MANAJEMEN
KEPERAWATAN
“Pendidikan Keperawatan & Proses Pembelajaran”
UU No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
Fungsi dan Sifat Hak Cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang
terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku
terhadap:
i. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan
peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual;
ii. penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan
penelitian ilmu pengetahuan;
iii. penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan
pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman
sebagai bahan ajar; dan
iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan
yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan
tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang
Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan
Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
MANAJEMEN KEPERAWATAN
“Pendidikan Keperawatan & Proses
Pembelajaran”
(1)Lilik Pranata. (2)Aniska Indah Fari. (3)Ni Komang Suka Santi.
(4)Rindi Tri Ayu Antika. (5 Vega Pransiska.
(6)Betty Elisabet Gultom. (7)Putri Adetia. (8)Sagita Agustina.
(9)Hanggara Yonatriza. (10)Desi Aprianti.
(11)Theresia Cipta Nugraheni. (12)Rizki Eka Pradana.
(13)Pascalia Yessica. (14)Maria Anita Tri Rahmawati.
(15)Ansel Musvega. (16)Riski Eko Saputra. (17)Indana Pricilia.
(18)Aries Fernandes. (19)Agnes Suci Ayuning Tias.
(20)Dion Setra Pratama. (21)Bayu Aji. (22)Lepi Herdiyanti.
(23)Mutiara Nitantri. (24)Else Putri Vinanda.
MANAJEMEN KEPERAWATAN
“Pendidikan Keperawatan & Proses Pembelajaran”
Lilik Pranata, dkk.
Editor:
Annisa Zikra Toppany
Desainer:
Mifta Ardila
Sumber:
www.insancendekiamandiri.co.id
Penata Letak:
Annisa Zikra Toppany
Proofreader:
Annisa Zikra Toppany
Ukuran:
vi, 109 hlm., 15,5x23 cm
ISBN:
978-623-348-104-5
Cetakan Pertama:
Mei 2021
Hak Cipta 2021, pada Lilik Pranata, dkk.
Isi di luar tanggung jawab penerbitan dan percetakan
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Anggota IKAPI: 020/SBA/20
PENERBIT INSAN CENDEKIA MANDIRI
(Grup Penerbitan CV INSAN CENDEKIA MANDIRI)
Perumahan Gardena Maisa 2, Blok F.12, Koto Baru, Kecamatan Kubung,
Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat – Indonesia 27361
HP/WA: 0813-7272-5118
Website: www.insancendekiamandiri.co.id
www.insancendekiamandiri.com
E-mail: [email protected]
DAFTAR ISI
Prakata ............................................................................................ vi
Bab 1: Pendidikan Tinggi Keperawatan .......................................... 1
Bab 2 : Pengelolaan Penyusunan Kurikulum ................................ 13
Bab 3 : Pengelolaan Pembelajaran Praktikum ............................... 23
Bab 4 : Program Profesi di Klinik dan Lapangan .......................... 35
Bab 5 : Pengelolaan Profesi Ners dan Evaluasi Program Profesi .. 63
Rangkuman .................................................................................... 79
Latihan soal ................................................................................... 84
Daftar pustaka
Biodata penulis
v
PRAKATA
Puji syukur Alhamdulilah buku Manajemen Keperawatan
“Pendidikan Keperawatan & Proses Pembelajaran” Buku manajemen
ini berisikan tentang pendidikan keperawatan serta mekanisme proses
bimbingan pada profesi Ners. Buku ini dirancang untuk memudahkan
mahasiswa keperawatan belajar tentang pendidikan dan proses
pembelajaran. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua
pembacanya.
Maret 2021
Penulis
vi
BAB 1
Pendidikan Tinggi Keperawatan
1.1 Pendahuluan
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai capaian pembelajaran lulusan, bahan
kajian, proses, dan penilaian yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan program studi (Sugiharto 2015).
Menghadapi masalah yang semakin kompleks, seperti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
pergeseran pada sistem pelayanan kesehatan, proses transisi
masyarakat pertanian menjadi masyarakat indudrtial dan
transisi masyarakat tradisional menjadi masyarakat maju,
diperlukan adanya perkembangan keperawatan sebagai
profesi yang mengacu pada kesepakatan pasar bebas
ASEAN (AFTA) tahun 2003 dan disusul dengan Asia
Pasifik Economic Cooperation (APEC) tahun 2010.
Dalam mewujudkan perawat yang handal dan mandiri
perlu diupayakan melaksanakan prinsip menejemen
pendidikan di perguruan yang konsisten terpadu dan
fleksibel, karena di dalam Institusi pendidikan terdapat
unsur-unsur dan komponen/ elemen yang berkaitan erat
saling mempengaruhi dan memberi dukungan satu dengan
1
yang lain (Astuti 2016) Langkah awal yang perlu ditempuh
adalah menata pendidikan keperawatan dan memberikan
kesempatan kepada para perawat untuk melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi. Dengan demikian,
diharapkan pada akhir tahun 2002 semua pendidikan
keperawatan yang ada di Rumah Sakit sudah memenuhi
kriteria pendidikan minimal D3 Keperawatan (Nursalam
2012b).
Pengembangan sistem pendidikan tinggi keperawatan
sangat penting dan sangat berperan dalam pengembangan
pelayanan keperawatan profesional, pengembangan
teknologi keperawatan, pembinaan kehidupan keprofesian
dan pendidikan keperawatan berlanjut yang dicapai melalui
lulusan dengan kemampuan profesional (Nursalam 2008).
Sistem Pendidikan Keperawatan di Indonesia belum
sepenuhnya menjawab kebutuhan profesi dan bangsa.
Hal ini terjadi karena belum adanya aturan yang jelas
mengenai pendirian dan penyelenggaraan Pendidikan
Keperawatan dan kurang dilibatkannya organisasi profesi
keperawatan oleh pemerintah dalam mengambil kebijakan
yang menyokong ke arah perkembangan profesionalisme
keperawatan (Lestari 2014).
