1 Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah SASTRAWAN Penerbit Taman Budaya Jawa Tengah Juni 2019
2 Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah SASTRAWAN All Rights Reserved Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Edisi Cetakan Pertama, Juni 2019 Ilustrasi Sampul eLtorros Tata Letak Hikozza Penyusun Yudhi Herwibowo, Impian Nopitasari Rizka Nur Laily Muallifa, dkk. Penyunting Wijang J. Riyanto Penerbit Taman Budaya Jawa Tengah Juni 2019
3 Kata Pengantar Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, pelaksanaan kegiatan Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah dengan tema “Sastrawan” dapat diselesaikan dengan lancar dan baik, yang ditandai dengan penerbitan buku Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah “Sastrawan” yang memuat data sekitar 50-an sastrawan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah melalui Seksi Pelestarian Seni ini berlangsung selama dua hari berturut-turut, mulai tanggal 25 sampai dengan 26 Juni 2019, meskipun sesungguhnya pengerjaan pengumpulan dan pengolahan datanya telah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya oleh para narasumber, baik digali melalui berbagai referensi pustaka maupun yang tersebar di berbagai media massa, termasuk media sosial, sebelum akhirnya disusun menjadi naskah dan dicetak sebagai buku. Penerbitan buku Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah “Sastrawan” ini merupakan upaya dari Taman Budaya Jawa Tengah melalui Seksi Pelestarian Seni untuk dapat menginventarisasi keberadaan atau eksistensi para sastrawan Jawa Tengah, setidak-tidaknya para sastrawan yang lahir, berdomisili, dan atau pernah aktif berkreasi memproduksi karya sastra, baik berupa puisi, prosa (cerpen, novel), naskah drama maupun esai sastra di wilayah Jawa Tengah, baik berbahasa Indonesia dan /atau berbahasa Jawa. Sehubungan dengan hal tersebut, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, terutama kepada para narasumber (Yudhi Herwibowo, Impian Nopitasari,
4 Rizka Nur Laily Muallifa, dkk) dan semua pihak yang telah membantu dan berperan serta aktif demi terlaksananya kegiatan Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah “Sastrawan”. Harapan kami, semoga penerbitan buku ini mampu memperkaya khazanah data kesenian Jawa Tengah, khususnya terkait dengan keberadaan para sastrawan, sekaligus dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan informasi terkait data para Sastrawan. Surakarta, Juni 2019 An. Plt. Kepala Taman Budaya Jawa Tengah Kepala Seksi Pelestarian Seni Drs. Wijang Jati Riyanto NIP. 19640905 199303 1 005
5 Daftar Isi [03] Kata Pengantar [05] Daftar Isi [07] Agus Budi Wahyudi [08] Arswendo Atmowiloto [10] Asa Jatmiko [12] Asmaraman S. Kho Ping Hoo [14] Ahmad Tohari [15] Anis Sholeh Ba’asyin [16] Badruddin Emce [17] Bandung Mawardi [18] Budiman S. Hartojo [19] Daniel Tito [20] Dian Nafi [21] Dorothea Rosa Herliany [23] Eko Tunas [25] Es Wibowo [26] Gojek Joko Santoso [27] Gunawan Tri Atmodjo [28] Gunoto Saparie [30] Han Gagas [31] Handry TM [33] Hartojo Andangdjaja [35] Haryono Soekiran [36] Indah Darmastuti [37] Irul S. Budianto [39] Jumari HS [41] Joko Sumantri [42] KH. Ahmad Mustofa Bisri
6 [44] Kriapur [45] Lanang Setiawan [47] Langit Kresna Hariadi [48] M. Enthieh Mudakir [49] MM Bhoernomo [50] Mukti Sutarman Espe [52] NH. Dini [54] Nadjib Kartapati [55] Nurhidayat Poso [56] Poer Adhie Prawoto [57] Pramoedya Ananta Toer [59] Prie GS. [61] Roso Titi Sarkoro [62] Sanie B Kuncoro [63] Sapardi Djoko Damono [65] Sri Wintala Ahmad [66] Soesilo Toer [68] Sosiawan Leak [70] Sumanang Tirtasujana [71] Sunardi KS. [72] Sus S. Hardjono [74] Thomas Haryanto Soekiran [76] Timur Sinar Suprabana [77] Triman Laksana [79] Triyanto Triwikromo [81] Widji Thukul [83] Wieranta [84] Wijang Wharèk Al-Mau’ti [86] WS. Rendra [88] Yono Daryono [90] Yudhi Herwibowo [91] Yudhi Ms. [92] Yuditeha
7 Agus Budi Wahyudi Agus Budi Wahyudi, lahir di Kudus, 18 Agustus 1960. Pendidikan diawali di Taman Kanak-kanak Siwipeni Rendeng. SDN Rendeng 1 Kudus tamat 1974. Lanjut ke SMEPN Kudus tamat 1987 dan SMEA Negeri (kini SMK Negeri 1) Kudus hingga 1981. Setelah lulus meninggalkan kota kelahiran menuntut Strata 1 di Universitas Sebelas Maret Surakarta (1981) jurusan sastra Indonesia. Studi Strata 2 di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada jurusan Ilmu-ilmu Humaniora. Lulus tahun 1995. Sejak tahun 1987 jadi dosen di FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta, program studi pendidikan bahasa Indonesia. Karya-karya dapat disimak di facebook dan Instagram Agus Budi Wahyudi, atau via geoglesholar untuk mengetahui derap kelana di bidang linguistik. HP 08164276493. E-mail [email protected]. Cita-cita yang kandas adalah menjadi penguasa di bidang perbukuan. Istri: Diana Rosmawati (pernah satu kelas 1b, seangkatan di SMEAN). Anak: Adi Niti Titis Perdana, S.H. dan Ramadhan Niti Tri Wijaya. Kegemaran: meneliti bahasa, menasihati via cerita, dan menulis puisi, buku, cerpen, esai, dan humor. Buku-bukunya: Celotah-celoteh (bukuKatta), Penjati Kata (bukuKatta), Akar Hujan (kumpulan puisi, duet dengan Puitri Hati Ningsih), Pencatat Laku (kumpulan puisi, duet dengan Ari Hermawan Saputra), dll.
8 Arswendo Atmowiloto Sastrawan bernama asli Sarwendo ini lahir di Solo pada 26 November 1948. Ia adalah sastrawan dan wartawan yang aktif menulis cerpen, novel, naskah drama, dan skenario film. Sebagai wartawan ia meniti karir di Harian Kompas, juga pemimpin redaksi Majalah Hai, Monitor, dan Senang. Dalam dunia layar kaca kita tentu begitu akrab dengan serial Keluarga Cemara. Itulah salah satu karya Arwendo yang popular dan fenomenal. Di tahun 2018, rumah produksi film Visinema bekerjasama dengan sutradara Yandy Laurens menghadirkan film Keluarga Cemara di layar bioskop. Karya-karya yang pernah ditulis Arswendo ialah Bayiku yang Pertama (1974), Sang Pangeran (1975), Sang Pemahat (1976), The Circus (1977), Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1980), Dua Ibu (1981), Serangan Fajar (1982), Pacar Ketinggalan Kereta (1985), Anak Ratapan Insan (1985), Airlangga (1985), Senopati Pamungkas, Akar Asap Neraka (1986), Dukun Tanpa Kemenyan (1986), Indonesia from the Air (1986), Garem Koki (1986), Canting (1986), Pengkhianatan G30S/PKI (1986), Lukisan Setangkai Mawar (1986), Telaah tentang Televisi (1986), Tembang Tanah Air (1989), Menghitung Hari (1993), Sebutir Mangga di Halaman Gereja: Paduan Puisi (1994), Projo & Brojo (1994), Oskep (1994), Abal-abal (1994), Khotbah di Penjara (1994), Auk (1994), Berserah itu Indah (1994), Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994), Sukma Sejati (1994), Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995), Kisah Para Ratib
9 (1996), Senja yang Paling Tidak Menarik (2001), Pesta Jangkrik (2001), Keluarga Cemara 1, Keluarga Cemara 2 (2001), Keluarga Cemara 3 (2001), Kadir (2001), Keluarga Bahagia (2001), Darah Nelayan (2001), Dewa Mabuk (2001), Mencari Ayah Ibu (2002), Mengapa Bibi Tak ke Dokter? (2002), Dusun Tantangan (2002), Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005), Kau Memanggilku Malaikat (2007), Imung, Kiki, Mengarang Itu Gampang. Karya-karya yang diangkat ke layar sinetron ialah 1 Kakak 7 Ponakan (RCTI, 1996), Keluarga Cemara (RCTI, 1996-2002), Deru Debu (SCTV, 1994-1996), Jalan Makin Membara II (SCTV, 1995-1996), Jalan Makin Membara III (SCTV, 1996-1997), Imung (SCTV, 1997), Ali Topan Anak Jalanan (SCTV, 1997-1998). Beberapa penghargaan yang pernah didapat Arwendo ialah Hadiah Zakse (1972), Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ 1972 dan 1973, Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K tahun 1981, 1985, dan 1987. Hadiah Sastra Asean diperoleh Arswendo pada tahun 1987.
