Bagian Tujuh
Terakhir
Perlahan tubuh Rangga menuruni istana kedamaian. Hati‐hati
sekali mereka mengantarkan Rangga dalam pembaringan
abadi. Sepi, sunyi, hanya hempasan angin yang menerpa daun‐
daun Kamboja. Itu saja pelan sekali, lirih tak bertenaga.
Untaian kalimat doa kembali terdengar. Menggetarkan jiwa‐
jiwa kami yang berdiri mengelilingi pusara. Semua tertunduk
lesu, memohonkan kebaikan untuk Rangga tercinta.
S ampai di rumah. Aku tak lagi memiliki kekuatan.
Terasa lemas seluruh tubuh. Kami berempat kumpul
dalam satu kamar. Pecah dalam tangisan yang tak
terkendali. Sementara Rangga dikerumuni kerabat kami di
ruang tengah.
Aku sebagai seorang ayah, kali ini benar‐benar
kehilangan arah. Tak tahu apa yang mesti aku lakukan.
Kacau… pikiranku terbang ke mana‐mana. Membayangkan
seharian bersama Rangga, dalam puncak kebahagiaannya di
taman kota. Namun saat ini terpupus sudah. Semuanya tak
bersisa. Meninggalkan kami selamanya, hanya dalam
kenangan semata.
Raisha memeluk bundanya erat‐erat, menjerit histeris.
Tak ada yang mampu membendung tangis pedihnya. Ia
benar‐benar tak menyangka jika Rangga pergi meninggalkan
Bening Bola Mata Raisha| 43
kami begitu cepat. Raka sesenggukan membenamkan
wajahnya ke bantal yang basah dan semakin basah oleh
derai air mata yang membuncah.
Kenangan manis terlintas di benak kami semalaman.
Tuhan memutarkan album kenangan dalam memori kami
masing‐masing. Yang terekam dalam berbagai kenangan
selama empat tahun ini. Menghiasi ruang hati keluarga kami.
Waktu sudah pagi. Rumah kami dibanjiri sanak saudara,
handai taulan, para tetangga dan teman‐teman Raisha dan
Rangga. Mereka ikut merasakan kesedihan kami.
Keranda kecil berada di teras rumah kami. Semua yang
hadir mengelilingi. Sesepuh wilayah sekaligus tokoh agama
memberikan pidato singkat teriring untaian doa untuk
Rangga tercinta. Hadirin di sekitar halaman dan jalan depan
rumah semuanya berdiri. Menyahut salam Pak Haji Ahmad
ketika memulai pidatonya.
“Hadirin dan hadirat yang kami muliakan. Kematian
adalah proses perjalanan anak manusia menghadap Sang
Khaliq. Pagi ini kita bersama‐sama menyaksikan ayat Allah di
hadapan kita, yaitu meninggalnya ananda Rangga.
Meninggalkan kita semua menuju sebuah ruang yang telah
ditakdirkan Allah dalam keabadian.
Kita semua tertulis dalam daftar antrian dalam catatan
rapi malaikat, saat ruh kita ditiupkan dalam janin ibunda kita.
Tinggal menunggu, kapan waktu yang dijanjikan Allah itu
hadir menjemput kita dalam bentuk kematian sempurna.
Rangga, seorang anak balita yang lucu dan
menggemaskan, Allah panggil kemarin malam. Tanpa harus
bersusah payah melewati syakaratul maut. Karena seharian
44 | Yuli Trianto
ia dalam puncak kebahagian, berkumpul bersama
keluarganya tercinta. Itu semua bentuk kematian yang
khusnul khotimah di mata Allah.
Kita semua yang hadir di sini menyaksikan betapa
indahnya kisah perjalanan hidup ananda Rangga, hingga hari
terakhir. Saya yakin, jika dalam kesehariannya bersama kita
ada tingkah yang tak berkenan di hati hadirin semuanya,
mohon dimaafkan.
Kita doakan dengan seluruh kekuatan yang ada, semoga
kepergiannya menghadap Illahi mendapatkan tempat
terindah. Segenap keluarga besarnya diberikan ketabahan
untuk ikhlas melepas Rangga. Dari Allah kita berasal, dan
kepada‐Nya kita kembali. Akhirnya marilah kita lepas Rangga
tercinta dengan mengaminkan doa kami.”
Selesai memimpin doa Pak Haji Ahmad berjalan menuju
pemakaman. Semua mengikuti. Keranda dipikul keempat
saudara kami, menuju makam sebelah kantor desa.
Sepanjang jalan lantunan takbir, tahlil dan tahmid diserukan.
Tak ada kalimat lain yang terucap, hanya itu.
Pagi ini, suasana pemakaman melimpah ruah. Para
pelayat mengelilingi sebuah lubang, istana kedamaian bagi
anaku, Rangga.
Perlahan keranda kecil terbuka penutupnya. Kain putih
menyelimuti rapi dan terikat di tubuh Rangga. Pakaian suci
untukmu anakku. Saat ini kami tak lagi mampu memberikan
keindahan apapun untukmu. Hanya doa mengiringi
kepergianmu.
Selamat jalan anakku tercinta.
Bening Bola Mata Raisha| 45
Maafkan kesalahan kami semua. Terima kasih yang tak
terhingga atas segala yang telah engkau berikan untuk kami.
Kebahagiaan yang sempat engkau bagi tak mungkin kami
lupa.
Perlahan tubuh Rangga menuruni istana kedamaian.
Hati‐hati sekali mereka mengantarkan Rangga dalam
pembaringan abadi. Sepi, sunyi, hanya hempasan angin yang
menerpa daun‐daun Kamboja. Itu saja pelan sekali, lirih tak
bertenaga.
Untaian kalimat doa kembali terdengar. Menggetarkan
jiwa‐jiwa kami yang berdiri mengelilingi pusara. Semua
tertunduk lesu, memohonkan kebaikan untuk Rangga
tercinta.
Prosesi pemakaman selesai. Semua kembali meneruskan
aktivitas masing‐masing. Aku terharu dengan semuanya.
Cintanya kepada anakku Rangga. Rela mengorbankan
waktu, tenaga dan perhatian. Hanya ucapan terima kasih
untuk semua handai taulan. Semoga kebaikan ini sebagai
catatan pahala.
Kami kembali ke rumah meninggalkan pemakaman.
Meninggalkan Rangga sendirian. Aku sudah ikhlas melepas,
amanahku sebagai seorang ayah terhadap Rangga sudah
selesai kutunaikan.
Lepas dari segala kekurangan yang ada. Selanjutnya aku
kembalikan kepada‐Mu Ya Tuhan. Jagalah dia dalam
kebaikan yang sempurna. Hari ini terakhir tugas kami
mengantarkan Rangga dalam pelukan abadi.
46 | Yuli Trianto
Bagian Delapan
Kemarin
Sekarang, hari ini, kembali pada 3 September, maka artinya
genap satu tahun Rangga meninggalkan kami. Jika saja dia
tidak pergi, pasti Raisha memberikan kejutan lebih meriah di
hari ulang tahunnya kini. Tidak ada yang spesial untuk hari ini.
Kami masing‐masing melaksanakan aktivitas rutin.
J ika sekarang Senin, maka kemarin Minggu. Satu hari ini
kami masih diselimuti suasana duka. Langit masih
kelabu. Hujan rintik‐rintik sesekali turun, berhenti
sebentar dan kembali turun. Menggoda para pejalan kaki
yang melintas di depan rumahku. Singgah menepi mencari
tempat berlindung.
Seharian aku hanya beraktivitas kecil, duduk‐duduk di
ruang tamu karena semakin siang semakin banyak tamu di
rumahku. Aku sangat terharu dengan hal ini. Teman,
saudara, kenalan yang jauh pun rela menyempatkan waktu
untuk hadir menemuiku.
Aku tidak paham mengapa sedemikan cepat berita duka
ini menyebar. Rasa hormat dan terima kasihku tak terhingga
atas kepedulian dan doa. Ketabahan ini muncul ketika kalian
semua menguatkan kami.
Malam selepas isya, Raisha masih saja terlihat murung.
Keluar masuk dari kamarnya berkali‐kali. Entah tak tahu apa
Bening Bola Mata Raisha| 47
yang ia lakukan. Duduk di kursi dekat meja belajarnya
dengan muka tertunduk lesu. Aku menyadari betapa seusia
Raisha butuh penguatan mental yang berlebih agar tidak
terlarut dalam kesedihan. Aku memasuki kamarnya.
