Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
memiliki banyak tonjolan kaki. Diantara tonjolan kaki
yang berdampingan, terdapat celah filtrasi yang sempit
sebagai jalur tempat cairan meninggalkan kapiler
glomerulus menuju ke lumen kapsul bowman.
Filtrasi glomerulus merupakan proses pasif yang terjadi
karena tiga gaya fisik sebagai berikut:
1. Tekanan Darah Kapiler Glomerulus
Tekanan cairan yang ditimbulkan oleh darah di dalam
kapiler glomerulus. Tekanan ini bergantung pada
kontraksi jantung dan resistensi aliran darah yang
ditimbulkan oleh arteriola aferen daripada arteriola
eferen, sehingga darah lebih mudah masuk ke kapiler
glomerulus daripada keluar melalui arteriola eferen.
2. Tekanan Osmosis Koloid Plasma
Ditimbulkan oleh distribusi tidak seimbang protein-
protein plasma di kedua sisi membrane glomerulus.
Protein plasma tidak dapat difiltrasi sehingga protein
plasma terdapat di glomerulus tetapi tidak terdapat di
kapsul bowman. Konsentrasi H2O lebih tinggi di kapsul
bowman daripada di kapiler glomerulus, sehingga
timbul kecenderungan H2O berpindah melalui osmosis
42
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
dari kapsul bowman ke kapiler glomerulus melawan
filtrasi glomerulus.
3. Tekanan Hidrostatik Kapsul Bowman
Tekanan yang ditimbulkan oleh cairan di bagian awal
tubulus yang cenderung mendorong cairan keluar dari
glomerulus menuju ke kapsul bowman.
Komposisi filtrate glomerulus (urine primer) memiliki ciri-
ciri sebagai berikut:
1. Mengandung H2O dan zat-zat terlarut seperti glukosa,
klorida, natrium, kalium, fosfat, urea, asam urat dan
kreatinin
2. Hampir tidak mengandung protein plasma, kandungan
albumin kurang dari 1%
3. Tidak mengandung elemen seluler seperti sel darah
merah, karena sel darah merah tidak difiltrasi.
D. Suplai Darah ke Ginjal
Ginjal mendapatkan suplai darah dari aorta abdominalis
yang bercabang menjadi arteri renalis. Arteri renalis masuk
ke ginjal tepat setinggi vertebra lumbalis pertama tepat
dibawah arteri mesenterika superior. Sirkulasi ginjal
43
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
menerima sekitar 20 – 25% dari curah jantung. Setiap arteri
renalis bercabang menjadi arteri segmental, terbagi lebih
lanjut menjadi arteri interlobar yang masuk ke dalam
kapsul ginjal dan memanjang melalui kolom ginjal
diantara pyramid ginjal. Arteri interlobar kemudian
memberi pasokan darah ke arteri arkuata yang melewati
batas korteks dan medulla. Setiap arteri arkuata mensuplai
beberapa ateri interlobularis yang masuk ke arteriol aferen
yang mensuplai glomeruli.
Dari sini, arteriol eferen meninggalkan glomerulus
dan bercabang menjadi kapiler peritubular, yang
bermuara ke vena interlobularis dan kemudian ke vena
arkuata dan kemudian ke vena interlobar, yang berjalan ke
vena lobar, yang bermuara ke dalam vena segmental dan
bermuara ke dalam vena lobaris. Lalu selanjutnya darah
akan kembali dialirkan menuju vena cava inferior untuk
menuju ke jantung.
Arteriole Afferen
Pada arteriole aferen dekat dengan badan Malpighi
terdapat sel-sel juxtaglomerular yang merupakan
modifikasi otot polos berfungsi menghasilkan enzem
renin. Enzim renin berfungsi mengaktifkan angiotensin
44
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
menjadi angiotensin I, selanjutnya angiotensin I oleh
converting enzim diubah menjadi angiotensin II.
Angiotensin II berfungsi merangsang sekresi hormone
aldosterone dari korteks adrenal. Aldosterone berperan
meningkatkan reabsorpsi ion Na dan klorida pada tubulus
kontortus distal.
E. Persarafan Ginjal
Ginjal mendapat persarafan melalui pleksus ginjal yang
seratnya berjalan di sepanjang arteri ginjal sampai dengan
mencapai ginjal. Persarafan dari sistem saraf simpatis
memicu vasokontriksi di ginjal sehigga akan mengurangi
aliran darah ke ginjal. Selain itu, juga menerima persarafa
dari sistem saraf parasimpatis melalui cabang saraf Vagus
(saraf kranial X).