10 Asa Jatmiko Asa Jatmiko lahir di Purbalingga, 7 Januari 1976. Menulis puisi, cerpen, essai sastra dan budaya ke berbagai media massa yang terbit di Indonesia, seperti; Kompas, Suara Pembaruan, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Lampung Post, Surabaya Post, Bali Post, Media Indonesia, Jawa Pos, Solopos, dan lain-lain. Karya-karyanya juga termuat berbagai antologi bersama seperti Hijau Kelon (Kompas Gramedia), Resonansi Indonesia (Komunitas Sastra Indonesia, KSI), Grafitti Gratitude, Filantrophi (Festival Kesenian Yogyakarta), Trotoar (Komunitas Sastra Indonesia, KSI), Tamansari (Festival Kesenian Yogyakarta), Gerbong (Yayasan Cempaka Kencana), Jentera Terkasa (Taman Budaya Jawa Tengah), Embun Tajalli ((Festival Kesenian Yogyakarta), Begini Begini dan Begitu, Pasar Kembang (Festival Kesenian Yogyakarta), Buku Catatan Perjalanan KSI (Komunitas Sastra Indonesia, KSI), Sebatang Rusuk Untukmu, Sauk Seloko (Pertemuan Penyair Nusantara), Jentera Terkasa (Balai Bahasa Jawa Tengah), Dari Cempurung ke Sunan Panggung (Balai Bahasa Jawa Tengah), Menepis Sunyi Menyibak Batas (Balai Bahasa Jawa Tengah). Selain itu, ia aktif juga di dunia seni pertunjukan (teater) dan film, dengan telah menulis naskah drama dan menyutradarai beberapa pentas teater dan film. Karya penyutradaraan teaternya, antara lain; Rekonsiliasi Nawangwulan_Joko Tarub, Performance Art “Dust To Dust”, Parodi Jonggrang Putri Prambatan, LOS (Labours On Stage), Pentas keliling 2 Naskah karya Kirdjomuljo, berjudul Senja
11 dengan Dua Kelelawar danSepasang Mata Indah. Kemudian bermain dan menyutradarai lakon Hanya Satu Kali, Godlob dan menggarap The Tragedy of Hamlet (2007), The Pillars of Society (2008) dan Sampek Engtay (2009) di Universitas Muria Kudus. Bersama Njawa Teater yang dipimpinnya, ia menyutradarai pentas teater berlakon Dhemit naskah karya Heru Kesawa Murti, yang dikelilingkan ke Ambarawa, Jepara, Demak, Tuban dan Kudus (3 lokasi) sendiri. Menyutradarai pertunjukan Teater Djarum, dengan lakon antara lain: Bukan Rama Shinta, Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan, Petuah Tampah dan Nara , juga reportoar pantomime: Jangan Dorr! dan Endemic Passion. Meluangkan waktu untuk pentas tunggal, antara lain; Pembacaan Puisi Keliling SMA selama 2 bulan, kemudian pentas tunggal pembacaan 7 cerpen karya 7 cerpenis Kudus di Hotel Kenari “Cerita-cerita Kota Kretek” dan lain-lain. Dan akhir-akhir ini juga sedang gandrung dengan penggarapan film, terutama filmfilm indie. Beberapa karyanya, antara lain; miniseri Blok D76 yang sudah ditayangkan pada bulan Juni 2006 di ProTV, sebuah stasiun televisi lokal. Dan menyusul penggarapan film indie yang bersetting gula tumbu berjudul Sketsa Gelisah Api, Pendekar Kisah dari Jagat Sunyi yang menceritakan sepenggal kehidupan seorang dalang wayang kentrung, Rinai Seruni, dan juga baru saja menyelesaikan film indie Salah Pilih yang didukung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus. Film tersebut menjadi materi sosialisasi pemilukada yang demokratis dan tanpa money politics sepanjang Mei 2012 di sekolah-sekolah menengah. Antologi puisi tunggalnya berjudul Gemerincing (2016), Pertarungan Hidup Mati (Yayasan Cempaka Kencana, tahun 2000) dan Tak Retak (Iniibubudi Publishing, tahun 2016). Tahun 2012 mendirikan Njawa Teater, kemudian 2016 mendirikan penerbit Iniibubudi Publishing, dan 2018 mendirikan lembaga Senyawa Edukasi Karakter di Kudus, ketiganya masih sampai sekarang. Berdomisili di Jl. Kelapa Sawit V/6, Megawon, Jati, Kudus. Surel: [email protected].
12 Asmaraman S. Kho Ping Hoo Asmaraman S. Kho Ping Hoo, lahir di Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926. Ia adalah penulis cersil (cerita silat) paling populer di Indonesia hingga saat ini. Kho Ping Hoo adalah anak lelaki pertama, atau anak kedua dari 12 bersaudara. Ayahnya, Kho Kian Po, pendekar aliran Siau Liem Sie di Kudus, yang mewariskan ilmu silat melalui disiplin keras. Kho Ping Hoo sempat bersekolah di HIS Zendings School namun hanya sampai di kelas 1 MULO saja. Setelah itu ia kursus Tata Buku. Pada usia 14 tahun Kho Ping Hoo sudah lepas dari bangku sekolah dan menjadi pelayan toko. Saat Jepang masuk ke Solo, ia sempat menikah dengan Ong Ros Hwa, gadis Sragen kelahiran Yogya, lalu pindah ke Surabaya, bekerja sebagai penjual obat. Pada masa itu ia juga bergabung dan digembleng oleh Kaibotai, semacam hansip Jepang, yang pendidikannya sangat militer. Dari Surabaya ia kembali lagi ke Sragen dan bergabung dalam Barisan Pemberontak Tionghoa (BPTH) yang ketika itu senantiasa kompak dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Dari Sragen ia pindah ke Kudus. Tahun 1949 ia pindah ke Sragen lagi membuka usaha rokok yang ilmunya diperolehnya ketika ia bekerja di Kudus. Pada tahun inilah mulai muncul cobaan yang menimpa nasibnya. Perusahaan rokoknya yang mulai berjalan, harus hancur di Aksi Polisionil II. Kho Ping Hoo berangkat ke pengungsian di Solo. Dua tahun tinggal di sana. ia memutuskan pindah ke Tasikmalaya dengan
13 membawa dua orang anak (yang satu masih dalam kandungan istrinya) hingga tahun 1949. Sekitar tahun 1951 Kho Ping Hoo mulai menulis cerita. Sebelum dikenal sebagai penulis cerita silat, Kho pun menulis cerita detektif, novel, dan cerpen yang dimuat dalam berbagai majalah, antara lain Liberty, Star Weekly, dan Pancawarna, dengan menggunakan nama samaran Asmaraman. Yang menarik dari cerita-cerita yang ditulisnya tak tersirat sedikit pun warna silat di dalamnya. Selama 30 tahun ia telah menulis sedikitnya 120 judul cerita. Walaupun menulis cerita-cerita silat berlatar Tiongkok, penulis yang produktif ini tidak bisa membaca dan menulis dalam bahasa Mandarin. Ia kemudian mendirikan penerbitnya sendiri, CV. Gema. Sejak itulah Kho Ping Hoo tak henti berkarya. Judul lepas cersil bertema Tingkok, terdiri dari 37 judul, di antaranya: Antara Dendam dan Asmara, Bayangan Bidadari, Cheng-Hoa-Kiam, Darah Pendekar, Dendam Membara, Dendam Si Anak Haram, Gin-Kiam Gi-To, Kilat Pedang Membela Cinta, Kisah Si Tawon Merah dari Bukit Heng-San, dsb. Selain cerita lepas, ia juga menulis kisah serial, seperti Bu Kek Sian Su (17 judul), Pendekar Kayu Harum (12 judul), Pendekar Sakti (4 judul), dsb. Kho Ping Hoo juga menulis cersil berlatar nusantara d iantarnya: Asmara di Balik Dendam Membara, Bajak Laut Kertapati, Banjir Darah di Borobudur, Jaka Galing, Kemelut di Majapahit, Keris Pusaka dan Kuda Iblis, Keris Pusaka Nogopasung, Kidung Senja di Mataram, Pendekar Gunung Lawu, dsb. Bahkan juga membuat serial: Keris Pusaka Sang Megatanra, Sejengkal Tanah Sepercik Darah dan Pecut Sakti Bajrakirana. Sampai sekarang, cersilnya banyak diangkat menjadi sandiwara radio, film dan sinetron. Tanggal 22 Juli 1994, Asmaraman S. Kho Ping Hoo meninggal dunia. Ia dimakamkan di Solo.