Selembar kertas dan sebatang pensil aku sodorkan. Ia
melirik ke arahku. Lalu kubelai halus kepalanya, kukecup
mesra keningnya.
“Jangan biarkan waktumu hilang percuma, Nak…?”
Bisikku lembut ditelinganya, ia mulai tersenyum manis,
tampaknya paham mauku. Perlahan Raisha bangkit,
merapikan rambutnya yang acak‐acakan. Mengambil posisi
duduknya agar nyaman. Menarik selembar kertas yang aku
sodorkan, memainkan sebatang pensil, menari‐nari di atas
kertas. Mulai asyik berselancar dalam halusinasi yang
menerbangkan jiwanya.
“Selamat berkarya Raisha sayang…”
Aku keluar dari kamar Raisha, termangu di depan pintu
kamar Raka. Satu hal berbeda ia tunjukkan. Raka lebih bisa
mengendalikan perasaannya. Seusia Raka sudah mulai
matang mengendalikan emosi. Ia duduk di atas tempat tidur
bersama laptopnya. Memainkan game bola seperti yang
sering dimainkan bersama Rangga. Biarlah… malam ini Raka
lalui dengan sesukanya, tanpa terbebani dengan apapun.
Jika ini hari Minggu, maka genap satu pekan sudah kami
berduka. Pekan kemarin kami dalam gelimang rasa, suka dan
duka menyelimuti. Seharian penuh berbagi tawa, menikmati
kegembiraan. Semalaman bergelut dengan duka nestapa.
Hari ini kami ingin memberi warna lain dalam suasana
yang berbeda. Membangun kekuatan jiwa agar masing‐
48 | Yuli Trianto
masing di antara kami menjadi lebih menghargai makna
hidup sebenarnya. Kerabat kembali berkumpul. Tetangga
berdatangan. Pagi ini aku menghadirkan seorang ustadz dari
Klaten.
Kebetulan dulu teman kuliah. Tuturnya yang lembut,
memberi ketenangan setiap jiwa yang mendengarnya.
Untaian bahasa yang syahdu, sungguh menentramkan hati
setiap yang mengerti. Aku menghadirkan beliau mengemas
dalam acara Doa untuk Rangga.
“Jamaah yang dimuliakan Allah, hidup adalah titah.
Bukan kemauan kita. Maka rumus sederhananya adalah kita
jalani. Kesulitan bukan untuk dihindari, tetapi kita hadapi dan
dicarikan solusinya. Karena Allah mentakdirkan kita untuk
berpikir, untuk cerdas. Maka berlakulah kita dengan cerdas.
Pasti hidup kita menjadi indah.”
Semua yang hadir menikmati acara dengan suasana
damai, terhanyut dengan alur penyampaian sang ustadz.
Hingga waktu hampir dua jam tak berasa. Doa bersama
untuk Rangga tercinta. semoga Tuhan Meridhainya.
Jika sekarang 3 September, maka satu bulan kemarin
adalah Agustus. Satu bulan sudah kami belajar menyikapi
hidup, menghargai waktu. Ketenangan mulai terbangun.
“Ayaaah, Raisha bantu beres‐beres kamar ya !”
Pinta Raisha mendatangiku di teras samping. Sapu lidi
dan serok sampah ia bawa. Aku bergegas ke kamar Raisha.
Tampaknya ia ingin memberi kesan lain di dalam kamarnya.
Tempat tidur di tukar posisi dengan almari pakaian. Foto‐
foto besar yang terpampang di dinding kamar ia coba alih
posisi. Aku terhenti ketika memindahkan kardus sepatu
Bening Bola Mata Raisha| 49
roda. Rupanya Raisha rapih menyimpan barang‐barang
kenangan milik adiknya. Ingatanku kembali pada saat itu.
Sekarang, hari ini kembali pada 3 September, maka
artinya genap satu tahun Rangga meninggalkan kami. Jika
saja dia tidak pergi, pasti Raisha memberikan kejutan lebih
meriah di hari ulang tahunnya kini. Tidak ada yang sepecial
untuk hari ini. Kami masing‐masing melaksanakan aktivitas
rutin. 3 September, bukan untuk dilupakan, karena kami tak
mampu melupakannya.
Pukul 13.45 aku masih berada di kantor. Berbeda dengan
satu tahun lalu, karena sekarang bukan hari Sabtu. Jam
kerjaku hari ini sampai pukul 14.00. Lima belas menit lagi aku
masih harus menunggu agar pringer print (mesin pencatat
kehadiran) tidak memberiku hukuman disiplin kerja dengan
mengeluarkan alarm pelanggaran.
Pekerjaan hari ini sudah beres, selesai sebelum
waktunya. Notebook sudah aku kemas. Sisa waktu yang ada
kumanfaatkan untuk menghabiskan teh manis hangat dan
camilan di toples kecil. Aku meraih selembar kertas kosong,
dan mengambil ballpoint di saku bajuku. Terlintas di benakku
dalam sebuah coretan sederhana.
50 | Yuli Trianto
Permata
Oleh : Arya
Siapa yang dapat menerka
Jika hidup itu ada sebongkah permata di jiwa
Siapa yang dapat tahu
Untuk apa permata itu tersedia
Ternyata memperkaya suasana batin dan dalam menghiasi
mimpi.
Kemarin adalah bahagia
Menyeruak dari rimbunan taman bunga
Menebarkan harum
Mengekspresikan kemegahan
Kemarin adalah kemilau cinta
Berdansa dalam panggung warna‐warni menakjubkan
Dipenuhi harmonisasi mempesona.
Kemarin adalah waktu
Hari ini adalah menunggu
Dekapan mesra kerinduan abadi
Kembali mencumbu manja sang permata
Dalam keabadian hakiki.
(Ayung Pulau Menawan, 3 September).
Bening Bola Mata Raisha| 51
52 | Yuli Trianto
Bagian Sembilan
Melucuti Rindu
Kerinduan kakak menggelepar setiap waktu wahai adik lelaki
kecilku. Apakah engkau di sana merasakan sedemikian damai
dalam pelukan malaikat penjagamu? Hingga sama sekali
engkau tak beri aku kesempatan untuk mendatangimu walau
dalam mimpi. Apakah memang jarak yang engkau beri di
antara kita tak lagi mampu ditembus oleh kekuatan cinta?
I ni dimensi lain dari seorang penulis. Jika saja semua
orang tahu betapa manisnya dunia menulis, maka sontak
saat ini juga seluruh aktivitas lain berhenti. Beralih
profesi. Berebut ide, larut dalam permainan imajinasi yang
mengasyikkan. Aku tahu, ada bintang di kepala Raisha, anak
gadisku.
Tuturnya yang bawel, apapun di depannya menarik
untuk diperbincangkan. Bening matanya mengisyaratkan
kejernihan, hingga halusinasi yang girang nyata terlihat
meloncat‐loncat di antara dua tebing gagasan menakjubkan.
Entahlah, yang jelas aku ingin mengalihkan karakternya
dalam sebuah karya menulis.
Jika seluruh waktu mencumbu. Mengajakku bermanja
dengan kata, mendendangkan syair lagu kerinduan. Pasti
jari‐jemariku tak bisa henti berdansa di atas keyboard
Bening Bola Mata Raisha| 53
notebook. Dan, itu yang aku mau bersamamu Raisha
gadisku. Hahaaaaai…
“Ayah, apa yang mesti aku tulis malam ini?”
Raisha mulai tertarik dengan yang kumau. Notebook
merah muda ia jinjing, ditaruhnya di atas meja kerja. Tepat di
hadapanku. Hingga konsentrasiku sedikit buyar ketika wangi
alami menyebar dari helai rambutnya yang dikibaskan.
Aku menyambut dengan senyum bahagia. Rupanya efek
nutrisi literasi yang diinjeksikan oleh guru‐gurunya di sekolah
mulai bereaksi. Mendorongnya belajar berkarya. Aku sangat
suka. Itu yang kumau dari Raishaku.
“Ayaaaaah… aku harus nulis apa?”
“Apa saja yang engkau mau.”
“Aku nggak tahu yang kumau.”
“Iya itu idemu.”
