Bening Bola Mata Raisha| i
Bening Bola Mata Raisha
Penulis: Yuli Trianto
ISBN
Editor: Indra Kosasih
Penata Letak: @timsenyum
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2018
vi, 88 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Januari 2018
Diterbitkan oleh
CV. Pustaka MediaGuru
Anggota IKAPI
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya 60286
Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru
Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72
Kata Pengantar
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Pencipta alam
semesta. Salawat serta salam teruntuk Rasulullah
Muhammad SAW, sosok yang arif lagi penuh kasih,
teladan segenap insan. Semoga terlimpah juga atas
keluarga, sahabat serta pengikutnya yang ikhlas
mendarmabaktikan kehidupannya demi mengikuti jejak
mulia sang nabi.
Manusia sebagai makhluk yang tercipta dengan segenap
komponen penyerta memiliki makna sebagai bunga rampai
kehidupan. Hidup sebagai sebuah titah hadir dalam kemasan
terindah dari sisi manapun.
Menjalani adalah sebagai sebuah kewajiban. Menikmati
adalah sebagai anugerah, hadiah terindah dari Sang Pemberi
Hidup. Bahagia itu tidak harus didapat dengan bermewah‐
mewah. Kesederhanaan menghadirkan bahagia yang tak
ternilai. Hati yang bercahaya, senantiasa merasa dan
berusaha dekat dengan Sang Khalik menumbuhkan
kebahagiaan sejati.
Kesulitan hidup bukan untuk dihindari dan lari darinya,
tetapi berupaya keras menggempur dan keluar darinya.
Strategi yang tepat diperlukan untuk menyikapi agar
semakin hari hidup menjadi lebih bermakna dan tidak
terzalimi.
Novel ini terinspirasi dari sebuah kisah perjalanan hidup.
Selain sebagai sumbang sih pengarang dalam upaya
Bening Bola Mata Raisha| iii
menggeliatkan gerakan literasi dan menumbuhkan budaya
baca, bagian terpenting novel ini adalah pesan terdalam
pembelajaran bermakna dari kisah‐kisah yang tersaji.
Semoga bermanfaat.
Salam literasi,
Pengarang.
iv | Yuli Trianto
Daftar Isi
Kata Pengantar ........................................................................ iii
Daftar Isi .................................................................................... v
Bagian Satu: Sederhana ..................................................... 1
Bagian Dua: Terbatas ......................................................... 7
Bagian Tiga: Terlambat Pulang ......................................... 13
Bagian Empat: Sepatu Roda ............................................ 19
Bagian Lima: Taman Kota ................................................ 27
Bagian Enam: Garis Tipis .................................................. 33
Bagian Tujuh: Terakhir ..................................................... 43
Bagian Delapan: Kemarin ................................................ 47
Bagian Sembilan: Melucuti Rindu ................................... 53
Bagian Sepuluh: Karya Raisha ......................................... 59
Bagian Sebelas: Piala Raka .............................................. 63
Bagian Dua Belas: Tirai Samar ........................................ 69
Bagian Tiga Belas: Tanyaku Menggebu .......................... 75
Bagian Empat Belas: Jawaban ......................................... 81
Profil Penulis............................................................................ 87
Bening Bola Mata Raisha| v
vi | Yuli Trianto
Bagian Satu
Sederhana
Sementara tiga orang perempuan teman kami banyak
berceloteh dengan fokus suguhan adegan kemesraan keluarga
kecil sore itu. Sungguh sebuah ungkapan kebahagiaan yang
tak tersembunyikan, pancaran kehidupan keluarga harmonis.
Dingin menjelang sore. Hari terakhir sesi pelatihan
Buku Cerita Anak (BCA) untuk guru sekolah dasar
kelas awal di Kecamatan Labuhan setengah jam
lebih awal berakhir. Tak ada hujan. Tetapi matahari pun
enggan menyeruak menembus awan tebal di langit barat.
Angin, menghipnotis tubuh‐tubuh kami yang lelah. Sehingga
lima orang temanku duduk terdiam di bangku mobil yang
berjalan dengan kecepatan sedang.
Alarm perutku berbunyi, mendesis lirih. Lambungku.
Kemampuannya beradaptasi dengan cuaca dingin
memberikan sinyal positif, bahwa seratus meter lagi tepat di
depan kantor pos “Mie Ayam Solo” dengan varian menu
yang lengkap menanti untuk disinggahi.
“Hahaaaai… asyik, Pak Arya tahu aja mau kita.”
Luapan kebahagian sederhana temanku mendadak
berekspresi ketika mobil parkir tepat di depan kedai yang
lumayan terkenal di kota kami. Paham betul, mereka
menaruh tasnya di bangku mobil, turun dan masuk ke dalam
Bening Bola Mata Raisha| 1
kedai. Gadis berhijab merah mendatangi tempat duduk kami
menyodorkan varian menu yang tersedia. Mengeluarkan
ballpoint biru dari saku gamisnya, dan mencatat pesanan
kami.
“Oke, saya bacakan pesanan meja 5. Mie ayam pangsit
tiga, mie bakso dua, mie spesial satu, teh manis panas satu,
jeruk panas empat, jus melon satu, ada yang terlewat bapak
ibu?”
Sangat ramah, gadis berhijab merah memastikan daftar
pesanan. Setelah kami setuju, kemudian membalikkan
badannya meninggalkan kami menuju dapur kedai.
Sepasang suami istri dengan anak laki‐lakinya yang
berusia lima tahunan duduk sangat santai di meja 3 persis di
depan kami. Keluarga muda, bercanda tanpa beban
memberikan segenap perhatiannya untuk anak tercinta.
Ibunya menyuapkan lembaran kecil mie yang masih sedikit
panas dengan beberapa kali tiupan ke mulut si kecil. Tampak
lahap, menyeruput mie bercampur kuah hangat dengan
ekspresi semangat. Ayahnya, cekatan menyelamatkan
potongan mie yang hampir jatuh dari bibir mungil si kecil.
Aduhai, betapa memberikan gambaran kenyamanan tentang
arti kebahagiaan keluarga. Tanpa komando, semua dari kami
tersihir memperhatikan adegan kemesraan keluarga kecil
pada sore itu.
“Bikin ngiri…” Gumamku lirih.
“Mas Denis jadi ingat masa muda nich…” Ledek Si Gokil
Pak Agus Tamtam.
Sementara tiga orang perempuan teman kami banyak
berceloteh dengan fokus suguhan adegan kemesraan
2 | Yuli Trianto
keluarga kecil sore itu. Sungguh sebuah ungkapan
kebahagiaan yang tak tersembunyikan pancaran kehidupan
keluarga harmonis.
Tak terasa kami tertarik membuat topik diskusi sambil
menunggu pesanan diantar. Mas Denis. Leader team
fasilitator daerah, atasan kami menangkap umpan Pak Agus
Tamtam dengan ledekan tadi. Kemudian membuka
percakapan.
“Jujur saja coba, saya pengin tanya kepada ibu‐ibu, apa
menurut kalian bahagia itu?”
“Saya boleh jawab Mas Denis?”
“Silahkan Bu Rina, harus jujur tapi.”
“Bahagia itu kalau dalam hidup ini tidak ada keresahan,
tidak ada beban yang mengusik kita, seperti aku ini,
hahaaa...”
Ibu Rina spontan memberikan respon atas pertanyaan
Mas Denis tadi. Dengan gayanya yang khas, bicaranya
ceplas‐ceplos, tanpa memerlukan waktu lama untuk berpikir
langsung saja keluar ide menjawab.
“Boleh beda pendapat dong?”
Ibu Widya menimpali diskusi ini. Tampaknya sebagai
sosok istri pejabat, karena suaminya seorang camat di kota
ini dia akan memberikan jawaban yang amat teoritis. Karena
pembawaannya memang seperti itu.
“Silahkan menyimak penjelasan Bu Widya teman.”
“Bahagia itu kondisional, bersifat temporal jika kita
memiliki yang kita mau maka di situ letak kebahagiaan. Jika
yang kita dambakan hilang maka sirnalah kebahagiaan.”
“Luar biasa..!”
Bening Bola Mata Raisha| 3
“Tidak adil rasanya. Coba Bu Tiyas perempuan yang bisa
merasakan bahagia itu dalam kondisi yang bagaimana?”