14 Ahmad Tohari Ingatan kita begitu lekat dengan tokoh Srintil, Rasus, tempe bongkrek, dan ragam hal yang maktub dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982). Dari sekian banyak karya yang ditulisnya, Ronggeng Dukuh Paruk adalah mahakarya sastrawan sekaligus budayawan Ahmad Tohari. Apresiasi terhadap novel itu tak habishabis. Novel itu juga telah diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari (Sutradara Ifa Isfansyah). Bahkan telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa. Sastrawan ini lahir di Banyumas, tanggal 13 Juni 1948. Latar belakang pendidikan yang beragam membentuk biografi diri yang banyak kecakapan. Selain piawai menulis novel dan cerita pendek, opini-opininya yang memperkarakan kebudayaan terserak di pelbagai media. Konon, Ahmad Tohari juga pernah menduduki jabatan sebagai staf redaktur harian Merdeka dan majalah Keluarga serta majalah Amanah di Jakarta. Penghargaan yang pernah diperolehnya antara lain, hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975, hadiah Yayasan Buku Utama 1980 dan 1986, Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1979, SEA Write Award 1995, dan Hadiah Sastera Rancagé 2007 Buku-buku yang telah ditulisnya antara lain, Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Nyanyian Malam (2000), Belantik (novel, 2001), Orang-orang Proyek (2002), Rusmi Ingin Pulang (kumcer, 2004), Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel Jawa, 2006).
15 Anis Sholeh Ba’asyin Anis Sholeh Ba’asyin sudah aktif menulis puisi dan esai sejak 1979. Puisinya tersebar di banyak media dan antologi. Kumpulan puisinya Orang Pinggir Jalan (YP3M Prakarsa, 1982), Kisah Pertobatan Senti (YP3M Prakarsa 1984), Potret Iblis (KPK, 1992) dan Jaman Gugat (Taman Budaya Jawa Tengah, 2007). Tahun ’90-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen, Pati. Namun sejak tahun 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media; juga kolom tetap di beberapa media. Sejak 2005, bersama kelompok Sampak GusUran, aktif mengelilingkan orkes puisi dari kumpulan puisi terbarunya ke berbagai daerah. Baik sendiri maupun bersama Orkes Puisi Sampak GusUran, dia terlibat aktif dalam banyak gerakan sosialbudaya dan keagamaan. Tema puisinya yang beragam -dari masalah sosial-budaya-politik-lingkungan hingga renungan sufismembuat dia bisa tampil baik dalam demo maupun pengajian. Aktivitasnya ini melebar dari pelosok desa sampai pusat-pusat kebudayaan.
16 Badruddin Emce Badruddin Emce lahir di Cilacap pada 5 Juli 1962, Badruddin Emce dikenal sebab esai dan puisinya tersebar di pelbagai media massa. Selain di media massa, tulisan-tulisannya juga termaktub dalam banyak buku antologi. Penulis yang juga berprofesi sebagai aparatur sipil negara di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap ini dikenal sebagai salah satu motor penggerak kegiatan sastra di wilayah Banyumas. Berkaitan dengan aktivitas kepenulisannya, ia pernah diundang ke pelbagai acara sastra, di antaranya Forum Puisi Indonesia ke-87 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Festival Seni Surabaya 1996, dan Temu 18 Penyair Jawa Tengah di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta pada tahun 2006. Buku-buku yang ditulisnya yaitu Ledakan pada Pohon Randu (1999), Pasar Malam Alun-Alun Kroya (2001), Binatang Suci Teluk Penyu (2007), Diksi Para Pendendam (2012).
17 Bandung Mawardi Bandung Mawardi lahir di Solo dan merupakan lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kini ia menjadi kuncen Bilik Literasi Solo dan mengurus penerbitannya, Jagat Abjad Tulisan-tulisan dimuat di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Republika, Seputar Indonesia, Pelita, Koran Jakarta, Suara Karya, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Surabaya Post, Solopos, Joglosemar, Minggu Pagi, Lampung Post, Gong, Littera, Lango, Basis. Penulis buku puisi Risalah Abad (2009) dan buku esai Sastra Bergelimang Makna (2010), Macaisme (2012), Berumah di Buku (2018) Omelan (2018), dsb. Kini tinggal bersama istri dan 3 anaknya di Blulukan I, RT 2 RW 4, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah 57174. E-mail [email protected] dan telepon 085647121744.
18 Budiman S. Hartojo Sejak kecil Budiman S Hartojo dididik di rumah oleh ayahnya sendiri yang menjadi guru pada Madrasah Tinggi "Mamba'ul Ulum" milik Kraton Kasunanan Surakarta. Sejak 1972 bekerja sebagai redaksi majalah Tempo. Sebelumnya giat di kota kelahirannya, Sala, menyelenggarakan ruang sastra "Sumbangsih" pada mingguan Surakarta dan membantu siaran sastra dan sandiwara RRI studio Surakarta. Antara 1966-1968, menjadi pemimpin redaksi majalah Genta, dan anggota redaksi majalah Patria, keduanya terbit di Sala. Juga pernah menjadi sekretaris PWI cabang Sala. Puisi-puisi awalnya dimuat dalam majalah-majalah mahasiswa di Yogya seperti Pulsus, Criterium, Uchuwwah, Media, dan Gajah Mada. Kemudian merambah ke beberapa majalah budaya seperti Basis, Budaya, Gelora, Waktu, Mimbar Indonesia, Gelanggang, Sastra, Horison, dan Budaya Jaya.
19 Daniel Tito Daniel Tito. Nama kepengarangan. Adapun nama yang tertulis di KTP adalah Tito Setyo Budi. Lahir di Ngawi, 12 Desember. Menyelesaikn dua jenjang pendidikan formalnya di UNS Solo, S1 (sastra), dan S2 (ekonomi). Kini sedang merampungkan studi doktoral (S3) di ISI Surakarta. Sejak remaja suka menggambar, menulis, dan berkebun. Beragam pekerjaan pernah dilakoninya. Mulai dari berjualan jamu keliling, tukang sablon, menjadi guru, dosen, wartawan, kontraktor dan yang paling awet adalah menjadi kepala keluarga. Kini tinggal di Sragen bersama seorang istri yang tak pernah diganti atau ditambah sejak sejak 1982. Selain hobinya membaca, menulis, melakukan perjalanan ke luar kota atau berkelana ke negeri orang, bapak tiga anak ini punya kesibukan tetap: mengajar jurnalistik dan penulisan kreatif di STKIP PGRI Ngawi serta mengomandani penerbitan majalah GENTA. Tulisannya berupa artikel, kolom, cerita pendek, novel, novelet, puisi, laporan jurnalistik yang dimuat di hampir seluruh media cetak nasional maupun daerah, antara lain Kompas, Sinar Harapan, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Solopos, Kartini, Femina, Intisari, Gadis, Aneka, Kawanku, Hai, Nova, Wanita Indonesia. Tulisannya berbahasa Jawa dimuat di majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Bukunya yang telah terbit antara lain: Lintang Panjer Rina (2002), Panggung Sandiwara (2006), Kembang Campursari (2002), Pelukis Teladan (2003), Rahasia Tarian Suci (kumcer anak bersama Arswendo Atmowiloto, 2004)
20 Dian Nafi Dian Nafi merupakan lulusan Arsitektur Undip, lahir di demak, 1 Juni. Suka travelling dan menulis fiksi, non fiksi seputar keislaman, kepesantrenan, kewanitaan, parenting, enterpreneurship, pengembangan diri. Coach Gramedia Academy, Mentor WomenWill by Google, Fasilitator Gapura Digital by Google, Trainer Hasfa Camp, Public Speaker. Sudah menulis 28 buku dan 86 antologi di 17 penerbit Indonesia. Profilnya dimuat di Harian Analisa Medan (2011) Buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia (KosaKataKita, 2012) Jawa Pos-Radar Semarang (2013) Alinea TV (2014) Koran Sindo (2014) Tribun Jateng (2015) Nakita (2016) TVKU (2018) Pemenang Favorit LMCR ROHTO 2011 dan 2013. Penulis Terpilih WS Kepenulisan PBA dan KPK 2011, Penulis Terpilih WS Cerpen Kompas 2012, Nominee Non Fiksi Favorit Anugerah Pembaca Indonesia 2012. PSA Awardee 2013. Bulan Narasi Awardee 2014. PSA Awardee 2014. Nominee Fiksi Favorit Anugerah Pembaca Indonesia 2016. Penerima Apresiasi Literasi Dari Bupati 2017. Menang Seleksi Lomba Balai Bahasa JawaTengah 2018. Finalis Fellowship IBT Tempo 2018. Selected Writer For InternationalConference at Netherland 2019. Pegiat banyak komunitas kepenulisan, komunitas blogger dan komunitas lainnya. Surel: [email protected]
21 Dorothea Rosa Herliany Dorothea Rosa Herliany lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963 adalah seorang penulis dan penyair Indonesia. Setamat SMA Stella Duce di Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma) dan tamat tahun 1987. Selulus dari IKIP Sanata Dharma, dia pernah bekerja menjadi guru, wartawan, dan penulis lepas. Ia mendirikan Forum Ritus Kata dan menerbitkan berkala budaya Kolong Budaya. Pernah pula membantu harian Sinar Harapan dan majalah Prospek di Jakarta. Kini ia mengelola penerbit Tera di Magelang. Dorothea Rosa Herliany adalah penyair wanita tahun 1980- an yang paling dihargai, baik dari segi bobot maupun kesungguhan penyair. Dia juga merupakan penyair wanita yang sangat mengejutkan karena produktif. Hampir semua media massa yang memiliki ruang puisi memuat puisi-puisinya. Disamping menulis puisi, dia juga menulis cerpen, esai, dan laporan budaya yang menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan lain di luar dunia puisi. Pada tanggal 8 September 1988 Dorothea Rosa Herliany melayangkan surat kepada Horison. Dia mengusulkan agar Horison mengurangi pemuatan puisi-puisi terjemahan, Horison mengetengahkan puisi karya Afrizal Malna, Eka Budianta, dan Beni Setia yang saat itu menurutnya penyair yang paling pantas menjadi harapan. Dorothea mulai menulis sejak tahun 1985 yang dipublikasikan di berbagai harian dan majalah, yaitu Horison, Basis, Dewan Sastra (Malaysia), Suara Pembaharuan, Mutiara, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, Citra Yogya, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Kalam, Republika, dan Pelita.
