2 KONTRIBUTOR Rahmadaniah Khaerunnisa, drg., M.Kes. Departemen Biomedik dan Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani Indah Puti Rahmayani Sabirin, drg., M.Kes. Departemen Biomedik dan Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani Dr. Jeffrey, drg., Sp. KGA. Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani
3 EDITOR Sutrania Dewi Sulaksana, drg., Sp.PM. Sekretaris Blok Sistem Stomatognati I Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani Irham M. Adinugraha, drg., Sp.Pros. Unit Pengembangan Media Pembelajaran Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani
4 REVIEWER Indah Puti Rahmayani Sabirin, drg., M.Kes. Unit Pendidikan Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani
5 BUKU PANDUAN PRAKTIKUM BLOK 6 SISTEM STOMATOGNATI I IDENTITAS NAMA MAHASISWA : ………………………………………. NPM : ………………………………………. ALAMAT : ………………………………………. PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI 2024 FOTO
6 PENGANTAR Blok Sistem Stomatognati I (Blok 6) merupakan blok yang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran gigi dasar dalam konteks area oro-kranio-fasial sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Gigi Indonesia. Merupakan tugas seorang dokter gigi untuk mengembalikan fungsi sistem stomatognatik dan estetika wajah kembali seperti semula. Seorang dokter gigi dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai seorang profesional dengan ketrampilan yang memadai, harus memahami latar belakang atau alasan mengapa tindakan itu harus dilaksanakan. Untuk itu seorang dokter gigi harus memiliki landasan ilmiah berupa pengetahuan dan keterampilan mengenai ilmu kedokteran gigi dasar. Blok 6 terlaksana pada semester dua dan berlangsung selama 5 minggu dengan tiga capaian pembelajaran blok. Kegiatan praktikum dalam blok ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengidentifikasi struktur makro dan mikro kompleks oro-kranio-fasial serta menghubungkan keterkaitannya dalam sistem stomatognati. Evaluasi hasil pembelajaran kegitan praktikum pada blok ini dilaksanakan dalam bentuk OSPE. Puji syukur dipanjatkan atas selesainya buku panduan kegiatan praktikum ini, sekalipun masih terdapat banyak kekurangan, oleh sebab itu sumbang saran dari berbagai pihak sangat diharapkan dalam rangka menyempurnakan buku satuan pengajaran ini, dan semoga balasan yang setimpal diperoleh dari Allah SWT. Cimahi, Maret 2024 Ketua Blok Rahmadaniah Khaerunnisa, drg., M.Kes.
7 DAFTAR ISI Hal KONTRIBUTOR ............................................................................................................. 2 EDITOR............................................................................................................................. 3 REVIEWER ..................................................................................................................... 4 IDENTITAS....................................................................................................................... 5 PENGANTAR .................................................................................................................. 6 DAFTAR ISI...................................................................................................................... 7 PERATURAN ................................................................................................................... 8 CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH BLOK 6.......................................... 9 PRAKTIKUM KE-1 ........................................................................................................ 10 PRAKTIKUM KE-2 ........................................................................................................ 23 PRAKTIKUM KE-3 ........................................................................................................ 32 PRAKTIKUM KE-4 ........................................................................................................ 37 PRAKTIKUM KE-5 ........................................................................................................ 48 PRAKTIKUM KE-6 ........................................................................................................ 56 PRAKTIKUM KE-7 ........................................................................................................ 71 PRAKTIKUM KE-8 ........................................................................................................ 89 PRAKTIKUM KE-9 ........................................................................................................ 96
8 PERATURAN 1. Mahasiswa yang dapat mengikuti praktikum Blok Sistem Stomatognati I ini adalah mahasiswa aktif Program Studi Kedokteran Gigi. 2. Mahasiswa harus hadir 15 menit di ruang Praktikum sebelum kegiatan praktikum dimulai dan tidak dapat meninggalkan ruangan sebelum waktu yang ditetapkan, kecuali atas izin instruktur praktikum yang bertugas. 3. Kehadiran kegiatan praktikum wajib 100%. 4. Mahasiswa jika tidak mengikuti kegiatan praktikum karena alasan sakit dan dilengkapi surat sakit yang ditandatangani dokter ber-SIP, serta paling lambat dikumpulkan satu hari setelah ketidakhadiran. 5. Mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan praktikum karena sakit, diwajibkan untuk mengikuti susulan. 6. Alasan di luar sakit dan melebihi jumlah ketidakhadiran pada keseluruhan kegiatan praktikum tidak diperbolehkan mengikuti susulan dan ujian OSPE. 7. Selama kegiatan praktikum berlangsung: • Mahasiswa harus duduk ditempatnya masing-masing dan bertanggung jawab terhadap meja kerja tersebut. • Mahasiswa diharuskan memakai pakaian sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan memakai jas lab yang rapi dan bersih. • Mahasiswa membawa alat-alat yang diperlukan sesuai kebutuhan. • Mahasiswa menaruh tas di tempat yang sudah ditentukan. • Mahasiswa dilarang makan/minum dan merokok di ruang praktikum. • Mahasiswa dilarang membuat kegaduhan. 8. Mahasiswa yang melanggar tata tertib dan berbuat curang akan dikenakan sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran Gigi UNJANI Cimahi, Maret 2024 Tim Blok 6
9 CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH BLOK 6 Tujuan pembelajaran Blok Sistem Stomatognati I tercantum dalam perumusan capaian pembelajaran blok yang sudah spesifik berdasarkan target capaian pembelajaran lulusan prodi yang di bebankan pada Blok Sistem Stomatognati I. Adapun capaian pembelajaran Blok Sistem Stomatognati I secara garis besar sebagai berikut: CPMK BLOK BLOK SISTEM STOMATOGNATI I Setelah menyelesaikan Blok Sistem Stomatognati I, mahasiswa diharapkan: CPMK1 Mahasiswa mampu menguraikan alur tahapan tumbuh kembang dento/oro/craniofasial yang berawal dari fase pre natal hingga post natal secara sistematis CPMK2 Mahasiswa mampu menganalisis perbedaan struktur makroskopis mikroskopis pada organ-organ area orocraniofacial serta menghubungkan keterkaitannya dalam sistem stomatognati CPMK3 Mahasiswa mampu mengaitkan hubungan struktur makroskopis mikroskopis gigi dan jaringan pendukungnya dengan organ orocraniofacial lainnya dalam sistem stomatognati
