The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Rahmadaniah Khaerunnisa, 2024-03-02 18:27:53

Buku Praktikum Blok 6

Buku Praktikum Blok 6

51 c. Aspek mesial d. Aspek distal e. Aspek insisal/oklusal 3. Gigi digambar sesuai dengan referensi gambar yang terlampir pada buku praktikum dengan perbesaran ukuran sebesar 4 kali dari gambar asli. 4. Berilah judul jenis gigi dan aspek permukaan pada tiap gambar. 5. Gigi digambar dengan rapih dan bersih. 6. Gambar gigi dikumpulkan pada akhir sesi pertemuan kedua dari praktikum 6. C. Referensi Gambar Gigi Gambar 5.3 Gigi insisif sentral rahang atas


52 Gambar 5.4 Gigi kaninus rahang atas


53 Gambar 5.5 Gigi premolar pertama rahang atas


54 Gambar 5.6 Gigi molar pertama rahang atas 5.4 RUBRIK PENILAIAN No. Pekerjaan Nilai Insisif Kaninus Premolar Molar 1. Gambar gigi sesuai dengan referensi gambar yang terlampir pada buku praktikum dengan perbesaran ukuran sebesar 4 kali dari gambar asli 2. Gigi digambar dari 5 permukaan


55 3. Gambar gigi pada grid sketch book ukuran A3 sesuai dengan detail anatomis masing-masing gigi 4. Terdapat keterangan (jenis gigi dan aspek permukaan) pada tiap gambar 5. Gambar bersih dan rapih 6. Mahasiswa mengerjakan pekerjaan sesuai prosedur di buku praktikum secara mandiri 7. Gambar gigi dikumpulkan sesuai dengan jadwal yang ditentukan Nilai Akhir (rerata poin 1-7) Keterangan: • Penilaian dilakukan pada masing-masing gigi (total ada 4 gigi) • Nilai pada tiap poin dalam rentang 70 sampai 85


56 PRAKTIKUM KE ENAM: ANATOMI GIGI SULUNG POKOK BAHASAN : Anatomi Gigi Sulung SUBPOKOK BAHASAN : Anatomi Gigi Sulung Rahang Atas dan Bawah VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 5 Mahasiswa mampu membandingkan struktur makroskopis mikroskopis gigi dan jaringan periodontal pada anak dan dewasa serta mengaitkan hubungannya dengan organ orocraniofacial lainnya dalam sistem stomatognati Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 6 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Memahami nomenklatur gigi sulung b. Memahami antomi gigi sulung secara mendalam c. Menentukan dengan tepat ciri anatomis tiap jenis gigi sulung d. Membandingkan struktur makroskopis pada gigi anak dan dewasa secara rinci 6.1 TUGAS 1. Mahasiswa diharapkan mempelajari materi di bawah ini sebelum praktikum 6 : a. Jenis gigi sulung b. Jenis gigi dewasa c. Waktu erupsi gigi d. Anatomi dan struktur gigi sulung e. Nomenklatur gigi sulung 2. Setiap mahasiswa diwajibkan telah menggunting gambar yang terlampir di buku praktikum lalu menempelkan gambar pada sketchbook sebelum pelaksanaan praktikum. 6.2 PENDAHULUAN Praktikum anatomi gigi sulung ini bertujuan untuk lebih meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mahasiswa mengenai anatomi gigi sulung, sehingga mahasiswa diharapkan mampu untuk mengidentifikasi berbagai macam gigi sulung. Praktikum ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menggambar anatomi gigi dalam berbagai aspek dan menekankan prinsip-prinsip dasar pemahaman anatomi gigi yang berguna untuk diaplikasikan dalam pekerjaan klinik. Pada tahap awal dari praktikum anatomi gigi sulung ini mahasiwa akan dilatih untuk mengenal bentuk gigi yang dasar teorinya sudah diperoleh pada kuliah dental anatomi gigi sulung yang pada tahap berikutnya yaitu peningkatan keterampilan mahasiswa dalam hal keakuratan dan ketajaman dalam menggambar anatomi gigi sulung.


