FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT USAHA TERNAK KAMBING DAN DOMBA POTONG BAGI GENERASI MILENAL LAPORAN TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH : FAJAR MUSTAQIM NPM : 192075 PRODI D3 PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA
ii FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT USAHA TERNAK KAMBING DAN DOMBA POTONG BAGI GENERASI MILENAL Disusun Oleh FAJAR MUSTAQIM NPM : 192075 LAPORAN TUGAS AKHIR Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiyah Karanganyar PRODI D3 PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA
iii SURAT PERNYATAAN KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI LAPORAN TUGAS AKHIR Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Fajar Mustaqim NPM : 192075 Dengan ini menyatakan sebagai berikut : 1. Karya ilmiah yang berjudul : Faktor-FaktorYang Mempengaruhi Minat Usaha Ternak Kambing dan Domba Potong Bagi Generasi Milenial dan penelitian yang terkait dengan karya ilmiah ini adalah hasil kerja karya sendiri. 2. Setiap ide dan kutipan dari orang lain berupa publikasi atau bentuk lainnya dalam karya ilmiah ini telah diakui sesuai dengan standar prosedur disiplin ilmu serta bukan merupakan tiruan atau plagiasi dari karya orang lain. 3. Saya juga mengakui karya ilmiah ini dapat dihasilkan berkat bimbingan dan dukungan penuh pembimbing saya yaitu : Ir. Dr. Diwi Acita Irawati, MP Karanganyar, 1 September 2022 Fajar Mustaqim PERPUSTAKAAN UMUKA
iv FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT USAHA TERNAK KAMBING DAN DOMBA POTONG BAGI GENERASI MILENAL Oleh FAJAR MUSTAQIM NPM. 192075 LAPORAN TUGAS AKHIR Telah Disetujui untuk Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Karanganyar Persetujuan Pembimbing Pembimbing Dr. Ir. Diwi Acita Irawati, MP NIP. 19670621 199303 2 002 PERPUSTAKAAN UMUKA
v FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT USAHA TERNAK KAMBING DAN DOMBA POTONG BAGI GENERASI MILENAL Oleh FAJAR MUSTAQIM NPM. 172075 LAPORAN TUGAS AKHIR Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Karanganyar dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan Pada Hari : Senin Tanggal : 4 Juli 2022 Mengesahkan : Dekan, Drs. Sujalwo, M. Kom. NIK : 2022.004 Dewan Penguji 1 Dr. Ir. Diwi Acita Irawati, MP NIP. 19670621 199303 2002 Dewan Penguji 2 Ir. Damaryanto widharto, M.Si NIP.19590311 198803 1002 Dewan Penguji 3 Desna Ayu Wijayanti, S.Pt, M.Pt NIP. 0614129401 PERPUSTAKAAN UMUKA
vi MOTTO “Milikilah mimpi yang nyata, buatlah rencana yang nyata, ambil tindakan yang nyata, maka keberhasilanmu akan menjadi nyata”. [Merry Riana] “Raihlah cita-citamu setinggi rumput pakchong ".[Bayu 78 Farm] ‘peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing karena di dalamnya terdapat keberkahan’.[HR. Ahmad] ‘Ciptakanlah pasar, jangan mencari pasar. Ciptakanlah lapangan kerja jangan mencari pekerjaan. [Gus Shor Farm] PERPUSTAKAAN UMUKA
vii PERSEMBAHAN Karya ini dipersembahkan, kepada : Tuhan Yang Maha Esa”Allah SWT’ Ibu dan Bapak tercinta, Kakaku tersayang, RA124 Habib Abdurrohman Al-Athoz, PCNU Sukoharjo Rekan-rekanita Pac Ipnu-Ippnu Bendosari, Rekan-rekan seangkatan, Dan almamater tercinta PERPUSTAKAAN UMUKA
viii RINGKASAN Penelitian dengan judul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Usaha Ternak Kambing Dan Domba Potong Bagi Generasi Milenial” ini dilakukan mulai tanggal 29 maret 2022 - 28 Mei 2022 dilakukan dengan jumlah respoden 40 orang yang bertujuan untuk mengetahui faktor minat usaha Ternak Kambing Dan Pomba Potong Bagi Generasi Milenial. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif survei di media sosial yaitu youtube dan pengumpulan data dengan cara : observasi, wawancara, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor-Faktor Minat Usaha Ternak Kambing Dan Domba Potong Bagi Generasi Milenial terdapat 4 faktor yaitu faktor intrinsik (dalam) berupa nilai ekonomis, keterampilan, usia, tali silaturahmi, prestasi. Faktor ekstriksik (luar) berupa mengurangi impor, pakan, lapangan pekerjaan, permintaan pasar, manajemen mudah, modal kecil, luas lahan dan peran pemerintah. Faktor spiritual berupa warisan, memberi keberkahan dan manfaat, usaha nabi. Faktor emosi berupa hobi. Faktor Utama yang Mempengaruhi Minat Usaha Ternak Kambing domba Potong bagi Generasi Milenial dengan faktor ekstrinsik adalah faktor eksrinsik. Kata Kunci : Generasi Milenial, Kambing dan Domba Potong, Minat Usaha. PERPUSTAKAAN UMUKA
ix KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas Kasih dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan Laporan Tugas Akhir. Laporan Tugas Akhir ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan sebutan profesional Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiyah Karanganyar. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 1. Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar. 2. Kaprodi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar 3. Ibu Dr. Ir. Diwi Acita Irawati MP, selaku pembimbing, yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan, sehingga Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. 4. Kedua orang tuaku atas doa dan dukungannya baik materi maupun finansial. 5. Saudara dan teman-teman seperjuangan yang telah memberi bantuan baik moral maupun spiritual sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang. Akhirnya penulis harapkan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Karanganyar, 1 September 2022 Penulis PERPUSTAKAAN UMUKA
x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PENJELASAN ........................................................................... ii HALAMAN SURAT KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI ....................... iii HALAMAN PERSETUJUAN......................................................................... iv HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... v MOTTO............................................................................................................ vi PERSEMBAHAN............................................................................................ vii RINGKASAN .................................................................................................. viii KATA PENGANTAR ..................................................................................... ix DAFTAR ISI.................................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................ xi DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xii LAMPIRAN..................................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3 A. Ternak Kambing dan Domba ............................................................ 3 B. Generasi Milenial............................................................................... 6 C. Wirausaha........................................................................................... 8 D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Usaha.............................. 10 BAB III MATERI DAN METODE................................................................. 13 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 17 A. Karateristik Responden........................................................................ 17 B. Faktor-Faktor Minat Usaha.................................................................. 22 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................... 40 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 41 LAMPIRAN..................................................................................................... 45 PERPUSTAKAAN UMUKA
xi DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Perbedaan Antar Generasi di Tempat Kerja .............................................. 7 2. Nama Lain Generasi Milenial................................................................... 8 3. Umur Responden ...................................................................................... 18 4. Tingkat Pendidikan Responden................................................................. 19 5. Jumlah Ternak Responden ........................................................................ 20 6. Lama Usaha Responden............................................................................ 21 7. Faktor Intrinsik.......................................................................................... 23 8. Faktor Ekstrinsik....................................................................................... 28 9. Faktor Spiritual ......................................................................................... 35 PERPUSTAKAAN UMUKA
xii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Silaturahmi .................................................................................................. 25 2. Ekspor Kambing dan Domba ...................................................................... 32 PERPUSTAKAAN UMUKA
xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Kuesioner Tugas akhir .............................................................................. 45 2. Profil Responden....................................................................................... 46 3. Faktor Minat Usaha................................................................................... 47 4. 72 Al-Fath Farm........................................................................................ 48 5. 78 Farm ..................................................................................................... 48 6. Amanah Farm............................................................................................ 49 7. Amanah Gembel Farm.............................................................................. 49 8. Ayodya Farm............................................................................................. 50 9. Babussalam Farm...................................................................................... 50 10. Bakti Limar Farm...................................................................................... 51 11. Barokah Farm............................................................................................ 51 12. Bayu Farm................................................................................................. 52 13. Berkah Mendho Farm ............................................................................... 52 14. Berkah Ngarit Farm .................................................................................. 53 15. Bumiku Farm ............................................................................................ 53 16. Cahaya Sejahtera Farm ............................................................................. 54 17. Dwika Farm .............................................................................................. 54 18. EB Farm.................................................................................................... 55 19. Eka Husbandry Farm ................................................................................ 55 20. EL Farm .................................................................................................... 56 21. Griya Ternak Farm.................................................................................... 56 22. Gus Shor Farm .......................................................................................... 57 23. Jambul Domba Farm................................................................................. 57 24. Kandang Budi Luhur................................................................................. 58 25. Kandank Oewang...................................................................................... 58 26. Kurawa Farm ............................................................................................ 59 27. Malaka Farm............................................................................................. 59 PERPUSTAKAAN UMUKA
xiv 28. Merapi Farm.............................................................................................. 60 29. Nabalung Farm.......................................................................................... 60 30. Orientam Farm.......................................................................................... 61 31. Raindra Farm ............................................................................................ 61 32. Rizal Farm................................................................................................. 62 33. Sadar Muda Farm...................................................................................... 62 34. Santri Farm................................................................................................ 63 35. Sedana Farm............................................................................................. 63 36. Sekar Mendho Farm.................................................................................. 64 37. Sinatria Farm............................................................................................. 64 38. Surya Difa Farm........................................................................................ 65 39. SJ Farm ..................................................................................................... 65 40. Tawakal Farm............................................................................................ 66 41. Timang Multi Farm................................................................................... 66 42. Waskito Farm............................................................................................ 67 43. Zafaf Farm ................................................................................................ 67 44. Wawancara di Berkah Mendho Farm........................................................ 68 45. Wawancara di Rizal Farm......................................................................... 70 46. Riwayat Hidup .......................................................................................... 74 PERPUSTAKAAN UMUKA
xv PERPUSTAKAAN UMUKA
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan sumber daya manusia perlu dilaksanakan secara menyeluruh, terarah, dan terpadu di berbagai bidang, terutama yang mencakup bidang pendidikan, latihan, serta penyediaan lapangan kerja. Program pengembangan sumber daya manusia pada dasarnya diarahkan agar manusia mampu beradaptasi dengan lingkungan serta mampu aktif mengeksplorasi lingkungan. Pengembangan kemampuan intelektual, keterampilan dan kreativitas sangat diperlukan oleh setiap pelaku wirausaha, sehingga mereka mampu mandiri dan selalu berupaya meningkatkan etos kerja yang selanjutnya mereka dapat memperoleh kesempatan kerja atau membuka usaha sendiri (berwirausaha). Wirausaha merupakan salah satu pendukung yang menentukan maju mundurnya perekonomian, karena bidang wirausaha mempunyai kebebasan untuk berkarya dan mandiri. Wirausaha mampu menciptakan lapangan kerja atau menyerap tenaga kerja. Ricky W. Griffin mengemukakan bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) adalah pemikiran untuk pengelolaan usaha kecil (dalam Yuniarto, 2004). Pernyataan Griffin yang mengemukakan bahwa kewirausahaan terkait dengan pemikiran untuk pengelolaan usaha kecil dapat di mengerti karena kebanyakan wirausaha yang sukses memang memulai usahanya dari usaha kecil. Perkembangannya konsep kewirausahaan berlaku juga untuk pegelolaan usaha besar. Karena disadari ataupun tidak, dunia pendidikan pun sudah sejak lama menanamkan nilai-nilai kewirausahaan dengan mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah melalui program yang terkait dengan masyarakat dan UMKM (Yuniarto, 2004). Pilihan menjadi seorang pengusaha merupakan pilihan yang tepat saat ini sebab dengan berwirausaha berarti menyediakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan tidak perlu bergantung kepada orang lain. Apabila usahanya semakin maju, para pengusaha mampu membuka lapangan kerja bagi orang PERPUSTAKAAN UMUKA
2 lain. Saat ini para penganggur tak hanya berstatus lulusan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas saja, tetapi juga banyak sarjana yang menganggur. Badan Statistik Indonesia menyebutkan bahwa jumlah angkatan kerja tahun 2021 bertambah 1,93 juta orang dibanding tahun 2020. Meningkatkanya jumlah pengangguran diakibatkan bisa jadi karena pandemi covid-19 yang membuat banyak orang kehilangan pekerjaannya. Tingkat pengangguran terbuka mencapai 8,14 persen dengan jumlah angkatan kerja pada Bulan Agustus tahun 2021 sebesar 140,15 juta orang (BPS, 2021). Langkah awal untuk memulai sebuah usaha atau berwirausaha adalah adanya minat pada diri calon wirausahawan (Supriyono, 2006). Berdasarkan latar belakang pendidikannya Diploma 3 hingga Sarjana S1 diperkirakan memiliki minat untuk berwirausaha, hal ini disebabkan karena mereka memiliki kemampuan penalaran dan keterampilan yang memadai. Adanya minat berwirausaha akan menjadikan seseorang lebih giat mencari dan memanfaakan peluang usaha dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Minat tidak dibawa sejak lahir tetapi tumbuh dan berkembang sesuai dengan motivasi yang mempengaruhinya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Faktor Minatt Usaha Ternak Kambing Dan Domba Potong Bagi Generasi Milenial. Faktor tersebut yang nantinya akan memperkuat atau memperlemah minat generasi milenial dalam wirausaha, khususnya ternak kambing dan domba potong. Manfaat dari penelitian untuk mendapat gambaran dan informasi tentang Faktor Minat Usaha Ternak Kambing Dan Domba Potong Bagi Generasi Milenial yang saat ini sedang banyak ditekuni. Manfaat akademik diharapkan hasil penelitian dapat bermanfaat dalam pengembangan ilmu khususnya yang berfokus pada peternakan ternak kambing dan domba potong di Indonesia. Selain itu, diharapkan bisa menjadi acuan penelitian selanjutnya tentang Faktor Minat Usaha Ternak Kambing Dan Domba Potong Bagi Generasi Milenial yang keberadaanya terus dibutuhkan demi ketahanan pangan sumber hewani di Indonesia PERPUSTAKAAN UMUKA
