The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Ringkasan Disertasi Meriwati

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Meriwati MS, 2020-09-22 00:30:56

E-RINGKASAN DISERTASI

E-Ringkasan Disertasi Meriwati

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH MODEL INTERVENSI GIZI
TERHADAP ASUPAN MAKANAN DAN KECEPATAN
PERTUMBUHAN MELALUI PEMANFAATAN IKAN

LOKAL PADA BALITA DI PESISIR
KOTA BENGKULU

DISERTASI

MERIWATI MAHYUDDIN
NPM 1606858503

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM STUDI

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
DEPOK
2020

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI

Disertasi ini diajukan oleh :

Nama : Meriwati Mahyuddin

NPM : 1606858503

Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat

Judul Disertasi :

Pengaruh Model Intervensi Gizi Terhadap Asupan

Makanan dan Kecepatan Pertumbuhan Melalui

Pemanfaatan Ikan Lokal pada Balita di Pesisisr Kota

Bengkulu

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan
diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk

memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Promotor : Prof. Dr. dr. Kusharisupeni, M.Sc.
Kopromotor : Dr. Ir. Diah Mulyawati Utari, M.Kes.
Ketua Tim Penguji : Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, MPH
Anggota : Dr. Drs. Tri Krianto, M.Kes

Dr. Ir. Asih Setiarini, M.Sc.
Prof. Dr. Ir. Sri Purwaningsih, M.Si.
Dr. Abas Basuni Jahari, M.Sc.
Dr. Ir. Cesilia Meti Dwiriani, M.Sc.

Ditetapkan di : Depok Universitas Indonesia
Tanggal : 30 Juli 2020

ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh…
Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT

yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
dapat menyelesaikan Disertasi yang berjudul “Pengaruh
Model Intervensi Gizi Terhadap Asupan Makanan dan
Kecepatan Pertumbuhan Melalui Pemanfaatan Ikan Lokal
pada Balita di Pesisisr Kota Bengkulu”.

Penyusunan Disertasi ini dapat tersusun atas bimbingan
dari berbagai pihak, oleh karena itu melalui kesempatan ini
perkenankan saya menyampaikan ucapan terima kasih tak
berhingga kepada :
1. Ibu Prof. Dr. dr. Kusharisupeni, M.Sc. selaku Promotor

dan Ibu Dr. Ir. Diah Mulyawati Utari, M. Kes. selaku
Pembimbing Akademik sekaligus sebagai Kopromotor.
Keduanya selalu sabar dan meluangkan waktunya untuk
mengkoreksi dan memberikan masukan serta saran selama
proses penyusunan Disertasi.
2. Ibu Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, MPH, selaku Ketua
Dewan Penguji yang telah meluangkan waktunya untuk
menguji, mengkoreksi dan memberikan masukan selama
ujian dan masa penyusunan dan perbaikan Disertasi.
3. Bapak Dr. Drs. Tri Krianto, M.Kes., Dr. Ir.Asih Setiarini,
M.Sc., selaku dosen Penguji Internal yang telah
meluangkan waktunya untuk menguji, mengkoreksi dan
memberikan masukan selama ujian dan masa penyusunan
dan perbaikan Disertasi.

iii Universitas Indonesia

4. Ibu Prof. Dr. Ir. Sri Purwaningsih, M.Si., Bapak Dr. Abas
Basuni Jahari, M.Sc. dan Dr. Ir. Cecilia Dririani, M.Sc.,
selaku dosen Penguji Ekstrnal yang telah meluangkan
waktunya untuk menguji, mengkoreksi dan memberikan
masukan selama ujian dan masa perbaikan Disertasi.

5. Ibu Dr. dr. Sabarinah B, M.Sc., selaku Pj. Dekan dan Ibu
Dr. Dra. Rita Damayanti, MSPH selaku Ketua Program
Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia. Beliau telah memberi
kesempatan kepada saya untuk mengikuti pendidikan di
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia .

6. Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu beserta jajarannya
yang selalu memberikan dukungan penuh untuk
melanjutkan pendidikan Program Doktor.

7. Seluruh dosen yang telah mendidik dan memberikan ilmu
yang bermanfaat kepada saya selama menempuh
pendidikan.

8. Seluruh Tenaga Kependidikan yang telah membantu,
memfasilitasi segala kebutuhan dan kesulitan pada proses
pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia.

9. Seluruh keluarga besar kebanggaanku, ibundaku Hj.
Rosmani, Ibu metuaku Halimah, suamiku Sudarwan
Danim, anandaku (Restu Utami Sudarwan, Faza Nugraha
Sudarwan, dan Farzan Muzaffar Sudarwan), saudaraku
(Purnawati, Candra Purnama, Rudiansyah, Yuniarti) serta
sanak keluarga yang telah memberikan support, pengertian
dan kasih sayang yang tulus dan menjadi sumber kekuatan
dalam penyusunan Disertasi sebagai bagian dari Proses
Pendidikan.

iv Universitas Indonesia

10. Sahabat Seperjuangan Program Doktor Program Studi
Ilmu Kesehatan Masyarakat 2016 yang selalu memberikan
suasana kebahagiaan, lingkungan nyaman, saling
mendukung dalam suka dan duka selama proses
pendidikan.
Disertasi ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu

sangat diharapkan adanya kritik dan saran agar dapat membantu
perbaikan selanjutnya. Atas perhatian dan masukkannya
diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Akhir kata pengantar ini, hanya Allah SWT yang
membalas segala kebaikan dan kemudahan yang telah
diberikan. Semoga Disertasi ini mendatangkan manfaat untuk
kesehatan balita.

Depok, 30 Juli 2020
Hormat saya
Penulis

v Universitas Indonesia

ABSTRAK

Nama : Meriwati Mahyuddin

Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat

Judul :

Pengaruh Model Intervensi Gizi Terhadap Asupan

Makanan dan Kecepatan Pertumbuhan Melalui

Pemanfaatan Ikan Lokal pada Balita di Pesisir Kota

Bengkulu

Promotor : Prof. Dr. dr. Kusharisupeni, M.Sc

Masalah gizi 1000 hari pertama kehidupan berdampak jangka
pendek, jangka panjang, bahkan kematian dalam siklus
kehidupan manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan
sebagai untuk mengseksplorasi masukan untuk pendekatan
kuantitatif berupa kuasi eksperimen. Intervensi gizi berupa
Edukasi-Teori, Edu-Teori+Praktik dan kontrol sebagai
pembanding pada ibu balita usia 12-18 saat baseline. Hasil
penelitian menunjukkan ada pengaruh model intervensi gizi
terhadap asupan protein ikan (p=0.002), asupan protein ikan
lokal (p=0.004), z-skor PB/U (p=0.000) dan kecepatan
pertumbuhan (p=0.000). Model Edu-TP lebih baik dalam
meningkatkan asupan protein ikan dan kecepatan pertumbuhan
dibanding kontrol maupun Edu-T. Ada pengaruh simultan
perbedaan model intervensi gizi dan asupan protein ikan
terhadap kecepatan pertumbuhan (p=0.000), perbedan tertinggi
pada Edu-TP vs kontrol (p=0.000).
Kata kunci:
intervensi gizi, edukasi gizi, teori, praktik, protein , ikan lokal,
kecepatan pertumbuhan, daerah pesisir

vi Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI....................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................... iii
ABSTRAK.............................................................................. vi
DAFTAR ISI .......................................................................... v
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian ................................................. 1
B. Rumusan Masalah Penelitian ........................................... 3
C. Pertanyaan Penelitian ....................................................... 3
D. Tujuan Penelitian ............................................................. 4
E. Manfaat Penelitian ........................................................... 4
F. Ruang Lingkup Penelitian ................................................ 5
G. Orisinal Penelitian ............................................................ 5

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pertumbuhan ..................................................................... 7
B. Asupan Makanan .............................................................. 9
C. Konsep Ikan ..................................................................... 12
D. Sosial Demografi, Ekonomi dan Budaya ......................... 14
E. Karakteristik Balita .......................................................... 14
F. Program Penanggulangan Masalah Gizi .......................... 14
G. Konsep Gizi Seimbang ..................................................... 15
H. Pendidikan Gizi ................................................................ 17
I. Konsep Perilaku ............................................................... 18
J. Kerangka Teori Penelitian ............................................... 19
K. Kerangka Konsep Penelitian ............................................ 19

METODE PENELITIAN
A. Rancangan Ppenelitian...................................................... 21
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................... 22
C. Populasi dan Sampel ........................................................ 22
D. Intervesi ............................................................................ 23
E. Instrumen Pengumpulan Data .......................................... 24

vii Universitas Indonesia

F. Pengumpulan Data ........................................................... 24
G. Persetujuan Etik (Ethical Clearance) .............................. 25
H. Analisis Data .................................................................... 25
I. Validitas Data ................................................................... 26
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Lokasi Penelitian ............................................ 27
B. Gambaran Subjek Penelitian ............................................ 28
C. Pengaruh Model Intervensi Gizi Terhadap Perilaku ........ 30
D. Pengaruh Model Intervensi Gizi Terhadap Asupan ......... 32
E. Pengaruh Model Intervensi Gizi Terhadap Pertumbuhan 36
F. Pengaruh Perbedaan Model Intervensi Gizi dan Asupan

terhadap Pertumbuhan....................................................... 37
PENUTUP
A. Kesimpulan ...................................................................... 39
B. Saran ................................................................................ 40
DAFTAR PUSTAKA ............................................................ 43
CURRICULUM VITAE ....................................................... 47

viii Universitas Indonesia

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah gizi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK)

mempunyai dampak, baik jangka pendek maupun jangka
panjang, bahkan dapat menyebabkan kematian dalam siklus
kehidupan manusia. Dampak jangka pendek pertama adalah
terganggunya perkembangan otak akan berdampak jangka
panjang pada kemampuan kognitif dan pendidikan, dampak
jangka pendek kedua adalah Intrauterine Growth Retriction
(IUGR) berdampak jangka panjang berupa stunting atau
pendek, serta dampak jangka pendek ketiga adalah program
metabolisme berdampak jangka panjang pada penyakit
metabolik seperti hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit
jantung koroner (PJK), dan stroke. (Achadi, 2014; Jalal,
2016; Unicef, 2015, 2017).