57 Gambar 6.1 Gigi sulung pada tiap kuadran Gambar 6.2 Jenis gigi sulung pada rahang atas dan bawah Pembagian dari gigi menjadi 3 divisi mahkota atau akar Gambar 6.3 Pembagian gigi menjadi tiga bagian


58 Gambar 6.4 Tahap pertumbuhan dan perkembangan gigi sulung


59 Nomenklatur Identifikasi Gigi 1. Universal 2. Palmer 3. International tooth numbering/Federation Dentaire International (FDI) Jenis Gigi Sulung Gambar 6.4 Gigi insisif sentral rahang atas sulung


60 Gambar 6.5 Gigi insisif lateral rahang atas sulung Gambar 6.6 Gigi kaninus rahang atas sulung Gambar 6.7 Gigi molar 1 rahang atas sulung


61 Gambar 6.8 Gigi molar 2 rahang atas sulung Gambar 6.9 Gigi insisif sentral rahang bawah sulung


62 Gambar 6.10 Gigi insisif lateral rahang bawah sulung Gambar 6.11 Gigi kaninus rahang bawah sulung


63 Gambar 6.12 Gigi molar 1 rahang bawah sulung Gambar 6.13 Gigi molar 2 rahang bawah sulung 6.3 PELAKSANAAN 1. Guntinglah gambar yang terlampir di bawah ini lalu tempelkan pada sketchbook. 2. Lengkapilah keterangan gambar pada nomor 1 dengan ketentuan sebagai berikut: • Gambar 1 : jenis gigi dan waktu tumbung kembang gigi (benih; mahkota komplit; erupsi; akar komplit) • Gambar 2 : tipe gigi dan ciri-cirinya • Gambar 3 : tipe gigi, nomenklatur gigi, landmark anatomi gigi • Gambar 4 : perbedaan antara gigi sulung dan gigi permanen


64 6.4 RUBRIK PENILAIAN Nilai Keterangan Gambar Kerapihan 85 Lengkap 80 90%-80% Cukup rapih 75 70%-60% 70 50% atau kurang Kurang rapih 65 Tidak ada keterangan Bobot 60% 40% Keterangan: • Nilai = (Keterangan Gambar x 60%) + (Kerapihan X 40%)


65 Gambar 1


66 Gambar 2


67 Lampiran 3


68 Gambar 3


69


70 Gambar 4


71 PRAKTIKUM KE TUJUH: ANATOMI GIGI DEWASA POKOK BAHASAN : Anatomi Gigi Dewasa SUBPOKOK BAHASAN : Anatomi Gigi Sulung Dewasa Atas dan Bawah VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 5 Mahasiswa mampu membandingkan struktur makroskopis mikroskopis gigi dan jaringan periodontal pada anak dan dewasa serta mengaitkan hubungannya dengan organ orocraniofacial lainnya dalam sistem stomatognati Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 7 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Memahami anatomi dan morfologi gigi permanen rahang atas & bawah b. Mampu membedakan masing-masing gigi permanen rahang atas & bawah c. Menentukan dengan tepat ciri anatomis tiap jenis gigi permanen rahang atas & bawah 7.1 TUGAS 1. Mahasiswa diharapkan mempelajari materi di bawah ini sebelum praktikum 7 : a. Jenis gigi dewasa b. Waktu erupsi gigi c. Anatomi dan struktur gigi dewasa d. Nomenklatur gigi dewasa 3. Setiap mahasiswa diwajibkan telah menggunting gambar yang terlampir di buku praktikum lalu menempelkan gambar pada sketchbook sebelum pelaksanaan praktikum. 7.2 PENDAHULUAN Gigi geligi manusia dibagi menjadi gigi sulung (decideuous teeth) dan gigi permanen. Gigi permanen normalnya manusia memiliki tiga puluh dua gigi permanen dengan susunan enam belas gigi di rahang atas dan enam belas gigi di rahang bawah. Gigi permanen pada orang dewasa terdiri dari 32 gigi, 16 pada rahang atas dan 16 pada rahang bawah. Gigi permanen memiliki 8 gigi di setiap kuadran atau sisi, yang terbagi dari empat jenis yaitu insisivus (I), kaninus (C), premolar (P), dan molar (M). Pada setiap sisi terdiri dari dua gigi I, satu gigi C, dua gigi P, dan tiga gigi M. Total jumlah gigi anterior adalah 12 gigi dan gigi posterior berjumlah 20 gigi jika seluruh M ketiga sudah erupsi. Sangat penting bagi para dokter gigi untuk mengenal istilah-istilah nomenklatur (sistem penomoran) pada gigi seperti : Universal Numbering System, Cara Utrecth / Belanda, Sistem Scandinavian, Cara Haderup, Cara Applegate, Cara Amerika, Cara Zsigmondy, Palmer Notation System dan International Tooth Numbering System (Federation Dentaire International [FDI]). Namun, sistem yang paling umum digunakan adalah sistem internasional dimana menggunakan dua digit di setiap gigi baik gigi permanen maupun gigi sulung.


