The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Digital UKMC Palembang, 2022-11-10 21:42:45

Anfis Perkemihan-Masayu-B5

ANATOMI FISIOLOGI






UU No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

Fungsi dan Sifat Hak Cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas
hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap:
i. Penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan
peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual;
ii. penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian
ilmu pengetahuan;
iii. penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran,
kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar;
dan
iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang
memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin
Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta
melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1)
huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

“Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit pada
Manusia”

Anatomi Fisiologi
“Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit pada Manusia“

apt. Masayu Azizah, M.Kes., dkk.

Editor:
Novita Elisabeth Daeli, S.Kep., Ns., M.Kep.

Desainer:
Mifta Ardila

Sumber:
www.cendekiamuslim.com

Penata Letak:
Tim YPCM

Proofreader :
Tim YPCM

Ukuran:
viii, 69, 15,5x23 cm

ISBN:
978-623-6481-74-5

Cetakan Pertama:
November 2021

Hak Cipta 2021, pada apt. Masayu Azizah, M.Kes., dkk.
Isi di luar tanggung jawab percetakan

Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Anggota Luar Biasa IKAPI: 027/SBA/2021
YAYASAN PENDIDIKAN CENDEKIA MUSLIM

Perumahan Gardena Maisa 2, Blok C.09, Koto Baru, Kecamatan Kubung,
Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat – Indonesia 27361
HP/WA: 0823-9205-6884
Website: www.cendekiamuslim.com
E-mail: [email protected]

Daftar Isi





Daftar Tabel .............................................................................................vi

Daftar Gambar ........................................................................................vii
Prakata ........ ..............................................................................................viii

Bab 1 Organ Sistem Perkemihan ........................................................1

Bab 2 Struktur Dasar Sistem perkemihan ........................................9

Bab 3 Mekanismen Kerja Sistem Perkemihan ................................19

Bab 4 Mikturisi ......................................................................................29
Bab 5 Filtrasi Glomerulus, Aliran Darah Ginjal,

dan Pengaturannya ..................................................................39

Bab 6 Cairan dan elektrolit ..................................................................47

Bab 7 Latihan Soal ................................................................................61

Daftar Pustaka ........................................................................................65
Profil Penulis ...........................................................................................69





















v

Daftar Tabel




Daftar Tabel 4.1 ............................................................................................... 35





































vi

Daftar Tabel


Gambar 1.1 ............................................................................................ 3

Gambar 1.2 ............................................................................................ 4
Gambar 1.3 ............................................................................................ 6

Gambar 1.4 ............................................................................................ 7
Gambar 1.5 ............................................................................................ 8

Gambar 3.1 .......................................................................................... 24

Gambar 4.1 .......................................................................................... 32































vii

Prakata



Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat


kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan buku berjudul

“Anatomi fisiologi sistem perkemihan dan konsep cairan


elektrolit pada manusia“ buku ini di buat untuk


mempermudah mahasiswa. Buku dilengkapi dengan latihan.


kami meminta masukan dan saran yang membangun serta


minta maaf jika dalam penyusunan buku masih ada

kekurangan, semoga buku ini dapat bermanfaat untuk kita


semuanya.


Palembang, Oktober 2020





Penyusun


















viii

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
BAB 1




Organ Sistem
Perkemihan






A. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1. Menyebutkan anatomi sistem perkemihan
2. Mengidentifikasi organ-organ dalam sistem

perkemihan.



B. Pendahuluan

Sistem perkemihan atau sistem Urinary merupakan
tempat untuk menyaring darah, sehingga darah yang

mengalir ke seluruh tubuh bersih bebas dari zat-zat yang

berbahaya bagi tubuh. Sedangkan zat-zat yang tidak

diperlukan oleh tubuh dibuang melalui urine. Selain itu

sistem perkemihan mempunyai fungsi untuk menjaga
keseimbangan dalam tubuh dan fungsi lainnya adalah

untuk membuang produk produk sisa (Wahyuningsih,

heni puji, & Kusmiyati, 2017, p. 147).


1

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Sistem perkemihan adalah organ-organ yang

menghasil-kan urin dan mengeluarkan sisa-sisa dari

tubuh. Sistem perkemihan merupakan suatu sistem

ekskresi yang utama, sistem perkemihan terdiri dari
ginjal,ureter, kandung kemih dan uretra. (Waugh, Anne

and Grant, 2017, p. 204).


C. Anatomi Sistem Perkemihan
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem ekskresi yang

utama, sistem perkemihan terdiri dari ginjal,ureter,

kandung kemih dan uretra. Berikut penjelasan terkait
anatomi sistem perkemihan, sebagai berikut (Waugh,

Anne and Grant, 2017, p. 204) :

1. Ginjal

Ginjal merupakan bagian penting dalam anatomi sistem

perkemihan. Ginjal adalah sebuah organ yang
berbentuk kacang, yang mempunyai ukuran panjang

antara 11 cm, lebar 6 cm, tebal 3 cm dan berat 150 g

(Waugh, Anne and Grant, 2017, p. 204). Ginjal berada

di bagian belakang perut, terutama didaerah lumbal

pada bagian kiri dan kanan. Di bungkus oleh lemak
pada bagian belakang peritoneum. Bentuk ginjal pada

sebelah kanan lebih rendah dari pada ginjal sebelah kiri



2

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
karena pada pada sebelah kanan terdapat organ hati

yang letaknya lebih banyak berada disebelah kanan

(Wahyuningsih, heni puji, & Kusmiyati, 2017, p. 2).























