The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini adalah ragam dolanan anak nusantara

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mardikawatisinta, 2021-10-19 23:25:35

RAGAM DOLANAN ANAK NUSANTARA PGSD 7C

E-book ini adalah ragam dolanan anak nusantara

Keywords: Dolanan Anak

B. Eksistensi

Melihat kondisi saat ini, tentu perlu ada upaya yang serius untuk menyelamatkan
budaya yang hampir punah. Kini, sudah mulai banyak pihak-pihak yang peduli terhadap
kondisi ini. Terbukti dengan adanya perlombaan-perlombaan permainan sehingga walau
sederas apapun arus permainan modern, permainan tradisional diharapkan akan tetap dikenal
dan dimainkan oleh anak-anak. Namun, walaupun sudah ada upaya-upaya untuk
memperkenalkan kembali dan melestarikan permainan tradisional Sunda Manda.

C. Cara Bermain Sunda Manda
Cara bermain permainan Sunda Manda ini adalah melompat menggunakan satu kaki

di setiap petak-petak yang telah digambar sebelumnya di tanah. Untuk dapat bermain, setiap
anak harus berbekal gacuk yang biasanya berupa pecahan genting, yang juga
disebut kreweng. Dalam permainan, kreweng ini ditempatkan di salah satu petak yang
tergambar di tanah dengan cara dilempar. Dan petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak
atau ditempati oleh setiap pemain. Jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya
dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada. Pemain yang terlebih dahulu
menyelesaikan satu putaran, berhak memilih sebuah petak untuk dijadikan “sawah” mereka.
Artinya di petak tersebut (“sawah”) pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak itu
dengan kedua kaki. Untuk pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan.
Peserta yang memiliki kotak paling banyak adalah yang akan memenangkan permainan ini.

D. Manfaat
Permainan sunda manda ini mempunyai manfaat untuk menyehatkan, murah, menyenangkan,
dan mengembangkan kemampuan fisik
1. Aspek Psikomotor: melompat, berjingkat, menjaga keseimbangan, dan akurasi mata
dapat meningkatkan aspek psikomotor anak.
2. Aspek afektif: rasa tolong menolong bagi yang sudah punya sawah dengan membantu
lawan main yang sudah tidak mampu mencapai kotak selanjutnya dengan memberikan
pinjaman “sawah”.
3. Aspek kognitif: meningkatkan pola pikir anak untuk mampu melakukan gerakan dan
menyadari gerak dasar yang dilakukan.

96

E. Solusi
Salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni dengan memasukkan muatan-muatan

kearifan local ke dalam pembelajaran formal di sekolah, dalam hal ini sekaitan dengan
permainan tradisional Sunda. Dengan asumsi bahwa di lingkungan tempat tinggal atau
pergaulan anak sehari-hari sudah jarang yang memainkan permainan tradisional, maka hal ini
perlu dilakukan. Apabila muatan lokal dibawa ke dalam ranah sekolah, secara otomatis anak
akan menerima pengetahuan ini karena pengaturan pembelajaran di sekolah harus diikuti dan
diterima tanpa adanya pilihan-pilihan lain.
F. Ilustrasi Permainan Tradisional Sunda Manda

97

Nama : Tasya Citra Utami

NIM : 2019015154

PERMAINAN TRADISIONAL CAK INGKIK ATAU CAK BLIKAK

A. Latar Belakang

Indonesia memiliki keragaman budaya yang merupakan tradisi warisan nenek
moyang turun menurun dan menjadi milik bersama baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
Salah satunya adalah dolanan anak cak blikak yang biasa orang sebut sebagai permainan
lempar batu. Dolanan anak cak blikak memberikan pelajaran kepada anak bukan hanya
melalui pendidikan formal melainkan dari hal yang sederhana seperti permainan dapat lebih
cepat membantu pengembangan pada pola pikirnya dan membentuk sikap juga strategi yang
bijak.

Cak ingkik atau cak blikak Merupakan permainan tradisional jika di sumatera selatan
permainan ini bernama cak ingking gerpak dengan memiliki arti sebagai permainan meloncat
yang memanfaatkan bidang datar sebagai arena bermainnya, permainan ini umumnya
dimainkan oleh anak perempuan, tetapi tak sedikit pula dimainkan oleh anak laki-laki jika di
kabupaten saya yaitu tepatnya di desa niur kecamatan muara pinang kabupaten empat lawang
sumatera selatan permainan ini bernama “ cak blikak “ Permainan ini pada zaman waktu saya
kecil dimainkan di jam siang menjelang sore dengan anggota yang tidak menentu, bisa
bermain berdua, tiga sampai empat orang, permainan ini diawali dengan hompimpa/suit
terlebih dahulu agar bisa mentukan siapa yang akan memulaipertama.

B. Eksistensi

Melihat kondisi saat ini, tentu sangat upaya yang serius untuk menyelamatkan budaya
yang hampir punah. Zaman sakarang sudah mulai banyak pihak-pihak juga anak-anak yang
peduli terhadap kondisi ini. Terbukti dengan adanya perlombaan- perlombaan permainan,
juga dimainkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga walau secanggih apapun permainan
modern, permainan tradisional diharapkan akan tetap dikenal dan dimainkan oleh anak-anak.
Oleh karena itu, anak-anak zaman sekarang juga dapat mengetahui betapa menyenangkannya
permainan tradisional cak blikak ini.

98

C. Cara Bermain Anakcak Ingkik atau Cak Blikak

Cara bermain cak ingking gerpak ini dimainkan dengan cara melompat dengan satu
kaki pada kotak-kotak yang telah dibuat, pemain diperbolehkan meletakkan kakinya pada
kedua kotak secara bersamaan dalam masing-masing permainan memiliki batu atau pecahan
keramik yang digunakan sebagai alat lempar. Jika pemain melebihi batas kotak yang telah
tersedia atau menginjak garis dan melempar pecahan batu tidak berada di dalam kotak tsb
pemain dinyatakan gugur atau kalah, lalu jika pemain bisa melewati semua kotak dengan
ketentuan yang berlaku pemain di nyatakan menang dan bisa membuat rumah setiap kotak
itu sendiri setelah itu teman yang lain tidak diperbolehkan untuk menginjak rumah yang telah
di bangun dalam kotak tsb atau bisa dengan cara melompati nya.

D. Manfaat

Manfaat permainan tradisional Anakcak Ingkik Atau Cak Blikak :
1. Aspek Psikomotorik: melompat, mengayun, menjaga keseimbangan, dapat meningkatkan

aspek psikomotorik anak.
2. Aspek Afektif: rasa tolong menolong bagi yang sudah mempunyai rumah dengan

membantu lawan main untuk menginjak ssbagian rumah agar bisa lolos ke tahap
selanjutnya.
3. Aspek Kognitif: meningkatkan pola pikir anak agar mampu melakukan gerakan dan
menyadari gerak dasar permainan dalam cak blikak.

E. Solusi

Solusi agar permainan Anakcak Ingkik Atau Cak Blikak dapat selalu eksis dan selalu
dimainkan oleh anak-anak :

Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memasukkan muatan-muatan
kearifan lokal kedalam pembelajaran formal di sekolah, dalam hal ini dikaitkan dengan
permaiann tradisional cak blikak dengan asumsi bahwa lingkungan tempat tinggal atau
pergaulan anak sehari-hari sudah jarang yang memainkan permainan tradisional, maka hal ini
perlu di lakukan guna untuk melestarikan tradisional sampai kapan pun. Apabila muatan lokal
di bawa kedalam lingkungan sekolah, secara otomatis anak akan menerima pengetahuan ini
karena pengaturan pembelajaran di sekolah harus diikuti dan di terima tanpa adanya suatu
penolakan atau ketidaksetujuan, juga lebih memudahkan untuk anak-anak tetap mengingat
dan terus melestarikan permainan cak blikak.

99

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Anakcak Ingkik Atau Cak Blikak
100

Nama : Ade Rahmawati

NIM : 2019015229

PERMAINAN TRADISIOANL LOMPAT TALI

A. Latar Belakang

Permainan tradisional merupakan permainan yang sudah ada sejak dulu. Setiap daerah
mempunyai permainan tradisional yang berbeda-beda dan mempunyai keunikan tersendiri
dalam melestarikannya. Bangka Belitung merupakan salah satu daerah yang masih
melestarikan permainan tradisional. Salah satunya ada beberapa desa di Kecamatan
Tempilang Kabupaten Bangka Barat. Masyarakat dibeberapa desa di kecamatan ini masih
tetap melestarikan permainan tradisional. Salah satu permainan tradisional yang sering
dimainkan adalah permainan lompat tali atau sering disebut permainan karet gelang dan
disebut juga permainan Yeye.

Hal ini dilihat dari kalangan anak-anak di beberapa desa di kecamatan Tempilang
yang masih melakukan permainan tersebut sampai saat ini.Permainan Lompat tali atau
permainan karet gelang adalah sebuah permainan dimana satu orang atau lebih melompati
sebuah tali. Permainan ini menggunakan karet gelang yang dikepang terlebih dahulu
sehingga terbentuklah menjadi sebuah tali. Anak-anak lain secara bergantian melompati tali
dengan ketinggian tali yang semakin bertambah dari mulai sebatas mata kaki, pinggang, dada,
kepala hingga langit-langit. Setiap anak yang bisa melewati semua rintangan maka akan
dinyatakan menang.

