The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wikehikmatika89, 2022-07-08 12:36:36

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

ilovepdf_merged (1)

Rangkullah kesedihan kami
Darimu, kami belajar indahnya menghargai
Darimu, kami belajar menapaki kebijaksanaan

Bapak, semoga senyumanmu hari ini
Menjadi obat kesedihan kami esok hari
Kami yakin….
Purnabakti bukan akhir, tetapi awal kenikmatan yang bahagia

Cimahi, 06 April 2021

42

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Kehilanganmu adalah Sebuah Keikhlasan

(Teruntuk Apah yang Kami Sayangi……….)

Hari ini…
Waktu terasa begitu singkat
Empat puluh hari sudah engkau meninggalkan kami...
Meninggalkan sejuta cinta dan kasih sayang
Untuk kami, Yang selalu rindu akan beribu kecupan nasihat
darimu

Apah…
Kini, perjuanganmu telah sampai pada titik terakhir
Namamu selalu tersimpan dan terkenang dalam balutan
rindu
di setiap jejak langkah kami
Nasihatmu takkan lepas dari kehidupan kami esok hari
dan nanti…

Apah…. 43
Kehilanganmu adalah sebuah keikhlasan

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Keikhlasan untuk mengenang perjuangan dan pengorbananmu
Tanpa bertemu dan berucap secara langsung

Apah….
Kini, waktu telah memisahkan kita
Suatu hari nanti, waktu juga yang akan mempertemukan
kita
Kami ikhlas…
Hanya doa yang bisa kami panjatkan
di setiap rindu kami sepanjang waktu
Semoga amal dan ibadah apah diterima oleh Allah Swt.
Amin…

Apah…
Cinta dan kasih sayang kami takkan pernah berhenti
Melalui doa yang kami panjatkan di setiap waktu
Untukmu, apah kami tercinta….

Bandung Barat, 15 Juli 2021

44

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Kata Terakhir dari Sepotong Pena

Namamu masih ku ingat satu tahun yang lalu,
Sepotong pena takkan membiarkanku sendiri
dalam goresan kebahagiaan
Kau masih kekasihku sampai hari ini

Sepotong pena selalu membayangiku
Ketika ku membaca tentang sajak cinta
dari kekasihku yang sebenarnya
Tapi, kau datang
Jauh sebelum takdirku dimulai

Ku sempat mengirimkan pesan melalui sepotong pena
yang ku tulis lamban
dengan kata-kataku yang melankolis

45

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Saat itu….
Hujan pun mulai merindukan daun-daun yang kering
Dan ribuan ikan mulai mengepakkan sirip cintanya ke
udara
Tapi, kau masih kekasihku sampai hari ini

Mungkin kata itu yang selalu bersenandung
dalam setiap tulisanku dengan sepotong pena
Untukmu, kekasihku…………
Yang ku cintai jauh sebelum takdirku dimulai

Bandung, 18 Maret 2019

46

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Ilusi

Tak ada suara manja yang setiap kali berbisik
Menyebutkan satu kata penantian dalam harapan
Tak ada rangkulan lembut yang setiap kali menyentuh
Pori-pori kerinduan dalam setiap hujatan malam

Seperti daun yang mulai kehilangan dahan ranting
Tak ada sandaran dan jatuh dalam kubangan air
Sisa hujan yang tak kunjung henti, kotor bercampur
tanah
Lalu, bau busuk pun tercium sampai akhirnya mengering
mati

Tak ada lagi harapan ataupun penantian 47
Tak ada lagi percakapan yang setiap kali
Memecah kedinginan malam
Semua tak berwujud
Bagai bayangan yang tiba-tiba menghilang di balik
pijakan kaki

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Menua pun tak ada gunanya
Kembali muda pun takkan dikenang
Sekarang hanya bermain ilusi
Di dalam rongga-rongga kecil yang tak berpintu

Bandung Barat, 14 Januari 2022

48

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Pimpinan

Kau memilih bukan dipilih 49
Setiap kali membaca dongeng dalam musyawarah
Senada karya fiksi yang tanpa nama
Seandainya tahi lalat di pelipis matamu mampu
berkerut
Mungkin akan mengubah nasibnya menjadi jerawat
Yang ada sejenak, lalu kemudian menghilang
Dianggap kotoran yang menuai bekas di wajah
Namun, Kau kali ini ada dalam keistimewaan
Layaknya batu akik
Terlihat manis namun tetap keras
Tak pernah sedikitpun tersipu malu
Setiap kali menegur sapa kawannya yang lain
Tak ada yang layak dipercaya
Kecuali teropong mimpi dalam dirinya
Menyamai dengan alur kerja sejarah
Kau bergabung dalam tiga sekawan
Atau bahkan empat

