The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Panduan dasar dan tips memotret lengkap dan mudah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ikisyahban99, 2021-01-16 22:13:05

Dasar-dasar dan tips tentang fotografi

Panduan dasar dan tips memotret lengkap dan mudah

Keywords: #photography #tutorial #tips

Moh. Rizki Syahban Pepuloi

From class x multimedia 3

Fotograferkampung._

• Menghasilkan sebuah karya foto yang unik dan menarik pada dasarnya bukan hal yang sulit,
kita hanya perlu belajar teknik dasar fotografi terlebih dahulu. Namun ketika kita baru pertama
kali memiliki atau bahkan memegang kamera, terkadang itu bisa jadi hal yang cukup
menegangkan. Nah untuk membantu kamu yang ingin mempelajari lebih dalam tentang
fotografi, maka Saya akan membuat Panduan Belajar Fotografi Lengkap Buat Pemula. Di
dalam panduan ini akan terdiri dari beberapa bab, dimana masing-masing babnya akan ada
beberapa chapter atau sub bab untuk mempelajari hal-hal yang penting terkait dari tema utama
di bab tersebut.

• Jika ini merupakan kali pertama kamu mempelajari tentang fotografi, maka lami sarankan
kamu untuk mengikutinya secara bertahap sesuai dengan urutan bab-bab yang ada, tetapi jika
kamu sudah berpengalaman atau hanya ingin review dan menambah ilmu fotografi, silakan
mengikuti bab dan sub bab mana saja yang kamu inginkan.

Fotograferkampung

• Bab I – Dasar Fotografi : Memahami Eksposure dan Segitiga Emas Dalam Fotografi

Bab pertama dari seri belajar fotografi bagi pemula ini kita akan melihat apa itu eksposur serta peran
sentralnya dalam fotografi. Selain itu kamu juga akan diperkenalkan dengan segitiga emas dalam fotografi yang
mencakup aperture, shutter speed dan ISO.

• Bab II – Pengenalan Kamera Digital: Memahami Kamera Yang Kamu Miliki

Di bab ini kita akan menggali lebih dalam tentang kamera digital. Mulai dari DSLR, Mirrorless, hingga kamera
saku. Dengan memahami kamera yang kamu miliki maka akan jauh lebih mudah saat kamu mempelajari teknik
memotret yang lainnya. Pemahaman akan kamera juga membuat kamu lebih mudah mengerti settingan yang
paling tepat saat memotret.

• Bab III – Memahami Lensa dan Fungsi Pentingnya Dalam Fotografi

Di bab yang ketiga ini kita akan berbicara tentang lensa. Lensa sendiri memegang peran yang cukup sentral
dalam fotografi. Sebagai pintu masuk cahaya menuju sensor, kualitas lensa turut menjadi faktor utama hasil
foto yang kamu ambil.

Fotograferkampung

Bab I – Dasar Fotografi : Memahami Eksposure dan Segitiga Emas Dalam Fotografi

Di bagian ini kita akan mempelajari tentang exposure serta peran pentingnya dalam belajar fotografi.
Jika kamu baru pertama kali mendengar kata exposure, maka cobalah terlebih dahulu untuk mencari
perbedaan dari tiga foto yang identik di bawah ini.

Oke ini bukan iklan air mineral untuk menguji konsentrasi kamu, karena mau haus ataupun tidak,
seharusnya kamu bisa membedakan ketiga foto berikut.

Mari lihat kembali, secara sederhana foto yang paling kiri adalah foto yang paling gelap, sedangkan
yang paling terang adalah foto yang paling kanan.

Exposure sendiri adalah dasar dari fotografi atau bisa dikatakan sebagai fondasi dalam
memahami fotografi. Exposure dalam pemahaman yang sangat sederhana adalah terang dan
gelap dari sebuah foto.

Fotograferkampung

Jika foto tampak gelap maka sering disebut foto itu under exposure, demikian juga sebaliknya jika terlalu
terang maka disebut over exposure. Exposure pada intinya menunjukan seberapa banyak cahaya yang
masuk dalam kamera, atau seberapa banyak cahaya yang bisa ditangkap oleh sensor dalam kamera.
Menurut thefreedictionary.com arti exposure adalah : The act of exposing sensitized photographic film or
plate.
Dalam fotografi, yang menentukan besarnya nilai exposure disaat kita mengambil sebuah foto ada tiga.
Ketiga elemen tersebut sering dikenal sebagai segitiga exposure.

• Aperture
• Shutter Speed
• ISO

Fotograferkampung

1. Aperture

Setelah sebelumnya kita sudah membahas mengenai eksposure dalam fotografi, serta mempelajari
bagaimana segitiga eksposure dimana ketiga elemen tersebut saling berkaitan, dan saling mempengaruhi.
Kini kita akan membahas mengenai aperture dan dampaknya dalam foto. Aperture atau bukaan lensa
adalah ukuran yang menunjukan seberapa besar lubang yang terletak dalam lensa terbuka.
Jika shutterspeed membatasi jumlah cahaya yang mengenai sensor kamera dengan seberapa cepat shutter
di kamera membuka dan menutup, maka aperture membatasi jumlah cahaya dengan mengatur seberapa
besar lubang lensa terbuka.

Untuk semua jenis lensa memiliki nilai aperture minimum dan maksimum yang berbeda. Untuk
lensa kit atau lensa bawaan kamera biasanya memiliki nilai bukaan bervariasi mulai dari f/3.5-
5.6. Sebelum lebih jauh membahas tentang aperture, kita harus memahami terlebih dahulu pola
penamaan pada bukaan lensa, jika pada shutter speed kita bisa mudah memahami kalau 1/100s

artinya kecepatan rana membuka dan menutup secepat 1/100 detik, maka aperture pola
penamaannya terbalik. Iya terbalik, karena nilai aperture ditunjukan dengan angka F atau
f/number. Maka jika bukaan lensa atau aperturenya besar maka nilai f yang ditampilkan di layar
kamera kecil.
Fotograferkampung

Seperti sudah dijelaskan di atas, jika bukaan atau aperture besar maka lebih banyak cahaya yang masuk dan
mengenai sensor kamera, sehingga foto yang dihasilkan pun lebih terang. Sebaliknya jika aperture kecil
maka cahaya yang masuk dan mengenai sensor lebih sedikit, nah penamaan untuk nilai aperture yang kecil
ditunjukkan dengan angka f yang besar.

Daripada anda lebih bingung tentang penamaan yang
terbalik ini, pahami saja bahwa dengan bukaan besar, foto
kita akan lebih terang dan bukaan kecil, foto kita akan
lebih gelap.

(Nilai f yang kecil pada bukaan besar dan sebaliknya) Apa manfaatnya? Ketika kita menggunakan bukaan
besar, dan cahaya yang masuk lebih banyak maka untuk
mengimbanginya kita bisa menggunakan shutter speed
yang lebih cepat, oleh karena itu, lensa – lensa yang
memiliki bukaan besar seperti f/1.8 atau f/2.8, sering
disebut dengan lensa cepat.
Karena kemampuannya menggunakan shutter speed yang
lebih cepat dari lensa yang bukaannya lebih kecil.

Fotograferkampung

Foto di atas diambil dengan menggunakan bukaan besar, hal apakah yang paling menarik buat anda ketika
melihat foto tersebut ?
biasanya ketika melihat foto semacam itu, hal yang menarik pertama kali adalah blur pada foto tersebut. Blur
di background foto sering juga disebut dengan bokeh, nah salah satu keuntungannya menggunakan lensa
dengan bukaan besar adalah bokehnya yang keren.
Teknik bokeh atau blur pada background foto sering diaplikasikan ketika kita memotret model atau orang,
karena hasil foto tersebut biasanya akan lebih dramatis.

Malah ada fotografer yang hasil fotonya hampir selalu mengandalkan bokeh saja.
Oke, itu kembali ke selera masing-masing.