B. Eksistensi

Eksistensi permainan lompat tali ini bisa dilihat dari kalangan anak-anak SD di desa-
desa sekitaran Bangka Belitung khususnya kecamatan Tempilang yang masih melakukan
permainan tersebut. Biasanya anak-anak bermain lompat tali diwaktu jam istirahat di sekolah
maupun sore hari menjelang Maghrib. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, permainan
tradisional lompat tali seakan jarang dimainkan oleh para anak-anak karena pengaruh
tekhnologi yang semakin pesat.

101

C. Cara Bermain Permainan Lompat Tali
Ada dua orang yang bertugas sebagai pemegang tali dan lainnya melompati

karet,pemainnya harus melompat tanpa harus menyentuh karet jika pemain menyentuh atau
terjerat karet,maka peserta gagal untuk menang dan harus gantian memegang tali,ketinggian
karet dimulai dari pergelangan kaki sampai kepala,bahkan sampai tangan diangkat.

D. Manfaat
Manfaat dari permainan tradisional lompat tali :
1. Melatih kerja sama tim
2. Melatih kekuatan otot kaki
3. Melatih kekompakan
4. Melatih kesabaran
5. Suportivitas satu tim dengan tim lainnya

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional lompat tali dapat selalu eksis dan selalu dimainkan oleh
anak-anak :
1. Mengenali permainan tradisional lompat tali.
2. Mengajak teman atau anak-anak bermain permainan tradisional lompat tali.
3. Membuat konten permainan tradisional lompat tali.
4. Mengikutsertakan lomba permainan tradisional lompat tali, misalnya pada saat.
5. Memperingati HUT RI dan saat kegiatan di desa.

102

F. Ilustrasi Permainan Tradisioanal Lompat Tali
103

Nama : Aninda Safitri
NIM : 2019015286

PERMAINAN TRADISIONAL GATHENG

A. Latar Belakang
Permainan Gatheng adalah permainan yang menggunakan watu (batu) dengan ukuran

yang tidak terlalu besar sebagai alat utamanya. Batu tersebut disebut sebagai watu gatheng
atau watu cantheng. Permainan ini mirip dengan permainan bekelan. Melihat dari peralatan
yang digunakan, diduga bahwa permainan ini telah ada sejak jaman Mataram (Abad XVII)
Dikisahkan bahwa pada jaman Mataram, putra raja Mataram yaitu Raden Rangga memiliki
alat bermain bernama watu gatheng (batu gatheng) yang luar biasa besarnya. Batu tersebut
hingga saat ini tersimpan dengan baik di Kotagede, Yogyakarta. Batu dengan ukuran besar
tersebut membuktikan kesaktian Raden Rangga.Permainan gatheng merupakan permainan
yang berasal dari Pulau Jawa. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak perempunan
dengan menggunakan batu kerikil sebagai alat mainnya.

B. Eksistensi
Eksistensi permainan gatheng didaerah saya (Tamanmartani, Kalasan, Sleman) sudah

hampir hilang. Pengaruh dari adanya teknologi infromasi yang begitu cepat itu membuat
permainan tradisional tidak dikenal oleh generasi anak-anak zaman sekarang. Anak-anak
lebih senang bermain dengan gadgetnya dan sulit untuk bersosialisasi atau bermain diluar
rumah bersama teman-teman sebayanya.

C. Cara Bermain Permainan Tradisioanl Gatheng
Pemain Gatheng berjumlah 2-5 orang anak dan bersifat perorangan. Gatheng

membutuhkan lima buah batu kerikil sebesar kelereng sebagai alat bermainnya. Tempat
bermain atau disebut kalangan tidak perlu luas, asalkan cukup untuk duduk lima orang
pemain. Terdapat empat macam permainan Gatheng, yaitu Gatheng Gapuk, Gatheng
Tandheng, Gatheng Brojol, Gantheng Rante. Misalkan ada empat orang pemain (A, B, C, D)
mempersiapkan tempat serta kerikil sebanyak lima biji (misal a, b, c, d).

104

Setelah itu mereka melakukan undian untuk menentukan urutan pemain yang terlebih
dahulu main. Kerikil tersebut disebar dan diusahakan agar kerikil tidak ada yang saling
melekat atau berdempetan. Kemudian pemain mengambil salah satu kerikil (misal a) tersebut
dan dilempar ke atas namun tidak terlalu tinggi. Selama kerikil a yang dilempar tersebut
berada di udara, maka pemain mengambil salah satu kerikil b sambil menangkap kerikil a
yang jatuh dari atas. Apabila kerikil a tidak tertangkap maka a tidak boleh meneruskan
bermain atau mati.

Begitu pula jika pada saat mengambil kerikil jari/tangan pemain menyentuh kerikil
lainnya maka juga dianggap mati atau gugur. Tetapi jika berhasil mengambil dan menangkap
kerikil yang dilemparkan tersebut maka pemain tersebut boleh melanjutkan permainan
sampai habis. Begitu seterusnya sampai anak-anak merasa bosan bermain. Permainan ini
memiliki konskuensi atau hukuman bagi pemain yang kalah seperti menyanyi dengan posisi
duduk slonjor (duduk dengan kaki lurus ke depan) dan menutup mata.

D. Manfaat
Manfaat dari permainan tradisional gentheng :
1. Melatih kejujuran.
2. Kompetisi.
3. Sosialisasi dengan orang yang lain.

E. Solusi

Solusi agar permainan tradisional gatheng dapat selalu eksis dan selalu dimainkan oleh anak-
anak:

1. Mengenalkan permainan ini kepada generasi muda.

2. Tetap memainkan permainan gatheng.

3. Membuat permainan ini menjadi lebih menyenangkan.

4. Melakukan sosialisai permainan gatheng.

105

F. Ilustrasi Permainan Tradisioanl Gatheng
106

Nama : Asmoro Adi Prakoso
NIM : 2019015291

PERMAINAN TRADISIONAL PETAK UMPET

A. Latar Belakang
Permainan tradisional adalah permainan yang sudah ada sejak zaman dahulu, biasanya

dalam permainan tradisional memiliki unsur-unsur budaya yang turun menurun dari para
leluhur. Permainan tradisional merupakan bagian dari budaya suatu daerah sehingga harus
tetap dilestarikan, karena budaya merupakan ciri khas dari suatu daerah dan banyak memiliki
sisi positif yang berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya karakter seseorang.

Salah satu permainan tradisional Indonesia yang mulai terlupakan adalah Petak
Umpet. Petak Umpet merupakan permainan tradisional yang banyak dimainkan oleh anak-
anak pada tahun 70-an hingga 90-an. Permainan ini menyenangkan dan banyak memiliki
manfaat untuk anak. Melalui permainan ini anak-anak dapat mengasah ketelitian dan
kepekaan, melatih kesabaran , melatih anak patuh pada peraturan, melatih sportivitas anak
serta membuat anak menjadi lebih kreatif. Sehingga sangat disayangkan jika permainan ini
tidak dimainkan apalagi tidak dikenal oleh anak-anak.

B. Eksistensi
Permainan Petak Umpet saat ini sudah sangat jarang dimainkan oleh anak anak jaman
sekarang, karena dengan adanya perkembangan jaman yang saat ini serba digital. Anak anak
saat ini lebih memilih bermain gadget daripada bermain petak umpet.

C. Cara Bermain Permainan Petak Umpet

1. Sebelum memulai permainan, penjaga harus ditentukan terlebih dahulu dengan cara

hompimpa.

2. Setelah penjaga telah ditentukan, kemudian penjaga menghitung sampai 10 dengan

menghadap ke tembok, tiang, atau pohon.

3. Jika semua sudah bersembunyi, lalu penjaga mencari keberadaan teman lainnya yang

sedang bersembunyi.

4. Jika penjaga mengetahui persembunyian teman, maka penjaga harus cepat-cepat menepuk

tembok, tiang atau pohon dengan menyebutkan namanya. Dan yang tertangkap oleh

penjaga akan berbaris setelah semuanya selesai untuk menentukan siapa yang akan

menjadi penjaga berikutnya. 107

5. Jika ada yang tidak ketahuan oleh penjaga dan berhasil menepuk tembok, tiang atau
pohon, maka tidak akan ikut baris berbaris.

D. Manfaat
Manfaat dari permainan tradisional petak umpet:
1. Fisik
Membantu mengasah keterampilan motorik serta membantu meningkatkan
keseimbangan, kelincahan anak.
2. Sosial
Anak dapat belajar untuk bersosialisasi dengan teman-temannya terutama pada saat
berdiskusi menentukan batas mana saja yang bisa digunakan untuk bersembunyi.
3. Kreativitas
Dapat meningkatkan kreativitas dalam memilih tempat bersembunyi, serta mengenal
bagaimana cara bermain dengan jujur dan adil/ tidak curang.

