36
2) Pengeluaran penghasilan
Merupakan biaya yang dikeluarkan yang masa manfaatnya kurang dari
satu tahun atau berjangka pendek. Biaya jenis ini dimaksudkan untuk
mendukung penghasilan yang didapatkan oleh perusahaan, dan akan
masuk sebagai biaya (expense). Contohnya pengeluaran untuk membeli
bahan baku, membayar upah dan gaji, membayar biaya promosi dan
lainnya.
C. HARGA POKOK PRODUKSI
Untuk menentukan laba rugi perusahaan dan sarana informasi untuk
menetapkan harga jual pada produk tersebut diperlukan harga pokok produksi.
Dalam hal ini harga pokok produksi sangat penting dalam menentukan harga jual.
Harga pokok produksi ini dapat menentukan harga jual agar memperoleh laba
yang sesuai dengan keinginan perusahaan.
Harga pokok produksi adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur
dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan terjadi untuk
memperoleh penghasilan (Mulyadi:2007). Menurut Hansen dan Mowen (2009)
harga pokok produksi adalah total harga pokok produk yang diselaikan selama
periode berjalan. Dengan demikian harga pokok merupakan biaya yang
seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang atau jasa. Perlu
diketahui bahwa biaya penjualan dan biaya administrasi umum tidak termasuk
harga pokok produksi.
37
Menurut Mulyadi (2005) informasi harga pokok produksi sangat bermanfaat
bagi manajemen dalam:
1. Menentukan harga jual produk tersebut
Perusahaan yang berproduksi memproses produknya untuk memenuhi
persediaan dipersatuan produk. Dalam penetapan harga jual produk,
biaya produksi per unit merupakan salah satu informasi yang
dipertimbangkan disamping informasi biaya lain serta informasi non
biaya.
2. Memantau realisasi biaya produksi
Akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi yang
dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu untuk memantau apakah proses
produksi mengkonsumsi total biaya produksi sesuai yang diperhitungkan
sebelumnya.
D. METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI
Perhitungan harga pokok produksi Metode Full Costing mencakup
perhitungan semua sumber daya biaya overhead pabrik yang digunakan
perusahaan sehingga hasilnya lebih tepat. Perhitungan full costing juga dapat
mencerminkan biaya-biaya sesungguhnya yang dikorbankan perusahaan untuk
melakukan kegiatan produksinya. Biaya-biaya tersebut yang dapat dihitung
38
dalam metode full costing, dan mencakup semua biaya yang timbul karena
adanya aktivitas-aktivitas proses produksi pada perusahaan.
Menurut Mulyadi (2007) metode penentuan harga pokok produksi
adalah cara memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi.
Penentuan harga pokok produksi adalah pembebanan unsur biaya produksi
terhadap produk yang dihasilkan dari suatu proses produksi, artinya penentuan
biaya yang melekat pada produk jadi. Menurut Mulyadi (2007) Dalam
memperhitungkan unsur-unsur biaya kedalam harga pokok produksi terdapat
dua pendekatan, yaitu metode Full Costing dan Metode Variable Costing.
Perhitungan harga pokok produksi metode full costing dapat
menghasilkan nilai harga pokok produksi yang lebih tinggi daripada perhitungan
harga pokok produksi metode perusahaan. Dan perhitungan harga pokok
produksi full costing dapat mempengaruhi harga jual yang lebih tinggi karena
baya overhead pabrik yang dihitung lebih terperinci.
E. PENGERTIAN METODE FULL COSTING
Full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang
memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi,
yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead pabrik, baik yang berperilaku variabel maupun tetap (Mulyadi:2007).
Dengan demikian kos produksi menurut metode full costing terdiri dari unsur
biaya produksi berikut ini:
39
1. Biaya bahan baku
2. Biaya tenaga kerja langsung
3. Biaya overhead pabrik variabel
4. Baya overhead pabrik tetap
5. Kos produksi
Kos produk yang dihitung dengan pendekatan full costing terdiri dari
unsur kos produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead
pabrik tetap) ditambah dengan biaya nonproduksi (biaya pemasaran, biaya
administrasi dan umum).
F. PENGERTIAN VARIABEL COSTING
Variabel costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang
hanya membebankan biaya-biaya produksi variabel saja ke dalam harga pokok
produksi. Harga pokok produk menurut metode variable costing terdiri dari biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja variabel, biaya overhead pabrik variabel, dan harga
pokok produk.
Dalam metode variable costing, biaya overhead pabrik tetap diperlakukan
sebagai period cost dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya
overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya. Dengan
demikian biaya overhead pabrik tetap di dalam metode variable costing tidak
melekat pada persediaan produk yang belum laku dijual, tetapi langsung dianggap
sebagai biaya dalam periode terjadinya.
40
G. PENGUMPULAN BIAYA DALAM METODE FULL COSTING
Menurut perilaku dalam hubungannya dengan perubahan kegiatan, biaya
dapat dibagi menjadi tiga golongan,yaitu :
1. Biaya tetap
Biaya tetap adalah biaya yang dalam kisar perubahan tertentu tidak berubah
dengan adanya volume kegiatan
2. Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang berubah sebanding dengan perubahan
volume kegiatan.
3. Biaya semi variabel
Biaya semi variabel adalah biaya yang mengandung unsur tetap dan variabel
yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
Jika perusahaan menggunakan metode full costing maka harga pokok
produksi terdiri dari unsur biaya produksi yaitu:
Biaya bahan baku langsung Rp xxx
Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx
Biaya overhead pabrik variabel Rp xxx
Biaya overhead pabrik tetap Rp xxx +
Harga pokok produksi Rp xxx
41
H. CONTOH PENYAJIAN LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI
METODE FULL COSTING
Harga pokok produksi:
Biaya bahan baku Rp xxx
Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx
Biaya overhead pabrik tetap Rp xxx
Biaya overhead pabrik variabel Rp xxx +
Biaya Harga Pokok Produk Rp xxx
I. CONTOH PENYAJIAN LAPORAN LABA RUGI METODE FULL
COSTING
Laporan Laba Rugi
Hasil penjualan Rp xxx
Harga pokok penjualan Rp xxx -
Laba bruto Rp xxx
Biaya administrasi dan umum (Rp xxx)
Biaya pemasaran (Rp xxx) +
Laba bersih usaha Rp xx
42
J. METODE PENENTUAN HARGA JUAL
1. Pengertian Harga Jual
Penetapan harga tidak hanya sekedar perkiraan saja, tetapi harus dengan
perhitungan yang cermat dan teliti yang harus diselesaikan dengan sasaran
yang dituju oleh perusahaan. Harga merupakan nilai pengganti suatu barang,
untuk itu harga harus disesuaikan dengan kegunaan barang tersebut untuk
konsumen.
