7) Menggunakan informasi tentang masalah atau
kejadian agar dapat melakukan perubahan pada
sistem pelayanan.
c. Prinsip Keselamatan Pasien
Lima prinsip untuk keselamatan pasien di
organisasi kesehatan menurut Kohn (2000) yaitu :
(Hadi 2017)
1) Prinsip I : Provide Leadership yaitu :
a. Tujuan utama atau priritas adalah keselamatan
pasien
b. Jadikan keselamatan pasien menjadi tanggung
jawab bersama
c. Menugaskan atau menunjukkan seseorang
bertanggung jawab untuk program keselamatan
d. Mengidentifikasi “unsafe” dokter dengan
mengembangkan mekanisme yang efektif
2) Prinsip 2 : Memperhatikan keterbatasan manusia
dalam perancangan proses yakni :
a. Design job for safety
b. Menyederhanakan proses
c. Membuat standar proses
3) Prinsip 3 : Mengembangkan tim yang efektif
4) Prinsip 4 : Antisipasi untuk kejadian tak terduga :
44 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
a. Pendekatan proaktif
b. Menyediakan antidotum
c. Training simulasi
5) Prinsip 5 : menciptakan atmosfer “Learning”
d. Sasaran Keselamatan Pasien
Sasaran keselamatan pasien adalah tercapainya
dalam berbagai hal seperti ketetapan identifikasi pasien,
peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan
keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat-
prosedur, tepat-pasien, tepat-lokasi, pengurangan risiko
infeksi terkait pelayanan kesehatan dan pengurangan
risiko pasien jatuh (Hadi 2017).
1) Ketetapan identifikasi pasien
Elemen dari ketetapan identifikasi pasien menurut
Permenkes (2011) yaitu:
a. Identifikasi pasien dengan identitas pasien
(nama pasien, nomor rekam medis, tanggal
lahir, bar-code atau gelang identitas pasien),
tidak boleh menggunakan nomor kamar
maupun lokasi pasien.
b. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat
ataupun darah
c. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil
spesimen seperti darah
Keselamatan Pasien 45
d. Identifikasi pasien sebelum memberikan obat
dan tindakan atau prosedur
e. Kebijakan dan prosedur terarah terhadap
pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada
semua lokasi dan situasi
2) Peningkatan komunikasi yang efektif
Elemen peningkatan komunikasi yang efektif
terhadap pasien menurut Permenkes (2011) yaitu :
a. Perintah lengkap secara lisan dan melalui
telpon dituliskan secara lengkap oleh penerima
perintah
b. Perintah lengkap lisan dan telpon atau bisa juga
hasil pemeriksaan dibaca kembali secara
lengkap oleh penerima perintah
c. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi
oleh pemberi perintah atau orang yang akan
menyampaikan hasil pemeriksaan
d. Kebijakan dan prosedur mengarahkan
pelaksanaan verifikasi keakuratan komunikasi
lisan atau dapat juga melalui telepon secara
konsisten.
46 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
3) Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
(High-Alert)
Elemen peningkatan keamanan obat yang perlu
diwaspadai menurut Permenkes (2011) :
a. Prosedur atau kebijakan akan dikembangkan
agar memuat proses identifikasi, menetapkan
lokasi, pemberian label dan penyimpanan
elektrolit konsentrat
b. Implementasi prosedur dan kebijakan
c. Elektrolit konsentrat tidak berada di dalam unit
pelayanan pasien kecuali apabila dibutuhkan
secara klinis dan tindakannya diambil untuk
mencegah pemberian yang kurang hati-hati di
are sesuai kebijakan yang ada.
d. Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit
pelayanan pasien harus dilabeli yang jelas dan
harus disimpan pada area yang dibatasi ketat
(restricted)
4) Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur dan tepat-
pasien operasi
Menurut Permenkes (2011) elemen kepastian tepat-
lokasi, tepat-prosedure dan tepat-pasien operasi
yaitu :
Keselamatan Pasien 47
a. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang
jelas dan dimengerti untuk identifikasi lokasi
operasi dan akan melibatkan pasien di dalam
proses penandaan
b. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau
proses lain untuk menverifikasi saat preoperasi
tepat lokasi, tepat prosedure, dan tepat pasien
dan semuadokumen serta peralatan yang
diperlukan tersedia, tepat dan fungsional.
c. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan
mencatat prosedur “sebelum insisi/time-out”
tepat sebelum dimulainya suatu
prosedur/tindakan pembedahan
d. Kebijakan dan prosedure dikembangkan agar
dapat mendukung proses yang seragam untuk
memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan
tepat pasien.
e. Standard Keselamatan Pasien
Tujuh standar keselamatan pasien adalah (Ismainar
2019, pp.3–10) :
1) Hak pasien
Pasien dan keluarganya memiliki hak untuk
mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil
48 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
pelayanan termasuk dengan kemungkinan
terjadinya suatu kejadian yang tidak diharapkan.
2) Mendidik pasien dan keluarga
Rumah sakit dapat mendidik pasien dan
keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab
pasien dalam asuhan pasien
3) Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan
dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar
unit pelayanan
4) Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja
untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan
keselamatan pasien
Rumash sakit mendesign proses baru atau
memperbaiki proses yang ada, memonitor dan
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,
menganalisis secara intensif kejadian tidak
diharapkan dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
5) Peran kepemimpinan dalam meningkatkan
keselamatan pasien
a. Pimpinan mendorong dan menjamin
implementasi program keselamatan pasien
secara terintegrasi dalam organisasi
Keselamatan Pasien 49
b. Pimpinan menjamin berlangsungnya program
proaktif
c. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan
komunikasi dan koordinasi antar unit dan
individu berkaitan dengan pengambilan
keputusan
d. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang
adekuat
e. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas
kontribusinya.
50 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
BAB 4
PERAWATAN DIRI
A. Definisi Perawatan Diri
Perawatan diri sebagai kegiatan-kegiatan, yaitu
individu memulai dan melaksanakan untuk diri sendiri,
dalam hal yang mempertahankan kehidupan, kesehatan,
dan kesejahteraan (Sihombing et al. 2021).
