The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Karanganyar, 2024-02-04 23:52:05

Zakhiyah Nur Aini_192077

Zakhiyah Nur Aini_192077

Keywords: pola kemutraan,sapa usaha,tingkat pemahaman,usaha broiler

i HUBUNGAN TINGKAT PEMAHAMAN SAPTA USAHA TERHADAP KEBERHASILAN USAHA AYAM BROILER SISTEM KEMITRAAN DI KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR LAPORAN TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH : ZAKHIYAH NUR AINI 192077 PROGRAM STUDI D3 PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 i HUBUNGAN TINGKAT PEMAHAMAN SAPTA USAHA TERHADAP KEBERHASILAN USAHA AYAM BROILER SISTEM KEMITRAAN DI KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR LAPORAN TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH : ZAKHIYAH NUR AINI 192077 PROGRAM STUDI D3 PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 i HUBUNGAN TINGKAT PEMAHAMAN SAPTA USAHA TERHADAP KEBERHASILAN USAHA AYAM BROILER SISTEM KEMITRAAN DI KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR LAPORAN TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH : ZAKHIYAH NUR AINI 192077 PROGRAM STUDI D3 PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA


ii HUBUNGAN TINGKAT PEMAHAMAN SAPTA USAHA TERHADAP KEBERHASILAN USAHA AYAM BROILER SISTEM KEMITRAAN DI KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR Disusun Oleh : ZAKHIYAH NUR AINI NPM. 192077 LAPORAN TUGAS AKHIR Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiyah Karanganyar PROGRAM STUDI D3 PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA


iii SURAT PERNYATAAN KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI LAPORAN TUGAS AKHIR Saya yang bertanda tangan dibawah ini Nama : Zakhiyah Nur Aini NPM : 192077 Dengan ini menyatakan sebagai berikut : 1. Karya Ilmiah yang berjudul “HUBUNGAN TINGKAT PEMAHAMAN SAPTA USAHA TERHADAP KEBERHASILAN USAHA AYAM BROILER SISTEM KEMITRAAN DI KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR” dan penelitian yang terkait dengan karya ilmiah ini adalah hasil kerja karya sendiri. 2. Setiap ide dan kutipan dari orang lain berupa publikasi atau bentuk lainnya dalam karya ilmiah ini telah diakui sesuai dengan standar prosedur disiplin ilmu serta bukan merupakan tiruan ataupun plagiasi dari karya orang lain. 3. Saya juga mengakui karya ilmiah ini dapat dihasilan berkat bimbingan dan dukungan penuh pembimbing saya yaitu : Dr. Ir. Diwi Acita Irawati, MP Karanganyar,Juli 2022 Penulis Zakhiyah Nur Aini PERPUSTAKAAN UMUKA


iv HUBUNGAN TINGKAT PEMAHAMAN SAPTA USAHA TERHADAP KEBERHASILAN USAHA AYAM BROILER SISTEM KEMITRAAN DI KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR Disusun Oleh : ZAKHIYAH NUR AINI NPM. 192077 LAPORAN TUGAS AKHIR Telah Disetujui untuk Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Karanganyar Persetujuan Pembimbing , Pembimbing Dr.Ir. Diwi Acita Irawati, M.P NIP. 196706211993032002 PERPUSTAKAAN UMUKA


v HUBUNGAN TINGKAT PEMAHAMAN SAPTA USAHA TERHADAP KEBERHASILAN USAHA AYAM BROILER SISTEM KEMITRAAN DI KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR Oleh ZAKHIYAH NUR AINI NPM. 192077 LAPORAN TUGAS AKHIR Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Karanganyar dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan Pada Hari : Selasa Tanggal : 12 Juli 2022 Mengesahkan : Dekan Drs. Sujalwo, M.Kom NIK. 2022.004 Dewan Penguji Dr. Ir. Diwi Acita Irawati, M.P NIP. 196706211993032002 Ir. Damaryanto Widharto, M.Si NIP.195903111988031002 Dimas Fajar Nugroho, S.Pt, M.Sc. NIDN. 0602049402 PERPUSTAKAAN UMUKA


vi MOTTO Allah berfirman, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah:5-6) “Why is it so hard when thingsgo against you ? if it is imposed by nature, accept galdy. If not, work out what your own nature requires, even if it brings you no glory” Marcus Aurelius (Filososfi Teras) PERPUSTAKAAN UMUKA


vii PERSEMBAHAN Karya Ini dipersembahkan kepada : Tuhan Yang Maha Esa “Allah SWT” Bapak dan Ibu Tercinta Almh. Kakak Keponakan dan adik tersayang Teman-teman seangkatan Dan Almamater PERPUSTAKAAN UMUKA


viii RINGKASAN Penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat Pemahaman Sapta Usaha Terhadap Keberhasilan Usaha Ayah Broiler Sistem Kemitraan di Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar”. Bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pemahaman peternak broiler terhadap sapta usaha. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 30 Mei sampai 3 Juli 2022 di Kecamatan Jumantono sebanyak 30 responden. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tingkat pemahaman sapta usaha broiler dan keberhasilan ternak. Data yang diperoleh dianalisis statistikdengan menggunakan korelasi person , berdasarkan hasil dari penelitian menunjukan bahwa hubungan tingkat pemahaman sapta usaha dengan keberhasilan menunjukan hubungan yang bermakna antara dua variabel yang diuji. Hal ini juga menunjukan bahwa kedua variabel tersebut memiliki arah korelasi searah atau positif (+), artinya semakin tinggi tingkat pemahaman peternak terhadap sapta usaha maka akan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan peternak. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa terdapat korelasi makna antara tingkat pemahaman dengan keberhasilan peternak usaha ayam broiler sistem kemitraan di kecamatan juamantono. Kata Kunci : Pola Kemitraan, Sapta Usaha, Tingkat Pemahaman, Usaha Broiler PERPUSTAKAAN UMUKA


ix KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan segala puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan dengn baik laporan tugas akhir dengan judul “Hubungan Tingkat Pemahaman Sapta Usaha Terhadap Keberhasilan Usaha Ayam Broiler Sistem Kemitraan Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar” Laporan Tugas Akhir ini ditulis untuk memenuhi sebagaian persyaratan mendapatkan sebutan Professional Ahli Madya Peternakan pada Akademi Peternakan Karanganyar. Adapun penyusunan laporan tugas akhir ini tidak lepas dari kerjasama dan bantuan dari seluruh pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada yth : 1. Rektor Universitas Muhammadiyah Karanganyar 2. Dekan Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Muhammadiyah Karanganyar 3. Kepala Program Studi Produksi Ternak yang telah memberikan ijin dan fasilitas guna penyusunan Laporan Tugas Akhir 4. Ibu Dr. Ir. Diwi Acita Irawati, MP selaku pembimbing, sehingga Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan Penulisan menyadari adanya kekurangan dalam pelaksanaan dan penulisan laporan tugas akhir. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan selanjutnya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya maupun pada pembaca dan bermasyarakat pada umumnya. Karanganyar, Juli 2022 Penulis PERPUSTAKAAN UMUKA


x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL............................................................................................ i HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ ii PERNYATAAN KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI................................. iii HALAMAN PERSETUJUAN........................................................................... iv HALAMAN PENGESAHAN............................................................................. v MOTTO ............................................................................................................... vi PERSEMBAHAN............................................................................................... vii RINGKASAN ....................................................................................................viii KATA PENGANTAR ......................................................................................... ix DAFTAR ISI......................................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR .........................................................................................xiii DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiv I. PENDAHULUAN............................................................................................ 1 II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................... 4 A. Usaha Ayah Broiler ..................................................................................... 4 B. Sapta Usaha ................................................................................................. 5 C. Tingkat Pengetahuan ................................................................................. 14 D. Keberhasilan Usaha ................................................................................... 15 E. Hipotesis.................................................................................................... 16 III.METODE PENELITIAN............................................................................... 17 A. MATERI.................................................................................................... 17 PERPUSTAKAAN UMUKA


