Manajemen Keperawatan
“Kualitas Pelayanan Keperawatan”
UU No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
Fungsi dan Sifat Hak Cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang
terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku
terhadap:
i. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan
peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual;
ii. penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan
penelitian ilmu pengetahuan;
iii. penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan
pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman
sebagai bahan ajar; dan
iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan
yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan
tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang
Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan
Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Manajemen Keperawatan
“Kualitas Pelayanan Keperawatan”
(1)Lilik Pranata. (2)Aniska Indah Fari. (3) Dicky Priyo Carito.
(4) Resmi Dinanti. (5)ChyntiaRahmadayani (6)Mira Suryani.
(7)Serly Apriani. (8) Pradhita Aprillia. (9) Alfayat Akbar. (10)I Wayan Antoni
(11) Maiza Dwi Lestari. (12)Olivia Rahayu Hasibuan.
(13)Tita Wuri Handayani. (14)Winda Christiana Br Regar.
(15) Mita Sihombing. (16)Okta Herine. (17)Elbi Elvira.
MANAJEMEN KEPERAWATAN
“Kualitas Pelayanan Keperawatan”
Lilik Pranata, dkk.
Editor:
Annisa Zikra Toppany
Desainer:
Mifta Ardila
Sumber:
www.insancendekiamandiri.co.id
Penata Letak:
Annisa Zikra Toppany
Proofreader :
Annisa Zikra Toppany
Ukuran:
vi, 96 hlm., 15,5x23 cm
ISBN:
978-623-348-103-8
Cetakan Pertama:
Mei 2021
Hak Cipta 2021, pada Lilik Pranata, dkk.
Isi di luar tanggung jawab penerbitan dan percetakan
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Anggota IKAPI: 020/SBA/20
PENERBIT INSAN CENDEKIA MANDIRI
(Grup Penerbitan CV INSAN CENDEKIA MANDIRI)
Perumahan Gardena Maisa 2, Blok F.12, Koto Baru, Kecamatan Kubung,
Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat – Indonesia 27361
HP/WA: 0813-7272-5118
Website: www.insancendekiamandiri.co.id
www.insancendekiamandiri.com
E-mail: [email protected]
DAFTAR ISI
Prakata ............................................................................... vi
Bab 1: Kualitas pelayanan dan penilaian kinerja perawat..1
Bab 2 : Mutu Pelayanan keperawatan .............................. 17
Bab 3 : Keselamatan Pasien ............................................. 41
Bab 4 : Perawatan diri ...................................................... 51
Bab 5 : Kepuasan Pasien .................................................. 57
Rangkuman ...................................................................... 74
Latihan soal ...................................................................... 77
Daftar pustaka
Biodata penulis
v
PRAKATA
Puji syukur Alhamdulilah buku Manajemen Keperawatan
“Kualitas Pelayanan Keperawatan” ini berisikan tentang
pelayanan di tatanan manajemen keperawatan, sehingga
Memudahkan mahasiswa keperawatan belajar dalam
memberikan kualitas pelayanan. Semoga buku ini dapat
bermanfaat bagi semua pembacanya.
Maret 2021
Penulis
vi
BAB 1
Kualitas Pelayanan dan Penilaian
Kinerja Perawat
A. Pendahuluan
Kepuasan pasien merupakan salah satu faktor yang
penting dan harus diperhatikan dalam pelayanan kesehatan.
Kepuasan pasien merupakan dari pasien menilai kualitas
pelayanan kesehatan yang diberikan sesuai harapan pasien
dan sesuai dengan kerja nyata dalam pelayanan di tatanan
kesehatan. Tingkat standarisasi kepuasan pasien dalam
pelayanan kesehatan sudah ditetapkan dalam kebijkan oleh
departemen kesehatan menurut peraturan menteri kesehatan
pada tahun 2019 minimal mendapat kepuasan sampai
dengan 100%. Apabila ditemukan dalam pelayanan
kesehatan di temukan kepuasan pasien dibawah 100%
pelayanan tersebut dianggap tidak memenuhi standarisasi
dan tidak berkualitas menurut kebijakan oleh Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia (Anon 2019).
Batasan standar layanan rawat jalan : Ketepatan waktu
jam buka pelayanan 95%, Waktu tunggu rawat jalan 30
menit, tidak terjadinya kesalahan identifikasi pasien 100%,
1
tidak terjadinya rujukan rawat jalan pasien yang semestinya
dapat ditangani di puskesmas 100%. Pelayanan Ruang
Gawat Darurat : waktu tanggap 5 menit, tidak terjadinya
kesalahan prosedur tindakan medis 100%, kelengkapan
informed consent sebelum melaksanakan prosedur tindakan
medis 100%.Pelayanan rawat inap : tidak terjadinya pasien
jatuh 100%, kejadian infeksi nosokomial 9%, pelayanan
obat waktu tunggu pelayanan obat jadi 30 menit, waktu
tunggu pelayanan obat racikan 45 menit, peresepan obat
sesuai formularium nasional 100%, tidak terjadinya
kesalahan pemberian obat 100%. Pelayanan rekam medis:
Kelengkapan pengisian rekam medis 100%, ketepatan
waktu pelaporan ke Dinas Kesehatan 100%, pengendalian
infeksi: kepatuhan hand hygiene100%, ketaatan penggunaan
APD 100% (Anon 2019).
B. Prinsip-Prinsip Penilaian
Menurut Gillies dalam (Aswad, Hajar Nur Ferrial 2016,
p.420), untuk mengevaluasi bawahan secara tepat dan adil,
manajer perlu mengamati prinsip-prinsip tertentu, antara
lain :
a. Evaluasi pekerja didasarkan pada standar pelaksanaan
kerja, dan orientasi tingkah laku untuk posisi yang
ditempati.
2 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
b. Sampel tingkah laku perawat yang cukup representatif
sebaiknya diamati dalam rangka evaluasi pelaksanaan
kerjanya.
c. Perawat sebaiknya diberi soft copy deskripsi kerjanya,
standar pelaksanaan kerja, dan bentuk evaluasi untuk
peninjauan ulang sebelum pertemuan evaluasi, sehingga
baik perawat maupun supervisor dapat mendiskusikan
evaluasi dari kerangka kerjasama
d. Di dalam menuliskan penilaian pelaksanaan kerja
pegawai, manajer sebaiknya menunjukkan segi-segi
dimana pelaksanaan kerja itu bisa memuaskan dan
perbaikan apa yang diperlukan
e. Jika diperlukan, manajer sebaiknya menjelaskan area
mana yang akan diprioritaskan seiring dengan usaha
perawat untuk meningkatkan pelaksanaan kerja.
f. Pertemuan evaluasi sebaiknya dilakukan dengan waktu
yang tepat bagi perawat dan manajer, dan diskusi
evaluasi sebaiknya dilakukan dalam waktu yang cukup
bagi segala pihak.
g. Baik laporan evaluasi maupun pertemuan sebaiknya
disusun dengan terencana (Hasibuan & Efrinasinurat
2020, pp.50–51)(Aswad, Hajar Nur Ferrial 2016).