72 Untuk menentukan nomenklatur gigi ditentukan terlebih dahulu pembagian daerah rongga mulut di bagian garis tengah (median line) dibagi menjadi empat bagian yang sama disebut kuadran. Terbagi menjadi 4 kuadran, rahang atas sebelah kanan, rahang atas sebelah kiri, rahang bawah sebelah kiri dan rahang bawah sebelah kanan. Gambar 7.1 Pembagian kuadran pada gigi permanen Untuk mengidentifikasi gigi di masing-masing kuadran, setiap gigi diberikan penomoran dengan angka. Penomoran dimulai dari garis tengah lengkung gigi hingga ke gigi terakhir di bagian posterior rahang baik uantuk gigi sulung maupun gigi permanen. Sistem penomoran gigi yang paling umum digunakan di dunia adalah nomenklatur oleh World Dental Federation (FDI). Sistem ini dikembangkan oleh World Dental Federation (FDI). Ini juga digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan digunakan di sebagian besar negara di dunia kecuali Amerika Serikat (yang menggunakan UNS). Penulisan nomenklatur gigi berdasarkan FDI ini menggunakan dua digit untuk kode setiap giginya baik pada gigi permanen ataupun gigi sulung. Digit pertama menunjukkan kuadran, kuadran di sini dibagi menjadi empat yaitu kanan atas, kiri atas, kiri bawah, dan kanan bawah yang diberi kode angka searah jarum jam. Kode angka untuk setiap kuadran berbeda untuk gigi sulung dan gigi permanen. Digit kedua menentukan posisi gigi yang di tentukan dari midline dari yang terdekat dari midline hingga yang terjauh baik untuk gigi sulung maupun gigi permamen.


73 Gambar 7.2 Nomenklatur gigi permanen berdasarkan ketentuan FDI Cara pembacaan nomenklatur gigi, dibacakan setiap digit angkanya bukan seperti membaca hitungan angka. Contoh gigi 18 dibaca gigi satu delapan (bukan dibaca gigi delapan belas). A. Gigi Permanen Rahang Atas Terdapat 16 gigi pada susunan gigi permanen rahang atas. Terdiri dari gigi insisif sentral, insisif lateral, kaninus, premolar 1, premolar 2, molar 1, molar 2 dan molar 3. 1. Gigi insisif sentral rahang atas Memiliki dimensi lebih luas, terutama mesial distal, jika dibandingkan dengan insisif sentral rahang bawah. Permukaan labial membulat dari aspek insisal, mengerucut ke bagian servikal. Seluruh gambaran permukaan lingual termasuk marginal ridge, palatal fossa dan singulum, lebih menonjol jika dibandingkan dengan gigi insisif sentral rahang bawah. Tepi insisal sering disebut permukaan insisal atau incisal plane. Sudut mesio insisal membentuk sudut sembilan puluh derajat sedangkan sudut disto insisal lebih membulat. Ketika baru erupsi, gigi insisif sentral dan insisif lateral memiliki 3 mamelon atau enamel extension yang membulat pada tepi insisal. Mamelon akan menghilang seiring atrisi setelah erupsi. Gigi insisif sentral memiliki akar tunggal dengan ujung apeks membulat yang cenderung mengarah ke sisi distal. Gambar 7.3 Gigi isisif sentral rahang atas


74 2. Gigi insisif lateral rahang atas Gigi ini memili ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan gigi insisif sentral rahang atas. Erupsi setalah gigi insisif sentral. Gigi insisif lateral rahang atas memiliki satu akar yang lurus atau sedikit membengkok ke distal dengan penampang akarnya hampir bundar, tetapi lebih pipih jika dibandingkan dengan gigi insisif sentral rahang atas. Gambar 7.4 Gigi insisif lateral rahang atas 3. Gigi kaninus rahang atas Bentuk gigi terlihat seperti mata tombak. Gigi ini memiliki satu cusp dengan ujung cusp yang lebih tajam daripada cusp gigi kaninus rahang bawah. Puncak cusp terletak ditengah-tengah. Lereng mesial lebih pendek dari lereng distal terutama terlihat jelas ketika baru erupsi. Panjang lereng dan cusp dapat berubah seiring atrisi setelah erupsi. Merupakan gigi dengan mahkota terpanjang di dalam rongga mulut. Memiliki satu akar yang panjang. Gambar 7.5 Gigi kaninus rahang atas 4. Gigi premolar 1 rahang atas Merupakan gigi keempat kiri dan kanan dari median line. Mempunyai dua cusp yaitu cusp bukal dan palatal serta dua akar yaitu akar bukal dan palatal. Dimesi lebih luas dari premolar 2 rahang atas. Dari aspek palatal akan terlihat dua cusp dengan ketinggian puncak cusp palatal lebih rendah dari cusp bukal. 5. Gigi premolar 2 rahang atas Merupakan gigi atas kelima kiri dan kanan dari median line. Bentuk mirip dengan gigi premolar satu rahang atas. Mempunyai satu akar dan satu saluran akar. Terdapat dua cusp yaitu cusp bukal dan palatal. Ketinggian kedua cusp bukal dan palatal pada gigi premolar kedua hampir sama. Cusp palatal sedikit lebih pendek pada premolar dua.