Halim dan Supomo (2005) menyatakan, harga jual adalah jumlah biaya
total (biaya produksi, biaya pemasaran, dan biaya administrasi umum)
ditambah jumlah laba yang diinginkan perusahaan.
Definisi harga menurut Basu Swastha (2005) adalah jumlah uang
(ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang di butuhkan untuk
mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Sedangkan
menurut Kent B. Monroe (2000), harga adalah rasio formal yang menunjukan
jumlah uang, barang atau jasa, yang diperlukan untuk mendapatkan sejumlah
barang atau jasa tertentu. Disisi lain, Phlip Kotler dan Amstrong (2008),
mendefinisikan harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu
produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-
manfaat, karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut.
Jadi menurut definisi di atas, konsumen membayar tidak hanya untuk
mendapatkan produknya saja, tetapi juga pelayanan yang diberikan oleh
penjual.
43
2. Tujuan Penetapan Harga Jual
Didalam menentukan harga jual, perusahaan harus jelas dalam
menentukan tujuan yang hendak dicapainya, karena tujuan tersebut dapat
memberikan arah dan keselarasan pada kebijaksanaan yang diambil
perusahaan.
Suatu perusahaan dapat mengejar enam tujuan melalui penetapan harga
(Phili Kotler:2008), yaitu:
a. Kelangsungan hidup
Perusahaan dapat mengejar kelangsungan hidup sebagai tujuan
utamanya, jika mengalami kapasitas lebih, persaingan ketat, atau
perubahan keinginan konsumen. Untuk menjaga agar pabrik tetap
beroperasi dan persediaan dapat terus berputar, mereka sering
melakukan penurunan harga. Laba kurang penting dibandingkan
kelangsungan hidup. Selama harga dapat menutup biaya variabel dan
sebagian biaya tetap, perusahaan dapat tetap terus berjalan. Tetapi
kelangsungan hidup hanyalah tujuan jangka pendek. Dalam jangka
panjang perusahaan harus dapat meningkatkan nilainya.
b. Laba sekarang maksimum
Banyak perusahaan menetapkan harga yang memaksimalkan
labanya sekarang. Mereka memperkirakan bahwa permintaan dan
biaya sehubungan sebagai alternatif harga dan memilih harga yang
44
akan menghasilkan laba, arus kas, atau pengambilan investasi yang
maksimum.
c. Pendapatan sekarang maksimum
Beberapa perusahaan menetapkan harga yang akan
memaksimalkan pendapatan dari penjualan. Maksimalisasi
pendapatan hanya membutuhkan perkiraan fungsi permintaan. Banyak
manajer percaya bahwa maksimalisasi pendapatan akan menghasilkan
maksimalisasi laba jangka panjang dan pertumbuhan pangsa pasar.
d. Pertumbuhan penjualan maksimum
Perusahaan lainnya ingin memaksimalkan unit penjualan.
Mereka percaya bahwa volume penjualan lebih tinggi akan
menghasilkan biaya per unit lebih rendah dan laba jangka panjang
yang lebih tinggi. Mereka menetapkan harga terendah dengan
mengasumsikan bahwa pasar sensitive terhadap harga. Ini disebut
penetapan harga penetrasi pasar.
e. Skimming pasar maksimum
Skimming pasar hanya mungkin dalam kondisi adanya sejumlah
pembeli yang memiliki permintaan tinggi, biaya per unit untuk
memproduksi volume kecil tidaklah sedemikian tinggi, sehingga dapat
mengurangi keuntungan penetapan harga maksimal yang dapat diserap
pasar, harga yang tinggi tidak menarik lebih banyak pesaing, harga
tinggi menyatakan citra produk superior.
45
f. Kepemimpinan mutu produk
Perusahaan mungkin mengarahkan untuk menjadi pemimpin
dalam hal mutu produk di pasar, dengan membuat produk yang
bermutu tinggi dan menetapkan harga yang lebih tinggi dari
pesaingnya. Mutu dan harga yang lebih tinggi akan mendapatkan
tingkat pengambilan yang lebih tinggi dari rata-rata industrinya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan harga jual
Dalam penentuan harga jual, tidak semua faktor dijadikan dasar dalam
penentuan harga jual, tetapi hanya beberapa faktor saja yang perlu
dipertimbangkan. Menurut Basu Swastha dan Irawan (2005), faktor-faktor
yang mempengaruhi harga jual adalah:
a. Keadaan perekonomian
b. Permintaan dan penawaran
c. Elastisitas permintaan
d. Persaingan
e. Biaya
f. Tujuan perusahaan
g. Pengawasan pemerintah
Sedangkan menurut Philip Kotler dan Armstrong (2008), keputusan
penetapan harga sebuah perusahaan dipengaruhi baik dari faktor internal
maupun dari faktor eksternal, yaitu:
46
1. Faktor internal
Faktor internal yang mempengaruhi penetapan harga meliputi:
a) Tujuan perusahaan
b) Strategi bauran pemasaran
c) Biaya
d) Pertimbangan organisasi
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi keputusan penetapan harga
meliputi:
a) Pasar dan permintaan
b) Biaya, harga, dan penawaran pesaing
c) Keadaan perekonomian
4. Biaya sebagai dasar penentuan harga jual
Biaya merupakan suatu hal yang penting dalam penentuan harga jual.
Biaya-biaya dalam menghasilkan suatu barang harus dicatat dengan benar dan
harus digolongkan sesuai dengan tingkah laku biaya. Seperti yang sudah
dijelaskan bahwa biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur
dalam satuan uang yang telah terjadi atau yang kemungkinannya akan terjadi
untuk tujuan tertentu Mulyadi (2015:8).
Penggolongan biaya harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi
kesalahan dalam penentuan harga jual produk, seperti biaya produksi, biaya
47
pemasaran dan biaya administrasi umum dapat disebut dengan biaya non
produksi.
5. Metode Penentuan Harga Jual
Faktor biaya merupakan faktor yang berasal dari perusahaan, sehingga
lebih mudah dalam menanganinya. Biaya juga menggambarkan batas
minimum yang harus dipenuhi untuk harga jual produknya.
