The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Karanganyar, 2024-02-04 22:25:38

Muhammad Bagus Shodiqin_192116

Muhammad Bagus Shodiqin_192116

Keywords: ayam ras peteur,generasi milenial,kajian keberhasilan usaha

KAJIAN KEBERHASILAN USAHA TERNAK AYAM RAS PETELUR PADA GENERASI MILENIAL LAPORAN TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH : MUHAMMAD BAGUS SHODIQIN NPM. 192116 PROGRAM STUDI D3 PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA


ii KAJIAN KEBERHASILAN USAHA TERNAK AYAM RAS PETELUR PADA GENERASI MILENIAL DISUSUN OLEH : MUHAMMAD BAGUS SHODIQIN NPM. 192116 LAPORAN TUGAS AKHIR Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiyah Karanganyar PROGRAM STUDI D3 PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA


iii SURAT PERNYATAAN KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI LAPORAN TUGAS AKHIR Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Muhammad Bagus Shodiqin NPM : 192116 Dengan ini menyatakan sebagai berikut : 1. Karya ilmiah yang berjudul : Kajian Keberhasilan Usaha Ternak Ayam Ras petelur Pada Generasi Milenial dan penelitian yang terkait dengan karya ilmiah ini adalah hasil kerja karya sendiri. 2. Setiap ide dan kutipan dari orang lain berupa publikasi atau bentuk lainnya dalam karya ilmiah ini telah diakui sesuai dengan standar prosedur disiplin ilmu serta bukan merupakan tiruan atau plagiasi dari karya orang lain. 3. Saya juga mengakui karya ilmiah ini dapat dihasilkan berkat bimbingan dan dukungan penuh pembimbing saya yaitu : Ir. Dr. Diwi Acita Irawati, MP Karanganyar, 12 Juli 2022 Muhammad Bagus Shodiqin PERPUSTAKAAN UMUKA


iv KAJIAN KEBERHASILAN USAHA TERNAK AYAM RAS PETELUR PADA GENERASI MILENIAL DISUSUN OLEH : MUHAMMAD BAGUS SHODIQIN NPM. 192116 LAPORAN TUGAS AKHIR Telah Disetujui untuk Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Karanganyar Persetujuan Pembimbing Pembimbing Dr. Ir. Diwi Acita Irawati, MP NIP. 19670621 199303 2 002 PERPUSTAKAAN UMUKA


v KAJIAN KEBERHASILAN USAHA TERNAK AYAM RAS PETELUR PADA GENERASI MILENIAL DISUSUN OLEH : MUHAMMAD BAGUS SHODIQIN NPM. 192116 LAPORAN TUGAS AKHIR Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Karanganyar dan Diterima untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan Pada Hari : Selasa Tanggal : 12 Juli 2022 Mengesahkan : Dekan Drs. Sujalwo, M.Kom NIK.2022 004 Dewan Penguji Dr. Ir. Diwi Acita Irawati, M. P NIP. 19670621 199303 2002 Ir. Nur Endang Sukarini, M. P NIP. 19590616 199303 2 001 Ardian Ozzy Wianto, S.pt, M.Si NIDN. 0610099301 PERPUSTAKAAN UMUKA


vi MOTTO “ Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran “. PERPUSTAKAAN UMUKA


vii PERSEMBAHAN Karya ini dipersembahkan, kepada : Tuhan Yang Maha Esa “Allah SWT” Bapak dan Ibu tercinta, Saudaraku tersayang, Sahabat-sahabatku tercinta, Rekan-rekan seangkatan, Dan almamater tercinta PERPUSTAKAAN UMUKA


viii RINGKASAN Penelitian dengan judul “Kajian Keberhasilan Usaha Ternak Ayam Ras Petelur Bagi Generasi Milenial” ini dilakukan mulai tanggal 15 Mei 2022 - 11 Juni 2022 dilakukan menggunakan media sosial youtube dengan jumlah respoden 30 orang dengan kriterian keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur kapasitas diatas 500 ekor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada generasi milenial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbentuk deskriptif atau menggambarkan fenomena atau fakta penelitian secara apa adanya. Dilakukan dengan metode survei di media sosial youtube, dikarenakan jarak yang cukup jauh dari ternak satu dengan lainnya, dan ingin menjaring lebih luas terhadap keberhasilan peternak milenial yang ada do Indonesia. Perolehan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi konten youtube. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 10 faktor yang ditemukan dalam konten youtube tersebut yang mempengaruhi keberhasilan usaha pada generasi milenial, 10 faktor yang mempengaruhi meliputi : biosekuriti dan pengendalian penyakit (15,57%), motivasi usaha (14,75%), perkandangan (13,11%), pemberian pakan dan minum (13,11%), tingkat pengetahuan (12,30%), relasi/persaudaraan (11,48%), pemasaran (9,02%), pemilihan bibit (4,10%), seleksi ayam (3,28%), limbah (3,28%). Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat kesimpulan yaitu ada 10 faktor yang ditemukan dalam konten youtube yang mempengaruhi keberhasilan usaha dan terdapat 6 faktor utama meliputi biosekuriti dan pengendalian penyakit (15,57%), motivasi usaha (14,75%), perkandangan (13,11%), pemberian pakan dan minum (13,11%), tingkat pengetahuan (12,30%), dan relasi/persaudaraan (11,48%). Adalah keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur bagi generasi milenial. Kata Kunci : Ayam Ras Petelur, Generasi Milenial, dan Kajian PERPUSTAKAAN UMUKA Keberhasilan Usaha.


ix KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan petunjuk-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan Laporan Tugas Akhir guna memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan sebutan professional Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiyah Karanganyar. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 1. Rektor Universitas Muhammadiyah Karanganyar. 2. Dekan Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar, yang telah menyetujui atas permohonan penulisan Laporan Tugas Akhir. 3. Dr. Ir. Diwi Acita Irawati, MP sebagai pembimbing, yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan, sehingga Penulisan Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. 4. Orang tua yang memberikan semangat dan bantuan material. 5. Rekan satu kelompok atas kerjasamanya, serta semua pihak yang telah membantu dan melaksanakan tugas akhir. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan Tugas akhir ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan laporan tugas akhir ini. Karanganyar, 12 Juli 2022 Muhammad Bagus Shodiqin PERPUSTAKAAN UMUKA


x DAFTAR ISI Isi Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PENJELASAN .......................................................................... ii HALAMAN SURAT KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI ...................... iii HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ iv HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... v MOTTO ........................................................................................................... vi PERSEMBAHAN ........................................................................................... vii RINGKASAN ................................................................................................. viii KATA PENGANTAR ..................................................................................... ix DAFTAR ISI.................................................................................................... x DAFTAR TABEL ........................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 4 A. Ayam Ras Petelur ........................................................................... 4 B. Generasi Milenial ............................................................................ 7 C. Wirausaha ........................................................................................ 8 D. Minat Berwirausaha......................................................................... 10 E. Keberhasilan Usaha ......................................................................... 12 BAB III MATERI DAN METODE................................................................. 17 A. Materi .............................................................................................. 17 PERPUSTAKAAN UMUKA


xi B. Metode ............................................................................................ 17 BAB 1V HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 22 A. Profil Responden ............................................................................ 22 B. Kajian Keberhasilan Usaha ............................................................ 26 BAB V KESIMPULAN .................................................................................. 41 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 42 DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... 46 RIWAYAT HIDUP ......................................................................................... 77 PERPUSTAKAAN UMUKA


xii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Umur responden ......................................................................................... 22 2. Tingkat pendidikan ..................................................................................... 23 3. Jumlah ternak .............................................................................................. 25 4. Lama Usaha................................................................................................. 26 5. Faktor Intrinsik ........................................................................................... 27 6. Faktor Ekstrinsik ......................................................................................... 38 PERPUSTAKAAN UMUKA


xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Kuesioner Penelitian ................................................................................. 46 2. Profil Responden ....................................................................................... 47 3. Keberhasilan Usaha ................................................................................... 48 4. Dokumentasi video youtube pada peternak ayam ras petelur ................... 49 5. Data Sebelum Diolah ................................................................................ 58 PERPUSTAKAAN UMUKA