Perawatan diri yang dimaksud adalah salah satu
kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya
8 dengan tujuan mempertahan hidup, kesehatan, dan
kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Perawatan diri adalah perawatan sendiri yang dilakukan
setiap orang dan ditentukan oleh nilai-nilai praktek
individu, seperti: hygiene tubuh secara umum, mandi,
eliminasi, dan berhias.Dapat disimpulkan perawatan diri
adalah kebutuhan yang sangat dimiliki setiap individu
untuk dipenuhi, seperti: mandi, berpakaian/berdandan,
makan, toileting. Individu untuk terpenuhi dan
terselesaikan aktivitas sehari-hari dapat ditentukan oleh
nilai dan praktek individu yang bertujuan terhadap
51
intergritas struktural, fungsi, dan perkembangan
manusia.(Supinganto et al. 2020).
a. Faktor Yang Mempengaruhi
Faktor yang mempengaruhi menurut (Sihombing et al.
2021) sebagi berikut:
1) Faktor Keterangan Budaya
Budaya Amerika Utara memberi nilai yang tinggi
pada yaitu sehari 1-2 kali, sementara budaya yang
lain mandi sekali setiap minggu. Beberapa budaya
menganggap privasi harus diberikan saat mandi,
sementara budaya yang lain mempraktikan mandi
bersama atau komunal.
Bau badan dianggap sebagai sesuatu yang
menjijikkan pada beberapa budaya dan diterima
sebagai sesuatu yang normal pada budaya lain.
2) Lingkungan
Kondisi keuangan dapat mempengaruhi ketersediaan
fasilitas untuk mandi. Sebagai contoh tunawisma
mungkin tidak memiliki ketersediaan air hangat;
sabun, shampo, lotion, pencukur, dan deodoran
mungkin terlalu mahal untuk orang-orang yang
memiliki keterbatasan sumber dana.
52 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
3) Agama
Seremoni pembersihan di praktikan oleh beberapa
agama.
4) Tahap perkembangan
Anak-anak belajar hygiene di rumah. Praktik
hygiene bervariasi sesuai usia individu; sebagai
contoh anak usia prasekolah dapat di dorong untuk
melakukan sebagian besar praktik hygiene secara
mandiri.
5) Kesehatan dan energi
Orang sakit mungkin tidak memiliki motivasi atau
tenaga untuk melakukan Praktik hygiene. Beberapa
klien yang memiliki gangguan neuromuskular
mungkin tidak mampu melakukan perawatan
hygiene.
6) Pilihan personal
Beberapa orang memilih untuk mandi pancuran dari
pada dengan bak mandi
b. Aspek-Aspek Perawatan Diri
Aspek-aspek perawatan diri menurut (Damanika 2020)
sebagai berikut:
Keselamatan Pasien 53
1) Perawatan diri: makan
Perawatan diri makan adalah suatu kegiatan untuk
melakukan atau menyelesaikan aktivitas makan
sendiri. Indikator perawatan diri makan adalah
pasien mampu untuk menyuap, mengunyah, atau
menghabiskan makanan, menempatkan makanan,
menempatkan makanan ke perlengkapan makan,
menggunakan perlengkapan makan, memakan
makanan dengan aman dan jumlah memadai,
membuka wadah makanan, mengambil
gelas/cangkir, menyiapkan makanan, menelan
makanan.
2) Perawatan diri: mandi
Perawatan diri mandi adalah melakukan/memenuhi
aktivitas mandi untuk diri sendiri indikator
perawatan diri mandi adalah pasien untuk
mengakses kamar mandi ( masuk dan keluar kamar
mandi), mengeringkan tubuh, mengambil
perlengkapan mandi, menjangkau sumber air,
merasakan kebutuhan kebersihan tubuh.
3) Perawatan diri: berpakaian/berdandan
Perawatan diri berpakaian/berdandan adalah suatu
kegiatan untuk memenuhi/menyelesaikan aktivitas
berpakaian lengkap dan berhias untuk diri sendiri.
54 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
Indikator perawatan diri berpakaian/berdandan untuk
memilih pakaian, mengambil pakaian, mengganti
pakaian, mengenakan atau melepas pakaian bagian
atas/bawah tubuh, mengenakan atau melepas sepatu
atau alas kaki, menggunakan resleting, mengancing
pakaian.
4) Perawatan diri: Toileting
Perawatan diri toileting adalah suatu kegiatan/
aktivitas toileting sendiri menyiram toilet, naik ke
toilet, melepas atau menggunakan pakaian untuk
eliminasi, turun dari toilet atau untuk duduk/bangun
dari toilet, membersihkan diri sehabis eliminasi.
c. Dampak Perawatan Diri
Dampak perawatan diri menurut (Supinganto et al.
2020) sebagi berikut:
1) Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang
karena tidak terpeliharanya kebersihan
perorangan dengan baik, gangguan fisik yang
sering terjadi adalah: Gangguan integritas kulit,
gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada
mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
Keselamatan Pasien 55
2) Dampak psikososial
3) Masalah sosial yang berhubungan dengan personal
hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman,
kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga
diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi social.
56 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
BAB 5
KEPUASAN PASIEN
A. Definisi Kepuasan Pasien
Kepuasaan pasien adalah keluaran (outcome) dari
layanan kesehatan dari satu perubahan dari sistem lauanan
kesehatan yang ingin dilakukan serta merupakan tujuan
akhir dari pemasaran rumah sakit. Kepuasaan pasien akan
tercapai apabila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap
pasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan
kemampuan pasien atau keluarganya, adanya perhatian
terhaap keluhan, kondisi lingkungan fisik dan tanggapan
atau memprioritaskan kebutuhan pasien (Noviyanti 2020,
p.2).
Mutu layanan kesehatan atau kepuasan pasien (Imbalo
& Pohan 2017), antara lain :
1. Komponen kepuasaan pasien dari mutu layanan
kesehatan menjadi salah satu komponen utama dan
penting.
2. Kepuasan pasien adalah keluaran (outcome) laynan
kesehatan. Dengan demikian, kepuasan pasien
57
merupakan salah satu tujuan dari peningkatan mutu
layanan kesehatan.
3. Dapat dibuktikan bahwa pasien dan atau masyarakat
yang mengalami kepuasan terhadap layanan kesehatan
yang diselenggarakan cenderung mematuhi nasihat,
setia, atau taat terhadap rencana pengobatan yang telah
disepakati.