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional petak umpet dapat selalu eksis dan selalu dimainkan

oleh anak-anak yaitu dengan mengadakan lomba-lomba permainan tradisional dengan hadiah
yang menarik, mungkin bisa menarik minat anak agar bisa bermain permainan tradisonal dan
meninggalkan ketergantungan dengan gadget. Karena permainan tradisional harus dijaga agar
tidak dilupakan.Serta dengan membatasi penggunaan gadget kepada anak, karena dengan
kecanduan bermain gadget anak tidak dapat menikmati masa kanak-kanak dengan bermain
diluar tanpa gadget dengan teman sebayanya.

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Petak Umpet

108

Nama : Galuh Ufi Anggraini

NIM : 2019015292

PERMAINAN TRADISIONAL DAMDAS 16 BATU

A. Latar Belakang
Permainan damdas 16 batu merupakan salah satu jenis permainan tradisional dari

Jakarta atau Betawi. Permainan ini pada umumnya dimainkan oleh anak-anak yang berumur
di atas 9 (sembilan) tahun karena permainan ini memerlukan konsentrasi dan taktik dalam
memainkannya. Permainan ini mengandung unsur ilmu matematika seperti perhitungan,
perkalian, pengurangan, dan penjumlahan. Permainan ini dimainkan oleh dua orang dengan
menggunakan batu dan sebuah papan. Masing-masing pemain menyediakan batu sebanyak
16 buah, batu-batu itu diupayakan besarnya sama, jika tidak ada batu bisa digantikan dengan
potongan genteng yang dibentuk atau menggunakan biji-bijian atau kulit kerang yang
terpenting dari batu atau biji-bijian tersebut antara satu pemain dengan pemain lawan harus
berbeda.

B. Eksistensi
Pada zaman dulu, permainan tradisional menjadi rutinitas anak-anak dalam mengisi

kekosongan waktu sehingga mereka bermain bersama. Hal tersebut rupanya berbeda dengan
kondisi sekarang. Kemajuan teknologi saat ini membuat permainan tradisional mulai tidak
diminati oleh sebagian anak-anak. Padahal permainan tradisional mengandung banyak sekali
makna yang dapat dimanfaatkan oleh anak dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

C. Cara Bermain Permainan Damdas 16 Batu
Langkah pertama, kedua pemain meletakkan batu sesuai dengan titik yang telah

disediakan dan melakukan suit atau suten untuk menentukan urutan pemain.Langkah kedua,
pemain yang menang suten melangkahkan satu batu ke garis depan sebanyak satu langkah,
dan kemudian diikuti oleh pemain kedua dan mengikuti gerakan pemain pertama hingga
selesai. Pemain dapat saling memakan batu lawan, yaitu dengan cara memindahkan batu
melewati batu lawan ke arah depan, samping, atau serong.

Pemindahan batu tersebut dilakukan jika tidak ada batu lain yang menghalanginya dan
terdapat ruang kosong untuk melewatinya. Apabila batu pemain kedua dimakan batu pemain
pertama, maka batu pemain kedua diambil dari tempatnya dan menjadi milik pemain pertama.
Pemain dapat memakan batu lawan lebih dari satu batu jika posisi lawan terletak di antara

109

dua titik kosong atau lebih dalam satu garis lurus. Pemain dianggap berbuat kesalahan jika
tidak memakan batu lawan padahal ada kesempatan untuk memakannya.

Lawan bermain segera mengatakan DAM jika mengetahui kesalahan itu. Setelah
mengatakan dam, ia berhak mengambil tiga buah batu lawan untuk menjadi miliknya. Setiap
pemain harus berusaha agar batu-batu itu berpindah dan mencapai gunungan atau segitiga
sama sisi. Batu yang telah sampai di gunungan lawan atau daerah segitiga sama sisi disebut
BATU RAJA. Akan tetapi, kemenangan harus diperoleh dengan cara yang baik dan benar.

Pemain dinyatakan kalah jika batunya habis dimakan oleh batu lawan atau
menyatakan menyerah. Pada saat bermain, usahakan bersikap jujur dan mau menerima
kekalahan. Taktik dan strategi pada saat bermain memang perlu dikembangkan agar para
pemain lebih aktif dan kreatif serta berusaha untuk menang.

D. Manfaat
Manfaat dari permainan tradisional damdas 16 batu:
1. Melatih Kesabaran

Ketika bermain damdas, ada waktu di mana kita diharuskan untuk menunggu lawan
berpikir untuk menggerakkan pionnya. Rentang lamanya pun bervariasi, ada lawan yang
membutuhkan waktu cukup cepat dalam berpikir, namun ada pula yang membutuhkan
beberapa waktu untuk melakukan giliran. Hal ini dimaksudkan untuk melatih kesabaran
dari anak untuk menunggu gilirannya kembali.

2. Melatih Kecerdikan dan Kecermatan
Dalam permainan ini, kecerdikan dan kecermatan dalam menangkap peluang atau

menentukan pion mana yang harus digerakkan sangatlah penting. Selain itu, ke arah mana
pion harus digeser juga akan memberikan pengaruh pada keberlanjutan permainan. Anak
harus menyusun strategi bertahan agar pionnya tidak "dimakan" pion lawan, atau agar
dapat bergerak hingga daerah yang dituju. Di sisi lain, anak juga dapat bergerak untuk
menyerang pion lawan dan membuat peluang supaya bisa "memakan" pion lawan. Hal ini
tentu membutuhkan kecerdikan dan kecermatan yang tinggi.
3. Mengajarkan Bahwa Semua Manusia Sama

Damdas menggunakan pion-pion yang serupa dan memiliki kesempatan yang
sama untuk bergerak maju, ke samping, serong (diagonal), atau mundur. Dari segi
filosofisnya, hal ini dapat mengajarkan pada anak bahwa setiap orang sejatinya sama di
mata Tuhan dan memiliki kesempatan yang sama pula untuk berkembang, tergantung
pada jalan mana yang dipilih.

110

4. Melatih Untuk Berani Mengambil Resiko
Pada setiap langkah dalam permainan damdas, ada resiko pion akan dimakan oleh

pion lawan. Hal ini mengajarkan pada anak bahwa untuk mencapai tujuan ada langkah-
langkah yang harus diambil dan setiap langkah yang kita pilih pasti akan ada resiko yang
harus diterima. Resiko-resiko ini dapat berdampak negatif, misalnya pion sendiri dimakan
oleh pion lawan, maupun dampak positif seperti pion kita berhasil sampai pada ujung
segitiga lawan atau dapat memakan pion lawan.
5. Mengajarkan Nilai Gotong Royong

Melalui permainan ini, anak juga dapat diajarkan bahwa untuk mencapai sebuah
tujuan tidak bisa dilakukan sendiri, namun tetap membutuhkan bantuan orang lain di
sekitar kita. Poin ini ditunjukkan dengan sejumlah pion yang bersama-sama bergerak
untuk dapat memenangkan pertandingan.

6. Mengenalkan Konsep Bangun Datar

Selain mengajarkan nilai-nilai kehidupan, anak juga dapat diajak belajar
matematika sambil bermain damdas. Melalui bentuk petak permainan damdas, anak dapat
diajak untuk mengenal bentuk-bentuk bangun datar seperti segitiga, persegi atau persegi
panjang. Anugerah (2018) dalam penelitiannya juga membuktikan bahwa permainan
damdas (dam-daman) dapat digunakan dalam membantu mengenalkan konsep luas
daerah persegi bagi murid kelas 4 SD di daerah Tasikmalaya. Metode tersebut terbukti
efektif dalam mengatasi hambatan belajar siswa dalam memahami materi konsep luas
persegi.

7. Membantu Mencegah Demensia
Selain bagi anak, permainan damdas juga dapat memberikan manfaat bagi lansia

yakni mencegah demensia. Demensia merupakan penyakit yang umum diderita oleh
lansia dan disebabkan oleh penurunan fungsi kognitif. Penelitian oleh Romadhon (2016)
pada 20 orang lansia di Kediri menunjukkan bahwa dengan bermain damdas (dam-
daman) dapat membantu melatih fungsi kognitif dan daya ingat pada lansia, sehingga
dapat mencegah terjadinya demensia.

E. Solusi
Menyelenggarakan event permainan tradisional dimana tidak hanya anak-anak yang

ikut berpartisipasi melainkan orangtua juga ikut. Membangun komunitas untuk mengenalkan
lagi permainan tradisional ke anak-anak. Agar meraka dapat merasakan yang dulu pernah kita
nikmati kepada generasi sekarang, agar mereka juga merasakan kesenangan seperti kita dulu

111

saat anak-anak. memainkan permainan tradisional yang satu ini? Yuk, ikut melestarikan
permainan tradisional Indonesia! Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!
F. Ilustrasi Permainan Tradisional Damdas 16 Batu

112

Nama : Andriyanto
NIM : 2019015295

PERMAINAN TRADISIONAL SONTOKAN

A. Latar Belakang
Sampai saat ini belum ada penelitian mengenai permainan sontokan ini. Akan tetapi

pada zaman dahulu permainan sontokan ini sangat popular terutama pada anak laki-laki.
Dibuat permainan ini yaitu dengan tujuan bersenang-senang dan mengisi waktu luang.
Bahan dari sontokan ini mudah dicari yaitu dengan menggunakan bambu kecil kemudian
pelurunya menggunakan kertas dibuat bola kecil-kecil dengan dibasahi menggunakan air.