xi B. METODE................................................................................................... 17 C. Variabel Penelitian..................................................................................... 18 D. Teknik Analisis Data ................................................................................. 19 E. Prosedur Penelitian .................................................................................... 20 IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 21 A. Gambaran Umum....................................................................................... 21 B. Hasil Karakteristik Responden .................................................................. 23 C. Tingkat Pemahaman Peternakan Terhadap Sapta Usaha Ternak .............. 30 D. Hubungan Antara Karateristik Peternak Dengan Tingkat Pemahaman Sapta Usaha dan Keberhasilan ............................................................................ 36 E. Hubungan Antara Tingkat Pemahaman Dengan Keberhasilan ................. 40 V. KESIMPULAN DAN SARAN...................................................................... 41 A. KESIMPULAN ......................................................................................... 41 B. SARAN...................................................................................................... 41 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 42 LAMPIRAN........................................................................................................ 45 PERPUSTAKAAN UMUKA RIWAYAT PENULIS ........................................................................................ 53


xii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Distribusi responden berdasarkan umur............................................................ 23 2.Distribusi respoden berdasarkan tingkat pendidikan formal.............................. 24 3. Distribusi Reponden berdasarkan populasi....................................................... 25 4. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Beternak.......................................... 26 5. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan .................................................. 27 6. Tingkat Pemahaman Sapta Usaha..................................................................... 28 7.Keberhasilan Ternak .......................................................................................... 29 8. Indeks Prestasi................................................................................................... 30 9. Tingkat Pemahaman Bibit................................................................................. 31 10.Tingkat Pemahaman Pakan.............................................................................. 32 11.Hasil Tingkat Pemahaman ............................................................................... 33 12.Tingkat Pemahaman Penyakit.......................................................................... 33 13.Tingkat Pemahaman Tatalaksana Pemeliharaan.............................................. 34 14. Tingkat Pemahaman Pasca Panen................................................................... 35 15. Tingkat Pemahaman Pemasaran ..................................................................... 36 16. Hasil Uji Korelasi Menggunakan SPSS Versi 16 ........................................... 36 PERPUSTAKAAN UMUKA


xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Prosedur Penelitian............................................................................................ 20 2. Denah Kecamatan Jumantono........................................................................... 22 PERPUSTAKAAN UMUKA


xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Karateristik Responden ..................................................................................... 45 2. Skor Karakteristik Responden........................................................................... 46 3. Kuisioner........................................................................................................... 47 4. Dokumentasi ..................................................................................................... 50 5. Data Spss........................................................................................................... 51 PERPUSTAKAAN UMUKA


1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan pembangunan di Indonesia tidak terlepas dari peran bidang peternakan. Subsektor peternakan memiliki peran yang strategis dalam menyediakan sumber pangan energi, dan pembangunan sumberdaya manusia Kontribusi subsektor peternakan pada pembangunan nasional yang begitu besar mengisyaratkan subsektor ini untuk terus berbenah diri agar tetap eksis dalam pembangunan nasional. Sumber pangan utama masyarakat terpenuhi dengan adanya peternak yang terus memberi suplai bahan pangan yang mencukupi. Permintaan akan daging ayam senantiasa meingkat membuat usaha ternak ayam broiler memiliki prospek yang luas (Heryadi, 2017).Peternakan ayam broiler mempunyai banyak kelebihan, salah satunya adalah siklus yang pendek berkisar 30-40 hari, dengan bobot badan antara 1,2 sampai 1,6 kg/ekor dan dapat segera di jual (Martina, 2019). Keunggulan inilah salah satu alasan yang membuat peternak broiler terus berkembang. Perkembangan ini senantiasa menciptakan keanekaragaman tingkat pengetahuan sapta usaha. sehingga menghasilkan hasil yang berbeda-beda pula. Sapta usaha peternakan merupakan gambaran kegiatan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan status peternakan memiliki orientasi usaha dan menjadikan peternak sebagai salah satu sumber penghasilan (Adianto, 2015). Sapta usaha ayam broiler meliputi pemilihan bibit, pakan, perkandangan, tatalaksana pemeliharaan, pengendalian penyakit dan pascapanen. PERPUSTAKAAN UMUKA


2 Kemampuan para peternak dalam memahami sapta usaha berpengaruh kepada keuntungan. Keuntungan akan diperoleh dengan maksimal ketika performa ayam yang dipelihara sesuai dengan standar yang ada dan keinginan pasar (Razak dkk, 2016). Salah satu kriteria yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pemeliharaan adalah dengan menghitung indeks performa. Semakin besar nilai IP yang diperoleh, semakin baik prestasi ayam dan semakin efisien penggunaan pakan (Fadilah, 2007). Usaha ternak ayam pedaging dibagi menjadi dua yaitu pola mandiri dan pola kemitraan. Peternak mandiri prinsipnya menyediakan seluruh input produksi dari modal sendiri dan bebas dalam memasarkan produknya. Sedangkan pada pola kemitraan dilakukan dengan pola inti plasma, yaitu kemitraan antara peternak mitra dengan perusahaan mitra, dimana kelompok mitra bertindak sebagai plasma, sedangkan perusahaan mitra sebagai inti. (Wawan dkk, 2016). Kabupaten Karanganyar khususnya Kecamatan Jumantono merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi peternakan ayam broiler. Menurut data kecamatan jumantono dalam angka 2021 jumlah ayam ras pedaging/ ayam broiler mencapai 1.6 Juta ekor. Sektor peternakan ayam broiler di Kecamatan Jumantono menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat jumantono.Berdasarkan penjelasan diatas, penulis melakukan penelitian tentang hubungan pemahaman sapta usaha terhadap keberhasilan usaha ayam broiler sistem kemitraan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman sapta usaha peternak dan hubungan antar pemahaman sapta usaha terhadap keberhasilan usaha ayam broiler di Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar. Manfaat dari penelitian ini PERPUSTAKAAN UMUKA


3 diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang hubungan sapta usaha terhadap keberhasilan usaha ayam broiler pola kemitraan. B. Tujuan 1. Untuk mengetahui tingkat pemahaman peternak tentang sapta usaha di Kecamatan Jumantono 2. Untuk mengetahui faktor keberhasilan usaha ayam broiler Kecamatan Jumantono 3. Untuk mengetahui hubungan antara pemahaman sapta usaha dengan keberhasilan usaha ayam broiler di kecamatan jumantono C. Manfaat 1. Peternakan ayam broiler secara umum sebagai pertimbangan dalam pengembangan usaha ternak ayam broiler 2. Dapat menambah ilmu pengetahuan dibidang manajemen pemeliharaan yang saat ini sedang berkembaang. PERPUSTAKAAN UMUKA


