The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansmpwarga, 2024-06-04 22:54:05

Sastrawan Inventarisasi Data Kesenian Jawa Tengah

Pengarang : Wijang J. Riyanto (editor )

Keywords: Seni

50 Mukti Sutarman Espe Mukti Sutarman Espe, lahir di Kota Semarang, Jawa Tengah, 6 Maret 1956. Namanya dikenal di kancah kesusastraan Indonesia melalui sejumlah karyanya dalam bentuk puisi yang dipublikasikan di berbagai surat kabar antara lain: Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Solo Pos, Kedaulatan, Koran Amanah, dan lain-lain. Selain menulis karya sastra, Mukti juga aktif dalam organisasi kesenian antara lain mendirikan Keluarga Penulis Semarang (KPS) bersama Bambang Sadono, tahun 1981, dan menjabat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah. Mukti merupakan salah satu penyair yang tergabung dalam antologi puisi berseri Dari Negeri Poci yang diterbitkan sejak 1993. Mukti Sutarman Espe menempuh pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi di kota kelahirannya. Selain menulis karya-karya sastra dalam bentuk puisi, Mukti juga aktif di organisasi kesenian, antara lain ikut mendirikan Keluarga Penulis Semarang (KPS) bersama Bambang Sadono, Handry TM, Gunoto Saparie, dan lain-lain. Tahun 1990 Mukti hijrah ke Kabupaten Kudus. Bersama penyair Yudi MS, dia menginisiasi berdirinya Keluarga Penulis Kudus (KPK). Mukti juga tetcatat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah, masa kepengurusan 2008 sampai dengan 2011. Karya-karyanya antara lain: Menara (1993), Puisi Heroik Jawa Tengah (1994), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (1995), Lawang Sewu (1995), Mahaduka Aceh (2005), Hijau


51 Kelon&Puisi (2002), Jogja 5,9 Skala Richter (2007), Negeri Laut (2015), Lumbung Puisi IV (2016), Gelombang Puisi Maritim (2016), 100 Puisi Qurani (2016), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), Puisi Kopi 1.550 Mdl (2016), Nyanyiam Puisi untuk Ane Matahari (2017), Negeri Awan (2017), Bersiap Menjadi Dongeng (2013), Menjadi Dongeng (2019).


52 NH. Dini Nurhayati Sri Hardini, atau yang dikenal sebagai NH. Dini, lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936. Ia dilahirkan dari pasangan RM. Saljowidjojo, seorang pegawai PJKA, dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. NH. Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati. Ibu Dini, yang harus bekerja keras sebagai buruh batik setelah kematian suaminya, selalu bercerita padanya tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari bacaan Panji Wulung, Penjebar Semangat, tembang-tembang Jawa, dsb. Baginya, sang ibu mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk watak dan pemahamannya akan lingkungan. Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, ternyata NH. Dini tidak ingin menjadi tukang cerita. la malah bercita-cita jadi sopir lokomotif atau masinis. Tapi cita-cita itu tak kesampaian karena ia tidak menemukan sekolah bagi calon masinis kereta api. Ayah NH. Dini wafat sewaktu ia duduk di bangku SMP. Sejak itu ibunya hidup tanpa penghasilan tetap. Mungkin karena itu, ia jadi suka melamun, dan menulis. Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek.


53 Awalnya NH Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Semarang dalam acara Tunas Mekar. Ia juga menulis untuk Majalah Kisah dan Siasat. Cerpen pertamanya, Pendurhaka, bahkan mendapat kritis positif dari H.B. Jassin tahun 1951 Karya-karyanya tak henti terbit menyapa pembacanya. Tercatat sepanjang karisrnya, N.H. Dini telah menulis: Dua Dunia (1959), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1975), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Langit dan Sumi Sahabat Kami (1979), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1981), Amir Hamzah, pangeran dari seberang (1981), Kuncup Berseri (1982), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tanah baru, tanah air kedua (1997), Cerita rakyat dari Prancis 1 (1999), Cerita rakyat dari Prancis 2 (1999), Jepun Negerinya Hiroko (2000), Dari Parangakik ke Kampuchea (2003), Dari Fontenay ke Magallianes (2005), La Grande Borne (2007), Argenteuil: hidup memisahkan diri (2008), Pondok Baca Kembali ke Semarang (2011), Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang, cerita kenangan (2012), Dari Ngalian ke Sendowo (2015) dan Gunung Ungaran (2018) Beberapa bukunya juga dicetak ulang dengan judul dan kemasan baru: Monumen, kumpulan cerpen (2002), Istri Konsul kumpulan cerita pendek (2002), Janda Muda, kumpulan cerpen (2003), Pencakar langit, kumpulan cerita pendek (2003) NH. Dini meninggal dunia tanggal 4 Desember 2018 pada usia 82 tahun karena kecelakaan lalu lintas di jalan tol Tembalang, Semarang. Jenazahnya dikremasi di Ambarawa pada 5 Desember 2018.


54 Nadjib Kartapati Nadjib Kertapati itu menulis cerpen, novel, juga skenario film. Cerpennya pernah tersiar di pelbagai koran dan majalah. Penulis kelahiran Pati pada 21 Agustus 1954 itu memulai aktivitas kepenulisannya dengan menapaki profesi sebagai jurnalis. Tercatat sejak 1978, ia pernah jadi redaktur pelaksana di Majalah Srikandi, Majalah Kriminal dan Pencegahan, redaktur di Majalah Monalisa, redaktur di Majalah Sarinah. Dalam dunia kepenulisan skenario film, Nadjib juga seorang yang lurus dan tekun. Ia terus menggarap tema sosial meski tema itu tak sanggup bersaing dibanding tema cinta. Meskipun demikian, Nadjib berhasil memperoleh beberapa penghargaan seperti Piala Vidia pada tahun 1998. Tahun 2015 ia mendapat penghargaan Skenario Film Televisi Terpuji dari Festival Film Bandung melalui film televisi berjudul "Ibu Een Guru Qolbu. Skenario film televisinya yang berjudul Undangan Kuning pun mendapat sambutan baik dari penonton. Sebagai sastrawan, Nadjib membuktikan dirinya dengan kelahiran karya-karyanya. Buku-buku yang telah ditulisnya antara lain Orang-orang Kalah (Balai Pustaka), Pengibulan Massal (Balai Pustaka), Hadi dan Zumala (Balai Pustaka), Sang Pengabdi (Progres), Memburu Matahari (Progres), Menepis Impian (Progres), Debu-debu Cinta (Progres), Kabut Hati Suami (Progres), Surat Pamungkas (Progres), Dalam Bayangan Ibu (Yayasan Barzakh Foundation), Ke Sorga Naik Sepeda (Citra Almamater), Perempuan Dilarang Baca, Geger Wisanggeni, Maysuri (Alvabet), Sajak Cinta Seorang Cerpenis (Mujahid Press).


55 Nurhidayat Poso Nurhidayat Poso lahir di Kota Tegal, Jawa Tengah, 5 Mei 1960, Ia adala aktor, sutradara, dan sastrawan yang dikenal melalui karyakaryanya berupa naskah drama, cerita pendek, esei, dan puisi yang banyak dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di berbagai antologi, seperti Berita Buana, Horison, Merdeka Minggu, Suara Merdeka, dan lain-lain Di tahun 1980-an, dia mendirikan Teater Puber sekaligus menyutradarai setiap pertunjukkannya. Pada 1987, dia menjadi salah satu dari 87 penyair yang diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam Forum Puisi Indonesia 87. Tahun 2010, Nurhidayat Poso dan beberapa sastrawan lainnya menggagas dan menyelenggarakan Gerakan Kesusastraan Indonesia Angkatan Kosong-kosong yang menghadirkan Saut Situmorang, Saut Poltak Tambunan, Kurniawan Junaedhie, Sides Sudyarto DS, dan lain-lain. Tahun itu pula, Nurhidayat menerima penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia berkat karyanya yang mengangkat kehidupan sastrawan Widjati, dimuat oleh Suara Merdeka. Dia juga tercatat sebagai penyair yang puisinya terangkum dalam antologi Dari Negeri Poci 2. Nurhidayat Poso tutup usia setelah jatuh dari kamar mandi di usia 55 tahun. Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Kardinah, Tegal, Jawa Tengah di hari Selasa 9 Desember 2015, sekitar pukul 20.30.


