The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kinerja fiskal NTB menunjukkan kontras: pendapatan APBN tertekan -62,89% akibat hilangnya bea keluar tambang, sementara belanja negara stabil pada Rp19,61 triliun dengan
pergeseran ke belanja pegawai, bansos, dan TKD yang melonjak lebih dari 200%. Di sisi APBD, pendapatan daerah tumbuh 12,58% dengan ketergantungan tinggi pada TKD (72,66%), namun belanja daerah melambat dan realisasi belanja modal serta sektor prioritas menurun, sehingga menciptakan surplus yang berpotensi menjadi idle budget. Tantangan utama mencakup rendahnya kemandirian fiskal daerah, tax ratio yang fluktuatif, serta lemahnya serapan belanja prioritas fisik menjadi tantangan utama efektivitas fiskal dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Bid. PPA II Kanwil DJPb Prov. NTB, 2025-12-02 20:32:18

Kajian Fiskal Regional (KFR) - RCE Quarterly Report Triwulan III Tahun 2025

Kinerja fiskal NTB menunjukkan kontras: pendapatan APBN tertekan -62,89% akibat hilangnya bea keluar tambang, sementara belanja negara stabil pada Rp19,61 triliun dengan
pergeseran ke belanja pegawai, bansos, dan TKD yang melonjak lebih dari 200%. Di sisi APBD, pendapatan daerah tumbuh 12,58% dengan ketergantungan tinggi pada TKD (72,66%), namun belanja daerah melambat dan realisasi belanja modal serta sektor prioritas menurun, sehingga menciptakan surplus yang berpotensi menjadi idle budget. Tantangan utama mencakup rendahnya kemandirian fiskal daerah, tax ratio yang fluktuatif, serta lemahnya serapan belanja prioritas fisik menjadi tantangan utama efektivitas fiskal dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan.

Keywords: APBN,NTB,Fiskal,Pajak,Belanja,BeaCukai,APBD

Click to View FlipBook Version