4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Usaha Ayam Broiler Usaha peternakan ayam pedaging atau ayam broiler pada awalnya merupakan usaha sampingan dari usaha peternakan ayam broiler. Seiring dengan berjalannya waktu, industri peternakan ayam broiler telah banyak berdiri sendiri. Usaha peternakan ayam broiler saat ini berkembang sangat pesat, baik dari segi skala usaha maupun dari segi tingkat efisiennnya. Alasannya adalah selain jumlah permintaan daging ayam yang terus meningkat, perputaran modal yang sangat cepat merupakan daya tarik tersediri bagi para peternak untuk menekuni usaha broiler, alasan lainnya adalah tersediannya faktor-faktor produksi dalam jumlah yang banyak (Hafsah, 2013 dikutip Angraeni, 2019) Usaha peternakan ayam broiler dapat diusahakan dalam berbagai skala produksi, baik skala besar maupun skala kecil. Para peternak broiler menekuni usaha ini dengan sistem mandiri maupun kemitraan yang dimana keduanya memiliki perbedaan. Khusus untuk peternakan ayam broiler dengan sistem kemitraan, faktor-faktor produksi seperti DOC, pakan obat-obatan vaksinasi dan vitamin tidak harus dibayar langsung. Faktor-faktor produksi tersebut sudah bisa dipakai untuk produksi selama masa produksi yaitu 30-40 hari dan harus dibayar setelah ayam broiler dipanen. Walaupun terlihat bahwa dalam pola kemitraan ini peternak sangat tergantung dengan perusahaan inti, tetapi keberhasilan usaha akan ditentukan oleh peternak dalam PERPUSTAKAAN UMUKA


5 memahami sapta usaha untuk mencapai keberhasilan usaha pola kemitraan ayam broiler (Kadarsan, 2011 dikutip Angraeni, 2019). B. Sapta Usaha Sapta Usaha adalah pengembangan peternakan dalam era tinggal landas, mengupayakan diversivikasi, intensifikasi, ekstensifikasi, dan rehabilitas peternakan secara serempak untuk meningkatkan produksi daging, telur, dan susu, pendapatan, dan lapangan kerja, dari seluruh jenis ternak (Mulyawati, dkk. 2016). Pembinaan dan pengembangan berbagai usaha ternak, pemerintah telah menuangkan kebijaksanaan dengan memprogramkan untuk mengintensifikasikan pemeliharan ternak sebagai sumber usaha peningkatan penggunaan sumber daya alam dan penggunaan teknologi tepat guna. Teknologi yang dianjurkan dalam program intesifikasi usaha ternak adalah penerapansaptausahasecaralengkap. Pemahaman sapta usaha berperan penting pada jalannya usaha kemitraan ayam broiler. Pemahaman sapta usaha diharapakan dapat meingkatkan produksi sehingga mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga peternak tersebut. Faktor yang berhubugan dengan penerapan sapta usaha antara lain pengetahuan, sikap, umur, intensitas komunikasi, ketrampilan, tingkat pendidikan (Antara, 2015). Terdapat tujuh aspek dalam sapta usaha peternakan menurut Direktorat Jenderal Peternakan, 1993 dikutip sutrisno yaitu, 1) bibit, 2)pakan , 3)sistem kandang , 4) tata laksana pemeliharaan, 5) pencegahan penyakit, 6),penanganan pascapanen, 7). Pemasaran. PERPUSTAKAAN UMUKA


6 1. Bibit Unggul Bibit adalah ternak yang mempunyai sifat unggul dan mewariskannya serta memenuhi persyaratan mutu bibit (Permetan, 2014). DOC merupakan seingkatan dari Day Old Chick yang merupakan istilah untuk anak ayam yang berumur satu hari. Ciri-ciri bibit atau DOC menurut yang baik adalah ukuran seragam, cukup sering bersuara, kaki berisi dengan bulu bersih serta mata yang tampak cerah, lincah dan aktif mencari pakan/minum, tidak ada gangguan pernafasaan atau penyakit lainnya, dubur bersih tidak ada pasta putih, dan berat tidak kurang dari 37 gram (SNI, 2005). Periode DOC merupakan masa yang paling kritis dalam siklus dalam siklus kehidupan, karena DOC mengalami proses adaptasi dengan lingkungan baru. Maka perlu diperhitungkan antara besaran brooder dengan jumlah DOC yang dimasukkan, jumlah alat pemanas, jumlah tempat pakan dan minum. Menurut Umiarti (2020), hal-hal yang perlu dilakukan selama penyebaran DOC yaitu : a. Saat DOC bari tiba disarankan untuk memberikan air gula guna memulihkan kembali tenaga DOC selama perjalan b. Pakan dan air dikontrol agar selalu tersedia c. DOC yang jelek atau cacat langsung dikeluarkan. Sedangkan yang lemah dapat dibantu minum dengan mencelupkan ujung paruh ke air gula d. Penyebaran dan tingkah laku DOC, harus selalu diperhatikan dan PERPUSTAKAAN UMUKA


7 diamati kondisinya e. Pemanas untuk brooder harus diawasi. Pemeliharaan saat DOC datang merupakan awal dari pemeliharaan selanjutnya. DOC yang baru datang biasanya mengalami stress dan kemunduran kondisi. Oleh karena itu, pemberian air minum dilakukan setelah DOC beristirahat kira-kira 2-3 jam. Pemberian air harus ad libitum dan ditempatkan secara merata disekitar sumber pemanas. Kandang DOC harus diberikan pemanas karena umumnya sistem kekebalan tubuh DOC belum stabil dalam fungsinya. Pada keesokan harinya, air minum ditambah suplemen berupa vitamin (Murtidjo, 1987) dikutip (Huda, 2011). 2. Penyakit Ayam yang sehat dan normal memiliki ciri-ciri yaitu konsumsi pakan dan air minum normal, kotoran tidak encer, giat melakukan aktivitas, bersuara normal dan pernafasan normal. Ayam yang menunjukan ciri-ciri di luar ayam normal termasuk ayam sakit. Dalam beternak broiler, perlu diperhatikan juga mengenai kesehatan ternak maupun kesehatan kandang. Menurut Umiarti (2020) beberapa penyakit yang menyerang broiler yaitu : a. Tetelo (Newcastle Disease) Penyakit tetelo atau Newcastle Disease yang disebabkan oleh virus ND. Penyakit tetelo bersifat akut. Gejala ayam yang terkena penyakit tetelo adalah hidung berlendir, sayap tekulai, lesu, hilang nafsu makan, sesak nafas dan kepala milintir atau melipat. Penyakit ini PERPUSTAKAAN UMUKA


8 bisa mengakibatkan kematian dengan penularan yang sangat cepat. Langkah pencegahan yang dilakukan peternak adalah dengan melakukan vaksinasi karena penyakit ini belum ada obat yang mampu menangani. b. Gumboro (Infectious Bursal Disease) Penyakit gumboro lebih sering menjangkit ayam muda (umur 3-6 minggu). Kematian bisa terjadi pada hari ketiga sampai hari kelima. Ayam penderita gumboro yaitu lesu, mengatuk, kotor disekitar anus, diare dengan warna keputihan, mudah terkejut dan posisi badan membungkuk, pada saat tidur paruh menjutai kebawah. Selain dilakukan vaksinasi, pencegahan juga bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang dan peralatannya serta meminimalisir tingkat stress. c. Ngorok Penyakit ngorok adalah penyakit pada ayam yang menyerang sistem pernafasan. Penyakit ini dapat menyerang ayam pada semua usia yang berakibat pada menurunya produksi ayam. Gejala dari penyakit ini adalah keluar lendir dari hidung awalnya bening kemudian menjadi kuning kental, sekitar mata bengkak da mata kemudian ada suara ngorok saat bernafas. Pencegahan penyakit ngorok adalah sanitasi kandang, memeperhatikan kepadatan kandang. Program pencegahan penyakit secara umum dilakukan dengan cara sanitasi, pemberian pakan yang cukup sesuai standar kebutuhan, PERPUSTAKAAN UMUKA