56 Poer Adhie Prawoto Poer Adhie Prawoto atau Poerwantoro Adhie Prawoto lahir di Blora 7 Maret 1950. Mengambil pendidikan di SPG Negeri Blora (1968), SPGLP Kudus jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (1989), kemudian di FKSS-IKIP Negeri Bojonegoro jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengajar di Cepu, Kudus dan Blora. Pada tahun 1980 bersama keluarganya pindah ke Solo dan mengajar di Gondangrejo, Karanganyar. Tulisannya banyak tersebar di Suara Merdeka, Jawapos, Kedaulatan Rakyat, Sinar Harapan dan juga Kompas. Banyak antologi geguritan yang telah dihimpunnya. Pernah menjadi redaktur koran Parikesit (Solo) juga buletin sastra Jawa, Baluwerti dan Wahana Sastra Jawa yang diterbitkan PKJT dan TBJT. Walau terkenal sebagai penggurit, Poer Adhie Prawoto juga aktif sebagai seniman dan budayawan, bahkan pada satu acara pernah ikut main kethoprak yang melibatkan seniman, budayawan dan wartawan Surakarta di RRI Solo. Bukunya yang telah terbit Kritik Esai Kesusasteraan Jawa Dan Modern(1989) Wawasan Sastra Jawa Modern(1991), Antologi Cerita Pendek Jawa Modern dan Masyarakat Samin, Tinjauan Sosio-Kultural. Semasa hidupnya berusaha menjadi dokumentator Sastra Jawa Modern. Tahun 2001, ketika sedang semangat-semangatnya mempersiapkan karyanya yang baru, Poer Adie Pr awoto dipanggil Allah SWT dalam usia 51 tahun. Meninggalkan seorang istri, dan dua putranya, Waskita Danardana dan Laksita Yudhistira.


57 Pramoedya Ananta Toer Siapa yang tak tahu nama Pramoedya Ananta Toer. Di jagat kesusasteraan Indonesia, dialah satu-satunya penulis kita yang pernah masuk nominasi nobel sastra. Penghargaan sastra paling bergengsi di dunia. Pram –begitu ia akrab disapa— lahir di Blora pada 6 Februari 1925. Ia berpulang 81 tahun kemudian, tepatnya pada 30 April 2006. Selama pendudukan Jepang, Pram bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta. Sementara di masa pendudukan Belanda, ia memilih bergabung dengan kelompok militer sampai akhir perang kemerdekaan. Kehidupan Pram beserta karir kepenulisannya tak tumbang meski ia harus pindah dari penjara ke penjara, melampaui rezim satu ke rezim lain. Karya Pram yang paling fenomenal tentu saja Tetralogi Buru yang terdiri dari Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988). Selain tetralogi buru, masih ada begitu banyak buku yang ditulisnya. Sebagian selamat dari intaian penguasa dan menyumpai pembaca, sebagian lagi bernasib malang. Buku-buku karya Pram di antaranya, Sepoeloeh Kepala Nica (1946), Kranji–Bekasi Jatuh (1947), Perburuan (1950), Keluarga Gerilya (1950), Tikus dan Manusia (terjemahan, 1950), Kembali pada Tjinta Kasihmu (terjemahan, 1950), Subuh: Tjerita-Tjerita Pendek Revolusi (1951), Percikan Revolusi (1951), Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Dia yang Menyerah (1951), Cerita dari Blora (1952), Gulat di Jakarta (1953), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Korupsi (1954), Perdjalanan Ziarah jang Aneh (terjemahan, 1954), Mari


58 Mengarang (1955), Ibunda (terjemahan, 1956), Kisah Seorang Pradjurit Sovjet (1956), Cerita dari Jakarta (1957), Cerita Calon Arang (1957), Hoakiau di Indonesia (1960), Panggil Aku Kartini Saja I & II, (1963), Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964), Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963), Lentera (1965), Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995), Arus Balik (1995), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997), Arok Dedes (1999), Mangir (2000), Larasati (2000), Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (2001), Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005), dan lain-lain. Kerja kepenulisan Pram banyak disanjung dunia luar. Hal ini dibuktikan dengan penghargaan-penghargaan yang diterimanya dari pelbagai negara.


59 Prie GS. Supriyanto GS atau lebih dikenal dengan nama Prie GS, lahir di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 3 Februari 1964. Ia adalah budayawan yang mengawali kariernya sebagai wartawan di harian umum Suara Merdeka, Semarang, Jawa Tengah. Prie GS juga dikenal sebagai kartunis, penyair, penulis, dan public speaker di berbagai seminar, diskusi, dan menjadi host untuk acaranya sendiri, baik di radio maupun televisi. Prie GS lahir dan besar di kecamatan Kaliwungu, Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Rumah dan kehidupan di sekelilingnya tak lepas dari dunia kartun sejak dekade 1970-an, dan ia memutuskan menceburkan diri dalam dunia kreativitas menggambar itu. Ia banyak mengirim karya-karya kartun ke berbagai media massa. Ia sempat belajar khusus kepada kartunis kawakan Kompas, G.M. Sudarta. Selepas SMA, Prie GS melanjutkan pendidikan di jurusan seni musik, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Semarang. Ia kemudian mengawali kariernya sebagai wartawan di harian umum Suara Merdeka. Beberapa tahun kemudian, Suara Merdeka Group mempercayakan padanya untuk memimpin majalah wanita Cempaka. Walau sempat menjadi mahasiswa jurusan seni musik, Prie GS cepat menyadari kalau musik bukan jalan hidupnya. Hingga akhirnya dia memilih menjadi seorang kartunis hingga sekarang. Prie GS juga pernah menggelar pameran kartun di Tokyo, Jepang atas undangan The Japan Foundation. Di sana, banyak ilmu yang didapat terutama tatkala punya kesempatan berdiskusi


60 dalam satu meja dengan para komikus dan animator tersohor di negeri itu. Prie juga pernah menjajal kemampuannya sebagai aktor dengan bergabung di Teater Dhome Semarang saat menggarap repertoar Umang-umang atawa Orkes Madun karya Arifin C. Noer. Di Teater Lingkar, Prie lebih banyak menulis skenario drama. Sedangkan di Teater Aktor Studio, Prie bersama Joshua Igho menjadi ilustrator musik untuk repertoar Jembatan Mberok. Menjalani hidup sebagai wartawan, penulis kolom, dan kartunis semakin menambah wawasan Pri GS luas. Ini yang membawa Prie GS terjun sebagai public speaker. Di wilayah ini, Prie sering diundang sebagai pembicara, motivator, dan pengasuh acara-acara bertema budaya. Kemampuannya mengolah rasa adalah modal yang menjadikannya terus diminati oleh banyak lembaga untuk meminta siraman-siraman bernas darinya, antara lain Markas Besar TNI Angkatan Laut Cilangkap, memberikan refleksi sosial di hadapan para jenderal dan perwira Angkatan Laut. Berbagai perusahaan besar juga pernah mengundangnya seperti PT Telkom, PT Coca-Cola, Indonesiai Power, Bank Indonesia, PT PLN, PT Telkomsel, dan lain-lain. Di ranah hiburan radio dan televisi, sampai sekarang Prie juga menjadi host untuk acaranya refleksi. Sudah tidak terhitung karya-karya yang diterbitkan, baik puisi, cerpen, kolom, kartun, maupun buku-buku humor, karena sejak memulai debutnya sebagai seniman, setiap pekan dia selalu menulis dan menggambar untuk diterbitkan di media massa. Buku-bukunya antara lain: Nama Tuhan di Sebuah Kuis (2003), Merenung Sampai Mati (2004), Mari Menjadi Kampungan (2005), Hidup Bukan Hanya Urusan Perut (2007), Ipung, novel motuivasi Pembangkit Kepercayaan Diri (2008), Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia (2009), Indonesia Jungkir Balik (2012), Hidup ini Keras, Maka Gebuklah (2012), Waras di Zaman Edan (2013), Indonesia Tertawa, Hidup Boleh Susah, Jiwa Tetap Bahagia (2014), Mendadak Haji (2016)