75 Lereng mesio bukal lebih pendek daripada lereng distobukal pada premolar kedua. Gambar 7.5 Gigi premolar 1 rahang atas Gambar 7.6 Gigi premolar 2 rahang atas 6. Gigi molar 1 rahang atas Gigi permanen pertama yang erupsi dalam lengkung rahang. Erupsi di sebelah distal gigi molar kedua sulung. Gigi molar 1 satu rahang atas adalah gigi terbesar dalam lengkung rahang atas dan mahkota terbesar dalam susuan gigi permanen. Memiliki lima cusp yaitu mesiobukal, distobukal, mesiopalatal, distopalatal serta cusp kelima di bagian mesiopalatal disebut cusp carabelli. Memiliki tiga akar yaitu akar mesiobukal, distobukal dan akar palatal. Akar palatal merupakan akar yang terpanjang dari gigi molar. Gambar 7.7 Gigi molar 1 rahang atas


76 7. Gigi molar 2 rahang atas Ketinggian mahkota gigi molar 2 rahang atas lebih pendek daripada molar 1 rahang atas. Memiliki empat cusp yaitu mesiobukal, distobukal, mesiopalatal, distopalatal tanpa cusp carabelli. Cusp mesiodistal lebih tinggi dan lebih tajam dibandingkan cusp distobukal. Memiliki tiga akar yaitu akar mesiobukal, distobukal dan akar palatal. Ukuran akar lebih kecil dibandingkan gigi molar 1 rahang atas. Bukal groove terlihat lebih ke distal dibandingkan dengan bukal groove pada molar 1 rahang atas. Gambar 7.8 Gigi molar 2 rahang atas 8. Gigi molar 3 rahang atas Berbeda dari segi ukuran dan kontur jika dibandingkan dengan gigi molar 1 dan 2 rahang atas. Ukuran mahkota lebih kecil serta akar yang lebih pendek. Akar gigi molar 3 rahang atas biasanya menyatu sehingga terlihat seperti satu akar yang mengerucut. Gambar 7.9 Gigi molar 3 rahang atas B. Gigi Permanen Rahang Bawah Sama seperti pada rahang atas, terdapat 16 gigi pada susunan gigi permanen rahang bawah. Terdiri dari gigi insisif sentral, insisif lateral, kaninus, premolar 1, premolar 2, molar 1, molar 2 dan molar 3. 1. Gigi insisif sentral rahang bawah Gigi paling kecil ukurannya dalam lengkung rahang dan biasanya bilaterally symmetric. Memiliki singulum yang kecil di tengah bagian lingual, lingual fossa, dan marginal ridge mesial distal yang sama tingginya. Mahkota insisif sentral rahang bawah lebih sempit pada permukaan lingual dibandingkan permukaan labialnya.


77 Gambar 7.10 Gigi insisif sentral rahang bawah 2. Gigi insisif lateral rahang bawah Berukuran lebih besar dari gigi insisif sentral rahang bawah atau berukuran sama dengan gigi insisif sentral rahang bawah. Insisif lateral rahang bawah memiliki singulum yang terletak lebih ke distal. Lengkung CEJ pada permukaan mesial terlihat jauh lebih tinggi daripada CEJ di permukaan distal. Gambar 7.11 Gigi insisif lateral rahang bawah 3. Gigi kaninus rahang bawah Panjang akar hampir sama dengan kaninus rahang atas, namun gigi kaninus rahang bawah lebih sempit dimesi labiolingual dan mesiodistalnya. Permukaan lingual dari mahkota kaninus rahang baawah lebih halus dan singulum lebih dangkal, serta memiliki dua marginal ridge. Gambar 7.12 Gigi kaninus rahang bawah