4. Membuktikan bahwa kepuasan pasien berdampak pada
keluarga dari layanan kesehatan, artinya berdampak
pada status kesehatan.
a. Pengukuran Kepuasan Pasien
Telah disebutkan bahwa kepuasan pasien adalah
keluaran dari layanan kesehatan dan suatu perubahan
dari sistem layanan kesehatan yang ingin dilakukan
tidak mungkin tepat sasaran dan berhasil tanpa
melakukan pengukuran kepuasan pasien. Karena hasil
pengukuran kepuasan pasien akan digunakan sebagai
dasar untuk mendukung perubahan sistem layanan
kesehatan, perangkat yang digunakan untuk mengukur
kepuasan pasien itu harus handal dan dapat dipercaya.
Pengukuran kepuasaan pasien pada fasilitas
layana kesehatan tidak mudah, karena layanan
kesehatan tidak mengalami semua perlakuan yang
58 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
dialami oleh pasar biasa. Dalam layanan kesehatan,
pilihan – pilihan yang ekonomis tidak jelas. Pasien
tidak mungkin atau sulit mengetahui apakah layanan
kesehatan yang didapatkannya optimal atau tidak.
Apabila fasilitas layanan kesehatan, atau puskesmas
dianggap sebagai produsen suatu layanan kesehatan
(Imbalo & Pohan 2017).
B. Kenyamanan
Kenyamanan rasa nyaman adalah bebas dari rasa
nyeri atau nyeri terkontrol dan pelayanan keperawatan
dinilai bermutu jika pasien merasa nyaman dan bebas
dari rasa nyeri dan menyakitkan (Nurman, Hidayah dan
Alfianur dan Fitriya 2020).
Nyeri merupakan salah satu dari kenyamanan, jika
seseorang merasakan nyeri maka mereka pasti
merasakan ketidaknyamanan. Fenomena nyeri dapat
timbul karena adanya kemampuan sistem saraf untuk
mengubah berbagai stimulus mekanis, kimia, termal,
elektris yang menjadi potensial aksi yang dijalarkan ke
sistem saraf pusat. Nyeri ini merupakan mekanisme
protektif bagi tubuh yang akan muncul jika jaringan
tubuh rusak, sehingga individu akan bereaksi atau
berespon untuk mengurangi bahkan menghilangkan
Kepuasan Pasien 59
rangsangan nyeri. Nyeri sendiri merupakan sensasi
subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan
dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial
(Nursalam 2014).
a. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nyeri
1) Definisi nyeri terhadap individu
Persepsi merupakan interpretasi pengalaman nyeri
dimulai saat pertama pasien sadar adanya nyeri.
Nyeri memiliki arti yang berbeda pada tiap individu,
bisa juga dianggap sebagai respons positif ataupun
negatif.
2) Toleransi individu terhadap nyeri
Toleransi nyeri ialah tolerasni seseorang yang
berhubungan dengan intensitas nyeri dimana
individu dapat merespons nyeri lebih baik atau
sebaliknya
3) Ambang nyeri
Intenstas rangsangan terkecil yang dapat
menimbulkan rangsangan nyeri, suatu batasan
kemampuan seseorang untuk dapat beradaptasi serta
berespons terhadap nyeri
4) Pengalaman lampau
Pengalaman sebelumnya dapat mengubah sensasi
pasien terhadap nyeri
60 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
5) Lingkungan
Lingkungan disini yang dimaksud ialah lingkungan
yang ramai, dingin, panas, lembap meningkatkan
intensitas nyeri individu.
6) Usia
Makin dewasa seseorang maka semakin dapat
mentoleransi rasa sakit
7) Kebudayaan
Norma/aturan dapat menumbuhkan perilaku
seseorang dalam memandang dan berasumsi
terhadap nyeri yang dirasakan
8) Kepercayaan
Ada keyakinan yang memandang bahwa nyeri
merupakan suatu penyucian atau pembersihan dan
hukuman atas dosa mereka terhadap Tuhan
9) Kecemasan dan stress
Stres dan kecemasan dapat menghambat keluarnya
endorfin yang berfungsi menurunkan persepsi nyeri
(Nursalam 2014).
b. Instrumen Intensitas Nyeri
Indikasi: orang dewasa dan anak (berusia lebih dari
sembilan tahun) atau pasien pada semua area perawatan
yang mengerti tentang penggunaan angka untuk
Kepuasan Pasien 61
menentukan tingkat dari intensitas rasa nyeri yang
dirasakan (Nursalam 2014)
Instruksi:
1) Menanyakan kepada pasien tentang berapa angka
yang diberikan untuk menggambarkan rasa nyeri
yang saat ini dirasakan.
2) Memberikan penjelasan tentang skala nyeri yang
diberikan menggunaka Numeric Rating Scale
dimana penilaian nyerinya itu antara lain;
a = tidak nyeri
1–3 = nyeri ringan, mengomel, sedikit mengganggu
ADL
4–6 = nyeri sedang, cukup mengganggu ADL
7–10 = nyeri berat tidak mampu melakukan ADL
3) The interdisciplinary team in collaboration with the
patient/family (if appropriate), can determine
appropriate interventions in response to numeric
pain ratings.
C. Kecemasan
a. Definisi Kecemasan
Kecemasan merupakan reaksi pertama yang muncul
atau dirasakan oleh pasien dan keluarganya di saat
pasien harus dirawat mendadak atau tanpa terencana
begitu mulai masuk rumah sakit. Kecemasan akan terus
62 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
menyertai baik pasien ataupun keluarga dalam setiap
tindakan perawatan terhadap penyakit yang diderita
pasien. Cemas sendiri memiliki dua arti yaitu; cemas
sebagai emosi yang merupakan pengalaman subjektif
individual, mempunyai kekuatan tersendiri dan sulit
untuk diobservasi secara langsung, disini perawat dapat
mengidentifikasi cemas pasien dari perubahan tingkah
laku pasien. Yang kedua cemas sebagai emosi tanpa
objek yang spesifik, yang penyebabnya tidak diketahui
dan didahului oleh pengalaman baru.
Sedangkan kecemasan ini ialah suatu kondisi yang
menandakan suatu keadaan yang mengancam keutuhan
serta keberadaan dirinya dan dimanifestasikan dalam
bentuk perilaku seperti rasa tidak berdaya, rasa tidak
mampu, rasa takut dan fobia terhadap hal-hal tertentu.
Kecemasan ini dapat timbul jika seseorang merasa ada
ancaman ketidakberdayaan, kehilangan
kendalai,kegagalan pertahanan dan perasaan terisolasi
(Nursalam 2014).