Menurut Basu Swastha (2005), metode penentuan harga jual
yang berdasarkan biaya dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu:
a. Cost plus pricing method
Penentuan harga jual Cost plus pricing, biaya yang digunakan sebagai
dasar penentuan dapat didefinisikan sesuai dengan metode penentuan harga
pokok produk yang digunakan. Dalam metode ini, penjual atau produsen
menetapkan harga untuk satu unit barang yang besarnya sama dengan
jumlah biaya per unit, ditambah dengan suatu jumlah laba yang diinginkan.
Dalam menghitung Cost plus pricing, digunakan rumus:
Harga Jual = Biaya Total + Margin
b. Mark up pricing method
Mark up pricing banyak digunakan oleh para pedagang. Para pedagang
akan menentukan harga jualnya dengan cara menambahkan mark up yang
diinginkan pada harga belu per satuan. Persentase yang ditetapkan berbeda
48
untuk setiap jenis barang. Dalam menghitung harga jual, menggunakan
rumus:
Harga Jual = Harga beli + Mark up
Mark up adalah jumlah kenaikan harga atas biaya unit total
c. Penentuan harga oleh produsen
Dalam metode ini, harga yang ditetapkan oleh perusahaan adalah awal
dari rangkaian harga yang ditetapkan oleh perusahaan-perusahaan lain
dalam saluran distribusi. Karena itu, penetapan harga oleh produsen
memegang peranan penting dalam menentukan harga akhir barang. Dalam
menetapkan harga jualnya, produsen dapat berorientasi pada biaya. Proses
penetapan harga dimulai dengan menghitung biaya per unit barang yang
dihasilkan, kemudian menambahkan sejumlah mark up tertentu. Produsen
menggunakan rumus yang mereka anggap cocok bagi mereka, tentunya
berdasarkan pengamatan atas produk yang dihasilkannya. Setiap produk
mempunyai pola biaya yang berbeda satu sama lainnya.
Karena banyaknya biaya yang ikut berpengaruh pada cost barang, maka
terkadang harga ditetapkan dengan pemikiran langsung. Cara ini disebut
Naïve Cist Plus Method, yaitu penetapan harga secara apa adanya. Harga
ditetapkan dengan menambah mark up yang dianggap pantas pada cost
barang. Cost per unit dihitung dengan menganggap bahwa semua barang
telah terjual dalam satu periode yang lalu. Lalu biaya total yang terjadi pada
bulan tersebut dibagi dengan volume produksi.
49
6. Alasan dan Kelemahan Penggunaan Data Biaya
Penentuan harga yang berdasarkan biaya banyak digunakan oleh
perusahaan, karena perusahaan dapat mengetahui batas minimal yang harus
ditetapkan terhadap harga jualnya. Menurut Supriyono (2006) alasan-alasan
data biaya sebagai dasar penentuan harga jual adalah:
a. Harga jual berdasarkan metode cost plus dapat merupakan titik awal kearah
harga jual yang dapat diterima sesuai dengan kendala-kendala tertentu
yang ada.
b. Biaya dapat dipandang sebagai suatu batas bawah perlindungan atau
penjagaan agar harga jual tidak ditentukan terlalu rendah sehingga
menimbulkan kerugian.
c. Formula harga jual berdasarkan cost plus dapat digunakan untuk
mempeljari secara mendalam biaya para pesaingnya, atau dapat membantu
manajemen untuk memprediksi keputusan harga yang akan dibuat para
kompetitornya.
d. Harga jual yang ditentukan dengan formula cost plus mungkin bersifat
sementara, dan akan diubah jika waktu dan kondisi sudah memungkinkan.
Disamping alasan-alasam di atas, metode penentuan harga jual
berdasarkan biaya juga memiliki kelemahan. Kelemahan –kelemahan
penentuan harga dengan metode cost plus menurut Supriyono (2006)
adalah:
50
1. Metode cost plus mengabaikan faktor permintaan dan penawaran
2. Besarnya biaya per satuan berubah-ubah dipengaruhi oleh volume
produksi.
3. Metode cost plus tidak menggambarkan persaingan. Harga jual tidak
hanya dipengaruhi oleh biaya saja, tetapi juga dipengaruhi oleh
persaingan dan tersedianya produk-produk alternative beserta
harganya.
4. Biaya yang digunakan untuk menentukan harga jual adalah biaya masa
lalu atau masa kini.
5. Metode cost plus tudak mempertimbangkan berbagai faktor atau tujuan
perusahaan selain laba, misalnya: peraturan pemerintah, kesejahteraan
masyarakat, dam sebagainya.
K. PENELITIAN SEBELUMNYA
Tabel 2.5
Penelitian terdahulu
No Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian
Penelitian
1 Dian Harga Pokok Biaya Metode
Purnama,Saiful Produksi Bahan perusahaan tidak
Muchlis,Andi Dalam Baku, memperhitungkan
Wawo Menentukan Biaya BOP tetap sebagai
Harga Jual Tenaga biaya produksi.
Melalui Kerja dan Sedangkan
51
Metode Cost Biaya penentuan harga
Plus Pricing Overhead jual produk hanya
Dengan Pabrik menggunakan
Pendekatan estimasi harga
Full Costing saja.
2 Ni Kadek Analisis Biaya Perbedaan
Yuniari, Made Ketepatan Bahan perhitungan yang
Arie Wahyuni, Perhitungan Baku, dihasilkan
Putu Eka Harga Pokok Biaya menggunakan
Dianita Produksi Tenaga metode
Marvilianti Berdasarkan Kerja dan perusahaan lebih
Dewi Metode Full Biaya rendah daripada
Costing Overhead metode full
Sebagai Dasar Pabrik costing. Selisih
Dalam nilai harga pokok
Menentukan produksi dan
Harga Jual harga jual dari
Ukiran kedua metode
Sanggah tersebut yaitu
(Pelinggih) sebesar
Pada Usaha Rp191.573 dan
Sari Uma, Rp201.152.
Dukuh Selisih tersebut
Sidemen. menunjukkan
bahwa perbedaan
metode yang
digunakan dalam
menentukan harga
pokok produksi
akan
menghasilkan
harga jual yang
berbeda pula,
sehingga hal
tersebut akan
berdampak pada
laba yang
52
diperoleh
perusahaan.
