The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Pendamping Belajar Teks Cerita Rakyat

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nuraenysmancip, 2023-07-06 12:15:26

Modul Pendamping Belajar Teks Cerita Rakyat

Modul Pendamping Belajar Teks Cerita Rakyat

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jendral PAUD, DIKDAS dan DIKMEN 1


2 Een Nuraeny 2220104014 PENYUSUN


3 Cerita sejarah : Cerita rakyat merupakan cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas disetiap bangsa yang mempunyai kultur budaya yang beraneka ragam yang mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki masing-masing bangsa. Hikayat : Hikayat merupakan cerita Melayu Klasik yang menonjolkan unsur penceritaan berciri kemustahilan dan kesaktian tokoh-tokohnya. Nilai-nilai Bahasa : suatu norma yang berlaku di masyarakat yang layak dijadikan panuan. : bahasa yang dimiliki oleh cerita rakyat memiliki kekhasan yaitu menggunakan bahasa melayu klasik yang ditandai dengan penggunaan majas, kata penghubung dan kata-kata arkaias. Karakteristik : Karakteristik hikayat antara lain (a) merupakan kisah kemustahilan, (b) tokoh-tokohnya mempunyai kesaktian, (c) istana sentris, dan (d) anonim, pengarang cerita tidakdiketahui. GLOSARIUM


4 PETA KONSEP MENULIS CERPEN ATAU MENULIS TEKS MONOLOG MENGEMBANGKAN CERITA RAKYAT (HIKAYAT) KE DALAM BENTUK CERPEN DENGAN MEMERHATIKAN ISI DAN NILAINILAI LISAN ATAU TERTULIS MENULIS KERANGKA CERPENATAU TEKS MONOLOG MEMBANDINGKAN NLAI-NILAI DAN KEBAHASAAN MENGANALISIS KEBAHASAAN CERITA RAKYAT MEMBANDINGKAN NILAI-NILAI DAN KEBAHASAAN CERITA RAKYAT DAN CERPEN MENGANALISIS NILAI-NILAI CERITA RAKYAT MENGIDENTIFIKASI KARAKTERISTIK CERITA RAKYAT CERITA RAKYAT


1 PENDAHULUAN A. IDENTITAS MODUL Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Fase : E Alokasi waktu : 6 X 45 menit Judul Modul : Menyusuri Nilai dalam Cerita Lintas Zaman B. CAPAIAN PEMBELAJARAN Pada akhir fase E, peserta didik memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar sesuai dengan tujuan, konteks sosial, akademis, dan dunia kerja. Peserta didik mampumemahami, mengolah, menginterpretasi, dan mengevaluasi informasi dari berbagai tipe teks tentang topik yang beragam. Peserta didik mampu menyintesis gagasan dan pendapat dariberbagai sumber. Peserta didik mampu menulis berbagai teks untuk menyampaikan pendapat dan mempresentasikan serta menanggapi informasi audiovisual secara kreatif. Peserta didik mampu menerbitkan hasil tulisan di media cetak maupun Elemen Menyimak Elemen Membaca dan Memirsa Elemen Menulis


2 Mempelajari, memahami karakteristik, dan mengalihwahana- kan hikayat dan cerita rakyat 1. Memahami karakteristik cerita rakyat dan hikayat dari contoh-contoh teks yang dibaca atau disimak secara tepat. 2. Mengidentifikasi unsur-unsur cerita rakyat dan hikayat secara tepat. 3. Memahami dan menganalisis ragam gaya bahasa yang digunakan dalam cerita rakyat dan hikayat secara kritis. 4. Mengidentifikasi dan menganalisis nilai-nilai kehidupan dalam cerita rakyat dan hikayat secara tepat. 5. Menghasilkan teks monolog atau teks cerpen atas cerita rakyat atau hikayat yang dibaca secara kreatif. Alur Tujuan Pembelajaran


3 C. DESKRIPSI SINGKAT MATERI Selamat untuk kalian sudah belajar bahasa Indonesia dengan baik. Sekarang sudah sampai pada pembelajaran dengan materi cerita rakyat. Mempelajari karya tersebut sangatlah mengasyikkan. Sudah siapkah kalian? Persiapan kalian yang utama adalah kalian dalam keadaan sehat sehingga dapat mempelajari modul ini dengan baik. Pada modul ini, kalian akan mempelajari materi cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas disetiap bangsa yang mempunyai kultur budaya yang beraneka ragam yang mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki masing-masing bangsa. Hikayat merupakan salah satu contoh cerita rakyat. Semua genre teks memiliki karakteristik, nilai dan kaidah kebahasaan tertentu. Demikian juga dengan teks cerita sejarah. Pada kesempatan kali ini kalian akan membandingkan cerita sejarah dengan cerpen dari segi nilai-nilai dan kebahasaan. Kemudian pada pembelajaran selanjutnya kalian akan mengembangkan cerita yang ada pada cerita cerita sejarah menjadi cerpen. D. PETUNJUKPENGGUNAAN MODUL Hal- hal yang harus kalian lakukan agar belajar kalian dapat bermakna yaitu: 1. pastikan kalian memahami tujuan pembelajaran, capaian pembelajaran dam alur pembelajaran. 2. mulailah dengan membaca materi dengan saksama 3. kerjakan soal latihannya 4. jika sudah lengkap mengerjakan soal latihan, cobalah buka kunci jawaban yang ada pada bagian akhir dari modul ini. Hitunglah skor yang kalian peroleh 5. jika skor masih dibawah 70, cobalah baca kembali materinya, usahakan tidak mengerjakan ulang soal yang salah sebelum kalian membaca ulang materinya 6. jika skor kalian sudah minimal 70, kalian bisa melanjutkan ke pembelajaran berikutnya. E. MATERI PEMBELAJARAN Modul ini terdiri dari dua pertemuan, di dalam modul ini terdapat uraian materi, contoh soal, lembar kerja, soal latihan dan soal evaluasi. Pertama Membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat dan cerpen dan yang ke dua Mengembangkan cerita rakyat(hikayat) ke dalam bentuk cerpen. Modul ini sangat bermanfaat bagi kalian. Kalian dapat lebih peka memahami keadaan sekeliling kalian. Kepekaan kalian itu akan dapat digunakan untuk memahami informasi dalam bentuk tabel dan grafik. Jika ada kata-kata yang tidak dipahami, kalian dapat mencermati glosarium sebagai gambaran makna katanya. Kalian pasti bisa. https://broonet.com/gambar-anak-sekolah/ Selamat Belajar!


4 KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 Membandingkan Cerita Sejarah dan Cerpen A. Capaian Pembelajaran Setelah mempelajari modul pada kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan kalian dapat membandingkan nilai-nilai dan bahasa cerita sejarah dengan disiplin, jujur dan bekerja keras. B. Uraian Materi Indonesia memiliki modal unik yang tidak didapat di negara lain. Pertama, adanya kesepakatan berbasis nilai-nilai (values), sebagai dasar kehidupan berbangsa, yaitu: faith/believe (keimanan), humanity ( kemanusian) ,unity (persatuan) , democracy (kerakyatan) dan justice (keadilan). Kedua, Indonesia kaya keanekaragaman sumber daya alam, khususnya hayati. Ketiga, Indonesia kaya akan komunitas masyarakat dengan beragam budaya dan kearifan lokal (local wisdom). Indonesia memiliki sejarah panjang tentang cerita heroisme, kesatriaan, dan kepatriotan di seluruh pulaupulaunya. Ketiga hal itu merupakan modal yang sangat berharga untuk menjadi bangsa yang besar dengan kualitas sumber daya manusia yang disegani di mata dunia. Hal itu pula yang menjadi salah satu daya tarik orang asing terhadap Indonesia. Bagaimana dengan kalina? Apakah kalian tertarik dengan keunikan bangsa Indonesia terutama cerita heroisme atau cerita rakyatnya? Apakah kalian pernah membaca cerita rakyat? Cerita rakyat seperti apa yang pernah kalian baca? Salah satu jenis cerita rakyat adalah hikayat. Seperti cerita rakyat lainnya, hikayat memiliki banyak nilainilaikehidupan. pelajaran ini kamu akan belajar memahami nilai kearifan lokal yang terkandng dalam cerita rakyat. Pada pelajaran ini kamu akan belajar: (1) Membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat dengan cerpen; (2) mengembangkan cerita rakyat (hikayat) ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan isi dan nilai-nilai


5 Sumber ilustrasi https://balaibahasajateng.kemdikbud.go.id/2020/03/cerita-rakyat-jawa-tengah-kabupatencilacap/ 1. Pengertian cerita rakyat Cerita rakyat merupakan cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas disetiap bangsa yang mempunyai kultur budaya yang beraneka ragam yang mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki masing-masing bangsa. Apabila kalian pernah mendengar tentang karya sastra melayu Klasik adalah sastra lama yang lahir pada masyarakat lama atau tradisional yakni suatu masyarakat yang masih sederhana dan terikat oleh adat istiadat. Karya sastra tersebut berkembang sebelum periode tahun 20-an. Pada awalnya bentuk sastra merupakan cerita rakyat yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut dan turun temurun. Menurut A. Ikram, dalam bukunya Filologi Nusantara (Jakarta: Pustaka Jaya 1991, hal. 220) Sekarang cerita rakyat ditulis dan diterbitkan menjadi buku, seperti halnya cerpen atau novel. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat. Sastra tersebut disebut sebagai sastra melayu klasik karena sastra tersebut berkembang di daerah melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam hingga mendekati tahun 1920-an di masa balai pustaka. Dengan demikian jelaslah bahwa cerita rakyat merupakan akar cerita Melayu Klasik. Mengapa dinamakan karya sastra Melayu Klasik karena sastra lama yang lahir pada masyarakat lama atau tradisional yakni suatu masyarakat yang masih sederhana dan terikat oleh adat istiadat, seperti apa yang telah ditulis di atas. Berikut contoh cerita rakyat yang beredar di kabupaten Cilacap. Kerajaan Dayeuhluhur Cĺkal Bakal Kabupaten Cĺlacap Suara seruling mengiringi semilir angin membuat hawa terasa sejuk. Daundaun yang menghampar hijau di lembah dan tebing di sela perbukitan bergoyang pelan seakan mengikuti nada. Sungai kecil mengalir di sebelah sungai Cijolang, yang menjadi tanda saksi alam yang menjadi ciri khas Pasundan dengan ditandai bahasa sehari-hari, adat, kesenian, budaya, dan bentuk rumah, yang semuanya bercorak Pasundan. Di tepi Sungai Cijolang berdiri patung pahlawan Pangeran Di- ponegoro yang sedang menunggang kuda dan mengacungkan senjata keris dengan gagahnya. Ini menandakan bahwa leluhur kita ikut berjuang mempertahankan bumi yang dicintainya bersama Pangeran Diponegoro. Inilah gambaran keadaan alam Dayeuhluhur yang ter- letak di dataran tinggi sesuai dengan asal-usul nama Dayeuhluhur. Dayeuhluhur diambil dari dua kata dayeuh yang berarti ‘kota’ atau ‘tempat’ dan luhur yang berarti ‘tinggi’. Daerah ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dengan kekuatan atau kesaktian yang tinggi pada zaman dahulu serta tempat bertapa atau berlatih ilmu kanuragan.


6 Zaman dahulu di wilayah Dayeuhluhur Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berdiri Kerajaan Kawali yang dipimpin oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Raja ini memiliki dua orang istri. Istri pertama me- lahirkan seorang putra dengan nama Prabu Siliwangi dan istri kedua melahirkan putra bernama Prabu Dewa Niskala. Prabu Niskala Wastu Kencana mempunyai adik sepupu yang mempunyai putra bernama Gagak Ngampar. Gagak Ngampar tinggal bersama Prabu Niskala Wastu Kencana. Pada suatu pagi yang cerah Prabu Niskala Wastu Kencana se- dang bersantai di Tamansari dengan didampingi istri-istri yang di- kasihinya. Mereka sedang menghibur Paduka Raja yang terlihat sedang bermuram durja. Salah seorang istrinya bertanya. “Kanda Prabu, mengapa sepertinya hari ini Kanda bermuram durja. Ada apa gerangan, Kanda? Adakah yang tidak berkenan di hati Kanda mengenai Dinda, Tuanku Prabu?” tanya sang istri kepada Raja. “Oh, tidak, Dinda. Adinda begitu baik kepada Kanda dan Dinda begitu menyayangi putra-putra Kanda,” jawab Raja kepada istrinya. “Kalau begitu, apa gerangan yang Kakanda Prabu pikirkan? Mo- hon Kakanda Prabu berkenan menyampaikan segala sesuatu kepada hamba, mungkin hamba dapat membantu Kanda Prabu,” lanjut sang Istri. “Oh, terima kasih, Dinda. Dinda sudah begitu perhatian kepada Kakanda.” Prabu Niskala Wastu Kencana berkata dengan lirih, “Begini, Dinda Ratu. Usiaku sudah lanjut, Kanda sudah tidak mampu lagi memimpin kerajaan ini. Nah, untuk itu aku wariskan tahtaku kepada kedua putraku. Sebelah barat untuk Prabu Siliwangi dan sebelah timur untuk Dewa Niskala. Akan tetapi, aku masih memikirkan Gagak Ngampar yang menginginkan tahta Kerajaan Kawali. Aku ingin tidak ada perpecahan di antara mereka,” Prabu Niskala Wastu Kencana menyampaikan kegundahannya. Niskala Wastu Kencana menghela napas panjang berusaha me- ngeluarkan beban yang ada dalam hati dan pikirannya. “Oh begitu, Kanda Prabu?” Kedua permaisuri serempak men- jawab. Semua hening dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba se- orang permaisuri berkata, “Begini, Kanda Prabu. Menurut hamba, untuk menghindari perpecahan serta pertumpahan darah, sebaiknya Gagak Ngampar harus mencari sendiri daerah untuk dijadikan ke- rajaan, tetapi beri ia petunjuk dan bantuan.” “Bagus sekali usulmu, Dinda. Sekarang suruh pengawal untuk memanggil Gagak Ngampar agar menghadapku.” “Baik, Kanda,” jawab para permaisuri. Permaisuri pun menyuruh salah satu pengawal untuk memanggil Gagak Ngampar yang saat itu sedang berlatih bela diri. “Gagak Ngampar, Baginda menyuruhmu menghadap sekarang,” kata pengawal kepada Gagak Ngampar. “Sekarang?” tanya Gagak Ngampar. “Ya, sekarang juga. Baginda sudah menunggumu,” tegas sang pe- ngawal. “Baiklah, aku akan segera menghadap,” dengan patuh Gagak Ngampar pun langsung bersiap-siap untuk menghadap. Selang beberapa saat Gagak Ngampar sudah berada di hadapan Baginda Prabu. “Daulat, Tuanku Prabu, ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?”


