The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ukipress, 2023-02-02 01:31:57

METODE PERLAKUAN PANAS SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MANUFAKTUR BERBASIS BAHAN DASAR BESI BAJA

METODE PERLAKUAN PANAS

SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN
KUALITAS PRODUK MANUFAKTUR

BERBASIS BAHAN DASAR BESI BAJA







Penulis:
Dwita Suastiyanti





Kontributor:
Yoga Maranatha Silaen
Felisitas Serena Nomer










UKI PRESS
Pusat Penerbitan dan Pencetakan
Buku Perguruan Tinggi
Universitas Kristen Indonesia
Jakarta
2023


METODE PERLAKUAN PANAS

SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN
KUALITAS PRODUK MANUFAKTUR

BERBASIS BAHAN DASAR BESI BAJA




Penulis:
Dwita Suastiyanti



Editor:
Marlin Wijaya



ISBN: 978-623-8012-44-2



Penerbit: UKI Press
Anggota APPTI
Anggota IKAPI


Redaksi: Jl. Mayjen Sutoyo No.2 Cawang Jakarta 13630
Telp. (021) 8092425


Cetakan I Jakarta: UKI Press, 2023
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.


KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulilah puji syukur dipanjatkan kepada Allah

SWT yang telah melimpahkan rahmat dan ridho Nya
sehingga Buku Monograf ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis adalah peneliti, dosen dan Guru Besar bidang ilmu

Teknik Mesin dan Ilmu Permesinan lainnya. Monograf ini
didedikasikan untuk semua pembaca khususnya mahasiswa,

praktisi dari industri, peneliti dan teman-teman dosen lainnya
yang sangat tertarik pada bidang ilmu perlakuan panas

sebagai solusi untuk meningkatkan dan mengatasi

permasalahan komponen manufaktur berbasis logam dasar
baja. Penguasaan teknologi dalam industri manufaktur

merupakan upaya meningkatkan nilai investasi dan ekspor
yang dapat menjadi andalan untuk mengakselerasi

pertumbuhan ekonomi nasional. Industri manufaktur
membutuhkan peralatan modern yang mayoritas berbahan

dasar besi dan baja serta mempunyai sifat mekanis yang

mumpuni. Salah satu teknologi yang harus dikuasai untuk
perolehan sifat mekanis yang unggul dari komponen

manufaktur berbasis struktur baja adalah teknologi perlakuan
panas (heat treatment). Agar diperoleh disain dan pemilihan

metode perlakuan panas yang tepat diperlukan beberapa
pemahaman antara lain pemahaman tentang teori diagram




i


fasa Fe-Fe3C, struktur dan sistem kristal, diagram Time

Temperature Transformation (TTT), sifat-sifat mekanis dan
metode pengujiannya. Pemahaman tentang analisa kerusakan

/ kegagalan komponen permesinan sangat penting juga untuk
dikuasai, karena dengan melakukan analisa yang benar,

dapat ditentukan metode perlakuan panas yang tepat guna

mengatasi kegagalan tersebut. Diagram fasa Fe-Fe3C
berperan dalam penentuan temperatur pemanasan yang

ditentukan dengan % C yang dikandung oleh baja.
Pemahaman tentang struktur dan sistem kristal baja

diperlukan untuk memahami lebih dalam tentang

pembentukan fasa/struktur mikro yang ada dalam diagaram
fasa Fe-Fe3C : ferrite, pearlite, bainite, cementite, austenite

dan martensite. Keberhasilan pemilihan metode perlakuan
panas ditentukan dari pengaturan laju pendinginan yang

dipilih disesuaikan dengan pembentukan struktur mikro
dengan sifat mekanis tertentu. Struktur mikro yang

dihasilkan dari proses perlakuan panas dengan laju

pendinginan yang didisain diketahui dari diagram TTT.
Dengan diagram ini dapat diketahui apakah hasil perlakuan

panas akan menghasilkan ferrite, pearlite, bainite atau
martensite yang memiliki sifat mekanis yang berbeda-beda.

Metode pengujian sifat-sifat mekanis perlu dipahami pula
untuk mengetahui dengan tepat sifat mekanis komponen




ii


dengan struktur mikro yang dihasilkan melalui proses

perlakuan panas yang didisain. Berdasarkan hal tersebut
maka untuk pemilihan metode perlakuan panas yang tepat

diperlukan beberapa pemahaman teori yang terintegrasi dan
saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Dalam buku ini

diberikan juga contoh pemilihan metode perlakuan panas

untuk kasus di industri manufaktur melalui beberapa
rekomendasi metode yang bisa dipilih. Buku ini masih belum

lengkap dan akan dilengkapi melalui penyusunan buku-buku
monograf lainnya khususnya yang terkait dengan metode

analisa kerusakan/kegagalan yang membutuhkan

pembahasan khusus tersendiri, diperlukan analisa kegagalan
yang detail untuk mengetahui penyebab kegagalan.





















iii


DAFTAR ISI


Kata Pengantar i

Daftar Isi iv
Daftar Gambar vi

BAB 1 PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan Penulisan Buku 8

1.3 Manfaat 9

1.4 Sistematika Penulisan 9

BAB 2 MATERIAL BAJA SEBAGAI BAHAN DASAR
KOMPONEN PERMESINAN 11
2.1 Material Baja 11

2.2. Sifat Mekanis Baja 12

2.3 Pengaruh Unsur Panduan Terhadap Sifat Mekanis
Baja 18

2.4 Diagram Fasa Fe-Fe3C 19

2.5 Struktur Kristal 21

2.6 Ferrite 24
2.7 Pearlite 25

2.8 Austenite 26
2.9 Cementite 28

2.10 Martensite 29
2.11 Bainite 31


iv


2.12 Diagram Time Temperatur Transformation (TTT) 32


BAB 3 TEORI DASAR PERLAKUAN PANAS 37

3.1 Pengertian Perlakuan Panas Baja 37

3.2 Waktu Penahanan (Holding Time) Pada Temperatur
Pemanasan (Konstan) 40


BAB 4. MEKANISME DAN PENGGOLONGAN
PERLAKUAN PANAS 45

4.1 Metode Perlakuan Panas 45
4.2 Annealing (Anil) 47

4.3 Normalizing (Normalisasi) 60

4.4 Homogenisasi 64
4.5 Hardening 66

4.6 Tempering 78
4.7 Austempering 85


BAB 5 PEMECAHAN MASALAH PADA INDUSTRI
MANUFAKTUR 91

BAB 6 KESIMPULAN 103


DAFTAR PUSTAKA 105









v


DAFTAR GAMBAR


Gambar 2.1. Pengaruh Kadar C Terhadap Kekerasan dan
Kekuatan Tarik Baja 12


Gambar 2.2 Diagram Tarik Stress vs Strain Material Baja 15
Gambar 2.3. Diagram Fasa Fe-Fe3C 20


