The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kearifan Lokal Masyarakat Jawa

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mbak tin, 2024-02-23 00:19:14

MODUL DIGITAL P5 KELAS 7

Kearifan Lokal Masyarakat Jawa

MTsN 2 Kota Surabaya MTsN 2 Kota Surabaya modul P5RA KELAS 7 Kearifan Lokal Masyarakat Jawa to Jogjakarta Nama: Kelas : .......................................................................................................................................... ...........................................................................................................................................


PRAKATA Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan modul ini. Tak lupa juga salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, karena berkat beliau, kita mampu keluar dari kegelapan menuju jalan yang lebih terang. Kami ucapkan juga rasa terima kasih kami kepada pihakpihakyang mendukung lancarnya penyelesaian modul ajar ini mulai dari proses penyusunan hingga proses cetak, yaitu kepala Madrasah, Bapak Agus Yulianto, S. Pd, rekan-rekan guru penyusun modul, tim fasilitator P5 dan masih banyak lagi yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu. Adapun, buku ajar kami yang berjudul “Modul P5: Kearifan Lokal Masyarakat Jawa” ini telah selesai kami susun secara semaksimal dan sebaik mungkin agar menjadi manfaat bagi pembaca khususnya anak didik kami siswa siswi MTs N 2 Kota Surabaya dalam kegiatan pembelajaran P5 yang mengusung topik kearifan lokal yang membutuhkan informasi dan pengetahuan mengenai bagaimana kearifan lokal tetap lestari pada masyarakat Jawa. Dalam modul ini, tertulis bagaimana masyarakat Jawa menjaga tradisi mereka dengan tetap melestarikan adat istiadat, kudapan, busana, bahasa, dolanan dalam kehidupan keseharian mereka. Kami sadar, masih banyak luput dan kekeliruan pada modul ini, serta jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mohon agar pembaca memberi kritik dan juga saran terhadap modul ini agar kami dapat terus meningkatkan kualitasnya.Terima kasih. Surabaya,15 Februari 2024 Penyusun


DAFTAR ISI PRAKATA .............................................................................................. 1 DAFTAR ISI ........................................................................................... 2 JADWAL KEGIATAN ............................................................................. 3 Kearifan Lokal Masyarakat Jawa ............................................................ 5 Agama dan Tradisi ................................................................................. 7 Lembar Kerja 1 ...................................................................................... 9 Lembar Kerja 2 ...................................................................................... 10 Lembar Kerja 3 ...................................................................................... 11 Lembar Kerja 4 ...................................................................................... 12 Arsitektur Jawa ...................................................................................... 13 Arsitektur Jawa Kuno; Candi .................................................................. 14 Arsitektur TradisionalJawa; Rumah ........................................................ 27 Lembar Kerja 6 ...................................................................................... 36 Lembar Kerja 5 ...................................................................................... 38 Kudapan Tradisional Jawa ..................................................................... 40 Lembar Kerja 7 ...................................................................................... 46 Lembar Kerja 8 ...................................................................................... 47 Lembar Kerja 9 ...................................................................................... 49 Busana Tradisional Jawa ....................................................................... 50 Lembar Kerja 10..................................................................................... 57 Batik ...................................................................................................... 58 Lembar Kerja 11 .................................................................................... 67 Lembar Kerja 12..................................................................................... 69 Lembar Kerja 13 .................................................................................... 70 Permainan Tradisional .......................................................................... 71 Lembar Kerja 14..................................................................................... 81 Lembar Kerja 15..................................................................................... 83 Shalat Jama’ dan Qasar ........................................................................ 84 Lembar Kerja 16 .................................................................................... 89 Jadwal KTS to JOGJAKARTA ............................................................... 90 Observasi Candi Prambanan ................................................................ 91 Observasi Taman Pintar ........................................................................ 92 Catatan Perjalanan ............................................................................... 93


5 KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JAWA Setiap negara di dunia itu memiliki keunikannya tersendiri, termasuk juga negara Indonesia. Negara kita begitu unik, saking uniknya kalau ada nominasi untuk negara yang paling unik, maka Indonesia pasti masuk sebagai salah satu nominasinya, bahkan, mungkin keluar sebagai juaranya.Keunikan Indonesia sendiri berasal dari adat istiadat, tradisi, dan kearifan lokal yang ada di Indonesia. Bukan hanya satu, setiap daerah bahkan memiliki kearifan lokalnya masing-masing. Seperti halnya kitayang sekarang ini mendiami Pulau Jawa, tentunya beragam adat istiadat, tradisi, busana, makanan, serta hunian kita memiliki karakter yang berbeda dengan suku lain di negeri ini. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, sama seperti kebanyakan adat, tradisi, dan budaya, kearifan lokal yang ada di berbagai daerah semakin banyak yang tergerus zaman. Alih-alih mempertahankan kearifan lokal yang sudah turun-temurun dari nenek moyang, banyak anak muda yang menggantinya dengan pandanganpandangan dari luar yang justru belum tentu ada benarnya atau bahkan hanya akan merusak kearifan lokal yang sudah ada. Membahas soal kearifan lokal, kamu mungkin sudahsering mendengar istilah yang satu ini. Entah itu di buku, televisi, atau media elektronik lainnya. Namun, meski sering mendengar istilah satu ini, pada akhirnya, banyak dari kita yang gagal memahami bahkan bingung sendiri dengan makna kearifan lokal itu sendiri. Dari uraian diatas kita bisa mendefinisikan maksud dari kearifan lokal. Pada dasarnya, kearifan lokal adalah suatu hal yang sudah ada di suatu wilayahsejaklamadandilanjutkandarigenerasike generasi.Kearifan lokal adalah pandangan hidup suatu masyarakat di wilayah tertentu mengenai lingkungan alam tempat mereka tinggal. Pandangan hidup ini biasanya adalah pandangan hidup yang sudah berurat akar menjadi kepercayaan orang-orang di wilayah tersebut selama puluhan bahkan ratusan tahun. Untuk mempertahankan kearifan lokal tersebut, para orang tua dari generasi sebelumnya, dan lebih tua akan mewariskannya kepada anak-anak mereka dan begitu


6 seterusnya. Mengingat kearifan lokal adalah pemikiran yang sudah lama dan berusia puluhan tahun, maka kearifan lokal yang ada pada suatu daerah jadi begitu melekat dan sulit untuk dipisahkan dari masyarakat yang hidup di wilayah tersebut. Membahas tentang kearifan lokal Masyarakat Jawa sangat erat dengan kekhasan yang dimiliki dan masih dilestarikan oleh penduduk Jawa yang meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat serta DIY. Fungsi Kearifan Lokal 1. Konservasi dan pelestarian sumber daya alam, 2. Pengembangan sumber daya manusia. 3. Pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. 4. Sebagaipetuah, kepercayaan, sastra dan pantangan. 5. Bermakna sosial, misalnya upacara integrasi komunal atau kekerabatan dan pada upacara pertanian. 6. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan selametan roh. 7. Bermakna politik atau hubungan kekuasaan Sebagai salah satu pedoman bermasyarakat, kearifan lokalmemiliki karakter mampu menggabungkan pengetahuan kebajikan yang mengajarkan orang tentang etika dan nilai-nilai moral; Kearifan lokal harus mengajar orang untuk mencintai alam, bukan untuk menghancurkannya; Kearifan lokal harus berasal dari anggota komunitas yang lebih tua; Kearifan lokal dapat berbentuk nilai, norma, etika, kepercayaan, adat- istiadat, hukum, adat, aturan-aturan khusus. Ciri-ciri kearifan lokal a) Mampu bertahan ditengah gempuran budaya luar yang semakin masif b) Memiliki kemampuan menyediakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan unsur-unsur dari budaya luar c) Mempunyai kemampuan penggabungan atau pembauran terhadap unsur budaya luar ke dalam budaya asli. d) Mempunyai kemampuan mengendalikan, memberi arah pada perkembangan budaya.


7 Setelah memahami konsep kearifan lokal, maka dalam modul P5ini kita akan memfokuskan mempelajari aspek aspek kearifan lokal khususnya pada Masyarakat Jawa yang ditinjau dari berbagai aspek berikut: 1. Agama dan Tradisi 2. Arsitektur 3. Kudapan 4. Pakaian 5. Bahasa 6. Musik dan Dolanan AGAMA DAN TRADISI Banyak yang memberi suatu pemahaman Agama sebagai salah satu tradisi, karena sebagaian besar ritual agama dilaksanakan secara terus menerus sehingga bisa dianggap sebagai kebiasaan atau tradisi. Agama Islam sebagai Agama yang kita anut juga banyak ritual yang kita lakukan terus menerus. Akan tetapi dalam melaksanakan kegiatan tersebut harusada sumber hukumnya atau dasar hukumnya, yang disebut sebagai Sumber Hukum Islam. Sumber Hukum Islam terbagi menjadi 2 yaitu Yang disepakati dan belum disepakati.Sumber hukum yang disepakati sebagian besar umat islam menerimanya dan yang belum disepakati ada sebagian yang belum bisa menerimanya. Sumber hukum islam yang disepakati yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Dalam menggali hukum yang ada dalam Al Qur’an dan Al Hadits memerlukan keilmuan khusus yang tidak semua orang mampu atau memiliki. Sehingga hasil dari kajian oleh orang yang mempunyai kapasitas keilmuan tersebut dapat dijadikan dasar hukum yang selanjutnyadinamakan dengan Ijma’ dan Qiyas. Sedangkansumberhukumyangbelumdisepakatiantaralain: 1. Istihsan. 2. Istishab. 3. Syar’uman Qoblana 4. Maslahatul Mursalah 5. Urf