Fotograferkampung

Bokeh ini berkaitan erat dengan pembahasan mengenai depth of field atau ruang tajam. Oke, persiapkan kopi
anda karena pembahasan ini juga cukup rumit. Depth of field menunjukan seberapa besar ruang tajam atau
daerah pada foto yang kita ambil yang tampak tajam. Jika Depth of Field atau disingkat DoF memiliki ruang
tajam yang luas, atau bisa dikatakan juga sebagian besar area yang kita foto tampak fokus dalam frame, maka
dikatakan DoF lebar atau luas, sebaliknya jika DoF sempit maka daerah yang tampak fokus hanyalah kecil, atau
terbatas pada satu titik saja dimana kita meletakkan titik fokus saat menjepretnya. Terus apa hubungannya
dengan aperture? Nah dari penjelasan dan foto-foto di atas seharusnya anda bisa mengambil kesimpulan
sendiri, tapi jika belum, kita lihat foto di bawah ini.

Pulau Dua, Lembeh f/11 1/320s Bisakah anda menarik kesimpulan ? Ya…DoF yang luas atau
lebar dimana ruang tajam tampak pada hampir keseluruhan
foto, bisa kita dapatkan dengan menggunakan bukaan atau

aperture yang kecil, dimana ditandai dengan nilai f yang
besar. Pada foto di samping menggunakan bukaan aperture
f/11, sehingga keseluruhan foto tampak tajam, mulai dari air
laut sampai di awan putih yang tampak jauh. Jadi jika anda
menginginkan keseluruhan area yang anda ambil dalam foto
tampak tajam, gunakanlah nilai f yang besar, sebaliknya jika
anda menginginkan bokeh atau DoF yang sempit, dan cuma
pada area yang ingin anda fokuskan tampak tajam,
gunakanlah aperture atau bukaan sebesar mungkin yang
dimiliki oleh lensa anda, maka area selain yang terfokus
akan blur.

Fotograferkampung

2. Shutter speed

Shutter speed atau jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi kecepatan rana, merupakan salah satu
elemen pembentuk segitiga eksposure, Shutter speed merujuk kepada berapa lama shutter kamera terbuka,
dan mengijinkan cahaya mengenai sensor. Jadi semakin cepat shutter speed yang anda pilih, maka semakin
cepat dan semakin sedikit cahaya yang mengenai sensor kamera, hal itu yang menyebabkan di ruangan yang
gelap dan anda menggunakan shutter speed cepat, bisa menyebabkan hasil foto menjadi gelap atau under
eksposure. Hal sebaliknya berlaku ketika anda menggunakan shutter speed lambat atau slow speed, maka
cahaya yang mengenai sensor akan semakin banyak, karena shutter terbuka dalam waktu yang lebih lama.

Shutter speed yang lambat akan menyebabkan foto
yang dihasilkan lebih terang (jika terlalu lama bisa over
eksposure), namun dampak yang paling signifikan
biasanya dari shutter speed yang dipilih terlalu lama
adalah foto yang kita ambil sangat rentan terkena
goyangan (shake) karena getaran tangan kita.

Mengapa seperti itu? Karena sehebat apapun anda, takkan bisa memegang kamera tanpa bergetar
atau bergoyang, yah kecuali tangan anda memang sudah tak bisa digerak-gerakkan.

Berdasarkan fakta itu maka lahirlah teori mengenai shutter speed yang ideal agar saat kita
mengambil foto menggunakan tangan (bahasa kerennya handheld) foto tersebut tetap tajam dan
tidak blur.

Fotograferkampung

Agar supaya foto tidak blur maka kita harus memperhitungkan shutter speed 1 per panjang focal lensa yang
kita gunakan (1/focal length). Jadi misalnya kita menggunakan lensa 50 mm, maka shutter speed yang ideal
adalah 1/50s, tapi sayangnya rumus tersebut berlaku jika kita menggunakan kamera full frame, jika kita
menggunakan kamera APSC yang terkena crop factor maka nilai shutter speed tersebut berubah.
Untuk Nikon crop factor kamera APSCnya adalah 1.5x panjang focal lensa, sedangkan untuk APSC Canon nilai crop
factornya adalah 1.6x panjang focal lensa. Jadi untuk lensa 50mm, shutter speed idealnya adalah 1.5 x 50 = 75mm
atau 1/75s. Jadi agar supaya saat kita memotret menggunakan tangan dan fotonya tidak blur kita harus
menggunakan shutter speed minimal sebesar 1/75s.
Berikut manfaat saat kita menggunakan shutter speed baik dengan kecepatan tinggi (High Speed) dan kecepatan
rendah (Slow Speed) :
Dengan kecepatan tinggi kita bisa membekukan gerakan, apa maksudnya membekukan gerakan? Ketika kita
menentukan shutter speed yang tinggi, atau pada beberapa kasus shutter speed bisa sangat cepat, maka
gerakan objek itu bisa seakan terhenti atau beku (motion freeze), contohnya ketika kita memotret orang berlari
dengan kecepatan 1/1000s maka di foto yang kita hasilkan kita bisa melihat gerakan orang tersebut terhenti,
atau seolah diam.

Fotograferkampung

Foto di samping diambil dalam salah satu pertandingan voli, kita bisa
melihat gerakan pemain voli tersebut tampak terhenti, atau beku. Untuk
bisa membekukan gerakan pemain tersebut saya membutuhkan shutter
speed 1/250s, untuk pemotretan olahraga sebenarnya kecepatan tersebut
masih bisa dibilang kurang, karena kalau kita amati baik-baik pada bagian
bola volinya masih tampak blur atau kabur. Namun setidaknya foto itu bisa
menunjukan kepada kita bahwa dengan shutter speed yang cukup, kita
mampu menangkap pergerakan objek yang kita foto.

Sebaliknya jika kita menggunakan shutter speed rendah, maka
manfaatnya adalah kita bisa menghasilkan jejak cahaya atau
light trails ketika kita memotret jalan raya atau lalulintas di
malam hari. Karena shutter membuka dalam waktu lama, cahaya
lampu yang dihasilkan oleh kendaraan yang lewat akan
membentuk garis cahaya. Untuk bisa mendapatkan foto dengan
garis cahaya seperti ini, saya menggunakan shutter speed
lambat, bisa mencapai 10-15 detik, yang jika di kamera akan
terlihat 15″, supaya bagian foto yang lainnya tetap tajam dan
tidak blur, kita harus menggunakan tripod untuk menyangga
kamera.Jangan lupa juga untuk menggunakan timer atau kabel
shutter release agar kamera tidak bergoyang saat kita menekan
tombol shutter.

Fotograferkampung

3. ISO
ISO merupakan salah satu elemen segitiga eksposure, namun untuk ISO seringkali seorang fotografer akan lebih
berhati-hati memilih ISO, mengapa seperti itu ? Mari kita bahas, sebelumnya siapkan beberapa cemilan karena
pembahasan tentang ISO lumayan panjang .

ISO kamera berdasarkan definisinya sendiri menunjukan tingkat kepekaan sensor yang terdapat dalam kamera,
atau dalam kata lain, seberapa peka atau sensitif sensor kamera dalam menangkap cahaya yang masuk melalui
lubang diafragma, atau aperture lensa.
Nah jika shutter speed dan apperture bekerja dengan membatasi jumlah cahaya yang masuk dan mengenai
sensor, tentu dengan cara kerja masing-masingnya. Maka ISO bekerja langsung pada sensor kamera itu sendiri
dengan menentukan seberapa besar kemampuan sensor menangkap cahaya.

Semakin sensitif sensor kamera, maka sekalipun kita menggunakan dalam kondisi yang remang atau kurang
cahaya (low light), kita tetap bisa menggunakan shutter speed yang cepat.
Terus apakah semudah itu kita menggunakan setingan ISO tinggi jika kita memotret dalam kondisi gelap?
Sayangnya ada kendala dalam hal penggunaan ISO yang terlalu tinggi, jika aperture dan shutter speed dampak
umumnya adalah pada terang dan gelapnya foto, maka ISO berdampak juga pada kualitas akhir dari foto yang
kita hasilkan. Yang saya maksudkan disini adalah ISO yang tinggi juga akan menimbulkan noise yang tinggi
pada foto. Berdasarkan foto di slide berikutnya, bisa kita lihat bagaimana membantunya ISO saat kita memotret
dalam kondisi yang kurang cahaya, foto di slide berikutnya diambil pada sebuah pertandingan voli yang waktu
pelaksanaannya malam hari, lapangan waktu itu diterangi oleh dua lampu sorot.

