143
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.17. Saluran dengan bangunan pengatur dan sadap ke saluran sekunder
Di saluran-saluran sekunder dimana kehilangan tinggi energi tidak merupakan
hambatan, bangunan pengatur dapat direncana tanpa menggunakan pertimbangan-
pertimbangan di atas. Satu aspek penting dalam perencanaan bangunan adalah
kepekaannya terhadap variasi muka air. Gambar 3.18. memberikan ilustrasi mengenai
perubahan– perubahan debit dari variasi muka air untuk pintu – pintu tipe aliran atas dan
aliran bawah. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa alat ukur aliran atas lebih peka
terhadap fluktuasi muka air dibanding dengan pintu aliran bawah.
Kadang – kadang lebih menguntungkan dengan menggabung beberapa tipe
bangunan utama : mercu tetap dengan pintu aliran bawah atau skot balok dengan pintu.
Kombinasi ini terutama antara bangunan yang mudah dioperasikan dengan tipe yang tak
mudah atau sulit dioperasikan . Oleh sebab itu, mercu tetap kadang – kadang dikombinasi
dengan salah satu dari bangunan – bangunan pengatur lainnya, misalnya sebuah pintu
dapat dipasang di
sebelah mercu tetap.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
144
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.18. Perubahan debit dengan variasi muka air untuk pintu aliran atas dan aliran
bawah.
Tetapi di saluran yang angkutan sedimennya tinggi, penggunaan bangunan dengan
mercu tidak disarankan karena bangunan – bangunan ini akan menangkap sedimen.
Lagipula, mercu memerlukan lebih banyak kehilangan tinggi energi. Khususnya bangunan
– bangunan yang dibuat di saluran yang tinggi energinya harus dijaga agar tetap kecil,
sebaiknya direncana tanpa mercu. Dengan demikian, sedimen bisa lewat tanpa hambatan
dan kehilangan tinggi energi minimal. Lebar bangunan pengatur berkaitan dengan
kehilangan tinggi energi yang diizinkan serta biaya pelaksanaan : bangunan yang lebar
menyebabkan sedikit kehilangan tinggi energy dibanding bangunan yang sempit, tetapi
bangunan yang lebar lebih mahal (diperlukan lebih banyak pintu). Untuk saluran primer
garis tinggi, kehilangan tinggi energi harus tetap kecil : 5 sampai 10 cm. Akibatnya
bangunan pengatur di saluran primer lebar. Saluran sekunder biasanya tegak lurus terhadap
garis – garis kontur dan oleh sebab itu, kehilangan tinggi energi lebih besar dan bangunan
pengaturnya lebih sempit. Guna mengurangi kehilangan tinggi energi dan sekaligus
mencegah penggerusan, disarankan untuk membatasi kecepatan di bangunan pengatur
sampai kurang lebih 1,5 m/dt.
Dalam merencanakan bangunan pengatur, kita hendaknya selalu menyadari
kemungkinan terjadinya keadaan darurat seperti debit penuh sementara pintu – pintu
tertutup. Bangunan sebaiknya dilindungi dari bahaya seperti itu dengan pelimpah samping
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
145
di saluran hulu atau kapasitas yang memadai di atas pintu atau alat ukur tambahan dengan
mercu setinggi debit rencana maksimum (lihat Gambar 3.19. dan 3.20).
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
146
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.19. Saluran sekunder dengan bangunan pengatur dan sadap ke berbagai arah
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.20. Bangunan pengatur : pintu aliran bawah dengan mercu tetap
Lebar pintu didesain sedemikian sehingga pada waktu pintu dibuka penuh, mercu
samping belum mempunyai pengaruh terhadap pembendungan positif pada debit air
sebesar 85% kali debit rencana maksimum (Q85 %).
3.3.2. Bangunan Sadap
A. Bangunan Sadap Sekunder
Bangunan sadap sekunder akan memberi air ke saluran sekunder dan oleh sebab
itu, melayani lebih dari satu petak tersier. Kapasitas bangunan – bangunan sadap ini secara
umum lebih besar daripada 0,250 m3/dt. Ada empat tipe bangunan yang dapat dipakai
untuk bangunan sadap sekunder, yakni :
- Alat ukur Romijn
- Alat ukur Crump-de Gruyter
- Pintu aliran bawah dengan alat ukur ambang lebar
- Pintu aliran bawah dengan alat ukur Flume
Tipe mana yang akan dipilih bergantung pada ukuran saluran sekunder yang akan
diberi air serta besarnya kehilangan tinggi energi yang diizinkan. Untuk kehilangan tinggi
energi kecil, alat ukur Romijn dipakai hingga debit sebesar 2 m3/dt ; dalam hal ini dua atau
tiga pintu Romijn dipasang bersebelahan. Untuk debit-debit yang lebih besar, harus dipilih
pintu sorong yang dilengkapi dengan alat ukur yang terpisah, yakni alat ukur ambang
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
147
lebar. Bila tersedia kehilangan tinggi energi yang memadai, maka alat ukur Crump-de
Gruyter merupakan bangunan yang bagus. Bangunan ini dapat direncana dengan pintu
tunggal atau banyak pintu dengan debit sampai sebesar 0,9 m3/dt setiap pintu.
B. Bangunan Sadap Tersier
Bangunan sadap tersier akan memberi air kepada petak-petak tersier. Kapasitas
bangunan sadap ini berkisar antara 50 l/dt sampai 250 l/dt Bangunan sadap yang paling
cocok adalah alat ukur Romijn, jika muka air hulu diatur dengan bangunan pengatur dan
jika kehilangan tinggi energi merupakan masalah. Bila kehilangan tinggi energi tidak
begitu menjadi masalah dan muka air banyak mengalami fluktuasi, maka dapat dipilih alat
ukur Crump-de Gruyter. Harga antara debit Qrnaks/Qmin untuk alat ukur Crump-de
Gruyter lebih kecil daripada harga antara debit untuk pintu Romijn.
Di saluran irigasi yang harus tetap rnemberikan air selama debit sangat rendah, alat
ukur Crump-de Gruyter lebih cocok karena elevasi pengambilannya lebih rendah daripada
elevasi pengambilan pintu Romijn. Sebagai aturan umum, pemakaian beberapa tipe
bangunan sadap tersier sekaligus di satu daerah irigasi tidak disarankan. Penggunaan satu
tipe bangunan akan lebih mempermudah pengoperasiannya. Untuk bangunan sadap tersier
yang mengambil air dari saluran primer yang besar, di mana pembuatan bangunan
pengatur akan sangat mahal dan muka air yang diperlukan di petak tersier rendah
dibanding elevasi air selama debit rendah disaluran, akan menguntungkan untuk memakai
bangunan sadap pipa sederhana dengan pintu sorong sebagai bangunan penutup. Debit
maksimum melalui pipa sebaiknya didasarkan pada muka air rencana di saluran primer
dan petak tersier. Hal ini berarti bahwa walaupun mungkin debit terbatas sekali, petak
tersier tetap bisa diairi bila tersedia air di saluran primer pada elevasi yang cukup tinggi
untuk mengairi petak tersebut.
C. Bangunan Bagi dan Sadap kombinasi Sistem Proporsional
Pada daerah irigasi yang letaknya cukup terpencil, masalah pengoperasian pintu
sadap bukan masalah yang sederhana, semakin sering jadwal pengoperasian semakin
sering juga pintu tidak dioperasikan. Artinya penjaga pintu sering tidak mengoperasikan
pintu sesuai jadwal yang seharusnya dilakukan. Menyadari keadaan seperti ini untuk
mengatasi hal tersebut ada pemikiran menerapkan pembagian air secara proporsional.
Sistem proporsional ini tidak memerlukan pintu pengatur, pembagi, dan pengukur. Sistem
ini memerlukan persyaratan khusus, yaitu :
- Elevasi ambang ke semua arah harus sama
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
148
- Bentuk ambang harus sama agar koefisien debit sama
- Lebar bukaan proporsional dengan luas sawah yang diairi
Syarat aplikasi sistem ini adalah :
- melayani tanaman yang sama jenisnya (monokultur)
- jadwal tanam serentak
- ketersediaan air cukup memadai
Sehingga sistem proporsional tidak dapat diaplikasikan pada sistem irigasi di
Indonesia pada umumnya, mengingat syarat-syarat tersebut di atas sulit terpenuhi.