Data Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional
tahun 2007-2013-2018 menunjukkan proporsi sangat pendek
dan pendek 36,8%; 37,2%; 28,8%. (Kementrian Kesehatan
RI, 2018). Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Indonesia
tahun 2015-2017 menunjukkan proporsi sangat pendek dan
pendek 29,0%; 27,5%; 29,6% (Kemenkes RI, 2013).

Data PSG Propinsi Bengkulu tahun 2015 – 2017
menunjukkan proporsi sangat pendek dan pendek 18,1%;
22,9; 29,4. Hasil PSG Kota Bengkulu menunjukkan proporsi
sangat pendek dan pendek 23,5%; 16,0%; 23,5%. (Dinkes
Propinsi Bengkulu, 2017). Data Riskesdas dan hasil PSG
secara nasional belum menunjukkan penurunan yang

1 Universitas Indonesia

2

diharapkan, target prevalensi wasting <5% dan stunting
30.8% akhir tahun 2018 (Hawkes, 2018).

Rerata kecukupan energi balita propinsi Bengkulu
sebanyak 84.4% (Nasional 83.2%), sementara kecukupan
protein sebesar 112.5% (Nasional 107.3%). (Dinkes Propinsi
Bengkulu, 2017). Data Riskesdas 2013 dan data Survei Diet
Total (SDT) tahun 2014 menunjukkan bahwa lebih dari
separuh balita (55,7%) mempunyai asupan energi yang
kurang dari Angka Kecukupan Energi (AKE) yang
dianjurkan. (Kemenkes RI, 2017).

Praktik pemenuhan makanan balita tidak lepas dari
bentuk dan sumber bahan makanan. Salah satu zat gizi yang
berkontribusi adalah protein, secara global diakui bahwa
protein mempunyai pengaruh positif, terutama protein
sumber hewani misalnya ikan (Kawarazuka, 2017).
Pemanfaatan ikan dalam praktik pemenuhan makanan di
Indonesia potensial diterapkan, mengingat potensi wilayah
Indonesia. Penelitian Mlauzi and Mzengereza membuktikan
bahwa proporsi dari 80 subjek penelitian ditemukan masalah
gizi anak daerah perikanan lebih rendah yaitu 10.0%
dibandingkan daerah nonperikanan yaitu sebesar 25.5%
(Mlauzi, 2017).

Jenis ikan yang umum diperoleh nelayan tangkap di
pesisir kota Bengkulu dapat digolongkan menjadi jenis ikan
besar (ikan tongkol, tenggiri, tuna, bawal, layur) dan jenis
ikan kecil (kape-kape, senangin, teri, bleberan, kerong,
macho). Jenis ikan yang diperoleh nelayan tangkap setiap
harinya tidak selalu sama, sangat tergantung cuaca, tetapi
ada jenis kecil, yaitu ikan lokal bleberan (thryssa sp) yang
selalu diperoleh tetapi jarang dikonsumsi.

Universitas Indonesia

3

Walaupun ikan merupakan potensi sumber protein yang
potensial di Indonesia, faktanya konsumsi ikan masyarakat
Indonesia masih tergolong rendah. Pada tahun 2016 tingkat
konsumsi ikan hanya 37,29 kg/kapita/tahun, sedangkan
target Nasional sebesar 43,88 kg/kapita/tahun dan target
propinsi sebesar 36,09 kg/kapita/tahun. Konsumsi ikan
dalam rumah tangga di Propinsi Bengkulu sebanyak 37,11
kg/kapita/tahun dan kota Bengkulu hanya 29,178
kg/kapita/tahun (DKP Propinsi Bengkulu, 2017; Erwina &
Kurnia, 2015). Kurangnya tingkat konsumsi ikan ditentukan
dengan berbagai faktor, antara lain pengetahuan mengenai
gizi dan teknik pengolahan ikan yang masih terbatas, tingkat
preferensi ikan belum berkembang, serta masih terdapatnya
nilai budaya, tabu, mitos, dan pantangan sekelompok
masyarakat mengenai dampak negatif konsumsi ikan, serta
promosi konsumsi ikan yang belum optimal (Charlton et al.,
2016; Iii, 2001)

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah belum optimalnya
pemanfaatan ikan lokal dalam upaya mengatasi masalah
gangguan pertumbuhan balita.

C. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian : (1) Apakah model intervensi gizi
(MIG) mempengaruhi perilaku ibu dalam memenuh asupan
makanan; (2) Apakah MIG mempengaruhi mempengaruhi
pertumbuhan ; (3) Apakah perbedaan MIG dan asupan
makanan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan.

Universitas Indonesia

4

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Menganalisis pengaruh model intervensi gizi (MIG)
terhadap asupan makanan dan kecepatan pertumbuhan
melalui pemanfaatan ikan lokal pada balita di pesisir
Kota Bengkulu.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik subjek penelitian (balita
dan Ibu)
b. Menganalisis pengaruh MIG terhadap perilaku
c. Menganalisis pengaruh MIG terhadap asupan
makanan balita.
d. Menganalisis pengaruh MIG terhadap pertumbuhan
e. Menganalisis pengaruh perbedaan MIG dan asupan
makanan terhadap kecepatan pertumbuhan.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Menambah khasanah keilmuan
b. Memberikan alternatif pemecahan masalah gizi
balita
2. Manfaat Praktis
a. Menjadi input bagi puskesmas
b. Memberikan input bagi Dinas Kesehatan Kota
Bengkulu tentang strategi pelaksanaan program gizi
c. Bermanfaat bagi ahli gizi sebagai penata gizi di
puskesmas
d. Tersusunnya model partisipasi masyarakat gizi
3. Manfaat bagi Peneliti
Mampu mengembangkan penelitian lanjut
pemanfaatan ikan lokal.

Universitas Indonesia

5

F. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini berfokus pada eksplorasi dan revitalisasi
perilaku ibu dalam pemenuhan asupan melalui pemanfaatan
ikan lokal di daerah pesisir kota Bengkulu.

G. Orisinal Penelitian
1. MIG yang diberikan merupakan hasil eksplorasi
perilaku keseharian dan partisipasi ibu balita pesisir
kota Bengkulu .
2. MIG yang diberikan dengan memanfaatkan potensi
daerah pesisir kota Bengkulu.
3. Penilaian keberhasilan MIG asupan protein ikan lokal
thryssa sp dan kecepatan pertumbuhan

Universitas Indonesia



TINJAUAN PUSTAKA

A. Pertumbuhan
1. Kecepatan Pertumbuhan
Beberapa indikator pertumbuhan berguna untuk
menentukan batas yang jelas antara kekurangan gizi dan
kelebihan berat badan pada bayi dan anak-anak. Indikator
yang paling banyak digunakan, panjang atau tinggi
menurut umur (PB/U atau TB/U), berat badan menurut
umur (BB/U), berat badan menurut panjang/tinggi badan
(BB/PB atau BB/TB), dengan merujuk pada z-
score untuk menetapkan deviasi pola pertumbuhan
normal (WHO, 2006).