3 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kambing dan Domba Potong Kambing merupakan keturunan liar yang berhasil dijinakkan. Kambing ini termasuk kambing yang mudah berkembang biak sehingga sebagai pilihan ternak kambing bibit cukup memadai. Karakterisktik karkasnya, kambing digolongkan kambing potong paling ideal, karena bentuk badan yang kompak dan serasi bahkan dinilai lebih unggul dari kambing potong Afrika. Kambing memiliki keistimewaan gangguan selama pertumbuhan kurang berarti , disamping itu pada tahap tertentu dari ketahanan hidup, Kambing memiliki respon yang menggembirakan terutama perlakuan (Murtijo,1993). Klasifikasi Kambing menurut Devendra dan Burn, 1994 adalah : Kingdom : Animalia Phylum : Chordata (hewan bertulang belakang) Class : Mammalia (hewan menyusui) Ordo : Artiodactyla (hewan berkuku genap) Family : Bovidae (memamah biak) Genus : Capra Species : Capra aegagrus Menurut Williamson dan Payne (1993), kambing peliharaan terdiri atas lima spesies yaitu Capra ibex, Capra Hircus, Capra Caucasica, Capra Pyrenaica, dan Capra Falconeri. Yasin dan Dilaga (1993), menyatakan bahwa Kambing mempunyai beberapa keunggulan seperti kemampuan kerja baik, daya reproduksinya yang tinggi, mampu tumbuh dan berkembang dalam kondisi lingkungan yang jelek, tahan penyakit, serta mempunyai persentase karkas tinggi dengan daging yang berkadar lemak rendah, merupakan modal masyarakat yang bernilai ekonomis tinggi dan disenagi petani peternak. PERPUSTAKAAN UMUKA
4 Kambing merupakan keturunan banteng liar yang mempunyai ciri-ciri fisik yaitu bentuk badan memanjang, dada dalam, badan padat, bertanduk, kepala agak pendek dan dahi yang lebar baik kambing jantan maupun betina tidak memiliki punuk, ciri-ciri khas yang membedakan Kambing dengan Kambing lainnya adalah adanya bulu warna putih pada bagian bawah keempat kakinya, bagian pantan dibawah ekor berbentuk oval atau lingkaran bibir atas dan bawah, ujung ekor serta bagian tepi dalamdaun telinga, serta adanya suatu garis hitam yang jelas pada punggung Kambing yang sering disebut garis belut (Bandini, 1997). Usaha peternakan Kambing potong di Indonesia sebagian besar merupkan peternakan rakyat dengan skala 1 - 6 ekor per rumah tangga petani peternak, hanya sebagian kecil saja peternakan kambing potong dikelola secara intensif skala besar. (Udiantono, 1993). Berbagai macam jenis kambing yang dipelihara oleh peternak di Indonesia antaranya adalah kambing Kacang, kambing Ettawa, kambing Peranakan Ettawa, kambing Jawa randu, kambing Boer, kambing Saenen dan kambing Marica (Atmojo, 2007) yang disitasi oleh Rini (2012) Domba diklasifikasikan sebagai hewan herbivora (pemakan tumbuhan) karena pakan utamanya adalah tanaman atau tumbuhan. Meski demikian domba lebih menyukai rumput dibandingkan dengan jenis pakan yang lainnya. Domba juga merupakan hewan mamalia karena menyusui anaknya. Sistem pencernaan yang khas di dalam rumen, menyebabkan domba juga digolongkan sebagai hewan ruminansia (Muttaqien, 2007). Menurut Sudarmono dan Sugeng (2011), secara umum ternak domba dikelompokkan menjadi domba tipe potong, wol dan dual purpose, yakni sebagai penghasil daging dan sekaligus penghasil wol. Klasifikasi domba menurut Blakely dan Bade (1992) adalah sebagai berikut : PERPUSTAKAAN UMUKA
5 Kingdom : Animalia Phylum : Chordata (hewan bertulang belakang) Class : Mammalia (hewan menyusui) Ordo : Artiodactyla (hewan berkuku genap) Family : Bovidae (memamah biak) Genus : Ovis Species : Ovis aries Domba asli Indonesia disebut dengan bangsa domba lokal. Ternak domba lokal memiliki beberapa keunggulan dan nilai ekonomis yang beragam diantaranya : 1. Daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan (termasuk terhadap pakan yang sangat jelek). 2. Menyukai hidup berkoloni sehingga memudahkan pengawasan. 3. Memiliki kemampuan reproduksi yang relatif tinggi. 4. Produk sampingan berupa kulit, bulu, tulang, dan kotoran ternak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industry 5. Populasi ternak domba cenderung mengalami peningkatan yang cukup tinggi (15,9 persen) yang merupakan ternak unggulan setelah kerbau (Abidin dan Sodiq, 2002). Potensi tersebut sangat cocok bagi petani kecil, yang merupakan pola usaha sambilan disamping usaha pokok pertanian. Perkembangan diarahkan pada usaha kecil (petani berpendapatan rendah) karena dalam sistem usaha tidak membutuhkan modal besar, disamping sistem usaha sangat tergantung pada sumber daya lokal (pakan tersedia) yang murah dan efisien. Program pengembangan ternak domba merupakan rekomendasi yang tepat untuk menciptakan sumber pendapatan petani yang terintegrasi dengan tanaman pangan yang saling mendukung (Diwyanto dan Handiwirawan, 2004). Berikut ini adalah jenis domba yang terkenal di indoesia adalah Domba Garut/Priangan, Domba Texel Wonosobo, Domba Ekor Tipis / Domba Gembel, Domba Ekor Gemuk (Domba Gibas), Domba Batur. PERPUSTAKAAN UMUKA
6 B. Generasi Milenial Konsep tentang generasi sudah cukup lama menjadi topik pembahasan, menurut Mannheim (1927), generasi adalah kelompok individu yang memiliki kesamaan dalam rentang usia dan pengalaman dalam mengikuti sebuah atau berbagai peristiwa sejarah penting dalam suatu periode waktu yang sama. Selanjutnya individu ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena mereka melewati masa sosio-sejarah yang sama. Lalu kemudian topik generasi ini dikembangkan oleh Strauss dan Howe (1991) yang mendefinisikan generasi sebagai kelompok dari semua orang yang lahir selama rentang waktu tertentu yang berkisar sekitar dua puluh tahun atau dalam suatu fase yang dimulai dari masa kanak-kanak, dewasa muda, usia pertengahan dan usia tua, yang kemudian memiliki sebuah kesamaan dalam sejarah, kepercayaan dan perilaku. Terdapat hal yang menarik dari pendapat Strauss dan Howe (1991 ; 1997) adalah terdapat kecenderungan setiap generasi akan cenderung menjadi oposisi generasi lainnya, hal ini dikarenakan setiap generasi akan mencoba untuk memperbaiki dan mengkompensasi atas apa yang mereka persepsikan terhadap generasi diatasnya atau generasi yang berkuasa saat itu, sehingga akan memunculkan sebuah siklus generasi. Menurut Strauss dan Howe (2000), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi sebuah generasi, antara lain: 1. Perceived membership Persepsi individu terhadap sebuah kelompok dimana mereka tergabung didalamnya, khususnya pada masa –masa remaja sampai dengan masa dewasa muda. 2. Common belief and behaviors Sikap terhadap keluarga, karir, kehidupan personal, politik, agama dan pilihan –pilihan yang diambil terkait dengan pekerjaan, pernikahan, anak, kesehatan, kejahatan. 3. Common location in history Perubahan pandangan politik, kejadian yang bersejarah, contohnya seperti: perang, bencana alam, yang terjadi pada masa –masa remaja sampai dengan dewasa muda. Hingga saat ini terdapat 3 generasi yang aktif didalam dunia kerja, mereka adalah Generasi Baby Boomer yang memiliki rentang kelahiran PERPUSTAKAAN UMUKA
7 ditahun 1943-1960, Generasi X yang memiliki rentang kelahiran ditahun 1961-1981 dan Generasi Millenial yang memiliki rentang kelahiran ditahun 1982-2000 (Strauss & Howe, 1991 ; 2000). Meskipun generasi Baby Boomer masih dianggap didalam angkatan kerja aktif saat ini namun pada kenyataannya saat ini generasi Baby Boomer telah memasuki masa pensiun, sehingga interaksi yang paling banyak terjadi di dunia kerja adalah antara generasi X dan generasi Millenial serta dalam beberapa tahun lagi Generasi Z mulai akan memasuki dunia kerja secara aktif. Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antar generasi ditempat kerja, seperti yang dirangkum oleh Mello (2015) antara lain : Tabel 1. Perbedaan antar generasi di tempat kerja Generasi Kontribusi Preferensi Kepemimpinan Kesesuaian yang Dicari Baby Boomers - Berorientasi tim - Pengalaman - Pengetahuan - Loyalitas - Kesetaraan - Demokratis - Kepribadian - Misi - Focus Hubungan ( keamanan, rekan kerja) Generasi X - Independen - Mudah beradaptasi - Kreatif - Ketidaksesuaian - Langsung - Kompeten - Informal - Fleksibel - Mendukung Pekerjaan ( tantangan, partisipasi, hasil) Generasi Y (Milenial) - Optimisme - Multitasking - Social - Bertanggung jawab - Beragam - Cerdas tehnologi - Positif - Mentor - Motivasi - Terorganisir Budaya (progresif, otonom, fleksibel, cepat) Sumber : Mello, 2015 Nama “Millenial” untuk sebutan generasi yang lahir di rentang kelahiran ditahun 1982-2000 (Strauss & Howe, 1991 & 2000) pertama kali PERPUSTAKAAN UMUKA