61 Roso Titi Sarkoro Roso Titi Sarkoro lahir di Kendal, 14 Maret 1954. Belajar menulis sejak SMA tetapi secara serius baru di awal tahun 1980-an. Di saat menapaki usia senjanya ia justru semakin profuktif. Karya puisinya menyebar di berbagai media massa lokal maupun nasional. Ratusan puisinya terdokumentasi di berbagai antologi puisi Jawa Tengah maupun Nasional. Pada tahun 1995, penyair satu ini memprakasai pesta seni spektakuler di tepi Kali Progo—di sisi jembatan Kali Progo—yang menjadi saksi bisu sejarah kelam pembantaian ribuan pejuang dan rakyat pada masa perang kemerdekaan oleh kolonial Belanda. Dalam Pesta Seni Kali Progo tersebut lahirlah Antologi Puisi Progo 1 hingga sekarang. Selain menulis puisi juga menulis cerpen, laporan, ulasan budaya. Pada tahun 1986-2003 bekerja sebagai jurnalis pada harian Sore Wawasan Semarang selain mengajar di SMPN 6 Temanggung, ketika itu. Penyair senior satu ini baru saja meluncurkan buku antologi puisi tunggal bertitel “Jagat Gugat” (2014). Konsep penyair ini sangat sederhana “Menulis dengan niat Ibadah”. Roso Titi Sarkoro termasuk salah satu pendiri Dewan Kesenian Daerah dan terakhir bersama beberapa rekannya tengah menggeliatkan kegiatan sastra di kota sejuk Temanggung Bersenyum dengan mendirikan “Keluarga Studi Sastra 3 Gunung” Temanggung.


62 Sanie B Kuncoro Sanie B Kuncoro lahir dan besar di Solo. Setelah berpindah beberapa kota, sekarang menetap di Karanganyar, persis di perbatasan kota Solo. Sejauh ini telah menulis 3 novel, beberapa kumpulan cerpen dan kumpulan novelet, serta puluhan cerita pendek dan beberapa esai tentang kehidupan. Dalam masa produktifnya dulu yang disukainya adalah mengikuti beragam lomba penulisan, event yang membangkitkan adrenalin dan semangat menulis baginya. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media massa antara lain Kompas, Jawa Pos, Femina dan beberapa majalah perempuan yang dulu pernah menjadi trend penerbitan di Indonesia. Bukubuku yang telah diterbitkan: Kekasih Gelap (Bentang), Mayan (Bentang), Garis Perempuan (Bentang), Mimpi Bayang Jingga (Bentang), Sayap Cahaya (Elex Media Komputindo), Melepas Ranting Hati (Gradien), Memilikimu (Gagasmedia), dsb. Bagi Sanie, menulis adalah bagian dari hidup. Naluri menulis yang dimiliki seseorang adalah talenta unik yang tidak setiap orang beruntung mendapatkannya. Maka dia berharap mampu terus menjaga talenta tersebut. Baginya proses menulis seumpama berada di "taman bermain" yang memungkinkannya menciptakan beragam karakter dan cerita sebagai imajinasi yang tak terbatas. Menjadikannya seorang pencerita setelah mendengar dan melihat beragam kehidupan. Sebuah taman bermain yang memberinya ruang untuk melintas ulang-alik antara imajinasi dan realita, memberikan beragam ruang pelepasan dan menjadikan hidup serupa pengembaraan yang menakjubkan.


63 Sapardi Djoko Damono Kalau ada puisi yang laris dijadikan kutipan di undangan pernikahan, itulah puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Aku Ingin. Selain Aku Ingin, kita tentu tak melupakan puisi Hujan Bulan Juni. Sapardi atau kerap disebut SDD lahir di Solo pada 20 Maret 1940. Kegemarannya menulis terus meningkat saat ia resmi jadi mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Rentang tahun 1995-1999 ia menjabat sebagai redaktur Majalah Sastra Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan country editor Majalah Tenggara di Kuala Lumpur. Sapardi menulis sekian buku baik fiksi maupun nonfiksi. Buku-buku fIksinya adalah Duka-Mu Abadi (1969), Lelaki Tua dan Laut (terjemahan, 1973), Mata Pisau (1974), Sepilihan Sajak George Seferis (terjemahan, 1975), Puisi Klasik Cina (terjemahan, 1976), Lirik Klasik Parsi (terjemahan, 1977), Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Water Color Poems (1986), Suddenly The Night: The Poetry of Sapardi Djoko Damono (1988), Afrika yang Resah (terjemahan, 1988), Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991), Hujan Bulan Juni (1994), Black Magic Rain, Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000), Pengarang Telah Mati (2001), Mata Jendela (2002), Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002), Membunuh Orang Gila (2003), Nona Koelit Koetjing (2005), Mantra Orang Jawa (2005), Before Dawn: The Poetry of Sapardi Djoko Damono (2005), Kolam (2009), Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (2012), Namaku Sita


64 (2012), The Birth of I La Galigo (2013), Trilogi Soekram (2015), Novel Hujan Bulan Juni (2015), Melipat Jarak (2015), Suti (2015), Pingkan Melipat Jarak (2017), Yang Fana Adalah Waktu (2018) Sementara buku-buku nonfiksinya ada Sastra Lisan Indonesia (1983), Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan, Dimensi Mistik dalam Islam (terjemahan, 1986), Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia (2004), Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Politik Ideologi dan Sastra Hibrida (1999), Pegangan Penelitian Sastra Bandingan (2005), Bilang Begini, Maksudnya Begitu (2014), Alih Wahana (2013), Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita (2011), Tirani Demokrasi (2014).


65 Sri Wintala Ahmad Sri Wintala Ahmad merupakan salah satu dari sekian alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada yang jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Ia menulis sejak tahun 1987, ia menulis fiksi dan nonfiksi dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Tulisan-tulisanya pernah tersiar di pelbagai media massa seperti Kompas, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Republika, dsb. Buku-buku yang telah ditulisnya antara lain, Centhini: Malam Ketika Hujan (Divapress, 2011), Dharma Cinta (Laksana, 2011), Jaman Gemblung (Divapress, 2011), Sabdapalon (Araska, 2011), Dharma Gandul: Sabda Pamungkas dari Guru Sabdajati (Araska, 2012), Ratu Kalinyamat: Tapa Wuda Asinjang Rikma (Araska, 2012), Kiamat: Petaka di Negeri Madyantara (In AzNa Books, 2012), dan Centhini: Kupu-kupu Putih di Langit Jurang Jangkung (Araska, 2011). Selain itu, ia tergabung dengan beberapa buku antologi bersama di antaranya Antologi Esai Musik Puisi Nasional (LKiS, 2006), Antologi Puisi Malioboro (Balai Bahasa Yogyakarta, 2008), Antologi Cerpen Perempuan Bermulut Api (Balai Bahasa Yogyakarta, 2010), Antologi Cerpen Tiga Peluru (kumcer pilihan Minggu Pagi Yogyakarta, 2010), Antologi Geguritan & Cerkak Kongres Sastra Jawa III – Bojonegoro Pasewakan (2011), Antologi Puisi Kembali Jogja Membaca Sastra (Rumah Budaya Tembi, 2011), Antologi Puisi Suluk Mataram (Great Publisher, 2011), Antologi Puisi Jejak Sajak (Jambi, 2012), Antologi Puisi 127 Penyair Dari Sragen Memandang Indonesia (Dewan Kesenian Sragen, 2012), Antologi Puisi PPN VI: Pertemuan Penyair Indonesia & beberapa Negara Asia Tenggara di Jambi – Sauk Seloko (Dewan Kesenian Jambi, 2012), dan masih banyak lagi.