45
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
46
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
BAB 6
Konsep Cairan dan
Elektrolit
A. Capaian Pembelajaran
Mahasiswa mampu memahami
1. Cairan tubuh manusia
2. Mekanisme homeostasis
3. Gangguan keseimbangan air
4. Tranporstasi cairan dan elektrolit
5. Kontrol hormonal.
B. Pendahuluan
Air (H20) merupakan komponen utama yang paling
banyak terdapat di dalam tubuh manusia. Sekitar 60% dari
total berat badan orang dewasa terdiri dari air. Namun
bergantung kepada kandungan lemak & otot yang
terdapat di dalam tubuh, nilai persentase ini dapat
bervariasiantara 50-70% dari total berat badan orang
dewasa. Oleh karena itu maka tubuh yg terlatih & terbiasa
berolahraga seperti tubuh seorang atlet biasanya akan
47
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
mengandung lebih banyak air jika dibandingkan tubuh
non atlet. Di dalam tubuh, sel-sel yang mempunyai
konsentrasi air paling tinggi antara lain adalah sel-sel otot
dan organ-organ pada rongga badan, seperti paru-paru
atau jantung, sedangkan sel-sel yg mempunyai konsentrasi
air paling rendah adalah sel-sel jaringan seperti tulang atau
gigi.
Konsumsi cairan yang ideal untuk memenuhi
kebutuhan harian bagi tubuh manusia adalah
mengkonsumsi 1 ml air untuk setiap 1 kkal konsumsi
energi tubuh atau dapat juga diketahui berdasarkan
estimasi total jumlah air yang keluar dari dalam tubuh.
Secara rata-rata tubuh orang dewasa akan kehilangan 2.5 L
cairan per harinya. Sekitar 1.5 L cairan tubuh keluar
melalui urin, 500 ml melalui keluarnya keringat, 400 ml
keluar dalam bentuk uap air melalui proses respirasi
(pernafasan) dan 100 ml keluar bersama dengan feces
(tinja). Sehingga berdasarkan estimasi ini, konsumsi antara
8-10 gelas (1 gelas 240 ml) biasanya dijadikan sebagai
pedoman dalam pemenuhan kebutuhan cairan per-
harinya.
48
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
C. Fungsi Cairan Tubuh
Dalam proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh,
air mempunyai 2 fungsi utama yaitu sebagai pembawa
zat-zat nutrisi seperti karbohidrat, vitamin dan mineral
serta juga akan berfungsi sebagai pembawa oksigen (O2 )
ke dalam sel-sel tubuh. Persentase ini dapat bervariasi
antara 50-70% dari total berat badan orang dewasa. Di
dalam tubuh manusia, cairan akan terdistridusi ke dalam 2
kompartemen utama yaitu cairan intraselular (ICF) dan
cairan ekstrasellular (ECF). Cairan intraselular adalah
cairan yang terdapat di dalam sel sedangkan cairan
ekstraselular adalah cairan yang terdapat di luar sel.
Kedua kompartemen ini dipisahkan oleh sel membran
yang memiliki permeabilitas tertentu.
Hampir 67% dari total badan air (body’s water) tubuh
manusia terdapat di dalam cairan intrasellular dan 33%
sisanya akan berada pada cairan ekstrasellular. Air yang
berada di dalam cairan ekstra- sellular ini kemudian akan
terdistribusi kembali kedalam 2 Sub-Kompartemen yaitu
pada cairan interstisial (ISF) dan cairan intravaskular
(plasma darah). 75% dari air pada kompartemen cairan
ekstraselular ini akan terdapat pada sela-sela sel (cairan
49
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
interstisial) dan 25%-nya akan berada pada plasma darah
(cairan intravaskular).
Pendistribusian air di dalam 2 kompartemen utama
(Cairan Intrasellular dan Cairan Ekstrasellular) ini sangat
bergantung pada jumlah elektrolit dan makromolekul
yang terdapat dalam kedua kompartemen tersebut.
Karena sel membran yang memisahkan kedua
kompartemen ini memiliki permeabilitas yang berbeda
untuk tiap zat, maka konsentrasi larutan (osmolality) pada
kedua kompartemen juga akan berbeda.
