The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kegiatan Rapat Kerja Daerah, Webinar, dan Presentasi Ilmiah merupakan rangkaian kegiatan tahunan dari Pengurus Daerah Kalimantan Selatan Ikatan Apototeker Indonesia. Pada pelaksanaan tahun 2021 merupakan kegiatan pertama yang melibatkan presentasi ilmiah yang diikuti oleh peneliti yang mempresentasikan hasil penelitiannya. Artikel hasil presentasi ilmiah selanjutnya dibuat dalam bentuk Buku Prosiding untuk memudahkan
publikasi dari hasil penelitian tersebut.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penerbit.bcs, 2021-11-29 06:08:02

BUKU PROSIDING RAKERDA, WEBINAR, & PRESENTASI ILMIAH “Update Pharmaceutical Practice During The Covid-19 Pandemic”

Kegiatan Rapat Kerja Daerah, Webinar, dan Presentasi Ilmiah merupakan rangkaian kegiatan tahunan dari Pengurus Daerah Kalimantan Selatan Ikatan Apototeker Indonesia. Pada pelaksanaan tahun 2021 merupakan kegiatan pertama yang melibatkan presentasi ilmiah yang diikuti oleh peneliti yang mempresentasikan hasil penelitiannya. Artikel hasil presentasi ilmiah selanjutnya dibuat dalam bentuk Buku Prosiding untuk memudahkan
publikasi dari hasil penelitian tersebut.

Keywords: Penelitian,Farmasi,Medical

obat merupakan suatu komiditas utama, insentif dan kurangnya dukungan
sehingga apoteker merupakan salah satu profesional kesehatan lainnya , dengan
kunci utama dalam suatu sistem pelayanan varians kumulatif 64,7% (Fang Y et al.
kesehatan terutama di komunitas (WHO, 2011). Penelitian di Indonesia hambatan
1994). Berbagai penelitian menunjukkan yang dihadapi diantaranya adalah
bahwa implementasi pelayanan kehadiran apoteker, faktor pasien dimana
kefarmasian di komunitas menunjukkan ada keragu-raguan kepada tenaga farmasi,
perbaikan terhadap kualitas hidup pasien. kekurangan skill, tidak ada ruang layanan
Penelitian di Hamburgh menunjukkan konseling, dan keterbatasan jumlah
implementasi pharmaceutical care di sumber daya manusia farmasi
komunitas pada pasien asma (Apriyansah A et al, 2018) dan
menunjukkan perbaikan tidak hanya pada (Mulyagustina et al, 2017). Profil
parameter klinis dan kualitas hidup tapi hambatan yang dihadapi daerah satu dan
juga secara finansial (Eichkoff C & lainnya dapat berbeda.
Schulz M, 2006). Penelitian di Swedia
menunjukkan dampak dari identifikasi Banjarbaru merupakan daerah dengan
permasalahan terkait obat dan jumlah penduduk sekitar 450.000
intervensinya oleh apoteker dapat penduduk, jumlah apotek yang terdata di
meningkatkan efek terapetik bagi pasien daerah Banjarbaru pada saat dilakukan
(68%), mencegah atau mengurangi efek penelitian adalah 79 apotek. Pelaksanaan
samping (32%), mengurangi risiko standar pelayanan kefarmasian di apotek
menjalani rawat inap (3%) dan perlu dilakukan survey sebagai langkah
penghematan biaya mencapai 358 juta awal dalam perbaikan pelayanan
euro (Westerlund T&Marklun B, 2009). kefarmasian. Profil apotek dan sudut
pandang apoteker perlu diamati sebagai
Dampak baik yang muncul dari informasi dan dasar tindakan dalam
pelayanan kefarmasian di komunitas tidak rangka perbaikan dalam pelaksanaan
akan terjadi tanpa implementasi pelayanan kefarmasian di apotek.
pelayanan kefarmasian tersebut. Beberapa Penelitian ini bertujuan untuk
hal menjadi hambatan dalam pelaksanaan mendeskripsikan karakteristik apoteker
pelayanan kefarmasian. Survey yang yang menjalani praktek di apotek,
dilakukan di Cina menyampaikan mendeskripsikan persepsi apoteker
hambatan yang dihadapi apoteker terhadap pelaksanaan pelayanan
diantaranya waktu dan keterampilan kefarmasian di apotek dan implementasi
apoteker, tidak adanya informasi dan pelaksanaan pelayanan kefarmasian di

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50 43

apotek berdasarkan standar pelayanan III. HASIL DAN PEMBAHASAN
kefarmasian di apotek (Permenkes no 73
tahun 2016). Berikut merupakan hasil

II. METODE penelitian terkait dengan karaktersitik
Penelitian ini termasuk jenis
penelitian non eksperimental dengan apoteker yang mengikuti penelitian ini.
rancangan penelitian deskriptif. Populasi
pada penelitian ini adalah seluruh apotek Table 1. Karakterisitik Responden
di Kota Banjarbaru. Adapun jumlah
apotek yang tercatat pada Tahun 2019 No Karakteristik Jumlah Presentase
pada saat dilakukan penelitian adalah 79
apotek, sejumlah 13 apotek dieksklusi dari 1 Jenis kelamin
penelitian karena merupakan apotek
jaringan/klinik kecantikan/rumah sakit. Perempuan 16 84,21
Total apotek yang akan dilibatkan dalam
penelitian adalah 66 apotek. Instrumen Laki-laki 3 15,79
yang digunakan pada penelitian ini adalah
lembar check list, yang diisi secara online 2 Posisi
oleh responden. Lembar check list yang
dibuat mengacu pada Standar Pelayanan Apoteker 18 94,74
Kefarmasian di Apotek (Permenkes No. Penanggung
73 Tahun 2016). Responden dalam Jawab
penelitian adalah apoteker yang
berpraktek di apotek Kota Banjarbaru. Aoteker 1 5,26
Sejumlah 19 apoteker memberikan respon Pendamping 00
terhadap lembar check list yang telah Apoteker
disebarkan. Teknik analisis data yang Pengganti
digunakan pada penelitian adalah analisis
data desktriptif dalam bentuk persentase 3 Pengalaman
dan ditampilkan dalam bentuk tabel di apotek
maupun diagram.
Kurang dari 1 6 31,58
tahun

1 - 5 tahun 9 47,37

6 - 10 tahun 3 15,79

Lebih dari 10 1 5,26
tahun

4 Pekerjaan lain
Ya 12 63,16

Tidak 7 36,84

5 Hari di apotek

kurang dari 3 3 15,79
hari

3 - 5 hari 8 42,11

6 - 7 hari 8 42,11

6 Jam di apotek

kurang dari 4 5 26,32
jam

4 - 6 jam 9 47,37

lebih dari 6 jam 5 26,32

44

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50

Total responden yang berpartisipasi Table 2. Implementasi Pelaksanaan
dalam penelitian ini adalah 19 orang
apoteker. Berdasarkan tabel di atas Standar Pelayanan Kefarmasian Apotek
diketahui bahwa karakteristik responden
yang mengikut penelitian ini, berdasarkan (Permenkes No.73 Tahun 2016) di Apotek
jenis kelamin yang terbanyak adalah
perempuan sebesar 84,2%. Berdasarkan Kota Banjarbaru
data kementrian kesehatan jumlah
apoteker di Indonesia didominasi oleh No Rata-
perempuan. Berdasarkan status sebagian KARAKTERISTIK % Rata
besar (94,74%) merupakan apoteker
penanggung jawab dengan pengalaman 1 SDM SDM (n=7) 63,16 63,16
praktek paling banyak selama 1-5 tahun
(47,37%). 2 R penerimaan (n=3) 63,16

Sebesar 63,16% memiliki pekerjaan Saran R pelayanan dan 92,30
lain selain berpraktek menjadi apoteker di Prasa racikan (n=13) 65,79
apotek, diantaranya bekerja sebagai rana R penyerahan (n=2)
tenaga pengajar dan di fasilitas layanan R konseling (n=5) 65,87
kesehatan primer. Lama berpraktek dalam R penyimpanan 37,89
satu minggu rata-rata 3-7 hari dalam
seminggu. Lama berpraktek di apotek (n=7) 67,67
dalam sehari adalah 4-6 jam (47,37%).
R arsip (n=1) 68,42

3 Perencanaan (n=3) 85,97
100
Penge
Pengadaan (n=2) 94,74
96,05 86,19
lolaan 49,47
Penerimaan (n=4) 86,84
90,23
Sedia
Penyimpanan (n=4)

an
Pemusnahan (n=5)

Farm
Pengendalian (n=4)

asi

Pencatatan (n=7)

4 Pengkajian resep

Pelay (n=4) 86,84

anan Dispensing (n=13) 91,90

Farm PIO (n=7) 51,88
44,29
asi Konseling (n=2)
39,47
Klini Home care (n=3)
7,02
k PTO (n=2)
18,42

MESO (n=4) 14,47

5 Evalu Mutu manajerial 64,91 46,93
asi (n=6) 28,95

Mutu Mutu farklin (n=4)

Standar pelayanan kefarmasian
apotek disusun agar dapat menjadi
panduan bagi apoteker dalam
melaksanakan pekerjaan kefarmasian di

45

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50

apotek. Terdapat dua kegiatan utama dengan baik serta aman bagi lingkungan.
Penelitian yang dilakukan pada apotek di
dalam pelaksanaan pelayanan Jambi diketahui bahwa kegiatan
pemusnahan dilakukan pada 5% apotek
kefarmasian di apotek, yaitu kegiatan yang dilakukan observasi (Mulyagustina
et al, 2017) sedangkan penelitian di kota
pengelolaan obat dan Bahan Medis Habis Palu, 60% apotek telah melakukan
kegiatan pemusnahan (Diana K et al,
Pakai (BMHP) serta pelayanan farmasi 2019).

klinik. Kegiatan ini didukung oleh sumber Pelaksanaan standar pelayanan
kefarmasian di apotek pada kegiatan
daya manusia serta sarana dan prasarana. farmasi klinik pada penelitian
menunjukkan hasil rata-rata terendah.
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa Pelayanan farmasi klinik merupakan
pelayanan yang menuntut apoteker untuk
pelaksanaan standar pelayanan berinteraksi secara langsung dengan
pasien agar dapat melakukan penilaian
kefarmasian di apotek (Permenkes No. 73 terhadap pengobatan yang dijalani pasien
sehingga meningkatkan hasil terapi dan
Tahun 2016) pada kegiatan pengelolaan meminimalisir risiko efek samping serta
kesalahan pengobatan. Pelayanan farmasi
sediaan farmasi (86,19%) lebih baik di komunitas diketahui memberikan
dampak positif dalam manajemen terapi
dibandingkan pada pelayanan farmasi pasien dan memberikan hasil yang positif
pada outcome klinis pasien (Yuan C et al,
klinik (44,9%). 2019).

Pengelolaan sediaan farmasi Hasil penelitian pada kegiatan
farmasi klinik menunjukkan bahwa
merupakan tanggung jawab seorang kegiatan pengkajian resep dan dispensing
menunjukkan telah dilakukan dengan
apoteker. Tabel 2 menunjukkan bahwa baik. Kegiatan pengkajian resep penting
dilakukan karena pada saat skrining resep
rata-rata kegiatan pengelolaan sediaan dapat ditemukan permasalahan terkait
dengan pengobatan (Fahdilla AS, 2020).
farmasi telah mengikuti standar pelayanan
46
kefarmasian di apotek, meskipun belum

memenuhi 100%. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa pemusnahan obat

dan BMHP merupakan kegiatan

pengelolaan yang memiliki nilai rata-rata

paling rendah. Terdapat apoteker yang

tidak pernah melakukan kegiatan

pemusnahan pada saat menjalani praktek

kefarmasian di apotek. Kegiatan

pemusnahan dilakukan pada obat yang

sudah kadaluarsa atau rusak, dan

melakukan pemusnahan sesuai dengan

standar yang sudah ditetapkan penting

untuk menjamin agar obat dan BMHP

tidak disalahgunakan, terdokumentasi

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50

Penelitian di Malaysia menyebutkan dilakukan apoteker pada populasi tertentu
bahwa hasil dari kegiatan skrining resep
menemukan dari 6340 resep, terdapat 43 seperti pasien dengan penyakit kronis,
resep yang memerlukan intervensi
apoteker diantaranya adalah menghubungi pasien lanjut usia, atau pasien dengan
penulis resep, mengklarifikasi kepada
pasien, menghubungi perawat (Siang CS polifarmasi. Masih rendahnya
et al, 2003). Intervensi apoteker pada saat
dilakukan skrining resep dapat implementasi standar pelayanan
mengurangi risiko kesalahan terapi
pasien, meningkatkan hubungan dan kefarmasian pada kegiatan farmasi klinik
komunikasi apoteker dengan tenaga
kesehatan lain sehingga memaksimalkan menunjukkan bahwa praktek apoteker
efek terapi pasien.
pada tempat penelitian saat ini masih
Pelaksanaan kegiatan home care,
MESO dan PTO merupakan kegiatan belum maksimal dalam mendukung
yang belum diterapkan sesuai dengan
standar pelayanan kefarmasian di apotek pelayanan kefarmasian yang berorientasi
pada penelitian ini. Pelayanan
kefarmasian berupa kunjungan rumah pasien, sehingga perlu dilakukan
(home care) oleh apoteker pada pasien
lanjut usia dapat mengidentifikasi dan sosialisasi dan pelatihan bagi apoteker
menyelesaikan masalah terkait obat,
meminimalkan biaya dan beban kesehatan yang berpraktek di apotek.
pasien, sehingga meningkatkan kualitas
hidup dan kesejahteraan (Gudi SK et al, Implementasi standar pelayanan
2019). Kegiatan home care yang kefarmasian apotek pada kelengkapan
dilakukan oleh apoteker pada pasien sarana dan prasarana memiliki nilai rata-
hipertensi berpengaruh terhadap rata 65,87%, dimana sarana prasarana
kepatuhan pasien minum obat terbaik yang sesuai adalah ruang
(Utaminingrum W et al, 2017). pelayanan dan peracikan (92,30%) dan
Berdasarkan manfaat yang didapatkan yang terendah adalah ruang konseling
dalam kegiatan home care maka kegiatan (37,89%). Konseling merupakan salah
ini dapat dipertimbangkan untuk satu kegiatan farmasi klinik yang
dilakukan oleh apoteker, tersedianya
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50 ruangan khusus untuk melakukan
komunikasi secara mendalam kepada
pasien sangat diperlukan. Hasil observasi
yang dilakukan oleh Layqah L
menemukan bahwa salah satu hambatan
dalam konseling yang efektif adalah
kurangnya privasi dan lingkungan yang
tidak mendukung untuk berkomunikasi.
Permasalahan ini dapat diatasi dengan
adanya ruang konseling.