Fotograferkampung

Jika hanya mengandalkan lampu semata maka kita tidak akan
mendapatkan foto dengan exposure yang tepat, masalah lainnya adalah
kita tidak bisa juga menggunakan shutter speed dengan kecepatan 1/250s,
padahal untuk memotret pertandingan voli, 1/250s itu merupakan
kecepatan minimum agar supaya gerakan atlet atau pemain, bisa kita
tangkap dengan sempurna. Tentu untuk mendapatkan hasil foto di
samping juga mengkombinasikannya dengan menggunakan lensa bukaan
besar.

Oke lanjut… lalu apa yang dimaksud dengan noise yang dibahas sebelumnya? Noise yah bukan nose, apalagi
nose yang pesek. Canda gan . Noise sendiri dikenal dalam beberapa bidang. Ada noise di bidang suara, di
bidang kelistrikan dan di bidang-bidang lainnya. Noise di fotografi menunjukan kualitas foto yang sudah
mulai kehilangan detailnya. Dimana akan muncul titik-titik dalam jumlah banyak di foto.

Mungkin sekarang anda akan berpikir, kalau begitu gunakan
saja ISO rendah agar supaya kualitas foto lebih bagus. Namun
ada beberapa skenario atau kondisi dimana kita, mau tidak
mau harus menggunakan ISO yang tinggi, antara lain :Kita bisa
lihat dari foto di samping, bagaimana keseluruhan foto sudah
mulai kehilangan detailnya, dan bermunculan titik-titik halus
yang menyeluruh di foto tersebut.

Fotograferkampung

Menggunakan ISO tinggi memang bisa mengkompensasi jumlah cahaya yang kita butuhkan, namun kita juga
harus mengingat dampak penggunaan akhir foto kita.
1. Foto sport yang membutuhkan shutter speeed tinggi, di kondisi yang remang atau kurang cahaya.
2. Foto event atau acara dalam ruangan yang minim cahaya dan tidak diperbolehkan menggunakan

flash baik internal ataupun eksternal.
3. Foto produk dalam ruangan dan kita belum memiliki flash eksternal.
4. Lensa yang kita punya hanya memiliki bukaan yang kecil atau tidak memiliki fitur image

stabilization atau vibration reduction.
Itu adalah beberapa kondisi dimana kita harus menggunakan ISO tinggi, kita tidak perlu takut menggunakan
dengan Noise yang muncul karena jenis kamera yang ada sekarang, sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk
menghandle Noise yang muncul. Aktifkan saja fitur Noise reduction pada settingan kamera anda. Selain itu kita
juga bisa menggunakan software seperti lightroom atau photoshop untuk memperbaiki kualitas foto yang ada.
Jika anda ingin memotret dalam kondisi yang remang dan ingin hasilnya terhindar dari Noise, maka
berkompromilah dengan shutter speed, dalam artian gunakanlah shutter speed yang rendah agar cahaya yang
masuk lebih banyak.

Jangan lupa gunakan Tripod agar foto tersebut tidak blur dan tetap tajam. Demikian penjelasan
yang cukup panjang mengenai ISO kamera serta efek yang ditimbulkan.

Fotograferkampung

Kita sudah mempelajari tiga elemen exposure, yaitu Aperture, Shutter speed, dan ISO. Ketiganya sangatlah
berperan dan saling mempengaruhi satu sama lain, dalam menentukan hasil exposure atau terang dan gelapnya
dari sebuah foto yang dihasilkan. Walaupun tentunya ada juga beberapa faktor lain yang turut andil dalam
menentukan exposure dalam sebuah karya fotografi. Tetapi yang menjadi dasar atau fondasi tetaplah ketiga
elemen yang sudah dijelaskan tersebut.

Ketika kamu mengubah salah satu nilai dari ketiga elemen tadi, itu akan berdampak pada elemen yang lainnya
sehingga mempengaruhi keseluruhan nilai exposure pada akhirnya. Jika kamu menaikkan nilai shutter speed
menjadi semakin cepat biasanya itu akan menurunkan tingkat exposure foto, atau foto akan menjadi lebih gelap.
Untuk mengimbanginya maka kita harus mengubah nilai Aperture ataupun mengubah nilai ISO agar mendapatkan
hasil akhir yang diinginkan.

Oh yah exposure juga bukan hanya semata istilah fotografi jika menggunakan kamera DSLR, semua foto yang kita
hasilkan baik menggunakan handphone, smartphone, tablet, ataupun kamera pocket dan mirrorless pasti
memiliki nilai exposure. Yang jadi keunggulan DSLR dan kamera mirrorless adalah kita bisa dengan mudah
mengatur ketiga elemen, dalam segitiga exposure sesuai dengan keinginan kita sendiri. Sedangkan menggunakan
handphone atau smartphone, biasanya ketiga elemen tadi sudah diatur secara otomatis oleh program dan
software handphone.

Kebebasan mengatur ketiga elemen itulah yang membuat kita bisa lebih mudah
berkreasi dalam mengatur exposure foto yang akan kita hasilkan. Demikian
pembahasan sederhana tentang exposure dalam fotografi semoga bisa menambah
pengetahuan bagi kita semua.

Fotograferkampung

Bab II – Pengenalan Kamera Digital: Memahami Kamera Yang Kamu Miliki

Pilihan untuk membeli kamera mana yang tepat sering menjadi satu dilema yang cukup berat, entah karena kita
berpikir akan membeli kamera yang bagus untuk pekerjaan, traveling atau apa saja kegiatan sehari-hari.
Hingga saat ini, pilihan paling umum saat seseorang memutuskan untuk menyisihkan ‘sedikit’ uangnya untuk
membeli kamera ada tiga, yaitu memutuskan untuk membeli kamera saku, mirrorless ataupun DSLR.
Untuk bagian ini dikesampingkan dulu pilihan terhadap smartphone (meski data yang ada menunjukkan bahwa
penggunaan smartphone untuk memotret sudah meningkat dengan sangat signifikan) karena kita fokus pada
pilihan kamera digital.
Dalam memilih kamera mana yang sebaiknya dibeli, tentu kita perlu mempertimbangkan beberapa pilihan
semacam kualitas gambar, harga, berat, serta akan digunakan untuk apa kamera tersebut.
Di slide berikutnya kita akan membahas tentang apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum memilih
kamera yang kita akan beli nantinya.

Fotograferkampung

8 Hal Yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Membeli Kamera

Apakah anda saat ini mulai mempertimbangkan untuk membeli sebuah kamera? Merasa tertarik dengan foto -
foto indah yang bertebaran di internet, kemudian anda ingin bisa menghasilkan foto seperti itu? Atau anda saat
ini sudah mulai menabung untuk mengejar target anda, dalam beberapa bulan kedepan bisa memboyong kamera
(atau smartphone dengan kamera yang keren).
Tentu kita tak ingin jika lembaran-lembaran uang yang telah disisipkan berbulan-bulan, dan pada saat membeli,
anda merasa menyesal karena salah membeli, atau ternyata bukan seperti yang anda ekspektasikan.

Berikut adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum membeli kamera.
1. Kebutuhan atau keinginan
Agar supaya nantinya anda tidak seperti memilih pasangan, dan juga nantinya tak ada penyesalan di kemudian
hari (apaan sih..) haha. Anda harus mulai mempertimbangkan beberapa hal berikut sebelum anda ke toko
kamera, memilih dan ternyata salah.

Ini menjadi poin yang pertama, mengapa? Karena ada beberapa orang yang membeli kamera tanpa benar-benar
mengetahui apakah dia membeli karena dia memang butuh, ataukah dia hanya sekedar ingin punya kamera.

Tak jadi masalah anda membeli hanya karena sebuah keinginan atau kebutuhan, itu hak masing-masing.
Namun kalau anda menyadari anda membeli kamera itu ingin atau butuh, itu akan mempengaruhi langkah
selanjutnya yang akan anda lakukan.