9 menyediakan lingkungan yang nyaman, kontrol manajemen(tatalaksana), program vaksinasi dan kontrol penyakit (Suprijatna dkk, 2006). 3. Pakan Ternak akan dapat mencapai tingkat penampilan produksi tertinggi sesuai dengan potensi genetikannya bila memperoleh zat-zat makanan yang dibutuhkannya. Zat makanan tersebut diperoleh ternak untuk menjalakan sistem metabolisme dari mengkonsumsi sejumlah pakan yang bernutrisi (Tillman et all, 1991) dikutip (Sholikin, 2011). Pakan unggas umumnya merupakan campuran dari berbagai macam bahan pakan yang diformulasikan dengan batasan tertentu untuk menghasilkan formula pakan yang mengadung nilai gizi sesuai kebutuhan dari ayam broiler (Sari, 2017). Ayam pedaging memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda pada fase pertumbuhan dan penggemukan. Pada fase Pre- Starter yaitu umur 0-2 minggu kebutuhan protein dikonsumsi lebih besar dibandingkan energi. Selanjutnya pada fase starter grower umur 2-6 minggu kebutuhan proteinnya menurun dan kebutuhan energinya sedikit meningkat, hal ini terjadi karena pada fase ini adalah dimulainya fase penggemukan ayam (Rasyaf, 2007). Kontribusi pakan adalah paling tinggi yaitu 75% jadi seorang peternak harus memahami betul tata laksana pemberian pakan (Sari, 2017). Konsumsi pakan yang semakin meningkat ini sudah sewajarnya karena kebutuhan energi sebanding dengan bobot badan dan umur ayam. Menurut Rasyaf (1994) dikutip sholikin (2011) selain dari faktor genetik PERPUSTAKAAN UMUKA


10 dan kandungan nutrisi pakan, konsumsi pakan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pakan yang diberikan tidak dalam kondisi rusak dan sesuai kemauan ayam. 4. Perkandangan Kandang memegang peran penting dalam sebuah peternakan ayam pedaging. Bangunan kandang yang baik adalah bangunan yang memenuhi persyaratan teknis sehingga kandang dapat berfungsi melindungi ternak ayam pedaging terhadap lingkungan yang mudah merugikan, mempermudah tatalaksana, menghemat tempat, menghindari dari gangguan hewan buas (Mulyadi, 2014 dikuti Angraeni, 2019). Perkandangan ayam broiler terbagi menjadi dua yaitu kandang Open House dan kandang Close House. Kandang Open House memastikan udara bisa keluar masuk masuk melalui ventilasi sehingga sirkulasi didalam kandang menjadi lebih baik karena adanya ventilasi yang berfungsi menjaga temperature, sikulasi udara, mengurangi kelembaban, debu, mengurangi gas beracun dan menyediakan oksigen bagi ternak. Kandang Close House merupakan kandang yang keseluruhannya bisa dikontrol secara otomatis, mulai dari sistem ventilasi, pemberian pakan, minum, suhu dan kelembaban didalam kandang. Keunggulan dari sistem ini adanya penghematan terhadap tenaga kerja. 5. Perkembangan Perkembangan ayam ras pedaging (broiler) mulai dirintis perkembangannya sejak tahun 1960, yaitu sejak dimulai program bimas PERPUSTAKAAN UMUKA


11 ayam. Tahun 1970-1980, peternakan ayam ras mengalami pertumbuhan yang pesat dengan ditandai tumbuhnya investasi pada industri hulu (bibit, pakan, dan obat-obatan), hilir maupun usaha budidaya. Dari tahun ke tahun perkembangan genetic ayam broiler cukup pesat. Perkembangan tersebut ditujukan untuk menghasilkan ayam dengan karakteristik unggul dalam upaya memenuhi kebutuhan akan protein hewani yang harus didapat dengan biaya yang relatif murah dan kecepatan pemenuhan yang tinggi dengan kualitas daging yang baik. Perbaikan genetik menghasilkan broiler modern seperti yang sekarang ini. Ada sedikit prubahan marfologinya, antara lain daging dada yang lebih tebal, kaki relatif lebih besar (berisi) dan pendek, serta pertumbuhan bulunya yang lambat (Tamalludin, 2014). 6. Tatalaksana Pemeliharaan Menurut Kartasudjana dkk (2008), ada 2 sistem pemeliharaan ayam broiler yaitu sistem All In All Out dan sistem Multiple Brooding. Sistem All In All Out merupakan sistem yang banyak digunakan oleh peternak karena lebih praktis, Dalam sistem ini semua DOC masuk pada waktu yang sama dan dijual pada waktu yang sama dan dijual pada waktu yang sama. Multiple Brooding yaitu sistem pemeliharaan di satu area dengan umur yang berbeda – beda. Sistem ini menghasilkan produksi yang berkesinambungan dan bisa disesuaikan dengan permintaan pasar. Kelemahan dalam sistem ini adalah adanya penularan penyakit dari ayam PERPUSTAKAAN UMUKA


12 yang berumur lebih tua ke ayam-ayam yang lebih muda.Panen adalah saat- saat yang dinantikan oleh peternak ayam broiler karena panen peternak akan tahu mendapatkan keuntungan atau justru mengalami kerugian. Penentu tingkat keberhasilan pemeliharaan ayam broiler dilakukan perhitungan IP dan BEP. Selain menghitung IP, kegiatan pasca panen masih harus berlanjut dengan membersihkan kandang dan peralatan untuk memperiapkan periode pemeliharaan berikutnya. Menurut medion.co.id (diakses 11 juli pukul 10.06 ) Setelah ayam dipanen akan tertinggal sisa-sisa pemeliharaan ayam, mulai dari kotoran, debu, bulu, serta bibit penyakit. Setelah seluruh ayam dipanen, kita perlu melakukan kegitan pembersihan dan desinfeksi agar kondisi kandang kembali bersih dan siap ditempati ayam baru, baik dari struktur (fisik) maupun fungsinya. Terget keberhasilan dan desinfeksi kandang adalah untuk mengurangi dan meminimalkan jumlah bibit penyakit di dalam kandang dan sekitar kandang. Tahapan pembersihan kandang antara lain : a. Sisa-sisa kotoran hendaknya dikeluarkan dari kandang. Kemudian, semprotkan air bertekanan tinggi. Jika sisa kotoran tidak dihilangkan, siklus bibit penyakit selalu ada di kandang. b. Menyemprotkan desinfektan pada kandang yang banyak kutu dan serangga c. Membersihkan lantai dengan cara menggosok dan mencuci lantai menggunkan detergen. Kemudian semprot air dan dikeringkan d. Membersihkan rumput dan semak di sekitar kandang agar tidak PERPUSTAKAAN UMUKA


13 menjadi sarang penyakit dan parit/selokan di samping kandang agar aliran air lancar. e. Pengapuran tanah di bawah kandang panggung dan seluruh bagian kandang untuk mengurangi kelembaban dan membunuh sisa-sisa mikrooganisme penyebab penyakit. Setelah kandang dibersihkan dan didesinfeksi secara keseluruhan, kandang perlu diistirahatakan selama beberapa waktu. Secara umum, masa istirahata kandang minimal 14 hari dihitung dari waktu kandang selesai dibersihkan. Bahkan saat terjadi kasus, misalnya serangan penyakit gumboro maupun ND, maka masa istirahat kandang perlu diperpanjang. Tujuannya agar bibit penyakit yang berada di kandang bisa dikurangi secara optimal atau untuk memutus sikuls bibit penyakit. 7. Pemasaran Keberhasilan pemasaran ayam pedaging adalah adanya sebuah penawaran dan permintaan dari konsumen yang membutuhkan sehingga pemasaran dapat terus berjalan. Kegiatan pemasaran ayam pedaging tidak lepas dari lembaga-lembaga penyalur yang bekerja sebagai pedagang perantara. Lembaga pemasaran merupakan suatu organisasi atau perseorangan yang bekerja sebagai pengaliran barangdari produsen ke konsumen akhir (Ana dkk, 2014) Pemasaran berfungsi sebagai menejemen yang mengkoordinsi dan menjuruskan semua kegiatan usaha yang meliputi penilaian dan pengubahan daya beli konsumen menjadi permintaan yang efektif akan PERPUSTAKAAN UMUKA


