Kata Pengantar Kepala Perpustakaan
Alhamdulillah, dengan rahmat Allah Swt.,
perpustakaan SMPN 6 Cimahi dapat menerima
kembali buku kumpulan puisi yang berjudul “Sorot
Lembayung” dari salah satu guru bahasa
Indonesia di SMPN 6 Cimahi.
Buku ini merupakan kumpulan puisi yang
berisi ungkapan perasaan penulis yang ingin
seperti sorot lembayung, selalu dirindukan oleh
setiap orang yang melihatnya.
Salah satu ciri khas dari sebuah puisi
adalah multitafasir. Puisi-puisi yang ada dalam
antologi ini juga banyak menggunakan diksi yang
membentuk kallimat multitafsir. Setiap pembaca
bebas untuk menafsirkan setiap larik yang ada
dalam puisi tersebut.
Buku antologi ini merupakan buku pertama
yang dibuat penulis. Untuk selanjutnya, mudah-
mudahan penulis dapat menyelesaikan buku
antologinya yang kedua. Kemudian, mudah-
i
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
mudahan banyak pembaca yang terinspirasi
untuk menjadi seseorang yang selalu dirindukan
setiap orang seperti dalam isi puisi antologi ini.
Selain itu, diharapkan banyak pembaca yang
tertarik untuk mengungkapkan perasaanya
melalui sebuah tulisan. Menulis itu tak sulit,
asalkan ada kemauan yang kuat.
Kepala Perpustakaan
Aep Haerudin, S.Pd.
ii
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Kata Pengantar
Alhamdulillah, dengan Rahmat Allah Swt., penulis
dapat mengumpulkan tulisan-tulisan puisi yang dibuat
dalam sebuah antologi. Antologi “Sorot Lembayung” ini
merupakan kumpulan puisi yang mengisahkan tentang
kehidupan penulis. Penulis dalam kehidupannya ingin
menjadi seperti sorot lembayung yang selalu merindu dan
dirindukan setiap orang. Memberikan keindahan dan
kenyamaan setiap orang yang melihatnya.
Penulis menyadari bahwa dengan menulis dapat
mengenang ataupun dikenang sampai seribu tahun
lamanya seperti salah satu larik puisi yang ditulis Chairil
Anwar dalam puisinya yang berjudul “Aku”. Semua yang
ada dalam kehidupan ini harus dikenang untuk kemudian
dijadikan pelajaran dalam kehidupan selanjutnya. Bukan
hanya bagi penulis, melainkan juga bagi pembaca. Inilah
yang mendorong penulis untuk selalu menuangkan setiap
yang ada dalam kisah hidupnya dalam sebuah puisi.
iii
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Terkadang, untuk memperdalam kisah sejarah,
kita dapat menafsirkan larik-larik puisi dan dikaitkan
peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada zaman itu.
Puisi juga digunakan sebagai simbol-simbol untuk
menyembunyikan maksud yang ada di dalamnya karena
salah satu ciri puisi adalah multitafsir sehingga pembaca
menebak-nebak maksud yang ada di dalamnya. Itulah
salah satu hal yang menarik dalam sebuah puisi.
Antologi puisi “Sorot Lembayung” ini merupakan
antologi pertama yang dibuat oleh penulis. Ternyata,
untuk membuat puisi setiap harinya tidak sesulit yang
kita bayangkan sebelum mencoba. Setiap kata demi kata
akan mengalir dengan sendirinya seiring alur perasaan
dalam puisi yang akan kita buat. Oleh karena itu, dengan
adanya antologi ini, penulis akan terus belajar untuk
membuat tulisan-tulisan yang lebih menarik kembali dan
mendorong pembaca untuk mulai mencoba meuulis dari
sekarang.
iv
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Dalam membaca sebuah karya, penulis menyadari
bahwa setiap orang memiliki selera yang berdeba-beda.
Begitu juga dalam membuat puisi, gaya penulis berbeda-
beda. Semoga antologi puisi “Sorot Lembayung” ini dapat
disukai oleh banyak pembaca dan dijadikan pelajaran juga
motivasi untuk mulai belajar menulis dari sekarang karena
menulis itu penting.