Menyadari kelemahan-kelemahan dalam sistem proporsional dan sistem diatur
(konvensional), maka dibuat alternatif bangunan bagi dan sadap dengan kombinasi kedua
sistem tersebut yang kita sebut dengan sistem kombinasi. Bangunan ini dapat berfungsi
ganda yaitu melayani sistem konvensional maupun system proporsional. Dalam
implementasi pembagian air diutamakan menerapkan system konvensional. Namun dalam
kondisi tertentu yang tidak memungkinkan untuk mengoperasikan pintu-pintu tersebut,
maka diterapkan sistem proporsional. Sistem kombinasi ini direncanakan dengan urutan
sebagai berikut:
- Berdasarkan elevasi sawah tertinggi dari lokasi bangunan-bangunan sadap tersebut
ditentukan elevasi muka air di hulu pintu sadap.
- Elevasi ambang setiap bangunan sadap adalah sama, yaitu sama dengan elevasi
ambang dari petak tersier yang mempunyai elevasi sawah tertinggi.
- Kebutuhan air (l/det/ha) setiap bangunan sadap harus sama, sehingga perbandingan
luas petak tersier, debit dan lebar ambang pada setiap bangunan sadap adalah sama.
3.3.3. Tata Letak Bangunan Bagi dan Sadap
Bangunan bagi sadap seperti diuraikan sub bab diatas terdiri dari bangunan sadap
tersier; bangunan/pintu sadap ke saluran sekunder dengan kelengkapan pintu sadap dan
alat ukur; serta bangunan/pintu pengatur muka air. Tata letak dari bangunan bagi sadap ini
bias dibuat 2 alternatif, yaitu :
- Bentuk Menyamping
- Bentuk Numbak
a. Bentuk Menyamping
Posisi bangunan/pintu sadap tersier atau sekunder berada disamping kiri atau kanan
saluran dengan arah aliran ke petak tersier atau sekunder mempunyai sudut tegak lurus
(pada umumnya) sampai 45o. Bentuk ini mempunyai kelemahan kecepatan datang kearah
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
149
lurus menjadi lebih besar dari pada yang kearah menyamping, sehingga jika diterapkan
system proporsional kurang akurat. Sedangkan kelebihannya peletakan bangunan ini tidak
memerlukan tempat yang luas, karena dapat langsung diletakkan pada saluran
tersier/saluran sekunder yang bersangkutan.
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.21. Tata letak bangunan bagi sadap bentuk menyamping
b. Bentuk Numbak
Bentuk Numbak meletakkan bangunan bagi sekunder, sadap tersier dan bangunan pengatur
pada posisi sejajar, sehingga arah alirannya searah. Bentuk seperti ini mempunyai
kelebihan kecepatan datang aliran untuk setiap bangunan adalah sama. Sehingga bentuk ini
sangat cocok diterapkan untuk sistem proporsional. Tetapi bentuk ini mempunyai
kelemahan memerlukan areal yang luas, semakin banyak bangunan sadapnya semakin luas
areal yang diperlukan.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
150
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.22. Tata letak bangunan bagi sadap bentuk numbak
3.4. BANGUNAN PERSILANGAN
Dalam jaringan irigasi dan drainase, sering dijumpai kondisi persilangan antara
jaringan tersebut dengan bangunan lain seperti jalan raya, jalan kereta api atau
saluran/sungai lain. Untuk mengatasi hal ini maka diperlukan suatu bangunan silang,
sehingga bangunan-bangunan tersebut tetap berfungsi sesuai dengan fungsinya masing-
masing dan tidak saling mengganggu. Untuk jaringan irigasi teknis, bangunan persilangan
biasanya berupa gorong-gorong (mengalirkan air dibawah jalan raya), talang (mengalirkan
air diatas melewati sungai) dan atau siphon (mengalirkan air di bawah penampang
sungai/bila melewati alur/cekungan). Sementara bangunan bantu irigasi berupa bangunan
terjun bila saluran berada pada medan yang curam. Sebelum membahas bagunan-bangunan
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
151
tersebut perlu dipahami kehilangan energi akibat bangunan persilangan yang akan
dijelaskan dibawah ini.
3.4.1. Kehilangan Energi Akibat Bangunan
Untuk membatasi biaya pelaksanaan bangunan, maka kecepatan aliran di dalam
bangunan tersebut dibuat lebih besar daripada kecepatan di ruas saluran hulu maupun hilir.
Selain itu untuk menghindari terjadinya gelombang-gelombang tegak di permukaan air dan
untuk mencegah agar aliran tiodak menjadi kritis akibat berkurangnya kekasaran saluran
atau gradien hidrolis yang lebih curam, maka bilangan froude dari aliran yang dipercepat
tidak boleh lebih dari 0,5 atau ;
dimana : Fr = bilangan froude.
Va = kecepatan rata-rata di dalam bangunan.
g = percepatan gravitasi, m/dt2
A = luas penampang bangunan, m2
B = lebar permukaan air terbuka, m.
Dalam perencanaan bangunan silang di sepanjang saluran, yang terpenting adalah
pembatasan kehilangan energi. Dalam jaringan saluran kehilangan energi ini harus
dipertahankan sekecil mungkin, karena sekali energi ini diturunkan tidak mungkin untuk
menaikkannya kembali. Secara umum ada tiga jenis kehilangan energi, yaitu :
• Kehilangan energi akibat gesekan.
• Kehilangan energi pada peralihan.
• Kehilangan energi akibat belokan.
3.4.1.1. Kehilangan Energi Akibat Gesekan.
Kehilangan energi akibat gesekan dapat dihitung dengan persamaan berikut :
dimana : ∆Hf = kehilangan energi akibat gesekan, m.
V = kecepatan aliran di dalam bangunan.
L = panjang bangunan, m/dt2
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
152
R = jari-jari hidrolis, m.
A = luas penampang basah, m2
P = keliling basah, m.
C = koefisien Chezy = k . R1/6
k = koefisien kekasaran Strickler
3.4.1.2. Kehilangan Energi pada Peralihan.
Untuk peralihan dalam saluran terbuka , dimana bilangan froude aliran yang
dipercepat tidak melebihi 0,5, kehilangan energi pada peralihan masuk dan keluar dapat
dinyatakan dengan rumus Borda sebagai berikut ;
dimana : ∆Hm = kehilangan energi pada pemasukan, m.
∆Hk = kehilangan energi pada pengeluaran, m.
= faktor kehilangan energi, yang tergantung pada bentuk hidrolis
peralihan.
Va = kecepatan aliran rata-rata di dalam bangunan, m/dt.
V1,V2 = kecepatan aliran rata-rata di saluran hulu dan hilir, m/dt.
g = percepatan gravitasi, m/dt2
Harga-harga faktor kehilangan energi untuk peralihan yang biasa dipakai, dengan
permukaan air bebas diperlihatkan pada Gambar 3.23. Faktor-faktor ini berlaku untuk
semua bangunan yang sejenis, sperti gorong-gorong, talang, flum dsb. Disini ditunjukkan
tiga tipe peralihan yang dianjurkan, yang didasarkan pada kekuatan peralihan, jika
bangunan dibuat dari pasangan batu. Jika bangunan itu dibuat dari beton bertulang, maka
akan lebih leluasa dalam memilih tipe yang dikehendaki, dan mungkin lebih ditekankan
pada pertimbangan-pertimbangan hidrolis. Bila permukaan air di sebelah hulu gorong-
gorong sedemikian sehingga pipa gorong-gorong mengalirkan air secara penuh, maka
bangunan ini bisa disebut sipon. Bangunan Air. Aliran penuh demikian sering diperoleh
karena pipa sipon condong ke bawah di belakang peralihan masuk dan condong keatas
lagi menjelang sampai diperalihan keluar.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
153
Kehilangan peralihan masuk dan keluar untuk sipon seperti ini, atau saluran pipa
pada umumnya, berbeda dengan kehilangan untuk peralihan bebas. Harga-harga ᶓm dan
ᶓk, untuk peralihan-peralihan yang dapat digunakan dari saluran trapesium ke pipa dan
sebaliknya, ditunjukkan pada Gambar 3.24. Tipe-tipe ini sering digunakan, karena
sederhana dan cukup kuat.
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.23- Koefisien Kehilangan Energi Untuk Peralihan-Peralihan dari Bentuk
Trapesium ke Segi Empat, dengan Permukaan Air Bebas dan Sebaliknya (Bos dan
Reinink, 1981).