Fotograferkampung

Kita lihat contohnya : Jika anda membeli hanya karena keinginan, umumnya orang akan sekedar melihat dari
tampak luarnya saja kamera tersebut, apakah keren atau tidak, ketika orang melihat mereka akan terkagum-
kagum dan sebagainya. Namun jika anda benar-benar butuh, anda akan memperhitungkan segala
hal berdasarkan kebutuhan anda. Misalnya anda butuh kamera untuk pekerjaan anda, tentu semua kamera
yang sekiranya tidak mendukung pekerjaan anda, akan dilengserkan dari list anda.

2. Harga dan Budget
Harga dan budget adalah dua hal yang sangat berkaitan, anda menginginkan kamera dengan harga tertentu,
tapi budget tak mencukupi tentu repot. Saya kalau ditanya teman, bagusnya beli kamera apa? Merk apa? Hal
yang saya tanyakan dulu, kamu punya uang berapa? Mau dibelanjakan sebanyak apa?
Kalau anda memiliki budget tanpa batas, tentunya harga takkan pernah jadi masalah, beda kalau budget anda
hanya beberapa juta saja, maka kita bisa menentukan range harga kamera sesuai dengan budget anda.
Semua kamera yang di luar budget, langsung otomatis tersingkir dari list pembelian bukan?
Namun jika seandainya anda sudah ngebet atau betul-betul menginginkan sebuah kamera dengan harga di luar
budget anda, yah tak ada pilihan selain menahan diri dan menabung, sampai budget anda terpenuhi untuk
kamera yang ditargetkan.

Fotograferkampung

3. Tujuan membeli kamera

Nantinya ketika anda sudah memiliki kamera, kamera itu akan anda bawa kemana saja? objek seperti apa yang
akan anda foto? Atau jenis acara seperti apa yang akan anda foto? Apakah model kamera sangat penting untuk
gaya anda atau tidak? Semua pertanyaan itu serta pertanyaan-pertanyaan yang sejenis itu yang mungkin bisa
anda pikirkan, harus diketahui jawabannya.
Kalau tujuan anda membeli kamera hanya untuk dipakai berwisata atau jalan-jalan, jangan membeli kamera
dengan ukuran besar dan beratnya yang mencapai hampir sekilo. Berwisata sambil menenteng bawaan berat
tentu akan jadi hal yang sulit.

4. Kualitas gambar yang dihasilkan

Apakah anda mementingkan kualitas gambar? Jika iya, pertanyaan berikutnya adalah apakah anda akan
memamerkan hasil foto anda dimana? Jika anda berencana untuk mencetak besar dan dipajang, maka pilihlah
kamera dengan kualitas tertinggi yang bisa anda beli. Tapi jika hanya untuk diupload di Instagram, Facebook
atau sosial media lainnya maka kamera digital pocket bahkan smartphone yang terbaru sekarang sudah sangat
mencukupi.

Jika kita mengamati tren teknologi saat ini, produsen kamera seakan – akan berlomba siapa yang bisa
membuat kamera dengan megapixel paling besar. Entah itu kamera digital DSLR, pocket, ataupun kamera
smartphone. Ada kamera smartphone yang di iklannya dipampang besar – besar, 13 megapixel bahkan ada
yang sampai 41 megapixel. Mari kita lanjut membahas tentang megapixel di slide berikutnya. Eitss sebelum
lanjut siapkan cemilan atau hanya secangkir kopi karena pembahasan tentang kualitas lumayan panjang.

Fotograferkampung

Memilih Kamera Yang Tepat, Mengejar Megapixel Atau Kualitas Foto?
Kamera megapixel besar bergengsi?
Kan sering ketika kita bertemu dengan teman, terus saat mau foto – foto atau selfie, semua saling bertanya
kamera smartphone siapa yang megapixelnya paling besar, itu yang akan dipakai. Nah senada dengan itu
produsen DSLR pun turut mengobral promosi masing-masing dengan produk kamera yang bermegapixel sangat
besar, yang teranyar tentunya adalah Canon 5DS dan 5DSR.

Dua kamera DSLR dengan megapixel monster karena ukuran megapixelnya mencapai angka 50, mengalahkan
rekor yang selama ini dipegang oleh Nikon D810 dengan 36 megapixel.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah kamera dengan megapixel yang besar otomatis gambar yang
dihasilkan lebih bagus?
Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, mari kita ulas dulu apa yang menjadi faktor sebuah foto bisa
dikatakan bagus kualitasnya. Walaupun terkadang yang namanya bagus itu sangat subjektif, tergantung siapa
yang melihatnya atau menilainya.

Fotograferkampung

Penentu kualitas foto yang dihasilkan

Dalam pembahasan – pembahasan sebelumnya telah kita bahas mengenai eksposure dan segitiga pembentuknya,
salah satu yang paling sering kita baca dalam pembahasan selalu mengenai sensor kamera. Setiap kamera, mulai
dari kamera smartphone, pocket digital, DSLR, sampai kamera medium format yang harganya bisa buat beli mobil,
semuanya memiliki yang namanya sensor kamera.

Ibarat manusia, sensor kamera adalah jantungnya kamera, karena sensorlah yang memungkinkan kita bisa
mengambil foto. Fungsi sensor utamanya adalah mengkonversi cahaya yang ditangkap menjadi data digital, yang
kemudian kita lihat di layar kamera atau layar monitor sebagai gambar atau foto. Sensor kamera tidaklah sama
ukurannya. Dimulai dari sensor yang kecil pada handphone atau smartphone (tapi ada juga sensor smartphone
yang memiliki ukuran mendekati atau hampir sama dengan kamera digital/kamera pocket), sensor pada kamera
digital,sensor micro four third, Ukurannya juga bervariasi, ada yang 1/1.2 inchi, 1/1.7inchi, ada juga ukuran 1 inchi.

Ukuran disini maksudnya adalah luas permukaan sensor. Untuk ukuran sensor kamera DSLR sendiri terbagi dua
secara umum yaitu sensor APSC (Advance Photo Sistem Classic) dan sensor kamera Full Frame. Ukuran sensor
APSC adalah 22x15mm sedangkan Full Frame sebesar 50x39mm, namun ukuran tersebut juga tergantung masing-
masing produsen kameranya. Karena setiap produsen memiliki standar masing – masing. Terus apa gunanya
sensor yang sebesar 5 centimeter tadi, secara umum besaran sensor gambar, berbanding lurus dengan kualitas
gambar (berbanding lurus dengan harganya juga hehe), tanpa memperhitungkan berapa megapixel kameranya.
Hal itulah yang menjadi dasar mengapa ketika anda memotret dengan menggunakan smartphone ukuran 16
megapixel, kualitas gambarnya masih kalah dengan hasil foto DSLR 12 megapixel, walaupun ukuran foto dari
smartphone tersebut lebih besar.

Fotograferkampung

Megapixel foto menunjukkan besar foto saat dicetak

Sekali lagi ukuran fotonya lebih besar, ya karena megapixel menunjukan seberapa besar foto tersebut jika
dicetak nantinya. Sebagai contoh sensor 8 megapixel ukuran cetaknya adalah 28 x 20 cm (11 x 8 inchi).

Kembali ke pertanyaan dasar tadi, apakah kamera dengan
megapixel besar bagus? Jika saya seorang marketing yang
memasarkan smartphone 16megapixel pasti saya jawab
sangat bagus. Tapi tunggu dulu, megapixel bukanlah satu-
satunya penentu kualitas foto, seperti dijelaskan di slide
sebelumnya, masih ada ukuran sensor kamera yang jauh
lebih menentukan kualitas foto.

(Foto yang dipakai di billboard raksasa umumnya dipotret Disamping tentunya lensa yang kita pakai ataupun
menggunakan kamera bermegapiksel besar) keahlian memotret yang kita punya, jadi jangan dulu
termakan rayuan promosi megapixel besar, cek dulu
ukuran sensornya.

Setelah mendengar penjelasan di atas mungkin anda mulai berfikir bahwa kita tidak perlu memilih kamera
dengan megapixel besar atau kamera dengan megapixel besar urusan nanti. eitss jangan memvonis seperti itu,
mengapa? Mari kita bahas di slide berikut.

