The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN
BUDAYA ORGANISASI TERHADAP
KOMITMEN ORGANISASI PADA DINAS
SOSIAL KABUPATEN BANDUNG

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by klia61112, 2024-05-21 11:43:46

TESIS LIA KAMELIA, S.IP., M.M

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN
BUDAYA ORGANISASI TERHADAP
KOMITMEN ORGANISASI PADA DINAS
SOSIAL KABUPATEN BANDUNG

Keywords: #TESIS#S2#LIA

No Nama Penulis Judul Tahun 7 Rieka Reskantika, Ardi Paminto dan Yana Ulfah Pengaruh gaya kepemimpinan dan budaya organisasi serta motivasi terhadap kepuasan kerja dan komitmen organisasi 2019 1. Gaya k2. Buday3. Motiva4. Kepua5. Komit8 Ahmad Syarief, M. Syamsul Ma’arif dan Anggraini Sukmawati Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Terhadap Komitmen Organisasi dan Perilaku Kewargaan Organisasi 2017 1. Gaya k2. Buday3. Komit4. Perilak9 Baretha Meisar Titioka dan Astrid J.D. Siahainenia PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI DAN KINERJA PEGAWAI 2019 1. Ga2. Bu3. Ko4. kin


32 Variabel Penelitian Kesimpulan Penelitian kepemimpinan ya organisasi as asan kerja tmen organisasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan dan budaya organisasi serta motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dan komitmen organisasi pada karyawan Rumah Sakit Pertamina Balikpapan kepemimpinan ya organisasi tmen organisasi ku kewargaan Hasil penelitian menunjukkan gaya kepemimpinan transformasional tidak mempengaruhi komitmen organisasi, budaya organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap komitmen organisasi. Kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh terhadap perilaku kewargaan organisasi, budaya organisasi tidak mempengaruhi perilaku kewargaan organisasi, dan komitmen organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku kewargaan organisasi. aya kepemimpinan udaya organisasi omitmen organisasi nerja Hasil penelitian menunjukan bahwa variable gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi. Pengaruh budaya organsiasi terhadap komitmen organisasi adalah positif.


No Nama Penulis Judul Tahun (Studi Pada Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Provinsi Maluku) Sumber : Diolah Peneliti, 2023


33 Variabel Penelitian Kesimpulan Penelitian Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja pegawai adalah positif dan signifikan. Budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai serta komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Untuk mendapatkan perbaikan kinerja pegawai diharapkan pegawai di lingkungan Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Provinsi Maluku memperbaiki model gaya kepemimpinannya dan budaya organisasinya sehingga komitmen organisasinya meningkat dan berdampak pada kinerja pegawai.


34 2.3 Kerangka Pemikiran Kerangka Pemikiran merupakan model konseptual akan teori yang saling berhubungan satu sama lain terhadap berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis pengaruh variabel gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap komitmen organisasi. Maka dari itu peneliti perlu merancang kerangka teoritis yang mendukung dalam penelitian ini. Berdasarkan Tabel 2.1 Kerangka Pemikiran di atas, dapat diketahui bahwa grand theory yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori Siswanto (2013) dan Kosasih dan Soewedo (2010). Sedangkan untuk middle theory menggunakan teori Manajemen dan SDM dari Torrington, Hall, Atkinson, & Taylor (2020), Armstrong & Taylor, (2020), Cantoni & Mangia (2019), Hook & Jenkins (2019), Luo (2021), Luthans (2021). Selanjutnya untuk applied theory menggunakan teori gaya kepemimpinan, budaya organisasi dan komitmen organisasi. Kerangka Pemikiran ini dapat dijelaskan hubungan antar variabel penelitian sebagai berikut: 2.3.1 Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Komitmen Organisasi Pemimpin berkewajiban memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk membina, menggerakkan, mengarahkan semua potensi pegawai dilingkungannya agar terwujud volume dan beban kerja yang terarah pada tujuan. Faktor kepemimpinan, dari atasan dapat memberikan pengayoman dan bimbingan kepada pegawai dalam menghadapi tugas dan lingkungan kerja yang baru. Pemimpin yang baik akan mampu menularkan optimisme dan pengetahuan yang


35 dimilikinya agar pegawai yang menjadi bawahannya dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik. Sehingga setiap pimpinan akan memperlihatkan gaya kepemimpinannya lewat ucapan, sikap tingkah laku dan tindakannya yang dirasa oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Sukses tidaknya pegawai dalam prestasi kerja dapat dipengaruhi gaya kepemimpinan atasannya. (Nadiatul dkk, 2019). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Syarif, dkk (2017) bahwa Gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap komitmen dan kinerja pegawai. Hal ini menunjukkan bahwa sikap kepemimpinan transformasional dapat meningkatkan sikap ekstra peran pada bawahannya. Semakin tinggi nilai kepemimpinan maka akan semakin tinggi sikap ekstra peran pada karyawan (Ahmad Syarif dkk, 2017). 2.3.2 Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Komitmen Organisasi Budaya organisasi merupakan lingkaran pekerjaan yang memberikan pengaruh terhadap cara pegawai bekerja dan berkomitmen terhadap tanggungjawabnya. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ani Khuryatul (2020) bahwa budaya organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap komitmen organisasi. Budaya organisasi yang memberikan rasa aman dan nyaman akan berpengaruh pada meningkatnya semangat dan tanggung jawab karyawan dalam melaksanaan pekerjaan. 2.3.3 Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Seorang pemimpin membentuk budaya dan pada gilirannya dibentuk oleh budaya yang dihasilkan. Disebutkan bahwa budaya organisasi dan kepemimpinan saling berhubungan. Andrew Pettigrew dalam Nawawi (2014) menyatakan budaya merupakan sebuah sistem yang secara bersama diterima untuk diterapkan didalam


36 kelompok pada waktu tertentu. Sistem dalam hal bentuk, istilah kategori, dan gambaran menginterpretasikan situasi yang dimiliki manusia atas dirinya sendiri. Hubungan gaya kepemimpinan dan budaya organisasi diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Roestanto dan Kartini (2018) yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan saling berhubungan dengan budaya organisasi dalam menciptakan lingkungan kerja yang baik. Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Gaya Kepemimpinan: Dimensi : - Autocratic style - Transformational Leadership - Authentic Leadership Teori : - Luthans,2021 - Yuki, 2005 - Robinson, 2023 - Robbinsons dan Coutler, 2021 Budaya Organisasi : Dimensi : - Integritas - Profesionalisme - Penghargaan pada Sumber Daya Manusia Teori : - Robbins & Coulter dalam Barietha dkk, 2019 - Rieka dkk, 2019 - Ade Heryana, 2019 Komitmen Organisasi: - Affective Commitment - Continuance Commitment - Normative Commitment Teori : - Porter dalam Kasmir, 2016 - Richard dalam Kaswan, 2016 - Nadiatul, 2019 - Meyer dan Allen dalam Eddy, 2013


37 Berdasarkan kerangka pemikiran penelitian di atas, maka hipotesis penelitian ini sebagai berikut. 1. Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi 2. Budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi 3. Gaya Kepemimpinan dan budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap Komitmen organisasi, baik secara simultan maupun secara secara parsial. 2.4 Hipotesis Untuk mengetahui adanya pengaruh gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap komitmen organisasi dapat dilihat dari teori yang telah dijelaskan secara rinci, maka dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel terdiri dari variabel independen (Gaya Kepemimpinan dan budaya organisasi) dan variabel dependen (komitmen organisasi). Model konseptual penelitian di bawah ini mendeskripsikan pengaruh gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap komitmen organisasi sebagaimana telah dijelaskan di atas, sehingga model hipotesis penelitian dapat berbentuk seperti gambar 2.3 di atas.