Selaras dengan grafik pertumbuhan, beberapa pedoman
gizi yang dikembangkan WHO dirancang untuk
mendukung tumbuh kembang bayi dan anak yang optimal
hingga umur dua tahun. Pedoman merekomendasikan
pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama,
selanjutnya, pengenalan makanan pendamping (makanan
padat) yang mengandung gizi dan aman dikonsumsi,
disarankan untuk dilakukan pada umur 6 bulan, dengan
pemberian ASI yang terus dilakukan hingga umur 2 tahun
atau lebih (Health, Associates, & Guide, 2013)

2. Status Gizi
Status gizi adalah gambaran keseimbangan makanan atau
asupan gizi yang memegang peranan penting dalam
tumbuh kembang anak, dimana kebutuhan anak berbeda
dengan orang dewasa. Terpenuhi atau tidaknya asupan gizi

7 Universitas Indonesia

8

bagi anak juga dipengaruhi oleh ketahanan makanan (food
security) keluarga, meliputi ketersediaan dan pembagian
makanan dalam keluarga (Hasan, 2017).
Kebutuhan makanan setiap individu berbeda karena
variasi genetik yang mempengaruhi proses metabolisme.
Sasaran pemenuhan kebutuhan gizi adalah pertumbuhan
optimal tanpa defisiensi gizi (Truswell, 2001).
3. Dampak Status Gizi dalam Siklus Kehidupan
Kelompok umur yang rentan terhadap penyakit-penyakit
kekurangan gizi adalah kelompok bayi dan anak balita.
Oleh sebab itu, indikator yang paling baik untuk mengukur
status gizi masyarakat adalah melalui status gizi balita
(Brown, 2011; Gibson, 2005; Truswell, 2012).

Gambar 1 Dampak Nutrisi dalam Siklus Pertumbuhan

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gizi Kurang
Faktor penyebab kurang gizi telah diperkenalkan Unicef
dan digunakan secara internasional (Unicef, 2013, 2015):

Universitas Indonesia

9

Gambar 2 Penyebab dan Konsekuensi Gizi Kurang
(Unicef, 2015)

5. Penilaian Antropometri

Penilaian status gizi terdiri dari penilaian langsung dan

penilaian tidak langsung (Eastwood, 2003; Gibson, 2005).

Di Indonesia kategori dan ambang batas status gizi dengan

indeks antropometri anak menggunakan tabel berikut:

Tabel

Katagori Indeks Z-Skor PB/U Anak Usia 0-60 Bulan

Indeks Kategori Status Ambang Batas z-skor

Gizi

(PB/U) Sangat Pendek <-3 SD

atau Pendek -3 SD sampai dengan <-2 SD

(TB/U) Normal -2 SD sampai dengan 2 SD

Tinggi >2 SD

Sumber : (Kementerian Kesehatan RI, 2010)

B. Asupan Makanan
Asupan makanan adalah semua jenis makanan dan
minuman yang dikonsumsi setiap hari. Secara umum
asupan makanan berhubungan dengan gizi masyarakat atau
individu (Turner, Nielsen, & Madsen, 2009). Asupan

Universitas Indonesia

10

makanan suatu kelompok masyarakat atau individu
merupakan estimasi keadaan gizi kelompok masyarakat
atau individu. Beberapa penelitian menunjukkan adanya
hubungan yang bermakna antara asupan makanan pada
suatu kelompok, seperti penganekaragaman konsumsi
dengan status antropometri pada anak (Kam, Salse-ubach,
Roll, & Swarthout, 2016; Ramakrishnan, Nguyen, &
Martorell, 2018) .

Pengaturan asupan makanan selanjutnya harus disesuaikan
dengan usia anak. Asupan makanan harus mengandung
energi dan semua zat gizi (karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan mineral) yang dibutuhkan pada tingkat usianya.
Pemberian makanan yang bertahap dan bervariasi dimulai
dari usia >6 bulan hingga makanan keluarga (Arora, 2009).

Keamanan pangan rumah tangga terdiri dari empat faktor:
ketersediaan, akses, stabilitas, dan pemanfaatan. Rumah
tangga tangga harus memiliki cukup makanan, memiliki
sumber daya yang cukup untuk mendapatkannya dan dapat
mengkonsumsinya, untuk memiliki kehidupan yang aktif
dan sehat (FAO, 2011).

Faktor-faktor yang mempengaruhi asupan makan pada anak
terdiri atas (Victor R., Ronald Ross, & Martin, 2017).
Pertama, faktor internal, meliputi nafsu makan balita;
kebiasaan makan (konsumer pasif); rasa bosan, tidak
senang, ketidakbebasan; psikologis balita; dan keadaan
penyakit. Faktor eksternal berkaitan dengan mutu makanan
seperti cita rasa, penampilan, dan waktu makan, sikap
penyaji, alat saji, dan lingkungan.

Universitas Indonesia

11

Tiga tahap pengukuran asupan makanan meliputi: (1)
pengukuran asupan makanan; (2) perhitungan asupan gizi;
dan (3) evaluasi asupan gizi dalam kaitannya dengan
rekomendasi. Metode untuk mengukur konsumsi atau
asupan makanan individu dapat diklasifikasikan menjadi
dua kelompok besar yaitu metode kuantitatif meliputi
Recall dan Record, metode kualitatif meliputi Diet History
dan Food Frequency (Gibson, 2005; Truswell, 2001).

Energi dan zat gizi yang dibutuhkan oleh setiap anak sangat

ditentukan oleh umur, jenis kelamin, dan umur.

Berdasarkan angka kecukupan gizi rata-rata dianjurkan

bagi anak khususnya zat gizi makro disajikan pada tabel

berikut :

Tabel 2. Angka Kecukupan Gizi Rata-Rata yang Dianjurkan

Kelompok BB TB Energi Protein Lemak KH
Umur (kg) (cm) (kkal) (gr) Total (gr) (gr)

0-6 bulan 6 61 550 12 34 58

7-11 bulan 9 71 725 18 36 82

1-3 tahun 13 91 1125 26 44 155

4-6 tahun 19 112 1600 35 62 220

7-9 tahun 27 130 1850 49 72 254

Sumber : Kemenkes, 2014

Prinsip Pemberian Makanan Balita
Meliputi :
a) Jadwal makan, baik itu makan utama maupun selingan,

diberikan teratur dan terencana.
b) Di antara waktu makan anak hanya boleh mengonsumsi

air putih dan jangan terlalu banyak.
c) Lingkungan pun diusahakan bersifat netral, tidak ada

paksaan atau hukuman bagi anak walaupun hanya
makan 1-2 suap.

Universitas Indonesia

12

C. Konsep Ikan
Ikan terdiri dari ikan air tawar, ikan air payau, dan ikan laut.
Ketiganya adalah makanan sumber protein yang sangat
penting untuk pertumbuhan tubuh. Ikan mengandung 18 %
protein, terdiri dari asam-asam amino esensial yang tidak
rusak pada waktu pemasakan. Kandungan lemaknya 1-20
% yang mudah dicerna, serta langsung dapat digunakan
oleh jaringan tubuh. Kandungan lemaknya sebagian besar
adalah asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan dapat menurunkan kolesterol darah
(Bandoh & Kenu, 2017a; Mlauzi, 2017).

Ikan sering disebut sebagai makanan untuk kecerdasan,
karena kandungan protein yang tinggi tersebut. Menu
sehari-hari yang didominasi oleh hidangan ikan, akan
memberikan sumbangan yang tinggi pada jaringan tubuh,
terutama pada anak-anak. Absorpsi protein ikan lebih tinggi
dibandingkan daging sapi, ayam, dan lain-lain. Hal ini
disebabkan oleh sifat daging ikan yang mempunyai serat-
serat protein lebih pendek daripada serat-serat protein
daging sapi atau ayam, sehingga ikan dan hasil produknya
banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengalami
kesulitan pencernaan. Vitamin yang ada dalam ikan juga
bermacam-macam, yaitu vitamin A, D, Thiamin,
Riboflavin, dan Niacin. Ikan juga mengandung mineral
yang kurang lebih sama banyaknya dengan mineral yang
ada dalam susu seperti kalsium (Kawarazuka, 2017;
Kristinsson & Rasco, 2000; Lovell, 1998).

Berikut adalah kandungan nutrisi ikan laut untuk kesehatan
(Bandoh & Kenu, 2017b; Kaushik & Seiliez, 2010;

Universitas Indonesia

13

Kristinsson & Rasco, 2000; Toppe, n.d.) antara lain adalah
sebagai berikut:
1. Protein

Protein yang terkandung pada daging ikan terdiri dari
serat protein yang lebih pendek dari protein daging sapi
atau ayam, sehingga lebih mudah diserap dan dicerna
oleh tubuh. Selain itu, kandungan protein dapat
merangsang pertumbuhan sel otak balita. Kandungan
protein pada ikan bertindak untuk merangsang
pertumbuhan sel-sel otak pada bayi yang disebut
dengan taurine.
2. Lemak
Kandungan asam lemak tak jenuh dapat menyimpan
tingkat kolesterol di dalam darah dan bantuan dari asam
lemak Omega 3 dapat menurunkan kadar kolesterol
darah. Kandungan dari asam lemak Omega 3 dapat
membantu meningkatkan pertumbuhan sel-sel otak
janin, bayi dan balita, serta dapat membantu
meningkatkan sistem kekebalan tubuh
3. Vitamin
Kandungan vitamin yang terdapat pada ikan laut dapat
menjaga kesehatan mata dan mencegah kebutaan pada
anak-anak
4. Mineral
Mineral dalam ikan laut membantu menjaga kesehatan.
Zat besi dapat mencegah anemia, sedangkan
kandungan iodium dapat mencegah penyakit gondok
dan membantu pertumbuhan anak serta meningkatkan
kecerdasannya. Kandungan selenium dapat membantu
metabolisme tubuh, sebagai anti-oksidan, dan
mencegah penyakit degeneratif. Selenium dengan
Vitamin E dapat membantu elastisitas jaringan tubuh

Universitas Indonesia

14

sehingga dapat mencegah terjadinya penuaan dini.
Kandungan seng pada ikan dapat membantu
pembentukan enzim dan hormon dalam tubuh. Adapun
manfaat Fluor berfungsi untuk memperkuat dan
menyehatkan gigi.