Fotograferkampung

Foto dengan megapixel besar mudah untuk diCrop/dipangkas

(Sesudah diCrop/dipangkas)

Jika anda berfikir seperti di slide sebelumnya , coba lihat dulu foto di atas , di situ tampak seekor burung sedang
terbang di langit kan? (ya ialah masakan buaya -_- ). Jika menurut anda itu diambil menggunakan lensa tele,
atau lensa yang panjang-panjang, sayangnya belum tepat, foto itu adalah hasil crop atau dipotong dari foto
aslinya, sehingga menghasilkan ukuran seperti itu. Coba lihat dulu foto aslinya di bawah ini.

(Foto asli sebelum diCrop) Lihat, bagaimana ukuran foto yang dicrop sebenarnya sangat kecil,
tapi hasil fotonya masih cukup bagus ketajamannya? Itulah salah
satu kegunaan kamera dengan megapixel besar, kita bisa dengan
mudah meng-crop foto yang ada, bahkan pada ukuran kecil dan bisa
mendapatkan ukuran foto yang masih memadai.
Demikian penjelasan sederhana tentang kamera dengan megapixel
besar.

Fotograferkampung

Perlu diingatkan kembali ini pembahasan megapixel masih pembahasan nomor 4 tentang kualitas gambar yang
dihasilkan, jangan sakin panjangnya pembahasan tentang megapixel sampai lupa ini masih tentang kualitas
gambar (maaf banyak bacot) hehe. Oke lanjut…

Ingat juga pembahasan mengenai ukuran megapixel pada kamera, bagaimana kualitas gambar biasanya
berbanding lurus dengan ukuran sensor kamera, dan ironisnya ukuran sensor kamera sama-sama berbanding
lurus dengan harga kamera tersebut, semakin mahal kamera biasanya kualitasnya juga semakin bagus.

Pepatah lama di sini berlaku : Ada harga ada rupa. 
Oke mari kita lanjut bahas hal-hal berikutnya tentang mempertimbangkan sebelum membeli kamera.

5. Konektivitas kamera
Apakah anda seorang social-media-aholic, kemana-mana foto lalu upload, akun anda hadir merambah semua
media sosial di dunia. Setiap menit selfie, groufie atau apalah namanya, kemudian diupload. Jika anda tipikal
orang seperti ini, maka konektivitas kamera hal penting yang harus dipertimbangkan

Di era modern seperti ini rata-rata kamera terbaru sudah mendukung fitur wi-fi, dengan fitur tersebut anda bisa
langsung menyalin foto dari kamera ke smartphone anda, lalu langsung diupload ke media sosial.

Carilah kamera yang mendukung atau memiliki fitur tersebut.

Fotograferkampung

6. Ganti lensa atau tidak
Kebebasan untuk mengganti lensa juga patut anda perhitungkan, dengan mengganti lensa anda bisa memilih
lensa yang terbaik untuk kamera anda, dengan tujuan penggunaan yang berbeda tentu.
Mulai dari lensa lebar sampai tele tersedia di pasaran, dari lensa yang bisa memotret semut sampai memenuhi
frame, hingga lensa yang bisa memotret komedo di hidung teman, yang berjarak sejauh satu kilometer pun
tersedia.

Namun ingat saat anda membeli kamera yang bisa
berganti lensa (bahasa kerennya Interchangeable lens),
artinya anda juga membeli sistem merk kamera, karena
kamera dengan merk tertentu tak bisa dipasang lensa
dari merk lainnya, kecuali memakai adapter yang
biasanya juga tidak optimal.

Jika anda tak mau repot dengan lensa-lensa segala macam pilihlah kamera saku atau
smartphone sekalian.

Fotograferkampung

7. Merk Kamera
Merk yang saya maksudkan di sini bukanlah dalam artian merk yang satu lebih bagus dari merk yang lain.
Sering sekali saya menerima pertanyaan mana lebih bagus Canon atau Nikon, dan saya biasanya cuma
menjawab, kalau kamu yang memegang kamera dan belum mahir, biasanya sih dua-duanya tidak bagus hehe.
Yang saya maksudkan dengan merk adalah kemudahan anda mendapatkan produk kamera tersebut di pasaran,
kemudahan mendapatkan aksesoris pendukung kamera, technical support dan service center yang terpercaya
serta mungkin bisa mudah anda jangkau, juga sistem kamera yang mumpuni dalam artian lensa-lensa pilihan
yang banyak, atau flash eksternal yang terjangkau. Jangan lupakan garansi kamera yang dijamin, apakah itu
hanya garansi toko, distributor, atau garansi international. Khusus mengenai lensa dan flash eksternal,
biasanya produsen pihak ketiga seperti Sigma, Tamron atau Tokina hanya menyediakan lensa dan aksesoris
untuk Canon dan Nikon, serta beberapa juga untuk Sony.
Di Indonesia sendiri dua merk itu juga yang memegang pangsa pasar cukup besar, tentu produsen dari merk
lain tetap juga patut anda perhitungkan.

Fotograferkampung

8. Komunitas
Komunitas maksudnya adalah rata-rata teman-teman anda menggunakan kamera apa?
Keuntungan jika anda menggunakan kamera yang mirip dengan milik teman-teman anda, anda bisa dengan
mudah mempelajari cara mengoperasikan kamera tersebut, tentu karena ada orang yang bisa membimbing
anda.
Keuntungan lainnya adalah bisa meminjam lensa yang sama merek atau support dengan kamera yang anda
punya. Tapi jika anda mau tampil beda tentu juga hal itu tak menjadi masalah hehe.
Berikut ini beberapa komunitas fotografi di Indonesia yang layak kamu Follow di Instagram.
1. Instanusantara
2. Iphonesia
3. Geonusantara
4. Cameraindonesia

Demikian 8 hal yang harus dipertimbangkan sebelum memilih kamera yang akan dibeli. Oke lanjut ke
pembahasan lainnya di slide selanjutnya. 

Fotograferkampung

Setelah kita melihat hal-hal apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum membeli tadi, maka kita kembali
diperhadapkan harus memilih mana, kamera saku, mirrorless atau DSLR. Berikut adalah penjelasan dari ketiga
kamera tersebut.
1. Kamera saku atau Pocket

Kamera saku merupakan jenis kamera yang pernah sangat populer
pada beberapa tahun lalu, tentu karena ukuran kamera ini yang
mungil dan sangat mudah untuk dikantongi.

Hingga saat ini juga tetap kamera saku merupakan pilihan yang
menggoda bagi sebagian besar orang. Mari kita lihat beberapa
kelebihan dan kekurangan dari kamera saku.

Kelebihan :
1. Ukuran yang mungil dan kecil mudah untuk dikantongi.
2. Karena ukuran yang mungil maka berat kamera otomatis tidak terlalu terasa.
3. Harga yang terjangkau, rata-rata kamera saku harganya dibawah 3 juta (kecuali kamera saku premium.)
4. Menyenangkan untuk dipakai jalan-jalan.
5. Mudah digunakan, tak perlu mengerti banyak settingan karena jenis kamera ini point and shoot (tinggal

dibidik dan jepret).
6. Untuk beberapa jenis kamera umumnya sudah dilengkapi dengan Wi-fi atau NFC sehingga mudah

dipasangkan dengan smartphone.
Fotograferkampung

Kekurangan:
1. Rata-rata ukuran sensor kamera saku kecil sekitar 1 inchi atau kurang (tapi ada juga kamera saku dengan

sensor APSC atau full frame)
2. Karena ukuran sensor yang kecil maka kualitas gambar yang ada pun tidak sebagus DSLR atau mirrorless
3. Kurang bisa diandalkan saat memotret di kondisi low light atau remang-remang
4. Umumnya tak menyediakan fitur bagi fotografer untuk melakukan setingan lebih lanjut (tak ada mode

manual)
5. Tak bisa ganti lensa yang diinginkan
6. Umumnya tak bisa memotret dengan format file RAW (hanya beberapa yang bisa).

Jika Anda memutuskan untuk membeli kamera saku, tentu sudah siap dengan kekurangan kamera tersebut.
Tentunya hal itu disesuaikan juga dengan jenis kamera saku yang akan dibeli.