Kecemasan adalah perasaan was-wasan, kuatir atau
perasaan tidak nyaman yang terjadi karena adanya
sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman, kecemasan
juga ini masih ada setelah intervensi keperawtan, dapat
Kepuasan Pasien 63
menjadikan indikator klinik (Nurman, Hidayah dan
Alfianur dan Fitriya 2020).
d. Teori-Teori Penyebab Kecemasan
Direktorat Kesehatan Jiwa Depkes RI (1995)
dalam (Nursalam 2014) mengembangkan teori-teori
penyebab kecemasan antara lain:
1) Teori psikoanalisis. Kecemasan merupakan konflik
emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian
yaitu id dan super ego. Id melambangkan dorongan
insting dan impuls primitif, super ego mencerminkan
hati nurani seseorang, sedangkan ego atau aku
digambarkan sebagai mediator dari tuntutan id dan
super ego. Kecemasan ini berfungsi untuk
memperingatkan ego tentang suatu bahaya yang perlu
diatasi.
2) Teori interpersonal. Kecemasan terjadi dari ketakutan
dan penolakan interpersonal, hal ini digubungkan
dengan trauma pada masa pertumbuhan seperti
seperti kehilangan atau perpisahan yang
menyebabkan seseorang tidak berdaya. Individu yang
mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah
untuk mengalami kecemasan berat.
3) Teori perilaku. Kecemasan merupakan hasil frustasi
segala sesuatu yang mengganggu kemampuan untuk
64 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
mencapai tujuan yang diingikan. Para ahli perilaku
menganggap kecemasan merupakan suatu dorongan,
yang mempelajari berdasarkan keinginan untuk
menghindari rasa sakit. Pakar teori meyakini bahwa
bila pada awal kehidupan dihadapkan pada rasa takut
yang berlebihan maka akan menunjukkan kecemasan
yang berat pada masa dewasanya. Sementara para
ahli teori konflik mengatakan bahwa kecemasan
sebagai benturan-benturan keinginan yang
bertentangan. Mereka percaya bahwa hubungan
timbal balik antara konflik dan daya kecemasan yang
kemudian menimbulkan konflik.
4) Teori keluarga. Gangguan kecemasan dapat terjadi
dan timbul secara nyata dalam keluarga, biasanya
tumpang tindih antara gangguan cemas dan depresi.
5) Teori biologi. Teori biologi menunjukkan bahwa otak
mengandung reseptor spesifik untuk benzodiasepin.
Reseptor ini mungkin memengaruhi kecemasan.
Kepuasan Pasien 65
e. Penilaian Tingkat Kecemasan
Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS)
adalah penilaian kecemasan pada pasien dewasa yang
dirancang oleh William W. K. Zung, dikembangkan
berdasarkan gejala kecemasan dalam Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-II).
Terdapat 20 pertanyaan, di mana setiap pertanyaan
dinilai, nilainya antara lain;
1: tidak pernah,
2: kadang-kadang,
3: sebagian waktu,
4: hampir setiap waktu).
Terdapat 15 pertanyaan ke arah peningkatkan
kecemasan dan 5 pertanyaan ke arah penurunan
kecemasan (Zung Self-Rating Anxiety Scale) (Nursalam
2014).
66 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
N Pertanyaan Tidak Kadang- Sebagian Hampir
o pernah kadang waktu setiap
waktu
1. Saya merasa lebih 1 2 3 4
gugup dan cemas
dari biasanya
2. Saya merasa takut 1 2 3 4
tanpa alas an sama
sekali
3. Saya mudah marah 1 2 3 4
atau merasa panik
4. Saya merasa seperti 1 2 3 4
jatuh terpisah dan
akan hancur
berkeping-keping
5. Saya merasa bahwa 4 3 2 1
semuanya baik-baik
saja dan tidak ada hal
buruk yang terjadi
6. Lengan dan kaki saya 1 2 3 4
gemetar
7. Saya terganggu oleh 1 2 3 4
nyeri kepala dan
nyeri punggung
8. Saya merasa lemah 1 2 3 4
dan mudah lelah
9. Saya merasa tenang 4 3 2 1
dan dapat duduk
diam dengan mudah
10. Saya merasakan 1 2 3 4
jantung saya
berdebar-debar
11. Saya merasa pusing 1 2 3 4
tujuh keliling
Kepuasan Pasien 67
12. Saya telah pingsan atau 1 2 3 4
merasa seperti itu
13. Saya dapat bernapas 4 3 2 1
dengan mudah
14. Saya merasa jari-jari 1 2 3 4
tangan dan kaki mati rasa
dan kesemutan
15. Saya terganggu oleh nyeri 1 2 3 4
lambung atau gangguan
pencernaan
16. Saya sering buang air 1 2 3 4
kecil
17. Tangan saya biasnaya 4 3 2 1
kering dan hangat
18 Wajah saya terasa panas 1 2 3 4
dan merah merona
19 Saya mudah tertidur dan 4 3 2 1
dapat beristirahat dengan
baik
20. Saya mimpi buruk 1 2 3 4
Tabel Skala Peingkat Kecemasan Diri Zung Self dengan rentang
penilaian 20-80, dengan pengelompojan antara lain:
1. Skor 20-44 : normal/tidak cemas;
2. Skor 45-59 : kecemasan ringan
3. Skor 60-74 : kecemasan sedang
4. Skor 75-80 : kecemasan berat
68 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
D. Pengetahuan
a. Definisi Pengetahuan
Menurut (Notoatmodjo 2003, p.121) dalam buku (Nursalam
2014) pengetahuan merupakan hasil “tahu”, dan ini terjadi
setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek
tertentu. Jadi pengetahuan ini diperoleh dari aktivitas pancaindra
yaitu penglihatan, penciuman, peraba dan indra perasa, sebagian
basar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga.
Indikator mutu lain adalah pengetahuan dimana salah satu
diimplementasikan dalam program discharge palnning. Dicharge
Planning adalah suatu proses dipakai sebagai pengambilan
keputusan dalam hal memenuhi kebutuhan pasien dari suatu
tempat perawatan ketempat lain dan dalam perencanaan
kepulangan, pasien dapat dipindahkan kerumahnya sendiri atau
keluarga, fasilitas rehabilitasi, nursing home atau tempat lain
diluar rumah sakit (Nurman, Hidayah dan Alfianur dan Fitriya
2020).
b. Perencanaan Pulang (Discharge Planning)
Perencanaan pulang merupakan suatu proses yang dinamis
dan sistematis dari penilaian, persiapan, serta koordinasi yang
dilakukan untuk memberikan kemudahan pengawasan pelayanan
kesehatan dan pelayanan sosial sebelum dan sesudah pulang.
