BUKU PROSIDING
RAKERDA, WEBINAR, & PRESENTASI ILMIAH
“Update Pharmaceutical Practice During
The Covid-19 Pandemic”
Banjarmasin, 5 – 6 Juni 2021
Publisher:
Pengurus Daerah Kalimantan Selatan
Ikatan Apoteker Indonesia
BUKU PROSIDING
RAKERDA, WEBINAR, & PRESENTASI ILMIAH
“Update Pharmaceutical Practice During The Covid-19 Pandemic”
Organizing Committee: : apt. Rosiana Aryani, S.Farm
Ketua : apt. Putrie Wulandari, S.Farm
Sekretaris : apt. Hj. Renny Haslinda, S.Si., M.M
Bendahara : apt. Lisa Gunawan, S.Si
Wakil Bendahara : apt. Maria Ulfah, S.Si., MM
Seksi Acara apt. M. Riduan, S.Farm
: apt. Alifni Adha Bakti, S.Farm
Seksi Perlengkapan apt. Noraida, S.Farm
: apt. A.Hadi. Azhari, S.Farm
Seksi Publikasi dan Dokumentasi apt. Muhammad Zaini, M.Farm
Steering Committee:
apt. Surya Wahyudi, S.Si., MM
Dr. apt. Sutomo, M.Si
Reviewer:
Dr. apt. Sutomo, M.Si
Dr. apt. Lutfi Chabib, M.Sc
Editorial Board:
Dr. apt. Ika Puspitasari, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
Dr. apt. Nurkhasanah (Universitas Ahmad Dahlan)
Dr. apt. Samsul Hadi, M.Sc (Universitas Lambung Mangkurat)
apt. Guntur Kurniawan, Pharm.D (STIKES Borneo Lestari)
Editor:
apt. Muhammad Ikhwan Rizki, M.Farm
Setting/Layout:
Rina Handayani, S.Si
Elena Mustika Sari, S.Kom
Publisher:
Pengurus Daerah Kalimantan Selatan
Ikatan Apoteker Indonesia
Editorial Staff:
Jalan Veteran Nomor 51 (Apotek Kimia Farma)
Banjarmasin 70111
Telp 0511-3282013, Emai : [email protected].
Website : www.iaikalsel.com
ISBN : 978 – 623 – 94017 – 3 – 3
KATA PENGANTAR
Kegiatan Rapat Kerja Daerah, Webinar, dan Presentasi Ilmiah merupakan rangkaian
kegiatan tahunan dari Pengurus Daerah Kalimantan Selatan Ikatan Apototeker Indonesia.
Pada pelaksanaan tahun 2021 merupakan kegiatan pertama yang melibatkan presentasi
ilmiah yang diikuti oleh peneliti yang mempresentasikan hasil penelitiannya. Artikel hasil
presentasi ilmiah selanjutnya dibuat dalam bentuk Buku Prosiding untuk memudahkan
publikasi dari hasil penelitian tersebut.
Buku Prosiding berisi hasil-hasil penelitian di bidang kesehatan dan kefarmasian
yang dibuat dalam bentuk artikel ilmiah. Bidang yang terlibat meliputi farmasi komunitas,
farmasi klinik, kimia farmasi, farmasi bahan alam, dan teknologi farmasi. Buku Prosiding
akan diterbitkan juga secara online di website PD IAI Kalsel, sehingga menjangkau lebih
luas pembaca.
Panitia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan buku ini. Kami ucapkan terimakasih juga kepada Ketua PP IAI, Ketua PD
IAI Kalsel, Reviewer, dan seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya presentasi
ilmiah dan terbitnya Buku Prosiding.
Panitia menganggap buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Panitia berharap
mendapat banyak masukan dari para pembaca.
Banjarmasin, Juli 2021
apt. Surya Wahyudi, S.Si., MM
Ketua PD IAI Kalsel
iv
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021)
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel, ISBN : 978-623-94017-3-3
PROSIDING RAKERDA PD IAI KALSEL
Banjarmasin, 5 - 6 Juli 2021
https://www.iaikalsel.com
PENGARUH PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT DIRECTLY
OBSERVED TREATMENT SHORTCOURSE (PMO DOTS) TERHADAP
KEBERHASILAN PENGOBATAN PENYAKIT TBC DI RSUD Dr. H.
MOCH. ANSARI SALEH
(The Effect of The Role of Directly Observed Treatment Shortcourse (PMO
DOTS) Introduction on The Success of Treatment of TBC Disease In RSUD
Dr. H. Moch. Ansari Saleh)
*Muhammad Reza Pahlevi, Sari Wahyunita, Shafia Rahmi
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari Banjarbaru Jl. Kelapa Sawit 8
Bumi Berkat Kel. Sungai Besar Banjarbaru
*Email : [email protected]
ABSTRAK
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi menular disebabkan bakteri
Mycobacterium tuberkulosis, yang dapat menyerang berbagai organ pada tubuh
manusia, terutama paru-paru. Sejak tahun 1995 Indonesia menerapkan strategi baru
untuk menerapkan penggunaan obat efektif. Strategi tersebut disebut dengan
Pengawas Menelan Obat (PMO) / Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS).
Pengawas menelan obat (PMO) merupakan komponen DOTS yang berupa
pengawasan langsung menelan obat pasien TBC oleh seorang PMO. Tujuan penelitian
untuk mengetahui pengaruh peran PMO DOTS terhadap keberhasilan pengobatan
penyakit TBC di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh. Jenis penelitian deskriptif analitik
dengan pendekatan studi retrospektif. Populasi pasien yang terdiagnosis TBC dan
sampel sebanyak 124 responden dengan teknik sampling non probability dan purposive
sampling. Instrumen yang digunakan lembar kuesioner untuk menilai peran PMO
DOTS dan hasil laboratorium untuk menilai keberhasilan dan dianalisis bivariat
dengan chi-square. Hasil penelitian PMO DOTS mempunyai peranan pada
pengobatan TBC sebesar 121 responden (98%) dengan keberhasilan pengobatan TBC
adalah 116 orang (94%). Kesimpulan pengaruh peran PMO DOTS terhadap
keberhasilan pengobatan penyakit TBC adalah p=0,000 (p<0,05) yang berarti
menunjukkan adanya pengaruh (signifikan) peran PMO DOTS terhadap keberhasilan
pengobatan penyakit TBC.
Kata kunci: Keberhasilan Pengobatan Peran PMO DOTS, Penyakit TBC
1
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 1 - 7
ABSTRACT
Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium
tuberculosis, which can attack various organs in the human body, especially the lungs.
Since 1995 Indonesia has implemented a new strategy to implement effective drug use.
This strategy is called the Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS). Supervisor
for ingesting drugs (PMO) is a DOTS component in the form of direct supervision of
ingesting drugs for TB patients by a PMO. The research objective was to determine the
effect of the role of PMO DOTS on the success of TB treatment in Dr. H. Moch. Ansari
Saleh. This type of analytic descriptive research with a retrospective study approach. The
population of patients diagnosed with tuberculosis and a sample of 124 respondents with
non-probability sampling techniques and purposive sampling. The instrument used was a
questionnaire sheet to assess the role of PMO DOTS and laboratory results to assess
success and analyzed bivariately with chi-square. The results of the PMO DOTS study had
a role in the treatment of TB by 121 respondents (98%) with the success of TB treatment
being 116 people (94%). The conclusion of the effect of the role of PMO DOTS on the
success of TB treatment is p = 0.000 (p <0.05) which means that there is an effect
(significant) of the role of PMO DOTS on the success of TB treatment.
Keywords: Treatment Success, Role of PMO DOTS, , Tuberculosis
I. PENDAHULUAN penyebaran, mutu obat serta sumber daya
Tuberkulosis (TBC) merupakan kesehatan (Kemenkes RI, 2018a).
penyakit infeksi menular yang disebabkan
bakteri Mycobacterium tuberkulosis, yang Global Report WHO (2018)
dapat menyerang berbagai organ pada menyebutkan sekitar 130.000 orang setiap
tubuh manusia, terutama paru-paru. tahun meninggal akibat penyakit TBC.
Penyakit ini bila tidak diobati atau Insiden TBC di Indonesia sebesar 391 per
pengobatannya tidak tuntas dapat 100.000 penduduk. Saat ini Indonesia
menimbulkan komplikasi berbahaya menduduki peringkat ke-2 yang memiliki
hingga kematian (Kemenkes RI, 2018c). beban permasalahan TBC terbesar (WHO,
Adapun 4 target utama kesehatan yang 2018). Angka kejadian TBC menurut
harus dicapai pada 2019 yakni Ditjen Pencegahan dan Pengendalian
meningkatkan status kesehatan dan gizi Penyakit Kemenkes RI tahun 2016
masyarakat, meningkatkan pengendalian Kalimantan Selatan menempati posisi ke-
penyakit menular salah satunya TBC dan 14 yaitu sebesar 128 per 100.000
penyakit tidak menular, meningkatkan penduduk menderita TBC (Thuraidah
pemerataan dan mutu pelayanan dkk., 2018). Berdasarkan jenis kelamin,
kesehatan, dan meningkatkan pada laki-laki 3 kali lebih tinggi
perlindungan finansial, ketersediaan, dibandingkan perempuan (Kemenkes RI,
2018b). Berdasarkan data RSUD Dr. H.
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 1 - 7
2
Moch. Ansari Saleh pada tahun 2018, mau berobat dengan teratur,
penyakit TBC termasuk 20 penyakit mengingatkan pasien untuk berkunjung
terbanyak dan menduduki urutan yang ke ulang ke fasilitas kesehatan. (Kemenkes
17 di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh RI, 2016).
dengan jumlah penderita TBC sebanyak
2.155 pasien per tahun. II. METODE
Jenis penelitian deskriptif analitik dengan
Sejak tahun 1995 Indonesia telah pendekatan studi retrospektif. Populasi
menerapkan strategi baru program pasien yang terdiagnosis TBC dan sampel
penanggulangan penyakit TBC yang sebanyak 124 responden dengan teknik
direkomendasikan oleh WHO. Strategi non probability sampling jenis purposive
tersebut menerapkan panduan obat efektif sampling. Instrumen yang digunakan
dan konsep directly observed treatment lembar kuesioner untuk menilai peran
shortcourse (DOTS). Pengawas menelan PMO DOTS, Hasil uji validitas
obat (PMO) merupakan komponen DOTS didapatkan nilai r hitung > r tabel (>0,361)
yang berupa pengawasan langsung dan hasil uji reliabilitas nilai cronbach
menelan obat pasien TBC oleh seorang alpha=0,965 (>0,6). Hasil laboratorium
PMO. Pengobatan TBC memerlukan untuk menilai keberhasilan dan dianalisis
waktu yang sangat panjang dan mungkin bivariat dengan chi-square.
menyebabkan kebosanan dan kejenuhan
pada penderita sehingga memungkinkan III. HASIL DAN PEMBAHASAN
kegagalan dalam pengobatan TBC. Salah Tabel 1 menunjukkan jenis
satu penyebab kegagalan tersebut adalah
ketidakpatuhan penderita terhadap kelamin pasien TBC adalah laki-laki
pengobatan. Kepatuhan dalam meminum (67%) lebih banyak dibandingkan dengan
obat sangat penting untuk menghindari perempuan (33%), hal ini disebabkan
multidrug-resistant (MDR) untuk itu karena kebiasaan merokok, pekerjaan
diperlukan seseorang PMO yang akan yang berasal dari polutan dari dalam atau
membantu penderita selama dalam luar ruangan dan progresivitas penyakit
program pengobatan TBC (Maulidya, (Kurniawan, 2015).
2015).
3
Peran seorang PMO adalah
mengawasi pasien selama pengobatan
agar pasien berobat dengan teratur,
memberikan motivasi kepada pasien agar
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 1 - 7
Karakteristik Responden apabila pekerja bekerja di lingkungan
Tabel 1. Karakteristik jenis kelamin yang terpapar banyak debu
responden di RSUD Dr. H. mempengaruhi terjadinya gangguan pada
Moch. Ansari Saleh saluran pernafasan. Paparan kronis udara
Jenis Frekuensi Persentase yang tercemar dapat meningkatkan
Kelamin
Laki-laki 83 67% morbiditas, terutama gejala penyakit
41 33%
Perempuan saluran pernafasan dan umumnya
penyakit tuberkulosis (Prabu, 2008).
Tabel 2 menunjukkan umur Tabel 3. Karakteristik pekerjaan responden
responden sebagian besar pada usia 35-44 di RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh
tahun sebanyak 70 orang (57%). Hasil Pekerjaan Frekuensi Persentase
Buruh 36 29%
penelitian ini sesuai dengan pernyataan Ibu rumah 20 16%
tangga
Kemenkes RI (2011) bahwa sekitar 75% Pedagang 16 13%
Tidak Bekerja 14 11%
pasien TBC adalah kelompok umur yang Wiraswasta 15 12%
Petani 5 4%
produktif secara ekonomis, yaitu 15-50 Supir 8 7%
Pelajar 10 8%
tahun. Umur produktif merupakan masa
yang berperan penting dalam mencari
nafkah di luar rumah dan frekuensi keluar Tabel 4 menunjukkan responden
rumah yang sering dapat dimungkinkan sebagai PMO sebagian besar berjenis
terjadinya penularan TBC (Tirtana, 2011). kelamin perempuan yaitu sebanyak 103
Tabel 2. Karakteristik usia responden di orang (83%).
RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Tabel 4. Karakteristik Jenis Kelamin PMO
Usia Frekuensi Persentase DOTS penyakit TBC di RSUD Dr. H. Moch.