47

Standar pelayanan kefarmasian di Penelitian ini melakukan survey
kepada apoteker mengenai faktor-yang
apotek pada kegiatan pengelolaan obat memperngaruhi pelaksaanaan pelayanan
kefarmasian di apotek. Berikut merupakan
ataupun farmasi klinik menuntut peran hasil survey terhadap faktor-faktor yang
menurut responden mempengaruhi
aktif apoteker di apotek. Berdasarkan pelaksanaan standar pelayanan
kefarmasian apotek
hasil penelitian di beberapa daerah

kegiatan pengelolaan sediaan farmasi

1,6% dilakukan bukan oleh tenaga

kefarmasian, kegiatan farmasi klinik

26,2% tidak dilakukan oleh apoteker Table 2. Persepsi Apoteker terhadap
Faktor-faktor yang mempengaruhi
(Supardi S et al, 2019). Hasil penelitian ini Pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di
Apotek
menunjukkan bahwa masih terdapat

apoteker yang berpraktek di apotek

kurang dari 3 hari (15,79%) dan lama

berpraktek dalam sehari < 4 jam Rata-
No Pernyataan
(26,32%), selain itu sejumlah (63,16%)
rata

memiliki lebih dari 1 pekerjaan. Hal ini 1 Tenaga teknis kefarmasian (TTK) 4,42

memiliki keahlian dan terlatih

menjadi salah satu faktor yang untuk bekerja dalam koordinasi

berpengaruh terhadap tidak terlaksananya dengan apoteker

standar pelayanan kefarmasian di apotek 2 Kehadiran apoteker secara teratur 4,42

secara maksimal. (sesuai jadwal praktik) di apotek

Pelaksanaan pelayanan 3 Pemilik Sarana Apotek (PSA) 4,32

memberikan kewenangan penuh

kefarmasian bergantung kepada tenaga untuk pelaksanaan pelayanan

kefarmasian, terutama apoteker. kefarmasian

Pandangan apoteker terhadap hambatan 4 Dukungan sistem informasi dan 4,37

dalam pelaksanaan pelayanan teknologi

kefarmasian berbeda-beda. Hambatan 5 Motivasi dari apoteker 4,37

6 Adanya kerjasama dengan dokter 4,11

utama dalam pelaksanaan pelayanan dan tenaga kesehatan lain

kefarmasian di United Arab Emirate 7 Pasien kurang percaya kepada 4,53

(UAE) adalah kurangnya waktu, apoteker

terbatasnya sumber daya manusia dan 8 Adanya pekerjaan utama apoteker 3,42

kurangnya motivasi (Ghazal MR et al, diluar apotek

2014), di Eropa hambatan utamanya 9 Kurangnya keahlian terkait 4,42

manajemen, klinis dan komunikasi

adalah kurangnya waktu dan uang (Van kepada pasien

MIL JWF et al, 2001).

48

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50

10 Keterbatasan jumlah sumber daya 4,05 Tahun 2016 di apotek masih belum

(apoteker dan/atau TTK) terlaksana secara maksimal, dengan

11 Tidak ada ruangan khusus untuk 4,00 rincian sebagai berikut: pada bidang SDM

layanan konseling (63,16%), Sarana dan prasarana (65,87%),

12 Kurangnya kepercayaan diri dari 4,47 Pengelolaan sediaan farmasi (86,19%),

apoteker Pelayanan Farmasi Klinik (44,29%) dan

13 Keterbatasan waktu 3,68 Evaluasi Mutu (46,93%). Faktor yang

Berdasarkan hasil di atas dianggap berpengaruh tertinggi dalam
menunjukkan bahwa dari total parameter
pernyataan mengenai pandangan apoteker pelaksanaan pelayanan kefarmasian di
terhadap faktor yang dapat mempengaruhi
pelaksanaan pelayanan kefarmasian apotek adalah kepercayaan pasien
didapatkan kepercayaan pasien terhadap
apoteker (rata-rata= 4,53), pernyataan terhadap apoteker (rata-rata= 4,53).
tertinggi kedua adalah kurangnya
kepercayaan diri apoteker (rata-rata= VI. UCAPAN TERIMA KASIH
4,47) dan pernyataan tertinggi ketiga
adalah SDM (TTK), kehadiran apoteker, Universitas Lambung Mangkurat karena
dan keahlian (manajemen, klinis dan
komunikasi) memiliki nilai yang sama telah mendanai penelitian ini, Pengurus
(rata-rata= 4,42).
Daerah IAI Kalimantan Selatan, Pengurus
Faktor adanya pekerjaan selain
berpraktek di apotek dan waktu memiliki Cabang IAI Kota Banjarbaru dan
nilai yang paling rendah. Dimana
sebagian apoteker menilai bahwa faktor Responden penelitian (Apoteker) Kota
tersebut tidak mempengaruhi terlalu besar
terhadap pelaksanaan pelayanan Banjarbaru yang bersedia terlibat dalam
kefarmasian di apotek.
penelitian
IV. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Pelaksanaan standar pelayanan
kefarmasian di apotek Banjabaru Anonim. 2009. Peraturan Pemerintah
berdasarkan pada Permenkes No. 76 Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009
Tentang Pekerjaan Kefarmasian.

Apriansyah1 A, Saibi Y, Karyadi. 2018.
Gambaran Pelayanan Farmasi Klinik Di
Apotek Wilayah Kota Tangerang Selatan.
Journal of Pharmacopolium.

Diana K, Tandah MR, Basuki M. 2019.
Pelaksanaan Standar Pelayanan
Kefarmasian Di Apotek Kota Palu, As-
Syifaa Jurnal Farmasi Juli 2019; 11 (01):
45-54.

Eichkoff C dan SchulzM. 2006.
Pharmaceutical Care in Community
Pharmacies: Practice and Research in
Germany. Annals Pharmacotherapy.

Fadhila AS. 2020. Study Literatur: Kajian
Administratif, Farmasetis Dan Klinis Pada

49

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50

Resep. Skripsi, Universitas Siang CS , Ni KM, Noor M. 2003. Outpatient
Prescription Intervention Activities by
Muhammadiyah Surakarta. Pharmacists in a Teaching Hospital.
Malaysian Journal of Pharmacy
Fang Y, Yang S, Feng B, Ni Y, Zhang K. 2003;1(3):86-90

2011. Pharmacists' perception of Sulasmono. 1997. Profesi di Apotek
Sekarang dan Masa Depan dengan
pharmaceutical care in community Analisis SWOT, Diskusi Kuliah
Pengantar Profesi Apoteker. Fakultas
pharmacy: a questionnaire survey in Farmasi Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta
Northwest China. Health Social Care
Miningrum W, Pranitasari R, Kusuma AM.
Community. 2017. Pengaruh Home Care Apoteker
terhadap Kepatuhan Pasien Hipertensi,
Ghazal ML et al. 2014. Barriers to the Jurnal Farmasi Klinik Indonesia,
Desember 2017 Vol. 6 No. 4, hlm 240–
implementation of Pharmaceutical Care 246

into the UAE community pharmacies. Mill JWF, deBoer WO, Tromp FJ. 2011.
European barriers to the Implementation
IOSR Journal of Pharmacy (IOSRPHR). of Pharmaceutical care. IJPP 2011; 9
(3):163-168. Doi: 10.1111/j.2042-
Volume 4, Issue 5 (May 2014), PP. 68-74 7174.2001.tb0104.x

Gudi SK, Kashyap A, Chhabra M, Rashid M, Westerlund T, Marklun B. 2009. Assessment
of the clinical and economic outcomes of
Tiwari KK. 2019. Impact of pharmacist- pharmacy interventions in drug-related
problems. Journal of Pharmacy and
led home medicines review services on Clinical Therapeutic.

drug-related problems among the elderly WHO, 1994, The Role of the Pharmacist in
the Health Care System.
population: a systematic review.
Yuan C, Ding Y, Zhou K, Huang Y, Xi X.
Epidemiol Health. 2010;41:e2019020. Clinical outcomes of community
pharmacy services: A systematic review
doi: 10.4178/epih.e2019020. Epub 2019 and meta-analysis. Health Soc Care
Community. 2019 Sep;27(5):e567-e587.
May 17. PMID: 31096747; PMCID: doi: 10.1111/hsc.12794. Epub 2019 Jun
21. PMID: 31225940.
PMC6635662.

Kementrian Kesehatan. 2016. Peraturan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No. 73 Tahun 2016 Mengenai Standar

Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

Republik Indonesia.

Layqah L. 2018. The practice of counseling
in pharmacy: patients’ perspectives. J

Anal Pharm Res. 2018;7(4):472-476.

DOI: 10.15406/japlr.2018.07.00269

Mulyagustina & Wiedyaningsih C, Kristina

SA. 2017. Implementasi Standar

Pelayanan Kefarmasian Diapotek Kota

Jambi. Jurnal Manajemen dan Pelayanan

Farmasi.

50

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 41 - 50

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel, ISBN: 978-623-94017-3-3

PROSIDING RAKERDA PD IAI KALSEL

Banjarmasin, 5 - 6 Juli 2021
https://www.iaikalsel.com

STABILTAS INTERAKSI SENYAWA KARAMUNTING (Rhodomyrtus
tomentosa) TERHADAP TISSUE PLASMINOGEN ACTIVATOR (tPA)

(Interaction Stability of Karamunting (Rhodomyrtus Tomentosa) Compounds
Against Tissue Plasminogen Activator (Tpa))

Samsul hadi

Prodi farmasi, Universitas Lambung Mangkurat, Jalan A. Yani KM. 34,5,
Banjarmasin

ABSTRAK

Tissue plasminogen activator (tPA) merupakan protein yang terlibat
pemecahan gumpalan darah. Enzim ini berperan dalam mengobati stroke emboli atau
trombolitik pada kondisi kritis. Sehingga untuk mencegah gangguan ini diperlukan
senyawa untuk menjaga sirkulasi darah terhadap proses gumpalan darah pada orang
yang beresiko terpapar penyakit ini. Berdasarkan skrening kandungan, tumbuhan
yang berpotensi sebagai antifibrinolitik salah satunya adalah karamunting.
Kandungan dari karmunting yang memiliki nilai Pa (probability activity) diatas 0,5
juga dilakukan uji stabiltas interaksi. Metode yang dipakai dalam metode stabilitas
interaksi adalah PLANTS dan visualisasi hasil menggunakan Discovery studio.
Berdasarakan uji Pa, senyawa yang berpotensi adalah blumeatin 0,734; metil sinamat
0,687, myricetin 0,634, naringeni 0,726, kuersetin 0,659, tetrahydroxyflavanone 0,734,
verimol K 0,792. Untuk stabilitas interaksi minimal 80 % terhadap kontrol (bis-
benzamidine) adalah α-tocopherol-quinone -110, 512; blumeatin -83,146; myricetin -
83,607; kuersetin -82,919; tetrahydroxyflavanone -87,289; α-tocopherol A -98,486,
verimol K -84,425. Sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa yang memiliki Pa
terbaik adalah verimol K dan stabilitas interaksi adalah α-tocopherol-quinone.

Kata kunci: tPA, fibronolitic dan karamunting.

51

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59

ABSTRACT

Tissue plasminogen activator (tPA) is a protein involved in the breakdown of blood
clots. This enzyme plays a role in treating embolic or thrombolytic stroke in critical
conditions. So that to prevent this disorder, compounds are needed to maintain blood
circulation to the process of blood clots in people who are at risk of being exposed to this
disease. Based on the content screening, plants that have the potential to be
antifibrinolytic, one of which is karamunting. The content of karamunting that has a Pa
value (probability activity) above 0.5 can be continued to the interaction stability test. The
method used in the interaction method is PLANTS and visualization of the results using
the Discovery studio. Based on the Pa test, the potential compounds were blumeatin 0.734;
methyl sinamat 0.687, myricetin 0.634, naringeni 0.726, quercetin 0.659,
tetrahydroxyflavanone 0.734, verimol K 0.792. For the stability of the interaction of at
least 80% against control (bis-benzamidine) is α-tocopherol-quinone -110, 512; blumeatin
-83,146; myricetin -83,607; quercetin -82,919; tetrahydroxyflavanone -87,289; α-
tocopherol A -98,486, verimol K -84,425. So it can be concluded that the compound that
has the best Pa is verimol K and the interaction stability is -tocopherol-quinone.

Key words: tPA, fibronolytic and karamunting.