1 I. PENDAHULUAN Berwirausaha merupakan salah satu cara seseorang untuk bekerja dan menitih karir untuk kehidupan mereka di masa yang akan datang. Dengan berwirausaha dapat pula membukakan lapangan pekerjaan baru bagi orang-orang yang membutuhkan atau sedang mencari sebuah pekerjaan, selain itu dapat membantu tugas pemerintah dalam mengurangi pertumbuhan pengangguran di negeri ini. Banyaknya pengangguran dan sedikitnya lapangan pekerjaan terkadang dapat memunculkan ide oleh orang-orang tertentu untuk membangun sebuah usaha atau berwirausaha tanpa harus bergantung dengan lapangan pekerjaan yang sudah tersedia dan berusaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan itu sendiri. Menurut (Nurhidayah, 2022) “kewirausahaan sering dikaitkan dengan proses, pembentukan atau pertumbuhan suatu bisnis baru yang berorientasi pada pemerolehan keuntungan, penciptaan nilai, dan pembentukan produk atau jasa baru yang unik dan inovatif”. Bisnis ternak ayam petelur sebenarnya bisa memberikan keuntungan yang menggiurkan, mengingat telur adalah salah satu komoditas bahan pokok yang selalu dibutuhkan masyarakat setiap hari. Hampir seluruh rumah tangga ataupun tempat usaha makanan menggunakan telur yang merupakan sumber protein hewani yang murah meriah. Tingginya kebutuhan masyarakat akan telur membuat sebagian orang menjalankan peluang usaha yang menjanjikan ini. Ayam ras petelur merupakan salah satu ternak yang banyak dipelihara oleh peternak. Prospek usaha peternakan ayam ras petelur di Indonesia dinilai sangat PERPUSTAKAAN UMUKA


2 baik, jika ditinjau dari sisi penawaran dan permintaan. Di sisi penawaran, kapasitas produksi peternakan ayam ras petelur di Indonesia masih belum mencapai kapasitas produksi yang sesungguhnya (Abidin, 2003). Hal ini terlihat dari masih banyaknya perusahaan pembibitan, pakan ternak dan obat obatan yang masih berproduksi dibawah kapasitas terpasang. Artinya, prospek pengembangannya masih terbuka. Banyaknya pemuda milenial ingin merubah nasibnya melalui usaha yang di inginkan, salah satunya yaitu usaha ternak ayam ras petelur. namun dalam diri pemuda milenial saat ini terdapat keraguan tentang keberhasilan usaha yang dilakoninya. Pada zaman sekarang tidak perlu susah – susah untuk belajar apa yang kita inginkan, cukup menggunakan internet, kita sudah dapat mencari jalan keluar tentang masalah yang kita hadapi, salah satunya yaitu keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. Keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada zaman sekarang bisa dilihat melalui internet seperti google, youtube dll. tidak harus dilihat secara langsung ke peternak – peternak lain yang ada di Indonesia. karena dapat menguras tenaga dan menghabiskan waktu yang cupuk lama demi mengetahui apa yang kita inginkan tentang keberhasilan usaha ternak ayam ras petleur. Masalah dalam keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada generasi milenial adalah faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan dan upaya apa saja yang mempengaruhi terhadap keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada generasi milenial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur, mengungkap upaya keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur, PERPUSTAKAAN UMUKA


3 dan mengetahui apakah faktor internal dan faktor eksternal keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada generasi milenial. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk sebagai pertimbangan dalam mengembangkan usaha ternak ayam ras petelur dan khususnya untuk generasi milenial yang ingin memulai usaha ternak ayam ras petelur, dapat menambah ilmu pengetahuan di bidang manajemen bisnis yang saat ini sedang berkembang, dan dapat memanfaatkan internet sebagai sumber pencarian materi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. Beberapa hasil analisis yang didapatkan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya. PERPUSTAKAAN UMUKA


4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Ras Petelur Ayam dapat di bagi menjadi dua jenis yaitu ayam pedaging dan ayam petelur. Ayam pedaging di budidayakan untuk menghasilkan daging dalam jumlah yang banyak dengan kualitas yang baik. Demikian juga halnya dengan ayam petelur di budidayakan untuk menghasilkan telur yang banyak dengan kualitas yang baik pula. Asal mula ayam petelur berasal dari ayam liar yang ditangkap dan dipelihara karena mampu menghasilkan telur yang banyak. Hingga pada awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Pada perkembangan selanjutnya, ayam liar ini disebut ayam lokal atau ayam kampung, sedangkan ayam Belanda disebut ayam ras (Suprijatna, 2008). Menurut (Cahyono, 1995), menyatakan bahwa ayam petelur adalah ayam – ayam betina dewasa yang dipelihara dengan tujuan untuk diambil telurnya. Berbagai seleksi telah dilakukan, salah satunya diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur PERPUSTAKAAN UMUKA


5 cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (terus dimurnikan). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul. Ayam petelur merupakan ayam yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Ayam petelur memiliki macam-macam strain. Strain ayam petelur yang ada di Indonesia antara lain isa brown ross brown, lohman dan rosella (Sudarmono,2007). Peternak Indonesia banyak menggunakan ayam ras petelur yang merupakan hasil persilangan. Ayam ras petelur merupakan hasil persilangan antara ayam arab betina dengan ayam kampung pejantan (Krista dan Bagus, 2013). Usaha ayam ras petelur merupakan salah satu komoditi unggas yang memberi kontribusi besar dalam penyediaan protein hewani. Hal ini disebabkan karena ayam ras petelur memiliki keunggulan komparatif dibanding unggas dalam hal tingkat produksi dan ukuran telur. Disamping itu selain menghasilkan telur, ayam petelur ini juga dapat menghasilkan daging pada saat diafkir dengan kata lain merupakan tipe dwiguna. Jenis unggas ini menempati populasi terbesar di Indonesia dan hampir seluruhnya dikembangkan dengan sistem intensif dalam sistem kandang baterai. Namun dewasa ini, beberapa negara di Eropa telah melakukan pelarangan penggunaan sistem pemeliharaan ini yang didasari oleh kekhawatiran publik tentang rendahnya standar kesejahteraan ayam petelur (European Commission, 1999). PERPUSTAKAAN UMUKA