14 suatu barang atau jasa serta penyampaian barang atau jasa tersebut kepada konsumen sehingga perusahaan dapat mencapai laba serta tujuan lain yang ditetapkan dan direncanakan sebelumnya (Kotler dkk, dikutip Hairi dkk 2009). Berbagai saluran pemasaran ayam broiler yang digunakan di peroleh dengan penelusuran mulai dari lembaga broiler sampai kepada konsumen. Menurut Ariong dan Kadir (2008) dikuip Hairi dkk (2018) semakin panjang maka margin yang tercipta antara produsen dan konsumen akan semakin besar. Saluran pemasaran pada peternakan ayam, baik ayam ras maupun ayam buras, umunya panjang. Hal ini karena saluran pemasaran dimulai dari peternak ke pedagang pengumpul, pangkalan ayam ke pemotongan pedagang pengecer dan baru ke konsumen (Suharno, 1999 dikutip Hairi dkk, 2018). C. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmojo dikutip Yuliana (2017), pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimiliki ( mata, hidung, telinga, dan sebagainya ), jadi pengetahuan adalah berbagai macam hal yang diperoleh seseorang melalui panca indera. Menurut Abdurahman dan Muhiddin (2007) dikutip Muhyidin dkk, (2019) yang menyatakan bahwa meningkatnya pengetahuan responden akan diringi pula dengan meningkatnya motivasi. Dengan pengetahuan yang tinggi, maka peternak lebih mudah mengadopsi inovasi baru. PERPUSTAKAAN UMUKA


15 Menurut Slamet (1978) dikutip Khitam (2010) memerinci bahwa ada perbedaan karakteristik individu yang turut mempengaruhi cepat lambatnya proses adopsi, yang meliputi : umur, pendidikan, status sosial ekonomi, pola hubungan, keberanian mengambil resiko, sikap terhadap perubahan, motivasi berkarya, aspirasi, fatalism dan diagnotisme. Penelitian lain menujukan tingkat pendidikan seseorang akan sangat mempengaruhi tingkat pemahaman, perubahan sikap, dan perilaku mereka terhadap informasi-informasi yang diperoleh baik secara langsung maupun melalui media massa (Setyanto, 1993) dikutip Khitam (2010). D. Keberhasilan Usaha Rahasia sukses berternak unggas yaitu dengan membangun segi tiga peternakan sama sisi yang sempurna. Sisi alas segi tinga tersebut merupakan faktor pertama pilar peternakan yaitu : Bibit. Bibit unggas harus dipilih dari bibit yang baik, bibit yang jelas mutunya, bibit yang tinggi produktifitasnya.Setelah mendapatkan bibit yang baik maka unggas tersebut harus dipelihara dengan baik. Dengan demikian, sisi kaki kanan segi tiga tersebut harus dipelihara dengan baik. Dengan demikian, sisi kanan segi tiga tersebut adalah faktor kedua pilar peternakan yaitu : Manajemen. Peternakan unggas harus dikelola dengan baik, disediakan kadang yang baik, lantai yang kering, tempat pakan dan minum dan air minum yang memadai, terhindar dari hujan, biantang liar, suara bising, dan terhindar dari tiupan angin langsung. Pilar ketiga peternakan yaitu : Pakan (Ketaren, 2010) PERPUSTAKAAN UMUKA


16 Sapta Usaha juga termasuk dalam kategori untuk mengukur keberhasilan beternak khususnya ayam broiler karena meliputi bibit, pakan, perkandangan, tata laksana pemeliharaan, pencegahan penyakit, penanganan pascapanen sertapemasaran yang semua ini merupakan manajemen yang berpengaruh secara langsung terhadap peternakan broiler. Tingkat keberhasilan usaha peternakan ayam broiler pada umumnya ditunjukkan oleh penampilan atau performance.Kualitas performa ayam akan tercermin pada nilai IP. Nilai IP juga digunakan untuk penetuan nilai insetif atau bonus bagi peternak (kemitraan) maupun pekerja di kandang. Menurut Fadilah et al (2007) dikutip Maharatih (2017) menyatakan bahwa semakin besar nilai IP yang diperoleh, semakin baik prestasi ayam dan semakin efisien penggunaan pakan. Ayam pedaging tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor –faktor tersebut antara lain adalah tingkat kematian (mortalitas), bobot badan ayam hidup, Feed Covertion Ratio dan umur panen (Pakage, 2020). E. Hipotesis Keberhasilan usaha peternakan ayam broiler ditentukan oleh kepahaman sapta usaha PERPUSTAKAAN UMUKA


17 III. METODE PENELITIAN Penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat Pemahaman Sapta Usaha Terhadap Keberhasilan Usaha Ayam Broiler Pola Kemitraan di Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar” yang dilaksanakan pada bulan Mei – juli 2022. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan pembagian kuisioner kepada responden, yaitu peternak ayam broiler pola kemitraan di kecamatan jumantono. A. MATERI Sebagai materi dalam penelitian ini yaitu : 1. Peternak ayam broiler pola kemitraan di kecamatan Jumantono berjumlah 30 orang 2. Kuisioner Pemahaman Sapta Usaha dan Keberhasilan Usaha 3. Alat Bantu berupa alat tulis, alat komunikasi dan alat dokumentasi B. METODE Metode yang digunakan yaitu survei secara langsung dengan peternak ayam broiler sistem kemitraan di Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar, adapun cara yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu : 1. Metode Observasi Obervasi merupakan metode pegempulan data yang menggunakan pengamatan secara langsung dan tidak langsung (Riyanto, 2010). Pengamatan pertama dilakukan pada lokasi penelitian di Kecamatan PERPUSTAKAAN UMUKA


18 Jumantono dengan cara survei lokasi secara langsung dan penentuan responden dengan pertimbangan telah beternak broiler. 2. Metode Interview (Wawancara) Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga peneliti ingin mengetahui hal-hal lai dari para responden yang lebih mendalam (Sugiyono, 2016). Wawancara dilakukan sebagai teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan keterangan responden atau informan melalui percakapan langsung menggunakan kuisioner dan pertanyaan yang telah ditulis oleh peneliti. 3. Metode Dokumentasi Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau literatur yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, dan lain sebagainya (Arisusanto, 2011). Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data- data penelitian, dengan mencatat semua keterangan dari barang-barang yang ada relefansinya dengan objek penelitian. C. Variabel Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : 1. Profil peternak yaitu umur, pendidikan formal, jumlah populasi ternaklama beternak dan pekerjaan. 2. Tingkat penguasan sapta usaha diperoleh dengan kemampuannya dalam pemilihan bibit, pemberian pakan, perkandangan, tatalaksana PERPUSTAKAAN UMUKA