8 dicetuskan oleh Neil Howe dan William Strauss pada buku mereka di tahun 1991 yang berjudul “Generations: The History of America’s Future 1584- 2026”. Namun pada perkembangannya, ada beberapa nama lain yang juga sering disematkan kepada generasi Millenial, meskipun generasi ini lebih menyukai dipanggil sebagai generasi Millenial, seperti yang disampaikan oleh Strauss & Howe (2000) berdasarkan hasil polling yang dilakukan oleh abc.com dari ABC World News, seperti yang tertera pada tabel dibawah ini. Tabel 2. Nama Lain Generasi Millenial Nama lain Generasi Milenial 1. Generation Y 6. Generation 2000 2. Generation Why 7. Echo Boom 3. Generation Tech 8. Boomer Babies 4. Generation Next 9. Generation XX 5. Generation.com 10. “Don’t Label Us” Sumber : abc. Com, 2000 Penamaan diatas tentunya dimunculkan berdasarkan atas argumentasi yang muncul akibat karakter, perilaku dan sikap dari generasi millennial itu sendiri, terdapat banyak studi yang mencoba mengungkapkan seperti apa karakter, perilaku dan sikap dari generasi millennial sehingga menjadi pembeda terhadap generasi sebelumnya. C. Wirausaha Masyarakat ada banyak persepsi mengenai apa itu wirausaha, ada yang menganggap sebagai orang yang berhasil mengambil resiko, orang yang berani menghadapi ketidakpastian, orang yang membuat rencana kegiatan sendiri, atau orang yang menciptakan kegiatan usaha dan kegiatan industri yang sebelumnya tidak ada (Alma, 2010). Menurut Meredith PERPUSTAKAAN UMUKA
9 (Suryana dan Bayu, 2011), “wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan usaha mengumpulkan serta sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan kesuksesan”. Zimmerer, Scarborough, dan Wilson (2008) menyatakan bahwa: Wirausahawan adalah seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang signifikan dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan sehingga sumber daya-sumber daya itu bisa dikapitalisasikan. Suryana (2008) menyatakan bahwa “wirausaha adalah orang yang berani menghadapi risiko dan menyukaitantangan”. Kasmir (2011) juga mengungkapkan hal serupa bahwa “wirausahawan adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko membuka usaha dalam berbagai kesempatan”. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa wirausaha adalah orang yang mempunyai keberanian mengambil risiko untuk membuka usaha guna mencapai keuntungan. Seorang wirausaha akan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk dimanfaatkan dalam usahanya. Pengambilan keputusan menjadi wirausaha memiliki sisi positif dan negatif yang dapat disebut keuntungan dan kelemahan menjadi wirausaha. Menurut Alma (2010) keuntungan menjadi wirausaha adalah: 1. Terbuka peluang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki sendiri. 2. Terbuka peluang untuk mendemonstrasikan kemampuan serta potensi seseorang secara penuh.Terbuka peluang untuk memperoleh manfaat dan keuntungan secara maksimal. 3. Terbuka peluang untuk membantu masyarakat dengan usaha-usaha konkrit. 4. Terbuka kesempatan untuk menjadi bos. Ada beberapa kelemahan dalam berwirausaha. Kelemahan berwirausaha menurut Alma (2011) yaitu: 1. Memperoleh pendapatan yang tidak pasti, dan memikul berbagai risiko. PERPUSTAKAAN UMUKA
10 2. Bekerja keras dan waktu/jam kerjanya panjang. 3. Kualitas kehidupannya masih rendah sampai usahanya berhasil, sebab dia harus berhemat. 4. Tanggung jawabnya semakin sangat besar, banyak keputusan yang harus dia kurang menguasai permasalahan yang dihadapinya. D. Faktor – Faktor Minat Usaha Peternak Minat berawal dari rasa suka dan keterkaitan terhadap sesuatu yang muncul dalam diri seseorang karena dipengaruhi oleh berbagai hal, terutama pada sektor peternakan yang saat ini banyak sekali masyarakat yang berwirausaha di bidang tersebut. Sektor peternakan sangatlah penting demi kemajuan ekonomi masyarakat. Masyarakat dalam beternak pasti setiap individu mempunya alasan yang berbeda dalam melakukan usaha peternakan khususnya ternak kambing dan domba potong. Faktor dalam minat usaha terdapat dua hal yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang bersangkutan misalnya kepribadian karakter, pengalaman, sikap, motif, dan persepsi. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar misalnya lingkungan fisik, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan sosial atau masyarakat sekitar. Minat usaha di bidang peternakan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor menurut Crow & Crow (dalam Cahyo, 2010: 7-8): 1. Faktor Internal, yaitu suatu keinginan yang sifatnya berasal dari diri sendiri tanpa dipengaruhi keadaan diluar diri, sehingga menimbulkan dorongan untuk bertindak memenuhi keinginan tersebut. 2. Faktor External, yaitu suatu keinginan yang sifatnya apabila keinginannya tersebut dapat dicapai akan mendapat persetujuan dan akan diterima oleh lingkungan. PERPUSTAKAAN UMUKA
11 3. Faktor Emosi, berkaitan erat dengan perasaan senang, kegemaran, kepuasan yang melekat pada diri seseorang atau lebih dikenal dengan istilah hobi. 4. Faktor Spiritual, berkaitan erat dengan keagamaan. Alma (dalam Ermawati, 2016: ) berpendapat bahwa Faktor internal atau personal terdiri dari Kebutuhan akan Pendapatan, Harga Diri, dan Perasaan Senang sedangkan faktor eksternal atau lingkungan terdiri dari Keluarga, Lingkungan Masyarakat dan Peluang. Sedangkan menurut Fazrun, (2016: 81) faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha yaitu faktor intrinsik dan ekstrunsik. Faktor intrinsik adalah faktor-faktor yang timbul karena pengaruh dari dalam diri individu itu sendiri. Faktor intrinsik meliputi perhatian, kesenangan, dan motivasi. Faktor ekstrinsik adalah faktor yang timbul karena rangsangan atau dorongan dari luar diri individu atau lingkungan. Faktor ekstrinsik Faktor ekstrinsik meliputi aspek ekonomi, lingkungan keluarga, dan sekolah. Arini (2011: 26) menyimpulkan bahwa “minat berwirasusaha dibatasi dari faktor yang mempengaruhinya, yaitu perasaan senang, keinginan (motif), perhatian, lingkungan keluarga, lingkungan sekitar di mana dia tinggal atau lingkungan masyarakat serta pengalaman.” Mauludin (2009) mengemukakan bahwa faktor usaha peternak domba dan kambing potong yaitu suatu dorongan yang melatar belakangi peternak untuk berpartisipasi dalam pembangunan peternakan. Faktor usaha ini meliputi : faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. faktor intrinsik, indikatornya seperti : 1. Kebutuhan akan keberadaan yaitu kebutuhan peternak domba dan kambing potong akan pendapatan dari beternak domba dan kambing potong dan kondisi kerja yang memuaskan kondisi kerja meliputi prosedur kerja serta berbagai rencana dan program kerja. 2. Kebutuhan akan hubungan, yaitu kebutuhan peternak domba dan kambing potong akan hubungan interpersonal dengan masyarakat yang memuaskan. PERPUSTAKAAN UMUKA
12 3. Kebutuhan untuk berkembang, yaitu kebutuhan peternak domba dan kambing potong untuk memperoleh penghargaan dan pengakuan dari lingkungan yang memuaskan. 4. Kebutuhan untuk berprestasi, yaitu kebutuhan peternak domba dan kambing potong yang diperoleh dengan melakukan pekerjaan beternak dengan lebih giat, mengutamakan mutu hasil kerja, dan bekerja dengan cara lebih efisien dan efektif. Sedangkan faktor ekstrinsik, indikatornya seperti : 1. Informasi permintaan pasar, bahwa dorongan untuk beternak domba dan kambing potong karena informasi permintaan pasar terhadap hasil ternak domba dan kambing potong yang masih tinggi. 2. Memperoleh keuntungan, bahwa dorongan untuk beternak domba dan kambing potong untuk meperoleh keuntungan/ pendapatan yang cukup. 3. Keterjangkauan sapronak, bahwa sarana produk barang yang diinginkan peternak masih diperoleh dan harga sarana/ produk barang yang diinginkan masih mapu dibeli oleh peternak. Rivani (2004), mengemukakan bahwa faktor dalam usaha peternakan kambing dan domba potong dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1. Peranan Pemerintah, indikatornya adalah bantuan pemerintah, pelaksanaan program, dampak terhadap pendapatan, dan peningkatan populasi. 2. Nilai ekonomis ternak kambing dan domba potong, indikatornya adalah tabungan keluarga, pemanfaatan limbah sebagai pupuk, dampak terhadap pendapatan, dan harga jual ternak kambing dan domba potong. 3. Permintaan, indikatornya adalah permintaan di daerah sendiri, permintaaan dari luar daerah, permintaan pada saat hari raya, dan permintaan ternak dengan acara sosial budaya. 4. Luas Lahan, indikatornya adalah luas lahan yang dimilik PERPUSTAKAAN UMUKA
13 III. MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Usaha Ternak Kambing dan Domba Potong bagi Generasi Milenial dimedia sosial yaitu youtube yang dilakukan pada tanggal 29 maret 2022 - 28 Mei 2022. A. Materi Materi dalam penelitian yaitu : 1. Peternak kambing dan domba potong generasi milenial dengan jumlah responden 40 orang. Hal ini sesuai dengan pendapat, Menurut Cohen, et.al, (2007, hlm. 101) semakin besar sample dari besarnya populasi yang ada adalah semakin baik, akan tetapi ada jumlah batas minimal yang harus diambil oleh peneliti yaitu sebanyak 30 responden. Sebagaimana dikemukakan oleh Baley dalam Mahmud (2011, hlm. 159) yang menyatakan bahwa untuk penelitian yang menggunakan analisis data paling minimum adalah 30 responden. 2. Kuesioner 3. Alat bantu berupa alat tulis, alat komunikasi, dan alat dokumentasi B. Metode 1. Jenis dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah data kualitatif. Menurut Istijanto, 2005 Data kualitatif merupakan data yang tidak langsung berwujud angka, tetapi dalam bentuk konsep ataupun pengertian abstrak. Dalam hal ini data yang akan di gunakan sebagai alat analisis adalah data yang PERPUSTAKAAN UMUKA