Kualitas Pelayanan dan Penilaian Kinerja Perawat 3
C. Proses Kegiatan Penilaian Kerja
Penilaian prestasi kerja merupakan suatu pemikiran
sistematis atas induvidu karyawan menganai prestasinya
dalam pekerjaan dan potensinya untuk pengembangan
(Nursalam 2012a).
Proses kegiatan penilaian kerja meliputi :
a) Merumuskan tanggung jawab dan tugas yang harus
dicapai oleh staf keperawatan rumusan tersebut telah
disepakati oleh atasannya, sehingga langka perumusan
tersebut dapat memberikan kontribusi berupa hasil
b) Menyepakati sasaran kerja dalam bentuk hasil yang
harus dicapai oleh karyawan dalam kurun waktu
tertentu dengan penempatan standar prestasi dan tolak
ukur yang telah ditetapkan ;
c) Melakukan monitoring, koreksi, dan memberikan
kesempatan serta bantuan yang diperlukan oleh
sifatnya;
d) Menilai prestasi kerja staf melalui perbandingan antara
prestasi yang dicapai dengan standar yang telah
ditetapkan;
e) Memberikan umpan balik kepada staf/karyawan yang
dinilai dalam proses pemberian umpan balik ini, atasan
dan bawahan perlu membicarskan cara-cara
4 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
memperbaiki kelemahan yang telah diketahui untuk
meningkatkan prestasi pada periode berikutnya.
D. Standar Instrumen Penilaian Kerja Perawat
dalam Melaksanakan Asuahan Keperawatan
Penilaian kualitas pelayanan keperawatan kepada klien
menggunakan standar praktik keperawatan yang
merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan
asuhan keperawatan, yang dapat digunakan untuk menilai
kualitas pelayanan keperawatan kepada pasien (Nursalam
2012b). Standar kinerja adalah patokan-patokan yang
digunakan sebagai dasar dalam penilaian kinerja aktual
karyawan (2020, p.1). Pelayanan keperawatan menurut
Depkes RI 2010 dalam (Ariga 2020), adalah bentuk
pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang
komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga dan
masyarakat baik sakit maupun sehat mencakup seluruh
proses kehidupan manusia. PPNI (2000), menjabarkan lima
standar praktik keperawatan yang mengacu pada tahapan
proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis
keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi
(Nursalam 2012b).
Kualitas Pelayanan dan Penilaian Kinerja Perawat 5
a. Pengkajian Keperawatan
Perawat mengumpulkan data tentang status
kesehatan pasien secara sistematis, meyeluruh, akurat,
singkat, dan berkesinambungan. Kriteria pengkajian
keperawatan (Nursalam 2012b) meliputi:
1) Pengumpulan data melalui anamnesis, observasi,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
2) Sumber data diperoleh dari pasien, keluarga pasien
atau orang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan
catatan lain.
3) Data yang dikumpulkan digunakan untuk
mengidentifikasi:
a) Status kesehatan pasien di masa lalu
b) Status kesehatan paasien saat ini
c) Status biologis-psikologis-sosial-spiriual
d) Respon terhadap terapi
e) Harapan terhadap tingkat kesehatan optimal
f) Risiko-risiko tinggi
b. Diagnosis Keperawatan
Perawat menganalisis data pengkajian untuk
merumuskan diagnosis keperawatan. Kriteria prosesnya
adalah sebagai berikut:
6 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
1) Proses diagnosis yang terdiri dari analisis,
interpretasi data, identifikasi masalah pasien, dan
perumusan diagnosis keperawatan.
2) Diagnosis keperawatan yang terdiri dari masalah (P),
penyebab (E), dan tanda atau gejala (S), atau dapat
berupa masalah dan penyebab (PE).
3) Kerja sama dengan pasien dan petugas kesehatan
lain untuk melakukan validasi diagnosis
keperawatan.
4) Pengkajian ulang dan revisi terhadap diagnosis
berdasarkan data terbaru (Nursalam 2012b)
c. Perencanaan Keperawatan
Perawat menyusun rencana tindakan keperawatan
untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan
pasien. Kriteria prosesnya adalah :
1) Perencanaan yang terdiri dari penetapan prioritas
masalah, tujuan, dan rencana tindakan keperawatan.
2) Kerja sama dengan pasien dalam menyusun rencana
tindakan keperawatan.
3) Perencanaan yang bersifat individual, sesuai dengan
kondisi atau kebutuhan pasien.
4) Dokumentasi rencana keperawatan (Nursalam
2012b).
Kualitas Pelayanan dan Penilaian Kinerja Perawat 7
d. Implementasi
Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah
diidentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan.
Kriteria pengakajian meliputi:
1) Kerja sama dengan pasien dalam pelaksanaan
tindakan keperawatan.
2) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
3) Tindakan keperawatan untuk menjaga kesehatan
pasien.
4) Pendidikan kepada pasien dan keluarga oasien
mengenai konsep ketrampilan asuhan diri, serta
bantuan modifikasi lingkungan yang digunakan
pasien.
5) Pengkajian ulang dan revisi pelaksanaan tindakan
keperawatan berdasarkan respon pasien (Nursalam
2012b).
e. Evaluasi Keperawatan
Perawat mengevaluasi kemajuan pasien terhadap
tindakan keperawatan, serta merevisi data dasar dan
perencanaan. Kriteria pengkajian antara lain:
1) Penyusunan rencana evaluasi hasil berdasarkan
intervensi secara komprehensif, tepat waktu, dan
berkelanjutan.
8 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
2) Penggunaan data dasar dan respon pasien
untukmengukur perkembangan ke arah pencapaian
tujuan
3) Validasi dan analisis data baru menggunakan data
rekan sejawat.
4) Kerja sama dengan keluarga pasien untuk
memodifikasi rencana asuhan keperawatan
5) Dokumentasi hasil evaluasi dan modifikasi rencana
(Nursalam 2012b).
