The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ukipress, 2023-02-02 01:31:57

METODE PERLAKUAN PANAS SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MANUFAKTUR BERBASIS BAHAN DASAR BESI BAJA

temperatur yang relatif rendah. Garam – garam tersebut

dapat digunakan
o
pada rentang temperatur 150 – 500 C. Pada temperatur di
o
atas 500 C dapat menyebabkan oksidasi yang kuat dan
menyebabkan pitting pada permukaan baja, disamping dapat

menimbulkan ledakan. Karena itu perlu diperhatikan agar

temperatur kerja dari garam tidak dilampaui. Seperti yang
diperlihatkan pada tabel garam – garam untuk proses quench

pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Jenis-jenis Garam untuk Proses Quench

































89


[Halaman Ini Sengaja Dikosongkan]




90


BAB 5
PEMECAHAN MASALAH PADA INDUSTRI
MANUFAKTUR
BERBASIS PERLAKUAN PANAS


Salah satu penentu kemajuan bangsa adalah
penguasaan teknologi yang dimiliki oleh sumber dayanya. Di

antara banyak industri yang berperan mempunyai kontribusi
terhadap perekonomian bangsa khususnya di Indonesia

adalah industri manufaktur. Industri
manufaktur berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi

Indonesia sebesar 7,07% di kuartal kedua 2021, dengan

pertumbuhan 6,91% meski ada tekanan dari pandemi
COVID-19. Sedangkan di kuartal ketiga 2021, industri

manufaktur tumbuh 3,68% dan menyumbang 0,75%

terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia (bkpm, 2021).
Ketangguhan ini membuktikan bahwa arah pertumbuhan

sektor industri masih sesuai rencana, dan diharapkan dapat
menjadi penggerak ekonomi nasional dengan target

kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 20%
pada 2024.

Permasalahan yang dihadapi oleh industri manufaktur

adalah penguasaan teknologi yang tepat khususnya
pemilihan teknologi perlakuan panas pada industri

manufaktur berbasis bahan dasar logam besi baja. Beberapa



91


permasalahan yang bisa diidentifikasi terkait industri

manufaktur berbasis bahan dasar besi baja antara lain : umur
pakai komponen yang singkat dan komponen tidak berfungsi

sebagaimana mestinya karena tidak terpenuhinya sifat
mekanis yang dibutuhkan. Untuk dapat memberikan

improvement atau solusi pemecahan masalah harus ditinjau

dari beberapa sudut pandang yaitu :
1. Fungsi komponen sebagaimana mestinya. Harus

diketahui fungsi dari komponen misalnya harus
meneruskan gaya-gaya tertentu, mengalirkan fluida,

mengalami gesekan dll sehingga harus ada pemantauan

pengoperasian komponen agar tidak terjadi kegagalan
yang fatal. Kegagalan karena faktor ini pun bisa terjadi

karena kesalahan dalam pemasangan/instalasi
komponen.

2. Komposisi kimia dan sifat mekanis (awal) baja
penyusun komponen. Komposisi kimia dan sifat

mekanis awal sangat penting diketahui guna

mengidentifikasi baja yang digunakan dan melihat
apakah sesuai untuk diimplementasikan sesuai

kebutuhan. Jika ada ketidaksesuaian, maka akan
mengarah kepada kegagalan pemilihan bahan.

3. Sifat mekanis baja yang harus dipenuhi setelah
dibentuk menjadi komponen. Perlu diketahui sifat-sifat




92


mekanis apa saja yang diperlukan untuk memenuhi

fungsi dari komponen.
4. Pembebanan yang dialami oleh komponen. Perlu

diketahui gaya-gaya apa saja yang nantinya akan
diimplementasikan kepada komponen. Hal ini penting

untuk melakukan pemilihan jenis teknologi yang tepat

khususnya jenis perlakuan panas yang tepat agar dapat
memenuhi sifat-sifat mekanis yang diperlukan.

5. Lingkungan di mana komponen tersebut berada,
apakah dalam lingkungan korosif atau netral. Jika

komponen bekerja di daerah korosif harus ada

pemilihan material yang tepat di awal perancangan.
6. Teknologi manufaktur yang diimplementasikan untuk

membentuk komponen. Jika salah memilih teknologi
yang tepat maka akan mengarah kepada kegagalan

disain dan konstruksi. Kadang-kadang kegagalan
fungsi komponen atau pendeknya life time komponen

disebabkan karena salah pemilihan teknologi

pembentukan yang diimplementasikan kepada baja
untuk dibentuk menjadi komponen tertentu.

Seharusnya teknologi yang harus dipilih adalah
forging, tetapi yang diterapkan adalah casting. Hal ini

akan mempengaruhi sifat mekanis akhir yang diperoleh
komponen, misalnya komponen akan mudah patah atau




93


timbul retak-retak halus yang akan menjalar yang

akhirnya akan terjadi perpatahan komponen secara
gradual.