3 Mifta Analisis Biaya Hasil penelitian
Maghfirah, Perhitungan Bahan menunjukkan
Fazli Syam BZ Harga Pokok Baku, bahwa biaya
Produksi Biaya perolehan
Dengan Tenaga produksi dengan
Penerapan Kerja dan menggunakan
Metode Full Biaya metode full
Costing Pda Overhead costing lebih baik
UMKM Kota Pabrik dalam
Band Aceh menganalisis
biaya produksi,
hal ini
menyebabkan
perhitungan biaya
produksi
menggunakan
metode full
costing sudah
termasuk semua
biaya overhead,
baik tetap
maupun variabel
selama proses
produksi.
4 Kadek Ayu Analisis Biaya Dari hasil
Supriatini, Ni Perhitungan Bahan penelitian yang
Kadek Virgiani Harga Pokok Baku, dilakukan
Jumiari, Made Produksi Air Biaya penentuan harga
Deva Aditya Sebagi Dasar Tenaga pokok produksi
Fernanda Penentuan Kerja dan yang sebaiknya
Harga Jual Air Biaya digunakan
Pada Overhead perusahaan
Perusahaan Pabrik adalah
Daerah Air perhitungan
Minum menurut teori
53
(PDAM) dengan
Kabupaten menggunakan
Buleleng metode full
costing secara
benar dan sesuai
dengan
kebijakannya.
Karena dengan
menggunakan
metode tersebut
keuntungan yang
nanti diterima
perusahaan akan
lebih tinggi.
5 Trianita Sari Analisis Biaya Hasil penelitian
Penentuan Bahan menujukan bahwa
Harga Pokok Baku, perhitungan harga
Produksi pada Biaya pokok produk
Pabrik Tahu Tenaga pesanan
Kurma di Kerja dan perusahaan
Kabupaten Biaya dengan
Bondowoso Overhead perhitungan harga
Pabrik pokok produk
dengan
menggunakan
metode full
costing terdapat
selisih harga
pokok produk,
selisih tersebut
disebabkan
karena
perusahaan belum
menentukan dasar
tarif pembebanan
biaya overhead
pabrik dan
54
perusahaan juga
belum
membebankan
biaya listrik dan
telepon kedalam
harga pokok
pesanan. Dimana
harga pokok
pesanan menurut
perusahaan lebih
kecil
dibandingkan
dengan metode
full costing.
6 Gloria Tarek, Analisis Biaya Adanya
Dolina L Perhitungan Bahan perbedaan
Tempi, Dantje Harga Pokok Baku, perhitungan
Keles Produksi Biaya harga pokok
Dengan Tenaga produksi menurut
Metode Full Kerja dan perusahaan
Costing Biaya dengan metode
Sebagai Dasar Overhead full costing
Penentuan Pabrik karena adanya
Harga perbedaan
Produksi pembebanan
Rumah biaya sejak awal.
Panggung Perusahaan tidak
Pada CV memperhitungkan
Manguni biaya overhead
Perkasa pabrik dan
Kakaskasen penentuan harga
Dua Tumohon jual hanya
menggunakan
persentase
keuntungan 30%
saja.
55
7 Jonathan Julio Analisis Biaya PT. Blue Ocean
Budiman, Penentuan Bahan Grace
Ventje Ilat, Biaya Produksi Baku, International
Lidia M. Dengan Biaya dalam
Mawikere Menggunakan Tenaga menghitung biaya
Metode Full Kerja dan produksi belum
Costing Untuk Biaya sesuai
Menentukan Overhead dengan teori
Harga Jual Pabrik untuk penentuan
Pada harga jual produk.
PT. Blue Biaya yang belum
Ocean Grace dibebankan
International diantaranya biaya
overhead pabrik
yang meliputi
penyusutan mesin
dan peralatan,
biaya
bahan baku
penolong, dan
biaya asuransi.
8 Abdul Latief R Metode Cost Biaya Penentuan harga
Plus Pricing Bahan jual metode cost
Dengan Baku, plus pricing
Pendekatan Biaya dengan
Full Costing Tenaga pendekatan full
Mampu Kerja costing dapat
Menentukan Langsung menetapkan harga
Harga Jual dan Biaya jual yang lebih
(Studi Kasus Overhead efesien sebesar
Pada CV Pabrik 40% dibanding
Karya Tetap dan sebelumnya.
Dharma) Variable
9 Ida Ayu Triska Analisis Biaya Terdapat
Pradnyani Penentuan Bahan perbedaan yang
Pidada, Harga Pokok Baku, mencolok dalam
Anantawikrama Produksi Biaya mencatat biaya
56
Tungga Denga Metode Tenaga overhead pabrik
Atmadja, Full Costing Kerja dan oleh pengusaha
Nyoman Trisna Sebagai Acuan Biaya dan menurut
Herawati Dalam Overhead metode full
Menentukan Pabrik costing dengan
Harga Jual selisih yang
Kain Sekordi cukup banyak.
10 Rina Hasyim Analisis Biaya Pada perhitungan
Penentuan Bahan harga pokok
Harga Pokok Baku, produksi dengan
Produksi Dan Biaya metode full
Harga Tenaga costing harga
Jual Dengan Kerja dan pokok produksi
Metode Full Biaya yang dihasilkan
Costing Pada Overhead lebih besar
Home Industri Pabrik dibandingkan
Khoiryah di dengan
Taman Sari, perhitungan harga
Singaraja. pokok produksi
dengan metode
perusahaan yang
hanya
menggunakan
perkiraan saja.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di pabrik tempe Ibu Rus, Desa Sindangheula
RT 11 / RW 04, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Penulis melakukan penelitian kurang lebih dua bulan yaitu selama bulan April
2020 hingga Mei 2020.
2. Sejarah Singkat Perusahaan
Tempe Ibu Rus adalah suatu pabrik pengolahan kedelai untuk menjadi
tempe yang dibuat oleh salah satu industri rumahan di Brebes, tepatnya di
Desa Sindangheula RT 11 / RW 04, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten
Brebes, Jawa Tengah. Pabrik yang berdiri sejak tahun 90 an ini, merupakan
salah satu industri rumahan yang didirikan oleh Bapak Suhamid, selaku
pemilik pertama pabrik tempe ini, dan sekarang yang mengelola pabrik tempe
tersebut ialah anak dari Bapak Suhamid yaitu Bapak Rusyanto sebagai
generasi penerus dari pabrik tempe tersebut. Pabrik ini bukan hanya
memproduksi satu jenis ukuran tempe, melainkan mereka membaginya
menjadi empat jenis ukuran tempe yang berbeda dan dengan harga yang
berbeda pula. Mulai dari harga Rp.1.400,- untuk ukuran kecil, Rp.1.800,-
57
58
untuk ukuran sedang, Rp.3.000,- untuk ukuran sedang (lebih panjang),
hingga yang paling besar seharga Rp.4.000,-
Bahkan bukan hanya ukuran dan harganya yang berbeda, kemasan dari
tempe Ibu Rus ini ada juga yang berbeda dari kemasan yang lain, yaitu
berbentuk lonjong panjang, biasanya kemasan panjang dijual kepada reseller
untuk menjual ny kembali. Dalam sehari pabrik ini bisa menghabiskan lebih
dari 100 Kg kedelai import dan menghasilkan ratusan potong tempe.