15-24 tahun 14 11%
25-34 tahun 21 17% Ansari Saleh
35-44 tahun 70 57%
45-54 tahun 19 15% Jenis Frekuensi Persentase
Kelamin
Laki-laki 21 17%
103 83%
Perempuan
Tabel 3 menunjukkan bahwa Tabel 5 menunjukkan responden
buruh memiliki angka kejadian tinggi. sebagai PMO sebagian besar berusia 25-
Sebagian besar dari mereka bekerja pada 34 tahun sebanyak 51 orang (41%).
satu tempat yang sama yang
kemungkinan kuman TBC menular
melalui kontak dengan sesama pekerja.
Faktor risiko TBC disebutkan bahwa
4
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 1 - 7
Tabel 5. Karakteristik Usia PMO DOTS pengawasan terhadap penderita TBC
(Fadlilah, 2016).
penyakit TBC di RSUD Dr. H.
PERAN PMO DOTS
Moch. Ansari Saleh
Usia Frekuensi Tidak
Persentase berperan
15-25 tahun 25 20%
25-34 tahun 51 41% 2%
41 33%
35-44 tahun 7 6% Berperan
45-54 tahun 98%
Tabel 6 menunjukkan hubungan Diagram 1. Peran PMO DOTS dam
membantu pasien TBC
pasien dengan PMO sebagian besar adalah
istri sebanyak 64 orang (52%).
Tabel 6. Karakteristik hubungan pasien Peran PMO DOTS dalam keberhasilan
pengobatan pasien TBC
dengan PMO DOTS
Diagram 2 menunjukkan peran
Hubungan Pasien dengan PMO DOTS PMO DOTS dalam keberhasilan
pengobatan pasien TBC, yang
PMO Frekuensi Persentase menunjukkan sebagian besar responden
DOTS berhasil dalam pengobatan TBC yaitu
Istri 64 52% sebanyak 116 responden (94%) kepatuhan
7 6% dalam minum obat adalah kunci
Suami 19 15% kesembuhan penderita TBC paru.
Orang 34 27% KEBERHASILAN PENGOBATAN TBC
tua
Anak 6%
Peran PMO DOTS dalam membantu 94%
terapi pasien TBC
Diagram 2. Peran PMO DOTS dalam
Diagram 1 menunjukkan Peran membantu keberhasilan terapi pasien TBC
PMO sebanyak 121 (98%) dan tidak
berperan sebanyak 3 (2%). Peran PMO Berdasarkan hasil uji statistik chi-
diukur menggunakan kuesioner yang square menunjukkan p value sebesar
sudah dilakukan uji validitas dan 0,000 (p value <0,05) artinya ada
reabilitas. PMO yang tidak berperan pengaruh antara peran PMO DOTS
sebanyak 3 orang disebabkan usia PMO,
sikap PMO yang kurang memperhatikan 5
penderita TBC dan tingkat pendidikan
PMO mengenai TBC dapat
mempengaruhi pengetahuan PMO tentang
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 1 - 7
terhadap keberhasilan pengobatan TBC di hubungan peran PMO dengan
RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh (tabel keberhasilan pengobatan TBC terdapat 5
7). Hal ini sesuai dengan penelitian responden dengan peran PMO baik namun
sebelumnya menurut Firdaus (2012) tidak mengalami keberhasilan dalam
pengaruh peranan PMO dengan pengobatan TBC. Kondisi ini disebabkan
keberhasilan pengobatan penderita TBC adanya faktor-faktor lain yang turut
menunjukkan bahwa kecenderungan mempengaruhi keberhasilan pengobatan
semakin baik peran PMO maka TBC yaitu perilaku pasien dan
keberhasilan pengobatan semakin lingkungan. Faktor lingkungan, sanitasi
meningkat dan sebaliknya jika semakin dan hygiene terutama sangat terkait
buruk peran PMO maka keberhasilan dengan keberadaan kuman, dan proses
pengobatan semakin kecil. timbul serta penularannya. Faktor perilaku
sangat berpengaruh pada kesembuhan
Menurut Depkes RI (2005) peran yang dimulai dari perilaku hidup sehat
seorang PMO dipengaruhi oleh faktor (makan makanan yang bergizi dan
external berupa dukungan keluarga seimbang, istirahat cukup, olahraga
sebagai PMO dan faktor internal yang teratur, hindari rokok, alkohol, dan hindari
berupa tingkat pendidikan PMO, serta stres), kepatuhan untuk minum obat dan
motivasi dan sikap dari PMO. Dalam pemeriksaan rutin untuk memantau
penelitian ini terbukti peran seorang PMO perkembangan pengobatan serta efek
dalam kategori baik karena PMO memiliki samping (Hendrawati, 2008).
pengetahuan yang cukup memadai dalam Tabel 7. Hasil Analisa Statistik
mendampingi dan mengawasi penderita
minum OAT. PMO termotivasi untuk Pengaruh p Value
berperan membantu anggota keluarga Peran PMO
yang sakit sesuai tugas dan fungsi 0,000
keluarga serta dalam pendampingan nya DOTS (<0,05)
PMO selalu bersikap positif. Hal ini terhadap
mendorong pasien untuk minum OAT keberhasilan
secara rutin sesuai jangka waktu pengobatan
pengobatan yang ditentukan yakni 6
bulan. Secara umum penelitian TBC
menunjukkan bahwa semakin baik peran
PMO maka semakin tinggi keberhasilan Uji Chi-
pengobatan TBC. Namun dalam distribusi square
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 1 - 7 6
DAFTAR PUSTAKA Paru Pada Pasien Pasca
Pengobatan di Puskesmas Dinoyo
Depkes RI. 2005. Pedoman Nasional Kota Malang.
Penanggulangan Tuberkulosis Prabu P., 2008. Faktor Resiko TBC.
cetakan ke 6. Jakarta : Depkes RI. http://putraprabu.wordpress.com/2
Fadlilah, N. 2016. Hubungan 008/12/24/faktor-resiko-tbc.
Karakteristik Pengawas Menelan Diakses tanggal 1 Juli 2019.
Obat Terhadap Kepatuhan Berobat Thuraidah, A., R.A.W. Astuti, D.
Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Rakhmina. 2017. Anemia dan
Pragaan Tahun 2016. Jurnal Lama Konsumsi Obat Anti
Fakultas Kesehatan Masyarakat Tuberkulosis. Jurnal Jurusan
Universitas Airlangga Surabaya, Analis Kesehatan Poltekkes
Jawa Timur. Kemenkes Banjarmasin.
Firdaus, F. 2015. Universitas Tirtana, B.T. 2011. Faktor-faktor yang
Muhammdiyah Jakarta. Makalah mempengaruhi keberhasilan
Epidemiologi Penyakit Menular pengobatan pada pasien
Tuberkulosis, 1-39. tuberkulosis paru dengan
Hendrawati P. A. 2008. Hubungan antara resistensi obat tuberkulosis di
Partisipasi Pengawas Menelan Wilayah Jawa Tengah. Fakultas
Obat Keluarga dengan Sikap Kedokteran Universitas
Penderita Tuberkulosis Paru di Diponegoro.
Wilayah Kerja Puskesmas http://eprints.undip.ac.id/. Diakses
Banyuanyar Surakarta. Skripsi tanggal 1 Desember 2018.
Fakultas Ilmu Kesehatan UMS WHO. 2018. Global Tuberkulosis Report
Surakarta. 2018. Jenewa : WHO.
Kemenkes RI. 2016. Pedoman Nasional
Pengendalian Tuberkulosis.
Jakarta : Kemenkes RI.
Kemenkes RI. 2018a. Empat Target
Kesehatan Harus Tercapai di 2019.
http://www.depkes.go.id/article/vi
ew/18030700008/4-target-
kesehatan-ini-harus-tercapai-di-
2019.html. Diakses tanggal 24 Juli
2019.
Kemenkes RI. 2018b. Infodatin
Tuberkulosis. Jakarta Selatan :
Kemenkes RI Pusat Data dan
Informasi.
Kemenkes RI. 2018c. Data dan Informasi
Profil Kesehatan Indonesia 2017.
Jakarta : Kemenkes RI.
Kurniawan N. 2015. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Keberhasilan
Pengobatan Tuberkulosis Paru.
Jurnal Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Riau.
Maulidya. 2015. Faktor yang
mempengaruhi Keberhasilan
Pengobatan Tuberkulosis (TB)
7
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 1 - 7
8
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 1 - 7
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel, ISBN : 978-623-94017-3-3
PROSIDING RAKERDA PD IAI KALSEL
Banjarmasin, 5 - 6 Juli 2021
https://www.iaikalsel.com
Identifikasi Dampak Interaksi Obat Antihipertensi Terhadap
Tekanan Darah pada Pasien Geriatri yang di rawat Inap di
RSUD Dr. Soedarso Pontianak
M. Akib Yuswar1, Egida Rachmadani2, *Eka Kartika Untari1
1Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia
2 Prodi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia
*Email : [email protected]
ABSTRAK
Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang banyak terjadi
pada geriatri. Pasien geriatri hipertensi memerlukan kombinasi dua atau lebih
antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah, sehingga geriatri berisiko
mengalami polifarmasi dan interaksi obat. Interaksi obat akan dapat mempengaruhi
tekanan darah pasien. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi kejadian interaksi
obat antihipertensi berdasarkan mekanisme kerja obat dan tingkat keparahannya
serta mengidentifikasi ada tidaknya perubahan tekanan darah akibat interaksi obat
pada pasien geriatri hipertensi yang dirawat inap di RSUD Dr Soedarso periode
Januari – Juni 2019. Pengambilan data secara retrospektif dengan teknik total
sampling, diperoleh 38 data rekam medik pasien. Data dianalisis deskriptif
menggunakan literatur Stockley’s Drug Interaction dan Drug Interaction Checker.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 28 pasien (73%) berpotensi mengalami
interaksi obat dengan jumlah 85 kasus. Interaksi obat dengan tingkat keparahan
moderat dan mekanisme interaksi secara farmakodinamik merupakan kasus yang
banyak terjadi yaitu berturut-turut sebanyak 61 kasus (72%) dan 79 kasus (93%).
Pada pasien dengan interaksi obat, terdapat penurunan dan peningkatan tekanan
darah yaitu berturut-turut pada 23 pasien dan 4 pasien. Penurunan tekanan darah
pasien diduga disebabkan oleh interaksi antihipertensi secara sinergis.
Kata kunci: Geriatri, hipertensi, interaksi obat, tekanan darah
10
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
ABSTRACT
Hypertension is one of cardiovascular diseases in geriatrics. Hypertensive
geriatric patients require a combination of more antihypertensives to achieve blood
pressure target. Thus, the geriatric was risk for polypharmacy and drug interactions
event. As a result, drug interaction can affect their blood pressure. This study was aim to
identify the interactions of antihypertensives based on mechanism and severity and also
to determine whether there is a change in blood pressure caused by drug interactions in
geriatric hypertensive inpatients at RSUD Dr Soedarso on January – June 2019 period.
Data were collected retrospectively from 38 patients’ medical records and it was using
total sampling technique to collect. Data were processed descriptively based on E-book
Stockley’s Drug Interaction as a literature and Drug Interaction Checker. There were 28
patients (73%) who might experience drug interactions in a total of 85 cases. Drug
interactions at moderate severity and pharmacodynamic interaction mechanism often
occur respectively were 61 cases (72%) and 79 cases (93%). There were a decrease and
an increase blood pressure, which respectively were 23 and 4 patients. The decreasing
patient blood pressure estimated caused by synergistic drug interactions of
antihypertensives and adjustment of each drug dose that has potential to increase blood
pressure.
Keywords: Blood pressure, drug interactions, geriatric, hypertension
I. PENDAHULUAN beralkohol, obesitas, kurang aktifitas fisik,
Hipertensi adalah peningkatan stres, penggunaan estrogen (Kemenkes,
tekanan darah sistolik lebih dari 140 2014).
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih
dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran Berdasarkan data World Health
dengan selang waktu 5 menit dalam Organization (WHO) , jumlah orang
keadaan tenang. Peningkatan tekanan dewasa yang terkena hipertensi telah
darah yang berlangsung dalam jangka meningkat dari 594 juta pasien pada tahun
waktu lama dapat menimbulkan 1975 menjadi 1,13 milyar pasien pada
kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), tahun 2015 (WHO, 2013). Data profil
jantung (jantung koroner) dan otak kesehatan masyarakat di Kota Pontianak
(stroke) bila tidak dideteksi secara dini tahun 2017 menunjukkan bahwa
dan mendapat pengobatan yang memadai. berdasarkan data pengukuran tekanan
Faktor resiko hipertensi adalah umur, darah terdapat sebanyak 11,3% atau
jenis kelamin, genetik, kebiasaan 14.639 kasus hipertensi dimana
merokok, konsumsi garam, konsumsi penderitanya merupakan perempuan dan
lemak jenuh, konsumsi minuman laki-laki yang berusia lebih dari 18 tahun
dengan jumlah total laki-laki dan
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19 perempuan sebanyak 417.470 orang. Data
11
profil tersebut juga menunjukkan bahwa resep pada pasien hipertensi rawat inap.
hipertensi merupakan kasus penyakit Interaksi obat dengan tingkat keparahan
terbanyak kedua (43.261 kasus) setelah minor sebesar 66 (22,75%) interaksi,
penyakit ISPA (83.128 kasus) dari total tingkat moderat sebesar 99 (34,13%)
310.126 kasus penyakit yang terjadi interaksi, dan tingkat mayor sebesar 18
Pontianak (Dinkes, 2017). (6,21%) interaksi (Agustina, Annisa, &
Prabowo, 2015). Penelitian Agrawal dkk
Geriatri merupakan cabang ilmu Tahun 2016 juga menunjukkan adanya
kedokteran yang mempelajari keadaan perubahan tekanan darah akibat interaksi
fisiologis dan penyakit yang berhubungan obat antihipertensi yaitu penggunaan
dengan lansia. Semakin bertambahnya rifampisin bersamaan dengan amlodipine
usia, seseorang pasti akan mengalami dan metoprolol pada pasien hipertensi
proses penuaan yang ditandai dengan dengan penyakit penyerta tuberkulosis
menurunnya berbagai fungsi organ tubuh menyebabkan meningkatnya tekanan
dan menjadi rentan terhadap berbagai darah sistolik dan diastolik pasien rata-
penyakit. Hal tersebut menyebabkan rata 24 ± 10 mmHg dan 15 ± 2 mmHg
penyakit pada geriatri bersifat (Agrawal, Agrawal, Kaleekal, & Gupta,
multipatologik, degenerative, saling 2016).
terkait, kronis, dan cenderung
menyebabkan kecacatan lama sebelum Peningkatan tekanan darah tersebut
terjadinya kematian dan dalam dapat berdampak pada tingkat keparahan
pengobatan sering terjadi polifarmasi penyakit hipertensi ataupun penyakit
(Kholifah, Nur, & Widagdo, 2016; penyerta lainnya yang diderita pasien.