Bandung Barat, 29 Januari 2022
Penulis
Wike Dewi Hikmatika, S.Pd.
Daftar Isi v
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Kata Pengantar Kepala Perpustakaan................................. i
Kata Pengantar Penulis............................................................. iii
Daftar Isi ..................................................................................... iv
Penantian di Balik Kabut Malam Ini ..................................... 1
Sorot Lembayung......................................................................... 3
Basa-Basi Kehidupan ................................................................. 4
Dari Sudut Jendela ..................................................................... 5
Antara Kepergianku.................................................................... 7
Mesin Jahit ................................................................................... 8
Mulai Mengenali............................................................................ 11
Fenomena ....................................................................................... 12
Sayang ............................................................................................ 14
Definisi Cinta................................................................................. 16
Perubahan Zaman ....................................................................... 17
Bayangan Layang-Layang......................................................... 19
Lukisan............................................................................................ 21
Sekarang ........................................................................................ 23
Sengaja ........................................................................................... 24
Karang Papak ............................................................................... 25
Merah-Kekuning-Kuningan-Abu................................................ 28
vi
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Andai................................................................................................ 29
Lamunan......................................................................................... 30
Mati Nama .................................................................................... 31
Sorot Mata Lembayung............................................................. 32
Candu............................................................................................... 24
Tanah Putih Tak Bertuan ....................................................... 35
Harapan.......................................................................................... 37
Pelangi............................................................................................. 39
Perpisahan..................................................................................... 41
Kehilanganmu Adalah Sebuah Keikhlasan ............................ 43
Kata Terakhir dari Sepotong Pena........................................ 45
Ilusi ................................................................................................. 47
Pimpinan ......................................................................................... 49
Pagi Ini .......................................................................................... 51
Angsa .............................................................................................. 52
Aku Merindu Masa Itu.............................................................. 54
Kenangan........................................................................................ 56
Renungan........................................................................................ 58
Diksi ................................................................................................. 59
Isu................................................................................................... 60
vii
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Garis Tangan................................................................................ 61
Sekolah............................................................................................ 63
Untuk Mereka............................................................................... 64
viii
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Penantian di Balik Kabut Malam Ini
Sepi malam ini datang kembali
Memelukku bersama kabut
Kau takkan pernah tahu
Bagaimana langit merangkul ribuan bintang
untuk tetap terjaga
Bagaimana semilir angin menyentuh pepohonan
untuk tetap melambai
Kabut malam ini terasa dingin
Memecah kebencianku yang telah memuai
Menjadi sebuah penantian
Kau takkan pernah tahu
detik waktu menjadi kerinduan bagiku malam ini
Tak seorang pun tahu
Bagaimana bisunya hujan ketika menyentuh tanah
yang malam ini telah menjadi kabut
1
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Semenjak itu,
Kau takkan pernah tahu
Bagaimana datangna penantian
di balik kabut malam ini
Bandung Barat, 08 Agustus 2021
2
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Sorot Lembayung
Langit tak hentinya berpesan
Menyampaikan berjuta kerinduannya
Pada sorot lembayung……
Warna merah kekuningan yang manja setiap harinya
Yang tak mudah dilupakan setiap tatapan mata
Selalu menuai keramahan dalam jiwa
Mereangkuh perasaan yang setiap kali kosong
Membangunnya menjadi pesan-pesan romantis
Yang pantas diucapkan
Menuai senyuman setiap mulut-mulut kaku sebelumnya
Sungguh ini warna kehidupan indah
Yang setiap kali merindu dan dirindukan
Bandung Barat, 07 Desember 2020
3
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Basa-Basi Kehidupan
Aku kira kau tak sedang berkhianat kali ini
Kau hanya bermain dengan kata-katamu
Selayaknya ikrar para politisi
Yang semakin hari, semakin memuncak
Namun, kali ini kau tak lebih pandai
Dari ilmuan yang sedang menggerek bendera kemenangan
Setiap kali berpapasan tanpa sengaja
Tak hentinya kau menyembunyikan nama
Dalam setiap langkah menuju perapian
Seumpama hidup mampu setiap hari berbisik
Tak ada suara dalam gendang telingaku
Tenggorokanmu seakan meradang setiap harinya
Namun, hidup adalah bentuk tanggung jawab
Dari suara-suara sumbang yang kau ucapkan
Bandung Barat, 07 Desember 2022
4
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Dari Sudut Jendela
Ada makhluk kecil yang mulai merangkak naik
Dari sudut jendela
Si Hantu miskin
Yang datang sekadar meminta amal milikku
Saya pikir…
Kau lebih merepotkan daripada seorang lelaki tua
Yang setiap hari meminta secangkir kopi
untuk menghangatkan tubuhnya.