2 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
1.2 Hakikat Pendidikan Keperawatan
Dari berbagai aspek pembangunan nasional,
pembangunan dalam bidang pendidikan merupakan bagian
yang paling mendasar dalam pengembangan sumber daya
manusia. Hal ini sesuai dengan sistem pendidikan nasional
yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan
keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian
mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
Hal ini berarti bahwa pendidikan merupakan sarana
yang paling penting dalam upaya mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu sumber daya manusia yang
memiliki keunggulan tertentu serta kreativitas cipta karya
yang bernilai tinggi. Dengan demikian, peningkatan mutu
sumber daya manusia haruslah menjadi prioritas, terutama
dalam memasuki era global sebagai era pasar bebas antar
negara yang dipenuhi dengan tantangan yang kompleks.
Dalam upaya peningkatan mutu profesionalisme, sistem
pendidikan harus mampu memberikan landasan
kemampuan untuk menanamkan keunggulan terhadap
lulusannya, terutama dengan penguasaan suatu bidang
Pendidikan Tinggi Keperawatan 3
keahlian tertentu. Di samping itu, sistem pendidikan harus
memiliki kemampuan untuk mengembangkan sikap-sikap
dan keterampilan profesional lulusan dalam melaksanakan
pekerjaan di dunia kerja. Pendidikan tinggi, sebagai
subsistem pendidikan nasional diselenggarakan dalam
rangka menyiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan
profesional yang dapat mnerapkan, mengembangkan atau
menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi (Nursalam
2012b).
1.3 Pendidikan Keperawatan Sebagai Pendidikan
Keprofesian
Menurut Hasil lokakarya nasional dalam bidang
keperawatan tahun 1983 telah menghasilkan kesepakatan
nasional secara konseptual yang mengakui keperawatan di
Indonesia sebagai profesi mencakup pengertian, pelayanan
keperawatan sebagai profesional dan pendidikan keperawatan
sebagai pendidikan profesi. Bertolak dari pandangan
keperawatan sebagai profesi dan ilmu keperawatan seperti
yang diuraikan diatas, maka orientasi pendidikan tinggi
keperawatan adalah ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta
masyarakat. Dengan orientasi tersebut, diharapkan setiap
institusi pendidikan tinggi keperawatan mampu mengikuti
4 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
perkembangan sekaligus memberikan landasan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) keperawatan yang kokoh
pada peserta didik.
a. Kerangka konsep
Sesuai dengan hakikatnya sebagai pendidikan profesi,
kurikulum pendidikan tinggi keperawatan disusun
berlandaskan kerangka konsep pendidikan yang kokoh.
Kerangka konsep yang dimaksud adalah (Purnamawati et
al. 2020):
1) Penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi
keperawatan
Seluruh rangkaian proses pendididikan pada program
pendidikan tinggi keperawatan harus ditata dan
dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga
memungkinkan peserta didik memahami, menguasai,
dan mengembangkan IPTEK keperawatan yang
diperlukan dalam melaksankan pelayanan atau
asuhan keperawatan sesuai tuntutan profesi
keperawatan.
2) Penyelesaian masalah secara ilmiah
Melalui seluruh rangkaian pengalaman belajar pada
pendidikan tinggi keperawatan, kemampuan untuk
memecahkan masalah secara ilmiah, ditumbuhkan dan
dibina secara bertahap dan terintegrasi sepenuhnya.
Pendidikan Tinggi Keperawatan 5
3) Sikap dan tingkah laku profesional
Pembinaan kemampuan berpikir, bersikap dan
bertindak profesional merupakan suatu proses
panjang dan berlanjut, yang dilaksanakan dalam suatu
lingkungan yang syarat dengan model peran.
4) Belajar aktif dan mandiri
Segala dan bentuk pengalaman belajar dikembangkan
dan dilaksankan dengan berorientasi pada peserta
didik untuk mengembangkan kemampuan belajar aktif
dan mandiri.
5) Pendidikan dimasyarakat
Pengalaman belajar dimasyarakat memungkinkan para
peserta didik untuk menumbuhkan dan membina sikap
maupun keterampilan profesional.
1.4 Tujuan Pendidikan
Berlandaskan pada kerangka konsep ini, diharapkan
isi pendidikan dan proses belajar mengajar dapat
disusun dan dikembangkan secara lebih terarah,
sehingga institusi pendiidikan tinggi keperawatan
mampu melakukan hal-hal berikut ini (Afdoluddin et al.
2020):
6 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
1) Menumbuhkan atau membina sikap dan tingkah laku
profesional yang sesuai dengan tuntutan profesi
keperawatan.
2) Membangun landasan ilmu pengetahuan yang kokoh,
baik kelompok ilmu keperawatan maupun berbagai
kelompok ilmu dasar dan penunjang, yang diperlukan
untuk melaksanakan pelayanan atau asuhan
keperawatan profesional yaitu mengembangkan diri
pribadi dan mengembangkan ilmu keperawatan.
3) Menumbuhkan atau membina keterampilan
profesional yang mencakup antara lain intelektual,
keterampilan teknikal, dan interpersonal, yang
diperlukan untuk melaksanakan pelayanan
keperawtaan, mengembangkan diri pribadi dan ilmu
keperawatan.
4) Menumbuhkan atau membina landasan etik
keperawatan yang kokoh dan mantap sebagai tuntutan
utama dalam melaksanakan pelayanan kesehatan.
1.5 Fungsi Pendidikan
1) Peserta didik dalam hal kualifikasi atau persyaratan,
mekanisme seleksi dan penerimaan dan daya
tampung peserta didik.
2) Proses pendidikan mencakup tujuan pendidikan,
rumusan kompetensi, kurikulum pendidikan, proses
Pendidikan Tinggi Keperawatan 7
pembelajaran atau evaluasi hasil belajar, fasilitas
sumber daya pendidikan dan rumah sakit pendidikan
3) Lulusan mencakup kualifikasi atau persyaratan,
mekanisme penilaian akhir atau keprofesian, jumlah
yang diluluskan dan sebaran (Julianto 2016).