19 pemeliharaan, pengendalian penyakit, penanganan pasca panen dan pemasaran. 3. Keberhasilan usaha diukur dengan motivasi beternak, tingkat perkembangan usaha, kepemilikan aset dan nilai IP. D. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan kegiatan yang sangat penting, karena dengan analisis data dapat mempunyai arti atau makna yng dapat berguna untuk memecahkan masalah penelitian (Hastono, 2007). Data hasil penelitian ini diolah menggunakan analisis secara deskriptif kuantitatif yaitu menghitung variabel yang diteliti dengan presentase dari hasil setiap variabel. Kemudian data hasil penelitian diolah menggunakan SPSS Versi 16. Teknik analisa data ini adalah analisis bivariate, untuk melihat apakah ada hubungan antara vasiabel dependen dengan variabel independen menggunakan Uji Korelasi Pearson, untuk mencari hubungan dua variabel (bivariate) yang interval atau ratio, sumber data dari dua variabel atau lebih adalah sama (Sugiyono, 2017). Gambar. 1 Keterangan : rxy : koefisian korelasi r pearson n : jumlah sampel/observasi x : variabel bebas /variabel pertama y : variabel terikat/variabel kedua PERPUSTAKAAN UMUKA


20 E. Prosedur Penelitian Pada dasarnya prosedur dari penelitian ini didasarkan atas faktor yang cukup dominan terhadap penelitian ini yaitu tentang bagaiamankah hubungan anatara pemahaman sapta usaha terhadap keberhasilan usaha Gambar 2. Prosedur Penelitian Survei peternak ayam broiler di kecamatan Jumantono Observasi objek penelitian dan Pengumpulan data Pelaksananaan penelitian Pembagian Kuisisoner Input Data Analisis korelasi dengan pemahaman sapta usaha terhadap keberhasilan usaha PERPUSTAKAAN UMUKA


21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian tugas akhir yang dilaksanakan pada bulan Mei-Juli di Kecamatan Jumantono dengan peternak ayam broiler sistem kemitraan akan membahas hubungan tingkat pemahaman sapta usaha terhadap keberhasilan usaha peternakan ayam broiler sistem kemitraan. 1. Kondisi Geografis Kecamatan Jumantono Kecamatan Jumantono merupakan salah satu kecamatan dari 17 kecamatan yang ada di kabupaten Karanganyar. Jarak dari kabuapten Karanganyar sekitar 11 km arah tenggara. Luas wilayah kecamatan Jumantono adalah 53,55 km2dengan ketinggian rata-rata 293 m diatas permukaan laut.Suhu lingkungan berkisar sekitar 26 - 35 0C. Batas wilayah Kecamatan Juamntono : Sebelah Utara : Kec. Matesih dan Kec. Karanganyar Sebelah Selatan : Kec. Jumapolo Sebelah Barat : Kec. Sukoharjo Sebelah Timur Kec. Jatiyoso Luas wilayah Kecamatan Jumantono adalah 5.354,8 Ha, yang terdiri dari luas tanah sawah 1.595,6 Km, dan luas tanah kering 3.759, 2 ha. PERPUSTAKAAN UMUKA


22 Sementara itu luas tanah pekarangan/bangunan 1.634,ha dan luas untuk tegalan ladang 1.879,1 ha. Gambar 1. Denah Kecamatan Jumantono Menurut data hasil sensus penduduk 2020. Jumlah penduduk di Kecamatan Jumatono tahun 2020 sebanyak 48.854 jiwa,yang terdiri dari laki-laki 24.388 jiwa dan perempuan 24.466 jiwa. Penduduk terbanyak berada di desa sringin, yaitu sebesar 11,34 persen dan paling sedikit berada di desa sukosari sebesar 7,17 persen. Kepadatan penduduk Kecamatan Jumantono mencapai 912 jiwa/Km2 Kecamatan Jumantono memiliki populasi ternak yang diusahakan pada tahun 2020 adalah sapi perah 4 ekor, sapi potong 4.995 ekor, kerbau 3 ekor, kambing 498 ekor, domba 10.628 ekor, babi 532 ekor, kelinci 825 ekor, ayam ras petelur sebanyak 490 ribu ekor, ayam ras pedaging 1,635 juta ekor, ayam buras 57.586 ekor, burung puyuh 13.475 ekor dan itik 160 ekor. PERPUSTAKAAN UMUKA


23 Berdasarkan penjelasan terhadap kondisi geografis dari Kecamatan Jumantono diagap cocok untuk menjalankan peternakan ayam broiler dari suhu lingkungan yang berkisar 26 0C serta lahan yang luas sehingga populasi ternak di Kecamatan Jumantono jumlah ayam ras pedaging mencapai 1,635 juta yang berarti usaha peternakan ayam broiler paling dimanti oleh masyarakat untuk dikembangkan. B. Hasil Karakteristik Responden 1. Umur Umur dapat memepengaruhi produktifitas peternak karena erat kaitannya dengan kemampuan kerja serta pola pikir dalam menentukan bentuk serta pola manajemen yang diterapkan dalam usaha. Distribusi umur peternak responden dapat dilihat pada tabel 1 Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan umur Kategori Jumlah Orang Presentasi (%) Remaja akhir (17-250 - - Dewasa awal (26-35) 7 23,33 Dewasa akhir (36-45) 12 40,00 Lansia Awal (46-55) 6 20,00 Lansia akhir (56-65) 5 16,67 Jumlah 30 100 Sumber : World Health Organization (WHO) Berdasarkan hasil penelitian, responden dengan kategori dewasa awal sebanyak 7 orang (23,33%), dewasa akhir sebanyak 12 orang (40%), lansia awal sebanyak 6 orang (20%), serta lansia akhir sebanyak 5 orang (16,67%). Hasil data tersebut menunjukan umur paling banyak adalah PERPUSTAKAAN UMUKA


24 dewasa akhir dengan presentase 40%. Hal ini menunjukan bahwa para peternak dinilai sudah mampu menjalakan peternakan broiler dengan maksimal mengingat umur yang masih dapat melakukan aktifitas secara leluasa dan mampu menerima informasi untuk berkembang. 2. Tingkat Pendidikan Formal Keseluruhan respoden yang diteliti, pendidikan cukup bervariasi. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan formal disajikan dalam tabel 2 Tabel 2. Distribusi respoden berdasarkan tingkat pendidikan formal No Tingkat Pendidikan Responden Jumlah Presentase (%) 1 Tidak Sekolah - - 2 SD 6 20,00 3 SMP 10 33,33 4 SMA/SMK 12 40,00 5 Perguruan Tinggi 2 6,67 Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasarakan tabel 2, diperoleh hasil tingkat pendidikan pada reponden yaitu Sekolah Dasar (SD) dengan presentase 20% sebanyak 6 orang, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan presentase 33,33% sebanyak 10 orang Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) 40% sebanyak 12 orang dan Perguruan Tinggi 6,67% sebanyak 2 orang. Hasil data responden mampu menjelaskan jawaban dengan baik walau tanpa PERPUSTAKAAN UMUKA


25 latar belakang pendidikan peternakan. Pendidikan ini juga merupakan dampak dari kemampuan ekonomi para responden. 3. Jumlah Populasi Ternak Berdasarkan data responden pupulasi ternak di Kecamatan Jumantono dilihat dari chick inselama satu periode yang dapat dilihat pada tabel 3 Tabel 3. Distribusi Reponden berdasarkan populasi Populasi Chick In* Responden Presentase (%) 16.000-20.000 2 6.66 11.000-15.000 6 20,00 6.000-10.000 17 56,67 1000-5000 5 16,67 <1000 - - Jumlah 30 100 Sumber : *Susanti, dkk (2019) Berdasarkan hasil penelitian jumlah populasi ternak dengan populasi 16.000-20.000 presentase 6,66% sebanyak 2 orang, populasi 11.000-15.000 presentase 20% sebanyak 6 orang, 6.000-17.000 presentase 56,67% sebanyak 17 orang, dan 1000-5000 presentase 16,67% sebanyak 5 orang. Populasi ayam broiler menunjukan bahwa skala peternakan para responden dalam tahap perkembangan yang terus meningkat menandakan adanya peluang yang menuntungkan di masyarakat. PERPUSTAKAAN UMUKA