6 Penggunaan ayam ras petelur memiliki kekurangan dan kelebihan. Ayam ras petelur memiliki kelebihan berupa : 1. Pertumbuhan yang sangat cepat yaitu pada umur 4,5 – 5,0 bulan sudah mencapai dewasa kelamin. 2. Kemampuan memproduksi telur mencapai 250-350 butir/tahun dengan bobot telur 50 – 60 gram/butir. 3. kemampuan ayam ras petelur memanfaatkan ransum cukup tinggi. sedangkan kelemahannya adalah kemampuan adaptasi yang rendah sehingga perlu penanganan yang lebih intensif dan memerlukan kualitas pakan yang tinggi (Sudarmono, 2007). Ciri-ciri ayam petelur produktif adalah mata bening, bulu cerah, sayap kuat, kaki dapat berdiri dengan tegak, kloaka bersih, tidak ada kotoran disekitar anus, lincah, aktif, nafsu makan dan minum normal. Menurut Yuwanta (2008), Ayam ras petelur dibagi menjadi 4 fase pemliharaan yaitu : 1. Fase starter 0 – 6 minggu 2. Fase grower 6 – 14 minggu 3. Fase pullet/dara 14 – 20 minggu 4. Fase layer 20 – 75 minggu Ayam ras petelur akan mulai bertelur pada umur 22 minggu hingga masa afkir (Rahayu et al, 2011). Ayam akan bertelur jika ransum yang diberikan sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan nutrisi untuk ayam petelur berumur lebih dari 18 minggu adalah Energi Metabolisme (EM) 2850 kkal/kg dan Protein 16% (NRC, 1994). PERPUSTAKAAN UMUKA


7 B. Generasi Milenial Memasuki era globalisasi atau era digital saat ini yang ditandai oleh adanya kegiatan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yang serba digitalisasi dan otomatis. Era globalisasi dapat meningkatkan kehidupan ekonomi Indonesia menjadi lebih baik, namun datangnya era globalisasi pada bidang ekonomi merupakan tantangan masyarakat Indonesia khususnya para generasi milenial yang harus mempersiapkan diri dalam menghadapi persaingan global saat ini , perkembangan teknologi dan komunikasi di era digital saat ini membuat bisnis di Indonesia memiliki kemajuan dalam hal persaingan pasar global. Student’s Column (2019), Generasi milenial mempunyai pemikiran yang lebih inovatif, kreatif dan kritis, Pertumbuhan generasi milenial Indonesia menjadi sebuah kekuatan untuk membentuk masyarakat Indonesia menjadi lebih maju, mulai dari kemajuan ekonomi, teknologi, E-commerce dan berbagai bidang lainnya. Life Changer Allianz (2018), Keuntungan lain dalam berwirausaha di usia muda adalah begitu dekat dengan teknologi terkini. Perkembangan teknologi yang kian pesat seperti sekarang ini, membuat para pelaku wirausaha dapat mendapatkan kemudahan dari segi akses internet sebagai media pemasaran, promosi, atau berbisnis. Bahkan, wirausaha dengan memanfaatkan bisnis daring semakin jamak dilakukan, seperti membuka toko daring, menjual jasa SEO (search engine optimization) dan SEM (search engine marketing), freelance writer, dan masih banyak lagi. Di usia yang relatif muda, tentunya dapat memahami selera pasar seusia. Milenial dengan baik mengenal selera PERPUSTAKAAN UMUKA


8 anak muda, serta memahami apa yang sedang menjadi tren, atau yang akan menjadi trendsetter. Jadi, tidak perlu menunggu cukup umur untuk membangun bisnis baru bila milenial mampu menjadi wirausaha sukses. Peranan generasi milenial saat ini sangat besar untuk membangun bangsa, cara berpikir generasi milenial yang luas dapat membuat perubahan dan dapat menjadi pelopor bukan hanya sekadar mengikuti tren yang sudah ada, akan tetapi dapat menciptakan hal-hal yang baru di masyarakat. Untuk bisa melahirkan wirausaha-wirausaha muda bukan sesuatu hal yang mudah, karena bukan hanya masalah ketersediaan modal, teknologi, pasar dan kreativitas untuk bisa menjadi wirausaha, tetapi mental, sikap dan perilaku wirausaha yang kuat harus tertanam secara mendalam agar bisa menjadi wirausaha yang tangguh. Hingga saat ini terdapat 3 generasi yang aktif didalam dunia kerja, mereka adalah Generasi Baby Boomer yang memiliki rentang kelahiran ditahun 1943-1960, Generasi X yang memiliki rentang kelahiran ditahun 1961-1981 dan Generasi Millenial yang memiliki rentang kelahiran ditahun 1982-2000 (Strauss & Howe, 1991 ; 2000). C. Wirausaha Kewirausahaan merupakan suatu proses dinamis untuk menciptakan nilai tambah atas barang dan jasa serta kemakmuran. Peter F.Drucker (1994) mendefinisikan kewirausahaan sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Thomas W. Zimmerer (1996) mengungkapkan bahwa kewirausahaan merupakan proses penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan mencari peluang yang dihadapi setiap orang dalam PERPUSTAKAAN UMUKA


9 kehidupan sehari – hari. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui pemikiran kreatif dan tindakan inovatif demi terciptanya peluang. Thomas W.Zimmerer et al., (2005) merumuskan manfaat berwirauaha sebagai berikut : 1. Memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib sendiri. 2. Memberi peluang melakukan perubahan : Pebisnis menemukan cara untuk mengombinasikan wujud kepedulian mereka terhadap berbagai masalah ekonomi dan social dengan harapan akan menjalani kehidupan yang lebih baik. 3. Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya : memiliki usaha sendiri memberikan kekuasaan, kebangkitan spiritual dan membuat wirausaha mampu mengikuti minat atau hobinya sendiri. 4. Memiliki peluang untuk meraih keuntungan seoptimal mungkin. 5. Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan mendapatkan pengakuan atas usahanya. 6. Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan menumbuhkan rasa senang dalam mengerjakannya. Entrepreneur dalam menjalankan bisnisnya tidak lepas dari modal. Modal tidak selamanya identik dengan uang ataupun barang (tangible). Sebuah ide sudah termasuk modal yang luar biasa karena ide merupakan modal utama yang akan membentuk dan mendukung modal lainnya. Beberapa modal yang termasuk ke dalam modal tidak berwujud (intangible) antara lain : PERPUSTAKAAN UMUKA