8 6. Danlain lain Islam masuk ke Indonesia dimulai dari awal perkembangan Islam, hal ini dibuktikan adanya makam sahabat Nabi di daerah Sumatera. Tetapi islamisasi Nusantara khususnya pulau jawa terjadi pada era Wali Songo. Keberhasilan Islamisasi di pulau jawa karena kearifan dari wali songo dalam menyebarkan agama islam. Salah satunya dengan akulturasi budaya yang sudah ada dalam masyarakat jawa dengan islam. Antara lain : 1. Tradisi tahlilan orang yang meninggal, diambil dari kebiasaan masyarakat jawa waktu itu jika ada yang meninggal akan melek’an yang diisi dengan main kartu atau judi. Tradisi melek’an di biarkan tetapi isinya di isi dengan membaca kalimat Tahlil yang kemudian dikenal dengan tahlilan. 2. Tingkepan yaitu tradisi slametan orang yang hamil, tradisi ini diisi dengan pembacaan Surat Maryam dan Surat Yusuf. Sedangkan makanannya tetap yaitu rujak dan dawet. 3. Nyadran adalah tradisi sebelum memasuki bulan puasa. 4. Tumpengan. 5. Sarung dan baju koko 6. Gamelan dan tembang-tembang. 7. Wayang kulit dan lain–lain. Menghadapi datangnya bulan suci ramadhan, biasanya masyarakat Suku Jawa gelar ruwahan dan nyadran. Tradisi yang menggabungkan konsep kepercayaan adat dengan ajaran agama Islam. Ruwahan merupakan tradisi kebudayaan Jawa untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Sedangkan nyadran adalah rangkaian budayanya, mulai dari pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan kenduri yang di laksanakan di salah satu tempat ada yang di tempatkan di masjid, mushola atau rumah Kepala Dukuh. Bagi warga yang beragama islam dengan membaca surat Yasin atau tahlil saat berdoa di makam leluhur dan di saat genduri bersama. Kebudayaan ini dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Jawa. Digelar pada bulan ruwah menjelang bulan puasa dilakukan di makam leluhur maupun tokoh yang berjasa mendakwahkan agama Allah di masa lampau. Bagi masyarakat Jawa nyadran adalah kewajiban sebagai balas budi pada leluhur atau arwah orang yang


9 sudah meninggal karena hal ini di lakukan akan mengingatkan kita bahwa orang itu pasti akan meninggal dunia. Upacara ini sakral. Lewat ritual nyandran pula, masyarakat Jawa melakukan penyucian diri, membersihkan kuburan beserta batu-batu nisan, lalu mendoakan arwah leluhur. Sekilas mirip ziarah, namun makna nyadran sangat berbeda dengan ziarah kubur. Pelaksanaan ritual nyadran dilakukan secara kolektif. Seluruh warga desa turut terlibat. Setelah makam selesai dibersihkan, acara dilanjutkan dengan menyantap kenduri bersama-sama di kawasan masjid, mushola atau di rumah dukuh setempat. Menu kenduri pun beragam, ada nasi tumpeng dengan lauk ayam, urap-urapan dan lain sebagainaya. Untuk memperkaya pemahaman kalian terkait agama dan tradisi silahkan kalian browsing artikel di internet terkait tradisi masyarakat Islam di Jawa sebagai acuan kalian untuk mengerjakan tugas dibawah ini LEMBAR KERJA 1(Individu) Tugas : Masing-masing individu membuat ringkasan materi tradisi masyarakat islam di jawa. Produk :Lembaran hasil ringkasan Pelaksanaan: 1. Tiap siswa memperhatikan penjelasan tentang Agama dan tradisi 2. Tiap siswa membuat ringkasan Hasil Ringkasan : ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. .................................................................................................................


10 ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ......................... LEMBAR KERJA2 (Individu) WAWANCARA TRADISI MASYARAKAT ISLAM DI JAWA Tugas : Masing-masing siswa mewawancarai tentang materi tradisi Masyarakat islam di jawa Produk :Lembaran hasil wawancara Pelaksanaan: 1. Tiap siswa mewawancarai teman sejawat 2. Hasil wawancara disampaikan secara acak oleh siswayang ditunjuk fasilitator Nama Siswa yang di wawancarai :_________________________ PERTANYAAN JAWABAN 1. Apakah yang anda ketahui tentang Tradisi masyarakat islam di jawa?


11 2. Apa saja macam tradisi masyarakat Islam di jawa di sekitar lingkungan anda? 3. Manakah tradisi masyarakat islam di Jawa yang pernah kalian ikuti? 4. Seberapa tertarikkah anda dengan Tradisi masyarakat islam di jawa? 5. Bagaimanakah upaya anda untuk Melestarikan tradisi masyarakat islam di jawa yang ada dilingkungan anda


12 LEMBAR KERJA 3 (Kelompok) PERAYAAN RUWAHAN/KIRIM DOA Tugas : Masing-masing siswa membawa perlengkapan perayaan Ruwahan Produk : Pelaksanaan Ruwahan dan Lembar Observasi Pengalaman Pelaksanaan: 1. Tiap kelas menyiapkan perlengkapan Ruwahan berupa nasi, lauk ( Ayam, Telor, Tahu, Tempe), mie, sayuran, kue dan perlengkapan. Semuanya dibawa dari rumah di hias bersama kelompoknya menjadi tumpeng di ruang kelas masing-masing. Pembagian bahan yang harus di bawah Nama Yang harus di bawa 1. Lauk ............................. (9 biji) 2. Lauk ............................. (9 biji) 3. Nasi 9 porsi, talam plastik 4. Mie 9 porsi, sendok 9 biji 5. Sayur 9 porsi, piring plastik 6. Kue .............................. (7 biji) Maksimal harga Rp 2.500 7. Kue .............................. (7 biji) maksimal harga Rp 2.500 8. Minuman gelas 9 biji, kue 4 biji maksimal harga Rp 2.500 2. Tiap kelas melaksanakan Ruwahan/kirim doa bersama di ruang aula 3. Setelah pelaksanaan ruwahan/ kirim doa, nasi yang dibuat 1 piring diserahkan ke panitia dan yang lain dimakan bersamasama dengan kelompoknya 4. Perayaan Ruwahan selesai semua siswa dalam satu kelompok di bagi menjadi dua untuk membersihkan ruang aula dan ruang kelas.


13 Nama Siswa yang bertugas di aula Di kelas 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. LEMBAR KERJA 4 (INDIVIDU) Tugas : Masing-masing individu membuat pengalamaan pribadi acara Ruwahan/ Kirim Doa Produk :Lembaran hasil pengalaman Pengalamanku yang berkesan ikut acara Ruwahan/ Kirim Do’a Tulis Pengalaman kalian di bawah ini: ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ...................................................................................................................


18 ARSITEKTUR JAWA Arsitektur Jawa adalah arsitektur yang digunakan oleh masyarakat Jawa. Arsitek Jawa telah ada dan berlangsung selama paling tidak 2.000 tahun.Arsitektur Jawa kuno dipengaruhi oleh kebudayaan India bersamaan dengan datangnya pengaruh Hindu dan Buddha terhadap kehidupan masyarakat Jawa. Wilayah India yang cukup banyak memberi pengaruh terhadap Jawa adalah India Selatan.Ini terbukti dari penemuan candi-candi di India yang hampir menyerupai candi yang ada di Jawa. Begitu pula aksara yang banyak ditemui pada prasasti di Jawa adalah jenis huruf Palla wayang digunakan oleh orang India selatan. Meskipun budaya India berpengaruh besar tetapi Jawa tidak meniru begitu saja kebudayaan tersebut. Dengan kearifan lokal masyarakat, budaya dari India diterima melalui proses penyaringan (filtrasi) yang natural. Proses akulturasi budaya ini dapat dilihat pada model arsitektur, misalnya, punden berundak (budaya asli Indonesia) pada Candi Sukuh di Jawa Tengah. Dalam perkembangan selanjutnya dalam periode Klasik Muda di wilayah Jawa Timur pada abad ke-13 hingga abad ke-15 M, arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di Jawa telah memperoleh gayanyatersendiri. Bentuk arsitekturnya terdiri dari candi bergayaSingasari, gaya candi Jago, gaya candi Brahu, dan punden berundak. Pengaruh India dalam hal ini hanya tinggal dalam konsep keagamaannya saja, konsep-konsep kedewataan kemudian digubah kembali oleh para pujangga Jawa Kuno. Dalam hal konsepsi keagamaan hakikat tertinggi dalam agama Hindu dan Buddha dalam masa Singasari dan Majapahit telah dipadukan menjadi BhattaraSivaBuddha. Perpaduan konsepsi dewata tertinggi itu diwujudkan dalambentukbangunansuci,misalnyapadaCandiJawi (Pasuruan) dan Candi Jago(Malang). Di Candi Jawi, unsur Buddha terlihat pada puncaknya, sedangkan di relung candinya dahulu berisikan arcaarcaHindu-Saiva khas Jawa. Begitupun di Candi Jago, cerita relief banyak yang bernafaskan Hindu-Saiva, adapun arca pelengkap candi itu semuanya bernafaskan Buddha Mahayana. Pada Modul ini akan dikupas 2 jenis arsitektur Jawa, yakni