E. Masalah dalam Penilaian Pelaksanaan Kerja
Beberapa permasalahan yang terdapat dalam proses
penilaian kinerja menurut (Fauzi & A, Nugroho, Hidayat
2020, p.34)
1. Efek Halo (the halo effect)
Masalah ini terjadi bila opini pribadi penilai tentang
karyawan yang dinilai mempengaruhi penilaian kinerja.
Contohnya penilai mempunyai perasaan tidak suka
terhadap karyawan yang dinilai. (Fauzi & A, Nugroho,
Hidayat 2020)
2. Kesalahan akibat kecendrungan ke pusat (the erorr of
central tendency)
Masalah ini terjadi bila penilai kurang suka menilai
dengan pedoman “edukatif” atau tidak “edukatif”
Kualitas Pelayanan dan Penilaian Kinerja Perawat 9
sehingga memerlukan distorsi terhadap peringkat
(rating) yang ada dengan membuat nilai rata-rata bagi
karyawan. (Fauzi & A, Nugroho, Hidayat 2020)
3. Penyimpangan akibat kelonggaran dan ketelitian
(leniency and strictness biases)
Penyimpangan akibat kelonggaran terjadi bila penilai
cendrung memandang ringan proses penilaian kinerja,
contohnya penilai memandang semua karyawan
berkinerja baik. Penyimpangan akibat ketelitian
merupakan kebaikan dan penyimpangan akibat
kelonggaran. (Fauzi & A, Nugroho, Hidayat 2020)
4. Penyimpangan akibat lintas budaya (cross-cultural
biases)
Masalah ini terjadi karena perbedaan latar belakang
kultural antara penilai dan karyawan yang di nilai.
(Fauzi & A, Nugroho, Hidayat 2020)
5. Penilaian pribadi (personal prejudice)
Masalah ini timbul karena adanya perasaan tidak suka
dari penilai terhadap kelompok atau kelas sosial
tertentu. (Fauzi & A, Nugroho, Hidayat 2020)
6. Efek resensi (the recency effect)
Masalah ini muncul karena rating biasanya tidak suka
pada penilai terhadap kelompok atau kelas sosial
tertentu. (Fauzi & A, Nugroho, Hidayat 2020)
10 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
F. Kualitas Pelayanan Sebagai Proses Audit
Struktur (Input)
Struktur merupakan masukan (input) yang
meliputi sarana fisik perlengkapan/peralatan, organisasi,
manajemen, keuangan, sumber daya manusia dan
sumber daya lainnya dalam fasilitas keperawatan. Baik
tidaknya struktur sebagai input dapat di ukur dari jumlah
besarnya mutu, mutu struktur, besarnya anggaran atau
biaya dan kewajaran. Penilaian juga dilakukan terhadap
perlengkapan-perlengkapan dan instrumen yang tersedia
dan dipergunakan untuk pelayanan. Selain itu pada
aspek fisik, penilaian juga mencakup pada karakteristik
dari administrasi organisasi dan kualifikasi dari profesi
kesehatan. Pendapat yang hampir sama dikemukakan
oleh Tappen (1995), yaitu bahwa struktur berhubungan
dengan pengaturan pelayanan keperawatan yang
diberikan dan sumber daya yang memadai (Wijono
2011). Aspek dalam komponen struktur dapat dilihat
melalui :
1) Fasilitas, yaitu kenyamanan, kemudahan mencapai
pelayanan dan keamanan.
2) Peralatan, yaitu suplai yang adekuat dan seni
menempatkan peralatan.
Kualitas Pelayanan dan Penilaian Kinerja Perawat 11
3) Staf, meliputi pengalaman, tingkat absensi, rata-
rata turnover dan rasiopasien-perawat.
4) Keuangan, yaitu meliputi gaji, kecukupan dan sumber
keuangan.
5) Tenaga, obat tekhnologi dan informasi.
a. Proses (Process)
Pendekatan ini merupakan proses yang
mentransformasi struktur (input) kedalam hasil
(outcome). Proses adalah kegiatan yang dilaksanakan
secara profesional oleh tenaga kesehatan dalam hal
ini perawat dan interaksinya dengan pasien (Wijono
2011).
Kegiatan proses mencakup diagnosa, rencana
perawatan, indikasi tindakan, prosedur dan
penanganan kasus. Penilaian dilakukan terhadap
perawat dalam merawat pasien.Baik tidaknya proses
dapat diukur dari relevan tidaknya proses bagi pasien,
fleksibelitas/efektifitas, mutu proses itu sendiri sesuai
dengan standar pelayanan yang semestinya, dan
kewajaran (tidak kurang dan tidak berlebihan).
Pendekatan ini difokuskan pada pelaksanaan
pemberian pelayanan keperawatan oleh perawat
terhadap pasien dengan menjalankan tahap-tahap
12 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
asuhan keperawatan. Pada penilaiannya dapat
menggunakan teknik observasi maupun audit dari
dokumentasi keperawatan. Indikator baik tidaknya
proses dapat dilihat dari kesesuaian pelaksanaan
dengan standar operasional prosedur, relevansi
tidaknya dengan pasien dan efektifitas
pelaksanaannya.
b. Hasil (Outcome)
Pendekatan ini adalah hasil akhir kegiatan dan
tindakan perawat terhadap pasien. Adanya
perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik
positif maupun negatif. Baik tidaknya hasil dapat
diukur dari derajat kesehatan pasien dan kepuasan
pasien terhadap pelayanan perawatan yang telah
diberikan (Wijono 2011).
Pada proses pelayanan keperawatan, outcome
dapat berupa perubahan yang terjadi pada konsumen
termasuk kepuasan dari konsumen. Tanpa mengukur
hasil kinerja rumah sakit dan tidak diketahui apakah
input proses yang baik menghasilkan output yang
baik (Nursalam 2014).
Pendekatan-pendekatan di atas dapat digunakan
sebagai indikator dalam melakukan penilaian
terhadap mutu. Namun, sebagai suatu sistem
Kualitas Pelayanan dan Penilaian Kinerja Perawat 13
penilaian mutu sebaiknya dilakukan pada ketiga
unsur dari sistem tersebut yang meliputi struktur,
proses dan hasil. Setelah didapatkan hasil
penilaiannya, maka dapat dilakukan strategi yang
tepat untuk mengatasi kekurangan atau penilaian
negatif dari mutu pelayanan tersebut. Seiring
berjalannya waktu, strategi peningkatan mutu
mengalami perkembangan yang dapat menjadi
wacana kita mengenai strategi mana yang tepat dalam
melakukan upaya yang berkaitan dengan mutu
pelayanan.