10 1. Modal Intelektual Modal Intelektual didefinisikan sebagai kombinasi dari sumberdaya-sumberdaya intangible dan kegiatan-kegiatan yang membolehkan organisasi mentransformasi sebuah bundelan material, keuangan dan sumberdaya manusia dalam sebuah kecakapan sistem untuk menciptakan stakeholder value (Cut Zurnali , 2008). 2. Modal Sosial dan Moral Modal sosial dan moral yang dapat disebut sebagai suatu integritas merupakan suatu hal penting yang membentuk sebuah citra terhadap kepribadian anda sebagai seorang wirausaha. Pada saat menjalankan bisnis, ada etika wirausaha yang tidak boleh anda langgar. 3. Modal Mental Mental wirausaha harus ditaman sejak dini. Karena modal mental merupakan kesiapan sejak dini kemudian diwujudkan dalam bentuk keberanian untuk menghadapi risiko dan tantangan. D. Minat Berwirausaha Peranan perguruan tinggi dalam mengembangkan minat berwirausaha mahasiswa dengan menggali faktor-faktor yang berpengaruh pada perilaku berwirausaha menjadi hal yang sangat penting. Minat berwirausaha akan menjadikan seseorang untuk lebih giat mencari dan memanfaatkan peluang usaha dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Minat sangat dibutuhkan bagi mahasiswa yang berwirausaha agar mampu mengidentifikasi peluang usaha, kemudian mendayagunakan peluang usaha untuk menciptakan peluang PERPUSTAKAAN UMUKA


11 kerja baru. Melalui pendidikan entrepreneurship diharapkan para mahasiswa memiliki kepribadian, pemahaman dan kemampuan dibidang kewirausahaan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dirinya sendiri dan berkontribusi secara baik bagi masyarakat. Menurut Stewart et al., (1998), menyatakan bahwa tumbuhnya minat berwirausaha dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu : faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berasal dari dalam diri wirausahawan dapat berupa sifat-sifat personal, sikap, kemauan dan kemampuan individu yang dapat memberi kekuatan individu untuk berwirausaha. Faktor eksternal berasal dari luar diri pelaku entrepreneur yang dapat berupa unsur dari lingkungan sekitar seperti lingkungan keluarga, lingkungan dunia usaha, lingkungan fisik, lingkungan sosial ekonomi dan lain-lain. Suryana (2008) juga menyatakan bahwa faktor yang berasal dari lingkungan diantaranya adalah model peran, peluang, aktivitas, selain itu dipengaruhi juga oleh para pesaing, sumber daya, dan kebijakan pemerintah. David C.Mclelland dalam Suryana (2008) dan Rose (2006) menyatakan bahwa kewirausahaan ditentukan oleh motif berprestasi, optimisme, sikap nilai, dan status kewirausahaan atau keberhasilan. Pengaruh pendidikan kewirausahaan selama ini telah dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penting untuk menumbuh kembangkan hasrat, jiwa dan perilaku berwirausaha di kalangan generasi muda. Selanjutnya diperlukan adanya pemahaman tentang bagaimana mengembangkan dan mendorong lahirnya wirausaha muda yang potensial kedepannya. PERPUSTAKAAN UMUKA


12 E. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha Menurut Maulana (2018), keberhasilan usaha ternak tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jumlah ternak yang dipelihara, tetapi juga harus didukung dengan sistem manajemen yang baik meliputi perkandangan, pakan, biosecurity atau sanitasi, pemasaran dll. Sehingga hasil produksi dan penerimaan sesuai yang diharapkan. Penerimaan tersebut sebagian digunakan untuk menutup biaya produksi dan sisanya sebagai pendapatan. Besar kecilnya pendapatan yang diperoleh dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pengelolaan suatu usaha. 1. Perkandangan Menurut (Rasyaf, 1997), perkandangan adalah kumpulan seluruh kelompok yang memenuhi suatu aturan sanitasi dan tata laksana peternakan. Perkandangan memegang peran yang penting dalam kelancaran usaha. Perkandangan meliputi ruang staf, gudang, mess dengan segala fasilitas yang ada merupakan satu peternakan. Kandang adalah lingkungan kecil tempat ayam hidup dan berproduksi. Oleh karena itu dibutuhkan kandang yang nyaman dan berpengaruh terhadap kesehatan ayam serta hasil produksi yang maksimal Abidin, (2003). Kandang, selain berfungsi untuk melindungi ayam dari iklim seperti hujan, panas matahari, dan angin, juga berfungsi melindungi dari gangguan manusia atau binatang. Kandang bagi ayam ras petelur juga diharapkan meningkatkan produksi ayam dengan memberikan rasa nyaman bagi ayam yang dipelihara (Sudaryani dan Santosa, 1997). PERPUSTAKAAN UMUKA


13 Menurut Sudarmono, (2003). Jenis kandang berdasarkan kegunaanya dibagi menjadi tiga macam, yaitu: a. Kandang Indukan Kandang indukan digunakan untuk memelihara anak ayam umur 1 hari sampai 4 minggu. Kandang tersebut dilengkapi dengan lampu pemanas, lampu penerang, tempat pakan dan tempat minum. Kandang indukan ini pada umumnya berlantai litter. b. Kandang Grower Kandang grower digunakan untuk memelihara ayam dari umur 8 minggu sampai menjelang bertelur, yakni umur 18 minggu. Kandang tersebut juga dilengkapi dengan lampu penerang, tempat pakan dan tempat minum. Model lantai yang umum digunakan pada kandang ini lantai liter atau celah. c. Kandang layer Kandang layer digunakan untuk memelihara ayam dewasa yang telah berproduksi. Kandang tersebut juga dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum, serta penerangan seperlunya. 2. Pakan Menurut (Kamal, 1994), pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan, dapat dicerna sebagian atau seluruhnya dan bermanfaat bagi ternak. Oleh karena itu apa yang disebut pakan adalah segala sesuatu yang dapat memenuhi persyaratan tersebut di atas dan tidak menimbulkan keracunan bagi ternak yang memakannya. Ayam petelur membutuhkan PERPUSTAKAAN UMUKA


14 sejumlah unsur nutrien untuk hidupnya, misalnya bernafas, peredaran darah, bergerak, dan fungsi - fungsi fisiologis lainya. Disamping itu, untuk ayam yang sedang bertelur di butuhkan juga untuk produksi telur. Kebutuhan yang pertama itu disebut dengan kebutuhan hidup pokok dan yang kedua untuk produksi. Untuk hidup pokok dan hidup produksi, ayam membutuhkan protein, energi, vitamin, dan mineral (Rasyaf, 1994). Irawan (1995) mengemukakan bahwa pakan yang diberikan pada ayam merupakan hal yang perlu diperhatikan, sebab pakan yang kurang memenuhi standar nutrien, dapat menjadi salah satu sebab menurunnya produktivitas. Menurut (Rasyaf, 2008), vitamin dan mineral pengaruhnya besar sekali dalam untuk ayam petelur. Vitamin D dan Kalsium, misalnya, dibutuhkan dalam proses pembentukan kulit telur. Vitamin yang dibutuhkan ayam pada masa awal adalah vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin K, tiamin, riboflavin, asam pantotenat, niasin, piridoksin, biotin, kolin, dan vitamin 12. Untuk daerah tropis seperti di Indonesia direkomendasikan pula vitamin C. 3. Biosecurity dan Pencegahan penyakit Menurut (Abidin, 2004), menjaga kebersihan kandang merupakan satu langkah strategis mengurangi populasi bibit penyakit di sekitar ayam. Karakteristik yang paling menonjol dari bibit penyakit adalah menyukai tempat- tempat yang kotor, sehingga jika peternak berkeinginan mememerangi bibit penyakit, ia harus menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar. PERPUSTAKAAN UMUKA