19 arsitektur Jawa Kuno yang berupa candi, dan arsitektur jawa tradisional yang berupa rumah adat. ARSITEKTUR JAWA KUNO ;CANDI Candi merupakan salah satu warisan budaya yang banyak ditemukan di Indonesia. Berbagai prasasti candi pun tersebar hampir di seluruh daerah di Indonesia. Seperti Candi Prambanan di Yogyakarta,Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah, Candi Dieng di Wonosobo, hingga Candi Jago diMalangJawa Timur. Candi menurut asal katanya berasal dari salah satu nama untuk Durga sebagai Sewi Maut yaituCandika. Dalam mitologi Hindu Dewa Durga sebagai Dewi Maut yang dihubungkan dewa kematian, jadi candi adalah sebuah bangunan untuk memuliakan orang yang telah meninggal. Khususnya untuk para raja dan orang – orang terkemuka. Candi bukan hanya sebagai penguburan orang yang meninggal , melainkan bermacam-macam benda yang dinamakan pripih dan dianggap sebagai lambang zat-zat jasmaniah dari sang raja yang telah bersatukembali dengan dewa penitisnya. Sedangkan mayat dari seorang raja tersebut dibakar dalam sebuah upacara ritual, abu tersebut dihanyutkan ke laut. Dalam serangkaian upacara untuk menyempurnakan roh, maka pada akhirnya setelah lepas dari alam kemanusian dan menjadi dewa, didirikanlah bangunan suci untuk menyimpan pripih tadi dan selanjutnya diletakkan di dalam dasar bangunan. Bangunan inilah yang kemudian disebut dengan candi. Dalam perkembangannya candi tidak hanya dibangun oleh penganut agama Hindu, namun juga dibangun oleh penganut Budha.Dalam pembangunan dan tujuan pendirian candi terdapat perbedaan dengan candi agama Hindu.Candi-candi agama Budha hanya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan dewa belaka serta dihubungkan dengan kemulian Budha, seperti adanya bangunan Stupa. Unsur penting dari bangunan candi adalah juga melambangkan alam semesta dengan 8 bagiannya: kaki candi sebagai lambing alam bawah tempat manusia hidup, tubuh candi merupakan alam antara tempat manusia telah meninggalkan keduniawiannya dan dalam keadaan suci menemui Tuhannya. Sedangkan atap candi (pucak) sebagai alam atas sebagai tempat dewa-dewa. Dalam mitologi Hindu –


20 Budha bangunan candi juga merupakan tiruan tempat para dewa (tempat dewa berada), yaitu Gunung Mahameru. Oleh sebab itu bangunan candi juga diperkaya oleh hiasan, ukiran, atau pola-pola yang disesuaikan dengan alam gunung, sepertibungabunga teratai, binatang-binatang ajaib, dewa-dewi, bidadari, hiasan daun-daunan, dst. Untuk mengetahui candi secara lebih detail, berikut akan diulas salah satu candi ikonik di provinsi Jawa Tengah, yakni Candi Prambanan. CANDI PRAMBANAN Candi Prambanan terletak di lingkungan Taman WisataPrambanan, kurang lebih 17 km ke arah timur dari Yogyakarta, tepatnya di Desa Prambanan Kecamatan Bokoharjo. Lokasinya hanya sekitar 100 m dari jalan raya Yogya-Solo, sehingga tidak sulit untuk menemukannya. Sebagian dari kawasan wisata yang yang terletak pada ketinggian 154 m di atas permukaan laut ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Sleman. sedangkan sebagian lagi masuk dalam wilayah Klaten. Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar di Indonesia. Sampai saat ini belum dapat dipastikan kapan candi ini dibangun dan atas perintah siapa, namun kuat dugaan bahwa Candi Prambanan dibangun sekitarpertengahanabadke9olehrajadariWangsaSanjaya,yaitu Raja Balitung Maha Sambu. Dugaan tersebut didasarkan pada isi Prasasti Syiwagrha yang


21 ditemukan di sekitar Prambanan dan saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti berangka tahun 778 Saka (856 M) ini ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan. Pemugaran Candi Prambanan memakan waktu yang sangatpanjang, seakan tak pernah selesai. Penemuan kembali reruntuhan bangunan yang terbesar, yaitu Candi Syiwa, dilaporkan oleh C.A.Lonspada tahun 1733. Upaya penggalian dan pencatatan pertama dilaksanakan di bawah pengawasan Groneman. Penggalian diselesaikan pada tahun1885, meliputi pembersihan semak belukar dan pengelompokan batu-batu reruntuhan candi. Pada tahun 1902, upaya tersebut dilanjutkan kembali oleh van Erp. Pengelompokan dan identifikasi batu-batu reruntuhan dilaksanakan secara lebih rinci. Pada tahun 1918, pemugaran terhadap Candi Prambanan dilanjutkan kembali di bawah pengawasan Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst) yang dipimpin oleh P.J. Perquin. Melalui upaya ini, sebagian dari reruntuhan Candi Syiwa dapat direkonstruksi kembali. Pada tahun 1926, dibentuk sebuah panitia pemugaran di bawah pimpinan De Haan untuk melanjutkan upaya yang telah dilaksanakan Perquin. Di bawah pengawasan panitia ini, selain pembangunan kembali Candi Syiwa semakin disempurnakan hasilnya, dimulai juga persiapan pembangunan Candi Apit. Pada tahun 1931, De Haan meninggal dan digantikan oleh V.R.van Romondt. Pada tahun 1932, pemugaran kedua Candi Apit berhasil dirampungkan. Pemugaran terpaksa dihentikan pada tahun 1942, ketika Jepang mengambil alih pemerintahan di Indonesia. Setelah melalui proses panjang dan tersendat-sendat akibat perang dan peralihan pemerintahan, pada tahun 1953 pemugaran Candi Syiwa dan dua Candi Apit dinyatakan selesai. Sampai saat ini, pemugaran Candi Prambanan masih terus dilaksanakan secara bertahap.


22 Denah asli Candi Prambanan berbentuk persegi panjang, terdiri atas halaman luar dan tiga pelataran, yaitu Jaba (pelataran luar), Tengahan (pelataran tengah) dan Njeron (pelataran dalam). Halaman luar merupakan areal terbuka yang mengelilingi pelataran luar. Pelataran luar berbentuk bujur dengan luas 390m2 .Pelataran ini dahulu dikelilingi oleh pagar batu Di tengah pelataran luar, terdapat pelataran kedua, yaitu pelataran tengah yang berbentuk persegi panjang seluas 222 m2. Pelataran tengah dahulu juga dikelilingi pagar batu yang saat ini juga sudah runtuh.Pelataran ini terdiri atas empat teras berundak, makin ke dalam makin tinggi. Di teras pertama, yaitu teras yang terbawah, terdapat 68 candi kecil yang berderet berkeliling, terbagi dalamempat baris olehjalan penghubung antarpintu pelataran. Di teras kedua terdapat 60 candi, di teras ketiga terdapat 52 candi, dan di teras keempat, atau teras teratas, terdapat 44candi. Seluruh candi di pelataran tengah ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yaitu luas denah dasar 6 m2 dan tinggi 14 m. Hampir semua candi di pelataran tengah tersebut saat ini dalam keadaan hancur. Yang tersisa hanya reruntuhannya saja. Pelataran dalam, merupakan pelataran yang paling tinggi letaknya dan yang dianggap sebagai tempat yang paling suci. Pelataran ini berdenah persegi empat seluas 110 m2, dengan tinggi sekitar 1,5 m dari permukaan teras teratas pelataran tengah. Pelataran ini dikelilingi oleh turap dan pagar batu. Di keempat sisinya terdapat gerbang berbentuk gapura padu raksa.Saat ini hanya gapura di sisi selatan yang masih utuh.Didepan masing-masing gerbang pelataran teratas terdapat sepasang candikecil, berdenah dasar bujur sangkar seluas 1, 5 m2 dengan tinggi 4 m.


23 Di pelataran dalam terdapat 2 barisan candi yang membujur arah utara selatan. Di barisan barat terdapat 3 buah candi yang menghadap ke timur. Candi yang letaknya paling utara adalah Candi Wisnu, di tengah adalah Candi Syiwa, dan di selatan adalah Candi Brahma. Di barisan timur juga terdapat 3 buah candi yang menghadap ke barat. Ketiga candi ini disebut candi wahana (wahana = kendaraan), karena masing-masing candi diberi nama sesuai dengan binatang yang merupakan tunggangan dewayang candinya terletak di hadapannya. Candi yangberhadapan dengan Candi Wisnu adalah Candi Garuda, yang berhadapan dengan Candi Syiwa adalah Candi Nandi (lembu), dan yang berhadapan dengan Candi Brahma adalah Candi Angsa. Dengan demikian, keenam candi ini saling berhadapan membentuk lorong. Candi Wisnu, Brahma, Angsa, Garuda dan Nandi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yaitu berdenah dasar bujur sangkar seluas 15 m2 dengan tinggi 25 m. Di ujung utara dan selatan lorong masing-masing terdapat sebuah candi kecil yang saling berhadapan, yang disebut Candi Apit.