10 PRAKTIKUM KE SATU: ANATOMI ORO-KRANIO-FASIAL POKOK BAHASAN : Anatomi Oro-Kranio-Fasial (OKF) SUBPOKOK BAHASAN : Anatomi Tulang, Otot, Inervasi Area OKF VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 3 Mahasiswa mampu mampu menganalisis perbedaan struktur makroskopis mikroskopis pada area kepala, wajah dan leher dari mulai kulit, otot, pembuluh darah, saraf, tulang hingga kelenjar endokrtin serta menghubungkan keterkaitannya dalam sistem stomatognati secara rinci Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 1 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Mengidentifikasi dan menentukan dengan tepat anatomi tulang-tulang penyusun kranium serta tata letaknya sesuai dengan atlas anatomi b. Mengidentifikasi otot-otot area Oro-Kario-Fasial (OKF) yang terkait dalam sistem stomatognati serta tata letaknya sesuai dengan atlas anatomi c. Mengidentifikasi inervasi area Oro-Kario-Fasial (OKF) yang terkait dalam sistem stomatognati serta tata letaknya sesuai dengan atlas anatomi 1.1 TUGAS Mahasiswa diharapkan mempelajari materi-materi di bawah ini sebelum praktikum 1 : 1. Pelajari materi anatomi area Oro-Kario-Fasial sebelum praktikum dimulai, yang terdiri dari ▪ Tulang ▪ Otot ▪ Inervasi 2. Setiap mahasiswa diwajibkan telah menggunting gambar yang terlampir di buku praktikum lalu menempelkan gambar pada sketchbook sebelum pelaksanaan praktikum. 3. Setiap mahasiswa diwajibkan membawa atlas anatomi pada pelaksanaan kegiatan praktikum. 1.2 PENDAHULUAN Kepala memiliki area anatomi yang kompleks dari seluruh tubuh. Kepala terdiri dari beberapa bagian compartements (kavum) yang meliputi tulang dan jaringan lunak yaitu kavum kranial, dua rongga telinga, dua rongga mata, dua rongga hidung dan satu rongga mulut. Kavum kranial merupakan kavum terbesar berisi otak dan meningens. Rongga telinga merupakan sistem pendengaran yang sangat diperlukan bagi manusia. Rongga hidung merupakan bagian atas dari saluran pernapasan dan berada diantara rongga mata. Rongga mulut merupakan awal dari sistem pencernaan.
11 Tulang kepala atau tengkorak merupakan tulang kerangka dari kepala yang tersusun menjadi dua bagian yaitu bagian yang melindungi otak dan kerangka wajah. Tulang kepala bertumpu pada bagian superior kolumna vertebralis. Rongga tengkorak mempunyai permukaan atas yang dikenal sebagai kubah tengkorak, licin pada permukaan luar dan pada permukaan dalam ditandai dengan gili-gili serta lekukan agar dapat sesuai dengan otak dan pembuluh darah. Permukaan bawah dari rongga tengkorak dikenal sebagai dasar tengkorak atau basis kranii yang mempunyai banyak lubang agar dapat dilalui serabut saraf dan pembuluh darah. Tulang kepala berfungsi sebagai pelindung otak (neurocranium) dibagi menjadi 2 bagian yaitu calvarium (tutup kepala) dan base (dasar kepala). Bagian atas tulang kepala, yang terdiri atas tulang frontal (bagian depan, tulang parietal (bagian tengah), dan tulang occipital (bagian belakang). Dasar tulang kepala terdiri atas tulang sphenoid yang berada itengah dasar tengkorak dan tulang ethmoid disebelah depan tulang sphenoid diantara lekuk mata. Samping tulang kepala, dibentuk oleh tulang temporal, sebagian tulang frontal, tulang parietal dan tulang sphenoid. Tulang wajah, terdapat rongga-rongga yang membentuk rongga mulut (cavum oris), rongga hidung (cavum nasi), dan rongga mata (cavum orbita). Tulang wajah terdiri dari dua bagian. Bagian hidung terdiri dari tulang lacrimal, tulang nasal dan septum nasi (sekat rongga hidung). Bagian rahang terdiri dari tulang maxilla, tulang zygoma, tulang palatum dan tulang mandibula. Tulang-tulang kepala dihubungkan satu dengan lainnya oleh tulang bergerigi yang disebut sutura, diantaranya sutura coronalis yang menghubungkan tulang frontal dan tulang parietal, sutura sagitalis yang menghubungkan tulang parietalis kiri dan kanan, serta sutura lambdoidea yang menghubungkan tulang parietal dan tulang occipital. Gambar 1.1 Anatomi rongga mulut
12 Otot kepala (Latin: musculi capitis) dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu otot mastikasi (masticatory muscles) dan otot ekspresi wajah (facial muscles). Kelompok pertama termasuk derivat dari lengkung faring pertama, tetapi otot-otot ekspresi wajah adalah derivat lengkung faring kedua. Karena perkembangan embriologis mereka yang berbeda, kedua kelompok otot kepala didukung oleh dua saraf tengkorak yang berbeda. Sebagian besar otot kepala milik otot-otot wajah dan terinervasi oleh nervus facialis (CN VII). Sebaliknya, otot-otot mastikasi terinervasi oleh nervus trigeminus (CN V). Otot wajah (Latin: musculi faciei), juga disebut otot ekspresi wajah, adalah otot di sekitar wajah (mata, hidung, mulut dan telinga) yang terletak di dalam jaringan subkutan. Biasanya, berasal dari tulang-tulang kerangka wajah (viscerocranium) dan masukkan ke dalam kulit. Otot-otot ini tidak memiliki fascia, kecuali buccinator. Secara keseluruhan, tubuh manusia memiliki lebih dari 40 otot wajah. Otot mastikasi (Latin: musculi masticatorii) atau otot mastikasi adalah sekelompok otot yang berpasangan yang bertanggung jawab atas gerakan rahang bawah pada sendi temporomandibular (TMJ). Oleh karena itu, otot-otot ini ditempatkan di dalam kepala dan leher sekitar sendi yang disebutkan. Otot-otot mastikasi berperan selama proses mengunyah. Namun, selain gerakan yang terkait dengan makan, otot mastikasi juga menggerakkan mandibula saat berbicara. Secara umum, berperan dalam proses membuka dan menutup mulut. Otot-otot mastikasi mengangkat, menurunkan, menggerakkan ke anterio, menarik ke posterior tulang mandibula serta memfasilitasi gerakan tulang mandibula ke arah lateral. Otot-otot mastikasi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu otot primer (main) dan sekunder (accessory). Semua otot mastikasi utama (primer) berasal dari tulang tengkorak dan masukkan ke tulang mandible. Gambar 1.2 Otot mastikasi primer
13 1.3 PELAKSANAAN 1. Gunting dan tempelkan gambar terlampir pada sketchbook (dilakukan sebelum kegiatan praktikum). 2. Siapkan alat tulis berwarna. 3. Lakukan pengamatan pada atlas anatomi dan model. 4. Tandai landmark-landmark anatomi pada bagian berikut: a) Neurocranium b) Vicerocranium c) Basi cranii interna (cranial fossa region, passageway for the spinal cord and cranial nerves) d) Cranial sutura e) Maksila & Palatal f) Mandibula g) Otot mastikasi primer pada gambar yang sudah ditempel mengguankan alat tulis berwarna sesuai hasil pengamatan serta diskusikan dalam kelompok. 5. Perkerjaan diselesaikan di waktu kegiatan praktikum. 1.4 RUBRIK PENILAIAN Nilai pada kegiatan praktikum 1 merupakan nilai formatif yang didapat dari nilai post test pada akhir sesi praktikum.