B. Eksistensi
Permainan sontokan ini sekarang sudah tidak ditemui didaerah tempat tinggal saya.

Karena anak-anak lebih memilih bermain tembak-tembakan melalui game online. Sehingga
anak-anak jarang bersosialisasi dengan teman-teman seusianya. Seiring perkembangan
teknologi ini, permainan sontokan telah dilupakan oleh anak generasi Z (anak yang lahir
antara tahun 1996-2010). Mereka dan generasi diatasnya tidak mengenalkan permainan
tersebut ke generasi dibawahnya (Generasi Alpha). Generasi Alpha adalah anak yang lahir
antara tahun 2010-2025, mereka kebanyakan tidak mengetahui permainan sontokan ini,
maka dari itu generasi diatasnya perlu mengenalkan permainan sontokan kepada anak
generasi Alpha supaya permainan ini tetap ada dan tetap lestari.

C. Cara Bermain Sontokan
1. Dibagi menjadi 2 kelompok
2. Kemudian saling bersembunyi, sambil mencari target
3. Apabila melihat musuh maka saling menembak dengan catatan hanya boleh mengenai
tubuh/ dilarang mengenai bagian kepala, yang terkena tembakan dianggap kalah
4. Permainan ini dimenangkan oleh sisa anggota terbanyak.

113

Permainan ini bisa dimainkan dengan cara berbeda-beda, adapula yang
memainkannya dengan menembak botol minuman. Peluru yang mengenai botol sampai
terjatuh akan mendapatkan point dan yang mendapatkan point terbanyak adalah
pemenangnya.

D. Manfaat
Manfaat dari permainan tradisional sontokan :

1. Melatih focus untuk anak-anak

2. Mengajarkan anak untuk mengontrol emosi

3. Sosialisasi lebih banyak

4. Anak lebih kreatif

5. Mampu bekerjasama dalam tim

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional Sontokan dapat selalu eksis dan selalu dimainkan oleh
anak-anak :

1. Dengan memperkenalkan permainan tradisional supaya mereka tertarik untuk bermain.
Ini merupakan hal yang dapat dilakukan agar permainan tradisional bisa dipertahankan
yaitu memperkenalkannya kembali kepada anak-anak.

2. Mengajak anak-anak seusianya untuk membuat alat sontokan yang lebih menarik
sehingga membuat anak-anak tertarik. Bisa dengan memberi hiasan pada bamboo
sontokan maupun menambahkan asessoris seperti pita dan lain-lain.

3. Apabila di sekolah dasar, guru dapat memberikan tugas pada mata pelajaran
keterampilan, yaitu membuat aneka permainan tradisional, setiap anak tidak boleh sama
permainannya, sehingga mereka dapat mengetahui beraneka ragam permainan
tradisional. Guru kelas dapat berkolaborasi dengan guru olahraga. Pada saat jam
olahraga setiap siswa mempresentasikan permainan tradisional tersebut satu persatu
kemudian mengajak siswa lainnya untuk mencoba bermain bersama. Hal tersebut siswa
akan mengenal macam-macam permainan tradisional, sehingga permainan tradisional
akan tetap lestari.

114

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Sontokan
115

Nama : A’yun Nur Sakinah
NIM : 2019015301

PERMAINAN TRADISIONAL EGRANG

A. Latar Belakang

Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara pasti
dari mana asalnya. Beberapa peneliti mengatakan bahwa permainan Egrang merupakan
permainan tradisional yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan permainan ini
mendapat pengaruh dari budaya China. Permainan Egrang diwariskan secara turun temurun
dari generasi ke generasi.

Nama Egrang diambil dari bahasa Lampung yang artinya Terompah Pancung, karena
mainan ini dibuat dari bambu panjang berbentuk bulat. Adapun nama Egrang sendiri
merujuk pada mainan yang terbuat dari dua bilah bambu dengan dua bambu tambahan untuk
penyangga kaki dibagian bawahnya. Permainan ini membutuhkan lahan kosong yang cukup
luas, pemain yang cukup banyak dan mengandalkan kejasama tim. Dalam penamaan Egrang
di setiap daerah itu berbeda-beda. Di Kalimantan permainan ini disebut dengan Batungkau,
di Jawa Tengah disebut dengan Jangkungan, di Bengkulu disebut dengan Ingkau, dan di
Sumatera Barat disebut dengan Tengkak-tengkak.

Egrang merupakan permainan yang cukup sulit dilakukan oleh orang yang masih
awam, karena permainan ini membutuhkan keseimbangan tubuh dalam memainkannya.
Mengapa bisa begitu, karena pemain harus berusaha menyeimbangkan berat badan dan
tinggi tubuhnya dalam pijakan dua batang bambu atau kayu yang menopang kedua kakinya
untuk berjalan.

B. Eksistensi

Keberadaan permainan tradisional Egrang terlihat sudah jarang ditemui di daerah

tempat tinggal saya. Hal tersebut terjadi dikarenakan masuknya modernisasi yang membuat

pudarnya minat generasi muda dan anak-anak untuk memainkannya. Mereka lebih memilih

bermain smartphone daripada bermain permainan tradisional.

116

C. Cara Bermain Egrang
1. Menyiapkan Egrang
2. Menegakkan Egrang dan sedikit condong ke depan.
3. Posisikan Egrang tidak sejajar. Salah satu kaki Egrang harus di depan dan satunya di
belakang.
4. Mulai menginjakkan salah satu kaki pada pijakan Egrang diikuti kaki satunya.
5. Mula berjalan ditempat dan jangan berhenti jika tidak yakin pada posisi seimbang.
6. Jika merasa akan terjatuh, jatuhkan kaki diantara Egrang.
7. Usahakan bermain di tempat yang luas.

D. Manfaat
Manfaat dari permainan tradisional Egrang :
1. Melatih keseimbangan tubuh.
2. Melatih kekuatan tangan dan kaki.
3. Melatih kelincahan dan ketepatan.
4. Meningkatkan koordinasi mata, tangan, dan kaki.

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional Egrang dapat selalu eksis dan selalu dimainkan oleh
anak-anak :
1. Hendaknya masyarakat memberikan dukungan penuh terhadap permainan tradisional
Egrang sehingga egrang dapat kembali dimainkan.
2. Mengenalkan kembali kepada anak tentang permainan teradisional Egrang dengan
mengintegrasikan kedalam mata pelajaran seperti olahraga.
3. Membuat permainan tradisional Egrang menjadi lebih menarik.
4. Mengadakan sebuah pelatihan tentang permainan tradisional Egrang.
5. Membangun komunitas di lingkungan terdekat.
6. Membatasi porsi teknologi canggih kepada anak-anak terlalu dini.

117

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Egrang
118

Nama : Andhin Arofah
NIM : 2019015305

PERMAINAN TRADISIONAL JET-JETAN (BETENGAN)

A. Latar Belakang

Seiring berjalannya waktu, permainan tradisional kini semakin ditinggalkan oleh
masyarakat di Indonesia. Adanya arus globalisasi yang berkembang pesat menjadikann
teknologi juga ikut berkembang dengan cepat. Munculnya permainan elektronik seperti play
station, mobil remot, robot-robotan dianggap lebih menarik serta lebih variatif. Tidak hanya
itu, TV, handphone, serta internet membuat masyarakat khususnya anak- anak lebih senang
duduk dan melihat didepan layar daripada bermain diluar bersama teman seusianya. Tidak
heran jika anak-anak jaman sekarang semakin miskin akan pengalaman dalam bermain
permainan tradisional.

Permainan tradisional merupakan salah satu bagian dari olahraga rekreasi. Olahraga
tersebut merupakan olahraga yang dilakukan oleh masyarakat dengan kegemaran serta
kemampuan tumbuh kembangnya sesuai dengan kondisi dan nilai budaya pada daerah
setempat yang memiliki manfaat untuk kesehatan, kebugaran, serta kegembiraan.

Salah satu permainan tradisional yang sering dimainkan di daerah saya adalah “Jet-
Jetan” atau bisa disebut juga dengan “Betengan”. Betengan atau Jet-jetan merupakan
permainan yang dimainkan oleh dua kelompok yang masing-masing kelompoknya harus
genap bisa terdiri dari 4 sampai 10 orang. Inti dari permainan ini yaitu menjaga benteng dari
serangan musuh. Benteng yang dipakai bisa berupa tembok, tiang, atau pohon.

Dalam bermain Jet-jetan, setiap anggota kelompok memiliki peran serta tugasnya

masing-masing, ada yang menjadi penyerang, pemain bertahan, pengecoh, dan yang

bertugas sebagai mata-mata lawan. Pihak penyerang harus berusaha mencari celah agar bisa

segera menyentuh benteng lawan, pemain bertahan atau penjaga yang bertugas harus

menjaga bentengnya sendiri agar tidak disentuh oleh pihak lawan, pengecoh yang bertugas
harus bisa memancing lawan untuk keluar dari area aman, dan mata –mata harus bisa

mengawasi lawan yang sudah lama tidak menyentuh benteng. Kelompok yang bisa

menyentuh benteng lawan itulah yang dianggap sebagai pemenang dari permainan

119

tersebut. Kemenangan juga bisa diraih dengan cara menangkap semua anggota lawan
dengan menyentuh bagian tubuh mereka misalnya lengan tangan, telapak tangan, punggung,
dan lain-lain.