24 CANDI SYIWA Pada saat ditemukan, Candi Syiwa berada dalam kondisi rusak berat. Pemugarannya memakan waktu yang cukup lama, yaitu dimulai pada tahun 1918 dan baru selesai pada tahun 1953. Dinamakan Candi Syiwa karenadi dalam candiini terdapat Arca Syiwa. Candi Syiwa dikenal juga dengan nama Candi Rara Jonggrang, karena dalam salah satu ruangannya terdapat Arca Durga Mahisasuramardani, yang sering disebut sebagai Arca Rara Jonggrang. setinggi sekitar 2,5 m. Candi Syiwa, yang terletak di tengah barisan barat, merupakan candi terbesar. Denah dasarnya berbentuk bujur sangkar seluas 34 m2 dengan tinggi 47 m. Sepanjang dinding kaki candi dihiasi dengan pahatan dua macam hiasan yangletaknya berselang-seling. Yangpertama adalah gambar seekor singa yang berdiri di antara dua pohon kalpataru. Hiasan ini terdapat di semua sisi kaki Candi Syiwa dan kelima candi besar lainnya. Pada dinding kaki di sisi utara dan selatan Candi Syiwa, hiasan singa di atas diapit dengan panil yang memuat pahatan sepasang binatang yang sedang berteduh di bawah sebatang pohon kalpataru yang tumbuh dalam jambangan. Berbagai binatang yang digambarkan di sini, di antaranya: kera, merak, kijang, kelinci, kambing, dan anjing. Di atas setiap pohon bertengger dua ekor burung.


25 Pada sisi-sisi lain dinding kaki candi, baik kaki Candi Syiwa maupun candi besar lainnya, panil bergambar binatang ini diganti dengan panil ber gambar kinara-kinari, sepasang burung berkepala manusia, yang juga sedang berteduh di bawah pohon kalpataru. Tangga untuk naik ke permukaan batur terletak di sisi timur. Tangga atas ini dilengkapi dengan pipi tangga yang dindingnya dihiasi dengan pahatan sulur-suluran dan binatang. Pangkal pipi tangga dihiasi pahatan kepala naga yang menganga lebar dengan sosok dewa dalam mulutnya.Dikiridankanantanggaterdapatcandikecilyangberatap runcing dengan pahatan Arca Syiwa di keempat sisi tubuhnya. Di puncak tangga terdapat gapura padu raksa menuju lorong di permukaan batur. Di atas ambang gapura terdapat pahatanKalamakarayangindah.Dibalik gapura terdapat sepasang candi kecil yang mempunyai relung di tubuhnya. RelungtersebutberisiArcaMahakala dan Nandiswara, dewadewa penjaga pintu. Di permukaan batur terdapat selasar selebar sekitar 1 m yang mengelilingi tubuh candi. Selasar ini dilengkapi dengan pagar atau langkan, sehingga bentuknya mirip sebuahlorongtanpaatap. Lorongberlangkan ini berbelok- belok menyudut, membagi dinding candi menjadi 6 bagian. Sepanjang dinding tubuh candi dihiasi deretan pahatan Arca Lokapala. Lokapala adalah dewa-dewa penjaga arah mata angin, seperti Bayu, Indra, Baruna, Agni dan Yama.


26 Sepanjang sisi dalam dinding langkan terpahat relief Ramayana. Cerita Ramayana ini dipahatkan searah jarum jam, dimulai dari adegan Wisnu yang diminta turun ke bumi oleh para raja guna mengatasi kekacuan yang diperbuat oleh Rahwana dan diakhiri dengan adegan selesainya pembangunan jembatan melintas samudera menuju Negara Alengka. Sambungan cerita Ramayana terdapat dinding dalam langkan Candi Brahma. Di atas dinding langkan berderet hiasan ratna. Di bawah ratna, pada sisi luar dinding langkan, terdapat relung kecil dengan hiasan Kalamakara di atasnya. Dalam relungterdapat2 motif pahatan yang ditampilkan berselang seling, yaitu gambar 3 orang yang berdiri sambil berpegangan tangan dan 3 orang yang sedang memainkan berbagai jenis alat musik. Pintu masuk ke ruangan-ruangan dalam tubuh candi terdapat di teras yang lebih tinggi lagi. Untuk mencapai teras atas, terdapat tangga di depan masing-masing pintu ruangan. Dalam tubuh candi terdapat empat ruangan yang mengelilingi ruangan utama yang terletak di tengah tubuh candi.Jalan masuk keruangan utama adalah melalui ruang yang menghadap ke timur. Ruangan ini ruangan kosong


27 tanpa arca atau hiasan apapun. Pintu masuk ke ruang utama letaknya segaris dengan pintu masuk ke ruang timur. Ruang utama ini disebut Ruang Syiwa karena di tengah ruangan terdapat Arca Syiwa Mahadewa, yaitu Syiwa dalam posisi berdiri di atas teratai dengan satu tangan terangkat di depan dada dan tangan lain mendatar di depan perut. Arca Syiwa tersebut terletak di atas umpak (landasan) setinggi sekitar 60 cm, berbentuk yoni dengan saluran pembuangan air di sepanjang tepi permukaannya. Konon Arca Syiwa ini menggambarkan Raja Balitung dari Mataram Hindu (898 - 910 M) yang dipuja sebagai Syiwa. Tidak terdapat pintu penghubung antara Ruang Syiwa dengan ketiga ruang di sisi lain. Ruang utara, barat, dan selatan memiliki pintu sendiri-sendiri yangterletaktepat di depan tangga naik ke terasatas. Dalam ruang utara terdapat Arca Durga Mahisasuramardini, yaitu Durga sebagai dewi kematian, yang menggambarkan permaisuri Raja Balitung. Durga digambarkan sebagai dewi bertangan delapan dalam posisi berdiri di atas Lembu Nandi menghadap ke Candi Wisnu. Satu tangan kanannya dalam posisi bertelekan pada sebuah gada, sedangkan ketiga tangan lainnya masing-masing memegang anak panah, pedang dan cakram. Satu tangan kirinya memegang kepala Asura, raksasa kerdil yang berdiri di atas kepala mahisa (lembu), sedangkan ketiga tangan lainnya memegang busur, perisai dan bunga. Arca Durga ini oleh masyarakat sekitar disebut juga Arca Rara Jonggrang,karena arca ini diyakini sebagai penjelmaan RaraJonggrang. Rara Jonggrang adalah putrid draja dalam legenda setempat, yang dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bandawasa. Dalam ruang barat terdapat Arca Ganesha dalam posisi bersila di atas padmasana (singgasana bunga teratai) dengan kedua telapak kaki saling bertemu. Kedua telapak tangan menumpang di lutut dalam posisi tengadah, sementara belalainya tertumpang dilengan kiri. Arca Ganesha ini menggambarkan putra mahkota RajaBalitung. selempang di bahu menunjukkan bahwa ia juga seorang panglima perang.


28 Dalam ruang selatan terdapat Arca Agastya atau Syiwa Mahaguru. Arca ini meliliki postur tubuh agak gemuk dan berjenggot. SyiwaMahaguru digambarkan dalam posisi berdiri menghadap ke Candi Brahma di selatan dengan tangan kanan memegang tasbih sdan tangan kiri memegang sebuah kendi. Di belakangnya, di sebelah kiri terdapat pengusir lalat dan disebelah kanan terdapat trisula.Konon Arca Syiwa Maha guru ini menggambarkan seorang pendeta penasihat kerajaan. Candi Wisnu terdapat di sebelah utara Candi Syiwa. Tubuh candi berdiri di atasbatur yang membentuk selasar berlangkan. Tangga untuk naik ke permukaan batur terletak di sisi timur. Di sepanjangdinding tubuh candi berderet panil dengan pahatan yang menggambarkan Lokapala. Sepanjang dinding dalam langkan dihiasi seretan panil yang memuat relief Krisnayana. Krisnayana adalah kisah kehidupan Krisna sejak ia dilahirkan sampai ia berhasil menduduki tahta Kerajaaan Dwaraka. Di atas dinding langkan berderet hiasan ratna. Di bawah ratna, pada sisi luar dinding langkan, terdapat relung kecil dengan hiasanKalamakara di atasnya. Dalam relung terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu sebagai pendeta yang sedang duduk dengan berbagai posisi tangan. Candi Wisnu hanya mempunyai 1 ruangan dengan satu pintu yang menghadap ke timur. Dalam ruangan tersebut, terdapat Arca Wisnu dalam posisi berdiri di atas 'umpak' berbentuk yoni. Wisnu


29 digambarkan sebagai dewa bertangan 4. Tangan kanan belakang memegang Cakra (senjata Wisnu) sedangkan tangan kiri memegang tiram. Tangan kanan depan memegang gada dan tangan kiri memegang setangkai bunga teratai. Candi Brahma letaknya di sebelah selatan Candi Syiwa. Tubuh candiberdiri di atas batur yang membentuk selasar berlangkan. Di sepanjang dinding tubuh candi berderet panil dengan pahatan yang menggambarkan Lokapala. Sepanjang dinding dalam langkan dihiasi seretan panil yang memuat kelanjutan cerita Ramayana di dinding dalam langkan CandiSyiwa. Penggalan cerita Ramayana di Candi Brahma ini mengisahkan peperangan Rama dibantu adiknya, Laksmana, dan bala tentara kera melawan Rahwana sampai pada Sinta pergi mengembara ke hutan setelah diusir oleh Rama yang meragukan kesuciannya. Sinta melahirkan putranya di hutan di bawah lindungan seorang pertapa. Di atas dinding langkan berderet hiasan ratna.Di bawah ratna, menghadap keluar,terdapatrelungkecildenganhiasanKalamakaradiatasnya.Dalam relung terdapat pahatan yang menggambarkan Brahma sebagai pendeta yang sedang duduk dengan berbagai posisi tangan. Candi Brahma juga hanya mempunyai 1 ruangan dengan satu pintu yang menghadap ke timur. Dalam ruangan tersebut, terdapat Arca Brahma dalam posisi berdiri di atas umpak berbentuk yoni. Brahma digambarkan sebagai dewa yang memiliki empat wajah, masing-masing menghadap ke arah yang berbeda, dan dua pasang tangan. Pada dahi di wajah yang menghadap ke depan terdapat mata