38 PBAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Yang Digunakan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif di setiap tahapnya yang dilandasi oleh penalaran deduktif. Penelitian ini merupakan studi kausal yang akan mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis dari masalah penelitian yang telah dirumuskan. Secara spesifik, hasil uji hipotesis ini diharapkan dapat menyatakan penolakan terhadap hipotesis nol dengan tujuan untuk mendukung hipotesis alternatif/hipotesis penelitian. Dengan ditolaknya hipotesis nol mengindikasikan bahwa hasil penelitian ini memapankan teori/dalil/proposisi yang digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan hipotesis penelitian. Strategi penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer yang didapatkan dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner dan data sekunder berupa data kinerja pegawai. Selanjutnya keterlibatan peneliti dalam penelitian ini termasuk kategori rendah karena membiarkan peristiwa terjadi secara alami. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah melalui serangkaian tahapan yaitu pengkodean data, pengeditan data, pemasukan data, dan transformasi data. Sekaran & Bougie (2016). Langkah berikutnya adalah melakukan analisis data dengan menggunakan model regresi sederhana dan berganda. Melakukan uji hipotesis adalah langkah terakhir sebelum peneliti menyampaikan implikasi ilmiah dan manajerial berdasarkan temuan dalam penelitian ini.


39 3.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian ini meneliti tentang pengaruh gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap komitmen organisasi. Variabel adalah segala sesuatu yang dapat mengambil nilai yang berbeda atau bervariasi. Nilai dapat berbeda pada waktu yang berbeda untuk objek atau orang yang sama, atau pada saat yang sama untuk objek atau orang yang berbeda (Sekaran & Bougie, 2016). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak tiga variabel, menurut Sekaran & Bougie (2016) variabel merupakan segala sesuatu yang dapat memiliki nilai yang berbeda dan/atau beragam, nilai dapat berbeda berdasarkan waktu untuk objek atau orang yang sama, atau waktu yang sama untuk objek atau orang yang berbeda. Variabel dalam penelitian ini antara lain: 1. Variabel independen, adalah sebuah variabel yang memberikan pengaruh pada hubungan sebab-akibat antara dua variabel dalam beberapa cara dan perlu dikendalikan (Sekaran & Bougie, 2016). Variabel independen dalam penelitian ini adalah gaya kepemimpinan (X1), dan budaya organisasi (X2). 2. Variabel dependen, merupakan variabel utama yang menjadi perhatian peneliti di mana tujuan peneliti adalah untuk memahami dan mendeskripsikan variabel terikat. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah komitmen organisasi (Y). Responden dalam penelitian ini adalah pegawai di Dinas Sosial Kabupaten Bandung dengan berfokus pada bidang pelayanan kesejahteraan sosial. Penelitian ini dilakukan pada jangka waktu penelitian kurang dari satu tahun yaitu pada


40 bulan September 2022-Juni 2023, maka metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional method yaitu metode penelitian dengan cara mempelajari objek dalam kurun waktu tertentu (tidak berkesinambungan dalam jangka waktu panjang). Menurut Sekaran & Bougie (2016) cross sectional method adalah penelitian yang dilakukan dimana data dikumpulkan hanya sekali, mungkin selama beberapa hari, minggu atau bulan untuk menjawab pertanyaan penelitian. 3.2.1 Definisi dan Operasionalisasi Variabel Di dalam penelitian ini terdapat beberapa jenis variabel yang digunakan. Definisi variabel dan jenis-jenis variabel yang digunakan dikutip dari pemikiran Sekaran & Bougie (2016). Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang membedakan atau mengubah nilai di mana nilai ini dapat berbeda pada berbagai waktu untuk objek yang sama atau pada waktu yang sama untuk objek yang berbeda. Penelitian ini menggunakan dua variabel, yang pertama adalah variabel bebas (independent variable) merupakan variabel yang mempengaruhi variabel terikat baik secara positif atau negatif. Variabel independen dalam penelitian ini adalah gaya kepemimpinan dan budaya organisasi yang diberi simbol (X). Variabel kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel terikat (dependent variable) merupakan variabel utama yang menjadi perhatian peneliti di mana tujuan peneliti adalah untuk memahami dan mendeskripsikan variabel terikat. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kinerja staf/pelaksana yang diberi simbol (Y) Definisi konsep tentang variabel penelitian, secara operasional diukur menggunakan dimensi dan indikator. Selanjutnya akan ditentukan definisi


41 operasional sebagai langkah teknis pertama dalam merancang kuesioner sebagai instrumen penelitian yang akan digunakan dalam pengumpulan data. Penjelasan mengenai sejumlah indikator sebagai manifestasi dari definisi operasional setiap variabel penelitian ditampilkan pada tabel 3.2. tabel tentang operasionalisasi variabel, kemudian skala sematic differensial akan digunakan dalam mengidentifikasi setiap alternatif jawaban responden berdasarkan setiap indikator yang diukur.


Tabel 3OperasionalisasVariabel Konsep Variabel Dimensi Gaya Kepemimp inan (X1) Leadership has been defined in terms of group processes, personality, compliance, particular behaviors, persuasion, power, goal achievement, interaction, role differentiation, initiation of structure, and combinations of two or more of these (Luthans,2021) Autocratic style Transformational Leadership Authentic Leadership Budaya Organisasi (X2) budaya organisasi adalah nilai, prinsip, tradisi, dan sikap yang mempengaruhi cara bertindak anggota organisasi. Budaya organisasi juga harus diikuti oleh seluruh anggota organisasi. Barietha dkk (2019) Integritas


42 .1 si Variabel Indikator Skala Ukur Mendikte metode kerja Interval Membuat keputusan sepihak Interval Membatasi partisipasi pegawai Interval Memperhatikan kebutuhan pengikut Interval Membantu pengikut menjadi lebih kreatif dan inovatif Interval Membantu pengikut dalam kesulitan Interval Mengutamakan pengembangan pegawai Interval Berorientasi pada masa depan Interval Percaya diri Interval bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini Interval bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan organisasi walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini Interval bertindak konsisten sesuai dengan tanggungjawabnya walaupun dalam keadaan sulit untuk melakukan ini Interval bertindak konsisten sesuai dengan kode etik profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini. Interval


Profesionalisme Penghargaan pada SumbDaya Manusia Komitmen Organisasi (Y) komitmen organisasi sebagai rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi), keterlibatan (kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap organisasinya. Nadiatul (2019) Affective Commitment Continuance CommitmeNormative Commitmen Sumber : Diolah Peneliti, 2023