Gambar 2.4. Sistem dan Kisi Kristal 22
Gambar 2.5 Struktur Kristal Face Centered Cubic 23


Gambar 2.6. Struktur Kristal Body Centered Cubic 23
Gambar 2.7. Struktur Kristal Closed Packed Hexagonal 23


Gambar 2.8. Struktur Mikro Ferrite (Ferit) 25
Gambar 2.9. Struktur Mikro Pearlite 26


Gambar 2.10. Struktur Mikro Austenite 28
Gambar 2.11. Struktur Mikro Cementite 29


Gambar 2.12. Struktur Mikro Martensite 30
Gambar 2.13. Struktur Mikro Bainite 31


Gambar 2.14. Diagram TTT untuk Baja dengan % Karbon
Tertentu 33

Gambar 2.15. Plot Garis Pendinginan pada Diagram TTT Baja
pada % Karbon Tertentu 35

Gambar 3.1. Siklus Panas Perlakuan Panas Baja 38






vi


Gambar 3.2. Penentuan Temperatur Pemanasan pada Perlakuan
Panas Baja 39

Gambar 4.1. Pengelompokan Perlakuan Panas Berdasarkan Laju

Pendinginan 46

Gambar 4.2. Struktur Mikro Baja Sebelum Full Annealing (a) dan
Sesudah Full Annealing (b) 49

Gambar 4.3. Struktur Mikro Sebelum (a) dan Sesudah (b)

Speroidisasi 50
Gambar 4.4. Penentuan Temperatur Spheroidized Annealing 51


Gambar 4.5. Perubahan Struktur Mikro Sebelum (a) dan Sesudah
(b) Proses Recrystallization Annealing 53

Gambar 4.6. Struktur Mikro Sebelum (a) dan Sesudah (b)
Normalisasi 61

Gambar 4.7. Penetapan Temperatur Stress Relieving 62

Gambar 4.8. Struktur Mikro Sebelum (a) dan Sesudah (b)

Homogenisasi 65

Gambar 4.9. Mekanisme Hardening yang Dilanjutkan dengan
Temper 67

Gambar 4.10. Penentuan Temperatur Austenisasi Menggunakan
Diagram Fe-Fe3C 68

Gambar 4.11. Pengaruh Temperatur Hardening Terhadap

Kekerasan 70






vii


Gambar 4.12. Penentuan Waktu Pemanasan Berdasarkan Dimensi
Benda Kerja 73

Gambar 4.13. Pengaruh Temperatur Media Quenching Terhadap

Laju Pendinginan 75

Gambar 4.14. Pengaruh % Karbon Terhadap Pembentukan
Austenite Sisa 77

Gambar 4.15. Pengaruh Temperatur Pengerasan Terhadap %

Austenite Sisa 78
Gambar 4.16. Siklus Panas Proses Hardening Diikuti dengan

Tempering 79

Gambar 4.17. Empat Tahapan Baja Pada Saat Dipanaskan 80

Gambar 4.18. Pengaruh Temperatur Temper Terhadap Kekerasan
Baja 83

Gambar 4.19. Siklus Panas Austempering, Perbandingannya

dengan Perlakuan Panas Lainnya 86

Gambar 5.1. Alternatif 1 Pemilihan Metode Perlakuan Panas 97

Gambar 5.2. Alternatif 2 Pemilihan Metode Perlakuan Panas 99

Gambar 5.3. Alternatif 3 Pemilihan Metode Perlakuan Panas 101













viii


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Salah satu faktor penentu kemajuan bangsa adalah

penguasaan teknologi manufaktur oleh bangsa tersebut.
Penguasaan teknologi dalam industri manufaktur merupakan

upaya meningkatkan nilai investasi dan ekspor yang dapat
menjadi andalan untuk mengakselerasi pertumbuhan

ekonomi nasional. Industri manufaktur adalah sekelompok

perusahaan yang memiliki kegiatan utama untuk
memproduksi dan mengolah bahan mentah atau setengah

jadi menjadi barang yang siap digunakan atau barang jadi.
Proses dalam industri manufaktur menggunakan peralatan

modern dan menerapkan program manajemen yang

terstuktur untuk melakukan produksi. Industri manufaktur
menjadi penopang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

sehari-hari.
Perkembangan manufaktur di Indonesia dapat

dibedakan dari fungsi dan jenisnya antara lain :
1. Industri manufaktur utama. Industri ini mengacu pada

proses yang mengubah bahan baku menjadi produk

yang dapat digunakan. Ada kalanya hasil produksi
digunakan kembali untuk bahan produksi industri lain




1


2. Industri manufaktur sekunder. Industri ini mencakup

pada kegiatan yang lebih luas dan terbagi menjadi
industri berat, ringan dan industri berteknologi tinggi.

Industri berat bersifat modal besar dan berskala besar
contoh industri pemurnian dan peleburan. Industri

ringan melibatkan produk konsumen sedangkan

industri berteknologi tinggi bersifat pada modal dan
bergantung pada penelitian dan pengembangan.