7 “Oh, anakku, Gagak Ngampar. Ananda hari ini dipanggil karena suatu alasan. Aku memintamu memperluas wilayah kerajaan. Kamu harus pergi ke sebelah timur Sungai Cijolang. Dirikanlah sebuah kerajaan di sana!” perintah sang Raja. “Baik, daulat Tuanku Prabu! Hamba akan melaksanakan perintah Prabu sebaik-baiknya.” Pada hari yang telah ditentukan, Gagak Ngampar dilepas oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Ia pergi disertai pengawal dan prajurit dengan membawa perbekalan secukupnya. Tidak lupa pengasuh Gagak Ngampar yang lucu pun ikut bersama tuannya. Pengasuh yang sangat sayang dan setia itu adalah Mamang Lengser. Berangkatlah Gagak Ngampar dengan iringan doa dari seisi Keraton Kawali. Selama perjalanan Mamang Lengser selalu menghibur tuannya dengan melenggak-lenggokkan badannya sambil bersenandung. Ma- mang Lengser tidak dapat diam. Ia terus saja berbicara. “Mamang tahu tidak?” “Tahu apa, Den?” “Ya, kalau Mamang teh jelek pisan, pendek, perut buncit, muka hitam, hidung pesek, suka ngupil, pipinya bengkak, hehehe,” gurau Gagak Ngampar kepada Mamang Lengser. Mamang Lengser menangis sejadi-jadinya, duduk di tanah sambil memukuli badannya sendiri. “Ah, Aden mah ngejek ke Mamang, Aden mah nakal!” Mamang Lengser merajuk. Turun dari kudanya, Gagak Ngampar mendekati Mamang Lengser sambil tersenyum. “Aduh tobat, Mamang Lengser. Saya tidak akan mengejek Ma- mang Lengser lagi!” “Alasan Aden mah, sok ngejek terus ka Mamang.” Hubungan ke- duanya memang sangat akrab sehingga sering bercanda. “Betul, Mang. Betul tobat saya mah sakit. Sakit banget ini kaki saya diduduki Mamang.” “Ampun, Den, ampun. Mamang tidak tahu. Mamang siap men- dapat hukuman dari Aden.” “Jangan, begitu, Mamang. Ayo berdiri! Berdiri! Sekarang kita bersuten, nanti yang menang digendong!” “Horeeeee, aku menang!” Gagak Ngampar berteriak dengan se- nangnya. “Hah, Mamang kalah, Den,” gumam Mamang Lengser sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mamang Lengser pun menggendong tuannya yang sangat di- sayanginya itu sambil bernyanyi. Tidak terasa sampailah mereka di suatu bukit yang letaknya strategis untuk dijadikan istana. Pada puncak bukit ini terdapat dataran yang cukup luas diapit oleh mata air dilindungi tebing curam untuk memudahkan pengawasan wilayah permukiman penduduk. Sambil beristirahat Raden Gagak Ngampar berkata, “Wahai Para pengikutku, mulai hari ini kita tinggal di sini. Kita beri nama daerah ini Dayeuhluhur karena letaknya yang berada di dataran tinggi. Setuju semua?” Semua serempak menjawab, “Setuju!” Sejak saat itu dinobatkanlah Gagak Nsgampar sebagai raja per- tama di Kerajaan Dayeuhluhur. Pada waktu penobatan Mamang Lengser memulainya sambil berkomat-kamit, “reup angin reureuh heula di dieu rek aya beja jep


8 sora jempe heula di dieu rek upacara.” Kalimat itu berarti ‘angin dari timur dan barat berhenti dulu di sini, di Keraton Salangkuning, Kerajaan Dayeuhluhur, mau diadakan penobatan Raja Gagak Ngampar’. Gagak Ngampar dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Dayeuhluhur. Lalu mahkota sederhana dipakaikan pada kepala Gagak Ngampar. Mamang lengser membacakan janji Raja Gagak Ngampar yang disebut Rineksa Panca Satya. Rineksa Panca Satya merupakan lima dasar falsafah pedoman kehidupan masyarakat. Satya pertama, Andika kudu ragragna kalakay di walungan Ci- jolang nepi ka walungan gede artinya ‘raja harus memiliki pemikiran yang luas dan menyeluruh serta bersikap adil dan bijaksana’. Satya kedua, Andika ulah tangga ka gunung tapi kudu tungkul ka laut jeung sing jadi sigara kahirupan artinya ‘raja tidak boleh som- bong, tetapi semestinya rendah hati dan berkenan menampung se- gala permasalahan orang lain serta mau memberikan bantuan selagi masih menjalani kehidupan’. Satya ketiga, Andika ulah ngaleutikeun hate batur komo ngani bisi mantak sial artinya ‘raja tidak boleh menyepelekan atau menghina orang lain, hendaknya kita memperlakukan orang dengan baik’. Satya keempat, Andika kudu sare bari nyaring jeun nyaring bari sare artinya ‘raja tidak boleh terlena oleh suatu keadaan. Ia harus se- lalu waspada dan bersiap siaga’. Satya kelima, Lemah cae jeung saeusina alam ieu teh getih jeung nyawa nadika anu kudu dipusti-pusti jeung diagungkeun artinya ‘raja harus mencintai, menghargai, serta merawat tanah airnya sendiri’. Setelah menjadi raja, Gagak Ngampar segera membangun keraja- annya. Kerajaan yang semula hanya memiliki rakyat pengawalnya saja sekarang sudah mulai berkembang. Orang-orang dari sekitar Dayeuhluhur banyak yang datang dan akhirnya bermukim di situ. Raja pada saat itu masih lajang sehingga ia bermaksud mencari istri sebagai pendamping hidupnya. Pada suatu waktu Prabu Gagak Ngampar sedang berburu di hutan. Prabu Gagak kehabisan perbekalan karena direbut kawanan monyet. Karena keasyikan berburu, ia juga terpisah dari pengawalnya. Ia memutuskan beristirahat di bawah po- hon. Selagi beristirahat, bertemulah ia dengan seorang gadis cantik. Sang Prabu menyapa gadis itu. Ia heran mengapa gadis itu berada di hutan seorang diri karena ia tidak melihat ayah si gadis. “Kamu siapa dan sedang apa berada di hutan sendirian?” tanya Prabu Gagak Ngampar. Gadis desa itu pun menjawab, “Saya sedang membantu ayah saya mencari kayu. Saya tidak sendiri, ayah saya di sebelah sana.” “Oh, begitu,” Prabu Gagak Ngampar agak takjub melihat kecan- tikan dan kelembutan gadis itu. “Mengapa Anda berada di hutan?” sang gadis balik bertanya ke- pada Prabu Gagak Ngampar. Gadis itu tidak tahu bahwa yang di ha- dapannya adalah Prabu Gagak Ngampar yang berburu dengan pa- kaian biasa. “Saya sedang berburu, tetapi saya kehabisan perbekalan karena dicuri kawanan monyet tadi dan saya kelaparan.” “Oh, begitu. Saya membawa bekal, tetapi hanya bekal nasi sayur seadanya.


9 Kalau Anda berkenan, silakan ambillah!” tawar si gadis sambil menyodorkan bekalnya kepada Prabu Gagak Ngampar. Sang Prabu terkesima dengan kebaikan gadis itu. “Kalau ini kumakan, lalu kamu makan apa?” “Rumah saya tidak jauh dari hutan ini. Kalau lapar, saya dapat segera pulang dan makan di rumah. Silakan ambillah,” jawab si gadis. Prabu Gagak Ngampar pun menerima dan dengan lahap memakan perbekalan gadis itu. “Terima kasih kamu sudah menolongku,” ujar Prabu Gagak Ngampar. Kebaikan gadis desa tersebut menjadi awal perkenalan mereka. Selama perjalanan kembali ke Kerajaan Prabu Gagak Ngampar terkenang terus dengan kecantikan, kelembutan, dan kebaikan gadis itu. Ketika sampai di Kerajaan pun, ia terus melamun dan tersenyum mengingat gadis itu. Mamang Lengser terheran-heran. Ia bertanya dalam hati mengapa rajanya bersikap seperti itu. Tidak dapat me- nahan diri, ia pun bertanya kepada Raja. “Wahai, anakku Prabu Gagak. Ada apakah gerangan mengapa sikapmu aneh seperti itu sejak pulang dari berburu?” tanya Mamang Lengser. “Hemm, apanya yang aneh, Mang?” Prabu Gagak merasa gugup dan malu ketahuan oleh Mamang Lengser. Ia berusaha menyem- bunyikannya. “Mamang tahu, Den. Mamang kan sangat mengenal, Aden. Jadi Aden tidak dapat membohongi Mamang,” kejar si Mamang agar Prabu Gagak menyampaikan perasaannya. “Mamang, aku tadi bertemu dengan seorang gadis,” jawab Prabu Gagak dengan malu-malu. “Wah, bagus sekali itu, Den. Aden memang harus segera menikah. Lalu siapakah gadis itu?” tanya Mamang. “Itulah, Mang. Aku lupa menanyakan namanya.” “Wah, pasti orangnya cantik sampai si Aden lupa menanyakan namanya,” gurau Mamang Lengser. Prabu Gagak semakin terlihat malu. “Dia tidak hanya cantik, tetapi juga baik hati dan lemah lembut.” “Besok kita cari gadis itu, Den.” Keesokan harinya sang Prabu ditemani Mamang Lengser mencari rumah gadis tersebut. Mereka bertanya kepada orang-orang yang ditemui dengan menjelaskan ciri-ciri gadis itu. Setelah agak lama mencari, akhirnya mereka berhasil menemukan rumah sang gadis. Sang gadis sedang menyapu halaman rumahnya ketika mereka sampai di tempat itu. “Permisi,” sapa Prabu Gagak kepada sang gadis. Terkejut sang gadis dengan kedatangan Prabu. Dalam hatinya sangat ketakutan jika dirinya atau ayahnya telah melakukan kesalahan yang membuat sang Prabu murka sehingga mendatangi rumahnya. Ia tidak mengenali bahwa sang Prabu adalah laki-laki yang ditemuinya di hutan. Sebab, penampilan Prabu Gagak pada saat berburu berbeda sekali dengan saat ini. “Ya, Paduka Prabu,” hormat sang gadis dengan lirih. “Jangan takut, saya ke sini hanya ingin bertemu ayahmu,” kata sang Prabu kepada gadis itu. Sang gadis semakin khawatir jika ayahnya telah melakukan kesalahan. Akan tetapi, ia pun mempersilakan sang Prabu masuk ke rumahnya. “Oh, mari silakan masuk, Paduka. Saya akan memanggilkan ayah saya,” diliputi perasaan takut, ia pun masuk ke dalam rumah dan me- manggil ayahnya.