Dari sudut jendela, 5
Ada kata pengharapan di balik bola matanya
Tetapi, kali ini..
Saya tak punya amal untuk dibagi
Saya tak melalukan apa-apa
Hanya sekadar duduk menatap pakaian yang basah
Ditetesi air hujan
Menghirup angin yang membuka pori-pori kulit
Tentu saja dari balik jendela
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Dari sudut jendela,
Si Hantu miskin
Sekali lagi
Ada kata pengharapan di balik bola matanya
Sepertinya, kali ini manusia sedang asik
memainkan perannya ketika hidup di dunia
sebagai tokoh utama
Bandung Barat, 19 Oktober 2021
6
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Antara Kepergianku
Aku hanya menarik-ulur kepergianku
Perasaan yang teramat hebat untuk berhenti
Kebingungan yang melampaui batas kemampuanku
Maafkan aku yang bersikap salah dan menyalahkan
Bukan ku tak sadar akan kecintaanku
Pada kesenangan dan kesukaran hidup
Tapi, kebingunganku antara semua kasih atau
kepergianku
Aku tahu tak ada batas sampai di sini
Cerita tentang nikmatnya hidup masih tetap abadi
Ketika menghadap-Mu
Malam hingga malam kembali tiba
Semua yakin tak luput dari rasa kegelisahan
Antara nikmatnya hidup atau kepergianku
Bandung Barat, 22 Oktober 2021
7
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Mesin Jahit 8
Mesin jahit di sudut sana
Hampir tiga puluh tahun umurnya
disayang pemiliknya….
namun, kadang tak dihiraukan
Suara mesin jahit terdengar setiap harinya..
Ketukan nada yang monoton
Tapi, hasil jahitannya rapi…
Benang terpola di setiap kain..
Mungkin tak akan ada yang cemburu..
Bagaimana si pemilik bernyanyi romantis
Di setiap alunan suara mesin jahit itu..
Bagai pasangan yang saling melengkapi…
Tetapi, si pemilik terkadang bosan
Alunan mesin yang terlalu monoton
Bagai pikiran setiap orang
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Yang menginginkan hidup penuh warna
Kali ini…
Jarum dan benang meloncat-loncat
Seperti tujuan hidup ini
Yang sering kali berubah-ubah..
Ternyata,
Si pemilik jauh lebih nyaman
dengan ketukan alunan yang lambat,
Bak khayalan orang-orang hari ini
Ingin santai..
Berdiam setiap pagi di kasur tanpa bekerja…
Pikiran dan perasaan si pemilik mulai beradu
Tak bedanya dengan keinginan dan takdir
Yang terkadang berbeda jalan
Tak sesuai harapan
Bandung Barat, 09 November 2021
9
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Mulai Mengenali
Ingin ku kembali romatis
Bersama hujan di luar sana
Memecah kedinginan
Dengan senyum indah
Yang menghiasi mata sipitmu
Entah mengapa
Hujan saat ini membawaku
dalam perasaan cinta
Yang tak pernah datang sebelumnya
Apakah kau mulai mengenali?
daripada saat sebelumnya
Bahkan ketika pertama kali bertemu
Saat kau datang dengan alasan-alasan
Mengapa kau mencintaiku saat itu
10
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Entah saat ini kau mulai memukau
dengan kata-kata yang lembut
Setiap kali dan setiap malam
Dalam genggaman tanganmu
Ada secangkir kopi hangat
Yang kau suguhkan saat mataku mulai lelah
Saat ini…
Aku yakin, kau mulai mengenali?