14 berhubungan dengan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Usaha Ternak Kambing Dan Domba Potong Bagi Generasi Milenial yang bersumber di media sosial youtube. b. Sifat Penelitian Penelitian yang di laksanakan merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut M. Nazir (2011:54) metode deskriptif itu merupakan suatu metode yang digunakan untuk meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu system pemikiran, atau suatu peristiwa pada masa sekarang. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2010:3), menegaskan bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksud untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang gejala atau keadaan. 2. Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. a. Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan khusus. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil survei di media sosial youtube. Pemilihan kanal youtube memperhatikan beberapa kriteria antara lain : Generasi Milenial, jumlah ternak, jumlah Subscriber, dan lama beternak. b. Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh atau dicatat pihak lain) dan sifat saling melengkapi. Data sekunder berupa sumber pustaka yang dapat mendukung penulisan penelitian serta diperoleh dari literature yang relevan dari permasalahan, sebagai dasar pemahaman terhadap objek penelitian dan untuk menganalisis secara tepat. PERPUSTAKAAN UMUKA
15 3. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Metode pengumpulan data adalah bagian instrument pengumpulan data yang menentukan berhasil atau tidak suatu penelitian (Bungin, 2009). Dalam hal ini diperlukan adanya teknik pengambilan data yang dapat digunakan secara cepat dan tepat sesuai dengan masalah yang diselidiki dan tujuan penelitian, maka penulis menggunakan beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian ini, antara lain: a. Metode Observasi Observasi yaitu melakukan pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsung kepada peternak kambing dan domba potong generasi milenial yang bersumber di media sosial youtube dengan jumlah responden 38 dari jumlah 40 responden. b. Metode Wawancara Wawancara adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui interview langsung dengan responden yakni peternak kambing dan domba potong generasi milenial. Untuk memudahkan dalam proses wawancara digunakan kuesioner. Metode wawancara dilakukan, karena dalam tayangan video di youtube responden tidak menyebutkan faktor minat usaha dengan jumlah 2 responden yaitu Berkah Mendho Farm dan Rizal Farm. c. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain oleh subjek. Dokumentasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek PERPUSTAKAAN UMUKA
16 melalui suatu media tertulis dan dokumen lainnya yang ditulis atau dibuat langsung oleh subjek yang bersangkutan. Dengan metode ini, peneliti mengumpulkan data dari dokumen yang sudah ada, sehingga penulis dapat memperoleh catatan-catatan yang berhubungan dengan penelitian seperti : nama peternakan, usia milenial, faktor-faktor minat usaha, catatan-catatan, foto-foto dan sebagainya. Metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang belum didapatkan melalui metode observasi dan wawancara. Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau literatur yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, dan lain sebagainya (Arisusanto,2011). Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data-data penelitian, dengan mencatat semua keterangan dari bahan-bahan yang ada relefansinya dengan objek penelitian. pada jenis penelitian ini, penulis melengkapi dokumen yang mendukung tercapainya tujuan penelitian. Pengumpulan data pada metode dokumentasi ini menggunakan alat berupa Handphone. 4. Metode Analisis Data Teknik analasis data menggunakan model interaktif yaitu model analisis yang terdiri dari 2 orang secara langsung, terdiri dari 4 alur kegiatan, yaitu: data collecting (pengumpulan data), data reduction (redaksi data), data display (penyajian data), dan penarikan kesimpulan oleh peneliti. PERPUSTAKAAN UMUKA
17 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Karakteristik adalah ciri khas seseorang dalam meyakini, bertindak ataupun merasakan. Berbagai teori pemikiran dari karakteristik tumbuh untuk menjelaskan berbagai kunci karakteristik manusia (Boeree, 2009). Sedangkan Responden adalah orang-orang yang dimintai tanggapan dari pertanyaan yang telah terstruktur maupun semi-terstruktur untuk menjadi sumber data di dalam suatu penelitian. Artinya responden adalah sebagai sumber informasi untuk menunjang penelitian. Karakteristik responden adalah kriteria apa saja yang akan diberikan kepada subjek penelitian agar sumber informasi pada penelitian atau eksperimen tersebut dapat tertuju dengan tepat dan sesuai harapan Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2011), perilaku manusia dipengaruhi oleh 3 ( tiga ) faktor utama, yaitu faktor predisposisi (predisposing factor), faktor pemungkin (enabling factor), dan faktor penguat (reinforcing factor). Faktor predisposisi terdiri dari pengetahuan, tingkah laku, nilai, keyakinan, dan sosiodemografi. Sosiodemografi terdiri dari umur, jenis kelamin, status ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Faktor pemungkin terdiri dari ketrampilan dan sarana. Faktor penguat terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, termasuk juga disini undang-undang, peraturan peraturan baik dari pemerintah daerah maupun dari pusat. Karakteristik responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah diklasifikasikan berdasarkan umur, tingkat pendidikan, jumlah ternak, dan lama usaha responden. Berikut ini akan dibahas mengenai kondisi dari masing-masing klasifikasi responden tersebut. 1. Umur Umur merupakan waktu lamanya hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan) (Hoetomo, 2005). Umur merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pilihan dan perilaku seseorang terhadap sesuatu, baik berupa objek maupun pilihan dalam memutuskan sesuatu. PERPUSTAKAAN UMUKA
18 Pilihan seseorang terhadap suatu objek dapat mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia atau umurnya, pada saat pencapaian usia tertentu misalnya 50 tahun, 60 atau 65 tahun seorang pekerja pasti memasuki masa pensiun atau tidak produktif lagi. Tingkat umur responden setiap peternakan berbeda-beda, walaupun masih dalam golongan generasi milenial, maka dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok umur yang dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini: Tabel 3. Umur Responden No Responden Jumlah Persentase (%) 1 20-25 3 7,5 2 26-30 12 30 3 31-35 15 37,5 4 36-40 10 25 Total 40 100 Sumber : Hasil Data survei, 2022 Tabel 3, menunjukkan bahwa responden yang berumur 31 - 35 merupakan jumlah terbanyak yaitu sebanyak 15 orang (37,5%). Melihat kenyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa responden secara umum masih sangat aktif baik secara fisik maupun pemikiran dalam pengembangan usahanya. Hal ini berarti peternak masih berada pada usia produktif untuk menjalankan usaha/pekerjannya. Sependapat dengan Kurnia (2010), bahwa kisaran umur produktif adalah 15 – 64 tahun. Dilanjutkan kembali oleh Daniel (2004) bahwa umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja seseorang dalam klasifikasi umur dikenal adanya umur produktif dan non produktif. Seseorang berada pada umur produktif akan memberikan produktivitas yang lebih tinggi dari pada mereka yang berada di luar umur produktif. PERPUSTAKAAN UMUKA
19 2. Tingkat Pendidikan Tingkatan Pendidikan menurut Lestari dalam Wirawan (2016:3) adalah merupakan suatu kegiatan seseorang dalam mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk tingkah lakunya, baik untuk kehidupan masa yang akan datang dimana melalui organisasi tertentu ataupun tidak teroganisasi. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri nya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan ,akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan negara ( Republik Indonesia. 2003. UndangUndang No 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan. No 1. ).. Adapun tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Tingkat Pendidikan No Pendidikan Jumlah Persentase (%) 1 SMP 3 7,5 2 SMK/SMA 19 47,5 3 D3 3 7,5 4 S1/S2 15 37,5 Total 40 100 Sumber : Hasil Data survei, 2022 Berdasarkan tabel 4, bahwa Pendidikan responden yang tertinggi adalah SMA/SMK dengan jumlah 19 orang (47,5), melihat kenyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan masih rendah. Tetapi dalam penelitian ini responden dengan tingkat pendidikan S1 juga sudah tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak peternak dengan tingkat pendidikannya tinggi akan banyak pengalaman sehari-hari dan ini akan mempengaruhi tingkat pengetahuan yang baru. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2012), bahwa bagi sebagian orang pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti dari pada PERPUSTAKAAN UMUKA