43 tanggung jawab atas pekerjaannya Interval karyawan mampu menyelesaikan pekerjaan secara efektif Interval memiliki pendidikan tertentu Interval karyawan mampu menyelesaikan pekerjaan secara efisien. Interval ber prestasi dalam bidang kinerja Interval prestasi dalam bidang research and development Interval tanggung jawab sosial terhadap masyarakat Interval tanggung jawab sosial terhadap lingkungan Interval Karyawan aktif dalam keanggotaan Interval Bersifat sukarela Interval Mampu menyesuaikan diri Interval Interval ent Konsekuensi Interval Gaji Interval Kebutuhan Interval Interval nt Tanggungjawab Interval Keharusan Interval Kesepakatan Interval Interval


44 3.3 Sumber dan Cara Penentuan Data Teknik pengumpulan data dimulai setelah masalah penelitian didefinisikan dan desain/rencana penelitian dibuat. Saat memutuskan tentang metode pengumpulan data yang akan digunakan untuk penelitian ini, peneliti harus mengingat dua jenis data yaitu, primer dan sekunder. Sumber data di dalam penelitian merupakan faktor yang sangat penting, karena sumber data akan menyangkut kualitas dari hasil penelitian. Oleh karenanya, sumber data menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data. Jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh dari kuesioner yang disebarkan dan diisi oleh individu sebagai unit analisis yang telah dikategorikan sesuai dengan karakteristik sampel dalam penelitian sedangkan untuk data sekunder dikumpulkan untuk tujuan selain masalah yang dihadapi. Berdasarkan horizon waktu pengumpulan datanya ditentukan dalam kurun waktu tertentu. Cara yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu melalui media elektronik. Menurut (Sekaran & Bougie, 2016) kuesioner elektronik merupakan kuesioner yang efektif karena mudah didesain dan disebarkan. Adapun sejumlah pernyataan yang akan digunakan pada kuesioner penelitian ini dirancang berdasarkan indikatorindikator yang kemudian akan di uji validitas dan reliabilitasnya. Peneliti harus memutuskan jenis data apa yang akan dia gunakan (dengan demikian mengumpulkan) untuk penelitiannya dan karenanya harus memilih satu atau metode pengumpulan data lainnya. Metode pengumpulan data primer dan sekunder berbeda karena data primer harus dikumpulkan terlebih dahulu,


45 sedangkan dalam hal data sekunder, sifat pengumpulan datanya hanyalah kompilasi. 1. Data Primer Sekaran & Bougie (2016) “primary data collection methods involve data collection from original sources for the specific purpose of the study”. Menurut Garg & Kothari, (2019) “the primary data are those which are collected afresh and for the first time, and thus happen to be original in character”. Sedangkan menurut Malholtra (2020). “primary data comes from a researcher for the specific purpose of addressing the problem at hand”. Data primer dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian. Jenis metode pengumpulan data primer yaitu wawancara, observasi, pemberian kuesioner, dan eksperimen. Keputusan pengumpulan data primer saling terkait dengan langkah-langkah lain dalam proses penelitian. 2. Data Sekunder Menuurt Sekaran & Bougie, (2016) “Secondary data is that has been collected by others for purposes other than the current research purposes”. Menurut Garg & Kothari, (2019) “The secondary data, on the other hand are those which have already been collected by someone else and which have already been passed through the statistical process. Menurut Malholtra (2020) ”Data collected for some purpose other than the problem at hand. Secondary data include information made available by business and government sources and computerized databases. Beberapa sumber data


46 sekunder adalah buletin statistik, publikasi pemerintah, informasi yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan yang tersedia baik dari dalam maupun luar organisasi, situs web perusahaan, dan internet. 3.3.1 Populasi, sampel dan Teknik Sampling 3.3.1.1 Populasi Kegiatan pengumpulan data merupakan penting guna mengetahui karakteristik dari populasi yang merupakan elemen-elemen dalam objek penelitian. Menurut Malholtra (2020) mengungkapkan bahwa “the collection of elements or objects that possess the information sought by the researcher and about which inferences are to be made”. Sedangkan Menurut Sekaran & Bougie, (2016) menyatakan: “The population refers to the entire group of people, events, or things of interest that the researcher wishes to investigate. It is the group of people, events, or things of interest for which the researcher wants to make inferences (based on sample statistics. Berdasarkan pengertian populasi menurut ahli, maka populasi dalam penelitian ini adalah Dinas Sosial Kabupaten Bandung.. 3.3.1.2 Sampel Menurut Garg & Kothari (2019) “When field studies are undertaken in practical life, considerations of time and cost almost invariably lead to a selection of respondents i.e., selection of only a few items. The respondents selected should be as representative of the total population as possible in order to produce a


47 miniature cross-section. The selected respondents constitute what is technically called a sample”. Sekaran & Bougie (2016) “a sample is a subset of the population. It comprises some members selected from it. In other words, some, but not all, elements of the population form the sample”. Bordens & Abbott, (2018) “a sample is a small subgroup chosen from the larger population”. Sampel dari penelitian ini merupakan populasi bidang pelayanan kesejahteraan sosial di Dinas Sosial Kabupten Bandung. Dalam pemilihan populasi, peneliti melakukan penelitian di seluruh bagian Dinsos Kabupaten Bandung dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu, dan tenaga sehingga tidak dapat mengambil sampel yang lebih besar. Disamping alasan keterbatasan waktu, dan tenaga. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan formula Slovin. Sampel dalam penelitian ini secara keseluruhan melibatkan 47 orang responden dan diharapkan hasil uji hipotesisnya sesuai dengan populasi dari penelitian ini. Adapun teknik penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan simpel random sampling yang merupakan semua elemen dalam populasi dipertimbangkan dan setiap elemen memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai subjek (Sekaran & Bougie, 2016). 3.3.1.3 Teknik Sampling Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, sehingga dapat diperoleh nilai karakteristik perkiraan (estimate value). Sekaran & Bougie (2016)


48 menjelaskan: “Sampling is the process of selecting the right element from the population, so that the research sample and understanding of the trait or characteristic allows new to generalize the trait or characteristic to the elements of the population”. Ketika elemen dalam populasi memiliki peluang yang diketahui, bukan nol untuk dipilih sebagai subjek dalam sampel, maka menggunakan desain pengambilan sampel probabilitas. Menurut Saunders et al., (2019) menyatakan bahwa: “Probability sampling (or representative sampling) is associated most commonly with survey research strategies where you need to make statistical inferences from your sample about a population to answer your research question(s) and to meet your objectives”. Menurut Bordens & Abbott, (2018) “a sampling technique in which each member of a population has a known probability of being in the sample”. Bordens & Abbott, (2018) “probability sampling a randomly selecting a certain number of individuals from the population”. Maholtra (2020) “probability sampling a sampling procedure in which each element of the population has a fixed probabilistic chance of being selected for the sample”. Adapun teknik penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan simple random sampling. Menurut Sekaran & Bougie, (2016) “simple random sampling refers to all elements are considered and each element has an equal chance of being selected as a subject”. Sedangkan menurut Maholtra


49 (2020) “Simple random sampling (SRS) a probability sampling technique in which each element in the population has a known and equal probability of selection. Every element is selected independently of every other element and the sample is drawn by a random procedure from a sampling frame “. Garg & Kotahri (2019) menjelaskan simple random samping sebagai: ”Random sampling refers to that method of sample selection which gives each possible sample combination an equal probability of being picked up and each item in the entire population to have an equal chance of being included in the sample”. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Wawancara Menurut Cohen et al., (2018) menyatakan bahwa: “Interviews as a research tool range from the formal interview in which set questions are asked and the answers recorded on a standardized schedule through less formal interviews in which the interviewer is free to modify the sequence of questions, change the wording, explain them or add to them, to the completely informal interview where the interviewer may have a number of key issues which she raises in conversational style instead of having a set questionnaire”.