14 Lampiran 1
15 Lampiran 2
16 Lampiran 3
17 Lampiran 4
18 Lampiran 5
19 Lampiran 6
20 Lampiran 7
21 Lampiran 8
22 Lampiran 9
23 PRAKTIKUM KE DUA: ANATOMI WAJAH DAN LEHER POKOK BAHASAN : Anatomi Wajah dan Leher SUBPOKOK BAHASAN : Landmark Anatomi Area Wajah dan Leher VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 3 Mahasiswa mampu mampu menganalisis perbedaan struktur makroskopis mikroskopis pada area kepala, wajah dan leher dari mulai kulit, otot, pembuluh darah, saraf, tulang hingga kelenjar endokrtin serta menghubungkan keterkaitannya dalam sistem stomatognati secara rinci Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 2 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Mengidentifikasi dan menentukan dengan tepat landmark anatomi permukaan area wajah dan leher b. Mengidentifikasi otot-otot area wajah dan leher yang terkait dalam sistem stomatognati serta tata letaknya sesuai dengan atlas anatomi c. Mengidentifikasi inervasi, vaskularisasi, limfatik area wajah dan leher yang terkait dalam sistem stomatognati serta tata letaknya sesuai dengan atlas anatomi 2.1 TUGAS Mahasiswa diharapkan mempelajari materi-materi di bawah ini sebelum praktikum 2 : 1. Pelajari materi anatomi area wajah dan leher sebelum praktikum dimulai, yang terdiri dari ▪ Kulit ▪ Otot ▪ Inervasi ▪ Vaskularisasi ▪ Limfatik 2. Setiap mahasiswa diwajibkan telah menggunting gambar yang terlampir di buku praktikum lalu menempelkan gambar pada sketchbook sebelum pelaksanaan praktikum. 3. Setiap mahasiswa diwajibkan membawa atlas anatomi pada pelaksanaan kegiatan praktikum. 2.2 PENDAHULUAN Bagian paling anterior dari kepala adalah wajah. Wajah manusia adalah aspek unik dari setiap individu. Wajah mengandung banyak struktur yang berkontribusi pada ekspresi emosi, aktifitas makan minum, penglihatan, penghidu, dan komunikasi. Tidak ada satu wajah pun yang serupa mutlak, bahkan pada manusia kembar identik sekalipun. Oleh karena itu, wajah digunakan sebagai identitas pribadi dari tiap individu. Identitas ini
24 penting karena wajah biasanya merupakan hal pertama dari manusia yang paling terlihat pada pertemuan dengan individu lain. Anatomi wajah dapat dibagi menjadi tiga bagian: bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah. Seluruh wajah ditutupi dengan kulit secara superfisial, sementara di bagian dalam terdapat otot, lapisan lemak, saraf, pembuluh darah, dan tulang. Wajah bagian atas dimulai dari garis rambut (batas superior) dan berakhir tepat di bawah kelopak mata bagian bawah (batas inferior). Perbatasan lateral wajah bagian atas berakhir di sekitar area temporal. Wajah bagian atas terdiri dari dahi, mata, dan daerah temporal. Wajah bagian tengah dimulai dari kelopak mata bagian bawah (batas superior) dan berakhir tepat di atas bibir atas (batas inferior). Perbatasan lateral wajah bagian tengah sampai di bagian telinga. Area wajah bagian tengah terdiri dari hidung, pipi, dan telinga. Wajah bagian bawah dimulai dari bibir atas (batas superior) dan berakhir pada batas bawah pipi (batas inferior). Perbatasan lateral wajah bagian bawah adalah sudut mandibula. Daerah bagian bawah wajah berisi bibir, tengkorak, dan rahang. Gambar 2.1 Area wajah bagian atas, tengah dan bawah Tabel 2.1 Struktur wajah manusia Regio Superior : Regio frontal, orbita, temporal Median : Regio nasal, infraorbita, zygoma, aurikular Inferior : Regio oral, mental, bukal, parotideomasseter Tulang wajah Berpasangan : Konka nasalis, nasal, maksila, palatin, lakrimal, zygoma Tunggal : Mandibula, vomer
25 Otot wajah Grup bukolabial : Levator labii superior, levator labii superior ala nasi, risorius, levator anguli oris, mentalis, orbicularis oris, buksinator Grup nasal : nasalis, proserus Grup orbita : orbikularis oris, currogator supersili, peresor supersili Grup epikranial : oksipitofrontalis, platysma Grup aurikular : aurkularis anterior, aurikularis posterior, aurikularis superior Leher adalah penghubung antara kepala dan tubuh. Area leher memanjang dari kepala hingga ke bahu dan dada. Sisi inferior leher dibatasi oleh manubrium sternum, klavikula, hingga acromion. Sedangkan sisi superior dibatasi oleh batas inferior mandibula, prosesus mastoideus tulang temporal, dan garis nuchal superior tulang oksipital. Leher berperan sebagai penyokong kepala, selain itu, leher juga berfungsi sebagai jalan untuk sumsum tulang belakang, pembuluh darah dan saraf yang lewat di antara kepala dan tubuh serta jalan masuk ke sistem pencernaan dan sistem pernafasan. Di dalam leher terdapat pembuluh darah dan jaringan saraf yang merupakan struktur penyusun jaringan-jaringan di kepala. Pada manusia sendiri leher berisi esofagus, laring, trakea, kelenjar tiroid, kelenjar limfatik, dan pembuluh darah utama termasuk arteri karotid dan vena jugularis, serta bagian atas dari medula spinalis. Gambar 2.2 Aspek anterior dari leher