Aku mencoba terlibat dalam diskusi klasik tetapi
menggelitik ini. Pertanyaan yang kulempar pada Bu Tiyas
tampaknya tepat. Sebagai seorang ibu muda yang
menurutku berpenampilan glamour pasti akan memberikan
definisi yang berbeda dari Bu Rina dan Bu Widya tadi.
“Oke, tapi jangan diketawain ia…”
Pintanya. Kemudian ia berdiri dari duduknya, kami tak
paham apa maksudnya. Sambil merapikan baju karena pada
bagian pantatnya sedikit berkerut akibat tertindih posisi
duduk. Gestur tubuh memperjelas ungkapan penjelasan. Ia
berakting. Sambil tertawa kecil mulai menuturkan konsep
bahagia menurut versi ibu glamor ini.
“Ssssst… tenang, jangan tertawa, dilarang berisik
karena saya akan mengunggkapkan kejujuran dari hati yang
terdalam.”
“Hahaaaaa…. Emang dari tadi kita nggak jujur apa?” sela
Bu Rina.
“Jangan ada komentar sebelum saya selesai berbicara.”
Bu Tiyas sedikit bergaya ketus. Kami lantas terbius
dengan perubahan gestur yang sedikit serius. Semua dari
kami fokus, memperhtikan Ibu Tiyas.
“Lihatlah teman, ini apa?”
Tangannya menarik ke dua lengan baju sebelah bahu.
Kami serentak menjawab baju. Mulai menduga pasti
ungkapan bahagia yang Bu Tiyas sampaikan berhubungan
dengan pakaian.
“Bahagia itu apabila kita bisa memakai busana cantik.”
4 | Yuli Trianto
“Hahaaaa… tepat kan prediksiku?” aku menimpali.
“Eiiiet….Belum selesai, jangan main serobot.”
Kedua telunjuk Bu Tiyas menempel ke pipinya. Polah ibu
centil ini sampai mengundang perhatian pasangan muda dan
anak kecil di depan meja kami. Mereka tersenyum, seolah
tak mau kalah ikut larut dalam diskusi kecil di kedai sore ini.
“Aku cantik kan?”
“Ciiiiieees, narsis nich…?”
Pak Agus Tamtam Si Gokil menimpali. Semua tertawa.
Anak kecil yang sedari tadi melongo memperhatikan ulah Ibu
Tiyas tiba‐tiba keselek hingga batuk‐batuk. Entahlah,
mungkin terbawa alur cerita dan gestur Ibu Tiyas sehingga
refleks menelan air ludahnya.
“Dandan cantik itu sumber kebahagiaan kan? Suami
pasti akan bahagia melihat istrinya semakin cantik. So, tak
ketinggalan perhiasan aduhai melekat ditubuhku lho…”
Geeeeeeeer…!
Semua tertawa. Pasangan muda di depan kami ikut
tertawa, tampaknya enggan meninggalkan kedai, walau
suguhan telah habis sejak lama. Ingin sekali terlibat lebih
dalam pada materi diskusi dengan topik sekenanya. Gadis
berkerudung merah senyum‐senyum mendatangi kami.
Membawa nampan berisi pesanan. Lengkap sudah hidangan
di atas meja.
“Menurutku, bahagia itu jika kita bisa jalan‐jalan dan
makan enak kapan kita mau, seperti sekarang ini, setuju
teman?”
Mas Danis terlihat sedikit bernafsu ketika mie pangsit
mengepulkan asap tepat di depan mukanya. Dalam
Bening Bola Mata Raisha| 5
keceriaan yang belum lenyap kami menyantap hidangan
serba panas di kedai sore itu. Pas, muantap nikmatnya. Habis
hingga tetes terakhir.
Hampir setengah tiga sore. Aku hanya mengantar
teman‐temanku sampai di halaman rumah Ibu Widya.
Selanjutnya bergegas pulang, menginjak pedal gas lebih
kencang lagi. Ingin rasanya segera sampai ke rumah. Hanya
seperempat jam sampai. Turun dari mobil, pintu depan
rumahku terbuka. Aku melihat sosok bergaun biru muda
menjemputku.
Istriku, bahagiaku sederhana.
Sambutlah aku pulang dengan rambutmu yang tergerai.
Bukalah sekat bibirmu setengah centi meter saja. Ulurkan
tanganmu, raih pundakku. Rapatkan. lalu redupkan bola
mata hingga engkau mengajakku lebih dalam lagi.
Aaaaaah… Lampu kamar kita meredup dan perlahan mati.
Gelapnya semakin menyelimuti rongga‐rongga yang
berpetualang. Petang ini kita sama‐sama mandi sebelum
maghrib.
Raisha dan Raka pulang sekolah bersamaan setelah
mengikuti les di lembaga bimbel. Rangga diantar neneknya
dari bermain. Melengkapi kebahagiaan sederhana kami.
6 | Yuli Trianto
Bagian Dua
Terbatas
Mela tampak kecewa. Aku mencari alternatif lain agar acara ke
dokter tetap bisa berjalan. Panji tetanggaku sebelah, aku
hubungi nomor kontaknya. Ia memang sering kuajak
bepergian, mengemudi ke luar kota. Panji mengiakan, siap
dengan perintahku. Aku sudah sangat percaya Panji. Sudah
menganggapnya sebagai sosok adik. Anak dan istrinya sudah
aku anggap sebagai bagian dari keluargaku.
I striku Pamela. Aku memanggilnya Mela. Dua hari yang
lalu bercerita tentang mimpinya yang sudah berkali‐kali
terulang serupa. Menjelang pagi saat itu, ia bangun
dengan wajah yang super tegang. Rupanya perasaannya
masih terbawa alur mimpi. Aku hanya tersenyum tak begitu
merespon apa yang ia ceritakan. Bagiku mimpi itu permainan
otak bawah sadar yang tak perlu dibesar‐besarkan. Tapi
tampaknya ia tak suka dengan responsku saat itu.
Siang ini, aku pulang kerja lebih awal dari biasanya.
Keperluan memesan tiket kereta ke Jogja harus terpenuhi
siang ini. Tugasku selama tiga hari di Arjuna Hotel Jogja
membuatku memerlukan sedikit waktu untuk persiapan.
Kereta Jaka Tingkir berangkat pukul 15.35, artinya masih lima
jam lebih waktuku cukup untuk persiapan. Packing pakaian
biasa aku lakukan sendiri, karena istriku tak paham dengan
Bening Bola Mata Raisha| 7
keperluanku. Aku juga tak terbiasa hal kecil semacam itu
minta dilayani.
“Ayah.”
Mela, suaranya datar. Pelan sekali langkahnya
menghampiri ketika aku memasukkan laptop dan perangkat
pendukung lainnya. Aku hanya tersenyum. Tampaknya ada
sesuatu yang ingin ia katakan.
“Sebelum berangkat ke Jogja bisakah antar aku ke
dokter nanti?”
“Apa, kenapa? Kistamu kumat lagi?”
“Bukan.”
“Kenapa lagi?”
Ia tak menjawab, hanya memegangi kepalanya. Rupanya
migren kembali menyerang. Aku tak bisa mengiakan.
Mengantar ke dokter berarti mempersempit persiapan kan?
Praktik dokter pukul 15.00 kereta berangkat pukul 15.35.
Dua puluh menit untuk perjalanan ke stasiun, aku merasa tak
nyaman jika waktuku terburu‐buru. Tak cukup waktu untuk
memenuhi permintaan istriku.
“Ayah… keberatan kan?”
“Tiket sudah ku pesan, berangkat 15.35.”
“Iya sudah…”
Mela tampak kecewa. Aku mencari alternatif lain agar
acara ke dokter tetap bisa berjalan. Panji tetangga
sebelahku, aku hubungi nomor kontaknya. Ia memang sering
kuajak bepergian, mengemudi ke luar kota. Panji mengiakan,
siap dengan perintahku. Aku sudah sangat percaya Panji.
Sudah menganggapnya sebagai sosok adik. Anak dan
istrinya sudah aku anggap sebagai bagian dari keluargaku.
8 | Yuli Trianto
Pekerjaannya yang tak menentu membuat empatiku
tergugah. Hampir tak pernah menolaknya jika ada pekerjaan
yang aku berikan.
Sedikit lega, kepentingan istri terlayani, waktuku juga
leluasa untuk kembali menyiapkan barang bawaan. Rangga
si bungsu anakku pulang bermain bersama Reza temannya.
Ia mengajakku becanda. Tiba‐tiba ia naik ke punggungku.