I. PENDAHULUAN Mereka digunakan dalam pengobatan

Tissue plasminogen klinis untuk mengobati stroke emboli atau

activator(tPA) adalah protein yang terlibat trombotik. Penggunaan protein ini

dalam pemecahan gumpalan darah. dikontraindikasikan pada stroke

Protein ini adalah protease serin ( EC hemoragik dan trauma kepala. Jika

3.4.21.68 ) yang ditemukan pada sel pemberian tPA terjadi toksisitas maka

endotel, sel yang melapisi pembuluh diberi penangkal yaitu asam

darah. Sebagai enzim , ia mengkatalisis aminocaproic(Hirsh et al., 2008).

konversi plasminogen menjadi plasmin, tPA digunakan dalam beberapa

enzim utama yang bertanggung jawab kasus penyakit yang menimbulkan

untuk pemecahan gumpalan. tPA manusia pembekuan darah seperti emboli paru,

memiliki berat molekul ~ 70 kDa dalam infrak miokard, dan stroke, dalam

bentuk rantai tunggal(Catalog, 2006). tPA perawatan medis yang disebut

dapat diproduksi dengan menggunakan trombolisis. Penggunaan yang paling

teknik bioteknologi rekombinan, tPA umum adalah untuk stroke iskemik. Ini

yang dihasilkan dengan cara tersebut dapat diberikan secara sistemik, dalam

disebut sebagai recombinan tisseue kasus infark miokard akut , stroke

plasminogen activator (rtPA). Contoh iskemik akut , dan sebagian besar

obat yang termasuk golongan rtPA adalah kasus emboli paru masif akut , atau

alteplase , reteplase dan tenecteplase. diberikan melalui kateter arteri langsung

52

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59

ke tempat oklusi dalam untuk diteliti lebih lanjut hubungannya
kasus trombi arteri perifer dan thrombus dengan homeostasis pembuluh darah
di vena dalam proksimal kaki (Rivera-Bou (Anonim, 2017)
et al., 2008). Emboli paru (gumpalan
darah yang telah berpindah ke arteri paru- II. METODE
paru) biasanya di obati dengan heparain
yang umumnya diikuti dengan warfarin. A. Alat dan Bahan
Jika emboli paru menyebabkan
ketidakstabilan parah karena tekanan Alat yang dipergunkan adalah laptop
tinggi pada jantung dan menyebabkan
tekanan darah rendah, penggunaan tPA yang dipergunakan memiliki spesifikasi
rekombinan
direkomendasikan(Konstantinides et al., ram 2 GB, acer Aspire ES14, software
2014).
yang dipergunakan adalah PLANTS
Stabilitas peredaran sirkulasi
darah pada orang yang beresiko terjadinya (Korb et al., 2009), discoveri studio
stroke emboli menjadi hal yang penting,
karena senyawa yang berfungsi sebagai (Systèmes, 2020)dan Marvin bean
trombolitik membantu kelangsungan
hidup dari orang yang beresiko. Faktor (ChemAxon, 2016)
resiko yang mempengaruhi terjadinya
emboli adalah orang yang mengalami Bahan yang dipakai untuk penelitian ini
gangguan kardiovaskuler khususnya
hipertensi dan hyperlipidemia. Sehingga adalah senyawa yang terkandung dalam
diperlukan kandungan yang terdapat pada tanaman karmunting yaitu α-tocopherol-
tanaman untuk membantu homeostasis
sirkulasi darah. Salah satu tanaman yang quinone, blumeatin, metil sinamat,
tumbuh dikalimantan adalah karamunting
yang mempunyai khasiat dalam myricetin, naringenin, kuersetin,
pengobatan yaitu menurunkan gula darah,
mencegah metrorrhagia pada wanita haid. rhodomyrtone, rhodomyrtosone B,
Menaikkan trombosit dan berperan dalam
homeostasis fibrinogen. Sehingga rhodomyrtosone C,
kandungan dari tanaman ini berpotensi tetrahydroxyflavanone, α-tocopherol

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59 A,verimol K, watsonianone A (Zhou et

al., 2016).

B. Cara karja

Prediksi aktivitas

Prediksi aktivitas dari kandungan

karamunting menggunakan webservice,

dengan target prediksi diatas 0,5.

Docking dan visualisasi

Docking dimulai dengan persiapan

protein menggunakan aplikasi yasara, dan

persiapan ligand menggunakan marvin

bean. Setelah semuanya siap selanjutya

adalah proses docking menggunakan

53

PLANTS untuk melihat stabiltas interaksi. adalah blumeatin 0,734; metil sinamat
Pada tahap akhir adalah visulasasi
menggunakan discovery studio untuk senyawa pa pi
melihat tipe interakasi dan residu asam
amino yang terlibat. α-tocopherol-quinone 0,291 0,209
Analisis hasil
blumeatin 0,734 0,013
Melihat prediksi aktivitas diatas 0,5
dan stabilitas interaksi minimal 80%. metil sinamat 0,687 0,027

myricetin 0,634 0,054

III. HASIL DAN naringenin 0,726 0,015

PEMBAHASAN kuersetin 0,659 0,04

Berdasarkan penelitain yang telah rhodomyrtone 0,446 0,14

dilakukan oleh para penilti, kandungan rhodomyrtosone B 0,45 0,139
karamunting adalah α-tocopherol-

quinone, blumeatin, metil sinamat, rhodomyrtosone C --

myricetin, naringenin, kuersetin, tetrahydroxyflavanone 0,734 0,012
α-tocopherol A 0,285 0,214
rhodomyrtone, rhodomyrtosone B,

rhodomyrtosone C,

tetrahydroxyflavanone, α-tocopherol A, verimol K 0,792 0,005

verimol K, watsonianone A. Senyawa watsonianone A 0,372 0,166

yang telah diketahui ini selanjutnya dilihat 0,687; myricetin 0,634; naringeni 0,726;

probability activity dengan webservice. kuersetin 0,659; tetrahydroxyflavanone

Hasilnya dapat dilihat pada tabel 1. 0,734; verimol K 0,792 sehingga ketujuh

senyawa ini berpotensi dikembangkan

Hasil penelitian probility activy menjadi ligand terhadap Tissue
yabg menununjukkan hasil diatas 0,5
plasminogen activator (tPA).

54

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59

Gambar 1. Visualisasi proses redocking (Merah adalah ligand reference, kuning adalah
posisi ligand redocking)

Stabilitas interaksi referensi. Dalam hal ini menggunakan
Hasil dari docking menggunakan PDB ID 1A5H (Renatus et al., 1997).
Hasil proses redocking dapat dilihat pada
PLANT memberikan hasil yang lebih gambar 1. Dengan nilai RMSD 1,4417 0A,
komprehensif dengan ligand referensi maka memenuhi syarat untuk dilakukan
adalah 2,7-bis-(4-amidinobenzylidene)- docking karena RMSD < 2 0A (Rodríguez
cyclohepta-1-one dan proteinnya adalah et al., 1989). Selanjutnya dilakukan
Tissue plasminogen activator (tPA). docking dengan ligand yang lain dengan
Karena PLANTS menggunakan algoritma koordinat yang dipergunkan adalah
CHEMPLP dengan persamaan seperti ini X:9,23464 Y:38,8743 Z:51,653 dan
fPLANTSCHEMPLP ) = fplp + fhb + fhb-ch + dengan radius 12,4271.
fhb-CHO + fmet +fmet-coord + fmet-ch + Tahap selanjutnya dalah docking terhadap
fmet-coord-ch + fclash + ftors + csite. berbagai senyawa dari karamunting
Sebelum melakukan docking terhadap dengan protein target. Hasil dari proses
senyawa yang terkandung dalam docking dapat dilihat pada tabel 2.
karamunting. Terlebih dahulu dilakukan
uji validasi metode menggunakan ligand

55

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59

Tabel 2. Stabilitas interaksi dan ikatan dengan residu protein

no senyawa hydrogen hydrofob elektrostatik
ref_ligand -102,658 ASP102, SER139, ASP102,
HIS57, ILE33, CYS42, CYS58,
1 α-tocopherol-quinone ILE45, ILE213, ILE212

2 blumeatin -110,512 ASP194, SER195, CYS42, ALA55, ALA56, -
SER214 CYS58, PRO198, ILE212, -
ILE33, TRP29, HIS57, PHE94,
TYR99

-83,146 - CYS42, HIS57, PHE59,
ILE213, ALA55, CYS58

3 metil sinamat -69,134 ASP102 ILE45, PRO198 -
4 myricetin
-83,607 SER54, ILE212, SER54, ILE213, PRO198, SER195
5 naringenin SER139, ASP102 ALA55,

-81,563 LEU199, ASP194, HIS57, CYS42, CYS58, -
GLY211, CYS58, PRO198, ILE212, ILE213
SER195, ILE213,
HIS57

6 kuersetin -82,919 SER54, ILE212, ILE213, PRO198, ALA55, -
7 rhodomyrtone ALA31 ILE213 -
8 rhodomyrtosone B
9 rhodomyrtosone C -78,214 PRO198 ILE33, ILE45, CYS58,
10 tetrahydroxyflavanone PRO198, LEU209, ILE45,
11 α-tocopherol A PRO198, ILE212

-79,110 GLN30, ALA31, ALA31, ALE213, ILE33, -
ALA55, GLY44 ILE52, ILE45, ILE213 GLY197

-79,196 ALA31, ALA104, ALA31, CYS58, ILE213,
ILE213 PRO198, ILE45, PRO198,
ILE213

-87,289 LEU199, ASP194, CYS42, CYS58, PRO198, SER195
GLY211, ILE213, ILE212, ILE213
SER195, ILE213,

-98,486 SER195 ALA31, CYS42, ALA55, ASP102
CYS58, PRO198, ILE212,
ILE213, ILE33, CYS58,
PRO198, ILE212, ILE213,
ILE33, CYS58, TRP29, TYR99,
ILE212

12 verimol K -84,425 GLY197, ILE213, HIS57, ILE45, CYS58 CYS42
13 watsonianone A LEU53, GLY196,
GLY43, GLY44,
GLY197,

-74,106 ALA31, SER54, ALA31, ILE45, ILE33, ILE45, -
ALA55,GLY196 ILE 52

56

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59

Untuk stabilitas interaksi minimal 80 % ASP102, ILE45. Myricetin SER139,
ASP102, ILE213. Naringenin adalah
terhadap kontrol (bis-benzamidine) adalah HIS57, CYS42, CYS58, ILE212, ILE213.
α-tocopherol-quinone -110, 512 (107%); Kuersetin adalah ILE21, dan ILE213.
Rhodomyrtone adalah ILE33, ILE45,
blumeatin -83,146 (80%); myricetin - CYS58, ILE212. Rhodomyrtosone B
adalah ILE45, ILE213. Rhodomyrtosone
83,607 (81%); kuersetin -82,919 (80%); c adalah CYS58 dan ILE213.
tetrahydroxyflavanone -87,289 (85%); α- Tetrahydroxyflavanone adalah CYS42,
CYS58, ILE212 dan ILE213. α-
tocopherol A -98,486 (95%), verimol K - tocopherol A adalh CYS42, CYS58,
ILE212, ILE 213, ILE33, ASP102.
84,425 (82%). verimol K adalah HIS57, ILE45, CYS58
dan ILE213. watsonianone A adalah ILE
Hasil dari visualisasi interaksi didapatkan 33.

kesamaan residu asam amino yang

berikatan antara senyawa dari

karamunting dan ligand reference.
Dimulai dengan α-tocopherol-quinone

adalah CYS42, CYS58, ILE212, ILE33,

HIS57. Blumeatin adalah CYS42, HIS57,

ILE213, CYS58. Metil sinamat adalah

(A) (B)

Gambar 2. visualisasi ligand dengan tissue plasminogen activator
Aadalah α-tocopherol-quinone, B adalah α-tocopherol

57

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59

IV. KESIMPULAN guidelines on the diagnosis and

Senyawa yang memiliki Pa terbaik adalah management of acute pulmonary

verimol K dan stabilitas interaksi adalah embolism. European Heart Journal,
α-tocopherol-quinone 35(43), 3033–3069, 3069a-3069k.

III. UCAPAN TERIMAKASIH https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehu

Peneliti mengucapkan terimakasih 283

terhadap Universitas Lambung Mangkurat Korb, O., Stützle, T., & Exner, T. E.

yang telah memberi kesempatan (2009). Empirical scoring functions

melakukan penelitian ini. for advanced Protein-Ligand docking

DAFTAR PUSTAKA with PLANTS. Journal of Chemical

Anonim. (2017). Karamunting, Si Kaya Information and Modeling, 49(1),
Manfaat - Info Teknologi - Badan 84–96.
Litbang Pertanian. Badan Litbang
Pertanian. https://doi.org/10.1021/ci800298z
https://www.litbang.pertanian.go.id/i
nfo-teknologi/2958 Renatus, M., Bode, W., Huber, R.,

Catalog, S. (2006). Plasma Derived Stürzebecher, J., Prasa, D., Fischer,
Proteins and Enzymes. 38–39.
S., Kohnert, U., & Stubbs, M. T.
ChemAxon. (2016). ChemAxon -
Software Solutions and Services for (1997). Structural mapping of the
Chemistry and Biology.
MarvinSketch, Version 16.10.31. active site specificity determinants of
https://chemaxon.com/
human tissue-type plasminogen
Hirsh, J., Guyatt, G., Albers, G. W.,
Harrington, R., & Schünemann, H. J. activator. Implications for the design
(2008). Executive summary:
American College of Chest of low molecular weight substrates
Physicians Evidence-Based Clinical
Practice Guidelines (8th Edition). and inhibitors. The Journal of
Chest, 133(6 Suppl), 71S-109S.
https://doi.org/10.1378/chest.08- Biological Chemistry, 272(35),
0693 21713–21719.

Konstantinides, S. V, Torbicki, A., https://doi.org/10.1074/jbc.272.35.2
Agnelli, G., Danchin, N.,
Fitzmaurice, D., Galiè, N., Gibbs, J. 1713
S. R., Huisman, M. V, Humbert, M.,
Kucher, N., Lang, I., Lankeit, M., Rivera-Bou, W., Cabañas, J., &
Lekakis, J., Maack, C., Mayer, E.,
Meneveau, N., Perrier, A., Villanueva, S. (2008). Thrombolytic
Pruszczyk, P., Rasmussen, L. H., …
Zompatori, M. (2014). 2014 ESC Therapy: Background, Thrombolytic

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59 Agents, Thrombolytic Therapy for

Acute Myocardial Infarction.