26 Area leher bagian anterior meliputi otot-otot, saluran pencernaan (faring dan esofagus) dan saluran pernapasan (laringe dan trakea), pembuluh dari dan ke kepala, 4 saraf kranial terakhir dan kelenjar tiroid dan parathyroid. Struktur ini dapat dengan mudah dirasakan di daerah anterior leher. Area lateral leher berada di setiap sisi terdiri dari dua otot besar dari leher dan kelenjar limfatik. Sedangkan pada area leher bagian belakang terdapat vertebra servikal, medula spinalis dan struktur terkait lainnya. Gambar 2.3 Aspek lateral leher sebelah kanan 2.3 PELAKSANAAN 1. Gunting dan tempelkan gambar terlampir pada sketchbook (dilakukan sebelum kegiatan praktikum). 2. Siapkan alat tulis berwarna. 3. Lakukan pengamatan pada atlas anatomi dan model. 4. Tandai landmark-landmark anatomi pada gambar yang sudah ditempel mengguankan alat tulis berwarna sesuai hasil pengamatan serta diskusikan dalam kelompok. 5. Perkerjaan diselesaikan di waktu kegiatan praktikum. 2.4 RUBRIK PENILAIAN Nilai pada kegiatan praktikum 2 merupakan nilai formatif yang didapat dari nilai post test pada akhir sesi praktikum.
27 Lampiran 1 Lampiran 2
28 Lampiran 2
29 Lampiran 3
30 Lampiran 4
31 Lampiran 5
32 PRAKTIKUM KE TIGA: ANATOMI RONGGA MULUT POKOK BAHASAN : Anatomi Rongga Mulut SUBPOKOK BAHASAN : Anatomi Organ-Organ di Rongga Mulut VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 4 Mahasiswa mampu mampu menganalisis perbedaan struktur makroskopis mikroskopis area rongga mulut, lidah, saluran pencernaan bawah, kelenjar saliva dan sendi temporomandibula serta menghubungkan keterkaitannya dalam sistem stomatognati secara rinci Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 3 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Menentukan dengan tepat anatomi rongga mulut sesuai dengan atlas anatomi 3.1 TUGAS Mahasiswa diharapkan mempelajari materi-materi di bawah ini sebelum praktikum 3 : 1. Pelajari materi anatomi rongga mulut sebelum praktikum dimulai, yang terdiri dari ▪ Bibir ▪ Mukosa bukal ▪ Vestibulum ▪ Palatum ▪ Lidah ▪ Dasar mulut ▪ Gigi ▪ Gingiva 2. Setiap mahasiswa diwajibkan telah mengisi tugas isian terlampir di buku praktikum sebelum pelaksanaan kegiatan praktikum. 3.2 PENDAHULUAN Rongga mulut adalah daerah yang terdiri dari vestibulum oris (celah sempit antara bibir dan pipi), gigi dan gusi, serta cavitas oris propria. Rongga mulut dikelilingi oleh bibir dan dua lipatan otot fleksibel yang membentang dari sudut mulut ke dasar kolumela hidung di bagian atas dan sulkus mentolabial (lipatan di atas dagu) di bawah. Rongga mulut dibentuk oleh lengkung palatum keras dan lunak di bagian atas, gigi dan pipi di bagian lateral dan lidah di dasar mulut. Sisi rongga mulut dibentuk oleh mukosa bukal dan labial yang menyatu dengan mukosa alveolar ke periosteum di bawahnya. Dua pertiga anterior langit-langit dikenal sebagai palatum durum, yang terbentuk dari proses palatina medial dan dua lateral. Mukosa di atasnya melekat pada tulang di bawahnya dan memiliki penampilan kasar dan raphe median. Palatum lunak melanjutkan atap mulut ke posterior sebagai lipatan mukosa dan otot yang berakhir di tengah di uvula dan lateral di lipatan yang menyatu dengan pilar tonsil dan lidah. Dasar mulut dibentuk
33 oleh aspek lingual mandibula dan di posterior oleh dasar lidah. Bagian tengahnya terbagi oleh frenulum lingual yang memanjang dari garis tengah mandibula hingga ujung ventral lidah. Gambar 3.1 Anatomi rongga mulut 3.3 PELAKSANAAN A. Tugas di Rumah 1. Lengkapilah isian di bawah ini! No Landmark Definisi 1 Attach gingiva 2 Cuspid eminence 3 Fossa canina 4 Fovea palatine
34 5 Free gingiva 6 Frenulum 7 Hamular notch 8 Mid-palatine raphe 9 Palatum durum 10 Palatum mole 11 Papila incisivum 12 Papila interdental 13 Retromolar pad 14 Retromylohyoid fossa 15 Rugae area 16 Tuberositas maksilaris 17 Vestibulum 18 Vibrating line 2. Isilah teka teki silang di bawah ini! Mendatar 2. Sisi yang menjauhi garis median 4. Sisi yang mendekati garis median 6. Permukaan gigi yang menghadap ke pipi 7. Permukaan gigi yang menghadap ke langit langit
35 Menurun 1. Permukaan gigi yang saling berkontak 3. Permukaan gigi yang menghadap ke lidah 5. Permukaan gigi yang menghadap ke bibir B. Tugas di Laboratorium 1. Siapkan alat pewarna (spidol atau cat warna) per kelompok. 2. Lakukan pengamatan pada model serta tandai landmark anatomi rahang atas dan rahang bawah pada model mengguankan alat pewarna sesuai hasil pengamatan dan diskusi dalam kelompok. 3. Buatlah rekaman video yang mempresentasikan landmark anatomi rahang atas dan rahang bawah pada model yang sudah ditandai warna. Video dibuat secara berkelompok dengan format landscape.