1.6 Orientasi Pendidikan
Penekanan pengembangan dan pembinaan
pendidikan tinggi keperawtaan dimasa depan lebih
diarahkan pada upaya meningkatkan mutu pendidikan,
sehingga lulusan benar-benar menunjukan sikap
profesional, menguasai ilmu pengetahuan keperawatan
dalam kadar yang memadai, serta menguasai
keterampilan profesional keparawatan. Terkait hal-hal
diatas, sistem pendidikan tinggi dikembangkan dengan
berbagai jenis dan jenjang pendidikan dalam
menghadapai tuntutan kebutuhan masyarakat, tuntutan
pembangunan keperawatan sebagai suatu profesi yang
mandiri dan tuntutan pembangunan kesehatan dimasa
yang akan datang (Julianto 2016).
1.7 Peran Pendidikan Tinggi Keperawatan
1.7.1 Membina sikap, pandangan dan kemampuan
profesional
Pendidikan tinggi keperawatan sangat
berperan dalam membina sikap, pandangan,
8 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
dan kemampuan profesional lulusannya.
Diharapkan perawat mampu bersikap,
berpandangan profesional, berwawasan
keperawatan yang luas, mempunyai
pengetahuan ilmiah keperawatan yang
memadai serta menguasai keterampilan
profesional secara baik dan benar.
1.7.2 Meningkatkan mutu pelayanan atau asuhan
keparawatan dan kesehatan
Pendidikan tinggi keperawatan menimbulkan
perubahan yang berarti terhadap cara perawat
memandang asuhan keperawatan. Secara
bertahap keperawatan beralih dari yang
semula berorientasi pada tugas menjadi
berorientasi pada tujuan, yang berfokus pada
asuhan keperawatan efektif dengan
menggunakan proses keperawatan dan
pendekatan holistik.
1.7.3 Menyelesaikan masalah keperawatan dan
mengembangkan IPTEK keperawatan melalui
penelitian Kerjasama yang terjalin dengan
baik antara institusi pendidikan dan pelayanan
memungkinkan terjadinya transformasi
Pendidikan Tinggi Keperawatan 9
IPTEK, termasuk teridentifikasinya masalah
kesehatan untuk penelitian keperawatan.
1.7.4 Meningkatkan kehidupan keprofesian
melalui organisasi profesi
Pendidikan tinggi keperawatan akan
memfasilitasi perkembangan kehidupan
organisasi keperawatan untuk lebih
profesional. Dengan pendidikan profesional,
perawat sebagai anggota dari suatu organisasi
profesi akan lebih memahami dan
mengahayati peran, tanggung jawab dan
haknya sebagai anggota organisasi profesi.
1.8 Penataan Pendidikan Tinggi Keperawatan.
Pada saat ini berbagai upaya untuk lebih
mengembangkan pendidikan keperawatan yang
profesional memang sedang dilakukan, salah satunya
dengan mengobservasi pendidikan spk ke jenjang
akademi keperawatan dari lulusan akademi
keperawatan di harapkan melanjutkan ke jenjang S1
keperawatan (ners). Hal ini menjadi kendala dalam
upaya mempercepat profesionalisme keperawatan.
10 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
1.9 Penataan Jenis Dan Jenjang Pendidikan
Keperawatan
1.9.1 Program Pendidikan D3 Keperawatan
Program D3 keperawatan yang menghasilkan
perawat generalis, sebagai perawat fokasi
(ahli madia keperawatan). Dikembangkan
dengan landasan ilmu yang cukup dan
landasan keprofesian yang kukuh. Perawat
vokasional diharapkan memiliki tingkah laku,
kemampuan, serta kompetensi dalam
melaksanakan asuhan atau praktek
keperawatan dasar secara mandiri dibawah
supervisi
1.9.2 Program Pendidikan Ners.
Program pendidikan ners menghasilkan
sarjana keperawatan dan perawat profesional
dengan sikap, tingkah laku, kemampuan
profesional, serta kompetensi untuk
melaksanakan asuhan atau praktek
keperawatan dasar secara mandiri. Selain itu,
mereka di tuntut untuk memiliki kemapuan
dalam meningkatkan mutu pelayanan/asuhan
keperawatan dengan memimpim
pemanfaatan iptek keperawatan, serta
Pendidikan Tinggi Keperawatan 11
kemampuan melaksanakan riset keperawatan
dasar dan terapan yang sederhana.
1.9.3 Program S3
Program magister (S3) keperawatan
menghasilkan perawat ilmuan dengan sikap,
tingkah laku, dan kemampuan sebagai ilmuan
keperawatan. Perawat ilmuan diharapkan
mempunyai kemampuan
1) Meningkatkan pelayanan profesional
dengan jalan penelitan dan
pengembangan
2) Berpartisipasi dalam mengembangkan
bidang keilmuan
3) Mengembangkan dalam penampilannya
dalam spektrum yang lebih luas dengan
mengaitkan ilmu/profesi yang serupa
4) Merumuskan pendekatan menyelesaikan
masalah masyarakat dengan cara
penalaran ilmiah
12 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
BAB 2
Pengelolaan Penyusunan Kurikulum
2. 1 Penataan Kompentsi Lulusan
Penataan kompetensi harus mulai dilakukan, baik
kompetensi akademik maupun profesional. Kompetensi ini
harus disusun agar sesuai dengan tujuan pendidikan yang
dikutip dari UU Sisdiknas. 20 thn 2003. Bab 2 pasal 3 pada
UU ini menyatakan secara tegas bahwa pendidikan tidak
hanya ingin melahirkan dan mencetak manusia-manusia
yang pintar dalam intelektulitas semata, namun juga
memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta
bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
2.2 Penataan Kualitas dan Kuantitas Tenaga Pengajar
Pengembangan staf keperawatan harus menggunakan
pendekatan pembentukan dan pembinaan kelompok
penyangga cabang ilmu keperawatan cabang ilmu
keperawatan, yaitu pakar atau ilmuan keperawatan yang
membidangi salah satu cabang ilmu dalam bidang ilmu
keperawatan. Staf akademik yang merupakan komponen
penting dalam pengembangan dan pelaksanaan pendidikan
tinggi keperawatan dari berbagai disiplin ilmu arus tersedia
dan dikembangkan secara terarah dan berlanjut. Kelompok
13
ilmuan dan berbagai kelompok atau disiplin ilmu yang
mendukung pelaksaan pendidikan keperawatan profesional
harus diberi kesempatan dalam fasilitas cukup, untuk
secara bersama mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi keperawatan (Nursalam 2012b).