Industri manufaktur memiliki produk yang beragam yang
menjadi dasar dalam pengelompokan jenis industri

manufaktur yaitu

1. Industri Metalurgi. Industri ini mencakup proses
pemurnian, oksidasi, reduksi dan pembuatan logam

yang menghasilkan besi dan baja. Karena jumlah
permintaan yang tinggi maka industri ini menjadi

penting untuk menghasilkan beberapa ribu ton besi dan
baja sebagai bahan baku

2. Industri Teknik. Merupakan jenis industri yang

tergantung pada output industri metalurgi. Cabang dari
industri teknik adalah industri peralatan transportasi

(galangan kapal, mobil, pesawat, kereta api), listrik dan
mesin industri.

3. Industri Dasar dan Kimia. Industri dikategorikan
menjadi 3 yaitu bahan kimia berat yang cakupannya




2


menggunakan endapan mineral atau produk

sampingan, obat-obatan dan petrokimia.
4. Industri Tekstil. Industri ini tergolong industri

manufaktur tertua. Industri tekstil merupakan industri
yang paling banyak beroperasi di Indonesia. Industri

tekstil mengolah serat kayu, kapas dan bulu binatang

menjadi benang.
5. Industri Pengolahan Makanan. Industri ini merupakan

bagian dari industri ringan. Industri pengolahan
makanan melibatkan proses produksi mulai dari bahan

baku hingga menjadi bahan makanan misalnya bahan

baku gandum diolah menjadi tepung gandum.
6. Industri Hi-Tech. Industri pengembangan teknologi

menjadi industri yang banyak digunakan seiring
dengan perkembangan teknologi. Industri Hi-Tech

tergantung kepada hasil penelitian dan dapat bekerja
sama dengan industri transportasi dan energi.



Ciri-ciri dari perusahaan manufaktur antara lain :
1. Pendapatannya Berasal dari Penjualan. Perusahaan

manufaktur adalah perusahaan yang memproduksi,
menghasilkan serta menjual produk berupa barang.

Barang yang dimaksud bisa berupa barang setengah
jadi dan barang jadi seperti peralatan rumah tangga,




3


berbagai jenis makanan dan minuman. Karena

melakukan penjualan berupa barang, maka pendapatan
utama perusahaan diperoleh dari penjualan produk

barang yang menghasilkannya. Biasanya satu
manufaktur memproduksi lebih dari 1 jenis barang jadi

atau barang setengah jadi. Semakin banyak barang

yang diproduksi, semakin banyak pula pendapatan
yang masuk.

2. Memiliki Persediaan Fisik. Produk yang dijual oleh
perusahaan manufaktur adalah barang berwujud yang

dapat dilihat dan diraba, sehingga perusahaan ini

memiliki persediaan produk secara fisik. Persediaan
produknya bisa berupa persediaan barang jadi yang

siap dijual atau persediaan barang setengah jadi atau
barang dalam proses yang nantinya akan diproses

kembali menjadi barang jadi. Stok barang pun juga
harus selalu update agar proses produksi tidak

terganggu.

3. Aktivitas Perusahaan Manufaktur. Sesuai dengan
pengertiannya, aktivitas operasional utama dari

perusahaan manufaktur adalah melakukan kegiatan
produksi yaitu mengolah bahan baku atau barang

mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.






4


Tanpa adanya proses produksi, industri manufaktur

tidak dapat berjalan.
Industri manufaktur di Indonesia berhasil mencapai

peringkat sepuluh besar di dunia. Posisi ini diharapkan dapat
meningkat seiring dengan penetapan kebijakan prioritas

industri nasional. Indonesia sudah menjadi basis industri

manufaktur terbesar se-ASEAN dengan kontribusi mencapai
20,27% (website Badan Koordinasi Penanaman Modal) pada

perekonomian skala nasional. Perkembangan industri
manufaktur di Indonesia saat ini mampu menggeser peran

commodity based menjadi manufacture based. Pemerintah

berupaya untuk melakukan transformasi perekonomian agar
lebih fokus pada proses perkembangan industri non migas.

Industri manufaktur dinilai lebih produktif dan bisa
memberikan efek berantai secara luas sehingga mampu

meningkatkan nilai tambah bahan baku, memperbanyak
tenaga kerja, menghasilkan sumber devisa terbesar, serta

penyumbang pajak dan bea cukai terbesar. Berbagai sektor

manufaktur Indonesia juga dikembangkan di negara ASEAN
lainnya, seperti Filipina dan Vietnam. Hal ini tentunya akan

mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional dan
meningkatkan daya saing secara domestik, regional, dan

global. Perbedaan lainnya yang dimiliki oleh perekonomian
Indonesia adalah kekuatannya pada pasar dalam negeri




5


dengan persentase sebesar 80% dan sisanya merupakan pasar

ekspor, lain halnya dengan Singapura dan Vietnam yang
sistem perekonomiannya sebagian besar berorientasi pada

kegiatan ekspor.
Terjun dalam bisnis di bidang manufaktur sangatlah beresiko

karena diharuskan mengerti target pasar dalam skala tinggi.

Perusahaan jenis ini memang berfokus ke dalam jumlah
produksi yang besar. Ada beberapa faktor kunci yang harus

dilakukan dalam pengelolaan industri manufaktur yaitu :
1. Produktivitas. Stok produk yang sedikit akan membuat

cost produksi atau modal yang dibutuhkan semakin

besar. Itulah alasan mengapa sebelum berencana
membuat bisnis manufaktur harus dipikirkan strategi

pasar yang harus ditempuh. Tujuannya adalah agar
keuntungan yang didapatkan semakin maksimal.

2. Quality Control. Jika produk sebuah bisnis tidak dibuat
berkualitas, sebuah perusahaan bisa dikatakan tidak

akan mampu bertahan. Terlebih lagi, jika sudah ada

banyak perusahaan yang mampu menciptakan produk
dengan harga yang lebih murah namun tetap mampu

menjaga kualitas barangnya. Hal inilah yang tengah
dikembangkan banyak perusahaan-perusahaan di

China.