Gambar 1.1 Ginjal
(Sumber : (Silverthorn, 2013, p. 651))

Ginjal mempunyai empat komponen sebagai berikut

Lyndon, p.7:
a. Korteks

Merupakan lapisan terdapat di luar ginjal. Terdapat

glomerulus, tubulus proksimal nefron dan tubulus

distal nefron

b. Medula
Merupakan lapisan yang terletak didalam ginjal.

Mempunyai ansa Henle dan tubulus kolektivus



3

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
c. Pelvis renis

Merupakan tempat mengumpulkan urine dari

kalises

d. Nefron
Merupakan kesatuan unit fungsional ginjal,. Terdiri

dari kapsul bowman dan glomerulus. Terdapat

tubulus renal, mempunyai bagian-bagian dari

tubulus kontortus proksimal, ansa henle, tubulus

kontortus distal serta segmen kolektivus.























Gambar 1.2 Ginjal
(Sumber : (Silverthorn, 2013, p. 651))

2. Ureter

Ureter merupakan bagian dari sistem perkemihan yang
merupakan saluran retroperitonium menghu-bungkan

bagian ginjal dengan bagian kandung kemih

4

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
(Nursalam, 2008, p. 2). Jadi ureter adalah saluran yang

bertugas menyalurkan urine dari organ ginjal ke

saluran kandung kemih (Waugh, Anne and Grant, 2017,

p. 214). ureter mempunyai panjang antara 23-30 cm,
diameter 3 cm. Ureter terhubung dengan pelvis renal

berbentuk seperti corong. Ureter pada bagian bawah

terhubung pada rongga abdomen di belakang

peritoneum berada pada otot psos menuju rongga

pelvis.
Ureter mempunyai tiga lapisan sebagai berikut

(Waugh, Anne and Grant, 2017, p. 217) :

a. Lapisan luar, jaringan fibrosa yang terhubung pada

kapsul fobrosa ginjal.

b. Lapisan tengah, lapisan otot terdiri dari otot polos
membentuk unit dan berbentuk spiral mengelilingi

ureter. Lapisan itu berputar searah jarum jam dan

beberapa berputar berlawanan jarum jam serta

lapisan luar.

c. Lapisan dalam, merupakn mukosa terdiri dari
epitelium transisional.








5

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”



















Gambar 1.3
Sumber : (Silverthorn, 2013, p. 651)


3. Kandung kemih

Kandung kemih atau vesika urinaria adalah

penampungan urine, Ukuran pada kandung kemih

berbeda-beda tergantung pada jumlah banyaknya urine
(Waugh, Anne and Grant, 2017, p. 217). Organ kandung

kemih berbentuk seperti buah pir. kandung kemih

berada pada rongga pelvis, terletak pada panggul besar

dan dibelakang simpsis pubis (Nursalam, 2008, p. 5).

Kandung kemih bisa berubah menjadi
mengembang untuk menyimpa urine dan kapasitas

unrine yang ditampung sekitar 1L (Saputra, 2012, p. 8).

Kandung kemih pada laki-laki dikelilingi oleh rektum,

sedang pada perempuan dikelilingi oleh uterus

(Waugh, Anne and Grant, 2017, p. 217).
6

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”























Gambar 1.4
(Sumber : (Nuari NA, 2017, p. 11))


4. Uretra

Uretra merupakan saluran dari leher kandung kemih ke

lubang luar meatus uretra. Uterer mempunyai tugas

untuk mengangkut urine dari kandung kemih ke
meatus uretra (Saputra, 2012, p. 9). Panjang uretra pada

laki-laki antara 17-22,5 cm, sedangkan pada wanita

antara 2,5-3,5 cm (Nursalam, 2008, p. 7).

Uretra mempunyai tiga lapisan jaringan sebagai

berikut (Waugh, Anne and Grant, 2017, p. 219) :
a. Lapisan otot

Lapisan otot adalah otot sambungan dari

kandung kemih. Otot ini berawal dari sfingter uretra


7

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
internal teridir dari beberapa jaringan seperti

jaringan elastik dan serat otot polos yang merupakan

kendali dari saraf otonom.

b. Submukosa
Adalah lapisan berongga yang berisi saraf serta

pembuluh darah.

c. Mukosa

Lapisan mukosa merupakan saluran mukosa yang

ada di kandung kemih pada bagian atas uretra.
Sedangkan pada bagian bawah terdiri dari epitelium

skuamosa berlapis.























Gambar 1.5
Sumber : (Silverthorn, 2013, p. 651)






8

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
BAB 2




Struktur Dasar Saluran

Perkemihan




A. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan tentang fisiologi sistem perkemihan

2. Mengidentifikasi organ-organ dalam sistem

perkemihan

3. Memahami tentang struktur dasar sistem perkemihan.


B. Pendahuluan

Sistem perkemihan merupakan tempat untuk menyaring

darah, sehingga darah yang mengalir ke seluruh tubuh

bersih bebas dari zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.

Sedangkan zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh
dibuang melalui urine. Selain itu sistem perkemihan

mempunyai fungsi untuk menjaga keseimbangan dalam

tubuh (Wahyuningsih, heni puji, & Kusmiyati, 2017, p.

147).


9

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
C. Ginjal

Ginjal merupakan organ paling penting didalam untuk

dalam proses menjaga kesatabilan cairan dalam tubuh.