7. Perawatan komponen yang memadai dan rutin.
8. Sumber daya yang mengoperasikan komponen.

Operator harus menguasai cara pengoperasian

komponen, jika ada kesalahan dalam mengoperasikan
komponen akan mengarah kepada kegagalan fatal yang

diawali dengan tidak berfungsinya komponen sampai
dengan kerusakan fatal yang berdampak pada umur

pakai yang lebih singkat.

Untuk membahas dan menganalisa kegagalan diperlukan
teori dan dasar ilmu yang komprehensif dan terintegrasi

dengan bidang ilmu lainnya. Akan tetapi dalam kasus
penanganan masalah yang dapat diatasi dengan pemilihan

jenis perlakuan panas yang tepat, hanya ditinjau dari
beberapa faktor saja di antara ke delapan faktor di atas yaitu :

1. Tinjauan terhadap sifat mekanis yang dibutuhkan oleh

komponen
2. Tinjauan terhadap komposisi kimia awal dan sifat

mekanis dari baja pembentuk komponen
3. Pembebanan yang diimplementasikan kepada

komponen






94


4. Tinjauan terhadap faktor-faktor lain diasumsikan sudah

tepat
Langkah berikutnya lakukan analisa terhadap 3 faktor di atas

sebagai berikut :
1. Identifikasi sifat-sifat mekanis yang dibutuhkan

komponen selama pengoperasian. Hal ini penting

untuk mengetahui jenis perlakuan panas yang tepat
agar menghasilkan sifat mekanis yang dibutuhkan.

2. Identifikasi sifat mekanis awal dari baja pembentuk
komponen. Hal ini penting untuk mengetahui sejauh

mana lompatan sifat mekanis yang harus dicapai untuk

memenuhi kebutuhan pengoperasian komponen. Jika
lompatannya sangat jauh misalnya membutuhkan

kekerasan yang sangat tinggi, maka perlu diterapkan
proses hardening dengan pendinginan yang sangat

cepat yang diiringi dengan proses temper guna
mengurangi kegetasan.

3. Identifikasi komposisi kimia baja untuk mengetahui

temperatur perlakuan panas (temperatur austenisasi)
menggunakan diagram fasa Fe-Fe3C. Identifikasi ini

diperlukan juga untuk mengetahui diagram TTT yang
akan digunakan guna memperoleh prediksi struktur

mikro dari hasil proses perlakuan panas yang dipilih.






95


4. Langkah terakhir adalah melakukan uji sifat mekanis.

Lakukan metode pengujian yang dapat mengcover
beberapa sifat mekanis yaitu pengujian tarik. Dengan

pengujian tarik, dapat diketahui kekuatan tarik,
keuletan, ketangguhan dan kekerasan yang dapat

diprediksi dari nilai kekuatan tarik (menggunakan

conversion chart hardness testing)
Contoh kasus yang kerap kali ditemukan pada beberapa

industri manufaktur adalah kerusakan/perpatahan komponen
karena tidak tercapainya sifat mekanis yang diharapkan yaitu

ketangguhan komponen yang sangat rendah sehingga

cenderung getas. Untuk mengatasi hal tersebut, langkah-
langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:

komposisi kimia baja diketahui mengandung 0,76 – 0,8 % C
2
dengan karakteristik kekuatannya hanya 335 N/mm
2
sedangkan yang diperlukan adalah 628 N/mm . Capaian ini
merupakan lompatan yang sangat jauh sehingga diperlukan

jenis perlakuan panas hardening dengan laju pendinginan

yang tinggi. Dari komposisi kimia awal yang diketahui dapat
ditetapkan temperatur austenisasi adalah di atas temperatur

A3 pada diagram fasa Fe-Fe3C. Ada beberapa alternatif
pemilihan perlakuan panas yaitu :

0
1. Temperatur perlakuan panas yang dipilih adalah 760 C
o
(30 C di atas A3), kemudian dilakukan pendinginan



96


o
4
cepat sampai temperatur 350 C, ditahan selama 10
detik setelah itu dicelup dengan media air sampai
temperatur kamar. Proses ini ditunjukkan pada Gambar

5.1 menggunankan diagram TTT untuk baja dengan
0,76 – 0,8% C (sesuai dengan komposisi awal baja

pembentuk komponen)









































Gambar 5.1. Alternatif 1 Pemilihan Metode Perlakuan Panas





97


o
Pada 350 C austenite secara isothermal akan
bertransformasi menjadi bainite, reaksi ini dimulai
setelah kira-kira 10 detik dan berlangsung sampai 500

detik. Oleh karena itu setelah 104 detik, struktur yang
dihasilkan 100% bainite dan tidak terjadi tranformasi

yang lain meskipun pendinginan akhir melewati

daerah martensite.
0
2. Temperatur perlakuan panas yang dipilih adalah 760 C
o
(30 C di atas A3), kemudian dilakukan pendinginan
o
cepat sampai temperatur 250 C, ditahan selama 100
detik setelah itu dicelup dengan media air sampai

temperatur kamar. Proses ini ditunjukkan pada Gambar
5.2 menggunankan diagram TTT untuk baja dengan

0,76 – 0,8% C (sesuai dengan komposisi awal baja
pembentuk komponen)



























98


Gambar 5.2. Alternatif 2 Pemilihan Metode Perlakuan Panas

Pada alternatif ini diperlukan waktu 150 detik pada

o
250 C untuk mulai bertransformasi menjadi bainite,
sehingga selama waktu 100 detik, baja masih dalam
keadaan 100% austenite. Ketika baja didinginkan

o
melewati daerah martensite, dimulai pada 215 C,
secara progresif austenite berubah menjadi marteniste.
Reaksi ini selesai ketika temperatur ruang tercapai,

sehingga struktur mikro tercapai 100% martensite.