2.3 Penataan Fasilitas Pembelajaran
Tersedianya ruang kuliah, perpustakan dan buku-buku
keperawatan mutlak diperlukan dalam proses
pembelajaran. Tersedianya berbagai laboratorium yang
dapat dimanfaatkan khususnya laboratorium ilmu-ilmu
biomodis dan laboratorium keperawatan, merupakan hal
mutlak diperhatikan. Pengajaran ilmu-ilmu biomedis
dengan penekanan pada pemahaman teori dan konsep
biomedis, serta penalaran ilmu perlu ditopang dengan
bentuk pengalaman belajar diskusi kelompok (Nursalam
2012a, p.287).
2.4 Penataan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran konvesional yang selama ini
diterapkan perlu diperbaiki, sehingga memungkinkan
mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang
bermakna, metode pembelajaran yang bersifat teacher
center perlu diubah menjadi student center. Salah satu
metode yang perlu dikembangkan adalah belajar
14 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
berdasarkan masalah (problem based learning/PBM) yang
sangat relevan untuk perkembangan profesional karena
meningkatkan kemapuan menyelasaikan masalah.
2.5 Penataan Tempat Praktik (Program Profesi)
Penataan tempat praktik meliputi penataan lahan
praktek yaitu berupa puskesmas, komunitas dan rumah
sakit serta meningkatkan kualitas pembimbing klinik dan
lapangan (komunitas, keluarga, dan gerontik) dalam
membangun komunitas yang menyesuaikan metode
bimbingan yang diberikan pada mahasiswa.
Komunitas yang terbentuk dari para perawat
profesional yang ada dirumah sakit dan pelaksaan
pelayanan/asuhan keperawatan yang profesional yang
dikembangkan dan dibangun dengan cara membangun dan
membina pelayanan/asuhan keperawatan rumah sakit
sebagai bagian integral dari pelayanan rumah sakit.
Tempat praktik, dalam hal ini adalah rumah sakit,
yang digunakan untuk melaksanakan pengalaman belajar
klinik pada program pendidikan profesi dan dalam bidang
kesehatan.
Pengelolaan Penyusunan Kurikulum 15
2.6 Penataan Kejelasan Tubuh Pengetahuan Ilmu
Keperawatan
Ketidakjelasan tubuh pengetahuan ilmu keperawatan
mempengaruhi penilaian masyarakat tentang keperawatan.
Para ahli mengemukakan bahwa ilmu keperawatan berdiri
sendiri (keperawatan dasar, anak, medikal bedah, jiwa dan
komunitas). Pemahaman tersebut membawa dampak
terhadap program pendidikan tinggi keperawatan. Institusi
pendidikan tinggi keperawatan belum mampu mengenalkan
kejelasan ilmu keperawatan kepada peserta didik.
2.7. Dasar Dan Langkah Penyusunan Kurikulum Lengkap
Pendidikan Tinggi Keperawatan
Adapun dasar dan langkah penyusunan kurikulum
lengkap pendidikan tinggi keperawatan menurut
(Nursalam 2012a) sebagai berikut:
a. Perkembangan IPTEK Kesehatan dan Keperawatan
Semakin cepatnya perkembangan komputerisasi
menuntut perawat untuk terus belajar dan
memanfaatkan teknologi suatu sarana komunikasi dan
informasi yang efektif dan efesien dalam manajemen
keperawatan. Penggunaan teknologi akan
meningkatakan keahlian perawat dalam komunikasi
16 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
dan pengambilan keputusan secara akurat. Kurikulum
pendidikan keperawatan harus didasarkan pada
perkembangan IPTEK yang ada supaya dimasa depan
perawat tidak mengalami gagal teknologi.
b. Perubahan Sosial Politik dan Ekonomi
Negara indonesia merupakan negara yang berkembang
sehingga perubahan pemerintahan akan berdampak
pada semua aspek yang ada termasuk kesehatan dan
keperawatan. Perawat harus di bekali konsep binis dan
organisasi yang memadai agar dimasa depan perawat
ikut terlibat dalam pemerintahan, baik sebaik
eksekutif maupun legislatif.
c. Kependudukan
Berkembanganya penduduk indonesia
berdampak terhadap perkembangan sosial, ekonomi,
dan kebijakan tentang kesehatan adapun dampak dari
perubahan tersebut yaitu pergeseran lingkup praktik
keperawatan dari rumah sakit kekomunitas. Di
samping itu dengan semakin bertambahnya penduduk,
maka perawat harus terus mempelajari fenomena-
fenomena penyakit yang timbul, seperti AIDS dan
penyakit tropis lainnya yang belum pernah ditemukan
sebelumnya.
Pengelolaan Penyusunan Kurikulum 17
d. Kurikulum Nasional
Berdasarkan SK Mendikbud tentang pedoman
penyusunan kurikulum, maka perlu disusun suatu
kurikulum institusi dengan memperhatikan aspek-
aspek budaya, relevansi, efektivitas dan efisensi.
Pendidikan D3 keperawatan dengan beban studi 108
SKS (90% dari kurikulum lengkap) dan akan
memungkinkan berkembang sampai 120 SKS
(kurikulum lengkap yang di sebut kurikulun institusi),
diselenggarakan dalam 6 semester. Program Ners
memiliki beban studi 135 SKS (60-80% dari
kurikulum lengkap, keputusan mendiknas 232/2000).
Kurikulum inti atau kurikulum nasional yaitu
kelompok bahan kajian dan pelajaran yang harus di
cakup dalam suatu program studi yang dirumuskan
dalam kurikulum yang berlaku secara nasional.
Sedangkan kurikulum lengkap yaitu sejumlah bahan
kajian dan pelajaran yang di tetapkan oleh masing-
masing instutusi penyelenggara pendidikan dengan
memperhatikan keadaan dan kebutuhan lingkungan
serta ciri khas institusi pendidikan tersebut.
18 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
2.8 Langkah Penyusunan Kurikulum Lengkap dan Muatan
Lokal
Dalam setiap program studi ada rumusan misi dan
tujuan pendidikan yang merupakan kualifikasi lulusan
(kompetensi) yang akan dihasilkan. Rumusan kompetensi
lulusan yaitu suatu bentuk kemampuan yang suatu saat
akan dibuktikan di lapangan pekerjaan yang dipilihnya.