1. Fungsi Ginjal
Ginjal sebagai sistem perkemihan berfungsi sebagai

(Nursalam, 2008, p. 2) :

a. Ginjal sebagai pembentuk urine

Ginjal membentuk urine, proses dari bagian ureter

kemudian mengalir ke kandung kemih.
b. Ginjal mempungai fungsi sebagai pengatur air

didalam tubuh

c. Ginjal mempunyai tugas sebagai pengatur

konsentrasi garam dalam darah
d. Ginjal sebagai keseimbangan asam-basa darah

e. Sebagai ekresi dan kelebihan garam

f. Ginjal sebagai filtrasi, proses filtasi di glomerulus dan

kapsul bowman.


Ginjal sebagain besar terdiri dari 1juta unit

fusngisional nefron dan sebagain kecil terdiri dari

duktus kolektivus. Nefron terdiri dari yang salah satu

ujungnya tertutup serta ujung lainnya terhubung pada

tubulus kolektivus. Saluran yang ujungnya tertutup

10

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
berbentuk kapsul glomerular, pada kapsul ini

berbentuk seperti cangkir, yang membungkus selurug

kapiler ateri yang disebut dengan glomerulus. berikut

(Waugh, Anne and Grant, 2017, p. 206).
Pada glomerulus memiliki sisa nefron yang

panjanya kurang lebih 3 cm sebagai berikut berikut

(Waugh, Anne and Grant, 2017, p. 206) : Tubulus

kontortus proksimal, Lengkung medula (ansa Henle)

dan Tubulus kontortus distal yang berhubung ke
duktus kolektivus.

Pembuluh arteri mempunyai tugas membawa

darah murni dari aorta abdominalis ke bagian ginjal.

Ateri didalam ginjal mempunya banyak cabang ranting

menjadi arteriola aferen. Tugas dari arteriola aferen
adalah membawa darah dari glomerulus kemudian

disebarkan ke jaringan peritubular. Peredaran darah ke

ginjal, diawali dari ginjal mendapatkan darah dari ateri

renalis yang merupakan cabang dari aorta abdominalis.

Kemudian menjadi gumpalan yang disebut dengan
glomerulus dan dikeliling oleh simpai bowman.

Persarafan pada ginjal terdiri antara 15 ganglion

seperti persarafan fleksus renalis. Saraf ini

mempunyai tugas untuk mengatur jumlah darah

11

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
yang masuk kedalam ginjal. Selain itu saraf ini

bersaam masuk dengan pembuluh darah yang

masuk ke bagian ginjal (Wahyuningsih, heni puji, &

Kusmiyati, 2017, p. 147).


2. Ginjal mempunyai empat proses mengekskresikan

limbah, sebagai berikut (Saputra, 2012, p. 21) :

a. Filtrasi Glomerulus

Proses ultrafiltasi merupakan suatu proses
nefron membuat filtrat plasma yang tidak ada

kandunganya lagi dengan protein, serta bertugas

untuk mengatur jumlah cairan dan komponen

elektrolitserta nilai pH.

b. Reabsorsi Tubulus
Proses yang merupakan cairan dan solut mengalir

dari bagian lumen tubulus ke bagian dalam plasma

kapiler peritubular.

c. Sekresi Tubulus

Proses dari plasma di kirim dari kapiler peritubular
ke lumen tubulus.

d. Eksresi

Merupakan proses urine di ekskresikan.



12

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
3. Tes Fungsi Ginjal

Ada bebrapa tes fungsi yang dilakukan pada ginjal

untuk mengetahui kondisi ginjal sebagai berikut

(Nursalam, 2008, p. 5).
a. Tes untuk Protein

Tes ini digunakan untuk mengetahui kondisi di

glomerulus atau tubulus bila ada kerusakan,

sehingga bila ada kerusakan ditemukan protein

bocor kemudian masuk kedalam urine.
b. Tes untuk Mengukur Jumlah Urea Dalam Darah

Untuk melihat kondisi ginjal apaah masih berfungsi

dalam mengeluarkan ureum. Jika terjadi kerusakan

ditemukan ureum meningkat dalam darah dalam

batas kadar normal, kadar normalnya adalah 20-40
mg per 100 cc darah.



c. Tes Konsentrasi

Tes ini harus dilakukan dalam kondisi pasien harus

puasa dalam waktu 12 jam, kegunanan tes ini adalah
untuk melihat kenaikan berat jenis urine.



D. Ureter

Ureter mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut:

13

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
1. Untuk mengangkut urine dari ginjal ke kandung kemih

2. Selain itu pada ureter terdapat sfingter uretrovesikel

yang mempunyai tugas untuk mencegah refluk atau

aliran balik dari kandung kemih ke ureter (saputra,
2012, p. 7).

Pada uterer terjadi proses gelombang peristaltik atau

gerakan-gerakan untuk mendorong urine ke kandung

kemih, gerakan tersebut terjadi setiap 5 menit sekali. Selain

itu jumlah meningkat sesuai dengan volume urine yang
dihasilkan. Gerakan peristaltik ini akan mendorong urine

dari ureter yang di sekeresikan oleh ginjal kemudian akan

dialirakn ke dalam kandung kemih (waugh, anne and

grant, 2017, p. 217).

Ureter di memperdarahi oleh pembuluh seperti
arteri renalis, arteri spermatika interna, arteri

hipogastrika, dan arteri vesikalis inferior. Sedangkan

untuk persarafan dari cabang dari pleksus

mesenterikus inferior, pleksus spermatikus, dan

pleksus pelvis. Nervus yang berkaitan dengan ureter
adalah nervus torakalis XI, XII, dan nervuslumbalis I.