10 Selang beberapa menit, ayah sang gadis keluar menemui mereka. “Daulat, Tuanku Paduka. Mohon maaf, Paduka Prabu, sekiranya hamba boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah hamba atau anak hamba melakukan kesalahan kepada Paduka sehingga Paduka repot-repot menemui kami?” dengan lirih ayah sang gadis bertutur kepada Prabu Gagak. “Jangan kaget. Jangan takut. Kedatangan saya ke sini adalah untuk mempersunting anak Bapak,” Prabu Gagak langsung menyatakan maksud kedatangannya. Terkejut dengan apa yang didengarnya, ayah sang gadis terdiam dan merasa khawatir. “Ampun beribu ampun, Paduka, hamba mohon maaf jika putri hamba melakukan kesalahan. Mohon ampunilah.” “Tidak-tidak, saya ke sini hanya ingin menyampaikan perihal tersebut. Tidak ada kesalahan apa pun yang dilakukan putrimu. Saya menyukai putrimu dan saya ingin mempersuntingnya,” Prabu Gagak menegaskan keinginannya. Sang Ayah belum percaya dengan apa yang didengarnya. Sang gadis yang mendengar pembicaraan tersebut dari balik dinding pun terkesiap dengan apa yang telah didengarnya. Dalam hatinya berkata dia hanyalah seorang gadis desa biasa, bukanlah anak saudagar yang kaya raya, bukan pula keturunan bangsawan ataupun raja. Namun, mengapa Paduka Prabu ingin mempersunting dirinya? Sang gadis kebingungan dengan permintaan Paduka Prabu. “Jadi, sudikah Bapak menerima saya sebagai menantu? Panggillah putrimu dan tolong tanyakan apakah ia bersedia menjadi istriku!” sang Prabu menanti jawaban mereka. “Tapi, Paduka, kami hanyalah rakyat jelata.” “Lalu mengapa? Apakah salah? Saya menginginkanmu menjadi istriku jika kamu bersedia. Sekarang jawablah!” tegas Paduka Prabu. Seakan tidak percaya sang gadis pun sekonyong-konyong mengangguk, menyanggupi keinginan sang Prabu. Beberapa hari kemudian, diadakanlah prosesi pernikahan di Kerajaan. Setelah beberapa tahun menikah, mereka dikaruniai dua orang anak perempuan yang mereka beri nama Candi Kuning dan Candi Laras. Keduanya sangat disayangi oleh sang Prabu. Tahun demi tahun berganti. Kedua anak itu pun sudah tumbuh menjadi remaja. Selama itu pula Prabu Gagak Ngampar memerintah dengan adil dan bijaksana. Setelah meninggal, Prabu Gagak Ngampar digantikan oleh Ar- sagati, yaitu putra Candi Kuning. Arsagati menjadi raja kedua. Se- peninggal Arsagati diangkatlah putranya, yaitu Raksagati yang men- jadi raja ketiga. Pada zaman pemerintahan Prabu Raksagati kerajaan ini menganut agama Hindu. Sementara itu, Kesultanan Cirebon menganut agama Islam. Sultan Cirebon ingin mengembangkan wilayahnya sekaligus syiar agama hingga ke Kerajaan Dayeuhluhur. Oleh karena itu, di- utuslah Suradika yang sakti mandraguna ke Kerajaan Dayeuhluhur untuk mengadu kesaktian. Berangkatlah Suradika ke Kerajaan Da- yeuhluhur. Dengan kesaktiannya Suradika dalam sekejap sudah sampailah di depan istana Raja Raksagati. Setelah Suradika mendapat izin dari penjaga istana, menghadaplah Suradika kepada Raja Raksagati. Ia menyampaikan salam kemudian berkata, “Prabu Raksagati, kedatangan hamba tidak memberi kabar sebelumnya hamba mohon maaf dan hatur salam dari Sultan Cirebon kepada Tuanku Raja!” “Saya terima salam sembah dari rajamu, sekarang apa tujuanmu ke


11 kerajaanku?” “Ampun, Tuanku. Hamba diutus untuk menyebarkan agama Islam. Jika Paduka tidak berkenan, kami menantang Paduka untuk mengadu kesaktian.” “Saya terima tantanganmu!” Penggawa Kerajaan pun sudah siap mengumpulkan rakyat untuk menyaksikan adu kesaktian itu. “Rakyat Kerajaan Dayeuhluhur, berkumpulah sekarang, mari kita saksikan adu kesaktian antara raja kita dengan Suradika dari Cirebon!” Di halaman istana Kerajaan gegap gempita orang-orang menyak- sikan adu kesaktian itu. Seorang penggawa berwara, “Para pembesar istana serta rakyat Kerajaan Dayeuhluhur, mari kita lihat adu ke- saktian. Yang pertama adalah lomba makan.” “Tuanku Raja Prabu Raksagati makan dengan daging kambing!” “Suradika makan dengan lauk daging ayam!” “Siap!” serempak keduanya menjawab. Waktu Penggawa Kerajaan memberikan aba-aba, terjadilah ke- anehan. Daging ayam dalam hidangan mengeluarkan suara berkokok, sedang daging kambing yang akan dimakan Raja Raksagati bersuara kambing, maka bersoraklah penonton. “Hore, hebat, hebat!” teriak penonton. “Hadirin adu kekuatan pertama seimbang,” teriak Mamang Lengser. “Sekarang adu kesaktian kedua, memasang bubu (perangkap ikan) di halaman istana yang tidak ada airnya!” Semua penonton terperangah. Tiba-tiba suatu keajaiban terjadi, di halaman istana yang tidak berair itu, bubu sang Prabu penuh ikan. Semua penonton bersorak, “Hidup Prabu, hidup Prabu!” sedang girang-girangnya penonton, tiba-tiba ada lagi keajaiban. Bubu Suradika berhasil menangkap putri sang Prabu. Penggawa sampai menganga mulutnya melihat keajaiban bubu Suradika sambil meloncat loncat, “Hidup Suradika, hidup Suradika!” Dengan kejadian itu sang Prabu menyatakan diri kalah. “Aku mengakui kekalahanku, Suradika!” “Sekarang sebagai imbalannya, nikahilah putriku yang terkena bubumu itu!” Akhirnya, Suradika diangkat menjadi pejabat Kerajaan Dayeuh- luhur. Beberapa saat kemudian, Raja Raksagati mangkat digantikan putranya, Adipati Raksapraja menjadi raja keempat. Dalam me- laksanakan roda pemerintahan, Adipati Raksapraja terkenal sangat adil, arif, dan bijaksana serta mampu menjadi anutan dan pengayom masyarakatnya. Tidak mengherankan apabila masyarakatnya sendiri sangat patuh dan taat serta menghormati sang Adipati. Keberhasilan Adipati Raksapraja dalam mengatur roda peme- rintahannya tidak terlepas dari pengalaman falsafah leluhurnya yang selalu dipegang teguh, yaitu Rineksa Panca Satya. Falsafah tersebut tidak hanya diamalkan, tetapi benar-benar berdampak kepada kesejahteraan negeri, sifat kerukunan, kegotongroyongan, dan tolong-menolong yang merupakan gambaran kehidupan masyarakat Dayeuhluhur sehari-hari. Pengaruh Kerajaan Mataram sangat besar di Kerajaan Dayeuh- luhur. Terbukti dengan masuknya Adipati Raksapraja menganut agama Islam. Semakin hari kekuasaan Mataram semakin terasa dan untuk melicinkan jalan tersebut, Kerajaan Mataram melalui Kiai Gendeng Mataram memberikan seorang putri yang cantik jelita untuk diperistri oleh Adipati Raksapraja. Dari perkawinan itu lahirlah bayi


12 laki-laki yang bernama Wirapraja. Kelak kemudian hari Wirapraja diangkat menjadi Adipati di Dayeuhluhur dengan gelar Adipati Wirapraja. Raja Raksapraja mengetahui bahwa permaisurinya adalah mantan selir Sultan Mataram. Wirapraja juga bukanlah anak kandungnya karena waktu itu permaisuri sudah hamil 5 bulan. Namun, sudah terlanjur Wirapraja tetap menggantikan Raksapraja sebagai raja kelima. Pada suatu pagi yang cerah terdengar suara telapak kaki kuda, datanglah seseorang dari Mataram menghadap Adipati Wirapraja. “Adipati yang hamba hormati. Kami diperintahkan Sultan Mataram untuk memperluas pengaruh Mataram ke daerah barat, khususnya Ciancang Ciamis, dengan maksud agar daerah itu takluk terhadap Mataram dan mempertahankan wilayah kita dari Kompeni Belanda.” “Saya terima maksud kedatangan Adipati untuk bergabung ber- sama pasukan kami dari Dayeuhluhur. Mudah-mudahan Ciancang Ciamis tidak dapat direbut oleh pihak Belanda.” Dipersiapkanlah semua perlengkapan perang. Kegagalan me- nangkap pasukan Diponegoro dan menumpas pemberontakan di Mataram menimbulkan kemarahan pihak Belanda. Akibatnya, Be- landa secara membabi buta melakukan pembakaran desa-desa, menganiaya anak-anak, berbuat tercela terhadap perempuan, dan membunuh para tawanan. Dengan menyaksikan kejadian itu, pa- sukan Mataram dan prajurit Dayeuhluhur sangat geram terhadap kelakuan Belanda. “Mari kita bersatu untuk memperkuat perlawanan kita kepada Belanda! Kita satukan kekuatan kita dan mari kita berjuang sampai titik darah penghabisan. Kita namai pasukan kita dengan nama Gerombolan Wetan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hidup pejuang kita, hidup!” begitu teriak semangat pejuang kita. Pada hari yang sudah ditentukan, bersiaplah semua prajurit dengan segala perlengkapan perang untuk segera berangkat. Adi- pati Wirapraja memimpin pasukan sendiri. Keesokan harinya se- mua pasukan gabungan berangkat menuju Ciancang Ciamis, dan terjadilah pertempuran berhari-hari. Bunyi gemerincing senjata beradu keris dan tombak semakin riuh. Perkelahian satu lawan satu antara serdadu Belanda dan pasukan Gerombolan Wetan makin memuncak. Satu persatu pasukan Gerombolan Wetan tewas karena para pejuang hanya bersenjata keris dan tombak, sedangkan Belanda menggunakan senjata modern. Dengan demikian, banyak korban di pihak kita, tetapi pejuang kita masih pantang menyerah. Mereka mempertaruhkan nyawanya untuk memenangi peperangan. Ketika peperangan berlangsung, tiba-tiba terdengar teriakan komandan serdadu Belanda, “Hei, kalian para ekstremis. Kalian me- nyerah saja, pemimpinmu telah tertembak! Mengapa kalian diam saja? Ayo menyerahlah kalau kalian orang punya mulut.” Alangkah terkejutnya para pejuang mendengar teriakan itu. Mereka tidak menyangka Adipati Wirapraja telah gugur. Sesaat para pejuang terpukau. Akan tetapi, keheningan hanya berjalan sebentar saja. Para pejuang kembali bersemangat. Kehendak untuk menebus jiwa pemimpin merajai hati mereka. “Ayo bangkit! Maju terus! Kita berjuang sampai titik penghabisan. Allahu Akbar, Allahu Akbar,” teriak para pejuang Adipati Wirapraja. Daerah pertempuran berpindah ke sebelah timur Ciancang Ciamis. Mayat bergelimpangan di sisi sungai. Pasukan yang masih hidup mundur karena


13 tidak mungkin dapat melanjutkan lagi perlawanannya. Namun, para pejuang tidak patah semangat. Bahkan, kejadian itu menambah rasa benci kepada Belanda. Semangat baru untuk mempertahankan negara tercinta ini timbul lebih hebat dari yang sudah-sudah. Malam bertambah pekat, hujan mulai turun dengan derasnya sehingga serdadu Belanda tidak meneruskan perlawanannya ter- hadap pasukan kita. Pasukan kembali ke Kerajaan Dayeuhluhur. Sepeninggal Adipati Wirapraja Raja Dayeuhluhur digantikan oleh Wiradika I (raja keenam). Wiradika I mangkat dilanjutkan oleh Wiradika II. Selanjutnya, Wiradika II dilanjutkan oleh Wiradika III dengan gelar Raden Tumenggung Prawiranegara. Beliau aktif dalam perang Diponegoro. Dengan wafatnya Adipati Wirapraja, perjuangannya diteruskan oleh cucunya, yaitu Raden Tumenggung Prawiranegara. Para pejuang pada waktu itu tidak patah semangat. Bersama Tumenggung Prawiranegara, mereka ikut berjuang dengan pasukan Diponegoro. Hal itu diketahui oleh Belanda sehingga Belanda mengadakan patroli ke desa-desa untuk mencari Tumenggung Prawiranegara. Pada suatu hari datanglah pasukan Belanda, sebagian mengendarai kuda, sebagian lagi mengendarai mobil baja. Mereka menyusuri jalan-jalan kecil di perdesaan lengkap dengan persenjataan. Para serdadu Belanda membakar rumah penduduk, lalu menangkap anak dan perempuan. Suasana desa menjadi kalang kabut. Para serdadu Belanda dengan semena-mena menyiksa para penduduk yang tidak berdosa dan dikumpulkan di suatu tempat. Dengan hilir mudik pemimpin Belanda marah-marah karena yang mereka cari tidak ada. “Hei kamu pemberontak! Tunjukkan di mana pemimpinmu!” bentak pemimpin Belanda sambil memukulkan senjata ke kepala penduduk itu. “Ampun, saya tidak tahu,” teriak penduduk dengan takutnya. “Kamu bohong!” “Hei pemberontak, keluarlah! Menyerahlah Prawiranegara, tem- pat ini sudah saya kepung. Kalau tidak mau menyerah, tawanan ini akan saya tembak!” Melihat kejadian itu, Tumenggung Prawiranegara sangat geram, kemudian dia keluar dari persembunyiannya. “Hei Penjajah, kamu sangat kejam dan licik! Kamu pengecut, kamu jadikan orang-orang yang tidak berdosa sebagai tawanan. Sekarang lepaskan penduduk yang tidak berdosa itu dan tangkaplah aku!” “Bagus, kamu orang berani menampakkan diri!” kata pemimpin Belanda dengan tertawa terbahak-bahak. Tidak melewatkan kesempatan itu, secepat kilat para penjajah menangkap Tumenggung Prawiranegara. Lalu, beliau diasingkan ke Padang, Sumatera Barat, pada tahun 1831 sampai meninggal. Sejak saat itu Kerajaan atau Kadipaten Dayeuhluhur bubar dan wilayahnya diubah atas keputusan Belanda menjadi wilayah Ka- bupaten Cilacap. Berdasarkan besluit Gubernur Jenderal Belanda Nomor 21, tertanggal 21 Maret 1856 sampai sekarang wilayah Ka- bupaten Cilacap ini adalah 2/3 wilayah Kadipaten Dayeuhluhur. Itulah tadi sekelumit cerita tentang perjuangan nenek moyang kita untuk mempertahankan daerah Dayeuhluhur untuk Negara Indonesia.


