yang bebas dari korupsi
177
Untuk mencapai tujuan di atas, peserta diharapkan juga mempelajari buku saku
dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang berjudul “Memahami untuk Membasmi”
yang dapat diunduh pada website KPK (www.kpk.go.id). Buku saku tersebut
menekankan akan pentingnya untuk memastikan niat dari upaya memiliki pengetahuan
tentang korupsi, yaitu untuk memberantasnya. Jika hanya sekedar mengetahui “apa
korupsi dan bagaimana modusnya?”, maka pengetahuan tersebut membuat peserta
rentan untuk korupsi, apalagi jika realitas lingkungan masih menunjukkan bahwa
penegakan hukum dan efek jeranya belum maksimal serta masih nampak lebih besar
“keuntungan‟ melakukan korupsi.
Modul ini hanya satu kegiatan belajar. Dalam kegiatan belajar ini disajikan
kegiatan untuk menyadari dampak korupsi, memahami pengertian korupsi, membangun
niat, semangat dan komitmen memberantas korupsi, yang dituangkan dengan membuat
impian Indonesia yang bebas dari korupsi. Pelajari pengertian-pengertian dalam benak
anda dari isi modul ini, melalui pemahaman sendiri dan tukar pikiran dengan sesama
peserta atau fasilitator untuk memperluas wawasan, baca dan pelajari sumbersumber
lain yang relevan. Peserta dapat menemukan bacaan dari berbagai sumber, termasuk
dari internet. Tingkatkan pemahaman peserta dengan diskusi kelompok dalam modul
dan melalui kegiatan diskusi dalam kegiatan tutorial dengan peserta lainnya atau teman
sejawat. Buatlah semua pengertian yang didapat dalam bentuk peta pikiran (Mind
Mapping) agar dapat bertahan lama dalam memori atau mudah untuk diingat kembali.
Dalam kegiatan belajar ini peserta akan membangun kesadaran diri untuk anti
korupsi. Setelah mengikuti kegiatan belajar ini peserta diharapkan dapat :
1. Menjelaskan berbagai dampak dari perilaku dan tindak pidana korupsi
2. Memahami pengertian korupsi
3. Mengetahui delik-delik tindak pidana korupsi
4. memiliki niat, semangat dan komitmen melakukan pemberantasan korupsi
5. Membuat impian Indonesia yang bebas dari korupsi.
Dengan memiliki kesadaran diri ini, peserta akan lebih mantap untuk
memastikan bahwa seluruh unsur dalam diri baik pikiran, emosi, ucapan dan tindakan
atau perilaku, semuanya akan mengarah pada anti korupsi dan terbangun kebiasaan
integritas. Kedisiplinan peserta dalam mengerjakan tugas-tugas dan berdiskusi yang
terintegrasi dalam membahas modul akan sangat membantu keberhasilan peserta
dalam pencegahan anti korupsi.
D. Dampak Perilaku dan Tindak Pidana Korupsi
Kehidupan telah diciptakan dengan penuh harmoni, semua berjalan sesuai
dengan orbitnya, ketika sesuatu mengalami penyimpangan maka terjadi kerusakan
dimuka bumi. Penanganan korupsi perlu diselesaikan secara komprehensif, karena
178
korupsi adalah masalah kehidupan, dampak dan bahayanya bisa berpengaruh secara
jangka panjang dan merusak kehidupan. Film dokumenter, yang isinya bercerita tentang
bahaya dampak yang terjadi akibat perilaku manusia, sebagian cuplikan filmya dibuat
menjadi film pendek Korupsi Kehidupan. Cuplikan film pendek tersebut tentunya akan
menyadarkan peserta bahwa telah terjadi kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan
manusia, dan manusia sendiri yang akan menanggung akibat dari kerusakan tersebut.
Memperhatikan dengan seksama gambar-gambar kartun tentang dampak
korupsi semakin membuat kesadaran peserta bertambah berkali-kali lipat, semakin
sering peserta lihat semakin bertambah keyakinan bahwa peserta adalah orang yang
sadar ANTI KORUPSI. Dengan Film memungkinkan seluruh panca indera digunakan
untuk belajar, sehingga mampu meningkatkan daya pengaruh materi belajar.