Perencanaan pulang merupakan proses yang dinamis agar tim
kesehatan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk
menyiapkan pasien melakukan perawatan mandiri di rumah.
Perencanaan pulang didapatkan dari proses interaksi ketika
Kepuasan Pasien 69
perawat profesional, pasien dan keluarga berkolaborasi untuk
memberikan dan mengatur kontinuitas keperawatan.
Perencanaan pulang diperlukan oleh pasien dan harus
berpusat pada masalah pasien, yaitu pencegahan, terapeutik,
rehabilitatif, serta perawatan rutin yang sebenarnya. Perencanaan
pulang akan menghasilkan sebuah hubungan yang terintegrasi
yaitu antara perawatan yang diterima pada waktu di rumah sakit
dengan perawatan yang diberikan setelah pasien pulang.
Perawatan di rumah sakit akan bermakna jika dilanjutkan dengan
perawatan di rumah. Namun, sampai saat ini perencanaan pulang
bagi pasien yang dirawat belum optimal karena peran perawat
masih terbatas pada pelaksanaan kegiatan rutinitas saja, yaitu
hanya berupa informasi tentang jadwal kontrol ulang (Nursalam
2014).
Perencanaan pulang bertujuan:
1) Menyiapkan pasien dan keluarga secara fisik, psikologis dan
sosial;
2) Meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga;
3) Meningkatkan perawatan yang berkelanjutan pada pasien;
4) Membantu rujukan pasien pada sistem pelayanan yang lain;
5) Membantu pasien dan keluarga memiliki pengetahuan dan
keterampilan serta sikap dalam memperbaiki serta
mempertahankan status kesehatan pasien;
6) Melaksanakan rentang perawatan antarrumah sakit dan
masyarakat.
Perencanaan pulang bertujuan membantu pasien dan keluarga
untuk dapat memahami permasalahan dan upaya pencegahan
70 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
yang harus ditempuh sehingga dapat mengurangi risiko
kambuh, serta menukar informasi antara pasien sebagai
penerima pelayanan dengan perawat dari pasien masuk
sampai keluar rumah sakit.
Prinsip-prinsip dalam perencanaan pulang antara lain:
1) Pasien merupakan fokus dalam perencanaan pulang sehingga
nilai keinginan dan kebutuhan dari pasien perlu dikaji dan
dievaluasi;
2) Kebutuhan dari pasien diidentifikasi lalu dikaitkan dengan
masalah yang mungkin timbul pada saat pasien pulang nanti,
sehingga kemungkinan masalah yang timbul di rumah dapat
segera diantisipasi;
3) Perencanaan pulang dilakukan secara kolaboratif karena
merupakan pelayanan multidisiplin dan setiap tim harus
saling bekerja sama.
4) Tindakan atau rencana yang akan dilakukan setelah pulang
disesuaikan dengan pengetahuan dari tenaga/sumber daya
maupun fasilitas yang tersedia di masyarakat.
5) Perencanaan pulang dilakukan pada setiap system atau
tatanan pelayanan kesehatan (Nursalam 2014).
Komponen perencanaan pulang terdiri atas beberapa bangian
antara lain: (Nursalam 2014)
1) Perawatan di rumah meliputi pemberian pengajaran atau
pendidikan kesehatan (health education) mengenai diet,
mobilisasi, waktu kontrol dan tempat kontrol pemberian
pelajaran disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan
Kepuasan Pasien 71
keluarga mengenai perawatan selama selama pasien di rumah
nanti;
2) Obat-obatan yang masih diminum dan jumlahnya, meliputi
dosis, cara pemberian dan waktu yang tepat minum obat;
3) Obat-obat yang dihentikan, karena meskipun ada obat-obat
tersebut sudah tidak diminum lagi oleh pasien, obat-obat
tersebut tetap dibawa pulang pasien;
4) Hasil pemeriksaan, termasuk hasil pemeriksaan luar sebelum
MRS dan hasil pemeriksaan selama MRS, semua diberikan
ke pasien saat pulang.
5) Surat-surat seperti surat keterangan sakit, surat kontrol.
Faktor-faktor yang perlu dikaji dalam perencanaan pulang
adalah:
1) Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit, terapi dan
perawatan yang diperlukan;
2) kebutuhan psikologis dan hubungan interpersonal di dalam
keluarga; 3
3) Keinginan keluarga dan pasien menerima bantuan dan
kemampuan mereka memberi asuhan;
4) Bantuan yang diperlukan pasien;
5) Pemenuhan kebutuhan aktivitas hidup sehari-hari seperti
makan, minum, eliminasi, istirahat dan tidur, berpakaian,
kebersihan diri, keamanan dari bahaya, komunikasi,
keagamaan, rekreasi dan sekolah;
6) Sumber dan sistem pendukung yang ada di masyarakat;
7) Sumber finansial dan pekerjaan;
72 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
8) Fasilitas yang ada di rumah dan harapan pasien setelah
dirawat;
9) Kebutuhan perawatan dan supervisi di rumah.
Tindakan keperawatan yang dapat diberikan pada pasien
sebelum pasien diperbolehkan pulang adalah sebagai berikut:
1) Pendidikan kesehatan: diharapkan dapat mengurangi angka
kambuh atau komplikasi dan meningkatkan pengetahuan
pasien serta keluarga tentang perawatan pascarawat.
2) Program pulang bertahan: bertujuan untuk melatih pasien
untuk kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Program ini meliputi apa yang harus dilakukan pasien di
rumah sakit dan apa yang harus dilakukan oleh keluarga.
3) Rujukan: integritas pelayanan kesehatan harus mempunyai
hubungan langsung antara perawat komunitas atau praktik
mandiri perawat dengan rumah sakit sehingga dapat
mengetahui perkembangan pasien di rumah (Nursalam 2014).
Kepuasan Pasien 73
RANGKUMAN
Kepuasan pasien merupakan salah satu faktor yang
penting dan harus diperhatiakan dalam pelayanan kesehatan.