D. Sosial Demografi, Ekonomi dan Budaya
Beberapa faktor sosial-demografis seperti usia ibu atau
pengganti ibu, tingkat pendapatan, tingkat melek agama,
tingkat Pendidikan ibu, jenis kelamin anak dapat
mempengaruhi status gizi anak dalam bentuk yang berbeda
pada masyarakat perkotaan (Omondi & Kirabira, 2016).

E. Karakteristik Balita
Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita)
dan anak prasekolah (3-5 tahun). Cara mudah mengetahui
baik tidaknya pertumbuhan bayi dan balita adalah dengan
mengamati grafik pertambahan dan tinggi badan yang
terdapat pada Kartu Menuju Sehat (KMS). Proses tumbuh
kembang pada anak memiliki kebutuhan yang harus
terpenuhi, yakni: kebutuhan akan gizi (asuh), kebutuhan
emosi dan kasih sayang (asih), kebutuhan stimulasi dini
(asah) (Abrahamsson & Andersson, 2006; Amed,
Aboubakary, & Kouakou, 2018; Eastwood, 2003).

F. Program Penanggulangan Masalah Gizi
Gambaran keterkaitan intervensi spesifik dengan beberapa
sektor lain dalam populasi target berbeda.

Universitas Indonesia

15

Gambar 3. Kerangka Konsep Program Gizi
Unicef (Unicef, 2016)

Gambar 4. Konsep Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi
(Kementerian PPN/Bappenas, 2018)

G. Konsep Gizi Seimbang
Gizi seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang
mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai
dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip
keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup
bersih dan mempertahankan berat badan normal. Gizi
seimbang untuk bayi 0-6 bulan hanya ASI dan usia 6-24
bulan ASI + MP-ASI.

Universitas Indonesia

16

Gambar 5. Tumpeng Gizi Seimbang

Gambar 6 Isi Piringku : Sajian Sekali Makanan

Pesan berikutnya adalah perbanyak makan sayuran dan
cukup buah-buahan, biasakan mengonsumsi lauk pauk yang
mengandung protein tinggi, biasakan mengonsumsi aneka
ragam makanan pokok, batasi konsumsi pangan manis, asin
dan berlemak; biasakan sarapan, minum air putih yang
cukup dan aman, membaca label pada kemasan pangan,
cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir dan
lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat
badan normal (Kementerian Kesehatan RI, 2014)
Pesan gizi seimbang untuk anak 6-24 bulan: lanjutkan
pemberian ASI sampai umur 2 tahun dan berikan makanan

Universitas Indonesia

17

pendamping ASI (MP-ASI) mulai usia 6 bulan. Pesan gizi
seimbang untuk anak usia 2-5 tahun: biasakan makan 3 kali
sehari (pagi, siang, dan malam) bersama keluarga,
perbanyak mengonsumsi makanan kaya protein seperti ikan,
telur, tempe, susu dan tahu, perbanyak mengonsumsi
sayuran dan buah-buahan. batasi mengonsumsi makanan
selingan yang terlalu manis, asin dan berlemak dan biasakan
bermain bersama dan melakukan aktivitas fisik setiap hari.
H. Pendidikan Gizi
Pendidikan gizi merupakan kombinasi dari strategi
pendidikan yang disertai dengan dukungan lingkungan.
Tahapan edukasi gizi terbagai atas tahapan atau fase
motivasi (precontemplation, contemplation) dan fase aksi
(decision, action dan maintain). Tujuan dan perubahan
perilaku gizi yang diinginkan perlu mempertimbangkan
tahapan yang ada pada masing-masing fase tersebut
(Contento, 2007; Glanz, Rimer, & Viswanath, 2008; Unicef,
2013):

Gambar 7 Kerangka Konsep Edukasi Gizi

Universitas Indonesia

18

Konten pendidikan gizi antara lain meliputi makanan dan
gizi dengan kesehatan pribadi, seperti hubungan antara diet
dan kesehatan, makanan sehat dan seimbang yang
direkomendasikan, bagaimana mendapatkan nutrisi terbaik,
keamanan makanan, menyusui, bagaimana mendapatkan
anak-anak untuk makan lebih sehat, sarapan, keseimbangan
makan dan aktivitas fisik, mengatasi penyakit kronis terkait
diet (Contento, 2007).

I. Konsep Perilaku
Proses pembentukan dan atau perubahan perilaku
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam
dan dari luar individu itu. Faktor-faktor tersebut antara lain:
susunan saraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, proses
belajar, lingkungan dan sebagainya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku
dibedakan menjadi dua, yakni faktor internal dan eksternal.
Faktor internal mencakup pengetahuan, kecerdasan,
persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi
untuk mengolah rangsangan dari luar. Faktor eksternal
meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun nonfisik
seperti: iklim, manusia, sosial-ekonomi, kebudayaan, dan
sebagainya (Hornik, 2002; Shumaker, Ockene, & Riekert,
2009).

Perubahan tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut, bila
penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui
proses yang didasari oleh pengetahuan. Kesadaran dan sikap
yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng
(long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak disadari

Universitas Indonesia

19

oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak
berlangsung lama (Shumaker et al., 2009; Wallerstein &
Bernstein, 1988).
J. Kerangka Teori Penelitian

K. Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 10. Kerangka Konsep Penelitian

Universitas Indonesia



METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Gambar 11. Rancangan Penelitian

1. Tahap I : Tahap Kualitatif
Tahap penelitian pendekatan kualitatif melalui
wawancara dan observasi pada 20 keluarga yang
mempunyai balita 12-24 bulan untuk memperoleh guna
merancang materi dan strategi edukasi gizi yang akan
diberikan pada kelompok ibu balita intervensi .

2. Tahap II : Tahap Kuantitatif
Intervensi gizi dilakukan pada 2 kelompok perlakukan
dan 1 kelompok kontrol sebagai pembanding. Intervensi
yang diberikan kepada kelompok perlakuan sesuai
dengan jenis intervensi. Intervensi diberikan selama 12
minggu kepada kelompok sasaran yang terdiri dari 10-
15 ibu balita per kelompok.

21 Universitas Indonesia

22

B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada 8 kelurahan yang berada pada
masing-masing Puskesmas terpilih yang berada dibawah
Dinas Kesehatan Kota Bengkulu tahun 2019. Berdasarkan
Profil Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, terdapat 20
Puskesmas yang tersebar di 9 Kecamatan di Kota Bengkulu.

C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh balita (usia >12-
24 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu
tahun 2018-2019.
2. Sampel
Sampel penelitian ini adalah balita di 8 kelurahan pada 5
puskesmas terpilih dalam kota Bengkulu tahun 2018
hingga 2019 berusia >12-24 bulan. Saat dimulainya
intervensi anak berusia 12-18 bulan.
3. Besar Sampel
Besar sampel penelitian ini dihitung menggunakan
rumus uji hipotesis beda mean (Lemeshow, Jr, Klar, &
Lwanga, 1990) :

Berdasarkan beberapa penelitian (Shams, Mostafavi, &

Hassanzadeh, 2016) ; (Mahfuz et al., 2019); (Kam et al., 2016)

dan rumus perhitungan, besar sampel penelitian ini 30
ibu balita per kelompok.
4. Teknik Pengambilan Sampel (Sampling)
Teknik pengambilan sampel secara multistage sampling
dengan kriteria inklusi dan eksklusi :
Kriteria Inklusi:

Universitas Indonesia

23

(a) Mempunyai balita usia 12-18 bulan (baseline)
(b) Tercatat di Posyandu dalam wilayah kerja

puskesmas terpilih
(c) Menetap menurut registrasi pemerintah setempat
(d) Mempunyai kemampuan baca tulis (melek huruf)
Kriteria Eksklusi :
(a) Balita menderita kelainan kongenital
(b) Tidak menandatangani informed consent penelitian

D. Intervensi
Jenis intervensi yang akan diberikan meliputi:
1. Kelompok Kontrol (Pembanding)
Þ Intervensi program dinas kesehatan kota
Þ Pertemuan tatap muka setiap bulan sebelum
dilakukan pengukuran variabel penelitian.
Þ Pertemuan tatap muka setiap bulan sebelum
dilakukan pengukuran variabel penelitian.
2. Kelompok Intervensi Edukasi Teori (Edu-T)
Þ Intervensi program dinas kesehatan kota
Þ Diberikan leaflet berisi materi berbeda setiap
minggu melalui pertemuan tatap muka 1 kali per
minggu selama 12 minggu durasi maksimal 60
menit metode ceramah dan tanya jawab.
3. Kelompok Intervensi Edukasi Teori dan Praktik
(Edu-TP)
Þ Intervensi program dinas kesehatan kota
Þ Diberikan leaflet berisi materi teori disertai dan
praktik setiap minggu melalui pertemuan tatap
muka 1 kali per minggu selama 12 minggu dengan
alokasi waktu maksimal 120 menit metode simulasi
dan demontrasi.