G. Strategi dalam mencapai kualitas pelayanan
Strategi dalam mencapai kualitas pelayanan
a) peningkatan mutu pelayanan terhadap pelanggan.
Pelayanan yang diberikan agar lebih baik perlu adanya
perencanaan strategi yang baik dalam meningkatkan
mutu pelayanan yang berkesinambungan dan paripurna
(Widiharti et al. 2011).
b) Jaminan mutu layanan kesehatan atau Quality Assurance
in Healthcare merupakan salah satu pendekatan atau
upaya yang sangat penting serta mendasar dalam
memberikan layanan kesehatan kepada pasien (Widiharti
et al. 2011).
14 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
Mutu layanan kesehatan sangat di pengaruhi oleh banyak
faktor salah satunya adalah :
a) Perilaku petugas kesehatan, kadang mutu layanan
kesehatan yang diselenggarakan oleh manusia tanpa di
sadari dapat berubah menjadi kurang bermutu karena
faktor emosi petugas. Penilaian mutu pelayanan ada
delapan dimensi (widiharti et al. 2011).
1. KompetensiTeknik (Technical Competence)
2. Akses terhadap pelayanan (Access to Service)
3. Efektivitas (Effectiveness)
4. Efisiensi (Efficiency)
5. Kontinuitas (Continuity)
6. Keamanan (Safety)
7.Hubungan antar manusia (Interpersonal Relations)
8. Kenyamanan (Amenities) (Widiharti et al. 2011)
Kualitas Pelayanan dan Penilaian Kinerja Perawat 15
16
BAB 2
MUTU PELAYANAN
KEPERAWATAN
A. Pendahuluan
Pada mulanya mutu produk di tentukan oleh produsen,
pada perkembangan selanjutnya mutu produk di tentukan
oleh pembeli dan prosedusen menegtahui bahwa produk ini
bermutu bagi yang memang dapat di jual, karena itu produk
di butuhkan dan perkembangan mutu pada mulainya adalah
suatu sistem pada perkembangan Amerika Serikat sehingga
buah pikiran mereka pada mulanya kurang di perhatikan
oleh masyarakat khusunya masyarakat bisnis namun ada
beberapa yang pemegang kunvi dalam pengenalan dan
pengembangan konsuo mutu sehingga sejak 1980
keterlibatkab mereka dalam manajemen telah di hargai di
seluruh dunia (Mamik 2014, pp.93–94)
Mutu sebagai suatu konsep yang di harapkan dan di
praktikkan dengan cara dan gaya yang sama pada setiap
keadaan. Pada umumnya mutu pelayanan kesehatan
berfokus pada konsep bahwa layanan kesehatan memiliki
Mutu Layanan Keperawatan 17
tiga landasan utama yaitu mutu, akses dan biaya (Al-Assaf
2011, p.1). Menurut Pohan (2012) pendekatan jaminan
mutu layanan kesehatan telah menjadi suatu kiat yang
sistemik serta terus menerus di evaluasi dan di
sempurnakan sebagai salah satu perangkat yang sangat
berguna bagi mereka yang mengelola dan merencanakan
layanan kesehatan sehingga pendekatan itu merupakan
bagian dari keterampilan yang sangat mendasar bagi setiap
pemberi ( provider ) layanan kesehatan secara langsung
melayani pasien.
Mutu pelayanan kesehatan tidak lepas dari suatu
profesi saling berkaitan, tergantung pada mutu pelayanan
medis dan mutu pelayanan keperawatan yang di berikan
kepada pasien(Mamik 2014). Pasien sebagai pengguna jasa
pelayanan kesehatan menurut pelayanan keperawatan
menuntut pelayanan yang bermutu dari paripurna sehingga
pasien akan mengeluh bisa di berikan prilaku caring yang
di rasakan tidak memberikan nilai kepuasan bagi dirinya,
kualitas rumah sakit sebagai institusi yang menghasikan
produk teknologi jasa kesehatan sudah tentu tergatung juga
pada kualitas pelayanan medis dan pelayanan keperawatan
yang di berikan kepada pasien, melihat fenomena di atas,
pelayanan keperawatan yang memiliki kontribusi sangat
besar terhadap citra sebuah rumah sakit yang di pandang
18 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
pelru untuk melakukan evaluasi atas pelayanan yang telah
di berikan (Nursalam 2014).
B. Konsep Mutu Pelayanan Keperawatan
Definisi Mutu Pelayanan Keperawatan
Mutu pelayanan keperawatan merupakan suatu
proses kegiatan yang dilakukan oleh profesi
keperawatan dalam memenuhi kebutuhan pasien dalam
mempertahankan keadaan dari segi biologis, psikologis,
sosial dan spiritual (Suarli & Bahtiar 2012).
Peningkatan mutu pelayanan merupakan derajat
memberikan pelayanan yang efisien dan efektif sesusai
dengan standar profesi, standar pelayanan yang
dilaksanakan secara menyeluruh sesuai dengan
kebutuhan pasien, memanfaatkan teknologi tepat guna
dan hasil penelitian dalam pengembangan pelayanan
kesehatan/keperawatan sehingga tercapai derajat
kesehatan yang optimal (Nursalam 2014).
a. Unsur-unsur Mutu
Menurut (Nursalam 2014) dalam (Hidaya et al.
2020, p.106) unsur-unsur mutu ada 3 bagian, antara lain
1) Unsur masukan
Unsur masukan yang dimaksud disini ialah tenaga,
dana dan sarana fisik, perlengkapan serta peralatan.
Mutu Layanan Keperawatan 19
Secara umum tenaga dan sarana ini disebut tidak
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, dan jika
dana yang tersedia tidak seduai dengan kebutuhan
maka akan sulit mutu pelayanan ini diharapkan baik.
2) Unsur lingkungan
Unsur lingkungan ini merupakan kebijakan,
organisasi, manajemen. Secara umum jika kebijakan
organisasi dan manajemen tidak sesuai dengan
standar atau tidak bersifat mendukung, maka akan
sulit juga mutu pelayanan ini harapannya baik.