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
154
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.24 - Koefisien Kehilangan Energi untuk Peralihan-Peralihan dari Saluran
Trapesium ke Pipa dan Sebaliknya ( Simons, 1964 )
3.4.1.3. Kehilangan Energi Pada Belokan.
Adanya belokan pada sipon atau pipa, menyebabkan perubahan arah aliran dan
mengakibatkan perubahan pembagian kecepatan pada umumnya. Akibat perubahan dalam
pembagian kecepatan ini, ada peningkatan tekanan pisometris di luar bagian tikungan, dan
ada penurunan tekanan di dalam. Penurunan ini bisa sedemikian sehingga aliran terpisah
dari dinding padat, dan dengan demikian menyebabkan bertambahnya kehilangan tinggi
energi akibat turbulensi/olakan, lihat Gambar 3.25.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
155
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.25 - Peralihan Aliran Pada Bagian Siku
Kehilangan energi pada bagian tikungan,
dimana Kb adalah koefisien kehilangan energi, yang harga-harganya akan disajikan
dibawah ini.
a. Belokan Menyudut.
Untuk perubahan arah aliran yang mendadak (belokan yang menyudut), koefisien
kehilangan energi Kb, ditunjukkan pada Tabel 2.2. Seperti tampak pada tabel, harga-harga
Kb untuk profil persegi ternyata lebih tinggi daripada profil bulat. Hal ini disebabkan oleh
pembagian kecepatan yang kurang baik dan turbulensi yang timbul di dalam potongan segi
empat.
Tabel 3.4. Harga-Harga Kb, untuk bagian belokan yang menyudut.
b. Belokan Bulat ( Berjari-Jari ).
Kehilangan energi pada belokan bulat di dalam saluran pipa tekan yang
mengalirkan air secara penuh, disamping kehilangan akibat gesekan, dapat dinyatakan
sebagai fungsi nilai banding Rb/D, dimana Rb adalah jari-jari belokan dan D adalah
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
156
diameter pipa atau tinggi saluran segi empat pada belokan tersebut. Gambar 3.26a
menyajikan harga-harga Kb yang cocok untuk belokan saluran berdiameter besar dengan
sudut belokan 90O. Pada gambar tersebut ditunjukkan bahwa jika nilai banding Rb/D
melebihi 4, maka harga Kb menjadi hampir konstan pada 0,07. Jadi belokan berjari-jari,
tidaklah lebih menghemat energi. Untuk belokan-belokan yang kurang dari 90O, harga Kb
pada Gambar 3.26a dikoreksi dengan sebuah faktor seperti yang disajikan pada Gambar
3.26b, yang merupakan fungsi dari sudut.
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.26 a
Harga-Harga Kb untuk belokan 90O di saluran tekan (USBR, 1978)
Gambar 3.26 b
Faktor koreksi untuk koefisien kehilangan di belokan saluran tekan
3.4.1.4. Standar Peralihan Saluran.
Umumnya pada peralihan antara saluran dengan bangunan, digunakan dinding
lengkung dengan pertimbangan bahwa kehilangan energi pada pemasukan dan
pengeluarannya kecil. Akan tetapi lebih dianjurkan untuk menggunakan peralihan dengan
dinding tegak, karena lebih kuat dan pemeliharaannya mudah. Pada Gambar 3.27.
diperlihatkan berbagai bentuk peralihan ini. Geometri peralihan-peralihan tersebut adalah
sama, baik untuk bangunan masuk maupun keluar, kecuali bahwa lindungan salurannya
diperpanjang sampai kesisi bangunan keluar untuk melindungi tanggul terhadap erosi.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
157
Panjang lindungan ini dan jari-jari lengkung peralihan dihubungkan dengan kedalaman air.
Untuk kolam olak diberikan tipe peralihan pada Gambar 3.27 d.
Faktor-Faktor kehilangan energi untuk standar peralihan ini adalah :
ᶓ masuk = 0,25
ᶓ keluar = 0,50, untuk Gambar 3.27 d, ᶓ keluar = 1,00
Umumnya dengan peralihan-peralihan tipe ini, kehilangan tinggi energi menjadi
begitu kecil, hingga hampir boleh diabaikan. Akan tetapi untuk menutup kehilangan-
kehilangan kecil yang mungkin terjadi, seperti yang diakibatkan oleh gesekan pada
bangunan, turbulensi akibat celah-celah pintu dan sebagainya, diambil kehilangan energi
minimum 0,05 m di bangunan-bangunan saluran yang membutuhkan peralihan. Untuk
jembatan-jembatan tanpa pilar tengah, kehilangan minimum tinggi energi ini dapat
dikurangi sampai 0,03 m.
3.4.2. Gorong-Gorong.
Gorong-gorong adalah bangunan yang dipakai untuk membawa aliran air (saluran
irigasi atau pembuang), melewati bawah saluran lain, jalan atau jalan kereta api. Gorong-
gorong dibuat dengan potongan melintang yang lebih kecil dari luas basah saluran hulu
maupun hilir. Sebagian dari potongan melintang mungkin berada di atas muka air. Dalam
hal ini gorong-gorong berfungsi sebagai saluran terbuka dengan aliran bebas, lihat Gambar
3.28.
Pada gorong-gorong dengan aliran bebas, benda-benda yang hanyut dapat lewat dengan
mudah, akan tetapi biaya pembuatannya pada umumnya lebih mahal dibandingkan dengan
gorong-gorong tenggelam. Sedangkan pada gorong-gorong tenggelam bahaya tersumbat
lebih besar. Karena alasan pelaksanaan, harus dibedakan antara gorong-gorong pembuang
silang dengan gorong-gorong jalan, dimana ;
❑ Pada gorong-gorong pembuang silang, semua bentuk kebocoran harus dicegah,
untuk ini diperlukan sarana-sarana khusus.
❑ Gorong-gorong jalan harus mampu menahan berat beban kendaraan.
3.4.2.1. Kecepatan Aliran.
Kecepatan aliran yang dipakai dalam perencanaan gorong-gorong, bergantung pada
besar kehilangan energi yang tersedia dan geometri lubang masuk dan keluar. Untuk
tujuan-tujuan perencanaan, kecepatan aliran diambil 1,5 m/dt. untuk gorong-gorong di
saluran irigasi dan 3 m/dt. untuk gorong-gorong disaluran pembuang.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
158
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.27 - Standar Peralihan Saluran. Bangunan Air
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
159
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 23.28 - Gorong - Gorong.
3.4.2.2. Ukuran - Ukuran Standar.
Diameter dan panjang standar biasanya mempunyai ukuran-ukuran praktis. Pada
Gambar 3.29 disajikan dimensi-dimensi dan detail khusus untuk pipa beton standar.
Penutup di atas gorong-gorong pipa dibawah jalan atau tanggul yang menahan berat
kendaraan harus paling tidak sama dengan diameternya, dengan tebal minimum 0,60 m.
Gorong-gorong pembuang yang dipasang di bawah saluran irigasi, harus memakai
penyambung yang kedap air, yaitu dengan ring penyekat dari karet. Bila tidak ada sekat
penyambung, maka semua gorong-gorong dibawah saluran harus disambung dengan beton
tumbuk atau pasangan.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
160
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.29 - Standar Pipa Beton
3.4.2.3. Gorong-Gorong Segi Empat.
Selain gorong-gorong yang berbentuk bulat, sering juga dibuat gorong-gorong segi
empat, terutama pada gorong-gorong yang besar. Gorong-gorong ini dibuat dari beton
bertulang atau pasangan batu dengan penutup pelat beton bertulang. Gorong-gorong beton
bertulang terutama digunakan untuk debit-debit yang besar, atau bila yang diutamakan
adalah kedap air. Sedangkan gorong-gorong pasangan batu dengan penutup pelat beton
bertulang cukup kuat dan pembuatannya lebih mudah dan sangat cocok pada daerah-
daerah yang terpencil. Contoh kedua jenis gorong-gorong ini diperlihatkan pada Gambar
3.30.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
161
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.30 - Gorong-Gorong Pasangan Batu dengan Penutup Pelat Boton dan Gorong-
Gorong Beton.
3.4.2.4. Kehilangan Energi Pada Gorong-Gorong Aliran Penuh.
Untuk gorong-gorong pendek, L < 20 m, seperti yang biasa direncanakan dalam
jaringan irigasi, harga-harga seperti yang diberikan pada Tabel 2.4, dapat digunakan untuk
remus :
dimana :
Q = debit, m3/dt.
µ= koefisien debit, lihat Tabel 2.3
A = luas pipa, m2
g = percepatan gravitasi, m/dt2
z = kehilangan energi pada gorong-gorong, m.
Tabel 2.3 - Harga-Harga µ Dalam Gorong-Gorong Pendek.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
162
Untuk gorong-gorong yang lebih panjang dari 20 m, atau ditempat-tempat dimana
diperlukan perhitungan yang teliti, kehilangan energi dapat dihitung sebagai berikut.