78 4. Gigi premolar satu rahang bawah Memiliki cusp yang tinggi di bukal serta cusp yang kecil dan sangat pendek di lingual. Cusp lingual seringkali tidak lebih besar dari singulum pada kaninus rahang atas. Gigi premolar satu rahang bawah lebih kecil dan lebih pendek dari premolar dua. Gambar 7.13 Gigi premolar satu rahang bawah 5. Gigi premolar dua rahang bawah Merupakan gigi pengganti molar kedua rahang bawah sulung. Terdapat dua bentuk premolar dua rahang bawah, yaitu yang memiliki tiga cusp dan yang memiliki dua cusp. Ketinggian cusp pada gigi premolar dua rahang bawah hampir sama antara satu cusp dan cusp lainnya. Gambar 7.13 Gigi premolar dua rahang bawah 6. Gigi molar satu rahang bawah Erupsi antara usia 6 sampai 7 tahun. Biasanya gigi ini yang pertama erupsi dalam susunan gigi permanen. Memiliki lima cups, dengan cusp kelima yang disebut cusp distal. Memiliki dua akar, yaitu akar mesial dan akar distal. Akarnya lebih besar dan lebih divergen jika dibandingkan dengan gigi molar dua rahang bawah. Apabila ditemukan tiga akar, dua akar berada di mesial, yaitu mesiobukal dan mesiolingual. 7. Gigi molar dua rahang bawah Erupsi antar usia 11 sampai 12 tahun. Gigi ini erupsi di sebelah distal molar pertama rahang bawah. Mahkota gigi molar dua rahang bawah berukuran lebih kecil dari molar pertama rahang bawah. Memiliki empat cusp serta dua akar. 8. Gigi molar tiga rahang bawah Bentuk dan ukurannya bervariasi (anomali). Biasanya memiliki empat cusp. Molar tiga rahang bawah memiliki akar yang biasanya mengerucut, atau dua akar yang


79 bersatu dan bengkok. Memiliki akar yang lebih pendek daripada molar dua rahang bawah. Gambar 7.14 Gigi molar satu rahang bawah Gambar 7.15 Gigi molar dua rahang bawah Gambar 7.16 Gigi molar tiga rahang bawah 7.3 PELAKSANAAN 1. Guntinglah gambar yang terlampir di bawah ini lalu tempelkan pada sketchbook. 2. Lengkapilah keterangan disertai warna pada tiap gambar gigi dengan ketentuan sebagai berikut: • Jenis gigi dan aspek permukaan • Waktu tumbung kembang gigi (erupsi; akar komplit) • Ciri umum (jumlah cusp, akar, outline, dll) • Detail anatomis gigi baik pada makhota maupun akar


80 7.4 RUBRIK PENILAIAN Nilai Keterangan Gambar Kerapihan 85 Lengkap 80 90%-80% Cukup rapih 75 70%-60% 70 50% atau kurang Kurang rapih 65 Tidak ada keterangan Bobot 60% 40% Keterangan: • Nilai = (Keterangan Gambar x 60%) + (Kerapihan X 40%)


81 Gambar 1


82 Gambar 2


83 Gambar 3


84 Gambar 4


85 Gambar 5


86 Gambar 6


87 Gambar 7


88 Gambar 8


89 PRAKTIKUM KE DELAPAN: DETERMINASI GIGI POKOK BAHASAN : Determinasi Gigi Permanen dan Gigi Sulung SUBPOKOK BAHASAN : 1. Morfologi Gigi Permanen Rahang Atas 2. Morfologi Gigi Permanen Rahang Bawah 3. Morfologi Gigi Sulung Rahang Atas 4. Morfologi Gigi Sulung Rahang Bawah VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 6 Mahasiswa mampu membuat gambar serta ukiran gigi sesuai dengan detail struktur anatomis serta menentukan nomenklatur gigi dengan tepat Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 8 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Menjelaskan terminologi anatomi gigi berdasarkan topografi b. Menjelaskan ciri morfologi gigi permanen dan gigi sulung c. Mengidentifikasi nomenklatur gigi permanen dan gigi sulung dengan tepat 8.1 TUGAS Mahasiswa diharapkan mempelajari materi-materi di bawah ini sebelum praktikum 9 : 1. Jenis gigi permanen dan gigi sulung 2. Morfologi gigi permanen dan gigi sulung 3. Nomenklatur gigi permanen dan gigi sulung 8.2 PENDAHULUAN Gigi geligi manusia dibagi menjadi gigi sulung (decideuous teeth) dan gigi permanen. Pada anak-anak, normalnya terdapat dua puluh gigi susu yang susunan terdiri dari sepuluh gigi di rahang atas dan sepuluh gigi di rahang bawah. Sedangkan pada gigi permanen normalnya manusia memiliki tiga puluh dua gigi permanen dengan susunan enam belas gigi di rahang atas dan enam belas gigi di rahang bawah. Gigi sulung mulai tumbuh ketika bayi berumur 6 bulan, setelah bayi berumur 2 tahun maka seluruh gigi sudah tumbuh sempurna. Gigi sulung normalnya mempunyai 20 gigi yang susunannya terdiri dari 10 gigi di rahang atas (5 gigi di kiri dan 5 gigi di kanan), 10 gigi di rahang bawah (5 gigi di kiri dan 5 gigi di kanan). Gigi permanen pada orang dewasa terdiri dari 32 gigi, 16 pada rahang atas dan 16 pada rahang bawah. Gigi permanen memiliki 8 gigi di setiap kuadran atau sisi, yang terbagi dari empat jenis yaitu insisivus (I), kaninus (C), premolar (P), dan molar (M). Pada setiap sisi terdiri dari dua gigi I, satu gigi C, dua gigi P, dan tiga gigi M. Total jumlah gigi anterior adalah 12 gigi dan gigi posterior berjumlah 20 gigi jika seluruh M ketiga sudah erupsi. Sangat penting bagi para dokter gigi untuk mengenal istilah-istilah nomenklatur (sistem penomoran) pada gigi seperti : Universal Numbering System, Cara Utrecth/ Belanda,