Fatmah, 2010; Martono, 2014). Tingginya angka kejadian hipertensi dan
masalah terkait interaksi obat pada pasien
Polifarmasi menjadi penyebab pasien geriatri di Kota Pontianak menjadi latar
geriatri beresiko tinggi mengalami belakang dilakukannya penelitian ini.
interaksi obat yang berakibat pada Penelitian ini bertujuan untuk
perubahan efek suatu obat sehingga mengidentifikasi kejadian interaksi obat
keefektifan atau toksisitasnya menjadi antihipertensi berdasarkan mekanisme
berubah. Salah satu dampak dari interaksi kerja obat dan tingkat keparahannya serta
obat antihipertensi adalah terjadinya menetapkan ada tidaknya perubahan
perubahan pada tekanan darah pasien tekanan darah akibat interaksi obat
hipertensi (Thanacoody, 2012). Penelitian antihipertensi pada pasien rawat inap
Agustina dkk Tahun 2015 menunjukkan geriatri yang menderita hipertensi di
terdapat 183 kasus interaksi dari total 290
10
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
RSUD dr. Soedarso Pontianak periode ICU dan pasien yang meninggal sebelum
Januari-Juni 2019. tahap akhir pengobatan. Pasien dengan
rekam medik yang tidak dapat ditemukan
II. METODE di ruang arsip rekam medik rumah sakit
juga dimasukkan kedalam kriteria
A. Desain Penelitian eksklusi. Teknik sampling yang
Penelitian ini merupakan jenis digunakan adalah total sampling dengan
cara mengambil semua subjek dari
penelitian observasional yang bersifat populasi yang telah memenuhi kriteria
deskriptif dengan rancangan penelitian inklusi yang ditentukan selama periode
potong lintang (cross sectional). penelitian. Kriteria inklusi pada penelitian
Penelitian dilakukan selama bulan ini yaitu, pasien lansia (usia > 60 tahun)
Oktober – Desember 2019 di bagian hipertensi yang menerima terapi
Rekam Medik RSUD dr. Soedarso antihipertensi dan dirawat inap di RSUD
Pontianak. Kelaikan etik telah diperoleh Dr. Soedarso Pontianak, pasien geriatri
dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan hipertensi yang menerima resep > 2 jenis
RSUD Dr. Soedarso Kota Pontianak obat, pasien geriatri hipertensi dengan
nomor 13/RSDS/kepk/2019. Data yang atau tanpa penyakit penyerta.
dikumpulkan berupa data karakteristik Pengambilan data dilakukan secara
pasien meliputi usia, jenis kelamin, lama retrospektif dengan data berasal dari
rawat inap, data jenis obat yang digunakan rekam medik pasien yang memenuhi
pasien, serta komorbiditas pasien. kriteria inklusi.
B. Populasi dan Sampel C. Analisis Hasil
Populasi atau jumlah total pasien Pengolahan data dilakukan dengan
geriatri rawat inap yang menderita analisis dampak interaksi obat dari
hipertensi di RSUD Dr Soedarso pada kombinasi obat yang diresepkan terhadap
periode Januari - Juni 2019 adalah 63 tekanan darah pada pasien geriatri
pasien. Pasien yang termasuk dalam penderita hipertensi dilakukan dengan
kriteria inklusi berjumlah sebanyak 38 menggunakan E-book Stockley’s Drug
pasien dan yang termasuk dalam kriteria Interaction serta Drug Interaction
eksklusi berjumlah sebanyak 25 pasien. Checker yang diakses melalui
Beberapa pasien yang dimasukkan medscape.com dan drugs.com.
kedalam kriteria eksklusi yaitu pasien
yang tidak menggunakan obat 11
antihipertensi, pasien yang dirawat inap di
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
III. HASIL DAN PEMBAHASAN Terlihat pada tabel 1 bahwa jumlah
pasien wanita dengan hipertensi lebih
Subjek penelitian yang didapat banyak dibandingkan laki-laki. Saat
yaitu sebanyak 38 pasien geriatri wanita berada pada fase menopause,
hipertensi yang yang dirawat inap dan terjadi peningkatan kadar kolesterol LDL
menerima terapi antihipertensi di RSUD (Low Density Lipoprotein), kolesterol
Dr. Soedarso Pontianak periode Januari - total dan apolipoprotein B. Hal tersebut
Juni 2019. Tabel 1 menunjukkan terdapat menyebabkan darah menjadi lebih kental
23 pasien perempuan (60.5%) dan 15 yang meningkatkan risiko terjadinya
pasien laki-laki (39.5%). Terdapat 28 proses aterosklerosis dan mengakibatkan
pasien yang berpotensi mengalami tekanan darah meningkat (Soenardi,
interaksi obat. Pada tabel 1 menunjukkan, 2005).
rentang usia yang banyak mengalami
interaksi obat yaitu 60-74 tahun sebanyak NHANES III (National Health and
21 pasien (55%), sedangkan pada rentang Nutrition Examination Survey)
usia 75-90 tahun hanya 7 pasien (18%). menunjukkan bahwa, kejadian hipertensi
pada perempuan saat masa post-
Tabel I. Persentase potensi kejadian menopause hingga dekade ke enam
interaksi obat pada 38 pasien geriatri beresiko dua kali lebih tinggi
hipertensi dibandingkan saat masa pra-menopause
terutama pada tekanan darah sistoliknya.
Kriteria Pasien yang Pasien yang Pasien hipertensi biasanya memerlukan
Berpotensi Tidak kombinasi lebih dari 2 obat untuk
Mengalami mencapai target tekanan darah yang
Interaksi Berpotensi diharapkan. Hipertensi juga merupakan
Mengalami salah satu penyebab kejadian penyakit
Obat kardiovaskular lainnya sehingga beresiko
Interaksi tinggi mengalami interaksi obat akibat
Obat polifarmasi (Pemu, 2008). Lansia lebih
rentan terkena hipertensi dan penyakit
n%n% kardiovaskuler lainnya dikarenakan
proses menua menyebabkan terjadinya
Usia kekakuan pada aorta, peningkatan
afterload (memerlukan daya lebih banyak
60-74 21 55 9 24 untuk memompa darah dari ventrikel) dan
75-90 7 18 1 3 12
Jenis
kelamin
Laki-laki 11 40 4 40
Perempu 17 16 6 60
an
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
peningkatan tekanan vaskuler. diresepkan dikarenakan banyaknya
Peningkatan aktifitas simpatik, kurangnya komorbiditas yang dialami.
sensitivitas baroreseptor (pengatur
tekanan darah), peran ginjal dan laju Obat antihipertensi yang banyak
filtrasi glomerulus menurun juga dialami diberikan adalah golongan CCB (Calcium
oleh lansia (Ford, Giles, & Dietz, 2002). Channel Blocker) yaitu sebanyak 31
penggunaan (46%) dari total 68
Hasil penelitian ini sesuai dengan penggunaan (tabel 2).
penelitian Gordon, yaitu lebih banyak
pasien penderita ISH (20 pasien) Tabel II. Profil penggunaan antihipertensi
dibandingkan dengan pasien yang pada 38 pasien geriatri penderita
menderita hipertensi sistolik-diastolik (18 hipertensi
pasien) dari total 38 pasien. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Gordon, Golongan Obat n %
sekitar 80% pasien dengan usia 65 tahun
keatas (lansia) menderita hipertensi β-blocker 6 9%
sistolik terisolasi atau ISH (Isolated
Sistolic Hypertension) dan sisanya Calcium Channel 31 46%
merupakan hipertensi sistolik-diastolik. Blocker
Hipertensi sistolik terisolasi merupakan
keadaan dimana tekanan darah sistolik ACE Inhibitor 2 3%
pasien lebih dari 140 mmHg namun
tekanan darah diastoliknya berada Angiotensin 17 25%
dibawah 90 mmHg (Sari, Usman, Majid, Receptor Blocker
& Sari, 2019).
Diuretik 12 18%
ISH dapat meningkatkan risiko
penyakit kardiovaskular sekitar 3 - 4 kali Hasil penelitian menunjukkan
pada pasien lansia dibandingkan yang golongan CCB merupakan antihipertensi
lebih muda, sehingga berisiko tinggi banyak digunakan (46%). Hal ini sesuai
terkena interaksi obat akibat penggunaan dengan alogaritma tatalaksana penyakit
banyak jenis obat untuk mengatasi hipertensi menurut WHO dan American
multipatologi yang dialami (Stokes, Society of Hypertension, yang
2019). Hal tersebut menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa antihipertensi lini
semakin tua usia pasien maka akan pertama untuk pasien geriatri ( ≥60 tahun)
semakin banyak jenis obat yang akan penderita hipertensi adalah golongan CCB
(calcium channel blocker) atau golongan
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19 diuretik thiazide. Obat golongan CCB dan
diuretic thiazid dinilai tepat bagi lansia
dikarenakan, saat memasuki usia 60 tahun
keatas, kadar renin dalam tubuh mulai
13
berkurang karena itu lebih tepat pasien. Efek samping yang biasa
menggunakan antihipertensi dengan
mekanisme yang tidak menekan sistem dirasakan pasien hipertensi setelah
renin. Obat golongan ACE-I dan ARB
lebih cocok untuk pasien muda yang kadar mengkonsumsi amlodipin adalah pusing,
reninnya dalam tubuh masih stabil, karena
mekanismenya dalam menekan system sakit kepala, palpitasi dan nausea. Nausea
renin tubuh (Sutanto, 2010).
merupakan suatu gejala klinis munculnya
Obat non antihipertensi yang
banyak digunakan pasien adalah obat kecenderungan untuk muntah atau
gastrointestinal 70 penggunaan (35%) dari
total 198 penggunaan obat non perasaan tidak nyaman pada perut bagian
antihipertensi (tabel 3).
Tabel III. Profil penggunaan non atas (Weber dkk., 2014). Gejala nausea
antihipertensi pada 38 pasien berdasarkan
kelas terapi pada pasien dapat dikurangi dengan cara
pemberian obat yang dapat menangani
gejala tersebut. Antagonis reseptor H2
yaitu ranitidin dapat digunakan untuk
mengatasi mual dan muntah ini (Fares,
James, & Carl, 2016). Menurut penelitian
Putri, pasien yang telah mengonsumsi
obat golongan CCB (amlodipin) selama 2
Kelas Terapi n Persentase tahun selalu mengeluh pusing dan mual
24 (%)
Antibiotik 70 12 dalam selang waktu kurang dari 1 jam
Obat
Gastrointestinal 7 35 setelah mengkonsumsi obat tersebut
Obat 4
Pernafasan 18 4 (Wells & Dipiro, 2012).
Hematologi 2
Obat 8 Tabel 4 menunjukkan, interaksi
Psikofarmaka 7 9
Obat 7 obat dengan tingkat keparahan moderat
Kardiovaskular 4 4
Antiinflamasi 23 4 merupakan kasus banyak terjadi yaitu
Antikolinergik 10 4
Antivertigo 16 2 sebanyak 61 kasus (72%) dari total 85
Analgesik, 198
Antipiretik 12 kasus interaksi obat antihipertensi yang
Hormon 5
Vitamin dan terjadi.
Mineral 8
100 Tabel IV. Tipe Interaksi Obat
Total
Berdasarkan Tingkat Keparahan dan
Mekanisme
Kriteria Jumlah Persentase
Obat sistem gastrointestinal Kasus (%)
menjadi obat non antihipertensi yang
paling banyak digunakan (35%). Hal ini Keparahan
diduga untuk mengatasi efek samping dari
amlodipin yang banyak digunakan oleh Minor 19 22
Moderate 61 72
Mekanisme
14
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
Farmakodinamik 45 53 jarang terjadi (Hartiwan, Alifiar, &
Antagonis Fatawa, 2018).
34 40
Farmakodinamik 6 7 Berdasarkan mekanismenya (tabel
Sinergis 4), interaksi obat yang banyak terjadi
adalah secara farmakodinamik antagonis
Farmakokinetik yatu 45 kasus (53%). Mekanisme interaksi
ini kemungkinan besar disebabkan antara
Penelitian ini serupa dengan antihipertensi dengan obat NSAID
penelitian Hartiwan dkk yang juga (Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs)
menunjukkan bahwa kasus interaksi obat dapat melemahkan efek antihipertensi dari
antihipertensi pada pasien hipertensi yang β-blocker dan dapat menyebabkan retensi
dirawat inap yang banyak terjadi yaitu cairan, yang juga mempengaruhi tekanan
pada tingkat moderat (Kristanti, 2015). darah. Manajemen yang dapat dilakukan
Interaksi mayor merupakan interaksi adalah selalu memantau tekanan darah
dengan potensi yang berbahaya dan serius bagi pasien yang menerima terapi
pada pasien, biasanya interaksi ini kombinasi ini dalam waktu lama (lebih
memiliki tingkat kejadian yang rendah. dari 1 minggu).