“Ayaaaah… Sebeeeeel…”
“Tulis saja sebelmu!”
Eeeeeiiit. Aku mendadak dicubit. Memerah lengan
kanan. Ini yang begini ini karakter khusus yang melekat
padanya. Sedari dulu selalu saja tubuhku menjadi sasaran
ketika ada rasa yang ia dera. Ada mau yang harus menunggu
responsku. Ketika gemasnya mengelabui. Entahlah, sudah
beribu kali cubitannya mendarat di kulit tanganku. Selalu saja
tanganku. Bentuk manjanya seperti itu.
Punggungnya tak leluasa bersandar pada kursi plastik
biru muda. Aku mengalah, bangkit dari dudukku. Kupegang
kedua bahunya, aku angkat perlahan pindahkan pada kursi
kerjaku yang memiliki sandaran empuk tepat di posisi
punggung. Raisha menuruti mauku.
54 | Yuli Trianto
“Yah, ayah…”
“Ayo rileks saja. Mulai dari kata pertama yang kamu
bisa.”
“Aku ingin bercerita tentang…” jeda ucapnya.
Dadanya mengembang, perlahan mengatur diafragma.
Tampaknya sedikit berat untuk mengawali. Tangan
kanannya melingkar di leherku. Menarikku perlahan, hingga
aku tertunduk. Bibirnya menempel tepat ditelingaku, dan
membisikkan satu kata.
“Adik Rangga.”
Entah… aku tak memiliki kekuatan untuk menekuk
kemauannya. Biarlah ia mencurahkan segenap kerinduan
yang terkungkung. Aku hanya bisa memandangi ketika jari
lentiknya mulai menyentuh tombol‐tombol pada keyboard
notebook.
Suasana malam ini memang berbeda. Hujan sejak sore
masih setia mengguyur. Menyuarakan khas hujan deras,
merangkai nada‐nada perkusi karena hentakkannya
menimpa dahan dan ranting‐ranting pohon, juga dedaunan
di sekitar rumah. Kilatan cahaya petir dari kejauhan
menembus tirai jendela di samping kiri meja kerja.
Mataku mengikuti gerakan kursor pada layar monitor
notebook anakku. Rangkaian kata mulai muncul berbaris
membentuk kalimat nyata. Awalnya pelan, bahkan sesekali
berhenti sekian detik. Termangu, menunggu tombol‐tombol
keyboard kembali tersentuh jemari lentik Raisha. Saat
berikutnya, tampak mulai cepat dan semakin cepat kata‐kata
itu muncul dan mengalirkan kalimat komunikasi batin.
Bening Bola Mata Raisha| 55
Seratus lima puluh delapan kata. Panel number of word
in document di sudut kiri bawah layar notebook memberi
petunjuk jumlah kata yang telah tertulis pada lembar
pertama. Ini artinya sudah lumayan banyak kalimat yang
tersusun, bahkan semakin banyak lagi.
Desah nafasnya sesekali terdengar. Ekspresi rasa yang
tak mampu ia bendung. Aku baca dengan seksama paragraf
kedua berkali‐kali. Ini kalimat yang sangat melarutkan
rasaku. Sekali lagi aku baca paragraf ini…
Kerinduan kakak menggelepar setiap waktu wahai adik
lelaki kecilku. Apakah engkau di sana merasakan sedemikian
damai dalam pelukan malaikat penjagamu? Hingga sama
sekali engkau tak beri aku kesempatan untuk mendatangimu
walau dalam mimpi.
Apakah memang jarak yang engkau beri di antara kita
tak lagi mampu ditembus oleh kekuatan cinta?
Ataukah engkau sengaja menimbunnya dalam‐dalam
agar kakak tak lagi larut dalam kesedihan? Mengenangmu
sungguh membahagiakan hati. Tingkah lucumu, keseharian
memberi damai kita, aduhai…
Betapa sang lelaki lincah nan gagah melukiskan
keindahan suasana, hari‐hari yang kita lewati. Senyummu,
tawamu… Sungguh terpatri abadi pada setiap dinding
rumah tempat kita dulu bermain bersama. Tangismu,
manjamu…
Lihatlah setiap butiran air yang menetes dari mata
beningmu, hingga kini membeku abadi membentuk salju di
hati kakak.
56 | Yuli Trianto
Adikku, lelaki kecilku, terasa singkat waktu yang engkau
suguhkan untuk kita bermanja. Kebahagiaan itu melintas
sedemikian cepat dan engkau pergi meninggalkan kami.
Pergi tanpa pernah kembali. Sementara kakak hanya diwarisi
kerinduan abadi. Dalam derai air mata yang tak pernah bisa
berhenti.
Seperti malam ini.
Paragraf kedua itulah yang mengundang fokusku hingga
berkali‐kali membacanya. Inilah kekuatan jiwa yang
mengalirkan beban kerinduannya pada Rangga, adik semata
wayang Raisha, yang telah berpulang mendahului. Aku
merasakannya, larut dalam untaian kalimat yang terus
mengalir membersamai dinginnya malam ini.
Raisha leluasa berekspresi. Mengungkapkan
perasaannya semakin deras, seperti derasnya cucuran air
hujan yang jatuh dari langit malam. Tanpa bisa
disembunyikan lagi. Berkali‐kali sesenggukan terdengar.
Derai air mata berlinang di kedua pipinya yang semakin
memerah basah. Tanpa peduli yang ia rasa. Menulis dan
terus menulis.
Selembar tisu aku raih dari kotak kecil di meja kerja.
Perlahan sekali aku mencoba menghapuskannya pada
bidang pipi halus itu. Ia tak peduli. Terus saja menulis. Kali ini
bibir bawah ia katupkan. Kesedihannya semakin memuncak.
Nafasnya tersengal ketika sampai pad kalimat ini…
Adikku, lelaki kecilku, datanglah sesaat saja untuk
kakakmu yang merindu. Biarkan, jangan engkau tolak peluk
erat kakak. Adikku, dengarlah isak tangis kepedihan. Betapa
Bening Bola Mata Raisha| 57
menyayat pilu, luka hati kakak ketika engkau tinggal pergi
begitu saja.
Yaaa Tuhan… Kali ini aku tak kuasa membiarkan Raisha
terlalu larut dalam kesedihan. Terpaksa aku jauhkan
notbooknya isyaratku menghentikan Raisha yang semakin
bernafsu.
“Ternyata menulis itu mudah kan cah ayu?”
Ia mengangguk kemudian erat memelukku. Kubelai
rambutnya perlahan. Aku memapahnya ke dalam kamar
karena hujan telah lama berhenti dan waktu berangsur
menyepi. Dan akhirnya, Raisha mampu menulis dengan
bahasa batin. Ekspresi melucuti kerinduan pada adik tercinta
di surga. Semoga.
58 | Yuli Trianto
Bagian Sepuluh
Karya Raisha
Bunda... Di sudut kanan taman rumah kita, pada pot keramik
hadiah dari Ayah September lalu, serumpun lisianthus
menghijau subur. Batangnya memanjakan dahan‐dahan yang
bergelayut mesra. Setangkai yang keluar menyelinap dari
balik daunnya yang rimbun, menyembulkan sekuntum
lisianthus biru.
T uhan menggelorakan semangat pada kami dengan
segenap cintanya. Buih‐buih kerinduan muncul dan
tenggelam tak pernah selesai. Artinya bahwa hidup ini
berjalan mengikuti hukum, sesuatu yang pasti dan tergarisi.
Buah cintaku kepada Raisha mulai bisa aku nikmati.
Kecintaannya terhadap buku semakin tertata. Virus
menulis sudah menjangkiti jiwanya. Aku memberinya
pembelajaran untuk berkarya satu hari satu tulisan, apapun
itu. Sudah mulai terwujud. Karakternya mulai terbangun.
Menulis sebagai kebiasaan positif mulai menjadi kewajiban
baginya.
Hari ini, aku mengunjungi blog pribadinya. Terpampang
unggahan terbaru 5 jam terakhir. Artinya semalam Raisha
mengunggahnya dalam blog itu. Sebuah karya cerpen yang
menakjubkan. Seusia Raisha mulai menorehkan cerita runtut
Bening Bola Mata Raisha| 59
dan bermakna dengan diksi yang tepat dan membangkitkan
gairah membacanya. Semua terangkum di sini.