36 3.4 RUBRIK PENILAIAN A. Model Studi Nilai Keterangan Gambar Kerapihan Warna 85 Lengkap 80 90%-80% Cukup rapih 75 70%-60% 70 50% atau kurang Kurang rapih 65 Tidak ada keterangan Bobot 60% 40% Keterangan: • Nilai = (Keterangan Gambar x 60%) + (Kerapihan Warna X 40%) B. Video No Aspek Penilaian Nilai 70 80 90 1. Gambar pada video jelas (resolusi baik/ tidak pecah) 2. Poin materi mencakup keseluruhan landmark anatomi 3. Materi disampaikan dengan alur yang runut dan jelas 4. Tulisan dapat dilihat dengan jelas (jika ada) 5. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami 6. Kreatif dan menarik Rerata 6 = Keterangan: • Nilai merupakan rerata dari poin 1 sampai 6
37 PRAKTIKUM KE EMPAT: HISTOLOGI ORAL POKOK BAHASAN : Histologi Oral SUBPOKOK BAHASAN : Histologi organ-organ di rongga mulut VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 4 Mahasiswa mampu mampu menganalisis perbedaan struktur makroskopis mikroskopis area rongga mulut, lidah, saluran pencernaan bawah, kelenjar saliva dan sendi temporomandibula serta menghubungkan keterkaitannya dalam sistem stomatognati secara rinci Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 4 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Menjelaskan struktur labium oris dan mukosa mulut b. Menjelaskan struktur lingua, papilla circumvalata, papilla filiformis dan fungiformis c. Menjelaskan struktur pada pembentukan gigi, dan struktur giginya d. Menjelaskan struktur glandula parotis, glandula submandibularis, dan glandula sublingualis 4.1 TUGAS Mahasiswa diharapkan mempelajari materi-materi di bawah ini sebelum praktikum 4 : 1. Pelajari materi histologi oral sebelum praktikum dimulai. 2. Setiap mahasiswa diwajibkan telah menggambar sebelum pelaksanaan praktikum mengenai jaringan di dalam kolom yang sudah disediakan di buku praktikum (sesuai dengan pokok bahasan yang dipelajari) dengan disertai keterangan yang lengkap. 4.2 PENDAHULUAN LABIUM ORIS Sediaan : Labium oris ( potongan melintang ) Pewarnaan : H.E. No.sediaan : SD – 1 Labium oris atau bibir merupakan pintu masuk ke dalam sistem pencernaan. Berdasarkan letaknya, labium oris terdiri atas labium oris superior (bibir atas) dan labium oris inferior (bibir bawah). Labium oris superior maupun inferior mempunyai tiga daerah permukaan yang berbeda struktur histologinya: - Facies externa, merupakan lanjutan dari kulit wajah. - Rubrum labii, merupakan bagian bibir yang tampak merah. - Facies interna, merupakan lanjutan mucosa mulut. Objektif 10 x :
38 A. Facies externa (bagian luar) Karena merupakan lanjutan dari kulit wajah, maka struktur facies externa sama dengan kulit. Epitilnya merupakan epitil gepeng berlapis dengan keratin. Carilah folikel rambut, glandula sudorifera, glandula sebacea dan struktur lainnya! Ikutilah permukaannya sampai berbatasan dengan rubrum labii. B. Rubrum labii (merah bibir) Epitilnya gepeng berlapis, lebih tebal dibandingkan dengan facies interna. Struktur corneum sangat tipis. Makin ke arah interna, corneum makin hilang. Epitil ini sudah tidak berpigmen lagi seperti bagian luar. Di bawah epitil terdapat jaringan pengikat yang menonjol ke arah epitil sebagai papilla yang tinggi-tinggi dan banyak mengandung kapiler darah dan akhiran saraf. Selain itu ditemukan juga glandula sebacea yang bermuara langsung ke permukaan. C. Facies interna (bagian dalam) Facies interna merupakan lanjutan mucosa rongga mulut. Epitilnya gepeng berlapis tanpa keratin yang lebih tebal bila dibandingkan dengan epitil cavum oris. Pada tunica propria terdapat glandula labialis yang bersifat campuran seromucosa dan mucosa murni yang bermuara ke dalam cavum oris. Di bagian tengah ditemukan jaringan otot serat lintang yang berjalan sirkuler. Otot ini disebut musculus orbicularis oris . LINGUA Sediaan : Lingua (potongan melintang bagian depan) Pewarnaan : H.E. No. sediaan : SD – 2 Lidah adalah massa otot rangka yang ditutupi membran mucosa. Serat-serat otot saling menyilang, sehingga pada sediaan ini serat-serat otot ini ada yang terpotong melintang dan memanjang. Permukaan bawah lidah mucosanya licin. Permukaan dorsal lidah tidak teratur. Di anterior ditutupi banyak sekali tonjolan kecil yang disebut papilla. Objektif 10 x : Dorsum linguae ditutupi oleh mucosa linguae yang terdiri dari epitil gepeng berlapis. Epitilnya tidak rata, permaneni membentuk tonjolan-tonjolan yang disebut papilae linguae. Di sini banyak papilla filliformis yang berbentuk runcing-runcing. Puncaknya mengalami keratinisasi. Selain itu terdapat juga papilla fungiformis yang berbentuk seperti jamur. Kedua papilla ini menonjol dari permukaan lidah. Epitil lidah dapat juga masuk ke dalam membentuk papilla sekunder. Pada bagian samping, jumlah papilla berkurang dan akhirnya lenyap di bagian bawah lidah. Di bawah epitil terdapat pula jaringan pengikat padat yang tegak lurus pada epitil, membagi lidah menjadi dua bagian kiri dan kanan yang disebut septum linguae. Namun pada sediaan, bagian ini tidak selalu dapat dilihat, karena pada saat pembuatan sediaan, seringkali potongan tidak tepat mengenai bagian tengah lidah. Di sebelah kiri dan kanan lingua terdapat otot-otot seran lintang sebagai otot-otot intrinsik lidah yaitu : • m. longitudinalis superior • m. longitudinalis inferior