Akibat dari interaksi ini dapat
memberikan efek yang fatal terhadap Beberapa NSAID dapat
pasien, yang dapat menyebabkan meningkatkan tekanan darah pasien
kerusakan menetap pada organ tubuh pengguna antihipertensi. NSAID
bahkan hingga kematian. Penanganan melemahkan efek dari CCB (amlodipin),
yang dilakukan adalah mengganti obat dikarenakan NSAID menghambat
yang diberikan atau memberikan vasodilator dan prostaglandin natriuretik
tambahan pengobatan. Interaksi moderat di ginjal dan atau penurunan sintesis
adalah interaksi yang memiliki prostaglandin di pembuluh darah atau
signifikansi klinis yang lebih rendah serta endotel yang menyebabkan retensi garam
kerugian yang ditimbulkan lebih rendah dan vasokonstriksi pembuluh darah.
dibandingkan dengan interaksi mayor. Hal Manajemen yang dapat dilakukan pada
yang dapat dilakukan untuk mengatasi pasien yang mengonsumsi kombinasi obat
interaksi ini adalah dengan melakukan ini adalah dengan pemantauan atau
pengobatan tambahan dan selalu kontrol tekanan darah secara berkala
memonitoring keadaan tubuh. Sedangkan (Stockley, 2008; Drugs.com, 2020;
interaksi minor adalah interaksi yang Medscape.com, 2020). Mekanisme
memiliki signifikansi klinis yang rendah, interaksi obat secara farmakodinamik
kerugian yang ditimbulkan biasanya
15
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
antagonis terjadi saat efek farmakologis Tabel VIII. Profil tekanan darah pada 38
dari salah satu obat berkurang akibat pasien geriatri hipertensi
penggunaan obat secara bersamaan.
Kelompok Jumlah Pasien (orang)
Interaksi obat dengan mekanisme Peningkatan Penurunan
farmakodinamik sinergis terjadi saat obat Pasien Sisto Dias Sist Diast
menghasilkan efek yang sama atau saling Berpotensi
meningkatkan efek keduanya (Tatro, Interaksi l tol ol ol
2006). Perubahan farmakodinamik pada Obat 4 8 23 19
pasien lansia dapat menyebabkan Pasien
meningkatnya potensi interaksi obat dan Tidak 2 299
efek samping obat. Penurunan densitas Berpotensi
neuron, rendahnya densitas reseptor, Interaksi
berkurangnya sintesis transmitter dan Obat
hipersensitivitas reseptor dapat terjadi
pada lansia. Dampak klinis yang dapat Terdapat 4 orang pasien
terlihat adalah pada dopaminergik, berpotensi mengalami interaksi obat yang
serotonergik, dan sistem kolinergik mengalami peningkatan sistol (tabel 4).
termasuk peningkatan kecenderungan Penelitian Kalafutova dkk menunjukkan
untuk menunjukkan gejala dan tanda bahwa, obat golongan NSAID yang
ekstrapiramidal; peningkatan resiko dikombinasikan dengan antihipertensi
agitasi dan disfungsi seksual; dan dapat meningkatkan tekanan darah pasien
kecenderungan efek samping geriatri hipertensi. Namun, efek
antikolinergik (seperti retensi urin, peningkatan tekanan darah oleh aspirin
glaukoma dan delirium) (Kratz & tidak terlalu besar atau bahkan kasusnya
Diefenbacher, 2019). jarang terjadi dibandingkan naproxen,
indometasin, dan piroksikam (Kalafutova,
Terdapat 23 pasien yang Juraskova, & Vlcek, 2014). Pasien lain
berpotensi mengalami interaksi obat yang yang menggunakan terapi antihipertensi
mengalami penurunan tekanan darah kombinasi dan banyak interaksi
sistol, dan 4 pasien mengalami antihipertensi dapat terjadi secara sinergis
peningkatan (tabel 8). Hasil menunjukkan sehingga lebih efektif dalam menurunkan
bahwa lebih banyak pasien yang tekanan darah.
mengalami penurunan tekanan darah
daripada pasien yang mengalami Interaksi tingkat moderat mungkin
peningkatan tekanan darah.. disebabkan antara valsartan dan lantus
dengan mekanisme interaksi secara
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
16
farmakodinamik sinergis. Valsartan dapat berkomunikasi langsung kepada tenaga
meningkatkan efek antidiabetes dari medis lainnya seperti dokter, perawat dan
insulin, sehingga dapat menyebabkan efek apoteker, sehingga tidak diketahui secara
hipoglikemik yang tinggi pada pasien pasti alasan peresepan obat-obat yang
terutama pasien lansia (Medscape.com, berpotensi mengalami interaksi kepada
2020). Hingga saat ini belum terdapat pasien. Faktor makanan atau minuman
penelitian mengenai hubungan interaksi yang dikonsumsi pasien yang berpotensi
obat pada kombinasi valsartan dan lantus meningkatkan tekanan darah juga tidak
terhadap peningkatan tekanan darah dapat diketahui karena peneliti tidak
pasien geriatri hipertensi sehingga belum berhadapan langsung dengan pasien.
diketahui secara pasti mekanismenya.
IV. KESIMPULAN
Beberapa interaksi obat diduga
berdampak tidak terlalu besar dalam Kejadian interaksi obat antihipertensi
peningkatan tekanan darah karena dosis
serta waktu pemberian tiap obat yang yang paling banyak terjadi berdasarkan
telah disesuaikan sehingga penurunan
tekanan darah menjadi normal dapat mekanismenya adalah secara
tercapai. Penurunan tekanan darah juga
diduga disebabkan oleh interaksi sesama farmakodinamik yaitu sebesar 79 kejadian
antihipertensi maupun antihipertensi
dengan obat lainnya yang bersifat (93%) dan berdasarkan tingkat
sinergis. Beberapa peningkatan tekanan
darah diduga terjadi dikarenakan tingkat keparahannya adalah tingkat moderat
kepatuhan pasien yang rendah, kondisi
fisologis pasien, serta perasaan cemas dan yaitu sebanyak 61 kejadian (72%).
stres yang dapat meningkatkan tekanan
darah pasien selama masa pengobatan. Sebagian besar pasien yaitu 23 orang yang
Keterbatasan penelitian ini adalah peneliti
tidak dapat melihat secara langsung berpotensi interaksi obat mengalami
kondisi pasien saat perawatan. Peneliti
juga tidak dapat memastikan secara penurunan tekanan darah.
langsung apakah waktu minum obat
pasien sama dengan waktu yang tertulis DAFTAR PUSTAKA
pada rekam medik. Peneliti tidak dapat
Agrawal A, Agarwal S, Kaleekal T, Gupta
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19 Y. Rifampicin and anti-hypertensive
drugs in chronic kidney disease:
Pharmacokinetic interactions and
their clinical impact. Indian J
Nephrol. 2016;26(5):7.
Agustina R, Annisa N, Prabowo WC.
Potensi Interaksi Obat Resep Pasien
Hipertensi di Salah Satu Rumah Sakit
Pemerintah di Kota Samarinda. Jurnal
Sains dan Kesehatan. 2015;1(4):208–
17
13. anti-hypertensive agents on blood
pressure. Advances in Clinical and
Annisa,N, Abdullah,R.. Potensi interaksi Experimental Medicine. 2014.
obat resep pasien geriatri: studi
retrospektif pada apotek di Bandung. Kementerian Kesehatan Republik
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia. Indonesia. INFODATIN: Pusat Data
2012; 1(3): 97. dan Informasi Kemeterian Kesehatan
RI tentang Hipertensi. Jakarta:
Astuti SD, Endang E. Kajian Penggunaan Kementerian Kesehatan Republik
Antihipertensi dan Potensi Interaksi Indonesia; 2014.
Obat pada Pengobatan Pasien
Hipertensi dengan Komplikasi. Jurnal Kholifah, Nur S, Widagdo W. Nursing
Farmasi Indonesia. 2018;15(2). Family and Comunity. Jakarta:
Indonesia Health Ministry; 2016. 208
Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Profil p.
kesehatan Kota Pontianak tahun
2017. Pontianak: Dinas Kesehatan Kratz T, Diefenbacher A.
Kota Pontianak; 2019. Psychopharmacological treatment in
older people - Avoiding drug
Drugs.com. Drug Interaction Checker interactions and polypharmacy. Dtsch
[Internet]. Drugs.com. 2020 [cited Arztebl Int. 2019;
2020 Jan 11]. Available from:
https://www.drugs.com/interaction/li Kristanti P. Efektifitas dan Efek Samping
st Penggunaan Obat Antihipertensi pada
Pasien Hipertensi di Puskesmas
Fares H, James IDN, James HO, Carl JL. Kalirungkut Surabaya. Jurnal Ilmiah
Amlodipine in Hypertension: A First- Mahasiswa Universitas Surabaya.
line Agent with Efficacy for 2015;4(2).
Improving Blood Pressure and
Patient Outcomes. USA: New Martono, Nasution, Andayani. Buku Ajar
Orleans; 2016. Geriatri: Penggunaan Obat Secara
Rasional pada Usia Lanjut Edisi
Fatmah. Gizi Usia Lanjut. Jakarta: Keempat. Jakarta: Fakultas
Erlangga Publisher. Jakarta: Erlangga Kedokteran Universitas Indonesia;
Publisher; 2010. 2009.
Ford ES, Giles WH, Dietz WH. Medscape.com. Drug Interaction Checker
Prevalence of The Metabolic [Internet]. Medscape.com. 2020
Syndrome Among US Adults: [cited 2020 Jan 11]. Available from:
Findings from The third National https://reference.medscape.com/drug
Health and Nutrition Examination -interactionchecker.
Survey. JAMA. 2002;287.
Pemu, Igho P, Ofili E. Hypertension in
Hartiwan M, Alifiar I, Fatwa MN. Kajian Women: Part I. J Clin Hypertens.
2008;10(5):406–10.
Interaksi Obat Potensial
Sari, Y H, Usman, Majid M, Sari, W R.
Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Faktor-Faktor yang Berpengaruh
Terhadap Kejadian Hipertensi pada
Rawat Inap di Rsud Dr. Soekardjo Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Maiwa Kabupaten Enrekang. Jurnal
Kota Tasikmalaya Periode April-Mei Ilmiah Manusia dan Kesehatan.
2019;2(1).Soenardi. Hidangan Sehat
2017. Jurnal Farmasi Sains dan
Praktis. 2018;4(2):20–5. 18
Kalafutova S, Juraskova B, Vlcek J. The
impact of combinations of non-
steroidal anti-inflammatory drugs and
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
untuk Penderita Hipertensi. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama; 2005.
Stokes GS. Management of hypertension
in the elderly patient. Clin Interv
Aging. 2009;4:379–89.
Stockley IH. Stockley’s Drug
Interactions, 8th Edition. Baxter K,
editor. Vol. 40, Annals of
Pharmacotherapy. London:
Pharmaceutical Press; 2008. 1219–
1219 p.
Sutanto. Cekal (Cegah dan Tangkal)
Penyakit Modern Hipertensi, Stroke,
Jantung, Kolestrol, dan Diabetes.
Yogyakarta: CV Andi Offset; 2010.
Tatro DS. Drug Interactions Fact. St.
Louis Missouri: A Wolters Kluwer
Company; 2006.
Thanacoody, H, K R. Clinical Pharmacy
and Therapeutics. 5th ed. Walker R,
Whittlesea C, editors. London:
Churchill Livingstone Elsevier; 2012.
998 p.
Weber AM, Schiffrin LE, White BW,
Mann S, Lindholm HL, JOhn KG, et
al. Clinical Practice Guidelines for
the Management of Hypertension in
the Community and the International
Society of Hypertension.
2014;31(1):3–15.
Wells GB, DiPiro TJ, Schwinghammer
LT, DiPiro VC. Pharmacotherapy
Handbook. 9th ed. AIAA Guidance,
Navigation, and Control Conference.
New York: McGraw-Hill Companies;
2012. 965 p.
World Health Organization. Hypertension
[Internet]. World Health
Organization: World Health
Organization; 2019 [diupdate 16 Mei
2019, dicitasi 2019 21 August].
Tersedia dari:
https://www.who.int/news-
room/fact-sheets/detail/hypertension.
19
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
20
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 9 - 19
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel, ISBN : 978-623-94017-3-3
PROSIDING RAKERDA PD IAI KALSEL
Banjarmasin, 5 - 6 Juli 2021
https://www.iaikalsel.com
Gambaran Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Kronis
Benigna Prostat Hiperplasia di Poli Urologi Rawat Jalan
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Tk.III Dr.R. Soeharsono Tahun
2020
Eunike Yan Kristin, *Muliyani, Nazhipah Isnani, Muhammad Zaini,
Prodi Farmasi, Politeknik Unggulan Kalimantan, Jalan P. Hidayatullah No.10,
Banjarmasin
*Email : [email protected]
ABSTRAK
Penatalaksanaan pengobatan Benigna Prostat Hiperplasia merupakan salah
satu faktor utama keberhasilan penderita untuk sembuh. Pasien yang tidak patuh
pada pengobatan akan memiliki resiko penyembuhan lebih lambat dibandingkan
dengan pasien yang rutin dalam pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui tingkat kepatuhan minum obat Benigna Prostat Hiperplasia pada pasien
kronis dipoli urologi instalasi farmasi Rumah Sakit Tk.III Dr. R. Soehrsono
Banjarmasin. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan pengambilan data secara
observasional prospektif. Populasi sampel adalah semua pasien Benigna Prostat
Hiperplasia di poli Urologi yang menjalani pengobatan rawat jalan di Poli Jiwa Rawat
Jalan Rumah Sakit Tk.III Dr. R. Soehrsono Banjarmasin yang memenuhi kriteria
inklusi. Jumlah subyek penelitian sebanyak 100 pasien. Hasil penelitian berdasarkan
Karakteristik pasien Benigna Prostat Hiperplasia berdasarkan Usia terbanyak terjadi
pada rentang 51-61 tahun sebesar 39%. Kepatuhanminum obat pasien Benigna Prostat
Hiperplasia rendah sebesar 28%, sedang 39%, dan tinggi 33% .