3) Unsur proses
Unsur proses ini ialah tindakan medis, keperawatan
atau non medis. Secara umum juga disebutkan jika
tindakan tersebut tidak sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan, dan maka sulit diharapkan mutu
pelayanan menjadi baik.
b. Dimensi Mutu
Dimensi mutu menurut (Hidaya et al. 2020) dalam
pelayanan menggunakan model kualitas pelayanan
dengan metode SERVEQUAL (Service Quality) yang
dapat digunakan sebagai penentuan mutu pelayanan
dikembangkan dengan lima dimensi mutu pelayanan,
antara lain:
20 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
1) Bukti fisik (Tangibles), yang terdiri dari penampilan
fasilitas fisik seperti bangunan/gedung dan ruangan,
kenyamanan ruangan, kebersihan ruangan,
kerapihan dan penampilan petugas.
2) Kehandalan (Reliability), merupakan kemampuan
untuk memberikan pelayanan yang akurat dan
kemampuan dalam memberikan pelayanan yang
sesuai dengan perjanjian.
3) Daya tanggap (Responsiveness), kesediaan utnuk
membantu pelanggan, tanggapan dalam memberikan
pelayanan yang cepat yang meliputi kecepatan
pegawai/karyawan dalam menangani keluhan para
pelanggan serta kesiagapan karyawan dalam
melayani pelanggan.
4) Jaminan (Assurance), merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk menjamin kepastian terhadap
pelaynan yang akan diberikan kepada pelanggan.
Hal ini meliputi pengetahuan petugas terhadap jasa
yang diberikan secara tepat, keterampilan petugas
dalam memberikan pelayanan sehingga dapat
menciptakan rasa aman dan nyaman pada pelanggan.
5) Empati (Emphaty), suatu hal yang membina
hubungan dan perhatian secara
individual/peseorangan yang diberikan pihak
Mutu Layanan Keperawatan 21
perusahaan kepada pelanggan seperti
mendengarakan keluhan pelangggan sebaik
mungkin, kemudahan pelanggan untuk
menghubungi perusahaan, kemampuan
pegawai/karyawan untuk berkomunikasi
denganpelanggan dan usaha perusahaan untuk
memahami semua kebutuhan pelanggannya.
c. Tujuan Mutu Pelayanan Keperawatan
Menurut (Nursalam 2014) dalam (Triwibowo 2013)
tujuan mutu pelayanan keperawatan ini terbagi menjadi
5 tahapan yaitu:
1) Penyusunan standar atau kriteria. Maksudnya disini
agar asuhan keperawatan lebih terstruktur dan
terencana berdasarkan standar kriteria masing-
masing perawat.
2) Mengidentifikasi informasi yang sesuai dengan
kriteria. Informasi ini diharapkan untuk mendukung
dalam proses asuhan keperawatan dan sebagai
pengukuran kualitas pelayanan keperawatan.
3) Identifikasi sumber informasi. Dalam memilih suatu
informasi yang akurat diharuskan ada penyeleksian
yang ketat dan berkesinambungan. Beberpa
22 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
informasi juga diharapkan didapatnya dari pasien itu
sendiri.
4) Mengumpulkan dan menganalisa data. Perawat
dapat menyeleksi data dari pasien dan kemudain
menganalisa satu-persatu.
5) Evaluasi ulang. Pada tahap ini berfungsi untuk
meminimkan kekeliruan dalam pengambilan
keputusan pada asuhan dan tindakan keperawatan.
d. Faktor Mutu Pelayanan Keperawatan
Menurut (Nursalam 2014) kualitas mutu pelayanan
keperawtan terdiri atas beberapa faktor antara lain:
1) Komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth
communication), komunikasi dari mulut ke mulut ini
sering dilakukan oleh masyarakat awam yang telah
mendapatkan perawatan sebuah instansi. Yang
nantinya hal ini akan menyebarkan berita positif
apabila mereka (pasien) mendapatkan perlakuan
yang baik selama di rawat atau menyampaikan berita
negative tentang mutu pelayanan keperawatan
berdasarkan pengalaman yang tidak mengenakkan.
2) Kebutuhan pribadi (Personal need), kebutuhan dari
masing-masing pasien yang bervariasi maka mutu
Mutu Layanan Keperawatan 23
pelayanan keperawatan juga harus menyesuaikan
bersarkan kebutuhan pribadi pasien.
3) Pengalaman masa lalu (past experience), seorang
pasien kebanyakan akan cenderung menilai sesuatu
berdasarkan pengalaman yang pernah mereka alami.
Dalam mutu pelayanan keperawatan yang baik akan
memberikan pengalaman yang baik kepada setiap
pasien, tetapi sebaliknya jika seseorang pernah
mengalami hal yang kurang baik terhadap mutu
pelayanan keperawatan maka akan melekat sampai
pasien tersebut mendapatkan perawatan kembali di
suatu instansi.
4) Komunikasi eksternal (company’s external
communication) merupakanm pemberi mutu
pelayanan keperawatan yang juga dapat melakukan
promosi sehingga pasien akan mempercayai penuh
terhadap mutu pelayanan keperawtan di instansi
tersebut.
Sedangkan menurut (Triwibowo 2013), faktor-
faktor yang mempengaruhi mutu pelayanan keperawatan
itu sendiri terdiri dari 6 kriteria, antara lain:
1) Mengenal kemampuan diri, seorang perawat
sebelum melakukan sebuah tindakan keperawatan
kepada pasien harus mengetahui kelemahan dan
24 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
kekuatan yang ada pada diri perawat sendiri. Karena
intropeksi diri yang baik akan menghasilkan atau
meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.
2) Meningkatkan kerjasama, perawat harus dapat
berkerjasama dengan semua tim medis, baik sesama
perawat ataupun pasien dan keluarganya dalam
melakukan asuhan keperawatan.
3) Pengetahuan keterampilan masa kini, perawat
haruslah memiliki pengetahuan yang luas dan
berfungsi dalam penyelesaian keluhan pasien dengan
cermat dan baik.
4) Penyelesaian tugas, perawat merupakan anggota tim
medis yang paling dekat dengan pasien, jadi perawat
harus dituntut untuk mengetahui keluhan pasien
dengan mendetail dan melakukan pendokumentasian
teliti setelah melakukan asuhan keperawatan.
5) Pertimbangan prioritas keperawatan, perawat harus
mampu melakukan penilaian dan tindakan
keperawatan sesuai dengan prioritas utama pasien.
6) Evaluasi berkelanjutan, setelah melakukan
perencanaan perawat harus juga melakukan evaluasi
kepada pasien agar tindakan perawat berjalan
dengan baik, dan perawat juga mampu melakukan
evaluasi secara berkelanjutan.