Kepuasan pasien merupakan dari pasien menilai kulaitas
pelayanan kesehatan yang diberikan sesuai harapkan pasien dan
sesuai dengan kerja nyata dalampelayanan di tatanan
kesehatan. Menurut Gillies dalam (Aswad, Hajar Nur Ferrial
2016) untuk mengevaluasi bawahan secara tepat dan adil,
manajer perlu mengamati prinsip-prinsip tertentu. Penilaian
kerja merupakan kegiatan untuk menilai keberhasilan atau
kegagalan seorang pegawai dalam melakukan tugasnya.
Penilaian kerja harus mengikuti pedoman pada ukuran yang
telah ditetapkan dan disepakati bersama dalam standar kerja
(Husaini 2011). Proses ini secara efektif dapat digunakan dalam
mengarahkan prilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa
keperawatan yang berkualitas dan tingkat yang tinggi.
Tujuan dari penilaian kinerja adalah untuk melengkapi
rencana tindakan dalam waktu yang telah ditetapkan. Fokus
terhadap suatu rencana tindakan merupakan suatu yang penting
dimana perawat dapat mengenal kelemahan dan kekuatan untuk
kesiapan karir mereka dimasa depan. Penilaian kualitas
pelayanan keperawatan kepada klien menggunakan standar
74
praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi perawat
dalam melaksanakan asuhan keperawatan, yang dapat
digunakan untuk menilai kualitas pelayanan keperawatan
kepada pasien (Nursalam 2012b). PPNI (2000), menjabarkan
lima standar praktik keperawatan yang mengacu pada tahapan
proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis
keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
Masalah yang biasanya berkaitan dengan penilaian
kinerja adalah Kurangnya Objektivitas, Bias “Hallo error”,
Terlalu “longggar” / terlalu “ketat”, Kecenderungan
memberikan nilai tengah, Bias perilaku terbaru, dan Bias
pribadi (stereotype).
Mutu pelayanan keperawatan ini mencakup penjelasan
tentang beberapa aspek yang meliputi pembahasan tentang yang
pertama konsep mutu pelayanan keperawataan yang bertujuan
untuk penyusunan standar atau kriteria pelayanan keperawatan,
yang kedua indikator penilaian mutu asuhan keperawatan yang
bertujuan untuk pencapaian penilaian pada proses pelayanan
keperawatan yang di laksanakan oleh dokter, perawat dan
tenaga professional lainnya, yang ketiga audit internal
pelayanan keperawatan bertujuan untuk melihat analisis kritis
mutu pelayanan klinik yang dilaksanakan secara sistematik,
yang keempat audit personalia yang bertujuan berhubungan
dengan tujuan keperawatan yang ada, yang kelima keselamatan
RANGKUMAN 75
pasien yang bertujuan untuk menghindari dan menjadi lebih
efektif dengan adanya bukti yang kuat terhadap terapi pada
pasien, serta yang keenam ada perawatan diri, kepuasan pasien,
kenyamanan, kecemasan, pengetahuan yang ada pada pasien.
76 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
LATIHAN SOAL
1. Salah satu masalah dalam penilaian kinerja adalah?
a. Kekurangan objektivitas
b. Tenaga kinerja kurang baik
c. Membuang waktu
d. Pelayanan
e. Kepemimpinan
2. Sebagai seorang manajer kita harus mengamati prinsip-
prinsip penilaian kinerja seorang perawat. Salah satu yang
termasuk di dalam prinsip-prinsip penilaian kinerja perawat
adalah?
a. Laporan evaluasi maupun pertemuan sebaiknya disusun
dengan terencana
b. Pertemuan evaluasi sebaiknya dilakukan dengan waktu
yang tidak tepat bagi perawat dan manajer, dan diskusi
evaluasi sebaiknya dilakukan dalam waktu yang lama
c. Jika diperlukan, manajer sebaiknya tidak perlu repot-
repot menjelaskan area mana yang akan diprioritaskan
seiring dengan usaha perawat untuk meningkatkan
pelaksanaan kerja.
d. Sampel tingkah laku perawat yang representativ
sebaiknya tidak perlu diamati dalam rencana evaluasi
pelaksanaan kerjanya.
77
e. Evaluasi pekerja tidak perlu didasarkan pada standar
pelaksanaan kerja, dan orientasi tingkah laku untuk
posisi yang ditempati.
3. Suatu cara untuk melakukan evaluasi terhadap prestasi kerja
para pegawai dengan serangkaian tolak ukur tertentu yang
objektif dan yang berkaitan langsung dengan tugas
seseorang serta dilakukan secara berkala adalah pengertian
dari…
a. Promosi
b. Evaluasi
c. Mutasi
d. Penilaian Prestasi Kerja
e. Pengkajian
4. Apasajafaktor-faktoryang mempengaruhikualitaspelayanan?
a. Kepemimpinan
b. Pelayanan
c. Ketepatanpelayanan
d. Waktupelayanan
e. Kesopanan
5. Ada lima standar praktik keperawatan yang mengacu pada
tahapan proses keperawatan, salah satunya adalah proses
pengkajian keperawatan. Yang termasuk dalam kriteria
pengkajian adalah?
78 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
a. Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi
secara komprehensif, tepat waktu, dan terus-menerus.
b. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
c. Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi
atau kebutuhan klien.
d. Sumber data diperoleh dari pasien, keluarga pasien atau
orang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan
lain.
e. Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosis
berdasarkan data terbaru.
6. Kesediaan utnuk membantu pelanggan, tanggapan dalam
memberikan pelayanan yang cepat yang meliputi kecepatan
pegawai/karyawan dalam menangani keluhan para
pelanggan serta kesiagapan karyawan dalam melayani
pelanggan.
Dimensi mutu memiliki beberapa bagian, pengertian diatas
merupakan pengertian dari dimensi mutu…..
a. Bukti fisik
b. Daya tanggap
c. Kehandalan
d. Empati
e. Jaminan
7. Apa pengertian audit keperawatan?
a. Untuk menjaga pasien
LATIHAN SOAL 79
b. Anlisis kritis mutu pelayanan klinik yang dilaksanakan
secara sistematis
c. Untuk melakukan refleksi dan memberikan umpan
balik secara terbuka
d. Merencanakan perbaikan
e. Tingkat pengetahuan seseorang
8. Yang merupakan pendekatan riset personalia yang di
gunakan dalam audit personalia adalah
a. Pendekatan komparatif
b. Pendekatan realistik
c. Pendekatan kontekstual
d. Pendekatan induktif
e. Pendekatan saintific
9. Apa yang menjadi faktor yang mempengaruhi keperawatan
diri?
a. Pengalaman
b. Budaya, lingkungan, agama,tahap perkembangan,
kesehatan dan energi
c. Makan dan minum
d. Pola aktifitas, nutrisi dan pola asuh keluarga
10. Apa saja teori-teori yang dikembangkan sebagai penyebab
kecemasan?
a. Teori Orem
b. Teori psikoanalisis dan orem
80 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
c. Teori perilaku dan teori orem
d. Teori psikoanalisis, teori interpersonal, teori perilaku,
teori keluarga dan teori biologi
e. Teori Peplau
LATIHAN SOAL 81
DAFTAR PUSTAKA
Al-Assaf, 2011. Mutu Pelayanan Kesehatan : Perspektif
InternasionaL, Jakarta: EGC.