6


3. Desain Terbaik. Sebuah perusahaan yang bergerak di

dalam bidang manufaktur harus bersaing dengan para
kompetitor. Desain terbaik adalah keunggulan mutlak

agar perusahaan bisa memenangkan persaingan.
Contohnya adalah Apple sempat membuat handsfree

berwarna putih padahal dulunya kabel tersebut dirasa

sangat mengganggu. Pada akhirnya, handsfree dengan
warna putih mampu merajai pasar dunia dan Apple

mengambil untung besar karena keberanian
mengeluarkan desain yang berbeda dengan pesaingnya.

4. Pengelolaan Keuangan yang Baik. Keuangan bisnis

menjadi salah satu faktor paling penting dalam
memengaruhi keberhasilan sebuah usaha. Perusahaan

harus memikirkan bagaimana mengelola modal,
pemasukan, dan pengeluaran produksi hingga

menghasilkan keuntungan yang maksimal. Pencatatan
keuangan industri manufaktur memang sedikit berbeda

dengan perusahaan dagang maupun jasa. Hal ini karena

di dalamnya terdapat laporan Harga Pokok
Produksi.Harga pokok produksi ini dijadikan

sebuah laporan keuangan utama bagi perusahaan
manufaktur.








7


Berdasarkan uraian-uraian di atas, sangat penting untuk

mempertahankan dan mengembangkan industri manufaktur
di Indonesia terutama melalui peningkatan kualitas produk,

upaya mengatasi masalah teknis yang dapat mempengaruhi
peningkatan produktivitas yang berdampak kepada

peningkatan perekonomian bangsa. Karena pentingnya hal

tersebut, buku ini fokus kepada usaha peningkatan kualitas
produk industri teknik yang menghasilkan produk-produk

untuk keperluan permesinan berbasis bahan dasar baja dan
teknologi heat treatment (perlakuan panas).



1.2 Tujuan Penulisan Buku
Penulisan buku ini mempunyai tujuan antara lain :

1. Sebagai bagian dari bahan pembelajaran mahasiswa
pada Mata Kuliah di Program Studi Teknik Mesin :

Metalurgi Fisik, Proses Produksi, Teknologi
Pembentukan dan mata kuliah lain yang terkait dengan

bidang ilmu ini

2. Sebagai bahan short course untuk kegiatan pelatihan /
sertifikasi bagi engineer atau calon engineer di industri

manufaktur.
3. Sebagai acuan untuk industri mengatasi masalah yang

terjadi terkait dengan kegagalan fungsi komponen
akibat kerusakan berbasis analisa kerusakan




8


1.3 Manfaat

Buku ini didedikasikan untuk para dosen ilmu
keteknikan (manufaktur), mahasiswa keteknikan, pelaku

industri dan institusi riset pemerintah maupun swasta.


1.4 Sistematika Penulisan

Buku ini disusun berdasarkan sistematika sebagai
berikut :

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan Buku

1.3 Manfaat
1.4 Sistematika Penulisan

BAB 2. MATERIAL BAJA SEBAGAI BAHAN

DASAR KOMPONEN PERMESINAN
BAB 3. TEORI DASAR PERLAKUAN PANAS

BAB 4. MEKANISME DAN PENGGOLONGAN
PERLAKUAN PANAS









9


BAB 5. PEMECAHAN MASALAH PADA

INDUSTRI MANUFAKTUR BERBASIS
PERLAKUAN PANAS

DAFTAR PUSTAKA



































10


BAB 2
MATERIAL BAJA SEBAGAI BAHAN DASAR
KOMPONEN PERMESINAN


2.1 Material Baja

Material baja yang banyak digunakan dalam komponen

permesinan adalah paduan besi (Fe) dengan unsur paduan
utama adalah karbon (C ). Karbon mempunyai fungsi

sebagai unsur pengeras pada kisi kristal atom besi, selain
karbon sebagai unsur paduan utama pada baja terdapat unsur

– unsur lain seperti titanium, krom,nikel, vanadium, cobalt,
tungsten dll tergantung pemanfaatannya. Unsur – unsur

paduan pada baja sangat mempengaruhi sifat mekanis baja.

Persentase unsur karbon pada baja memiliki pengaruh
langsung terhadap kekerasan baja. Pada umumnya, baja yang

memiliki kandungan karbon lebih tinggi memiliki kekuatan

tarik dan kekerasan yang lebih besar, tetapi dapat
menurunkan perpanjangan atau keuletan (ductility) sehingga

menurunkan sifat pengerjaan (cenderung mudah retak). Oleh
karena itu penentuan % kadar C harus disesuaikan dengan

pemanfaatan dan kebutuhannya. Secara garis besar pengaruh
dari % C terhadap kekerasan atau kekuatan tarik ditunjukan

pada Gambar 2.1.







11


Kekerasan/Kekuatan Tarik











% Karbon

Gambar 2.1. Pengaruh Kadar C Terhadap Kekerasan dan
Kekuatan Tarik Baja



2.2. Sifat Mekanis Baja
Pemahaman tentang sifat mekanis baja berkaitan erat

dengan proses perlakuan panas yang akan disampaikan.
Untuk komponen permesinan, karakteristik pada baja yang

penting dan harus diperhatikan adalah sifat mekanis baja.
Beberapa indikator sifat mekanis baja yang harus

diperhatikan adalah :


1. Kekuatan (Strenght). Kekuatan adalah kemampuan

maksimum baja untuk menerima tegangan tanpa terjadi
perpatahan.

2. Kekakuan (stiffness). Kekakuan adalah kemampuan
baja untuk menerima tegangan atau beban tanpa

mengakibatkan terjadinya deformasi atau difleksi.


12


3. Kekenyalan (elasticity). Kekenyalan adalah

kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa
mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang

permanen setelah tegangan dihilangkan. Bila baja
mengalami tegangan maka akan terjadi perubahan

bentuk. Apabila tegangan yang bekerja besarnya tidak

melewati batas tertentu maka perubahan bentuk yang
terjadi hanya bersifat sementara, perubahan bentuk

tersebut akan hilang bersama dengan hilangnya
tegangan yang diberikan. Akan tetapi apabila tegangan

yang bekerja telah melewati batas kemampuannya,

maka sebagian dari perubahan bentuk tersebut akan
tetap ada walaupun tegangan yang diberikan telah

dihilangkan. Kekenyalan juga menyatakan seberapa
banyak perubahan bentuk elastis yang dapat terjadi

sebelum perubahan bentuk yang permanen mulai
terjadi, atau dapat dikatakan dengan kata lain adalah

kekenyalan menyatakan kemampuan bahan untuk

kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah
menerima beban yang menimbulkan deformasi.