20 pendidikan formal. Dikuatkan dengan pendapat Bayu (2019), bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang akan mempengaruhi cara berpikir, cara bertindak, cara berbicara, cara bergaul seseorang, semakin tinggi pendidikan seseorang akan membuat mental dalam diri akan terbentuk. 3. Jumlah Ternak Jumlah ternak dinyatakan sebagai populasi ternak yang hidup pada suatu wilayah pada periode waktu tertentu dan biasanya dinyatakan dalam tahun. Besarnya jumlah ternak dipengaruhi oleh berbagai penyebab antara lain : banyaknya pemotongan, kematian ternak, ekspor ternak, dan tinggi rendahnya natural increase. Seain faktor tersebut jumlah ternak juga. Untuk mengetahui jumlah ternak responden, maka dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok jumlah yang dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini: Tabel 5. Jumlah Ternak No Jumlah Ternak Jumlah Responden Persentase (%) 1 100-500 25 62,5 2 501-1000 14 35 3 1001-ke atas 1 2,5 Total 40 100 Sumber : Hasil Data survei, 2022 Berdasarkan Tabel 5, terlihat bahwa jumlah kepemilikan ternak kambing dan domba potong yang dimiliki oleh responden peternak kambing dan domba sangat beragam. Jumlah ternak 501-1000 merupakan yang paling tinggi dengan jumlah responden 14 orang (35%). Sesuai dengan pendapat Wijanarko (2013), bahwa kepemilikan ternak tersebut akan berpengaruh dengan jumlah penerimaan yang akan didapatkan, karena semakin banyak ternak yang dipelihara maka akan semakin besar pula penerimaan yang akan didapatkan oleh peternak. Tingkat pendapatan PERPUSTAKAAN UMUKA
21 (income level) adalah tingkat hidup yang dapat dinikmati oleh seorang individu atau keluarga yang didasarkan atas penghasilan mereka atau sumber-sumber pendatapan lain. Siregar (2007) menyatakan bahwa, semakin tinggi jumlah suatu jenis ternak akan semakin mudah mendapatkan jenis ternak tersebut. 4. Lama Usaha Lama usaha merupakan lamanya pedagang berkarya pada usaha perdagangan yang sedang di jalani saat ini (Asmie, 2008). Lamanya suatu usaha dapat menimbulkan pengalaman berusaha, dimana pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku (Sukirno, 1994). Lama pembukaan usaha dapat mempengaruhi omzet penjualan, lama seorang pelaku bisnis menekuni bidang usahanya akan mempengaruhi produktivitasnya (kemampuan profesionalnya/keahliannya), sehingga dapat menambah efisiensi dan mampu menekan biaya produksi lebih kecil dari pada hasil penjualan. Sedangkan menurut Butarbutar (2017). Pengaruh pengalaman berusaha terhadap omzet penjualan pedagang telah dibuktikan dalam penelitian Tjiptoroso (1993) maupun dalam studi yang dilakukan Swasono (1986). Untuk dapat mengetahui lama usaha beternak responden, maka dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok lama pada Tabel 6 dibawah ini : Tabel 6. Lama Usaha No Lama Usaha Jumlah Responden Persentase (%) 1 1-5 19 47,5 2 6-10 17 42,5 3 11- ke atas 4 10 Total 40 100 Sumber : Hasil Data survei, 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA
22 Tabel 6, menunjukkan bahwa lama beternak responden terbanyak adalah 6-10 tahun sebanyak 17 orang (42,5 %). Melihat lama beternak responden dapat bahwa lama beternak dapat mempengaruhi skala kepemilikan ternak. Sesuai dengan pendapat Suryana (2009), bahwa peternakan sebagai usaha sambilan, yaitu petani mengusahakan komunitas pertanian terutama tanaman pangan, sedangkan ternak sebagai usaha sambilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga (Subsisten). B. Faktor – Faktor Minat Usaha Peternak Minat usaha merupakan kunci pendorong moral, kedisiplinan dan prestasi kerja dalam beternak kanbing dan domba potong. Tingkat minat usaha diantara peternak berbeda-beda. Peternak dengan minat usaha tinggi diharapkan akan mengutamakan pekerjaannya dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan bertangung jawab. Minat usaha sebagai proses psikologis yang timbul diakibatkan oleh faktor dari dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrinsik atau faktor di luar diri yang disebut ekstrinsik, selain faktor intrinsik dan faktor ekstrintrinsik. Menurut Crow & Crow (dalam Cahyo, 2010: 7-8): terdapat faktor spritual yang berhubungan dengan keagamaan dan kebudayaan dan faktor emosi yang berhubungan erat dengan perasaan senang maupun rasa puas yang tidak berhubungan dengan pendapatan atau materials, sering dikenal dengan istilah hobi. Hasil penelitian terdapat 4 faktor minat usaha ternak kambing dan domba potong yang terdiri dari : - Minat usaha peternak kambing dan domba potong (Intrinsik). - Minat usaha peternak kambing dan domba potong (Ekstrinsik). - Minat usaha peternak kambing dan domba potong (Spiritual). - Minat usaha peternak kambing dan domba potong (Emosi). Hasil penelitian dari keempat minat usaha peternak kambing dan domba potong diatas terdapat berbagi sub jenisnya yang dapat dijelaskan sebagai berikut : PERPUSTAKAAN UMUKA
23 1. Minat usaha peternak kambing dan domba potong (Intrinsik). Menurut Crow & Crow (dalam Cahyo, 2010: 7-8), Faktor Intrinsik adalah suatu keinginan yang sifatnya berasal dari diri sendiri tanpa dipengaruhi keadaan diluar diri, sehingga menimbulkan dorongan untuk bertindak memenuhi keinginan tersebut. Faktor Intrinsik murni dari diri dalam jiwa sebuah pemilik peternak kambing dan domba potong yang muncul tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Hasil penelitian dari faktor intrinsik dapat dilihat pada tabel 7 dibawah : Tabel 7. Faktor Intrinsik No Intrinsik Jumlah Responden Persentase (%) 1 Nilai Ekonomis 27 51,92 2 Tali Silaturahmi 9 17,31 3 Keterampilan 7 13,46 4 Usia 5 9,62 5 Prestasi 4 7,69 Total 52 100 Sumber : Hasil Data survei, 2022 1. Nilai Ekonomis Berdasarkan Tabel 7, terdapat 27 responden (51,92%) yang berpendapat bahwa nilai ekonomis salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak kambing dan domba potong. Ternak kambing dan domba potong menjadi primadona sebuah bisnis usaha yang sangat diminati oleh generasi milenial karena keuntungan nilai ekonomis yang menjanjikan yang dapat meningkatkan kesejahteraan peternakan. Ternak kambing dan domba potong semuanya dapat menghasilkan nilai ekonomis mulai dari daging, kulit, hingga kotoran dapat menghasilkan nilai ekonomis. Keuntungan ekonomis dapat ditekan dengan majunya tehnologi peternakan yang semakin modern, sehingga beternak semakin cepat dalam mendapatkan sebuah keuntungan. PERPUSTAKAAN UMUKA
24 Muljana (2001), menyatakan bahwa beternak kambing dan domba potong sebenarnya banyak keuntungannya bila dibandingkan dengan kemungkinan kerugian yang diderita. Dikuatkan dengan pendapat Rivani (2004) Mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi motivasi peternak melakukan usaha pemeliharaan ternak kambing dan domba yaitu nilai ekonomis dari ternak kambing dan domba potong tersebut, yaitu menambah pendapatan dan kesejahteraan keluarga. 2. Menambah Tali Silaturahmi/Persaudaraan Berdasarkan Tabel 7, responden yang berpendapat bahwa salah satu minat usaha ternak kambing dan domba potong karena dalam peternakan dapat juga menambah tali silaturahmi persaudaraan antar sesama manusia, dengan jumlah 9 responden (17,31%). Selain itu, dengan silaturahmi dapat menambah ilmu tentang dunia peternakan khususnya dunia peternakan kambing dan domba potong. Menambah silaturahmi sesuai dengan ayat dibawah ini: َواتَّقُوا هّٰللاَ لَ ْم ْصلِ ُح ْوا بَيْ َن اَ َخ َويْكُ ْو َن اِ ْخ َوةٌ فَاَ ُم ْؤ ِمنُ ْ ُم ْو َن َما ال ْر َح اِنَّ ْم تُ كُ َّ عَل Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat: 10) Silaturahmi juga akan menambah rezeki dan dipanjangkan umurnya. Sesuai dengan hadis berikut ini : “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi,” (HR. Bukhari – Muslim). Beternak memang tidak hanya mencari uang saja, namun dalam dunia peternakan khususnya domba dan kambing potong juga mempunyai sebuah perkumpulan dimana semua anggota bersama-sama membangun ketahanan pangan nasional, seperti Himpunan Peternakan Kambing dan Domba indonesia (HPDKI) yang tersebar diberbagai provinsi dan daerah. PERPUSTAKAAN UMUKA
25 Gambar 1 : Silaturahm 3. Keterampilan Berdasarkan Tabel 7, terdapat 7 responden (13,46%) yang berpendapat bahwa keterampilan salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan yang yang sudah adala dalam jiwa seorang peternak tersebut. Keterampilan yang ada dalam jiwa seseorang berbeda-beda, maka keterampilam yang dimiliki harus dikembangkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bayu 78 Farm (2022), bahwa keterampilan yang kamu miliki harus kamu kembangkan agar kehidupanmu sukses dikemudian kelak. Dikuatkan oleh, Bambang Wahyudi (2012), bahwa keterampilan adalah kecakapan atau keahlian untuk melakukan suatu pekerjaan yang hanya diperoleh dalam praktek. Keterampilan dapat dikatakan untuk mengubah kehidupan seseorang kearah yang lebih baik lebih bermanfaat. Seperti dalam (QS. Ar-Ra’d: 11)“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Sungguh begitu indahnya ciptaan tuhan karena setiap manusia diberi keterampilan yang dapat kita kembangkan untuk kearah lebih baik. Sesuatu yang ada pada diri kita terutama cara berpikir kita harus gunakan agar suatu saat ilmu keterampilan yang kita miliki dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain PERPUSTAKAAN UMUKA