15 Menurut (Maulana dan Ferry, 2001), program sanitasi merupakan tindakan pembersihan dan penyucihamaan kandang dan peralatanya yang dilakukan secara teratur. Penyucian ini dilakukan dengan cara penyemprotan desinfektan keseluruh kandang dan peralatan. Menurut (Riyadi, 2007), biosekuriti merupakan tindakan pengamanan terhadap ternak, melalui pengamanan terhadap lingkunganya dan orang atau person yang terlibat dalam siklus pemeliharaan. Bisa jadi kegagalan peternak dalam memproduksi ayam dengan berat maksimal dan atau produksi telur dengan Hen Day Production (HDP) yang optimum salah satunya adalah atas keteledoran dalam penerapan biosecurity. Menurut (Abidin, 2004), pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan dua cara, cara pertama adalah melalui tata laksana harian dan yang kedua melalui obat vaksin. Keduanya digunakan bersama dan saling mendukung satu sama yang lain. Tata laksana. Pencegahan melalui tata laksana harian pada prinsipnya adalah menciptakan suasana tenang, bersih, dan nyaman di peternakan. Menurut (Lubis dan Paimin, 2001), Pencegahan penyakit merupakan cara yang paling baik dan murah dibandingkan pengobatan, pencegahan penyakit merupakan bagian dari tata laksana peternakan yang harus dilaksanakan oleh setiap peternak. Bentuk pengobatan terpenting adalah pencegahan (preventif), yaitu suatu tindakan untuk melindungi individu terhadap serangan penyakit atau menurunkan keganasannya (Akoso, 1998). PERPUSTAKAAN UMUKA


16 4. Pemasaran Menurut (Mc. Daniel, 2001), pemasaran adalah proses merencanakan dan melaksanakan konsep, memberikan harga, melakukan promosi dan mendistribusikan ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi kebutuhan individu dan organisasi. Dalam manajemen suatu pemasaran di butuhkan suatu riset pemasaran. Riset pemasaran adalah suatu fungsi yang menghubungkan konsumen, pelanggan pemasan dengan melalui informasi- informasi dengan luar untuk mengidentifikasi peluang dan masalah pemasaran, menghasilkan dan mengevaluasi upaya pemasaran, memantau kinerja pemasaran sebagai suatu proses. Menurut (Rasyaf, 2008), salah satu bagian yang terpenting dalam pascaproduksi adalah pengafkiran. Pengafkiran dilakukan apabila ayam tidak di force molting maka ayam siap dijual sebagai ayam potong. Harga per kg ayam potong afkir ini tidak sebesar harga ayam broiler. Namun, ditingkat pengecer harga ayam afkir dengan harga ayam broiler per kg bobot hidup sama. Padahal bila dimasak, antara ayam potong afkir dengan ayam broiler jelas sekali berbeda, baik dalam rasa maupun aroma. PERPUSTAKAAN UMUKA


17 III. MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul “Kajian Keberhasilan Usaha Ternak Ayam Ras Petelur Pada Generasi Milenial”. Penelitian dilakukan menggunakan media sosial yaitu youtube yang mengandung konten keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada generasi muda milenial dengan jumlah 30 akun youtube. Alasan memilih aplikasi youtube dikarenakan tidak melakukan survei secara langsung terhadap keberhasilan peternak milenial, dikarenakan jaraknya cukup jauh dari ternak satu dengan lainnya, dan ingin menjaring lebih luas terhadap keberhasilan peternak milenial yang ada di Indonesia. A. Materi Penelitian Materi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. Keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada generasi milenial dengan jumlah 30 akun youtube, dan kapasitas ternak diatas 500 ekor. 2. Kuota data internet, yang digunakan untuk proses pengumpulan data pada media sosial yaitu youtube. 3. Alat tulis 4. handphone B. Metode 1. Jenis dan Sifat Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Dimana data yang diperoleh atau data yang disajikan tidak langsung dalam bentuk angka, tetapi dalam bentuk konsep. Dalam hal ini data yang akan digunakan sebagai alat analisis adalah data yang PERPUSTAKAAN UMUKA


18 berhubungan dengan “Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Minat Usaha Ternak Ayam Ras Petelur Bagi Generasi Milenial”. Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Menurut Nazir (2011), metode deskriptif itu merupakan suatu metode yang digunakan untuk meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu system pemikiran, atau suatu peristiwa pada masa sekarang. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2010), menegaskan bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksud untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang gejala atau keadaan. 2. Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. a. Data primer Data primer yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil obserfasi pada konten media sosial youtube dari 30 akun yang membahas tentang keberhasilan usaha ayam ras petelur pada generasi milenial dengan kapasitas ternak diatas 500 ekor. b. Data sekunder Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh atau dicatat pihak lain) dan sifat saling melengkapi. Data sekunder berupa sumber pustaka yang dapat mendukung penulisan penelitian serta PERPUSTAKAAN UMUKA


19 diperoleh dari literature yang relevan dari permasalahan, sebagai dasar pemahaman terhadap objek penelitian dan untuk menganalisis secara tepat. 3. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai sumber. Metode pengumpulan data adalah bagian instrument pengumpulan data yang menentukan berhasil atau tidak suatu penelitian (Bungin, 2009). Dalam hal ini diperlukan adanya teknik pengambilan data yang dapat digunakan secara cepat dan tepat sesuai dengan masalah yang diselidiki dan tujuan penelitian, maka penulis menggunakan beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian ini, antara lain : a. Metode Observasi Observasi yaitu melakukan pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan tidak langsung kepada peternak Ayam Ras Petelur milenial bersumber pada tayangan video di media sosial youtube. b. Metode Wawancara Wawancara dalam penelitian ini dilakukan melalui komentar pada video youtube tentang keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada generasi milenial. Untuk memudahkan dalam proses wawancara digunakan kuesioner yang telah dibuat oleh peneliti. PERPUSTAKAAN UMUKA


20 c. Dokumentasi Metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen yang dibuat oleh subjek itu sendiri. Dokumentasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media tertulis dan dokumen lainnya yang ditulis atau dibuat langsung oleh subjek yang bersangkutan. Pada jenis penelitian ini, penulis melengkapi dokumen yang mendukung tercapainya tujuan penelitian. Pengumpulan data pada metode dokumentasi ini menggunakan alat berupa Handphone dan alat tulis. 4. Jalannya Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 4 minggu dengan beberapa tahap. Tahap – tahap penelitian meliputi : a. Tahap persiapan selama 1 minggu (15 Mei s/d 21 Mei 2022), meliputi pencarian konten youtube yang mengandung keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur pada generasi milenial dengan jumlah 30 akun youtube. b. Masa pendahuluan selama 1 minggu (22 Mei s/d 28 Mei 2022), meliputi pemilihan video pada media sosial yaitu youtube sebanyak 30 akun youtube dengan tingkat keberhasilan kapasitas ternak ayam ras petelur diatas 500 ekor. PERPUSTAKAAN UMUKA