Layaknya bermain kuda‐kudaan. Kebiasaannya memang
seperti itu. Jika melihat posisiku jongkok pasti secepatnya
naik ke punggung, memintanya berjalan seperti kuda. Dasar
Rangga.
“Ayah pergi lagi ya?”
“Ya, Nak. Rangga pengin oleh‐oleh apa sayang?”
“Robot Ultraman…”
“Oke.”
Rangga kembali keluar rumah. Kali ini ia membawa dua
senapan laser. Satu untuk dirinya, yang satu dipinjamkan
kepada Reza. Rangga penyemangat bagiku. Pesanan robot
mainan pasti aku penuhi. Aku tak ingin membuatnya
kecewa, seperti ketika lupa memenuhi permintaannya bulan
kemarin. Ngambek sulit sembuhnya.
Persiapan terasa cukup. Tinggal memastikan temanku
saja agar tidak terlambat sampai ke stasiun. Beberapa saat
aku terlibat percakapan melalui pesan singkat. Aku tak perlu
repot berangkat sendiri, karena temanku akan mampir
menjemputku nanti. Alhamdulillah, rizeki, kemudahan aku
dapatkan. Semoga acaraku nanti lancar dan membuahkan
harapanku.
Bening Bola Mata Raisha| 9
Istriku masih terus terduduk di ruang tengah. Entah
migrain menyiksanya atau karena penyebab lain. Walau
televisi menyala dengan sinetronnya, tetapi aku amati ia
tidak terlalu fokus mengikuti acara. Aku sedikit meraba,
jangan‐jangan ia kecewa dengan permintaannya tadi. Tapi
entahlah, jika aku perhatikan memang hampir setiap saat
tahu rencanaku bepergian ke luar kota ada saja perubahan
sikapnya terhadapku. Seperti tak setuju dengan pergiku.
“Acaraku mulai jam delapan nanti, hari pertama biasanya
masih santai. Pembukaan, pre‐test, tinggal istirahat.”
Aku mengajak Mela bicara. Maksud hati ingin
menjelaskan acaraku selama tiga hari nanti, mengikuti
seleksi calon asesor program pengembangan profesi. Tapi
tampaknya ia tak tertarik dengan omonganku. Aku mencoba
mengalihkan fokus pembicaraan. Kutanyakan kondisinya.
“Sakit banget kepalamu?”
“Nggak sih.”
“Kenapa kamu terus diam?”
“Nggak papa.”
“Nggak setuju dengan pergiku?”
“Setuju, silahkan nikmati acara. Hati‐hati di jalan.”
Ucapnya datar. Tanpa ekspresi berarti. Entahlah, aku tak
bisa memaksakan mengungkap perasaan di hatinya.
Tugas dinas yang dibebanku kepadaku tak mungkin aku
tolak. Kesempatan baik bagiku untuk memperluas wawasan.
Hal seperti ini tidak akan jatuh kepada setiap orang. Ini
anugerah Tuhan yang harus aku syukuri. Setiap kesempatan
yang diberikan kepadaku, sekuat kemampuan aku berusaha
maksimal menjalani amanah.
10 | Yuli Trianto
Memang harus ada yang dikorbankan. Kebersamaan
dalam keluarga sedikit berkurang. Tetapi itu semua resiko
dari sebuah pilihan pekerjaan. Bekerja adalah berjuang,
menjemput rizeki yang tak mungkin datang tanpa kita
usahakan. Aku berjuang untuk keluarga, anak, istri tentunya.
Aku meninggalkan rumah pukul 15.00. Istriku yang tadi
berniat ke dokter belum juga terlihat melakukan persiapan.
Mungkin mengambil waktu sedikit sore. Rangga
mengantarku sampai ke halaman. Ia tampak tak terbebani
ketika aku berpamitan, karena sudah terbiasa.
“Ayah, hati‐hati…”
“Oke Rangga sayang.”
Aku menggendongnya sebentar. Kupeluk erat.
Kubisikkan perlahan agar tidak boleh nakal, tidak lupa makan
selama aku pergi. Ia mengangguk setuju. Kulepas Rangga
dari gendonganku. Aku masuk ke mobil. Sebelum pintu
mobil kututup Rangga melambaikan tangan.
“Jangan lupa Robot Ultraman...!” teriaknya.
Lalu lari masuk ke dalam rumah. Temanku menstarter
mobil, kemudian berjalan meninggalkan halaman rumahku.
Bismillah, lindungi kami dalam perjalanan. Jaga setiap yang
kami tinggal Ya Tuhan. Berikan kebaikan kepadaku dan
keluargaku.
Bening Bola Mata Raisha| 11
12 | Yuli Trianto
Bagian Tiga
Terlambat Pulang
Penasaran dengan ulah Rangga sore ini. Aku tak mau berlama‐
lama, ingin segera mendapati tempat ia bersembunyi. Lampu
ruang tengah kunyalakan. Dan… Hah! Betapa terkejutnya
ketika ceceran darah menetes di lantai.
M ungkin pulang sedikit terlambat. Entahlah
dengan hari ini. Pekerjaan yang biasanya tak
sampai tertunda walau sudah memasuki ekstra
time pun masih saja belum kelar. Secangkir teh suguhan
sampai terlupakan. Kembali menjadi air dingin dan
terabaikan panasnya yang seharusnya menyemangati hawa
lelah.
Aku mesti menyusun laporan keuangan mingguan agar
esok hari tak berbenturan dengan tugas lain. Sebenarnya
bukan tugasku. Tetapi temanku yang berkewajiban
menyelesaikan laporan ini cuti melahirkan, hingga aku yang
harus bertanggungjawab mengurusnya.
Mataku sedikit berair. Membaca pesan singkat dari
Raisha pun harus sedikit memicingkan mata. Capek, atau
mungkin pengaruh cahaya dalam ruangan itu yang mulai
redup hingga fokusku semakin terkuras. Kuambil selembar
tisu dari dalam kotak di atas mejaku. Kuusapkan pada kedua
sudut mataku yang berair.
Bening Bola Mata Raisha| 13
Saat ini secangkir teh yang sejak tadi kubiarkan tiba‐tiba
menggoda untuk diminum. Aah… Manisnya cukup berasa,
namun pahit khasnya tak hilang begitu saja. Walaupun sudah
sangat dingin namun lumayan memberi sedikit motivasi
untuk memacu semangat.
“Mau sampai jam berapa, Pak?”
Suara Bu Yanti dari ruang sebelah yang hanya bersekat
papan tripleks setinggi bahu mengejutkanku. Rupanya beliau
juga belum beranjak dari meja kerjanya. Aku bangkit dari
duduk, membalikkan badan melongok ke arah beliau.
“Entah, Bu. Tampaknya nggak bisa selesai hari ini.”
“Kalau emang nggak selesai ngapain dipaksa? Nggak
harus hari ini kelar kan?”
“Iya nggak sih. Pikirku bisa selesai biar besok konsen
yang lain.”
“Nyatanya?”
Kedua tangan Bu Yanti menjulur ke depan, seperti
menengadah namun hanya setinggi pinggangnya. Haha… ini
ekspresi becanda meledekku karena memang pekerjaan tak
mampu kuselesaikan hari ini juga. Tas jinjing warna hitam
diambilnya. Komputer kerja mulai di‐close seluruh aplikasi
yang seharian digunakan. Tampaknya ia segera pulang. Aku
paham itu.
“Mau pulang Bu Yanti?”
“Iya lah, nggak ada perhitungan uang lembur kan? Buat
apa susah‐susah ngabisin waktu. Besok juga masih ketemu
lagi.” tukasnya sembari bergegas meninggalkan ruangan.
Aku nyaris sendirian di ruangan ini. Keluar sebentar
menukar hawa. Di teras laborat IPA masih berkumpul
14 | Yuli Trianto
beberapa anak dan pembimbing ekstra. Tampaknya mereka
sibuk merakit alat praktik roket air.
Cuaca sedikit berkabut, hawa dingin mulai terasa. Tiba‐
tiba handphone‐ku bergetar. Kubuka pesan singkat istriku
yang terlambat pulang, mampir besuk temannya di rumah
sakit. Aku kembali masuk ke ruang kerjaku. Letih berasa.
Rasanya tak mampu lagi meneruskan pekerjaan.
Aku kembali duduk, tetapi tidak untuk kembali bekerja.
Berkemas, laptop dan perkakas lain sengaja kutinggal di
lemari. Aku ingin sesampainya di rumah cukup istirahat tidak
lagi terbebani pekerjaan. Cepat pulang dan bermain dengan
anakku. Tiba‐tiba itu yang terbayang.