39 • m. transversalis linguae • m. verticalis linguae Di antara jaringan otot banyak pembuluh darah, serat-serat saraf dan kelenjar lidah. Selain otot intrinsik, lidah juga mempunyai otot ekstrinsik PAPILLA CIRCUMVALLATA Sediaan : Lingua Pewarnan : H.E. No. sediaan : SD – 3 Lidah bagian depan dan bagian belakang dibatasi oleh garis berbentuk V yang disebut linea teminalis dorsum linguae. Papilla circumvallata terletak di sepanjang linea ini. Objektif 10 x : Papilla ini tidak menonjol melebihi permukaan dorsum linguae. Di sekeliling papilla terdapat suatu celah. Pada dasar celah ini biasanya terdapat muara ductus excretoriusglandula von Ebner yang bersifat serosa. Jaringan pengikat di bawah epitilnya membentuk papilla sekunder. Pada bagian lateral papilla, didapatkan beberapa puting pengecap yang disebut gemma gustatoria atau taste buds. PAPILLA FILIFORMIS DAN FUNGIFORMIS Sediaan : Lingua Pewarnaan : H.E. No. sediaan : SD – 4 Papilla filliformis dan fungiformis letaknya tersebar di seluruh permukaan lidah dan jumlahnya banyak. Kedua macam papilla ini menonjol dari permukaan lidah. Objektif 10X : Papilla filliformis berbentuk kerucut memanjang. Epitilnya tidak mengandung puting pengecap. Papilla fungiformis berbentuk menyerupai jamur, bagian puncaknya lebih lebar dari pada dasarnya. Kadang-kadang ditemukan gemma gustatoria di daerah lateral papilla. PEMBENTUKAN GIGI Sediaan : potongan mulut foetus melalui tulang rahang Pewarnaan : H.E. No.sediaan : SD-6 Makroskopis dapat dilihat potongan balok tulang rahang dan daerah tempat bakal gigi. Objektif 10 x : Carilah potongan bakal gigi pada bakal tulang rahang. Di sekitar bakal gigi terdapat jaringan tulang yang akan menjadi tulang rahang. Lihatlah keseluruhan bentuk bakal gigi tadi. Pada tingkat apakah saudara temukan ? Pada tahap lonceng (bell stage) ditemukan bagian-bagian organ email yang terdiri dari :
40 - pulpa dentis : terdiri dari jaringan pengikat mesenchymal dan banyak mengandung pembuluh darah. Bagian perifer dilapisi oleh odontoblast. - odontoblast : tersusun epitilial, selnya berbentuk silindris. - lapisan pradentin : terdapat di sebelah luar lapisan odontoblast. Bagian ini terlihat merah muda dan homogen. - lapisan email (substantia adamantina ) : lapisan ini terutama terdapat di puncak papilladentis. Terlihat sebagai lapisan tipis yang berwarna ungu. - lapisan ameloblast (adamantoblast) : lapisan ini terdiri dari atas sel-sel silindris. Lapisan ini tampak lebih besar dan pucat dari lapisan odontoblast. - lapisan sel-sel intermedier : sel-sel ini terdapat di sebelah luar ameloblast, Sel berbentuk kuboid atau gepeng, tersusun epitilial dan melanjutkan diri menjadi pulpa email. - pulpa email : tersusun dari sel-sel yang bercabangcabang seperti bintang dan saling beranastomose. Sepintas lalu tampak lebih pucat dari pulpa dentis dan tidak mengandung pembuluh darah. - lapisan sel-sel email luar : Sel-selnya berbentuk gepeng Dalam tingkat pertumbuhan gigi decidua ini, tidak dapat dilihat tangkai gigi dan lamina dentalisnya. Kadang-kadang ditemukan juga lamina dentalis gigi permanen. Objektif 45 x : Perhatikan dengan seksama terutama bagian bawah tempat peralihan lamina epitilialis interna dan lamina epitilialis externa. - pulpa dentis : terlihat bermacam-macam sel: bulat, panjang, polyhedral yang mempumyai tonjolan-tonjolan dan beranastomose satu sama lain. - odontoblast : sel-sel berbentuk silindris panjang dengan nucleus dibagian basal sel. Pada bagian apikalnya tampak tonjolan-tonjolan sitoplasma yang masuk
41 di dalam substantia yang dibentuknya yaitu lapisan predentin. - lapisan dentin : terlihat saluran-saluran sebagai garis-garis yang berjalan tegak lurus terhadap permukaan yaitu serat tomes atau tubulus dentalis. - lapisan email : pada sediaan ini belum begitu tampak jelas adanya prisma-prisma email karena tipis. - lapisan ameloblast : sel-sel silindris dengan inti yang berbentuk oval yang terletak di basal. Di permukaannya terlihat jonjolan-tonjolan protoplasma yang kadangkadang masih melekat pada lapisan email. - lapisan sel-sel intermedier : sel-selnya berbentuk kuboid sampai gepeng sebanyak 2-3 lapis sel. - pulpa email : sel-sel berbentuk bintang, tonjolannya saling beranastomose. - lapisan sel-sel email luar : sel-selnya berbentuk gepeng. GIGI Sediaan : gosok gigi manusia No. sediaan : SD –8 Sediaan ini adalah potongan memanjang incisivus manusia dewasa melalui radixdentis. Objektif 10 x : Cavum dentis kosong, tadinya berisi pulpa dentis. Pada dentin terlihat garis-garis yang kadang-kadang bergelombang. Garis-garis tersebut adalah canaliculi dentis atau tubulus dentalis atau serat tomes. Bentuk dan susunan prisma email tidak jelas, hanya terlihat adanya garis-garis radier dari permukaan dentin yang tidak mencapai permukaan email.yaitu garis Hunter Schregger. Substantia ossea atau lapisan semen, kadangkadang terlihat seperti ruangan-ruangan yang diisi oleh cementocyt. GLANDULA PAROTIS Sediaan : Glandula parotis Pewarnaan : H.E No. sediaan : SD-9 Objektif 10 x: Glandula parotis diselubungi oleh kapsula jaringan pengikat yang menjorok ke dalam parenkim membentuk septum-septum. Septum-septum ini membagi ruangan-ruangan atas lobus dan lobulus. Kelenjar ini berbentuk tubuloalveolar kompleks bercabang dengan sekritnya yang bersifat serosa murni. Parenkim kelenjar terdiri atas : • acinus, yang merupakan pars terminalis tempat alveolus bercabang.