30 ketiga yang disebut 'urna'. Patung Brahma itu sebetulnya sangat indah, tetapi sekarang sudah rusak. Dinding ruang Brahma polos tanpa hiasan. Pada dinding di setiap sisi terdapat batu yang menonjol yang berfungsi sebagai tempat meletakkan lampu minyak. CANDI WAHANA Candi Nandi. Candi ini mempunyai satu tangga masuk yang menghadap ke barat, yaitu ke Candi Syiwa. Nandi adalah lembu suci tunggangan Dewa Syiwa. Jika dibandingkan dengan Candi Garuda dan Candi Angsa yang berada di sebelah kanan dan kirinya, Candi Nandi mempunyai bentuk yang sama, hanya ukurannya sedikit lebih besar dan lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Seperti yang terdapat di Candi Syiwa, pada dinding kaki terdapat dua motifpahatan yang letaknya berselang-seling. Yang pertama merupakan gambar singa yang berdiri di antara dua pohon kalpataru dan yang keduamerupakan gambar sepasang binatang yang berteduh di bawah pohon kalpataru. Di atas pohon bertengger dua ekor burung. Gambar-gambar semacam ini terdapat juga pada candi wahana lainnya. Candi Nandi memiliki satu ruangan dalam tubuhnya. Tangga dan pintu masuk ke ruangan terletak di sisi barat. Dalam ruangan terdapat Arca Lembu Nandi, kendaraanSyiwa, dalam posisi berbaring menghadap ke barat. Dalam ruangan tersebut terdapat juga dua arca, yaitu Arca Surya (dewa matahari) yang sedang berdiri di atas kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda dan Arca Candra (dewa bulan) yang sedang berdiri di atas kereta yang ditarik oleh sepuluh ekor kuda. Dinding ruangan tidak dihias dan terdapat sebuah batu yang menonjol pada tiap sisi dinding yang berfungsi sebagai tempat meletakkan lampu minyak. Dinding lorong di sekeliling


31 tubuhcandi juga polos tanpa hiasan pahatan. Candi Garuda. Candi ini letaknya di utara Candi Nandi, berhadapan dengan Candi Wisnu. Garuda merupakan burung tunggangan Wisnu. Bentuk dan hiasan pada kaki dan tangga Candi Garuda serupa dengan yang terdapat di Candi Nandi. Walaupun dinamakan candi Garuda, namun tidak terdapat arca garuda di ruangan dalam tubuh candi. Di lantai ruangan terdapat Arca Syiwa dalam ukuran yang lebih kecil dari pada yang terdapat di Candi Syiwa. Arca ini diketemukan tertanam di bawah candi, dan sesungguhnya tempatnya bukan di dalam ruangan tersebut. Candi Angsa. Candi ini letaknya di selatan Candi Nandi, berhadapan dengan Candi Brahma. Angsa merupakan burung tunggangan Brahma. Ukuran, bentuk dan hiasan pada kaki dan tangga Candi Angsa serupa dengan yang terdapat di Candi Garuda. Ruangan di dalam tubuh candi dalam keadaan kosong. Dinding ruangan juga tidak dihias, hanya terdapat batu yang menonjol pada dinding di setiap sisi ruangan yang berfungsi sebagai tempat meletakkan lampu minyak. CANDI APIT Candi Apit merupakan sepasang candi yang saling berhadapan. Letaknya, masingmasing, di ujung selatan dan ujung utara lorong di antara keduabarisan candi besar. Kedua candi iniberdenahbujursangkarseluas6 m2 dengan ketinggian 16 m. tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2,5 m. Tidak terdapat selasar dipermukaan kaki candi. Masing-masing mempunyai satu tangga menuju satu-satunya ruangandalam tubuhnya. Hanya ada hal yang istimewa tentang candi ini, ketika candi ini sudah selesai di bangun kembali, kelihatan sangat indah.


32 CANDI PENJAGA Selain keenam candi besar dan dua candi apit yang telah diuraikan di atas, di pelataran atas masih terdapat delapan candi berukuran sangat kecil, yaitu dengan denah dasar sekitar 1,25 m2. Empat di antaranyaterletak di masing-masing sudut latar, sedangkan empat lainnyaditempatkan di dekat gerbang masuk ke pelataran atas. Wajah Prambanan sekarang telah terlihat cantik.Di depan komplek candi, dibangun panggung pentas sendratari Ramayana dan Taman Wisata Prambanan yang dapat mempercantik wajah komplek Prambanan. Prambanan juga sangat erat kaitannya dengan legenda kuno yakni Rara Jonggrang. Legenda Rara Jonggrang Dahulu kala di P.Jawa bagian tengah terdapat dua kerajaan yang saling bertetangga,yaitu Kerajaan Pengging, yang diperintah oleh Raja Pengging, dan Kerajaan Prambanan,yang diperintah oleh Prabu Baka. Prabu Baka berwujud raksasa yang bertubuh besar dan mempunyai kesaktian luar biasa.Prabu Baka terkenal kejam karena, untuk mempertahankan kesaktiannya, ia secara rutin melaksanakan upacara persembahan dengan mengurbankan manusia. Walaupun wujudnya menyeramkan dan hatinya kejam, Prabu Baka mempunyai seorang putri yang sangat cantik, bernama Rara Jonggrang. Raja Pengging sudah lama merasa sedih karena rakyatnya sering mendapat gangguan dari bala tentara Kerajaan Prambanan. Ia ingin sekali menumpas para penguasa Kerajaan Prambanan, namun mereka terlalu kuat baginya. Untuk mencapai keinginannya, Raja Pengging kemudian memerintahkan putranya, Raden Bandung, untuk bertapa dan memohon kekuatan dari para dewa. Raden Bandung berhasil mendapatkan kesaktian berupa jin, bernama Bandawasa, yang selalu patuh pada perintahnya. Sejak itu namanya diubah menjadi Raden Bandung Bandawasa. Berbekal kesaktiannya itu, Raden Bandung berangkat ke


33 Prambanan bersama bala tentara Pengging. Setelah mengalamipertempuran yang sengit, Raden Bandung berhasil membunuh Prabu Baka. Dengan seizin ayahandanya, Raden Bandung bermaksud mendirikan pemerintahan yangbaru diPrambanan. Ketika memasuki istana,ia bertemu dengan Rara Jonggrang. Tak pelak lagi, Raden Bandung jatuh cinta kepada sang putri dan meminangnya. Rara Jonggrang tidak ingin diperistri oleh pemuda pembunuh ayahnya, namun ia tidak berani menolak secara terang-terangan. Secara halus ia mengajukan syarat bahwa, untuk dapat memperistrinya, Raden Bandung harus sanggup membuatkan 1000 buah candi dalam waktu semalam. Raden Bandung menyanggupi permintaan Rara Jonggrang. Segera setelah matahari terbenam, ia pergi ke sebuah tanah lapang yang tidak jauh dari Prambanan. Ia bersemadi memanggil Bandawasa, jin peliharaannya, dan memerintahkan jin itu untuk membangun 1000 candi seperti yang diminta oleh Rara Jonggrang. Bandawasa kemudian mengerahkan teman-temannya, para jin, untuk membantunya membangun candi yang diinginkan majikannya.Lewat tengah, Rara Jonggrang mengendap-endap mendekati lapanganuntuk melihat hasil kerja Raden bandung. Betapa kagetnya sang putri melihat bahwa pekerjaan tersebut sudah hampir selesai. Secepatnya ia berlari ke desa terdekat untuk membangunkan para gadis di desa itu. Beramai-ramai mereka memukul-mukulkan alu (penumbuk padi) kelesung, seolah-olah sedang menumbuk padi. Mendengar suara orang menumbuk padi, ayam jantan di desa itu terbangun dan mulai berkokok bersahutan. Pada saat itu Bandawasa telah berhasil membuat 999 candi dan sedang menyelesaikan pembangunan candi yang terakhir. Mendengar suara ayam berkokok, Bandawasa dan kawan-kawannya segera menghentikan pekerjaannya dan menghilang karena mereka mengira fajar telah tiba. Raden Bandung yang melihat Bandawasa dan kawan-awannya berlarian langsung bangkit dari semadinya dan bersiap-siap menyampaikan kegagalannya kepada rara Jonggrang. Setelah beberapa lama menunggu, Raden Bandung merasa heran karena fajar tak kunjung tiba. Ia lalu menyelidiki keanehan yang terjadi