Katagori : Cerpen Remaja
Judul : Lisianthus Biru
Pengarang : Raisha Mahardika Ratna
Bunda... Di sudut kanan taman rumah kita, pada pot
keramik hadiah dari Ayah September lalu, serumpun
lisianthus menghijau subur. Batangnya memanjakan dahan‐
dahan yang bergelayut mesra. Setangkai yang keluar
menyelinap dari balik daunnya yang rimbun, menyembulkan
sekuntum Lisianthus Biru.
Bunda… Lihatlah, pagi ini matahari sungguh sangat
mempesonakan mahkotanya, menerpa permukaannya yang
biru sungguh syahdu. Angin lembut datang menggoyangkan
dahannya perlahan. Aduhai, daun‐daun itu menempel sesaat
kemudian terlepas kembali.
Bergeser perlahan menimbulkan suara lirih, pelan sekali.
Bunda, jika boleh aku bahasakan, kutulis dengan pena
perak pemberianmu bulan lalu, sekuntum Lisianthus Biru
yang mekar pagi ini adalah syair kedamaian. Bunda… Jika
boleh aku ungkap jujur dari lubuk hatiku terdalam, listianthus
biru adalah menceritakan semua tentangmu. Tentang
kedamaian, tidak saja untuk sebaris bunga‐bunga di
sekitarnya, namun terlebih untuk semua yang hadir di
sekeliling.
Bunda… Aku anakmu, pagi ini bersembunyi di balik
pintu samping membawakan sebotol air khusus untuk
60 | Yuli Trianto
serumpun lisianthus kesukaanmu. Aku tak mau jika
keikhlasanku menyiramkan air sejuk pada permukaan pot
keramik itu engkau tahu.
Walau maksudku membantumu bunda, meringankan
bebanmu menyiram bunga‐bunga di taman pagi ini, namun
bila engkau tahu aku takut, takut engkau tak suka. Aku
sangat paham, bahwa engkau penyayang bunga‐bunga.
Tetapi izinkanlah pagi ini saja, berikan kesempatan padaku
untuk menggantikan tugasmu. Menyiramkan sebotol air
sejuk hanya untuk lisianthus biru.
Bunda, pagi ini aku ingin ungkapkan terima kasihku
padamu, melalui Lisianthus kesukaanmu.
Bunda… cerita Lisianthus Biru adalah tentangmu.
Ketegaran jiwa dengan berbagai serangan menghujam.
Gelombang badai silih berganti. Hujan derita mengguyur
seluruh hidupmu. Tapi engkau tak pernah penat. Selalu
mendatangi lisianthus dengan kondisi apapun. Tak punya
marah sedikitpun pada belalang nakal yang mengganggu
tanamanmu.
“Raisha anakku… Tenanglah, lihatlah serumpun
Lisianthus Biru tak pernah marah pada siapapun. Hujan keras
menampar mukanya, kadang cahaya gelap membingungkan,
kemudian berganti terang menjelaskan seluruh perilaku dan
peristiwa, termasuk kita. Tetapi Lisianthus ikhlas
menghadapi.
Lihatlah, pagi ini kuntumnya bermekaran biru,
menyejukkan hati kita.”
Bundaku berdiri tanpa jarak di belakangku. Aku terpaku.
Tak paham dengan cara apa kakinya melangkah mendekati
Bening Bola Mata Raisha| 61
sudut taman tanpa suara, hingga sama sekali tak
mengejutkan, termasuk tuturnya yang lembut tepat
menjawab gemuruh rasaku tentang Rangga.
“Raisha sayang… Percayalah Lisiantus tak pernah layu
jika keikhlasan mengasihinya setulus hatimu,”
Bunda mengelus kepalaku, perlahan, lembut sekali. Aku
jatuhkan botol bekas air mineral yang sedari tadi di
tanganku. Aku membalikkan badan. Ibunda memeluk erat,
menciumi, memanjakanku. Desah nafasnya menenangkan
jiwa, senyumnya mengajari bahasa cinta sejati.
Subhanallah…
Terima kasih Tuhan, Engkau kirimkan bunda untuk kami,
dengan segala kelembutannya. Kasih sayang‐Mu, Engkau
kirimkan lewat tangan halus Bundaku. Hingga aku tak perlu
ragu bahwa semua yang berlaku adalah atas titah‐Mu.
Aku yakin Tuhan semakin menjaga Bundaku, hingga
keindahan Lisianthus Biru menemani penghuni rumah kami.
Aku, bunda, ayah dan kakak kembali seperti serumpun
Lisianthus Biru menyejukan.
Postingan ini mendapat banyak reaksi pembaca. Dalam
waktu 5 jam 81 kali dilihat. Banyak komentar tertulis.
Rupanya blognya disukai pengunjung. Terima kasih Raisha,
ayah bangga dengan kreasimu.
62 | Yuli Trianto
Bagian Sebelas
Piala Raka
Rupanya ia berhasil mengemas teori kobra menjadi
sebuah film komedi. Dua buah piala ia dapatkan sebagai film
favorit dan editor terbaik. Wawancara denganku yang
terkesan biasa, tak menarik rupanya dijadikan ide cerita film.
B erbeda dengan Raisha. Sudah beberapa minggu ini
Raka terlihat sibuk dengan teman‐temannya. Pulang
sebentar ke rumah, kemudian pergi lagi bersama
teman‐temannya. Ia terlibat dalam sesi pembuatan film yang
akan dilombakan Mei tahun depan pada Festival Film Pelajar
di kota kami.
Bukan kali pertama Raka belajar berkompetisi dalam
ajang seperti ini. Beberapa kali pernah ikut ajang serupa.
Namun hasilnya masih belum memuaskan. Kali ini ia
tampaknya tak mau menyia‐nyiakan kesempatan.
Pengalaman yang pernah diperolehnya dijadikan bekal untuk
memperbaiki kualitas film yang dihasilkan.
Tampaknya kali ini ia memiliki strategi khusus untuk
sukses filmya. Beberapa hari lalu ia mengajakku berdiskusi
tentang pandangan guru terhadap muridnya yang bandel.
Saat itu aku tak paham untuk apa ia banyak tanya. Tetapi
ketika aku perhatikan setiap kalimat yang aku ucap ia
Bening Bola Mata Raisha| 63
tuangkan dalam bentuk tulisan di laptopnya. Aku mulai
menebak ini sebagai tahap wawancara mencari data.
“Ayah, jika di kelas menghadapi anak bandel apa yang
pertama kali ayah lakukan sebagai seorang guru?”
“Iya ayah tanya, kenapa bandel?”
“Pasti tak mau jawab jujur si anak itu, lalu apa yang ayah
lakukan selanjutnya?”
“Aku mendekatinya.”
“Untuk apa?”
“Berbisik, teruskan bandelmu..!!”
Raka berhenti menulis.
Sepertinya kaget dengar jawabku. Aku disuruh
mengulang jawaban atas pertanyaan terakhir tadi. Iya aku
jawab itu. Raka tersenyum. Ia terus mengejar jawabku yang
nyeleneh. Dua puluh empat tahun aku mengajar di sekolah.
Lumayan banyak asam garam yang kudapat. Aku mencoba
teori berbalik ketika menghadapi siswaku yang bandel.
“Bisa kasih contoh ayah…”
“Boleh. Siswaku usil, semua roda motor di tempat parkir
digembosi, aku berhasil mengungkapnya.”
“Gemana caranya ayah?”
“Ada CCTV.”
“Hahaaaa….”
Raka tertawa, justru karena jawabanku tidak lucu.
Siapapun bisa mengungkap kalau ada CCTV. Tapi bukan itu
maksudku. Setiap kali aku menghadapi anak‐anak yang usil
atau sejenisnya, aku mencoba dengan menyuruhnya
mengulang lagi.
64 | Yuli Trianto
Seperti tadi, setelah ketahuan siapa pelakunya, aku
mengajak ke tempat semula. Menanyakan apa yang
dilakukannya, kemudian suruh mengulangnya persis apa
yang dia lakukan lagi. Untuk bisa kembali melakukan
perbuatannya tadi tentu saja semua harus dipompa dulu. Ia
harus memompanya, kemudian ia gembosi, pompa lagi
gembosi lagi, terus seperti itu biar capek. Pasti kapok.
“Apa kesimpulannya ayah?”