22 Beberapa karyanya yang telah dibukukan adalah: Nyanyian Gaduh (Kumpulan Puisi, 1987), Matahari yang Mengalir (kumpulan puisi, 1990), Kepompong Sunyi (Kumpulan Puisi, 1993), Nyanyian Rebana (Kumpulan Puisi, 1993), Pagelaran (Antologi Cerpen, 1993), Guru Tarno (Antologi Cerpen, 1994), Cerita dari Hutan Bakau (antologi puisi, 1994), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio (Sebuah Radio, Kumatikan; edisi dwibahasa, 2001). Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996). Dari Negeri Poci 2 (Antologi Puisi, 1994), Vibrasi Tiga Penyair (Antologi Puisi, 1994), Blencong (Kumpulan Cerpen, 1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (Kumpulan Cerpen, 1995), Candramowa (Antologi Cerpen, 1995), Ketika Kata Ketika Warna (Antologi Puisi dan Lukisan, 1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (Kumpulan Cerpen, 1999), Nikah Ilalang (Kumpulan Puisi), Para Pembunuh Waktu (Kumpulan Puisi), dan Kill the Radio (Kumpulan Puisi, Indonesia Tera, 2001). Di samping itu, ia juga menulis cerita untuk anak-anak dan remaja. Selain menulis, Dorothea aktif di berbagai kegiatan, antara lain menghadiri Pertemuan Sastrawan Muda ASEAN di Filipina (1990), peserta Festival Puisi Indonesia Belanda di Jakarta dan Rotherdam, Negeri Belanda (1995). Penghargaan yang pernah diperoleh adalah: Pemenang I Penulisan Puisi Hari Chairil Anwar yang diselenggarakan SEMA Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma (1981), Pemenang I Penulisan Puisi Dies Natalis IKIP Sanata Dharma (1985), Pemenang I Penulisan Puisi yang diselenggarakan Institut Filsafat dan Theologia (IFT) Yogyakarta (1985), dan Juara I Penulisan Esai (1986). Dorothea Rosa Herliany adalah orang pertama yang memenangi kedua kategori Kusala Sastra Khatulistiwa, prosa dan puisi, dengan "Santa Rosa" (puisi) pada 2006 dan "Isinga: Roman Papua" (prosa) pada 2015.
23 Eko Tunas Eko Tunas lahir di Tegal, Jawa Tengah, 18 Juli 1956. Ia adalah seniman serba bisa, mampu menulis, melukis, dan berteater. Tahun 1976, Eko Tunas masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis, dan bergabung di Sanggarbambu. Selama di Yogya, ia bergaul akrab dengan Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade, dan EH Kartanegara. Beberapa kali mengikuti pameran besar Sanggarbambu, dan pameran Tiga Muda di Tegal, tahun 1978 bersama Wowok Legowo dan Dadang Christanto. Tahun 1981 masuk IKIP Semarang jurusan Seni Rupa, dan mengikuti pameran mahasiswa di Semarang dan Jakarta. Selama karimya, sudah menulis ratusan tulisan, baik puisi, cerpen, novel, dan esai, dan tersebar di berbagai media massa di Indonesia, antara lain; Pelopor Yogya, Masa Kini, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Bahari, Dharma, Surabaya Pos, Jawa Pos, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pelita, Republika, Kompas, Horison, dan lain-lain. Novelnya, Wayang Kertas, memenangi Sayembara Cipta Cerita Bersambung Suara Merdeka, tahun 1990. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam buku Bidadari Sigarasa, tahun 2002, dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Buku-buku karyanya yang pernah diterbitkan antara lain; Puisi-puisi Dolanan (1978), Yang Terhormat Rakyat (kumpulan puisi, 2000), dan Ponsel di Atas Bantal (kumpulan puisi, 2010).
24 Tahun 1978, bersama Yono Daryono dan YY Haryoguritno mendirikan Teater RSPD Tegal dan Studi Grup Sastra Tegal (SGST). Naskah pertama yang dipentaskan adalah Martoloyo Martopuro. Di situ Eko Tunas berperan sebagai penulis, sutradara, dan sekaligus pemeran utama. Hijrah ke Kota Semarang pada tahun 1981 masih menulis naskah drama untuk Teater RSPD yang disutradarai oleh Yono Daryono, juga untuk Teater Lingkar Semarang. Bergabung di Teater Dhome (1980) dan Teater Balling Semarang (2000). Mendirikan Teater Pedalangan Semarang, tahun (1990). Kini acapkali mementaskan monolog di beberapa kota di Indonesia. Tahun 2013 Eko Tunas meluncurkan kumpulan cerpennya, Tunas, kata pengantar ditulis oleh Afrizal Malna dan editor Joshua Igho, dalam rangkaian acara Reuni 4E bersama E.H. Kartanegara, Emha Ainun Nadjib, dan Ebiet G Ade di Taman Budaya Tegal. Menulis syair lagu untuk kelompok musik terapi jiwa Jayagatra Ungaran (2000—sekarang). Kemampuannya di bidang sastra dan teater menjadikan Eko sering diundang menjadi pembicara di sejumlah diskusi, juri berbagai kompetisi, dan kurator seni rupa. Ia kini tinggal dan menetap di Semarang bersama istrinya Happy Astuti, yang dulunya penyiar yang populer di Radio Imelda FM bersama 5 orang anaknya yakni Ken Ulinnuha, Bre Ikrajendra, Arya Samiaji, Zahid Paningrome dan Sekar Asyaka. Karya-karyanya: Wayang Kertas (novel, 1990), Bidadari Sigarasa (cerpen 2002), Puisi Dolanan (1978), Yang Terhormat Rakyat (puisi, 2000), Ponsel di Atas Bantal (puisi, 2010), Tunas (cerpen, Cresindo Press, 2013). Sedang naskah-naskah dramanya: Martoloyo Martopuro, Ronggeng Keramat, Menunggu Tuyul, Gerbong, Sang Koruptor, Langit Berkarat, Rumah Tak Berpintu, Palu Waktu, Surat dari Tanah Kelahiran, Meniti Buih, Pasar Kobar, Nyi Panggung, Menunggu Gepeng, Blandong, dll.
25 ES. Wibowo ES Wibowo, penyair ini lahir di Purwodadi, Grobogan, 8 Juli 1958. Ia pernah kuliah di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Tidar Magelang. Karya-karya sastranya, terutama puisi, telah terpublikasi di berbagai media massa cetak, baik yan g terbit di ibukota maupun daerah, serta terhimpun ke dalam puluhan buku antologi bersama sejak awal tahun 1980-an hingga sekarang, baik yang berskala lokal, regional maupun nasional. Tahun 1996 pernah diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk terlibat dalam perhelatan Mimbar Penyair Abad 21 di Taman Ismail Marzuki. Pada tahun 2013, ia menerima Penghargaan Seni Budaya sebagai "Senior Sastra dan Seni Ritual" dari Pemerintah Kota Magelang. Buku puisi tunggalnya bertajuk Jagad Batin terbit pada tahun 2015. Kini, ia mengelola komunitas Punakawan Padepokan Gunung Tidar dan tinggal di Magelang.