2. Kamera mirroless

Merupakan jenis kamera revolusioner belakangan ini, sebagai
bentuk perubahan dari kamera DSLR dengan menghilangkan
cermin (mirrorless) dari dalam bodi serta beberapa komponen
mekanik lainnya.
Kamera mirrorless akhir-akhir ini semakin menunjukan
peningkatan, baik dalam hal kualitas bodi kamera maupun
kualitas gambar yang dihasilkan. Selain itu jumlah pengguna
kamera mirrorless juga semakin bertambah.

Fotograferkampung

Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan jika Anda memutuskan untuk membeli kamera mirrorless
Kelebihan:
1. Kualitas foto rata-rata setara dengan DSLR bahkan ada yang lebih bagus lagi.
2. Ukuran sensor yang cukup besar, rata-rata mirrorless di pasaran memiliki ukuran sensor APSC (setara

canon 70D atau Nikon D7200), bahkan ada yang memiliki ukuran sensor full frame seperti Sony A7 atau
A7R II
3. Sedikit lebih berat dari kamera saku tapi lebih ringan dari kamera DSLR
4. Ukuran bodi kamera kompak dan ringkas sehingga mudah dibawa saat traveling
5. Memiliki pengaturan manual serta kemampuan fitur seperti burst dan hightspeed layaknya DSLR
6. Mampu diandalkan saat memotret low light
7. Bisa ganti lensa yang kita inginkan bahkan memakai lensa merk lain (menggunakan adaptor)
8. Rata-rata sudah memiliki kenektivitas Wi-fi atau NFC

Kekurangan:
1. Kemampuan dan modul autofokus belum bisa mengalahkan DSLR profesional
2. Anda tetap harus mempelajari dasar fotografi agar bisa mendapatkan hasil settingan dan hasil yang

bagus
3. Lebih boros baterai karena banyak menggunakan LCD dan EVF (electronic viewfinder)
4. Harga masih terbilang mahal jika dibandingkan dengan pocket ataupun DSLR pemula bagi sebagian besar

orang.
5. Sistem lensa yang ada masih sedikit atau kurang jika dibandingkan dengan sistem kamera DSLR.

Fotograferkampung

Untuk kamera mirrorless, tampaknya para produsen kamera semakin gencar meningkatkan fitur-fitur yang
dimilikinya. Tampaknya takkan butuh waktu yang lama bagi kamera mirrorless untuk bisa menyaingi kamera
DSLR dalam segi penjualan, jika saja harga yang ditawarkan produsen boleh lebih rendah lagi.

Tahukah kamu?

“Berdasarkan Data Camera & Imaging Product Association (CIPA) 2016 populasi kamera mirrorless di Asia
telah mengalahkan DSLR di angka 40,97%, angka tersebut diperkirakan akan semakin bertambah setiap
tahunnya. (Bisnis.com)”

3. Kamera DSLR

Meskipun semakin mendapatkan banyak saingan dari jenis kamera
lainnya di pasaran dan juga semakin baiknya kualitas smartphone
dalam memotret, kamera DSLR tetap akan memiliki tempat tersendiri
bagi fotografer. Hal itu juga mendasari mengapa tingkat penjualan
DSLR di Indonesia dan dunia umumnya masih menjanjikan meski
pangsa pasarnya semakin tergerus saja seiring persaingan yang
ketat.

Umumnya para fotografer profesional yang sudah setia dengan sistem kameranya adalah mereka yang tetap
bertahan untuk memotret dengan DSLR, selain itu DSLR juga tetap jadi pilihan dalam hal pekerjaan. Entah stigma
ukuran kamera yang besar menunjukan profesional masih melekat di sebagian orang sehingga Anda akan
dianggap kurang ‘profesional’ oleh klien jika memotret dengan kamera mirrorless bahkan kamera saku !

Fotograferkampung

Mari kita lihat beberapa kelebihan dan kekurangan jika Anda memutuskan untuk membeli kamera DSLR.

Kelebihan:
1. Kualitas foto bagus bahkan dengan kamera DSLR kelas pemula sekalipun
2. Sistem lensa dan aksesori yang lengkap, tersedia lensa dari lebar hingga tele sesuai dengan kualitas dan

harga
3. Punya jendela bidik optik (optical viewfinder) yang sangat jelas baik saat memotret dalam kondisi terang

bahkan gelap sekalipun
4. Baterai kamera mampu tahan lebih lama (hingga ribuan foto di kamera DSLR Pro)
5. Tidak akan dipandang sebelah mata oleh klien dalam pekerjaan
6. Kemampuan memotret dalam kondisi gelap atau kurang cahaya sangat bisa diandalkan

Kekurangan:
1. Ukuran bodi kamera yang besar
2. Berat kamera sangat terasa jika dipakai jalan-jalan dalam waktu cukup lama
3. Masih memiliki komponen yang bergerak di dalamnya (cermin)
4. Rentan terhadap aus akibat pergerakan komponen kamera
5. Jika ingin mendapatkan hasil bagus, tetap harus mempelajari dasar memotret

Demikian beberapa kelebihan dan kekurangan kamera DSLR, mirrorless dan kamera saku
umumnya. Jadi, setelah melihat kelebihan dan kelemahan tiga jenis kamera di atas,
apakah Anda sudah bisa menentukan pilihan? Atau malah tambah bingung hehe.

Fotograferkampung

Satu hal yang pasti adalah sesuai kamera yang ingin dibeli dengan kebutuhan, dan setelah dibeli kembangkan
kemampuan memotret secara pribadi, karena pada akhirnya kamera hanyalah alat dan Anda yang menentukan
hasil akhir fotonya seperti apa. Akhirnya, tetap fokus memotret, jangan pernah membiarkan keterbatasan alat
atau gear membatasi kemampuan dan kreativitas Anda. Oke mari kita lanjut ke pembahasan selanjutnya
tentang apa itu format RAW & JPEG

Fotograferkampung

Apakah anda pernah mendapati foto yang anda salin dari kamera anda, ternyata tidak bisa dibuka atau
bahkan tidak bisa dipreview di komputer atau di laptop anda? Bisa jadi anda memotret menggunakan format
RAW.

RAW Adalah File Mentah Yang Ditangkap Sensor Kamera
Jadi file gambar dengan format raw adalah file mentah yang belum mengalami proses edit atau pengolahan
dengan software pengolah gambar atau foto, contohnya photoshop dan lightroom. File dengan format raw
tidak bisa ditampilkan di windows komputer anda kalau tidak menginstall program yang mendukung format
raw. Salah satu aplikasi viewer foto populer di windows, yaitu Windows Photo Viewer tidak mendukung format
ini, itulah mengapa anda tidak bisa membuka foto tersebut. Jika anda ingin membukanya maka gunakan
program yang mendukungnya seperti picasa, atau photoshop. Tampilan foto dengan format raw akan tampak
seperti gambar paling atas sebelah kiri, tampak agak under exposure dan kurang detail, tapi jangan salah, hal
itu karena format raw juga dikenal dengan negative filmnya foto era digital. Jika di masa lalu anda sempat
mengenal negative film foto atau sering disebut klise foto, kini di era digital tempatnya digantikan foto dengan
format raw.