Jalanan sore tak sepadat biasanya, aku leluasa memacu
motorku. Setengah jam sampai di rumah. Pintu depan
terbuka lebar, televisi menyala. Tapi sepi. Pikirku pasti
Rangga si bungsu mengajakku bercanda. Seperti biasanya ia
memang suka bercanda. Empat tahun satu bulan usianya.
Akupun tak mau kalah dengan siasat Rangga. Paling dia
tahu aku pulang, lantas bersembunyi di balik pintu
kamarnya. Setelah melepas sepatu dan menaruh tas kerjaku,
perlahan aku mengendus ke dalam kamar Rangga. Pelan
sekali, langkahku sama sekali tak bersuara.
“Doooor..!!”
Ucapku keras, berharap Rangga yang bersembunyi di
balik pintu seperti biasanya terkejut. Tetapi, sepi… Tak ada
respons apapun yang aku dapati. Tak ada sahutan Rangga
seperti biasanya. Tak ada pelukan tangan kecil yang
menubruk, mendekapku. Aku terkecoh. Permainan apa lagi
yang Rangga lakukan ini. Aku tersenyum, tetapi malu sendiri.
Bening Bola Mata Raisha| 15
“Rangga, ini ayah, di mana kamu bersembunyi?”
“Ranggaaaa, ayah sudah pulang, di mana kamu?”
Tetap sepi.
Penasaran dengan ulah Rangga sore ini. Aku tak mau
berlama‐lama, ingin segera mendapati tempat ia
bersembunyi. Lampu ruang tengah kunyalakan. Dan… Hah!
Betapa terkejutnya ketika ceceran darah menetes di lantai.
Aku mencoba mencari sumbernya. Berawal dari depan pintu
gudang sampai ke teras, ceceran darah itu membentuk garis.
Aku panik. Pikirku pasti terjadi sesuatu dengan anakku.
Aku bergegas ke rumah Rizal, teman seumuran Rangga
yang biasa bermain bersama. Namun tak ada di situ. Dengan
bahasa cadel Rizal menerangkan Rangga sudah pulang dari
rumahnya.
“Tadi diantar nenek ke sini, tapi tidak lama terus
pulang.”
Mbak Rose, ibunya Rizal menjelaskan. Semakin panik.
Kucari Nenek di rumahnya. Aku tanyakan keberadaan
Rangga, tapi tidak juga aku dapati. Tuhan, pertanda apa ini.
Ada apa dengan anakku.
Tetangga yang sejak tadi memperhatikan kepanikanku
mulai berdatangan. Menanyakan apa yang terjadi. Aku
tunjukkan ceceran darah di sepanjang lantai rumahku.
Mereka terkejut. Menduga‐duga. Banyak spekulasi keluar
dari mulut mereka. Kepanikan semakin memuncak ketika
istriku pulang. Melihat kerumunan orang di rumahku,
bertanya dengan suara keras.
“Ada apa ini?”
16 | Yuli Trianto
Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan istriku, karena
semua tak ada yang tahu apa yang telah terjadi. Istriku
semakin panik, bahkan menjerit histeris.
“Ayaaahh, apa yang terjadi...?”
“Di mana Rangga…?”
“Kenapa semua diam…?”
Beberapa orang mencoba mencari Rangga. Ke kolong
tempat tidur, ke gudang, bahkan sampai ke belakang rumah.
Ke galian tempat sampah pun mereka cari.
Semua nihil.
“Ya Tuhan… Apa yang terjadi dengan Rangga?”
Aku terduduk lemas. Semakin panik. Tetangga semakin
banyak berkerumun di depan rumahku. Tak tahu apa yang
harus aku lakukan. Ya Tuhan, selamatkan anakku. Aku
bangkit dengan langkah gontai. Masuk ke kamarku. Aku
nyalakan lampu dan menjatuhkan punggungku di kasur.
Pasrah adanya.
Aku menghela nafas yang terasa sesak. Kepalaku mulai
nyeri karena berpikir keras. Mataku mengarah ke pintu
lemari pakaian di sudut kamar. Pintunya sedikit terbuka. Ada
yang janggal di sana. Aku segera bangkit, kubuka pintu
lemari. Dan betapa terkejutnya aku.
“Ranggaaaa…!!!”
Aku setengah teriak, Ya Tuhan… ternyata aku dapati
Rangga bersembunyi di rak lemari pakaianku. Ia tertidur
pulas di dalam lemari dengan posisi duduk bersandar pada
bantal yang berdiri di dinding lemari. Rupanya ia sengaja
bermain di situ, namun teridur pulas.
Bening Bola Mata Raisha| 17
Tak sabar aku memeluknya, menggendongnya. Rangga
pun terbangun kebingungan. Aku bergegas keluar kamar,
tetanggaku berdatangan menghampiri anakku. Senyum,
tawa, melepas ketegangan yang sempat menyelimuti.
Rupanya ceceran darah di sepanjang lantai dari pintu gudang
sampai ke teras adalah seekor kucing yang membawa
buruannya.
18 | Yuli Trianto
Bagian Empat
Sepatu Roda
Aku terkekeh. Mataku berair seperti menangis. Perutku sakit
menahan tawa. Ini pasti kerjaan Raisha menyeting alarm
pengingat. Minggu kemarin ide Raisha tercetus memberikan
kado sepatu roda saat ulang tahun adik tercinta Rangga. Aku
kira tidak serius karena ia ucapkan sambil lalu. Tepat, hari ini
ulang tahun Rangga keempat.
I ni hari Sabtu, jam kerjaku hanya sampai pukul 12.00. Tiba‐
tiba smartphone‐ku bergetar, berputar‐putar di atas
meja, mengeluarkan suara alarm. Layarnya berkedip‐
kedip memberikan sinyal untuk segera direspons. Aku
terkejut, karena tidak biasanya seperti itu. Tak pernah
menyeting alarm apapun di aplikasi androidku.
Satu kata dituliskan dengan huruf kapital. SEPATU
RODA. Jiiiiiiaaaah…. Hahaaaaa…. Aku tertawa sendiri
membacanya. Tak sadar kedua tumit sepatuku terhentak ke
lantai beberapa kali. Sampai Bu Yanti di ruang sebelah pun
terkejut, menghampiri.
“Ciiieeess… Pak Arya happy bener, ada sesuatu nih?”
“Hahaaa…!”
“Kenapa tertawa terus?”
Aku tak tahu, mesti jawab apa dengan kekonyolan ini.
Pokoknya lucu… lucu… dan lucu… Posisi dudukku berputar
Bening Bola Mata Raisha| 19
mengarah ke pintu penghubung. Ibu Yanti di situ, senyum‐
senyum penasaran. Aku masih terus tertawa.
“Ini lho…!! Ini lihat!, Baca..!!”
“Apaan, Pak?”
Aku masih terus tertawa, Ibu Yanti semakin tak paham
bagian mana yang lucu. Kutunjukkan smartphone yang masih
terus bergetar, menyala dan berbunyi.
“Sepatu Roda, ada apa dengan sepatu roda, Pak? Kok
jadi lucu? Bapak ketawa terus?”
“Ya lah, ini mesti kerjaan Raisha.”
Aku terkekeh. Mataku berair seperti menangis. Perutku
sakit menahan tawa. Ini pasti kerjaan Raisha menyeting
alarm pengingat. Minggu kemarin ide Raisha tercetus
memberikan kado sepatu roda saat ulang tahun adik
tercinta, Rangga. Aku kira tidak serius karena ia ucapkan
sambil lalu. Tepat, hari ini ulang tahun Rangga keempat.
Selepas dzuhur bergegas mencari toko sepatu terdekat.
Ingatanku tertuju pada Toko Zero di ujung jalan Imam
Bonjol. Tepat kiri jalan sebelum traffic light (lampu pengatur
lalu lintas). Area parkir sedikit jauh sehingga aku harus
berjalan kaki seratus meter untuk sampai ke toko itu.
“Selamat siang bapak, apa yang bisa saya bantu?”
Sapa ramah pramuniaga berseragam putih biru
menjemputku ketika memasuki pintu toko. Kusampaikan
maksudku. Gadis cantik berambut panjang berkalung id card
bertuliskan Dian, mengantarku ke sudut ruang tempat
sepatu roda dipajangkan. Banyak pilihan warna dan ukuran.
Aku terdiam, bingung memilihnya.