Setiap kali ku menatap matamu
Tak ada lagi kabut
Yang menghalangi hadirnya cinta dan kasih
Bandung Barat, 09 November 2021
11
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Fenomena
Tak menyesal.. 12
Hari ini, ku kalungkan tulang-tulang manusia
Di setiap bahu mereka
Yang berjuang tanpa ujung batas pengabdian
Putihnya tulang waktu itu
Takkan berubah
Menjadi merahnya darah hari ini
Mereka tau sebelum kita memulainya
Usia hanyalah kotak penciuman
Tempat penyimpanan sisi luka dan suka
Waktu itu….
Yang berubah menjadi janji monoton hari ini..
Tak bedanya dengan segenggam roti
Yang mulai mengempes
Saat dicengkram begitu erat
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Oleh manusia yang menyumbangkan warna putihnya saja
Tanpa tulang yang melekat
Berubah itu waktu sekarang
Dulu tetap dikenang
Tanpa tahu arah kita berjalan
Di antara dua sisi masa kelam dan harapan
Bandung Barat, 10 November 2021
13
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Sayang
Tanpa berpikir
Ku menulis rangkaian kata yang tak beraturan
Sekadar menuangkan kegelisahanku
Pada langit yang mulai mendung
Entahlah beberapa kali
Ku menyukai kata tak bedanya
Mungkin sedang menyamakan
Suatu harapan dan kenyataan
Sekadar memberitahu
Sebagian mimpi itu nyata
Setiap kali ku menafsirkanya
Setiap kali ku menunggu
14
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Di luar sana kecemburuan
Mulai mencari pemiliknya
Seperti layaknya daging tanpa kerangka
Sia-sia itu ada kiranya
Tiba-Tiba menghilang,,
Hari ini..
Tenyata, hanya kesalahan
Berdiri di jendela dengan lamunan
Dan air mata ketakutan
Sudah ku bilang
Aku sayang kamu,
Sudah ku bilang
Tak ada langkah yang terhenti
Tanpa melewatkamu
Bandung Barat, 10 November 2021
15
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Definisi Cinta
Seperti sebuah lingkaran
Memutari, namun kembali ke titik awal
Terus berulang cepat atau perlahan
Begitu pula dengan cinta
Cinta itu adalah kebencian yang terlupakan
Cinta itu adalah dusta yang terlupakan
Cinta itu adalah kebohongan yang terlupakan
Cinta itu adalah kekecewaan yang terlupakan
Setelah itu, semuanya akan kembali seperti semula
Sekadar kebencian
Dusta….
Kebohongan…
Dan kekecewaan…
Atau lebih dari itu…
Bandung Barat, 11 November 2021
16
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Perubahan Zaman
Ku melihat sosok yang menggeliat dalam pikiranmu
Menggelitik setiap ucapan yang keluar dari mulutmu
Sikapmu pun kadang aneh…
Pernah ku melihat, kau berjalan dengan tungkai
rambutmu
Setiap kali kau memusatkan perhatianmu
Di setiap jari-jari hujan yang mengenai atap
Sampai sore kau tetap duduk di sana
Menceritakan kabar pada buku-buku yang terseok
Terkadang juga..
Ku melihat kau tergantung dengan tali pengharapan
Dari manusia yang otaknya terasa hambar
Dikenang zaman
Tangan kanan bisa saling berganti dengan tangan kiri
Menjalankan fungsinya melalui kebiasaan
17
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Namun, otak kiri tak akan terganti otak kanan
Seumpama manusia yang tak selalu hidup di masanya
Bandung Barat, 11 November 2021
18
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Bayangan Layang-Layang
Misal…
Kau kembali menjadi anak-anak
Ada harusnya kau mengerti
Bagaimana memainkan layang-layang
Namun, layaknya sebuah cermin
Kau tak bisa melihatnya di atas..