Masuk :
Kehilangan masuk: ∆H masuk = ξ masuk .( − 1)2
2
Kehilangan akibat gesekan :
∆Hf = 22
dimana :
C = k.R1/6, k adalah koefisien kekasaran Strickler (k = 1/n = 70 untuk pipa beton)
R = jari – jari hidrolis, m untuk pipa dengan diameter D : R = ¼ D
L = panjang pipa, m
v = kecepatan aliran dalam pipa, m/dt
va = kecepatan aliran dalam saluran, m/dt
Ke
hilangan keluar: ∆H keluar = ξ keluar .( 2− )2
2
Gambar 3.24. memberikan harga – harga untuk ξmasuk dan ξkeluar untuk berbagai
bentuk
geometri peralihan.
3.4.3. Talang.
Talang adalah saluran buatan yang dibuat dari pasangan batu, beton, baja atau kayu,
untuk melewatkan air diatas bangunan lain atau rintangan seperti jalan raya, jalan kereta
api, saluran, sungai, lembah dsb. Aliran airnya termasuk aliran bebas.
3.4.3.1. Potongan Melintang dan Memanjang Talang
Potongan melintang bangunan, ditentukan oleh nilai banding antara lebar b dan
tinggi/kedalaman air h. Potongan melintang hidrolis yang ekonomis biasanya dari nilai
banding b/h yang berkisar antara 1 sampai dengan 3. Kecepatan di dalam bangunan dibuat
lebih tinggi daripada kecepatan didalam saluran biasa. Tetapi kemiringan memanjang dan
kecepatan aliran dipilih sedemikian rupa, sehingga tidak akan terjadi kecepatan super-kritis
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
163
atau mendekati kritis, karena aliran cenderung sangat tidak stabil. Untuk nilai banding
potongan melintang seperti tersebut di atas, kemiringan maksimum yang sesuai adalah I =
0,002.
3.4.3.2. Standar dan Ukuran Talang
Panjang Talang dan Panjang Transisi
1. Panjang Talang
Panjang talang atau panjang box talang satu ruas untuk membuat standarisasi penulangan
beton maka dibuat konstruksi maksimum 10 m dan minimum 3 m.
2. Panjang Peralihan (L1)
Panjang peralihan adalah panjang transisi antara saluran dengan box talang. Panjang
saluran transisi ditentukan oleh sudut antara 12o30’ – 25o garis as.
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.31. Panjang Peralihan dan Transisi pada Talang
Panjang peralihan atau transisi dihitung dengan rumus sebagai berikut :
− 6
1 = 2
dimana :
B = lebar permukaan air di saluran
b = lebar permukaan air di bagian talang
L = panjang peralihan atau transisi antara talang dengan saluran
α = sudut antara garis as talang dengan garis pertemuan permukaan air
- Kehilangan Tinggi Muka Air di Talang
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
164
Total kehilangan tinggi muka air di talang (∆h) dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut
∆h = h1 + h2 + h3
dimana :
h1 = kehilangan tinggi muka air di bagian masuk (m)
h2 = kehilangan tinggi muka air di sepanjang talang (m) = L2 x S2
h3 = kehilangan tinggi muka air di bagian keluar (m)
S2 = kemiringan memanjang talang
h1 = ƒo . (hv2 – hv1)
dimana :
ƒo = koefisien kehilangan tinggi muka air dibagian masuk
hv2 = L1 . (S1 – S2)
dimana :
S1 = kemiringan memanjang saluran di hulu
S2 = kemiringan dasar talang
hv1 = 12
2
V1 = kecepatan aliran di saluran bagian hulu
g = kecepatan gravitasi (= 9,8 m/dt)
Kehilangan tinggi muka air di sepanjang talang :
h2 = Ltalang x S2
Kehilangan tinggi muka air dibagian keluar :
h3 = ƒ1 . (hv2 – hv3)
hv2 = 3 ( 2+ 3)
2
Dimana :
S3 = kemiringan dasar saluran dibagian hilir
12
hv3 = 2
ƒo /ƒ1 = koefisien tinggi energi untukperalihan dari bentuk trapesium ke bentuk segi
empat dengan permukaan bebas.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
165
3.4.3.3. Peralihan dan Jagaan.
Peralihan masuk dan keluar dapat diperkirakan sesuai dengan Gambar 3.23 dan
Persamaan 3.24 dan 3.25. Sedangkan tinggi jagaan untuk air yang mengalir dalam
talang, didasarkan pada debit, kecepatan dan faktor-faktor lain dan disesuaikan dengan
tinggi jagaan untuk saluran, khususnya saluran pasangan. Pada talang yang melintasi
sungai atau pembuang, harus diberikan ruang bebas sebagai berikut :
❑ pembuang intern : Q5 + 0,5 m.
❑ pembuang ekstern. : Q25 + 1,00 m.
❑ sungai : Q25 + ruang bebas yang tergantung pada pertimbangan perencana, tapi
tidak kurang dari 1,50 m. Hal-hal yang perlu dipertimbangakan adalah
karakteristik sungai yang dilintasi, seperti kemiringan, benda hanyutan, agradasi
dan degradasi dsb
3.4.3.4. Bahan Talang
Pipa-pipa baja sering digunakan untuk talang-talang kecil, karena mudah dipasang dan
cukup kuat. Untuk debit kecil, talang pipa ini lebih ekonomis dibandingkan dengan tipe-
tipe bangunan atau bahan lainnya. Tetapi baja memiliki satu ciri khas yang harus mendapat
perhatian khusus, yaitu pemuaian baja akibat kena panas lebih besar daripada bahan-bahan
lain. Oleh karena itu harus dibuat sambungan ekspansi, yang dapat dibuat pada salah satu
sisi saja atau di tengah pipa, bergantung dari bentang dan jumlah titik dukung.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
166
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.32 - Contoh Talang
3.4.4. Sipon.
Sipon adalah bangunan yang membawa air melewati bawah bangunan lain dengan
aliran air dibawah tekanan, lihat Gambar 3.33. Perencanaan hidrolis harus
mempertimbangkan kecepatan aliran, kehilangan pada peralihan masuk, kehilangan akibat
gesekan, kehilangan pada bagian belokan, serta kehilangan pada peralihan keluar.
Diameter minimum pipa sipon dibuat 0,60 m untuk memungkinkan pembersihan dan
inspeksi. Karena sipon hanya memiliki sedikit fleksibilitas dalam mengangkut lebih
banyak air daripada yang direncanakan, maka bangunan ini sedapat mungkin tidak dipakai
dalam jaringan pembuang, karena walaupun debit tidak diatur, ada kemungkinan bahwa
pembuang mengangkut lebih banyak benda-benda hanyut. Agar pipa sipon tidak mudah
tersumbat dan tidak ada orang atau binatang yang dapat masuk, maka mulut pipa ditutup
dengan kisi-kisi penyaring.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
167
Pada saluran-saluran yang lebih besar, sipon dibuat dengan pipa rangkap, guna
menghindari kehilangan energi yang lebih besar di dalam sipon jika bangunan itu tidak
mengalirkan air pada debit rencana. Disamping itu pipa rangkap juga menguntungkan dari
segi pemeliharaan dan mengurangi biaya pelaksanaan bangunan. Sipon yang panjangnya
lebih dari 100 m harus dipasang dengan lubang pemeriksaan (manhole) dan pintu
pembuang, jika situasi memungkinkan. Pemasangan sipon, yang panjangnya lebih dari
100 m memerlukan ahli mekanik dan hidrolik.
3.4.4.1. Kecepatan Aliran pada Sipon.
Untuk mencegah sedimentasi, kecepatan aliran di dalam sipon harus dibuat tinggi.
Akan tetapi kecepatan yang tinggi akan meyebabkan bertambahnya kehilangan energi.
Oleh sebab itu keseimbangan antara kecepatan yang tinggi dan kehilangan energi yang
diizinkan harus tetap dijaga. Kecepatan aliran di dalam sipon harus dua kali lebih tinggi
dari kecepatan normal di dalam saluran, dan tidak boleh kurang dari 1,00 m/dt. Sedangkan
kecepatan maksimum sebaiknya tidak melebihi 3,00 m/dt.
Bagian atas lubang pipa dipasang sedikit dibawah permukaan air normal untuk
mengurangi kemungkinan berkurangnya kapasitas sipon akibat masuknya udara kedalam
sipon. Kedalaman tenggelamnya bagian atas lubang sipon disebut air perapat (water seal).