Orientasi terhadap pemenuhan kebutuhan didasarkan
penghayatan hasil pendalaman terhadap sinyal pasar
(market signal) dan visi ilmu pengetahuan (science
vision). Menetapkan tujuan dalam bentuk kompetensi
program studi bukanlah sembarangan, bukan pula copy-
paste dari tempat lain, namun ditemukan berdasarkan visi
dan misi yang dimiliki tiap program studi (Kastuti et al.
n.d.) Sedangkan (Nursalam 2012b) menyatakan untuk
memperoleh sebagai lulusan D3 keperawatan, maka
setiap instutusi pendidikan D3 keperawatan harus
melengkapi kurikulum nasional dengan muatan-muatan
pelengkap sehingga menjadi kurikulum lengkap institusi
seperti halnya:
a. Visi
Visi merupakan kemampuan melihat pada inti
persoalan, luas pandang, dan wawasan. Isi pokok
visi adalah keberadaan atau eksistensi suatu
Pengelolaan Penyusunan Kurikulum 19
organisasi atau seseorang yang diharapkan akan
menjadi kenyataan di masa depan. Visi belum tentu
dapat tercapai akan tetapi dengan adanya visi maka
ada pengaharapan yang jelas baik bagi organisasi
maupun pribadi, sehingga tujuan yang akan di capai
dapat dirumuskan dengan baik. Adapun visi institusi
pendidikan yaitu sebagai berikut
1) Pandangan institusi pendidikan tentang perkiraan
keadaan perkembangan masyarakat dimasa depan,
(dalam hal ini yang berhubungan dengan kesehatan
dan keperawatan).
2) Pandangan institusi pendidikan tentang
perkembangan yang harus dicapai dalam bidang
kesehatan dan keperawatan di masa depan, terutama
pelayanan kesehatan dan pelayanan asuhan
keperawatan pada masyarakat.
b. Misi
Misi adalah tugas yang dirasakan seseorang
sebagai suatu kewajiban untuk dilakukan demi
agama, ideologi, patriotisme, profesi dll. Visi dapat
juga dikatakan bahwa misi adalah tugas pokok yang
harus dilaksanakan untuk merealisasikan sebuah visi.
Misi institusi pendidikan adalah:
20 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
1) Langkah-langkah atau hal-hal yang diyakini menjadi
tanggung jawab institusi untuk dilaksanakan sebagai
upaya untuk merealisasikan pandangan.
2) Strategi dasar institusi pendidikan untuk mencapai
tingkat perkembangan institusi sehingga mampu
berperan dalam merealisasikan cita-cita sesuai
pandangan atau wawasan dimasa depan.
2.9 Orientasi
Orientasi adalah peninjauan, kecenderungan pandangan
atau titik berat pandangan untuk menentukan sikap (arah,
tempat dan sebagainya) yang tepat dan benar.
Pengelolaan Penyusunan Kurikulum 21
22
BAB 3
Pengelolaan Pembelajaran Praktikum
3.1. Pendahuluan
Management merupakan sebuah proes tindakan yang
dilakukan melalui orang lain, management dicirikan
dengan sebuah cara yang dilakukan untuk mengatur
beberapa hal secara baik dan sesuai dengan tujuan (Erita.
2019).
Management keperawatan mengacu kepada konsep
management secara umum dengan menggunakan
pendekatan fungsi-fungsi management meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, serta
pengontrolan (Pengawasan dan Evaluasi) (Mugianti 2016).
Management keperawatan merupakan sebuah bentuk
koordinasi dan integrasi sumber-sumber keperawatan
dengan menerapkan proses management guna tercapainya
tujuan dan objektivitas asuhan keperawatan (Supinganto,
Agus. Hadi 2020).
Jadi dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa management keperawatan adalah sebuah
pengorganisasian dalam tim keperawatan guna menerapkan
Pengelolaan Pembelajaran Pratikum 23
proses dan tujuan secara objektivitas dari asuhan
keperawatan yang akan diberikan ke pasien.
3.2 Konsep Dasar Management
Menurut Erita (2019) management dalam keperawatan
memiliki beberapa konsep dasar, yaitu:
3.2.1 Management Sebagai Ilmu
Management adalah sebuah ilmu pengetahuan yang
berusaha secara sistematis untuk memahami manusia
bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
3.2.2 Management Sebagai Seni
Dalam hal ini dimaksudkan untuk melakukan tindakan
seminimal mungkin namun mencapai hasil yang
maksimal.
3.2.3 Management Sebagai Profesi
Management bisa disebut sebagai suatu profesi bagi
orang-orang yang memang memiliki keahlian dan
keterampilan sebagai pemimpin dalam sebuah organisasi
atau perusahaan.
24 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
3.2.4 Management Sebagai Proses
Dikatakan sebagai proses karena dalam management
terdapat perencanaan, pengorganisasian, pengendalian di
mana dimasing-masing bidang menggunakan dasar ilmu
pengetahuan dan keahlian serta diikuti secara berurutan
dengan tujuan yang telah ditetapkan.
3.3 Tujuan Management Keperawatan
Dalam buku Praktik Management Keperawatan karya
Agus dan Hadi (Supinganto, Agus. Hadi 2020) adapun
tujuan dari sebuah management keperawatan adalah:
1) Mengarahkan seluruh kegiatan yang terencana.
2) Mencegah dan mengatasi permasalahan managerial.
3) Pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan efisien
dengan melibatkan seluruh komponen yang ada.
4) Meningkatkan metode kerja keperawatan sehingga
staff keperawatan bekerja dengan efektif dan efisien,
mengurangi waktu kerja yang sia-sia, serta mengurangi
duplikasi tenaga dan upaya.
Hasil akhir dari management keperawatan yang
diharapkan adalah:
1) Terselenggaranya pelayanan keperawatan.
2) Asuhan keperawatan yang berkualitas.
3) Pengembangan staff.
4) Budaya riset dalam keperawatan.