Atau memainkannya
Tetapi,kau hanya bisa melihatnya di bawah
Melalui sebuah bayangan yang kadang bisa kau injak-
injak
Lalu, kau mulai mencari bayangan layang-layang
Yang saat itu bersahabat dengan meganya mentari
Tak perlu sesusah itu, datang saja pada siang hari
Ketika langit tak lagi bosan menutup teriknya
Seseorang memainkan layang-layang
Tarik ulur seperti kehidupan
Yang terkadang juga terbawa angin
Tak tentu arah dan sulit dikendalikan
19
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Tapi, kau hanya dapat melihat bayangan
Tanpa bisa memainkan
Sampai kau melihat tali layangan putus
Terombang-ambing menuju persinggahannya
Semenjak itu, tak ada lagi bayangan
Dan mungkin saja langit pun sudah bosan membuka teriknya
Bandung Barat, 11 November 2021
20
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Lukisan
Abang….
Sepertinya kali ini kau sedang bercanda
Menghapus rimbunnya daun
Dalam lukisan percakapan malam ini…
Waktu sudah larut malam
Jam menunjukkan pukul dua belas
Tetapi, kau tetap berdiam dalam posisimu
Itulah sebabnya….
Asap kuntung rokok di sekitarmu pun enggan pergi
Abang…
Kuntung-kuntung rokok itu
Kau masukkan kembali dalam bungkusnya
Kemudian, kau menghisapnya esok hari
Seperti lukisan percakapan kita..
Selalu mengulang-ulang..
21
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Setiap malam…
Kuas-kuas kecil itu milik kita..
Kau yang merah, akupun yang hijau atau sesukanya…
Setiap kali ku yang memulai..
Kuas-kuas itu mulai mengikuti alur pikiranku
Melukis indahnya lautan atau pun hutan yang rimbun
Tapi, terdakang ku lukis juga lahar-lahar yang menyala
Dengan kuas merahmu
Kau mulai menerka warna..
Menambahkan atau mungkin menghapus
Menggantinya dengan alur pikiran yang baru
Kadang aku pun marah
Menimpanya dengan warna-warna yang lebih kental
Warna merah magenta kesukaanku
Seperti layaknya prinsip
Yang tak akan pudar saat itu…
Bandung Barat, 11 November 2021
22
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Sekarang
Pernahkah kau mendengar
Seorang Wanita dengan lantangnya
Mengucapkan Aku ingin tidur cepat
Sampai menemukan mimpi yang lebih nyaman
Daripada hidup
Hidup tak lebih nyata dari air mata
Sekali lagi kau temukan
Aku memikirkan bagaimana sekarang juga
Terkunci dalam kayu basah
Merawan lumut-lumut berbau pesing
Aku sudah tak ingat lagi
Jangan ingatkan …..
Bandung Barat, 19 November 2021
23
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Sengaja
Kepala dengan sengaja meronta
Menuju ke saraf mata
Yang mulai kabur tertutupi kemarau bulan ini
Hujan tak kunjung datang
Membasahi aliran saraf ke seluruh tubuh
Tak ada denyut dalam pergerakan jari ini
Semua tertahan oleh suara denting itu
Yang tak akan pernah usai
Sampai kepala tak lagi sadar
Bahwa kau masih hidup dan menghidupi
Bandung Barat, 23 Desember 2021
24
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Karang Papak
Alunan ombak menghampiri karang
Membasahi aroma sepi dari ikan-ikan di dalamnya
Sampai tak bisa menahannya untuk keluar
Menemui lembutnya sentuhan lukut yang setia
bersandar
Antara karang dan mungkin juga bebatuan
Akhirnya kaki ini bermain dengan pasir
Bukan bermain dengan kata-kata
Melalui percakapan senja
Yang seharusnya tak ku dengar saat itu
Sesaat ketika menghampiri malam 25
Terdengar nada-nada sapaan
Dari mulut kecil tak berongga
Yang tak mau berdamai
Seperti kesetiaan ombak pada laut
Dalam peraduannya..