50 Menurut Sekaran & Bougie, (2016) menyatakan bahwa: “Interview is a guided, purposeful conversation between two or more people”. Garg & Kothari (2019) “the interview method of collecting data involves presentation of oral-verbal stimuli and reply in terms of oralverbal responses”. Wawancara digunakan untuk memperoleh dan mengumpulkan keterangan berupa data dan informasi dengan menggunakan metode tanya jawab dengan responden yang dilakukan oleh peneliti sesuai dengan informasi yang dikumpulkan untuk mendapatkan suatu pemahaman mengenai suatu fakta dan masalah yang berkembang terkait pada objek yang akan diteliti. 2. Observasi Menurut Cohen et al., (2018) “observation can enable the researcher to access interactions in a social context and to yield systematic records of these in many forms and contexts, to complement other kinds of data”. Sedangkan Malhotra (2020) “observation is a systematic recording of behavior patterns of people, objects, and events to obtain information about the phenomena of interest”. Sedangkan menurut Sekaran & Bougie (2016) “observation concerns the planned watching, recording, analysis, and interpretation of behavior, actions, or events. various approaches of observation have been used in business research”. Penulis melakukan pengamatan langsung pada Dinas Sosial Kabupaten Bandung untuk mengetahui gambaran dan situasi mengenai permasalahan terkait dengan gaya kepemimpinan, motivasi kerja, dan kinerja staf/pelaksana.


51 3. Studi Literatur Menurut Sekaran & Bougie (2016), “The quality of the study of literature depends on the careful selection and reading of books, academic and professional journals, reports, theses, conference proceedings, unpublished manuscripts, and the like. Academic books and journals are generally the most useful sources of information”. Namun, sumber lain seperti jurnal profesional, laporan, dan bahkan surat kabar mungkin juga berharga karena dapat memberi informasi dunia nyata yang spesifik tentang pasar, industri, atau perusahaan. Studi literatur pada penelitian ini yaitu yang berkaitan dengan masalah variabel yang diteliti yang terdiri dari gaya kepemimpinan, budaya organisasi dan komitmen organisasi. 4. Kuesioner Menurut Maholtra (2020). “questionnaire a structured technique for data collection consisting of a series of questions, written or oral, which are answered by the respondent”. Sedangkan Cohen et al., (2018) “The questionnaire is a widely used and useful instrument for collecting survey information, providing structured, often numerical data, able to be administered without the presence of the researcher and often comparatively straightforward to analyze”. Sementara Saunders et al., (2019) “questionnaire as a general term to include all methods of data collection in which each person is asked to respond to the same set of questions in a predetermined order”.


52 Kuesioner dalam penelitian ini berisi pertanyaan maupun pernyataan mengenai gaya kepemimpinan, budaya organisasi dan komitmen organisasi.. 3.4.1 Teknik Pengolahan Data Setelah data diperoleh dari unit analisis melalui kuesioner, maka data tersebut perlu diolah. Pengolahan data tersebut meliputi pengkodean, pemasukan data, pengeditan data dan transformasi data (Sekaran & Bougie, 2016). Adapun tahapan-tahapan pengolah data menurut Sekaran & Bougie (2016), adalah sebagai berikut: 1. Pengkodean Data Penginputan dilakukan setelah data melewati proses pengkodean data dengan melalui pemberian nomor peserta responden yang menggunakan lembar kode guna dapat dimasukan kedalam database. 2. Pemasukan Data Setelah setiap tanggapan responden diberikan kode, data tersebut dimasukkan ke dalam database suatu software yang tersedia di komputer. 3. Pengeditan Data Data yang telah dimasukan perlu dilakukan pengecekan ulang karena dikhawatirkan terdapat data yang tidak konsisten yang perlu ditindak lanjuti. Pengeditan data berhubungan dengan terkoreksinya serta terdeteksi data yang tidak wajar, tidak stabil, ataupun data palsu dan kesalahan pada saat informasi penelitian yang dikembalikan oleh pelaksana. 4. Transformasi Data Mekanisme transformasi yang merepresentasikan numerik awal atas nilai


53 kuantitatif sehingga menjadi nilai yag berbeda. Secara exclusif data dirubah guna menghindari masalah pada tahap selanjutnya. 3.5 Rancangan Analisis dan Uji Hipotesis 3.5.1 Analisis Data Deskriptif Statistik deskriptif merupakan statistik yang digunakan guna menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul melalui kuesioner tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2018). Analisis ini memiliki tujuan yaitu untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan suatu variabel berdasarkan hasil kuesioner yang telah dianalisis. Analisis data deskriptif disajikan dalam tabel dengan menggunakan cross tabulation yang selanjutnya akan diinterprestasikan. Selain itu, analisis ini juga digunakan untuk mendeskripsikan skor variable gaya kepemimpinan, budaya organisasi dan komitmen organisasi serta kedudukannya dengan prosedur sebagai berikut: 1. Menentukan jumlah skor kontinum (SK) dengan rumus: SK = ST x JB x JR Keterangan: SK : Skor kriterium ST : Skor tertinggi JB : Jumlah butir JR : Jumlah responden 2. Membandingkan jumlah skor hasil kuesioner dengan jumlah skor kriterium, untuk mencari jumlah skor hasil kuesioner yaitu menggunakan


54 rumus berikut: ∑ = x1 + x2 + x3 + …. + xn Keterangan: ∑ : Jumlah skor hasil kuesioner variabel X x1-xn : Jumlah skor kuesioner masing-masing responden 3. Membuat daerah kategori kontinium menjadi lima tingkatan, contohnya sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Langkah-langkah untuk membuat kategori kontinium adalah sebagai berikut: a. Menentukan kontinum tertinggi dan terendah Tinggi: SK = ST x JB x JR Rendah: SK = SR x JB x JR Keterangan: ST = Skor tertinggi SR = Skor terendah JB = Jumlah butir JR = Jumlah responden b. Menentukan selisih skor kontinum dari setiap tingkatan, dengan menggunakan rumus: = skor kontinum tinggi − skor kontinum rendah jumlah interva c. Membuat garis kontinum dan menentukan daerah letak skor hasil peneltian atau rating scale dalam kontinum (S/Skor maksimal x 100%).