B. Eksistensi
Keberadaan permainan tradisional Jet-jetan saat ini sudah jarang dimainkan didaerah tempat
tinggal saya. Hal tersebut dikarenakan anak-anak di daerah saya lebih sering bermain
smartphone dibanding bermain Jet-jetan ini.

C. Cara bermain Jet-jetan

1. Permainan ini dimulai dengan dua kelompok yang masing - masing terdiri dari 4 sampai
dengan 8 orang.

2. Selanjutnya masing - masing kelompok memilih tiang atau pilar sebagai “benteng /
markas”. Disekitar benteng tersebut terdapat area aman untuk kelompok yang memiliki
tiang atau pilar tersebut. Bila berada di area aman, mereka tidak perlu takut terkena
lawan.

3. Para anggota kelompok akan berusaha menyentuh lawan dan membuatnya “tertawan

/tertangkap”.

4. Pemain harus sering kembali dan menyentuh bentengnya karena “penawan” dan yang
“tertawan” ditentukan dari waktu terakhir menyentuh “benteng”, Orang yang paling
dekat waktunya menyentuh benteng berhak menjadi “penawan”. Mereka bisa mengejar
dan menyentuh anggota lawan untuk menjadikan tawanan.

5. Pemenangnya adalah kelompok yang dapat menyentuh tiang atau pilar lawan dan
meneriakan kata “benteng”.

D. Manfaat 120
Manfaat dari permainan tradisional jet-jetan :
1. Anak bisa belajar untuk bersikap sportif dan pantang menyerah

2. Melatih kecepatan dan kelincahan dalam berlari

3. Memupuk sikap kerjasama dan kekompakan dalam kelompok

4. Meningkatkan daya tahan tubuh karena permainan ini bisa melatih fisik dan sama
seperti berolahraga

5. Menjadikan anak lebih aktif bergerak

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional Jet-jetan dapat selalu eksis dan selalu dimainkan oleh
anak-anak :
1. Perlu adanya perhatian khusus dari berbagai pihak guna mempertahankan keberadaan
serta keberlangsungan pada permainan tradisional khusunya permainan Betengan atau
Jet-jetan ini.
2. Sosialisasi serta pelestarian permainan tradisional ini perlu dilaksanakan sebab
permainan tradisional merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia serta
sebagai sarana bagi anak untuk mendapatkan pengalaman gerak yang bermanfaat bagi
tumbuh kembangnya.
3. Anak perlu dikenalkan kembali tentang permainan jet-jetan dan biasakan anak tersebut
untuk tidak diberikan teknologi yang canggih seperti smartphone dan digantikan dengan
permainan tradisional yang lebih banyak manfaatnya.

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Jet-Jetan

121

Nama : Ranna Fradita Sari
NIM : 2019015307

PERMAINAN TRADISIONAL BEKELAN

A. Latar Belakang
Permainan Bola Bekel atau Bekelan merupakan permainan tradisional yang

mendapat pengaruh dari budaya Belanda, sebab kata Bekel sendiri berasal dari bahasa
Belanda, yaitu Bikkelspel atau Bikkelen. Permainan bekel yang awal mulanya berasal dari
tanah Jawa ini merupakan permainan tradisional yang cukup populer di Indonesia. Hal ini
dibuktikan dengan menyebarnya permainan bekel di berbagai daerah di Indonesia sebagai
media permainan dengan berbagai variasi.

Dibalik permainan terkandung makna filosofis menurut adat Jawa yang
mempercayai bahwa bola bekel adalah simbol hubungan manusia dengan Tuhan dan
manusia dengan sesama manusia. Dengan peraturan permainan yang melempar bola bolak-
balik dalam urutan 1-5 mengartikan bahwa permainan ini memuat 5 pesan, di antaranya:
1. Bahwa manusia harus memiliki iman kepada Tuhan yang diletakkan sebagai tujuan

utama hidup
2. Bahwa manusia itu pada dasarnya makhluk yang suci lahir batin
3. Bahwa manusia mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk
4. Bahwa manusia harus menjaga hubungan antarsesama
5. Barang siapa yang menjalankan perintah Tuhan dan menghindari larangan-Nya akan

hidup sejahtera
Permainan bola bekel bisa di mainkan sendirian, bisa juga lebih dari 2 orang.

Permainan bola bekel bisa dilakukan bergilir antar pemain. Gilirannya bisa ditentukan
dengan suit atau hompimpa. Bola bekel terbuat dari karet dan beberapa biji bekel. Biji bekel
biasa disebut dengan kuwuk atau Kecik. Biji bekel berjumlah 5 sampai 12 biji.

122

B. Eksistensi

Permainan tradisional memiliki konsep permainan yang sederhana dan mendidik
untuk anak-anak. Tetapi sekarang ini permainan tradisional sudah jarang dimainkan. Sesuai
dengan perkembangan teknologi pada masa sekarang kebanyakan anak zaman sekarang
lebih memilih bermain gadget selain itu anak zaman sekarang juga lebih memilih tempat
bermain yang indah seperti Mall dan Cafe, sehingga anak zaman sekarang tidak mengenal
jenis-jenis permainan tradisional. Hal ini tentu betdampak pada permainan tradisional yang
mulai kehilangan eksistensinya sebagai media hiburan pada masa yang lalu. Oleh karena itu,
peran penting kita sebagai calon guru perlu mengembangkan untuk membantu melestarikan
permainan tradisional yang ada.

C. Cara Bermain Bekelan

a. Siapkan 1 bola bekel dan 5 buah Kecik/ Biji Bekel. Sebelum bermain, pemain terlebih
dahulu melakukan pengundian dengan hompipa. Pemain yang menang akan mendapat
giliran pertama.

b. Permainan dilakukan dengan melambungkan bola bekel kemudian mengebyar kecik ke
tanah/ lantai dan menangkap kembali bola bekel yang melambung ke udara setelah 1kali
pantulan. Pada permainan bola bekel, bola hanya diperbolehkan mantul 1 kali, apabila
lebih dari satu kali di anggap gugur dan dilanjutkan dengan pemain berikutnya.

c. Pada babak pertama, Kecik yang telah digebyar sebelumnya diambil satu persatu dengan
tetap memantulkan bola bekel, setelah pengambilan kecik yang terakhir atau ke Lima,
kecik digebyar kemudian dirawut lagi dengan satu pantulan bola. Setelah itu digebyar
lagi, kemudian di ambil 2 Kecik 2 Kecik, walaupun sisa 1 harus tetap diambil. Setelah itu
dilanjutkan pengambilan 3 Kecik, 4 Kecik sampai dengan 5 Kecik kemudian digebyar
lagi.

d. Babak Kedua, kecik yang sudah digebyar diubah posisinya menjadi bentuk Pit
langkahnya seperti pada babak pertama. Setelah semuanya berubah menjadi bentuk Pit,
racikan diambil satu persatu dengan satu kali pantulan bola, hingga pit diambil 5, caranya
sama seperti pada saat mengubah bentuk kecik menjadi bentuk Pit.

123

e. Babak Ketiga, Kecik yang sudah digebyar diubah posisinya menjadi bentuk Ro
langkahnya seperti pada babak pertama. Setelah semuanya berubah menjadi bentuk RO,
racikan diambil satu persatu dengan satu kali pantulan bola, hingga Ro diambil 5, caranya
sama seperti pada saat mengubah bentuk kecik menjadi bentuk Ro.

f. Babak Keempat, Kecik yang sudah digebyar diubah posisinya menjadi bentuk Lus
langkahnya seperti pada babak pertama. Setelah semuanya berubah menjadi bentuk Lus,
racikan diambil satu persatu dengan satu kali pantulan bola, hingga Lus diambil 5,
caranya sama seperti pada saat mengubah bentuk kecik menjadi bentuk Lus.

g. Babak Kelima, Kecik yang sudah digebyar diubah posisinya menjadi bentuk S
langkahnya seperti pada babak pertama. Setelah semuanya berubah menjadi bentuk S,
racikan diambil satu persatu dengan satu kali pantulan bola, hingga S diambil 5, caranya
sama seperti pada saat mengubah bentuk kecik menjadi bentuk S.

h. Dalam permainan Bola Bekel dianggap gugur atau kalah, apabila melakukan
pelanggaran, seperti, bola memantul 2x, racikan yang diambil terjatuh, dan ketika
mengambil racikan, tangan menyentuh racikan yang tidak diambil atau racikan di
sebelahnya.

D. Manfaat

Manfaat permainan tradisional bekelan :

a. Melatih koordinasi visual motorik anak, yaitu koordinasi antara kejelian mata dan
kecepatan serta ketepatan tangan saat melambungkan bola, menangkap kecik/ biji bekel
dan meraih atau menangkap bola kembali.

b. Melatih konsentrasi anak

c. Meningkatkan kemampuan kontrol jari-jari dan tangan

d. Kemampuan mempertahankan posisi tubuh

e. Menambah perkembangan kognitif anak karena di dalam permainan bekelan terdapar
unsur matematika, yaitu pembagian, penambahan, pengurangan dan pengelompokkan
sejenis.