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Saat itu juga…
Aku hanya bermain dengan senyuman
Semakin hambar layaknya air laut tanpa garam
Yang mulai menjadi fenomena air tawar
Mati rasa dalam balutan sepi
Bandung Barat, 23 Desember 2021
26
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
HUJAN
Hujan…
Kini sempat memeluk mimpiku
Hujan..
Mengingatkanku pada kenangan masa itu
Masa…ketika kau berucap tentang cinta dan kasih
Hujan…
Seperti mata indah yang menyaksikanku
Memang ini…tentang kau dan aku..
Danku sempat berbisik
Bagaimana kau bisa habiskan kedinginan malam
Bersama hujan…..
Bandung, 23 September 2014
27
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Merah-Kekuning-Kuningan-Abu
Malam tak lagi senja….
Sekarang aku tak berkawan
Beradu otot dengan jari tanganku
Beradu air liur dengan bibirku
Yang mulai tak betuan manis
Senja tak usah kau datang lagi
Kalau hanya sekadar mengepalkan tangan
Mengerutkan dahi bergaris tiga itu
Ku rasa malam sudah berdiri
Tanpa jaring-jaring kemerah kuningan
Yang sering kali dibalutkan dengan kerinduan senja
Bandung Barat, 30 Desember 2021
28
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Andai
Seandainya bertutur lebih hebat dari menulis
Tak akan ada lagi perdebatan di antara kita
Seandainya bibir lebih manja dari tatapan bola mata
Tak akan ada lagi luka yang tersirat
Seandainya telapak kaki lebih lembut dari garis tangan
Tak akan ada lagi lingkaran manis kesalahan
Seandainya pori-pori kepala lebih mudah mencerna
Tidak akan ada lagi urat rongga yang bersuara..
Bandung Barat, 30 Desember 2021
29
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Lamunan
Kita saksikan……
Bagaimana ikan-ikan itu bertepuk tangan
Dengan siripkan setiap sore menjelang malam
Yang mana kolam kala itu ………….
Mulai bergelombang menyamai bunyi hidup
Dan menghidupi di musim ini
Layaknya hutang pada sebuah janji
Tak manis, tak juga pahit, atau asam
Seperti rasa campur aduk
Terlebih ada rongga mulut yang menganga
Mengadu nasib yang sama
Padahal kemarin dan sekarang
Hanya merindu pada lamunan panjang saja
Bandung Barat, 05 Januari 2022
30
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Mati Nama
Aku sangat senang menggali nafas
Setiap harinya…
Selama sesak tak membuat mati
Ku tetap menggali sampai
Tak ada lagi udara dalam paru-paru ini..
Tak peduli saluran nafas ini mulai membesar
Setiap ku mulai menggali lebih dalam
Mati yang tak selalu jasad
Tetapi, mati nama dengan berbagai titipan
Dari mereka yang berbahagia
Dengan kehidupanku saat ini…
Semua hanya udara kosong
Yang selama ini terjebak dalam saluran nafasku
Setiap harinya………
Bandung Barat, 06 Januari 202
31
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Sorot Mata Lembayung
Betapa hebatnya….
Sorot sepasang lembayung di bola matamu
Yang sepanjang hari…..
Menyaksikan bagaimana lesungnya pipi ini
Membelenggu setiap senyuman
Menyamai perahu tua yang mulai rapuh
Perlahan akan tenggelam dalam gelapnya malam
Kau sangat tahu..
Bagaimana seekor lintah berjalan lambat
Tetapi, kemudian menghisap darah kental
Yang mulai menjalar ke otak
Menjadi kaku bagai angka Satu
Yang tegak dan tak berkawan
32
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Seandainya kasih tak sehijau air payau
Mungkin masih ada kerinduan pada putihnya langit
Yang setiap saat menaungi banyak cerita
Memantau kemudian percakapan-percakapan ramah
Yang sering kali tak bersua
Bandung Barat, 08 Januari 2022
33
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Candu
Ada kalanya cinta datang bukan untuk harapan
Bukan untuk janji..