Fotograferkampung

RAW File, Negative Film Era Digital
Mana ada negative film atau klise yang kelihatan bagus bukan? Hehe. Ketika anda menekan shutter pada
kamera, maka sensor merekam gambar yang ada lewat cahaya yang masuk dari lensa, kemudian langsung
dikirim ke memory card. Langsung tanpa diproses di prosesor kamera. Itulah sebabnya file raw ukurannya lebih
besar (satu buah foto dengan format raw ukurannya bisa mencapai puluhan Mb). Selain itu semua informasi yang
ditangkap sensor tersimpan di file tersebut. Sedangkan File JPEG (Join Photographic Experts Group) adalah salah
satu standar foto yang sangat populer, pada saat anda menekan shutter, sensor merekam gambar, nah jika pada
format raw file langsung dikirim ke memory card, pada format JPEG file tersebut diolah terlebih dahulu oleh
prosesor kamera. Iya, sama seperti komputer, kamera kita juga memiliki prosesor. Semakin canggih (dan mahal)
kamera yang kita punya, biasanya prosesornya juga lebih canggih. Setelah diolah terlebih dahulu, diedit sana sini,
baru dikirimkan ke memory card. Foto yang telah diedit prosesor kamera inilah yang kita lihat sehari-hari dengan
format JPEG. Format raw yang telah diedit dan bisa disimpan dengan jpeg, tampak pada foto paling atas sebelah
kanan, lebih cantik kan daripada yang sebelah kiri? Jadi jika anda tak mau direpotkan dengan olah digital, dan
ingin langsung melihat foto anda di komputer atau smartphone, gunakanlah format jpeg saat memotret, masuk
ke settingan kamera anda, dan pilih format jpeg sebagai hasilnya. Namun jika anda hobi mengolah digital foto,
format raw adalah pilihan paling tepat, karena bisa diedit tanpa kehilangan kualitasnya.

Fotograferkampung

8 Kelebihan Yang Dimiliki Foto Dengan Format RAW
1. Anda tak kehilangan apapun

Saat anda memotret dengan RAW, kamera tidak diijinkan untuk mengutak atik data gambar yang ditangkap oleh
sensor kamera. Takkan ada kompres pada data yang ada, sehingga file raw yang anda terima benar – benar
utuh, dan anda tak kehilangan data apapun akibat proses yang dilakukan oleh kamera.
Berbeda dengan format JPEG, karena format ini sudah mengalami kompres foto yang dilakukan oleh kamera,
anda sudah kehilangan cukup banyak data dari file gambar.
2. Kemudahan dalam mengedit white-balance
White balance atau dalam software editing foto Adobe Lightroom ditunjukkan dengan Temp (temperature),
menunjukan temperature cahaya yang diterima oleh sensor kamera saat memotret. Sensor kamera kita tidaklah
secanggih kemampuan mata manusia, sehingga terkadang sensor kamera salah dalam menentukan temperatur
cahaya yang diterimanya.
Nah ketika kita memotret dengan format raw, kita bisa mengedit white balance yang ada sesuai dengan
keinginan kita, jika ingin terasa lebih dingin tinggal turunkan temperaturenya demikian juga sebaliknya.

Fotograferkampung

3. Tak perlu takut dengan highlight
Terkadang ketika kita memotret di siang hari yang terik, atau dalam kondisi cahaya berlimpah, kita mendapati
foto dengan highlight yang tinggi di beberapa area foto. highlight maksudnya adalah bagian yang terlalu terang
pada foto sehingga kehilangan detilnya, terlalu terang disini pada realnya bagian foto tersebut tampak putih
(washout).
Pada format JPEG biasanya detail yang ada sudah hilang karena dikompres, namun pada format raw biasanya
detail tersebut masih ada, dan masih bisa kita recovery dengan menurunkan highlightnya.

Perhatikan detail awan yang masih bisa diRecovery

Fotograferkampung

4. Data asli foto selalu tersimpan
Dengan menyimpan file raw,maka data asli foto masih akan tersimpan tanpa ada perubahan, sama seperti kita
menyimpan negative film pada era fotografi film di masa lalu, dengan menyimpan file raw kita seperti
menyimpan negative foto dalam format digital.
Jika seandainya di masa yang akan datang kita membutuhkan foto tersebut, dan mau mengeditnya dengan cara
yang berbeda, hal tersebut masih sangat mungkin untuk kita lakukan.
5. Sebagai bukti kepemilikan foto
Seperti di poin 4, kita memiliki negative foto kita dengan format digital, hal itu akan menjadi bukti kepemilikan
sah kita sebagai yang empunya foto.
Jika seandainya ada yang menduplikasi foto kita dan mengakuinya sebagai hak milik, maka kita tinggal
menunjukan file raw dari foto tersebut. Dengan begitu kepemilikan kita akan foto tersebut tentu tidak bisa
diganggu gugat.

Fotograferkampung

6. Mudah mengedit secara keseluruhan
Jika seandainya dalam sebuah acara pemotretan anda telah mengambil ratusan foto, dan menyadari bahwa rata
– rata foto tersebut sebagian besarnya mengalami under exposure, anda bisa melakukan proses synchronized
pada semua foto dengan mudah, dan semua foto akan terkoreksi secara otomatis tingkat eksposure dan
ketepatannya. Dengan begitu anda menghemat banyak waktu dalam proses pengeditan.

Fotograferkampung

7. Kualitas foto tetap tinggi sekalipun diedit
Jika anda bermaksud mencetak foto dengan ukuran yang besar, dengan menggunakan format raw, sekalipun
anda telah mengedit besar-besaran pada foto yang ada, output atau hasil dari foto tersebut ketika disimpan
dalam format JPEG kualitasnya masih tinggi.
Hal yang berbeda ketika anda mengedit foto format JPEG kemudian disimpan lagi, ibarat kita sudah
menghilangkan sebagian detail foto, kemudian dihilangkan lagi dalam proses edit, tentu kualitas semakin
menurun.
8. Tak perlu takut memotret di ISO tinggi
Hal yang dihindari fotografer ketika memotret di ISO tinggi tentu adalah noise yang bertebaran di seluruh area
foto. Ketika kita memotret dengan raw, noise tersebut akan lebih mudah ditekan dengan software editing, dan
kualitasnya akan tetap terjaga. Dengan begitu anda tentu bisa memotret dengan fleksibilitas terhadap ISO yang
dipilih, tanpa harus takut dengan noise yang akan dihasilkan.
Tentu anda tetap harus bijak dengan setiap pilihan yang ada, jika masih bisa memilih ISO rendah atau
menggunakan flash eksternal, hal itu tetap menjadi pilihan yang terbaik. Setidaknya ketika dalam kondisi
pemotretan yang mengharuskan ISO tinggi, anda tetap bisa menekan noise yang muncul.

Demikian 8 kelebihan yang bisa anda dapatkan ketika memotret dengan format raw

Fotograferkampung

Pertanyaan yang mana impian kita mungkin akan sedikit menggelitik bagi sebagian orang , apalagi dalam
kondisi rupiah yang tak terkendali seperti saat ini hehe.
Bagi Anda yang mungkin sudah mengerti akan perbedaan full frame dan APSC atau disebut juga crop
sensor, mungkin sudah sedikit mengerti tujuan dari judul artikel seperti di atas.
Sebelum kita menelaah (ya elah.. Menelaah -_-) jawaban yang setidaknya bisa memuaskan banyak pihak
dan kepentingan dari pertanyaan di atas hehe, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu kamera full frame
dan juga kamera APSC (crop sensor).
Kamera Full Frame
Kamera full frame merupakan istilah kamera yang mengacu kepada ukuran sensor yang dipergunakan oleh
kamera tersebut, sensor full frame merupakan ukuran sensor yang umum dipergunakan sejak era film di
zaman dulu.
Ukuran film kamera pada era SLR adalah 24 x 36mm, selanjutnya dalam perkembangan kamera digital
pihak produsen kamera menerapkan ukuran tersebut menjadi ukuran sensor kamera digital.

Fotograferkampung

Penyebutan full frame sendiri agak kurang tepat, namun tampaknya awal munculnya istilah ini adalah untuk
membedakan dari sensor-sensor kamera lainnya yang berukuran lebih kecil seperti APSC atau Micro Four Thirds.
Jika kita menyebutkan full frame, kesannya kita menangkap bahwa image atau foto dengan frame yang penuh
sudah didapat menggunakan sensor ini, padahal masih ada ukuran sensor yang lebih besar lagi dari full frame
semacam sensor medium format, dan tentu ukuran frame atau cakupan fotonya lebih luas.
Mari kita lihat ilustrasi di bawah ini.

Gambar di samping merupakan perbandingan antara ukuran
sensor yang umumnya ada di kamera saat ini, bagian terluar
merupakan ukuran sensor full frame, coba Anda bandingkan
dengan ukuran sensor APSC yang lebih kecil.
Dengan ukuran sensor yang lebih besar maka kamera full
frame memiliki beberapa keuntungan yang tak dimiliki
kamera APSC dan juga kamera dengan ukuran sensor
lainnya yang lebih kecil.