21 c. Masa pengambilan data selama 2 minggu (29 Mei s/d 11 Juni 2022), pengambilan data ini dengan cara merangkum suatu video youtube tentang apa saja keberhasilan yang dikatakan oleh responden. 5. Metode Analisis Metode analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan deskritif kualitatif. Deskritif kualitatif adalah memberikan pendekatan kepada variabel yang diteliti sesuai dengan kondisi sebenarnya yaitu dengan cara memaparkan informasi-informasi yang akurat yang diperoleh dari peternak Ayam Ras Petelur yang berkaitan dengan Keberhasilan Usaha Ternak Ayam Ras Petelur Pada Generasi Milenial. Kemudian dari data yang ada dikelompokan sesuai apa yang dikatakan oleh peternak tentang keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. PERPUSTAKAAN UMUKA


22 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Responden Berdasarkan hasil observasi penelitian mengidentifikasikan profil responden sebagai berikut : 1. Umur Umur merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pilihan dan perilaku seseorang terhadap sesuatu, baik berupa objek maupun pilihan dalam memutuskan sesuatu. Pilihan dalam memutuskan suatu objek dapat mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia, pada saat pencapaian usia tertentu misalnya 50 tahun, 60 atau 65 tahun seorang pekerja pasti memasuki masa pensiun atau tidak produktif lagi. Tingkat umur responden setiap peternak berbeda-beda, walaupun masih dalam golongan generasi milenial, maka dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok umur yang dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini : Tabel 1. Umur responden No Responden Jumlah Presentase (%) 1 20-25 - - 2 26-30 8 26,67 3 31-35 8 26,67 4 36-40 14 46,66 Total 30 100 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2022 Tabel 1, dapat dilihat berdasarkan responden peternak yang berumur 36 – 40 tahun dengan presentase 46,67%, merupakan jumlah terbanyak yaitu sebanyak 14 orang. Melihat kenyataan tersebut maka dapat dikatakan PERPUSTAKAAN UMUKA


23 bahwa responden secara umum masih sangat aktif, baik secara fisik maupun pemikiran dalam pengembangan usahanya. Hal ini berarti peternak masih berada pada usia produktif untuk menjalankan usaha pekerjaannya. Umur tenaga kerja yang berada dalam usia produktif (15-60 tahun) memiliki berhubungan positif dengan produktivitas tenaga kerja. Artinya jika umur tenaga kerja pada kategori produktif maka produktivitas kerjanya akan meningkat. Ini dikarenakan pada tingkat usia produktif tenaga kerja memiliki kreatifitas yang tinggi terhadap pekerjaan sebab didukung oleh pengetahuan dan wawasan yang lebih baik serta mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas yang diberikan. (Suyono dan Hermawan,2013). 2. Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan responden setiap peternak berbeda-beda, walaupun masih dalam golongan generasi milenial, maka dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok tingkat pendidikan yang dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini : Tabel 2. Tingkat pendidikan No Pendidikan Jumlah Presentasi (%) 1 SD 5 16,67 2 SMP 2 6,67 3 SMA/SMK 3 10 4 S1/S2 20 66,67 Total 30 100 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA


24 Tabel 2, terlihat bahwa klasifikasi responden berdasarkan tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan sangat beragam yaitu terdiri atas SD, SMP, SMA/SMK, dan S1/S2. Pendidikan responden yang tertinggi adalah S1/S2 dengan jumlah 20 orang respoden dengan presentase 66.67%, melihat kenyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan sangatlah tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak peternak dengan tingkat pendidikan tinggi akan banyak pengalaman dan tingkat pengetahuan yang baru. Hal ini sejalan dengan studi Hasanah dan Widowati (2011), yang menemukan adanya pengaruh tingkat pendidikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Dikuatkan dengan Penelitian Suyono dan Hermawan (2013), menyatakan terdapat pengaruh pendidikan tenaga kerja terhadap produktivitas tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi produktivitas kerjanya sebab orang tersebut akan memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Begitu pun sebaliknya, jika pendidikan seseorang rendah maka wawasan dan pengetahuannya juga akan rendah sehingga akan berdampak kepada menurunnya produkstivitas kerja. Pendidikan tidak hanya akan menambah wawasan dan pengetahuan tetapi juga dapat meningkatkan keterampilan kerja sehingga akan meningkatkan produktivitas kerja. PERPUSTAKAAN UMUKA


25 3. Jumlah ternak Jumlah kepemilikan ternak yang dimiliki oleh responden berbedabeda sesuai dengan kemampuan responden. Berikut adalah jumlah ternak dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Jumlah Ternak No Jumlah Ternak Jumlah Responden Presentase (%) 1 200-32.650 28 93,34 2 32.651-65.301 1 3,33 3 65.302-97.752 0 0 4 97.753-130.203 1 3,33 Total 30 100 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2022 Berdasarkan tabel 3, terlihat bahwa jumlah kepemilikan ternak ayam ras petelur yang dimiliki oleh responden peternak ayam ras petelur sangatlah beragam. Jumlah ternak 200-32.650 merupakan yang paling tinggi dengan jumlah responden 28 orang dengan presentase 93,34%. Hal ini sesuai dengan pendapat Wijanarko (2013), bahwa kepemilikan ternak tersebut akan berpengaruh dengan jumlah penerimaan yang akan didapatkan, karena semakin banyak ternak yang dipelihara maka akan semakin besar pula penerimaan yang akan didapatkan oleh peternak. 4. Lama usaha Untuk mengetahui lama beternak responden, maka dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok lama yang dapat dilihat pada tabel 4. PERPUSTAKAAN UMUKA


26 Tabel 4. Lama Usaha No Lama Usaha (tahun) Jumlah Responden Presentase (%) 1 1-5 18 60 2 6-10 7 23,33 3 11- keatas 5 16,67 Total 30 100 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2022 Pada tabel 4, menunjukkan bahwa lama usaha ternak responden terbanyak adalah 1 – 5 tahun sebanyak 18 orang dengan jumlah presentase 60%. Dengan melihat lama usaha responden dapat disimpulkan bahwa lama beternak dapat mempengaruhi skala kepemilikan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Makatita et al., (2014), bahwa semakin lama pengalaman seseorang dalam beternak maka akan semakin banyak pengetahuan yang diperoleh sehingga mereka dapat menentukan pola pikir dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan usahanya. B. Keberhasilan Usaha Keberhasilan usaha merupakan cara untuk mendorong tekad, disiplin dan pelaksanaan kerja dalam beternak ayam ras petelur. Tingkat keberhasilan usaha di antara peternak berbeda – beda. Keberhasilan usaha sebagai suatu pencapaian yang muncul disebabkan oleh faktor – faktor dari dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrinsik atau faktor di luar diri yang disebut ekstrinsik. Menurut Rido Sanjaya (2018) Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan antusiasmennya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (intrinsik) maupun dari luar individu (ekstrinsik). PERPUSTAKAAN UMUKA