Anon, 2019. Peraturan Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.
Ariga, R.A., 2020. Buku Ajar: Konsep Dasar Keperawatan 1st
ed., Yogyakarta: Deepublish Publisher.
Aswad, Hajar Nur Ferrial, E., 2016. Pengaruh Tingkat
Pendidikan, Pelatihan dan Kompensasi Terhadap Kinerja
Perawat di Rumah Sakit UIT Makassar. Jurnal Mirai
Management, 1(2), pp.413–425.
Damanika, R.K., 2020. Pengembangan Desain System
Informasi Manajemen Keperawatan, jakarta: Ahlimedia
Book.
Fauzi, A. & A, Nugroho, Hidayat, R., 2020. Manajemen
Kinerja, Jawa Timur: Airlangga University Press.
Hadi, I., 2017. Buku Ajar Manajemen Keselamatan Pasien,
Yogyakarta: Deepublish.
Hasibuan, E.K. & Efrinasinurat, L.R., 2020. Manajemen Dan
82
Strategi Penyelesaian Masalah Dalam Pelayanan
Keperawatan Y. Umaya, ed., Malang: Ahlimedia Press.
Hidaya, N., Alfianur & Handayani, F., 2020. Manajemen Dan
Kepemimpinan Dalam Keperawatan 1st ed., Indramayu:
CV. Adanu Abimata.
Husaini, U., 2011. Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset
Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Imbalo, S. & Pohan, 2017. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan :
Dasar - Dasar Pengertian dan Penerapan. In P. Widiyastuti,
ed. Jakarta: EGC.
Ismainar, H., 2019. Keselamatan Pasien di Rumah Sakit,
Yogyakarta: Deepublish.
Kemenkes, 2020. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Mamik, 2014. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan dan
Kebidanan, Jakarta: Zifatama.
Milasari, V.N., Pranata, L. and Aryoko, A., 2018. Relationship
Of Nursing Motivation With The Application Of True Six
In Giving Medicines In Patient Care Room. Jurnal Ilmiah
Bakti Farmasi, 3(2), pp.29-34.
Notoatmodjo, S., 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia,
Jakarta: PT Rineka Cipta.
LATIHAN SOAL 83
Noviyanti, 2020. Faktor Pelayanan Yang Profesional Terhadap
Kepuasan Pasien. In T. Q. Media, ed. Jawa Timur: CV.
Penerbit Qiara Media, p. 66.
Nurman, Hidayah dan Alfianur dan Fitriya, H., 2020.
Menejemen Dan Kemimpinan Dalam Keperawatan, jawa
barat: CV.Adanu Abimata.
Nursalam, 2012a. Manajemen Keperawatan, Jakarta: Salemba
Medika.
Nursalam, 2014. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam
Praktik Keperawatan Profesional 4th ed., Jakarta:
Salemba Medika.
Nursalam, 2012b. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam
Praktik Keperawatan Profesional, Jakarta: Salemba
Medika.
Nursalam, M.N., 2014. Manajemen Keperawatan : Aplikasi
dalam Praktik Keperawatan Profesional 4th ed., Jakarta
Selatan: Selemba Medika.
Oktaviana, C., Aryoko, A. and Pranata, L., 2019. Caring Nurse
Relationship With Preventionof Falling In Inpatient
Wards. Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan, 2(2),
pp.108-112.
84 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
Pranata, L., 2020. Perawatan Lansia Di Era Pademi Covid 19.
Pranata, L., Rini, M.T. and Surani, V., 2018. Faktor-Faktor
Yang Berhubungan Dengan Kepuasan Kerja Perawat Di
Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Myria Kota Palembang.
Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi, 6(2), pp.44-51.
Pranata, L., Indaryati, S. and Daeli, N.E., 2020. Perangkat
Edukasi Pasien dan Keluarga dengan Media Booklet (Studi
Kasus Self-Care Diabetes Melitus). Jurnal Keperawatan
Silampari, 4(1), pp.102-111.
Pranata, L., Daeli, N.E. and Indaryati, S., 2019. Upaya
Pencegahan Penyakit Diabetes Mellitus dan
Komplikasinya di Kelurahan Talang Betutu Palembang.
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Berkarakter, 2(2),
pp.173-179.
Pratama, Y.D., Sri, D. and Pranata, L., 2018, September.
Community Empowerment as an Effort to Reduce Poverty
Level in Palembang City. In 1st APTIK International
Conference on Poverty and Environment: Resilience in
Poverty Alleviation and Environmental Mitigation.
Universitas Atma Jaya Jogjakarta.
Rheza, pratama, 2020. Pengantar Manajemen, Yogyakarta:
LATIHAN SOAL 85
Deepublish Publisher.
Sentot, I.W., 2018. Pengantar Bisnis, Jakarta: Kencana.
Sihombing, R.M., Tahulend, P.S. & DKK, 2021. MANAJEMEN
KEPERAWATAN, jakarta: PT.GRAMEDIA.
Suarli, S. & Bahtiar, 2012. Manajemen Keperawatan Dengan
Pendekatan Praktisi, Jakarta: Erlangga.
Supinganto, A., Hadi, I. & Dkk, 2020. MANAJEMEN
KEPERAWATAN :Teori dan Aplikasi Keperawatan,
jakarta: Pantera Publishing.
Triwibowo, 2013. Manajemen Pelayanan Keperawatan Di
Rumah Sakit, Jakarta: TIM.
Wardhani, V., 2017. Buku Ajar-Manajemen Keselamatan
Pasien, Malang: UB Press.
Widiharti, Sunaryo & Purwaningsih, 2011. Strategi peningkatan
mutu pelayanan keperawatan berdasarkan analisis posisi
perilaku. Jurnal Ners, 6, pp.21–30.