“Anak bandel butuh capek, suruh kenyang dulu
bandelnya, baru berhenti.”
“Apa mereka tidak dendam ke ayah?”
“Selalu ayah bisikkan, silahkan kamu dendam..”
“Hahaaa…”
Raka kembali tertawa. Terulang lagi kalimat tidak lucu
itu. Setiap anak bandel butuh lelah, aku mencobanya
membuat mereka lelah dengan ulahnya. Pasti berhenti.
“Pasti berhasil ayah?”
“Pasti, karena anak bandel itu sensasi.”
“Teori apa yang ayah terapkan?”
“Teori kobra.”
“Maksudnya?”
“Kobra akan menegakkan dan memipihkan lehernya
hingga dia kelihatan buas dan seram ketika terancam.”
“Raka belum ngeh ayah…”
“Berikan ancaman lebih dari yang kobra lakukan, ulangi
berkali‐kali, maka kobra akan pergi. Kesimpulannya berikan
ia kelelahan, maka berhenti.”
Raka tampaknya tak puas dengan diskusi kali ini. Layar
laptop ditutup, kemudian masuk ke kamar. Tapi entahlah,
Bening Bola Mata Raisha| 65
memang caraku begitu menghadapi kenakalan muridku.
Buktinya berhasil.Tak peduli cocok atau tidak dengan orang
lain.
Tiga minggu berikutnya aku perhatikan ada yang aneh
dengan Raka. Ia membawa pulang baju‐baju sekolah bukan
miliknya. Ada yang dipajang di dinding kamar. Baju, celana
yang ia bawa dipermak norak, model baju anak sekolahan
yang bandel. Sengaja diremas‐remas terkesan kumal. Entah,
aku tak paham apa maksudnya.
Februari dan Maret, Raka sering izin pulang terlambat
bahkan sampai malam untuk proses pembuatan film. Bulan
April kamar Raka disulap mirip studio film. Sound dan alat
musik memenuhi ruangan. Beberapa temannya sering
sampai malam, bahkan menginap bareng Raka di kamarnya.
Kadang terdengar suara‐suara gaduh. Tetapi Raka
meyakinkan, jika ini adalah proses sound effect (efek suara)
untuk filmnya.
Pagi ini, Minggu 6 Mei. Raka tampak bersemangat. Ia
mandi lebih awal, ganti pakaian OSIS. Aku terkejut, karena ini
bukan hari sekolah.
“Nggak libur Kak?” tanyaku.
Raka menjelaskan bahwa Minggu ini puncak acara
Penganugerahan Penghargaan Festival Film Pelajar di balai
kota. Ia berkeyakinan filmya kali ini masuk nominasi.
Sekolahnya mendapat undangan pada acara tersebut,
beberapa orang mewakili, termasuk Raka.
“Ayaaaaah, kakak dapat juara festival film..!”
Raisha setengah teriak kegirangan menunjukkan akun
facebook miliknya. Raka mengunggah beberapa foto di
66 | Yuli Trianto
panggung festival dengan dua buah piala ditangannya. Aku
baca statusnya.
“Terima kasih ayah, teori kobramu telah menginspirasi.”
Komentar membanjiri postingan Raka. Rupanya ia
berhasil mengemas teori kobra menjadi sebuah film komedi.
Dua buah piala ia dapatkan sebagai film favorit dan editor
terbaik.
Wawancara denganku yang terkesan biasa, tak menarik
rupanya dijadikan ide cerita film. Aku tak paham dari sisi
mana nilai komedinya ditampilkan. Penghargaan dapat
diraih, maknanya yang terbaik dalam kategorinya.
Selamat Raka, terima kasih. Engkau persembahkan
prestasi membanggakan. Teruslah berkarya ayah
mendukungmu.
Bening Bola Mata Raisha| 67
68 | Yuli Trianto
Bagian Dua Belas
Tirai Samar
Kistamu itu ayat Allah, agar engkau baca pesan yang
sesungguhnya. Bahwa perutmu harus cukup ruangan.
Memberinya rongga udara dengan sesekali berpuasa.
Pakaiannmu itu tak perlu warna‐warna yang mewah. Tak perlu
terlalu modis. Cukup kerudung menutup hingga batas yang
ditentukan. Terima kasih Yuni, engkau menyerupai marka jalan
bagiku.
T irai kamar jendela ruang tengah mblawuk (kusam)
ketika aku berdiri di dekatnya. Mungkin karena sudah
terlalu lama terpasang tanpa terpikirkan untuk dicuci.
Ya begitu. Tidak jarang penghuni rumah mengabaikan.
Padahal berharap “rumahku surgaku.”
Baaaah!
Surga macam apa ini? Tirainya saja mblawuk dan
berdebu? Jangan sesal lho… Jika jatah kita kelak tidak sesuai
dengan harapan. Mencari surga kok loyo…?
Aku juga heran, padahal setiap hari istriku bermarkas di
situ. Duduk berlama‐lama dekat jendela. Aku kira apa.
Ternyata hanya sebatas mencari tempat terbaik
mendapatkan sinyal selulernya. Iya tanpa peduli tirai
mblawuk.
Bening Bola Mata Raisha| 69
“Berapa kali kamu pernah cuci tirai ini Mel?” tanyaku
pada Pamela yang sedang asyik chating dengan wajah serius.
Ia tak menjawab. Sedikit tersenyum, itupun terkesan
dipaksakan. Aku sedikit melirik, mengintip layar handhpone
yang ia pegang. Tetapi buru‐buru dialihkan ke aplikasi lain.
“Berapa hari kering kalau tirai ini dicuci Mel?”
“Sehari juga kering.”
Jawabnya datar. Masih saja tanpa ekspresi. Benar, tirai
tipis seperti ini tak membutuhkan panas yang terik. Tak
membutuhkan waktu terlalu lama untuk kering saat dijemur.
Artinya hal sederhana. Mestinya bisa dilakukan kapan saja,
asal mau.
“Kan lepas dan masangnya yang sulit.”
Istriku mulai berdalih. Aku paham betul kalimatnya. Ia
tak mau repot dengan bongkar dan pasang tirai. Aku
mengambil kursi plastik warna biru, berdiri di atasnya,
melepaskan tirai tipis itu dari pengaitnya.
Benar, sudah sangat kotor. Karena seingatku dua tahun
lebih semenjak dipasang masih tetap tak berubah.
Mengharapkan keindahannya sebagai penghias rumah,
tetapi menyentuh saja enggan. Mustahil.
“Ini mudahkan lepasnya?”
Istriku meletakkan handphone, bergeser dari duduknya.
Tirai kotor itu kuletakkan di atas lantai. Aku mencari ember
besar di ruang belakang. Tirai kotor aku taruh di situ.
Waaah… tampaknya ruangan menjadi lebih cerah tanpa
tirai terpasang. Terkesan polos, iya benar. Aku keluar rumah
mencari udara segar. Rangga si bungsu asyik bermain istana
pasir bersama Reza di sudut halaman.
70 | Yuli Trianto
Rupanya onggokan sisa pasir ia manfaatkan sebagai
permainan yang mengasyikkan. Membuat gunung‐gunung,
melubangi bagian tengahnya, lalu perlahan ambruk
berantakan. Itu yang mengasyikan Rangga. Terus
mengulang beberapa kali. Membuat gundukan pasir, lalu
menggugurkannya kembali. Aku tersenyum, geleng kepala.
Ternyata aku melamun, memori keindahan, kebahagiaan
dunia Rangga kembali muncul.
Aku kembali masuk ke ruang tengah. Istriku sudah
beranjak dari duduknya. Ember besar tempat tirai kotor juga
sudah berpindah tempat. Handphone‐nya di taruh di jendela.
Tampaknya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Sedikit
aku peduli, mengintip. Lalu membacanya.
“Iya mbak, laki‐laki itu egois. Nggak pernah tahu
keinginan perempuan. Maunya dilayani. Giliran kita minta
sesuatu hanya diam.”
Aku tersenyum.
Seolah Yuni, teman chating istriku tahu kalau pesan itu
aku yang baca. Ini maksudnya nyindir apa? Aku penasaran
dengan obrolannya. Berusaha tahu lebih dalam apa yang
mereka perbincangkan. Hingga istriku betah berlama‐lama
duduk di dekat jendela.