14 Kalian dapat memperkaya literasi terkait cerita rakyat kabupaten Cilacap dengan membaca pada QrCode berikut http://gg.gg/Eennuraeny_Kearifanlokal_ceritarakyatcilacap https://repositori.kemdikbud.go.id/6073/1/CERITA%20RAKYAT%20CILACAP%20acc%20cetak%20%28UPLOAD%2 9.pdf


15 2. Nilai-nilai cerita rakyat Nilai adalah suatu yang berharga, bermutu, menunjukan kualitas, dan berguna bagi manusia. Dalam karya sastra berwujud makna di balik apa yang ditulis melalui unsur instrinsik seperti perilaku, dialog, peristiwa, setting, dan sebagainya. Menurut Suherli, dkk. terdapat enam nilai dalam hikayat, yaitu a. Nilai budaya Nilai yang diambil dari budaya yang berkembang secara turun menurun di masyarakat (berhubungan dengan budaya melayu) Ciri khas nilai-nilai budaya dibandingkan nilai lainnya adalah masyarakt takut meninggalkan atau menentang nilai tersebut karena ‘takut’ sesuatu yang buruk akan menimpanya. b. Nilai moral Nilai yang berhubungan dengan masalah moral. Pada dasarnya nilai moral berkaitan dengan nasihat-nasihat yang berkaitan dengan budi pekerti, perilaku, atau tata susila yang dapat diperoleh pembaca dari cerita yang dibaca atau dinikmatinya. c. Nilai agama/ religi Nilai yang berhubungan dengan masalah keagaman. Nilai religi biasanya ditandai dengan penggunaan kata dan konsep Tuhan, mahluk ghaib, dosapahala, serta surga-neraka. d. Nilai pendidikan/ edukasi Nilai yang berhubungan dengan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang/kelompak orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan e. Nilai estetika Nilai yang berhubungan dengan keindahan dan seni. f. Nilai sosial Nilai yang berhubungan dengan kehidupan di dalam masyarakat. Biasanya berupa nasihat-nasihat yang berkaitan dengan kemasyarakatan. Indikasi nilai sosial dikaitkan dengan kepatuhan dan kepantasan bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memelajari cerita rakyat kalian akan mengetahui tentang budaya, moral, agama, pendidikan, sasial dan nilai-nilai kehidupan lain. Dari cerita hikayat, kita dapat memetiknilai-nilaikehidupansebagaicerminbagi kehidupan kita. Pada pembelajaran yang telah lalu kalian telah memahami nilai teks cerita rakyat. Sebenarnya bahwa banyak nilai dalam cerita rakyat/hikayat yang masih sesuai dengan kehidupan masa kini. Sebagaikaryasastramodernyangmengangkat nilai-nilai kehidupanmasa kini, dapat diduga bahwa banyak nilai dalam hikayat yang bersesuaian dengan nilai.


16 3. Karakteristik cerita rakyat Cerita rakyat/ hikayat merupakan sebuah teks narasi yang berbeda dengan narasi lain. Di antara karakteristik adalah a. Kemustahilan Salah satu ciri cerita rakyat/hikayat adalah kemustahilan dalam teks, baik dari segi bahasa maupun dari segi cerita. Kemustahilan berarti hal yang tidak logis atau tidak bisa dinalar. b. Kesaktian Selain kemustahilan, seringkali dapat kita temukan kesaktian para tokoh dalam cerita rakyat/hikayat. Kesaktian dalam Hikayat Indera Bangsawan ditunjukkan dengan kesaktian kedua pangeran kembar, Syah Peri dan Indera Bangsawan, serta raksasa kesaktian itu: (1) Syah Peri mengalahkan Garuda yang mampu merusak sebuah kerajaan; (2) Raksasamemberisarungkesaktianuntukmengubahwujuddan kuda hijau untuk mengalahkanBuraksa; (3) Indera Bangsawan mengalahkan Buraksa. c. Anonim Salah satu ciri cerita rakyat, termasuk hikayat, adalah anonim. Anonim berarti tidak diketahui secara jelas nama pencerita atau pengarang. Hal tersebut disebabkan cerita disampaikan secara lisan. Bahkan, dahulu masyarakat memercayaibahwa ceritayangdisampaikanadalahnyata dan tidak ada yang sengaja mengarang. d. Istana Sentris Cerita rakyat/ hikayat seringkali bertema dan berlatar kerajaan. Dalam Hikayat Indera Bangsawan hal tersebut dapat dibuktikan dengan tokoh yang diceritakan adalah raja dan anak raja, yaitu Raja Indera Bungsu, putranya Syah Peri dan Indera Bangsawan, Putri Ratna Sari, Raja Kabir, dan Putri Kemala Sari. Selain itu, latar tempat dalam cerita tersebut adalah negeri yang dipimpin oleh raja serta istana dalam suatukerajaan. e. Penyebarannya secara lisan Alasan mengapa disebarkan secara lisan? Penyebab utamanya adalah pergerakan zaman dahulu sangatlah lambat jika dibandingkan dengan konvoi masyarakat di zaman modern ini. Oleh karena itu, penyebaran budaya dan cerita secara lisan akan lebih mempercepat tersebarnya cerita dibandingkan dengan menggunakan media tulisan. Selain itu, melalui budaya lisan, masyarakat juga mampu lebih intens memberikan nilai-nilai positif nan terdapat di dalam cerita sehingga pesan moral yang terdapat di dalamnya akan sampai kepada pendengar dengan lebih cepat dan efektif. Akibat penyebarannya yang secara lisan tidak jarang menimbulkan berbagai variasi karya cerita rakyat. f. Tradisional Mempertahankan kebiasaan masyarakat jaman dulu atau adat istiadat. Hal ini menjadikan karya tersebut klise dalam susunan atau cara pengungkapannya.


17 Si Miskin laki-bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan mencari rezeki berkeliling di Negeri antah berantah di bawah pemerintahan Maharaja Indera Dewa. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan berdarah- darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan menangislah Si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki. 4. Gaya bahasa Gaya bahasa cerita rakyat menggunakan bahasa melayu klasik. Ciri bahasa yang dominan dalam cerita sejarah/ hikayat adalah a. Menggunakan majas Penggunaan majas bertujuan agar cerita lebih menarik. b. Banyak menggunakan konjugsi pada setiap awal kalimat Contoh: Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu . Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengajikepada MualimSufian. c. Menggunakan kata arkais. Meskipun bahasa yang digunakan dalam cerita rakyat bahasa Indonesia (berasal dari bahasa Melayu), tidak semua kata dalam cerita rakyat dijumpai dalam bahasa Indonesia sekarang. Kata-kata dalam hikayat sudah jarang digunakan atau bahkan sudah asing disebut sebagai kata-kata arkais. d. Mengungkapkan sesuatu yang mustahil atau tidak masuk akal. Hal ini ditandai oleh tokoh-tokohnya yang melakukan kegiatan yang tidak masuk akal. Misalnya dapat berbicara dengan binatang, bisa memasak di telapak tangan, bisa terbang dn lainlain. 5. Membandingkan Penggunaan Bahasa dalam Cerpen dan Hikayat Hikayat dancerpensama-samamerupakan teksnarasi fiksi. Keduanya mempunyai unsur intrinsik yang sama yaitu tema, tokoh dan penokohan, sudut pandang, seting, gaya bahasa, dan alur. Sekarangkamuakan mempelajariperbandinganbahasadalamcerpen dan hikayat. Kaidah bahasa yang dominan dalam cerpen adalah penggunaan gaya bahasa (majas) dan penggunaan konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan urutan kejadian. a. Penggunaan Majas Penggunaan majas dalam cerpen dan hikayat berfungsi untuk membuat cerita lebih menarik jika dibandingkan menggunakan bahasa yang bermakna lugas. Ada berbagai jenis majas yang digunakan baik dalam cerpen dan hikayat. Di antara majas yang sering digunakan dalam cerpen maupun hikayat adalah majas antonomasia, metafora, hiperboladanmajas perbandingan. Meskipun sama-sama menggunakan gaya bahasa, tetapi gaya bahasa yang digunakan dalam hikayat berbeda penyajiannya dengan gaya bahasa dalam cerpen. Si Miskin dalam kutipan hikayat di atas merupakan contoh majas antonomasia yaitu majas yang menyebut seseorang berdasarkan ciri atau sifatnya yang


18 “Pilih mana,” katanya, “tiga, empat, atau tujuh?” “Empat.” Ia tersenyum penuh kemenangan. “Selama lima belas tahun saya bekerja di sini,” katanya, “Anda orang pertama yang tidak memilihtujuh.” Ia menulis nomor kursi di boarding passku dan mengembalikannya bersama dokumen-dokumenku, lalu memandangku untuk kali pertama dengan matanya yang berwarnaanggur,sebuahhiburan sampaiaku bisamelihat Si Cantik lagi. Kemudian ia memberi tahu bahwa bandara baru saja ditutup dan semua penerbangan ditunda. Dikutip dari: http://icanjambi.blogspot.co.id Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan sembunyisembunyi. Ketika itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan aku untuk tetap tenang di kamar belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu. Kabut Ibu karya Masdar Zaenal, Kompas Minggu 8 Juli2012 menonjol. Bandingkan dengan penggunaan majas antonomasia dalam penggalan novel Putri Tidur dan Pesawat Terbang karya Gabriel Garcia Marquez berikut ini. Majas simile juga banyak digunakan dalam hikayat maupun cerpen. Majas simile adalah majas yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya menggunakan kata penghubung atau kata pembanding. Kata penghubung atau kata pembanding yang biasa digunakan antara lain: seperti, laksana, bak, dan bagaikan. Penggunaan majas pada cerita rakyat/hikayat Penggunaan majas pada cepen, terlihat pada kutipan berikut: Maka Si Miskin itupun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh orang banyak, Si Miskin laki binidengan rupakainnyaseperti dimamah anjing rupanya. Maka orang banyak itupun ramailah ia tertawaseraya mengambil kayu danbatu. Hikayat Si Miskin


19 Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu mintaizinlah dia kepada istrinya. Sebelum dia pergi, berpesanlah dia pada istrinya itu, jika ada barang suatu pekerjaan, mufakatlah dengan duaekor unggasitu,hubaya-hubayajangantiada,karena fitnahdi duniaamat besar lagitajamdaripadasenjata. Hattabeberapalama ditinggalsuaminya,ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok. Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua. Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu. Maka bernasihatlah ditentang perbuatannya yang melanggar aturan Allah SWT. Maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati. Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura- pura tidur.Hikayat Bayan Budiman Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kam- pong halamannya, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunangkunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selalu menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhumsuaminya. Menjemput Maut di Mogadishu karya Masdar Zaenal Sumber:KoranKompasMinggu,1Juli2012 b. Penggunaan konjungsi Baik cerpen maupun hikayat merupakan teks narasi yang banyak menceritakan urutan peristiwa atau kejadian. Untuk menceritakan urutan peristiwa atau alur tersebut keduanya menggunakan konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan kejadian. Perhatikan contoh penggunaan konjungsi pada penggalan hikayat berikut ini. Konjungsi “sebelum” yang bergaris bawah dalam penggalan hikayat di atas menunjukkan urutan waktu sedang konjungsi “lalu” menyatakan urutan kejadian. Penggunaan konjungsi yang tepat sangat penting untuk mengembangkan alur cerita. Bandingkan dengan penggunaan konjungsi dalam penggalan cerpen berikut ini. Konjungsi “ketika” dalam kutipan di atas menyatakan hubungan waktu, sedangkan konjungsi“selanjutnya” menyatakan urutan peristiwa. 6. Membandingkan Nilai dalam Teks Hikayat dengan Nilai Cerpen Pada pembelajaran yang telah lalu kamu telah memahami bahwa banyak nilai dalam hikayat yang masih sesuai dengan kehidupan masa kini. Sebagai karya sastra modern yang mengangkat nilai-nilai kehidupan masa kini, dapat diduga bahwa banyak nilai dalam hikayat yang bersesuaian dengan nilai dalam hikayat. Cermatilah kedua karya cerita rakyat dan cerpen! Teks I cerita Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak Menurut sahibul hikayat, pada zaman dahulu ada seorang datu yang sakti mandraguna sedang bertapa di tengah laut. Namanya Datu Mabrur. Ia bertapa di antara Selat Laut dan Selat Makassar. Siang-malam ia bersamadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai topan. Ia memohon kepada Sang Pencipta agar diberi