34 itu. Raden Bandung sangat marah setelah mengetahui kecurangan Rara Jonggrang. Ia lalu mengutuk gadis itu menjadi arca. Sampai saat ini Arca Rara Jonggrang masih dapat ditemui di Candi Rara Jonggrang yang berada di kompleks Candi Prambanan. Raden Bandung juga mengutuk para gadis di Prambanan menjadi perawan tua karena tidak seorangpun yang mau memperistri mereka ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA;RUMAH Arsitektur Jawa tidak pernah dianggap sebagai bentukan yang berdiri sendiri, melainkan sudah menjadi bagian dari jati diri masyarakat Jawa. Dari segi fungsi, arsitektur rumah dianggap paling penting. Rumah merupakan salah satu dari tiga kebutuhan utama dalam kehidupan.Demikan bagi masyarakat Jawa, rumah adalah tempat tinggal dengan salah satu tujuan hidup idealnya Rumah sendiri memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Arti penting ini dapat ditelusuri dari filosofi orang Jawa sendiri yaitu, sandhang, pangan, dan papan. Ketiga unsur tersebut diartikan sebagai pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Sebagai kebutuhan utama ketiga setelah pakaian dan makanan, tempat tinggal menentukan nyaman atau tidaknya sebuah keluarga. Rumah jika diartikan dalam bahasa Jawa halus biasa disebut dengan griya atau dalem.Asal kata griya sendiri berarti gunung agung yang diartikan oleh masyarakat Jawa sebagai gunung besar yang menjadi sumber kehidupan. Dalem pun jika diartikan dalam bahasa Jawa halus berarti rumah atau saya. Sangatlah jelas hubungan yang keterikatan yang terjadi antara pengertian rumah dan keadaan pribadi seseorang. Dalam budaya Jawa rumah dapat dikategorikan sebagai sebuah bangunan yang tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan erat dengan pemiliknya. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan sosial, budaya, dan ekonomi (Rumah bagi orang Jawa juga mempunyai peranan penting dalam kehidupan karenatidak hanya tentang kebutuhan fisik namun juga kebutuhan rohani penghuninya. Rumah bagi orang Jawa merupakan perlambang hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Oleh karena itulah, bentuk bahkan isi


35 di dalam rumah merupakan sesuatu yang berhubungan dengan nilainilai filosofis. Hubungan yang terjalin merupakan hasil dari pandangan hidup masyarakat Jawa itu sendiri. Bahkan dalam proses pembuatan sebuah rumah, masyarakat Jawa selalu mengedepankan unsur-unsur konstruktif dan juga metafisik yang terlihat dari tahapan awal konstruksi bangunan. Unsur ini meliputi tata ruang, ornamentasi dan bentuk bangunan. Secara status sosial, rumah merupakan lambang identitas pemiliknya berdasarkan pada sistem stratifikasi masyarakat Jawa. Dalam proses perkembangan selanjutnya, terbagi atas lima bentuk dasar bangunan, yaitu panggang pe, kampung, limasan dan joglo, serta bangunan khusus untuk beribadah yang berbentuk tajug. Rumah tradisional Jawa juga menjadi sebuah perwujudan konsep hidup sekaligus lambang jati diri bagi masyarakat Jawa. Hal ini dapatdilihat dari ragam hias yang diterapkan pada bangunan. Sistem kebudayaan Jawa yang penuh dengan simbol dan lambang pada setiap hiasan, bahkan sampai pada tata warnanya, adalah salah satu cara pemilik rumah mengekspresikan keberadaan diri. Bentuk ekspresif inilah yangmenegaskan bahwa ada fungsi dan makna tersendiri yang direncanakan. Selain sebagai fungsi dekoratif dapat juga sebagai bentuk komunikasiantara penghuni rumah dengan lingkungan tempat tinggalnya. Hiasan mampu menjadi bentuk simbol dan berperan dalam hubungan manusiayang bersifat religi maupun sosial. A. Rumah Sebagai Bentuk Arsitektural dan Simbol Filosofis Masyarakat Jawa Tingkatan kepercayaan masyarakat Jawa yaitu: 1. Kepercayaan terhadap adanya kekuatan gaib yang menggambarkan dunia roh. Masyarakat Jawa percaya bahwa leluhur mereka selalu mengawasi dan akan menegur bila terjadi kesalahan. Oleh karena itulah dalam setiap kegiatan selalu diadakan upacara selamatan sebagai bagian dari permintaan izin dalam melakukan kegiatanagar berjalan lancar. 2. Kepercayaan akan kekuatan alam semesta. Masyarakat Jawa percaya pada keseimbangan dunia yang terbagi dalam makrokosmos dan mikrokosmos. Tanpa adanya keseimbangan


36 makakehidupan ini tidak akan bahagia. 3. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Kepercayaan ini berkembang ketika agama- agama mulai dianut oleh masyarakat Jawa yang pada akhirnya mengubah pandangan masyarakat namun tidak meninggalkan kepercayaan lamanya Proses pembangunan rumah bagi masyarakat Jawa selalu dilandaskan pada pandangan filosofis. Oleh karena itu, proses pembangunan rumah tidak boleh hanya asal jadi, melainkan juga wajib memperhatikan aspek spiritualnya. Rumah, bagi masyarakat Jawa juga berperan sebagai tempat tinggal yang berarti sebagian besar kegiatan berlangsungdanjugasebagaitempatmengekspresikandiri,makadapa t dijumpai beragam rumah tradisional Jawa penuh dengan ornamentasi yang menjadi gambaran pemilik rumah dan mengandung arti serta makna yang mendalam. Dalam proses pembuatan sebuah rumah tradisional Jawa, sangat diutamakan aspek spiritual bahkan dalam penentuan ukuran bangunan yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Dalam hal ini, wujud fisik bangunan bukanlah prioritas karena ukuran bangunan ditentukan dari sistem petungan yaitu, angka-angka patokan yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai dasar dari perencanaan pembangunan rumah. Untuk menentukan ukuran elemen bangunan, petungan menggunakan satuan ukuran ragawi dari pemilik bangunan seperti kaki, jengkal, hasta maupun depa. Pemakaian satuan ragawi ini menunjukkan bahwa elemen ruang pada rumah tradisional Jawa merupakan eksistensi pemiliknya. Sistem petungan ini adalah sebuah sistem yang digunakan dalam penentuan ukuran panjang blandar pengeret dan ukuran bagian- bagian rumah serta jumlah usuk untuk bagian rumah tersebut. Panjang blandar dan jumlah usuk dihitung dengan bilangan-bilangan berurutan yang masing-masing memiliki nama yaitu 1 (sri), 2 (kitri), 3 (gana), 4 (liyu), dan 5 (pokah). Ketepatan jumlah hitungan dari ukuran masing- masing unit rumah ini dipercaya mempengaruhi kehidupan penghuninya, seperti yangberkaitan dengan keselamatan, kebahagiaan, kemujuran, dan rejeki. Masing-masing dari kelima bilangan tersebut memiliki arti


37 dan kegunaan berdasarkan dengan fungsi setiap bagian rumah. Bilangan 1 atau biasa disebut sri berarti pangan atau raja brana (harta benda), kebahagiaan dan terang. Bilangan ini digunakan untuk bagian dalem atau omah jero, supaya pemilik atau penghuninya selalu mendapat rezeki, terang dalam usaha memperoleh rezeki dan kebahagiaan. Bilangan 2 atau biasa disebut kitri mempunyai arti pohon- pohonan atau pohon buah-buahan, biasa digunakan untuk mengukur bangunan pendhapa dan pringgitan. Pemakaian bilangan ini diselaraskandengansifat bangunanyangterbukadanberfungsi sebagai tempat menerima tamu. Hal ini bermaksud supaya suasana pertemuan sejuk dan tidak canggung, apabila bermusyawarah menghasilkan keputusan yang bulat. Bilangan 3 atau biasa disebut gana yang menunjukkan rupa atau ujud. Bilangan ini digunakan pada gandhok, pawon, dan kandang dengan tujuan supaya isi atau barang yang disimpan di dalamnya bertambah. Bilangan 4 atau biasa disebut liyu mempunyai kata lain lesah, lesu atau penat. Biasanya digunakan sebagai perhitungan regol atau bangsal tempat orang menunggu. Hal ini bermaksud supaya setiap orang yang datang kepada pemilik rumah menjadi tak berdaya di hadapan pemilik rumah. Bilangan 5 atau biasa disebut sebagai pokah digunakan untuk bangunan lumbung padi. Kata pokah berarti bercabang banyak. Penggunaan bilangan 5 pada lumbung padi diharapkan akan membawa hasildanrezeki yangbertambah kepadapemiliknya.Alasanlainadalah agar padi yang tersimpan selalu mencukupi dan bahkan berlebih. Rumah tradisional Jawa terdiri atas bahan-bahan batuan untuk lantai dan dinding dari batuan, bagian atap dari kayu-kayuan. Rumah tradisional Jawa dibangun dengan cara dirakit dan disusun. Dapat dikatakan demikian karena bangunan tradisional Jawa merupakan bangunan dengan sistem struktur rangka (saka guru atau tiang, blandar atau balok, jurai atau dudur, dan usuk atau reng) dan dinding tirai (gebyok dari kayu, gedhek dari bambu, tembok dari batu).Keseluruhan elemen penyusun bangunan