26 Gojek Joko Santoso Gojek Joko Santoso lahir di Surakarta pada tanggal 10 Mei 1960. Ia mengawali kecintaannya pada sastra dengan bergabung bersama kelompok teater Gidak Gidik di Solo, semasa masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dari situ ia mulai menulis sajak sedikit demi sedikit. Gojek Joko Santoso sempat menimba ilmu sebagai mahasiswa Publisistik, Universitas Negeri Sebelas Maret . Tahun 1996, ia berhasil menerbitkan antologi puisi bersama K.R.T Sujonopuro dan Sosiawan Leak dalam karyanya berjudul Cermin Buram:kumpulan puisi. Buku itu diterbitkan oleh Yayasan Satya Mitra , 1996, Surakarta. Selain itu, Gojek Joko Santoso masih sempat menerbitkan satu buku antologi puisi lagi berjudul Kuda Lumping. Ia dianggap mampu menjadi salah satu penyair gila yang dapat menuliskan suka-dukanya di Indonesia. Semasa hidupnya, Gojek Joko Santoso menikah dengan Susnaningsih. Ia dikaruniai satu anak bernama Cemporet Satya Graha. Ia sempat menjadi wartawan sosial budaya di koran Suara Merdeka, sebelum akhirnya, diangkat menjadi Kepala Biro koran Suara Merdeka cabang Surakarta di tahun 1992. Di tanggal 6 Februari 1998, Gojek Joko Santoso menghembuskan nafas terakhir karena penyakit diabetes yang menggerogotinya sejak masih belia.
27 Gunawan Tri Atmodjo Gunawan Tri Atmojo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Mei 1982. Namanya dikenal melalui sejumlah karyanya berupa cerita pendek, esei sastra, dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar antara lain Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Kartini, dan lain-lain. Gunawan Tri Atmodjo juga menekuni pekerjaan sebagai editor buku-buku pelajaran dan kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara kajian seperti seminar, diskusi, dan workshop. Kini ia total menulis dan menjadi editor freelance, sambil mengurus toko buku online-nya yang semakin berkembang. Buku-bukunya yang telah diterbitkan: Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013), Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015), Tuhan Tidak Makan Ikan (Basabasi, 2016), Pelisaurus (Basabasi, 2018), dan Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga (DivaPress, 2019).
28 Gunoto Saparie Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Ia menulis puisi, cerita pendek, dan esai sastra di berbagai media massa, daerah dan nasional. Pendidikan dasar dan menengah dia selesaikan di Kendal. Kemudian dia melanjutkan kuliah di Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Gunoto Saparie mengawali debutnya sebagai penulis sejak masih duduk di bangku SMP. Kala itu, karyanya dimuat di mingguan Sophia Weekly (Semarang) dan Adil (Surakarta). Karena kecintaannya terhadap dunia sastra, uang sakunya pun ditabung untuk membeli majalah sastra Horison. Sebagai pengagum Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Iwan Simatupang, Emily Dickinson (Amerika Serikat), dan Yasunari Kawabata (Jepang). Selain menulis di bidang kesusastraan, ia juga membuat artikel tentang ekonomi, keuangan, politik, dan agama, di sejumlah surat kabar. Kemampuannya di kancah kesusastraan menjadikan dirinya sering diundang membacakan karyanya dan menyampaikan risalah di berbagai seminar antara lain di Bangkok, Thailand (1987), Singapura (1991), Malaka, Malaysia (1991), Johor Bahru, Malaysia (1991), Kuala Lumpur, Malaysia (1991, 2009), Manila, Filipina (1992), dan Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam (2010). Aktif di berbagai organisasi antara lain Dewan Kesenian Jawa Tengah, ICMI Korwil Jawa Tengah, PWI Jawa Tengah, dan
29 Ormas MKGR Jawa Tengah. Pernah menjadi redaktur harian sore Wawasan, dan kini aktif sebagai staf ahli pemimpin umum harian tersebut. Kini ia aktif mengelola Dewan Kesenian Jawa Tengah sebagai salah satu wakil ketua, dan Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem Jawa Tengah sebagai Sekretaris biro komunikasi publik. Kariernya sebagai Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM Semarang, Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus Semarang, Pemimpin Redaksi Warta Pos Semarang, Pemimpin Redaksi Tabloid Faktual Semarang, Pemimpin Redaksi Majalah Kampus Indonesia Karya-karyanya: Antologi Puisi Kendal I (1976), Antologi Kendal II (1979), Kumpulan Puisi Putih! Putih! Putih! (bersama Korrie Layun Rampan, 1976), Melancholia (1979), Kumpulan Cerpen Kendal-Semarang-Jakarta (bersama Noeng Runua, Abdul Karim Husain, Yetty Nuraini, dan Korrie Layun Rampan, 1980), Solitaire (1981), Malam Pertama (1996), Kumpulan Esai Islam dalam Kesusastraan Indonesia (1986), Dari Negeri Poci 3 (1996), Dari Negeri Poci 4 (2013), Dari Negeri Poci 5 (2014), Antologi Puisi Aku Bangga Jadi Orang Indonesia (2012)
30 Han Gagas Han Gagas merupakan lulusan UGM Yogyakarta, penerima penghargaan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) 2011. Bukunya Sang Penjelajah Dunia (Republika, 2010), novel Tembang Tolak Bala (LKiS, 2012), Ritual (Gembring, 2013), kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2015), novel Orang-orang Gila (Buku Mojok, 2018), dan kumpulan cerpen Percakapan Dua Perasaan (Basabasi, 2019). Di Goodreads, Catatan Orang Gila termasuk Kumpulan Cerpen Indonesia Terbaik. Cerpennya tersebar di sejumlah media, dan salah satunya yang berjudul Wayang Potehi: Cinta yang Pupus, terpilih dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2016. Juga mengelola komunitas grup WA: Mental Health Suport Indonesia (MHSI) yang beranggotakan para pengidap bipolar, skizofrenia, dan para caregiver. Bisa dihubungi di FB dan IG: Han Gagas.
31 Handry TM Handry TM lahir lahir di Kota Semarang, Jawa Tengah, 23 September 1963. Sejak masih duduk di bangku SMP, dia sudah menggeluti dunia sastra, utamanya prosa. Cerita pendek dan cerita bersambungnya yang bertema remaja banyak menghiasi media massa (koran dan majalah), baik yang terbit di daerah maupun nasional. Cerita bersambung Denting hati (1983) adalah salah satu karya monumental yang dimuat tiap bulan di majalan sekolah Media Pelajar (MOP) saat usia Handry masih belia. Bahkan, saat itu dia sudah magang bekerja di harian umum Suara Merdeka, Semarang, yang akhirnya secara resmi bergabung ke harian itu. Hampir separuh hidupnya dihabiskan untuk menulis, baik untuk karya sastra maupun dalam tugasnya sebagai wartawan. Handry pernah bergabung sebagai jurnalis dan redaktur di harian umum Suara Merdeka, tabloid Tren Cek & Ricek, Planet Badminton, Autobiz dan Soccer Style, sebelum akhirnya mendirikan Ezzpro Media tempatnya berkiprah sampai sekarang. Ketokohannya di ranah sastra menjadikan dirinya sering diundang untuk bicara dalam berbagai seminar, diskusi, dan wawancara di televisi. Kekasih plastik merupakan antologi cerpen pertama yang dibukukan, ditulis saat bertugas ke beberapa negara. Kini karya-karyanya menghiasi banyak media massa. Kabut Bening adalah novelet pertama Handry TM sebagai Juara II Sayembara penulisan Novelete Majalah Gadis (1991). Pengalaman organisasi: sebagai ketua Keluarga Penulis Semarang (1987 -1990), pengurus Sie Budaya dan Film Persatuan Wartawan Indonesia (1986-2000), pengurus Dewan Kesenian
32 Jawa Tengah Komite Film/Televisi (1994-1996), Wakil Ketua Ikatan Keluarga Berencana Jateng (1997-2000), Pendiri Ezzpro Media (konsultan media), pengurus PWI Jateng Sie Film & Budaya (2005-2009), ketua Komite Sie Film Dewan Kesenian Semarang (2008-2013), Sekretaris Dewan kesenian Jawa Tengah (2011- 2015), Sekretaris Forum Komunikasi Media Tradisional Jateng (2013-2018). Tahun 2017, ia terpilih sebagai Ketua Dewan Kesenian Semarang. Karya-karyanya: Buku Pintar Seorang Penulis (1983), Antologi Penyair Jateng (1983), Antologi Puisi Indonesia (1987), Antologi Puisi Telepon (1990), Es Krim Kasih Sayang (1992), Segalanya untuk Lila (1993), Tali Masa Lalu (1994), Bintang Stamboel (1995), Antologi Puisi Lawang Sewoe (Semarang), Buku Kumpulan Cerpen Gonjong (Indonesia-Australia, 2000), Buku Kumpulan Cerpen Tembang Purba (2001), Cinta Itu Meracuni (2005), Aku Ingin Badai (2005), Foto di Atas Piano (2005), Pose yang Lelah (2005), Kuingin Mencowel Pipimu tiap Hari Sabtu (kumpulan kasus psikologi remaja, Elexmedia, 2005), Mau Jadi Artis Gampang Loh (2005), Maha Duka Aceh (2005), Hari Gini Gak Nyampe NY (2006), Antologi Puisi Tuhan ke Mana Cinta (2009), Antologi Puisi Rumah Cokelat dan Cinta bersama Timur Sinar Suprabana (2013), Kancing yang Terlepas (2013), Antologi Jaket Kuning Sukirnanto (2014), Antologi Puisi Dari Negeri Poci 5 (2014), Antologi Puisi Menolak Korupsi (2014) Penghargaan: Penghargaan Wartawan Teladan PWI Jateng 1983, Juara I Lomba Mengarang Puisi Tema Lingkungan Hidup Tk. Jateng 1984, Pemenang II Lomba Novelette Majalah "Gadis" dengan judul "Kabut Bening" 1991, Juara III Lomba Penulisan PRPP Tk. Jateng 1993, Finalis 10 Besar Lomba Cerpen IndonesiaAustralia 2000, Juara II Lomba Skenario Film Nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2005, 10 Nominator Lomba Skenario Film Nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2006, 10 Besar Lomba Skenario Film Nasional Kementerian Keudayaan san Pariwisata 2014, 10 Besar Lomba Cerpen Nasional Yayasan Obor – Jakarta 2014, dsb.