20 sebuah pulau. Pulau itu akan menjadi tempat bermukim bagi anak-cucu dan keturunannya, kelak. Di malam hari, ada kalanya tubuh Datu Mabrur seakan membeku. Cuaca dingin, angin, hujan, embun dan kabut menyelimuti tubuhnya. Siang hari, terik matahari membakar tubuhnya yang kurus kering dan hanya dibungkus sehelai kain. Ia tidak pernah makan, terkecuali meminum air hujan dan embun yang turun. Di hari terakhir pertapaannya, ketika laut tenang, seekor ikan besar tiba-tiba muncul dari permukaan laut dan terbang menyerangnya. Tanpa beringsut dari tempat duduk maupun membuka mata, Datu Mabrur menepis serangan mendadak itu. Ikan itu terpelanting dan jatuh di karang. Setelah jatuh ke air, ikan itu menyerang lagi. Demikian berulang-ulang. Di sekeliling karang, ribuan ikan lain mengepung, memperlihatkan gigi mereka yang panjang dan tajam, seakan prajurit siap tempur. Pada serangannya yang terakhir, ikan itu terpelanting jatuh persis saat Datu Mabrur membuka matanya. “Hai, ikan! Apa maksudmu mengganggu samadiku? Ikan apa kamu?” “Aku ikan todak, Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Samadimu membuat lautan bergelora. Kami terusik, dan aku memutuskan untuk menyerangmu. Tapi, engkau memang sakti, Datu Mabrur. Aku takluk...,” katanya, megap-megap. Matanya berkedip-kedip menahan sakit. Tubuhnya terjepit di sela-sela karang tajam. “Jadi, itu rakyatmu?” Datu Mabrur menunjuk ribuan ikan yang mengepung karang. “Ya, Datu. Tapi, sebelum menyerangmu tadi, kami telah bersepakat. Kalau aku kalah, kami akan menyerah dan mematuhi apa pun perintahmu.” Datu Mabrur mengangguk. Dipandanginya ikan-ikan yang berenang di sekeliling karang itu. Gigi, sirip dan sisik mereka berkilauan saat melompat di permukaan laut. Siang menjelang. Matahari mulai garang. Ini hari terakhir pertapaannya, tapi belum ada tanda-tanda permohonannya akan terkabul. Pulau yang diimpikannya belum tampak. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya birunya laut, keluasan samudera dan cakrawala. “Datu, tolonglah aku. Obati luka-lukaku dan kembalikanlah aku ke laut. Kalau terlalu lama di darat, aku bisa mati. Atas nama rakyatku, aku berjanji akan mengabdi padamu, bila engkau menolongku...” Raja Ikan Todak mengiba-iba. Seolah sulit bernapas, insangnya membuka dan menutup. “Baiklah,” Datu Mabrur berdiri. “Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, aku akan menolongmu.” “Apa pun permintaanmu, kami akan memenuhinya. Datu ingin istana bawah laut yang terbuat dari emas dan permata, dilayani ikan duyung dan gurita? Ingin berkeliling dunia, bersama ikan paus dan lumba-lumba?” “Tidak. Aku tak punya keinginan pribadi, tapi untuk masa depan anak-cucuku nanti....” Lalu, Datu Mabrur menceritakan maksud pertapaannya selama ini. “Kami akan memenuhi permintaanmu!”


21 “Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?” “Akan kukerahkan rakyatku, seluruh penghuni lautan dan samudera. Sebelum matahari terbit esok pagi, impianmu akan terwujud. Aku bersumpah!” “Wah... Kamu bersumpah?” “Ya! Aku takkan berdusta. Ini sumpah raja!” Datu Mabrur tak dapat membayangkan, bagaimana Raja Ikan Todak akan memenuhi sumpahnya itu. “Baiklah. Tapi kita harus membuat perjanjian: sejak sekarang kita harus sa-ijaan, seiring sejalan. Seia sekata, sampai ke anak-cucu kita. Kita harus rakat mufakat, bantu membantu, bahu membahu. Setuju?” “Setuju, Datu...,” sahut Raja Ikan Todak yang tergolek, lemah. Ia sangat membutuhkan air. Mendengar jawaban itu, Datu Mabrur tersenyum. Dengan hati-hati, dilepaskannya tubuh Raja Ikan Todak dari jepitan karang, lalu diusapnya lembut. Ajaib! Dalam sekejap, darah dan luka di sekujur tubuh Raja Ikan Todak itu mengering! Kulitnya licin kembali seperti semula, seakan tak pernah luka. Ikan itu menggerak-gerakkan sirip dan ekornya dengan gembira. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Datu Mabrur mengangkat Raja Ikan Todak itu dan mengembalikannya ke laut. Ribuan ikan yang tadi mengepung karang, kini berenang mengerumuninya, melompat-lompat bersuka ria. “Sa-ijaan!” seru Raja Ikan Todak sambil melompat di permukaan laut. “Sa-ijaan!” sahut Datu Mabrur. Setelah lompatan ketiga, Raja Ikan Todak, bersama ribuan ikan yang mengiringinya, menyelam ke dalam lautan. Sebelum tengah malam, sebelum batas waktu pertapaannya berakhir, Datu Mabrur dikejutkan oleh suara gemuruh yang datang dari dasar laut. Gemuruh perlahan, tapi pasti. Laut tenang, gelombang tak ada, hanya alunan ombak dan riak-riak kecil saja. Riak-riak itu kian memanjang ke segenap penjuru. Langit terang benderang oleh ribuan bintang dan cahaya purnama, hingga Datu Mabrur dapat dengan jelas menyaksikan peristiwa di depan matanya. Gemuruh suara itu terdengar bersamaan dengan timbulnya sebuah daratan, dari dasar laut! Kian lama, permukaan daratan itu kian tampak. Naik dan terus naik! Lalu, seluruhnya timbul ke permukaan! Di bawah permukaan air, ternyata jutaan ikan dari berbagai jenis mendorong dan memunculkan daratan baru itu dari dasar laut. Sambil mendorong, mereka serempak berteriak, “Sa-ijaan! Sa-ijaan! Sa-ijaaan...!” Datu Mabrur tercengang di karang pertapaannya. Raja Ikan Todak telah memenuhi sumpahnya! Bersamaan dengan terbitnya matahari pagi, daratan itu telah timbul sepenuhnya.


22 Berupa sebuah pulau. Lengkap dengan ngarai, lembah, perbukitan dan pegunungan. Tanahnya tampak subur. Pulau kecil yang makmur. Datu Mabrur senang dan gembira. Impiannya tentang pulau yang akan menjadi tempat tinggal bagi anak-cucu dan keturunannya, telah menjadi kenyataan. Permohonannya telah dikabulkan. Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Pencipta, ia menamakannya Pulau Halimun. Alkisah, Pulau Halimun kemudian disebut Pulau Laut. Sebab, ia timbul dari dasar laut dan dikelilingi laut. Sebagai hikmahnya, kata sa-ijaan dan ikan todak dijadikan slogan dan lambang Pemerintah Kabupaten Kotabaru. Teks II cerpen Menggapai Mimpi Setinggi Bintang Anak tertua Rasyid bernama Reni dan si bungsu bernama Fadil. Reni sebenarnya adalah anak kakak Fatimah. Kakak Fatimah beserta suami meninggal ketika galodo menerjang kampung mereka. Reni masih berumur satu tahun ketika itu. Sejak saat itu, Fatimah yang merawat Reni. Reni tidak pernah tahu kalau Rasyid dan Fatimah bukanlah orang tua kandungnya. Tias sudah pulang dari Mushalla. Dia bergegas menuju dapur. Dia melihat kakak ipar dan keponakannya belum selesai memasak. Pemandangan sawah yang baru panen terlihat dari jendela dapur. Sayup-sayup terdengar gemericik air mengalir dari sungai di belakang rumah. Tias mengambil pancing yang tersandar dekat pintu dapur. Dia berjalan ke halaman belakang mencari cacing. Setelah mendapatkan cukup cacing, Tias bergegas menuju sungai di belakang rumah. Setelah umpan dipasang dan pancing dilemparkan, Tias menunggu dengan sabar. Memancing adalah kegemaran Tias. Dia sangat menikmati detik demi detik berlalu dalam penantian. Dia sangat yakin bahwa usaha yang dilakukan akan membuahkan hasil. Harapannya menjadi kenyataan, pelan tapi pasti ikan mulai menyambar umpannya. Lima ekor ikan lelan dan tiga ekor ikan sepat sudah membuatnya senang. Perut Tias terasa sangat lapar. Dia memutuskan untuk segera pulang. Dia berjalan gontai pulang ke rumah dengan membawa hasil pancingannya. Rasyid sudah menunggu di depan pintu dapur. “Cepat cuci tanganmu, kita makan, “ katanya sambil mengintip hasil pancingan Tias. “Banyak kau dapat? “ tanyanya lagi. “Cuma segitu, bang. Aku lapar, “ jawab Tias singkat.


23 Sesaat kemudian Rasyid dan Tias sudah di meja makan. Mereka makan dengan lahapnya. Makanan yang disajikan sangat sederhana, ikan asin dan jengkol belado, pucuk ubi rebus, dan telor dadar kelapa. Fatimah dan Reni menyusul makan setelah Rasyid dan Tias selesai. Setelah itu, Tias pamit pulang ke rumah kepada Rasyid dan Fatimah. *** Malam sudah larut. Kesunyian malam terasa begitu tenang membius jiwa. Tias belum bisa tertidur. Rasa penat setelah seharian bekerja masih terasa. Tias memandang bintang yang berkerlap-kerlip di langit. Dia gantungkan cita-citanya setinggi bintang di langit. Semoga Allah kabulkan. Sekarang Tias duduk di kelas 5 Sekolah Rakyat (sekarang SD). Dia sangat cekatan pada mata pelajaran hapalan dan menghitung. Dia sering mendapatkan nilai 100 untuk mata pelajaran ilmu hayat dan berhitung. Beberapa hari yang lalu Angku Guru Sulaiman memanggil Tias. Melihat hasil belajar Tias, beliau menawarkan Tias ikut ujian kelas 6. Ujian kelas 6 masih 8 bulan lagi. Pada saat itu loncat kelas memungkinkan untuk siswa pintar. Tias belum memberikan jawaban. Dia harus meminta pendapat umi dan buyanya. Dia yakin pasti ada jalan baginya untuk terus sekolah. Kemiskinan bukan halangan baginya untuk bisa terus sekolah. Dia sangat yakin akan bantuan Allah. https://www.gurusiana.id/read/mariaagusta/article/menggapai-mimpi-setinggi-bintang-2-4941794


24 Penugasan 1 Setelah membaca cerita rakyat berjudul Sa-ijaan dan Ikan Todak dan cerpen berjudul Menggapai Mimpi Setinggi Bintang, bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat dan cerpen tersebut! Gunakan format di bawah ini untuk menjawab! Nilai-nilai Cerita rakyat Sa-ijaan dan Ikan Todak (Bukti kutipan) Cerpen Menggapai Mimpi Setinggi Bintang (Bukti kutipan) Moral Agama/religi Sosial Budaya Estetika Pendidikan Penugasan 2 Setelah membaca cerita rakyat berjudul Sa-ijaan dan Ikan Todak dan cerpen berjudul Menggapai Mimpi Setinggi Bintang, bandingkan bahasa dalam cerita rakyat dan cerpen tersebut! Gunakan format di bawah ini untuk menjawabnya. Penggunaan Bahasa Cerita rakyat Sa-ijaan dan Ikan Todak (Bukti kutipan) Cerpen Menggapai Mimpi Setinggi Bintang (Bukti kutipan) Penggunaan konjungsi di awal kalimat Kata-kata arkhais Menggunakan


25 kalimat kemustahilan atau kesaktian. C. Latihan Soal Cermatilah dua teks berikut! Teks hikayat Hikayat Amir Dahulu kala di Sumatra, hiduplah seorang saudagar bernama Syah Alam. Syah Alam mempunyai seorang anak bernama Amir. Amir tidak bisa mengatur uangnya dengan baik. Setiap hari dia membelanjakan uang yang diberi ayahnya. Karena sayangnya pada Amir, Syah Alam tidak pernah memarahinya. Syah Alam hanya bisa mengelus dada. Lama-kelamaan Syah Alam jatuh sakit. Makin hari sakitnya makin parah. Banyak uang yang dikeluarkan untuk pengobatan, tetapi tidak kunjung sembuh. Akhirnya mereka jatuh miskin. Penyakit Syah Alam makin parah. Sebelum meninggal, Syah Alam berkata, "Amir, Ayah tidak bisa memberikan apa-apa lagi padamu. Engkau harus bisa membangun usaha lagi seperti Ayah dulu. Jangan kau gunakan waktumu sia-sia. Bekerjalah yang giat, pergi dari rumah. Usahakan engkau terlihat oleh bulan, jangan terlihat oleh matahari". "Ya, Ayah. Aku akan turuti nasihatmu." Sesaat setelah Syah Amir meninggal, ibu Amir juga sakit parah dan akhirnya meninggal. Sejak itu Amir bertekad untuk mencari pekerjaan. Ia teringat nasihat ayahnya agar tidak terlihat matahari, tetapi terlihat bulan. Oleh sebab itu, ke mana-mana ia selalu memakai payung. Pada suatu hari, Amir bertemu Nasrudin, seorang menteri yang pandai. Nasarudin sangat heran dengan pemuda yang selalu memakai payung itu. Nasarudin bertanya kenapa dia berbuat demikian. Amir bercerita alasannya berbuat demikian. Nasarudin tertawa. Nasarudin berujar, "Begini ya, Amir. Bukan begitu maksud pesan ayahmu dulu. Akan tetapi, pergilah sebelum matahari terbit dan pulanglah sebelum malam. Jadi, tidak mengapa engkau terkena sinar matahari". Setelah memberi nasihat, Nasarudin pun memberi pinjaman uang kepada Amir. Amir disuruhnya berdagang sebagaimana dilakukan ayahnya dulu. Amir lalu berjualan makanan dan minuman. Ia berjualan siang dan malam. Pada siang hari, Amir menjajakan makanan, seperti nasi kapau, lemang, dan es limau. Malam harinya ia berjualan martabak, sekoteng, dan nasi goreng. Lama-kelamaan usaha Amir makin maju. Sejak itu, Amir menjadi saudagar kaya. Sumber https://www.bola.com/ragam/read/4708221/contoh-contoh-hikayat-yang-populer-dan-bermakna