D. Elektrolit
Elektrolit yang terdapat pada cairan tubuh akan berada
dalam bentuk ion bebas (free ions). Secara umum elektrolit
dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu kation dan
anion. Jika elektrolit mempunyai muatan positif (+) maka
50
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
elektrolit tersebut disebut sebagai kation sedangkan jika
elektrolit tersebut mempunyai muatan negatif (-) maka
elektrolit tersebut disebut sebagai anion. Contoh dari
kation adalah natrium (Na+) dan nalium (K+) & contoh
dari anion adalah klorida (Cl - ) dan bikarbonat (HCO3- )
Elektrolit- elektrolit yang terdapat dalam jumlah besar di
dalam tubuh antara lain adalah natrium (Na+ ), kalium
(K+ ), kalsium (Ca +2), magnesium (Mg+2), klorida (Cl -),
bikarbonat (HCO3- ), fosfat (HPO4 - 2 ) dan sulfat (SO4-2 ).
Di dalam tubuh manusia, kesetimbangan antara air
(H2O)-elektrolit diatur secara ketat agar sel-sel dan organ
tubuh dapat berfungsi dengan baik. Pada tubuh manusia,
elektrolit-elektrolit ini akan memiliki fungsi antara lain
dalam menjaga tekanan osmotik tubuh, mengatur
pendistribusian cairan ke dalam kompartemen badan air
(body’s fluid compartement), menjaga pH tubuh dan juga
akan terlibat dalam setiap reaksi oksidasi dan reduksi serta
ikut berperan dalam setiap proses metabolisme.
Persentase ini dapat bervariasiantara 50-70% dari
total berat badan orang dewasa. Berdasarkan
kebutuhannya di dalam tubuh, mineral dapat digolongkan
menjadi 2 kelompok utama yaitu mineral makro dan
mineral mikro. Mineral makro adalah mineral yang
51
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
menyusun hampir 1% dari total berat badan manusia dan
dibutuhkan dgn jumlah lebih dari 1000 mg/hari,
sedangkan mineral mikro (trace) merupakan mineral yang
dibutuhkan dgn jumlah kurang dari 100 mg/hari dan
menyusun lebih kurang dari 0.01% dari total berat badan.
Mineral yang termasuk di dalam kategori mineral makro
utama adalah kalsium (Ca), fosfor (P), magnesium (Mg),
sulfur (S), kalium (K), klorida (Cl), dan natrium (Na).
Sedangkan mineral mikro terdiri dari kromium (Cr),
tembaga (Cu), fluoride (F), yodium (I) , besi (Fe), mangan
(Mn), silisium (Si) and seng (Zn).
Dalam komposisi air keringat, tiga mineral utama
yaitu natrium, kalium & klorida merupakan mineral
dengan konsentrasi terbesar yang terdapat di dalamnya.
Sehingga dengan semakin besar laju pengeluaran keringat,
maka laju kehilangan natrium , kalium dan klorida dari
dalam tubuh juga akan semakin besar.
Diantara ketiganya, natrium dan klorida merupakan
mineral dengan konsentrasi tertinggi yang terbawa keluar
tubuh melalui kelenjar keringat (sweat glands). Oleh
karena itu maka pembahasan mengenai mineral dalam
penulisan ini hanya akan berfokus pada 3 mineral utama
yaitu natrium, kalium dan klorida. Di dalam produk
52
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
pangan atau di dalam tubuh, natrium biasanya berada
dalam bentuk garam seperti natrium klorida (NaCl). Di
dalam molekul ini, natrium berada dalam bentuk ion
sebagai Na. Diperkirakan hampir 100 gram dari ion
natrium (Na ) atau ekivalen dengan 250 gr NaCl
terkandung di dalam tubuh manusia. Garam natrium
merupakan garam yang dapat secara cepat diserap oleh
tubuh dengan minimum kebutuhan untuk orang dewasa
berkisar antara 1.3-1.6 gr/hari (ekivalen dengan 3.3-4.0 gr
NaCl/hari). Setiap kelebihan natrium yang terjadi di
dalam tubuh dapat dikeluarkan melalui urin & keringat.
Hampir semua natrium yang terdapat di dalam tubuh
akan tersimpan di dalam soft body tissue dan cairan tubuh.