Pabrik tempe Ibu Rus memiliki tiga orang tenaga kerja yang tidak lain
adalah para tetangga pabrik itu sendiri. Di pabrik tempe ini terdapat beberapa
ruang produksi, ruangan yang paling besar digunakan untuk menyimpan
kedelai-kedelai yang masih dikemas didalam karung yang merupakan stok
kedelai selama beberapa hari. Di ruangan tersebut juga ada tempat untuk
menyimpan bahan dan alat-alat pembantu seperti ragi tempe, plastik, dan lain
lain
59
3. Produk yang dijual
Produk yang dihasilkan pada industry ini adalah tempe dengan varian
ukuran atau kemasan, yaitu:
1) Tempe ukuran kecil
2) Tempe ukuran sedang
3) Tempe ukuran sedang special (lebih lebar)
4) Tempe ukuran besar
Tempe yang telah diproduksi dipasarkan dengan dibungkus plastik
transparan dengan ukuran yang beragam. Bahan baku utama yang digunakan
dalam memproduksi tempe tersebut adalah kedelai, dam ragi tempe sebagai
bahan penolong untuk menjadikan kedelai tersebut menjadi tempe jadi. Ragi
yang di butuhkan pada saat musim penghujan biasanya lebih banyak ,begitu
pun sebaliknya ,jika musim panas pemakaian ragi tidak begitu banyak, satu
kemasan ragi 0,50 kg bisa untuk pembuatan tempe 5 hari dengan rata rata
produksi per hari 100 kg kedelai.
Mesin yang digunakan adalah mesin penggiling yang berfungsi untuk
membelah kedelai menjadi dua bagian, sehingga kedelai mudah untuk
dicampurkan dengan ragi tempe dan siap dijual dalam waktu kurang lebih tiga
hari.
60
4. Proses Produksi
a. Peralatan yang digunakan
1) Mesin penggiling
2) Papan
3) Plastik kemasan
4) Drim plastic
5) Drim besi
6) Keranjang bamboo
7) Gayung besi
b. Bahan produksi pembuatan Tempe
1)Kedelai
2)Ragi tempe
3)Air
c. Proses pembuatan produk
Ada beberapa tahap pembuatan produk dari kedelai menjadi tempe, yaitu:
1) Pencucian
Proses pencucian merupakan proses paling awal untuk memisakan
kotoran yang menempel dari kedelai, dan juga memisahkan kedelai
dari bahan bahan lain seperti jagung.
2) Perebusan
Setelah kedelai dicuci bersih, kedelai siap untuk di rebus sampai
kedelai matang dengan menggunakan drim besi.
61
3) Perendaman
Setelah direbus, kedelai direndam dengan air di dalam drim plastik
selama kurang lebih satu malam.
4) Penggilingan
Kedelai yang telah direndam selama satu malam dibelah menjadi dua
bagian dengan menggunakan mesin penggiling.
5) Pencucian
Setelah digiling kedelai yang sudah matang dicuci kembali dengan air
hingga bersih.
6) Peragian
Pada tahap ini, kedelai yang telah dicuci harus ditiriskan terlebih
dahulu dan kemudian baru dicampur dengan ragi tempe.
7) Pencetakan
Tahap ini merupakan tahap akhir dari serangkaian proses produksi.
Kedelai-kedelai yang telah diragi dicetak dengan menggunakan
cetakan kayu yang sudah dibentuk dan memiliki ukuran yang
bermacam-macam sesuai dengan ukuran produksi.
62
5. Unsur-unsur Biaya Produksi
Metode penentuan kos produksi adalah cara memperhitungkan unsur-
unsur biaya ke dalam kos produksi. Harga pokok produksi terbentuk dari
penjumlahan biaya produksi dan biaya biaya nonproduksi. Biaya produksi
merupakan biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku
kedelai menjadi produk tempe. Contoh biaya produksi yaitu biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Sedangkan biaya nonproduksi
adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi tempe, misalnya
biaya listrik dan biaya nonproduksi. Biaya produksi merupakan biaya-biaya
yang telah dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku kedelai menjadi produk
tempe. Contoh biaya produksi yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan
biaya overhead pabrik. Sedangkan biaya nonproduksi adalah biaya-biaya
yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi tempe, misalnya biaya listrik dan
transportasi. Dalam menghitung biaya produksi maupun biaya nonproduksi
harus mengetahui dan mengikuti proses pengolahan bahan baku menjadi
produk jadi, karena dalam setiap tahap produksi akan terlihat besarnya biaya-
biaya yang dikeluarkan oleh pabrik Tempe Ibu Rus.
Adapun biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pabrik tempe Ibu Rus adalah
sebagai berikut:
a) Biaya bahan baku
1. Kedelai
b) Biaya tenaga kerja langsung
63
1. Satu orang bagian pencucian hingga perebusan
2. Dua orang bagian pengemasan
c) Biaya overhead pabrik
1. Bahan penolong yang digunakan untuk proses produksi adalah
sebagai berikut:
a) Ragi tempe
b) Plastik kemasan
c) Air
2. Biaya lain-lain yang digunakan adalah:
a) Kayu bakar
b) Kantong plastic
6. Pemasaran dan Administrasi dan Umum
Daerah pemasaran saat ini masih di wilayah pabrik sekitar ny saja,
target pemasaran produk saat ini yaitu para pedagang sayuran di pasar-pasar
maupun pedagang sayuran keliling di daerah pabrik ini sendiri. Ada yang
mengambil tempe langsung ke pabrik, ada pula yang di pasok oleh pabrik.