26 Teks Cerpen Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya Karya Ahmad Tohari Di sekitar jalan simpang tiga akrab pasar, nama Paman Klungsu sudah lama mapan. ia yakni sosok yg punya kuasa di tempat itu. Dengan andalan lengking peluitnya, Paman Klungsu bisa menanggulangi kemacetan lalu lintas, khususnya di pagi hari. Pada saat itu, para pedagang pria & wanita mirip beradu cepat meraih pasar. Mereka naik sepeda atau motor dgn dua keranjang di cuilan belakang. Puluhan anak SMP & Sekolah Menengan Atas dgn motor yg knalpotnya dibobok pula berebut keluar dr jalan kampung ke jalan raya. Tanpa helm, tanpa SIM. Tetapi mereka kelihatan tak peduli & amat yakin diri. Guru-guru SD, beberapa di antaranya sudah bermobil ikut menambah kepadatan lalu lintas di simpang tiga itu. Maka, orang bilang, untung ada Paman Klungsu yg dgn lengking peluitnya mampu memuat semua menjadi tanpa hambatan. Polisi lalu lintas belum pernah tiba di sana. Tetapi, Paman Klungsu biasa memakai rompi lusuh bercap “Poltas Swakarsa” dgn tulisan spidol. Entah siapa penulisnya. Selain rompi lusuh warna pupus pisang yg berpendar, Paman Klungsu pula melengkapi diri dgn peluit plastik warna merah. Meskipun kecil, suara peluit itu amat nyaring & terbukti wibawanya ditaati oleh para pengendara. Orang-orang sering bertanya mana yg paling berwibawa di simpang tiga itu; sosok Paman Klungsu atau peluitnya. Empat-lima tahun yg lalu Paman Klungsu hanya orang lontang-lantung di pasar. Jalannya pincang. Kaki kirinya kecil & lebih pendek. Sebatang kara, di malam hari jadi peronda pasar. Di siang hari jadi kuli angkut yg membawakan barang milik penjualdr dlm pasar ke pinggir jalan atau sebaliknya. Para penjualmemberinya seratus atau dua ratus rupiah. Itu bekal Paman Klungsu untuk pergi ke warung nasi rames milik Yu Binah di belakang pasar. Sekarang Paman Klungsu tak lagi memuat -angkut barang milik pedagang. ia merasa telah naik pangkat menjadi-ia menyebutnya sendiri-poltas swakarsa, yg amat ia banggakan. Apalagi Paman Klungsu pula sering mendapat duit receh. Itu pinjaman sopir-sopir yg merasa bersimpati. Mereka menghargai jasa Paman Klungsu yg punya prakarsa menertibkan lalu lintas di simpang tiga. Pada awalnya Paman Klungsu sering dicibir orang. “Ah, ananda cuma polisi nonkerikil, polisi-polisian. Kamu cuma berani mengatur pedagang & anak sekolah, tapi tak berkutik jika yg melalui pejabat atau moge. Kamu pula senantiasa mengistimewakan Yu Binah. Kalau wanita itu melalui senantiasa ananda bukakan jalan.”


27 Ketika mendapatkan cibiran itu, Paman Klungsu hanya diam. Namun bantumembantu ia sungguh tersinggung. Jadi suatu kali ia bergerak cepat tatkala ada suatu kendaraan beroda empat bersipongah mau melanggar aturannya. Dengan langkah terpincang-pincang, Paman Klungsu menghadang mobil anggun berpelat merah itu. Paman Klungsu berdiri tepat di depan kendaraan beroda empat, tangan kanannya tegak lurus. Tetapi, kaki kirinya bersijingkat alasannya adalah lebih pendek. Peluitnya melengking-lengking sekerasnya. Pengendara kendaraan beroda empat itu mendengus & berhenti dgn mata membulat. Kemarahan muncul penuh di parasnya. Tetapi, Paman Klungsu bergeming. Dan di luar praduga Paman Klungsu semua orang di simpang tiga bertepuk tangan mendukungnya. Peluit Paman Klungsu melengking kian nyaring & bertubi-tubi. Tangan kanannya tetap menjulang ke atas. Orang- orang bersorak semakin riuh. Sejak kejadian itu, Paman Klungsu makin percaya diri & merasa lebih gagah. ia senang alasannya ternyata orang-orang berada di pihaknya. Maka, ia mengulangi sikap itu; tak mengutamakan siapa saja yg lewat. Juga barisan puluhan moge yg menderu menggila dr barat pada Jumat & menggelegar pongah balik dr timur pada Ahad. Maka, Paman Klungsu dgn peluitnya yaitu sosok kekuasaan yg faktual di simpang tiga itu. Sayangnya, orang-orang pula masih jadi saksi peluit Paman Klungsu tak pernah melengking nyaring terhadap Yu Binah. Bila ia melalui, Paman Klungsu senantiasa mendahulukannya, dgn keramahan yg aktual pula. Terhadap Yu Binah, peluit Paman Klungsu seakan bisu. Ketika sedang istirahat pada suatu tengah hari di emper toko, ada orang mengajukan pertanyaan, “Ah, ananda ternyata tetap memprioritaskan Yu Binah. Ada apa ya? Awas, Yu Binah punya suami; ananda jangan macam-macam.” Pertanyaan itu membuat Paman Klungsu cemas. Wajahnya secara tiba-tiba beku. Bibirnya gemetar. ia tergagap, & kata-kata yg kemudian diucapkan terdengar patahpatah. “Yu Binah? Iya. ia memang punya suami. Dan saya tak mengapa-apakan ia.” Paman Klungsu gugup. Namun, usang-kelamaan bicaranya lebih tertata. Katanya, ia banyak berutang kebijaksanaan pada Yu Binah. Penjual nasi itu suka memberinya rames lengkap berapa pun Paman Klungsu membayarnya. Menyadari uangnya sering tak cukup, tambahnya, ia biasa cuma minta nasi & air putih. Lauknya cukup kecap & sambal yg memang disediakan cuma-cuma. Tetapi, Yu Binah tetap memberinya nasi rames lengkap dgn taburan bawang goreng, tahu atau tempe, bahkan kadang ikan juga. “Taburan bawang goreng di atas nasi hangat, ditambah sambal & kecap, wah!” “Jadi cuma alasannya bawang goreng, ananda merasa harus memprioritaskan Yu Binah?” Paman Klungsu tersipu, kemudian meneruskan penjelasannya. Katanya, ada sesuatu yg sangat mengesankan pada Yu Binah, yaitu gerak tubuh, utamanya kedua tangannya tatkala Yu Binah menyiduk nasi dr bakul lalu menampungnya dgn piring.


28 “Itu seperti tangan orang menari, atau apa. Itu pantes banget, perempuan banget. Tidak semua perempuan mampu mirip itu,” tambah Paman Klungsu. Orang yg mendengar ucapan Paman Klungsu tertawa. “Ah, ananda mengada-ada saja. Cuma bawang goreng & gerak tangan wanita menyiduk nasi kenapa ananda begitu terkesan?” Jawaban Paman Klungsu keluar lagi sehabis ia berdiam diri. ia mengaku dirinya orang perasa sehingga gampang tersentuh oleh keanggunan yg terlihat olehnya. Apalagi, tambahnya, keanggunan gerak Yu Binah tatkala menyiduk nasi selalu dibarengi ketulusan yg konkret terlihat di parasnya. ***** Ini jam 9 pagi, kemudian lalang di simpang tiga sudah mereda. Anak-anak sekolah, para guru, & pegawai sudah usang hingga ke kawasan kerja masing-masing. Yang masih berkendara melalui simpang tiga hanya orang-orang yg mau pergi atau pulang dr pasar. Udara mulai panas & bunyi lengking peluit buat sementara tak terdengar. Karena tak padat, arus kendaraan mampu mengalir tanpa kendala meskipun tanpa lengking peluit Paman Klungsu. Ke mana ia? Dengan bekal uang seribu lima ratus derma tiga sopir yg menyadari perut siapa pun harus diisi nasi, Paman Klungsu masuk ke warung Yu Binah. Di depan pintu warung lelaki pincang itu berpapasan dgn dua pedagang yg baru selasai makan nasi rames. Paman Klungsu duduk sendiri, menaruh peluitnya di atas meja, lalu menyulut rokok. Yu Binah menyambutnya dgn senyum. Ah, Paman Klungsu tak akan melepaskan potensi menikmati keanggunan gerak Yu Binah tatkala perempuan itu sedang menyiapkan nasi rames. Atau, barangkali Paman Klungsu sulit menjawab jikalau ditanya, mana yg lebih ia sukai, keanggunan gerak Yu Binah atau nasi ramesnya. “Yu, uangku cuma seribu lima ratus.” “Ya, tak apa. Ah, semenjak pagi ananda jerih payah tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah hingga kenyang.” “Dengan duit seribu lima ratus ya, Yu?” “Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah usang mengenal aku, kan?” Yu Binah memutar tubuh, mengambil satu piring kemudian bergeser ke erat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dr samping dgn mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dgn asap terus mengepul. “Itu betul sebuah lenggang yg pantes banget, & gue tak akan bosan melihatnya,” ujar Paman Klungsu dlm hati. Dan kemudian hatinya merasa sejuk seperti diguyur air tatkala Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya sarat ; nasi putih dgn taburan bawang goreng & sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, & segelas air putih


29 disorongkan juga. “Ayo makan. Kamu tentu sudah lapar.” Suara itu terasa seperti dendang alam di indera pendengaran Paman Klungsu. Tatkala sekejap menengadah, Paman Klungsu pula menyaksikan muka tulus itu. Mata yg jernih, senyuman yg polos, sederhana. Paman Klungsu menunduk, mengamati rokok di asbak yg nyaris habis tanpa diisap. Menarik napas panjang, kemudian menawan piring lebih akrab. Aroma bawang goreng menghidupkan seleranya. Dan Paman Klungsu sadar, harga nasi rames yg sedang disantap pasti di atas seribu lima ratus. Selesai makan, Paman Klungsu minta diri dgn cara orang yg amat mengetahui berterima kasih. Meskipun tahu dr jam sembilan hingga jam satu lalu lintas di simpang tiga tak ramai, Paman Klungsu tidak mau terlalu usang meninggalkan daerah itu. Namun, sampai di depan pasar Paman Klungsu mesti berhenti. Yu Binah memanggil-manggilnya dr belakang. Yu Binah berjalan tergesa-gesa, tangan kirinya menjimpit sesuatu dgn ibu jari & telunjuk. Menahan rasa jijik. Tangan kanannya menutup hidung & lisan. “He, ini, peluitmu tertinggal. Idih, ampun! Baunya busuk sekali,” kata Yu Binah dgn suara teredam oleh bungkaman tangan sendiri. “Peluitmu senantiasa kena ludah namun tak pernah ananda basuh ya? Idih, minta ampun busuknya!” “Begitu ya, Yu? Tetapi, peluitku amat penting. Bunyinya berkuasa mengendalikan simpang tiga,” jawab Paman Klungsu sambil berupaya menangkap peluit yg dilemparkan Yu Binah ke arahnya. “Iya, lah, gue tahu. Namun, kenapa peluitmu yg punya kuasa itu mesti bacin busuk? Ah, cucilah barang busuk itu. He, dengar. Kamu jangan ke warungku sebelum peluit itu ananda basuh. Benar ya?” Paman Klungsu mengangguk & tersenyum. Setelah Yu Binah berbalik, Paman Klungsu melamun sejenak. Mendadak ia termakan untuk menjajal merasakan sendiri bacin peluitnya. Maka lubang pada barang kecil itu didekatkan ke hidungnya. O, Paman Klungsu secara tiba-tiba tersentak & berkali-kali bergidik, lalu cuh! Kemudian Paman Klungsu berjalan terpincang-pincang sambil menunduk, pulang ke simpang tiga. Panas matahari menyengat kepalanya. Dan peluit sakti yg bau busuk itu tetap dlm genggaman. Sumber https://wargamasyarakat.org/paman-klungsu-dan-kuasa-peluitnya-cerpen-ahmad-tohari/


30 Berdasarkan kutipan di atas bandingkan dua kutipan cerita rakyat dan cerpen tersebut! Nilai-nilai Cerita rakyat Paman klungsu dan Kuasa Peluitnya(Bukti kutipan) Hikayat Amir (Buktikutipan) Moral Agama/religi Sosial Budaya Estetika Pendidikan Penggunaan Bahasa Cerita rakyat Paman klungsu dan Kuasa Peluitnya(Bukti kutipan) Hikayat Amir (Buktikutipan) Penggunaan konjungsi di awal kalimat Kata-kata arkhais Menggunakan kalimat kemustahilan atau kesaktian.