“Kalau boleh tahu, sepatu untuk siapa bapak?”
20 | Yuli Trianto
“Untuk anakku, Mbak.”
“Usia berapa, Pak?”
“Hmm… empat tahun,”
“Kalau yang ini single bapak, hanya sepatu, seratus
delapan ribu tujuh ratus rupiah.”
Mencoba melihat sepasang sepatu yang ditunjuk oleh
Dian si pramuniaga cantik itu. Tampaknya bagus sekali,
kelenturannya pas, namun sedikit berat. Tampaknya kurang
cocok untuk Rangga yang berkaki kecil.
Aku kembali meletakkannya di atas rak setinggi bahuku.
Mataku mencoba menyapu pandang pajangan sepatu di
sekitar. Tertuju pada etalase besar yang menempel di
dinding toko. Tampaknya Dian si pramuniaga itu tahu
maksudku. Ia jongkok membuka pintu etalase,
mengambilnya kemudian ia serahkan kepadaku.
“Kalau jenis ini include assesories bapak.”
“Include bagaimana maksudnya mbak?”
“Maksudnya satu set sudah termasuk helm, pelindung
siku, pelindung lutut dan tas penyimpanan.”
“Wah, lengkap itu. Berapa harga, Mbak?”
“Murah kok, Pak. Hanya dua ratus lima puluh lima ribu.”
Aku mencoba menimangnya. Tampaknya yang ini cocok.
Tidak terlalu berat dan kelenturannya lebih pas. Aku
mencoba meletakkannya di lantai. Aku tekan dengan tangan
kanan dan mencoba kugerakkan maju mundur, beberapa
kali. Enak, tampaknya pas untuk anak seusia Rangga.
“Ada kelebihan dari jenis ini bapak.”
“Apa itu?”
Bening Bola Mata Raisha| 21
“Sepatu ini bisa disetel menurut ukuran kaki.
Bantalannya juga terdapat indikator, bisa menyala saat
belok.”
Wow, mantap… Yang ini pasti Rangga suka. Aku
mencoba menanyakan varian warna yang tersedia.
Kebetulan hanya ada fink dan merah. Mantap, gagah, aku
memilih warna merah. Setelah menyelesaikan pembayaran,
keluar toko menenteng kardus satu set sepatu roda.
Smartphon‐ku kembali bergetar. Pesan singkat dari
Raisha. Selalu saja mengingatkanku untuk tidak lupakan itu.
Justru dialah yang sibuk memperhatikan kepentingan adik
tercinta. Ia ingin selalu membuat Rangga bahagia.
“Halo, cah ayu.”
“Iya ayah kenapa? Ayah sudah beli sepatu rodanya?”
“Sudah sayang. Tapi maaf ayah harus mampir dulu ke
resepsi pernikahan. Ada undangan hajatan sore ini. Nanti
pulang sedikit terlambat.”
“Hm, ayaaaah…”
“Ya maaf. Nggak enak kalau nggak datang, itu teman
akrab ayah.”
“Ya udah, tapi jangan terlalu malam ayah,” pintanya.
Raisha sedikit menggerutu. Tampak ingin secepatnya
aku pulang, membawakan sepatu roda untuk Rangga.
Sangat hafal sifat Raisha. Tak bisa berlama‐lama bila
mempunyai keinginan. Ia tipe tidak sabar dengan sesuatu.
Bahkan akan sangat kecewa bila sampai tertunda.
Aku bergegas memacu mobil menuju tempat resepsi
pernikahan di gedung serba guna. Rupanya tak mungkin
22 | Yuli Trianto
hanya sebentar, karena resepsi ini sekaligus ajang reuni
teman‐teman SMA‐ku dulu.
Malam Minggu jalanan sangat padat. Sampai halaman
rumah selepas Maghrib. Suasana lengang, karena baru saja
turun hujan. Aku keluar dari pintu mobil, menenteng kardus
sepatu roda. Sampai depan pintu tiba‐tiba lampu padam.
Gelap, memasuki ruang depan. Tapi aneh, kelihatannya
hanya listrik di rumahku saja yang padam. Tetangga sebelah,
kanan kiri tetap menyala.
Aku pikir sekring dekat meter listrik putus ini. Atau ada
korsleting jaringan di rumah. Tiba‐tiba Raisha mendatangiku.
Tanpa suara. Meminta kardus sepatu roda. Tampaknya
sudah sangat tidak sabar. Perlahan melangkah menuju ruang
tengah.
Samar‐samar aku melihat, hanya diterangi satu lilin kecil
di tengah‐tengah karpet lantai. Dikelilingi Rangga, Raka, dan
Bundanya. Aku bergabung duduk lesehan di karpet itu.
Raisha di samping kananku. Raka bangkit dari duduk entah
apa maksudnya. Tinggal kami berempat duduk melingkar.
Sepotong lilin kecil di depan kami menyala. Apinya
meliuk‐liuk. Pengaruh hempasan angin oleh gerakan Rangga
yang memang tak mau diam. Selalu bergerak. Dan benar,
akhirnya padam juga api itu. Rangga panik, aku
menubruknya.
Tiba‐tiba benda setinggi kursi menghalangiku untuk
menarik rangga. Sekenanya, kupegang pinggang Rangga,
tetapi tidak sampai pangkuanku. Terduduk di atas benda apa
itu aku tak tahu.
Bening Bola Mata Raisha| 23
Sesaat kemudian lampu rumah menyala. Raisha
bersenandung merdu lagu Happy Birthday versi Ten 2 Five.
Hari ini saat bahagia untukmu
Bertambah satu tahun usiamu
Kunyanyikan sebuah lagu
Agar istimewa harimu.
Kemudian kami tanpa komando mengikuti alunan suara
merdu Raisha. Menyanyi bersama‐sama. Meneruskan lagu
itu.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Hari ini istimewa
Karena ini ulang tahunmu
Hari ini bahagia
Nikmati saja.
Hahai… asyik. Rupanya ketika listrik padam tadi sebuah
strategi yang sudah mereka rancang. Raka yang mengatur
tombol on‐off pada saklar meter listrik di sudut ruang.
Sedikit surprice untuk Rangga dengan acara sederhana.
Tetapi sungguh sangat berkesan.
Serentak kami memeluk, menciumi Rangga tercinta.
Kebahagian meluap. Rangga terlihat berbinar pada bola
matanya. Kepolosan si kecil tak bisa disembunyikan. Ia
sangat bahagia. Selamat ulang tahun Rangga sayang,
24 | Yuli Trianto
panjang umur, cepat besar dan jangan nakal. Kami berucap
satu‐satu, Rangga terus tersenyum bahagia.
“Adik, coba lihat apa ini?”
Raisha mengarahkan pandangan Rangga pada benda
yang dari tadi didudukinya Aku juga tak menyangka jika
semua ini Raisha yang mengaturnya rapi. Rangga menengok
ke arah benda yang dimaksud. Lalu berdiri dan membuka
kardus itu. Jreng… jreng…
“Wooow… sepatu roda…!”
Teriak Rangga girang. Kedua tangannya sibuk
mengeluarkan seluruh isi kardus. Ada lagi, ada lagi… Sampai
semua isinya habis dikeluarkan. Raisha mencoba membantu
menata benda‐benda itu. Satu set sepatu roda berwarna
merah, helm merah bergaris putih, pelindung lutut dan siku,
serta sebuah tas keren.
“Ayoo… bilang apa ke ayah?” Bunda mengingatkan
Rangga agar tidak lupa berterima kasih kepadaku atas
hadiah ini. Raka dan Raisha membujuk Rangga untuk
mencobanya. Berebut membantu memakaikan.
“Hebat, sporty…” Raka memuji, warnanya menyolok
gagah.
“Hayoo adik, dicoba buat jalan!” Raisha meminta.
“Asyiiiiiiiik...!”
Teriak Rangga kegirangan. Berjalan mengitari ruangan,
mencoba sepatu barunya. Demikian gagahnya si kecil ini.
Kebahagiaannya meluap tak terbendung, ia tebarkan semua
hingga tak tersisa. Beberapa kali Raisha terlihat
mengabadikan moment spesial ini. Terima kasih Ya Tuhan,
kesederhanaan ini Engkau sulap menjadi kebahagiaan yang
tak terukur. Semua atas kehendak dan ridha‐Mu semata.
Bening Bola Mata Raisha| 25
26 | Yuli Trianto
Bagian Lima
Taman Kota
Benar sekali tebakannku. Raka lebih bersemangat dari si
Bungsu Rangga. Wajahnya mengekspresikan kebahagiaan.