Universitas Indonesia

24

Tabel 3.

Jadwal dan Lokasi Pertemuan Kelompok Intervensi

Hari Waktu Kelurahan Kelompok/Grup

Senin Pukul 10.00 WIB Malabero Edu-TP-Grup A

Pukul 12.00 WIB Malabero Edu-TP-Grup B

Pukul 16.00 WIB Lempuing Edu-T-Grup A

Selasa Pukul 10.00 WIB Sumur Meleleh Edu-TP

Pukul 16.00 WIB Lempuing Edu-T-Grup B

Rabu Pukul 16.00 WIB Berkas Edu-T

Kamis Pukul 10.00 WIB Pasar Baru Edu-T-Grup A

Pukul 16.00 WIB Pasar Bengkulu Edu-TP

Jumát Pukul 16.00 WIB Pasar Baru Edu-T-Grup B

Tabel 4. Tema dan Sub Tema Materi Edukasi

Pertemuan Tema/Sub Tema

Pertemuan 1 Pemantauan status gizi anak
Pertemuan 2 Pengenalan gizi
Pertemuan 3 Kebersihan diri dan lingkungan
Pertemuan 4
Pertemuan 5 Pemenuhan gizi balita
Pertemuan 6 Pengenalan ikan dalam menu anak balita
Potensi ikan bleberan (thryssa sp) dalam menu
Pertemuan 7 balita
Pertemuan 8 Adonan dasar ikan bleberan (thryssa sp)

Pertemuan 9 Empek-empek ikan bleberan (thryssa sp)
Pertemuan 10 Sosis ikan bleberan (thryssa sp)*
Bakso ikan bleberan (thryssa sp)
Pertemuan 11 Nugget ikan bleberan (thryssa sp)
Pertemuan 12 Rollade ikan bleberan (thryssa sp)*
Kue telur ikan bleberan (thryssa sp)

Keripik ikan bleberan (thryssa sp)
Kerupuk ikan bleberan (thryssa sp)

E. Intrument Pengumpulan Data
Intrument yang digunakan adalah kuesioner, daftar cocok,
pedoman observasi, For FFQ, Form Recall,

F. Pengumpulan Data
Periode pengumpulan data variabel dilakukan secara
periodik saat pra intervensi (baseline), periode intervensi,
post intervensi (endline) seperti pada tabel berikut:

Universitas Indonesia

25

Tabel 5. Periode Pengumpulan Data Variabel Penelitian

Variabel Base Intervensi Endline
Penelitian
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3

Sosekdemografi Ö

Riwayat Sakit ÖÖ Ö Ö Ö

Perilaku Hgiene Sanitasi Ö Ö Ö Ö Ö

Perilaku Gizi ÖÖ Ö Ö Ö

Asupan Makanan ÖÖ Ö Ö Ö

Antropometri ÖÖ Ö Ö Ö

G. Persetujuan Etik (Ethical Clearance)
Persetujuan dikeluarkan oleh Komisi Etik FKM Universitas
Indonesia No. : 697/UN2.F10/PPM.00.02/2018.

H. Analisis Data
1. Analisis Data Kualitatif
(a) Deskripsi informan
(b) Expanded field notes à transcript
(c) Mengatur (organisasi) data
(d) Kategorisasi data
(e) Meringkas data ke dalam matriks
(f) Mengidentifikasi variabel dan hubungan antar
variabel
2. Analisis Data Kuantitatif
Analisis statistik diawali uji kenormalan distribusi data
numerik dan karakteristik masing-masing variabel
terutama variabel output berskala interval atau rasio,:
a) Analisis Univariat : Proporsi-Mean-SD-95% CI
b) Analisis Bivariat : ANOVA, Korelasi, Paired T-Test
c) Analisis Multivariat : Anvoca
Kriteria uji statistik :
a) Bila nilai p < 0,05 maka hasil perhitungan statistik
signifikan, ini berarti ada perbedaan/pengaruh.
b) Bila nilai p > 0,05 maka hasil perhitungan statistik tidak
signifikan, ini berarti tidak ada perbedaan/pengaruh.

Universitas Indonesia

26

I. Validitas Data
Validasi data didukung melalui :
Membentuk tim penelitian, persamaan persepsi antar
anggoa tim, pelatihan enumerator, penambahan besar
sampel 30%, penggunaan alat ukur, kuesioner, form dan
borang terstandart.

Universitas Indonesia

HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Lokasi Penelitian

Kota Bengkulu terletak di kawasan pesisir yang
berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Kota ini
memiliki luas wilayah 144,52 km² dengan ketinggian rata-
rata kurang dari 500 meter. Pada tahun 2003 Kota Bengkulu
mengalami pemekaran wilayah, yang semula 4 kecamatan
dengan 57 Kelurahan menjadi 9 kecamatan dan 67
kelurahan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bengkulu
No. 28 tahun 2003.

Gambar 4.1 Peta Lokasi Penelitian

27 Universitas Indonesia

28

B. Gambaran Umum Subjek Penelitian

Tabel 4.1 Karakteristik Balita Subjek Penelitian

Karakteriktik Kontrol (n=28) Edu-T (n=27) Edu-TP (n=29) Nilai
p
Individu Jumlah % Jumlah % Jumlah %
0.153
Umur Anak (Bulan)
0.775
Mean ± SD 15.20 ± 0.5 14.30 ± 0.45 16.37 ± 0.51 0.077

(Min. – Mak.) (14-18) (13-18) (13-18)

Jenis Kelamin Anak

Laki-laki 15 53.6% 12 44.4% 15 51.7%

Perempuan 13 46.4% 15 55.6% 14 48.3%

Riwayat Sakit Baseline

Ya 9 32.1% 13 48.1% 18 62.1%

Tidak 19 67.9% 14 51.9% 11 37.9%

Tabel 4.1 menunjukkan rata-rata umur termuda pada

kelompok Edu-T dengan proporsi jenis kelamin laki-laki

terbanyak ditemukan pada kelompok kontrol (53.6%).

Proporsi riwayat sakit baseline tertinggi ditemukan pada

kelompok Edu-TP (62.1%). Berdasarkan analisis beda rata-

rata dan beda proporsi karakteristik anak, tidak ditemukan

perbedaan bermakna diantara ketiga kelompok penelitian

baik umur, jenis kelamin maupun riwayat sakit (nilai

p>0.05).

Tabel 4.2 Karakteristik Ibu Balita Subjek Penelitian

Karakateristik Kontrol (n=28) Edu-T (n=27) Ed-TP(n=29) Nilai
p
Individu Jumlah % Jumlah % Jumlah %
0.672
Umur Ibu (tahun)
0.595
Mean ± SD 28.76 ± 5.75 28.90 ± 5.37 29.72 ± 5.21
0.838
(Min. – Mak.) (28-39) (18-38) (20-42)
0.474
Pendidikan Ibu 13 46.4% 9 33.3% 9 31.0%
Rendah (SD/SMP)

Menengah (SMA) 12 42.9% 14 51.9% 18 62.1%

Tinggi (PT) 3 10.7% 4 14.8% 2 6.9%

Pekerjaan Ibu

Bekerja 3 10.7% 4 14.8% 3 10.3%

Tidak Bekerja 25 89.3% 23 85.2% 26 89.7%

Pendapatan Keluarga

< UM (Rp 2.387.000,-) 16 57.1% 18 66.7% 21 72.4%

=> UM (Rp 2.387.000,-) 12 42.9% 9 33.3% 8 27.6%

Tabel 4.2 menunjukkan umur termuda pada
kelompok kontrol (28.76 tahun). Proporsi terbesar kategori
ibu tidak bekerja pada kelompok kontrol (89.3%). Proporsi

Universitas Indonesia

29

tertinggi katagori pendapatan tetap rata-rata keluarga per
bulan< UM Kota ditemukan pada kelompok Edu-TP
(72.4%), diketahui besaran upah minimal Kota Bengkulu
tahun 2020 yang ditetapkan Gubernur Bengkulu adalah
sebesar Rp 2.387.000,-. (Gubernur Bengkulu, 2020).
Berdasarkan analisis beda rata-rata dan beda proporsi, tidak
ditemukan perbedaan bermakna antara ketiga kelompok
subjek penelitian (nilai p>0.05). Bedasarkan data Statistik
Indonesia tahun 2019 menunjukkan bahwa, jumlah anak
usia 0-4 tahun (23.729.6`juta) merupakan kelompok
penduduk tertinggi kedua setelah kelompok usia 5-9
tahun (23.878.4 juta). Sehingga penelitian ini sejalan
dengan proporsi jenis kelamin laki-laki pada kelompok
umur 0-4 tahun yang menunjukkan laki-laki sekitar 51.02%
pada lebih banyak dibandingkan perempuan sekitar
48.98%.