26 4. Lama Beternak Pengalaman peternak juga memiliki peran penting di dalam peternakan, selain itu peternak yang memiliki pengalaman dinilai mampu mengatasi masalah selama pemeliharaan ayam broiler dan memiliki relasi yang cukup luas. Distribusi responden bedasarakan lama beternak dilihat dalam tabel 4 Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Beternak No. Lama Beternak Responden Presentase 1 26-30 Tahun 1 3,33 2 20-25 Tahun 2 6,67 3 14-19 Tahun 4 13,33 4 8-13 Tahun 12 40,00 5 2-7 Tahun 11 36,67 Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian diatas dilihat bahwa lama beternak antara lain, 2-7 tahun sebanyak 11 orang, 8-13 Tahun sebanyak 12 orang, 14-19 tahun sebanyak 3 orang, 20-25 tahun sebanyak 2 orang dan 26-30 orang sebanyak 1 orang. Kesimpulan responden sudah memiliki pengalaman yang lebih untuk mengembangkan usaha namun kekurangannya adalah para responden mengandalkan pengalaman lapangan yang mereka alami tanpa mengikuti pelaihan dari lembaga professional yang mengakibatkan lambatnya perekembangan peternak. PERPUSTAKAAN UMUKA


27 5. Pekerjaan Pekerjaan dapat dijadikan tolok ukutr untuk menentukan penghasilan seseorang. Data distribusi responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan No Pekerjaan Jumlah Respon Presentase 1 Pegawai - - 2 Perangkat Desa 1 3,33 3 Peternak 13 43,34 4 Petani 9 30,00 5 Lainnya (Pedagang, Wiraswasta) 7 23,33 Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasasarkan tabel 5 data menyebutkan pekerjaan sebagai perangkat desa sebanyak 1 orang, peternak sebanyak 13 orang, petani sebanyak 9 orang dan lainnya (pedagang, wiraswasta) sebanyak 7 orang. Pekerjaan terbanyak para pelaku usaha ayam broiler di Kecamatan Juamantono yaitu peternak dengan presentase 43,34%.Hasil menunjukan bahwa para peternak memiliki motivasi yang tinggi mengingatmayoritas responden bekerja sebagai peternak. Sebagai peternak para responden mampu menempatkan diri secara keseluruhan dan mengambil resiko yang cukup besar. PERPUSTAKAAN UMUKA


28 6. Tingkat Pemahaman Sapta Usaha Pemahaman sapta usaha diharapkan dapat mendorong sektor peternakan ayam broiler lebih maju. Hasil dari penelitian tingkat pemahaman sapta usaha dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Tingkat Pemahaman Sapta Usaha No Pencapaian Skor Jumlah Responden Presentase Kategori 1. 81-100 21 70,00 Sangat Tinggi 2. 61-80 9 30,00 Tinggi 3. 41-62 - - Sedang 4. 21-40 - - Rendah 5. <20 - - Sangat Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasarkan hasil diketahui bahwa pemahaman sapta usaha dengan kategori sangat baik sebanyak 21 orang dan kategori baik 9 orang. Hasil nilai pemahaman sapta usaha responden paling banyak berada pada kategori sangat tinggi.Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pemahaman sapta usaha responden menujukan para responden mampu memahami pertanyaan dengan baik dan menjawab dengan benar. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Khitam (2010) pemahaman sapta usaha diharapkan dapat meningkatkan produksi sehingga mempu meningkatkan pendapatan peternak dan memberikan dapak yang baik bagi perkembangan usaha ayam broiler. PERPUSTAKAAN UMUKA


29 7. Keberhasilan Ternak Penilaian pada keberhasilan ternak didasarkan pada jumlah skor yang didapatkan oleh responden dengan menjawab semua kuisioner. Hasil data penelitian keberhasilan berternak disajikan dalam bentuk tabel. 7 Tabel 7. Keberhasilan Ternak No Pencapaian Skor Jumlah Responden Presentase Kategori 1. 81-100 11 36,67 Sangat Tinggi 2. 61-80 14 46,67 Tinggi 3. 41-60 5 16,67 Sedang 4. 21-40 - - Rendah 5. <20 - - Sangat Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Penelitian Berdasarkan tabel diatas skor nlai dari keberhasilan beternak di dapatakan hasil dengan kategori sangat baik 36,67% sebanyak 11 orang, kategori tinggi 46,67 sebanyak 14 orang dan kategori sedang 16,67 sebanyak 5 orang. Hal ini menunjukan bahwa responden memahami pertanyaan dengan baik, dilihat dari jawaban yang menjelaskan hasil yang didapatkan selama beternak.Dalam usaha ayam broiler IP merupakan hal yang penting untuk melihat hasil prestasi dengan efiensi pakan. PERPUSTAKAAN UMUKA


30 Tabel 8. Indeks Prestasi No Pencapaian Skor* Responden Presentase Kategori* 1 >400 - - Istimewa 2 351-400 10 33,33 Sangat Baik 3 326-350 11 36,67 Baik 4 301-325 9 30,00 Cukup 5 <300 - - Rendah Jumlah 30 100 Sumber :*Santoso dan Sudaryani (2009) dikutip Maharatih (2017) Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa IP peternak ayam broiler di Jumantono dengan kategori sangat baik dengan presentase 33,33% sebanyak 10 orang, kategori baik dengan presentase 36,67% sebanyak 11 orang, kategori cukup sebanyak 9 orang. Menurut Fadila et al (2007) dikutip Maharatih (2017) meyatakan bahwa semakin besar nilai IP yang diperoleh, maka baik prestasi ayam dan semakin efisien penggunaan pakan. Dari hasil tersebut mayoritas reponden sudah memiliki kategori sangat tinggi dengan hal itu kemungkinan peternak mendapatkan keuntungan dan berhasil dalam manajemen pakan. Kemudian, kategori lainnya sudah baik dan cukup maka masih layak untuk dijalankan. C. Tingkat Pemahaman Peternakan Terhadap Sapta Usaha Ternak 1. Tingkat Pemahaman Bibit Bibit adalah awal dari produksi berlangsung, bibit yang unggul dan baik akan menghasilkan ayam broiler yang baik jika PERPUSTAKAAN UMUKA


31 didukung dengan pemeliharaan yang baik. Periode DOC merupakan masa yang paling kritis dalam siklus dalam siklus kehidupan, karena DOC mengalami proses adaptasi dengan lingkungan baru (Umiarti, 2020). Tingkat pemahaman bibit disajikan pada tabel 9. Tabel 9. Tingkat Pemahaman Bibit No Jumlah Nilai Responden Presetase (%) Kategori 1. 10-14 26 86,67 Tinggi 2. 5-9 4 13,33 Sedang 3. <4 - - Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasarkan data hasil lapangan menunjukkan kategori tinggi dengan presentase 86,67% sebanyak 26 orang dan 13,33% sebanyak 4 orang. Dalam proses wawancara responden menjawab dengan senang hati dan keseluruhan pertanyaan dijawab dengan kemampuan nya masing- masing. Hasil tersebut menunjukan bahwa mayoritas peternak mampu memahami pemahaman tetang bibit hingga pemeliharaannya. 2. Tingkat Pemahaman Pakan Ternak akan dapat mencapai tingkat penampilan produksi tertinggi sesuai dengan potensi penetinknya bial memeperoleh zat-zat ,makanan yang dibutuhknanya (Tillman et al, 1991) dikutip (Sholikhin,2011). Berdasarkan materi tersebut peternak akan berhasil apabila mampu mangkontrol pakan karena pakan berperan secara langung terhadap tigkat PERPUSTAKAAN UMUKA