Nervus vagus.

Sewaktu urin yang dari ureter kemudian masuk ke

kandung kemih, setelah itu bagian dinding atas dan

14

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
bawah ureter akan tertutup. Sedangkan saat vesika

urinaria penuh akan membentuk katup (valvula) dan

mencegah pengambilan urine dan vesika urinaria

(Wahyuningsih, heni puji, & Kusmiyati, 2017, p. 151).


E. Kanduang kemih

Kandung kemih terdiridari tiga lapisan seperti lapisan

luar, lapisan tengah dan mukosa.. Kandung merupakan

tempat yang berguna untuk tempat urine. Kandung kemih
pada bagian bawah terhubung dengan ureter. Kandung

kemih berfungsi untuk menampung urine yang berasal

dari ureter dan akan dikeluarkan memelalui uretra

(Waugh, Anne and Grant, 2017, p. 217). kandung kemih
dalam proses menampung sekitar 1 liter urine pada orang

dewasa (Saputra, 2012, p. 8). Posisi kandung kemih

berbeda saat kosong maupun saat penuh, jika kandung

kemih kondisi penuh berada pada di atas simfisis, sedang

saaat kosong berada di belakang simfisis pubis
(Wahyuningsih, heni puji, & Kusmiyati, 2017, pp. 151–152).



F. Uretra

Uretra merupakan tempat keluar urine yang sebelum dari
ginjal, ureter dan kandung kemih. Saluran ureter


15

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
merupakan suatu saluran sempet yang bertugas sebagai

pengeluaran urin dari kandung kemih. Pada lakilaki

bentuk uretra berbentuk berkelok-kelok melalui tengah-

tengah prostat dan sampai ke lapisan fibrosa. Kemudian
menembus tulang pubis ke penis (Wahyuningsih, heni

puji, & Kusmiyati, 2017, p. 152).



G. Rangkuman

Sistem perkemihan adalah proses suatu proses
penyaringan darah sehingga bebas dari zat-zat yang

berbahaya. Zat-zat yang tidak diperlukan tubuh dan

larut dalam air maka akan dikeluarkan berupa urin.

Sistem perkemihan terdiri dari :
1. Ginjal

2. Fungsi ginjal sebagai pembentuk urine, ginjal

membentuk urine, proses dari bagian ureter kemudian

mengalir ke kandung kemih, ginjal mempungai fungsi

sebagai pengatur air didalam tubuh dan Ginjal
mempunyai tugas sebagai pengatur konsentrasi garam

dalam darah

3. Ureter merupakan sebuah tabung bagian dimana

urin mengalir dari ginjal ke kandung kemih.




16

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
4. Kandung kemih merupakan berupa kantung berotot

serta memiliki kemampuan mengembang dan

mengempis, kandung kemih, kandung kemih

mempunyai fungsisebagai penyimpan urine.
5. Uretra mempunyai berfungsi untuk mengalirkan

urin dari kandung kemih dan mengeluarkannya dari

tubuh.





























17

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”









































18

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
BAB 3




Mekanisme Kerja Sistem

Perkemihan



A. Capaian Pembelajaran

Capaian pembelajaran pada BAB ini di harapkan pembaca

memahami

1. Mekanisme Kerja Sistem Perkemihan
2. Fungsi Sistem Perkemihan

3. Kegiatan sehari-hari.



B. Pendahuluan
Sistem perkemihan berfungsi untuk menghasilkan urine

dengan menyaring sisa pembuangan tubuh dan air

berlebih dari darah. Urine kemudian akan disalurkan ke

kandung kemih dengan melalui dua tabung tipis yang
disebut ureter. Ketika kandung kemih penuh, urine akan

dikeluarkan melalui uretra. Selain itu, sistem perkemihan

dan ginjal juga berfungsi untuk menghilangkan cairan

pembuangan yang disebut dengan urea, serta menjaga

keseimbangan air, natrium, dan kalium. Urea sendiri


19

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
diproduksi saat makanan yang mengandung protein

dipecah dalam tubuh. Sistem ini akan bekerja sama

dengan kulit, usus, dan paru-paru untuk menjaga

keseimbangan tersebut. Orang dewasa akan
mengeluarkan sekitar dua liter cairan per hari. Jumlah ini

bergantung dengan jumlah cairan yang diminum dan

yang keluar melalui keringat serta pernapasan. Pada BAB

ini akan dibahas bagaimana urine akan terbentuk, dengan

berbagai proses yang akan dilewati.


C. Kerja Sistem Perkemihan (Urologi)

Kerja sistem perkemihan diawali dari organ ginjal hingga

uretra, dan saluran tempat keluarnya kencing.
1. Ginjal

Ginjal berfungsi mengeluarkan urea dari darah melalui

unit penyaringan kecil yang disebut nefron. Pada setiap

nefron terdiri atas bola yang dibentuk dari kapiler darah

(glomerulus) dan tabung kecil (tubulus ginjal). Bersama
dengan air dan limbah lainnya, urea akan membentuk

urine saat melewati nefron menuju tubulus ginjal.