Kata Kunci: benigna prostat hiperplasia, kepatuhan minum obat, urologi
21
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
ABSTRACT
Management of prostate hyperplasia is a major factor in the success of patients to
recover. Patients not adhering to treatment will have a slower risk of healing compared to
patients who are routinely on treatment. This study aims to determine the level of
adherence to take Benigna Prostate Hyperplasia in chronic urology patients installation
at the Dr. R. Soehrsono Tk.III Hospital Banjarmasin. This type of research is quantitative
with prospective observational data collection. The sample population was all Benigna
Prostate Hyperplasia patients in Urology poly who underwent treatment at the Urology
Poly who met the inclusion criteria. The number of study subjects were 100 patients. The
results of the study are based on the classification of Benigna Prostate Hyperplasia
patients based on age. The most happening in the range of 51-61 years by 39%. Adherence
to take medication for Benigna Prostate Hyperplasia patients is low by 28%, moderate
39%, and high 33%.
Keywords: benign prostate hyperplasia, medication adherence compliance, urology
I. PENDAHULUAN Urologi diiperkirakan 50% pada pria
berusia diatas 50 tahun. Kalau dihitung
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) dari seluruh penduduk Indonesia yang
berjumlah 200 juta lebih, kira – kira 100
merupakan penyakit yang umum yang juta, sehingga di perkirakan ada 2,5 juta
laki–laki Indonesia yang menderita BPH
menyerang sistem reproduksi pada pria (Amalia, 2011).
dewasa karena penyakit ini di pengaruhi Jumlah kasus gangguan prostat di
Provinsi Jawa Tengah tahun 2005
oleh faktor umur sesepasien (Kapoor, sebanyak 2.614 kasus. Hasil survei di
bagian Rekam Medis di RSUD Prof.
2012). Menurut Lewis (2005) BPH terjadi Dr.Margono Soekarjo Purwokerto di
peroleh data pasien BPH pada tahun 2013
sekitar 50% pada pria umur 50 tahun dengan jumlah 40 pasien pada tahun 2014
mencapai 152 pasien, kemudian tahun
keatas dans ekitar 90% pria pada usia 80 2015 mengalami peningkatan mencapai
111 pasien.
tahun keatas. Kurang lebih 25%
Gejala BPH umumnya disebut sebagai
membutuhkan terapi ketika mencapai gejala saluran kemih bagian bawah atau
lower urinary tract symptoms (LUTS),
umur 80 keatas. dan ini dapat dibagi lagi menjadi gejala
dari 200 juta lebih rakyat indonesia, 22
maka dapat diperkirakan 100 juta adalah
pria, dan yang berusia 60 tahun dan ke atas
adalah kira-kira sejumlah 5 juta, maka
dapat dinyatakan kira-kira 2,5 juta pria
Indonesia menderita penyakit ini
(Parsons, 2010). BPH merupakan
kelainan urologi kedua setelah batu
saluran kemih yang dijumpai di klinik
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
obstruktif dan gejala iritatif. Gejala bersama pasangannya sehingga
obstruktif termasuk perlu waktu jika akan menimbulkan ketidakpuasan diantara
berkemih, terputus-putus, sulit keluar, kedua pasangan tersebut. Disfungsi ereksi
menetes, dan penurunan aliran kencing. dapat terjadi karena berbagai penyebab,
Gejala iritatif meliputi frekuensi kencing namun biasanya dapat terjadi karena
yang lebih sering, tidak dapat menahan faktor organik dan psikogenik (David Lee,
kencing, dan kencing pada malam hari 2007). Penelitian di Amerika Serikat,
(Kappor, 2012) Studi yang dilakukan. Di Amerika Serikat
oleh Olmsted Country didapatkan
Kebanyakan pria mencari pengobatan prevalensi BPH mencapai hingga 13%
BPH karena ada hal-hal yang pada usia diatas 40 tahun dan meningkat
mengganggu dalam kehidupan dan seiring dengan bertambahnya usia.
banyak mempengaruhi kualitas hidup. Prevalensi BPH yang didapat dari studi
Salah satunya adalah disfungsi ereksi, multisenter di Asia lebih tinggi
BPH juga merupakan gangguan yang dibandingkan di Amerika Serikat yaitu
paling sering dialami pria yang semakin sekitar 18% pada usia diatas 40 tahun,
meningkat pada usia diatas empat puluh Sedangkan prevalensi BPH di Indonesia,
tahun.Terminologi BPH secara histologi sampai saat ini belum diketahui secara
ialah terdapat pembesaran pada sel-sel pasti. Pria di atas usia 60 kemungkinan
stroma dan sel-sel epitel pada kelenjar 80% mengalami gejala tidak berkembang
prostat. BPH akan menjadi suatu kondisi dan tidak diobati, sehingga menimbulkan
klinis jika telah terdapat berbagai gejala masalah kesehatan yang serius termasuk
pada penderita. Gejala yang dirasakan ini infeksi saluran kemih, kandung kemih,
dikenal sebagai gejala saluran kemih kerusakan ginjal, batu kandung kemih.
bawah (lower urinary tract symptoms= Salah satu upaya untuk mencegah
LUTS). BPH merupakan salah satu faktor terjadinya kekambuhan pada pasien BPH
resiko terjadinya disfungsi ereksi. itu dengan melaksanakan program
Disfungsi ereksi yang lebih dikenal pengobatan secara rutin. Pengobatan yang
dengan impoten oleh masyarakat dimaksud dalam penelitian ini adalah
merupakan masalah kesehatan umum kepatuhan pasien dalam minum obat.
yang banyak dialami pria seiring dengan Penatalaksanaan pengobatan BPH akan
bertambahnya usia, yaitu suatu berhasil jika pasien patuh minum obat.
ketidakmampuan untuk mencapai ereksi Pasien yang tidak patuh pada pengobatan
yang cukup untuk melakukan senggama
23
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
akan memiliki resiko kekambuhan lebih instrumen yang digunakan untuk
tinggi dibandingkan dengan pasien yang mengukur tingkat kepatuhan pasien BPH
patuh pada pengobatan (Yuliantika, 2012) yang dihitung berdasarkan 8 pertanyaan
BPH akan timbul seiring dengan dari kuesioner Morisky Medication
bertambahnya usia, sebab BPH erat Adherence Scale (MMAS-8).
kaitannya dengan proses penuaan.
Penyebab BPH belum diketahui secara III. HASIL DAN PEMBAHASAN
pasti.
A. Karakteristik Pasien BPH
II. METODE
Penelitian ini merupakan penelitian 1. Karakteristik usia pasien BPH
observasional dan pengambilan data
dilakukan secara prospektif. Sampel Tabel I. Karakteristik Usia Pasien
penelitian adalah pasien BPH di poli
Urologi yang menjalani pengobatan rawat BPH
jalan di Poli Jiwa Rawat Jalan Rumah
Sakit Tk.III Dr. R. Soehrsono Karakteristik Usia Persentase (%)
Banjarmasin. Jumlah Sampel yang 40 – 50 tahun 11
digunakan adalah 100 sampel. 51 – 61 tahun 39
Pengumpulan data penelitian ini 62 – 65 tahun 25
menggunakan kuesioner. Kuesioner 66 – 70 tahun 25
merupakan teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberi Distribusi usia pasien BPH
seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk dijawab. berdasarkan tabel I menunjukkan
Serta merupakan teknik pengumpulan
data yang efisien bila peneliti tahu dengan prevalensi terbanyak adalah yang
pasti variabel yang akan diukur dan tahu
apa yang diharapkan dari responden berusia pada rentang 51-61 tahun
(Sugiyono, 2010). Adapun kuesioner yang
digunakan dalam penelitian ini adalah berjumlah 39 pasien (39%). Penelitian
Kuesioner MMAS-8 (Morisky
Medication Adherence Scale) adalah yang dilakukan oleh Wahyuni dkk
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29 (2019) juga menunjukkan bahwa
insidensi BPH akan semakin
meningkat seiring dengan
bertambahnya usia yaitu sekitar 20%
pada usia 40 tahun, kemudian menjadi
70% pada usia 60 tahun keatas.
Pendapat ini juga dikuatkan data WHO
(2013) yang menyatakan pada tahun
2013 di indonesia terdapat 9.2 juta
kasus BPH, diantaranya di derita oleh
laki- laki berusia diatas 60 tahun.
2. Karakteristik Tingkat Pendidikan
Pasien BPH
24
Tabel II. Karakteristik Tingkat Perkawinan Kawin sebanyak 98
Pendidikan Pasien BPH Pasien (98%). Status Perkawinan pada
Persentase penelitian ini berhubungan dengan
Karakteristik Tingkat (%) hubungan antara aktivitas seksual
Pendidikan 26 dengan kejadian BPH, dikarenakan
13 responden yang diteliti hampir
SD 35 semuanya telah menikah, seseorang
SMP/SLTP/MTS 25 yang telah menikah melakukan
SMA/SLTA/MA 1 aktivitas seksual yang dilakukan lebih
Sarjana dibandingkan dengan seorang yang
Santri belum menikah dan bercerai.
Berdasarkan data pada tabel II Berdasarkan penelitian yang di
lakukan oleh Sujiyati (2010), pada
menunjukkan ada perbedaan pasien rawat jalan diklinik urologi
RSUD Dr. soedarso Pontianak Setelah
berdasarkan tingkat pendidikan antara dilakukan Uji Independent t-test
disimpulkan bahwa tidak ada
pasien BPH. Prevalensi terbanyak hubungan yang signifikan antara
aktivitas seksual dengan kejadian BPH
adalah pasien dengan tingkat pada responden yang berkunjung di
klinik Urologi di RSUD Dr. Soedarso
Pendidikan SMA/SLTA/MA sebanyak Pontianak. Penelitian yang dilakukan
dengan melihat frekuensi seksual
35 pasien dengan presentase 35%. dengan sampel 24 responden BPH di
RSUD Kebumen. Responden yang
Penelitian ini sesuai dengan paling sering melakukan hubungan
seksual 3 kali dalam waktu 1 Minggu
penelitian yang di lakukan oleh Arfan sebanyak 2 orang, hal itu dikarenakan
orang itu mempunyai gairah seksual
(2015) diketahui bahwa sebagian yang tinggi dan belum mengalami
penurunan ereksi. Jadi seseorang yang
besar tingkat pendidikan responden melakukan sering melakukan
hubungan seksual kemungkinan
pada kelompok kasus BPH adalah
25
dengan tingkat pendidikan SMA
yaitu sebesar (45.2%), kemudian
responden pada kelompok kontrol
sebagian besar tingkat pendidikan
Tamat Akademik sebesar (38.7%).
3. Karakteristik Status Perkawinan
Pasien BPH.
Tabel III. Karakteristik Status
Perkawinan Pasien BPH
Karakteristik Status Persentase (%)
Perkawinan
Kawin 98
Cerai 2
Berdasarkan tabel III
menunjukkan menunjukkan prevalensi
terbanyak adalah pasien dengan Status
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
frekuensi seksual yang tingi tidak minta untuk itu (Brunner & Suddart,
2002). Kepatuhan dalam pengobatan
memiliki resiko terhadap terjadinya dapat diartikan sebagai perilaku klien
yang menaati semua nasehat dari
BPH. Kelenjar prostat adalah organ petunjuk yang dianjurkan oleh kalangan
tenaga medis (Australian college of
yang bertanggung jawab untuk Pharmacy Practice, 2001).
pembentukan hormon laki-laki. Kepatuhan minum obat adalah
sejauh mana perilaku pasien mengikuti
Hipertropi prostat dihubungkan dengan instruksi tertentu yang berkaitan dengan
kesehatan dan mengarah ke tujuan
kegiatan seks berlebihan dan alasan terapeutik yang telah di tentukan
bertepatan dengan saran medis atau
kebersihan. Saat kegiatan seksual, petugas kesehatan. Adapun jumlah dan
jenis obat untuk pasien Kronis BPH yang
kelenjar prostat mengalami diterima pasien di Rumah sakit TK. III.
Dr. R. Soeharsono Banjarmasin pada
peningkatan tekanan darah sebelum bulan Februari hingga Maret 2020. Dari
100 responden setiap pasien menerima
terjadi ejakulasi. Jika suplai darah ke jumlah obat yang tidak sama yang di dasar
kan berdasarkan hasil diagnosa dokter.
prostat selalu tinggi, akan terjadi Dokter umumnya menggunakan obat
untuk mengobati gejala BPH
hambatan prostat yang mengakibatkan sedang. Ada dua jenis, yaitu: 5- alpha-
reductase inhibitor dan penghambat
kalenjar tersebut bengkak permanen. alpha-reseptor. Pada kebanyakan kasus,
obat dapat memperbaiki gejala sulit buang
Seks yang tidak bersih akan air kecil yang disebabkan oleh BPH.
Jumlah obat yang digunakan pasien BPH
mengakibatkan infeksi prostat yang sebayak 30 tablet untuk setiap bulannya.
Kombinasi obat yang digunakan terdiri
mengakibatkan Hipertropi Prostat. dari 2 jenis yaitu Harnal ocas (Tamsulosin
hydrochloride 0,4 mg) dengan Avodart
Adanya hubungan Aktivitas seksual
26
dan Hipertropi Prostat bisa saja terjadi,
ini dikarenakan responden yang diteliti
hampir semuanya telah menikah,
seseorang yang telah menikah
melakukan aktivitas seksual yang
dilakukan lebih dibandingkan yang
belum menikah sehingga resiko untuk
terkena Hipertropi Prostat akan lebih
besar dibandingkan yang belum
menikah atau yang sudah berecarai.