26 4. Umur Berdasarkan Tabel 7, terdapat 5 responden (9,62%) yang berpendapat bahwa umur/usia salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak. Umur merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pilihan dan perilaku seseorang terhadap sesuatu, baik berupa objek maupun pilihan dalam memutuskan sesuatu. Umur merupakan faktor penting dan sebuah usaha, karena produktivitas seseorang diukur dari umur. Sesuai dengan pendapat Daniel (2004), bahwa umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja seseorang dalam klasifikasi umur dikenal adanya umur produktif dan non produktif. Seseorang yang berada pada umur produktif akan memberikan produktivitas yang lebih tinggi dari pada mereka yang berada di luar umur produktif. Kategori umur yang dimaksud dalam generasi milenial adalah umur 20 - 40 tahun. Sesuai dengan pendapat Menurut Haroviz (2012), bahwa generasi Y atau yang disebut sebagai generasi millenial adalah sekelompok anak-anak muda yang lahir pada awal tahun 1980 hingga awal tahun 2000. Selain itu umur juga mempengaruhi kemajuan tegnologi,khususnya dunia peternakan, karena kemampuan umur generasi milenial sangat cepat dalam menangkap kemajuan tegnologi informasi. Sesuai dengan pendapat Choi et al (dalam Onibala, 2017), bahwa generasi milenial lebih fleksibel terhadap hal-hal yang baru dan segala kemungkinan yang mungkin terjadi, sehingga sering digambarkan sebagai generasi yang sangat nyaman dengan perubahan. 5. Prestasi Berdasarkan Tabel 7, responden yang berpendapat bahwa salah satu minat usaha ternak kambing dan domba potong adalah prestasi dengan jumlah 9 responden (17,31%). Prestasi yang dimaksud adalah prestasi dalam peternakan kambing dan domba potong seperti prestasi dalam kejuaraan kontes ternak, prestasi dalam menemukan tegnologi PERPUSTAKAAN UMUKA
27 terbaru dalam peternakan seperti penemuan pakan, pemanfaatan limbah ternak yang belum ada sebelumnya, bahkan penemuan-penemuan manajemen peternakan pun bisa dikatakan sebagai prestasi. Menurut Muhibbin Syah 17, Prestasi adalah tingkat keberhasilan peternak mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program yang telah ditetapkan atau dirancang sebelum memulai usaha. Prestasi itu tidak mungkin dicapai oleh seseorang selama tidak melakukan kegiatan dengan sungguh-sungguh. Tujuan beternak untuk mencapai sebuah prestasi tentu berbeda beternak dengan tujuan mencari keuntungan. Perbedaan dapat diketahui dari diri peternak, dimana seorang peternak yang mempunyai tujuan untuk berprestasi harus berpikir, bertindak secara modern guna untuk menemukan berbagai hal yang baru dalam dunia peternakan. Di zaman yang serba modern ini sebagai peternak mau tidak mau harus dituntut untul lebih kreatif dan inovatif dalam peternakan, karena setiap perbedaan waktu tegnologi dalam peternakan akan semakin berubah. Hal itu bisa dikarenakan dari sifat ternak, seperti yang dikatakan oleh Owner Rizal Farm (2021), bahwa sifat ternak, khususnya kambing dan domba tipe ternak yang mudah bosan. Oleh karena itu tuntukan untukkreatif dan inovatif sangat diperlukan guna untuk mencapai prestasi terbaik dalam dunia peternakan, khususnya kambing dan domba potong. 2. Minat usaha peternak kambing dan domba potong (Ekstrinsik). Menurut Crow & Crow (dalam Cahyo, 2010: 7-8), Faktor Ekstrinsik adalah suatu keinginan yang sifatnya apabila keinginannya tersebut dapat dicapai akan mendapat persetujuan dan akan diterima oleh lingkungan masyarakat,bahkan badan negara yang bersangkutan. Faktor ekstrinsik bisa berasal dari lingkungan masyarakat, lingkungan antar sesama peternak, sebuah kenyataan yang terlihat jelas dalam peternakan yang dapat mempengaruhinya (Bayu 78 Farm, 2022). Hasil penelitian dari unsur ekstrinsik dapat dilihat pada tabel dibawah ini: PERPUSTAKAAN UMUKA
28 Tabel 8. Faktor Ekstrinsik No Ekstrinsik Jumlah Responden Persentase (%) 1 Pakan 36 27,48 2 Permintaan Pasar 25 19,08 3 Luas Lahan 24 18,33 4 Lapangan Pekerjaan 15 11,45 5 Mengurangi Impor 10 7,63 6 Peran Pemerintah 9 6,87 7 Manajemen Mudah 8 6,11 8 Modal Kecil 4 3,05 Total 131 100 Sumber : Hasil Data survei, 2022 1. Pakan Pakan merupakan salah satu faktor minat usaha ternak kambing dan domba bagi generasi milenial yaitu dengan jumlah responden 36 orang (27,48%). Alasan memilih pakan sebagai salah satu faktor minat usaha karena dalam dunia peternakan pakan adalah kunci dalam keberhasilan peternakan, karena hampir 70 % pengeluaran adalah di pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (2007), yang menyatakan bahwa pakan merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi produktivitas ternak yang dapat mencapai 60-70% dalam pemeliharaannya. Dilanjutkan dengan pendapat Siregar (1995) dalam usaha peternakan efisiensi penggunakan pakan, harga input dan output memegang peranan penting dalam kelangsungan usaha peternakan yang menguntungkan. Ketersediaan pakan juga merupakan alasan responden dalam berpendapat. Ketersediaan pakan di indonesia sangat melimpah pada saat hujan, akan tetapi akan mengalami kekurangan pada musim kemarau. Ketersediaan pakan perlu diperhatikan karena peranannya sangat penting, serta kandungan nutrisi yang diberikan harus sesuai dengan jenis dan umur ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (1993), yang PERPUSTAKAAN UMUKA
29 menyatakan bahwa pakan bagi ternak kambing dan domba sangatlah penting dilihat dari sudut nutrisi merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam menunjang kesehatan, pertumbuhan dan reproduksi ternak. Alasan lain, karena jenis-jenis pakan yang sangat beraneka ragam seperti hujauan dan pakan penguat yang mudah dijumpai. Sependapat dengan Sarwono (2007) bahwa jenis pakan kambing dan domba ada dua macam, yaitu pakan pokok yang terdiri dari hijauan (rumput, legum, dan limbah pertanian) dan penguat (suplemen, konsentrat, dan pakan tambahan). Kebutuhan nutrisi kambing dan domba berbeda-beda sesuai dengan kondisi umur, status fisiologi, dan tingkat produktivitasnya. 2. Permintaan Pasar Sebuah usaha bisnis usaha pasar adalah kuncinya, karena semua pemasukan terdapat didalamnya. Berdasarkan tabel 14, permintaan pasar sangat mempengaruhi faktor minat usaha ternak kambing dan domba potong dengan jumlah 25 responden (19,08%). Permintaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi motivasi peternak kambing dan domba potong dalam usaha peternakan, karena ternak kambing dan domba potong tersebut mempunyai manfaat bagi masyarakat untuk digunakan pada berbagai acara keagamaan, antara lain acaran syukuran kelahiran bayi, acara kematian, hewan kurban pada hari raya Idul Adha yang cukup laris karena harga yang lebih murah di bandingkan denga ternak sapi. Pada hari raya keuntungan bsa mencapai 2 kali lipat pada hari-hari biasa. Hal ini sesuai dengan pendapat Rivani (2004), Mengemukakan bahwa permintaan ternak kambing dan domba potong berpengaruh terhadap motivasi peternak dalam usaha peternakan kambing dan domba potong. Penelitian ini sejalan dengan pendapat Anonim, (2011) mengemukakan bahwa permintaan kambing untuk konsumen PERPUSTAKAAN UMUKA
30 khususnya seperti restauran dan hotel-hotel masih dipenuhi oleh impor. Hal ini disebabkan daging kambing dan domba potong dalam negeri kurang sesuai untuk masakan yang dikehendaki oleh restauran dan hotel tersebut. 3. Luas Lahan Berdasarkan Tabel 8, terdapat 24 responden (18,33%) yang berpendapat bahwa luas lahan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak kambing dan domba potong. Luas lahan yang dimaksud pada penelitian ini adalah luas lahan hijauan pakan ternak, luas lahan untuk penggembalaan terrnak, dan luas lahan kandang. Banyaknya lahan yang digunakan dalam usaha peternakan di sebabkan karena banyaknya peternak yang tidak mau bercocok tanam lagi, hal ini disebabkan karena adanya peternak yang kerjaan pokoknya bertani diahlihkan keusaha salah satunya beternak. Sehingga lahan yang dimiliki oleh peternak hanya ditanami hijauan pakan ternak serta tempat pengembalaan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurtang (2011) mengemukakan bahwa luas lahan mempunyai pengaruh terhadap usaha peternakan. Selanjutnya Saleh (2004), yang mengemukakan bahwa karena pentingnya peranan lahan atau tanah dalam kehidupan manusia, maka ketersediaan juga jadi terbatas. 4. Lapangan Pekerjaan Berdasarkan Tabel 8, terdapat 15 responden (11,45%) yang berpendapat bahwa membuka lapangan pekerjaan salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak kambing dan domba potong. Alasan tersebut karena pada saat covid-19 melanda, banyak sekali tenaga kerja yang di PHK yang dapat menambah angka pengangguran, maka salah satu usaha yang bisa membuka lapangan pekerjaan adalah beternak kambing dan domba potong. Maka tidak heran banyak sekali kaum muda yang rela mengluarkan uang untuk belajar peternakan khususnya ternak kambing domba potong. Menurut Sandiaga Uno Menteri Pariwisata dan PERPUSTAKAAN UMUKA