4. Plastisitas (plasticity). Plastisitas merupakan
kemampuan material untuk mengalami perubahan

bentuk secara permanen (deformasi palstis) tanpa
mengalami kerusakan. Material yang mempunyai




13


plastisitas tinggi dikatakan sebagai material yang ulet

(ductile), sedangkan material yang mempunyai
plastisitas rendah dikatakan sebagai material yang

getas (brittle).
5. Keuletan (ductility). Keuletan biasanya diukur dengan

suatu periode tertentu, dalam satuan % yang disebut

sebagai % regangan (strain)
6. Ketangguhan (toughness). Ketangguhan adalah

kemampuan baja untuk menyerap sejumlah energi
tanpa mengakibatkan terjadinya perpatahan atau

kerusakan.

7. Kegetasan (brittleness). Kegetasan adalah kemampuan
baja yang mempunyai sifat berlawanan dengan

keuletan yaitu mengalami perpatahan tanpa ada
indikasi awal.

8. Kelelahan (fatigue). Kelelahan merupakan
kecenderungan baja untuk patah bila menerima beban

bolak-balik (dynamic load) yang besarnya masih jauh

di bawah batas elastisnya.
9. Melar (creep). Kemampuan melar adalah

kecenderungan baja untuk mengalami perubahan
bentuk secara permanen (deformasi plastik) bila

pembebanan yang besarnya relatif tetap dilakukan
dalam waktu yang lama pada suhu yang tinggi.




14


10. Kekerasan (hardness). Kekerasan kemampuan baja

terhadap penekanan atau indentasi atau penetrasi. Sifat
ini berkaitan dengan sifat tahan aus (wear resistance)

yaitu ketahanan material terhadap penggoresan atau
pengikisan.

Sifat kekuatan, kekenyalan, kekakuan, ketangguhan,

plastisitas, keuletan dan kegetasan dapat dibaca dari diagram
tarik stress versus strain dimana untuk baja, diagram tersebut

ditunjukan pada Gambar 2.2.



































Gambar 2.2 Diagram Tarik Stress vs Strain Material Baja




15


 Batas elastis σE (elastic limit). Pada Gambar 2.2,

batas elastis dinyatakan dengan titik A. Bila sebuah
bahan diberi beban sampai pada titik A, kemudian

bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan

kembali ke kondisi semula (tepatnya hampir kembali
ke kondisi semula) yaitu regangan “nol” pada titik O.

Tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik A,
hukum Hooke tidak lagi berlaku dan terdapat

perubahan permanen dari bahan. Terdapat konvensi
batas regangan permamen (permanent strain)

sehingga masih disebut perubahan elastis yaitu

kurang dari 0.02%, tetapi sebagian referensi
menyebutkan 0.005% . Tidak ada standarisasi yang

universal mengenai nilai ini.

 Batas proporsional σp (proportional limit). Pada batas
ini titik sampai di mana penerapan hukum Hooke

masih bisa ditolerir. Tidak ada standarisasi tentang
nilai ini.

 Deformasi plastis (plastic deformation) yaitu
perubahan bentuk yang tidak kembali ke keadaan

semula. Pada gambar 2.2 yaitu bila bahan ditarik

sampai melewati batas proporsional dan mencapai
daerah landing.






16


 Tegangan luluh atas σuy (upper yield stress).

Tegangan luluh atas adalah tegangan maksimum
sebelum bahan memasuki fase daerah landing

peralihan deformasi elastis ke plastis.

 Tegangan luluh bawah σly (lower yield stress) yaitu
tegangan rata-rata daerah landing sebelum benar-

benar memasuki fase deformasi plastis. Bila hanya
disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka yang

dimaksud adalah tegangan ini.

 Regangan luluh εy (yield strain) yaitu regangan
permanen saat bahan akan memasuki fase deformasi

plastis.
 Regangan elastis εe (elastic strain) yaitu regangan

yang diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat

beban dilepaskan regangan ini akan kembali ke posisi
semula.

 Regangan plastis εp (plastic strain) yaitu regangan

yang diakibatkan perubahan plastis. Pada saat beban
dilepaskan regangan ini tetap tinggal sebagai

perubahan permanen bahan.
 Regangan total (total strain) merupakan gabungan

regangan plastis dan regangan elastis, εT = εe + εp.

Pada titik B arah OABE, regangan yang ada adalah
regangan total. Ketika beban dilepaskan, posisi



17


regangan ada pada titik E dan besar regangan yang

tinggal (OE) adalah regangan plastis.
 Tegangan tarik maksimum (UTS, ultimate tensile

strength)ditunjukkan dengan titik C (σß), merupakan

besar tegangan maksimum yang didapatkan dalam uji
tarik.

 Kekuatan patah (breaking strength) ditunjukkan
dengan titik D, merupakan besar tegangan divmana

bahan yang diuji putus atau patah.


2.3 Pengaruh Unsur Panduan Terhadap Sifat Mekanis

Baja
Baja yang hanya mengandung unsur karbon tidak akan

memiliki sifat seperti yang diinginkan. Penambahan unsur-

unsur paduan lain seperti Si, Mn, Ni, Cr, V, W dan lain
sebagainya dapat menghasilkan sifat-sifat baja yang

diinginkan. Pengaruh penambahan beberapa unsur paduan
terhadap sifat baja adalah:

1. Silikon (Si). Unsur silikon mempunyai pengaruh
menaikkan tegangan tarik dan menurunkan kecepatan

pendinginan kritis (laju pendinginan minimal yang

dapat menghasilkan 100% martensit).
2. Mangan (Mn). Unsur mangan dalam proses

pembuatan baja berfungsi sebagai deoxider (pengikat



18


O2) sehingga proses peleburan dapat berlangsung baik.