38 tersebut kemudian diletakkan pada landasan batu atau umpak yang ditanam dalam tanah yang diberi nama ceblokan. Penggolongan bentuk rumah tradisional Jawa sebagai berikut: a. Rumah tradisional panggang pe Merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana. Rumah ini hanya memiliki sebuahruangan yang berdenah persegi empat dengan atap yang ditopang 4 atau 6 buah tiang. b. Rumah tradisional kampung Bentuk ini lebih sempurna jika dibandingkan dengan panggang pe, karena sudah terlihat pembagian ruang yang jelas. Dengan bentuk denah persegi panjang dengan atap di kedua belah sisi danmemiliki satu bubunganatauwuwung.Bangunanpokokterdiriatas tiang yang berjumlah 4, 6, dan 8 dan seterusnya. Merupakan rumah milik masyarakat ekonomi kelas bawah. c. Rumah tradisional limasan Bentuk rumah ini memiliki denah persegi panjang atau segi empat dengan bubungan atap yang lebih rendah daripada rumah joglo. Nama limasan sendiri berasal dari kata “lima-lasan” yaitu sebuah perhitungan sederhanapenggunaan blandar 5 m dan ukuran molo3 m. d. Rumah tradisional joglo Joglo merupakan jenis bangunan tradisional Jawa yang berfungsi sebagai hunian bagi masyarakat golongan menengah ke atas. Bangunan joglo berkembang dan tumbuh sebagaimana berkembangnya kebutuhan sosial, ekonomi, maupun budaya masyarakat Jawa. Menurut Djono et al. (2012) bangunan Jawa Joglo merupakantransformasidaribentukcandi.Halinidilihatdari bentuk dan struktur rumahJoglo yang sama dengan bentuk dan struktur candi-candi Hindu. Struktur ruang dalam rumah tinggal joglo, terdiri dari dua bagian, yaitu bangunan utama dan bangunan tambahan. Bagian dari bangunan utama terdiri dari kuncungan, pendapa, pringgitan, dan dalem ageng. Dalem ageng sendiri memiliki tiga bagian ruang, yaitu


39 senthongtengen,senthongtengahserta senthong kiwo. Pendapa Merupakan tempat yang berfungsi sebagai area terima tamu, tempat pertemuan, dan tempat pertunjukan/pagelaran (tarian). Pringgitan Merupakan area yang bersifat semi terbuka. Terletak diantara pendapa dan dalem ageng, dibatasi oleh dinding semi permanen yang disebut gebyok. Pringgitan berfungsi sebagai tempat pagelaran wayang saat acara-acara tertentu pemilik rumah, seperti pernikahan, khitanan, ruwatan, dan lain-lain. Dalem Ageng Dalem ageng merupakan ruang yang bersifat privat. Memiliki fungsi sebagai ruang keluarga dan merupakan pusat dari susunan ruang-ruang lain. Di dalam dalemageng, terdapat tiga ruang yang disebut senthong. Senthong Senthong adalah kamar yang disusun sejajar berurutan dan menghadap ke arah Selatan. Terdiri dari tiga ruang yang disebut senthong tengen, senthong tengah, dan senthongkiwo. Kuncungan Terletak di depan pendapa, dan berfungsi sebagai teras serta drop off. Bangunan tambahan pada rumah joglo terdiri dari lima ruang, diantaranya gandok kiwo yang berfungsi sebagai ruang tidur laki- laki, gandok tengen sebagai ruangtidur perempuan, gadri yang merupakan ruang makan, dapur serta pekiwan. Rumah adat jawa, joglo khususnya merupakan rumah adat yang memiliki bentuk yang tanggap terhadap kondisi lingkungan iklim tropis. Bentuk tanggapan atau penyesuaian terhadap iklim tersebut adalah hadirnya teras depan yang berdimensi luas dengan atap gantunglebarsehinggaterlindungdarisinarmataharidanmeluaske segalasudut . Terdapat setidaknya 15 jenis rumah adat Jawa yang dibedakan


40 berdasarkan hubungan bentuk atap dengan pendudukan sosial penghuninya. Pada gambar berikut ditunjukkan bagaimana kondisi sosial penghuni dalam sebuah bangunan menjadi bahasa dalam menentukan bentuk arsitektur. Strukturdankonstruksirumah adat Jawa Secara vertikal, rumahjogloyanglengkapterdiridaritujuh susun unsur, yaitu mala, ander, tumpangsari, sunduk, kili, sokoguru, umpak, dan pondasi. Elemen-elemen struktur tersebut disederhanakan menjadi tiga bagian utama struktur, yaitu struktur atas,tengah, dan bawah. Bagian struktur atas terdiri dari mala- ander, sedangkan struktur bawah terdiri dari pasangan umpak- baturan. Diantara struktur bawah dan atas, terdapatstruktur yang saling mengapit, satu struktur tengah mengapit dua struktur lainnya, yaitu tumpangsari-sunduk, kilisakaguru. Unsur-unsur struktur tersebut masing-masing memiliki pasangan/ hubungan satu sama lain. Rumah joglo memiliki jenis struktur yang stabilitasnya berpusat pada sistem struktur bangunan sokoguru. Bagian struktur ini bertugas


41 mendukung beban horizontal sepenuhnya. Di atas blandar/ pengerat, dipasang tumpangsari yang berbentuk mengerucut yang terbuat dari susunan balok-balok kayu . Gambar Struktur bangunan soko guru Gambar Detail dan join tumpang sari, soko guru, blandar, sunduk, santé Struktur tahan gempa rumah adat Jawa Rumah adat Jawa, joglo khususnya adalah sebagai produk budaya masyarakat Jawa, memiliki potensi yang unggul dalam menanggapi potensi gempa yang mungkin terjadi di tanah Jawa. Kesan berat yang muncul dari struktur rong-rongan berfungsi sebagai penahan bebanlateral. Kesatuan sistem pembebanan yang diterapkan di rumah joglo dipandang sebagai kesatuan sistem earthquake responsive building. Implementasi konsep system struktur dalam aplikasi disain adalah bahwa bagian-bagian sistem harus mengantisipasi gempa (gaya lateral) dan dimensi dari elemen


42 konstruksi dari bawah sampai keatas semakin kecil, baik dimensi maupun beban yang diterima Karakter sistem struktur dan konstruksi bangunan griya jawa khususnya joglo dapat dijadikan referensi bangunan tahan gempa, karena sifat lentur strukturnya. Ruang yang terbentuk oleh sokoguru disebut rong-rongan yang merupakan struktur penahan gaya lateral dan tumpuan koneksi pada sokoguru dan brunjang yang bersifat rol/ elastis, sehingga tahan terhadap gempa. Gambar Detail sambungan struktur rong-rongan Ruang bentukan soko guru disebut ‘rong-rongan’ merupakan struktur inti sebagai penahan gaya lateral dan tumpuan yang terjadi pada koneksi sokoguru dan brunjung yang bersifat rol/elastis merupakan satu sistem struktur ramah terhadap gempa.


43 LEMBAR KERJA 6 (Individu) RINGKASAN MATERI RUMAH TRADISIONAL Tugas : Masing-masing individu membuat ringkasan materi tentang rumah tradisional dari artikel/buku/majalah. Produk :Lembaran hasil ringkasan Pelaksanaan : 1. Tiap siswa membuat ringkasan 2. Hasil ringkasan dibacakan didepan kelas secara acak oleh siswa yang ditunjuk fasilitator 3. Siswa diberikan kesempata nuntuk bertanya pada siswa yang presentasi. Ringkasan Materi : ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. .................................................................................................................


44 ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. ................................................................................................................. .................................................................................................................


45 LEMBAR KEGIATAN 5 (kelompok) Proyek Miniatur Rumah Joglo NamaAnggota Kelompok: .................................................................................... Kelas :..................................................... Tujuan: 1. Membuat miniature rumah joglo sesuai jadwal yang telah dibuat. a. Alat dan Bahan No Keterangan 1. Stik es krim 2. Triplek / Kardus 3. Lem tembak/ Lem Rajawali 4. Cat aklirik/ cat minyak / pewarna lainnya hiasan. 5. Cutter/gunting. 6. Penggaris, kuas, amplas b. Langkah Kerja 1: pastikan stik eskrim yang digunakan dalam kondisi bersih dan rata. Jika ada sisa perekat atau kotoran, bersihkan dengan hati-hati menggunakan kain lembut. 2: Potong /siapkan stik eskrim untuk digunakan sebagai Alas/dasar rumah, Potong/siapkan stik eskrim untuk digunakan sebagai dinding rumah, Potong /siapkan stik eskrim untuk bagian tiang penyangga rumah, Potong/siapkan stik eskrim untuk menjadi bagian atap dan potong/siapkan stik eskrim untuk bagian pagar halaman. 3: Cara membuat miniature rumah dari stik eskrim dilanjutkan dengan membuat dasar rumah. Dalam pembuatan miniature rumah ini, kita akan membuat rumah dengan bentuk kotak sederhana ( seperti desain 1 atau desain 2 ). Ambil stik eskrim yang sudah dipotong dan tempelkan pada permukaan datar dengan bantuan lemkayu. Tempelkan secara berjejer, dan beri