Medscape.

https://emedicine.medscape.com/arti

cle/811234-overview#a2

Rodríguez, E., Arqués, J. L., Rodríguez,

R., Nuñez, M., Medina, M., Talarico,

T. L., Casas, I. A., Chung, T. C.,

Dobrogosz, W. J., Axelsson, L.,

Lindgren, S. E., Dobrogosz, W. J.,

Kerkeni, L., Ruano, P., Delgado, L.

L., Picco, S., Villegas, L., Tonelli, F.,
Merlo, M., … Masuelli, M. (1989).
We are IntechOpen , the world ’ s

leading publisher of Open Access

books Built by scientists , for

scientists TOP 1 %. Intech,

32(tourism), 137–144.

https://www.intechopen.com/books/

advanced-biometric-

technologies/liveness-detection-in-

58

biometrics
Systèmes, D. (2020). Free Download:

BIOVIA Discovery Studio Visualizer
- Dassault Systèmes.
https://discover.3ds.com/discovery-
studio-visualizer-
download#_ga=2.4935860.6857479
70.1587999055-a5d1c1c0-3176-
11e9-a86f-e302515d21c8
Zhou, X.-M., Liu, H.-X., Chen, S., Ju, X.-
C., Tan, H.-B., Qiu, S.-X., & Zheng,
C. (2016). Chemical constituents
from leaves of Rhodomyrtus
tomentosa. 47, 2614–2620.
https://doi.org/10.7501/j.issn.0253-
2670.2016.15.006

59

Prosiding Rakerda PD IAI (2021): 51 - 59

Prosiding PD IAI Kalsel (2021)

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel, ISBN: 978-623-94017-3-3

PROSIDING RAKERDA PD IAI KALSEL

Banjarmasin, 5 - 6 Juli 2021
https://www.iaikalsel.com

AKTIVITAS PENGHAMBATAN POLIMERISASI HEM DARI
FRAKSI n-HEKSANA DAN FRAKSI LARUT AIR AKAR MANURAN

(Coptosapelta tomentosa Valeton ex K. Heyne) ASAL KOTABARU
KALIMANTAN SELATAN

Arnida 1, Nur Humairoh1, Fadlilaturrahmah1, Sutomo1

1Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat
Jl. A. Yani Km 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Korespondensi email: [email protected]

ABSTRAK

Akar manuran (C. tomentosa) secara empiris digunakan sebagai antimalaria oleh
masyarakat desa Sungai Buah Kotabaru Kalimantan Selatan. Akar C. tomentosa
mengandung berbagai senyawa kimia, adanya senyawa kimia yang bersifat non polar
seperti antrakuinon, flavonoid, dan terpenoid dapat memberikan aktivitas
antimalaria. Senyawa kimia yang bersifat non polar dipisahkan dari senyawa kimia
lainnya menggunakan metode fraksinasi dengan n-heksana dan akuades. Aktivitas
antiplasmodium pada fraksi n-heksana dan fraksi larut air akar C. tomentosa diuji
secara in vitro dengan metode penghambatan polimerisasi hem dan diukur dengan
nilai IC50. Klorokuin difosfat sebagai kontrol positif. DMSO 10% dan akuades
digunakan sebagai kontrol negatif. Perbedaan signifikan antara nilai IC50 senyawa uji
dan kontrol positif dianalisis dengan independent sample t-test taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan persentase penghambatan polimerisasi dari fraksi n-
heksana akar C. tomentosa dengan konsentrasi 5; 2,5; 1,25; 0,625; 0,3125 mg/mL
secara beturut-turut yaitu 98,54; 94,60; 92,41; 85,87; 63,69%. Nilai IC50 polimerisasi
hem fraksi n-heksana yaitu 0,15 ± 0,01 mg/mL, fraksi larut air yaitu 1,970 ± 1,38
mg/mL, dan klorokuin difosfat yaitu 4,02 ± 0,63 mg/mL. Hasil analisis dengan
independent sample t-test menyatakan tidak terdapat perbedaan yang siginfikan antara
keduanya dengan nilai signifikansi sebesar 0,073. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
fraksi n-heksana akar C. tomentosa memiliki potensi yang sebanding dengan klorokuin
untuk menghambat 50% polimerisasi hem.

Kata kunci: fraksi n-heksana akar C. tomentosa, polimerisasi hem, fraksi larut air

61

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69

ABSTRACT

Coptosapelta tomentosa’s root empirically used as an antimalarial by people in Sungai
Buah, Kotabaru, South Borneo. C. tomentosa’s root contains a variety of chemical
compounds, the presence of chemical compounds which are non-polar such as
anthraquinone, flavonoids and terpenoids can provide antimalarial activity. Non-polar
chemical compounds separated from other chemical compounds using the fractionation
method with n-hexane and aquadestillata. Antiplasmodial activity in the n-hexane
fraction and water soluble fraction of C. tomentosa’s root was tested in vitro by inhibition
of heme polymerization methods and measured with IC50 values. Chloroquine
diphosphate was used as a positive control. DMSO 10% and aquades were used as a
negative control. A significant difference between the IC50 value of the test compound and
the positive control was analized by independent sample t-test with 95% trust level. The
results showed that the inhibition percentage of heme polymerization from n-hexane
fraction of C. tomentosa’s root with a concentration of 5; 2.5; 1.25; 0.625; 0.3125 mg/mL
consecutively is 98.54; 94.60; 92.41; 85.87; 63.69%. IC50 value of heme polymerization
test compound is 0,15 ± 0.01 mg/mL, water soluble fraction is fraksi 1.970 ± 1.38 mg/mL,
and chloroquine diphosphate is 4.02 ± 0.63 mg/mL. The results of analysis with
independent sample t-test declare that there is no difference between both of them with a
significance value is 0.073. It can be concluded that n-hexane fraction of C. tomentosa’s
root has an equal potential as good as chloroquine to inhibit 50% heme polymerization.

Keywords: n-hexane fraction of C. tomentosa’s root, heme polymerization, water
soluble fraction

I. PENDAHULUAN dan resistensi Plasmodium yang tidak
terkait dengan mekanisme kerja tersebut
Malaria merupakan suatu penyakit (Becker & Selzer, 2011; Sidhu et al.,
2002).
infeksi yang disebabkan Plasmodium.
Penelitian tentang tumbuhan obat
Klorokuin adalah antimalaria yang digunakan secara empiris sebagai
antimalaria merupakan salah upaya untuk
konvensional yang telah digunakan secara menemukan antimalaria yang efektif.
Salah satu tumbuhan yang digunakan
luas untuk mengatasi malaria, namun secara empiris sebagai antimalaria adalah
akar manuran (Coptosapelta tomentosa
sekarang penggunaannya terbatas karena Valeton ex K. Heyne). Berbagai penelitian
telah dilakukan terhadap akar C.
adanya resistensi Plasmodium. Penemuan tomentosa salah satunya adalah isolasi
fraksi petroleum eter dari akar C.
obat antimalaria yang efektif sangat tomentosa. Isolat yang diperoleh

diperlukan. Ketertarikan mekansime kerja

yang sama seperti klorokuin yaitu

penghambatan polimerisasi hem masih

diinginkan terhadap penemuan senyawa

antiplasmodium baru. Hal ini disebabkan

karena mekanisme kerjanya yang spesifik

terhadap kelangsungan hidup Plasmodium

62

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69

kemungkinan merupakan suatu senyawa sumuran (Matrix®), tabung
flavonoid. Keberadaan senyawa kimia
yang bersifat non polar seperti mikrosentrifuge (M P), neraca analitik
antrakuinon, flavonoid, dan terpenoid
pada suatu tumbuhan dapat memberikan (A&D; Ohaus; Sartorius), maserator,
aktivitas antimalaria (Becker & Selzer,
2011; Fitriana, 2009). orbital shaker (Stuart Scientific), pH

Pemisahan senyawa kimia yang meter (Jenway), propipet, rotary vaccum
bersifat non polar akar C. tomentosa
dilakukan dengan metode fraksinasi. evaporator (Heidolph), biofuge pico
Salah satu pelarut yang memiliki
kemampuan untuk memisahkan senyawa (Sorvall® pico), tip mikropipet
kimia non polar dan titik didih yang cukup
rendah yaitu n-heksana (Scheflan & (Neptune®), vortex mixer (Maxi Mix II®)
Morris, 1983). Pengujian antiplasmodium
fraksi n-heksana dan fraksi larut air dari dan water bath (Memmert).
akar C. tomentosa dilakukan secara in
vitro dengan metode penghambatan Sampel akar C. tomentosa
polimerisasi hem.
diperoleh dari desa Sungai Buah
II. METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian kecamatan Berangas Pulau Laut Timur
Waktu pelaksanaan penelitian dari
periode Januari-Maret 2016. Penelitian kabupaten Kotabaru provinsi Kalimantan
dilaksanakan di laboratorium
Farmakognosi-Fitokimia FMIPA ULM Selatan. Bahan-bahan yang digunakan
Banjarbaru dan Balai Veteriner (B-Vet)
Banjarbaru. pada penelitian ini yaitu amonia, asam

Alat dan Bahan asetat glasial (pa.), asam klorida, asam
Alat-alat yang digunakan pada
sulfat p, DMSO (pa.), etanol 96%, FeCl3,
penelitian ini yaitu ELISA Reader
(EON™), inkubator (Memmert), hematin porcine (pa.), klorokuin difosfat
mikropipet (Effendorf), mikroplate 96
(pa.), KOH, metanol, n-heksana, NaOH,
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69
pereaksi Dragendorff, pereaksi Meyer,

dan serbuk Mg.

Determinasi tumbuhan C. tomentosa
Determinasi tumbuhan C.

tomentosa dilakukan di LIPI Bogor.

Preparasi sampel akar C. tomentosa
Pengumpulan sampel dilakukan

dengan cara mengambil seluruh bagian
tumbuhan C. tomentosa, kemudian
dilakukan sortasi basah dan dicuci dengan
air mengalir sambil disikat. Akar
dikeringanginkan selama 2 hari,
dikecilkan ukurannnya dengan penyerut

63

kayu. Akar yang telah dikecilkan sebanyak 150 mL (1:1,5). Fraksinasi
ukurannya dikeringanginkan pada suhu dengan 150 mL n-heksana dilakukan
ruangan, kemudian disortasi kering. sebanyak 5 kali. Fraksi n-heksana
Serbuk kasar disimpan dalam wadah dipisahkan, ditampung di dalam cawan
tertutup rapat pada suhu ruangan dan penguap dan diuapkan menggunakan
diberi tanda. water bath sesuai titik didihnya hingga
menjadi fraksi kental dengan bobot tetap.
Pembuatan ekstrak etanol akar C. Fraksi n-heksana akar C. tomentosa
tomentosa kemudian ditentukan persentase
rendemennya. Fraksi n-heksana yang
Serbuk kasar akar C. tomentosa diperoleh dilanjutkan fraksinasinya
diekstraksi dengan metode maserasi dengan pelarut etil asetat serta pelarut n-
menggunakan etanol 96% v/v. Sebanyak butanol, dan pada akhirnya diperoleh
1500 g serbuk kasar akar C. tomentosa fraksi larut air.
ditimbang dan dimasukkan ke dalam
maserator. Pelarut etanol 96% v/v Skrining fitokimia fraksi
ditambahkan hingga merendam seluruh Skrining fitokimia yang dilakukan
sampel dan berada 2 cm lebih tinggi dari
sampel. Proses perendaman dilakukan pada fraksi n-heksana dan fraksi larut air
selama 3x24 jam dan pergantian pelarut akar C. tomentosa yaitu uji alkaloid,
setiap 1x24 jam disertai dengan antrakuinon, flavonoid, steroid-terpenoid,
pengadukan. Ekstrak cair yang didapat saponin, dan tanin.
kemudian diuapkan dengan rotary vaccum
evaporator dan dipekatkan menggunakan Uji aktivitas penghambatan
water bath hingga diperoleh ekstrak kental polimerisasi hem
dengan bobot tetap. Ekstrak etanol akar C.
tomentosa kemudian ditentukan Pengujian aktivitas penghambatan
persentase rendemennya. polimerisasi hem dilakukan berdasarkan
metode Basilico et al. (1998) yang
Fraksinasi dimodifikasi. Modifikasi dilakukan
Sebanyak 50 gram ekstrak kental terhadap kadar larutan hematin dan kadar
sampel uji. Pengujian dilakukan dengan
ditimbang, kemudian ekstrak kental cara sebanyak 100 µL hematin 1 mM
disuspensikan dengan 100 mL akuades ditambah seri konsentrasi sampel fraksi n-
(1:2), kemudian dimasukkan ke dalam heksana akar C. tomentosa sebanyak 50
corong pisah dan ditambahkan n-heksana µL dan 50 µL larutan asam asetat glasial

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69 64

(pH 2,6) kemudian dimasukkan ke dalam Ekstrak dan Fraksi
mikrotube. Mikrotube dihomogenkan Bobot tetap ekstrak etanol akar C.
dengan vortex, kemudian diinkubasi pada tomentosa yang diperoleh sebesar 229,25
suhu 37oC selama 24 jam. Mikrotube yang gram dari 1500 gram serbuk kasar akar C.
telah diinkubasi kemudian disentrifugasi tomentosa yang diekstraksi, sehingga
10 menit dengan kecepatan 8000 rpm. persentase rendemen ekstrak etanol akar
Endapan yang diperoleh kemudian dicuci C. tomentosa yang diperoleh yaitu sebesar
3 kali dengan 200 µL DMSO. Pemisahan 15,28% b/b. Sebanyak 1,78 gram fraksi n-
dengan sentrifuge selama 10 menit dengan heksana akar C. tomentosa diperoleh dari
kecepatan 8000 rpm dilakukan setiap fraksinasi 50 gram ekstrak etanol akar C.
pencucian kristal. Endapan yang diperoleh tomentosa menggunakan n-heksana.
dari hasil pemisahan dengan sentrifuge Persentase rendemen fraksi n-heksana
ditambah 200 µL NaOH 0,1 M, kemudian akar C. tomentosa yang diperoleh sebesar
sebanyak 100 µL larutan dimasukkan ke 3,56% b/b dan rendemen fraksi larut air
dalam mikroplate 96 sumuran dan dibaca sebesar 4,54% b/b.
nilai densitas optik -hematin yang
terbentuk dengan ELISA Reader pada Hasil Skrining Fitokimia Fraksi
panjang gelombang 405 nm. Kontrol Berdasarkan skrining fitokimia
negatif yang digunakan adalah air dan
DMSO 10% v/v. Kontrol positif yang yang telah dilakukan, fraksi n-heksana
digunakan adalah klokuin difosfat akar C. tomentosa negatif mengandung
(Purwanto, 2011). senyawa alkaloid, saponin, steroid dan
tanin. Fraksi n-heksana akar C. tomentosa
III. HASIL DAN PEMBAHASAN positif mengandung antrakuinon,
Hasil Determinasi Tumbuhan C. flavonoid, dan terpenoid. Fraksi larut air
tomentosa positif mengandung terpenoid, saponin,
steroid, dan tannin.
Hasil determinasi menyatakan
bahwa sampel tumbuhan yang digunakan Aktivitas Penghambatan Polimerisasi
pada penelitian ini memiliki nama spesies Hem dari Fraksi
Coptosapelta flavescens Korth. dengan
sinonim Coptosapelta tomentosa Valeton Pengujian aktivitas penghambatan
ex K. Heyne dan berasal dari famili polimerisasi hem diawali dengan
Rubiaceae. pembuatan kurva baku hematin (Gambar
1). Kurva baku hematin dibuat untuk
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69 menetukan kadar β-hematin yang

65

terbentuk. Kadar -hematin ditentukan tomentosa yang diuji untuk penentuan
dengan cara memasukkan absorbasi
sampel uji sebagai nilai y pada persamaan nilai IC50, seharusnya mencakup
regresi kurva baku hematin sehingga
diperoleh nilai x sebagai kadar β-hematin. konsentrasi yang mampu menghambat
Rerata kadar -hematin yang diperoleh
dapat dilihat pada Tabel 1. polimerisasi hem di bawah 50%.