55 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 3.5.2 Uji Validitas Menurut Sekaran & Bougie (2016), uji validitas yaitu aktivitas peneliti dalam memastikan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dapat mengukur apa yang hendak diukur. Oleh karena itu, instrumen yang valid yaitu instrumen yang memiliki nilai rhitung > rtabel dengan degree of freedom yang ditentukan yaitu df=n–2, n merupakan jumlah sampel minimum. Penelitian ini menggunakan 3 (tiga) variabel yaitu gaya kepemimpinan, budaya organisasi dan komitmen organisasi dengan jumlah responden sebanyak 36 sehingga df=36- 2=34 dengan tingkat signifikansi yang digunakan sebesar 0.05. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu instrumen yang dihasilkan adalah rhitung > rtabel maka instrumen dinyatakan valid, sedangkan jika rhitung < rtabel maka instrumen dinyatakan tidak valid (Sugiyono, 2018). 3.5.3 Uji Reliabilitas Uji reliabilitas yaitu aktivitas peneliti dalam memastikan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data menghasilkan data yang konsisten meskipun dilakukan pengukuran sebanyak dua kali atau lebih pada masalah yang sama (Sekaran & Bougie, 2016). Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran koefisien cronbach’s alpha sebagaimana Sekaran


56 & Bougie (2016), mendefinisikan cronbach’s alpha merupakan koefisien reliabilitas yang menunjukkan seberapa baik item dalam satu set instrumen berkorelasi positif satu sama lain. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengetahui reliabilitas instrumen yaitu jika reliabilitas kurang dari 0,60 maka dikategorikan buruk, jika reliabilitas dalam kisaran 0,70 dikategorikan dapat diterima, dan jika reliabilitas mencapai atau melebihi 0,80 maka dikategorikan baik. 3.5.4 Skala Pengukuran Penelitian ini menggunakan instrumen pengukuran faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja staf/pelaksana. Hal ini diukur melalui pertanyaanpertanyaan yang terdapat pada kuesioner dan menggunakan yaitu skala semantic defferential dengan Validitas dan Reliabilitas. Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala semantic defferential dimana kuesioner yang dibuat berbentuk pertanyaan atau pernyataan yang bersifat netral dan dapat digunakan untuk mengukur persepsi, sikap, individu terkait fenomena penelitian yang diteliti. Jawaban yang diperoleh dari setiap pertanyaan maupun pernyataan yang diperoleh sesuai dengan Validitas dan Reliabilitas. 3.5.5 Uji Hipotesis Menurut Sekaran & Bougie (2016), pengujian hipotesis merupakan upaya dalam menentukan secara akurat apakah hipotesis nol (H0) dapat ditolak dan digantikan oleh hipotesis alternatif (Ha).


57 Gambar 3.1 Uji Satu Pihak yang Menggambarkan Daerah penerimaan dan Penolakan Hipotesis penelitian Kriteria penentuan penerimaan H0 dan Ha sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menginterpretasi hasil uji t pada hipotesis dilakukan dengan membandingkan antara thitung dan ttabel, di mana dengan tingkat kesalahan sebesar 5% (0,05). Selain itu hasil uji t dapat diinterpretasikan melalui perbandingan signifikansi t dengan tingkat kesalahan sebesar 0,05. Menurut Sugiyono (2018) kriteria dalam uji t yaitu: jika thitung ≤ ttabel atau nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen, sementara jika thitung > ttabel atau nilai signifikansi < 0.05 maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2016).


58 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Dasar Hukum Dinas Sosial Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Bandung; (Lembar Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2016 Nomor 12), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan daerah Kabupaten Bandung nomor 8 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2016 tentang pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Bandung (Lembar Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2022 Nomor 8, tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Bandung Nomor 66). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Kedua dasar hukum tersebut menjadi acuan dinas sosial dijadikan sebagai salah satu dinas yang memiliki fungsi dan tujuan dibidang sosial. 4.1.2 Visi dan Misi Dinas Sosial 1. Visi ”Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang Bangkit, Edukatif, Dinamis, Agamis dan Sejahtera”. Pernyataan visi Kabupaten Bandung Tahun 2022-2026 memiliki makna sebagai berikut:


59 a. Bangkit : Terwujudnya masyarakat kabupaten Bandung yang Bangkit adalah memberdayakan masyarakat menuju perubahan sosial ekonomi secara nyata dan bertahap melalui program pembangunan yang dirancang secara sektoral dan regional yang berdampak signifikan terhadap penanggulangan kemiskinan dan peningkatan daya beli. b. Edukatif : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang edukatif yang dimaksud adalah kondisi BEDAS di segala bidang untuk kemajuan Kabupaten Bandung. c. Dinamis : Terwujudnya Pembangunan Kabupaten Bandung yang dinamis yang dimaksud adalah terselenggarakannya kegiatan pembangunan baik fisik maupun non fisik di Kabupaten Bandung yang memperhatikan kaidah-kaidah pembangunan yang berwawasan lingkungan, yang memperhatikan tata ruang dan keseimbangan alam. Pembangunan berkelanjutan juga diartikan sebagai: Pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteran ekonomi masyarakat secara berkesinambungan; Pembangunan yang menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat; dan Pembangunan yang menjaga kualitas lingkungan hidup masyarakat dan tatakelola pelaksaanaan pembangunan yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. d. Agamis : Terwujudnya masyarakat Kabupaten Bandung yang Agamis, yang dimaksud adalah kondisi Kabupaten Bandung yang masyarakat dan Aparaturnya bersih dan berwibawa berakhlak mulia berdasarkan nilai-nilai religiusitas keagamaan.


60 e. Sejahtera : Terwujudnya masyarakat Kabupaten Bandung yang sejahtera, yang dimaksud adalah kondisi masyarakat Kabupaten Bandung yang dapat terpenuhi kebutuhan dasar meliputi sandang, pangan, papan dan memperoleh pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan secara layak serta terbuka kesempatan kerja yang luas dan mampu menyerap tenaga kerja dengan penghasilan memadai. 2. Misi Misi ke IV : "Mengoptimalkan Tata Kelola Pemerintahan melalui birokrasi yang porofesional dan tatakehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan ". Dan Misi ke V: "Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Dengan Prinsip Keadilan dan Keberpihakan Pada Kelompok Masyarakat Lemah". 4.1.3 Tugas dan Fungsi Dinas Sosial Tugas dan Fungsi Dinas Sosial Berdasarkan Peraturan Bupati Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tugas, Fungsi Dan Tata Kerja Dinas Sosial Kabupaten Bandung. Dinas Sosial Kabupaten Bandung mempunyai tugas membantu Bupati merumuskan kebijakan, mengkoordinasikan, membina dan mengendalikan urusan pemerintahan bidang Sosial yang menjadi kewenangan daerah dan tugas pembantuan yang diberikan kepada Pemerintah Daerah.


61 4.1.4 Struktur Organisasi Gambar 4.1 Struktur Organisasi Sumber : LKIP Dinas Sosial, 2023


62 4.1.5 Lokasi Dinas Sosial Lokasi Dinas Sosial berada tepat di Komplek Pemda Kabupaten Bandung, JL. Soreang, KM. 17, Pamekaran, Kec. Soreang Bandung Jawa Barat. 4.2 Pembahasan 4.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan data yang diperoleh mengenai latar belakang identitas responden yang terdiri dari jenis kelamin, usia dan divisi/departemen serta masa kerja, maka jawaban mereka atas kuesioner yang disebar dapat dilihat dalam tabel-tabel seperti berikut ini: Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Gender Frekwensi Persentase Perempuan 23 Orang 49% Laki-Laki 24 Orang 51% Total 47 Orang 100% Sumber: Data primer Berdasarkan tabel 4.1 diatas menujukan bahwa jumlah responden laki-laki sebesar 51% sedangkan responden perempuan 49%. Dengan demikian laki-laki mendominasi dalam jumlah responden dalam penelitian ini. Hal ini merupakan suatu kebijakan dari manajemen atas Kepala Dinas Sosial untuk lebih memprioritaskan karyawan laki-laki daripada karyawan perempuan.