42 • saluran keluar kelenjar, yaitu: - ductus intercalatus - ductus secretorius - ductus excretorius Objektif 45 x : Acinus tersusun oleh sel kelenjar yang berbentuk kuboid. Nucleusnya bulat, terdapat di basal. Sitoplasma sel kelenjar mengandung butir-butir zymogen yang berwarna merah. Dibagian basal, tampak bangunan yang basofil. Carilah sel mioepitil (sel keranjang) diantara sel kelenjar dan membrana basalis. Ductus intercalatus merupakan saluran keluar kelenjar yang terdapat dalam lobulus dan langsung menerima sekrit dari pars terminalis. Saluran ini mempunyai epitil kuboid rendah/gepeng selapis dengan nucleus yang bulat dan besar. Ductus secretorius atau pars striata atau ductus intralobularis merupakan saluran yang mempunyai epitil silindris selapis. Sitoplasma selnya berwarna asidofil. Di bagian basalnya terdapat garis-garis, maka saluran ini disebut juga pars striata. Ductus exretorius (ductus interlobularis), merupakan lanjutan dari ductus secretorius (ductus intralobularis). Ductus excretoriusterdapat dalam jaringan pengikat interlobular. Epitilnya silindris selapis. Semakin dekat ke jaringan pengikat interlobular, epitilnya semakin bertambah tinggi dan kemudian bertingkat sampai gepeng berlapis tidak berkeratin. GLANDULA SUBMANDIBULARIS Sediaan : Glandula submandibularis Pewarnaan : H E No sediaan : SD-10 Objektif 10 x : Glandula submandibularis merupakan kelenjar campur serosa dan mucosa dengan komponen serosa lebih banyak. Organisasi kelenjar sama dengan kelenjar parotis, hanya disini terdapat kelompok kelenjar mucosa yang terdiri dari sel-sel yang berbentuk kuboid dengan inti gepeng terdapat dibasal. Sitoplasma kelenjar mucosa tampak pucat. Bulan sabit Gianuzzi merupakan kelompok kelenjar serosa yang berwarna merah, terdesak oleh sel kelenjar mucosa, menutupi sebagian dari satu acinus mucosa yang pucat, sehingga tampak seperti orang memakai helm. Saluran keluar kelenjar sama dengan glandula parotis, hanya ductus intercalatus tampak lebih pendek. GLANDULA SUBLINGUALIS Sediaan : Glandula sublingualis Pewarnaan : H.E No sediaan : SD-11 Objektif 10 x :
43 Glandula sublingualis merupakan kelenjar campur serosa dan mucosa dengan komponen mucosa lebih banyak, sehingga kesan umum tampak lebih pucat dari glandula submandibularis. Objektif 45 x : Carilah : • acinus kelenjar serosa • acinus kelenjar mucosa • bulan sabit Gianuzzi - ductus intercalatus tidak ada. - ductus secretorius, jarang terdapat, epitilnya kuboid selapis - ductus excretorius, epitil silindris semu. berlapis. TONSILA PALATINA Sediaan : Tonsila Palatina manusia Pewarnaan : H.E No.Sediaan : IM-7 Tonsila palatina merupakan jaringan limfoid yang berada di rongga oral. Jaringan ini menghasilkan sel-sel imun yang bersifat innate, yang menjadi aktif saat adanya antigen. Objektif 10x Tampak suatu jaringan limfoid yang permukaan bebasnya ditutupi epitel berlapis gepeng tanpa keratinisasi pada permukaannya. Epitel tadi melanjutkan diri dan melapisi lekukanlekukan yang tampak pada permukaan tonsilla palatina. Epitel tonsila palatina merupakan membrana mukosa cavum oris. Lekukan-lekukan tonsila palatina disebut crypta. Sepanjang lekukan terdapat noduli lymphatici yang berderet-deret. Pada bagian yang tetanam dalam dinding belakang mulut, jaringan lymphoid tonsilla diselubungi oleh jaringan pengikat padat membentuk suatu capsula. Capsula ini tidak lengkap memisahkan jaringan ikat dengan jaringan otot di sekitarnya. Pada beberapa tempat, jaringan pengikat tersebut ditembus oleh saluran kelenjar yang pars sekretorisnya terdapat di luar capsula. Dalam capsula dapat ditemukan pembuluh darah dan pembuluh lymphe. Tonsila palatina merupakan bagian dari “cincin Waldeyer” di rongga mulut. Objektif 40x Dalam centrum germinativum noduli lympatici ditemukan sel-sel limfosit muda. Kelompokan sel limfosit tua memadat ke arah lumen cryptus sehingga pada potongan nodulus lymphaticus tampak seperti gambaran bulan sabit. Epitel tonsilla palatinum kadang-kadang tidak jelas unsur selnya karena adanya infiltrasi sel-sel limfosit di dalamnya atau epitel mengalami kerusakan. Di dalam crypta kadangkadang terdapat kelompok sel-sel limfosit dan sel-sel epitel yang terlepas dari parenkim membentuk corpusculum salivarius.