Proses pembentukan urin terdiri dari 3 tahap, yaitu

filtrasi (penyaringan), reabsorbsi (penyerapan kembali),




20

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
dan agumentasi atau sekresi (pengumpulan) (Muttaqin

& Sari, 2014).

a. Filtrasi (Penyaringan)

Proses terbentuknya urin terjadi pada ginjal, setiap
ginjal mempunyai sekitar satu juta nefron, yang

merupakan tempat pembentukan urine. Pada waktu

tertentu, sekitar 20 persen dari darah akan melewati

ginjal untuk disaring. Hal ini dilakukan agar tubuh

dapat menghilangkan zat-zat sisa metabolisme
(limbah) dan menjaga keseimbangan cairan, pH

darah, dan kadar darah. Proses penyaringan darah

pun dimulai di ginjal. Darah yang mengandung zat

sisa metabolisme akan disaring karena dapat menjadi

racun untuk tubuh. Tahapan ini terjadi di badan
malphigi yang terdiri dari glomerulus dan kapsul

Bowman.

Glomerulus bertugas menyaring air, garam,

glukosa, asam amino, urea, dan limbah lainnya agar

dapat melewati kapsul Bowman. Hasil penyaringan
ini kemudian disebut sebagai urine primer. Urine

primer termasuk urea di dalamnya merupakan hasil

dari amonia yang sudah terakumulasi. Hal ini terjadi




21

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
ketika hati memproses asam amino dan disaring oleh

glomerulus (Huether & McCance, 2017).

b. Reabsorpsi

Setelah filtrasi, proses pembentukan urine
selanjutnya adalah reabsorpsi, yakni penyaringan

ulang. Sekitar 43 galon cairan melewati proses

filtrasi. Namun, sebagian besar akan diserap kembali

sebelum dikeluarkan dari tubuh. Penyerapan cairan

tersebut dilakukan di tubulus proksimal nefron,
tubulus distal, dan tubulus pengumpul. Air, glukosa,

asam amino, natrium dan nutrisi lainnya diserap

kembali ke aliran darah di kapiler yang mengelilingi

tubulus. Setelah itu, air bergerak melalui proses

osmosis, yaitu pergerakan air dari area yang
terkonsentrasi tinggi ke konsentrasi lebih rendah.

Hasil dari proses ini adalah urine sekunder. Pada

umumnya, semua glukosa akan diserap kembali.

Namun, hal ini tidak berlaku pada penyandang

diabetes karena glukosa berlebih akan tetap dalam
filtrat. Natrium dan ion-ion lainnya akan diserap

kembali secara tidak lengkap dan tertinggal dalam

filtrat dalam jumlah yang besar. Kondisi ini dapat

terjadi ketika seseorang mengonsumsi lebih banyak

22

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
makanan, sehingga menghasilkan konsentrasi darah

yang lebih tinggi. Hormon mengatur proses transpor

aktif, yaitu ion seperti natrium dan fosfor, diserap

kembali (Huether & McCance, 2017).
c. Sekresi atau Augmentasi

Sekresi adalah tahap terakhir dari proses

pembentukan urine. Beberapa zat mengalir langsung

dari darah di sekitar tubulus distal dan tubulus

pengumpul ke tubulus tersebut. Tahapan ini juga
menjadi bagian dari mekanisme tubuh untuk

menjaga keseimbangan pH asam-basa dalam tubuh.

Ion kalium, ion kalsium, dan amonia juga melewati

proses sekresi, seperti beberapa obat. Hal ini

dilakukan agar senyawa kimia dalam darah juga
tetap seimbang. Proses ini dilakukan dengan

meningkatkan sekresi zat, seperti kalium dan

kalsium, ketika konsentrasinya tinggi.

Selain itu, penyerapan kembali (reabsorpsi)

juga ditingkatkan dan mengurangi sekresi ketika
konsentrasinya rendah. Urine yang dibuat oleh

proses ini kemudian mengalir ke bagian tengah

ginjal yang disebut panggul, di mana ia mengalir ke

ureter dan kemudian tersimpan di kandung kemih.

23

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Selanjutnya, urine mengalir ke uretra dan akan

keluar saat buang air kecil (Huether & McCance,

2017).
























Gambar 3. 1 Proses pembentukan urine


Selain berfungsi membentuk urine, ginjal juga

memiliki banyak fungsi diantaranya:

a. Membuang limbah dan cairan berlebih dari tubuh
b. Sebagai alat keseimbangan kadar air dan elektrolit

tubuh

c. Melepaskan hormon yang mengontrol produksi sel

darah merah

d. Membantu menjaga kesehatan tulang dengan
mengontrol kalsium dan fosfor.



24

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
2. Ureter

Ureter bertugas menyalurkan urin dari ginjal ke

kandung kemih. Otot-Otot di dinding ureter akan

mengencang dan mengendur agar urin dari ginjal akan
turun. 10-15 detik, urin dalam jumlah sedikit akan

dialirkan dari ureter ke kandung kemih (Sherwood,

2012).



3. Kandung Kemih
Dinding kandung kemih, melakukan reaksi mengendur

dan mengencang, supaya urin dapat tersimpan.

Kandung kemih sehat biasanya dapat menyimpan

hingga 300-500 ml urine selama 2-5 jam (Sherwood,

2012).


4. Uretra

Urine yang sudah diproduksi oleh ginjal yang sudah

ditampung pada kandung kemih, akan dikeluarkan

melalui uretra. Uretra bertugas menghubungkan
kandung kemih ke lubang kemih pada ujung penis atau

vagina. Panjang uretra berbeda antra laki dan

perempuan, laki-laki memiliki panjang sekitar 20 cm,

sementara pada perempuan mempunyai panjang

25

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
berkisar 4 cm, kandung kemih dan uretra dilengkapi

sfingter untuk menjaga urine agar tidak bocor

(Sherwood, 2012).