63 Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia Frekwensi Prensentase 31-40 Tahun 27 Orang 58% 41-50 Tahun 20 Orang 42% Total 47 Orang 100% Sumber: Data primer Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukan bahwa responden pada usia 31 sampai dengan 40 tahun mendominasi dengan 58%, sedangkan sisanya hanya 42% usia 41 sampai dengan 50 tahun. Dengan demikian responden dalam penelitian ini berada pada rentang 31 sampai dengan 50 tahun, Rentang usia tersebut merupakan kebijakan perusahaan pada saat penerimaan karyawan karena perusahaan memiliki pandangan bahwa usia 20 sampai dengan 50 tahun merupakan usia yang produktif untuk meningkatkan kinerja karyawan. Tabel 4.3 Karakteristik Responden Masa Kerja Masa Kerja Frekwensi Prensentase 0 sd 5 tahun 23 Orang 49% 6 sd 10 tahun 15 Orang 32% 11 sd 15 tahun 7 Orang 15% diatas 15 tahun 2 Orang 4% Total 47 Orang 100% Sumber : Data primer Berdasarkan tabel 4.3 diatas menunjukan bahwa berdasarkan masa kerja responden adalah sebanyak 49% untuk masa kerja 0 sampai dengan 5 tahun, sebanyak 32% untuk masa kerja 6 sampai dengan 10 tahun, 15% untuk masa kerja


64 11 sampai dengan 15 tahun dan 4% untuk masa kerja di atas 15 tahun. Karyawan yang bekerja di Dinas Sosial Kabupaten Bandung tengah mengalami pembaharuan, maka dari itu masa kerja karyawan dibawah 5 tahun lebih mendominasi. 4.3 Hasil Uji Instrumen Penelitian 4.3.1 Uji Kualitas Data Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan kuesioner sebagai instrument penelitian untuk mendapatkan data primer. Kuesioner ini terdiri dari kuesioner mengenai gaya kepemimpinan sebanyak 9 item pernyataan, kuesioner budaya organisasi sebanyak 12 item pernyataan, koesioner tentang komitmen organisasi sebanyak 9 item pernyataan. 4.3.2 Uji Validitas Intrumen Penelitian Pengujian validitas instrumen digunakan untuk mengukur sampai seberapa besar ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur di dalam melakukan fungsinya. Sugiyono (2013:121-123) menyatakan bahwa: Variabel dikatakan valid jika instrumen dapat digunakan untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama, sedangkan pengujian instrumen dapat dilakukan analisis instrumen, yaitu mengorelasikan antara skor item instrumen dalam suatu instrumen dan mengorelasikan instrumen dengan skor total. Bila korelasi tiap instrumen positif besarnya 0,3 ke atas, maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut valid.


65 4.3.2.1 Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian Variabel Gaya Kepemimpinan Tabel dibawah ini merupakan hasil tingkat uji instrument penelitian untuk variabel gaya kepemimpinan (X1) yang terdiri dari 9 item pernyataan kuesioner. Hasilnya dapat terlihat sebagai berikut: Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas Item Variabel Gaya Kepemimpinan (X1) Indikator T hitung Batas kritis Keterangan X1.1 ,721** 0,282 Valid X1.2 ,494** 0,282 Valid X1.3 ,647** 0,282 Valid X1.4 ,769** 0,282 Valid X1.5 ,775** 0,282 Valid X1.6 ,758** 0,282 Valid X1.7 ,494** 0,282 Valid X1.8 ,734** 0,282 Valid X1.9 ,745** 0,282 Valid Sumber : Hasil lampiran uji validitas variabel penelitian Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terbukti seluruh item pernyataan variabel gaya kepemimpinan memiliki nilai r hasil lebih dari 0,282 yang artinya dapat dikatakan item pernyataan tersebut valid, sehingga dianggap layak untuk diolah sebagai data penelitian. 4.3.2.2 Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian Variabel Budaya Organisasi Tabel dibawah ini merupakan hasil tingkat uji instrument penelitian untuk variabel Budaya Organisasi (X2) yang terdiri dari 12 item pernyataan kuesioner.


66 Hasilnya dapat terlihat sebagai berikut: Tabel 4.5 Hasil Uji Validitas Item Variabel Budaya Organisasi (X2) Indikator T hitung Batas kritis Keterangan X2.1 ,902** 0,282 Valid X2.2 ,909** 0,282 Valid X2.3 ,933** 0,282 Valid X2.4 ,899** 0,282 Valid X2.5 ,912** 0,282 Valid X2.6 ,882** 0,282 Valid X2.7 ,883** 0,282 Valid X2.8 ,898** 0,282 Valid X2.9 ,919** 0,282 Valid X2.10 ,864** 0,282 Valid X2.11 ,879** 0,282 Valid X2.12 ,896** 0,282 Valid Sumber : Hasil lampiran uji validitas variabel penelitian Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terbukti seluruh item pernyataan variabel budaya organisasi memiliki nilai r diatas 0,282 yang artinya dapat dikatakan item pernyataan tersebut valid, sehingga dianggap layak untuk diolah sebagai data penelitian. 4.3.2.3 Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian Variabel Komitmen Organisasi Tabel dibawah ini merupakan hasil tingkat uji instrument penelitian untuk variabel Komitmen Organisasi (Y) yang terdiri dari 9 item pernyataan kuesioner. Hasilnya dapat terlihat sebagai berikut:


67 Tabel 4.6 Hasil Uji Validitas Item Variabel Komitmen Organisasi (Y) Indikator T hitung Batas kritis Keterangan Y.1 ,885** 0,282 Valid Y.2 ,869** 0,282 Valid Y.3 ,885** 0,282 Valid Y.4 ,832** 0,282 Valid Y.5 ,923** 0,282 Valid Y.6 ,815** 0,282 Valid Y.7 ,913** 0,282 Valid Y.8 ,759** 0,282 Valid Y.9 ,488** 0,282 Valid Sumber : Hasil lampiran uji validitas variabel penelitian Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terbukti seluruh item pernyataan variabel komitmen organisasi memiliki nilai r diatas 0,282 yang artinya dapat dikatakan item pernyataan tersebut valid, sehingga dianggap layak untuk diolah sebagai data penelitian. Kesimpulan dari keseluruhan dari tabel-tabel terbukti bahwa seluruh item pernyataan untuk masing-masing kuesioner variabel gaya kepemimpinan, budaya organisasi dan komitmen organisasi adalah valid, sehingga dianggap layak untuk diolah menjadi data penelitian. 4.3.3 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian Reliabilitas adalah tingkat kepercayaan terhadap hasil suatu pengukuran. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi merupakan pengukuran yang mampu memberikan hasil ukur terpercaya (reliable).