Pengelolaan Pembelajaran Pratikum 25
3.4 Prinsip-Prinsip Management Keperawatan
Menurut buku terbitan Pusdik SDM Kesehatan KemenKes
RI (Mugianti 2016), disebutkan beberapa prinsip dalam
menagment keperawatan, anatara lain:
1) Manajemen keperawatan seyogianya berlandaskan
perencanaan karena melalui fungsi perencanaan,
pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan
keputusan, pemecahan masalah yang afektif dan
terencana.
2) Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui
penggunaan waktu yang efektif. Manajer
keperawatan menghargai waktu akan menyusun
perencanaan yang terprogram dengan baik dan
melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang
telah ditentukan sebelumnya.
3) Manajemen keperawatan akan melibatkan
pengambilan keputusan berbagai situasi maupun
permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan
kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan
keputusan diberbagai tingkat manajerial.
4) Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien
merupakan fokus perhatian manajer keperawatan
dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat,
26 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
fikir, yakini dan ingini . Kepuasan pasien merupakan
point utama dari seluruh tujuan keperawatan.
5) Manajemen keperawatan harus terorganisir.
Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan
kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
6) Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen
keperawatan yang meliputi proses pendelegasian,
supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan
rencana yang telah diorganisasikan.
7) Manejer keperawatan yang baik adalah manajer
yang dapat memotivasi staf untuk memperlihatkan
penampilan kerja yang baik.
8) Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi
yang efektif. Komunikasi yang efektif akan
mengurangi kesalahpahaman dan memberikan
persamaan pandangan arah dan pengertian diantara
bawahan.
9) Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan
sebagai upaya mempersiapkan perawat pelaksana
untuk menduduki posisi yang lebih tinggi ataupun
upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan
karyawan.
10) Pengendalian merupakan elemen manajemen
keperawatan yang meliputi penilaian tentang
Pengelolaan Pembelajaran Pratikum 27
pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian
instruksi dan menetapkan prinsip-prinsip melalui
penetapan standar, membandingkan penampilan
dengan standar dan memperbaiki kekurangan.
3.5 Konsep Pembelajaran Praktikum
a. Pengertian
Pembelajaran adalah suatu bantuan yang dapat
diberikan kepada pendidik agar dapat terjadinya proses
belajar ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan
tabiat serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada
perserta didik. Sedangkan praktikum merupakan suatu
bentuk pembelajaran yang dilakukan pada suatu tempat
tertentu dimana mahasiswa/mahasiswi berperan aktif
dalam menyelesaikan suatu tindakan dengan
menggunakan alat, bahan, dan metode. Strategi
pembelajaran praktikum dapat ditentukan berdasarkan
tujuan suatu pembelajaran yang sudah ditentukan dan
ingin dicapai. Tujuan dari pembelajaran praktikum dalam
perumusannya seperti pengetahuan, sikap dan
keterampilan dasar professional (Efendi, p. 105).
b. Tujuan Pembelajaran Praktikum
Menurut Nursalam and Efendi (pp. 105-106)
ada beberapa tujuan pembelajaran praktikum yaitu sebagai
berikut:
28 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
1) Memahami, menguji dan menggunakan berbagai
konsep utama dari program teoritis untuk
diterapkan pada praktik klinik.
2) Mengembangkan keterampilan teknikal, intelektual,
dan interpersonal sebagai persiapan untuk
memberikan asuhan keperawatan pada pasien.
3) Menemukan berbagai prinsip dan mengembangkan
suatu wawasan dengan melalui latihan praktik yang
bertujuan agar dapat menerapkan suatu ilmu-ilmu
dasar ke dalam prakatik keperawatan, sasaran
pembelajaran ini agar perserta didik dapat
mengintegrasikan dan menerapkan konsep-konsep,
prinsp, dan teori dari ilmu pengetahuan dalam
praktik klinik.
4) Mempergunakan keterampilan dalam pemecahan
suatu masalah dengan cara berpikir tentang
observasi yang saling berkaitan satu sama lain
dengan proses: pengkajian, pengambilan keputusan,
perencanaan, tindakan, dan evaluasi.
c. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran ini dapat dilihat dari dua
aspek seperti : proses PBP dalam mempersiapkan suatu
perserta didik dalam melakukan pembelajaran klinik dan
Pengelolaan Pembelajaran Pratikum 29
tentang penjabaran tentang rancangan pembelajaran
intruksional (Nursalam and Efendi, p. 106).
d. Proses Pembelajaran Praktikum
Proses pembelajaran praktikum suatu proses
dalam pembelajaran klinik dengan dilihat pada suatu
siklus pembelajaran klinik . berdasarkan modelnya
pembelajaran praktik ini dapat digambarkan bahwa
pembelajaran laboratorium atau praktikum dapat
memperkuat dalam teori-teori atau pengetahuan yang
sudah didapatkan oleh perserta didik dengan melalui
pembelajaran lain, misalnya seperti pengalaman belajar
ceramah (PBC) (Nursalam and Efendi, p. 106).
e. Desain Intruksional Pembelajaran Praktikum
Desain intruksional adalah suatu rancangan
dalam pembelajaran agar dapat mencapai suatu tujuan
pendidikan pada tingkat intruksional. Dalam
pengembangkan suatu desain intruksional dapat dibagi
menjadi delapan bagian yang merupakan suatu proses
fleksibel dan interdependen serta konsisten. Gols, topic,
dan general purposes merupakan suatu bagian dari
kegiatan berikut ini :
1) Identifikasi tujuan yang meliputi, sosial/masyarakat,
perserta didik, dan area subjek
2) Memilih topik utama
30 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
3) Membuat daftar tujuan yang dirumuskan dengan
menggunakan taksonomi tujuan (Nursalam and
Efendi, p. 106).
Menurut Nursalam and Efendi (pp. 106–107)
karakteristik perserta didik dapat dilihat berdasarkan
faktor-faktor dibawah ini :
1) Faktor Akademik
Jumlah perserta didik, latar belakang pendidikan,
tingkat intelegensi, motivasi dan kebiasan belajar
2) Faktor Sosial
Usia, maturitas, tempramen, hubungan diantara
peserta didik, dan situasi sosial ekonomi
3) Kondisi Belajar
Lingkungan emosional, sosial, dan fisiologi peserta
didik
4) Cara belajar
a) Pembelajaran individu , untuk perserta didik
untuk meyeleksi alternatif aktivitas dan sumber
daya pembelajaran yang sesuai.
b) Pembelajaran kelompok, dilihat dari
karakteristik akademik dan sosial perserta didik
tentang rata-rata kemampuan, ketertarikan dan
tingkat kebutuhan.