Tinggi air perapat bergantung kepada kemiringan dan ukuran sipon, yang pada umumnya
diambil : 1,1 ∆hv < air perapat < 1,5 ∆hv ( sekitar 0,45 m dan minimum 0,15 m).
dimana ∆hv = beda tinggi kecepatan pada pemasukan.
3.4.4.2. Kehilangan Energi pada Sipon
Kehilangan energi pada sipon terdiri dari ;
a. Kehilangan pada pemasukan.
b. Kehilangan akibat gesekan.
c. Kehilangan akibat belokan.
d. Kehilangan akibat pengeluaran.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
168
Kehilangan-kehilangan ini dapat dihitung dengan rumus dan kriteria yang diberikan pada
bab 3.4.1.
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.33 - Contoh Sipon
3.4.4.3. Kisi - Kisi Penyaring.
Kisi-kisi penyaring, lihat Gambar 3.34, harus dipasang pada bukaan/lubang masuk
bangunan dimana benda-benda yang menyumbat menimbulkan akibat-akibat yang serius,
misalnya pada sipon atau gorong-gorong yang panjang. Kisi-kisi penyaring dibuat dari
jeruji-jeruji baja dan mencakup seluruh bukaan. Jeruji tegak dipilih agar bisa dibersihkan
dengan penggaruk. Akibat adanya kisi-kisi penyaring ini akan menambah kehilangan
energi, yang besarnya dapat dihitung sebagai berikut ;
Hf =
C= β ( ) / . Sin δ
dimana :
hf = kehilangan tinggi energi, m
v = kecepatan melalui kisi – kisi, m/dt
g = percepatan gravitasi, m/dt² (≈ 9,8)
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
169
c = koefisien berdasarkan :
β = fakor bentuk (2,4 untuk segi empat, dan 1.8 untuk jeruji bulat)
s = tebal jeruji, m
b = jarak bersih antar jeruji, m
δ = sudut kemiringan dari bidang horisontal
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.34 - Kisi - Kisi Penyaring.
3.5. BANGUNAN TERJUN
Bangunan terjun atau got miring diperlukan jika kemiringan permukaan tanah lebih
curam daripada kemiringan maksimum saluran yang diizinkan. Bangunan semacam ini
mempunyai empat bagian fungsional, masing-masing memiliki sifat-sifat perencanaan
yang khas
1. Bagian hulu pengontrol, yaitu bagian di mana aliran menjadi superkritis
2. bagian di mana air dialirkan ke elevasi yang lebih rendah
3. bagian tepat di sebelah hilir potongan U dalam Gambar 3.35, yaitu tempat di
mana energi diredam
4. bagian peralihan saluran memerlukan lindungan untuk mencegah erosi
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
170
∆Hm = ∆HR + ∆H
∆H =( Im.L)-(IR.L) = L(Im-IR)
Dimana:
Im = Kemiringan medan
IR = Kemiringan rencana
L = Panjang Saluran
t= Tinggi terjunan
Jumlah Bangunan Terjun = n = ∆H/t
Gambar 3.35. Contoh Bangunan Terjun
Bagian Pengontrol
Pada bagian pertama dari bangunan ini, aliran di atas ambang dikontrol. Hubungan
tinggi energy yang memakai ambang sebagai acuan (h1) dengan debit (Q) pada pengontrol
ini bergantung pada ketinggian ambang (p1), potongan memanjang mercu bangunan,
kedalaman bagian pengontrol yang tegak lurus terhadap aliran, dan lebar bagian
pengontrol ini. Bangunan-bangunan pengontrol yang mungkin adalah alat ukur ambang
lebar atau flum leher panjang, bangunan pengatur mercu bulat dan bangunan celah
pengontrol trapezium.
Pada waktu menentukan bagian pengontrol, kurva Q-h1 dapat diplot pada grafik.
Pada grafik yang sarna harus diberikan plot debit versus kedalaman air saluran hulu,
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.36. Dengan cara menganekaragamkan harga-
harga pengontrol, kedua kurve dapat dibuat untuk bisa digabung dengan harga-antara
umum aliran di saluran
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
171
tersebut. Keuntungan dari penggabungan semacam ini adalah bahwa bangunan pengontrol
tidak menyebabkan kurve pengempangan (dan sedimentasi) atau menurunnya muka air
(dan
erosi) di saluran hulu.
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.36 Ilustrasi peristilahan yang berhubungan dengan bangunan peredam energi
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.36 a Ilustrasi peristilahan yang berhubungan dengan lebar efektif dan ruang olak
di Bangunan terjun lurus
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
172
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.36. Penggabungan Q-y1 dan Q-hi sebuah bangunan
Perhitungan Hidrolis : ( Gambar 3.36 )
(1) Lebar bukaan efektif B
= . . . /
H = h 1 + V12 /2g
Dimana :
Q = Debit ( m3 /dt )
m = Koefisien liran = 1
H = Tinggi garis energi di udik ( m )
h1 = Tinggi muka air di udik ( m )
V1 = Kecepatan aliran saluran di hulu (m/dt )
(2) Tinggi ambang dihilir a a = ½. d c
dc = Q2 / ( g . B2 ) 1/3
Dimana :
a = Tinggi ambang hilir ( m ) L = C1 Z . dc + 0,25
d c = Kedalaman air kritis ( m) Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Q = Koefisien liran = 1 Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
B = Lebar bukaan efektif ( m ) Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
(3) Panjang olakan L
173
C1 = 2,5 + 1,1 ( dc / Z ) + 0,7 ( dc / Z )3
Dimana :
L = Panjang kolam olakan ( m )
Z = Tinggi terjun ( m)
a. Bangunan Terjun Tegak
Bangunan terjun tegak menjadi lebih besar apabila ketinggiannya ditambah. Juga
kemampuan hidrolisnya dapat berkurang akibat variasi di tempat jatuhnya pancaran di
lantai kolam jika terjadi perubahan debit. Bangunan terjun sebaiknya tidak dipakai apabila
perubahan tinggi energi,diatas bangunan melebihi 1,50 m. Dengan bangunan terjun tegak,
luapan yang jatuh bebas akan mengenai lantai kolam dan bergerak ke hilir pada potongan
U (lihat Gambar 5.18). Akibat luapan dan turbulensi (pusaran air) di dalam kolam di
bawah tirai luapan, sebagian dari energi direndam di depan potongan U. Energi selebihnya
akan diredam di belakang potongan U. Sisa tinggi energi hilir yang memakai dasar kolam
sebagai bidang persamaan, Hd, tidak berbeda jauh dari perbandingan ∆Z/H1, dan kurang
lebih sama dengan 1,67H1. Harga Hd ini dapat dipakai untuk menentukan ∆Z sebuah
bangunan terjun tegak.
Bangunan terjun dengan bidang tegak sering dipakai pada saluran induk dan
sekunder, bila tinggi terjun tidak terlalu besar. Menurut Perencanaan Teknis Direktorat
Irigasi ( 1980 ) tinggi terjun tegak dibatasi sebagai
berikut :
(1) Tinggi terjun maksimum 1,50 meter untuk Q < 2,50 m3 / dt.
(2) Tinggi terjun maksimum 0,75 meter untuk Q > 2,50 m3 / dt
Perencanaan hidrolis bangunan dipengaruhi oleh besaran-besaran berikut :
H1 = tinggi energi di muka ambang, m
∆H = perubahan tinggi energi pada bangunan, m
Hd = tinggi energi hilir pada kolam olak, m
q = debit per satuan lebar ambang, m2/dt
g = percepatan gravitas, m/dt2 (≈9,8)
n = tinggi ambang pada ujung kolam olak, m
Besaran – besaran ini dapat digabungkan untuk membuat perkiraan awal tinggi bangunan
terjun :
∆Z = (∆H + Hd) – H1
Untuk perikiraan awal Hd, boleh diandaikan, bahwa
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
174
Hd =≈1,67 H1
Kemudian kecepatan aliran pada potongan U dapat diperkirakan dengan
Vu =√ . . ∆
dan selanjutnya,
yu = q/vu
Aliran pada potongan U kemudian dapat dibedakan sifatnya dengan bilangan Froude tak
berimensi :
Fru =
√ .
Geometri bangunan terjun tegak dengan perbandingan panjang yd/ ∆z dan Lp/∆z kini
dapat
dihitung dari Gambar 3.37.