Segera bangkit, mengambil perlengkapan mandi. Sampai‐
sampai hampir saja bertabrakan dengan Raisha yang sudah
lebih dulu keluar dari kamar mandi.
A ku masih di dalam kamar. Suara srek… srek…
terdengar di lantai ruang tengah. Sesekali diselingi
gumam kecil. Pasti Rangga sudah terbangun sepagi
ini. Aku membuka pintu kamar perlahan. Keluar, dan benar
adanya. Rangga mulai sibuk dengan sepatu rodanya.
Helm di kepala sudah terpasang. Ia terduduk di lantai
mencoba memakainya sendiri. Tetapi beberapa kali gagal,
dilepas kemudian dipasang lagi, di lepas lagi. Begitu berkali‐
kali. Mulutnya komat‐kamit, wajahnya mengekspresikan
keseriusan. Tampaknya belum akrab dengan sepatu
barunya.
Tidak putus asa dia. Masih tetap mencoba. Kali ini kedua
sepatu sudah terpasang sekenanya. Pengikatnya terlihat
tidak sempurna. Belum bisa mengatur setelan sesuai ukuran
kakinya. Tetapi terlihat gembira setelah berhasil
mencobanya.
Bening Bola Mata Raisha| 27
Dari dalam tas dikeluarkan beberapa benda. Dengan
sedikit jongkok pelindung lutut dengan mudah direkatkan.
Pelindung siku sebelah kanan juga berhasil terpasang. Kali ini
pelindung siku sebelah kiri, tampaknya kesulitan memasang.
Sikunya ia himpitkan ke perutnya. Tangan kanan
melingkarkan pelindung siku. Akhirnya berhasil juga.
“Yes, berhasil…”
Kataku lirih, memuji lelaki kecilku pantang menyerah.
Ternyata bisa. Persiapan sudah selesai. Ancang‐ancang mulai
beraksi mondar‐mandir di lantai ruang tengah. Sontak saja
menimbulkan suara sedikit berisik.
Rangga dengan sepatu barunya. Tampak tidak canggung
dia. Gerakannya tidak kaku. Mulai bisa mengendalikan laju
kakinya. Mungkin terinspirasi film‐film di televisi.
“Ayah sudah siang belum?”
Teriaknya. Rangga tampaknya tidak sabaran. Berharap
gelap cepat berlalu. Menjemput pagi yang dimimpikan
semalam. Karena pagi ini kakak dan bundanya mengajak
bermain sepatu roda di taman kota.
“Masih gelap sayang, sebentar lagi ya…” hiburku sambil
mendekat Rangga.
Memberi semangat dan petunjuk karena ada beberapa
gerakan yang tidak boleh dilakukan rangga menghindari
bahaya. Rangga mengangguk setuju dengan penjelasanku.
Raka si kakak sulung keluar dari kamarnya. Ia jongkok di
depan pintu kamar sambil memandangi gerakan Rangga
berputar‐putar mengelilingi ruangan.
“Kakak nanti ikutan ke taman kota ya. Nggak ada acara
keluar kan?”tanyaku. Raka tersenyum belum memberi
28 | Yuli Trianto
jawaban. Tampaknya enggan dia bermain di taman kota
karena seusianya tak lagi cocok di area permainan itu.
“Ada yang menarik lho, pasti kakak suka…”
“Ayaaah, paling hanya odong‐odong, hahaaaa…!”
Reaksinya tertawa mendengar tawaranku. Hmmm…
Belum tahu dia. Khusus pagi ini di gedung seni seberang
jalan taman kota ada gelaran acara yang sangat disukai Raka.
Kali ini pasti tertarik, tak bisa menolaknya. Bahkan lebih
semangat dari Rangga. Coba saja lihat reaksinya setelah aku
katakan nanti.
“Benar tidak nyesal?”
“Ayah ngledek terus sih, emang apa yang berbeda selain
odong‐odong, hahaaa…?”
“Bener tidak mau ikutan?”
“Ia ada apa dulu?”
“Pameran film animasi…”
“Ayaaah, yang bener…?”
Nyata kan? Lihat saja jika aku sudah katakan, yang ini
pasti memancing reaksi Raka. Nalurinya tentang film animasi
bergejolak, sangat bernafsu untuk segera tahu. Raka
memang sangat menyukai film. Di sekolahnya ia tergabung
dalam kelompok ekskul sinematografi. Raka berbakat,
sangat menjiwai perannya sebagai editor film kecil‐kecilan di
sekolahnya. Tetapi sebagai seorang pemula karyanya sudah
lumayan, terilhami dari film‐film besar. Beberapa kali mampu
menembus nominasi lomba film di berbagai event yang
digelar kelompok‐kelompok pencinta perfilman.
“Ayah, di mana pameran film, mosok di taman kota?”
Bening Bola Mata Raisha| 29
Raka semakin bernafsu. Terang saja jika sudah bicara
film pasti seperti ini. Entah aku tak mampu mengukur
seberapa dalam kecintaannya terhadap dunia film. Mungkin
ada sisi yang membuatnya sangat menikmati. Aku hanya
meraba‐raba.
“Di gedung seni, pameran film animasi khusus hari ini.”
“Harus, pasti tak boleh lewat kesempatan langka ini.”
“Yee… tadi nggak minat, sekarang menggebu.”
“Yang ini beda ayah, bukan odong‐odong, hehe…”
Benar sekali tebakannku. Raka lebih bersemangat dari si
Bungsu Rangga. Wajahnya mengekspresikan kebahagiaan.
Segera bangkit, mengambil perlengkapan mandi. Sampai‐
sampai hampir saja bertabrakan dengan Raisha yang sudah
lebih dulu keluar dari kamar mandi.
Rangga, Raisha, Raka, ayah bangga punya kalian. Harta
berharga yang ayah punya. Segenap kekuatan pasti ayah
curahkan untuk kalian. Kebahagian kalian, keberhasilan
kalian. Tuhan, bimbing hamba. Tutupi kelemahanku dengan
kuasa‐Mu. Agar amanah yang Engkau yang aku terima
terjaga dalam kebaikan.
Pukul 07.15. Udara sangat sejuk pagi ini. Cahaya cerah
menyemangati aktivitas kami. Mobil sudah parkir di halaman
depan. Semua persiapan beres. Kami pergi meninggalkan
rumah dengan semangat yang berbeda pagi ini.
Terasa beda sekali. Rangga dengan sepatu rodanya yang
sudah terpasang rapi bersemangat sekali. Raka dengan
kamera genggamnya siap mengabadikan momen‐momen
penting dalam pameran film animasi nanti. Raisha, sosok
pelindung adiknya tak lupa menenteng tas besar, bekal
30 | Yuli Trianto
makanan untuk Rangga, untuk kami. Aku terharu melihat ini
semua. Semangatmu anak‐anakku, membesarkan hati ayah.
Ayah sungguh bangga, bahagia tak tertakar.
Empat puluh lima menit perjalanan sampai ke taman
kota. Sudah sangat ramai di sana. Hampir seluruh wahana
permainan sudah terisi pengunjung. Tidak hanya anak‐anak.
Orang dewasa pun banyak di sana.
Raisha menuntun Rangga menuju wahana sepatu roda.
Sungguh sosok unik ditunjukkan Raisha. Penuh perhatian.
Tak lupa bimbingannya ia tuturkan sebelum Rangga terjun di
track (jalur) khusus yang sudah ditentukan. Bundanya duduk
bermain handphone di bangku tunggu bawah pohon Akasia.
Rangga perlahan melangkah, mendorong kakinya lebih
keras lagi. Kencang, mulai kencang dan semakin terarah, bisa
mengendalikan diri. Beberapa temannya yang sudah lebih
dulu berada di area ini tampak asyik sekali. Meliuk‐berputar,
bahkan sesekali sangat lincah menampilkan atraksi menarik.
Pasti menjadi pemandangan menarik bagi Rangga hingga
semakin bersemangat melaju di atas sepatu roda.
Aku minta izin menemani Raka ke gedung seni. Dari tadi
ia sudah tak sabar. Lima puluh meter di seberang jalan
taman kota. Itulah gedung seni. Pintu masuk baru terbuka,
belum banyak orang di sana. Masuk tanpa tiket, alias gratis.