Mutu Layanan Keperawatan 25
e. Upaya Peningkatan Mutu
Peningkatan mutu dilakukan dalam berbagai macam
cara, antara lain: (Nursalam 2014)
1) Mengembangkan akreditasi dalam meningkatkan
mutu rumah sakit dengan indicator pemenuhan
standar pelayanan yang ditetapkan Kementrian
Kesehatan RI.
2) ISO 9001:2000, yaitu suatu standar internasional
untuk sistem manajemen kualitas yang bertujuan
untuk menjamin kesesuaian proses pelayanan
terhadap kebutuhan persyaratan yang
dispesifikasikan oleh pelanggan dan rumah sakit.
3) Memperbarui keilmuan untuk menjamin bahwa
tindakan medis/keperawatan yang dilakukan telah
didukung oleh bukti ilmuah yang mutakhir.
4) Good corporate governance yang mengatur aspek
institusional dan aspek bisnis dalam
penyelenggaraan sarana pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan transparansi dan akuntabilitas
sehingga tercapai manajemen yang efisien dan
efektif.
5) Clinical governance merupakan bagian dari
corporate governance, yaitu sebuah kerangka kerja
26 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
organisasi pelayanan kesehatan yang bertanggung
jawab atas peningkatan mutu secara
berkesinambungan. Dimana tujuannya ialah tetap
menjaga standar pelayanan yang tinggi dengan
menciptakan lingkungan yang kondusif.
6) Membangun aliansi strategis dengan rumah sakit
lain baik di dalam atau di luar negeri. Kerjasama
lintas sector dan lintas fungsi harus menjadi bagian
dari budaya rumah sakit seperti halnya kerja sama
tim yang baik.
7) Melakukan evaluasi terhadap strategi pembiayaan,
sehingga tarif pelayanan bisa bersaing secara global,
misalnya outsourcing investasi, contracting out
untuk fungsi tertentu seperti cleaning service,
laundry,gizi, perparkiran.
8) Orientasi pelayanan, hal ini sering terhadi benturan
nilai, di satu pihak masih kuatnya nilai masyarakat
secara umum bahwa rumah sakit ialah institusi yang
mengutamakan fungsi sosial.
9) Orientasi bisnis dapat besar dampak positifnya bila
potensial negatif tidak dapat dikendalikan. Misalnya,
tindakan medis yang berlebihan dan sebenarnya
tidak bermanfaat bagi pasien menciptakan peluang
terjadinya menipulasi pasien demi keuntungan
Mutu Layanan Keperawatan 27
finansial bagi pemberi layanan kesehatan. Dan perlu
adanya mekanisme pembinaan etis yang
mengimbangi dua sistem nilai yang dapat
bertentangan, yaitu antara fungsi sosial dan fungsi
bisnis.
C. Indikator Penilaian Mutu Asuhan Keperawatan
Mutu asuhan kesehatan dirumah sakit akan selalu terkait
dengan struktur, proses dan outcome pada sistem pelayanan
RS tersebut, mutu asuhan pelayanan pada RS juga dapat
dikaji dari tingkat pemanfaatan sarana pelayanan pada
masyarakat dan tingkat efisiensi di RS, Secara umum aspek
penilaian meliputi evaluasi, dokumen, instrument, audit
(EDIA) meliputi beberapa aspek, yaitu (Nursalam, 2014, pp.
310–314)
a. Aspek Struktur (input)
Struktur merupakan semua input pada sistem pelayanan
sebuah RS yang meliputi MI (tenaga), M2 (sarana
prasarana), M3 (metode asuhan keperawatan), M4
(dana), M5 (pemasaran) dan lainnya. Ada sebuah asumsi
yang menyatakan bahwa jika struktur pada sistem RS
yang tertera dengan baik dan lebih menjamin pada mutu
pelayanan. Kualitas pada struktur RS dapat diukur dari
tingkat kewajaran, kuantitas, biaya secara efisiensi dan
mutu dari masing-masing komponen pada struktur.
28 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
b. Proses
Proses merupakan semua kegiatan yang dilakukan
dokter, perawat dan tenaga professional lainnya yang
mengadakan interaksi secara propesional dengan pasien
selain itu interaksi dapat diukur dalam bentuk penilaian
tentang penyakit pasien, penegakan diagnosis, rencana
tindakan pengobatan, indikasi tindakan, penanganan
penyakit dan prosedur pengobatan pada pasien.
c. Outcome
Outcome merupakan hasil dari akhir kegiatan dokter,
perawat dan tenaga professional lain terhadap pasien :
a. Indikator-indikator mutu yang dapat mengacu pada
aspek pelayanan meliputi beberapa aspek :
1) Angka infeksi nosokomial 1-2%
2) Angka kematian kasar 3-4%
3) Angka kematian pasca bedah 1-2%
4) Angka ibu melahirkan 1-2%
5) Angka kematian bayi baru lahir 20/1.000
6) Angka NDR (Net Death Rate) 2,5%
7) Angka ADR (Anesthesia Death Rate) maksimal
1/5.000
8) Angka PODR (Post-Operation Death Rate) 1%
9) Angka POIR (Post-Operative Infection Rate) 1%
Mutu Layanan Keperawatan 29
b. Indikator mutu pelayanan untuk mengukur tingkat
efisiensi di RS meliputi beberapa bagian, yaitu :
1) Biaya per unit untuk rawat jalan
2) Jumlah penderita yang mengalami dekubitus
pada pasien
3) Jumlah penderita yang jatuh dari tempat tidur
4) Angka BOR 70-85%
5) Angka BTO (Bet Turn Over) 5-45hari atau 40-
50% kali per satu tempat tidur pertahun
6) Angka TOI (Turn Over Interval) 1-3hari TT
7) Angka LOS (Length Of Stay) 7-10hari dengan
komplikasi, infeksi nosokomial, gawat darurat,
tingkat kontaminasi dalam darah, tingkat
kesalahan dan kepuasan pada pasien
8) Nilai normal tissue removal rate 10%
c. Indikator mutu yang berkaitan dengan kepuasan
pasien ini dapat diukur dengan jumlah keluhan dari
pasien dan keluarganya.
d. Indikator cakupan pada pelayanan sebuah RS ini
terdiri dari :
1) Jumlah presentase kunjungan rawat jalan dan
inap menurut jarak antara rumah sakit dan rumah
pasien
30 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
2) Jumlah pelayanan dan tindaakan pembedahan
dan kunjungan SMF spesialis
3) Untuk mengukur mutu pelayanan di sebuah RS
dan angka-angka pada standar diatas
dibandingkan dengan standar indikator nasional
e. Indikator mutu yang mengacu pada keselamatan
pasien ada beberapa aspek :
1) Pasien terjatuh dari tempat tidur dan kamar
mandi
2) Pasien diberi salah obat
3) Tidak ada obat, alat emergensi, oksigen, suction,
dan tersedia alat pemadam kebakaran
4) Pasien melarikan diri dan pulang paksa dari RS
disebabkan oleh kurangnya kepuasan pasien,
tingkat ekonomi pasien , peraturan RS dan
respon perawat terhadap pasien
5) Clinical incident diantara jumlah pasien flebitis,
pasien ulkus dekubitus, pneumonia, tromboli,
edema paru akibat pemberian cairan yang
berlebihan
6) Sharp injury dapat meliputi complain pasien
yang bekraitan dengan bekas tusukan infuse
berkali-kali dan keterampilan perawat
Mutu Layanan Keperawatan 31
7) Medication incident meliputi (jenis obat, dosis,
pasien, cara, dan waktu).