Beberapa literatur menunjukkan bahwa risiko
masalah gizi dapat ditentukan oleh jenis kelamin, karena
secara struktur anatomi dan biologis ada perbedaan antara
laki-laki dan perempuan termasuk balita, termasuk status
gizi. Anak perempuan relatif lebih banyak mengalami
gangguan status gizi bila dibandingkan dengan anak laki-
laki (Mushaphi et al., 2015).

Penyebab masalah gizi balita secara langsung salah
satunya adalah penyakit infeksi (Turner et al., 2009; Unicef
South Asia, 2017). Masa balita merupakan periode penting
dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan
dan pertumbuhan dimasa itu menjadi penentu keberhasilan
pertumbuhan dan perkembangan anak periode selanjutnya.

Umur ibu menurut beberapa penelitian berkenaan
dengan kemampuan reproduksi, pada usia 20-35 tahun

Universitas Indonesia

30

merupakan usia yang baik untuk melahirkan. Masalah gizi
pada anak tidak lepas dari masalah gizi yang dialami ibu
selama hamil, ibu yang mengalami masalah gizi saat hamil
(kurang energi kalori dan anemia) cenderung melahirkan
anak yang berat badannya kurang (BBLR). Berat badan
lahir yang tidak normal cenderung mempengaruhi
pertumbuhan anak (Osei et al., 2017).

Pendidikan berhubungan dengan pekerjaan, ibu yang
berpendidikan tinggi cenderung untuk bekerja di luar
rumah, sehingga waktu dan perhatian untuk keluarga lebih
sedikit. Menurut penelitian Omondi dan Kirabian, 2016
menyebutkan bahwa pendidikan ibu, pendapatan, dan usia
ibu berhubungan dengan masalah gizi pada anak, baik
stunting maupun wasting (Omondi & Kirabira, 2016).

C. Pengaruh Model Intervensi Gizi Terhadap Perilaku

Tabel 4.5 Pengaruh Model Intervensi terhadap Skor Perilaku

Skor Kontrol (n=28) Edu-T (n=27) Edu-TP (n=29) Nilai
p
Perilaku Mean ± SD Mean ± SD Mean ± SD
0.004*
Perilaku Hygiene Sanitasi 55.86 ± 10.85 60.61 ± 13.25 66.17 ± 9.78a 0.009*
Baseline 0.147

Endline 63.51 ± 5.62 69.22 ± 8.54a 69.08 ± 8.66a 0.000*
Δ (Baseline-Endline) 7.65 ± 9.65 8.56 ± 11.32 2.91± 6.77 0.000 *
Persentase Δ 0.082
13.69% 14.12% 4.40%

Nilai p Baseline-Endline 0.005** 0.041** 0.002**

Perilaku Gizi 50.68 ± 11.06 60.78 ± 9.48a 64.31 ± 11.42a
Baseline 49.57 ± 7.31 65.35 ± 9.01a 67.49 ± 4.93a
Endline

Δ (Baseline-Endline) -1.11 ± 7.52 4.57 ± 10.71 3.18 ± 10.57
Persentase Δ -2.19% 7.52% 4.94%
Nilai p Baseline-Endline 0.405 0.004** 0.036**

Skor perilaku hygiene sanitasi makanan pada abel 4.5
menunjukkan rata-rata setelah 3 bulan intervensi (endline)
tertingg pada kelompok Edu-T Perbedaan bermakna antara
ketiga kelompok ditemukan pada baseline (p=0.004) dan
endline (nilai p=0.09). Perubahan bermakna antara skor
perilaku baseline dan endline ditemukan dalam masing-

Universitas Indonesia

31

masing kelompok (p<0.05), dengan perubahan skor
tertinggi baseline-endline ditemukan pada kelompok Edu-
T (8.56 atau 14.12%). Namun demikian, besarnya
perubahan tidak berbeda di tiga kelompok perlakuan
(p=0.147).

Skor perilaku gizi baseline pada tabel 4.5 di tiga
kelompok perlakuan ternyata menunjukkan perbedaan
(p=0.000) dimana kelompok Edu-TP mempunyai skor
tertinggi dibanding kelompok yang lain. Demikian juga
skor saat endline terdapat perbedaan (p=0.000) di tiga
kelompok. Namun besarnya perubahan setelah tiga bulan
intervensi tidak berbeda antar tiga kelompok (p=0.082).
Selanjutnya jika dilihat dari setiap kelompok, ternyata
kelompok Edu-T dan Edu-TP mengalami perubahan skor
yang bermakna antara baseline dan endline (p=0.004 dan
p=0.036), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan
perubahan skor (p=0.405). Perubahan skor terbesar adalah
pada kelompok Edu-T (4.57 atau 7.52%).

Lingkungan tempat tinggal kelompok kontrol saat
penelitian ini berlangsung, sedang menjadi lokasi program
Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota
Bengkulu (Dinas PUPR). Sementara lokasi kellompok Edu-
T dan Edu-TP tidak menjadi daerah program Dinas PUPR.

Prinsip higiene dan sanitasi makanan adalah
pengendalian terhadap empat faktor penyehatan makanan
yaitu faktor tempat/bangunan, peralatan, orang, dan bahan
makanan. Sedangkan prinsip higiene sanitasi makanan
untuk mengendalikan kontaminasi makanan.

Perilaku merupakan kebiasan yang dapat berdampak
pada faktor lain penyebab masalah gizi lainya, perubahan
perilaku memerlukan waktu lama untuk menjadi
pembiasaan sehari-hari, misalnya perilaku ibu dalam

Universitas Indonesia

32

menjamah makanan selama menyiapkan dan memberikan
makanan. Perilaku ini juga sangat ditentukan ketersediaan
sarana dan prasarana lainnya, misalnya ketersediaan air
bersih dan kebersihan lingkungan tempat tinggal.

Perilaku gizi ibu dalam memberikan makanan akan
mempengaruhi asupan makanan pada balita sebagai
konsumen pasif, termasuk penggunaan beraneka ragam
bahan yang digunakan dalam menu sehari-hari. Unsur zat
gizi yang terkandung dalam setiap bahan makanan akan
berbeda, seperti sumber energi atau karbohidarat banyak
terdapat pada sumber makanan pokok, protein pada sumber
lauk hewani dan nabati, vitamin dan mineral pada sumber
buah dan sayuran. Pemberian makanan yang membatasi
pada sumber-sumber tertentu akan mengganggu
kelengkapan zat gizi, terutama pada anak-anak yang tidak
suka sayuran atau buah.

D. Pengaruh Model Intervensi Gizi terhadap Asupan

Tabel 4.6 Pengaruh Model Intervensi terhadap Persentase Angka Kecukupan

Asupan Kontrol (n=28) Edu-T (n=27) Edu-TP (n=29) Nilai p

Makanan Mean ± SD Mean ± SD Mean ± SD

% AKE

Baseline 47.41 ± 18.74 52.61 ± 24.35 53.81 ± 20.21 0.495

Endline 63.91 ± 19.59 57.03 ± 16.35 69.19 ± 19.68 0.782

Δ (Baseline-Endline) 16.50 ± 21.72 4.41 ± 23.95 15.38 ± 22.60 0.894

Persentase Δ 34.80% 8.38% 28.58

Nilai p Baseline-Endline 0.008** 0.073 0.011**

% AKP

Baseline 76.55 ± 37.87 109.12 ± 67.42 105.55 ± 87.06 0.570
Endline 110.27 ± 41.66 110.55 ± 35.40 122.57 ± 40.44 0.473

Δ (Baseline-Endline) 33.71 ± 37.59 1.44 ± 65.54 17.02 ± 95.13 0.966

Persentase Δ 44.04% 1.32% 16.13%
Nilai p Baseline-Endline 0.005** 0.023** 0.005**

Rata-rata %AKP tabel 4.6 antar kelompok tidak
menunjukkan perbedaan saat baseline (p=0.495), saat
endline (p=0.782) dan perubahan yang terjadi setelah tiga

Universitas Indonesia

33

bulan perlakuan (p=0.894). Sedangkan hasil uji
berpasangan menunjukkan setelah perlakuan selama 3
bulan, terdapat perubahan %AKE saat baseline
dibandingkan endline di kelompok perlakuan Edu-TP
(p=0.011) dan kelompok kontrol (p=0.008). Persentase
perubahan terbesar terlihat pada kelompok kontrol (34.8%),
diikuti Edu-TP (28.58%) dan terkecil Edu-T (8.38%).

Rata-rata %AKP pada tabel 4.6 antar kelompok tidak
menunjukkan perbedaan saat baseline (p=0.570), saat
endline (0.473) dan perubahan yang terjadi setelah tiga
bulan perlakuan (p=0.966). Sedangkan hasil uji
berpasangan menunjukkan setelah perlakuan selama 3
bulan, terdapat perubahan %AKP saat baseline
dibandingkan endline pada semua kelompok (p=0.005),
Edu-T (p=0.023) dan Edu-TP (p=0.005). Perubahan
terbesar terlihat pada kelompok kontrol (16.50.%), diikuti
Edu-TP (15.38%) dan terkecil Edu-T (4.41%).