Betapa terkejutnya. Obrolan panjang lebar berhari‐hari
ternyata membicarakan suami. Tentunya aku. Tentang
perhatianku yang tak sesuai. Tentang keinginannya yang tak
pernah tercapai. Dan… yang membuatku terhentak, ketika
aku membaca pesannya, bahwa penyakit kista (sejenis
tumor dalam kandungan) yang diderita istriku semakin
Bening Bola Mata Raisha| 71
membesar. Menyiksa istriku. Dan aku dituduh biang,
penyebab kista. Astaghfirullah…
Ada hal yang membuatku merenung. Meraba diri.
Ternyata diamnya Pamela karena aku egois. Tak mau paham
dengan istriku. Tak mau mengerti tentang dirinya. Dan
gumpalan rasa yang tersimpan membeku membentuk kista
di perutnya.
Baaaaaah! Teori apa itu?
Rupanya Yuni bukan teman yang cocok untuknya
berkeluh kesah. Buktinya mengiyakan, memperkuat
tuduhannya terhadapku.
Lepas dari obrolan istriku dengan Yuni. Dalam
kesendirian di kamar, aku kembali merenungi kisah
perjalanan hidupku dengan Mela. Sudah aku katakan dari
awal, prinsip hidupku sederhana.
Kami sepakat. Tak mungkin mengejar kemewahan. Aku
tak mungkin menggapai sesuatu yang mustahil. Tampaknya
berbeda. Pamela yang terbiasa hidup berkecukupan, karena
orang tuanya memanjakannya, merasa terbelenggu hidup
denganku.
Kesederhanaan yang kurancang bukan untuk
menyiksanya. Bukan untuk menimbun penyakitnya. Apalagi
memberikan siksaan kista di perutnya. Tuduhan emosional.
Kesederhanaan yang aku mau adalah menerapkan pola
hidup hemat. Menikmati yang aku bisa, mencari kedamaian
tanpa berpikir keras menjangkau yang serba tak mungkin.
Aku mengarahkan Mela dalam kesederhanaan. Selalu
menjejali dengan pendekatan agama. Sering aku katakan
bahwa hidup adalah perjuangan. Lelah itu pasti. Kurang
72 | Yuli Trianto
sering datang. Dan tekanan itu bagian dari siasat lawan
untuk menghancurkan.
Astaghfirullah…
Rupanya Mela tak mempan dengan strategiku.
Pendekatan agama yang aku bawa tertolak. Kesederhanaan
yang aku rancang tak tepat. Pesan singkat dari Yuni,
membuatku lebih dalam berpikir. Berkaca dan meraba.
Terima kasih Yuni. Apapun katamu, tahumu tentang aku
hanya sebatas itu.
Istriku dalam pengendalianku. Bukan bermaksud
mengekangnya, tetapi tindakanku berdasar. Teori ekonomi
harus balance antara pendapatan dan pengeluaran. Hidup
adalah perjuangan. Aku tak mau lalai dalam berjuang.
Berjuang itu melelahkan, sakit dan luka‐luka. Foya‐foya dan
berpesta pasti akan melalaikan, menutup mata hati.
Berjuang itu menempuh perjalanan panjang. Gelap terang
sesuatu yang pasti. Hujan, terik tak bisa dihindari.
Propaganda menciutkan nyali. Provokasi membenturkan
kesepakatan.
Pamela, maafkan aku. Kembalilah pada pengertian yang
aku tanam tentang kesederhanaan yang mampu
menghantarkan kita dalam gemerlap cahaya keabadian.
Tepis anganmu, palingkan pandangmu tentang gebyar yang
menyilaukan.
Percayalah, kenyamananmu semakin menjauh jika yang
engkau harap terlalu berlebih. Kistamu itu ayat Allah, agar
engkau baca pesan yang sesungguhnya. Bahwa perutmu
harus cukup ruangan. Memberinya rongga udara dengan
sesekali berpuasa.
Bening Bola Mata Raisha| 73
Pakaiannmu itu tak perlu warna‐warni mewah. Tak perlu
terlalu modis. Cukup kerudung menutup hingga batas yang
ditentukan. Terima kasih Yuni, engkau menyerupai marka
jalan bagiku. Membukakan tirai samar.
74 | Yuli Trianto
Bagian Tiga Belas
Tanyaku Menggebu
Hari ini aku bertempur dengan kekuatan luar biasa, melawan
rasaku yang berkecamuk. Peristiwa semalam selepas Isya,
mendengar cerita istriku bagaikan dentuman meriam yang
memekakkan gendang telinga. Memporak‐porandakan semua
yang ada pada diriku, termasuk jiwaku.
J ika saja ini bukan atas permintaan Aji sahabatku,
mungkin tak kuasa datang sampai ke tempat ini. Hari
Minggu, hari yang seharusnya sangat berharga bagiku
untuk istirahat, melepas penat, melupakan rutinitas.
Perjalananku untuk sampai ke tempat ini ekstra berat. Bukan
karena medan jalanan yang menanjak dan berkelok‐kelok,
tetapi karena staminaku yang sangat tidak kompromi.
Malam Minggu tak sempat tidur, bahkan sedetik pun
waktuku sekedar untuk memejamkan mata, nihil, tak
mampu kulakukan.
Setelah mengantar Raisha ke tempat bimbel aku
langsung balik arah meneruskan niatku. Pagi ini 10.35. Aku
sampai di lokasi yang dituju. Tampaknya acara sudah mulai.
Seorang teman mengajakku masuk ke ruang pertemuan.
Memang sudah ditunggu. Setelah menyapa peserta rapat
aku duduk persis bersebelahan dengan Aji sahabatku. Sedikit
Bening Bola Mata Raisha| 75
berbasa‐basi menjelaskan keterlambatan di perjalanan. Aji
mengangguk memahami alasanku.
“Bapak, ibu karena yang ditunggu‐tunggu sudah hadir di
tengah‐tengah kita, maka bahasan penting selanjutnya
adalah konsep pelaksanaan program, seperti apa dan
bagaimana mari kita simak paparan dari calon nara sumber
kita.”
Ibu Widya, moderator dalam diskusi persiapan
pelaksanaan pelatihan penulisan karya tulis ilmiah untuk
guru di Kecamatan Kuala Batu memberikan kesempatan
kepadaku. Sangat mendesak waktu terhadapku.
Mungkin karena materi rapat hari ini yang terpenting
bersumber dariku. Aku menarik nafas dalam‐dalam,
mencoba menenangkan diri. Berharap agar situasi berpihak.
Lelah dan segala kecamuk yang ada dalam pikiranku semoga
dapat aku sembunyikan, tak terbaca oleh hadirin yang pasti
memperhatikan karena fokus acara ini adalah
mendengarkan paparan konsep kegiatan pelatihan yang
akan dilaksanakan.
Kepalaku berat untuk memulai mengeluarkan konsep
yang diminta. Jika saja mereka paham bahwa aku adalah
penderita meningitis (radang selaput otak) pasti dalam
kondisi seperti ini tak ada yang tega memaksa, menguras
energi otakku. Lidahku kelu untuk mulai mengucap. Tapi aku
tak mau mereka kecewa.
Notebook usang aku buka. Dokumen‐dokumen penting
berkaitan strategi dan langkah‐langkah penulisan karya tulis
ilmiah aku paparkan satu persatu. Pelan, sangat pelan aku
76 | Yuli Trianto
menjelaskan materi itu karena tak ingin hal penting ini bias,
tak jelas, menimbulkan ketidakpahaman.
Banyak hal yang sudah aku sampaikan, tanpa jeda
sedikitpun oleh pertanyaan maupun komentar peserta
rapat. Harapanku semua yang hadir memahami konsepku
tadi.
“Bapak ibu, kita butuh waktu lumayan lama untuk
pelatihan nanti. Karena kegiatan ini mewajibkan peserta
untuk banyak berlatih, jadi konsep kegiatan nanti lebih
banyak praktik.”
Sebelum mengakhiri paparan aku mencoba memancing
respon peserta rapat, apakah materi yang aku sampaikan
tadi berhasil mereka pahami atau tidak. Aku memberikan
kesempatan kepada mereka untuk mendiskusikan
penjadwalan. Karena peserta pelatihan adalah guru,
sebelumnya aku meminta agar penyusunan jadwal nanti
tidak mengganggu tugas utama mereka mengajar di
sekolah.