D. Audit Internal Pelayanan Keperawatan
a. Pengertian
Audit keperawatan adalah merupakan analisis
kritis mutu pelayanan klinik yang dilaksanakan secara
sistematis. Ini termasuk prosedur yang digunakan untuk
mendiagnosis dan melakukan treatmen, dikaitkan
dengan penggunaan sumber daya dan pengearuh dari
asuhan terhadap hasil dan mutu kehidupan pasien
(Nurman, Hidayah dan Alfianur dan Fitriya 2020,
p.155)
b. Prinsip Audit keperawatan Menurut (Kemenkes
2020, p.1).
1) Mendapatkan paket bahan belajar
2) Mendapatkan pelatih/fasilitator professional yang
dapat memfasilitasi dengan berbagai metode,
melakukan umpan balik, dan menguasai materi yang
disampaikan dalam pelatihan.
3) Belajar sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki
individu, baik secara visual, auditorial maupun
kinestetik (gerak).
32 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
4) Melakukan refleksi dan memberikan umpan balik
secara terbuka.
5) Melakukan evaluasi (terhadap pelatih atau fasilitator
dan penyelenggara) dan dievaluasi tingkat
pemahaman dan kemampuannya dalam
melaksanakan audit keperawatan.
c. Berbasis kompetensi, Menurut (Kemenkes 2020).
yang memungkinkan peserta untuk:
1) Mengembangkan keterampilan langkah demi
langkah dalam memperoleh kompetensi yang
diharapkan dalam pelatihan.
2) Memperoleh sertifikat setelah dinyatakan berhasil
mendapatkan kompetensi yang diharapkan pada
akhir pelatihan.
d. Fungsi Menurut (Kemenkes 2020).
Dalam melaksanakan perannya peserta mempunyai
fungsi yaitu pelaksana audit keperawatan.
e. Kompetensi Menurut (Kemenkes 2020).
Setelah selesai mengikuti pelatihan peserta memiliki
kompetensi sebagai berikut:
1) Menentukan topik audit keperawatan
2) Menyusun kriteria audit keperawatan
3) Menentukan standart audit keperawatan
4) Menentukan sampel audit keperawatan
Mutu Layanan Keperawatan 33
5) Melakukan pengumpulan data audit keperawatan
6) Melakukan analisa kuantitatif terhadap hasil audit
keperawatan
7) Melakukan analisa kualitatif terhadap kriteria yang
tidak sesuai standar
8) Merencanakan perbaikan
9) Merencanakan re audit
10) Melakukan uji hipotesis hasil audit dan re-audit
keperawatan
f. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu
melakukan audit keperawatan.
g. Tujuan Khusus
1) Setelah selesai mengikuti pelatihan, peserta mampu:
2) Menentukan topik audit keperawatan
3) Menyusun kriteria audit keperawatan
4) Menentukan standart audit keperawatan
5) Menentukan sampel audit keperawatan
6) Melakukan pengumpulan data audit keperawatan
7) Melakukan analisa kuantitatif terhadap hasil audit
keperawatan
8) Melakukan analisa kualitatif terhadap kriteria yang
tidak sesuai standar
9) Merencanakan perbaikan
34 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
10) Merencanakan re audit
11) Melakukan uji hipotesis hasil audit dan re audit
keperawatan
h. Terdapat 3 kategori Menurut (Nurman, Hidayah dan
Alfianur dan Fitriya 2020).
Audit keperawatan yaitu :
1) Audit struktur
Adalah audit berfokus pada sumber daya manusia :
lingkungan perawatan (termasuk fasilitas fisik,
peralatan, organisasi, kebijakan, prosedur, standar,
SOP dan rekam medik) serta pelanggan internal
ataupun eksternal standar indikator dengan
menggunakan ceklist.
2) Audit proses
Merupakan pengukuran pelaksanaan keperawatan
untuk menentukan apakah standar keperawatan telah
tercapai. Pemeriksaan dapat bersifat restropektif,
concurrent atau prereview.
3) Audit hasil
E. Audit Personalia
a. Definisi Audit Personalia
Audit personalia adalah pemeriksaan dan penilaian
mengenai data- data personalia, audit personalia akan
Mutu Layanan Keperawatan 35
mengevaluasi keigatan-kegiatan personalia yang di
lakukan di dalam suatu organisasi, baik bagian per
bagian maupun organisasi secara keseluruhan (Nursalam
2014).
b. Tujuan
Tujuan audit personalia dapat berhubungan dengan
tujuan perusahaan secara umum, sehingga manajemen
perusahaan berusaha untuk menimbulkan efisiensi di
dalam bidang tenaga kerja sebagai efiensi keuntungan
dan kontinuitas. Tujuan manajemen personal ada empat
macam yaitu (Sentot 2018, p.140):
1) Efisiensi dan daya guna ( Production Minded).
2) Kerja sama ( Poople Minded ).
3) Mempelajari aspek-aspek yyang masih dapat
diperbaiki.
4) Menunjukkan kemungkinan perbaikan dan membuat
rekomendasi untuk pelaksanaan perbaikan-perbaikan.
c. Manfaat
Audit personalia memilik beberapa manfaat yaitu:
(Nursalam, 2014, p. 314)
1) Mengidentifikasi kontribusi departemen personalia
terhadap perusahaan.
2) Mendorong tanggung jawab dan perofesionalisme
karyawan departemen personalia yang lebih besar.
36 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
3) Memperjelas tugas dan tanggung jawab departemen
personalia.
4) Menemukan masalah-masalah personalia yang kritis.
5) Mengurangi SDM melalui prosedur yang lebih
efektif.