33 Hartojo Andangdjaja Dilahirkan di Kampung Sondakan, Laweyan, Solo, pada tanggal 4 Juli 1930, sebagai putra ke-enam dari tujuh bersaudara. Pendidikan terakhirnya di PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) Solo (1958). Bertugas mengajar di SMP dan SMA Simpangempat, Sumatera Barat (1957-1962). Terakhir mengajar di STN Kartasura (1965). Semenjak masih duduk di sekolah menengah (zaman Jepang dan di zaman revolusi), ia sudah aktif menulis sajak-sajak dan menerjemahkan. Sajak-sajak awal remajanya sudah banyak berhasil dimuat dalam berbagai majalah, berdampingan dengan penyair-penyair Chairil Anwar, Anas Makruf, Umar Ismail, S. Wakidjan, Rivai Apin dan lain-lain. seperti dalam majalah “ARENA” (1946); “REVOLUSI PEMUDA” (1946) di Yogya, “PEMBANGUNAN” dan “PANTJA RAYA” (1946-1947) dan “MIMBAR INDONESIA” (1949) di Jakarta, “SENIMAN”, “UDAYA” dan “SUARA MUDA” (1947-1949) di Solo. Sebagai penyair kreatif, ia pernah ikut menangani berbagai aneka redaksi majalah. “MERPATI” (1948); “TJITA” (1952); “SIMPOSIUM/DWIWARNA” (1953); “SI KUNCUNG” (1964); “RELUNG PUSTAKA” (1970) dan “MADYANTARA” (1974). Ia pun termasuk salah seorang aktivis kebudayaan di kota Solo semasa masih pelajar SMA. Pencetus gagasan HARI PUISI (1957), dan bersama DS Moeljanto, mendirikan organisasi Lembaga Seni Sastra Surakarta (1952) dan menyusun buku kumpulan puisi penyair-penyair muda Solo yang bernama
34 “SIMPONI PUISI”, yang diterbitkan dalam rangka peringatan Chairil Anwar (1954). Di RRI Solo, ia juga sering mengadakan siaran-siaran “PANCARAN SASTRA” dan ikut memelopori acara siaran “SAJAK DAN PEMBAHASANNYA”. Hartojo Andangdjaja juga termasuk salah seorang penandatangan “MANIFES KEBUDAYAAN” (1963) yang dilarang oleh Presiden Soekarno. Setelah bermukim kembali ke Solo dan bebas dari mengajar sebagai guru, ia hanya aktif menulis, menerjemahkan buku-buku dari Bank Naskah Dewan Kesenian Jakarta, yang sudah banyak diterbitkan. Kumpulan sajak-sajaknya “BUKU SIMPONI” terbit tahun 1973. Ia tutup usia pada tanggal 30 Agustus 1990. Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, putera dan puteri. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Tegalkembang, Pajang, Solo dan diiringi dengan pembacaan sebuah sajaknya yang terkenal dan monumental, berjudul: “RAKYAT”.
35 Haryono Soekiran Purbalingga melahirkan banyak seniman, salah satunya ialah Haryono Soekiran. Lahir di Purbalingga pada 25 Desember 1961, Haryono adalah seorang sastrawan dan seniman teater. Saat berusia 17 tahun, ia mendapati pemuatan pertama tulisannya di Tabloid Mutiara. Setelah itu, puisi-puisinya berangsur-angsur muncul di pelbagai media baik lokal maupun nasional. Ia tergabung dengan beberapa buku antologi bersama yaitu, Sajak-sajak Gurih Sedaap (1985), Hutan Bakau, Dari Negeri Poci, Taman Sari, Zamrud Khatulistiwa, Rumah Kosong, Refleksi Setengah Abad Indonesia, Pasar Puisi, Fasisme, dan Bisa Baca Puisi. Sebagai seniman teater, Haryono juga seorang yang khusyuk mengimani proses berteater. Hal ini membuat dirinya didapuk sebagai sutradara di beberapa pentas teater. Karya-karya yang pernah disutradarai Haryono Soekiran di antaranya Mega-mega karya Arifin C. Noer, Aduh karya Putu Wijaya, Aum karya Putu Wijaya, Dhemit karya Heru Esawamurti, Primadona karya Riantiarno, Penagih Hutang karya Anton Chekov; Pengantin karya Anton Chekov, Mubah adaptasi Anton Chekov, Wot atawa Jembatan karya Yudhistira AN Massardi, Dalang dan Wayang karya Koco Sundari.