1. Ion Natrium (Na +)
Ion natrium (Na +) merupakan kation utama di dalam
cairan ekstrasellular (ECF) dengan konsentrasi berkisar
antara 135-145 mmol/L. Ion natrium juga akan berada
pada cairan intrasellular (ICF) namun dengan
konsentrasi yang lebih kecil yaitu ± 3 mmol/L. Sebagai
kation utama dalam cairan ekstrasellular, natrium akan
berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam
tubuh, menjaga aktivitas saraf , kontraksi otot dan juga
akan berperan dalam proses absorpsi glukosa. Pada
53
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
keadaan normal, natrium (Na+) bersama dengan
pasangan (terutama klorida, Cl-) akan memberikan
kontribusi lebih dari 90% terhadap efektif osmolalitas di
dalam cairan ekstrasellular.
2. Kalium
Kalium merupakan ion bermuatan positif (kation)
utama yang terdapat di dalam cairan intrasellular (ICF)
dengan konsentrasi ±150 mmol/L. Sekitar 90% dari
total kalium tubuh akan berada di dalam kompartemen
ini.
Sekitar 0.4% dari total kalium tubuh akan
terdistribusi ke dalam ruangan vascular yang terdapat
pada cairan ekstraselular dgn konsentrasi antara 3.5-5.0
mmol/L. Konsentrasi total kalium di dalam tubuh
diperkirakan sebanyak 2g/kg berat badan. Namun
jumlah ini dapat bervariasi bergantung terhadap
beberapa faktor seperti jenis kelamin, umur dan massa
otot (muscle mass). Kebutuhan minimum kalium
diperkirakan sebesar 782 mg/hari. Di dalam tubuh
kalium akan mempunyai fungsi dalam menjaga
keseimbangan cairan-elektrolit dan keseimbangan asam
basa. Selain itu, bersama dengan kalsium (Ca +2 ) dan
natrium (Na+), kalium akan berperan dalam transmisi
54
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
saraf, pengaturan enzim dan kontraksi otot. Hampir
sama dengan natrium, kalium juga merupakan garam
yang dapat secara cepat diserap oleh tubuh. Setiap
kelebihan kalium yang terdapat di dalam tubuh akan
dikeluarkan melalui urin serta keringat.
3. Klorida (Cl)
Elektrolit utama yang berada di dalam cairan
ekstraselular (ECF) adalah elektrolit bermuatan negatif
yaitu klorida (Cl -). Jumlah ion klorida (Cl -) yang
terdapat di dalam jaringan tubuh diperkirakan
sebanyak 1.1 g/ Kg berat badan dengan konsentrasi
antara 98-106 mmol/L. Konsentrasi ion klorida
tertinggi terdapat pada cairan serebrospinal seperti otak
atau sumsum tulang belakang, lambung dan juga
pankreas.
Sebagai anion utama dalam cairan ekstraselullar,
ion klorida juga akan berperan dalam menjaga
keseimbangan cairan-elektrolit. Selain itu, ion klorida
juga mempunyai fungsi fisiologis penting yaitu sebagai
pengatur derajat keasaman lambung dan ikut berperan
dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh.
Bersama dengan ion natrium (Na + ), ion klorida juga
55
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
merupakan ion dengan konsentrasi terbesar yang
keluar melalui keringat.
E. Kontrol Hormonal
Empat hormon yang berperan penting dalam pengaturan
cairan dan elektrolit diantaranya yaitu antidiuretic hormon
(ADH), angiotensin, aldosterone, dan peptide natriuretic
atrium. Berikut penjelasan dari masing-masing hormon
tersebut.
1. Antidiuretik hormone (ADH)
ADH diproduksi oleh kelenjar hipotalamus dan
disimpan oleh kelenjar hipofisis posterior. Hormon ini
meningkatkan permeabilitas sel-sel di tubulus kontortus
distal dan duktus kolektivus. Dengan adanya ADH
lebih banyak air yang direabsorbsi dari tubulus ginjal
dan oleh karena itu pasien akan buang air kecil lebih
sedikit. Dengan tidak adanya ADH, lebih sedikit air
yang direabsorbsi dan pasien akan buang air kecil lebih
banyak. Dengan demikian ADH memainkan peran
utama dalam pengaturan keseimbangan cairan dalam
tubuh.