Setiap harinya pemilik dan satu karyawan mengantarkan tempe ke pasar setiap
jam 03.00 pagi. Dengan demikian perusahaan juga mengeluarkan biaya
transportasi pada setiap harinya. Selain itu penulis juga menyarankan agar
perusahaan juga memperhitungkan upah tenaga kerja yang mengantarkan
tempe, yaitu sebagai biaya tenaga kerja tak langsung.
64
B. STRUKTUR ORGANISASI
Struktur Organisasi Pabrik Tempe Ibu Rus
MANAJER(PEMILIK)
Rusyanto
BAGIAN PEMBUATAN BAGIAN PENGEMASAN
1. Nuryana 1. Trisa
2. Ahmad 2. Darsi (Istri pemilik)
Pada pabrik tempe Ibu Rus ada beberapa jenis pekerjaan yang dilakukan oleh
pegawainya dalam melakukan proses produksi tempe dari kedelai hingga
menjadi tempe siap untuk dijual ke pasaran, tugas dan tanggung jawab pada
struktur organisasi pada pabrik tempe Ibu Rus antara lain:
1. Manager (pemilik)
a. Fungsi dan Peranan Umum
Berperan langsung dalam urusan keuangan dan seluruh operasional pabrik
tempe.
b. Tugas dan Tanggung Jawab
65
1. Mengontrol proses pembuatan tempe dari awal sampai akhir sudah
sesuai dengan standar pabrik tersebut.
2. Melakukan pembelian barang yang di butuhkan untuk produksi tempe
3. Melakukan pengiriman tempe.
2. Bagian Pembuatan
a. Fungsi dan Peranan Umum
Berperan untuk melakukan pencucian dan perebusan kedelai
b. Tugas dan Tanggung Jawab
1. Melakukan pencucian kedelai hingga bersih.
2. Merebus Kedelai.
3. Menggiling kedelai.
4. Pencampuran ragi ke dalam kedelai yang sudah di giling.
3. Bagian Pengemasan
a. Fungsi dan Peranan Umum
Berperan untuk mengemas kedelai yang sudah di campur ragi kedalam
plastik dan mencetak kedelai sesuai dengan ukuran.
b. Tugas dan Tanggung Jawab
1. Melakukan pengisian kedelai.
2. Melakukan pencetakan kedelai sesuai dengan ukuran.
66
C. POPULASI DAM SAMPEL PENELITIAN
Populasi yang diamati adalah produksi dan juga penjualan tempe pada Pabrik
Tempe Ibu Rus. Sedangkan sampel yang digunakan adalah produksi dan
penjualan tempe pada bulan April 2020.
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. Survei
Teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung pada
obyek penelitian.
2. Dokumentasi
Yaitu metode pengumpulan data dengan cara melihat data historis catatan
perusahaan
3. Wawancara
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mendapatkan informasi langsung
dari pemilik atau yang berwenang dengan cara Tanya jawab.
4. Studi kepustakaan
Metode ini dilakukan dengan cara mempelajari dan membandingkan sumber-
sumber melalui literatur-literatur lain yang berkaitan untuk memperoleh
pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dan landasan teori yang akan
dipergunakan untuk menganalisis permasalahan yang akan dibahas.
67
E. METODE ANALISIS DATA
Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis deskriptif
kuantitatif yang bertujuan mendeskripsikan atau menggambarkan suatu
permasalahan yang ada dalam penelitian. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan data-data biaya produksi yang ada di perusahaan dan
menghitung harga pokok produksi menggunakan metode yang digunakan oleh
perusahaan.
2. Menghitung harga pokok produk dengan metode full costing.
3. Membandingkan penentuan harga pokok produksi yang dihitung dengan full
costing dengan menggunakan metode yang dipakai oleh perusahaan.
4. Menentukan harga jual yang tepat dari hasil perhitungan harga pokok produk
dengan menggunakan metode full costing tersebut.
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini peneliti akan menyajikan dan melakukan perhitungan
terhadap data yang diperoleh pada pabrik tempe Ibu Rus yaitu data biaya
produksi tempe empat varian kemasan (ukuran). Data-data yang disajikan berupa
perhitungan dalam penentuan harga pokok produk dan juga harga jual.
Sebagaimana tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
penentuan harga pokok produksi yang selama ini dilakukan oleh pabrik tempe
Ibu Rus, untuk mengetahui bagaimana penentuan harga pokok produksi dengan
menggunakan metode full costing dan dengan metode yang dilakukan oleh
perusahaan, dan untuk mengetahui penentuan harga jual produk berdasarkan
perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode full costing.
Sesuai dengan yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka data-data yang
terkumpul adalah data kuantitatif, namun metode analisis yang digunakan adalah
metode analisis non statistik (kuantitatif tanpa statistik). Pada penelitian ini
penulis menggunakan metode perhitungan harga pokok produksi dengan metode
full costing dalam menentukan harga jual produk. Pemilihan metode ini
didasarkan pada pertimbangan bahwa pengalokasian biaya overhead pabrik
dengan metode full costing berhubungan dengan konsumsi aktivitas dan
68
69
penanganan produk yang sesungguhnya, sehingga lebih tepat dan akurat
dalam perhitungan harga pokok produksi.
70
Dalam melakukan penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah Metode
Deskriptif Kuantitatif. Metode deskriptif kuantitatif merupakan suatu analisis data
dengan merekomendasikan penyusunan harga pokok produksi yang seharusnya,
dimana metode ini dinyatakan dengan angka-angka. Metode deskriptif kuantitatif yang
diperlukan dalam penulisan skripsi ini adalah metode full costing yang merupakan
metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya
produksi baik biaya tetap maupun biaya tidak tetap kedalam harga pokok produksinya.
A. ANALISI DATA
1. Identifikasi Harga Pokok Produksi
Dalam melakukan kegiatan produksi, perusahaan telah mengeluarkan
berbagai macam biaya untuk menghasilkan produk, disamping biaya-biaya
produk, perusahaan juga mengeluarkan biaya pembantu dan biaya operasional
yang dipakai untuk produk yang nantinya dipakai sebagai elemen
pembentukan harga pokok produksi. Data biaya yang digunakan oleh penulis
adalah data produksi bulan April 2020. Jumlah hari produksi dalam satu bulan
di tahun 2020 berbeda-beda, pada bulan April 2020 jumlah hari produksi yaitu
30 hari, dimana 26 hari produksi dengan jumlah normal dan 4 hari (hari
minggu) produksi dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan hari
lainnya.