Wijono, D., 2011. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan:
Teori, Strategi dan Aplikasi kedua., Surabaya: Airlangga
Unniversity Pres.
2020. Pengukuran Kinerja SDM 1st ed., Jl. Gerilya No. 292
86 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
Purwokerto Selatan, Kab. Banyumas Jawa Tengah: CV.
Pena Persada.
LATIHAN SOAL 87
BIODATA PENULIS:
Lilik Pranata
Lahir di Gedung Rejo, 1 Juli 1988, saat ini sabagai dosen pengajar di
prodi Ilmu Keperawatan & Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Katolik Musi Charitas sejak tahun 2011. Menyelesaikan s1
keperawatan di Stikes Perdhaki Charitas Palembang, Profesi Ners di
Stikes Binawan Jakarta dan mengambil s2 di Universitas Sriwijaya
BKU Fisiologi . saat ini menjabat sebagai kepala bidang penelitian
Universitas Katolik Musi Charitas dan Editor In Chief dari Jurnal
Kesehatan Saelmakers PERDANA. Mengajar mata Kuliah Ilmu dasar
Keperawatan, keperawatan Gerontik dan Manajemen Keperawatan.
88 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
Ns. Aniska Indah Fari.,M.Kep
Lahir di Palembang, 10 April 1989, saat ini sabagai dosen pengajar di
prodi ilmu keperawatan dan ners, Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Katolik Musi Charitas sejak tahun 2012. Menyelesaikan
s1 keperawatan di Stikes Perdhaki Charitas Palembang, Profesi Ners
di Stikes Binawan Jakarta dan mengambil s2 di Universitas
Muhammadiyah Jakarta dengan Peminatan Keperawatan Medikal
Bedah (KMB). Saat ini mengajar mata Kuliah Keperawatan Medikal
Bedah, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Kritis, Komunikasi
Keperawatan dan Manajemen Keperawatan
I Wayan Antoni
Lahir di Banyuasin, 08 Oktober 1999.Anak kedua dari Komang
Setiawan dan dan Ketut Rina, yang dilatarbelakangi dari keluarga
yang berprofesi sebagai seorang petani di Kab. Banyuasin Kec. Air
Saleh Desa Srimulyo, saat ini sebagai mahasiswa tingkat akhir Prodi
BIODATA PENULIS 89
Ilmu Keperawatan dan Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Katolik Musi Charitas angkatan tahun 2017.
Pradhita Aprillia
Lahir di Palembang, 05 April 1999, saat ini sebagai mahasiswa aktif
Universitas Katolik Musi Charitas. Riwayat Pendidikan TK Islam
Habilillah Palembang, SDN 236 Palembang, SMP Karya Ibu
Palembang dan SMKN 4 Palembang.
Resmi Dinanti
Lahir di Tanjung Enim, 19 Maret 2000. Saat ini sebagai mahasiswa
tingkat akhir Prodi Ilmu Keperawatan dan Ners, Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas angkatan tahun 2017.
Riwayat pendidikan TK Kartika II-35 Tanjung Enim, SD Negeri 20
Tanjung Enim, SMP Negeri 01 Muara Enim, SMA Negeri 02 Muara
Enim. Alamat saat ini di Asrama Barbara Saelmaekers.
90 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
Chyntia Rahmadayani
Lahir di Tanjung Sakti, 12 Januari 1999. Saat ini masih menempuh
pendidikan sebagai mahasiswa aktif di Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Katolik Musi Charitas. Riwayat pendidikan, Lulusan TK
Xaverius 13 Tanjung Sakti, Lulusan SD Xaverius 13 Tanjung Sakti,
Lulusan SMP Xaverius Tanjung Sakti, dan Lulusan SMA Negeri 13
Palembang.
Mira Suryani
Lahir di Ogan Komering Ulu, 16 Mei 1999, menyelesaikan
pendidikan sebelumnya di TK Bahagia Oku (2005-2006), Sdn 34 Oku
(2006-2011), Smpn 3 Oku (2011-2014), Sman 2 Oku (2014-2017) dan
saat ini merupakan mahasiswa aktif tingkat akhir program studi S1
Ilmu Keperawatan dan profesi ners di Universitas Katolik Musi
Charitas sejak tahun 2017 - sekarang, bergabung dan menjadi atlet
kejuaraan Bridge tingkat nasional pada tahun 2014, menjabat sebagai
BIODATA PENULIS 91
wakil HIMAPRODI PSIK pada tahun 2019, anggota Campus Ministry
di Unika Musi Charitas (2017-sekarang), Panitia Camp Fire tahun
2018, Panitia Integrity Weekend tahun 2019, peserta lomba Essai
tingkat nasional di UNNES tahun 2020.
Serly Apriani
Lahir di Palembang, 14 April 1999. Saat ini masih menempuh
pendidikan sebagai mahasiswa aktif di Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Katolik Musi Charitas. Riwayat Pendidikan, Lulusan TK
YWKA Palembang, Lulusan SD Negeri 13 Palembang, Lulusan SMP
PGRI 9 Palembang, Lulusan SMK Negeri 3 Palembang.
Alfayat Akbar
Lahir di Palembang 18-05-1999,saat ini masih menempuh pendidikan
sebagai mahasiswa aktif di fakultas ilmu kesehatan Universitas
Katolik Musi Charitas.Riwayat pendidikan lulusan SDN 05 muara
92 Manajemen keperawatan”Kualitas Pelayanan Keperawatan”
kuang, lulusan SMPN 01 muara kuang, lulusan SMA bina karya
Palembang.
Dicky Priyo Carito
Lahir di ogan komering ulu, 14-04-1999, Alamat: jln,BPP Talang
Jambe, saat ini merupakan mahasiswa aktif di Unika Musi Charitas
sejak tahun 2017, saat ini merupakan mahasiswa tingkat akhir, prodi
S1 Ilmu Keperawatan dan sedang menjalankan skripsi.
Maiza Dwi Lestari
Lahir di Palembang, 06 Mei 1999. Menyelesaikan pendidikan SMA
pada tahun 2016, kemudian pada tahun 2017 melanjutkan pendidikan
S1 Ilmu Keperawatan dan Ners di Universitas Katolik Musi Charitas
dan sudah menginjak semster 8 (semster akhir). Pernah mengikuti
Organisas IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) (2013-2015). Pernah
menjadi anggota salah satu organizer dalam pelaksanaan seminar
BIODATA PENULIS 93