99


Untuk alternatif 2 ini masih diperlukan proses

martemper untuk mengurangi kegetasan martensite
dengan memanaskan kembali pada temperatur sedikit

o
2
di atas temperatur Ms (250 C) ditahan selama 10 detik
setelah itu didinginkan di udara terbuka. Struktur akhir
yang diperoleh adalah martensite temper.
0
3. Temperatur perlakuan panas yang dipilih adalah 760 C
o
(30 C di atas A3), kemudian dilakukan pendinginan
o
cepat sampai temperatur 650 C, ditahan selama 20
detik , didinginkan kembali secara cepat sampai

o
3
temperatur 400 C, ditahan selama 10 detik , kemudian
dicelup dalam media air sampai mencapai temperatur
kamar. Proses ini ditunjukkan pada Gambar 5.3

menggunankan diagram TTT untuk baja dengan 0,76 –
0,8% C (sesuai dengan komposisi awal baja

pembentuk komponen).
























100


Gambar 5.3. Alternatif 3 Pemilihan Metode Perlakuan Panas


o
Untuk garis isothermal pada 650 C, pearlite mulai
terbentuk setelah kira-kira 7 detik. Pada saat waktu

penahanan sampai 20 detik, terbentuk kira-kira 50%
pearlite. Pendinginan cepat sampai temperature

o
400 C ditunjukkan oleh garis vertikal. Selama
pendinginan ini sangat sedikit austenite sisa, jika ada
pun austenite sisa akan bertransformasi ke pearlite

o
atau bainite. Pada 400 C, waktu dimulai dari 0


101


3
kembali sehingga dengan waktu penahanan 10 detik,
50% austenite sisa yang ada akan berubah menjadi
bainite. Pada pendinginan secara cepat sampai

temperatur kamar tidak lagi terjadi perubahan fasa
karena tidak ada lagi austenite sisa, sehingga struktur

mikro baja pada temperatur ruang adalah 50%

pearlite dan 50% bainite.






























102


BAB 6
KESIMPULAN


Dari uraian teori dasar proses perlakuan panas sampai
dengan contoh kasus yang terjadi di industri manufaktur

berbasis bahan dasar baja dan solusi pemecahannya, dapat
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Sangat dibutuhkan pemahaman yang terintegrasi dari
beberapa bidang keilmuan perlakuan panas seperti

teori dasar tentang struktur kristal logam, diagram fasa

Fe-Fe3C, diagram TTT, mekanisme dan metode
perlakuan panas dan karakteristik mekanis baja serta

pengujian sifat mekanis.

2. Diperlukan analisa kegagalan yang detail untuk
mengetahui penyebab kegagalan. Jika faktor-faktor

yang dipertimbangkan untuk analisa kegagalan sangat
banyak, tentukan beberapa faktor yang dominan dan

penting saja sedangkan faktor-faktor lain diasumsikan
memenuhi syarat.

3. Diperlukan pembahasan khusus tentang cara

menganalisa kegagalan komponen yang akan dibahas
tersendiri di luar buku ini

4. Untuk penyelesaian kasus di industri, tentukan
beberapa alternatif yang dapat direkomendasikan ke

industri. Pemilihan akhir diputuskan oleh industri


103


berdasarkan cost yang harus dikeluarkan berbasis

perhitungan ekonomi dari pihak industri.






































104


DAFTAR PUSTAKA


1. Anrinal, 2013, Metalurgi Fisik, Penerbit CV Andi

Offset, Yogyakarta
2. Callister, Jr. Willian D, 2020, Materials Scence and

th
Engineering An Introduction , 8 edition, Utah, John
Wiley & Sons, inc
3. George E. Dieter, 1988, Mechanical Metallurgy, SI

Metric Editon, Marylan USA, McGraw-Hill Book
Company UK Limited.

4. Betzalel Avitzur, 1983, Handbook of Metal Forming

Process, John Wiley & Sons Inc, New York
5. Lange, K, 1985, Handbook of Metal Forming, Mc

Graw Hill, New Jersey
6. Hosford, W.F, 1993, Metal Forming, Mechanics &

Metallurgy, second edition, Printice Hill Inc, New
Jersey

7. Backofen, W.A, 1972, Deformation Processing,

Addison Willey
















105


UKI PRESS
Pusat Penerbit dan Pencetakan
Universitas Kristen Indonesia
Jl.Mayjen Sutoyo No. 02 Cawang
Jakarta Timur 13630


Click to View FlipBook Version