Variabel terpenting yang mengatur sekresi ADH
adalah osmolaritas plasma, atau konsentrasi zat terlarut
56
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
dalam darah. Osmolaritas dirasakan di hipotalamus
oleh neuron yang dikenal sebagai osmoreseptor, dan
neuron tersebut pada gilirannya merangsang sekresi
dari neuron yang menghasilkan ADH. Ketika
osmolaritas plasma di bawah ambang batas tertentu,
osmoreseptor tidak diaktifkan dan sekresi ADH
ditekan. Ketika osmolaritas meningkat di atas ambang
batas, osmoreseptor mengenali ini dan merangsang
neuron yang mensekresi ADH.
2. Angiotensin
Renin-angiotensin adalah sistem hormone yang
mengatur tekanan darah dan keseimbangan air (cairan).
Ketika volume darah rendah, sel-sel jukstaglomerulus
di ginjal mengeluarkan renin langsung ke dalam
sirkulasi. Renin plasma kemudian melakukan konversi
angiotensinogen yang dilepaskan oleh hati menjadi
angiotensin I. Angiotensin I selanjutnya diubah menjadi
angiotensin II oleh enzim pengubah angiotensin yang
ditemukan di paru-paru. Angiotensin II adalah peptide
vasoaktif kuat yang menyebabkan pembuluh darah
menyempit, mengakibatkan peningkatan tekanan
darah. Angiotensin II juga merangsang sekresi hormon
aldosterone dari korteks adrenal. Aldosterone
57
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
menyebabkan tubulus ginjal meningkatkan reabsorbsi
natrium dan air ke dalam darah. Hal ini meningkatkan
volume cairan dalam tubuh yang juga meningkatkan
tekanan darah.
3. Aldosterone
Aldosterone merupakan hormone steroid yang
disekresikan oleh kelenjar adrenal. Aldosterone
berfungsi sebagai pengatur utama keseimbangan garam
dan air tubuh dan dengan demikian dikategorikan
sebagai mineralokortikoid. Ini juga memiliki efek kecil
pada metabolism lemak, karbohidrat dan protein.
Beberapa hal akan merangsang sekresi aldosterone:
ketika kadar kalium terlalu tinggi, jika aliran darah ke
ginjal berkurang, atau jika tekanan darah turun.
Sebaliknya, sekresi aldosterone akan menurun jika
kadar kalium turun, aliran darah di ginjal meningkat,
volume darah meningkat atau jika dikonsumsi terlalu
banyak garam.
4. Atrial natriuretic peptide (ANP)
Atrial natriuretic peptide adalah hormone peptide yang
disekresikan oleh miosit atrium jantung yang
meningkatkan ekskresi garam dan air serta
menurunkan tekanan darah. ANP bertindak untuk
58
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
mengurangi beban air, natrium dan adipose pada
sistem peredaran darah, sehingga mengurangu tekanan
darah. ANP memiliki fungsi yang berlawanan dengan
aldosterone yang disekresi oleh zona glomerulosa.
Sintesis ANP juga terjadi di ventrikel, otak, kelenjar
suprarenal dan kelenjar ginjal. Hormone ini dilepaskan
sebagai respons terhadap peregangan atrium.
ANP terlibat dalam pengaturan jangka panjang
natrium dan keseimbangan air, volume darah dan
tekanan arteri. Ada dua jalur utama untuk aksi peptide
natriuretik yaitu efek vasodilator dan efek ginjal, yang
menyebabkan natriuresis dan diuresis. ANP secara
langsung mendilatasi vena (meningkatkan komplians
vena) dan dengan demikian menurunkan curah jantung
dengan menurunkan preload ventrikel. ANP juga
mendilatasi arteri, yang menurunkan resistensi vascular
sistemik dan tekanan arteris sistemik.
59
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
60
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
BAB 7
Latihan Soal
Latihan Soal Essay:
1. Secara umum ginjal berperan dalam mengontrol
volume CES dengan mempertahankan keseimbangan
garam dan air. Jelaskan bagaimana proses tersebut
terjadi?
2. Jelaskan perbedaan larutan isotonik, hipotonik dan
hipertonik, sebutkan contohnya, dan larutan mana
yang paling berbahaya bagi tubuh?
3. Bagaimana mekanisme tubuh untuk mengatur
keseimbangan cairan elektrolit?