71
a. Data biaya bahan baku langsung
Biaya bahan baku ini merupakan komponen biaya terbesar yang
dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan komponen utama dari
terbentuknya sebuah produk. Bahan baku merupakan bahan yang
membentuk bagian menyeluruh produk jadi, nilainya relatif besar dan
umumnya sifat bahan baku masih melekat pada produk yang dihasilkan
(Supriyono : 2000). Bahan baku pembuatan tempe pada pabrik tempe Ibu
Rus adalah kedelai. Dalam kegiatan produksi, pabrik tempe Ibu Rus
membutuhkan 100 Kg kedelai perharinya sedangkan setiap hari Minggu
membutuhkan lebih sedikit dari hari lainnya yaitu 60 Kg kedelai. Masing-
masing jenis tempe juga bermacam –macam kebutuhan kedelai pada setiap
harinya. Antara tempe ukuran kecil, tempe ukuran sedang, dan tempe
ukuran besar masing-masing menghabiskan kedelai dengan jumlah yang
berbeda. Adapun data biaya bahan baku langsung yang digunakan oleh
perusahaan dapat dilihat pada tabal 4.1.
72
Tabel 4.1
Data Biaya Bahan Baku Langsung
Pabrik Tempe Ibu Rus
No Bahan Kebutuhan Harga per Total
Baku per Bulan Satuan
Langsung (Kg)
1 Kacang 26 hari x 30 Rp.7.500,- Rp.6.150.000,-
kedelai, kg + 4 hari x
tempe kecil 10 kg = 820
Kg
2 Kacang 26 hari x 40 Rp.7.500,- Rp.
kedelai, kg + 4 hari x 8.550.000,-
tempe 25 kg =
sedang 1.140 kg
3 Kacang 26 hari x Rp.7.500,- Rp.
kedelai, 10kg+ 4 hari 2.400.000,-
sedang x 15 kg =
(ukuran 320 kg
lebih
panjang)
73
4 Kacang 26 hari x 20 Rp.7.500,- Rp. 4.200.000
kedelai, kg + 4 hari x
tempe besar 10 kg = 560
kg
Total 100 kg x 26 Rp.7.500,- Rp.
biaya hari + 60 kg 21.300.000
bahan x 4 hari =
baku 2.840
Sumber : Pabrik Tempe Ibu Rus (data diolah)
a) Data biaya tenaga kerja langsung
Meliputi gaji dan upah dari seluruh tenaga kerja yang secara praktis
dapat diidentifikasi dengan kegiatan pengolahan bahan menjadi produk
selesai. Misalkan gaji dan upah penggiling kedelai merupakan contoh biaya
tenaga kerja langsung. Seperti halnya biaya bahan baku, kenyataan adanya
gaji dan upah tenaga kerja yang ikut membantu terlaksanya kegiatan
produksi mungkin saja tidak digolongkan sebagai biaya tenaga kerja
langsung. Oleh karena itu, terhadap gaji dan upah tenaga kerja dibedakan
menjadi biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tak langsung.
Adapun data biaya tenaga kerja langsung yang terdapat pada perusahaan
dapat dilihat pada table 4.2.
74
Tabel 4.2
Data Biaya Tenaga Kerja Langsung
Pabrik Tempe Ibu Rus
No Jumlah Gaji per Gaji per Total
Tenaga hari bulan (30
Kerja hari kerja)
Langsung
1 2 (dua) orang, Rp. Rp. Rp.
bagian 35.000 ,- 1.050.000,- 2.100.000,-
pembuatan
2 3 (tiga) Rp. Rp. Rp.
orang, bagian 35.000 ,- 1.050.000,- 2.100.000,-
pengemasan
Total biaya Rp.
gaji 4.200.000
Sumber : Pabrik Tempe Ibu Rus (data diolah)
b) Data biaya overhead pabrik
Biaya ini meliputi semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan
biaya tenaga kerja langsung yang membantu dalam proses produksi. Oleh
karena itu biaya overhead pabrik meliputi juga biaya bahan penolong, gaji
75
dan upah tenaga kerja tak langsung dan biaya produksi tak langsung. Biaya
tenaga kerja tak langsung meliputi semua biaya tenaga kerja selain yang
dikelompokan sebagai biaya tenaga kerja langsung. Gaji dan upah
pengantar tempe misalnya, merupakan salah satu contoh dari biaya tenaga
kerja tak langsung tersebut. Akan tetapi pengantar tempe pada pabrik
tempe Ibu Rus tak lain adalah pemilik pabrik sendiri. Maka dari itu penulis
menyarankan agar pengantar tempe pada setiap harinya mendapatkan upah
yang sesuai untuk setiap kali antar. Selain itu ada pula biaya air, listrik dan
biaya depresiasi mesin dan peralatan lainnya merupakan contoh-contoh
biaya overhead pabrik. Data biaya overhead pabrik pada pabrik tempe Ibu
Rus dapat dilihat pada tabel 4.3a.
Tabel 4.3a
Data Biaya Overhead Pabrik
Pabrik Tempe Ibu Rus
No Keterangan Kebutuhan Biaya per Total Biaya
per Bulan Satuan
Bahan Penolong
1 Ragi Tempe 0,17 Kg x 26 Rp. Rp.
hari + 0,02 26.000,- 117.000,-
76
Kg x 4 hari =
4,5 Kg
2 Plastik Plastik 9X15 Rp. Rp.
Kemasan
cm 250 gram 24.000,-/kg 180.000,-
3 Kantong
Plastik (1 bungkus)
per hari = 7,5
kg (30
bungkus) per
bulan
Plastik roll 8 Rp. Rp. 675.000
cm 1,5 roll 15.000,-
per hari = 45
roll per bulan
Plastik Roll Rp. Rp.
10 cm 1/2 15.000,- 225.000,-
Roll per hari
= 15 Roll Per
Bulan
Plastik besar Rp. 6.800,- Rp.
1 pack per 204.000,-
hari = 30
77
pack per
bulan
Plastik kecil Rp. 1.400,- Rp.42.000,-
1 pack per
hari = 30
pack per hari
4 Kayu bakar 4 Ikat per Rp. Rp.
hari = 120 12.000,- 1.440.000,-
ikat per
bulan
Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung
1 Upah 2 orang x 30 Rp. 5.000 Rp.300.000,-
pengantar hari
tempe
Biaya Tidak Langsung Lainnya
1 Listrik Rp. Rp.
47.732,2,- 47.732,2,-
2 Biaya Rp. 50.000,-
pemeliharaan
peralatan
78
3 Biaya Rp.
penyusutan 258.194,75,-
Total BOP Rp.