D. Fungsi Sistem Perkemihan

Sistem perkemihan mempunyai fungsi, yaitu sebagai

berikut:

1. Meregulasi volume darah dan tekanan darah dengan

mengeluarkan sejumlah cairan ke dalam urin dan
melepaskan eritropoietin, serta melepas rennin.

2. Melakukan kontribusi stabilisasi pH darah dengan

mengontrol jumlah keluarnya ion hidrogen dan ion

bikarbonat ke dalam urin.
3. Menghemat pengeluaran nutrisi dengan memelihara

ekskresi pengeluaran nutrisi tersebut pada saat proses

eliminasi produk sisa, terutama pada saat pembuangan

nitrogen seperti urea dan asam urat.

4. Membantu organ hati dalam mendetoksikasi racun
selama kelaparan deaminasi asam amino yang dapat

merusak jaringan (Syaifuddin, 2013)







26

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
E. Kegiatan Sehari-Hari

Sistem perkemihan sehari-hari melakukan kegiatan sekresi

setiap hari, organ yang terkait adalah ginjal, ureter,

kandung kemih, dan uretra, sistem perkemihan
mempunyai dua ginjal untuk menjaga fungsi ekskresi.

Organ ini memproduksi urin yang berisikan air, ion-ion,

dan senyawa-senyawa solute yang kecil. Urin

meninggalkan kedua ginjal dan melewati sepasang ureter

menuju dan ditampung sementara pada kandung kemih,
selanjutnya terjadi proses ekskresi urin yang dinamakan

miksi, terjadi ketika adanya kontraksi dari otot-otot

kandung kemih menekan urin untuk keluar dari tubuh

(Muttaqin & Sari, 2014).


F. Rangkuman

Kerja sistem perkemihan dimulai di organ ginjal, dimana

berproses melalui 3 tahap, yaitu filtrasi (penyaringan),
reabsorbsi (penyerapan kembali), dan agumentasi atau

sekresi (pengumpulan), dilanjutkan ke ureter, selanjutnya

ditampung di kandung kemih, dilanjutkan di uretra dan

dikeluarkan melalui saluran kemih pada laki-laki dan

perempuan.




27

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”













































28

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
BAB 4




Mikturisi



A. Capaian Pembelajaran

Pada BAB ini diharapkan pembaca dapat memahami:

1. Mekanisme mikturisi
2. Refleks mikturisi

3. Kontrol volunteer.



B. Pendahuluan

Sistem perkemihan merupakan organ vital yang berperan
penting dalam melakukan ekskresi dan melakukan

eliminasi sisa-sisa hasil metabolisme tubuh, dan dalam

keseimbangan cairan dan elektrolit. Sistem ini secara

berkelanjutan membuang dan mereabsorbsi air dan
subtansi terlarut dalam darah, serta mengeliminasi

subtansi yang tidak dibutuhkan dalam tubuh (Guyton,

A.C., & Hall, 2008; Sherwood, 2014). Mikturisi atau

berkemih merupakan proses pengosongan kandung

kemih. Mikturisi diatur melalui 2 mekanisme yaitu refleks





29

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
mikturisi dan kontrol volunter. Pada BAB ini membahas

bagaimana proses dari pengosongan kandung kemih.



C. Mekanisme Mikturisi
1. Refleks mikturisi

Refleks mikturisi dimulai saat reseptor regang dalam

dinding kandung kemih terstimulasi. Kandung kemih

orang dewasa dapat menyimpan 250 sampai 400 mL

urin sebelum tegangan pada dinding kandung kemih
dapat mengaktivasi reseptor regang. Semakin besar

regangan ini, maka aktivasi reseptor juga akan semakin

besar. Serat aferen dari reseptor regang membawa

impuls menuju medulla spinalis dan melalui
interneuron menstimulasi sistem saraf parasimpatis

pada kandung kemih dan menghambat neuron motorik

sfingter eksterna. Stimulasi parasimpatis menyebabkan

kontraksi kandung kemih. Perubahan pada bentuk

kandung kemih saat kontraksi dapat membuka sfingter
interna secara mekanis sehingga tidak diperlukan

mekanisme khusus dalam membuka sfingter interna.

Secara bersamaan, inhibisi neuron motorik sfingter

eksterna menyebabkan relaksasi otot sfingter eksterna.

Setelah kedua sfingter terbuka, maka urin dapat

30

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
dikeluarkan melalui urethra dengan bantuan kontraksi

kandung kemih (Sherwood, 2014). Selain mengaktivasi

refleks mikturisi, pengisian kandung kemih dapat

menstimulasi keinginan untuk berkemih. Persepsi
tentang kandung kemih yang penuh muncul sebelum

terjadinya refleks relaksasi otot sfingter eksterna sehingga

terdapat kontrol volunter mikturisi (Gambar 4.1).

2. Kontrol Volunter

Kontrol volunter ini dapat dilakukan melalui kontraksi
sfingter eksterna dan diafragma pelvis. Impuls

eksitatori volunter berasal dari korteks serebri yang

dapat mencegah inhibisi yang berasal dari reseptor

regang pada neuron motorik. Mikturisi juga dapat

dilakukan secara volunter meskipun kandung kemih
belum mengalami distensi dengan melakukan relaksasi

sfingter eksterna dan difragma pelvis. Hal ini

menyebabkan penurunan dasar pelvis sehingga

kandung kemih akan turun dan menyebabkan sfingter

interna terbuka dan regangan pada dinding kandung
kemih. Kemudian terjadi aktivasi reseptor regang yang

menyebabkan kontraksi kandung kemih melalui refleks

mikturisi. Pengosongan kandung kemih volunter

kemudian dibantu oleh kontraksi dinding abdomen

31

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
dan diafragma respiratori yang menyebabkan

penekanan kandung kemih untuk pengosongan

dengan cara meningkatkan tekanan intraabdomen

(Gambar 4.1) (Sherwood, 2014).



