31 D. Rangkuman Cerita rakyat dan hikayat adalah jenis narasi yang telah ada sejak zaman dahulu kala. Keduanya merupakan bagian dari warisan budaya suatu masyarakat dan sering kali digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai, norma, dan kearifan lokal kepada generasi berikutnya. Dalam konteks Indonesia, cerita rakyat dan hikayat memiliki peran penting dalam memperkuat identitas bangsa dan melestarikan tradisi serta budaya. Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang di kalangan masyarakat secara turuntemurun. Cerita ini biasanya berhubungan dengan asal-usul suatu tempat, tokoh-tokoh legendaris, atau peristiwa penting dalam sejarah masyarakat. Cerita rakyat sering kali diwariskan melalui lisan dan memiliki variasi yang berbeda-beda di setiap daerah. Beberapa contoh cerita rakyat terkenal di Indonesia antara lain "Bawang Merah Bawang Putih," "Legenda Roro Jonggrang," dan "Asal Mula Danau Toba." Hikayat, di sisi lain, adalah jenis cerita epik yang berasal dari Timur Tengah dan India. Hikayat umumnya ditulis dalam bentuk prosa atau puisi panjang dan mengisahkan tentang petualangan pahlawan atau tokoh-tokoh mitologis. Hikayat juga sering kali mengandung unsur magis atau supranatural. Di Indonesia, salah satu hikayat terkenal adalah "Hikayat Hang Tuah," yang mengisahkan tentang keberanian dan kesetiaan seorang pahlawan Melayu. Cerita rakyat dan hikayat memiliki beberapa kesamaan. Keduanya merupakan cerita yang diwariskan secara turun-temurun dan berfungsi sebagai sarana untuk mengajarkan nilainilai moral kepada generasi muda. Baik cerita rakyat maupun hikayat juga sering kali mengandung unsur-unsur mitologi, legenda, atau sejarah yang memberikan warna dan kekayaan pada cerita tersebut. Namun, terdapat juga perbedaan antara cerita rakyat dan hikayat. Salah satu perbedaan utamanya terletak pada asal-usulnya. Cerita rakyat berasal dari masyarakat setempat, sementara hikayat memiliki akar budaya yang lebih luas dan sering kali berasal dari luar negeri. Selain itu, gaya bahasa dan struktur narasi dalam cerita rakyat dan hikayat juga dapat berbeda-beda. Penting bagi mahasiswa untuk mempelajari cerita rakyat dan hikayat karena keduanya merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia. Dengan memahami cerita-cerita ini, mahasiswa dapat lebih menghargai dan melestarikan tradisi serta budaya lokal. Selain itu, cerita rakyat dan hikayat juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam bidang seni, sastra, dan penelitian budaya.


32 KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 Mengembangkan Cerita Rakyat (hikayat) ke dalam Bentuk Cerpen dengan Memerhatikan Isi dan Nilai-nilai Lisan atau Tulis A. Capaian Pembelajaran Setelah mempelajari modul pada kegiatan pembelajaran 2 ini diharapkan kalian dapat mengembangkan cerita rakyat ke dalam bentuk cerpen dengen memerhatikan isi dan nilainilai baik secara lisan atau tertulis dengan teliti, cermat dan terampil. B. Uraian Materi Pada kegiatan pembelajaran sebelumnya, kalian telah belajar membandingkan penggunaan bahasa dari cerira rakyat dengan cerpen. Kegiatan pembelajaran 2 ini, kalian akan mengembangkan isi cerita rakyat menjadi cerita pendek. 1. Membandingkan Alur Cerita dalam Cerita Rakyat dan Cerpen Kalian telah memahami perbedaan karakteristik bahasa hikayat dengan cerpen. Dalam sub bagian ini, kamu akan belajar mengembangkan imajinasi dan kreasi untuk menuliskan kembali isi cerita rakyat/hikayat dalam bentuk cerpen. Salah satu unsur intrinsik yang sangat menentukan keberhasilan sebuah cerpen atau hikayat dalam menyampaikan cerita adalah alur. Alur adalah rangkaian peristiwa yang mempunyai hubungan sebab akibat yang membentuk satu rangkaian cerita yangutuh. Salah satu karekteristik alur dalam hikayat selain beralur maju adalah menggunakan alur berbingkai. Alur mundur dalam sebuah cerita berarti cerita dimulai dari masa lalu ke masa kini, atau dari masa kini ke masa yang akan datang. Alur berbingkai artinya di dalam cerita ada cerita lain. Alur berbingkai dalam hikayat biasanya disajikan dengan menghadirkan tokoh lain yang bercerita tentang suatukisah. Perhatikan contoh alur berbingkai dalam kutipan cerita rakyat/hikayat berikut ini. Dalam cerita yang lain pula, Bayan bercerita mengenai pengorbanan seorang isteri. seorang puteri raja yang kejam telah membunuh 39 orang suaminya. suaminya yang keempat puluh telah berjaya menginsafkannya dengan sebuah cerita mengenai seekor rusa betina yang sanggup menggantikanpasangannya,rusajantan,untukdisembelih. 2. Menulis Kerangka Kalian telah membandingkan isi dan kaidah kebahasaan hikayat dan cerpen, berikutnya kamu akan belajar mengubah isi cerita hikayat ke dalam bentuk cerpen. Sebelum menulis cerpen, kalian sebaiknya membuar kerangka. Kegiatan penulisan kerangka dilakukan agar dalam menulis cerpen bisa dilakukan dengan sistematis, yaitu dengan mengikuti kerangka yang telah dibuat sebelumnya.


33 3. Menulis Cerpen Setelah menulis kerangka, kegiatan selanjutnya adalah menulis cerpen berdasarkan cerita rakyat/ hikayat yang telah dibaca. Di antara yang perlu kalian perhatikan dalam menulis cerpen adalah a. Mengubah alur cerita dari alur berbingkai menjadi alur tunggal. b. Menggunakan bahasa yang ada pada cerita rakyat ke dalam bahasa Indonesia saat ini. c. Menggunakan gaya bahasa yang sesuai menghindari kata-kata arkais. d. Tetap memertahankan nilai-nilai yang ada pada cerita rakyat. Agar kalian lebih memahami dalam mengembangkan cerita rakyat ke dalam bentuk cerpen tulislah cerpen dengan mengubah cerita yang ada dalam cerita rakyat. C. Tugas Terstruktur Nusakambangan Diceritakan kembali oleh Suryo Handono Pada zaman dahulu ada seorang raja sakti dari Jawa Timur yang bergelar Prabu Aji Pramosa. Ia memiliki watak keras kepala dan tidak mau tunduk kepada siapa pun. Apalagi kepada para hambanya, kepada raja-raja negara lain pun ia tidak mau mengalah. Pada waktu itu, di wilayah Kerajaan Prabu Aji Pramosa di Kediri tinggal seorang resi yang mahasakti, bernama Resi Kano atau Kiai Jamur. Prabu Aji Pramosa sudah mengetahui keberadaan Resi itu. Ia merasa sakit hati karena ada yang menandingi kesaktiannya. Ia menganggap resi itu sebagai musuh. Ia khawatir kalau resi itu justru akan mengancam kekuasaannya. Oleh karena itu, ia segera meng- adakan rapat di istana untuk mencari jalan menenteramkan hatinya dengan dalih menyelamatkan Kerajaan. Pada rapat itu diputuskan bahwa Resi Kano harus diusir dari wilayah Kerajaan atau dibunuh. “Para Penggawa, kalian tahu bahwa saat ini negeri kita terancam bahaya?” tanya Prabu Aji Pramosa. “Ampun, Prabu. Hamba belum tahu, bahaya apa yang mengancam negeri kita?” sela salah seorang penggawa sambil mukanya menam- pakkan kebingungan. “Ya, ya, aku memaklumi jika kalian tidak menyadarinya. Sumber bahaya ini memang tidak tampak, tetapi pengaruhnya akan mem- bahayakan. Ia adalah Resi Kano,” kata Prabu Aji Pramosa. “Resi Kano?” ucap beberapa penggawa seakan tidak percaya. “Ya, Resi Kano. Kelihatannya ia baik, tetapi tingkah laku dan pikirannya akan menggerogoti negeri kita. Oleh karena itu, ia harus


34 diusir dari negeri kita. Jika perlu harus dibunuh,” seru Prabu Aji Pramosa. Antara percaya dan tidak, para penggawa itu akhirnya sepakat untuk mengusir Resi Kano. Saat itu juga mereka menyusun cara bagaimana melenyapkan Resi Kano dari negerinya. Sementara itu, Prabu Aji Pramosa tersenyum puas karena para penggawanya telah termakan hasutannya. Ia senang karena keinginannya akan terwujud. Berita tentang rencana pengusiran ataupun pembunuhan itu telah terdengar oleh sang Resi. Ia berketetapan hati untuk pergi meloloskan diri meninggalkan Kerajaan. Ia merasa dendam dan benci atas keserakahan dan kezaliman sang Raja. Kepergian Resi Kano tersebut segera juga diketahui oleh Prabu Aji Pramosa. Hal itu membuat Prabu Aji Pramosa semakin murka dan merasa tidak puas jika sang Resi belum mati. Untuk itu, sang Prabu memerintah para penggawanya untuk mengejar dan menangkapnya hidup-hidup. Resi itu dipersalahkan karena meninggalkan Kerajaan tanpa seizin raja. Alkisah, sang Resi meninggalkan Kerajaan Kediri dengan perasaan sedih, benci, dan dendam kepada Prabu Aji Pramosa. Ia mengembara ke arah pantai selatan Pulau Jawa. Dengan menembus semak belukar, naik-turun gunung, dan tanpa mengenal lelah, akhirnya Resi Kano sampai di pantai selatan Pulau Jawa. Ia terus menyusuri pantai ke arah barat. Sampai di dekat Cilacap, Resi Kano memilih tempat yang sunyi dan sulit dijangkau manusia. Resi Kano kemudian bertapa di tempat itu. Ia mohon keadilan kepada Tuhan atas nasib yang dialaminya. Berkat kegigihan dan usaha yang tiada henti, Prabu Aji Pramosa dan para Pungawa Kediri akhirnya berhasil menemukan tempat persembunyian sang Resi. Prabu Aji Pramosa segera menghunjamkan senjatanya ke tubuh sang Resi yang sedang bertapa. Namun, peristiwa yang luar biasa terjadi. Seketika itu raga Resi Kano lenyap. Seketika itu pula terdengar suara gemuruh dan angin ribut yang membuat seluruh bulu kuduk Prabu Aji Pramosa dan para penggawanya ber- diri. Namun, Prabu Aji Pamosa dapat mengatasi keadaan tersebut berkat mantra yang dimilikinya. Setelah keadaan menjadi tenang kembali, muncullah seekor naga raksasa mendesis-desis seakan hendak menelan sang Prabu. Kedahsyatan gerakan naga itu mengakibatkan ombak laut selatan semakin besar. Hal itu membuat penghuni lautan yang berupa penyu dan kura-kura bermunculan dan terdampar di sekitar Teluk Cilacap. Oleh karena itu, teluk tersebut kemudian disebut dengan nama Teluk Penyu. Prabu Aji Pramosa keheranan melihat kejadian itu. Ia cepat mencari akal. Ia melepas anak panahnya dan tepat mengenai perut naga raksasa. Seketika itu pula matilah naga raksasa itu dan hanyut ditelan ombak laut selatan. Anak panah dilepaskan oleh Aji Pramosa dan tepat mengenai perut naga raksasa. Sesaat kemudian, muncullah seorang putri cantik dari arah timur. Putri itu berlari-lari sambil memanggil-manggil Prabu Aji Pramosa, “Prabu Aji Pramosa, ketahuilah, aku ini adalah Dewi Wasowati. Aku berada di tempat ini karena dikutuk oleh Yang Mahakuasa. Berkat jasamu aku telah kembali menjadi manusia. Sebagai balas budiku, akan aku persembahkan kepada Paduka sebuah cangkok kembang Wijayakusuma. Cangkok kembang Wijayakusuma ini tidak mungkin Paduka temukan di alam biasa. Barang siapa memiliki cangkok ini, ia akan menurunkan raja-raja yang berkuasa di


35 tanah Jawa. Sang Prabu, terimalah persembahanku ini.” Demi mendengar ucapan putri itu, gembiralah hati sang Prabu. Hatinya berdebar-debar karena riangnya. Dengan aji mantranya, Prabu Aji Pramosa mengerahkan segala kemampuan dan keku- atannya untuk mengarungi samudra yang besar gelombangnya itu. Ia ingin segera dapat menemui Dewi Wasowati untuk menerima cangkok kembang Wijayakusuma. Sewaktu menyerahkan kembang Wijayakusuma, Dewi Wasowati berpesan kepada sang Prabu, “Prabu Pramosa, engkau menjadi saksi, ketahuilah bahwa pegunungan dan karang ini terpisah dari Pulau Jawa. Karang ini akan kuberi nama nusa yang berarti pulau. Karena di pulau ini aku telah menyerahkan kembang Wijayakusuma, aku tambahkan nama itu dengan kembangan. Suatu waktu nanti kuharap pulau ini akan disebut orang dengan nama Nusa Kembangan.” Setelah cangkok kembang Wijayakusuma diserahkan kepada Prabu Aji Pramosa, seketika itu juga lenyaplah Dewi Wasowati. Prabu Aji Pramosa segera melompat ke atas karang yang terhampar di sana dan segera mengayuh dayung kembali ke pantai. Karena gugup dan kurang berhati-hati, cangkok Wijayakusuma yang digenggamnya terlepas dan hanyut ditelan ombak. Ia tidak menyadari bahwa cangkok yang digengamnya telah hilang. Ia baru menyadari setelah sampai di pantai. Ia sangat terkejut dan murung karena ia tidak ber- untung membawa cangkok Wijayakusuma. Akhirnya. dengan tangan hampa ia pulang ke Kediri. Tidak lama berselang, terbetik berita bahwa di atas karang Pulau Nusakambangan tumbuh sebatang pohon yang aneh dan ajaib. Prabu Aji Pramosa penasaran mendengar berita tersebut. Ia ingin mengetahui dari dekat kebenaran berita itu. Oleh karena itu, ia segera menuju Nusakambangan. Betapa terkejutnya beliau, ternyata pohon ajaib itu tiada lain adalah kembang Wijayakusuma yang pernah ia terima dari Dewi Wasowati. Daun pohon itu tampak berkilauan tertimpa sinar matahari serta halus bagaikan kain beludru. Selain itu, bunganya tampak gemerlapan. Prabu Aji Pramosa tertegun melihat keajaiban kembang Wija- yakusuma itu. Ia merasa menyesal karena teringat kata-kata Dewi Wasowati bahwa siapa yang mempunyai bunga Wijayakusuma ter- sebut akan menurunkan raja-raja Jawa. Namun, apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur, ia sadar bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh penguasa dunia. Akhirnya, sang Prabu pulang kembali ke istana diikuti oleh para pengikutnya. Setelah membaca cerita Nusakambangan yang merupakan cerita rakyat yang berasal dari daerah kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah jawablah pertanyaan berikut. 1. Berdasarkan cerita tersebut apa yang hendak disampaikan penulis kepada pembaca?