31 Ekonomi Kreatif (2020) mengatakan bahwa Pemerintah juga mengenjarkan sebauh program industri kreatif yang dapat menekan angka pengangguran di Indonesia. Generasi Mlenial sejak dini harus diajarkan untuk menciptakan sebuh lapangan pekerjan, bukan diajarkan untuk mencari pekerjaan. Menurut Badan Pusat Statistik (2022), bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2022 sebesar 5,83 persen, turun sebesar 0,43 persen poin dibandingkan dengan Februari 2021 dan Penduduk yang bekerja sebanyak 135,61 juta orang, naik sebanyak 4,55 juta orang dari Februari 2021. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar adalah sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan (0,37 persen poin). Artinya usaha ternak kambing dan domba adalah salah satu usaha yang bisa mengurangi angka penggangguran dan membuka lapangan pekerjaan bagi generasi milenial saat ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumarsono (2009), bahwa kesempatan kerja yang dapat diciptakan oleh suatu perekonomian tergantung pada pertumbuhan dan daya serap masing-masing sektor. 5. Mengurangi Impor Berdasarkan Tabel 8, terdapat 10 responden (7,63%) yang menganggap bahwa mengurangi nilai impor daging kambing dan domba salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak kambing dan domba potong. Peternak terpacu oleh gerakan pemerintah untuk stop impor, khususnya daging kambing dan domba potong yang mungkin saat ini mungkin sudah berhasil karena angka impor sudah menurun. Peternak termotivasi dengan gerakan ekspor daging kambing dan domba potong demi kemajuan bangsa. Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal – Kementerian Pertanian (2020), bahwa Angka impor daging domba dan kambing terjadi pada tahun 2009 sampai 2018 cukup signifikan yaitu sebesar 2,01 ribu ton dan diproyeksi selama tahun 2019 PERPUSTAKAAN UMUKA
32 hingga 2023 Indonesia akan mengalami surplus produksi daging domba dan kambing yang cenderung mengalami kenaikan. Setidaknya ada 4 hal yang perlu dipersiapkan, yaitu dari sisi peternak, lembaga pembiayaan, peran Badan Usaha Milik Negara dan peran pemerintah. Keempat stakeholder utama ini perlu menjalin sinergi agar dapat menggarap pasar ekspor domba dan kambing, tetapi ketersediaan untuk kebutuhan dalam negeri juga masih terjaga agar program ekspor daging domba dan kambing bisa terlaksana dengan baik. Gambar 2. Ekspor domba dan kambing 6. Peranan Pemerintah Berdasarkan Tabel 8, terdapat 9 responden (6,87%), yang berpendapat bahwa peranan pemerintah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak kambing dan domba potong. Peranan pemerintah terhadap dunia peternakan yaitu pemberian penyuluhann bantuan tegnologi peternakan ,pemberian bibit, serta bantuan tenaga teknis yang secara gratis, seta memudahkan dalam menjual hewan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Rivani (2004) bahwa peranan pemerintah sangat berpengaruh terhadap motivasi peternak khususnya kambing dan domba untuk mengembangkan skala usaha peternakan. Adanya Partisipasi pemerintah terhadap peternak dapat mendorong semangat para peternak untuk beternak khususnya kambing dan domba. Hal ini sesuai dengan pendapat Hambali (2005), mengemukakan bahwa peranan pemerintah dalam PERPUSTAKAAN UMUKA
33 membangun peternakan danmeningkatkan kesejahteraan masyarakat yaitu harus mendorong atau memberi motivasi para peternak untuk lebih semangat dalam berternak. Menteri Pertanian syahrul Yasin Limpo SH, M.Si, MH (2021) menyatakan dalam mewujudkan kemandirian pangan berbasis agribisnis rakyat terus bergulir melalui berbagai program unggulan subsektor peternakan. Menyasar peternakan rakyat, pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas ternak dengan memperkuat sistem pemeliharaan dan manajemen peternakan secara umum. Berbagai aspek menjadi titik pengendalian program, diantaranya adalah peningkatan kulitas pakan, bibit, kesehatan hewan, pengendalian pemotongan betina produktif dan pasca panen dan pengolahan produk asal hewan serta manajemen usaha agar tercipta ketahanan pangan hewani yang cukup. 7. Manajemen Mudah Manajemen dalam sebuah peternakan adalah hal yang penting. Berdasarkan Tabel 8, terdapat 8 responden (6,11%) yang berpendapat , bahwa manajemen dalam peternakan kambing dan domba potong adalah salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha. Manajemen merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengorganisasian sehingga dapat dilakukan pengendalian dan pengawasan untuk mencapai tujuan tertentu. Manajemen yang dimaksud adalah manajemen pemeliharaan dari ternak kambing dan domba potong yang mudaha dipelajari dengan kasat mata dan mudah dipelajari lewat media sosial. Manajemen yang dimaksud oleh peternak adalah kelebihan yang dimiliki oleh kambing dan domba potong yang sangat mudah dipelihara karena pertumbuhan, ukurannya kecil dan prospek keuntungan sangat menyakinkan. Sependapat bahwa Pemeliharaan kambing dan domba potong lebih mudah dilakukan daripada ternak ruminansia besar lainnya, kambing dan domba cepat berkembangbiak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat, menurut Sarwono (2010), nilai ekonomi, sosial, dan PERPUSTAKAAN UMUKA
34 budaya beternak kambing dan domba sangat baik, dijelasakan lebih lanjut besarnya nilai sumber daya bagi pendapatan keluarga peternak bisa mencapai 14-25 % dari total pendapatan keluarga dan semakin rendah tingkat per luasan lahan pertanian, semakin besar nilai sumber daya yang diusahakan dari beternak kambing dan domba. Dilanjutkan dengan pendapat Atmojo ( 2007), bahwa hal ini disebabkan ternak kambing dan domba potong memiliki beberapa kelebihan dan potensi ekonomi antara lain tubuhnya relatif kecil, cepat mencapai dewasa kelamin, pemeliharaannya relatif mudah, tidak membutuhkan lahan yang luas, investasi modal relatif kecil, mudah dipasarkan sehingga modal usaha cepat berputar. 8. Modal Kecil Berdasarkan Tabel 8, terdapat 4 responden (3,05%) yang berpendapat bahwa modal kecil merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak kambing dan domba potong.Modal yang dimaksud bukanlah hanya sebuah uang, akan tetapi dapat berwujud ternak kambing dan domba potong yang dapat dikembangkan yang semula hanya satu atau dua ekor dalam beberapa tahun bisa berkembang jumlahnya, Modal dalam sebuah usaha ternak kambing dan domba potong adalah hal yang penting, karena keberadaanya sangat diperlukan. Usaha tanpa modal tidak akan ada sebuah usaha tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa Yang menjadi persoalan disini bukanlah penting atau tidaknya modal, karena keberadaanya memang sangatlah diperlukan, akan tetapi bagaimana mengelola modal secara optimal sehingga bisnis yang di jalankan dapat berjalan lancar (Amirullah: 2005:7). Modal dalam usaha sebuah peternakan biasanya digunakan untuk membeli bibit ternak, membeli pakan, obat-obatan, serta sarana dan prasarana lainnya. Dengan analisis usaha yang baik diharapkan dengan modal tersebut bisa menimbulkan keuntungan sebuah usaha PERPUSTAKAAN UMUKA
35 peternakan dan dapat mendapat acuan apakah usaha tersebut layak diteruskan atau tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa kelayakan adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha yang akan dijalankan untuk menentukan layak atau tidaknya suatu usaha dijalankan (Kasmir & Jakfar, 2012). 3. Minat usaha peternak kambing dan domba potong (Spiritual). Usaha peternakan yang mengusung konsep spiritual pada umumnya sangat jarang diketahui oleh semua pihak, setiap langkah usaha yang dijalankan, terilhami nilai keagamaan yang melekat pada tiap-tiap pemilik peternakan. Jadi, usaha tak hanya menyangkut tujuan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya, tetapi sebagai bentuk ikhtiar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi di mata Tuhan. Hasil penelitian faktor spiritual dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 9. Faktor Spiritual No Spiritual Jumlah Responden Persentase (%) 1 Memberi Manfaat dan Keberkahan 17 51,52 2 Usaha Nabi 9 27,27 3 Warisan 7 21,21 Total 33 100 Sumber : Hasil Data survei, 2022 1. Memberi Manfaat dan Keberkahan Berdasarkan Tabel 9, terdapat 17 responden (51,52%) yang berpendapat bahwa beternak kambing dan domba potong dapat memberi keberkahan dan manfaat kepada sesama manusia adalah salah satu faktor yang mempengaruhi minat usaha dalam beternak. Keberkahan dan manfaat karena pada ternak kambing dan domba potong terdapat berbagai macam kebaikan dari segi ekonomi dan agama. Daging kambing dan domba potong memilik keberkahan, artinya PERPUSTAKAAN UMUKA