E. Tindak Pidana Korupsi
Setiap negara mempunyai undang-undang yang berbeda terkait dengan
TINDAK PIDANA KORUPSI. Menurut UU No. 31/1999 jo No. UU 20/2001, terdapat 7
kelompok tindak pidana korupsi yang terdiri dari :
1. Kerugian keuangan negara,
2. Suap-menyuap,
3. Pemerasan,
4. Perbuatan Curang,
5. Penggelapan dalam Jabatan,
6. Benturan Kepentingan dalam Pengadaan,
7. Gratifikasi.
Terkait delik-delik tindak pidana korupsi, KPK selain mengeluarkan buku saku
“memahami untuk membasmi” juga telah membuat komik yang menerangkan berbagai
delik tindak pidana korupsi dalam bentuk gambar Kesadaran Anti korupsi peserta yang
telah mencapai puncak tertinggi akan menyentuh spiritual accountability peserta,
apalagi ketika menyadari bahwa dampak korupsi itu tidak sekedar kerugian keuangan
negara, namun ada kaitannya dengan kerusakan kehidupan.
Sebagai bagian dari warga negara Indonesia dengan keyakinan akan
Ketuhanan Yang Maha Esa, maka kehidupan akan disadari sebagai 3 episode utama,
sebelum kehidupan dunia, kehidupan dunia sendiri dan kehidupan paska dunia.
Penyimpangan secara sosial terjadi ketika manusia menyimpang atau lupa pada
perjanjian mereka dengan Tuhannya, pada saat di alam Roh (Primordial Covenant).
Mereka yang memiliki spiritual accountability akan selalu ingat pada perjanjian dengan
Tuhannya tersebut, yang pada dasarnya :
1. Merupakan tujuan hidup
2. Kesadaran bahwa hidup mereka harus dipertanggungjawabkan.
179
Tuhan yang menciptakan kehidupan, memberikan amanah pada manusia dan
meminta pertanggungjawaban sebaliknya manusia yang diciptakan harus amanah
mengatur bumi dan segala isinya serta memberikan pertanggungjawaban.
Spiritual Accountability yang baik akan menghasilkan niat baik, yang akan
menghasilkan visi dan misi yang baik, selanjutnya akan diterjemahkan dalam usaha
yang terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik. Hubungan konsekuensi tersebut idealnya
dapat menjamin bahwa pemilik spiritual accountability yang baik akan mendorong public
accountability yang baik pula, dan tentunya tidak akan tergerak dan mempunyai niat
sedikit pun untuk membuat kerusakan di muka termasuk didalamnya adalah melakukan
korupsi, sebaliknya justru akan mempunyai niat yang sangat kuat untuk menghindari
korupsi Kualitas hubungan manusia dengan “Tuhannya” sebagai kekuatan yang diyakini
manusia lebih berkuasa atas segala sesuatu, membentuk manusia yang taat (menjaga
diri) pada aturan Tuhannya, ikhlas dalam menjalani hidup, dan menyerahkan hasil atas
usaha maksimalnya kepada Tuhan.
Kualitas spiritual accountability yang baik secara otomatis membuat manusia
berhati-hati atas akibat perbuatannya kepada manusia dan alam pada umumnya
(menjadi manusia yang amanah, berempati dan santun), dan dengan sendirinya
mendorong manusia berusaha sebaik mungkin dalam bekerja, bersabar, dan
mensyukuri nikmat Tuhan dan mewujudkannya dalam setiap langkah dan laku. Niat anti
korupsi semakin kuat bagi mereka yang ingat pada Tuhannya, Ia tidak ingin urusan
dunia merusak perjanjian dengan Tuhannya dan akan menjadi beban bagi kehidupan
setelah dunia.
Korupsi adalah kejahatan luar biasa, tentunya memberantasnya membutuhkan
semangat yang luar biasa, semangat yang tak pernah berhenti karena berasal dari
energi yang tak terbatas, energi yang hadir pada orang-orang yang mampu
mengintegrasikan raga, rasio, ruh dan rasa dalam satu fokus „pengabdian”, sehingga
mereka selalu mengisi waktunya dengan belajar, bekerja, cinta dan pewarisan.
Dampaknya mereka tidak akan pernah kehabisan energi untuk selalu semangat.