36 Indah Darmastuti Indah Darmastuti lahir dan berkarya di Solo. Dengan panduan bacaan-bacaan, ia mulai serius belajar menulis secara otodidak tahun 2002. Bacaan yang membuatnya terpukau adalah Terompet Sang Angsa (E.B White) novel anak yang ia baca saat kelas 1 SMP. Itu adalah salah satu buku yang menumbuhkan minat bacanya. Tetapi novel Burung-burung Rantau (Romo Mangun) yang mendorongnya untuk mulai belajar menulis. Ia menulis menulis cerpen, puisi, esai dan novel. Sudah menerbitkan novel Kepompong (Jalasutra, 2006), kumpulan novelette Cundamanik (Sheila, 2012), sehimpun cerita Makan Malam bersama Dewi Gandari (Bukukatta, 2015) karya fiksinya dimuat di media lokal dan nasional. Merawat minat baca dan tulis bersama Buletin Sastra Pawon-Solo. Pernah diundang di Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali 2012. Diundang mengikuti workshop kritik seni pertunjukan oleh Indonesian Dance Festival (IDF) di Jakarta 2015. Pemenang sayembara menulis novelette Femina 2011 sebagai juara 2. Pemenang ke 3 sayembara menulis cerita anak Dinas Pendididkan Jawa Tengah (2007) Pemenang harapan 1 sayembara menulis cerita cekak (cerita berbahasa Jawa, 2014). Saat ini sedang mengerjakan Audiobooks, Sastra Suara untuk difabel netra yang berumah di www.difalitera.org. Bisa dihubungi : [email protected] Blog : indahdarmastuti.blogspot.com Hp : 08122599408
37 Irul S. Budianto Irul S. Budianto adalah nama pena yang sering dipakai dalam tulisannya. Nama aslinya Khoirul Soleh, SS. Kini tinggal di Donohudan, Ngemplak, Boyolali. Pernah menjadi wartawan puluhan tahun lamanya dan sekarang bekerja di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Jawa Tengah. Menulis sejak tahun 1989, berupa puisi, geguritan, crita cekak, cerita pendek, cerita anak, cerita rakyat/roman sejarah, cerita remaja, cerita pewayangan, esai, reportase dan lainnya. Dalam berbagai kesempatan tak jarang memakai nama pena lain, diantaranya Luri Harnasiwi, Tanti Jatiningrum, Pradhita Ayu Ambarsari, Bintang AN, Cakrawangsa, Lintang WM, Tini KS, Lintang Alit dan lainnya. Tulisan-tulisannya bertebaran di berbagai media berbahasa Jawa lan Indonesia, seperti: Suara Merdeka, Wawasan, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Minggu Pagi, Simponi, Swadesi, Surabaya Post, Karya Darma, Bahari, Mitra, Solopos, Pos Kita, Bengawan Pos, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Djaka Lodang, Mekar Sari, Panakawan, Jawa Anyar, Damarjati, Pagagan, Krida, Rindang, Desa Kita, KMD PS, Pustaka Candra, Buana, Praba, Posmo, Exlusive, Mantra, Tunas, Merah Putih Pos, Pulung, Metro Jateng, Joglo Pos, Swaratama, Jemparing, Omah Tulis, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Haluan Padang, Magelang Ekspres, Palembang Ekspres, Radar Lampung, Fajar Makasar, Simalaba.com, Banjarmasin Post, Nusantaranews.co, Jurnal Asia, Kabar Madura, Denpasar Post, Koran Pantura, Malang Post, Hadila, Nyonthong.com, Harian Jogja, Radar Bromo, Radar Cirebon,
38 Radar Banyuwangi, Medan Pos, Rakyat Sultra, Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Pos Bali, Tanjungpinang Pos, Republika, Dinamika News, Titis Basa, Bangka Pos, Utusan Borneo, Radar Malang, Radar Tasikmalaya, Pontianak Post, Ungaran News, Radar Madura, Radar Jombang dan Lampung Post. Buku yang sudah diterbitkan Cathetan Kanggo Lintang (Kumpulan Geguritan, 2018) lan Rembulan Sacuwil (Kumpulan Crita Cekak, 2018). Kini tengah mempersiapkan buku barunya berupa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan esai dan kumpulan cerita anak. Prestasi yang sudah ditorehkannya antara lain: Juara III lomba menulis geguritan (Sanggar Triwida, 1995), Juara Harapan V menulis crita cekak Tingkat Jawa Tengah (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, 2006), Juara III menulis geguritan (Yayasan Karmel Malang, 2016), Juara Harapan I menulis geguritan (Yayasan Karmel Malang, 2016), Juara III menulis crita cekak (Yayasan Karmel Malang, 2017), Juara Harapan III sayembara menulis crita cekak se-Jawa Tengah (Yayasan Podang, 2018)
39 Jumari HS Jumari HS (lahir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 24 November 1965; umur 53 tahun) adalah salah satu sastrawan berkebangsaan Indonesia. Nama lengkap Jumari HS adalah Jumari Hasibuan. Jumari HS adalah nama pena yang sering ia gunakan dalam setiap karyanya. Nama belakang Hasibuan diambil dari marga sang nenek yang berasal dari luar Jawa. Sekarang berdomisili di Desa Loram Kulon 4/1 Jati, Kudus. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa puisi dan cerita pendek yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar, baik daerah maupun nasional, antara lain Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Solo Pos, Lampung Post, The Djakarta Post, Swadesi, Jawa Pos, Wawasan, Bahari, Sumatra Exspres, dan lain-lain. Jumari merupakan salah satu penyair yang tergabung dalam Gerakan Puisi Menolak Korupsi yang digagas oleh Heru Mugiarso dan Sosiawan Leak, serta Komunitas Negeri Poci yang terbit sejak 1993. Berkat ketokohannya di dunia sastra, Jumari kerap diundang dan aktif terlibat dalam forum sastra nasional maupun internasional seperti Forum Sastrawan Nusantara Asean di Brunie, Forum Sastra di Palembang, Aceh, Tanjung Pinang, Jambi, Jakarta, Yogyakarata, dan Solo. Lima belas karya puisi heroiknya didokumentasikan di perpustakaan Prancis. Dia juga pernah diundang tampil membacakan puisinya di Universitas Hankuk Seoul, Korea Selatan. Selain itu, dia juga menjadi Ketua Teater Teater Djarum, di mana dia sehari-hari bekerja sebagai salah satu supervisor di PT. Djarum
40 Kudus. Saat ini Jumari menjabat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kudus. Karya-karya yang telah ditulisnya antara lain: Antologi Puisi Indonesia API, Jentera Terkasa, Zamrud Khatulistiwa, Serayu, Maha Duka Aceh, Koda SBY, Pabrik, Sajak Kudus, Menara 1, Menara 2, Menara 3, Refleksi Setengah Abad Indonesia, Kicau Kepodang 3, Sang Parasu, Seperti Angin, Masih ada Menara, Puisi Menolak Korupsi, Memo Anti Terorisme, Dari Negeri Poci 4, Dari Negeri Poci 5, Dari Negeri Poci 6, Dari Negeri Poci 7, Tembang Tembakau, Jejak Yang Hilang, Semut-semut Menembangkan Gelombang (novel), Panorama senja (2018), Pijar Api Zikir Puisi (2019)
41 Joko Sumantri Joko Sumantri, lahir di Brebes. Ia sempat berkuliah di jurusan Matematika UNS, sebelum menjadi alumnus FISIP UNS. Ia pernah juga menjadi Staf Perhimpunan Citra Kasih, Solo. Sempat bergiat di sastra Solo bersama komunitasnya, Mejabolong, sebelum akhirnya mengajak kawan-kawan lainnya mendirikan Buletin Sastra Pawon. Di masa-masa awal, Joko Sumatri sempat menjadi koordinator buletin itu, dengan membuat program-program yang dikenang sampai hari ini, seperti Kemah Sastra, Rumah Sastra dsb. Joko Sumantri juga aktif di pergerakan buruh. Tercatat: sekitar tahun 2000-2003 ia menjadi aktivis HMI, dan LMND. Tahun 2003-2004 aktif di KMPP, dan PRP, dan tahun 2009- 2010 menjadi pengurus pusat KASBI. Di tahun-tahun itu juga ia menjadi redaktur tabloid Mimbar Politik Joko Sumantri menikah dengan Mulyanah. Karya-karyanya beriupa cerpen, puisi dan esai banyak dimuat di media. Novelanya Niharay diterbitkan Buletin Sastra Pawon. Joko Sumantri meninggal dunia di usia yang masih cukup muda, di hari Minggu, 2 februari 2014, di RSU Kota Tangerang.
42 KH. Ahmad Mustofa Bisri Publik mengenal KH. Achmad Mustofa Bisri atau yang lebih karib dengan sapaan Gus Mus sebagai ulama yang gemar menulis. Lahir di Rembang pada 10 Agustus 1944. Konon sejak belia, Gus Mus sudah gemar menulis sajak. Kegemaran menulis itu bukan tanpa apa. Semenjak kanak-kanan, Gus Mus ialah seorang pembaca. Saat remaja, tulisan-tulisannya mulai tersiar di media-media. Lahir dan besar dalam lingkungan keluarga yang kental dengan pendidikan pesantren dan kemudian intelektualisme secara umum dengan melakoni hari bersama ragam bacaan adalah keberuntungan yang sebenar-benarnya. Lingkungan keluarga itu sangat menentukan bagaimana Gus Mus tumbuh sebagai sebagai laki-laki agamis dan puitis. Berkenaan dengan publikasi tulisan di media massa, masa remaja dilalui Gus Mus dan Gus Cholil Bisri (kakaknya) dengan bersaing untuk menembus benteng redaksi sekian media. Gus Mus tidak bisa diam saja dan justru geram dan merasa mendapat tantangan saat mendapati puisi Gus Cholil dimuat media. Hal yang demikian membuat Gus Mus berupaya keras mengasah kegemarannya menulis sajak. Sungguh suatu persaingan yang menggembirakan dan perlu. Kini, kita tahu begitu banyak buku karya Gus Mus yang hadir di hadapan pembaca, baik fiksi maupun nonfiksi. Buku-buku nonfiksinya antara lain Dasar-dasar Islam (Penerbit Abdillah Putra Kendal, 1401 H), Ensklopedi Ijma' (Pustaka Firdaus, 1987), Kimiya-us Sa'aadah (Assegaf Surabaya), Mutiara-mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994), Mahakiai Hasyim Asy'ari (Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996), Metode Tasawuf Al-
43 Ghazali (Pelita Dunia Surabaya, 1996), Fikih Keseharian (Penerbit Al-Miftah, 1997), Al-Muna (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, 1997), Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, 1997), Syair Asmaul Husna (Penerbit Al-Huda Temanggung), Melihat Diri Sendiri (Divapress, 2003), Membuka Pintu Langit (Penerbit Buku Kompas, 2007), Saleh Ritual Saleh Sosial (Divapress, 2016), dan lainnya. Sementara buku-buku fiksinya antara lain, NyamukNyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (Gaya Favorit Press Jakarta, 1979), Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, 1994), Tadarus (Prima Pustaka Yogya, 1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (Matra Media, 1995), Pahlawan dan Tikus (Pustaka Firdaus, 1996), Wekwekwek: Sajak-sajak Bumilangit (Risalah Gusti, 1996), Negeri Daging (Bentang Pustaka, 2002), Lukisan Kaligrafi (Penerbit Buku Kompas, 2003), Maha Duka Aceh (2005), Konvensi (Divapress, 2018). Gus Mus diundang ke pelbagai perhelatan sastra dan kebudayaan baik di dalam maupun luar negeri. Tahun 2005, ia memperoleh penghargaan Anugerah Sastra Asia dari Majelis Sastra (Mastera, Malaysia). Dua belas tahun kemudian, namanya dinobatkan sebagai peraih Yap Thiam Hien, penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar bagi tegaknya HAM di Indonesia.