Pemilihan seri konsentrasi senyawa uji

pada penelitian ini telah mengacu pada

berbagai sumber penelitian sebelumnya

yang menguji tentang aktivitas bahan alam

Absorbansi 4 terhadap penghambatan polimerisasi hem

3 (Purwanto, 2011). Besarnya aktivitas

2 penghambatan polimerisasi hem yang
y = 0,0112x + 0,2491
dimiliki oleh fraksi n-heksana akar C.
1 r = 0,9974
0 tomentosa mengakibatkan pemilihan seri

0 100 200 300
Konsentrasi hematin (µM)

konsentrasi pada penelitian ini masih

Gambar 1. Kurva baku hematin terlalu tinggi. Oleh sebab itu, seharusnya

Kadar β-hematin yang diperoleh konsentrasi pengujian fraksi n-heksana

kemudian digunakan untuk menentukan akar C. tomentosa diturunkan lagi sampai

persentase penghambatan polimerisasi di bawah konsentrasi penghambatan 50%
hem. Kadar β-hematin senyawa uji
dibandingkan dengan kadar β-hematin polimerisasi hem.

Persentase penghambatan

kontrol negatif untuk menentukan polimerisasi hem yang diperoleh

persentase penghambatan polimerisasi kemudian digunakan untuk menentukan

hem senyawa uji. Kontrol negatif yang nilai IC50 polimerisasi hem senyawa uji.

digunakan yaitu DMSO 10% dengan Nilai IC50 diperoleh dari perhitungan

kadar -hematin sebesar 192,62 µM. persentase penghambatan polimerisasi

Rerata persentase penghambatan hem menggunakan analisis regresi probit.

polimerisasi hem fraksi n-heksana akar C. Nilai IC50 masing-masing replikasi

tomentosa dapat dilihat pada Tabel 1. senyawa uji yaitu 0,149 dan 0,164 mg/mL.

Persentase penghambatan Rerata nilai IC50 senyawa uji yaitu 0,15 ±

polimerisasi hem pada konsentrasi 0,01 mg/mL. Senyawa uji dibandingkan

terendah dari fraksi n-heksana akar C. dengan kontrol positif untuk melihat

tomentosa masih mampu menghambat potensinya sebagai antimalaria. Seri

lebih dari 50% polimerisasi hem. Seri konsentrasi klorokuin yang digunakan

konsentrasi fraksi n-heksana akar C. sama dengan seri konsentrasi senyawa uji.

66

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69

Rerata kadar -hematin, rerata persentase tidak homogen. Analisis dengan
penghambatan polimerisasi hem, rerata independent sample t-test tetap bisa
nilai IC50 klorokuin difosfat yang digunakan untuk menyatakan perbedaan
diperoleh dapat dilihat pada Tabel 1. signifikan antara IC50 fraksi n-heksana
akar C. tomentosa dan klorokuin difosfat,
Perbedaan signifikan antara rerata dengan cara melihat nilai signifikansi
nilai IC50 fraksi n-heksana akar C. derajat varian yang diasumsikan tidak
tomentosa dan klorokuin difosfat diuji sama. Nilai signifikansi yang diperoleh
dengan analisis independent sample t-test. yaitu 0,073, sehingga dapat disimpulkan
Data yang terdistribusi normal dan secara statistik aktivitas penghambatan
homogen merupakan salah dua diantara 50% polimerisasi hem dari fraksi n-
beberapa persyaratan penggunaan uji heksana akar C. tomentosa sebanding
komparasi parametrik seperti independent dengan klorokuin difosfat.
sample t-test. Data yang akan dianalisis
dengan independent sample t-test pada
penelitian ini berdistribusi normal dan

Tabel 1. Rerata kadar -hematin, rerata persentase penghambatan polimerisasi hem dan
rerata nilai IC50, dari fraksi n-heksana akar C. tomentosa dan klorokuin difosfat

Sampel Konsentrasi Rerata kadar - Rerata Rerata nilai
(mg/mL) hematin (µM) ± SD penghambatan IC50 (mg/mL) ±
Fraksi
n-heksana 5 2,82 ± 3,99 (%) ± SD SD
akar 2,5 10,41 ± 0,06 98,54 ± 2,07 0,15 ± 0,01
C. tomentosa 1,25 14,64 ± 1,15 94,60 ± 0,04 1,970 ± 1,38
0,625 27,23 ± 10,21 92,41 ± 0,60
Fraksi larut air 0,3125 69,96 ± 5,33 85,87 ± 5,31 4,02 ± 0,63
akar 5 73,85 ± 2,91 63,69 ± 2,76
C. tomentosa 2,5 90,24 ± 17,76
1,25 104,30 ± 28,31 61,66 ± 1,51
Klorokuin 0,625 119,42 ± 15,24 53,15 ± 9,23
Difosfat 0,3125 127,82 ± 12,87 45,85 ± 14,70
5 38,00 ± 7,91
2,5 66,50 ± 4,44 33,65 ± 6,68
1,25 86,68 ± 6,36
104,27 ± 5,01 55,01 ± 3,00
41,36 ± 4,31
29,46 ± 3,39

0,625 115,95 ± 9,06 21,56 ± 6,13
0,3125 124,18 ± 11,18 15,99 ± 7,57

67

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69

Aktivitas penghambatan hem dari sampel uji yaitu fraksi n-heksana
akar C. tomentosa yaitu flavonoid dan
polimerisasi hem yang dimiliki oleh fraksi antrakuinon. Sedangkan senyawa
terpenoid khususnya artemisinin
n-heksana dan fraksi larut air akar C. berdasarkan penelitian Feng et al. (2011)
tidak memiliki aktivitas dalam
tomentosa berasal dari senyawa kimia mengambat polimerisasi hem. Senyawa
flavonoid khususnya xanton memberikan
yang terkandung didalamnya yaitu aktivitas penghambatan polimerisasi hem
melalui interaksi antara gugus hidroksil
antrakuinon, flavonoid dan terpenoid. pada xanton dengan Fe3+ yang terdapat
pada hematin. Senyawa xanton
Berbagai antimalaria sintetis telah kemungkinan merupakan jenis senyawa
flavonoid yang terkandung pada fraksi n-
dikembangkan dari senyawa-senyawa heksana akar C. tomentosa berdasarkan
hasil skrining fitokimia yang telah
tersebut seperti atovakuon (naftokuinon), dilakukan. Demikian halnya dengan
antrakuinon yang kemungkinan juga
xanton (flavonoid), dan artemisinin menghambat polimerisasi hem melalui
interaksi antara gugus hidroksil pada
(terpenoid). Xanton terbukti berperan antrakuinon dengan Fe3+ yang terdapat
pada hematin (Anh et al. 2015).
sebagai antimalaria dengan cara Keyakinan akan adanya gugus hidroksil
pada struktur kimia antrakuinon dari fraksi
menghambat polimerisasi hem (Becker & n-heksana akar C. tomentosa

Selzer, 2011). Hibridisasi antimalaria IV. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah
penghambat polimerisasi hem, atovakuon,
dilakukan dapat disimpulkan bahwa fraksi
dan artemisinin telah dilakukan oleh Feng n-heksana dan fraksi larut air dari akar C.
tomentosa mempunyai aktivitas aktivitas
et al. (2011) sebagai upaya untuk penghambatan polimerisasi hem

mengatasi resistensi Plasmodium terhadap 68

penggunaan monoterapi maupun terapi

kombinasi artemisinin. Penelitian tentang

upaya hibridisasi senyawa-senyawa

tersebut secara tidak langsung

menyatakan bahwa adanya kandungan

senyawa-senyawa kimia seperti

antrakuinon, flavonoid, dan terpenoid di

dalam fraksi n-heksana akar C. tomentosa

dapat memberikan aktivitas antimalaria

yang sinergis secara biologis. Oleh sebab

itu fraksi akar C. tomentosa memiliki

potensi yang sangat besar untuk

dikembangkan sebagai antimalaria.

Senyawa yang diduga memiliki

peran dalam menghambat polimerisasi

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69

berdasarkan nilai IC50 0,15 ± 0,01 mg/mL falciparum. Biochemical
dan IC50 1,970 ± 1,38 mg/mL.
Pharmacology. 82: 236-247.

Fitriana, M. 2009. Isolasi dan Identifikasi

Senyawa Kimia Fraksi Petroleum

UCAPAN TERIMAKASIH Eter Akar Tumbuhan Manuran
Penulis pada kesempatan ini
(Coptosapelta tomentosa Valeton
mengucapkan terima kasih kepada Ketua
Sub Labortorium Farmasi dan Kepala ex K. Heyne) Asal Kabupaten
Balai Veteriner Banjarbaru serta stafnya
atas izin dan fasilitasnya mensukseskan Kotabaru Kalimantan Selatan.
penelitian ini.
Skripsi, Universitas Lambung

Mangkurat, Banjarbaru.

Purwanto. 2011. Isolasi dan Identifikasi

Senyawa Penghambat

Polimerisasi Hem dari Fungi

Endofit Tumbuhan Artemisia

annua L. Tesis. Program

Pascasarjana Program Studi Ilmu

DAFTAR PUSTAKA Farmasi Fakultas Farmasi

Universitas Gadjah Mada,

Anh, T. T. V., H. T. Lap, D. T. H. Tuoi, & Yogyakarta.

T. Hung. 2015. Anthraquinones Scheflan, L. & Morris, B. J. 1983. The

from the Root of Coptosapelta Handbook of Solvent. D. Van

flavescens and their Cytotoxic Nostrand Comp Inc, New York.

Activities in the Sidhu, A. B. S., D. Verdier-Pinard, & D.

Rhabdomyosarcoma Cell Line A. Fidock. 2002. Chloroquine
(RD-A). Bài Đăng Tạp Chí
Dược Liệu. 5: 278-282. Resistance in Plasmodium

falciparum Malaria Parasites

Basilico, N., E. Pagani, D. Monti, P. Conferred by pfcrt Mutations.

Olliaro, & D. Taramelli. 1998. A Science. 298: 210-213.

Microtitre-Based Method for

Measuring the Haem

Polymerization Inhibitory Activity

(HPIA) of Antimalarial Drugs.

Journal of Antimicrobial

Chemotherapy. 42: 55-60.

Becker, K., & Selzer, P. M. 2011.

Apicomplexan Parasites;

Molecular Approaches toward

Targeted Drug Development.

WILEY-VCH Verlag & Co.

KGaA, Germany.

Feng, T., E. M. Guantai, M. Nell, C. E. J.

van Rensburg, K. Ncokazi, T. J.

Egan, H. C. Hoppe, & K. Chibale.

2011. Effects of Highly Active

Novel Artemisinin-

Chloroquinoline Hybrid

Compounds on -hematin

Formation, Parasite Morphology

and Endocytosis in Plasmodium

69

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69

70

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021) : 61 - 69

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel, ISBN: 978-623-94017-3-3

PROSIDING RAKERDA PD IAI KALSEL

Banjarmasin, 5 - 6 Juli 2021
https://www.iaikalsel.com

Review Potensi Limbah Kuit Buah Tanaman Yang Berkhasiat
dalam Dunia Kesehatan

*Muhammad Arif, Muhammd Hidayatullah, Rizqy Galih Saputro, Syefa Aulia Rahmah,
Muhammad Ikhwan Rizki1

1Prodi Farmasi, FMIPA, Universitas PD IAI Kalsel, Jalan A. Yani KM. 32, Martapura
*Email : [email protected]

ABSTRAK

Buah merupakan salah satu kebutuhan yang penting bagi manusia. Pada
umumnya masyarakat hanya memanfaatkan daging buahnya saja, misalnya dibuat
jus, selai, salad, sirup, dan lain sebaginya. Sedangkan kulit buah nya hanya dibuang
menjadi limbah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi kulit buah dari 20
tanaman yang berkhasiat dalam kesehatan dengan menyusun informasi senyawa yang
terkandung beserta aktivitas farmakologis nya dari berbagai penelitian yang telah
dipublikasikan. Dari 20 tanaman yang ditelaah dari berbagai penelitian didapatkan
hasil yang memiliki aktivitas antioksidan adalah kulit buah naga, apel, pepaya, nanas,
bawang merah, macadamia, rambutan, kentang, manggis, petai, langsat, lemon dan
semangka. Sebagai antibakteri terdapat pada kulit buah delima, nanas, bawang
merah, kakao, kentang, manggis, durian, pisang, dan salak. Aktivitas antimalaria
ditunjukkan pada kulit mentimun. Untuk kulit jeruk nipis dapat digunakan sebagai
insektisida terhadap nyamuk Aedes aegypti.