Terkait integritas sebagai solusi terhadap korupsi, KPK telah menyusun konsep
Sistem Integritas Nasional yang merupakan konsep integritas yang komprehensif untuk
memastikan bangsa Indonesia dapat mencapai tujuan nasionalnya. Mulai dari integritas
sebagai suatu nilai pada tataran individu sampai integritas sebagai pencapaian tujuan
dalam tataran organisasi dan integritas sebagai kesatuan dalam tataran bangsa. Bagian
penting konsep tersebut adalah Tunas Integritas yaitu pribadi-pribadi yang memiliki
komitmen integritas yang tinggi, dan bersedia untuk membangun sistem integritas
organisasi maupun bangsa.
Komitmen integritas telah dipastikan dalam frekuensi yang positif. Terhadap
integritas setidaknya kita akan selalu berkontribusi, dan terus meningkatkan menjadi
180
komitmen sepenuh hati hingga mampu mencapai bahagia berkarya. Kesadaran anti
korupsi Anda akan memberikan makna bagi kehidupan jika kesadaran tersebut terbukti
atau telah diikuti dengan upaya dan tindakan nyata dalam menghindari korupsi. Kita
tidak memberikan ruang dan waktu sedikitpun untuk munculnya niat dan kesempatan
korupsi dalam perjalanan karir dan pengabdian kita sebagai pegawai negeri sipil /
pegawai atau bagian dari masyarakat Indonesia. Niat, semangat dan komitmen Anda
akan menjadi modal untuk belajar dan menguasai serta mempraktekan kompetensi
yang dapat menghindarkan diri Anda dari perilaku dan tindak pidana korupsi.
Dalam pembahasan ini akan lebih ditekankan pada pemahaman komprehensif
dan simulasi untuk mengatasi atau menghindarkan diri dari korupsi, dengan
mempelajari bagaimana melakukan internalisasi nilai nilai anti korupsi, serta terlibat
sebagai individu yang aktif dalam menutupi kesempatan korupsi melalui pembangunan
sistem integritas. Setelah mempelajari modul ini, diharapkan peserta mampu memiliki
pemahaman yang jelas dan contoh nyata cara menghindarkan diri dari perilaku dan
tindak pidana korupsi, Secara lebih khusus, Anda diharapkan dapat :
1. Menjelaskan peran tunas integritas dalam pemberantasan korupsi
2. Menentukan nilai nilai dasar anti korupsi yang paling signifikan bagi kita dan instansi
tempat kita bekerja
3. Memiliki teknik sederhana dalam internalisasi integritas sebagai salah satu upaya
untuk menghindari korupsi
4. Melakukan re-framing untuk memudahkan proses internalisasi integritas
5. Memahami seeding dan perilaku otomatis dalam konteks perilaku anti korupsi
6. Menjelaskan peran sistem integritas organisasi untuk menjaga individu berintegritas.
Untuk mencapai tujuan di atas, sebaiknya kita telah memahami isi modul yaitu
mengenai paradigma bahwa integritas adalah upaya positif terhadap korupsi dan
berbagai konsep akuntabilitas. Hal tersebut diperlukan sebagai dasar alasan bagi kita
untuk melakukan internalisasi integritas agar dapat jauh dari perilaku maupun tindak
pidana korupsi. Nilai tambah yang kita dapatkan setelah mempelajari modul ini akan
berguna bagi Anda dalam menjalankan peran sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Tunas integritas merupakan terjemahan dari konsep yang berprinsip bahwa
manusia sebagai faktor kunci perubahan, dan pendekatan yang seutuhnya terkait
manusia sebagai makhluk dengan aspek jasmani dan rohani, serta makhluk sosial yang
harus berinteraksi dengan lingkungannya, maka pembangunan integritas perlu dimulai
dari upaya membangun integritas individu yang selaras dengan integritas organisasi dan
bangsa.
Faktor manusia sebagai kunci perubahan mendorong pemberantasan korupsi
di Indonesia dipandang sebagai pembenahan permasalahan akhlak/moral. Konsep
manusia sebagai faktor kunci keberhasilan bukan berarti menafikan faktor lainnya,
181
apalagi jika memperhatikan korupsi yang sudah menjadi kejahatan yang luarbiasa,
maka perlu dilakukan pemberantasan secara terintegrasi. Dengan demikian,
pembenahan akhlak/moral berarti membangun integritas individu dan budaya anti
korupsi serta membangun sistem yang berintegritas.