Fotograferkampung

Salah satu keuntungan kamera full frame adalah kualitas foto biasanya lebih bagus dari APSC ( kualitas foto
berbanding lurus dengan ukuran sensor), kita juga lebih mudah mendapatkan bokeh menggunakan kamera ini,
kualitas bokehnya pun lebih ciamik lagi.
Hal yang paling terasa dari menggunakan kamera full frame adalah dalam penggunaan lensa dan ISO. Jika Anda
menggunakan lensa dengan panjang fokal 18 mm maka takkan terkena crop factor, tampilan yang ada di foto
memang benar-benar 18 mm. Bandingkan jika menggunakan di kamera APSC maka 18 mm tadi akan menjadi 27
mm karena terkena crop factor 1,5x.
Oleh karena itu, umumnya fotografer yang menyukai foto landscape juga akan menyukai penggunaan kamera full
frame karena mampu menyajikan view lebih lebar. Hal berikutnya adalah kemampuan low light dari kamera, jika
menggunakan ISO 1600 ke atas di kamera APSC maka noise sudah mulai terasa, namun untuk penggunaan ISO
hingga 6400 di kamera full frame masih bisa ditoleransi tingkat noisenya.
Ada kelebihan tentu ada kekurangan. Kekurangan dari kamera full frame yang pertama tentunya adalah harga,
seperti kata pepatah lama ada harga ada rupa, demikian juga kamera. Ketika hasil foto bagus umumnya juga
sebanding dengan jumlah yang harus dikeluarkan untuk menebus kameranya.

Fotograferkampung

Hal berikutnya yang cukup terasa adalah ukuran dan bobot kamera, karena ukuran sensor yang lebih besar maka
body kamera pun akan ikut menyesuaikan dengan ukuran sensor (hal ini berlaku untuk DSLR full frame), jika
Anda tetap menginginkan kamera full frame namun dengan ukuran lebih kecil, tersedia beberapa mirrorless atau
kamera saku di pasaran dengan ukuran sensor full frame.
Berikut adalah daftar kamera full frame dari beberapa produsen kamera yang merupakan versi terbaru
dikeluarkan :
Canon : 1D Mark IV, 5D Mark III, 6D (DSLR)
Nikon : D4S, D810, D750, D610 (DSLR)
Sony : A7RII, A7SII (Mirrorless)
Rata-rata harga kamera di atas ada di belasan sampai puluhan juta rupiah.

Fotograferkampung

Kamera APSC (Crop Sensor)
Kamera APSC juga merupakan penyebutan untuk kamera yang memiliki sensor dengan ukuran APSC, meski di
gambar tadi telah kita lihat bahwa ada juga format sensor APS-H, namun untuk format tersebut hanya terbatas
untuk beberapa jenis kamera Canon saja.
Kamera APSC sendiri merupakan format kamera yang sangat populer di dunia karena didukung beberapa hal, tapi
hal utama adalah harga jual kamera ini yang bisa ditekan serendah mungkin.
Saat ini harga kamera APSC untuk jenis DSLR pemula bisa Anda dapatkan dengan harga 3-4 jutaan untuk versi
lawas atau produksi beberapa tahun lalu.

Meski harga yang lebih murah, tapi kualitas foto dari kamera APSC sudah cukup memadai, bahkan jika Anda
ingin cetak besar ataupun untuk keperluan pekerjaan resmi.

Beberapa kamera APSC yang cukup populer di pasaran antara lain :
Canon : 1200D, 600D, 100D, 760D, 70D, 7D Mark II (DSLR)
Nikon : D3300, D5500, D7200
Sony : A6000
Fujifilm : Fuji XT1

Fotograferkampung

Meski umumnya kamera APSC harganya cukup terjangkau, namun untuk saat ini khususnya mirrorless, tampaknya
soal harga masih belum terlalu ramah di kantong, mungkin masih butuh beberapa tahun lagi sebelum harga
mirrorless dengan sensor APSC bisa menyamai harga DSLR pemula.
Beberapa kelebihan dari kamera APSC selain harga , biasanya ukuran dan bobot kamera APSC khusus untuk DSLR
masih lebih ringan dan kompak dibandingkan full frame, dengan begitu tentu Anda tak terlalu menanggung berat
berlebih saat hunting.
Dalam hal lensa, biasanya untuk lensa yang dibuat khusus untuk sensor APSC ( di Canon dikenal dengan lensa EF-
S, di Nikon dikenal dengan lensa DX) ukuran dan harga juga lebih terjangkau.
Selain itu jika Anda suka foto objek jarak jauh maka crop factor pada lensa APSC akan sangat membantu, untuk
lensa dengan panjang fokal 200mm, setelah terkena crop factor maka lensa itu aktualnya menjadi 300mm jika
dipasang di kamera APSC, jadi lebih jauh bukan ?
Hanya saja jika kita memotret dengan kamera APSC khusus untuk low light dengan ISO tinggi tidak terlalu
dianjurkan, umumnya dari tingkat ISO 1600 ke atas foto sudah cukup berkurang ketajaman dan detail yang ada.

Fotograferkampung

Kesimpulan

Jadi apakah pertanyaan di judul artikel ini sudah terjawab?
Yah jika kita berbicara impian tentu jawabannya kembali ke masing-masing kita, saya pribadi lebih memilih
untuk memiliki kamera full frame jika ditimbang dari sudut kualitas foto, tapi kembali ke harga dan kebutuhan
saat ini tentu hal tersebut agak kurang cocok. Hal itu tentu akan berbeda dengan Anda.
Hal yang pasti, silakan pilih dan sesuaikan kamera tersebut dengan kebutuhan dan budget yang Anda miliki.

Fotograferkampung

Pengaturan white balance sering kita temukan saat akan memotret. Entah anda memotret menggunakan
kamera DSLR, mirrorless, ataupun kamera smartphone atau mobilephone. Bagi yang sudah mengerti tentu
mudah saja memilih pengaturan yang terbaik. Berbeda bagi yang baru pertama kali memiliki kamera atau
belajar memotret.
Umumnya orang yang baru memiliki kamera akan sedikit pangling melihat berbagai macam pengaturan di
dalamnya, apalagi dengan bahasa-bahasa yang kurang familiar.
Jika yang sudah melek internet, tentunya akan segera mencari tahu sendiri, lewat Google atau semacamnya,
yah mungkin anda juga salah satunya hehe. Tapi, bagi yang mungkin kurang peduli, tak akan mengutak-atik
lebih lanjut settingan tadi.

Fotograferkampung

Pengaturan White Balance
Pengaturan white balance adalah salah satu pengaturan yang umumnya kita lihat di settingan kamera,
bahkan rata-rata smartphone pun sudah memiliki settingan ini dalam mode pengambilan fotonya. Umumnya
secara default, white balance diatur pada mode automatic atau AWB (Automatic White Balance). Artinya,
kamera atau smartphone anda akan menentukan sendiri white balance yang tepat sesuai dengan kondisi
lingkungan yang anda potret.

Namun tak selamanya fitur ini akan akurat. Mengapa? Tak semua kondisi pemotretan yang anda jumpai akan
sama. Selalu ada waktu dimana kamera salah menentukan white balance, hasilnya foto akan terlihat aneh
dimana warnanya kurang sesuai dengan aslinya. Dari hal ini, mungkin anda sudah sedikit mengerti apa tujuan
dari white balance. Ya.. Hal utama agar kita memastikan setingan white balance tepat supaya warna yang kita
hasilkan di foto, akurat atau sesuai dengan aslinya.

Meskipun tujuannya supaya akurat, tapi ada juga yang menginginkan suasana yang berbeda, dalam arti
sekalipun hal tersebut tak menyerupai aslinya (asli dalam artian yang kita lihat dengan mata telanjang),
tetapi WB diubah agar mendapat kesan yang lebih dramatis.

Yah jika anda tak mau terlalu repot, dan menurut anda situasi memotret saat ini biasa
saja, silakan menggunakan mode AWB tadi.

Fotograferkampung


Click to View FlipBook Version