Kebutuhan energi individu untuk metabolism basal
adalah 70% kebutuhan energi total, sehingga kecukupan
energi ini harus segera dipenuhi. Kecukupan energi ini
merupakan perbadingan asupan energi rata-rata individu
terhadap angka kecukupan yang dianjurkan, yaitu sebesar
1.125 kalori perhari untuk anak usia 1-3 tahun. Jadi untuk
metabolism basal, minimal sekitar 787.5 kalori per hari.
Jika kebutuhan ini dalam waktu lama tidak terpenuhi, maka
tubuh akan melalukan metabolism dari cadangan energi otot
bahkan dari simpanan lemak tubuh. Sehingga hal ini dapat
menurunkan berat badan, sementara kalua panjang badan,
tidak akan menurut tetapi tumbuhnya tidak optimal.

Energi merupakan hasil metabolisme zat gizi yang
digunakan untuk segala aktivitas fisik. Zat gizi yang banyak
menyumbangkan tenaga adalah kelompok karbohidrat,

Universitas Indonesia

34

protein dan lemak. Karbohidrat banyak diperoleh dari
makanan pokok, sementara protein dan lemak banyak
diperoleh dari lauk pauk. Kebutuhan energi pada setiap
individu tidak sama, terutama dipengaruhi oleh usia, jenis
kelamin dan aktivitas. Berdasarkan kebutuhan energi atau
kalori, salah satu kelompok kebutuhan energi adalah energi
basal yaitu jumlah kalori yang dibakar tubuh untuk tetap
bertahan hidup misalnya untuk menjaga fungsi organ dan
fungsi tubuh dengan benar, menurut beberapa penelitian
jumlahnya sekitar 70% dari total kebutuhan energi.

Energi yang diperoleh dari asupan makanan, setelah
memenuhi kebutuhan basal meabolisme, aktivitas fisik dan
kebutuhan lainnya. Kelebihan energi selanjutnya akan
disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi
dalam jangka pendek dan bentuk lemak sebagai cadangan
jangka panjang melalui berbagai tahap metabolisme.
Sebaliknya jika mengalami kekurangan energi, dalam
waktu singkat tubuh menggunakan simpanan cadangan
energi yang tersimpan sebelumnya melalui berbagai
mekanisme atau metabolisme. Kekurangan energi dalam
waktu lama dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.

Tabel 4.7 Pengaruh Model Intervensi terhadap Asupan Protein Ikan

Asupan Kontrol (n=28) Edu-T (n=27) Edu-TP (n=29) Nilai p

Makanan Mean ± SD Mean ± SD Mean ± SD

Protein Ikan 2.52 ± 3.74 3.30 ± 5.96 2.70 ± 6.98 0.192
Baseline

Endline 1.81 ± 2.59 4.62 ± 4.35a 6.37 ± 4.25a 0.002*
Δ (Baseline-Endline) -0.71 ± 4.07 1.32 ± 5.14 3.67 ± 7.11a 0.002*
Persentase Δ
-28.17% 40.00% 135.93%

Nilai p (Paired Baseline-Endline) 0.001** 0.457 0.032**

Protein Ikan Lokal (thryssa sp) 0.26 ± 0.64 0.28 ± 1.02 0.06 ± 0.32 0.349
Baseline 0.00 ± 0.00 0.60 ± 1.15a 0.64 ± 0.99a 0.005*
Endline

Δ (Baseline-Endline) -0.26 ± -0.64 0.31 ± 1.65a 0.58 ± 1.08a 0.004*
Persentase Δ -100.00% 110.71% 966.67%
Nilai p (Paired Baseline-Endline) 0.125 0.046** 0.003**

Universitas Indonesia

35

Rata-rata asupan protein ikan pada abel 4.7
menunjukkan perbedaan bermakna terlihat saat endline
(p=0.002) dan perubahan asupan protein antar ketiga
kelompok (p=0.002). Perubahan terbesar rata-rata asupan
protein ikan terlihat pada kelompok Edu-TP sebesar 3.67
gr/hari (135.93%), sementara pada kelompok kontrol terjadi
penurunan sebesar 0.71 gr/hari (28.17%).

Rata-rata asupan protein ikan lokal (thryssa sp) pada
tabel 4.7 menunjukkan perbedaan bermakna saat endline
(p=0.005) dan perubahan antara baseline dengan endline
(0.004). Perubahan terbesar rata-rata asupan protein ikan
lokal bleberan (thryssa sp) terbesar terlihat pada kelompok
Edu-TP sebesar 0.58 gr/hari (966.67%).

Sebagai salah satu zat gizi makro, protein yang
tersusun atas asam-asam amino juga menyumbang kalori
sebesar 4 kalori setiap gramnya. Fungsi utama protein pada
anak balita adalah membangun jaringan tubuh. Kebutuhan
protein ditentukan berat badan, usia terutama masa
pertumbuhan dan perkembangan, serta mutu protein dari
makanan yang dikonsumsi. Beberapa literatur menyebutkan
bahwa mutu protein sumber bahan makanan hewani lebih
baik dibandingkan rotein nabati, salah satunya ikan
(Purwaningsih,Sri :Salamah, Ella: Deskawati, 2017).

Ikan sering disebut sebagai makanan untuk
kecerdasan, karena kandungan protein yang tinggi tersebut.
Menu sehari-hari yang didominasi oleh hidangan ikan,
akan memberikan sumbangan yang tinggi pada jaringan
tubuh, terutama pada anak-anak. Absorpsi protein ikan
lebih tinggi dibandingkan daging sapi, ayam, dan lain-lain.

Hal ini disebabkan oleh sifat daging ikan yang
mempunyai serat-serat protein lebih pendek daripada serat-
serat protein daging sapi atau ayam, sehingga ikan dan hasil

Universitas Indonesia

36

produknya banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang
mengalami kesulitan pencernaan. Vitamin yang ada dalam
ikan juga bermacam-macam, yaitu vitamin A, D, thiamin,
riboflavin, dan niacin. Ikan juga mengandung mineral yang
kurang lebih sama banyaknya dengan mineral yang ada
dalam susu seperti kalsium (Kawarazuka, 2017; Kristinsson

& Rasco, 2000; Lovell, 1998).

E. Pengaruh Model Intervensi Gizi terhadap Pertumbuhan

Tabel 4.8 Pengaruh Model Intervensi terhadap Pertumbuhan

Pertumbuhan Kontrol (n=28) Edu-T (n=27) Edu-TP (n=29) Nilai p

Panjang Badan Mean ± SD Mean ± SD Mean ± SD

Indeks z-skor PB/U

Baseline -1.36 ± 1.20 -1.39 ± 1.35 -1.16 ± 1.70 0.859

Endline -1.70 ± 1.16 -1.40 ± 1.30 -1.08 ± 1.57 0.481
Δ (Baseline-Endline) -0.34 ± 0.45 -0.01 ± 0.47a 0.08 ± 0.30a 0.000*

Persentase Δ 25.00% 0.72% 6.90%

Nilai p (Paired Baseline-Endline) 0.000** 0.827 0.040**

Kecepatan pertumbuhan (%) 56.28 ± 28.64 87.04 ± 25.70a 98.31 ± 24.18a 0.000*

Rata-rata indeks z-skor PB/U pada tabel 4.8 terdapat
perubahan bermakna indeks z-skor PB/U antar ketiga
keompok. Perubahan terbesar rata-rata indeks z-skor PB/U
terlihat pada kelompok Edu-TP sebesar 0.08 (6.90%),
sedangkan penurunan ditunjukkan oleh kelompok Edu-T
sebesar -0.01 (0.72%) dan kelompok kontrol sebesar -0.34
(25.00%).

Rata-rata kecepatan pertumbuhan panjang badan
pada tabel 4.8, setelah 3 bulan intervensi antara ketiga
kelompok ada perbedaan bermakna (p=0.000). Kecepatan
pertumbuhan tertinggi terlihat pada kelompok Edu-TP
(98.31%) dan terkecil pada kelompok kontrol (56.28%).