Latihan Pilihan Berganda
1. Pergerakan cairan dari konsentrasi rendah menuju
konsentrasi tinggi melalui proses transport aktif yang
membutuhkan energy metabolik. Pernyataan tersebut
merupakan istilah dari….
a. Osmosis
b. Filtrasi
61
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
c. Difusi
d. Transport aktif
2. pH cairan tubuh normal adalah …
a. 6,53-6,63
b. 7,35-7,45
c. 11,43-11,54
d. 9,12-9,22
3. Berikut ini yang merupakan komponen cairan
ekstraseluler, kecuali…
a. Transeluler
b. Transvaskular
c. Intravascular
d. Interstitial
4. Elektrolit yang berfungsi pada pembekuan darah
adalah….
a. Kalsium
b. Kalium
c. Fospat
d. Magnesium
5. Dibawah ini fungsi cairan tubuh yang benar ialah….
62
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
a. Mengatur suhu tubuh dari melancarkan ASI
b. Mengatur suhu tubuh dan melancarkan peredaran
darah
c. Mengatur peredaran darah dan meningkatkan berat
badan
d. Mengatur peredaran darah dan melancarkan ASI
63
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
64
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Daftar Pustaka
Guyton, A.C., & Hall, J. . (2008). Fisiologi Kedokteran. (Irawati et
al, Ed.) (Edisi 11). Jakarta: EGC.
Huether, S. E., & McCance, K. L. (2017). Buku Ajar Patofisiologi
(6th ed.). Singapura.
Muttaqin, A., & Sari, K. (2014). Asuhan Keperawatan Gangguan
Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Sherwood, L. (2014). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem (edisi 8).
Jakarta: EGC.
Syaifuddin. (2013). Fisiologi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Cheng, Y.L. and Yu, A.W. Water-Electrolyte Balance. In
Encyclopedia of Food Sciences & Nutrition, 2nd Edition,
Caballero, B. Trugo, L.C., & Finglas, P.M., Eds,. Academic
Press. 2003.
Graves-Freeland ,J.H & Trotter P.J. Mineral-Dietary Importance. In
Encyclopedia of Food Sciences & Nutrition, 2nd Edition,
Caballero, B. Trugo, L.C., & Finglas, P.M.,Eds,. Academic
Press. 2003.
Pranata, L. (2020). Fisiologi 1.
Pranata, L. (2018). Pemeriksaan Fisik.
Pranata, L., Indaryati, S., & Daeli, N. E. (2020). Perangkat Edukasi
Pasien dan Keluarga dengan Media Booklet (Studi Kasus Self-
Care Diabetes Melitus). Jurnal Keperawatan Silampari, 4(1),
102-111.
65
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Pranata, L. (2018). Pengaruh Wet Cupping terhadap Kadar
Hemoglobin Darah Vena Orang Sehat. Sriwijaya Journal Of
Medicine, 1(3), 139-142.
Schieberle, P., Grosch, W. And Belitz,H.D. Food Chemistry, 3d ed
Springer,Garchin. 2004.
G.R. Ahmad & D.R.Ahmad, Electrolytes Analysis. In Encyclopedia
of Food Sciences & Nutrition, 2nd Edition, Caballero, B.
Trugo, L.C., & Finglas, P.M.,Eds,.
Gisolfi, C.V. Use of electrolytes in fluid replacement solutions :
what have we learned form intentinal absorption studies? In :
Fluid Replacement & Heat Stress. National Academy Press.
Washington D.C. 1993.
Almatsier, S, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia, Jakarta, 2003.
www.mayoclinic.com
www.uwsp.edu
www.ann.com.au
http://cats.med.uvm.edu
Ganong, W. F. (2002). Buku fisiologi kedokteran (Jakarta). EGC.
Nursalam, F. B. B. (2008). Asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan sistem perkemihan. Salemba Medika.
Lely, N., Pratiwi, R. I., & Imanda, Y. L. I. L. (2017). Efektivitas
antijamur kombinasi ketokonazol dengan minyak atsiri sereh
wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle). Indonesian Journal
of Applied Sciences, 7(2).
Sari, E. R., Lely, N., & Septimarleti, D. (2018). Uji aktivitas
antibakteri dari ekstrak etanol dan beberapa fraksi daun kenikir
(Cosmos caudatus Kunth.) terhadap bakteri penyebab disentri
Shigella sp. Jurnal Penelitian Sains, 20(1), 14-19.
Lely, N., Sulastri, H., & Meisyayati, S. (2018). Activity Antifungi
66
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Of Oil Atsiri Sereh Wangi (Cymbopogon Nardus (L) Rendle).
Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA (JKSP), 1(1), 31-37.