Pada Gambar 3.37. ditunjukkan yd dan Lp
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.37. Grafik tak berdimensi dari geometri bangunan terjun tegak (Bos, Replogle
and Clemmens, 1984)
b. Bangunan Terjun Miring
Permukaan miring, yang menghantar air ke dasar kolam olak, adalah praktek
perencanaan yang umum, khususnya jika tinggi energi jatuh melebihi 1,5 m. Pada
bangunan terjun, kemiringan permukaan belakang dibuat securam mungkin dan relatif
pendek. Jika peralihan ujung runcing dipakai di antara permukaan pengontrol dan
permukaan belakang (hilir), disarankan untuk memakai kemiringan yang tidak lebih curam
dari 1: 2 (lihat Gambar 5.21).
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
175
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan KP-04)
Gambar 3.38 Sketsa dimensi untuk Tabel A. 2.6 (Lampiran 2) Buku KP 04
Alasannya adalah untuk mencegah pemisahan aliran pada sudut miring. Jika diperlukan
kemiringan yang lebih curam, sudut runcing harus diganti dengan kurve peralihan dengan
jari-jari r ≈0,5 Hlmaks (lihat Gambar 5.16). Harga-harga yu dan Hd, yang dapat digunakan
untuk perencanaan kolam di belakang potongan U, mungkin dapat ditentukan dengan
menggunakan Tabel A2.6, Lampiran 2 (pada KP 04) Tinggi energi Hu pada luapan yang
masuk kolam pada potongan U mernpunyai harga yang jauh lebih tinggi jika digunakan
permukaan hilir yang miring, dibandingkan apabila luapan jatuh bebas seperti pada
bangunan terjun tegak. Sebabnya ialah bahwa dengan bangunan terjun tegak, energi
diredam karena terjadinya benturan luapan dengan lantai kolam dan karena pusaran
turbulensi air di dalam kolam di bawah tirai luapan. Dengan bangunan terjun miring,
peredaman energi menjadi jauh berkurang akibat gesekan dan aliran turbulensi di atas
permukaan yang miring.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
176
BAB IV
PETAK TERSIER
Petak tersier adalah petak dasar di suatu jaringan irigasi. Petak itu merupakan
bagian dari daerah irigasi yang mendapat air irigasi dan satu bangunan sadap tersier dan
dilayani oleh satu jaringan tersier. Petak Tersier dibagi-bagi menjadi petak-petak kuarter.
Sebuah petak tersier merupakan bagian dari petak tersier yang menerima air dan saluran
kuarter. Petak subtersier diterapkan hanya apabila petak tersier berada di dalam daerah
administratif yang meliputi dua desa atau lebih. Jaringan tersier adalah jaringan saluran
yang melayani areal di dalam petak tersier.
Jaringan tersier terdiri dari:
- Saluran dan bangunan tersier : saluran dan bangunan yang membawa dan
membagi air dari bangunan sadap tersier ke petak-petak kuarter.
- Saluran dan bangunan kuarter: saluran dan bangunan yang membawa air dari
jaringan bagi ke petak-petak sawah.
- Saluran pembuang : saluran dan bangunan yang membuang kelebihan air dari
petak-petak sawah ke jaringan pembuang utama
Saluran tersier membawa air dari bangunan sadap tersier di jaringan utama ke petak-
petak kuarter. Batas ujung saluran tersier adalah boks bagi kuarter yang terakhir. Para
petani menggunakan air dari saluran kuarter. Dalam keadaan khusus yang menyangkut
topografi dan kemudahan pengambilan air, para petani diperkenankan mengambil air dari
saluran tersier tanpa merusak saluran tersier. Saluran kuarter membawa air dari boks bagi
kuarter melalui lubang sadap sawah atau saluran cacing ke sawah-sawah.
Jika pemilikan sawah terletak lebih dari150 m dan saluran kuarter, saluran cacing
dapat mengambil air langsung tanpa bangunan dari saluran kuarter. Saluran kuarter
sebaiknya berakhir di saluran pembuang agar air irigasi yang tak terpakai bisa dibuang.
Supaya saluran tidak tergerus, diperlukan bangunan akhir.
Boks kuarter hanya membagi air irigasi ke saluran kuarter saja. Boks tersier membagi
air irigasi antara saluran kuarter dan tersier. Saluran pembuang kuarter terletak di dalam
petak tersier untuk menampung air langsung dan sawah dan membuang air itu ke saluran
pembuang tersier.
Saluran pembuang tersier terletak di dan antara petak-petak tersier dari jaringan irigasi
sekunder yang sama, serta menampung air dan pembuang kuarter maupun langsung
dan sawah.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
177
Sistem Tata Nama
Boks tersier diberi kode T, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum jam, mulai dan
boks pertama di hilir bangunan sadap tersier: T1, T2, dan seterusnya.
Boks kuarter diberi kode K, diikuti dengan nomor urut jarum jam, mulai dari boks kuarter
pertama di hilir boks nomor urut tertinggi K1, K2, dan seterusnya.
Ruas-ruas saluran tersier diberi nama sesuai dengan nama boks yang terletak di antara
kedua boks, niisalnya (T1 - T2), (T3 – K1).
Petak kuarter diberi nama sesuai dengan petak rotasi, diikuti dengan nomor urut menurut
arah jarum jam. Petak rotasi diberi kode A, B, C dan seterusnya menurut arah jarum jam.
Saluran irigasi kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dilayani tetapi dengan
huruf kecil, misalnya al, a2, dan seterusnya.
Saluran pembuang kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dibuang airnya,
diawali dengan dk, misalnya dka1, dka2 dan seterusnya. Saluran pembuang tersier diberi
kode dt1, dt2, juga menurut arah jarum jam.
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Jaringan Irigasi KP-01)
Gambar 4.1. Sistem Tata Nama Petak Tersier dan Sub Tersier
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
178
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Petak Tersier KP-05)
Gambar 4.2. Contoh Tata Nama dalam Petak Tersier
Perencanaan petak tersier mencakup kegiatan-kegiatan:
• Penentuan layout dan trase saluran
• Penentuan muka air rencana
• Perencanaan dimensi saluran
• Perencanaan boks bagi
• Perencanaan bangunan-bangunan pelengkap
Data-data yang diperlukan:
• Peta topografi skala 1:5000 atau 1:2000
• Kebutuhan air irigasi dan pembuang
• Kondisi fasikitas pemberian air irigasi dan pembuang
• Prosedur eksploitasi yang berlaku
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
179
Kriteria yang akan diterapkan adalah: 8 - 15 ha
< 1500 m
• Ukuran petak kuarter < 500 m
• Panjang saluran tersier < 300 m
• Panjang saluran kuarter
• Jarak antara saluran kuarter dan saluran pembuang
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Petak Tersier KP-05)
Gambar 4.3. a)Petak Tersier yang Ideal b) Jalur-jalur Irigasi
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Petak Tersier KP-05)
Gambar 4.4. Skema Petak Tersier di Daerah Bergelombang
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
180
(Sumber: Kriteria Perencanaan Bagian Petak Tersier KP-05)
Gambar 4.5. Skema Petak Tersier a) di Daerah Terjal b) Daerah Agak Terjal
UNTUK SALURAN TERSIER DAN SUB TERSIER
• v = 0,20 s.d. 0,60 m/dt
• w = 0,30 m
• d = 0,40 m
Guna kepentingan inspeksi, lebar tanggul dapat diperlebar menjadi 1,00 m.