27 Hasil penelitian terdapat 2 faktor keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur yang terdiri dari : 1. Keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur (intrinsik) 2. Keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur (ekstrinsik) Hasil penelitian dari kedua keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur diatas terdapat berbagai sub jenisnya yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur (intrinsik) Pengelompokan pada 1 responden tidak hanya menjelaskan 1 faktor intrinsik keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur, tetapi ada beberapa faktor yang dijelaskan sesuai apa yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak itu sendiri. Faktor intrinsik keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur dapat diambil inti dari pembahasan responden pada video youtube yang terdapat 7 faktor intrinsik yang dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Faktor Intrinsik No Intrinsik Jumlah presentase (%) 1 Manajemen kandang 16 21,33 2 Pemilihan bibit 5 6,67 3 Seleksi ayam 4 5,33 4 Pemberian pakan dan minum 16 21,33 5 Biosecurity dan pengendalian penyakit 19 25,33 6 Limbah 4 5,33 7 Pemasaran 11 14,67 jumlah 75 100 Sumber : Hasil Data survei, 2022 a. Manajemen Perkandangan Perkandangan merupakan salah satu faktor keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur bagi generasi milenial yaitu dengan jumlah PERPUSTAKAAN UMUKA


28 responden 16 orang dengan presentase 21,33%. Dalam usaha ternak ayam ras petelur, kandang adalah hal terpenting yang harus diperhatikan untuk menuju keberhasilan usaha ternak, beberapa hal untuk manajemen perkandangan yang baik yaitu : 1) Lokasi perkandangan Lokasi perkandangan sebaiknya jauh dari lingkungan masyarakat, jarak kandang dengan rumah penduduk sekitar 1 km sehingga bau yang disebabkan peternakan tidak sampai ke pemukiman penduduk. Hal ini sesuai dengan pernyataan responden H. Munjaki yang menyatakan “sarana – prasarana air mudah, transportasi, listrik, jalan dan jauh dari lingkungan masyarakat”. 2) Atap kandang Atap kandang berfungsi untuk melindungi ternak yang ada di dalam kandang dari panas matahari langsung dan curah hujan. Hal ini sesuai dengan pernyataan responden Munir yang menyatakan “Membasahi atap kandang dengan menyiramkan air tiap 1 jam 1 kali, agar mengurangi suhu pada dalam kandang, dan menanggulangi terjadinya penyusutan pakan, penurunan produksi dan stres”. 3) Tipe kandang Tipe kandang sebaiknya menggunakan kandang baterai, karena memudahkan pengontrolan produksi dan kesehatan ayam, pengafkiran ayam yang sakit atau dibawah produksi standar, PERPUSTAKAAN UMUKA


29 konsumsi ransum mudah dikontrol sehingga persaingan konsumsi antar ayam dapat dihindari serta kanibalisme pada ayam petelur dapat dihindari. 4) Arah kandang Arah kandang sebaiknya dibuat membujur dari timur ke barat, hal ini bertujuan agar peternakan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Masuknya sinar matahari dalam kandang selain untuk memenuhi kebutuhan ayam, sinar matahari juga dapat membantu mengeringkan lantai kandang yang basah sehingga mengurangi bau yang ditimbulkan dari kotoran ayam yang basah. 5) Dinding kandang Penggunaan dinding kandang berfungsi untuk melindungi ternak dari gangguan luar dan sebagai penghalang agar ternak selalu berada dalam kandang. Gangguan dari luar bisa berupa gangguan dari manusia maupun hewan lain seperti musang, tikus dan ular. 6) Pencahayaan Arah kandang yang membujur dari timur ke barat memungkinkan ayam mendapatkan sinar matahari yang cukup tetapi masih banyak peternak yang tidak begitu memperhatikan masalah penyinaran kandang ayam petelur. Penyinaran yang baik artinya kebutuhan intensitas cahaya oleh ayam dapat terpenuhi dengan baik. Keterlambatan produksi pada usia ayam layer juga PERPUSTAKAAN UMUKA


30 bisa disebabkan oleh kurangnya intensitas cahaya yang diterima ayam. Hal ini sesuai dengan pernyataan responden Brian Fikri Hidayat yang menyatakan “Memperhatikan pencahayaan dan sirkulasi udara kandang, agar produksi telur tidak menurun”. 7) Tempat pakan dan minum Tempat pakan yang memanjang dari ujung satu ke ujung satunya tanpa ada sekat penghalang. Proses pemberian pakan akan berjalan dengan mudah dan pakan akan bisa terbagi rata. Tempat minum sebaiknya terbuat dari pipa paralon yang diberi nepel. Penggunaan nepel bertujuan agar air minum yang di berikan pada ayam lebih terjaga kebersihannya. Perkandangan yang baik perlu diperhatikan, dikarenakan memiliki peran yang sangat penting terhadap keberhasilan ternak dan produktifitas telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudaryani dan Santosa (2004), Konstruksi kandang yang baik harus bisa menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi ayam yang dipelihara. Dilanjutkan dengan pendapat Afandi (2012), menyatakan bahwa konstruksi kandang yang menjamin kelangsungan hidup ayam yaitu kandang yang memenuhi aspek kesehatan dan mempunyai daya tahan yang kuat dan lama, sehingga dapat dipakai untuk proses produksi berikutnya. b. Pemilihan Bibit Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur bagi generasi milenial berdasarkan tabel 7, terdapat 5 PERPUSTAKAAN UMUKA


31 responden dengan presentase 6,67% yang menganggap bahwa pemilihan bibit adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. Hal ini sesuai dengan pernyataan responden Mr. Muzdakir yang menyatakan “Pemilihan bibit yang baik, jangan ambil resiko mengambil DOC, tetapi pilihlah yang pullet agar resiko tidak terlalu besar”. Bibit ayam petelur yang baik mempunyai bobot badan yang seragam, warna bulu yang seragam, tidak terdapat cacat pada tubuh, keadaan bulu halus, kering dan mengkilap serta pusar kering dan tertutup. Anak ayam yang baik sebaiknya memiliki ukuran dan bobot tubuh yang cukup. Menurut Widjaja dan Said (2003), bobot (DOC) yang baik sekitar 38-42 gram/ ekor. Bobot dan ukuran DOC sangat ditentukan oleh ukuran telur tetas. Pemilihan bibit ayam petelur yang baik hendaknya peternak ayam mengetahui pedoman pemilihan ayam yaitu, DOC berasal dari induk yang sehat, bulu tampak halus dan penuh, pertumbuhan baik, punya nafsu makan yang bagus, tidak ada letakan kotoran di duburnya dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan setempat (Herman, 2000). Jenis ayam petelur yang banyak dipelihara di Indonesia yaitu jenis 402 platinum lohonan karena produksinya tinggi dan tahan dengan cuaca panas (Halim et al, 2007). PERPUSTAKAAN UMUKA


32 c. Seleksi Ayam Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha Ternak Ayam Ras Petelur Bagi Generasi Milenial berdasarkan tabel 7, terdapat 4 responden dengan presentase 5,33% yang menganggap bahwa seleksi ayam adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. Pengertian seleksi dalam dunia peternakan ayam petelur adalah memilih ayam yang berkualitas bagus dalam suatu kelompok ayam dan memisahkan dengan ayam-ayam yang kurang bagus kualitasnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Kadert (2013) mengemukakan seleksi pada ayam petelur biasanya didasarkan pada kriteria kriteria tertentu, antara lain: kecepatan dan pemerataan pertumbuhan, jumlah produksi. konversi makanan, masa bertelur atau long lay. d. Pemberian Pakan dan Minum Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur bagi generasi milenial berdasarkan tabel 5, terdapat 16 responden dengan presentase 21,33% yang menganggap bahwa pemberian pakan dan minum adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. Pemberian pakan dan minum sangatlah berpengaruh terhadapat produktifitas telur yang dihasilkan, dan berpengaruh terhadap kesehatan ternak. Dikarenakan pemberian pakan dan minum bisa disebut juga ini dari keberhasilan ternak itu sendiri. Konsumsi ransum PERPUSTAKAAN UMUKA