Pengelolaan Pembelajaran Pratikum 31
f. Proses Pembimbing dalam Pembelajaran Praktikum
Menurut Nursalam and Efendi (p. 107) proses
pembelajaran melalui beberapa tahapan yaitu sebagai
berikut:
1) Persiapan rancangan pembelajaran dalam rangka
membantu perserta didik melaksanakan tugas
belajar.
2) Penerapan berbagai metode pembelajaran yang
mungkin perserta didik dapar menyelasikan tugas
pembelajaran sesuai dengan tujuan yang
diharapkan.
3) Evaluasi terhadap hasil dari pencapaian suatu tujuan
dalam pembelajaran praktikum yang sudah
dilakukan dan evaluasi terhadap kemampuan
perserta didik.
3.6 Kegiatan Pembelajaran Praktikum
Menurut Nursalam and Efendi (p. 108) pada
kegiatan pembelajaran praktikum guru ataupun dosen akan
memberikan pengarahan atau memberikan bimbingan
sebelum atau sesudah dilakukannya kegiatan praktikum.
Adapun langkah-langkah yang akan diberikan kepada
mahasiswa/mahasiswi dalam melakukan kegiatan
pembelajaran praktikum, sebagai berikut:
32 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
a. Menginformasikan tata tertib pada saat melakukan
pembelajaran praktikum.
b. Menetapkan kelompok-kelompok dalam melakukan
kegiatan praktikum.
c. Menginformasikan dan menggunakan LKS termasuk
dalam melakukan penentuan suatu tujuan, metode,
waktu, dasar, teori, alat bahan dan langkah-langkah
eksperimen.
d. Memimbing kegiatan setelah dilakukan praktikum
seperti diskusi sehubungan dengan hasil praktikum,
memecahkan suatu masalah dan menyimpulkan suatu
konsep
e. Kegiatan akhir yaitu dengan melakukan penataan
prasarana kembalikan ketempat semula
Pengelolaan Pembelajaran Pratikum 33
34
BAB 4
Program Profesi Di Klinik dan Lapangan
4..1 Konsep Program Profesi (PBL)
4.1.1 Pengertian PBL
Merupakan suatu proses kegiatan untuk
meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memecahkan
berbagai masalah kesehatan masyarakat pada kondisi rill
di masyarakat dan sekaligus sebagai pogram pengabdian
untuk pemberdayaan masyarakat (Harnani 2015).
4.1.2 Tujuan PBL
a. Tujuan umum
Memberikan pengalaman terhadap masalah-masalah
kesehatan-kesehatan masyarakat dilapangan yang
sebenarnya serta mencoba melakukan upaya-upaya
pemecahan masalah dengan teori dan praktek yang telah
diperoleh di kelas dan mendapatkan kemampuan
professional dan kesehatan masyarakat (Harnani 2015).
b. Tujuan khusus
a) Mahasiswa mampu mengenal dan memahami kondisi
secara geografis dan demografi
Program Profesi Di Klinik dan Lapangan 35
b) Mahasiswa mampu bekerja sama tim dalam kelompok
kegiatannya.
c) Mahasiswa mampu mengumpulkan data, menganalisis data
dasar (baseline data), mengidentifikasi masalah,
menentukan prioritas masalah, dan melaksanakan program
intervensi berdasarkan temuan yang didapat dari PBL.
d) Mahasiswa mampu melakukan komunikasi kesehatan
dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
(Harnani 2015).
4.2 Konsep Dasar Belajar dalam PBL
Permasalahan atau tugas (triage/questions)
dalam PBL yaitu:
1) Pada permasalahan ini konsep dasar dalam PBL yaitu
tidak mempunyai struktur yang jelas, sehingga
mahasiswa terdorong untuk membuat sejumlah hipotesis
yang artinya masih menduga-duga dan mengkaji
berbagai kemungkinan penyelesaian masalah yang
terjadi.
2) Kompleks yang dimana bisa diartikan sebagai profesi
dalam PBL terdorong untuk menggunakan strategi-
strategi penyelesaian masalah dan keterampilan berpikir
yang tinggi seperti melakukan tahap-tahap analisis,
sintesis, dan evaluasi dalam pembentukan pengetahuan
atau pemahaman yang baru.
36 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
3) Bermakna serta adanya hubungan nyata mahasiswa,
sehingga termotivasi untuk mengarahkan dirinya sendiri
dan menguji pengetahuan atau pemahaman lama mereka
dalam menyelesaikan tugas tersebut.
4) Masyarakat bahwa mahasiswa membuat keputusan atau
pertimbangan berdasarkan fakta, informasi, logika dan
rasional (Anon 2012).
4.3 Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran profesi PBL ini dapat
dikatakan sebagai suatu proses dalam pembelajaran yang
memiliki ciri-ciri pembelajaran dimulai dengan pemberian
masalah yang konteks dengan dunia nyata, pembelajaran
berkelompok aktif, merumuskan masalah dan
mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan mereka,
mempelajari dan mencari sendiri materi yang terkait
dengan masalah tersebut (Yulianti 2019).
4.4 Pelaksanaan PBL
Setiap pemicu akan dibahas melalui langkah-
langkah yang salah satunya akan digunakan seperti:
1) Klasifikasi dan definisi masalah
2) Analisis masalah
3) Menyusun hipotesis atau penjelasan logis sistematis
4) Identifikasi pengetahuan yang diperlukan
Program Profesi Di Klinik dan Lapangan 37
5) Identifikasi pengetahuan yang sudah diketahui
6) Menyusun isu pembelajaran
7) Mengumpulkan pengetahuan baru
8) Sintesis pengetahuan lama dan baru
9) Mengulang semua langkah yang diperlukan
10) Identifikasi hal-hal yang perlu dipelajari
11) Menerangkan hal yang telah dipelajari
12) Menerapkan pengetahuan kedalam masalah (Anon
2012).