44 Kriapur Kriapur atau Kristianto Agus Purnomo, lahir di Solo, 6 Agustus 1959. Penyair yang sempat digadang sebagai salah satu penyair paling berbakat ini meninggal dalam usia relatif muda, 28 tahun. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di daerah Batang, 17 Februari 1987. Tulisannya kerap dimuat di berbagai media. Majalah Horison pernah mengangkat sosok dan puisi-puisinya sebagai sisipan di bulan Desember 2004, beberapa tahun setelah kepergiannya. Kriapur belum meninggalkan buku puisinya secara utuh, untuk mengenangnya, puisi-puisi berikut diangkat dari gabungan manuskrip yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta saat mengenang Kriapur, juga dari majalah Horison.
45 Lanang Setiawan Nama pena itu hal yang hampir sangat lumrah di dunia kepenulisan. Para pembaca seringkali malah terlalu akrab dengan sekian nama pena daripada nama asli si penulis. Hal ini juga dialami pemilik nama pena Lanang Setiawan. Konon, nama asli Lanang Setiawan itu Slamet Setiawan. Penulis kelahiran 1962 ini lahir di Kota Tegal, tepatnya tanggal 25 November 1962. Selain tekun menekuni kerja kepenulisannya, ia juga aktif sebagai penggerak sastra Jawa berdialek Tegal. Terkait hal ini, tahun 2011 ia diganjar penghargaan sebagai salah satu penerima Hadiah Sastra Rancage. Beberapa buku dan album lagu berbahasa Jawa dialek Tegal telah ia telurkan. Lanang serius menghidupi bahasa Jawa dialek Tegal dengan melalui bahasa tulis. Ia memulai kerja mengalihkan karya-karya berbahasa Indonesia jadi bahasa Jawa dialek Tegal sejak tahun 1993. Karya-karya yang dialih bahasakan antara lain Nyanyian Angsa karya WS. Rendra menjadi Tembangan Banyak. Sajak Aku, Doa, dan Isa karya penyair Angkatan 45 menjadi Enyong, Ndonga, dan Isa. Lanang juga mencatat peristiwa kesenian di Tegal antara kurun waktu 1950-1993 dan menerbitkannya sebagai buku dengan judul Jalan Panjang Teater dan Sastra Tegal. Selain Jalan Panjang Teater dan Sastra Tegal, ada pula buku-buku memoir yang mencatat pengalaman personalnya. Buku-buku itu Ngranggeh Katuranggan, Pengendara Badai, dan Di Balik Panggung. Lanang juga merintis beberapa media yang memakai bahasa Jawa berdialek Tegal serta memfokuskan tulisan-tulisan
46 yang termuat menjadikan Tegal sebagai pusat pemberitaan. Pendeknya, ia berupaya menghasilkan media yang enak dibaca oleh orang-orang di tanah kelahirannya. Selain menulis dan aktif menggerakkan sastra, Lanang juga seorang seniman teater. Ia mendirikan Teater Swadesi dan telah memerantaskan sekian naskah, di antaranya AIB (Putu Wijaya), Ni Ratu (Lanang Setiawan), Surti Gandrung (Lanang Setiawan), dan Lenggaong (Lanang Setiawan).
47 Langit Kresna Hariadi Langit Kresna Hariadi lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 24 Februari 1959. Sebelum terjun di dunia menulis, awalnya ia adalah penyiar radio yang cukup dikenal masyarakat luas. Karya-karyanya: Balada Gimpul (Balai Puistaka), Kiamat Para Dukun (Era Intermedia), Libby (Qalam Press), De Castaz (Tinta), Alivia (Tinta), Serong (Tinta), Melibas Sekat Pembatas (Tinta), Antologi Manusia Laminating (Tinta), Kiamat Dukun Santet (Gama Media), Siapa yang Nyuri Bibirku? (dengan nama samaran: Amurwa Pradnya Sang Indraswari, Diva Press), Jaka Tarup (dengan nama samaran: Amurwa Pradnya Sang Indraswari, Diva Press). Ia juga menulis serial bersambung Beliung dari Timur (Harian Umum ABRI) dan Sang Ardhaneswari (Solopos) Naskahnya yang meledak dan dikenal luas adalah pentalogi Gajah Mada yang diterbitkan Tiga Serangkai. Di penerbit yang sama ia juga menulis Mengarang? Ah Gampang, Menak Jinggo, Sekar Kedaton, Amurwa Bhumi, episode Cleret Tahun. Sebelumnya, Langit Kresna Hariadi pernah membuat penerbitan dengan nama Langit Kresna Hariadi Production, Banyak buku diterbitkan seperti seri Candi Murca dan seri Perang Paregrek, selain itu novel lepas Cinta Bergeming. Beberapa tahun lalu, naskah-naskah itulah yang dikemas ulang dan diterbitkan kembali oleh Tiga Serangkai. Nama besarnya juga membuat penerbit kembali menerbitkan naskah-naskah lainnya. Tercatat ada: Teror (Narasi), Balada Gimpul (Narasi), Selingkuh (dari novel Serong, Narasi).
48 M. Enthieh Mudakir M. Enthieh Mudakir lahir di Kota Tegal, Jawa Tengah, 24 April 1963. Sejak muda sudah menggeluti dunia kesenian antara lain teater dan sastra. Di akhir tahun 1970-an, bersama Nurngudiono, Lanang Setiawan, dan Dwi Ery Santoso bergabung dalam Teater Puber pimpinan Nurhidayat Poso. Setelah itu, dia mendirikan Teater Wong bersama Michael Gunadi Wijaya dan Bontot Sukandar dan mementaskan naskah-naskahnya di Tegal dan beberapa kota lainnya. Tahun 2008, bersama Atmo Tan Sidik dan Joshua Igho, Enthieh ikut mendirikan Akademi Kebudayaan Tegal, sebuah lembaga kajian seni-budaya yang menggelar beberapa seminar, orasi budaya, diskusi, pertunjukan seni, dan menerbitkan buku. Di dunia sastra, namanya dikenal di kancah kesusasteraan Indonesia melalui karya-karyanya berupa cerita pendek dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar antara lain Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Swadesi, Koran Merapi, Minggu Pagi, dan lain-lain. Enthieh merupakan salah satu penyair yang puisi-puisinya terangkum dalam antologi Dari Negeri Poci. Pada tahun 2012, dia diundang sebagai salah satu penyair dalam perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara VI Jambi. Karya-karyanya terhimpun dalam beberapa buku, antara lain: Malam Begini Bening (1990), Dari Negeri Poci 2 (1996), Koor Zaman (2002), Dian Sastro For President (2005), Cemas Belum Menyerah (2007), Angin Perlawanan (2011), Dari Negeri Poci 4 (2013), Dari Negeri Poci 5 (2014), Dari Negeri Poci 6 (2015).
49 MM Bhoernomo MM Bhoernomo lahir di Kudus, 23 Desember 1962. Sejak 1980 menekuni aktifitas menulis dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Telah menulis novel dan ribuan cerpen, puisi, esai serta berbagai macam artikel yang dipublikasikan dengan sejumlah nama pena disejumlah media cetak seperti Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembeharuan, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Republika, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Koran Tempo, Pelita, Suara Karya, Berita Yudha, Prioritas, Warta Kota, Tribun Jabar, Tribun Jateng, Mutiara, Nova, Citra, Matra, Kartini, Sartika, Estafet, kedaulatan rakyat, Minggu Pagi, Bernas, Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Koran Merapi, Solo Pos, Jawa Pos, Surabaya Pos, Bali Pos, Surya, Jaya Baya,Penjebar Semangat, dan sejumlah media lainnya Sekarang tinggal di Prambatan Kidul, RT 02 RW 04 Kudus 59331 Jawa Tengah dan bisa di hubungi di [email protected]