Konsep tunas integritas memastikan tersedianya manusia – manusia yang
melakukan upaya peningkatan integritas diri dan lingkungannya dengan membangun
sistem yang kondusif, hingga terbentuk manusia-manusia yang mampu menyelaraskan
antara rohani dan jasmani, dengan melakukan penyelarasan pada semua elemen
dirinya (jiwa, pikiran, perasaan, ucapan dan tindakan) dengan nurani (standar kebaikan
universal), sehingga terbentuk perilaku integritas yang selaras pula dengan berbagai
situasi dan lingkungan (sistem dan budaya integritas.
Para tunas integritas diharapkan dapat menjalankan peran strategis dalam
organisasi berupa :
1. Menjadi jembatan masa depan kesuksesan organisasi, mereka menjadi kumpulan
orang yang selalu terdepan untuk memastikan tujuan organisasi tercapai.
2. Membangun sistem integritas, berpartisipasi aktif dalam pembangunan sistem
integritas hingga semua peluang korupsi dan berbagai penyimpangan lainnya dapat
ditutupi.
3. Mempengaruhi orang lain, khususnya mitra kerja untuk berintegritas tinggi
Tunas integritas dibangun dengan kesadaran bahwa pembangunan sistem,
ataupun implementasi berbagai upaya pemberantasan korupsi akan efektif, efisien dan
berintegritas jika dilakukan atau dipimpin oleh orang-orang yang berintegritas tinggi.
Mereka menjalankan program dengan penuh keikhlasan sebagai basis bekerja
berdasarkan moral idealisme (bukan sekedar idealisme), sehingga dalam mencapai
keberhasilan tidak melakukan pelanggaran norma/ nilai.
Namun upaya untuk selalu berada dalam tataran norma tersebut, dilakukan
dengan tetap berinteraksi dengan realitas, sehingga dalam kondisi demikian diperlukan
manusia-manusia yang bijak. Tunas Integritas bergerak dengan melakukan
pelembagaan sistem integritas dalam ruang lingkup organisasi dengan menciptakan
iklim etika yang kuat, yaitu kondisi organisasi dimana kode etiknya telah terinternalisasi
dengan kuat pada individu, sehingga penyelarasan dan pengendalian organisasi dapat
dijalankan dengan baik.
Setiap individu dan organisasi perlu mencapai keutuhan pribadi, organisasi,
pilar dan bangsa, yang tercermin dalam implementasi nilai-nilai luhur bangsa dalam
kehidupan seharihari termasuk pada saat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam
organisasi, sehingga tujuan organisasi maupun pribadi tercapai dengan cara-cara yang
bermoral/berakhlak. Nilai yang dianut setiap individu yang terimplementasikan dalam
182
perilaku sehari-hari secara otomatis akan membentuk nilai-nilai organisasi/kelompok
masyarakat yang pada gilirannya akan berkontribusi dalam membangun nilai nasional.
Nilai nasional merupakan nilai luhur bangsa yang selalu disesuaikan dengan kebutuhan
situasi dan perkembangan zamannya. Nilai nasional tadi diwujudkan melalui kontribusi
nilai-nilai institusi secara proporsional sesuai tupoksi yang diamanahkan kepada
organisasi yang bersangkutan. Nilai-nilai institusi tadi terkristalisasikan ke dalam budaya
organisasi (corporate culture). Para tunas integritas tidak mendorong masyarakat dan
Kementerian Lembaga dan Organisasi Perangkat Daerah untuk membangun budaya
baru, atau mengambil budaya dari luar Indonesia, tetapi akan melakukan reframing
budaya yang ada, yaitu dengan tetap memelihara kebiasaannya atau perilaku otomatis
(sesuatu yang telah terbentuk dan menyatu kuat dalam diri).
Pendekatan apresiasi di atas menyebabkan para tunas integritas selain
didorong untuk memiliki keikhlasan dan kebijakan yang tinggi juga diharapkan memiliki
kemampuan untuk melakukan:
1. Re-framing kultur atau budaya, agar perubahan budaya dapat lebih mudah dan
cepat, serta tidak perlu energi besar, atau dengan istilah-istilah semacam “potong
generasi”, namun membuka kesempatan selebar-lebarnya untuk semua elemen
bangsa, baik generasi lalu, generasi yang sekarang maupun generasi yang akan
datang untuk menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi melalui re-
framing budaya.