3.538.926.95
Sumber : Pabrik Tempe Ibu Rus (data diolah)
Perhitungan biaya semi variabel listrik menggunakan titik tertinggi dan
titik terendah
Tabel 4.3b
Data Biaya Listrik
Pabrik Tempe Ibu Rus
Bulan ke- Biaya Listrik Daya (Kwh)
102
1 Rp. 45.771,- 96
126
2 Rp. 42.504,- 99
115
3 Rp. 55.572,- 99
109
4 Rp. 44.138,- 106
5 Rp. 52.850,-
6 Rp. 47.138,-
7 Rp. 49.583,-
8 Rp. 48.890,-
79
9 Rp. 53.560,- 116
10 Rp. 49.980,- 108
1.076
Rp.489.986 ,-
Tabel 4.3c
Biaya Listrik pada Tingkat Kegiatan Tertinggi dan Terendah
Pabrik Tempe Ibu Rus
Biaya Listrik pada Tingkat Kegiatan Tertinggi dan
Terendah
Tertinggi Terendah Selisih
Jumlah 126 96 28
KWh
Biaya Rp. 55.572,- Rp. 42.504,- Rp. 13.068,-
Listrik
Biaya variabel listrik = Rp. 13.068,- : 24 =435,6 per Kwh
80
Tabel 4.3d
Perhitungan Unsur Biaya Listrik Tetap
Titik Kegiatan Tertinggi Titik Kegiatan Terendah
Biaya Rp. 55.572,- Rp. 42.504,-
Listrik
Rp. 435,6 Rp. 54.885,6,-
x 126
Rp. 435,6 Rp. 41.817,6,-
x 96
Biaya Rp. 686,4,- Rp. 686,4,-
listrik
tetap
Bentuk fungsi linier biaya listrik : Y = Rp. 686,4,- + Rp. 435,6,-x
Biaya listrik bulan April 2020 = Rp. 686,4,- + Rp. 435,6,-x (108)
= Rp. 47.731,2,-
Biaya listrik tetap = Rp. 686,4,-
Biaya listrik variabel = Rp. 47.044,8,
81
Analisis Perhitungan biaya penyusutan (menggunakan metode garis
lurus) :
1) Mesin penggiling = Rp. 5.000.000
Harga = 5 tahun
Nilai ekonomis =0
Nilai residu = (Rp. 5.000.000,- - 0) / (5 x 12)
Depresiasi = Rp.83.333,33,- per bulan
2) Papan anyam kayu = Rp. 10.000,-
Harga = 2 tahun
Nilai ekonomis =0
Nilai residu = (Rp. 10.000,- - 0) / (2 x 12)
Depresiasi = Rp. 416,67,- per bulan
3) Drim plastik = Rp. 75.000
Harga = 5 tahun
Nilai ekonomis =0
Nilai residu = (Rp. 75.000,- - 0) / (5 x 12)
Depresiasi = Rp. 1.250,- per bulan
82
4) Drim besi = Rp. 250.000,-
Harga = 3 tahun
Nilai ekonomis =0
Nilai residu = ( Rp. 250.000,- - 0) / (3 x 12)
Depresiasi = Rp. 6.944,44,- per bulan
5) Keranjang industri = Rp. 15.000,-
Harga = 4 bulan
Nilai ekonomis =0
Nilai residu = (Rp. 15.000,- - 0) / (4 bulan)
Depresiasi = Rp. 3.750,- per bulan
6) Kendaraan = Rp.20.000.000,-
Harga = 20 tahun
Nilai ekonomis = Rp. 5.000.000
Nilai residu = (Rp.20.000.000,- - Rp. 5.000.000)/
Depresiasi = Rp. 62.500,- per bulan
(20x12)
83
Tabel 4.4
Perhitungan Biaya Penyusutan
No Peralatan Depresiasi Jumlah Total per
bulan
per bulan barang
Rp.
1 Mesin Rp. 1 83.333,33,-
Rp. 40.833,66
penggiling 83.333,33,-
Rp. 6.250,-
2 Papan anyam Rp. 416,67,- 98 Rp.
27.777,76,-
kayu Rp. 37.500,-
3 Drim plastik Rp. 1.250,- 5 Rp. 62.500,-
Rp.
4 Drim besi Rp. 6.944,44,- 4 258.194,75,-
5 Keranjang Rp. 3.750,- 10
industri
6 Kendaraan Rp. 62.500,- 1
Total biaya
penyusutan
Sumber : Data diolah penulis
84
2. Data Biaya Pemasaran
Dalam menghitung harga pokok produksi, terlebih dahulu harus
menentukan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
Sedangkan biaya pemeliharaan alat, biaya listrik, dan penyusutan mesin harus
diklasifikasi dengan tepat yaitu kebagian produksi dank e bagian administrasi
dan umum. Selanjutnya biaya administrasi umum serta biaya pemasaran dan
penjualan harus dikeluarkan dari biaya overhead pabrik, sebab biaya-biaya
operasional perusahaan dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5
Data Biaya Pemasaran
Pabrik Tempe Ibu Rus
No Keterangan Kebutuhan per Total
1 Transportasi
Bulan
2 Biaya
pemeliharaan 1 liter per hari = 30 Rp. 225.000,-
kendaraan
liter per bulan @
Rp.7.500,- per liter
Rp. 50.000,- Rp. 50.000,-
85
Total biaya Rp. 275.000,-
operasional
Sumber : Pabrik tempe Ibu Rus (data diolah)
3. Pengumpulan Data Produksi dan Data Penjualan
Pabrik tempe Ibu Rus memproduksi tempe dengan jumlah yang sama
pada setiap harinya. Hasil produksi satu hari adalah sama dengan jumlah
produk yang dijual, begitu seterusnya. Karena pabrik tempe Ibu Rus sudah
memiliki pelanggan-pelanggan yang harus dipasok tempe dengan jumlah
yang sama setiap harinya. Data produksi dan data penjualan dapat dilihat pada
tabel 4.6.
Tabel 4.6
Data Produksi dan Penjualan
Pabrik Tempe Ibu Rus
No Jenis Produk Jumlah Jumlah
Produksi/Penjualan Produksi/Penjualan
per Hari per Bulan
1 Tempe ukuran 300 potong x 26 hari 8.200 potong
kecil + 100 potong x 4 hari