Gambar 4.1 Refleks dan Kontrol Volunter Mikturisi
(Sherwood, 2014)

D. Kegiatan Sehari-Hari

Kerja kandung kemih setiap hari akan menampung urine,

kandung kemih dapat menyimpan urine 300-500 ml

selama 2-5 jam, apabila kandung kemih merasa penuh,
makan akan secara otomatis akan terjadi refleks mikturisi

dan kontrol volunter, sehingga urine yang ada dikandung

kemih dapat dikeluarkan (Muttaqin & Sari, 2014).

32

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
E. Komposisi Urine

Urine adalah cairan steril dan jernih yang berasal dari

limbah nitrogen dan garam. Urine identic dengan warna

kuning atau kuning muda. Warnanya disebabkan oleh
pigmen hasil dari pemecahan hemoglobin. Urine pekat

cenderung berwarna lebih gelap daripada urine normal.

Namun, faktor lain seperti diet, obat-obatan, dan penyakit

tertentu dapat juga mempengaruhi warna urine. Urine

sedikit asam, dan Ph dapat berkisar dari 4,5 hingga 8. Ph
urine dipengaruhi oleh asupan makanan dan kondisi

kesehatan seseorang. Diet yang tinggi protein hewani

cenderung membuat urine lebih basa. Volume urine yang

dihasilkan tergantung pada volume sirkulasi darah. Anti
diuretic hormone (ADH) mengatur jumlah urine yang

dikeluarkan oleh individu.

Jika orang tersebut mengalami dehidrasi, lebih

banyak ADH dilepaskan dari kelenjar hipofisis posterior

sehingga mengakibatkan reabsorbsi air dan lebih sedikit
urine yang diproduksi. Di sisi lain, jika orang tersebut telah

mengkonsumsi sejumlah besar cairan sehingga

meningkatkan volume sirkulasi, maka lebih sedikit ADH

yang dilepaskan dan lebih banyak lagi air yang

dikeluarkan sebagai urine.

33

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Komposisi urine terdiri dari 96% air dan sekitar 4%

zat terlarut yang berasal dari metabolism sel. Zat terlarut

termasuk produk limbah organic dan anorganik dan zat

yang tidak diinginkan seperti obat-obatan. Biasanya tidak
ada protein atau darah di dalam urine. Jika kondisi yang

demikian ditemui maka orang tersebut mungkin

menderita suatu penyakit. Jenis dari zat terlarut anorganik

diantarannya adalah sodium, potassium, kalsium,

magnesium, zat besi, klorida, sulfat, fosfat, bikarbonat, dan
ammonia. Sedangkan jenis zat terlarut organic diantaranya

adalah urea, kreatinin, dan asam urat.



F. Karakteristik Urine Normal
Volume yang dihasilkan merupakan salah satu ciri fisik

urine. Ciri fisik lainnya yang dapat ditemukan pada urine

meliputi warna, tingkat kekeruhan (transparansi), bau, Ph

(keasaman/alkalinitas), dan densitas. Berikut penjelasan
dari masing-masing karakteristik tersebut:

1. Warna

Urine biasanya berwarna kuning, tetapi bervariasi

sesuai dengan diet yang dikonsumsi, obat-obatan dan

konsentrasi urine. Minum lebih banyak air umumnya
cenderung akan mengurangi konsentrasi urine, dan


34

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
karena itu akan menyebabkan urine memiliki warna

yang lebih terang. Namun, jika seseorang tidak minum

banyak cairan, hal ini dapat meningkatkan konsentrasi

dan urine akan memiliki warna yang lebih gelap.
Tabel 4.1. Karakteristik Warna Urine

Daftar makanan yang mengubah warna urine
Kuning tua atau orange Wortel
Hijau Asparagus
Merah muda atau merah Bit, blackberry, rhubarb
Cokelat Kacang fava, rhubarb
Obat-obatan dan vitamin yang dapat mengubah warna urine
Kuning atau kuning-hijau Cascara, sulfasalazine,
vitamin B
Orange Rifampisin, sulfasalazine,
vitamin B, vitamin C
Merah muda atau merah Fenolftalein, propofol,
rifampisin, pencahar yang
mengandung senna
Hijau atau biru Amitriptyline, cimetidine,
indometasin, prometazin,
propofol, triamterene,
beberapa multivitamin
Coklat atau hitam kecoklatan Levodopa, metronidazole,
nitrofurantoin, beberapa agen
antimalarial, metildopa,
pencahar mengandung
cascara atau senna
Kondisi medis yang dapat mengubah warna urine
Kuning Urine pekat yang disebabkan
oleh dehidrasi
Orange Masalah dengan hati atau
saluran empedu
Merah muda atau merah Darah dalam urine,
hemoglobinuria (kondisi yang
terkait dengan anemia
hemolitik), mioglobinuria
(suatu kondisi yang terkait
35

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
dengan penghancuran sel-sel
otot)
Ungu tua Porfiria, kelainan sel darah
merah bawaan yang langka
Hijau atau biru Infeksi saluran kemih dapat
menyebabkan urine berwarna
hijau jika disebabkan oleh
bakteri Pseudomonas,
hiperkalsemia
Coklat atau coklat tua Darah dalam urine, gangguan
hati atau ginjal