32 penampilan produksi tertinggi. Hasil penelitian di sajikan dengan tabel 10. Tabel 10. Tingkat Pemahaman Pakan No Jumlah Nilai Responden Presetase (%) Kategori 1. 11-16 28 93,33 Tinggi 2. 5-10 2 6,67 Sedang 3. <5 - - Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasarkan data hasil lapangan dengan presentase 93,33% kategori tinggi sebanyak 28 orang dan presentase 6,67% sebanyak 2 orang. Pada pola kemitraan biasanya pihak inti memberikan fasilitas pakan selama satu periode dan tugas bagi peternak adalah memberikan pakan menurut sandar yang mitra tentukan. Para peternak juga memiliki fasilitas petugas dari pihak inti untuk mengecek dan memberikan arahan yang tepat bagi peternak. Maka para peternak dapat meminimalisir kesalahan dalam pemahaman dan pemberian pakan. 3. Tingkat Pemahaman Perkandangan Kandang merupakan syarat yang paling utama dalam menjalankan usaha peternakan karena selama masa hidup ayam broiler dihabisakan dalam kandang. Kandang ayam broiler memiliki 2 tipe yaitu open house dan close house. Pada penelitian ini responden mayoritas menggunakan kandang semi close house yang sebagaian besar sudah ditentukan oleh pihak kemitraan. Hasil penelitian tingkat pemahaman perkadang dapat dilihat pada tabel11. PERPUSTAKAAN UMUKA


33 Tabel 11. Hasil Tingkat Pemahaman No Jumlah Nilai Responden Presetase (%) Kategori 1. 10-14 29 96,67 Tinggi 2. 5-9 1 3,33 Sedang 3. <4 - - Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasarkan data hasil lapangan tingkat pemahaman perkandangan kategori tinggi dengan presentase 96,67% sebanyak 29 orang dan kategori rendah presentase 3,33% sebanyak 1 orang. Kandang memegang peran penting dalam sebuah peternakan ayam pedaging (Mulyadi, 2014 dikutip Angraeni, 2019). Maka dapat disimpulkan bahawa mayoritas responden memahami tentang perkandangan dan sistem kandang juga dipengaruhi oleh kemitraan. 4. Tingkat Pemahaman Penyakit Penyakit pada ayam broiler memiliki dampak pada usaha peternakan. Peternak harus mampu memahami jenis penyakit dan cara menanganinya. Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 12 Tabel 12. Tingkat Pemahaman Penyakit No Jumlah Nilai Responden Presetase (%) Kategori 1. 10-14 17 56,67 Tinggi 2. 5-9 13 43,33 Sedang 3. <4 - - Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan PERPUSTAKAAN UMUKA


34 Berdasrakan hasil data penelitian didapatkan data tingkat pemahaman penyakit dengan kategori tinggi presentase 56,67 dengan responden sebanyak 17 orang, kategori sedang presentase 43,33% dengan responden sebanyak 13 orang. Dari hasil tersebut responden terbanyak kategori tinggi, yang menunjukan bahwa para peternak mampu mengenali macam-macam nama penyakit dan melakukan pecegahan seperti memberikan tempat yang bersih dan pakan yang baik. 5. Tingkat Pemahaman Tatalaksana Pemeliharaan Tatalaksana pemeliharaan menjadi faktor yang penting untuk mendapatkan hasil panen yang diinginkan. Tatalaksana pemeliharaan bisa dilakukan pada pemberian pakan dan air minum, sanitasi kandang tergantung fase yang dipelihara. Data hasil penelitian pemahaman tatalaksana pemeliharaan dapat dilihat pada tabel 13 Tabel 13. Tingkat Pemahaman Tatalaksana Pemeliharaan No Jumlah Nilai Responden Presetase (%) Kategori 1. 10-14 25 83,33 Tinggi 2. 5-9 5 16,67 Sedang 3. <4 - - Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasarkan hasil penelitian dengan kategori tinggi dengan presentase 83,33% sebanyak 25 orang dan kategori sedang dengan presentase 16,67% sebanyak 5 orang. Data tersebut menyebutkan para PERPUSTAKAAN UMUKA


35 responden mampu memahami tatalaksana pemeliharan. Mayoritas responden mampu memahami tatalaksana pemeliharan terlihat dari hasil perhitungan sebanyak 25 orang. Hal ini menunjukan bahwa para reponden sudah memiliki pemahaman tatalaksana yang di dapat pada proses pemeliharaan maupun dari pihak kemitraan. 6. Tingkat Pemahaman Pasca Panen Pasca panen yaitu kegiatan yang perlu dilakukan untuk membersihkan semua peralatan makan, minum dan kandang. Hal ini sangat penting untuk dilakukan mengingat ayam terdahulu dapat menjadi sumber penyakit pada periode berikutnya. Hasil penelitian pada tingkat pemahaman pasca penen dapat dilihat pada tabel 14 Tabel 14. Tingkat Pemahaman Pasca Panen No Jumlah Nilai Responden Presetase (%) Kategori 1. 10-14 30 100 Tinggi 2. 5-9 - - Sedang 3. <4 - - Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh pemahaman peternak terhadap penanganan pasca panen tinggi yaitu sekitar 100% yang berati para peternak paham dalam pencegahan penyakit yang dapat ditularkan secara tidak langsung memlalui kandan maupun peralatan pakan. Para peternak mampu menjelaskan penanganan kandang setelah panen serta manfaat dari penanganan pasca panen. PERPUSTAKAAN UMUKA


36 7. Tingkat Pemahaman Pemasaran Pemasaran pola kemitraan sudah tersusun secara terstruktur, namun peternak perlu memahami jalannya pemasaran agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan. Hasil dari penelitian tingkat pemahaman pemasaran dapat dilihat pada tabel 15 Tabel 15. Tingkat Pemahaman Pemasaran No Jumlah Nilai Responden Presetase (%) Kategori 1. 10-14 22 93,33 Tinggi 2. 5-9 8 6,67 Sedang 3. <4 - - Rendah Jumlah 30 100 Sumber : Data Hasil Lapangan Berdasarakan penelitian tersebut para peternak sudah memahami jalanya pemasaran pada pola kemitraan yang dimana kategori tinggi mendapat persentase 93,33%. Hal ini juga dipengaruhi pada perjanjian kontrak yang disetujui oleh pihak peternak dan kemitraan D. Hubungan Antara Karateristik Peternak Dengan Tingkat Pemahaman Sapta Usaha dan Keberhasilan Tabel 16. Hasil Uji Korelasi Menggunakan SPSS Versi 16 Umur Pendidikan Populasi Ternak Lama Beternak Pekerjaa n Sapta Usaha Keberh asilan Sapta Usaha 0,886 0530 0,257 0,554 0,423 - 0,663 Keber hasilan 0,713 0,581 0,678 0,915 0,276 0,03 - Sumber : Data Hasil Analisis PERPUSTAKAAN UMUKA


Click to View FlipBook Version