Kata kunci: Tanaman, kulit buah, aktivitas.

71

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

ABSTRACT

Fruit is one of the most important needs for humans. In general, people only use
the pulp, for example juice, jam, salad, syrup, and others. Meanwhile, the skin of the fruit
is only thrown away as waste. This paper aims to determine the potential of the fruit peels
of 20 plants that are efficacious in health by compiling information on the compounds
contained and their pharmacological activities from various published studies. Of the 20
plants analyzed from various studies, the results obtained that have antioxidant activity
are dragon fruit skin, apples, papaya, pineapple, shallots, macadamia, rambutan,
potatoes, mangosteen, petai, langsat, lemon and watermelon. As an antibacterial found in
the skin of delima, pineapple, onion, cocoa, potato, mangosteen, durian, banana and
salak. Anti-malarial activity is shown on the skin of cucumbers. For lime peel, it can be
used as an insecticide against the Aedes aegypti mosquito.

Keywords: Plants, fruit skin, activity.

I. PENDAHULUAN Produk pangan yang tidak
dimanfaatkan secara maksimal
Limbah makanan menjadi salah satu berdampak merugikan dari sisi ekonomi.
Hal ini diperjelas dengan fakta bahwa total
hal krusial yang perlu diantisipasi. Sekitar limbah pangan dari produk pokok beras di
Philippine di tahun 2014 memiliki nilai
sepertiga dari total makanan yang sebesar 631 juta dollar (Lipinski et al.,
2013). Nilai tersebut seharusnya dapat
diproduksi dapat menjadi limbah karena digunakan untuk memfasilitasi
masyarakat mengolah limbah pangan.
terbuang (Hatta et al., 2016). Diperkirakan Sangat disayangkan jika keterbatasan
teknologi dan kesadaran yang kurang
bahwa dengan pengurangan limbah menyebabkan pemanfaatan limbah atau
daur ulang limbah industri makanan
pangan hingga setengahnya maka di tahun sebagai potensi tanaman obat tidak dapat
berjalan. Akibatnya, pembuangan limbah
2050 dapat menimbulkan dampak positif tersebut telah berkontribusi terhadap
pencemaran lingkungan.
bagi lingkungan (Lipinski et al., 2013).
Pemanfaatan limbah kulit buah dapat
Indonesia adalah salah satu negara mengurangi produksi limbah sehingga
dapat menjaga kebersihan lingkungan
penghasil limbah pangan terbesar di sekitar. Kulit buah yang biasanya menjadi

dunia, yaitu sebesar kurang lebih 300 72

kilogram per kapita setiap tahun.

Economist Intelligence Unit

merekomendasikan agar pemerintah

Indonesia melakukan perubahan dengan

mulai memperkenalkan masyarakat

terhadap ilmu pemanfaatan limbah

sehingga dapat dikonversi menjadi

sesuatu yang lebih baik (Bisara, 2017).

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

limbah kini telah diketahui mengandung tanaman yang berkhasiat dalam dunia
berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh.. kesehatan.
Jika kulit buah yang biasanya dibuang,
diolah menjadi produk pangan atau obat- II. METODE
obatan maka limbah kulit buah dapat A. Alat
menjadi salah satu bahan potensial yang
bermanfaat bagi kesehatan. Namun jika Alat yang digunakan yaitu laptop
limbah makanan yang terus menerus yang digunakan untuk mencari literatur
meningkat tidak diolah maka akan online.
menjadi salah satu ancaman serius, bukan
saja bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial, Bahan yang digunakan yaitu e-book,
melainkan juga bagi kesehatan (Paritosh et jurnal nasional terakreditasi dan jurnal
al., 2017). internasional yang diperoleh dari penyedia
jurnal di internet
Limbah kulit buah diharapkan dapat
berpotensi menjadi salah satu hasil III. HASIL DAN PEMBAHASAN
pengolahan limbah yang berguna sebagai A. Apel (Malus domestica Borkh.)
sumber tanaman obat. Pengolahan limbah
menjadi sumber tanaman obat bukan Apel (Malus domestica Borkh.)
merupakan suatu hal yang tidak mungkin. memiliki kandungan senyawa kuarsetin
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada kulit buah apel dan antioksidan pada
berbagai jenis makanan yang diperoleh kulit dan juga buah apel. Khasiat empiris
dari buah-buahan, sayuran, sereal, dan pada apel dapat membantu menurunkan
industri pengolahan makanan lainnya berat badan, menurunkan resiko stroke,
dapat digunakan sebagai sumber potensial dan menstabilkan gula darah. Berdasarkan
senyawa bioaktif dan nutraceutical yang penelitian Ervinar et al., 2016, kulit apel
memiliki aplikasi penting dalam mengandung kuersetin zat yang
mengobati berbagai penyakit (Kumar et dibutuhkan guna meningkatkan kadar
al., 2017). Beberapa studi menunjukkan antioksidan dan mencegah berbagai
bahwa limbah kulit buah dapat secara macam penyakit. Kuersetin terdapat di
efektif digunakan sebagai sumber buah apel yang berfungsi sebagai
potensial dalam bidang pengembangan antioksidan dan antiaging.
tanaman obat. Berdasarkan informasi
tersebut penulis tertarik ingin melakukan Gambar 1. Apel (Malus domestica
review terkait potensi limbah kulit buah Borkh.)

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85 73

B. Bawang merah (Allium cepa L.) steroid, dan saponin berdasaran hasil

Bawang merah (Allium cepa L.) pengujian fotokimia dan FTIR. (Evi et al.,

secara umum digunakan sebagai bumbu 2016). Selain itu buah naga memiliki

masakan oleh masyarakat. Bagian dari kandungan senyawa fenolik, dan

bawang merah yang banyak dimanfaatkan polifenol. Secara empiris buah

adalah bagian umbinya saja, sedangkan naga merah (Hylocereus polyrhizus)

bagian kulit terluar dari bawang merah memiliki banyak

tersebut dibuang karena hanya dianggap manfaat dalam mengatasi tekanan darah

sebagai limbah. senyawa fenolik, tinggi, menurunkan kadar kolesterol,

flavonoid dan terpenoid. Khasiat empiris menurunkan kadar gula darah, mencegah

dari bawang merah yaitu menjaga kanker usus, menguatkan daya kerja otot,

kesehatan jantung, membantu meningkatkan ketajaman mata, serta

menurunkan kolestrol, dan mengatasi menghaluskan kulit. Berdasarkan

sembelit. Dalam penelitian kulit bawang penelitian Jaafar et al., 2009, buah naga

merah menunjukkan adanya senyawa memiliki berbagai khasiat antara lain

flavonoid, fenolik dan terpenoid yang dapat menurunkan kadar kolesterol,

dapat menghambat pertumbuhan bakteri menyeimbangkan kadar gula darah,

(Octaviani et al., 2019). Adanya senyawa mencegah terjadinya kanker usus,

terpenoid dapat sebagai antijamur menguatkan daya kerja otot serta dapat

(Griffin, 1994; Wiryowidagdo, 2007). menghaluskan kulit. Secara umum buah

Penelitian Rahayu et al., (2017) ini bermanfaat untuk kesehatan dan dapat

menyatakan esktrak kulit bawang merah memenuhi kebutuhan tubuh akan zat gizi

dapat digunakan sebagai antioksidan dan sehari-hari.

tabir surya

Gambar 2. Bawang merah (Allium cepa Gambar 3. Buah naga merah
L.) (Hylocereus polyrhizus)

C. Buah naga merah (Hylocereus D. Delima (Punica granatum L.)
polyrhizus) Delima (Punica granatum L.) sering
Ekstrak kulit buah naga merah
dikonsumsi sebagai buah segar maupun
memiliki kandungan antioksidan berupa olahan oleh masyarakat Indonesia tetapi
vitamin C, flavonoid, tanin, alkaloid, tidak untuk kulit buahnya. Kulit buah

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85 74

Delima mengandung senyawa flavonoid

dan tannin (Purwani, 2015) yang memiliki

aktivitas antibakteri dan ada juga yang

mengatakan bahwa mengandung senyawa Gambar 5. Durian (Durio zibethinus
Murr.)
metabolit sekunder berupa flavonoid,

saponin dan tannin (Muthmainnah, 2017). F. Jeruk lemon (Citrus limon L.)

Khasiat empiris dari buah Delima dapat Beberapa penelitian terhadap Citrus

menjaga kebersihan mulut, kesehatan sp menyebutkan bahwa semua kelompok

kulit, mengobati kolesterol, citrus mengandung flavonoid. Kandungan

membersihkan pembuluh darah, flavonoid ini mampu menurunkan

antibakteri, dan mencegah kanker prostat. kolesterol. Jeruk lemon (Citrus limon L.)

Dalam penelitian kulit buah Delima secara empiris telah digunakan

ditemukan senyawa aktif flavonoid, masyarakat untuk menurunkan berat

saponin dan tannin yang dapat badan. Selain itu perasan jeruk lemon pun

menghambat aktivitas antibakteri yaitu dipercaya mampu menurunkan kadar

bakteri Vibrio cholerae pada penyakit kolesterol darah. Menurut penelitian Deni

Diare (Yunus et al., 2018). et al., (2018) Ekstrak etanol kulit lemon

berpotensi untuk menghambat

peningkatan kadar kolesterol pada tikus

kontrol positif hiperglikemia.

Gambar 4. Delima (Punica granatum L.) Gambar 6. Jeruk lemon (Citrus limon L.)
E. Durian (Durio zibethinus Murr.)
G. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia)
Kulit buah durian memiliki Kulit buah jeruk nipis memiliki
kandungan senyawa steroid, terpenoid,
flavonoid, fenolik, tannin (Pratiwi et al., kandungan flavonoid, saponin dan minyak
2018). Khasiat empiris dari buah durian atsiri khususnya senyawa d-limonene
dapat digunakan untuk pelancar haid, yang terkandung dalam kulit buah jeruk
antidepresi, mencegah penuaan, dan nipis yang diduga memiliki efek
menguatkan tulang. Dalam penelitian kulit insektisida terhadap nyamuk Aedes
buah durian efektif untuk menghambat aegypti (Saleh, et al., 2017). Khasiat
pertumbuhan bakteri uji P. acnes (Pratiwi
et al., 2018). 75

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

empiris dalam pengobatan tradisional, optimal (Adamafio et al., 2004; Alemawor
jeruk nipis memiliki khasiat sebagai obat et al., 2009). Berdasarkan penelitian
batuk, obat penurun panas, dan obat pegel Mulyatni et al., (2012) ekstrak konsentrat
linu (Depkeskesos RI, 2001). Dalam kulit buah kakao mempunyai potensi
penelitian kulit buah jeruk nipis sebagai bahan antibakteri terhadap E. coli,
menunjukkan adanya senyawa flavonoid, B. subtilis, dan S. aureus. Ekstrak
saponin dan d-limonene yang terbukti konsentrat kulit buah kakao paling efektif
bersifat racun kontak dan racun menghambat pertumbuhan S. aureus
pernafasan pada serangga khususnya dengan konsentrasi hambat minimum
nyamuk Aedes aegypti yg efektif (KHM) 8% (g/mL), jika dibandingkan
digunakan sebagai insektisida (Saleh et dengan bakteri B. subtilis dan E. coli
al., 2017). dengan KHM berturut-turut sebesar 16%
(g/mL) dan 32% (g/mL).

Gambar 7. Jeruk nipis (Citrus Gambar 8. Kakao (Theobroma cacao L.)
aurantifolia)
I. Kentang (Solanum tuberosum)
H. Kakao (Theobroma cacao L.) Kulit kentang (Solanum tuberosum)

Kulit buah kakao diketahui memiliki kandungan utama yaitu ferritin,
vitamin C, riboflavin, alpha-tocopherol,
mengandung senyawa aktif alkaloid yaitu flavone aglycones, quercetin dan
theobromin (3,7–dimethylxantine). Selain glutathione (Mader et al., 2009; Singh et
al., 2011). Kulit kentang memiliki
itu kulit buah kakao juga mengandung beberapa khasiat diantaranya sebagai
analgesik, antioksidan, dan antibakteri,
senyawa aktif flavonoid atau tanin penurun tekanan darah, pengumpulan
sputum, penguatan otot, dan penambah
terkondensasi atau terpolimerisasi, seperti nafsu makan (Salehi & Surmaghi, 2010).
Berdasarkan penelitian Amanpour et al.,
antosianidin, katekin, dan (2015) hasil dari ekstrak etanol kulit
kentang menunjukan efek antibakteri yang
leukoantosianidin yang banyak terikat lebih besar pada bakteri gram positif
khususnya S.aureus. Namun, selain
dengan glukosa. Senyawa-senyawa
76
bioaktif tersebut diketahui memiliki sifat

antibakteri (Matsumoto et al., 2004).

Beberapa teknologi telah dikembangkan

untuk mengolah kulit buah kakao menjadi

pakan ternak, kompos, dan produk lain,

tetapi masih diperlukan teknologi lain

untuk dapat memanfaatkannya lebih

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

ekstrak kulit kentang juga efektif pada aegypti adalah 25% dibandingkan dengan
bakteri gram negatif P. aeruginosa. konsentrasi yang lain.