66 Soesilo Toer Soesilo Toer karib dengan panggilan Soes. Lahir di Blora pada 17 Februari 1937, ia merupakan adik kebanggaan Pramoedya Ananta Toer. Soes adalah sosok pungkasan, setelah tiga kakaknya (Pram, Prawito, Koesalah) yang menggeluti dunia kepenulisan meninggal dunia. Sejak 2004 ia dan keluarga kecilnya tinggal di rumah warisan orang tuanya di Blora. Rumah itu sekaligus digunakan sebagai Perpustakaan Pataba, yang selanjutnya juga berkembang sebagai lini penerbitan buku. Didikan Pram yang tegas saat situasi ekonomi keluarga dalam kondisi buruk membentuk diri Soes sebagai sosok yang mandiri sejak belia. Saat usianya 13 tahun, tulisan pertamanya berhasil terpacak dalam Majalah Kunangkunang terbitan Balai Pustaka. Kini, di usianya yang ke delapan puluh dua ia masih aktif menulis, merawat dan menghidupi perpustakaan Pataba, juga menggarap penerbitan Pataba Press dengan anak semata wayangnya, Benee Santoso. Karya-karya yang telah ditulis Soesilo Toer antara lain, Suka Duka si Pandir (novel, 1963); Komponis Ketjil dan Tjerita-tjerita Lain (Kumpulan cerita anak-anak, 1963); Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa (Memoar, 2009); Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer (Memoar 2009); Di Antara Pena, Perempuan dan Keberanian; Pram dan Seks; Legenda Gunung Kemukus; Putri Sendang Wungu; Legenda Kedungombo; Pram dan Seks 2; Pram dan Seks 3; Pram dari Dalam (biografi, 2013); Pram dalam Kelambu (biografi, 2015); Pram dalam Bubu (biografi, 2015); Komponis Kecil Edisi Baru (cerita anak-anak,


67 2015); Pram dalam Belenggu (biografi, 2016); Pram dalam Tungku (biografi, 2016); Dunia Samin (novel, 2016); Anak Bungsu (novel, 2017); Republik Jalan Ketiga (Esai politik ekonomi, 2017); Indra Tualang si Doktor Kopi (cerita anak-anak, 2017); Kompromi (novel, 2017); Serigala (novel, 2017); Rona-rona (puisi, 2017); Nasib Seorang Penebang Kayu (cerita anak-anak, 2018); Dari Blora ke Rusia (Memoar); Serenade (kumpulan cerpen).


68 Sosiawan Leak Sosiawan Leak lahir di Solo, 23 September 1967. Memperoleh penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah sebagai Tokoh Bahasa dan Sastra Indonesia (2017). Buku puisinya, Wathathitha, mendapat penghargaan dari Yayasan Hari Puisi Indonesia sebagai Buku Puisi Terbaik 2016 (bersama 5 buku puisi karya penyair lainnya). Puisinya, Negeri Sempurna, menjadi Puisi Terbaik pada Tifa Nusantara III (2016). Tampil pada Poetry on The Road Festival (Bremen, 2003), Aceh International Literary Festival (2009), Ubud Writers and Readers Festival (2010), Jakarta-Berlin Arts Festival (2011), Pertukaran Budaya Indonesia-Korea (Hankuk University of Foreign Studies Seoul, 2012), Asean Literary Festival (2014), dll. Menjadi narasumber serta membaca puisi di Universitas Pasau (2003), Universitas Hamburg (2003, 2011), Deutsch Indonesische Gesellschaft Hamburg (2011), Kedutaan Besar Indonesia di Berlin (2011), Korea Broadcasting System (KBS) Seoul, Ansan City (2012), dll. Melakukan program apresiasi sastra bersama Martin Janskowski dan Berthold Damhauser (2006- 2010), bersama Adam Wideweisch (2012), bersama Charl-Pierre Naude, Vonani Bila, Mbali Bloom, Rustum Kozain, dan Indra Wussow (2012), dll. Tulisannya terbit sebagai buku puisi Wathathitha (Azzagrafika, 2016), Sajak HOAX (Elmatera, 2018), dan Wathathitha (Basabasi, 2018). Naskah lakonnya (terjemahan bahasa Jawa Rini Tri Puspohardini) terbit dalam Geng Toilet (Forum Sastra Surakarta, 2012). Buku lain, Kepemimpinan Akar Rumput (Jogja Bangkit Publisher, 2015) dan Anai-Anai di Gelap Badai; ODHA Terpencil


69 Melawan Stigma (Yayasan Sheep Indonesia, 2015). Karyanya juga terbit dalam antologi puisi Umpatan (Satyamitra, 1995), Cermin Buram (Satyamitra, 1996), Dunia Bogambola (Indonesiatera, 2007), Matajaman (Eraqu, 2011), dll. Esainya terbit dalam KATA TIDAK SEKADAR MELAWAN (bersama Gerakan Puisi Menolak Korupsi, Intrans Publishing, 2017). Menulis dan menyutradarai drama kolosal Namaku Indonesia (2013), Pulanglah Nak (2014), Wahyu Tumurun (2014), Sedulur Papat (2015), dan Kita Nusantara (2017). Menjadi Koordinator Gerakan Puisi Menolak Korupsi, Koordinator Penerbitan Memo Penyair, dan Koordinator Gerakan Antiskandal Sastra. Facebook: Sosiawan Leak. Email: [email protected].


70 Sumanang Tirtasujana Sumanang Tirtasujana, merupakan seorang penyair dan Esais. Ia adalah alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dan merupakan salah satu Pendiri Cagar Seni Menoreh dan Kelompok Sastra Pendopo, Jogja. Tulisannya dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Sempat aktif di Forum Pengadilan Puisi Penyair Jogja tahun 87-an. Puisinya terhimpun dalam: antologi Perjamuan bersama ES Wibowo, antologi Vibrasi bersama Dhorothea Rosa Herliany dan Dedet Setiadi; antologi nasional 50 Tahun Indonesia merdeka, Serayu (1995); Antologi Jentera Terkasa (1995 TBS, Solo); antologi HP3N Malang (1989); antologi Jalan Remang Kesaksian, Tembi; antologi Menoreh; antologi Penyair Jateng; antologi Jalan Cahaya Jakarta; antologi Parangtritis; Puisi Menolak Kurupsi. Karyanya juga terhimpun dalam antologi puisi modern Equator, edisi tiga bahasa Inggris, Indonesia dan Jerman. Ia juga pernah diundang dalam Pidato 50 Seniman indonesia di Mendut (1995). Pernah juga membacakan karyanya di Sastra Bulan Purnama Tembi, Yogya, Jakarta, Purwokerto, Cirebon, TBS Solo, TBS Semarang. Kini ia menjabat Ketua Dewan Kesenian Purworejo dan tinggal di Selatan Pasar Pituruh No.6, Pituruh Purworejo 54263.


71 Sunardi KS. Sunardi KS, lahir di Dukuh Bendowangen, Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, KabupatenJepara, tahun 1955. Menulis sajak, essay dan cerpen, dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Buku kumpulan sajak tunggalnya berbahasa Jawa berjudul Wegah Dadi Semar terbit tahun 2012. Awal-awal proses kreatifnya karena sering berdekatan dengan Yudhi Ms, lalu ketularan bisa membuat sajak. Aktif di kelompok Studi Sastra Jepara.