UNTUK SALURAN KUARTER
Debit perencanaan (Q) minimum = 15 liter/detik, v = 0,20 s.d. 0,60 m/dt
Rumus kecepatan Strickler:
= . 2/3. 1/2
Di mana:
• K = koefisien kekasaran = 40
• R = jari-jari hidrolis = F/O
• I = kemiringan dasar saluran
• F = luas penampang basah
• O = keliling basah
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
181
SALURAN PEMBUANG
Meliputi saluran pembuang kuarter dan tersier. Satuan pengaliran q = 6,8 l/dt/ha (untuk
tiap-tiap daerah mempunyai angka tersendiri)
Kriteria:
• Lebar dasar min. : b = 0,50 m
• Tinggi jagaan : w = 0,20 m
• Kemiringan talud : t = 1:1
• Kecepatan aliran : v = 0,20 s.d. 0,60 m/dt
• Koef. kekasaran : K = 35
• Tinggi air (h) dan lebar dasar (b) biasanya dibuat sama dan dibulatkan kelipatan 5
cm
ROTASI
1. Rotasi sub tersier 1 (Rotasi 1)
Artinya: 1 petak sub tersier dimatikan pemberian airnya, sedang petak sub tersier
yang lain tetap mendapatkan air
2. Rotasi sub tersier 2 (Rotasi 2)
Artinya: 2 petak sub tersier dimatikan pemberian airnya, sedang petak sub tersier
yang lain tetap mendapatkan air
3. Rotasi sub tersier 3 (Rotasi 3)
Artinya: 3 petak sub tersier dimatikan pemberian airnya, sedang petak sub tersier
yang lain tetap mendapatkan air
CARA MEROTASI
Pembagian petak tergantung dari keadaan medan. CONTOH I. Petak tersier dibagi
menjadi 4 sub tersier:
• Sub tersier A : a1 + a2
• Sub tersier B : b1 + b2 + b3
• Sub tersier C : c1 + c2
• Sub tersier D : d1 + d2
Rotasi 1:
a. Bila giliran petak sub tersier A yang tidak mendapatkan air, maka yang ditutup
adalah pintu pada:
- Box T2 = A; agar jatah untuk B tidak terbagi ke A
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
182
- Box T1 = A; agar jatah untuk B, C, dan D tidak terbagi ke A
b. Bila giliran petak sub tersier B yang tidak mendapatkan air, maka yang ditutup
adalah pintu pada:
- Box T2 = B; agar jatah untuk A tidak terbagi ke B
- Box T1 = B; agar jatah untuk A, C, dan D tidak terbagi ke B
c. Bila giliran petak sub tersier C yang tidak mendapatkan air, maka yang ditutup
adalah pintu pada:
- Box T3 = C; agar jatah untuk D tidak terbagi ke C
- Box T1 = B; agar jatah untuk A, B, dan D tidak terbagi ke C
d. Bila giliran petak sub tersier D yang tidak mendapatkan air, maka yang ditutup
adalah pintu pada:
- Box T3 = D; agar jatah untuk C tidak terbagi ke D
- Box T1 = D; agar jatah untuk A, B, dan C tidak terbagi ke D
Rotasi 2:
a. Bila giliran petak sub tersier A dan sub tersier B yang dimatikan (tidak
mendapatkan air), maka pintu yang ditutup adalah:
- Box T1 = A dan B. Agar jatah air tidak terbagi ke A dan B, air mengalir ke C
dan D
b. Bila giliran petak sub tersier C dan sub tersier D yang dimatikan (tidak
mendapatkan air), maka pintu yang ditutup adalah:
- Box T1 = C dan D. Agar jatah air tidak terbagi ke C dan D, air mengalir ke A
dan B
c. Bila giliran petak sub tersier A dan sub tersier C yang dimatikan (tidak
mendapatkan air), air terbagi ke sub tersier B dan D, maka pintu yang ditutup
adalah:
- Box T1 = A dan C. Air terbagi ke B dan D
- Box T2 = A. Air terbagi ke B
- Box T3 = C. Air terbagi ke D
d. Bila giliran petak sub tersier B dan sub tersier D yang dimatikan (tidak
mendapatkan air), air terbagi ke petak sub tersier A dan C, maka pintu yang ditutup
adalah:
- Box T1 = B dan D. Air terbagi ke petak sub tersier A dan C
- Box T2 = B. Air terbagi ke petak A
- Box T3 = D. Air terbagi ke petak C
e. Bila giliran petak sub tersier A dan sub tersier D yang dimatikan (tidak
mendapatkan air), air terbagi ke petak sub tersier B dan C, maka pintu yang ditutup
adalah:
- Box T1 = A dan D. Air terbagi ke petak B dan C
- Box T2 = A. Air terbagi ke petak B
- Box T3 = D. Air terbagi ke petak C
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
183
f. Bila giliran petak sub tersier B dan sub tersier C yang dimatikan (tidak
mendapatkan air), air terbagi ke petak sub tersier A dan D, maka pintu yang ditutup
adalah:
- Box T1 = B dan C. Air terbagi ke petak A dan D
- Box T2 = B. Air terbagi ke petak A
- Box T3 = C. Air terbagi ke petak D
Rotasi 3:
a. Bila giliran sub tersier B, C, dan D yang dimatikan, air terbagi ke petak sub tersier
A, maka pintu yang ditutup adalah:
- Box T1 = B, C, D. Air terbagi ke petak sub tersier A
- Box T2 = B. Air terbagi ke petak sub tersier A
b. Bila giliran sub tersier A, C, dan D yang dimatikan, air terbagi ke petak sub tersier
B, maka pintu yang ditutup adalah:
- Box T1 = A, C, D. Air terbagi ke petak sub tersier B
- Box T2 = A. Air terbagi ke petak sub tersier B
c. Bila giliran sub tersier A, B, dan D yang dimatikan, air terbagi ke petak sub tersier
C, maka pintu yang ditutup adalah:
- Box T1 = A, B, D. Air terbagi ke petak sub tersier C
- Box T3 = D. Air terbagi ke petak sub tersier C
d. Bila giliran sub tersier A, B, dan C yang dimatikan, air terbagi ke petak sub tersier
D, maka pintu yang ditutup adalah:
- Box T1 = A, B, C. Air terbagi ke petak sub tersier D
- Box T3 = C. Air terbagi ke petak sub tersier D
CONTOH II. Petak tersier dibagi menjadi 2 sub tersier: sub tersier A dan sub tersier B.
Sub tersier A terdiri dari 3 petak kuarter yang masing-masing mendapatkan air yaitu:
• A1 dari Box K1
• A2 dari Box K1
• A3 dari Box T1
• B1, B2, B3 dari Box K2
Bila harus dilakukan rotasi, maka penutupan pintu sebagai berikut:
• Air terbagi untuk sub tersier B maka pintu ditutup ke arah K1 dan ke arah A3
• Air terbagi untuk petak sub tersier A maka ditutup pintu ke arah K2
Batasan luas petak tersier:
a. Prosida ditjen air : 75-150 ha
b. Prosida pekalen sampean Jember : ± 70 ha
c. Zaman Belanda : 80-160 ha
d. Keadaan medan sampai : 200 ha
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
184
Batasan luas petak kuarter:
a. Pedoman perencanaan tersier : 10-20 ha
b. Keadaan medan : < 10 ha
Bangunan sadap : menyadap air untuk petak tersier.
Box tersier : bangunan yang berfungsi membagi air ke petak tersier atau sub
tersier.
Box kuarter : bangunan yang berfungsi membagi air ke petak-petak kuarter.
Pembagian debit air diadakan secara proporsional.
CONTOH III. Skema konstruksi jaringan irigasi tersier.
Petak tersier terdiri dari 2 (dua) sub tersier yaitu:
1. A terdiri dari:
- Petak kuarter A1: 10 ha
- Petak kuarter A2: 9 ha
2. B terdiri dari:
- Petak kuarter B1: 15 ha
- Petak kuarter B2: 10 ha
- Petak kuarter B3: 14 ha
K1 dan K2 adalah box kuarter yang membagi air secara proporsional untuk petak-petak
kuarter: A1, A2, B1, B2, dan B3.
T adalah box tersier yang membagi air secara proporsional ke petak sub tersier (dalam
contoh ini ke box kuarter K1 dan K2).
Membuat proporsional pada suatu box dilakukan dengan cara:
1. Tinggi air di atas ambang lubang box pada satu box dibuat sama → ini berarti yang
dibuat sama adalah elevasi ambang.
2. Luas yang diairi berbanding langsung dengan lubang box.
Pada box tersier : dilengkapi pintu penutup.
Pada box kuarter : hanya lubang box tanpa pintu, diberi alur (sponning) untuk skot
balok.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
185
PERHITUNGAN LUBANG BOX
Fungsinya : membagi air secara proporsional sesuai dengan masing-masing petak
yang diairi.
Untuk mencapai maksud tersebut, maka lubang dalam satu box harus:
- Tinggi pile ambang sama
- Lebar ambang sebanding dengan luas areal masing-masing petak yang diairi
ℎ = 0,80
Di mana:
• d = tinggi air di hilir
• h = tinggi air di udik
Rumus debit: = . 2 . √2 . . ℎ1,5
Di mana: 3
• C = koefisien yang tergantung pada nilai d/h
• μ = koefisien yang tergantung pada bentuk ambang
Untuk ambang lebar dan tajam, μ = 0,5. Bila d/h = 0 s.d. 0,8 maka C = 1. Sehingga, rumus
debit menjadi:
= 1,48. . ℎ1,5
Catatan:
Untuk menyederhanakan perhitungan, maka tinggi air di atas ambang box diambil angka
atau nilai kelipatan 3.
CONTOH SOAL.