B. Kepatuhan minum obat pasien BPH
Kepatuhan sering digunakan untuk
mengambarkan perilaku klien akan
merubah perilakunya karena mereka di
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
(Dutasteride 0,5 mg) atau Harnal D menghentikan obat tenpa memberitahu
(Tamsulosin hydrochloride 0,2 mg) dokter, beberapa pasien yang saat
dengan (Avodart (Dutasteride 0,5 mg). melakukan perjalanan atau meninggalkan
Kombinasi antara obat- obatan tersebut rumah terkadang lupa membawa obat,
berkerja pada 5-alfa-reduktase inhibisi. dan beberapa dari pasien merasa
Obat-obat ini mengecilkan prostat dengan terganggu jika meminum obat setiap hari.
menghalangi produksi hormon Kepatuhan Pasien BPH berdasarkan
Hydrotestosterone (DHT) yang usia dapat dilihat pada tabel V.
menyebabkan prostat membesar dengan Tabel V. Kepatuhan pasien BPH
cara memblokir enzim 5-alpha- reductase. berdasarkan usia
Obat-obatan ini membantu mengurangi Usia Kategori Kepatuhan (%)
Tinggi Sedang Rendah
40-50 tahun 9 36 55
keparahan BPH dan kebutuhan 51-61 tahun 38 41 21
pembedahan. Pengobatan diperlukan 3 62-65 tahun 30 45 25
66-70 tahun 36 32 32
sampai 6 bulan agar efektif. Tingkat
kepatuhan minum obat pasien BPH Berdasarkan data pada tabel V pada
rentang usia 40-50 tahun dengan
berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat kepatuhan tinggi sebanyak 9 %,
kepatuhan sedang sebanyak 36 % dan
pada tabel IV. kepatuhan rendah sebanyak 55 %. Pada
usia 51- 61 tahun dengan kategori
Tabel IV. Distribusi tingkat kepatuhan kepatuhan tinggi dengan presentase 38 %,
kepatuhan sedang 41 % dan kepatuhan
minum obat pasien BPH rendah 21 %. Pada usia 62-65 tahun
dengan kategori kepatuhan tinggi dengan
Kepatuhan Minum Obat Persentase (%) presentase 30 %, kepatuhan sedang 45 %
dan kepatuhan rendah 25 %. Pada usia 66-
Rendah 33 70 tahun dengan kategori kepatuhan tinggi
dengan presentase 36 %, kepatuhan
Sedang 39 sedang 32 % dan kepatuhan rendah 32 %.
Kepatuhan tertinggi berdasarkan usia
Tinggi 28 adalah pada rentang 51-61 tahun dan
terendah pada usia 40-50 tahun.
Berdasarkan tabel IV penggunaan
obat BPH poli urologi di Rumah sakit
Tk.III Dr. R. Soehrsono Banjarmasin pada
bulan Februari hinga Maret 2020 dengan
menggunakan penelitian Morisky scale,
diperoleh hasil tingkat kepatuhan sedang
dengan persentase 39%. Beberapa faktor
yang mempengaruhi yaitu pasien yang
lupa minum obat, beberapa pasien lupa
minum obat selama 2 minggu terakhir,
beberapa pasien mengurangi atau
27
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
Hasil penelitian ini sesuai dengan Tabel VI. Kepatuhan pasien BPH
penelitian terdahulu bahwa usia lebih dari
50 tahun memiliki faktor yang lebih besar berdasarkan tingkat pendidikan
88,2 kali dibandingkan dengan laki-laki
yang berumur kurang dari 50 tahun. Usia Kategori Kepatuhan (%)
Perubahan karena pengaruh usia yang Tinggi Sedang Rendah
sudah tua menurunkan kemampuan buli-
buli dalam mempertahankan aliran urin SD 35 38 27
pada proses adaptasi oleh adanya
obstruksi karena pembesaran BPH, SMP/SLTP/MTS 31 23 46
sehingga menimbulkan gejala. Prostat ini
akan terus tumbuh pada saat muda, SMA/SLTA/MA 40 31 29
semakin bertambah besar seiring dengan
usia sepasien pria. Bertambahnya usia Sarjana 24 56 20
akan terjadi perubahan keseimbangan
hormonal, yaitu antara hormon testosteron Santri 100 0 0
dan hormon estrogen. Karena produksi
testosteron menurun dan terjadi konversi Tabel VI menunjukan kepatuhan
testosteron menjadi estrogen pada pasien BPH dalam minum obat
jaringan adiposa di perifer dengan berdasarkan tingkat pendidikan. Santri
pertolongan enzim aromaterase, sifat memperlihatkan persentase tertinggi
estrogen ini akan merangsang sensitivitas dalam kepatuhan minum obat, hal ini
reseptor sel prostat hingga selsel tersebut menjadi wajar mengingat sampel dari
bertambah besar (hiperplasia pada stroma) pendidikan santri adalah 1 orang dengan
yang akhirnya akan menekan urethra dan kategori tinggi. Pada level pendidikan
menghambat aliran urin (Ruspanah & terendah (SD) menunjukan persentase
Manuputty, 2017). kepatuhan yang relatif lebih tinggi
dibandingkan tingkat SMP/SLTP/MTS.
Kepatuhan Pasien BPH berdasarkan Tingkat pendidikan SMA/SLTA/MA
tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel menunjukan kepatuhan lebih tertinggi
VI. kedua. Kepatuhan paling rendah adalah
pada level pendidikan SMP/SLTP/MTS.
Pendidikan adalah upaya persuasi atau
pembelajaran kepada masyarakat agar
masyarakat mau melakukan
tindakantindakan (praktik) untuk
memelihara (mengatasi masalah-
masalah) dan meningkatkan
kesehatannya. Dilihat dari teori bahwa
tingkat pendidikan merupakan salah satu
faktor yang menentukan terhadap
terjadinya perubahan perilaku, dimana
semakin tinggi tingkat pendidikan pada
28
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
seseorang, maka berarti telah mengalami Ruspanah, A., & Manuputty, J. T. (2017).
proses belajar yang lebih sering, dengan Hubungan Usia, Obesitas Dan
kata lain tingkat pendidikan Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus
mencerminkan intensitas terjadinya Dengan Kejadian Benign Prostate
proses belajar. Hal ini menunjukkan Hyperplasia (BPH) Derajat Iv Di
bahwa pendidikan terakhir berpengaruh Rsud Dr. M. Haulussy Ambon
pada Kepatuhan minum obat pasien Periode 2012-2014. Molucca
(Notoatmojo, 2010). Medica, 141-151.
DAFTAR PUSTAKA Sugiyono. (2010). Statistik untuk
Penelitian Kuantitatif Kualitatif.
Amalia, R. (2010). Faktor-faktor Bandung : CV ALFABETA.
Terjadinya Pembesaran Prostat. Sujiati, T. 2010. Hubungan Frekuensi
SeksualTerhadap Kejadian BPH di
http://eprints.undip.ac.id/5282/Rizk RSUD Kabupaten Kebumen.
i_Amalia.pdf. Yuliantika. (2012). Metodologi Riset
Keperawtan.jakarta:TIM
World Health Organization, (2004) .
Phatolog yang Genetics of Tumors
of the Urinary System and Male
Genital Organ.
Australian college of pharmacy practice,
(2001), Complianceand
Concordance. 2-2-2014.
Brunner & Suddart. (2002). Keperawatan
Medika bedah Edisi 8 . Jakarta :
EGC.
David. L . (2007). Benign Prostatic
Hyperplasia and Related Entities.
In: Philip
Kapoor, (2012). Benign prostatic
hyperplasia(BPH) management in
the primary care setting, Can. J.
Urol., hlm.8.
Lewis, S.M. (2005). Lewis’ s Medical
Surgical Nursing. New South
Wales: Elsevier
Notoadmodjo. S (2010). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT
Rineka Cipta.
Parsons KJ. (2010). Benign Prostatic
Hyperplasia and Male Lower
Urinary Tract Symptoms:
Epidemiology and Risk Factor.
PMC;5 Hal 212-218.
Purnomo, B. (2008). Dasar-dasarurologi
Edisi kedua. CV. Sagung Seto.
Jakarta.
29
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
30
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 21 - 29
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel, ISBN: 978-623-94017-3-3
PROSIDING RAKERDA PD IAI KALSEL
Banjarmasin, 5 - 6 Juli 2021
https://www.iaikalsel.com
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI PUSKESMAS SUNGAI ULIN
BANJARBARU PADA BULAN JANUARI 2020
(The Use Pattern Of Antibiotics in Public Health Center of Sungai Ulin
Banjarbaru In January 2020)
Dina Noor Kamali1, Henni Selvina2, Sutomo3
1Program Studi Profesi Apoteker FMIPA Universitas Lambung Mangkurat
2Pusat Studi Obat Berbasis Bahan Alam Universitas Lambung Mangkurat
*[email protected]
ABSTRAK
Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yang
salah satuya adalah bakteri. Penyakit ini dapat menular, baik secara langsung maupun
tidak langsung dari satu orang ke orang lain. Salah satu penatalaksanaan penyakit
infeksi yang disebabkan oleh bakteri adalah dengan pemberian antibiotik. Peresepan
antibiotik di Indonesia saat ini diketahui relatif tinggi. Hal ini akan menimbulkan
berbagai permasalahan terutama resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan pola penggunaan antibiotik di Puskesmas Sungai Ulin pada bulan
Januari tahun 2020. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode
pengumpulan sampel dilakukan secara retrospektif terhadap resep yang mengandung
antibiotik di Puskesmas Sungai Ulin pada bulan Januari tahun 2020. Hasil dari
penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa amoksisilin merupakan antibiotik
yang paling sering diresepkan dengan diagnosis faringitis akut. Jumlah penggunaan
amoksisilin selama bulan Januari 2020 yaitu sebanyak 97 item dengan persentase
46,86%. Diikuti dengan kotrimoksazole sebanyak 34 item dengan persentase 16,43%,
kloramfenikol sebanyak 27 item dengan presentase 13,04%, dan siprofloxacin
sebanyak 8 item dengan presentase 8,70%, gentamisin sebanyak 14 item dengan
presentase 6,76%, sefadroksil sebanyak 9 item dengan presentase 4,35%, sefiksim
sebanyak 6 item dengan presentase 2,90%, dan klindamisin sebanyak 2 item dengan
presentase 0,97%.
Kata kunci : Penyakit infeksi, pola penggunaan, antibiotik
31
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
ABSTRACT
Infectious disease is a disease that caused by microorganisms, one of which is
bacteria. It can be transmitted directly or indirectly from one person to another. One of
the management of infections caused by bacteria is the administration of antibiotics.
Prescribing antibiotics in Indonesia is currently known to be relatively high. This will
cause many problems. This study aims to describe the pattern of antibiotic use in the
Sungai Ulin Community Health Center in January 2020. This type of research is a
descriptive study with a sample method conducted retrospectively on prescriptions using
antibiotics in the Sungai Ulin Community Health Center in January 2020. The results of
the study showed that amoxicillin is antibiotic that most often prescribed with a diagnosis
of acute pharyngitis. The amount of amoxicillin use during January 2020 was 97 items
with a percentage of 46.86%. Followed by cotrimoxazole as many as 34 items with a
percentage of 16.43%, chloramphenicol as many as 27 items with a percentage of 13.04%,
and ciprofloxacin as many as 8 items with a percentage of 8.70%, gentamicin as many as
14 items with a percentage of 6.76%, cefadroxyl as many as 9 items with a percentage of
4.35%, cefixime of 6 items with a percentage of 2.90%, and clindamycin as much as 2
items with a percentage of 0.97%.
Keywords : Infectious diseases, Usage Patterns, Antibiotic
I. PENDAHULUAN salah satu dari sepuluh penyakit terbanyak
Infeksi adalah suatu penyakit yang (Kemenkes RI, 2011).
disebabkan oleh adanya mikroorganisme
yang masuk dan berkembang biak di Pemberian antibiotik merupakan
dalam tubuh dan dapat menimbulkan pengobatan yang utama dalam penyakit
berbagai gejala serta tanda klinis. infeksi. Antibiotik paling banyak
Mikroorganisme merupakan suatu digunakan karena efektivitasnya yang
kelompok luas dari organisme baik dalam membunuh bakteri
mikroskopik yang terdiri dari satu atau (bakterisid) dan mencegah berkembang
banyak sel seperti bakteri, fungi, dan biaknya bakteri (bakteriostatik)
parasit serta virus (Nugroho, 2013; (Kemenkes RI, 2011). Peresepan
Mandell et al., 2010). Penyakit infeksi antibiotik di Indonesia saat ini diketahui
masih menjadi masalah kesehatan yang relatif tinggi yaitu lebih dari 80%
banyak terjadi terutama di negara provinsi-provinsi di Indonesia (Borong,
berkembang, termasuk Indonesia. Angka 2012). Penggunaan antibiotik dalam
kematian akibat penyakit infeksi di pelayanan kesehatan yang tidak tepat
Indonesia cukup tinggi dan merupakan dapat menimbulkan pengobatan kurang
efektif, peningkatan risiko terhadap
keamanan pasien, tingginya biaya
32
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
pengobatan, dan meluasnya resistensi di Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru
(Kardela et al., 2014).
Pada Bulan Januari 2020.