Dan bukan untuk kenangan indah yang harus diingat
Ada kalanya cinta datang untuk satu pelukan
Ketika tak ada lagi kata yang bisa ditulis dengan pena
Mungkin saat itu cinta adalah candu
Dalam sebuah pelukan
Bukan lagi diindahkan dengan percakapan
Tetapi, diperlakukan layaknya asap
Yang menyelimuti api saat padam
Mungkin diterpa angin
Atau juga dibasuhi air hujan
Jangan biarkan dikenang
Kenangan tak menjadi candu..
Tapi, hanya kerinduan untuk sebuah pelukan…
Bandung Barat, 09 Januari 2022
34
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Tanah Putih Tak Bertuan
Banyak tanah cokelat warnanya
Sebagian merah….
Tapi kali ini putih warnanya
Tanah kosong tak bertuan
Tak ada yang tumbuh di sana
Pohon-pohon tua pun tak berani
Apalagi lebah yang bisa menyengat kapan saja
Hanya lukut dan baunya yang tercium
Hijau tua warnanya
Tak ada akar yang mampu bercengkrama
Dengan tanah putih tak bertuan..
Hanya graduasi dua warna: putih dan hijau
Tak ada juga jejak manusia
Jejak sepatu, sandal, atau telapak kaki dan jari-jarinya
35
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Mungkin saja ada rahasia
Entah tentang manusia atau para binatang yang hidup
di sekitar
Tanah putih tak bertuan, hanya tanah bisu
Yang berkawan dengan lukut saja
Bandung Barat, 10 Januari 2022
36
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Harapan
Duduk manislah di dekatku
Kan ku suarakan puisi-puisi tentang cinta
Sejak saat itu sampai sekarang yang tak bisa dikenang
Duduk manislah di dekatku
Kan ku ulurkan jari-jari tangan
Yang lembut membelai rambutmu
Duduk manislah di dekatku
Kan ku soroti bola matamu
Dengan cerita-cerita indah waktu itu
Duduk manislah di dekatku
Kan ku peluk tubuhmu
Dengan tanggung jawabku
37
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Duduklah manis di dekatku
Kan ku buatkan sebuah jalan hidup
Tanpa drama-drama yang monoton
Bandung Barat, 11 Januari 2022
38
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Pelangi
Hari ini…
Masih saja kau tak mengenal Pelangi
Ada berapa warnanya?
Setiap warna memiliki sifat masing-masing
Tapi, malu-malu adanya
Ketika tak dibarengi dengan hujan yang gerimis
Bersama kehangatan sinar Mentari
Merah, kuning, hijau
Begitu nyanyian si kecil dari dulu sampai sekarang
Hanya ada tiga warna kiranya
Suatu hari..
Terdengar bisikan lembut
Yang katanya dari bibir manis para bidadari
Tak ada selendang yang jatuh dengan sengaja
Tak hilang namun dipaksa hilang
Untuk sebuah cerita
Dari balik sungai yang dangkal itu
39
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Sementara, menyimpan berbagai rahasia
Dari kerikil-kerikil kecil di dalamnya
Yang mulai hanyut terbawa lembutnya air
Dengan perlahan….
Bandung Barat, 13 Januari 2022
40
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)
Perpisahan
(teruntuk Bapak tercinta, Bapak Wawan Hermawan)
Waktu sekan memiliki khayalan
Cerita kasih takkan lepas dari kalbu
Bapak, lihatlah kami?
Tak ada rindu yang melekat
Selain rindu kami terhadap kewibawaanmu
Tak ada air mata yang menetes
Selain air mata perpisahan denganmu
Bapak…
Kesuksesan kami hari ini
Bukan sekadar kegagalan yang tertunda di waktu silam
Tetapi, kesuksesan kami hari ini
adalah wujud senyum manismu
yang menopang lemahnya bahu-bahu kami
Kami tahu…
Perpisahan bukan berarti berpisah
Bapak, genggamlah kebersamaan kita dalam catatan
kebahagiaan
41
Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)