Suatu box tersier T1 mempunyai sket sebagai berikut. Tinggi air di saluran-saluran:
• A = 0,25 m
• B = 0,25 m
• C = 0,26 m
• D = 0,28 m
Debit rencana untuk saluran-saluran:
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
186
• Sub tersier A → QA = 45,6 l/dt
• Sub tersier B → QB = 38,4 l/dt
• Sub tersier C → QC = 43,2 l/dt
• Sub tersier D → QD = 48,0 l/dt
Dari hasil perhitungan elevasi muka air di saluran sub tersier di hilir pintu box diperoleh:
• Elevasi di sub tersier A = + 10,25
• Elevasi di sub tersier B = + 10,25
• Elevasi di sub tersier C = + 10,26
• Elevasi di sub tersier D = + 10,28
Rencanakan box tersier T1 di atas yang meliputi:
1. Lebar pintu-pintu
2. Elevasi muka air di box T1
3. Elevasi ambang box
4. Elevasi dasar bangunan di hilir lubang masing-masing pintu
5. Gambar box T1 dengan skala
CARA PEMBERIAN AIR DAN KAPASITAS RENCANA
Suatu petak tersier dibagi 4 (empat) sub tersier, masing-masing:
- Sub tersier a
- Sub tersier b
- Sub tersier c
- Sub tersier d
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
187
Diusahakan agar masing-masing petak sub tersier luasnya sama atau hampir sama.
Cara pembagian air dibedakan 2 (dua) keadaan yaitu:
a. Pemberian air terus-menerus (continous flow) dilaksanakan apabila debit air Q ≥
75% Qmaks
b. Apabila debit air Q < 75% Qmaks, pemberian air dilaksanakan bergiliran (rotasi)
yang kemudian terbagi ke dalam 3 (tiga) jenis rotasi sebagai berikut:
ROTASI SUB TERSIER I
Satu sub tersier tidak diairi, tiga sub tersier diairi. Dilaksanakan apabila Q = (50%-75%)
Qmaks. Pemberian air terbagi menjadi 4 (empat) periode untuk waktu 14 hari atau 336 jam.
Periode I : a, b, dan c diairi, d tidak. Lama pemberian air:
+ + 336
+ + + × 3
Periode II : b, c, dan d diairi, a tidak. Lama pemberian air:
+ + 336
+ + + × 3
Periode III : a, c, dan d diairi, b tidak. Lama pemberian air:
+ + 336
+ + + × 3
Periode IV : a, b, dan d diairi, c tidak. Lama pemberian air:
+ + 336
+ + + × 3
ROTASI SUB TERSIER II
Dua sub tersier tidak diairi, dua sub tersier lainnya diairi. Dilaksanakan apabila Q = (25%-
50%) Qmaks. Pemberian air terbagi menjadi 2 (dua) periode untuk waktu 7 hari atau 168
jam.
Periode I : a dan c diairi, b dan d tidak. Lama pemberian air:
+
+ + + × 168
Periode II : b dan d diairi, a dan c tidak. Lama pemberian air:
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
188
+
+ + + × 168
Catatan: penggabungan petak diusahakan luasnya mendekati sama.
ROTASI SUB TERSIER III
Tiga sub tersier tidak diairi, satu sub tersier diairi. Dilaksanakan apabila Q < 25% Qmaks.
Pemberian air dibagi 4 (empat) periode untuk waktu 7 hari atau 168 jam.
Periode I : a diairi, b, c, dan d tidak. Lama pemberian air:
+ + + × 168
Periode II : b diairi, a, c, dan d tidak. Lama pemberian air:
+ + + × 168
Periode III : c diairi, a, b, dan d tidak. Lama pemberian air:
+ + + × 168
Periode IV : d diairi, a, b, dan c tidak. Lama pemberian air:
+ + + × 168
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
189
Dari hasil perhitungan lama pemberian air tersebut, disusun tabel pemberian air sebagai
berikut:
HARI CONTINOUS ROTASI SUB ROTASI SUB ROTASI SUB
FLOW TERSIER I TERSIER II TERSIER III
SENIN Q = 25%-50% Q < 25% Qmaks
SELASA Q = 75%-100% Q = 50%-75%
RABU Qmaks Qmaks Qmaks JAM PETAK
KAMIS PETAK PETAK PETAK YG
JUMAT 06.00
SABTU JAM YG JAM YG JAM YG ...* DIAIRI
MINGGU DIAIRI DIAIRI DIAIRI
SENIN a
SELASA 06.00 06.00 06.00
RABU a+b+c ...* b
KAMIS a+b+c+d b+d
JUMAT ...*
SABTU 06.00 ...*
MINGGU a+b+d
SENIN ...* a+c ...* c
...*
a+c+d ...* d
...*
b+d ...* a
b+c+d a+c
06.00 ...* ...* b
06.00
...* c
06.00 d
*) ditentukan dari hasil perhitungan
Diusahakan waktu untuk membuka dan menutup pintu tidak jatuh pada malam hari.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
190
CONTOH
Petak tersier seluas 165,580 ha dibagi menjadi 4 (empat) sub tersier yaitu:
• a = 51,15 ha
• b = 39,65 ha
• c = 35,42 ha
• d = 39,36 ha
Kebutuhan air di sawah = 1,4 l/dt/ha
ROTASI PEMBERIAN AIR
Pemberian air secara continous flow dapat berlangsung Q ≥ 75% Qmaks. Bila Q < 75%
Qmaks, harus dilakukan rotasi.
ROTASI SUB TERSIER I
Satu sub tersier ditutup, tiga sub tersier dibuka. Dilaksanakan bila Q = (50%-75%) Qmaks
untuk waktu 14 hari atau 336 jam.
Periode I
Sub tersier a, b, c dibuka. Sub tersier d ditutup. Lama pemberian air:
51,15 + 39,65 + 35,42 336
= 165,58 × 3
= 85,38 ≅ 85
Atau, 3 hari dan 13 jam.
Periode II
Sub tersier a, b, d dibuka. Sub tersier c ditutup. Lama pemberian air:
51,15 + 39,65 + 39,36 336
= 165,58 × 3
= 87,84 ≅ 88
Atau, 3 hari dan 16 jam.
Periode III
Sub tersier b, c, d dibuka. Sub tersier a ditutup. Lama pemberian air:
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
191
39,65 + 35,42 + 39,36 336
= 165,58 × 3
= 77,40 ≅ 78
Atau, 3 hari dan 6 jam.
Periode IV
Sub tersier a, c, d dibuka. Sub tersier b ditutup. Lama pemberian air:
51,15 + 35,42 + 39,36 336
= 165,58 × 3
= 85,18 ≅ 85
Atau, 3 hari dan 13 jam.
ROTASI SUB TERSIER II
Dua sub tersier ditutup, dua sub tersier dibuka. Dilaksanakan bila Q = (25%-50%) Qmaks
untuk waktu 7 hari atau 168 jam.
Periode I
Sub tersier a dan c diairi. Sub tersier b dan d tidak diairi. Lama pemberian air:
51,15 + 35,42
= 165,58 × 168
= 87,84 ≅ 88
Atau, 3 hari dan 16 jam.
Periode II
Sub tersier b dan d diairi. Sub tersier a dan c tidak diairi. Lama pemberian air:
39,65 + 39,36
= 165,58 × 168
= 80,16 ≅ 80
Atau, 3 hari dan 8 jam.
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS
192
ROTASI SUB TERSIER III
Tiga sub tersier ditutup, satu sub tersier diairi. Dilaksanakan bila Q < 25% Qmaks untuk
waktu 7 hari atau 168 jam.
Periode I
Sub tersier a diairi, sub tersier b, c, dan d tidak diairi. Lama pemberian air:
51,15
= 165,58 × 168
= 51,89 ≅ 52
Atau, 2 hari dan 4 jam.
Periode II
Sub tersier b diairi, sub tersier a, c, dan d tidak diairi. Lama pemberian air:
39,65
= 165,58 × 168
= 40,23 ≅ 40
Atau, 1 hari dan 16 jam.
Periode III
Sub tersier c diairi, sub tersier a, b, dan d tidak diairi. Lama pemberian air:
35,42
= 165,58 × 168
= 35,94 ≅ 36
Atau, 1 hari dan 12 jam.
Periode IV
Sub tersier d diairi, sub tersier a, b, dan c tidak diairi. Lama pemberian air:
39,36
= 165,58 × 168
Irigasi dan Bangunan Air (RC18-4603)
Laboratorium Keairan dan Teknik Pantai
Departemen Teknik Sipil FTSLK-ITS