2. Utilisasi fenomena perilaku otomatis bagi perubahan diri, keluarga, organisasi dan
bangsa, serta lebih jauh lagi dengan menciptakan peradaban yang lebih baik.
KPK bersama dengan para pakar telah melakukan identifikasi nilai-nilai dasar
anti korupsi, dan dihasilkan sebanyak 9 nilai anti korupsi sebagai berikut :
1. Jujur,
2. Peduli,
3. Mandiri,
4. Disiplin,
5. Tanggung jawab,
6. Kerja keras,
7. Sederhana,
8. Berani,
9. Adil
Saat ini, setiap organisasi biasanya sudah menentukan nilai dasar
organisasinya, tentunya nilai anti korupsi diharapkan masuk didalamnya, terutama nilai
inti anti korupsinya yang telah anda identifikasi, lebih jauh lagi jika nilai organisasi
selaras pula dengan nilai anti korupsi, upaya penyelarasan nilai tersebut sangat penting
183
untuk memastikan bahwa para pegawai yang mengusung integritas atau anti korupsi
mendapatkan payung yang tepat didalam organisasinya. Anda dapat bertanya atau
mencari di website nilai organisasi instansi yang akan menjadi tempat Anda berkiprah
jika belum diajarkan pada sesi diklat lainnya.
Kelman (1958) dan Brigham (1991) menyebutkan adanya tiga proses sosial
yang berperan dalam proses perubahan sikap dan perilaku, yaitu kesediaan
(compliance), identifikasi (identification), dan internalisasi (internalization). Integritas
sebagai suatu proses sosial yang ditujukan untuk mengatasi korupsi di Indonesia,
dengan demikian salah satu upaya perubahannya dapat dilakukan melalui tiga proses
perubahan sosial dari Kelman dan Brigham tersebut.
Kesediaan terhadap integritas (Integrity Compliance) adalah ketika individu
bersedia menerima pengaruh untuk berintegritas dari orang lain atau dari kelompok lain,
dikarenakan ia berharap untuk memperoleh reaksi atau tanggapan positif dari pihak lain
tersebut. Kesediaan semacam ini biasanya tidak berasal dari hati kecil atau hati nurani
seseorang, tetapi lebih merupakan cara untuk sekedar memperoleh reaksi positif seperti
pujian, dukungan, simpati dan semacamnya sambil menghindari hal-hal yang dianggap
negatif, atau sering disebut sebagai pencitraan. Perubahan perilaku terkait integritas
dengan proses "kesediaan" ini tidak akan dapat bertahan lama dan biasanya hanya
tampak selama tersedia reaksi positif dari perilaku integritas.
Namun walaupun demikian proses "kesediaan" untuk memperoleh aksi positif
tidak selalu berarti jelek, kadang hal tersebut diperlukan dalam pergaulan sosial, namun
akan menjadi tidak tepat ketiga proses perubahan sosial jenis "kesediaan" menjadi
orientasi dan mendapatkan prioritas tinggi dalam alokasi sumber daya dan energi.
Pada anak-anak dan orang berusia muda proses identifikasi tampak jelas,
dengan mudah kita dapat mengamati adanya peniruan sikap dari model yang
diidolakannya. identifikasi bukan selalu berarti meniru sikap positif yang serupa, akan
tetapi dapat juga berupa pengambilan sikap yang diperkirakan akan disetujui oleh pihak
lain. Sebagai contoh, seorang pekerja menunjukkan perilaku berintegritas sebagaimana
yang diharapkan oleh pimpinan atau atasannya, dan menjalankan nasihat serta saran
atasannya tersebut dengan maksud untuk memelihara hubungan baik dengan atasan
yang memiliki harapan tertentu pada dirinya.
Proses identifikasi tidak hanya terjadi pada tataran individu, tetapi bisa juga
terjadi dalam usaha memelihara hubungan individu dengan kelompoknya, yang
mengharapkannya agar sama-sama berintegritas. dalam hal ini individu menjadi
berintegritas sesuai dengan harapan kelompok dan sesuai dengan peranannya dalam
hubungan sosial dengan kelompok tersebut. Sebagai contoh seorang pegawai akan
berintegritas sebagaimana layaknya integritas pegawai lainnya yang ada di organisasi.