72 Sus S. Hardjono Sus S. Hardjono lahir 5 Nopember l969 di Sragen. Tahun 1990-an aktif menulis puisi, cerpen dan geguritan dan novel sejak masih menjadi mahasiswa, serta mempublikasikannya di berbagai media massa yang terbit di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Puisinya dimuat di Bernas, KR,Pelopor Jogja, Merapi, Solopos, Joglo Semar, Suara Merdeka, Wawasan, Swadesi, Radar Surabaya, Minggu Pagi, Cempaka Minggu ini, dll. Ia juga sempat bergabung dalam Kelompok Teater Peron FKIP .Pernah aktif di majalah kampus Motivasi. Aktif di berbagai komunitas di Sragen seperti APPS (Aliansi Peduli Perempuan Sukowati ), YIS Solo (Yayasan Indonesia Seejahtera), Yayasan Darmakumara Solo (Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Kebudayaan Jawa ), aktif juga di KPPS, Mansaceria, Teater Gatra, dll. Sekarang mengelola majalah pendidikan dan aktif sebagai wartawan pendidikan di Kemenang (Kankemenag Sragen dan Kanwil Jateng). Novelperdananya Sekar Jagat dan sekarang menulis novel keduanya yang berjudul pengakuan Mendut.Dan novel ketiganya Surga Yang Hilang. Antologi puisi tunggalnya Tembang Tengah Musim (2018). Selain karya tunggal juga sudah menghasilkan 80- an buku antologi bersama dalam berbagai acara sastra. Juga mengelola majalah pendidikan di MAN I Sragen. Tahun 2012 – RSS dan DKDS Mengadakan Launching buku Sragen Memandang Indonesia Tahun 2014 Launching buku Habis Gelap Terbitlah Sajak (RSS & APPS), Tahun 2014 Launching Buku


73 dan Road Show PMK 23 di MAN I Sragen, Tahun 2016 – Launching buku Perempuan Mengasah Kata (RSS & TBJT), Tahun 2017 Launching buku PMK 6 dan Roadshow PMK 48 Buku Antologi Puisi Guru n Siswa MAN I Sragen di MAN I Sragen. Tahun 2017 mendapat penghargaan Pendidik Peduli Bahasa dan Sastra dari Balai Bahasa Jateng Mengelola RSS di Sragen yang mengelelola Komunitas Puisi Mansaceria, dan LESEHAN SASTRA RSS yang beralamat di Jl, Raya Batu Jamus Km 8 Mojokerto Kedawung Sragen. Aktivitas sehari-harinya adalah mengajar di MAN I Sragen. Bias dihubungi melalui HP 082 134 694 646, surel: [email protected], dan Fb Sus S. Hardjono dan Rumah Sastra Sragen.


74 Thomas Haryanto Soekiran Thomas Haryanto Soekiran lahir di Purbalingga, 25 Desember 1961. Sempat menimpa ilmu di Padepokan Bagong Kussudiaharjo, Yogyakarta (1984) dan Sanggar Gelak Suka milik Agus Melasz, Jakarta (1988). Ia dianggap sebagai seniman serba bisa yang bergiat di tari, teater dan sastra. Dalam ranah tari pernah menggelar pertunjukan tari Opera Kelahiran (1985), Orang Kubu di Hutan Improvisasi (1985). Pernah juga menggelar pentas tari di rumah tahanan Purworejo (1986), Kemah Budaya di pantai ketawang purworejo (1987), pentas tari Bangsat (1987), Sampur Gunung (1987), dsb. Di ranah teater pernah menggelar pertunjukan Mega Mega naskah Arifin C. Noor (1986), Mencari Bapa naskah WS Rendra (1987), Rama Sinta (1988), Diajeng Kunthi Penjual Tempe, tiga penyair Jateng (1990), monolog Ngomong (1995), Semar (2007), dsb. Juga mengadakan pentas di rumah tahanan anak Kutoarjo (2009), dan melakukan roadshow monolog se-Indonesia (2011), dari Yogyakarta, Surakarta, Purwokerto, Temanggung, Kendal, Magelang, Semarang Klaten,Tegal. Karya tulisnya dimuat dalam berbagai antologi: Riak Bogowonto (1988), Istirah (1996), Jentera Terkasa (1996), Kidung Bulan Tertikam (2000), Penyair Indonesia Angkatan Kosong-kosong (2010), Penyair Jawa Tengah (2012), Dari Sragen Memandang Indonesia (2012), Puisi Menolak Koprupsi Jilid 1 dan Jilid 2 (2013), Habis Gelap Terbitlah Sajak (2013), Tifa Nusantara (2013), Flyover Merah Putih (2014), Negeri Poci Lima (2014),


75 Thomas Haryanto Soekiran juga aktif di organisasi kesenian, Tercatat ia pernah mendirikan Study Teater Purworejo (1985), mendirikan TeaterNYA PURWOREJO (1995), menjadi pengurus Dewan Kesenian Purworejo Komite Teater (ketua dua) di periode 2007/2013, pengurus Dewan Kesenian Jawa Tengah Komite Teater periode 2009/2013, mendirikan Padepokan Seni Matahariku Purworejo (2009), dan mengampu teater di SMA Taruna Nusantara Magelang (2012) Saat ini bersama sang istri, Adriyana Juliayanti SH, dan anak semata wayangnya Florentia Matahari, tinggal di Desa Bandung Kidul 01/03 94 Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo.


76 Timur Sinar Suprabana Timur Sinar Suprabana lahir di Semarang, Jawa Tengah, 4 Mei 1963. Ia muerupakan putra dari pasangan Bolo Soetiman dan Moenasijah. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa esei sastra, cerita pendek, dan puisi yang dipublikasikan di berbagai surat kabar antara lain Kompas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dsb. Dia juga mengkomunikasikan karya-karyanya ke publik melalui pembacaan puisi di banyak kota di Indonesia. Sejak tahun 1983, ia sudah mengikuti sekurang-kurangnya 57 kegiatan festival seni, sastra, ataupun budaya di berbagai kota di Indonesia. Selain menyair, Timur juga menulis cerita pendek, esai, kritik seni, reportase sosial-budaya, dan naskah drama, serta bergiat di forum-forum kebudayaan Jawa Tengah. Ia mengelola Rumah Budaya gubuGPenceng dan mengisi waktu luangnya dengan melukis serta bertanam bunga, serta memelihara kurakura. Kini ia menetap di Semarang bersama istrinya, Dewi Nurliyanti, dan dua putri kandung mereka, Langit Hijau dan Laut Padi. Karya-karyanya: Menyelam Dalam, Gobang Semarang (2009, Penerbit KATA KITA), Sihir Cinta (2008, Penerbit gubuGPenceng dan TBJT), Langit Semarang (2008, Penerbit gubuGPenceng dan TBJT), Dua Hati (2008, Penerbit gubuGPenceng dan TBJT), Dengan Cinta (2007), Nyanyian dari Ruang di Garistangan (bersama 5 penyair, 2007), Lembah yang Tak Henti Bernyanyi (2007, bersama 3 penyair), Malam (2005), Matasunyi (2005),