Lely, N., Nurhasana, F., & Azizah, M. (2017). Aktivitas Antibakteri
Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas Merah (Alpinia purpuratak.
Schum) terhadap Bakteri Penyebab Diare. SCIENTIA: Jurnal
Farmasi dan Kesehatan, 7(1), 42-48.
Azizah, M., Lingga, L. S., & Rikmasari, Y. (2020). Uji aktivitas
antibakteri kombinasi ekstrak etanol daun seledri (Apium
graviolens L.) dan madu hutan terhadap beberapa bakteri
penyebab penyakit kulit. Jurnal Penelitian Sains, 22(1), 37-44.
Azizah, M., Wiraningsih, W., & Sari, E. R. (2017). Efek
imunomodulator ekstrak etanol kulit buah nanas (Ananas
comosus l. Merr) terhadap mencit putih jantan dengan metode
bersihan karbon (carbon clearance). Indonesian Journal of
Applied Sciences, 7(2).
Azizah, M., Akbar, P. T. A., & Hasanah, M. (2021). Uji Aktivitas
Anti Jamur Ekstrak Etanol Biji Alpukat (Persea americana Mill)
Terhadap Jamur Kulit Tricophyton rubrum ATCC 28188,
Epidermophyton floccosum ATCC 50266 dan Micospprum
canis ATCC 32699. Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA
(JKSP), 4(2), 177-179.
Wibowo, V. D., Hidayat, T. W., & Azizah, M. (2021). Efek
Hipoglikemik Ekstrak Etanol Bonggol Nanas (Ananas comosus
(L.) Merr) Pada Mencit Putih Jantan yang diinduksi Aloksan.
Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA (JKSP), 4(1), 1-9.
Putri, D. A., & Azizah, M. (2019). Uji Aktivitas Anti Bakteri
Ekstrak Etanol Daun Pandan Wangi (Pandanus Amaryllifolius
Roxb) Terhadap Bakteri Penyebab Diare. Jurnal Kesehatan
Saelmakers Perdana (JKSP), 2(1), 91-98.
Azizah, M., & Yunita, N. (2017). Uji Efek Analgetik Ekstrak Daun
Pandan Wangi (Pandanus Amaryllifolius Roxb) Terhadap
Mencit Putih Jantan (Mus Musculus) Galur Swiss Webster.
Scientia: Jurnal Farmasi dan Kesehatan, 7(2), 168-172.
67
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Fauzi, M., & Lely, N. (2017). Karakterisasi dan uji aktivitas
antimikroba minyak atsiri daun dan Azizah, M. (2018). Uji
Efek Antiinflamasi Ekstrak Daging Buah Nanas (Ananas
Comosus L.) terhadap Tikus Putih Jantan yang Diinduksi
Albumin Telur. Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi, 3(1). batang nilam
(Pogostemon cablin Benth). Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi, 2(1).
Wahyuni, Y. S., Erjon, E., & Aftarida, R. (2019). Pengaruh Suhu
Penyimpanan Terhadap Stabilitas Klindamisin Fosfat Dalam
Sediaan Emulgel Dengan Hydroxypropyl Methylcellulose
(Hpmc) Sebagai Gelling Agent. Journal of Pharmaceutical And
Sciences, 2(2), 36-42.
Erjon, E., Dwiputri, J., & Meisyayati, S. (2019). Efek Teratogenik
Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata L) Terhadap
Fetus Tikus Putih Galur Wistar. Jurnal Penelitian Sains, 21(2),
78-82.
Saputra, L. (2012). Medikal bedah renal dan urologi. Binarupa
Aksara.
Silverthorn, D. U. (2013). Fisiologi manusia:sebuah pendekatan
terintegrasi. EGC.
Wahyuningsih, heni puji, & Kusmiyati, Y. (2017). Anatomi fisiologi.
pusat pendidikan sumber daya manusia kesehatan.
Waugh, Anne and Grant, A. (2017). Ross wilson dasar-dasar
anatomi dan fisiologi (E. Nurachmah (ed.)). Elseiver.
68
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Profil penulis
apt. Masayu Azizah, M.Kes.