90 Sistem Scandinavian, Cara Haderup, Cara Applegate, Cara Amerika, Cara Zsigmondy, Palmer Notation System dan International Tooth Numbering System (Federation Dentaire International [FDI]). Namun, sistem yang paling umum digunakan adalah sistem internasional dimana menggunakan dua digit di setiap gigi baik gigi permanen maupun gigi sulung. Untuk menentukan nomenklatur gigi ditentukan terlebih dahulu pembagian daerah rongga mulut di bagian garis tengah (median line) dibagi menjadi empat bagian yang sama disebut kuadran. Terbagi menjadi 4 kuadran, rahang atas sebelah kanan, rahang atas sebelah kiri, rahang bawah sebelah kiri dan rahang bawah sebelah kanan. Gambar 8.1 Pembagian kuadran pada gigi sulung


91 Gambar 8.2 Pembagian kuadran pada gigi permanen Untuk mengidentifikasi gigi di masing-masing kuadran, setiap gigi diberikan penomoran dengan angka. Penomoran dimulai dari garis tengah lengkung gigi hingga ke gigi terakhir di bagian posterior rahang baik uantuk gigi sulung maupun gigi permanen. Sistem penomoran gigi yang paling umum digunakan di dunia adalah nomenklatur oleh World Dental Federation (FDI). Sistem ini dikembangkan oleh World Dental Federation (FDI). Ini juga digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan digunakan di sebagian besar negara di dunia kecuali Amerika Serikat (yang menggunakan UNS). Penulisan nomenklatur gigi berdasarkan FDI ini menggunakan dua digit untuk kode setiap giginya baik pada gigi permanen ataupun gigi sulung. Digit pertama menunjukkan kuadran, kuadran di sini dibagi menjadi empat yaitu kanan atas, kiri atas, kiri bawah, dan kanan bawah yang diberi kode angka searah jarum jam. Kode angka untuk setiap kuadran berbeda untuk gigi sulung dan gigi permanen. Digit kedua menentukan posisi gigi yang di tentukan dari midline dari yang terdekat dari midline hingga yang terjauh baik untuk gigi sulung maupun gigi permamen.


92 Gambar 8.3 Nomenklatur gigi berdasarkan ketentuan FDI


93 Gambar 8.4 Nomenklatur gigi berdasarkan ketentuan FDI Keterangan: • Cara pembacaan nomenklatur gigi, dibacakan setiap digit angkanya bukan seperti membaca hitungan angka. • Contoh gigi 18 dibaca gigi satu delapan (bukan dibaca gigi delapan belas). • Contoh gigi 54 dibaca gigi lima empat (bukan dibaca gigi lima puluh empat). 8.3 PELAKSANAAN A. Cara Kerja Pada kegiatan praktikum determinasi gigi ini, mahasiswa melakukan identifikasi pada gigi asli (post ekstraksi) maupun pada gambar yang diberikan. Identifikasi gigi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 7. Kategorikan apakah gigi tersebut merupakan gigi permanen atau gigi sulung. Lihat berdasarkan ukuran giginya. 8. Tentukan jenis gigi berdasarkan bentuknya, terdiri dari: a. Gigi insisif