77 Triman Laksana Triman Laksana menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia: Novel, Cerpen, Puisi, Artikel, dll. Tulisannya pernah dimuat di majalah Kartini, Sarinah, Femina, Gadis, Hai, Anita Cemerlang, Nova, Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Bisnis Indonesia, Pikiran Rakyat, Berita Yudha, Suara Merdeka, Wawasan, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Yogya Post, Solopos, Surabaya Pos, Panyebar Semangat, Jaya Baya, Damar Jati, Djoko Lodang, Mekar Sari,dll. Juga menulis beberapa naskah sandiwara radio berseri Bahasa Jawa: Telah disiarkan oleh Radio Recobuntung (Yogyakarta). Cerita Bersambung yang pernah dimuat: Matahari, 50 seri (Skh Masa Kini,1987), Benang Abang, 12 seri (Majalah Jawa, Mekar Sari,1994), Ing Awang-Awang, 16 seri (Majalah Jawa, Djoko Lodang , 2006). Jejak Pertiwi, 13 Seri (Skm. Minggu Pagi, 2018). Buku tunggalnya antara lain Ing AwangAwang (novel Jawa), Menjaring Mata Angin (novel Indonesia), Sepincuk Rembulan (antologi geguritan), dll. Juga tergabung di berbagai antologi bersama baik berbahasa Indonesia maupun Jawa. Berproses kreatif dari Yogyakarta hingga kini di Magelang. Saat ini, menjadi redaktur (cerkak) di Majalah Swaratama, Balai Bahasa Jawa Tengah. Pembina ekstrakurikuler sastra dan teater di beberapa SMP, SMA di kota dan kabupaten Magelang. juga mengelola Gubug Literasi Padhepokan Djagat Djawa, yang bergerak dalam Taman Bacaan, Sekolah Menulis dan Forum diskusi. Serta sering dipercaya menjadi Nara Sumber dan Juri Sastra dan Budaya, di berbagai daerah. Tahun 2018, bukunya “Anak Getuk” menjadi salah satu pemenang Nasional, dalam Gerakan Literasi Nasional, oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud. Juara Harapan 2, Lomba Cipta Cerpen, oleh BBJT Tengah. Juara 2,


78 lomba Cipta Cerkak oleh Yayasan Podhang, Jawa Tengah. Tahun 2017, mendapat Penghargaan Prasidatama, sebagai Tokoh Bahasa dan Sastra Jawa Tengah, dari BBJT. Buku Anak “Sang Pewaris” menjadi salah satu Pemenang Nasional dalam Gerakan Literasi Nasional, oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemendikbud. Tahun 2016, Juara Harapan 1, Cipta Puisi Balai Bahasa Jawa Tengah. Pemenang Pertama Nasional, Refleksi Literasi dalam Fetival Literasi Nasional di Palu oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Tahun 2015, Mendapat Penghargaan Sastera Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage Ayip Rosyidi, Bandung. Juara 2, Cipta Cerpen Oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, Prov. DIY. Juara 2, lomba Cipta Cerkak, oleh Sanggar Triwida, Jawa Timur. Tahun 2014, Juara 3, Lomba Opini Gotong Royong, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Prov. Jawa Tengah. Tahun 2013, Juara Harapan II, Cipta Geguritan, Yayasan Karmel, Malang. Tahun 2012, Mendapat Penghargaan Acarya, bidang Sastra Pendidik Nasional, dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun 2008, Pemenang III Nasional, Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Fiksi, Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional RI. Juara Harapan, Penulisan Puisi Jawa, Yayasan Karmel, Malang. Tahun 2007, Pemenang I Nasional, Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Fiksi, Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional RI. Juara Harapan V, Penulisan Naskah Drama SMA/MA, Dinas P dan K Jawa Tengah. Juara Harapan II, Penulisan Cerpen, Dinas P dan K Jawa Tengah, 2006. Juara Harapan II, Penulisan Cerpen, Dinas P dan K Jawa Tengah,2005. Juara II, Cipta Puisi Jawa, Dinas Kebudayaan DIY, 2004. Juara Harapan, Penulisan Cerita Anak, Yayasan Kanthil, Semarang,2002. Juara II, Penulisan Cerpen Jawa, BBY, 2001. Juara III, Penulisan Puisi Jawa, Dewan Kesenian DIY,2000. Juara II, Penulisan Esai, Festifal Kesenian Yogyakarta,1994. Juara II, Penulisan Cerpen Jawa, Forum Dinamik, Wonogiri,1993, dll.


79 Triyanto Triwikromo Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964. Ia adalah wartawan Suara Merdeka dan sempat menduduki Redaktur Pelaksana sastra, juga menjadi dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, Semarang. Triyanto Triwikromo kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teaterteater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Dia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm Festival (2005) dan Nothern Territory Festival di Darwin, Austral;ia. Selain itu, pada tahun 2012-2013 dia terlibat dalam penggarapan program citybooks yang diproduksi oleh deBuren (rumah produksi dari Belgia). Proyek ini membuat 10 puisi panjangnya tentang Semarang diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis. Karya-karyanya: Rezim Sex (1987), Ragaula (2002), Sayap Anjing (2003), Anak-anak Mengasah Pisau (2003), Malam Sepasasang Lampion (2004), LA Underlover (2008), Pertempuran Rahasia (2010), Celeng Satu Celeng Semua – 10 cerpen pilihan Kompas, 2003–2012 (2012) Surga Sungsang (2014), A Conspiracy of God-killers translated by George A. Fowler (2014), Kematian Kecil Kartosuwiryo (2015), Bersepeda ke Neraka (2016), Sesat Pikir Para Binatang (2016), Kitab Para Pencibir (2017) dan Tatang Teh Tong Tji (2018).


80 Cerpennya Anak-Anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, A.S. Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario yang ditulis oleh Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989)ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi bersama. Triyanto juga merupakan salah satu tokoh yang memelopori gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman, pada 1990-an bersama Sosiawan Leak dan lain-lainnya.


81 Widji Thukul Widji Thukul, lahir dengan nama Widji Widodo, di Surakarta, 26 Agustus 1963. Ia hilang di tempat dan waktu yang tidak diketahui. Diduga diculik pada tanggal 27 Juli 1998, di umur 34 tahun. Ia adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia yang menjadi salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Widji Thukul adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi yang sederhana. Ayahnya seorang penarik becak, sementara ibunya berjualan ayam bumbu. Widji Thukul mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Ia pernah bersekolah di SMP Negeri 8 Solo dan melanjutkan pendidikannya hingga kelas dua di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia jurusan tari. Namun ia memutuskan untuk berhenti sekolah karena kesulitan keuangan. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Pada Oktober1989, Widji Thukul menikah dengan Siti Dyah Sujirah alias Sipon.Keduanya dikaruniai dua anak, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Widji Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer. Aksinya tak hanya itu, tercatat ia pernah ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik


82 tekstil PT Sariwarna Asli Solo (1992). Ia bahkan mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT. Sritex (1995). Kerusuhan Mei 1998 menyeret beberapa nama aktivis ke dalam daftar pencarian aparat Kopassus Mawar. Di antara para aktivis itu adalah aktivis dari Partai Rakyat Demokratik, Partai Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan,dan Karingan Klerja Kesenian Rakyat (JAKKER) –di mana Widji Thukul bergabung– pengusaha, mahasiswa dan pelajar. Semenjak bulan Juli 1996, Widji Thukul sudah berpindahpindah keluar-masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu, ia tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi, yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah. Namun sejak peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul pada KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), namun Widji Thukul belum ditemukan hingga kini. Kumpulan puisinya adalah Puisi Pelo dan Darman dan lainlain. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, 1994). Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit Manus Amici adalah nama fiktif yang digunakan untuk menghindari pemerintah Orde Baru. Semasa hidupnya Wiji Thukul sempat diundang membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut (1995), pernah ngamen puisi pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta, 1991), pernah juga memperoleh Wertheim Encourage Award dari Wertheim Stichting, Belanda, bersama W.S. Rendra (1991), dan dianugrahi penghargaan Yap Thiam Hien Award 2002.