Universitas Indonesia

37

F. Pengaruh Perbedaan MIG dan Asupan Makanan
terhadap Kecepatan Pertumbuhan

Tabel 4.14 Pengaruh dan Kontras Perbedaan Model Intervensi Gizi dan Asupan

Protein Ikan terhadap Kecepatan Pertumbuhan

Dependen Sumber Mean Square Nilai p

Kecepatan Pertumbuhan Koreksi Model 7069.410 0.000

Intercept 551585.797 0.000

Protein Ikan Non Lokal 2918.429 0.038

Protein Ikan Lokal 4416.690 0.011

Kelompok 10471.257 0.000

Error 655.494

R2 = 0.353

Adj. R2 = 0.30

Contrast Estimasi SE Nilai p 95% Confident Interval
Lower Upper

Kontras 0.000* 15.289 43.644
Edu-T vs Kontrol 29.467 7.123 0.000*

Edu-TP vs Kontrol 40.736 7.438 0.000* 25.932 55.541
Edu-TP vs Edu T 26.003 6.274 0.000* 13.516 38491

Tabel 4.14 menunjukkan bahwa tanpa pengaruh perbedaan
asupan protein ikan non lokal dan lokal, ada pengaruh
perbedaan model intervensi gizi terhadap kecepatan
pertumbuhan (nilai p =0.000). Sementara tanpa pengaruh
perbedaan model intervensi gizi, ada pengaruh perbedaan
asupan protein ikan non-lokal (p=0.038) dan perubahan
asupan ikan lokal (0.011) terhadap kecepatan
pertumbuhan. Secara simultan ada pengaruh perbedaan
model intervensi gizi, asupan protein ikan non lokal, dan
perubahan asupan protein lokal terhadap kecepatan
pertumbuhan (p=0.000) yaitu sebesar 35.3%. Pengaruh
perbedaan model intervensi gizi terhadap kecepatan
pertumbuhan dengan kovarian perubahan asupan protein
non lokal dan ikan lokal ditemukan pada semua kontras,
dimana kontras tertinggi pada kelompok Edu-TP vs
kontrol.

Banyak faktor yang menentukan pertumbuhan fisik
balita, dibedakan menjadi penyebab langsung meliputi
ketidaksesuaian asupan makanan dan penyakit. Penyebab
tidak langsung meliputi keamanan pangan dalam rumah

Universitas Indonesia

38

tangga, ketidaksesuaian perawatan, serta ketidaksesuaian
pelayanan kesehatan. Penyebab langsung dan tidak
langsung tersebut muncul akibat permasalahan dasar
meliputi akses rumah tangga terhadap kuantitas dan
kualitas sumber daya, berkenaan dengan kemiskinan,
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan teknologi.

Penyebab dasar lainnya adalah ketidastabilan
keuangan, jumlah penduduk, kesehatan dan fungsi social
berkenaan dengan faktor sosial budaya, keadaan ekonomi
dan situasi politik (Unicef, 2015; Unicef, WHO, & Group,
2017).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Busert dkk,
2016 menyatakan bahwa dengan peningkatan keragaman
makanan dapat mengurangi risiko stunting dan
meningkatkan pertumbuhan sebesar 0.09 mm (95% CI:
0.00, 0.17 cm) pada periode pengukuran balita usia 9-69
bulan (Busert et al., 2016). Perbedaan dengan penelitian ini
adalah model intervensi yang diberikan (praktik
penganekaragaman makanan), usia balita (0-59 bulan).

Universitas Indonesia

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan
1. Gambaran karakteristik subjek penelitian :
a) Usia rata-rata balita kelompok kontrol 15.20 bulan,
Edu-T 14.30 bulan dan Edu-TP 16.37 bulan. Proporsi
jenis kelamin laki-laki terbanyak ditemukan pada
kelompok kontrol (53.6%) dan Edu-TP (51.7%),
sementara Edu-T (55.6%) perempuan. Proporsi
riwayat sakit terbanyak ditemukan pada kelompok
Edu-TP (62.1%). Berdasarkan analisis beda rata-rata
dan beda proporsi, tidak ditemukan perbedaan
bermakna antar ketiga kelompok (p>0.05).
b) Usia rata-rata ibu balita kelompok kontrol 28.76
tahun, Edu-T 28.90 tahun, dan Edu-TP 29.72 tahun.
Kategori tingkat pendidikan kelompok kontrol lebih
banyak rendah (46.4%), sementara Edu-T (51.9%)
dan Edu-TP (62.1%) menengah. Proporsi pekerjaan
ibu sebagian adalah katagori tidak bekerja proporsi
tertinggi ditemukan pada Edu-TP (89.7%). Lebih dari
sebagian keluarga mempunyai pendapatan tetap
kurang dari upah minimal kota (Rp 2.387.000,0 per
bulan.) dengan proporsi tertinggi ditemukan pada
kelompok Edu-TP (72.4%). Berdasarkan analisis
bedarata-rata dan beda proporsi, tidak ditemukan
perbedaan bermakna antar ketiga kelompok (p>0.05).
2. Pengaruh model intervensi gizi mampu meningkatkan
rata-rata skor perilaku hygiene sanitasi dan skor perilaku
gizi dengan skor tertinggi pada kelompok Edu-T.

39 Universitas Indonesia

40

3. Pengaruh model intervensi gizi terhadap asupan
menunjukkan:
a) MIG dapat meningkatkan rata-rata %AKE dan
%AKP, persentase peningkatan tertinggi pada
kelompok Edu-TP
b) MIG dapat meningkatkan rata-rata asupan protein
ikan dan asupan protein ikan lokal, persentase
peningkata tertinggi ditemukan pada kelompok Edu-
TP. Hasil uji statistik mennjukkan perbedaan
bermakna atara ketiga kelompok (p<0.05).

4. Pengaruh model intervensi gizi terhadap pertumbuhan
menunjukkan:
a) MIG dapat meningkatkan rata-rata indeks PB/U,
penigkatan tertinggi pada kelompok Edu-TP (0.08).
Hasil uji statistik menunjukkan perubahan bermakna
rata-rata indeks PB/U antar ketiga kelompok (p=0.000).
b) Model intervensi gizi dapat meningkatkan kecepatan
pertumbuhan, kecepatan pertumbuhan tertinggi pada
kelompok Edu-TP (98.31%). Hasil uji statistik
menunjukkan perubahan bermkna kecepatan
pertumbuhan antar ketiga kelompok (p=0.000).

5. Perbedaan model intervensi gizi dengan asupan protein
ikan non lokal dan asupan protein ikan lokal mempengaruhi
kecepatan pertumbuhan (p=0.000). Pengaruh perbedaan
tertinggi ditemukan pada kelompok Edu-TP vs Kontrol
(40.736).

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, beberapa
saran ditujukan kepada :

Universitas Indonesia

41

1. Direktrorat Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI
a) Menyusun pedoman pelaksanaan intervensi
penurunan stunting terintegrasi tingkat kecamatan
atau puskesmas merujuk pedoman KPPN/Bappenas.
b) Menyusun Pedoman Edukasi Gizi sebagai bagian
dari Program Pendidikan Kesehatan Masyarakat
c) Rekomendasi pelaksanaan edukasi gizi dilakukan
secara teori dan praktik
d) Rekomendasi program gizi yang ditujukan pada
balita tanpa gangguan pertumbuhan secara
kontinyu,
e) Rekomendasi program intervensi mengatasi
gangguan pertumbuhan balita memanfaatkan
sumber protein ikan lokal yang ada di wilayah
masing-masing

2. Organisasi Profesi Tenaga Kesehatan
Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dapat
melakukan advokasi kepada pemerintah pusat maupun
dalam merancang program gizi sesuai potensi wilayah.

3. Tenaga Kesehatan
Hasil penelitian menunjukkan model intervensi gizi
secara teori dan praktik lebih baik dalam perubahan
asupan makanan dan kecepatan pertumbuhan.
Sehingga fungsi ini dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan di lapangan, dengan melibatkan pihak terkait
(perangkat desa dan tokoh masyarakat). Setiap masalah
gizi merupakan permasalahan yang komplesitas
penyebab dan solusinya.

4. Ibu Balita
a) Para ibu diharapkan dapat meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan dalam pemenuhan
gizi balita. dengan memanfaatkan potensi sekitar

Universitas Indonesia

42

tempat tinggal, misalnya ikan lokal thryssa sp untuk
wilayah pesisir kota Bengkulu.
b) Para ibu diharapkan dapat membiasakan perilaku
positif (perilaku hygiene sanitasi dan perilaku gizi),
misalnya memakai celemek saat memasak, mencuci
tangan dengan air bersih, menjaga kebersihan rumah
dan lingkungan tempat tinggal sehingga balita dapat
tumbuh secara optimal di lingkungan yang kondusif.
c) Para ibu diharapkan mengatur pola makan balita
dengan memvariasikan makanan dan sumber bahan
makanan.
d) Para ibu dapat membiasakan perawatan anak sesuai
standar kesehatan, seperti rutin memantau
pertumbuhan, pemberian vitamin A dan obat cacing,
dan membawa anak ke fasilitas kesehatan jika
menglami sakit.
5. Peneliti Lain, dapat :
a) Mengembangkan model intervensi gizi berbasis
teknologi, misalnya menggunakan media sosial
dalam penyampaian materi edukasi maupun tutorial
praktik pemanfaatan ikan lokal thryssa sp.
b) Mengembangkan jejaring intervensi gizi di
masyarakat secara berjenjang dengan mengikut
sertakan sivitas akademik bentuk pengabdian
kepada masyarakat sekaligus lahan praktik bagi
mahasiswa

Universitas Indonesia


Click to View FlipBook Version