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Kemudian membentuk rantai kerja
Yang kau sebut sebagai pemimpin
Namun, hanya layak dipandang sebagai Pimpinan

Bandung Barat, 15 Januari 2022

50

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Pagi ini

Saatnya kita menemui kecupan pagi
Melalui segelas kopi
Meramal bisingnya cuaca menjadi fenomena cinta
Yang tak lagi terperangkap dalam bisunya sentuhan
Membuat aroma manis dari segengam roti
Yang kita lahap sambil memulai percakapan
Membelai satu demi satu kata-kata romantis
Tetapi sedikit melankolis
Karena waktu itu tak sempat tersaring
Dalam ampas kopi yang ku seduh
Namun telah kucampurkan sesendok gula
Agar terlihat manis
Semanis senyuman langka di balik sejarah kekuatan cinta
Pagi ini…

Bandung Barat, 17 Januari 2022

51

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Angsa

Ku balutkan imbuhan pada kata cinta
Kutambahkan akhiran
Sehingga tercipta kata mencintai
Entah itu kamu..
Sampai akhirnya nyala api padam
Yang menyingkap satu bayangan
Entah itu kamu..
Ya, kamu seperti angsa …
Yang punya sayap tapi hanya terbang tak seperti
burung
Tak mampu menggapai biru dan putihnya awan di langit
Tapi kau lebih dekat dengan manusia
Mampu bercengkrama menapaki tanah yang mungkin
berbatu

52

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Namun, jauh adanya dengan kata mencintaimu
Yang sekian lama ku tulis dalam pundak khayalan itu
Tak adil kiranya
Saat kau tak mampu mengepakkan sayap
Tuk terbang menggapai kebenaran
Bahwa kita saling mencintai

Bandung Barat, 19 Januari 2022

53

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Aku Merindu Masa itu

Banyak mata terkoyak saat ini
Melihat berbagai kerancuan
Dari mulai menata kata
Sampai menata muka

Pada saat kepunyaan tak mengubah nasib
Menjadi kesenangan
Dan hanya mengingat masa itu
Masa kecil yang menangis karena ingin
Bukan paksaan dari keadaan

Semenjak itu, aku merindu
Menunggu pagi dengan sapaan hangat
Dari yang terkasih sampai melewatkan hari
Dengan berlari-lari mengejar mimpi
Yang tak merekat pada kenyataan hidup
Seperti saat ini, ketika randu sepi lebih nyata

54

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Semenjak itu, aku merindu
Menemui kawan
Memainkan keistimewaan menuju petang
Dengan cantiknya rasa
Membangunkan tawa dan canda

Bandung Barat, 20 Januari 2022

55

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Kenangan

Lonceng kecil membangunkanku
Udara subuh menyelinap dalam kulit keringku
Saat itu, ku lihat didih air di atas tungku api
Memberikan kehangatan serasa cinta dari keduanya
Ku hampiri tuk hanya sekadar menyulap pori-pori
Yang membeku menghasilkan udara kosong dalam mulut

Membasuh badan menjadi kegemaranku setiap subuh
Kemudian, ku kenakan pakaian putih biru
Yang telah tergatung rapi di sudut pintu
Kerudung putih dengan jarum pentul
Menempel dekat daguku yang sekian lama dilepas dan
dipasang
Sampai waktu hampir tak ada sisa

Aku senang mencium tangan keduanya
Bukan sekadar penghormatan
Tetapi, aku mencintai keduanya

56

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Menghapkan doa yang takkan pernah putus
Sampai penantian dan pengharapanku usai

Saat itu juga..
Seorang kawan sudah menanti di persimpangan jalan
Menjemput pagiku dengan senyuman
Menyamakan langkah kaki
Menuju gerbang yang selalu menyapa
Dan mengucapkan selamat datang

Sekian lama ku menuai kebahagiaan
Yang selalu terulang setiap harinya
Sampai hari-hari itu jadi kenangan
Untuk menjadi kenangan yang selalu dirindukan
Sampai saat kisahku usai

Bandung Barat, 20 Januari 2022

57

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Renungan

Ada rindu yang mulai tertanam
Di setiap dekapan bisu
Saat kau dan aku mulai menikmati pertemuan kita
Beradu ucapan sampai kesetiaan
Padahal sebenarnya kita selalu membisu
Sampai segala urusan juga perasaan
Mungkin sampai saatnya..
Pagi tak akan menunggu kita lagi
Tak sampai menikmati harapan dalam impian
Memudar perlahan dan selanjutnya menghilang
Tak perlu lagi kita saling bergandengan
Seperti kala Rommy dan Yuli saling mencinta
Kita hanya terpukau dengan alunan hidup
Mengayun cepat tanpa jarak
yang seharusnya kau dan aku renungkan
Semenjak pertemuan kita bersama takdir