Kadar Mn yang rendah dapat menurunkan pendinginan
kritis.

3. Nikel (Ni). Unsur nikel memberikan pengaruh sama
dengan Mn yaitu menurunkan suhu kritis dan

kecepatan kritis. Ni membuat struktur butiran manjadi

halus dan menambah keuletan.
4. Khrom (Cr). Unsur krom meningkatkan kekuatan tarik

dan keplastisan, menambah mampu keras,
meningkatkan daya tahan terhadap korosi dan tahan

suhu tinggi.

5. Vanadium (V) dan Wolfram (W). Unsur vanadium dan
wolfram membentuk karbida yang sangat keras dan

menyebabkan baja memiliki kekerasan yang tinggi.
Kekerasan dan tahan panas yang cukup tinggi pada

baja sangat diperlukan untuk mesin pemotong dengan
kecepatan tinggi.



2.4 Diagram Fasa Fe-Fe3C
Dalam mempelajari proses perlakuan panas sangat

penting untuk memahami terlebih dahulu diagram fasa Fe-
Fe3C. Diagram kesetimbangan fasa Fe-Fe3C adalah alat

penting untuk memahami struktur mikro dan sifat-sifat baja
karbon. Diagram ini ditunjukan pada Gambar 2.3.




19


Gambar 2.3. Diagram Fasa Fe-Fe3C


Karbon larut di dalam besi dalam bentuk larutan padat

(solution) hingga 0,022% berat pada temperatur ruang. Baja
dengan atom karbon terlarut hingga jumlah tersebut memiliki

alpha ferrite pada temperatur ruang. Pada kadar karbon lebih
dari 0,022% akan terbentuk endapan karbon dalam bentuk

hard intermetallic stoichiometric compound (Fe3C) yang
dikenal sebagai cementite atau carbide. Selain larutan padat

alpha-ferrite yang dalam kesetimbangan dapat ditemukan

pada temperatur ruang, terdapat fase-fase penting lainnya,
yaitu delta-ferrite dan gamma-austenite. Logam Fe bersifat


20


polymorphism yaitu memiliki struktur kristal berbeda pada

temperatur berbeda. Pada Fe murni, misalnya, alpha-ferrite
akan berubah menjadi gamma-austenite saat dipanaskan

melewati temperature 912°C. Pada temperatur yang lebih
o
tinggi, mendekati 1400 C gamma-austenite akan kembali
berubah menjadi delta-ferrite. Alpha dan Delta Ferrite dalam

hal ini
memiliki struktur kristal BCC sedangkan (Gamma) Austenite

memiliki struktur kristal FCC.


2.5 Struktur Kristal

Kristal logam adalah susunan atom yang teratur
dimana keteraturannya akan membentuk pola 3 dimensi.

Bentuk pola 3 dimensi tersebut dapat diilustrasikan
memenuhi sumbu x, y dan z membentuk sistem tertentu

(kristalografi). Di alam terdapat 7 macam sistem kristal dan
14 kisi kristal sebagai berikut (Gambar 2.4) :






















21


Gambar 2.4. Sistem dan Kisi Kristal


Posisi atau lokasi atom-atom di dalam sistem kristal
membentuk struktur kristal, di mana struktur yang mayoritas

dimiliki oleh baja adalah Face Centered Cubic (FCC), Body

Centered Cubic (BCC) dan Closed Packed Hexagonal
(CPH) seperti ditunjukan pada Gambar 2.5 sampai dengan

2.7











22


Gambar 2.5 Struktur Kristal Face Centered Cubic














Gambar 2.6. Struktur Kristal Body Centered Cubic




















Gambar 2.7. Struktur Kristal Closed Packed Hexagonal



23


Pentingnya memahami struktur kristal ini adalah ada

hubungannya dengan sifat mekanis yang dimiliki oleh fasa-
fasa baja yang terdapat pada diagram Fe-Fe3C. Logam

dengan struktur kristal yang memiliki kerapatan atom yang
tinggi (FCC = 0,74) mempunyai kekerasan dan kekuatan

yang lebih rendah daripada logam dengan struktur kristal

yang memiliki kerapatan atom yang rendah (BCC dan CPH
= 0,68).


2.6 Ferrite

Ferrite adalah fase larutan padat yang memiliki

struktur BCC (body centered cubic). Ferrite dalam keadaan
setimbang dapat ditemukan pada temperatur ruang, yaitu

alpha-ferrite atau pada temperatur tinggi, yaitu delta-ferrite.
Secara umum fase ini bersifat lunak (soft), ulet (ductile), dan

magnetik (magnetic) hingga temperatur tertentu, yaitu Tcurie.
Kelarutan karbon di dalam fase ini relatif lebih kecil

dibandingkan dengan kelarutan karbon di dalam fase larutan

padat lain di dalam baja, yaitu fase Austenite. Pada
temperatur ruang, kelarutan karbon di dalam alpha-ferrite

hanyalah sekitar 0,022%. Berbagai jenis baja dan besi tuang
dibuat dengan mengeksploitasi sifat-sifat ferrite. Baja

lembaran berkadar karbon rendah dengan fase tunggal ferrite
misalnya, banyak diproduksi untuk proses pembentukan




24


logam lembaran. Dewasa ini bahkan telah dikembangkan

baja berkadar karbon ultra rendah untuk karakteristik mampu
bentuk yang lebih baik. Kenaikan kadar karbon secara umum

akan meningkatkan sifat mekanik ferrite sebagaimana telah
dibahas sebelumnya. Untuk paduan baja dengan fase tunggal

ferrite, faktor lain yang berpengaruh signifikan terhadap

sifat-sifat mekanik adalah ukuran butir. Tampilan morfologi
ferrite ditunjukan pada Gambar 2.8.


























Gambar 2.8. Struktur Mikro Ferrite (Ferit)


2.7 Pearlite

Pearlite adalah suatu campuran lamellar dari ferrite

dan cementite. Konstituen ini terbentuk dari dekomposisi
Austenite melalui reaksi eutectoid pada keadaan setimbang,


25


di mana lapisan ferrite dan cementite terbentuk secara

bergantian untuk menjaga keadaan kesetimbangan komposisi
eutectoid. Pearlite memiliki struktur yang lebih keras

daripada ferrite, yang terutama disebabkan oleh adanya fase
cementite atau carbide dalam bentuk lamel-lamel. Tampilan

morfologi pearlite ditunjukan pada Gambar 2.9.


