68 Reliabilitas disebut juga sebagai keterpercayaan, keterendahan, keajegan, konsistensi, kestabilan dan sebagainya. Namun, ide pokok dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana suatu pengukuran terbebas dari kekeliruan pengukuran (measurement error). Dari hasil pengujian reliabilitas dengan menggunakan metode alpha cronbach didapat hasil sebagai berikut: Tabel 4.7 Hasil Pengukuran Uji Reliabilitas Variabel Koefisien reliabilitas (alpha cronbach) Batas Kritis Keterangan Gaya Kepemimpinan .852 0,600 Reliabel Budaya Organisasi .978 0,600 Reliabel Komitmen Organisasi .938 0,600 Reliabel Sumber : Hasil lampiran uji reliabilitas variabel penelitian Sofyan Siregar (2010:173) merekomendasikan bahwa batas minimum reliabilitas adalah koefisien positif, dan suatu instrumen penelitian dikatakan reliabel jika hasil uji reliabilitasnya diatas 0,600. Dari tabel di atas, terlihat bahwa seluruh intrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berada di atas 0,600, sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh instrumen penelitian yang digunakan penulis sudah reliabel. 4.4 Hasil Pengolahan Data 4.4.1 Analisa Deskriptif Berdasarkan kuesioner yang telah diberikan kepada 47 responden diperoleh sampel kembali sebanyak 47 responden. Setelah melakukan pengamatan pada hasil kuesioner dapat dilihat jawaban deskriptif responden dimana digunakan


69 untuk menganalisis data yang diperoleh dari responden terhadap tiap-tiap indikator pengukuran variabel. Penilaian yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan skala Likert 5 tingkat dimana skor terendah (Sangat Tidak Setuju) diberikan skor 1 dan skor tertinggi (Sangat Setuju) diberikan skor 5. Dalam penilaian digunakan interval dengan perhitungan sebagai berikut : Interval = Skor tertinggi (5) − skor terendah (1) Jumlah jenjang (5) = 0,8 Dikategorikan menjadi 5 yaitu : Tabel 4.8 Kriteria Penafsiran Korelasi No Nilai Deskripsi 1. 1,00 - 1,80 Sangat Tidak Baik 2. 1,81 - 2,60 Tidak Baik 3. 2,61 - 3,40 Cukup Baik 4. 3,41 - 4,20 Baik 5. 4,21 - 5,00 Sangat Baik Sumber: Diolah Untuk lebih memudahkan dalam menganalisis, maka deskripsi statistik variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel gaya kepemimpinan, budaya organisasi dan komitmen organisasi akan disajikan dalam bentuk tabel. Berikut ini adalah data mengenai jawaban responden mengenai beberapa pernyataan dari variabel gaya kepemimpinan, budaya organisasi dan komitmen organisasi.


70 4.4.1.1 Analisa Deskriptif Variabel Gaya Kepemimpinan Berdasarkan hasil jawaban kuesioner dari karyawan Dinas Sosial Kabupaten Bandung yang dijadikan sebagai responden, maka dibawah ini dapat terlihat gambaran kondisi Gaya Kepemimpinan yang terdiri dari: Tabel 4.9 Rekapitulasi jawaban responden terkait Variabel Gaya Kepemimpinan No Pernyataan Frekuensi N SS S CS TS STS 1 Mendikte Metode Kerja 4 9 9 12 13 47 2 Membuat Keputusan Sepihak 3 14 9 9 12 47 3 Membatasi Partisipasi Pegawai 11 17 8 7 4 47 4 Memperhatikan Kebutuhan Pegawai 7 12 17 8 3 47 5 Membantu Pegawai Menjadi Lebih Kreatif dan Inovatif 5 14 17 7 4 47 6 Membantu Pegawai dalam Kesulitan 9 17 9 8 4 47 7 Mengutamakan Pengembangan Pegawai 3 14 9 9 12 47 8 Berorientasi Pada Masa Depan 7 14 9 10 7 47 9 Percaya Diri 7 11 15 8 6 47 Total Frekuensi 56 122 102 78 65 423 Prosentase 13% 29% 24% 18% 15% 100% Sumber : Data Primer yang Diolah, 2023 Tabel diatas menunjukan pada semua indikator gaya kepemimpinan, hasilnya dapat diketahui bahwa dari 47 orang pegawai yang dijadikan responden, sebanyak 56 jawaban (13%) menyatakan sangat setuju, 122 jawaban (29%)


71 menyatakan setuju, 102 jawaban (24%) menyatakan cukup setuju, 78 jawaban (18%) menyatakan tidak setuju dan sisanya 65 jawaban (15%) menyatakan sangat tidak setuju. Untuk mengetahui setiap indikator gaya kepemimpinan, penghitungan yang sama dilakukan pada setiap indikatornya dan indikator terendah terdapat pada Mendikte Metode Kerja. Hal ini disebabkan karena perusahaan belum menerapkan sistem metode kerja secara keselurhan dengan dikte, sehingga mendikte metode kerja masih minim dilakukan. Sedangkan indikator tertinggi terdapat pada Membatasi Partisipasi Pegawai, hal ini dikarenakan perusahaan tidak menerapkan kesempatan yang sama pada pegawai untuk mengeluarkan ide, gagasan, pemikiran ataupun hak menuangkan pendapat sehingga pegawai merasa partisipasinya dibatasi. Tanggapan tentang hasil instrumen Gaya Kepemimpinan dari masing-masing responden dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4.10 Hasil Skor dan Tafsiran jawaban responden terkait Variabel Gaya Kepemimpinan Skor Total Score Rata rata Keterangan SS S CS TS STS 20 36 27 24 13 120 2,553 Tidak Setuju 15 56 27 18 12 128 2,723 Cukup Setuju 55 68 24 14 4 165 3,511 Setuju 35 48 51 16 3 153 3,255 Cukup Setuju 25 56 51 14 4 150 3,191 Cukup Setuju 45 68 27 16 4 160 3,404 Setuju 15 56 27 18 12 128 2,723 Cukup Setuju 35 56 27 20 7 145 3,085 Cukup


72 Setuju 35 44 45 16 6 146 3,106 Cukup Setuju 280 488 306 156 65 1295 3,061 Cukup Setuju 1295 3,541 Setuju Sumber : Data Primer yang Diolah, 2023 Berdasarkan tabel 4.10 dapat dilihat rata-rata variabel penelitian hasil skor dan tafsiran Gaya Kepemimpinan berdasarkan jawaban responden didapat ratarata nilai 3,541 yang artinya rata-rata responden menyatakan jawaban Baik. Sangat Tidak baik Tidak Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik 1 1,80 2,60 3,40 4,20 5 4.4.1.2 Analisis Deskriptif Variabel Budaya Organisasi Berdasarkan hasil jawaban kuesioner dari karyawan Dinas Sosial Kabupaten Bandung yang dijadikan sebagai responden, maka dibawah ini dapat terlihat gambaran kondisi Budaya Organisasi yang terdiri dari: Tabel 4.11 Rekapitulasi jawaban responden terkait Variabel Budaya Organisasi No Pernyataan Frekuensi N SS S CS TS STS 1 Bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini 4 10 11 14 8 47 2 Bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan organisasi walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini 5 9 11 10 12 47