Lahir di Palembang, 29 Juni 1979. Pada saat ini sebagai dosen
pengajar di prodi Diploma Tiga FarmasiSekolah Tinggi Ilmu
Farmasi Bhakti Pertiwi sejak tahun 2010. Menyelesaikan
Pendidikan S1 di STIFI Bhakti Pertiwi Palembang, S-2
Universitas Sriwijaya BKU Fisiologi dan Profesi Apoteker
Universitas Andalas Padang. Saat ini menjabat sebagai ketua
Prodi D-III Farmasi STIFI Bhakti Pertiwi Palembang. Mengajar
mata kuliah Anatomi Fisiologi Manusia I, II dan III serta
Parasitologi.
69
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
apt. Nilda Lely, M. Kes.
Lahir di Payakumbuh, 14 Januari 1971, saat ini sebagai dosen
pengajar di STIFI Bhakti Pertiwi, sejak tahun 2002.
Menyelesaikan S1 Farmasi di Universitas Andalas tahun 1995.
Profesi apoteker di Universitas Gajah Mada tahun 1997 dan
menyelesaikan S2 di Universitas Sriwijaya BKU Farmakologi,
saat ini menjabat ketua Unit Bidang Ilmu Farmakologi di STIFI
BHakti Pertiwi. Mengajar ilmu Farmakologi, Anatomi Fisiologi
dan Mikrobiologi Farmasi.
apt. Erjon, S.Si., M.Kes.
Lahir di Bukittinggi, 23 Maret 1968, saat ini sebagai dosen tetap
pada Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Bhakti Pertiwi Palembang
sejak tahun 2002. Menyelesaikan pendidikan S-1 Farmasi dan
70
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
profesi apoteker pada Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas Padang tahun
1994. Pendidikan S2 diselesaikan pada Program Studi Biomedik
dengan bidang kajian Farmakologi klinis tahun 2008.Saat ini
menjabat sebagai wakil ketua III bidang kemahasiswaan dan
kerjasama. Mengasuk mata kuliah Farmakologi, Patofisiologi
dan Farmakoterapi serta Biofarmasetika dan Farmakokinetika.
Ns. Ketut Suryani, S.Kep., M.Kep.
Ketut Suryani, lahir di Nusaraya Belitang pada 23 Februari 1988,
saat ini bekerja di Universita Katolik Musi Charitas, prodi Ilmu
Keperawatan dan Ners. Mata kuliah yang diampu di prodi ilmu
keperawatan : Keperawatan anak, Komunikasi dalam keperawatan
dan Metodologi Penelitian. Selain itu sebagai pembimbing Skripsi.
Penulis Menyelesaikan sarjana keperawatan di Stikes Perdhaki
Charitas, Profesi Ners di Stikes Binawan jakarta dan Magister
keperawatan anak di Stikes Jendaral achamd yani Cimahi.
pendidikan non formal yang pernah dikuti seperti seminar, pelatihan
dan wokshop. Pelatihan yang pernah di ikuti adalah pijat bayi,
pealtihan deteksi tumbuh kembang anak, pelatihan preceptorship,
71
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
wokshop item development item review, pelatihan hipnoterapy.
Organisasi profesi yang diikuti persatuan perawat nasional indonesia
(PPNI) dan ikatan perawat anak indonesia (IPANI). Aktif
melakukan pengabdian dan penelitian di bidang keperawatan anak.
Memiliki riyawat publikasi nasional terindek SINTA 3 dan 4.
Ns. Veroneka Yosefpa Windahandayani, M.Kep.
Ns. Veroneka Yosefpa Windahandayani, M.Kep. Lulus S1
Keperawatan dan Ners pada tahun 2014, lulus program magister
keperawatan pada tahun 2020. Saat ini adalah dosen tetap di
Universitas Katolik Musi Charitas Palembang, prodi D3
Keperawatan. Fokus mengajar mata kuliah medikal bedah, dan
beberapa mata kuliah yang berkaitan. Sebagai seorang dosen,
saat ini mulai menekuni dalam tugas tridharma perguruan tinggi,
yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Pernah Keperawatan Medikal Bedah dan Keperawatan Anak.
72
Anatomi Fisiologi “Sistem Perkemihan dan Konsep Cairan Elektrolit…”
Vincencius Surani, S.Kep., Ns., M.Kep.
Lahir di Taraman, 20 Juli 1991. Saat ini sebagai staf di Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang.
Menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Keperawatan di Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Perdhaki Charitas Palembang tahun 2013. Profesi
Ners di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perdhaki Charitas
Palembang tahun 2014 dan menyelesaikan pendidikan S2 Ilmu
Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
dengan peminatan Keperawatan Medikal Bedan tahun 2021.
73