36 2. Buatlah sinopsis cerita rakyat Nusakambangan!


37 3. Bagaimana latar belakang tokoh memengaruhi cerita


38 4. Bagaimana hubungan pesan moral yang disampaikan dengan kondisi masyarakat pada saat ini?


39 5. Buatlah konversi (alihwahanakan) teks cerita rakyat “Nusakambangan” menjadi teks cerpen!


40 D. Latihan Soal Petunjuk! 1. Bacalah dengan cermat hikayat berikut! 2. Pahamilah isinya dengan baik 3. Buatlah kerangka cerpen 4. Kembangkanlah cerita rakyat dengan memerhatikan isi dan nilai dalam bentuk cerpen! Hikayat Indera Bangsawan Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Sitti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan. Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah.Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri. Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup. Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera


41 Bangsawan pun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari mencari. Tersebut pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada AllahSubhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya. Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai.Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang- dayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap olehsegala dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai di suatu padang yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. Adapun Raja Kabiritutakluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. “Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri.” Setelah mendengar kata-kata baginda Si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu.Maka ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala. Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa (neneknya)danmenunjukkannya kepadaraja. Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata Tuan Puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka Tuan Puteripun sembuhlah. Adapun setelah Tuan Puterisembuh, baginda tetap bersedih. Baginda harus menyerahkan tuan puteri kepada Buraksa, raksasa laki-laki apabila ingin seluruh rakyat selamat dari amarahnya. Baginda sudah kehilangan daya upaya. Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginnda berkata kepada sembilan anak raja bahwa yang mendapat jubah Buraksa akan menjadi suami Puteri. Untuk itu, nenek Raksasa mengajari Indrra Bangsawan. Indra Bangsawan diberi kuda hijau dan diajari cara mengambil jubah Buraksa yaitu dengan memasukkan ramuan daun-


42 daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Saat Buraksa datang hendak mengambil Puteri, Puteri menyuguhkan makanan, buah-buahan, dan minuman pada Buraksa. Tergoda sajian yang lezat itu tanpa pikir panjang Buraksa menghabiskan semuanya lalu meneguk habis airminumdalam gentong. Tak lama kemudian Buraksa tertidur. Indera Bangsawan segera membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa. Hatta Buraksa terbangun, Buraksa menjadi lumpuh akibat ramuan daun-daunan dalam air minumnya. Kemudian sembilan anak raja datang. Melihat Buraksa tak berdaya, mereka mengambil selimut Buraksa dan segera menghadap Raja. Mereka hendak mengatakan kepada Raja bahwaselimutBuraksasebagaijubahBuraksa. Sesampainya di istana, Indera Bangsawan segera menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa. Hata Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri. Saat itu sembilan anak raja datang. Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya (Sumber: Buku Kesusastraan Melayu Klasik Kriteria penilaian No ASPEK YANG DINILAI KRITERIA 1. Kesesuaian isi cerita dengan cerpen 25 21-25 = sangat sesuai 16 -20 = sesuai 11- 15 = agak sesuai 6 - 10 = tidak sesuai 0 - 5 = sangat tidak sesuai 2. Mempertahankan nilai-nilai yang ada 20 16 -20 = dipertahankan semua 11- 15 = sebagian besar dipertahankan 6 - 10 = sebagian kecil dipertahankan 0 - 5 = tidak diperpertahankan sama sekali 3. Penggunaan bahasa 30 21- 30 = sebagian besar mengikuti kaidah 11- 20 = sekitar setengah mengikuti kaidah 0 - 10 = sebagian kecil tidak mengikuti kaidah 4. Penggunaan alur 25 21-25 = sangat sesuai 16 -20 = sesuai 11- 15 = agak sesuai 6 - 10 = tidak sesuai 0 - 5 = sangat tidak sesuai E. Rangkuman Materi Mengembangkan ceita rakyat menjadi cerpen perlu memerhatikan: 1. memahami teks asli cerita sejarah 2. mengembangkan cerita ke dalam kerangkan cerpen 3. mengubah alur menjadi alur tunggal 4. mempertahankan nilai-nilai yang ada pada cerita rakyat 5. memerhatikan ketentuan penulisan yang sudah diatur dalam PUEBI.


43 F. Penilaian Diri Setelah kalian belajar bertahap dan berlanjut melalui kegiatan belajar 1 dan 2, berikut diberikan tabel untuk mengukur diri kalian terhadap materi yang sudah kalian pelajari. Isilah (V)pada tabel refleksi diri terhadap pemahaman materi di tabel berikut! Tabel Refleksi Diri Pemahaman Materi No Pertanyaan Ya Tidak 1. Apakah kalian telah memahami cerita rakyat? 2. Dapatkah kalian mengidentifikasi kakarter cerita? 3. Dapatkah kalian menganalisis nilai-nilai cerita rakyat? 4. Dapatkah kalian menganalisis unsur kebahasaan cerita rakyat? 5. Dapatkah kalian membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita sejarah dan cerpen? 6. Dapatkah kalian menyusun kerangka cerpen berdasarkan cerita yang ada pada cerita rakyat? 7. Dapatkah kalian menulis cerpen berdasar pada cerita yang dikembangkan dari cerita rakyat? Jika menjawab “TIDAK” pada salah satu pertanyaan di atas, maka pelajarilah kembali materi tersebut dalam modul, ulang kegiatan belajar 1 dan 2, apabilila diperlukan silakan kalian menghubungi guru atau teman sejawat untuk menyampaikan pembimbingan. Jangan putus asa untuk mengulang lagi! Dan apabila kalian menjawab “YA” pada semua pertanyaan, maka lanjutkan berikut. Dimana posisimu? Ukurlah diri kalian dalam menguasai materi CERITA RAKYAT dalam rentang 0 – 100, tuliskan ke dalam kotak yang tersedia. Setelah kalian menuliskan penguasaanmu terhadap materi CERITA RAKYAT, kemudian lanjutkan kegiatan berikut untuk mengevaluasi penguasaan materi. Setelah pembelajaran ini kalian diharapkan mengisi tautan refleksi berikut https://docs.google.com/forms/u/0/d/1dNMlVhS2CMZ1fkYoq0vkZZJy53G2mnUxcLd_YOFClyg/ edit?pli=1


44 EVALUASI Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang kalian anggap paling benar! Cermatilah kedua kutipan berikut dengan saksama untuk menjawab nomor 1-5! Kutipan hikayat (1) Kutipan cerpen (2) 1. Pernyatan berikut yang sesuai dengan penggalan hikayat dan cerpen di atas adalah…. A. Kedua kutipan di atas menggunakan konjungsi di awal kalimat. B. Kedua kutipan di atas tidak menggunakan konjungsi di awal kalimat. C. Kedua kutipan di atas menggunakan konjungsi di awal dan akhir kalimat. D. Kutipan 1, menggunakan konjungsi di awal kalimat sedangkan kutipan 2 tidak menggunakan konjungsi di awal kalimat. E. Kutipan pertama menggunakan konjungsi diakhir kalimat sedangkan kutipan 2 menggunakan konjungsi di awal dan akhir kalimat. 2. Persaman kedua penggalan di atas dilihat dari temanya adalah…. A. Pendidikan B. Petualangan C. Kekuasaan D. Pengabdian E. Keadilan 3. Persamaan kedua penggalan tersebut adalah… A. Kedua kutipan tersebut menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. B. Kedua kutipan tersebut menggunakan bahasa yang tidak lazim digunakan. C. Kedua kutipan tersebut menggunakan dialog dalam mengungkapkan ceritanya. “Memang ngapain sih Mas, ke Madura segala? Lama lagi!” “Diajak survei sama salah satu profesor dan kontraktor, untuk perencanaan bangunan besar di sana, Dik Manis! Sekalianpenelitian skripsi Mas….” Ah, soal bangunan dan penelitian skripsi. Lalu kenapa Mas Gagah bisa berubah jadi aneh garagara hal tersebut? Pikirkuwaktu itu. “Mas ketemu kiai hebat di Madura,” cerita Mas Gagah antusias. “Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat bersahaja, santri-santrinya luar biasa! Di sana Mas memakai waktu luang Mas untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih benderang!” tambahnya penuh semangat.“Nanti kapan-kapan kita kesanaya, Git. Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yangdipegangnya,ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.


45 Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba- tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang diutus kitab suci. Dia bertubuh jangkung tetapi terkesan membungkuk, barangkali karena usia. Peci melingkar di kepala. Jenggot lebat mengitari wajah. Tanpa mengenakan kacamata, membuat matanya yang hampa terlihat lebih suram, dia menawarkan pijatan dari rumah ke rumah. Kami melihat mata yang bagai selalu ingin memejam, hanya selapis putih yang terlihat. Kami pun penasaran ingin merasakan pijatannya. Maklum, tak ada tukang pijat di kampung kami, apalagi yang keliling. Biasanya kami saling pijat-memijat dengan istri di rumah masing-masing, itu pun hanya sekadarnya. Kami harus menuju ke dukun pijat di kampung sebelah bila ingin merasakan pijatan yang sungguh-sungguh atau mengurut tangan kaki kami yang terkilir. D. Kedua kutipan tersebut menceritakan manfaat dari mengaji yang dilakukannya. E. Kedua kutipan tersebut menceritakaa macam-macam ilmu yang dipelajari ketika mengaji. 4. Kedua kutipan tersebut menjelaskan kebingungan antar tokohnya. Penyebab kebingungan tersebut adalah… A. Pada kutipan pertama adalah kebingungan dalam menentukan materi pengajian sedangkan pada kutipan ke dua adalah kebingungan dalam memahami ilmu. B. Pada kutipan pertama adalah kebingungan dalam menentukan materi pengajian sedangkan pada kutipan ke dua adalah kebingungan adik terhadap perubahan sikap kakaknya. C. Pada kutipan pertama adalah kebingungan dalam menentukan pengganti tahta sedangkan pada kutipan ke dua adalah kebingungan seorang adik dalam melihat perubahan sikap kakaknya. D. Pada kutipan pertama adalah kebingungan dalam menentukan kapan mulai mengaji sedangkan pada kutipan ke dua adalah kebingungan dalam memahami ilmu. E. Pada kutipan pertama adalah kebingungan dalam menentukan materi pengajian sedangkan pada kutipan ke dua adalah kebingungan dalam melihat perubahan sikap kakaknya. 5. Nilai yang mendominasi pada kedua kutipa tersebut adalah…. A. Sosial B. Budaya C. Religi D. Pendidikan E. Estetika Cermatilah kedua kutipan berikut dengan saksama untuk menjawab nomor 6-8! Kutipan cerpen Kutipan hikayat 6. Majas yang digunakan pada kedua kutipan di atas adalah… A. Alegori B. Simile C. Antonomasia Maka Si Miskin itupun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh orang banyak, Si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya. Maka orang banyak itupun ramailah ia tertawaseraya mengambil kayu dan batu. Hikayat Si Miskin


46 D. Hiperbola E. Pleonasme 7. Pendeskripsian tokoh pada kedua kutipan di atas menunjukkan kalau tokoh tersebut adalah seseorang yang berasal dari…. A. Kaum bangsawan B. Kerabat kerajaan C. Orang kebanyakan D. Orang miskin E. Kaum terpelajar 8. Nilai yang mendominasi pada kedua kutipan tersebut adalah nilai…. A. Agama B. Sosial C. Pendiaikan D. Budaya E. Estetika Cermatilah kedua kutipan berikut dengan saksama untuk menjawab nomor 6-8! Kutipan cerpen Kutipan hikayat 9. Nilai budaya yang ada pada kedua penggalan tersebut adalah…. A. Makan bersama dan membayar upeti B. Sholat berjamah dan membayar upeti C. Menengok orang tua dan membayar upeti. D. Shalat bersama dan mengadakan sayembara E. Makan bersama dan menyembuhkan penyakit. 10. Pada kutipan hikayat dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa bahasanya adalah…. A. Menggunakan banyak majas majas B. Menggunakan kata penghubung di awal kalimat C. Menggunakan bahasa yang digunakan sehari-hari D. Menggunakan kata-kata arkais di setiap kalimat. E. Menggunakan kata penghubung di awak kalimat dan kata arkais. 11. Dalam mengembangkan cerita rakyat menjadi cerpen hal yang harus diperhatikan adalah…. Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabirsudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Hikayat Indera Sri Bagawan Jam dinding rumahku menunjukkan pukul 19.00 WIB. Setelah shalat berjamaah, kami sekeluarga pun makan malam bersama. Ada ayah, ibu dan aku. Memang benar aku adalah anak tunggal. Sebelum kami menghabiskan makan malam, ibu berkata jika ibu akan menginap di rumah nenek selama 2 hari untuk merawat nenek yang sedang sakit. Perasan seprang Ibu.


Click to View FlipBook Version