4.5 Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan suatu metode
untuk mendidik peserta didik di klinik yang
memungkinkan pendidik memilih dan menerapkan cara
mendidik yang sesuai dengan tujuan dan karakteristik
individual peserta didik berdasarkan kerangka konsep
pembelajaran (Efendi).
a. Metode Demontrasi
1) Pengertian
Demontrasi merupakan metode pembelajaran yang
menyajikan suatu prosedur atau tugas, cara
menggunakan alat dan cara berinteraksi dnegan
pasien. Demontrasi dapat dilakukan secara langsung
atau melalui media seperti vidio atau film (Efendi,
p. 110).
38 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
2) Tujuan demontrasi
Tujuan metode demontrasi yaitu untuk
mendapatkan gambaran yang jelas tentang hal–hal
yang berhubungan proses mengatur sesuatu, proses
membuat sesuatu, proses berkerja, proses
mengerjakan atau menggunakannya, harapan yang
membentuk sesuatu, serta untuk mengetahui dan
melihat kebenaran sesuatu (Efendi, p. 110).
3) Pedoman demontrasi
Menurut Efendi (p. 110) terdapat beberapa pedoman
pada metode pembelajaran demontrasi, yaitu:
a) Persiapan
(1) Idetifikasi bacaan atau bacaan yang perlu
dilakukan peserta didik sebelum demontasi
(2) Untuk demontrasi yang rumit, berikan petunjuk
tertulis untuk mengarahkan observasi selama
demontasi
(3) Latihan sebelum melakukan demontrasi
(4) Ukur waktu yang diperlukan
b) Sebelum demontasi
(1) Siapkan materi dan alat
(2) Atur penempatan alat dan materi
(3) Jelaskan tujuan dmeontrasi
(4) Jelaskan materi dan alat
Program Profesi Di Klinik dan Lapangan 39
(5) Diskusikan prinsip dalam demontasi
(6) Identifikasi hal – hal yang penting
c) Pelaksanaan demontrasi
(1) Demontrasikan setiap langkah prosedur secara
teratur
(2) Uraikan prosedur sambil memberikan
demontrasi
(3) Hindari hal detail yang tidak penting
(4) Tekankan cara melaksanakan prosedur
(5) Pantau tiap langkah demonstrasi
d) Setelah demonstrasi
(1) Ulangi demonstrasi atau langkah jika perseta
didik perlu melakukan observasi
(2) Beri kesempatan mengamati sesuai perbedaan
peserta didik
(3) Perhatikan peserta didik yang kidal
(4) Evaluasi hasil demonstrasi
5) Proses pembimbingan pada metode demontrasi
Menurut Efendi (p. 111) proses pembimbingan
pada metode demonstrasi yaitu:
a) Menyiapkan pengaturan tempat untuk
melakukan demonstrasi
b) Menjelaskan tujuan demonstrasi
40 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
c) Menjelaskan serta menunjukkan bahan dan
alat yang digunakan
d) Mendiskusikan prinsip penting dalam
demonstrasi
e) Mengidentifikasi hal–hal yang perlu di
obsevasi
f) Mendemonstrasikan setiap prosedur
g) Memantau setiap langkah demonstrasi
h) Mengintruksikan untuk melakukan
demonstrasi
i) Memberikan umpan balik
j) Mengevaluasi proses
6) Kelebihan metode demonstrasi
Menurut Efendi (p. 111) ada beberapa kelebihan
pada metode demontasi yaitu sebagai berikut:
a) Dapat membuat proses pembelajaran
menjadi lebih jelas dan lebih kongkrit
b) Perserta didik diharapkan lebih mudah
memahami apa yang dipelajari
c) Proses pengajaran akan lebih menarik
d) Peserta didik dirangsang untuk lebih aktif
mengamati
4) Kekurangan metode demonstrasi
Program Profesi Di Klinik dan Lapangan 41
Menurut Efendi (p. 111) ada beberapa kekurangan
dalam metode demonstasi yaitu:
a) Metode ini memerlukan keterampilan
mengajar secara khusus, karena tanpa
ditunjang dalam hal itu, pelaksanaan
demontrasi menjadi tidak aktif
b) Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya
yang memadai selalu tidak tersedia
c) Demontrasi memerlukan kesiapan dan
perencanaan yang matang
b. Metode Simulasi
1. Pengertian
Simulasi merupakan metode pembelajaran yang
menyajikan pelajaran dengan menggunakan situasi atau
proses nyata, dengan peserta didik terlibat aktif dalam
berinteraksi dengan situasi di lingkungannya (Efendi, p.
112).
2. Tujuan
Tujuan dari metode simulasi ini yaitu membantu peserta
didik mempraktikkan keterampilan dalam membuat
keputusan dan penyelesaian masalah, megembangkan
kemampuan interaksi antarmanusia dan memberikan
kesempatan peserta didik untuk menerapkan berbagai
42 MANAJEMEN KEPERAWATAN “Pendidikan Keperawatan &
Proses Pembelajaran
prinsip teori, serta untuk meningkatkan kemampuan
kognitif, afektif, dan psiokomotor (Efendi, p. 112).
3. Tipe simulasi
Menurut Sandra de Young (1990) dalam Efendi (p. 112)
metode simulasi ini mempunyai 3 macam tipe, yaitu
simulation exercise, simulation game, dan role playing.
4. Petunjuk menggunakan metode simulasi
a) Simulasi harus meningkatkan pencapaian tujuan
b) Perhatikan syarat simulasi tentang jumlah peserta
didik, waktu yang diperlukan, alat dan tempat.
c) Pembimbing harus memahami jalannya simulasi
d) Uji coba dilakukan pada kelompok peserta didik
yang dikenal oleh pembimbing
e) Peserta didik mempunyai latar belakang teori dan
keterampilan untuk berperan dalam simulasi
f) Peserta didik harus mengerti tujuan peran serta
mereka pada simulasi
g) Petunjuk tertulis dengan lengkap dan diberikan pada
peserta didik
h) Pembimbing bertanggung jawab untuk
menginterupsi simulasi apabalia waktu telah lewat
dan muncul masalah, atau peserta belum kompeten
(Efendi, p. 113)
5. Proses pembimbingan pada metode simulasi
Program Profesi Di Klinik dan Lapangan 43