46 jarak antara satu stik eskrim dengan stik eskrim lainnya. Hal ini akan membentuk dinding-dinding rumah. 4: Pasang tiang penyangga rumah, ambil 2 stik eskrim yang sudah dipotong menjadi ukuran 10 cm. Tempelkan di setiap ujung dinding yang sudah dibuat pada langkah 3. Pasang juga 2 stik eskrim lagi di sisi lainnya sebagai penyangga samping. 5: Pasang atap, ambil 2 stik eskrim yang sudah di potong Tempelkan pada bagian atas dinding rumah, tepat di atas tiang penyangga. Pastikan kedua stik eskrim ini saling bersilangan dan membentuk segitiga. 6: Setelah struktur rumah selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah member warna pada rumah. Gunakan cat akrilik atau cat minyak untuk mewarnai rumah. Pilih warna yang sesuai dengan selera. Tunggu hingga cat mongering sebelum melanjutkan kelangkah berikutnya. 7: Dekorasi rumah Sekarang saatnya untuk menghias rumah dengan berbagai dekorasi. Tambahkan jendela dengan potongan kertas transparan, menambahkan pintu dari potongan stik eskrim, atau menambahkan tanaman hias dari kertas origami. Gunakan imajinasi untuk membuat rumah semakin cantik dan menarik.( misalkan untuk dekorasi miniature rumah bias diberi lampu LED , saklar mini dan dengan sumber listrik dari 2 buah baterei ( bertegangan 3V ) Desain rumah joglo.1 Desain rumah joglo. 2


47 KUDAPAN TRADISIONAL JAWA A. Pengertian Makanan dan jajanan tradisional merupakanpangan khas dari nenek moyang dan biasanya digunakan untuk acara atau tradisi. Makanan tradisional disebut juga sebagai makanan pasar karena makanan tradisional pada waktu dulu banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional. Jajanan pasar adalah makanan tradisional Indonesia yang diperjual belikan dipasar, khususnya di pasar-pasartradisional. Dalam pengertian lain, adalah berbagai macam kue yang pada awalnya diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional. Meskipun telah banyak beredar makanan instan dan modern bahkanimpordari luar negeri, jajanan pasar masih tetap digemari karena beberapa alasan, antara lain harganya yang relatif terjangkau dengan rasa yang enak, dan ada banyak pilihan beragam yang disediakan. Jajanan pasar ini, oleh masyarakatJawa, ketika sudah dihidangkan di atas meja, sudah berubah namanya, yaitu pacetan atau nyamikan atau penganan. Dunia perhotelan, untuk meningkatkan daya tarik bagi para tamu bahkan banyak menyediakan jajanan pasar pada saat sarapan pagi. Dan beberapakota/kabupatendi Indonesia, tak jarang menyelenggarakan festival jajanan pasar dalam rangka memperkenalkan potensi daerah berupa makanan tradisional yang menjadi ciri khas daerah tersebut. B. Jenis Kudapan/ jajanan pasar Nama-nama di bawah ini kebanyakan dikenal secara umum. Namun di daerah tertentu memiliki nama sendiri. Semisalbakwandi daerahSemarangdisebut badak.Sedangkanrempeyek,oleh masyarakat Tegal dinamakan mirong. * Onde-onde * Rempeyek *Apem * Bacem * Lemper *Kuelapis * Jenang * Klepon * Ketan * Wajik *Juadah * Emping * Getuk *Kue putu * Serabi


48 * Pisanggoreng * Risoles * Bakwan * Nagasari * Lumpia * Panada * Kroket *Dadar gulung *Kue lumpur * Agar-agar * Pastel * Tahu bakso * Buburkacang hijau * Tahuisi * Dadar jagung * TempeMendoan * Lupis * Klanting * Bubursumsum * Gemblong * Botok * Bandros *Pukis * Geplak * Kuejongkong *Kue mendut * Cenil * Clorot *Matabagong *Ongol-ongol * Krasikan Contoh Jajanan Pasar Makanan jajanan pasar banyak sekali jenisnya, dari yang rasanya manis hingga asin dengan berbagai macam terkstur dan kemasan yang unik maupun beragam juga. 1. Klepon Kue klepon adalah kue Jajanan pasar yang berbahan dasar dari tepung ketan atau ubi jalar, bentuknya bulat, dan isinya gula merah, lalu Diatasnya suka ditaburi kelapa yang di parut. Kue ini bertekstur kenyal dengan rasa manis dan gurih, bisa di dapatkan di pedagang kaki lima hingga di pasar tradisional dengan harga yang sangat terjangkau. Kue klepon masih eksis hingga kini karena banyak sekali orang yang menggemarinya. Klepon merupakan jajanan pasar yang diartikan orang Jawa sebagai singkatan dari "Kanti lelaku pesti ono."Artinya, sebagai petunjuk hidup jika kita prihatin maka akan ada jalan keluar.Maknaini diambil dari proses pembuatan klepon yang tidak bisasembarangan karena dibutuhkan kemampuan mencampur takaran bahan yang pas. Klepon melambangkan ketepatan, ketelitian,keuletan, kelembutan, dan kesabaran dalam melakukan berbagai pekerjaan. Semua itu dilakukan agar mendapatkan hasil yang baik.


49 2. Getuk Lalu ada juga kue getuk, yaitu berbahan dasar dari singkong yang dihaluskan umumnya dengan cara di tumbuk. Makanan ini memiliki rasa yang manis, getuk ada 2 (dua) jenis diantaranya yang berwarna coklat karena dicampur dengan gula jawa, dan yang berwarna putih kekuning-kuningan yang dicampur menggunakan gula pasir. 3. Lemper Contoh jajanan pasar selanjutnya yang enak dan gurih yaitu Lemper. Lemper adalah suatu makanan yang terbuat dari bahan dasar beras ketan yang didalamnya disisi dengan daging halus. Lemper di dalamnya diisi dengan abon sapi,daging ayam,dan daging sapi yang sebelumnya telah diolah atau dimasak, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Rasanya gurih dan enak, karena beras ketannya yang dimasak mencampur dengan santan kelapa. Lemper merupakan jajanan pasar yang terbuat dari ketan dan di dalamnya terdapat isian bisa berupa daging ayam cincang, daging sapi cincang, abon, atau isian lainnya. Jajanan ini kerapditemui di acara nikahan, khitanan, maupun pengajian. Oleh masyarakat Jawa,lemper dimaknai dengan "Yendielem atimu ojo memper."Artinya, saat dipuji orang lain, hati tidak boleh sombong atau berbangga diri. Lemper mengajarkan untuk senantiasa bersikap rendah hati karena masih banyak orang yang lebih hebat di luar sana.


50 4. Serabi Kue serabi berbahan dasar tepung terigu dan tepung beras dan memiliki bentuk bundar. Jika di tatar sunda disajikan dengan toping oncom, dimasak menggunakan tengku dari tanah liat sehingga rasanya yang khas.Karena sering diinovasikan maka sekarang serabi memiliki berbagai macam toping seperti keju, cioklat, osis, dan sebagainya dan jika di daerah jawa serabi sering disajikan dengan siraman air gula. Sebenarnya masih banyak jajanan pasar yang enak-enak rasanya diantaranya seperti: kue balok, pisang molen, putu ayu, kue lapis, cenil dan lain sebagainya Sebagai provinsi yang terletak di bagian timur Pulau Jawa, Jawa Timur (Jatim) termasuk provinsi yang sangat padat penghuninya. Apalagi di provinsi ini terdapat Kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Jadi, sudah bisa dipastikan bahwa Jawa Timur memiliki sejumlah wisata, kuliner, dan beragam hal yang menarik untuk disimak. 5. Bikang Kue bikang atau cara bikang merupakan sebuah kue tradisional dengan bentuk yangenak. Kue yang dimasak dariadonan tepung beras ini sengaja dibentuk menyerupai bunga yang sedang merekah. Untuk mempercantik warnanya, kue ini diberi pewarna makanan hijau, pink atau cokelat. Bikang sendiri merupakan kue yang cukup terkenal di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Di kota-kota lain di Jawa Timur bikang biasa dijual dengan kue pukis dari Banyumas.


51 6. Kue Geti Yang satu ini adalah kue tradisional dari Tulungagung, namanya kue geti. Kue ini mirip dengan jajananting-tingyang terbuat dari kacang. Rasanya yang legit juga hampir mirip dengan rasating- tingtersebut. Maklum saja, bahan utama dan cara pembuatannya memang memang miripKue geti dibuat dari campuran kacangtanah dan wijen yang dicampur dengangula merah cair. Setelah dicampur, adonan akan dicetak dalam cetakan khusus lalu didiamkan hingga mengering sendiri. Kue geti ini lebih cocok dijadikan cemilan karena rasanya yang ringan dan ukurannya yang tidak terlalu besar sehingga lebih fleksibel di bawa ke mana-mana. 7. Mata Bagong Mata Bagong adalah kue khas Jawa Timur yang tampilannya mirip dengan es pisang ijo atau pallu butung dari Makassar. Kue ini merupakanirisan buah pisang yang dibungkus dengan adonan singkong yang sudah diberi pewarna makanan agar terlihat lebih menarik. Jika es pallu butung disajikan bersama dengan es batu dan kuah, mata bagonginijustru disajikan dengan kelapa parutyanggurih. Jadi, kamu bisa membayangkan betapa lezatnya perpaduan antaramata bagong yang legit dengan parutan kelapa yang gurih. 8. Wingko Babat Selamainiwingkobabat dikenal sebagai kue yang bisa diperoleh dengan mudah di Kota Semarang yang notabene adalah kota di Provinsi Jawa Tengah. Namun, tahukah kamu bahwasebenarnya wingko babat berasal dari Babat, sebuah wilayah yang terletak di Lamongan,


Click to View FlipBook Version