94 b. Gigi kaninus c. Gigi premolar d. Gigi molar 9. Kategorikan apakah gigi tersebut merupakan gigi rahang atas atau gigi rahang bawah berdasarkan ciri-cirinya. 10. Tentukan tipe gigi berdasarkan morfologinya, misalnya gigi insisif sentral atau lateral dan lainnya. 11. Tentukan mana sisi mesial dan distal dari gigi tersebut berdasarkan morfologinya. 12. Kategorikan apakah gigi tersebut merupakan gigi dari regio kanan atau kiri berdasaarkan dari sisi mesial, distal, fasial, palatal/lingual dan oklusal yang terlah ditentukan pada tahap sebelumnya. 13. Tuliskan nomenklatur gigi tersebut berdasarkan sistem FDI. B. Contoh Determinasi Gigi Gigi No. Tahap 1. Apakah gigi tersebut merupakan gigi permanen atau gigi sulung? Jawaban: gigi permanen (ukuran gigi terlihat besar baik pada mahkota maupun akar) 2. Tentukan jenis gigi! Jawaban: gigi insisif permanen (tidak memiliki cusp, berakar tunggal) 3. Apakah gigi tersebut merupakan gigi rahang atas atau gigi rahang bawah? Jawaban: gigi insisif permanen rahang atas (mahkota dan akar memiliki ukuran yang lebih lebar) 4. Tentukan tipe gigi? Jawaban: gigi insisif sentral permanen rahang atas (outline mahkota gigi insisif sentral terlihat lebih kotak) 5. Tentukan mana sisi mesial dan distal gigi! Jawaban: Pada gigi insisif sentral permanen rahang atas, distal outline dan sudut disto insisal lebih menbulat dibandingkan bagian mesial 6. Apakah gigi tersebut merupakan gigi dari regio kanan atau kiri? Jawaban: gigi insisif sentral permanen rahang atas kanan Distal Mesial


95 7. Tuliskan nomenklatur gigi tersebut berdasarkan sistem FDI! Jawaban: 11 (gigi insisif sentral permanen rahang atas kanan) - angka pertama pada nomenklatur adalah angka 1 karena gigi merupakan gigi permanen rahang atas kanan → regio 1 - angka kedua pada nomenklatur adalah angka 1 karena gigi gigi insisif sentral merupakan gigi pertama dari sisi median line 8.4 RUBRIK PENILAIAN No. Kriteria Nilai 1. Mengkategorikan gigi berdasarkan kriteria gigi permanen atau gigi sulung 2. Mentukan jenis gigi berdasarkan bentuknya (insisif, kaninus, premolar atau molar) 3. Mengkategorikan gigi berdasarkan letaknya di dalam rahang: gigi rahang atas atau gigi rahang bawah 4. Menentukan tipe gigi berdasarkan morfologinya (misalnya gigi insisif sentral atau lateral dan lainnya) 5. Menentukan sisi mesial dan distal dari gigi berdasarkan morfologinya 6. Kategorikan apakah gigi tersebut merupakan gigi dari regio kanan atau kiri 7. Menentukan nomenklatur gigi berdasarkan sistem FDI dengan tepat Nilai Akhir (rerata poin 1-7) Keterangan: • Penilaian dilakukan pada tiap mahasiswa berdasarkan soal yang diberikan oleh fasilitator • Nilai pada tiap poin dalam rentang 70 sampai 85


96 PRAKTIKUM KE SEMBILAN: MENGUKIR GIGI POKOK BAHASAN : Mengukir Gigi Permanen SUBPOKOK BAHASAN : Mengukir Gigi Premolar Permanen VIDEO PEMBELAJARAN : Kode Capaian Pembelajaran Mata Kuliah Blok: SUB CPMK 6 Mahasiswa mampu membuat gambar serta ukiran gigi sesuai dengan detail struktur anatomis serta menentukan nomenklatur gigi dengan tepat Capaian Pembelajaran Unit Praktikum 9 : Setelah menyelesaikan kegiatan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu : a. Melakukan pengukiran gigi premolar dari aspek bukal, palatal, mesial, distal, dan oklusal b. Menghasilkan duplikasi gigi premolar dari gigi asli dengan detail anatomis yang serupa 9.1 TUGAS Mahasiswa diharapkan mempelajari materi-materi di bawah ini sebelum praktikum 9 : 1. Anatomi dan morfologi gigi premolar 1 rahang atas permanen 2. Instrumen yang digunakan dalam pengukiran gigi 3. Langkah-langkah mengukir gigi 9.2 PENDAHULUAN A. Anatomi dan Morfologi Gigi Premolar 1 Rahang Atas Permanen Gigi premolar 1 rahang atas permanen merupakan gigi keempat dari median line. Gigi ini mulai mengalami kalsifikasi di usia 1 tahun, email lengkap pada usia 5 sampai 6 tahun. Premolar 1 rahang atas permanen erupsi di usia 10 sampai 11 tahun dan akar lengkap pada usia 12 sampai 13 tahun. Gigi tersebut memiliki 2 cusp yaitu cusp bukal dan palatal dengan bentuk mahkota seperti trapesium dengan empat sisi tidak sama. Memiliki 2 akar yaitu akal bukal dan palatal. Bila terdapat hanya satu akar, gigi premolar 1 rahang atas tetap memiliki dua saluran akar. Gambar 9.1 Gigi premolar 1 rahang atas permanen (A. Aspek bukal; B. Aspek palatal; C. Aspek oklusal; D. Aspek mesial; E. Aspek distal)