124

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional Bekelan dapat selalu eksis dan selalu dimainkan oleh
anak-anak :
a. Mengenalkan kembali kepada anak-anak tentang permainan tradisional. Ajaklah anak
dan lingkungan terdekat untuk bermain permainan tradisional seperti bermain permainan
bekelan. Bisa juga mengadakan lomba-lomba permainan tradisional baik di lingkungan
sekolah ataupun di lingkungan masyarakat.
b. Membuat permainan tradisional menjadi lebih menarik. Sebagai generasu yang masih
peduli, kita bisa mnegubah permainan tersebut menjadi lebih menarik. Misalnya,
mengajak anak-anak bermain permainan tradisional dan menyediakan hadiah bagi
yangbanyak memenangkan permainan.
c. Mengadakan komunitas di lingkungan terdekat. Membentuk komunitas yang sama-
sama menyukai kesenian tradisional dan khususnya permainan tardisional akan
meningkatkan frekuensi dan kualitas permainan tradisional.
d. Jangan memperkenalkan teknologi yang canggih kepada anak-anak terlalu dini, karena
anak-anak akan ketagihan dengan teknologi yang canggih dan instan. Jangan gegabah
memberikan atau mengenalkan permainan yang kurang menguntungkan bagi anak.
Lebih baik mengajak anak berkreasi dengan membuat permainan sendiri. Seperti
membuat permainan dari kertas.

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Bekelan

125

Nama : Dian Mareta Putri
NIM : 2019015309

PERMAINAN TRADISIONAL GALIMPONG

A. Latar Belakang
Galimpong merupakan sebutan permainan dari Palembang yang berarti permainan

lempar sandal. Nama permainan ini berbeda-beda di satu daerah dengan daerah yang lain.
Permainan lempar sandal merupakan permainan anak-anak Indonesia. Lempar sandal adalah
permainan sederhana dengan bahan atau alat yang dimainkan adalah sandal. Disini
diperlukan empat buah sandal, tiga buah sandal disusun seperti pada gambar diatas, dan satu
buah digunakan untuk melempar sandal yang tersusun tersebut dan juga melempar pemain.

B. Eksistensi
Tak hanya ada di kalangan masyarakat Betawi saja, permainan ini juga ada di

kebudayaan daerah lainnya di Indonesia. Nama permainan ini berbeda-beda di satu daerah
dengan daerah yang lain. Permainan ini dulunya dilakukan anak untuk bermain mengisi
waktu luang sepulang sekolah, hari libur, maupun malam hari. Permainan ini sangat
digemari oleh anak-anak khususnya bagi anak laki-laki.

C. Cara Bermain Galimpong
Permainan galimpong terdiri dari atas 2 tim, dimana ada tim penjaga dan tim

penyusun. Lempar sandal ini melatih kerja sama yang baik. Tim penjaga harus melempar
sandar kearah tim penyusun agar tidak bisa menyusun sendal, sedangkan tim penyusun harus
mengatur strategi agar bisa menyusun sendal dan terhindar dari lemparan dari tim pelempar.

126

D. Manfaat
Manfaat dari permainan tradisional Galimpong:
1. Manfaat yang diperoleh dari permainan ini adalah membiasakan anak untuk
berkomunikasi dengan teman-teman yang ada di lingkungan sekitar.
2. Melatih anak untuk belajar kerjasama, dengan melalu permainan tradisional juga bisa
memberikan anak untuk belajar kerjasama dengan teman-temannya.
3. Anak juga dibiasakan untuk aktif menggerakkan badan mereka agar kesehatan fisiknya
pun terjaga.

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional Galimpong dapat selalu eksis dan selalu dimainkan oleh
anak-anak :
4. Mengenalkan kembali kepada anak tentang permainan tradisional.
5. Membuat permainan tradisional menjadi lebih menarik dan menyediakan hadiah bagi
yang memenangkan permainan.
6. Membuat komunitas di lingkungan sekitar yang menyukai kesenian tradisional dan
khususnya permainan tradisional akan meningkatkan frekuensi dan kualitas permainan
tradisional.

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Galimpong

127

Nama : Tasya Amara Nurul Azmi
NIM : 2019015316

PERMAINAN TRADISIONAL PETAK JONGKOK/ CANDAK NDODOK

A. Latar Belakang

Anak-anak zaman dahulu lebih akrab dengan permainan tradisional yang dimainkan
secara langsung dan bersama-sama. Salah satu permainan yang sering menjadi pilihan adalah
permainan petak jongkok. Permainan petak jongkok adalah permainan yang dilakukan
dengan berjongkok untuk menghindari pengejar. Permainan tradisional petak jongkok
memiliki nama yang bermacam-macam. Di beberapa daerah, kadang disebutnya Tap
Jongkok, ada juga yang menyebutnya Candak Ndodok. Namun ada pula disebutnya
Litunggrak atau Dodokan. Petak Jongkok atau Tap Jongkok adalah salah satu permainan
tradisional Indonesia yang tidak membutuhkan banyak peralatan untuk memulainya. Bahkan
permaian ini bisa dimulai di mana saja tanpa persiapan apapun. Permainan candak ndodok ini
berasal dari daerah Jawa Timur. Dan permainan seperti ini yang selalu dimainkan olek anak-
anak ketika mereka libur sekolah atau pada waktu anak-anak SD istirahat menunggu bel
masuk kelas. Dalam permainan candak ndodok ini para pemain hanya membutuhkan
lapangan yang luas yang berbentuk persegi panjang.

B. Eksistensi

Mengingat zaman semakin maju, sekarang ini banyak sekali bermuculan permainan

anak yang beraneka ragam. Seiring dengan kemajuan tersebut membawa dampak terkikisnya

aneka permainan kecil/permainan tradisional, kalaupun ada sedikit sekali yang

memainkannya. Perlu bagi kita untuk melestarikannya, mengingat bahwa itu semua adalah

bagian tradisi peninggalan dari nenek moyang kita. Disamping untuk melestarikan budaya

nenek moyang, permainan kecil perlu dilestarikan karena memberikan banyak manfaat

edukatif bagi anak. Bermain sangat signifikan dengan perkembangan anak secara fisik, sosial,

emosional, dan kognitif. Permainan Petak Jongkok dapat mengarahkan aktivitas kepada

kecepatan, kelincahan, ketangkasan, dan sebagainya yang memadupadankan antara

intelektual dan kekreatifan.

128

C. Cara Bermain Petak Jongkok atau Candak Ndodok

1. Permainan petak jongkok dimainkan oleh minimal 5 orang, tetapi semakin banyak pemain
akan semakin seru.

2. Sebelum bermain dilakukan hompimpa terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang
menjadi pengejar atau penjaga dan siapa yang dikejar.

3. Pemain yang tidak menjadi penjaga harus berlari menghindari yang jaga.
4. Agar tidak tersentuh, pemain harus jongkok secepat mungkin.
5. Pemain yang sudah jongkok tidak boleh disentuh oleh penjaga.
6. Jika pemain tersentuh oleh penjaga sebelum jongkok, dia menjadi penjaga berikutnya.
7. Pemain yang tidak jaga bisa membangunkan pemain lain yang sedang jongkok dengan

cara menyentuhnya.
8. Jika seluruh pemain jongkok, ada salah satu yang mengambil aba-aba untuk

membangunkan semuanya.
9. Pemain terakhir yang jongkok dan terlambat bangun nantinya akan menjadi penjaga di

ronde selanjutnya.

D. Manfaat

Manfaat daripermainan tradisional petak jongkok atau candak ndodok antara lain:

1. Menumbuhkan Kreativitas

Permainan petak jongkok tidak memiliki aturan tertulis, sehingga para pemain dapat
membuat aturannya sendiri sesuai dengan kreativitas masing-masing dan keadaan
lingkungan sekitar.

2. Melatih Ketangkasan

Ketangkasan berarti kecepatan atau kecekatan. Hal ini sangat diperlukan saat bermain petak
jongkok. Penjaga membutuhkan ketangkasan untuk mengejar pemain, sedangkan para
pemain yang tidak berjaga harus tangkas dalam menghindari si penjaga.

Jika sering dimainkan, ketangkasan itu akan terlatih dan bisa dimanfaatkan untuk menjalani
aktivitas sehari-hari yang membutuhkan kecepatan dan kecekatan dalam mengerjakannya.

129

3. Melatih Sportivitas
Sama seperti permainan lainnya, permainan tradisional juga dapat melatih sportivitas para
pemainnya. Mereka harus sportif, jujur, dan tidak berbuat curang saat memainkannya. Yang
kalah harus mengaku kalah, dan yang menang harus menang tanpa ada kecurangan.