Gambar 9. Kentang (Solanum Gambar 10. Langsat (Lansium
tuberosum) domesticum)

J. Langsat (Lansium domesticum) K. Macadamia (Macadamia tetraphylla)
Kulit buah langsat mempunyai Kacang Macadamia (Macadamia

aktivitas fenolik dan antioksidan. Secara tetraphylla) terkenal dengan kernelnya
tradisional, rebusan kulit langsat atau yang berkualitas tinggi akan tetapi, kulit
duku dimanfaatkan sebagai obat diare dan dan sekamnya, yang dikenal sebagai
malaria. Dalam penelitian yang sudah limbah, memiliki kegunaan yang terbatas
dipublikasikan di Pertanika Journal of sebagai produk sampingan. Kulit Kacang
Tropical Agricultural Science, tim peneliti Macadamia mengandung metabolit
dari UCSI University dan Universiti Putra sekunder seperti senyawa fenolik,
Malaysia, Kee et al., (2015). Meneliti flavonoid, proanthocyanidin. Khasiat
kandungan fenolik dan aktivitas empiris dari kacang macadamia adalah
antioksidan ekstrak kulit langsat dan kaya akan nutrisi, menyehatkan kulit dan
ekstrak bagian buah langsat. Penelitian itu dapat mencegah penyait kanker. Dalam
dilakukan untuk menggali potensi kulit penelitian kulit buah macadamia
langsat dan kemungkinan ditemukan senyawa bioaktif, seperti
pengembangannya sebagai antioksidan polifenol, flavonoid dan proantosianidin
alami. Para peneliti menemukan bahwa yang memiliki sifat antioksidan yang kuat
kandungan fenolik ekstrak kulit langsat dan telah dikaitkan dengan berbagai
empat kali lebih tinggi daripada bagian manfaat kesehatan seperti pencegahan
tumbuhan lain. Berdasarkan hasil kanker, penyakit kardiovaskular, diabetes
penelitian yang dilakukan Supriadi et al., dan obesitas (Dailey & Vuong, 2015).
(2012) Anti nyamuk elektrik yang dibuat Penelitian Kusumaningrum & Widayati
dari ekstrak kulit buah langsat dengan (2017) mengatakan Macadamia dapat
beberapa konsentrasi ternyata mampu digunakan sebagai pelembap untuk kulit
untuk membunuh nyamuk Aedes aegypti kering.
dan konsentrasi ekstrak kulit langsat yang
paling efektif membunuh nyamuk Aedes 77

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

Gambar 11. Macadamia (Macadamia Gambar 12. Manggis (Garcinia
tetraphylla) mangostana Linn)

L. Manggis (Garcinia mangostana M. Mentimun (Cucumis sativa L.)
Linn) Kulit Mentimun (Cucumis sativa L.)
Kulit manggis memiliki antioksidan
sangat jarang digunakan atau dikonsumsi
yang tinggi. Hasil skrining senyawa yang dan menjadi limbah. Kulit mentimun
terdapat pada kulit manggis (Garcinia mengandung senyawa terpenoid dan
mangostana L) terdiri dari: 8- saponin. Khasiat empiris dari Mentimun
hidroksikudraxanton, gartanin, garcinon yaitu mentimun memiliki nutrisi yang
E, garcinone D, αmangostin, γ- tinggi, meningkatkan kesehatan tulang
mangostin, β-mangostin, mangostinon, dan jantung, mencegah dehidrasi dan
smeathxanton, tovophyllin A. Adapun menurunkan gula darah. Dalam penelitian
senyawa yang memiliki aktivitas tertinggi kulit mentimun menunjukkan adanya
adalah α-mangostin, β-mangostin dan senyawa terpenoid dan saponin. Senyawa
garcinone (Jung et al., 2006). Senyawa α- bioaktif tersebut bekerja sama untuk
mangostin diketahui memiliki berbagai menghambat pertumbuhan Plasmodium
aktivitas biologis, dengan antiradang, pada penyakit Malaria (Fathoni et al.,
antitumor, kardioprotektif, antidiabetik, 2013).
antibakteri, antijamur, antiparasit,
antioksidan, dan antimobesitas (Ibrahim et Gambar 13. Mentimun (Cucumis sativa
al., 2016). Selain itu berdasarkan L.)
penelitian Bramardipa et al., 2019
aktivitas antioksidan pada kulit manggis N. Nanas (Ananas comosus)
dapat menimbulkan efek imunosupresif Indonesia merupakan salah satu
pada pemberian MSD 20% W/W terhadap
pakan anak ayam dengan pemberian air negara penghasil Nanas (Ananas
minum yang mengandung ekstrak etanol comosus) terbesar. Industri makanan di
kulit buah menggis 2% W/V. Indonesia mengolah buah ini menjadi
produk baru dan selanjutnya
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85 menghasilkan limbah yaitu kulitnya. Kulit
Nanas mengandung senyawa fenolik,

78

asam ferulic, serta vitamin A dan C singlet reaktif dan mencegah
sebagai antioksidan (Saraswaty et al., pembentukan radikal peroxyl akibat
2016). Kulit nanas banyak mengandung peroksidasi lipida. Khasiat empiris dari
flavonoid dan bromelin (Punbasayakul et kulit papaya adalah untuk melancarkan
al., 2018). Selain itu kulit nanas pencernaan, mencegah penuaan dini, dan
mengandung senyawa tanin, oxalat, dan meningkatkan imunitas tubuh. Menurut
pitat (Dabesor et al., 2017). Khasiat (Ma’rufah & Adib, 2018) papaya
empiris dari buah nanas adalah sebagai memiliki aktivitas sebagai antioksidan,
antioksidan, mengatasi susah buang air dan pemberian ekstrak buah pepaya
besar, dan meningkatkan sistem imun. dengan berbagai dosis dapat
Dalam penelitian kulit buah nanas dapat meningkatkan kadar CAT dan GSH pada
digunakan sebagai antioksidan dan hati tikus. Aktivitas antioksidan ekstrak
antimikroba (Saraswaty et al., 2016). kulit buah papaya tergolong kuat. (Lia et
Ekstrak kulit nanas mengandung senyawa al., 2015).
utama yaitu bromelin dan flavonoid yang
mempunyai potensi sebagai antibakteri. Gambar 15. Pepaya (Carica papaya L.)
Ekstrak kulit nanas meiliki aktivitas
antibakteri yang lebih kuat terhadap gram P. Petai (Parkia speciosa)
positif (Husniah & Gunata, 2020). Kulit petai diketahui memiliki

Gambar 14. Nanas (Ananas comosus) kandungan senyawa polifenol berupa
tanin (Zaini & Mustaffa, 2017). Selain itu
O. Pepaya (Carica papaya L.) kulit petai diketahui memiliki manfaat
sebagai antioksidan karena mengandung
Buah pepaya matang sangat tinggi senyawa fenol dan flavonioid (Fajrin &
Susila, 2019). Secara tradisional petai
mengandung betakaroten (276 dimanfaatkan sebagai pencegah penyakit
ginjal, hati, peluruh cacing, meningkatkan
mikrogram/100 g), betacryptoxanthin kekebalan tubuh, antiradang alami, serta
membersihkan selaput lender (Suparni,
(761 mikrogram/100 g), serta lutein dan 2013). Berdasarkan review potensi ekstrak
kulit petai memiliki aktivitas antioksidan
zeaxanthin (75 mikrogram/100 g). yang tinggi, yaitu mencapai 250 mg/g

Betakaroten merupakan provitamin A 79

sekaligus antioksidan yang sangat ampuh

untuk menangkal serangan radikal bebas.

Karoten dapat menetralkan oksigen

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

menggunakan ekstraksi etanol (Rianti et dikembangkan sebagai obat terapi
al., 2018). Antioksidan diketahui dapat obesitas (Mahmudah et al., 2018). Secara
mencegah terjadinya penyakit degeneratif empiris, rebusan kulit buah rambutan telah
seperti jantung koroner, diabetes mellitus, digunakan oleh banyak masyarakat
aterosklerosis, gagal ginjal, insomnia Indonesia untuk mengatasi berbagai
rematik, kanker dan menghambat proses macam penyakit seperti disentri, demam
penuaan dini (Fajrin & Susila, 2019). dan diare. Dalam penelitian kulit buah
rambutan memiliki aktivitas antibakteri
Gambar 16. Petai (Parkia speciosa) terhadap bakteri Eschericia coli dan
Q. Pisang (Musa paradisiaca L.) Bacillus subtilis (Wardhani & Supartono,
2015).
Kulit pisang memiliki senyawa tanin,
fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai Gambar 18. Rambutan (Nephelium
antibakteri (Pratama et al., 2018). Khasiat lappaceum L.)
empiris dari buah ini adalah daun pisang
dimanfaatkan untuk mengobati luka sayat, S. Salak (Salacca zalacca)
lecet dan luka pada lambung (Sahaa et al., Kulit buah Salak (Salacca zalacca)
2013), buahnya dapat digunakan untuk
membantu menurunkan tekanan darah, mengandung metabolit sekunder
meningkatkan imun tubuh dan menurunkan golongan flavonoid, saponin dan tannin
berat badan. Dalam penelitian kulit buah (Emma et al., 2018). Khasiat empiris dari
pisang mampu menghambat pertumbuhan buah Salak adalah dapat menurunkan
bakteri Staphylococcus aureus (Pratama, et kadar kolesterol dan glukosa darah
al., 2018). (Dhaneswari et al., 2015). Dalam
penelitian hasil pengujian antimikroba
Gambar 17. Pisang (Musa paradisiaca dari ekstrak kulit buah salak (Salacca
L.) zalacca) menunjukkan ekstrak dapat
menghambat pertumbuhan dari
R. Rambutan (Nephelium lappaceum L.) Streptococcus mutans dan Candida
Kulit rambutan memiliki senyawa albicans yang termasuk dalam kategori
penghambatan kuat (Emma et al., 2018).
aktif polifenol yang mempunyai aktivitas
antioksidan dan berpotensi untuk Gambar 19. Salak (Salacca zalacca)
80
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

T. Semangka (Citrullus lanatus) kulit buah naga, apel, pepaya, nanas,
Lapisan putih pada kulit buah
bawang merah, macadamia, rambutan,
semangka memiliki beberapa senyawa
aktif diantaranya alkaloid, fenol, saponin, kentang, manggis, petai, langsat, lemon
terpenoid (Odewunmi et al., 2015) dan
sitrulin (Mariani et al., 2018). Sitrulin dan semangka. Sebagai antibakteri
merupakan salah satu zat antioksidan yang
bermanfaat bagi kesehatan kulit. Buah terdapat pada kulit buah delima, nanas,
semangka banyak memiliki kandungan
zat-zat yang sangat berguna bagi bawang merah, kakao, kentang, manggis,
kesehatan tubuh manusia, diantaranya
dapat diandalkan sebagai penetral radikal durian, pisang, dan salak. Selain itu
bebas dan mengurangi kerusakan sel
dalam tubuh karena memiliki kadar sebagai antimalaria yang terdapat pada
antioksidan yang tinggi. Adapun hasil
penelitian diperoleh nilai IC50 dari sampel kulit mentimun, adapun kulit jeruk nipis
ekstrak kulit buah semangka (kulit putih
semangka merah dan kulit putih semangka dapat digunakan sebagai insektisida
kuning) yang diperoleh dari grafik secara
berturut-turut yaitu 14,729 dan 16,782 terhadap nyamuk Aedes aegypti.
mg/L, yang mana diketahui tergolong
sebagai antioksidan alami yang sangat DAFTAR PUSTAKA
kuat (Mariani et al., 2018).
Adamafio, N. A., I. K. Afeke, J. Wepeba,
Gambar 20. Semangka (Citrullus E. K. Ali & F. Q. Quaye. 2004.
lanatus) Biochemical Composition and In
Vitro Digestibility of Cocoa
IV. KESIMPULAN (Theobromae cacao) Pod Husk,
Limbah kulit buah memiliki Cassava (Manihot esculenta) Peel
berbagai manfaat dan potensi dalam and Plantain (Musa paradisiacal)
pengembangan tanaman obat diantaranya Peel Ghana. J Sci. 44: 29-38.
sebagai antioksidan yang terdapat pada
Alemawor, F., F. Victoria, P. Dzogbefia1,
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85 E. O. K. Oddoye & J. H. Oldham.
2009. Effect of Pleurotus ostreatus
Fermentation on Cocoa Pod Husk
Composition: Influence of
Fermentation Period and Mn2+
Supplementation on The
Fermentation Process. African J
Biotech. 9: 1950-1958.

Amanpour, R., S. A. Maleki, M. N.
Naghadeh & M. A. Samani. 2015.
Antibacterial Effect of Solanum
tuberosum Peel Ethanol Extract In
Vitro. Journal of HerbMed
Pharmacology. 2: 45-48

Bisara, D. 2017. Indonesia Second
Largest Food Waster. Jakarta
Globe. Jakarta.

Bramardipa, A. A. B., A. A. A. M. Adi &
I. G. A. A. Putra. 2019. Ekstrak
Kulit Buah Manggis (Garcinia
mangostana Linn) Mampu

81

Meminimalkan Efek Imunosupresif Ervinar Y.C., Dyah P.R., & Nanda F.P.
2016. Uji Aktivitas Antioksidan
Monosodium Glutamate. Jurnal Ekstrak Etanol Limbah Kulit Buah
Apel (Malus Domestica Borkh.)
Veteriner. 2: 211-218. Terhadap Radikal Bebas Dpph (2,2-
Diphenyl-1-Picrylhydrazil). Jurnal
Dabesor A. P., A. M. Asowata, P. Ilmiah Manuntung, 2(1), 81-92.
ISSN 2477-1821
Umoiette. 2017. Phytochemical
Evi Y., Ilham M.N & Zulfalina. 2016.
Compositions and Antimicrobial Identifikasi Kandungan Ekstrak
Kulit Buah Naga Merah
Activities of Ananas comosus Peel Menggunakan Fourier Transform
Infrared (Ftir) Dan Fitokimia.
(M.) and Cocos nucifera Kernel (L.) Journal of Aceh Physics Society
(JAcPS), 5 (1). e-ISSN: 2355-8229
on Selected Food Borne Pathogens.
Fajrin, F. I & I. Susila. 2019. Potensi
AJPB. 2:73-76. Antioksidan Pada Kulit Petai
(Parkia speciosa). Jurnal MIDPRO.
Dailey, A & Q. Vuong. 2015. Effect of 2: 161-168.