33 pada ayam petelur periode layer di Populer Farm berkisar antara 115 gram/ekor/hari-120 gram/ekor/hari dan rata-rata pemberiannya 116 gram/ekor/hari, menurut Anggorodi (1985) bahwa konsumsi pakan untuk ayam petelur, yang sedang berproduksi konsumsi pakan berkisar 100-120 gram/ekor/hari, dijelaskan lebih lanjut oleh Anggorodi (1985) bahwa faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi ransum dan kebutuhan protein pada ayam petelur, diantaranya faktor tersebut adalah besar dan bangsa, suhu lingkungan, fase produksi, sistem perkandangan (sistem batteray atau lantai), ruang tempat makan perekor, dipotong tidaknya paruh, kepadatan ayam, tersediannya air minum, kesehatan dan kandungan energi dalam ransum. Air minum yang diberikan berasal dari air sumur yang sudah di simpan dalam tower. Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum atau penyediaan air minum dilakukan secara tidak terbatas dengan tujuan untuk menjaga agar ayam tidak mengalami kekurangan air. Pendapat anggriawan dan anugraha (2021) pemberian air merupakan hal yang sangat penting dan harus terpenuhi serta tersedia kapan pun ayam petelur membutuhkan. Sedangkan menurut Abidin (2003) bahwa air minum sangat vital bagi ayam petelur, karena sebagian besar tubuhnya terdiri dari air untuk mengurangi stress sebelum dan sesudah vaksinasi. PERPUSTAKAAN UMUKA


34 e. Biosekuriti dan pengendalian penyakit Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur bagi generasi milenial berdasarkan tabel 5, terdapat 19 responden dengan presentase 25,33% yang menganggap bahwa biosekuriti dan sanitasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. Biosekuriti merupakan konsep integral yang mempengaruhi suksesnya system produksi ternak khususnya dalam mengurangi resiko dan konsekuensi masuknya penyakit menular dan tidak menular. Jika kegiatan biosekuriti dilaksanakan secara baik dan benar maka produktivitas ternak, efisiensi ekonomi dan produksi akan tercapai. Sebagai bagian dari sistem manajemen maka biosekuriti sangat penting khususnya untuk mencegah penyakit Semua komponen biosekuriti, sistem yang diterapkan (vaksinasi, pengobatan, kontrol hewan liar dan lain-lainnya) dan sarana serta prasarana yang ada memiliki arti tinggi terhadap keberhasilan program biosekuriti. Menurut Jeffrey (2006), biosekuriti memiliki arti sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran organisme penyakit dengan cara menghalangi kontak antara hewan dan mikroorganisme. Adapun menurut Deptan RI (2006), biosekuriti adalah semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan penularan/kontak dengan ternak tertular sehingga rantai penyebaran penyakit dapat PERPUSTAKAAN UMUKA


35 diminimalkan. WHO (2008) menambahkan bahwa tindakan biosekuriti meliputi sekumpulan penerapan manajemen yang dilakukan bersamaan untuk mengurangi potensi penyebaran penyakit, misalnya virus flu burung pada hewan atau manusia. f. Limbah Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur bagi generasi milenial berdasarkan tabel 5, terdapat 4 responden dengan presentase 5,33% yang menganggap bahwa limbah adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dll. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku. tulang, tanduk, isi rumen, dll (Sihombing, 2000). Limbah peternakan pada umumnya meliputi semua kotoran hasil dari kegiatan dalam peternakan yang dapat berupa zat padat, cair, dan gas. Banyak usaha yang dilakukan untuk menjaga agar peternak, ternak dan lingkungannya tidak terancam oleh masalah penyakit akibat limbah yang dihasilkan. Jadi, dengan membuat perencanaan pengelolaan limbah diharapkan dapat mengurangi masalah yang mungkin ditimbulkan oleh adanya limbah yang dihasilkan. PERPUSTAKAAN UMUKA


36 Perencanaan Pengelolaan limbah dapat mencakup bagaimana menangani limbah agar tidak mengganggu kesehatan peternak, ternak dan masyarakat di sekitarnya, serta bagaimana memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang tidak membahayakan lingkungan bahkan dapat digunakan sebagai sesuatu yang bermanfaat baik oleh ternak, peternak, maupun lingkungan. Salah satu contoh penanganan limbah adalah dengan mengatur kemiringan dan kepadatan lantai, drainase, tempat penampungan makanan, penanaman rumput-rumput pencegah erosi dan beberapa hal lain dapat diusahakan secara optimum untuk dapat mengurangi atau menghilangkan problem tentang manur di sekitar feedlot tersebut. Menurut Pollutant Prevention (1991), limbah didefinisikan sebagai keluaran (output) yang bukan merupakan produk dari beberapa proses dan produk-produk yang dibuang, tanpa mengindahkan lingkungan yang dipengaruhinya. Akan lebih menguntungkan bila usaha peternakan dilakukan secara terpadu, yaitu memiliki ternak ikan/lele dan sawah. Konsep yang mengubah limbah peternakan menjadi sumber daya hara bagi tanaman, menjadi pakan ikan, dapat mengurangi pengaruh yang merusak lingkungan sampai mencapai zero waste. g. Pemasaran Pemasaran merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur bagi PERPUSTAKAAN UMUKA


37 generasi milenial berdasarkan tabel 5, terdapat 11 responden dengan presentase 14,67% yang menganggap bahwa pemasaran adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur. Keberlangsungan suatu peternakan ayam ras petelur sangat ditentukan oleh keberhasilan usaha ternak dalam kegiatan pemasaran. Dalam kedudukannya sebagai penyedia barang bahan kebutuhan masyarakat, maka fungsi peternak hendaknya tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi bagaimana melakukan fungsi sosialnya dalam masyarakat dengan membina hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Pemasaran dinilai berhasil dengan baik bila dalam proses pemasaran suatu produk barang atau jasa sumpai ke tangan konsumen tanpa merugikan maupun menimbulkan rasa ketidakpuasan kepada kedua belah pihak, baik pihak produsen maupun pihak konsumen yang menikmati barang dan jasa yang dipasarkan. Oleh karena itu setiap peternak berusaha menetapkan suatu strategi pemasaran yang mampu meningkatkan laba melalui peningkatan volume penjualan. Hal ini dikuatkan oleh Novarone (2013), menyatakan dengan demikian strategi pemasaran yang dijalankan diharapkan mampu memberikan gambaran yang jelas dan terarah tentang apa yang dilakukan oleh peternak dalam memanfaatkan peluang yang ada, sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan. PERPUSTAKAAN UMUKA


Click to View FlipBook Version