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional petak jongkok atau candak ndodok dapat selalu eksis
dimainkan oleh anak – anak diantaranya:
1. Memperkenalkannya kembali kepada anak tentang permainan tradisional petak jongkok.
Ini merupakan hal pertama yang kita lakukan agar permainan tradisional ini bisa
dipertahankan yaitu memperkenalkannya kembali kepada anak-anak. Kita bisa
melakukannya melalui kegiatan-kegiatan lomba baik di lingkungan sekolah ataupun di
lingkungan tempat tinggal mereka.
2. Mengadakan workshop pelatihan permainan tradisional. Kita adakan sebuah latihan dan
mengajarkan kepada anak-anak baik di sekolah-sekolah maupun di daerah mereka tinggal
serta melatih semua permainan tersebut kepada anak-anak agar bisa terus dilestarikan dan
seterusnya bisa dikembangkan kembali.

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Petak Jongkok Atau Candak Ndodok

130

Nama : Miftach Syal Syabilla
NIM : 2019015310

PERMAINAN TRADISIONAL CONGKLAK/DAKON

A. Latar Belakang
Congklak merupakan permainan yang berasal dari kebudayaan kuno timur tengah dan

diperkirakan ada sejak 7000 hingga 5000 SM. Saat masuk ke Indonesia, permainan ini sering
dimainkan oleh anak para bangsawan yang sering bertemu dengan para pedang. Di Timur
Tengah, permainan ini disebut dengan Mancala yang berarti bergerak. Sedangkan di Indonesia
lebih sering disebut dengan congklak atau dakon, khususnya bagi masyarakat Jawa. Berbeda
bagi masyarakat Sumatera, permainan ini dikenal dengan sebutan Congkak, Dentuman
Lamban di Lampung, dan Makaotan, Maggaleceng, atau Aggalacang bagi masyarakat
Sulawesi.

B. Eksistensi
Permainan congklak populer dan banyak dimainkan oleh masyarakat Jawa pada zaman

dulu. Biasanya permainan congklak dimainkan oleh dua orang pemain. Meskipun begitu,
biasanya anak-anak lainnya yang tidak bermain ikut berkumpul dan menonton permainan ini.
Tentu ini memberikan hiburan yang asik dan menyenangkan pada masanya.

C. Cara Bermain Congklak

Congklak merupakan permainan tradisional jaman dahulu. Permainan ini dimainkan
oleh 2 orang. Permainan congklak menggunakan papan yang dilubangi dengan jumlah lubang
14 sampai 16 lubang. Dari jumlah yang terdapat di papan congklak dua diantaranya berukuran
lebih besar dari yang lain dan berada pada tersendiri di ujung papan. Congklak ini dimainkan
dengan menggunakan biji-bijian atau biasanya dapat dengan kerikil yang dipindahkan secara
memutar dari lubang satu ke lubang yang lain.

131

D. Manfaat
Manfaat permainan tradisional congklak:
1. Melatih kemampuan berhitung anak
2. Melatih kemampuan berpikir anak untuk menyusun strategi terbaik supaya dapat
memenangkan permainan.
3. Melatih sikap jujur dan taat pada aturan, di mana masing-masing pemain tidak tahu berapa
jumlah biji yang dijatuhkan. Maka setiap pemain harus jujur dengan mengisi setiap lubang
dengan satu biji saat melakukan gilirannya.
4. Melatih kesabaran di mana masing-masing pemain harus sabar menunggu hingga
gilirannya tiba. Sebab, permainan ini dilakukan secara bergantian dan tidak bisa berebut.

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional congklak dapat selalu eksis dan selalu dimainkan

oleh anak-anak adalah masyarakat atau anak-anak generasi milenial kini harus dikenalkan
dengan congklak sebagai permainan tradisional yang sempat membudaya di Indonesia. Selain
itu, bagi para orang tua juga bisa mengenalkan congklak pada anak-anak sebagai salah satu
referensi permainan yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan gadget sehari-hari.
Untuk para mahasiswa atau remaja lainnya kita juga dapat mendenmonstrasikan berbagai
permainan tradisional ini di tempat tinggal masing-masing agar permainan tradisional tetap
lestari dan tidak terlupakan.

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Congklak

132

Nama : Sifa Nur Rofi’ah
NIM : 2019015318

PERMAINAN TRADISIONAL EGRANG

A. Latar Belakang
Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada anak yang meliputi

seluruh perubahan fisik, motorik dan kemampuan bahasa. Masing masing aspek memiliki
tahapan yang akan dilalui anak. Pada masa usia dini, anak mengalami tumbuh kembang yang
luar biasa baik fisik motorik, kognitif, emosi, psikososial dan bahasa. Demikian pula
perkembangan bahasa,perkembangan ini dipengaruhi perkembangan yang lain, terutama
berkaitan dengan fisik dan intelektual anak.Perkembangan bahasa sangat penting karena
dengan menguasainya anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Dijaman seperti sekarang ini rasanya masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan
sudah sangat jarang sekali memainkan permainan tradisional seperti permainan egrang ini.
Ironisnya masyarakat di pedesaan juga sudah terpengaruhi oleh budaya yang ber-unsur
teknologi yang terdapat pada permainan anak-anak sekarang. Sehingga, permainan
tradisional seperti ini sudah mulai jarang dimainkan lagi.

Ini suatu kekhawatiran bagi sebagian negara yang berbudaya termasuk indonesia,
karena cepat atau lambat budaya tersebut akan terkikis secara berlahan-lahan sehingga habis
dan menjadi punah. Oleh karena itulah mari kita melestarikan permainan tradisional seperti
yang ada dijawa barat dan khususnya semua yang ada di indonesia ini.

Salah satu permainan yang hampir punah di Indonesia yaitu permainan Egrang.
Penulis akan menjelaskan tentang permaian Egrang. Karena permainan Egrang ini cukup
menarik dikalangan anak 90 an.

B. Eksistensi Permainan Egrang
Keberadaanya yang semakin punah karena anak zaman sekarang lebih suka bermain

gadget karena disediakan game yang instan dan fitur canggih lainnya.

C. Cara Bermain Egrang

1. Menyiapkan Egrang

2. Menegakkan Egrang dan sedikit condong ke depan

3. Posisikan Egrang tidak sejajar. Salah satu kaki egrang harus di depan dan satunya di

belakang. 133

4. Mulai menginjakkan salah satu kaki pada pijakan Egrang diikuti kaki satunya.
5. Mulai berjalan di tempat dan jangan berhenti jika tidak yakin pada posisi seimbang.
6. Jika merasa akan terjatuh, jatuhkan kaki di antara Egrang.

D. Manfaat Bermain Egrang
1. Mendekatkan anak dengan alam sekitar. Anak tidak lagi hanya sibuk dengan gadget dan
videogame-nya.
2. Melatih anak untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan anak-anak lainnya. Apalagi
bila egrang dilombakan secara berkelompok karena dibutuhkan kerja sama agar dapat
kompak berjalan hingga mencapai garis finish. Mereka tidak bisa mendahului satu sama
lain. Menunggu yang lain sementara tetap menyeimbangkan diri dalam menaiki egrang
adalah hal yang tidak mudah.
3. Permainan ini dapat melatih dan mengembangkan kemampuan otak kanan dan kiri anak.
Bila otak kirinya terbiasa berpikir kalkulatif, maka otak kanannya dipaksa untuk sabar
dan ulet dalam melatih keseimbangan dan juga melatih kesabaran untuk menjaga
kekompakan dan sportivitas dalam perlombaan.
4. Melatih konsentrasi anak karena perlu hati-hati dalam menapaki medan yang dijalani
dengan egrang. Hal ini akan berpengaruh positif kepada konsentrasinya sewaktu belajar
di kelas.
5. Membuat anak lebih kreatif karena permainan ini menimbulkan efek keceriaan dan
kebersamaan.

E. Solusi
Perkenalkan anak secara perlahan dengan permainan yang menyenangkan sehingga anak
tersebut mau mengikuti permainannya. Ajak anak untuk ikut serta dalam permainannya, tidak
hanya melihat di video atau menonton contoh saja.

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Egrang

134

Nama : Rihhadatul Azhar
NIM : 2019015321

PERMAINAN TRADISIONAL CUBLAK – CUBLAK SUWENG

A. Latar Belakang
Cublak-cublak Suweng adalah permainan tradisional yang diselingi lagu pengiring

yang dinyanyikan. Lagu pengiring dalam permainan ini berjudul sama dengan nama
permainan itu sendiri. Permainan tradisional cublak-cublak suweng biasa dimainkan oleh
anak-anak kecil di pedesaan dari Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah, Daerah Istimewa
Yogyakarta, dan Jawa Timur. Cublak-cublak Suweng diciptakan oleh salah satu anggota
Wali Songo yaitu Syekh Maulana Ainul Yakin atau yang dikenal sebagai Sunan Giri pada
tahun 1442 M di Jawa Timur. Pada waktu itu Sunan Giri aktif menyebarkan agama Islam di
Indonesia, terutama di pulau jawa lewat jalur kebudayaan. Karena itulah Sunan Giri
menciptakan lagu Cublak-cublak Suweng yang akhirnya di jadikan lagu dolanan pengiring
permainan tradisional anak-anak.