Resistensi adalah kemampuan
bakteri untuk menetralisir dan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
melemahkan daya kerja antibiotik. Bakteri
dapat resisten terhadap antibiotik mendeskripsikan pola penggunaan
disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor –
faktor tersebut yaitu seperti penggunaan antibiotik di Puskesmas Sungai Ulin
antibiotik dengan dosis yang kurang tepat
untuk hitungan individualnya, lama Banjarbaru pada bulan Januari 2020.
pemakaian yang tidak sesuai, cara
pemakaian yang kurang tepat, pemakaian Penelitian ini juga diharapkan dapat
antibiotik secara berlebihan, dan
penggunaan antibiotik pada kondisi yang meningkatkan peran aktif dalam
bukan disebabkan oleh bakteri (Febiana,
2012). Hal ini sering kali ditemukan pada melakukan pemantauan dan evaluasi pola
praktek pelayanan kesehatan seperti di
puskesmas, praktek dokter mandiri, penggunaan antibiotik guna
poliklinik atau rumah sakit (Muhlis,
2011). mengendalikan dan menurunkan potensi
Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru terjadinya resistensi serta dapat
merupakan salah satu fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama milik memberikan informasi bagi praktisi
pemerintah yang berada di Kelurahan
Sungai Ulin Kota Banjarbaru, Kalimantan kesehatan, pembuat kebijakan,
Selatan. Puskesmas Sungai Ulin
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, dan para peneliti lain
masyarakat termasuk di dalamnya adalah
pengobatan. Salah satu komponen dari mengenai pola penggunaan antibiotik di
pengobatan adalah peraturan penggunaan
obat antibiotika sesuai standar Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru.
pengobatan. Berdasarkan uraian latar
belakang tersebut, peneliti tertarik untuk II. METODE PENELITIAN
mengetahui Pola Penggunaan Antibiotik Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan
untuk mendapatkan gambaran atau
deskripsi tentang suatu keadaan secara
objektif. Data dikumpulkan secara
retrospektif (backward looking). Data
yang dikumpulkan berupa data sekunder
yang diperoleh dari dokumen resep
antibiotik dan buku register pasien di
setiap ruang pemeriksaan yang ada di
Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru
selama bulan Januari 2020.
Populasi sampel penelitian ini adalah
seluruh data resep antibiotik yang terdapat
33
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
di Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan di
pada bulan Januari 2020, yaitu sebanyak Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru dan
dilaksanakan pada 27 Januari - 22
366 resep. Sampel pada penelitian ini Februari 2020. Data yang diperoleh
kemudian dianalisis berdasarkan variabel-
didapatkan dengan cara menghitung variabel karakteristik yang ada secara
deskriptif dengan hasil data persentase
menggunakan rumus Lameshow & David. (%) pada tiap kategori.
Teknik pengambilan sampel pada
penelitian ini menggunakan metode
stratified random sampling. Berdasarkan
perhitungan yang dilakukan, jumlah
sampel minimal yang dapat diambil
adalah 188 resep antibiotik. Instrumen A. Karakteristik Pasien
atau alat yang digunakan dalam penelitian Karakteristik pasien yang
ini adalah berupa lembar pengumpulan mendapatkan terapi antibiotik
data. dikelompokkan berdasarkan jenis
Kriteria inklusi adalah suatu kriteria kelamin, usia, tanggungan biaya
yang mana subjek penelitian dapat kesehatan, dan jenis penyakit atau
mewakili sampel penelitian yang diagnosis pasien. Data ini bertujuan untuk
mempunyai syarat menjadi sampel. menggambarkan karakteristik pasien yang
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah mendapatkan antibiotik pada bulan
resep yang mengandung antibiotik dan Januari tahun 2020 di Puskesmas Sungai
mencantumkan data berupa tanggal, nama Ulin. Data tersebut disajikan dalam Tabel
pasien, usia, jenis kelamin, jenis 1.
antibiotik, dan bentuk sediaan antibiotik Tabel 1. Karakteristik pasien yang mendapatkan
antibiotik di Puskesmas Sungai Ulin pada bulan
tersebut. Sedangkan kriteria ekslusi Januari 2020
merupakan kriteria dimana subjek Karakteristik Pasien Jumlah Persentase
Jenis Kelamin
penelitian tidak dapat mewakili sampel 95 47,5%
Laki-laki 105 52,5%
karena tidak memenuhi syarat sebagai Perempuan 200 100%
sampel penelitian. Kriteria ekslusi pada Total 35 17,5%
Usia 36 18%
penelitian ini adalah resep yang 118 59%
≤ 5 tahun 11 5,5%
mengandung antibiotik yang 6-12 tahun 200 100%
> 12 tahun – 64
diagnosismya tidak dapat ditelusuri dan tahun 85 42%
≥ 65 tahun 116 58%
resep dengan antibiotik untuk penyakit Total
Tanggungan Biaya
tuberkulosis. Kesehatan
BPJS
Umum
34
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
Total 200 100% dan perempuan yaitu 7.948 dan 7.063
Jenis Penyakit (BPS Banjarbaru, 2018).
5 2,5%
Abses 15 7,4% Berdasarkan usia pasien, pasien
Demam tifoid 9 4,5% dengan usia lebih dari 12 tahun sampai 64
Dermatitis 80 39,6% tahun mendapatkan antibiotik dengan
Faringitis akut 9 4,5% persentase yang paling tinggi yaitu 59%.
Febris yang tidak Hal ini disebabkan karena pada usia ini
diketahui 8 4,0% merupakan usia produktif sehingga
penyebabnya memiliki kondisi yang memiliki resiko
Gingilitis akut dan 4 2,0% tinggi terjadi infeksi akibat bakteri dengan
periodontal akut 2 1,0% diperlukannya terapi menggunakan
Impetigo antibiotik (Septiyana et al., 2015).
Infeksi saluran 8 4,0%
kemih Jenis resep di Puskesmas Sungai Ulin
Infeksi saluran 2 1,0% Banjarbaru terbagi menjadi dua
pencernaan yang berdasarkan tanggungan biaya kesehatan
disebabkan bakteri 12 5,9% pasien yaitu BPJS dan Umum. Hasil
lainnya 3 1,5% penelitian menunjukkan sebanyak 58%
Influenza dan pasien di Puskesmas Sungai Ulin
febris yang tidak 2 1,0% Banjarbaru pada bulan Januari 2020 yang
diketahui mendapatkan antibiotik merupakan pasien
penyebabnya 3 1,5% Umum, sedangkan pasien BPJS adalah
Konjungtiva 11 5,4% sebesar 42%. Berdasarkan data jumlah
Otitis media pasien di Puskesmas Sungai Ulin pada
suppuratif 2 1,0% tahun 2019, diketahui bahwa jumlah
Penyakit Paru 3 1,5% pasien Umum memiliki presentase yang
Obstruktif Kronis 2 1,0% lebih besar yaitu 56,69% dibandingkan
(PPOK) 3 1,5% dengan pasien BPJS yang memiliki
Pneumonia 19 9,4% presentase sebesar 43,31%.
Pulpitis dan 202 100%
jaringan periapial Jika dilihat berdasarkan jenis
Pyoderma penyakit, faringitis akut merupakan
Scabies penyakit yang paling banyak diresepkan
Tonsilitis akut antibiotik dengan presentase 39,6%. Data
Vulnus Seisum sepuluh penyakit terbanyak di ruang
Lain-lain pemeriksaan umum dan ruang
Total
Data yang ditunjukkan pada Tabel 1
menunjukkan bahwa pasien dengan jenis
kelamin perempuan memiliki jumlah
persentase yang lebih tinggi
dibandingkankan dengan pasien laki-laki.
Namun jumlah persentase tersebut tidak
jauh berbeda yaitu 47,5% untuk pasien
laki-laki dan 52,5% untuk pasien
perempuan. Menurut data proyeksi
penduduk pada data BPS Kota Banjarbaru
tahun 2018, Kelurahan Sungai Ulin
memiliki rasio jumlah penduduk laki-laki
35
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
pemeriksaan anak Puskesmas Sungai Ulin Salep 2%/gram 11 5,31%
Banjarbaru tahun 2018 menunjukkan
bahwa infeksi pada saluran nafas atas kulit (15 gram)
merupakan penyakit yang memiliki
frekuensi yang cukup tinggi di Puskesmas Tetes 1%/mL 2 0,97%
Sungai Ulin Banjarbaru.
telinga (10 mL)
Salep 1%/gram 1 0,48%
mata (5 gram)
Kotri Sirup Sulfameto 32 15,46
moksa kasazol %
zol 200 mg/5
mL dan
Trimethop
rim 40 34
mg/5 mL (16,43
Tablet Sulfameth 2 0,97% %)
B. Pola Penggunaan Antibiotik oxazole
Pola penggunaan antibiotik
400 mg
merupakan bentuk atau struktur dari
penggunaan antibiotik pada suatu fasilitas dan
kesehatan. Pola penggunaan antibiotik
pada penelitian ini berdasarkan Trimethop
karakteristik antibiotik dan ruang
pemeriksaan yang ada di Puskesmas rim 80 mg
Sungai Ulin pada bulan Januari tahun
2020. Adapun karakteristik antibiotik Klinda Kapsul 150 mg 2 0,97% 2
yang diresepkan meliputi bentuk sediaan,
kekuatan sediaan, frekuensi peresepan, misin (0,97
dan persentase peresepan. Ruang
pemeriksaan terbagi 3 yaitu umum, %)
kesehatan anak/MTBS, serta gigi dan
mulut. Data tersebut dapat dilihat pada Sefadr Tablet 500 mg 4 1,93% 9
Tabel 2 dan Tabel 3.
oksil Sirup 250 mg/5 5 2,42% (4,35
Kering mL %)
Sefiks Tablet 200 mg 6 2,90% 6
im (2,90
%)
Siprof Tablet 500 mg 18 8,70% 18
loksas (8,70
in %)
Total 207 100% 100%
Tabel 2. Karakteristik Antibiotik yang Diresepkan Dosis dan bentuk sediaan yang
di Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru pada Bulan diberikan kepada pasien untuk
Januari 2020 menghasilkan efek terapi yang diharapkan
tergantung beberapa faktor, diantaranya
Nama Bentuk Kekuatan Frek Persen Total yaitu usia, berat badan, dan jenis penyakit.
antibi Sediaan Sediaan (n= tase Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru
otik 207) memiliki berbagai jenis antibiotik dengan
Amok Tablet 250 mg bentuk sediaan dan dosis yang beragam.
sisillin 500 mg 12 5,80% Jenis antibiotik yang tersedia untuk
Sirup golongan penisilin yaitu amoksisilin tablet
Genta 250 mg/5 79 38,16 97 250 mg dan 500 mg, sirup 125mg/5mL
misin Tetes mL dan 250mg/5mL. Golongan antibiotik
mata 3mg/tetes % (46,86 aminoglikosida yaitu gentamisin tetes
Klora (5 mL) mata 5 mL dengan dosis 3mg/tetes.
mfeni Kapsul 6 2,90% %) Golongan antibiotik kloramfenikol yaitu
kol Sirup 500 mg kloramfenikol tablet 500 mg, sirup
125mg/5 14 6,76% 14 125mg/5mL, salep kulit 2%/gram (15
mL (6,76
%)
12 5,80% 27
1 0,48% (13,04
%)
36
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
gram), tetes telinga 1%/mL (10 mL) dan dikarenakan lebih banyak pasien dewasa
salep mata 1%/gram (5 gram). Golongan yang berkunjung ke puskesmas Sungai
antibiotik makrolida yaitu klindamisin Ulin Banjarbaru dibandingkan pasien
tablet 150 mg. Golongan antibiotik anak-anak (Tabel 1 &Tabel 3). Bentuk
sefalosporin terdiri dari generasi pertama sediaan tablet lebih sering diresepkan
yaitu sefadroksil tablet 500 mg, sirup untuk pasien dewasa dibandingkan anak-
kering 125 mg/5mL dan 250mg/5mL dan anak karena tablet lebih praktis dalam
sefalosporin generasi ketiga yaitu pengunaannya (Al-Madury et al., 2012).
sefiksim 200 mg. Golongan antibiotik
kuinolon yaitu ada siprofloksasin 500 mg. Pasien anak-anak lebih sering
Jenis antibiotik terakhir yaitu diresepkan dengan bentuk sediaan sirup
kotrimoksazol tablet dengan kombinasi seperti kotrimoksazol sirup. Hal ini
sulfamethoxazole 400 mg dan ditunjukkan pada jumlah pengunaan
trimethoprim 80 mg dan sirup dengan kotrimoksazol sebesar 32 item dengan
kombinasi sulfamethoxazole 200 mg/5 presentase 15,53% dengan urutan kedua
mL trimethoprim 40 mg/5 mL. setelah amoksisilin untuk antibiotik
tertinggi yang diresepkan pada bulan
Dari data yang disajikan pada Tabel 2, Januari 2020. Presentase antibiotik
dapat dilihat jika presentase jumlah terendah terdapat pada kloramfenikol
peresepan antibiotik tertinggi terdapat sirup 125mg/5 mL dengan jumlah
pada amoksisilin sebanyak 97 item sebanyak 1 item dengan presentase
dengan presentase 46,86%. Tingginya 0,49%. Hal ini dikarenakan sangat sedikit
penggunaan amoksisilin ini disebabkan ditemukan kasus demam typoid pada anak
jenis penyakit tertinggi pada puskesmas pada bulan Januari 2020 (Lampiran 2).