184
Identifikasi dapat terjadi sekalipun integritas yang ditiru itu belum tentu sesuai
dan memuaskan bagi individu yang bersangkutan, akan tetapi dikarenakan integritas itu
membawa pada kepuasan hubungan dengan orang lain. Kepuasan hubungan tersebut
berhubungan dengan situasi tertentu, tempat individu berada dan peran apa yang
dibawakan. Seorang pegawai akan berintegritas sebagaimana idealnya seorang
pegawai di kantor, akan tetapi dia akan mengidentifikasikan integritas sebagaimana
idealnya seorang ayah apabila sedang berada dirumah, dikarenakan integritas dikantor
sebagai pegawai tidak akan membawa kepuasan hubungan apabila diperankan
dilingkungan rumah dalam pergaulan dengan anak-anak dan keluarganya.
185
DAFTAR PUSTAKA
1. Pedoman Pencegahan dan pengendlian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan,
Depkes RI, 2017
2. Pedoman Penatalaksanaan Flu Burung di Sarana Pelayanan Kesehatan, Ditjen Bina
Pelayananmedik, Depkes RI, 2006.
2. Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya, Depkes, 2007.
3. Pedoman Interim WHO : Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) pada Infeksi
Penyakit Pernapasan Akut (ISPA) yang cenderung menjadi Epidemi dan Pandemi di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan; Juni 2007.
4. Guideline for Isolation Precautions: Preventing Transmission of Infectious agents in
Health caresetting. Siegel JD,et all and HICPAC.CDC.2007, hal 1-92.
5. Modul Pelatihan Tim Gerak Cepat Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan
Menghadapi Pandemi Influenza, Buku Acuan, DepKes RI, 2007.
6. Penyakit Infeksi di Indonesia. Solusi Kini dan Mendatang. Editor : Nasronudin,
Usman Hadi, Vitanata, Erwin AT, Bramantono Suharto, Eddy Soewandojo. Airlangga
University Press, 2007.
7. Beigel JH et al. 2005. Avian influenza (H5N1) infections in humans. New Engl J Med
353(13): 1374–1385.
8. WHO Web site. “Interim Guidelines on Clinical Management of Humans Infected by
Influenza A (H5N1)”
(http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/guidelines/Guidelines_Clinical%20
Management_H5N1_rev.pdf )
9. WHO/SEARO. “Avian Influenza: Prevention and Control of Influenza Due to Avian
Influenza Virus A (H5N1),” Updated 20 May 2005.
(http://w3.whosea.org/EN/Section10/Section1027/Section1091_4149.htm#INFECTIO
N).
10. CDC. 2004. Fact Sheet : Influenza – Respiratory Hygiene/Cough Etiquette in
Healthcare Settings (4 November).
11. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber
Daya Terbatas, YBP-SP, Jakarta 2004.
12. WHO Prevention of hospital acquired infections,2nd Ed,2002,61-62.
13. Guideline for Isolation Precautions in Hospital. Garner JS and HICPAC,CDC,1996,1-
15. Website. “Airborne Precautions” 1996.hal 1-2
14. CDC
(http://www.cdc.gov/ncidod/hip/isolat/airborne_prec_excerpt.htm).
186
15. CDC Website. “Contact Precautions” 1996.hal 1-2
(http://www.cdc.gov/ncidod/hip/isolat/contact_prec_excerpt.htm).
16. CDC Website. “Droplet Precautions” 1996.hal 1-2
(http://www.cdc.gov/ncidod/hip/isolat/droplet_prec_excerpt.htm).
17. CDC Website. “Standard Precautions” 1996.hal 1-3
(http://www.cdc.gov/ncidod/hip/isolat/standard_prec_excerpt.htm).
18. WHO Web site.
(http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/guidelines/seasonal_vaccine/en/).
19. Tietjen LG, W Cronin and N McIn tosh. 1992. Processing instruments, gloves and
other items, in
20. Materi Anti Korupsi Modul Pendidikan dan Pelatihan Pra Jabatan. Lembaga
Administrasi Negara
187