B. Eksistensi
Perkembangan teknologi saat ini sudah berkembang pesat, anak – anak sudah

merasakan efek dari kemajuan teknologi yang mutakhir ini. Permainan yang lebih sering
mereka mainkan menggunakan gadget, play station dan yang saat ini mulai ramai yaitu game
online. Hal ini perlu diperhatikan karena anak – anak adalah masa dimana mereka memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi dan tubuhnya pun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.
Oleh karena itu peran penting masyarakat dalam permainan tradisonal perlu dikembangkan
untuk melestarikan budaya bangsa. Permainan tradisional cublak-cubak suweng dapat
digunakan sebagai media untuk mengembangkan kemampuan moral anak usia dini. hal ini
dapat dilihat dari makna yang terkandung dalam permainan cublak-cubak suweng bahwa
mencari harta, kedudukan, dan jabatan janganlah menuruti hawa nafsu tetapi semuanya
kembali ke hati nurani yang bersih, dengan hati nurani akan lebih mudah menemukan apa
keinginan yang dicari, tidak tersesat jalan hingga lupa akan akhirat.

135

C. Cara Bermain Cublak-Cublak Suweng
1. Pertama, lakukan hompimpa atau gambreng terlebih dahulu dan yang kalah menjadi Pak
Empo berbaring telungkup di tengah, anak-anak lain duduk melingkari Pak Empo.
2. Kedua, semua pemain membuka telapak tangan menghadap ke atas dan diletakkan di
punggung Pak Empo. Salah satu anak memegang biji/ kerikil dan dipindah dari telapak
tangan satu ke telapak tangan lainnya diiringi lagu Cublak-Cublak Suweng.
3. Setelah itu pada kalimat “sapa mau sing delekke” dinyanyikan, salah satu anak harus
menyerahkan biji atau kerikil ke tangan seorang anak untuk disembunyikan dalam
genggaman tangan.
4. Lalu di akhir lagu, semua anak menggenggam kedua tangan masing-masing, pura-pura
menyembunyikan kerikil, sambil menggerak-gerakkan tangan.
5. Kemudian, Pak Empo bangun dan menebak tangan siapa yang menyembunyikan biji atau
kerikil. Bila tebakannya benar, anak yang menggenggam biji atau kerikil harus bergantian
menjadi Pak Empo. Bila salah, Pak Empo kembali ke posisi semula dan permainan
diulang lagi.
Lirik Lagu Cublak- Cublak Suweng
Cublak cublek suweng,
suwenge ting gelenter,
mambu ketundung gudel,
Pak empo lirak-lirik,
sapa guyu ndhelikake,
sir-sir pong dele kopong,
sir-sir pong dele kopong.

D. Manfaat 136
Manfaat permainan tradisional Cublak – Cublak Suweng diantaranya:
1. Membantu anak agar lebih bisa bersoaialisasi dengan lingkungan sekitar
2. Anak akan lebih banyak berinteraksi dengan temannya
3. Membangun sportivitas anak
4. Membantu dalam pembentukan karakter anak
5. Anak belajar menyanyi, mencocokkan ritme lagu dengan gerakan tangan,
6. Anak akan mengenal bahasa Jawa,
7. Dapat melatih motorik halus,
8. Belajar mengikuti aturan,
9. Anak akan terlatih untuk selalu bekerja sama
10. Anak akan belajar menyimpan rahasia.

E. Solusi
Solusi agar permainan tradisional Cublak – Cublak Suweng dapat selalu eksis dimainkan oleh
anak – anak diantaranya:
1. Orang tua, adalah peran inti dalam melestarikan dolanan anak ini. Orang tua wajib
mengenalkan dan mengajak anaknya bermain dolanan anak, dari pada mengenalkan anak
dengan smartphone.
2. Selain orang tua, guru juga dapat meniadiacuan dalam melestarikan dolanan anak ini. Di
sela-sela pembelajaran, guru dapat mengenalkan permaiana tradisional dan mengajak
peserta didik untuk mempraktikkan Selain untuk mengenalkan pada peserta didik tentang
permainan tradisional, dengan cara seperti ini juga akan mengurangi kebosanan saat jam
pelajaran.
3. Melalui video, baik orang tua maupun guru bisa memutarkan video permainan tradisional
dolanan anak ini pada anaknya atau peserta didik. Ketika anak melihat video ini dan
mendengar lau yang ada di video akan lebih mudah menghafal. Ketika anak sudah mulai
hafal ia pasti ingin mencoba mempraktikkan dolanan anak yang ia tonton lewat video.

F. Ilustrasi Pemainan Tradisional Cublak-Cublak Suweng

137

Nama : Iman Setia Luhur

NIM : 2019015322

PERMAINAN TRADISIONAL PLINTENGAN ATAU KETAPEL

A. Latar Belakang
Istilah ketapel (catapult) berasal dari Bahasa Yunani, cata (bawah) dan pollo

(melemparkan). Ketapel pertama kali ditemukan oleh bangsa Yunani pada 300SM. Ketapel
sendiri merupakan salah satu teknologi persenjataan perang pada zaman dahulu, selama
bertahun-tahun, ketapel didesain dan dikembangkan terus menerus oleh tentara-tentara
seluruh dunia yang sering sekali menggunakannya sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan
dari jarak jauh. Ketika perang pada awal 399 SM, mulai menggunakan ketapel sebagai
senjata.

B. Eksistensi
Derasnya arus global dengan kemajuan teknologi sekarang ini permainan tradisional

seperti ketapel sudah mulai pudar. Gaya bermain anak zaman sekarang yang cenderung
memilih bermain gadget dan fasilitas-fasilitas teknologi yang tersebar di pasaran membuat
permainan tradisional seperti ketapel jarang peminat. Hanya Sebagian daerah yang masih
memainkan ketapel sebagai permainan yang menyenangkan, seperti di desa-desa tertentu.

C. Cara Bermain Plintengan atau Ketapel
Sebuah ketapel terdiri 3 komponen, yaitu gagang, karet dan alas. Gagang ketapel terbuat

dari bahan kayu bercabang. Namun ada juga dari bahan kayu yang tidak bercabang.
Komponen kedua adalah karet pegas. Karet pegas paling sederhana terbuat dari karet gelang
yang dirangkai sedemikian rupa. Alas ketapel terbuat dari kain atau karet pejal. Alas ini
berguna untuk menempatkan batu atau kerikil untuk dilontarkan. Ketiga komponen ketapel
bekerja secara sinergis sehingga dapat melontarkan benda dengan baik.

Jadi, ketapel yang digunakan bekerja berdasarkan prinsip gaya pegas yang
menghasilkan energi mekanik, yang berasal dari gabungan energi potensial dan energi
kinetik. Energi mekanik akan menyebabkan benda bergerak lurus beraturan. Ketika gagang
ketapel didorong dan alas lontar beserta batu/kerikil ditarik. Karet ketapel akan meregang dan
menimbulkan energi potensial. Energi potensial akan berubah menjadi energi kinetik saat alas
lontar dilepaskan.

138

D. Manfaat
Dalam bermain ketapel seseorang memerlukan konsentrasi yang tinggi agar mengenai

bidikan dengan tepat sesuai dengan yang di inginkan. Sehingga ketapel dapat bermanfaat
sebagai berikut:
1. Ketapel dapat membangun kerjasama dengan teman sebaya jika dimainkan bersama.
2. Ketapel dapat melatih tingkat intelegensi anak.
3. Ketapel dapat melatih konsentrasi anak.
4. Ketapel dapat melatih focus anak.

E. Solusi
Lengkapnya fasilitas teknologi moderen di pasaran yang setiap tahunya mampu

menciptakan upgrade, sehingga membuat anak-anak lebih merasa nyaman dengan fasilitas
teknologi. Maka dalam hal ini perlunya solusi agar anak jaman sekarang ini dapat
melestarikan permainan tradisional sebagai berikut:
1. Perlunya memperhatiakan dolanan tradisional dalam kurikulum pendidikan.
2. Perlunya peran setiap orang tua agar membatasi anaknya dalam bermainan game di gadget

maupun di media elektronik lainya.
3. Perlunya peran setiap orang akan kesadaran pentingnya melestarikan dolanan

tradisional.

F. Ilustrasi Permainan Tradisional Plintengan atau Ketapel

139

DAFTAR PUSTAKA

Herawati, E. N. (2015). Nilai-Nilai Karakter yang Terkandung dalam Dolanan Anak.
Yogyakarta: UNY Yogyakarta.

Achroni, K. (2012). Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Melalui Permainan Tradisional.
Yogyakarta: Java Litera.

Kusumawati, H. (2013). Lingkungan Sahabat Kita Buku Siswa Kelas 5 Tema 8. Jakarta:
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kusumawati, H. (2017). Lingkungan Sahabat Kita : Buku Guru Kelas 5 Tema 8. Jakarta:
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan .

Mulyani, N. M. (2016). Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia. Banguntapopan
Yogyakarta: DIVA Press.

Mulyani, N. M. (2016). Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia . Banguntapan
Yogyakarta: DIVA Pres.

Prasetyo, D. S. (2008). Biarkan Anakmu Bermain. Yogyakarta: DIVA Press.
R. I. (2016). Direktori Permainan Tradisional, Realitas Pada Dolanan Tradisional.

Yogyakarta: Dinas Pendidikan Banyuasin Santosa.
Veny, I. I. (2015). Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Anak Usia Dini Melalui

Permainan Tradisional Gobag Sodor. Jurnal Penelitian Inovasi, 1-2.

140


Click to View FlipBook Version