“Kami sudah berkordinasi dengan bapak pengawas
daerah binaan, beliau memberikan alternatif waktu kegiatan
dimulai pukul 10.00. Asumsi beliau, jika pukul 10.00 dimulai,
peserta sudah mengajar di kelas masing‐masing dan jam
yang tersisa di kelas pada hari tersebut siswa bisa diberikan
tugas mandiri dengan pengawasan guru lain yang tidak
mengikuti pelatihan ini.”
Pak Radit, ketua panitia memberikan respon terhadap
umpanku, tentang pengaturan penjadwalan. Terjadi diskusi
menarik ketika bahasan sudah sampai kepada penyusunan
jadwal. Berbagai masukan didapatkan. Seorang ibu yang
Bening Bola Mata Raisha| 77
sejak tadi tampak sibuk dengan handphone‐nya tiba‐tiba
meminta waktu, memberikan pertanyaan yang realistis,
menarik untuk didiskusikan.
“Kita berada di daerah geografis seperti ini, secara teori
kegiatan dimulai pukul 10.00 tetapi praktiknya molor dari
ketentuan. Belum lagi kalau hujan. Jika hal ini yang terjadi
apakah nanti draft beban belajar yang sudah dipaparkan
dapat terselesaikan?”
Pak Radit menghela nafas. Sambil tersenyum
mendengar pertanyaan tadi. Dari bahasa tubuhnya aku
sedikit menerka. Sebenarnya tidak menghendaki pertanyaan
seperti itu muncul. Barangkali ini kalimat negatif yang tidak
ia sukai.
Dari sorot matanya yang sesaat mengarah terhadapku
memberikan ekspresi sedikit risih. Sepintas dalam benakku
terbayang, jika peserta nanti sering datang terlambat.
Pelatihan tidak dapat berjalan sesuai jadwal. Wajar saja jika
pertanyaan itu muncul. Justru sangat membantu,
memberikan gambaran awal tentang kondisi dan respon
peserta pelatihan. Sebagai penyaji, masukan tersebut
merupakan bahan awal, mengupayakan strategi berbeda
agar kegiatan dapat berjalan maksimal.
Pertanyaan belum sempat terjawab. Pesimis yang
bergelayut di pikiran ibu yang duduk di sudut kiri tadi
rupanya merupakan fakta yang tak mampu ditutupi.
Termasuk di depanku sebagai orang baru di sini.
“Mohon waktunya saudara ketua.”
Sosok berbadan besar, berkumis tebal tiba‐tiba meminta
waktu. Perhatian mengarah kepadanya. Aku mencoba
78 | Yuli Trianto
konsentrasi, tampaknya bapak ini akan mampu memberikan
solusi tepat terhadap pertanyaan tadi. Pasti beliau salah satu
guru di wilayah ini yang memiliki kharisma. Pemikirannya
diperlukan ketika menghadapi permasalahan serius dalam
kegiatan di wilayahnya.
“Ya, dipersilahkan Pak Dhe…”
Pak Radit mencoba bercanda. Memecah suasana
dengan sedikit kelakar, menyebutnya Pak Dhe, karena yang
meminta waktu seorang bapak yang berbadan besar. Yang
bersangkutan tersenyum, peserta rapat tertawa. Suasana
semakin bersahabat. Termasuk terhadapku sebagai tamu di
sini.
“Alangkah lebih baiknya jika pelatihan ini memanfaatkan
waktu khusus. Pertimbangan untuk tidak meninggalkan jam
kerja sekolah menurut saya baik, tetapi efektifitas kegiatan
jika dilaksanakan separuh‐separuh maka mustahil akan
tercapai.”
“Jadi maksud Pak Dhe, bagaimana?”
“Kita butuh waktu khusus 4 atau 5 hari untuk
konsentrasi pada acara.”
“Oke terima kasih. Jika demikian saya tarik kesimpulan
kita butuh waktu penuh dari pagi sampai sore untuk
melaksanakan kegiatan ini selama beberapa hari. Hasil rapat
hari ini secepatnya saya kordinasikan kepada pihak terkait.”
Kembali kesempatan diberikan kepadaku. Bagian akhir,
aku berikan tayangan draft penjadwalan pelatihan dengan
berbagai versi. Semoga memberikan gambaran pada saat
penyusunan jadwal. Biarlah mereka yang menentukan, aku
hanya mengikuti skenario yang mereka buat.
Bening Bola Mata Raisha| 79
Aku mengakhiri pembahasan. Plong, lega perasaanku.
Aku berhasil menguasai diri. Tak tampak sedikitpun teman‐
teman yang hadir dalam ruangan ini memperhatikan
kejanggalanku. Termasuk Aji sahabatku.
Hari ini aku bertempur dengan kekuatan luar biasa,
melawan rasaku yang berkecamuk. Peristiwa semalam
selepas Isya, mendengar cerita istriku bagaikan dentuman
meriam yang memekakkan gendang telinga. Memporak‐
porandakan semua yang ada pada diriku, termasuk jiwaku.
Hari ini, aku berada di sini, jauh dari rumahku. Tuhan
mengalihkan resah jiwaku bersama orang‐orang yang
memiliki integritas tinggi. Hari libur mereka tetap saja
bergelut dengan pekerjaan dinas. Aku dihadirkan oleh
seorang sahabat secara tiba‐tiba. Sedikitpun tak mampu
menolak undangannya.
Seolah hadir energi berlebih menarik untuk datang dan
bergabung. Apakah ini sebagian dari cara Tuhanku untuk
memperpanjang kisah hidupku, aku tak tahu. Tuhan
mengelabui peristiwa sadis mengiris hati dengan
menghiburku dalam kebersamaan di sini, di ruangan ini. Hari
ini sudah setengah hari, masih seperti ini, apa yang Engkau
kehendaki Tuhan? Tentang aku dan jiwa ini? Mengapa selalu
saja Engkau kelabui peristiwa dengan pengalihan rasa?
Jawab tanyaku Tuhan!
80 | Yuli Trianto
Bagian Empat Belas
Jawaban
Keluh‐kesahku, pilu sedihku, yang terungkap bersama
teriakkan menyesakkan dan yang tersembunyi bersama duri‐
duri di hati
kukembalikan sepenuhnya dalam Kuasa Pencipta karena aku
hanya sebuah cerita kehidupan yang Engkau rencanakan.
S ejak pulang aku mengurung diri di dalam kamar.
Saluran televisi bolak‐balik kuganti, tetapi tetap saja
tak ada yang masuk selera. Cuaca menjelang petang
membuatku gerah. Smartphone‐ku terus saja bergetar
memberikan kode pesan masuk. Aku membiarkannya, tak
bernafsu memegang. Dalam hati ada yang kupinta.
“Maafkan teman.”
Jika saja kalian tahu tentang rasaku saat ini, pasti tak
kuasa mengajakku bercanda dalam obrolan WA. Maafkan
jika pesanmu belum sempat aku baca. Aku gundah teman.
Tapi tak mampu berkata‐kata, selain diam dan menelannya
dalam‐dalam.
Aku resah teman, hanya gelisah yang tak kunjung
berakhir. Maafkan jika sementara aku tak terlibat dalam
diskusi hangat seperti yang sudah‐sudah. Percuma saja jika
aku paksakan, pasti hanya akan membuatmu banyak tanya.
Tentang diriku, yang kurang fokus dalam diskusimu.
Bening Bola Mata Raisha| 81
Aku rebahkan tubuh lelahku di atas tempat tidur. Lemas
tanpa tenaga. Sama sekali tak kuasa bergerak‐gerak. Kecuali
bola mataku yang mengitari setiap sudut ruangan.
“Apa yang kau pendam, wahai anak manusia?”
Suara berat, parau dan menyeramkan tiba‐tiba
terdengar. Terulang lagi dan menggema dalam kamar.
Kepalaku berasa sulit bergerak, sekedar mencari sumber
suara.
“Aku di sini....”
Tubuhku tiba‐tiba menggigil. Kulit tubuhku merinding.
Bulu kuduk berdiri. Aku semakin penasaran dengan sumber
suara tadi. Kuturut dari ujung dinding ke bawah lantai,
samping sampai lubang‐lubang ventilasi. Hampa, selain
bingkai foto, lukisan dan jam dinding yang menempel.