2. Bau

Bau dari urine dapat memberikan informasi tentang

kondisi kesehatan seseorang. Misalnya, urine penderita

diabetes mungkin memiliki bau manis atau seperti bau
buah karena adanya keton (molekul organic dari

struktur tertentu). Umumnya, urine segar memiliki bau

yang ringan, tetapi urine pada seseorang yang terinfeksi

pada saluran kemih akan memiliki bau yang lebih kuat,

mirip dengan ammonia.
3. Keasaman

Ph adalah ukuran keasaman (atau alkalinitas) suatu

larutan. Ph suatu zat (larutan) biasanya

direpresentasikan sebagai angka dalam kisaran 0 (asam

kuat) hingga 14 (alkali kuat atau juga dikenal sebagai
basa). Air murni biasanya bersifat netral, dalam arti

tidak asam atau basa, karena itu memiliki ph 7. Ph urine

36

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
normal umumnya berkisar 4,5 – 8, rata-rata tipikal

sekitar 6,0. Sebagian besar variasi adalah dipengaruhi

karena diet. Misalnya, diet tinggi protein menghasilkan

urine yang lebih asam, tetapi diet vegetarian umumnya
menghasilkan urine yang lebih basa.

4. Tingkat Kepadatan (Densitas)

Densitas merupakan rasio berat volume suatu zat

dibandingkan dengan berat volume air suling yang

sama. Mengingat bahwa urine sebagian besar adalah
air, tetapi juga mengandung beberapa zat lain yang

terlarut dalam air, maka tingkat densitasnya

diperkirakan mendekati, tetapi sedikit lebih besar dari

1,000.


G. Rangkuman

Mikturisi merupakan proses pengosongan kandung

kemih, mikturisi diatur melalui 2 mekanisme yaitu refleks

mikturisi dan kontrol volunter. Refleks mikturisi dan
kontrol volunter saling berkerjasama agar kandung kemih

dapar merenggangkan sfingter, agar urin dapat keluar dari

kandung kemih dengan lancar.






37

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”













































38

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
BAB 5




Filtrasi Glomerulus,

Aliran Darah Ginjal, dan

Persarafan Ginjal


A. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajaru bab ini mahasiswa mampu

memahami:

1. Mekanisme kerja dari filtrasi glomerulus
2. Suplai darah ke ginjal

3. Persarafan ginjal



B. Pendahuluan

Langkah pertama dalam proses pembentukan urine
adalah filtrasi sejumlah cairan melalui kapiler glomerulus

ke dalam kapsula bowman. Jumlah atau volume cairan

yang difiltrasi hampir mencapai 180 liter setiap harinya.

Kebanyakan zat yang difiltrasi ini akan diserap kembali

sehingga hanya menyisakan sekitar 1 liter cairan yang
dieskresikan setiap harinya.






39

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Ekskresi cairan di tingkat ginjal sangat bervariasi

tergantung pada asupan cairan. Laju filtrasi glomerulus

yang tinggi bergantung pada laju aliran darah yang

menuju ke ginjal, serta dipengaruhi juga oleh sifat-sifat
khusus dari membrane kapiler glomerulus. Dalam bab ini

akan dibahas tentang mekanisme kerja dari filtrasi

glomerulus, serta mekanisme fisiologis atau persarafan

dan aliran darah ginjal.


C. Mekanisme Kerja Filtrasi Glomerulus

Tahap pertama pembentukan urine pada manusia adalah

filtrasi glomerulus. Filtrasi glomerulus adalah proses

penyaringan plasma bebas protein melalui kapiler
glomerulus ke dalam kapsul bowman. Melalui filtrasi

glomerulus, setiap hari berbentuk rata-rata 180 liter filtrate

glomerulus. Jika volume plasma pada orang dewasa rata-

rata 2,75 liter, berarti ginjal menyaring keseluruhan plasma

sebanyak 65 kali sehari. Laju filtrasi glomerulus dikontrol
oleh saraf simpatik. Saraf parasimpatik tidak memiliki

pengaruh apapun pada ginjal. Kali ini kita akan membahas

mekanisme kerja filtrasi glomerulus secara lengkap.

Ketika darah mengalir melalui glomerulus, cairan

yang difiltrasi harus melewati membrane glomerulus yang

40

Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
mampu menahan sel darah dan protein plasma, tetapi air

dan zat terlarut yang molekulnya berukuran kecil akan

melewati membran glomerulus. Membran glomerulus

tersusun dari tiga lapisan, yaitu dinding kapiler
glomerulus, membrane basal dan lapisan dalam kapsul

bowman.

1. Dinding Kapiler Glomerulus

Terdiri atas satu lapis sel endothelium pipih yang

memiliki banyak pori besar, sehingga bersifat 100 kali
lebih permeable terhadap H2O dan zat-zat terlarut

daripada kapiler dibagian tubuh lainnya.

2. Membran Basal

Lapisan gelatinosa aseluler (tidak mengandung sel)

yang terbentuk dari kolagen dan glikoprotein
menghambat filtrasi protein plasma yang berukuran

kecil serta menolak albumin dan protein plasma lainnya

yang bermuaatan negative. Oleh karena itu, filtrat

hampir tidak mengandung protein plasma dan kurang

dari1% albumin yang berhasil lolos ke dalam kapsul
bowman.

3. Lapisan dalam Kapsul Bowman

Tersusun dari podosit yang mengelilingi glomerulus.

Podosit adalah sel berbentuk seperti gurita yang

41


Click to View FlipBook Version