83 Wieranta Wieranta lahir pada Rabu Kliwon, tanggal 13 Juni 1958, di kota kecil Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Pendidikan dasar dan menengah pertamanya diselesaikan di daerah kelahirannya, Klaten. Sementara pendidikan menengah atas diselesaikan di SMA Negeri 5 Surakarta. Setamat SMA, ia masuk ke Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra, Universitas Sebelas Maret, dan lulus tahun 1984. Namun sebelum lulus, sebenarnya ia telah mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Muhammadiyah 2 Surakarta sejak 1981. Sejak masih duduk di bangku SMA , Wieranta sudah menulis. Pertama-tama ia menulis dalam bahasa Indonesia, kemudian barulah dalam bahasa Jawa. Karya-karyanya yang berbahasa Jawa berupa guritan, cerkak, dan novel (cerbung), tersebar di berbagai media massa berbahasa Jawa, seperti Mekar Sari, Djaka Lodang, Panjebar Semangat, Dharma Kandha dan Dharma Nyata. Sedangkan karya-karyanya yang berbahasa Indonesia banyak tersebar di majalah Horison, Putri Indonesia, Sinar Harapan, Memorandum, Suara Merdeka, dan Gelora Mahasiswa. Sebuah antologi guritannya berjudul Paseksen: Geguritan Gagrag Anyar diterbikan oleh Balai Pustaka tahun 1989. Bukubuku lainnya: Dongeng Saka Pabaratan, Dia Telah Menguasai Setengah Dunia Suatu, Saat di Hotel Mangkunegaran, Debur Cinta (2015), Sihir Cinta (2015), Mantra Nyenyet Taman Mimpi Bertiga (2015), dsb.


84 Wijang Wharèk Al-Mau’ti Wijang Wharek Al-Mau’ti asli bernama Wijang Jati Riyanto, lahir di Demak, 5 September 1964. Menyelesaikan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Filsafat UNS, Solo (1992). Pernah aktif di dunia teater dan hingga sekarang intens menekuni dunia sastra. Dalam dunia teater, ia pernah bergabung dengan Kelompok Kerja Teater Sastra (TESA), UNS (1987-1992) dan beberapa kali terlibat dalam pementasan, seperti Dokter Gadungan (Moliere, 1988), Oemar Khayam (Harold Lamb, 1988), teatrikalisasi cerpen Maria (Putu Wijaya, 1988), Bom Waktu (N. Riantiarno, 1989), Gandrung Kecepit (1989), teatrikalisasi puisi Nyanyian Angsa (WS Rendra, 1990), Akal Bulus Scapin (Moliere, 1990), dan Oedipus di Kolonus (Sophokles, 1991). Selain itu ia juga hadir dalam berbagai pertemuan tingkat nasional. seperti Pertemuan Teater Indonesia (Solo, 1993), Kongres Kesenian I (Jakarta, 1995), Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Jakarta, 1995), Festival Teater Nasional (Bandung, 1996), Temu Teater Indonesia (Pekanbaru, 1997), Festival Nasional Teater Anak (Jakarta, 1999), serta Temu Teater Indonesia dan Musyawarah Dewan Kesenian se Indonesia V (Yogya, 1999). Ia pernah menjadi dosen luar biasa mata kuliah Penyutradaraan FPBS Universitas Bengkulu (1998) dan Sekretaris Umum Dewan Kesenian Propinsi Bengkulu (1999-2000). Sementara dalam dunia sastra, selain menjadi salah seorang penggerak Revitalisasi Sastra Pedalaman (1993), karya-karyanya pernah juga dimuat di berbagai media massa cetak, baik yang terbit di pusat maupun daerah, serta terhimpun ke dalam puluhan antologi bersama, seperti Panorama Dunia Keranda (1991), Puisi


85 (Antologi Puisi Penyair se Sumatera, Jambi, 1996), Dari Bumi Lada (Temu Penyair Sumatera, Jawa dan Bali; Dewan Kesenian Lampung, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta; Balai Pustaka, 1996), dan Puisi-Puisi Dari Pulau Andalas (TB Lampung, 1999), Tanah Pilih (Temu Sastrawan Indonesia I; Jambi, 2008), Mengucap Sungai (Temu Budaya Nasional, TB Riau, 2010), Percakapan Lingua Franca (Temu Sastrawan Indonesia III; Tanjungpinang, 2010), Rekonstruksi Jejak (TB Jateng, Solo, 2011), Requiem bagi Rocker (Surakarta, 2012), Risalah Usia Kata (TB Jateng, Solo, 2014), Puisi Menetas di Kaki Monas (Temu Sastrawan MPU IX, Jakarta, 2014), dan Tonggak Tegak Toleransi (Temu Sastrawan MPU X, Kupang, 2015). Dalam dunia baca puisi, ia pernah meraih trophy Gubernur Jawa Tengah sebagai Juara I Lomba Baca Puisi se Jawa Tengah (Kudus, 1989), trophy Rektor UNS sebagai Juara II Lomba Baca Puisi Pameran Buku Nasional (Solo, 1990), dan trophy Dekan Fisipol Unisri sebagai Juara III Lomba Baca Puisi Pahlawan se Jawa Tengah (Solo, 1991). Ia juga pernah membacakan karya puisinya di beberapa kota, seperti Solo, Salatiga, Semarang, Tegal, Kroya Cilacap, Jepara, Kudus, Purworejo, Temanggung, Yogya, Surabaya, Malang, Jember, Blitar, Ngawi, Lampung, Bengkulu, Jambi, Padang, Pekanbaru, Medan, dan Jakarta. Namanya sendiri telah tercatat dalam buku Direktori Penulis di Indonesia (Depdikbud, 1997), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, Balai Pustaka, 2000), dan Sastrawan Jawa Tengah dan Karyanya Jilid I (Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, 2015). Perayaan 99 Kematian ini adalah kali pertama karya-karya puisinya dihimpun dalam sebuah buku kumpulan atau antologi puisi tunggal yang terbit pada tahun 2018. Sekarang ia bertugas di Taman Budaya Jawa Tengah dan tinggal di Rejosari Rt. 05 Rw. 07 Sabrang, Delanggu, Klaten. Hp. 08156705057/082138883898, email: [email protected]


86 WS. Rendra Sastrawan dan seniman teater bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra ini terkenal dengan sebutan “Burung Merak”. Lahir di Solo pada 7 November 1935, sejak kecil Rendra punya pesona membius segenap keluarganya yang ningrat setiap kali ia tampil melantunkan tembang-tembang di panggung . Rendra lahir dari rahim seorang penari serimpi Keraton Surakarta Hadiningrat, Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya R Cyprianus Sugeng Brotoadmodjo adalah seorang dramawan tradisional, juga seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik Solo. Sejak belia, ia menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di pelbagai media massa. Tahun 1952 puisinya yang pertama muncul di media massa, tepatnya dimuat di Majalah Siasat. Ketika SMP, drama pertamanya yang berjudul Kaki Palsu dipentaskan. Saat SMA ia diganjar penghargaan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta berkat dramanya yang berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan. Berikut ini buku-buku yang pernah ditulis: Orang-orang di Tikungan Jalan (1954), Bib Bob Rambate Rate Rata (1967), SEKDA (1977), Selamatan Anak Cucu Sulaiman, Mastodon dan Burung Kondor (1972), Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare), Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare), Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles), Lysistrata (terjemahan), Odipus di Kolonus (terjemahan dari karya Sophokles), Antigone (terjemahan dari


87 karya Sophokles), Kasidah Barzanji, Lingkaran Kapur Putih, Panembahan Reso (1986), Kisah Perjuangan Suku Naga, Sobrat, Ballada Orang-orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Sajak-sajak Sepatu Tua, Mencari Bapak, Perjalanan Bu Aminah, Nyanyian Orang Urakan, Pamphleten van een Dichter, Potret Pembangunan dalam Puisi, Disebabkan Oleh Angin, Orang-orang Rangkasbitung, Rendra: Ballads and Blues Poem, State of Emergency, Doa untuk Anak-Cucu. Prof. A. Teeuw menyebut Rendra punya kepribadian dan kebebasannya sendiri dalam hal kekaryaan. Hal ini menyebabkan Rendra mendapat sekian penghargaan. Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996), Penghargaan Achmad Bakri (2006).