44 4.3 PELAKSANAAN 1. Lengkapilah keterangan gambar di bawah ini! Labium oris Papilla circumvallata Papilla filiformis dan papilla fungiformis
45 Pembentukan gigi Gigi gosok Glandula parotis
46 Glandula submandibula Glandula sublingual Tonsilla palatina
47 2. Lakukan pengamatan pada preparat di mikroskop serta gambarlah pada kertas HVS hasil pengamatan Anda! 4.4 RUBRIK PENILAIAN Nilai Gambar Keterangan Gambar 85 Sesuai dengan pengamatan mikroskop dan mudah dimengerti Lengkap 80 Mirip dengan pengamatan mikroskop, masih dapat dimengerti 90%-80% 75 Mirip dengan pengamatan mikroskop, masih dapat dimengerti 70%-60% 70 Kurang sesuai dengan pengamatan mikroskop, tetapi masih dapat dimengerti 50% atau kurang 65 Kurang sesuai dengan pengamatan dan sulit dimengerti Tidak ada keterangan Bobot 40% 60% Keterangan: • Nilai = (Nilai Gambar X 40%) + (Keterangan Gambar x 60%)
48 PRAKTIKUM KE LIMA: MENGGAMBAR GIGI POKOK BAHASAN : Menggambar Anatomi Gigi Permanen SUBPOKOK BAHASAN : 1. Menggambar Anatomi Gigi Insisif 2. Menggambar Anatomi Gigi Kaninus 3. Menggambar Anatomi Gigi Premolar 4. Menggambar Anatomi Gigi Molar VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 6 Mahasiswa mampu membuat gambar serta ukiran gigi sesuai dengan detail struktur anatomis serta menentukan nomenklatur gigi dengan tepat Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 5 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Menggambar anatomi gigi permanen (insisif, kaninus, premolar, molar) dari berbagai aspek (fasial, palatal/lingual, mesial, distal, oklusal) 5.1 TUGAS Mahasiswa diharapkan mempelajari materi-materi di bawah ini sebelum praktikum 5 : 1. Jenis gigi permanen 2. Ukuran mahkota dan akar gigi permanen pada tiap gigi 3. Struktur anatomi gigi permanen 5.2 PENDAHULUAN Gigi permanen pada orang dewasa terdiri dari 32 gigi, 16 pada rahang atas dan 16 pada rahang bawah. Gigi permanen memiliki 8 gigi di setiap kuadran atau sisi, yang terbagi dari empat jenis yaitu insisivus (I), kaninus (C), premolar (P), dan molar (M). Pada setiap sisi terdiri dari dua gigi I, satu gigi C, dua gigi P, dan tiga gigi M. Total jumlah gigi anterior adalah 12 gigi dan gigi posterior berjumlah 20 gigi jika seluruh M ketiga sudah erupsi. Gigi insisif atau lebih dikenal dengan gigi seri adalah gigi anterior yang berfungsi untuk memotong makanan. Terdapat dua macam gigi inisisf yaitu insisif sentral yang letaknya mendekati garis median dan gigi insisif lateral yang terletak menjauhi garis median. Secara klinis gigi gigi insisif sentral terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan insisif lateral. Gigi insisif sentral rahang atas merupakan gigi anterior berakar tunggal selain gigi insisif lateral dan kaninus. Bentuk saluran akar pada penampang melintang dibagi menjadi tiga bagian. Pada sepertiga servikal saluran akar berbentuk oval atau bulat, pada sepertiga tengah akar berbentuk sedikit oval hampir mendekati bulat dan sepertiga apikal akar saluran akar berbentuk bulat.
49 Permukaan mahkota gigi insisif sentral di bagian mesial dan distal memiliki bentuk yang berbeda. Bila dilihat dari aspek labial, bagian gigi yang mendekati garis median merupakan permukaan mesial yang berbentuk sedikit cembung dan pada sudut mesioinsisal membentuk sudut hampir siku-siku. Bagian gigi yang menjauhi garis median merupakan permukaan distal yang berbentuk kurva cembung cekung dengan titik kontak distal terletak seperempat panjang mahkota di sudut insisal. Sudut disto-insisalnya membulat. Gambar 5.1 Gigi permanen Gigi kaninus atau gigi taring adalah gigi anterior yang berfungsi untuk merobek makanan. Gigi kaninus memiliki akar terpanjang dibanding gigi anterior lainnya, berbentuk meruncing dan biasanya melengkung ke distal pada ujung akarnya. Ukuran labio-lingual gigi kaninus lebih besar bila dibandingkan dengan gigi insisif dan memiliki satu bonjol yang berbentuk runcing dengan puncak bonjol berada di tengah-tengah mahkota dengan labial ridge yang menonjol dari servikal ke insisial dan lereng mesial lebih pendek dibandingkan dengan lereng distal. Titi kontak gigi kaninus dengan gigi tetangganya di bagian mesial yaitu sepertiga panjang mahkota dan bagian mesial setengah dari panjang mahkota. Gigi premolar merupakan gigi geraham kecil yang letaknya di bagian lateral belakang gigi kaninus. Bentuknya lebih kecil dan lebih pendek dari gigi kaninus tetapi mahkotanya memiliki dua bonjol di bagian bukal dan lingual/palatal. Bonjol bagian lingual lebih besar dibandingkan bonjol palatal. Gigi premolar atas umumnya memiliki dua akar. Ukuran premolar atas lebih besar bila dibandingkan dengan premolar bawah. Gigi molar atau gigi geraham adalah gigi belakang (posterior) yang berfungsi untuk menghancurkan makanan. Terdapat tiga macam molar yaitu molar pertama, kedua dan ketiga. Molar pertama berukuran lebih besar dibanding molar ketiga. Molar pertama rahang atas mempunyai tiga akar yang terdiri dari satu bagian di palatal dan dua bagian di bukal sedangkan mahkota giginya memiliki empat bonjol yaitu dua bagian di palatal dan dua bagian di bukal yang dipisahkan oleh lekukan/groove berbentuk seperti huruf “H”. Molar pertama rahang bawah memiliki dua akar di bagian mesial dan distal.
50 Gambar 5.2 Tabel ukuran gigi permanen berdasarkan buku Wheeler's Dental Anatomy, Physiology and Occlusion 5.3 PELAKSANAAN A. Alat dan Bahan Pada kegiatan praktikum menggambar gigi ini, mahasiswa harus menyiapkan: 1. Grid sketch book ukuran A3 2. Pensil 2B 3. Spidol 4. Penghapus 5. Penggaris B. Cara Kerja Pada kegiatan praktikum menggambar gigi ini, mahasiswa harus menggambar 5 gigi permanen rahang atas, terdiri dari gigi insisif sentral, kaninus, premolar pertama dan molar pertama dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Gigi digambar pada grid sketch book ukuran A3 sesuai dengan detail anatomis masing-masing gigi. 2. Setiap gigi digambar dari 5 permukaan yaitu: a. Aspek fasial (labial/bukal) b. Aspek palatal/lingual