Cimahi, 21 Januari 2022

58

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Diksi

Kita selalu ada dalam pilihan
Pilihan kata yang mulanya sulit
Namun, saat ini mulai mengalun rapi
Di setiap ketukan irama
Dalam larik puisi yang sederhana
Sama seperti cintaku pada sepasang bola mata itu
Sederhana…….
Hanya menuai satu pelukan
Yang mungkin bisa menjelma menjadi kasih sayang

Cimahi, 21 Januari 2022

59

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

ISU

Sekian lama kita mendengarnya
Suara rintik air yang berkejaran
Menuju ke pangkuan tanah tanpa basa-basi
Kita masih saja berceloteh
Ditemani secangkir jahe merah
Menjadikan sedikit hangat
Setiap alur suara dari isu-isu yang bertebaran
Tanpa tahu kepada siapa peraduannya saat itu

Bandung Barat, 22 Januari 2022

60

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Garis Tangan

Sepuluh tahun yang lalu...

Saat kau tak sengaja datang

Di sela-sela awal malam

Ku lihat betapa arifnya garis tangan itu

Banyak arah dan bercabang

Sampai ku tahu di mana letak arah pertemuan kita

Begitu juga arah perpisahan kita

Yang mungkin kita masih menyimpannya

Sampai saat ku tak bisa berkhayal kembali

Bagaimana selalu bertatap mata denganmu

Bagaimana selalu beradu ucap denganmu

Bagaimana selalu menyederhanakan hari

Melalui sela-sela jari kita yang selalu berceloteh

Dari pagi sampai sore datang menjemput

Untuk mempertemukan kembali

arah garis perpisahan kita

Yang mungkin hanya basa-basi saja

Untuk melawan cantiknya takdir pada waktu itu

61

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Aku yakin..
Kau masih menyimpannya sampai saat ini
Walaupun kau tak pernah datang
Hanya sekadar meminta rindu
Untuk memutus garis perpisahan yang telah menyatu
Mungkin takdir tak bisa mengenal huruf-huruf
Atau kesulitan merangkainya dalam garis tangan
Yang sekian lama membentuk kata KASIH dan SAYANG
Sampai saat ku tak bisa menemui setiap arah garis itu
Tak bisa tersentuh kembali sampai sekarang ini..

Bandung Barat, 29 Januari 2022

62

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Sekolah

Di sekolah..
Kita tak sedang berkhayal
Meneba-nebak alur pikiran
Yang menepi pada satu tujuan
Mencerdaskan anak bangsa…..
Dari mulai menafsirkan…
Sampai meniupkan generasi unggul
Di pelosok desa sampai pertengahan kota
Di sekolah..
Mereka diajak untuk mengeja
Satu demi satu huruf dalam otaknya
Kemudian, membentuk kata
Menjadi satu konsep yang bermakna bagi kehidupannya
Dan untuk sekian kalinya membentuk kalimat
Yang tak dihiraukan lagi setiap kali berujar
Menjadi panutan setiap kali orang-orang
Meletakkan gendang telinga di samping tuntutan emosi
Setiap detiknya

Bandung Barat, 1 Februari 2022

63

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

Untuk Mereka

Bukan untuk aku ataupun kekasihku
Yang sering berkata “Ah” dalam perbincangan kami
Di sela-sela peraduan menjelang malam
Tapi, mereka yang membuatku tak segan
Untuk menumpahkan semua kasih dan sayang
Mereka yang tak bisa menjerit dengan kesungguhannya
Mereka yang selalu berdua ketika kami datang
Mereka yang membawa kami pada kehidupan nyata
Mereka yang membuatkan kami secangkir teh hangat
setiap pagi
Mereka yang selalu mengecup mimpi setiap malam
Mungkin kami kini hendak bergelandang seperti mereka
Mungkin kami nanti hendak berdua seperti mereka
Dan mungkin kami hendak berempat, berlima, ataupun
berenam
Seperti mereka beberapa tahun yang lalu..
Seperti sebuah balas kasih kami terhadap mereka
Yang selalu berharap kami tuk datang

Bandung, 10 Desember 2017

64

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)

65

Sorot Lembayung (Sebuah Antologi Puisi)


Click to View FlipBook Version