Beberapa stand sudah dibuka. Raka bernafsu sekali
mendatangi satu persatu stand yang ia suka. Baginya
kesempatan berharga, mumpung belum banyak pengunjung
dapat kesempatan bertanya lebih dalam kepada penjaga
stand.
Bening Bola Mata Raisha| 31
Tampaknya Raka sangat tertarik dengan stand tiga
dimensi. Suguhan animasi laba‐laba raksasa menjadi fokus
perhatiannya sejak tadi. Stand ini berbeda. Proses produksi
film juga ditayangkan tahap demi tahap. Hebat!
Pembelajaran luar biasa. Ini yang Raka mau.
Rakaku memang unik. Sejak kecil ia menyukai permainan
animasi. Bukan hanya permainan biasa yang tinggal jalankan
saja, tetapi lebih kepada permainan yang membangun
kerajaan dengan berbagai sistem pemerintahan yang
melengkapinya. Game Sim City misalnya, sebuah permainan
membangun kota yang sangat legendaris.
Game Megapolis, menampilkan simulasi membangun
kota, tidak sekedar membangun rumah saja namun juga
dilengkapi dengan menyiapkan berbagai infrastruktur publik,
seperti bandara, stasiun, terminal, tambang minyak, rumah
sakit dan masih banyak lainnya.
Itu semua santapan Raka ketika mengisi waktu luang.
Jadwal kegiatannya tersusun rapi, hingga hari itu ia mau
melakukan aktivitas penting apapun selalu dicatat dalam
agenda kecil di atas meja belajar.
Ruangan semakin bergemuruh dengan suara sound efek
film yang diputar di setiap stand. Pengunjung semakin ramai.
Tampaknya film animasi tidak hanya disukai anak‐anak.
Banyak orang‐orang dewasa di sini. Asyik menyaksikan
adegan demi adegan.
32 | Yuli Trianto
Bagian Enam
Garis Tipis
Dokter mengatakan ia kelelahan, butuh istirahat agar kembali
normal. Aku sedikit lega. Melihat kondisi Rangga yang lemas,
aku putuskan opname di sini. Perawat menyiapkan
perlengkapan infus. Tiba‐tiba Rangga terlihat panik melihat
alat‐alat medis di sekelilingnya.
T anpa terasa. Tiga jam berada di gedung seni. Raka aku
hentikan keasyikannya di stand animasi. Kamera
ditaruhnya dalam tas gendong. Kami meninggalkan
gedung seni kembali ke taman kota. Udara di luar mulai
panas. Lalu lintas semakin ramai. Aku dan Raka
menyeberang melalui jembatan penyeberangan yang
melintas di atas jalan. Lebih aman, dan cepat sampai.
Langkahku menuju area sepatu roda. Keyakinanku
mereka masih di sana. Benar adanya. Rangga masih meliak‐
liuk menikmati keasyikannya berselancar dengan sepatu
barunya. Heran, apakah tak ada lelah ia rasakan? Mengapa
sejak tadi ia tak berhenti? Apakah saking sukanya ia lupa
capek? Gumamku dalam hati.
“Rangga, istirahatlah…!”
Seruku ketika memasuki area sepatu roda. Rangga
semakin jauh meninggalkan tempat duduk Raisha dan
Bening Bola Mata Raisha| 33
Bunda. Aku kembali berteriak menghentikan Rangga yang
tampak tak peduli.
“Rangga, berhentilah, capek nanti..!!!”
“Udah ayah, dari tadi juga udah istirahat.”
Jawab Rangga berteriak dari kejauhan. Rangga
berputar‐putar di sepanjang track yang disediakan.
Mendekat ke arah kami, namun kemudian menjauh lagi.
Tampaknya tak merasakan capek sedikitpun.
“Kakak harus hentikan Rangga, jangan biarkan ia terlalu
capek!”
Perintahku kepada Raisha. Sejurus kemudian Raisha
bangkit dari duduk, mendekat ke dalam lintasan. Berusaha
menghentikan Rangga yang saat itu melintas di depannya.
“Adiiiik, berhenti, istirahat, kita pulang sudah siang.”
Bujuk Raisha. Rangga mengurangi kecepatan lajunya.
Berhenti tepat di depan Raisha. Wajahnya sangat memerah,
bercucuran keringat di seluruh tubuhnya. Bajunya basah,
bagian punggungnya kentara sekali basah kuyup oleh
keringatnya. Tetapi tampak ia puas menikmati permainan
sepatu roda pagi ini. Raisha membopongnya tanpa peduli
oleh keringat Rangga. Raka membantu melepas helm dan
pengaman yang melingkar di lutut dan sikunya. Bundanya
mengambilkan minuman segar yang di bawa dari rumah tadi
pagi.
Lelah, tapi puas tampak ia rasakan. Setelah sepatunya
terlepas, aku menggendongnya menuju mobil. Bajunya
terlalu basah oleh keringat. Tanpa aku minta Raisha
mengambilkan baju ganti untuknya. Semua. Baju dan celana.
34 | Yuli Trianto
Saatnya makan siang tiba. Soto Semarang kesukaanku
jadi serbuanku berikutnya. Cocok. Pas banget menjadi
santapan siang ini. Kami sampai di warung soto. Lima porsi
kami pesankan kepada pelayan. Pesanan datang. Minuman
jeruk hangat menjadi pelengkap menu makan siang ini.
Rangga tampak kesulitan memegang sendok dan
garpunya. Bunda membantu menyuapi Rangga. Bernafsu
sekali, rupanya Rangga mulai menyukai soto. Walau tanpa
sambal sepertinya tetap saja nikmat dan lahap.
Selesai makan kami bergegas pulang. Rangga terlelap di
pangkuan bundanya. Begitu mobil berjalan ia langsung
ngantuk dan tertidur. Rasa capeknya dilengkapi dengan
perutnya yang sudah kenyang bersinergi, membuatnya
tertidur pulas.
“Sudah sampai, ayo keluar.”
Raisha mencoba membangunkan Rangga. Tapi ia tak
peduli. Memasuki rumah Rangga dalam gendongan bunda.
Mengantarnya dalam kamar, biarkan ia istirahat membuang
capeknya.
Pukul 14.15. aku mendengar suara pintu diketuk, sapaan
salam dari luar. Cepat aku membukanya. Ternyata Om ku
datang membawa setumpuk kertas di tangannya dan
menjinjing laptop. Setelah duduk kami ngobrol tentang
tugas tesis om ku.
Rupanya ia terkendala pada tugas tesisnya. Sudah
sampai tahap analisis data tetapi mentok di situ. Hasil
perhitungannya menunjukkan jika sampling tidak terlalu
berpengaruh terhadap hasil akhir. Setelah kami berdiskusi
Bening Bola Mata Raisha| 35
ternyata menemukan penyebabnya, ternyata entri data tidak
tepat. Keliru menuliskan bilangan.
Rangga terbangun dari tidurnya. Tiba‐tiba ia menangis.
Raisha cepat memburu ke kamar Rangga. Beberapa saat
Raisha berada di dalam kamar Rangga. Tapi terdengar
tangisan Rangga semakin jadi.
“Perut Rangga sakit ayah.”
Raisha mendatangiku. Perbincangan kami berhenti. Aku
berpikir sesaat. Pasti karena terlalu kenyang tadi menyantap
soto. Aku menyuruh Raisha memanggil bunda.
“Dioles minyak kayu putih tuh..!!”
Seruku tanpa beranjak dari tempat duduk. Rangga masih
terus menangis. Kali ini merengek, batuk‐batuk dan
memanggilku.
“Ayaaaaaah, sakiiiit…”
Rangga memintaku mendekat ke kamar. Matanya
menatapku, memelas minta pertolongan terhadapku.
Tubuhnya basah berkeringat. Aku seka dengan selimut,
sekenanya. Ia minta digendong. Aku menggendongnya ke
luar.
“Pucat banget tuh, kenapa Rangga?” tanya om‐ku.
Rangga masih terus menangis, memegangi perutnya
yang semakin sakit. Tampaknya ia serius sakit saat ini. Aku
baringkan di sofa depan. Ia protes tak mau. Terus saja
menangis.
“Ayaaaah, sakiiit banget…”
Terus merengek. Batuk semakin kerap. Dan, akhirnya
muntah di lantai ruang tamu. Beberapa kali muntah.
Santapan soto tadi siang masih utuh belum dicerna di
36 | Yuli Trianto
perutnya. Rangga berhenti menangis, tapi tampak lemas
sekali. Keringat dinginnya bercucuran.