“Ceritakan bebanmu, aku membantumu.”
Semakin jelas dan mengeras suara itu. Masih saja tak
mampu menemui sumbernya. Aaaaaah… Bedebah, siapa
yang sengaja meledekku, sialan..!
Tiba‐tiba kutangkap benda kecil dan samar bergerak‐
gerak. Di sudut ruang, tepat di atas televisi yang ku pasang
pada dinding. Benda itu menyerupai jaring. Berwarna samar,
serat‐seratnya melingkar membentuk rangkaian menyerupai
panel parabola.
Mataku menangkap sosok hitam menyeramkan
bergelayut. Mata bulatnya memandangiku tak berkedip. Aku
semakin fokus, tubuhnya memperlihatkan keangkuhan.
Membusungkan dada. Delapan kakinya tak sempurna. Satu
kaki depan cacat terputus, menunjuk‐nunjuk ke arahku.
“Benar… Aku di sini...”
82 | Yuli Trianto
“Siapa kau..?”
“Tak perlu tahu, cukup lihat saja tubuhku. Lihatlah..!!”
“Apa pedulimu?”
“Aku selalu peduli pada manusia bodoh sepertimu.”
Bedebah!
Laba‐laba jelak, hitam berkaki buntung menghinaku.
Persetan, apa maunya. Semakin arogan saja kau.
“Aku tak butuh bantuanmu makhluk jelek..!”
“Aaaah… Tak mungkin, kau terlalu lemah, akui saja
itu…!”
Keparat, emosiku memuncak. Ia semakin menghinaku.
Jika saja batu besar disampingku, kutimpuk kau. Biar kaki‐
kakimu semakin terluka tak lagi tersisa kecongkakanmu.
Kuremuk mulut jelekmu, biar sombonganmu kau bawa mati.
“Istrimu itu pengkhianat…!”
“Apa katamu, bikin kacau saja kau..!!”
“Aaaaah, kau tertipu.”
“Apa maksudmu makhluk jelek..?”
“Aku saksinya…”
“Tahu apa kau tentang istriku?”
“Tahu semua, tanyakan kepadaku…!”
Sialan, ia semakin menantangku. Bikin penasaran saja.
Tapi apakah dia tak semakin pongah jika aku turuti maunya?
Benar‐benar membuatku penasaran. Pusing, semakin berat
kepalaku.
“Apa yang kau tahu tentang istriku, wahai makhluk
jelek?”
Ia membungkukkan punggungnya. Kaki‐kakinya
dijejakkan kuat‐kuat pada landasan rumahnya. Mulutnya
Bening Bola Mata Raisha| 83
membuka lebar, menyeringai. Taring‐taringnya seperti
bernafsu merobek ketidakpercayaanku. Semakin angkuh
saja di hadapanku.
“Hahahaaaaa...!”
“Diam kau, jangan banyak tingkah, katakan jika memang
tahu tentang istriku...!”
“Istrimu pembohong besar…”
“Apa maksudmu..?”
“Kau telah dibohongi.”
“Sialaaaaaan…”
“Di kamar ini...”
Kepalanya bergerak‐gerak. Kencang, keras… Hingga
seluruh tubuhnya menggoncangkan jaring rumahnya. Aku
semakin terprovokasi. Darahku memanas, mengalir kencang
membanjiri, memenuhi setiap rongga kepalaku. Aku bangkit
dan berdiri. Kuambil benda sekenanya. Gelas di meja
kamarku. Aku genggam, kulempar kuat.
Praaaaang…!!
“Rasakan ini keparat..!!”
“Hahahaaaaaa… Makan tuh kesetiaanmu manusia
bodoh..! “
Bedebah, aku dikerjai. Dia menghindar lari, menyelinap
ke kolong meja. Gelas pecah, menghantam foto
pernikahanku. Porak poranda, menerpa bingkai foto Raisha
yang terpasang di atas meja.
Astaghfirullah… aku ternyata berhalusinasi.
Dipermainkan oleh rasa yang tak pernah aku sangka.
Emosiku terlanjur berkobar, hingga laba‐laba yang
menggantung di sarangnya menjadi korban kemarahanku.
84 | Yuli Trianto
Aku terbawa lamunan. Teringat cerita istriku semalam.
Mengagetkan dan tak pernah terlintas di kepalaku, jika
ceritanya itu benar‐benar nyata adanya. Ia telah
mengkhianatiku. Entah kekuatan apa yang telah
menggerakkannya. Hingga demikian tega membungkam
kepercayaan. Menyayat kesetiaanku, mencincang kasih
sayang, hingga tercerai‐berai, berkeping‐keping. Pecah
berantakan, hatiku.
“Haaaaaahhh…! Pamela pengkhianat…!!”
Aku berteriak sekencangnya. Delapan belas tahun dalam
kebersamaan, luluh lantak seketika. Di mana letak kehebatan
dia? Apakah lebih perkasa dariku? Lebih menyayangmu? Kaya
raya, mengantarmu ke istana? Ataukah memang setan
jahanam bersarang di hati kalian? Bedebah, iblis terlaknat..!!
Pamela.
Tidakkah merasa cukup? Delapan belas tahun dalam
kebersamaan? Aku berikan semua yang kubisa. Kasih sayang.
Jika sesekali aku pernah mengecewakanmu, kurang
memperhatikan maumu, itu karena keterbatasanku.
Aku manusia biasa, lumrah adanya. Konsenterasiku
bekerja, cari makan untukmu. Jika memang kamu lebih
memilih dia berdalih cintamu, maafkan terpaksa aku bilang
kamu bodooooh..!
Tuhan, aku tak mengerti. Jika kesederhanaan yang
terlukis dalam kanvas kehidupan bersama istriku ternyata
semu adanya. Rancangan bangunan kesederhanaan gagal
sudah, kini berbuah petaka. Ternyata perbedaan itu
menyekat, membuat garis tebal, saling silang tak sejalan.
Bening Bola Mata Raisha| 85
Aku gagal membawa Pamela dalam kebahagiaan abadi,
karena dia lebih memilih mendewakan nafsunya.
Perlahan aku punguti, kutata kembali bingkai foto
pernikahan di atas meja. Sulit, berasa untuk kembali. Karena
luka‐luka kaca tajam dan memerih. Menyayat pedih sampai
ke ulu hati. Bingkai foto Raisha terjungkal. Jatuh menerpa
serpihan kaca. Bola mata Raisha terpercik air yang tumpah.
Kuusap lembut, lalu aku ciumi tiada henti.
Ya Tuhan… Aku pintakan kepada‐Mu. Walau Raisha
terlahir dari buah cinta terlarang, aku mohon dengan izin‐
Mu, berikan kekuatan padaku untuk menjaganya,
Selamatkan Raisha. Hingga bening bola matanya tak pernah
sirna.
Dari hidupku…
86 | Yuli Trianto
Profil Penulis
Nama lengkapnya Yuli Trianto, biasa
dipanggil Anto, Lahir di Purbalingga, 21
Juli 1970. Anak ke tiga dari pasangan
sehati Ibunda Sulastri dan Ayahnda
Romli. Keseharian ia bekerja sebagai
seorang guru sekolah dasar di wilayah
Kecamatan Karangjambu, Kabupaten
Purbalingga, Jawa tengah.
Alumnus Universitas Widha Dharma Klaten, Jawa
Tengah ini menggemari dunia menulis sejak masih duduk di
bangku sekolah. Intuisi Cerita Pagi adalah buku pertamanya
yang berisi kumpulan puisi pencari kedamaian hakiki.
Novel Bening Bola Mata Raisha yang ada di tangan
pembaca ini merupakan buku keduanya. Novel ini
mengisahkan kehidupan seorang suami yang senantiasa
menghadirkan Tuhan dalam setiap gerak dan nafasnya.
Totalitas menghamba dengan segala nikmat, anugerah
dan kesulitan hidup dihadapi dengan upaya dan tawakal
sepenuhnya. Tersaji apik dengan tuturan bahasa yang
menarik dalam novel ini. Yang ingin berkoresponden dapat
melalui akun facebook : Yuli Trianto. E‐Mail pribadinya
[email protected].
Kita nantikan karya‐karya selanjutnya dari Penulis penuh
inspiratif ini.
Bening Bola Mata Raisha| 87
88 | Yuli Trianto