Extraction Solvents on Recovery of Fathoni, I., I. B. Ikrandita, M. D. Lawrie,
E. Darisqi, G. W. M. Udayana & S.
Bioactive Compounds and H. Poerwanto. 2015. Malarial
Potential Study of Cucumber Skin
Antioxidant Properties from and Base Point Chloroform Extract
as A Solution to Organic Waste of
Macadamia (Macadamia Sidewalk Food Stall Treatment In
Yogyakarta. The 3rd International
Tetraphylla) Skin Waste. Journal Conference on Biological. (2): 168-
173. ISSN 2413-0877.
Cogent Food & Agriculture. (1): 1-
Griffin, H. D. 1994. Fungal Physilogy.
11. ISSN: 2331-1932. John Wiley and Son Inc. New York.

Deni, T.H, Ellen L K., Ribka A.M., Puspa Hatta, H., Nurhafsah, A. I. Laboko,
Masriani & S. Manggabarani. 2016.
S.D., & Vina S. 2018. Potensi Peningkatan Daya Saing Industri
Pangan Nasional Berbasis Pangan
ekstrak etanol kulit jeruk lemon Lokal Inovatif: Kajian Mutu
Kerupuk Kulit Pisang Kepok.
(Citrus limon L.) sebagai obat Perhimpunan Ahli Teknologi
Pangan Indonesia. Makassar.
alternatif hiperkolesterolemia pada
Husniah, I & A. F. Gunata. 2020. Ekstrak
tikus wistar hiperglikemik. Jurnal Kulit Nanas sebagai Antibakteri.
Jurnal Penelitian Perawat
Ilmiah Farmasi, 6 (2). e-ISSN Profesional. (1): 1-6. e-ISSN 2715-
6885; p-ISSN 2714-9757.
2502-3438
Ibrahim, M. Y., N. M. Hashim, A. A.
Depkes dan Kesos RI. (2001). Pedoman Mariod, S. Mohan, M. A. Abdulla,
S. I. Abdelwahab & I. A. Arbab.
kemitraan lintas sektor dalam 2016. α-Mangostin from Garcinia
mangostana Linn: An Update
pembinaan lanjut usia. Jakarta: Review of Its Pharmacological

Departemen Kesehatan. 82

Dhaneswari, P., Crisdany G. S., Zahra

U.& Putri A. 2015. Pemanfaatan

Pektin Yang Diisolasi Dari Kulit

Dan Buah Salak (Salacca Edulis

Reinw) Dalam Uji In Vivo

Penurunan Kadar Kolesterol Dan

Glukosa Darah Pada Tikus Jantan

Galur Wistar. Khazanah, Vol. 7

No.2

Emma Susilowati S, Agung Rahmadani,

Lisna Meylina & Hadi Kuncoro.

2018. Uji Fitokimia Ekstrak Kulit

Buah Salak (Salacca Zalacca) Dan

Pengaruh Ekstrak Terhadap

Pertumbuhan Bakteri Streptococcus

Mutans Dan Jamur Candida

Albicans. Proceeding of the 8th

Mulawarman Pharmaceuticals

Conferences. ISSN: 2614-4778

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

Properties. Arabian Journal of Mäder, J., H. Rawel, L. W. Kroh. 2009.
Chemistry. 9: 317-329.
Jaafar A.R, Ridwan. A, Mahmod. C.Z. Composition of Phenolic
2009. Proximate analysis of dragon Compounds and Glycoalkaloids Α-
fruit (Hylecereus polyhizus) Solanine and Α-Chaconine During
American Journal of Applied
Sciences 6 (7): ISSN 1546-9239 Commercial Solanum tuberosum
Jung, H. A., B. N. Su, W. J. Keller, R. G.
Mehta & A. D. Kinghorn. 2006. Processing. J Agric Food Chem. 14:
Antioxidant Xanthones from The
Pericarp of Garcinia Mangostana 6292-6297.
(Mangosteen). Journal of
Agriculturaland Food Chemistry. 6: Mahmudah, Anisah, A. Tenzer & S. R.
2077-2082.
Kee, M.E., Khoo, H.E., Sia, C.M. & Yim, Lestari. 2018. Pengaruh Ekstrak
H.S. 2015. Fractionation of Potent
Antioxidative Components from Kulit Buah Rambutan (Nephelium
Langsat (Lansium domesticum)
Peel. Pertanika J. Trop. Agric. Sci. lappaceum L.) terhadap Nekrosis
38 (1): 103 – 112. ISSN: 1511-3701
Kumar, K., A. N. Yadav, V. Kumar, P. Sel Hepar Tikus (Ratus Norvegicus)
Vyas & H. S. Dhaliwal. 2017. Food
Waste: A Potential Bioresource For Obesitas. Bioeksperimen, Volume 4
Extraction of Nutraceuticals and
Bioactive Compounds. Bioresour No.1, ISSN 2460-1365
Bioprocessing. 4: 1-14.
Kusumaningrum, A. A & R. I. Widayati. Mariani, S., N. Rahman & Supriadi. 2018.
2017. Efektivitas Macadamia Oil
10% Dalam Pelembab Pada Kulit Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak
Kering. Jurnal Kedokteran
Diponegoro. (1): 1-11. ISSN: 2540- Buah Semangka (Citrullus lanatus).
8844.
Lia M., Rosyta V., & Asep R. 2015. Jurnal Akademika Kimia. 2: 96-101.
Aktivitas Antioksidan Dan Tabir
Surya Pada Ekstrak Kulit Buah Matsumoto, M., M. Tsuji, J. Okuda, H.
Pepaya (Carica Papaya L.).
Prosiding Seminar Nasional Sasaki, K. Nakano, K. Osawa, S.
Penelitian dan PKM Kesehatan.
eISSN 2477-2356 Shimura & T. Ooshima. 2004.
Lipinski, B., C. Hanson & J. Lomax. 2013.
Reducing Food Loss and Waste. Inhibitory Effects of Cacao Bean
Creating a Sustainable Food Future.
World Resources Institute. Husk Extract on Plaque Formation
Washington DC.
Ma’rufah dan M. Adib. 2018. Ekstrak In Vitro and In Vivo. Eur J Oral Sci.
Buah Pepaya (Carica Papaya L.)
Meningkatkan Kadar Catalase Dan 3: 249-52.
Glutathione Hati Tikus Yang
Terpaparlead Acetate. Jurnal Sain Mulyatini, A.S., A. Buduani & D.
Health 2 (1). E-ISSN : 2549-2586
Taniwiryono. 2012. Aktivitas
Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85
antibakteri ekstrak kulit buah kakao

(Theobroma cacao L.) terhadap

Escherichia coli, Bacillus subtilis

dan Staphylococcus aureus. Menara

Perkebunan. 2: 77-84.

Muthmainnah, B. 2017. Uji Skrining

Fitokimia Senyawa Metabolit

Sekunder dari Ekstrak Etanol Buah

Delima (Punica granatum L.)

dengan Metode Uji Warna. Media

Farmasi Vol. XIII. (2): 1-6.

Octaviani, M., H. Fadhli & E. Yunestya.

2019. Uji Aktivitas Antimikroba

Ekstrak Etanol dari Kulit Bawang

Merah (Allium cepa L.) dengan

Metode Difusi Cakram.

Pharmaceutical Sciences and
Research (PSR). (1): 62 – 68. E-

ISSN 2477-0612.

Odewunmi, N. A., S. A. Umoren, Z. M.

Gasem & S. A. Ganiyu. 2015. L-

citrulline: An Active Corrison

Inhibitor Component of

83

Watermelon Rind Extract for Mild Kiyat. 2018. Literatur Review

Steel In HCl Medium. Journal of the Potensi Ekstrak Kulit Petai (Parkia

Taiwan Institute of Chemical speciosa) Sebagai Sumber

Engineers. 51:15-46. Antioksidan. Jurnal Dunia Gizi. 1:

Paritosh, K., S. Kushwaha, M. Yadav, N. 10-19.

Pareek, A. Chawade & V. Sahaa, R.K., Acharyaa, ,S. Shovon,

Vivekanand. 2017. Food Waste to S.S.H., Royb, P. (2013). Medicinal

Energy: An Overview On activities of the leaves of Musa

Sustainable Approach For Food sapientum var. sylvesteris in vitro.

Waste Management and Nutrient Asian Pac J Trop Biomed, 3(6), 476-

Recycling. Biomed Res Int. 2: 1-19. 482.

Pratama, H. Yudha, Ernawati & Nur Saleh, M., Andi Susilawaty, Syarfaini &

R.Adawiyah Mahmud. 2018. Uji Musdalifah. 2017. Uji Efektivitas

Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Ekstrak Kulit Buah Jeruk Nipis

Pisang Kepok (Musa Paradisiaca X (Citrus Aurantifolia) Sebagai

Balbisiana) Mentah Terhadap Insektisida Hayati Terhadap

Pertumbuhan Bakteri Nyamuk Aedes Aegypti. Higiene

Staphylococcus Aureus. Jurnal Volume 3, No. 1

Sainsmat. Vol. VII, No. 2. ISSN Salehi & M. H. Surmaghi. 2010.

2579-5686 (Onine) ISSN 2086- Medicinal Plants and Phytotherapy

6755 (Cetak) 3rd Edition Volume 2. Doniaie

Pratiwi, Made Mira, Retno Kawuri & I Taghzieh Publication. Tehran.

Putu Gede Ardhana. 2018. Potensi Saraswaty, V., C. Risdian, I. Primadona,

antibakteri limbah kulit durian R. Andriyani, D. G. S. Andayani &

(Durio zibethinus Murr.) terhadap T. Mozef. 2016. Pineapple Peel

Propionibacterium acnes penyebab Wastes as A Potential Source of

jerawat. Jurnal Biologi Udayana Antioxidant Compounds. 1st

23(1): 8-15 P ISSN: 1410-5292E International Symposium on Green

ISSN: 2599-2856 Technology for Value Chains 2016.

Punbasayakul N., K. Samart & W. (1): 1-6.

Sudmee. 2018. Antimicrobial Singh, A., K. Sabally, S. Kubow, D. J.

Activity of Pineapple Peel Extract. Donnely, Y. Gariepy, V. Orsat.

Proceeding of Innovation of 2011. Microwave-Assisted

Functional Foods in Asia Extraction of Phenolic Antioxidants

Conference; 2018. Phayao, from Solanum tuberosum Peels.

Thailand. Molecules. 3: 2218-2232.

Purwani. 2015. Efek Ektrak Air Kulit Suparni, I. 2013. Herbal Nusantara 1001

Buah Delima (Punica granatum L.) Ramuan Tradisional Asli Indonesia.

Terhadap Salmonella typhimurium Andi Publisher. Jakarta.

Secara In Vivo. Jurnal Pustaka Supriadi, Mirnawaty, & Budiman Jaya.

Kesehatan. (2): 1-10. 2012. Uji Efektivitas Ekstrak Kulit

Rahayu, T. D., M. Ardana & L. Rijal. Langsat (Lansium Domesticum)

2017. Potensi Kulit Bawang Merah Sebagai Anti Nyamuk Elektrik

(Allium cepa L) Sebagai Antoksidan Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti.

Dan Tabir Surya. Proceeding of the J. Akad. Kim. 1(4): 147-152. ISSN

6 th Mulawarman Pharmaceuticals 2302-6030

Conferences. (1): 1-6. ISSN: 2614- Wardhani, R. A. P, dan Supartono., 2015.

4778 Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak

Rianti, A. E. K. Parassih, A. E. Novenia, kulit Buah Rambutan (Nephelium

A. Christpoer, D. Lestari & W. E. lappaceum L.) Pada Bakteri.

84

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

Indonesian Journal of Chemical
Sciense, 4 (1) : 2252-6951
Wiryowidagdo, S. (2007). Kimia dan
Farmakologi Bahan Alam (ed 2).
EGC, Jakarta.
Yunus, F. M., T. N. Sonya & A. C.
Sabuna. 2018. Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Kulit Buah Delima Merah
(Punica Granatum L.) terhadap
Pertumbuhan (Vibrio Cholera).
Jurnal Pendidikan dan Sains
Biologi. (3): 10-16.
Zaini, N. A. & F. Mustaffa. 2017.

Review: Parkia speciosa as Valuable,

Miracle of Nature. Asian J Med Heal.

3:1-9.

85

Prosiding Rakerda PD IAI Kalsel (2021): 71 - 85

INDEKS PENELITI

A D

Arnida, 61 - 69 Difa Intannial, 41 - 50
Dina Noor Kamali, 31 - 40
E
F
Egida Rachmadani, 9 - 19
Eka Kartika Untari, 9 - 19 Fadlilaturrahmah, 61 - 69
Eunike Yan Kristin, 21 - 29
M
H
Muliyani, 21 - 29
Henni Selvina, 31 - 40 Muhammad Akib Yuswar, 9 - 19
Herningtyas Nantika Lingga, 41 - 50 Muhammad Arif, 71 - 85
Muhammad Hidayatullah, 71 - 85
N Muhammad Ikhwan Rizki, 71-85
Muhammad Reza Pahlevi, 1 - 7
Nazhipah Isnani, 21 - 29 Muhammad Zaini, 21 - 29
Nur Humairoh, 61 - 69
R
S
Rizqy Galih Saputro, 71 - 85
Samsul Hadi, 51 - 59
Sari Wahyunita, 1 - 7
Shafia Rahmi, 1 - 7
Sutomo, 31 – 40, 61 - 69
Syefa Aulia Rahmah 71 - 85

Prosiding PD IAI Kalsel (2021)

Prosiding PD IAI Kalsel (2021)


Click to View FlipBook Version