73 3 Bertindak konsisten sesuai dengan tanggungjawab walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini 8 9 8 11 11 47 4 Bertindak konsisten sesuai dengan kode etik profesi walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini 8 11 9 11 8 47 5 Tanggungjawab atas pekerjaannya 10 12 7 8 10 47 6 Karyawan mampu menyelesaikan pekerjaan secara efektif 7 10 11 12 7 47 7 Memiliki pendidikan tertentu 7 11 12 11 6 47 8 Karyawan mampu menyelesaikan pekerjaan secara efisien 7 11 10 12 7 47 9 Prestasi dalam bidang kinerja 8 8 10 13 8 47 10 Prestasi dalam bidang research and development 7 6 12 14 8 47 11 Tanggungjawab sosial terhadap masyarakat 6 11 14 12 4 47 12 Tanggungjawab sosial terhadap lingkungan 7 9 12 11 8 47 Total Frekuensi 84 117 127 139 97 564 Prosentase 15% 21% 23% 25% 17% 100,00% Sumber : Data Primer yang Diolah, 2023 Tabel diatas menunjukan pada semua indikator budaya organisasi, hasilnya dapat diketahui bahwa dari 47 orang pegawai yang dijadikan responden, sebanyak 84 jawaban (15%) menyatakan sangat setuju, 117 jawaban (21%) menyatakan setuju, 127 jawaban (23%) menyatakan cukup setuju, 139 jawaban (25%) menyatakan tidak setuju dan sisanya 97 jawaban (17%) menyatakan sangat tidak setuju. Untuk mengetahui setiap indikator budaya organisasi, penghitungan yang sama dilakukan pada setiap indikatornya dan indikator terendah terdapat


74 pada Bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini. Hal ini disebabkan karena perusahaan belum menerapkan aturan kerja yang berpegang penuh pada nilai sehingga budaya pada nilai-nilai masih minim dilakukan pegawai. Sedangkan indikator tertinggi terdapat pada Tanggungjawab atas pekerjaannya, hal ini dikarenakan perusahaan menerapkan konsistensi dan tanggungjawab terhadap pekerjaan yang di tanggung oleh pegawainya sebagai cerminan kapabilitas yang dimiliki pegawai Tanggapan tentang hasil instrumen budaya organisasi dari masing-masing responden dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4.12 Hasil Skor dan Tafsiran jawaban responden terkait Variabel Budaya Organisasi Skor Total Score Rata rata Keterangan SS S R TS STS 20 40 33 28 8 129 2,745 Cukup Setuju 25 36 33 20 12 126 2,681 Cukup Setuju 40 36 24 22 11 133 2,830 Cukup Setuju 40 44 27 22 8 141 3,000 Cukup Setuju 50 48 21 16 10 145 3,085 Cukup Setuju 35 40 33 24 7 139 2,957 Cukup Setuju 35 44 36 22 6 143 3,043 Cukup Setuju 35 44 30 24 7 140 2,979 Cukup Setuju 40 32 30 26 8 136 2,894 Cukup Setuju 35 24 36 28 8 131 2,787 Cukup Setuju 30 44 42 24 4 144 3,064 Cukup


75 Setuju 35 36 36 22 8 137 2,915 Cukup Setuju 420 468 381 278 97 1644 2,915 Cukup Setuju Sumber : Data Primer yang Diolah, 2023 Berdasarkan tabel 4.12 dapat dilihat rata-rata variabel penelitian hasil skor dan tafsiran Budaya Organisasi berdasarkan jawaban responden didapat rata-rata nilai 2,915 yang artinya rata-rata responden menyatakan jawaban Cukup Baik. Sangat Tidak baik Tidak Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik 1 1,80 2,60 3,40 4,20 5 4.4.1.3 Analisis Deskripsi Variabel Komitmen Organisasi Berdasarkan hasil jawaban kuesioner dari karyawan Dinas Sosial Kabupaten Bandung yang dijadikan sebagai responden, maka dibawah ini dapat terlihat gambaran kondisi komitmen organisasi yang terdiri dari Tabel 4.13 Rekapitulasi jawaban responden terkait Variabel Komitmen Organisasi No Pernyataan Frekuensi N SS S CS TS STS 1 Karyawan aktif dalam keanggotaan 5 14 6 17 5 47 2 Bersifat sukarela 6 17 7 6 11 47 3 Mampu menyesuaikan diri 9 11 13 9 5 47 4 Konsekuensi 10 14 11 7 5 47 5 Gaji 5 11 9 12 10 47 6 Kebutuhan 4 6 10 16 11 47 7 Tanggungjawab 5 9 11 9 13 47 8 Keharusan 5 7 16 9 10 47


76 9 Kesepakatan 7 16 10 6 8 47 Total Frekuensi 56 105 93 91 78 423 Prosentase 13% 25% 22% 22% 18% 100,00% Sumber : Data Primer yang Diolah, 2023 Tabel diatas menunjukan pada semua indikator komitmen organisasi, hasilnya dapat diketahui bahwa dari 47 orang pegawai yang dijadikan responden, sebanyak 56 jawaban (13%) menyatakan sangat setuju, 105 jawaban (25%) menyatakan setuju, 93 jawaban (22%) menyatakan cukup setuju, 91 jawaban (22%) menyatakan tidak setuju dan sisanya 78 jawaban (18%) menyatakan sangat tidak setuju. Untuk mengetahui setiap indikator komitmen organisasi, penghitungan yang sama dilakukan pada setiap indikatornya dan indikator terendah terdapat pada Gaji. Hal ini disebabkan karena perusahaan tidak memberikan gaji sesuai dengan komitmen diawal. Sedangkan indikator tertinggi terdapat pada Mampu menyesuaikan diri, hal ini dikarenakan perusahaan memberikan kesempatan pada pegawai untuk adaptasi, sehingga pegawai mampu menyesuaikan diri atas pekerjaan ataupun lingkungan yang ada. Tanggapan tentang hasil instrumen Komitmen Organisasi dari masing-masing responden dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4.14 Hasil Skor dan Tafsiran jawaban responden terkait Variabel Komitmen Organisasi Skor Total Score Rata rata Keterangan SS S CS TS STS 25 56 18 34 5 138 2,936 Cukup Setuju 30 68 21 12 11 142 3,021 Cukup Setuju 45 44 39 18 5 151 3,213 Cukup Setuju


77 50 56 33 14 5 158 3,362 Cukup Setuju 25 44 27 24 10 130 2,766 Cukup Setuju 20 24 30 32 11 117 2,489 Tidak Setuju 25 36 33 18 13 125 2,660 Cukup Setuju 25 28 48 18 10 129 2,745 Cukup Setuju 35 64 30 12 8 149 3,170 Cukup Setuju 280 420 279 182 78 1239 2,929 Cukup Setuju Sumber : Data Primer yang Diolah, 2023 Berdasarkan tabel 4.14 dapat dilihat rata-rata variabel penelitian hasil skor dan tafsiran Komitmen Organisasi berdasarkan jawaban responden didapat ratarata nilai 2,929 yang artinya rata-rata responden menyatakan jawaban Cukup Setuju. Sangat Tidak baik Tidak Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik 1 1,80 2,60 3,40 4,20 5 4.4.2 Analisis Verifikatif 4.4.2.1 Hasil Analisis Korelasi Perhitungan analisa korelasi dengan menggunakan Pearson Product Moment, dimaksudkan untuk mengetahui berapa besar hubungan antara beberapa variabel independent yang diteliti. Perhitungan analisa korelasi dibantu dengan menggunakan bantuan software Statistical Product and Service Solutions (SPSS)


Click to View FlipBook Version