Gambar 2.9. Struktur Mikro Pearlite


2.8 Austenite

Fase Austenite memiliki struktur atom FCC (Face
Centered Cubic). Dalam keadaan setimbang fase Austenite

ditemukan pada temperatur tinggi. Fase ini bersifat non

magnetik dan ulet (ductile) pada temperatur tinggi. Kelarutan
atom karbon di dalam larutan padat Austenite lebih besar jika


26


dibandingkan dengan kelarutan atom karbon pada fase

Ferrite. Secara geometri, dapat dihitung perbandingan
besarnya ruang intertisi di dalam fase Austenite (atau kristal

FCC) dan fase Ferrite (atau kristal BCC). Perbedaan ini
dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena transformasi

fase pada saat pendinginan Austenite yang berlangsung

secara cepat. Selain pada temperatur tinggi, Austenite pada
sistem Ferrous dapat pula direkayasa agar stabil pada

temperatur ruang. Elemen-elemen seperti Mangan dan
Nickel misalnya dapat menurunkan laju transformasi dari

gamma-austenite menjadi alpha-ferrite. Dalam jumlah

tertentu elemen-elemen tersebut akan menyebabkan
Austenite stabil pada temperature ruang. Daerah temperatur

di mana austenite berada merupakan acuan untuk penetapan
temperatur perlakukan panas baja, sehingga temperatur

perlakuan panas baja disebut dengan temperature autenisasi.
Besarnya temperatur austenisasi untuk baja dapat dilihat

pada diagram fasa Fe-Fe3C. Tampilan morfologi austenite

ditunjukan pada Gambar 2.10.
















27


Gambar 2.10. Struktur Mikro Austenite


2.9 Cementite

Cementite atau carbide dalam sistem paduan berbasis

besi adalah stoichiometric inter-metallic compund Fe3C
yang keras (hard) dan getas (brittle). Nama cementite berasal

dari kata caementum yang berarti stone chip atau lempengan
batu. Cementite sebenarnya dapat terurai menjadi bentuk

yang lebih stabil yaitu Fe dan C sehingga sering disebut
sebagai fase metastabil. Namun, untuk keperluan praktis,

fase ini dapat dianggap sebagai fase stabil. Cementite sangat

penting perannya di dalam membentuk sifat-sifat mekanik
akhir baja. Cementite dapat berada di dalam sistem besi baja

dalam berbagai bentuk seperti: bentuk bola (sphere), bentuk
lembaran (berselang seling dengan alpha-ferrite), atau

partikel-partikel carbide kecil. Bentuk, ukuran, dan distribusi
karbon dapat direkayasa melalui siklus pemanasan dan




28


pendinginan. Jarak rata-rata antar karbida, dikenal sebagai

lintasan Ferrite rata-rata (Ferrite Mean Path), adalah
parameter penting yang dapat menjelaskan variasi sifat-sifat

besi baja. Variasi sifat luluh baja diketahui berbanding lurus
dengan logaritmik lintasan ferrite rata-rata. Tampilan

morfologi cementite ditunjukan pada Gambar 2.11.















Gambar 2.11. Struktur Mikro Cementite


2.10 Martensite

Martensite adalah mikro konstituen yang terbentuk
tanpa melalui proses difusi. Konstituen ini terbentuk saat

Austenite didinginkan secara sangat cepat, misalnya melalui
proses quenching pada medium air. Transformasi

berlangsung pada kecepatan sangat cepat, mendekati orde
kecepatan suara, sehingga tidak memungkinkan terjadi

proses difusi karbon. Transformasi martensite

diklasifikasikan sebagai proses transformasi tanpa difusi
yang tidak tergantung waktu (diffusionless time-independent




29


transformation). Martensite yang terbentuk berbentuk seperti

jarum yang bersifat sangat keras (hard) dan getas (brittle).
Fase martensite adalah fase metastabil yang akan

membentuk fase yang lebih stabil apabila diberikan
perlakuan panas. Martensite yang keras dan getas diduga

terjadi karena proses transformasi secara mekanik (geser)

akibat adanya atom karbon yang terperangkap pada struktur
kristal pada saat terjadi transformasi polimorf dari FCC ke

BCC. Hal ini dapat dipahami dengan membandingkan batas
kelarutan atom karbon di dalam FCC dan BCC serta ruang

intertisi maksimum pada kedua struktur kristal tersebut.

Tampilan struktur mikro martensite ditunjukan pada Gambar
2.12.



















Gambar 2.12. Struktur Mikro Martensite







30


2.11 Bainite

Bainite adalah struktur ferrite dan cementite yang
berbentuk lidi atau plat tergantung pada temperatur

transformasinya. Struktur ini sangat halus sehingga
resolusinya hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron.

Temperatur pembentukan bainite terjadi di bawah temperatur
o
pembentukan pearlite yaitu di antara temperatur 215 C –
o
540 C. Laju pembentukan bainite akan naik dengan naiknya
temperatur. Bainite terdiri dari ferrite lancip (seperti jarum)
dengan partikel cementite sangat kecil yang tersebar di

seluruh ferrite. Bainite bertransformasi menjadi iron dan

cementite dengan waktu dan temperatur yang memadai (semi
o
stable di bawah 150 C). Tampilan morfologi bainite
ditunjukan pada Gambar 2.13.














Gambar 2.13. Struktur Mikro Bainite








31


2.12 Diagram Time Temperatur Transformation (TTT)

Dalam melakukan proses perlakuan panas baja guna
memperbaiki sifat mekanis baja , disamping membutuhkan

diagram fasa Fe-Fe3C untuk mengetahui temperatur
pemanasan, dibutuhkan juga diagram Time Temperature

Transformation (TTT) guna mengetahui struktur mikro / fasa

yang terbentuk dari hasil perlakuan panas berdasarkan
variasi laju pendinginannya.