97 Aspek Bukal Dasi aspek bukal terlihat garis servikal tidak begitu lengkung seperti pada gigi anterior. Akar cenderung lebih pendek jika dibandingkan dengan akar gigi anterior. Bagian sepertiga apikal lebih ramping dengan ujung apeks yang lebih runcing. Gari luar akar di bagian mesial cenderung konveks. Sedangkan pada bagian distal konkavitas terdapat pada bagian sepertingan tengah dan apikal. Lereng mesial pada cusp bukal lebih panjang daripada bagian distalnya. Garis luar distal dari mahkota hampir lurus, sedangkan garis luar mesial cekung mulai dari servikal dan cembung pada titik kontak. Gambar 9.2 Aspek bukal gigi premolar 1 rahang atas permanen Aspek Palatal Cusp palatal lebih kecil dan pendek dari cusp bukal. Dari aspek palatal, cusp bukal terlihat sebagian. Cusp palatal lebih bundar dan halus. Garis servikal terlihat hampir lurus. Aspek Mesial Pada aspek mesial garis servikal terlihat melengkung tetapi tidak sedalam gigi anterior. Puncak cusp bukal berada segaris dengan apeks akar bukal. Sedangkan puncak cusp palatal segaris dengan garis luar akar palatal. Terdapat depression di bawah titik kontak mesio marginal ridge yang dipotong oleh mesio marginal groove. Bifurkasi dari akar terletak pada setengah panjang akar dengan ketinggian ujung-ujung akar bukal dan palatal yang sama.


98 Aspek Distal Permukaan ini seperti permukaan mesial dengan perbedaan pada garis servikal yang tidak begitu melengkung. Serta developmental groove tidak begitu terlihat. Aspek Oklusal Aspek oklusal berbentuk segi enam dengan sisi mesial lebih pendek dari sisi distal. Terdapat central groove yang jelas. Ada mesio marginal groove, mirip lanjutan dari central groove. Mesio cusp ridge dengan mesio marginal ridge membentuk sudut 900 sedangkan disto cusp ridge dengan disto marginal ridge membulat. B. Armamentarium Lecron carver adalah alat instrumen dental yang dipergunakan untuk mengukir atau memahat wax. Alat ini terbuat dari bahan stainless steel yang dapat digunakan di semua bidang kedokteran gigi. Bagian-bagiannya terdiri dari knife end (cutting edge & noncutting edge), spoon end/excavating end, handle dan shank. Gambar 9.3 Lecron carver Gambar 9.4 Bagian dari lecron


99 9.3 PELAKSANAAN A. Alat dan Bahan 4. Gigi premolar 1 rahang atas permanen post ektraksi yang bebas dari karies 5. Balok sabun 6. Penggaris/jangka sorong 7. Pensil 8. Sketchbook 9. Lecron 10. Kertas alas 11. Kassa 12. Alkohol 13. Plastik ziplock kecil B. Cara Kerja Kegiatan praktikum mengukir gigi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 14. Menyiapkan gigi premolar 1 rahang atas permanen post ektraksi yang bebas dari karies. Gigi diperlihatkan terlebih dahulu pada dosen sebelum kegiatan praktikum dilaksanakan. 15. Melakukan determinasi pada gigi tersebut dan menentukan nomenklaturnya. 16. Melakukan pengukuran panjang dan lebar dari gigi tersebut dari setiap aspeknya. 17. Membuat pola rencana gambar gigi premolar 1 rahang atas permanen dari aspeknya dengan perbesaran ukuran sebesar 3 kali dari ukuran gigi asli pada sketchbook. 18. Menyiapkan balok sabun sesuai dengan ukuran 3 kali perbesaran gigi asli. 19. Memindahkan ukuran 3 kali perbesaran gigi asli ke balok sabun. Gambar 9.5 Ukur panjang dan lebar gigi asli diproyeksikan ke balok sabun


100 20. Memindahkan pola rencana gambar dari sketchbook ke balok sabun. 21. Memotong dimulai pada aspek mesial dan distal lebih dahulu dengan lecron sesuai bentuk gambar, lalu dilanjutkan pada aspek bukal dan palatal sampai lengkap mulai dari mahkota terlebih dahulu lalu dilanjutkan ke bagian akar. Gambar 9.6 Memotong sabun pada aspek mesial dan distal di bagian mahkota gigi menggunakan lecron Gambar 9.7 Memotong sabun pada aspek bukal dan palatal di bagian mahkota gigi menggunakan lecron


Click to View FlipBook Version