Raisha memberinya minum air putih hangat. Rangga
bernafsu sekali menghabiskan air minum itu. Tapi beberapa
detik kemudian kembali dikeluarkan. Menyembur dari
mulutnya.
“Ayaaaah, Rangga ke dokter…”
Rangga merengek memintanya ke dokter. Pikiranku
semakin tegang. Rangga sakit serius, tak biasanya ia sakit
seperti ini. Bahkan sampai memintanya ke dokter. Pasti ia
merasakan sakit yang tak dapat ia tahan. Aku meminta izin
om‐ku mengakhiri diskusi tesis tadi. Harus secepatnya ke
dokter. Tak boleh ditunda lagi. Aku tak ingin Rangga semakin
tersiksa karena sakitnya.
Ini hari Minggu, bukan jadwal praktik para dokter.
Tetapi aku mencoba, siapa tahu dokter kenalanku tidak ada
acara dan berkenan memeriksa anakku. Benar, aku masuk ke
rumah dokter Hanung. Dokter menyuruhku ke ruang
praktek. Pintu masih dikunci. Dokter Hanung segera
membuntutiku. Rangga kutidurkan di dipan ruang periksa.
Dokter memegang stetoskop, meraba dadanya, dan sesekali
memukul‐mukul perut Rangga dengan dua jarinya.
“Ini terlalu capek, nanti kalau sudah istirahat pulih
kembali.”
Ucapan dokter Hanung membuatku sedikit tenang.
Setelah diberi obat aku bergegas pulang. Belum sampai di
rumah, Rangga kembali muntah‐muntah. Menangis,
merajuk, memintanya ke rumah sakit. Aku belok arah,
batalkan pulang dan kembali ke dokter Hanung.
Bening Bola Mata Raisha| 37
Pintu gerbangnya yang tadi terbuka sekarang sudah
terkunci. Aku ketok‐ketok keras tapi tidak ada balasan.
Tampaknya dokter Hanung pergi ke luar.
Panik, melihat kondisi Rangga semakin pucat. Ia tetap
memintaku ke rumah sakit. Aku turuti itu. Sesampainya di
rumah sakit masuk ruang IGD. Perawat dan dokter sigap
memeriksa Rangga. Kembali kalimat seperti dokter Hanung
ucapkan tadi terdengar di telingaku. Dokter mengatakan ia
kelelahan, butuh istirahat agar kembali normal.
Aku sedikit lega. Melihat kondisi Rangga yang lemas, aku
putuskan opname di sini. Perawat menyiapkan perlengkapan
infus. Tiba‐tiba Rangga terlihat panik melihat alat‐alat medis
disekelilingnya. Tampaknya ia takut. Benar, pemasangan alat
infus gagal karena Rangga berontak, menolaknya. Aku tak
mau Rangga semakin takut, aku dekap ia erat. Perawat
kembali mencoba memasang, tetapi tetap saja Rangga
berontak. Dengan sisa‐sisa tenaganya ia tetap saja tak mau
diinfus.
“Iya sudah, nggak jadi.”
Kedua perawat akhirnya pasrah. Aku semakin khawatir
dengan kondisi Rangga. Tampak semakin pucat. Perawat
menyarankan untuk banyak diberi minum. Aku turuti itu.
Beberapa butir obat dilumatkan, kemudian diminumkan.
Rangga menurut. Ia kembali berbaring di dipan ruang
pemeriksaan. Nafasnya kembali teratur. Ia mulai tenang.
Pukul 15.35. Rangga tertidur. Perawat memindahkannya
ke kamar. Rangga tak terusik dalam perjalanan menuju
kamar. Sampai di kamar pun ia tak terbangun. Terus tertidur
38 | Yuli Trianto
nyenyak. Sesekali menarik nafas dan dihembuskannya keras.
Tampak capeknya tak bisa disembunyikan.
Pukul 16.20. Raisha dan Raka sampai, menyusul kami.
Raisha datang membawa tas besar berisi perlengkapan
untuk Rangga. Entah apa maknanya ketika Raisha duduk
persis di sampingnya ia terbangun. Bahkan kali ini
tersenyum melihat kakaknya berada di sampingnya. Raisha
memeluk Rangga, menciumi.
“Cepat sembuh adiku sayang.”
Bisik Raisha tepat di telinga Rangga. Entah sugesti apa
yang diberikan Raisha kepada Rangga. Tiba‐tiba ia kelihatan
semangat. Ikatan batin kakak beradik, Rangga dan Raisha
sangat erat, tak berbatas. Raisha mendekap erat tubuh
Rangga. Beberapa kalimat diucapkan menyemangati
adiknya. Aku terharu melihatnya. Benar‐benar sosok kakak
yang luar biasa. Raisha, Rangga… kalian benar‐benar
menyatu.
Pukul 18.19. Rangga kembali terbangun. Masih saja
dengan senyum melihat sang kakak Raisha setia menemani.
Raisha mengelus keningnya. Membisikkan sesuatu.
Kemudian tangannya mengambil gelas, memberinya minum
dengan bantuan sedotan plastik. Setengah gelas ia habiskan.
Rangga mulai berkata‐kata. Raisha semangat menghiburnya.
Kami mulai lega, tampaknya kondisi Rangga membaik
setelah cukup istirahat.
Pukul 18.47. Rangga meminta jajan. Rupanya perut mulai
lapar. Raisha memberinya kue dari bahan beras. Raisha
dengan tekun menyuapinya. Lahap sekali. Rangga tampak
semakin bersemangat. Ia mulai kelihatan segar.
Bening Bola Mata Raisha| 39
“Kakak, mana sepatu Rangga?”
Tiba‐tiba ia menanyakan sepatu rodanya. Kami
tersenyum. Bahkan Raka si sulung tertawa. Tampaknya
sangat menikmati permainan sepatu barunya tadi. Kondisi
sakit saja masih teringat sepatunya. Rangga, sehat dulu baru
kembali bermain sepatu. Bujuk Kakak Raka sambil becanda.
“Rangga mau sekarang…” rengeknya.
“Adik istirahat dulu, ini sudah malam, besok main sepatu
roda bareng kakak, oke..”
Raisha membujuknya. Raut wajah tak suka Rangga
tunjukkan, tampaknya tak puas dengan permintaannya yang
tak dituruti. Ia mendesah membalikkan punggungnya,
kemudian kembali tertidur.
Pukul 19.21 Raka dan Raisha meninggalkan bangsal. Aku
yang menyuruhnya untuk kembali ke rumah karena esok
pagi harus tetap sekolah. Pukul 19.46. Rangga kembali
terbangun. Kali ini tak ada senyum di bibirnya. Mungkin
kecewa karena permintaannya tadi tak dituruti.
Atau terbangun Raisha tak ada di sampingnya? Aku
hanya bisa menebak perasaannya saja. Pukul 19.51 Rangga
minta bangun dari tidurnya untuk duduk. Aku mencoba
memberinya semangat, mengukur sejauh mana energinya
sudah pulih.
“Coba bangun sendiri, Nak..!!” kataku sembari terus
memberi semangat.
Benar, Rangga terpancing dengan semangatku. Ia
membuang selimutnya, bergerak mencoba bangun dari
tidurnya.
“Satu… dua… tiiii…”
40 | Yuli Trianto
Tubuhnya bergetar. Kencang, kencang sekali, terus
bergetar aku merangkulnya. Istriku menopang
punggungnya. Namun belum sempat ia terduduk sempurna
tiba‐tiba…Getaran tubuh itu semakin kuat. Aku lari mencari
pertolongan ke ruang perawat, cepat sekali. Tak peduli
sekitarku.
Para perawat sigap menolongnya. Memberikan selang
oksigen. Melemaskan otot‐otot tubuhnya. Sibuk sekali. Aku
dan istriku hanya bisa memandangi, tak tahu apa yang mesti
kami lakukan. Berdoa, hanya bisa berdoa. Namun… Pukul
19.58. Perawat menutupkan selimut ke seluruh tubuh
Rangga.
Innalillahi wainna illaihi roji’uun…
Rangga tak terselamatkan.
Ya Tuhaaaan… Rupanya Engkau tunjukkan garis tipis di
depan kami. Sesaat ia semangat, menggebu memberikan
banyak harapan untuk kami semua. Saat ini ia terbaring,
membujur kaku menghadap‐Mu. Selamat jalan anakku
sayang. Maafkan ayahmu. Maafkan kami semua.
Bening Bola Mata Raisha| 41
42 | Yuli Trianto