Sungai Ulin Banjarbaru pada bulan Presentase terendah bukan hanya pada
Januari 2020 adalah faringitis akut. Terapi kloramfenikol sirup tetapi kloramfenikol
lini pertama dari faringitis akut salep mata juga memiliki jumlah
berdasarkan buku Panduan Praktis Klinis peresepan yang sama yaitu 1 item dengan
Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan presentase 0,49%. Hal ini dikarenakan
Kesehatan Primer menggunakan kasus mata bengkak dan gatal hanya
amoksisilin (IDI, 2014). Amoksisilin yang terjadi 1 kali selama bulan Januari 2020.
paling banyak digunakan yaitu
amoksisilin 500 mg dengan bentuk Tabel 3. Profil antibiotik yang diresepkan
sediaan tablet dengan jumlah sebanyak 79 berdasarkan ruang pemeriksaan di Puskesmas
item dengan presentase 38,35%. Hal ini Sungai Ulin Banjarbaru pada Bulan Januari 2020
37
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
Ruang Frek. Persent menyebutkan jika presentase tertinggi
Pemeri (n=207) ase
ksaan Antibiotik Total yang berkunjung ke puskesmas Sungai
Umum 55 26,21%
Amoxisillin 13 5,38% 117 Ulin Banjarbaru adalah pasien dewasa
Keseha Gentamisin 22 10,63% (56,5
tan Kloramfenikol 2 0,97% 2%) dengan umur (>12-64 tahun). Pada ruang
Anak/ Kotrimosazole 2 0,97%
MTBS Klindamisin 3 1,45% 71 pemeriksaan kesehatan anak/MTBS
Sefadroxil 5 2,42% (34,3
Gigi & Sefiksim 15 7,25% 0%) didapatkan jumlah peresepan antibiotik
Mulut Siprofloksasin 29 14,01%
Amoxisillin 1 0,48% 19 sebanyak 71 item dengan presentase
Total Gentamisin 4 1,93% (9,18
Kloramfenikol 32 15,46% %) 34,30%. Penggunaan antibiotik terbanyak
Kotrimoksazol 0
Klindamisin 4 0% 100% terdapat pada kotrimoksazol dengan
Sefadroksil 1 1,93%
Sefiksim 0 0,48% jumlah peresepan sebanyak 32 dengan
Siprofloksasin 14
Amoxisillin 0 0% presentase 15,53%. Hal ini dikarenakan
Gentamisin 0 6,76%
Kloramfenikol 0 kotrimoksazol dapat diberikan pada anak
Kotrimoksazol 0 0%
Klindamisin 2 0% yang mengalami infeksi saluran napas
Sefadroksil 0 0%
Sefiksim 3 0% atas, diare, dan impetigo (Tobat et al.,
Siprofloksasin 207 0,97%
0% 2015; Kemenkes RI, 2014b). Sedangkan
1,45%
100% pada ruang pemeriksaan gigi dan mulut
didapatkan jumlah peresepan antibiotik
Data yang disajikan pada Tabel 3 sebanyak 19 item dengan presentase
menunjukkan jika jumlah tertinggi dalam
peresepan antibiotik terdapat pada ruang 9,18%. Pada ruang pemeriksaan gigi dan
pemeriksaan umum yaitu sebanyak 117
item dengan presentase 56,52%. mulut hanya terdapat ada 3 antibiotik yang
Antibiotik yang sering diresepkan yaitu
amoksisilin dibandingkan dengan diresepkan pada bulan Januari 2020, yaitu
antibiotik lainnya yaitu dengan jumlah
penggunaan sebanyak 56 item dengan amoksisilin dengan jumlah penggunaan
presentase 26,21%. Ruang pemeriksaan
umum pada Puskesmas Sungai Ulin tertinggi yaitu sebanyak 14 item dengan
Banjarbaru diperuntukkan untuk pasien
yang memiliki usia >12 tahun sampai presentase 6,8%, selanjutnya
dengan lansia maka dikategorikan pasien
dewasa. Sehingga dapat disimpulkan jika siprofloksasin dengan jumlah pengunaan
hal ini sesuai dengan tabel 1 yang
sebanyak 3 item dengan presentase
1,96%, dan yang terakhir adalah
sefadroksil dengan jumlah pengunaan
sebanyak 2 item dengan presentase
0,97%.
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan dari
hasil penelitian ini yaitu presentase jenis
38
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
antibiotik tertinggi yang diresepkan di DAFTAR PUSTAKA
Puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru pada Al Madury, S., F. Fakhrunnisa & A.
bulan Januari 2020 adalah amoksisilin Amin. 2012. Pemanfaatan Kulit
tablet 500 mg dengan persentase sebesar Manggis (Garcinia mangostana L.)
46,28%. Adapun presentase jenis sebagai Formulasi Tablet Anti
Kanker yang Praktis dan Ekonomis.
antibiotik yang diresepkan berdasarkan Khazanah, 5 : 1-11
ruangan pemeriksaan di Puskesmas Bezoen A, W. V. Haren W, & J.C
Hanekamp. 2001. Antibiotics : Use
Sungai Ulin Banjarbaru pada bulan and Resistance Mechanisms.
Januari 2020 memiliki jumlah tertinggi Human Health and
AntibioticGrowth Promoters
pada ruang pemeriksaan umum yaitu (AGPs), Geidelberg Appeal
sebanyak 117 item dengan presentase Nederland.
Borong, Meyta. F. 2012. Kerasionalan
56,52%. Antibiotik yang sering Penggunaan Antibiotik Pada Pasien
diresepkan yaitu amoksisilin sebanyak 56 Rawat Inap Anak Rumah Sakit
M.M. Dunda Limboto Tahun 2011.
item dengan presentase 26,21%. Pada Laporan Hasil Karya Tulis Ilmiah.
ruang pemeriksaan kesehatan Program Studi D-III Farmasi
Fakultas Ilmu Kesehatan dan
anak/MTBS, kotrimoksazol memiliki Keolahragaan Universitas Negeri
penggunaan terbanyak yaitu 32 item Gorontalo.
Ikatan Dokter Indonesia. 2014. Panduan
dengan presentase 15,53%. Ruang Praktis Klinis Bagi Dokter di
pemeriksaan gigi dan mulut hanya Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer. Ikatan Dokter Indonesia,
terdapat ada 3 antibiotik yang diresepkan Jakarta.
pada bulan Januari 2020, yaitu Kardela, W., R. Andrajati & S. Supardi.
2014. Perbandingan Penggunaan
amoksisilin dengan jumlah penggunaan Obat Rasional Berdasarkan
tertinggi yaitu sebanyak 14 item dengan Indokator WHO di Puskesmas
Kecamatan antara Kota Depok dan
presentase 6,8%, siprofloksasin sebanyak Jakarta Selatan. Jurnal Kefarmasian
3 item dengan presentase 1,96%, dan Indonesia. 4 : 91-102.
sefadroksil dengan jumlah pengunaan Kemenkes RI. 2011. Peraturan
Kementerian Kesehatan No. 2406
sebanyak 2 item dengan presentase tentang Pedoman Umum
0,97%. Penggunaan Antibiotik.
Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
V. UCAPAN TERIMAKASIH Kemenkes RI. 2014a. Peraturan Menteri
Terimakasih kepada Pihak Puskesmas
Sungai Ulin serta semua yang berperan Kesehatan Republik Indonesia No.
dalam penyusunan artikel ini.
75 tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat.
Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta
39
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
Kemenkes RI. 2014b. Pedoman
Penyelenggaraan Manajemen
Terpadu Balita Sakit Berbasis
Masyarakat (MTBS-M).
Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Mandell GL, Bennet JE, Dolin R.
Principles and Practice of Infectious
Diseases. Elsevier Book Aid; 2010.
Hal.7.
Muhlis, M. 2011. Kajian Peresepan
Antibiotika Pada Pasien Dewasa Di
Salah Satu Puskesmas Kota
Yogyakarta Periode Januari - April
2010.Jurnal Ilmiah Kefarmasian. 1
: 33-41.
Nugroho AW, translator. Brooks GF,
Carroll KC, Butel JS, Morse SA,
Mietzner TA. Mikrobiologi
Kedokteran Jawetz, Melnick, &
Adelberg. Ed. 25. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2013.
Putri, Z. F. 2010. Uji Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper
betle L.) terhadap
Propionibacterium acne dan
Staphylococcus aureus
Multiresisten. Skripsi Fakultas
Farmasi Universitas
Muhammadiyah Surakarta,
Surakarta.
Septiyana, R., H.S. Padmanegara, Z.
Karim & Amrillah. 2015. Gambaran
Penggunaan Antibiotik di
Puskesmas Kendal. Jurnal
Farmasetis. 4 (2) : 58–63.
Setiabudy, R. 2007. Pengantar
Antimikroba Farmakologi dan
Terapi. Edisi kelima. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.
Tobat, S.R. M.H. Mukhtar, & I.H.D.
Pakpahan. 2015. Rasionalitas
Penggunaan Antibiotik pada
Penyakit ISPA di Puskesmas
Kuamang Kuning I Kabupaten
Bungo. Scientia. 5 : 79-83.
World Health Organization. 1993. How to
Investigate Drug Use in Helath
Facilities. Geneva.
40
Prosiding Rakerda PD AIA Kalsel (2021): 31 – 40
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel, ISBN: 978-623-94017-3-3
PROSIDING RAKERDA PD IAI KALSEL
Banjarmasin, 5 - 6 Juli 2021
https://www.iaikalsel.com
Gambaran Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian
Apotek di Kota Banjarbaru
*Difa Intannia1, Herningtyas Nautika Lingga1
1Pharmacist Profession Education Program, Faculty of Mathematic and Natural Science,
Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Ahmad Yani Km 36, Banjarbaru, 70714, Indonesia.
*Corresponding author email: [email protected]
ABSTRAK
Pelayanan kefarmasian merupakan bentuk pelayanan langsung dan
bertanggung jawab untuk meningkatkan hasil terapi dan kualitas hidup pasien.
Pelaksanaan terhadap pelayanan kefarmasian di apotek telah diatur dalam standar
pelayanan kefarmasian di apotek yang dijadikan tolak ukur dalam penyelenggaraan
pelayanan kefarmasian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek (Permenkes No. 73 Tahun
2016) Kota Banjarbaru, serta mendeskripsikan persepsi apoteker terhadap faktor-
faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek. Penelitian
ini merupakan penelitian survey deskriptif pada tahun 2019, dengan sampel penelitian
yang diambil adalah Apoteker yang berpraktek di apotek Kota Banjarbaru.
Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi cek list yang mengacu pada Permenkes
No. 73 Tahun 2016 dan diisi secara online. Total apoteker yang berpartisipasi pada
penelitian adalah 19 orang dengan karakteristik perempuan (84,21%), sebagai
Apoteker Penanggjung Jawab (94,74%), pengalaman di apotek 1-5 tahun (47,37%),
memiliki pekerjaan lain (63,16%), bekerja 3-5 hari dan 6-7 hari (42,11%) dan jam
praktek di apotek selama 4-6 jam (47,37%). Kesesuaian Implementasi pelayanan
kefarmasian dalam hal sumber daya manusia (63,16%), sarana dan prasarana
(65,87%), pengelolaan sediaan farmasi (86,19%), pelayanan farmasi klinik (44,29%)
dan Evaluasi Mutu (46,93%). Faktor yang dianggap berpengaruh tertinggi dalam
pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek adalah kepercayaan pasien terhadap
apoteker (rata-rata= 4,53), pernyataan tertinggi kedua adalah kurangnya
kepercayaan diri apoteker (rata-rata= 4,47) dan pernyataan tertinggi ketiga adalah
SDM (TTK), kehadiran apoteker, dan keahlian (manajemen, klinis dan komunikasi)
memiliki nilai yang sama (rata-rata= 4,42).
Kata Kunci: Standar Pelayanan Kefarmasian, Apotek, Permenkes No. 73 tahun 2016
41
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50
ABSTRACT
Pharmaceutical care are a direct service and responsible to improving therapeutic
outcomes and patients' quality of life. Pharmacy service standards in pharmacies are
guidelines in the implementation of pharmaceutical practices in pharmacies. The aim of
this study was to describe the implementation of pharmaceutical service standards in
pharmacies (Permenkes No. 73 of 2016) at Banjarbaru City and to describe pharmacists'
perceptions of the factors that influence the implementation of pharmaceutical services
in pharmacies. This research is descriptive survey research in 2019, with the research
sample is taken are pharmacists who practice in Banjarbaru City pharmacies. Data
collection is done by filling out a checklist that refers to Permenkes No. 73 of 2016 and
filled in online. The total pharmacists who participated in the study were 19 people with
female characteristics (84.21%), as Responsible Pharmacists (94.74%), experience in
pharmacies 1-5 years (47.37%), having other jobs (63, 16%), work 3-5 days and 6-7 days
(42.11%) and practice hours at the pharmacy for 4-6 hours (47.37%). The suitability of
the implementation of pharmaceutical services in terms of human resources (63.16%),
facilities and infrastructure (65.87%), management of pharmaceutical preparations
(86.19%), clinical pharmacy services (44.29%), and Quality Evaluation (46,93%). The
factor that is considered the highest influence in the implementation of pharmaceutical
services in pharmacies is the patient's trust in the pharmacist (mean = 4.53), pharmacist's
lack of confidence (average = 4.47) and human resources, pharmacist presence, and
expertise (management, clinical and communication) had the same score (mean = 4.42).
Keywords:Pharmaceutical care standard, Pharmacy, Permenkes No. 73 tahun 2016
I. PENDAHULUAN Pelayanan kefarmasian di apotek yang
Apotek merupakan sarana pelayanan diberikan kepada masyarakat telah diatur
kefarmasian dan tempat praktek bagi dalam standar pelayanan kefarmasian di
profesi apoteker untuk melakukan apotek yang diterbitkan melalui perturan
pekerjaan kefarmasian. Pelayanan menteri kesehatan No. 73 Tahun 2016.
kefarmasian merupakan pelayanan yang Standar pelayanan kefarmasian
dilakukan oleh tenaga kefarmasian kepada merupakan pedoman dan acuan penilaian
pasien untuk memaksimalkan hasil terapi. kualitas pelayanan yang dijadikan tolak
Sejak tahun 2009 pemerintah telah ukur dalam penyelenggaraan pelayanan
mengeluarkan peraturan terkait dengan kefarmasian, begitu pula dengan
pekerjaan kefarmasian yang terdiri dari pelayanan di apotek (Anonim, 2016).
pembuatan sediaan farmasi, Penyelenggaraan pelayanan
pengembangan obat dan obat tradisional, kefarmasian di apotek menjadi tanggung
pengelolaan obat dan pelayanan terhadap jawab seorang apoteker. Pertemuan WHO
obat yang diberikan (Anonim, 2009). di Genewa pada tahun 1988 menegaskan
bahwa dalam suatu pelayaan kesehatan
42
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50