Diagram TTT merupakan diagram yang
menggambarkan hubungan antara fasa atau struktur yang

terbentuk setelah terjadinya transformasi fasa akibat

perubahan temperatur dan waktu. Diagram TTT ini biasa
disebut juga dengan isothermal transformation diagram atau

IT diagram. Isothermal menunjukkan temperatur yang tetap.
Jadi perubahan fasa terjadi pada temperatur yang konstan.

Dalam kenyataannya proses-proses perlakuan panas baja
dilakukan dengan laju pendinginan yang kontinyu. Oleh

karenanya diagram TTT sering menjadi tidak relevan untuk

mengetahui kecepatan transformasi awal dan akhir. Selain itu
temperatur pembentukan struktur baru tidak sesuai dengan

keadaan yang sebenarnya. Kekurangan tersebut dapat
dieliminasi dengan diagram yang disebut dengan Continuous

Cooling Transformation (CCT) diagram.






32


Diagram TTT digunakan untuk membantu perencanaan

siklus perlakuan panas baja, memprediksi kekerasan dan
struktur mikro baja dan digunakan untuk memperoleh

spesifikasi atau sifat-sifat mekanis baja yang diinginkan.
Bentuk diagram TTT sangat tergantung pada % unsur-unsur

pembentuk baja. Salah satu contoh pemanfaatan diagram

TTT dijelaskan pada Gambar 2.14.





































Gambar 2.14. Diagram TTT untuk Baja dengan % Karbon
Tertentu



33


Dari Gambar 2.14 diketahui bahwa pada temperatur di atasu

o
garis Ae1 (723 C) fasa austenite dalam keadaan stabil.
Daerah sebelah kiri kurva mulai terjadi transformasi (A)

terdiri dari fasa austenite yang tidak stabil. Daerah sebelah
kanan, akhir transformasi (B) adalah daerah hasil

transformasi austenite pada temperatur tetap (isothermal).

Daerah antara kurva mulai sampai kurva akhir transformasi
(C) terdiri dari 3 fasa yaitu austenite, ferrite dan carbide atau

austenite + fasa (struktur) produk yang sedang
bertransformasi. Titik jauh dari kurva mulai transformasi

disebut “hidung” diagram. Garis Ms menunjukkan

temperatur awal terjadinya transformasi austenite menjadi
martensite. Garis Mf merupakan temperatur akhir

transformasi austenite menjadi martensite. Hasil transformasi
di atas hidung diagram adalah pearlite. Struktur pearlite

merupakan struktur lamellar yaitu lapisan ferrite dan
cementite saling bergantian atau selang seling. Sedikti di

bawah temperatur Ae1 terbentuk pearlite kasar dan di bawah

temperatur pearlite kasar, austenite bertransformasi menjadi
pearlite halus. Cara menggunakan diagram ini adalah dengan

memplot garis pendinginan yang didisain pada diagram TTT.
Setelah itu dilakukan pengamatan terhadap garis pendinginan

yang diplot, garis tersebut berada pada daerah struktur mikro
yang mana. Ada kalanya 1 garis pendinginan menghasilkan




34


lebih dari 1 fasa atau struktur mikro seperti ditunjukkan pada

Gambar 2.15.




























Gambar 2.15. Plot Garis Pendinginan pada Diagram TTT Baja
pada % Karbon Tertentu


Gambar 2.15 menunjukkan hubungan antara struktur mikro

yang terbentuk dengan garis pendinginan yang didisain
sebagai berikut :

1. Garis pendinginan (a) menghasilkan struktur mikro
ferrite dan pearlite

2. Garis pendinginan (b) menghasilkan struktur mikro

ferrite, pearlite, martensite dan bainite
3. Garis pendinginan ( c) menghasilkan struktur mikro

martensite

35


[Halaman Ini Sengaja Dikosongkan]

36


BAB 3
TEORI DASAR PERLAKUAN PANAS


3.1 Pengertian Perlakuan Panas Baja
Perlakuan panas pada baja adalah proses pemanasan,

penahanan temperatur dan pendinginan material baja yang
terkontrol dengan maksud untuk mengubah sifat mekanis

untuk tujuan tertentu. Perubahan sifat tersebut terjadi karena
ada perubahan struktur mikro selama proses pemanasan dan

pendinginan dimana sifat logam ataupaduan sangat

dipengaruhi oleh struktur mikro. Secara umum tahapan
proses perlakuan panas adalah sebagai berikut:

1. Pemanasan material sampai suhu tertentu dengan

kecepatan tertentu pula. Temperatur awal perlakuan
panas diketahui dari diagram fasa Fe-Fe3C pada %

karbon tertentu yang dikandung oleh baja yaitu pada
daerah fasa austenite sehingga temperatur tersebut

dinamakan dengan temperatur austenisasi.
2. Mempertahankan suhu untuk waktu tertentu sehingga

temperaturnya merata. Tahap ini disebut dengan

holding time.
3. Pendinginan dengan media pendingin (air, oli, udara

atau di dalam dapur pemanas) sampai mencapai
temperature kamar.





37


Besaran waktu, temperatur dan media pendingin dari 3

indikator di atas tergantung dari material yang akan di heat
treatment dan sifat-sifat mekanis yang diharapkan.

Berdasarkan 3 indikator tersebut, siklus perlakuan panas
untuk baja ditunjukkan pada Gambar 3.1.





















Gambar 3.1. Siklus Panas Perlakuan Panas Baja


Bentuk dari siklus panas dipengaruhi oleh jenis benda kerja,

komposisi kimia, dimensi dan sifat akhir yang diinginkan.
Misalnya % komposisi kimia terutama C akan

mempengaruhi temperatur pemanasan (diketahui dari

diagram fasa Fe-Fe3C), dimensi benda kerja akan
mempengaruhi waktu penahanan pada temperature konstan

(holding time), sifat akhir yang diinginkan dipengaruhi oleh
laju pendinginan yang didisain. Khusus untuk penentuan





38


Click to View FlipBook Version