88 Yono Daryono Yono Daryono, lahir di Tegal, 25 Maret 1955. Memulai menulis ketika kelas dua SMA lewat karyanya berbentuk sajak, lalu artikel dan cerpen yang dimuat di beberapa surat kabar dan majalah seperti Gadis, Kartini, Suara Karya, Jayakarta, Sinar Harapan, Mutiara, Merdeka, Suara Merdeka, Wawasan, Horison, dll Selain sajak dan cerpen, ia juga menulis lakon drama antara lain Umar Bin Khattab (1982), Roro Mendut (1983, 1987 dipentaskan Taman Ismail Marzuki), Masih Muda (1983), Ronggeng-Ronggeng (1986 dipentaskan pada Pertemuan Teater Nasional di Padang Sumatera Barat), Mandor (1987), Braen (1987), Adipati Anom (1988 menjadi salah satu pemenang penulisan naskah drama terbaik se-Jateng), Koplak (1990), Palagan Kurusetra (1991, 1993 dipentaskan dalam Pertemuan Teater Nasional di Surakarta), Opera Gajah Atawa Abrahah (2003), Opera Sebayu (2006), Sunan Panggung (2007), Opera Brandal Mas Cilik (2008), Testimoni Drupadi (2010), dll. Petilan naskah drama Ronggeng-Ronggeng masuk dalam antologi Horison Sastra Indonesia (2002). Lakon drama Sunan Panggung masuk dalam antologi: 35 Lakon Karya Penulis Jawa Tengah, terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah 2018. Banyak berkecimpung dalam kegiatan kesenian di kotanya, pada tahun 1978 bersama Eko Tunas dan YY. Haryo Guritno serta kawan-kawan lainnya, mendirikan Teater RSPD. Tahun 1981 bersama beberapa kawan, mendirikan Studi Group Sastra


89 Tegal (SGST). Pernah menjadi Dosen Luar Biasa di FKIP UPS Tegal, jurusan Bahasa dan Sastra Bidang Studi Drama. Sebagai penulis cerpen, pernah membacakan cerpencerpennya di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Bengkel Teater Rendra. Cerpen Malang Sumirang dan Rara Jlegong masuk dalam Antologi Cerita Pendek Cerpenis Kota Tegal - Parfum Langit Ketujuh. Beberapa puisinya masuk antologi: Antologi Puisi Jawa Tengah (1994), Dari Negeri Poci 2 (Pustaka Sastra 1994), Kumpulan Puisi, Inilah Saatnya Penerbit Aneka Ilmu Semarang 2009, Antologi Puisi Dari Ayunan Ke Liang Lahat Penerbit Aneka Ilmu Semarang 2014. Antalogi Puisi Pendakian, Ibadah Puisi Kesekian 90 Puisi Antologi Puisi Penyair Kota Tegal. Menjadi penulis tetap rubrik “Warung Poci Tegal” Harian Suara Merdeka tiap hari Senin bergantian dengan Kang Maufur. Karya buku: Tegal Stad - Evolusi Sebuah Kota, diterbitkan oleh Humas Kota Tegal 2008, Aja Kadiran, kumpulam Kolom basa Tegal, diterbitkan oleh Penerbit PHB Press 2017. Kardinah – Sebuah Biografi Pejuang Kemanusiaan, diterbitkan oleh Sukses Berkah Inspiratif 2019. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal (2018 – 2021).


90 Yudhi Herwibowo Yudhi Herwibowo, lahir di Palembang, namun tinggal berpindahpindah dari Tegal, Kupang, Purwokerto, hingga kemudian menetap di Solo. Merupakan lulusan Teknik Arsitektur UNS, namun lebih memilih menekuni dunia tulis. Menulis cerpen dan novel. Cerpen-cerpennya sudah dipublikasikan di media cetak dan media online. Buku-bukunya sudah terbit sejak akhir kuliah, beberapa buku di antaranya; Lama Fa (Sheila), Menuju Rumah CintaMu (Hikmah), Pandaya Sriwijaya (Bentang), Untung Surapati (Tiga Serangkai), Perjalanan Menuju Cahaya (Sheila), Mata Air Air Mata Kumari (bukuKatta, sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Spring of Kumari Tears), (Un)affair (bukuKatta), Miracle Journey (Elex Media Komputindo), Enigma (Grasindo), Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (Nourabooks), Cameo Revenge (Grasindo), Laki-laki Bersayap Patah (bukuKatta), Sang Penggesek Biola, sebuah roman Wage Rudolf Supratman (Imania), kumpulan cerpen Empat Aku (Marjin Kiri). Kini fokus menulis dan mengurus percetakan dan penerbitannya sendiri, bukuKatta, di Solo dan banyak membantu kawan-kawan penulis di Solo menerbitkan buku-bukunya. Untuk melihat daftar buku yang sudah ditulisnya: yudhiherwibowo.blogspot.com. Untuk membaca tulisan-tulisan (tak) pentingnya: yudhiherwibowo.wordpress.com Bisa dihubungi melalui: Facebook : yudhi herwibowo, Twitter: @yudhi_herwibowo dan Istagram: @yudhiherwibowo.


91 Yudhi Ms. Yudhi Ms. lahir 17 Juni 1954 di Kudus dan meninggal di Rumah Sakit Mardirahayu, Kudus, Kamis, 26 Mei 2016. Masa tuanya di habiskan di rumahnya Jalan Nyai Dasima, Gang 24, Kelurahan Mlati, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Berkecimpung di dunia sastra sejak 1975 ketika puisinya pertama kali dimuat harian Sinar Harapan. Selain menulis puisi juga menulis cerpen dan geguritan, lakon, naskah sandiwara radio dan artikel. Pernah mengasuh acara Ladang Sastra dan teater (Radio) Sanggar Muria di Radio Muria Kudus (1983–2000), selain pernah menjadi pengurus Dewan Kesenian Kudus. Pada 1991 bersama Mukti Sutarman Espe dan MM Bhoernomo mendirikan Keluarga Penulis Kudus (KPK), dan sempat menjadi ketua pada periode pertama 1991–1994. Karyanya pernah di Harian Kompas, Suara Pembaharuan, Suara Merdeka, Media Indonesia, The Jakakarta Post, Swadesi, Bernas, Cempaka, Wawasan, Republika, Anita, Midi, Senang, Kumandang, Penjebar Semangat, dan lainnya. Kumpulan puisinya dibukukan dalam Matabunga (1999). Selain itu juga bisa dijumpai dalam beberapa antologi bersama Manara (1993), Antologi Puisi Jawa Tengah (1994), Progo (1995), Refleki Setangah Abad Indonesia Merdeka (1995), Lawang Sewoe (1996), Angin Ladang (1996), Menara 2 (1997), Zamrud Khatulistiwa (1998), Jentera Terkasa (1998), Pabrik (1998) Menra 3 (1999) Masih Ada Menara (2004), Mahaduka Aceh (2005), 142 penyair menuju bulan (2009), Akulah Musi (2011), Puisi-puisi Penyair Jawa Tengah (2012), Kosong = Ada (2011), Sauk Seloko (2012, Bayang-bayang Menara (2015), dsb.


92 Yuditeha Yuditeha merupakan penulis puisi, cerpen dan novel. Lahir di Sragen. Kini tinggal di Jaten RT. 01 RW. 14 Jaten, Karanganyar 57771 Jawa Tengah. Karya-karyanya adalah: novel Komodo Inside (Grasindo, 2014), kumcer Balada Bidadari (Penerbit Buku Kompas, 2016), buku puisi Hujan Menembus Kaca (Kekata, 2017), buku puisi Air Mata Mata Hati (Kekata, 2017), kumcer Kematian Seekor Anjing pun Tak Ada yang Sebiadab Kematiannya (Basabasi, 2017). kumcer Kotak Kecil untuk Shi (Stiletto, 2017), kumcer Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018), novel tjap (Basabasi, 2018), dan novelnya Tiga Langkah Mati (Kompas, 2018). Aktif di Komunitas Sastra Alit, Surakarta dan Pendiri Komunitas Sastra Kamar Kata, Karanganyar. Email: [email protected], FB: Yuditeha, WA: 085647226136


Click to View FlipBook Version