6) Menyelesaikan keluhan-keluhan lama dengan aturan
legal.
d. Ruang lingkup audit personalia
Pada awalnya audit personalia mencakup kegiatan
evaluasi seluruh bidang personalia dimulai daro
perancangan desain dan analisi jabatan, perencanaan
sumber daya manusia, sampai kegiatan pengawasan
seperti performance appraisal dan pelaksanaan
hubungan dnegan serikat karyawan, audit personalia
juga me –review pelaksanaan berbagai kenijakan dan
prosedur prosanalia oleh para manajer. Lima pendekatan
riset personalia yang di gunakan dalam audit personalia,
yaitu (Nursalam 2014):
1) Pendekatan komparatif, pembagian di lakukan
antara program atau kebijakan yang di lakukan
antara divisi atau departemen satu dengan yang di
lakukan di divisi sehingga didapat mana yang akan
lebih baik dan mana yang harus disempurnakan.
Mutu Layanan Keperawatan 37
2) Pendekatan wewenang dari luar ( Outside authority
approach ), auditor yang mendasarkan diri pada
penemuan dan kajian para ahli untuk konsultan di
luar perusahaan tentang masalah yang sama yang
sedang di audit oleh tim audit perusahaan sehingga
konsultan akan di pakai untuk menjawab
permasalahan yang terjadi.
3) Pendekatan statistik, dapat di analisis dengan
mengetahui korelasi utnuk mengetahui tingkat
hubungan satu masalah dengan masalah yang
lainnya.
4) Pendekatan kepatuhan, setiap pelanggaran dan
kebijakan personalia dlm bentuk pembangkangan
yang harus di ketahui seberapa jauh derajat
kepatuhan karyawan.
5) Pendekatan MBO (Management by Objektives),
dalam MBO akan di ketahui tujuan yang telah di
tetapakan sebelum sehingga dengan
membandingkan antara hasil yang dicapai dengan
tujuan yang akan diperoleh dari informasi mengenai
penyimpanan dan seterusnya akan dicarikan upaya
korektifnya.
38 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
e. Cakupan audit personalia
Seluruh fungsi dari mulai perencanaan (planning),
perorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating)
dan pengendalian (controlling) tercakup di dalam
kegiatan audit personalia sehingga hal ini dilakukan
untuk mengevaluasi seluruh aktivitas apakah berjalan
dengan baik sesuai dengan rencana atau ada hal yang
perlu di perbaiki (Rheza 2020, p.11).
f. Laporan audit personalia
Laporan audit hendaknya mengambarkan dengan
jelas berbagai proses audit untuk emndukung prinsip
objektivitas kegiatan biasanya isi dan cara penyusunan
laporan sebagai berikut (Nursalam 2014):
1) Judul
2) Daftar isi
3) Ringkasan.
4) Masalah- masalah pkok seperti tujuan, alat analisis,
metode pengumpulan data).
5) Kesimpulan dan saran.
6) Uraian audit yang berisi kebijakan program dan
kebijakan yang di audit, data, temuan,
pandangan,alasan, yang emrupakan dasar penarikan
dari kesimpulan.
Mutu Layanan Keperawatan 39
7) Sumber data.
8) Lampiran- lampiran penting.
40 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
BAB 3
KESELAMATAN PASIEN
A. Definisi Keselamatan Pasien
Keselamatan pasien adalah bebas dari cedera fisik dan
psikologis yang menjamin pasien melalui dengan adanya
penetapan sistem operasional, meminimalisasi terjadinya
kesalahan, mengurangi rasa tidak aman pasien dalam
sistem perawatan kesehatan dan meningkatkan pelayanan
optimal. International Council Nurse (2002) mengatakan
keselamatan pasien adalaha hal mendasar dalam mutu
pelayanan kesehatan dan pelayanan keperawatan (Hadi
2017, p.2).
Canadian Nurse Association (2009) mengatakan
bahwa keselamatan pasien tidak hanya merupakan isu yang
dibiarkan untuk berkembang dalam keperawatan ataupun
merupakan bagian dari apa yang akan dilakukan oleh
perawat. Namun keselamatan pasien adalah perwujudan
dan komitmen perawat terhadap kode etik menjaga
keselaman pasien, etis dan kompeten dalam keperawatan
(Hadi 2017).
41
Keselamatan pasien (patient safety) dapat diartikan
sebagai “ freedom from accidental injury” oleh Institute of
Medicine (IOM). Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(KPRS) mendefinisikan bahwa keselamatan pasien adalah
bebasnya dari cedera/harm yang seharusnya tidak terjadi
atau potensial cedera akibat dari pelayanan kesehatan
disebabkan error yang meliputi kegagalan suatu
perencanaan atau memakai rencana yang salah dalam
mencapai sebuah tujuan (Wardhani 2017, p.2)
a. Tujuan
Tujuan keselamatan pasien menurut Institute of
Medicine (IOM) adalah pasien aman (terhindar dari
cedera), pelayanan menjadi lebih efektif dengan adanya
bukti yang kuat terhadap terapi yang perlu ataupun
terapi yang tidak perlu diberikan ke pasien. Tujuan
keselamatan pasien di rumah sakit yaitu terciptanya
budaya keselamatan pasien, meningkatnya akuntabilitas
rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat,
menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) dan
tidak terjadinya pengulangan kejadian tidak diharapkan
karena terlaksananya program-program pencegahan
(Hadi 2017).
42 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
b. Langkah Keselamatan Pasien
Tujuh langkah keselamatan pasien yang harus
diterapkan di rumah sakit : (Hadi 2017)
1) Membangun kesadaran pasien terhadap nilai
keselamatn pasien, menciptakan kepemimpinan dan
budaya yang terbukan dan adil
2) Memimpin dan mendukung staf (membangun
komitmen dan fokus yang kuat dan jelas)
3) Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko
dengan mengembangkan sistem dan proses
pengelolaan risiko serta melakukan identifikasi dan
assessment hal yang potensial bermasalah
4) Mengembangkan sistem pelaporan dengan cara
memastikan staff agar dengan mudah melaporkan
kejadian atau insiden serta rumah sakit dapat
mengatur pelaporan kepada KKP-RS
5) Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien
dengan cara mengembangkan cara-cara komunikasi
yang terbuka dengan pasien
6) Belajar dan berbagi pengalaman tentang
keselamatan pasien agar dapat mendorong staf
untuk melakukan analisis akar masalah bagaimana
dan mengapa terjadi kejadian tersebut.
Keselamatan Pasien 43