MAKHLUK ISTIMEWA
YAYUK PRIHIDAYANTI
FABEL PENDIDIKAN BERMUATAN KARAKTER
SEKAPUR SIRIH
Alhamdulillaah akhirnya tercetak juga buku
saya yang ketiga ini. Teria kasih kepada keluargaku
atas dukungannya, motivasi dan tiada jemu
mensuport hingga tercipta karya kumpulan cerpen
fabel.
Kupersembahkan buku ini buat anak-anakku,
muridku, keluargaku dan pembaca yang budiman.
Semoga karya ini memberi informasi, hiburan dan
tuntunan kepada pembaca. Kita harus selalu
bersyukur, menolong sesama dan percaya diri.
Allah selalu memberi hal istimewa pada setiap
makhluknya.
Tiada gading yang tak retak. Banyak sekali
kesalahan dalam penulisan kritik dan saran demi
kesempurnaan karya ini penulis terima. Terus
berkarya untuk anak bangsa. Semoga menambah
khasanah sumber literasi buat generasi emas
Indonesia.
Kendal, September 2020
Daftar Isi
1. Persahabatan Semut dan Kupu-kupu
2. Mimpi Ucil
3. Lajo yang Tamak
4. Persahabatan Kumbang, Lebah dan
Mawar
5. Balada Kuku dan Kamta
6. Kisah Leci dan Ila
7. Rejeki Lewa
8. Jangan Takut
9. Si Pengintai
10. Pahlawan Bu Guru
11. Serakah Bawa Bencana
Persahabatan Semut dan Kupu-kupu
Di bawah dahan pohon rambutan tinggalah sebuah
keluarga semut. Hari itu hujan turun sejak tengah hari.
Titik-titk air hujan bekejar-kejaran berlomba untuk
segera jatuh kebumi. Cimut kesal sambil memandangi
hujan yang tak juga reda. Semua basah tapi cimut
sekeluarga terlindungi karena rumah mereka dibawah
dahan pohon yang tertutup kulit pohon yang kering.
Ibu melirik wajah cimut yang monyong mulutnya
sambil tersenyum, “Cimut tidak baik memarahi hujan,
mungkin para petani berbahagia atas hujan ini. Pohon-
pohon juga bernyanyi meneguk air minum yang tak
terkira.”
“Tapi aku jadi tak bisa main bu,” saungut Cimut.
“Kamu kan bisa membaca buku bacaan, membuat tugas
yang diberikan guru dan istirahat sayang ,” jawab ibu
sambil mengelus kepala Cimut dengan sayang.
“Aku capek belajar aku ingin main Bu,” Cimut tetap tak
bisa kendalikan kesalnya.
Bunda hanya mengelus dada semua yang dikatakannya
selalu dibantah Cimut.
“Cimut ayo main catur ma Ayah,” kata ayah cimut.
Cimut hanya melirik saja diam membisu, akhirnya ayah
meneruskan membaca koran.
“Cimut ayo tidur siang lihat petir menyambar-nyambar,
hujannya akan lama,“ kata bunda sambil memeluk
Cimut yang masih mengintip hujan dari balik jendela
“Bunda tidur dulu nanti Cimut menyusul,” kata Cimut.
“Baiklah tutup pintunya sayang, agar angin tidak bawa
air hujan masuk.”
“Iya Bund.”
Satu jam kemudian Ayah Bunda Cimut sudah tidur
nyenyak sejuknya udara membuat orang-orang ingin
mengantuk dan terlelap. Cimut mengintip orang tuanya
yang terlelap kemudian mengendap-ngendap agar bisa
bermain diluar saat hujan reda.
Pelangi membias diujung langit, Cimut terpesona dan
kakinya melangkah menuju keluar pohon melihat
pelangi dari atas daun-daun yang masih basah.
Kemudian Cimut turun dari pohon sambil bernyanyi-
nyanyi riang ingin mengajak teman-temanya bermain.
Tapi semua pintu tertutup rapat mereka tidak ada yang
mau keluar rumah takutnya ada banjir meluap melihat
hujan yang demikian deras.
Tapi tidak dengan Cimut, dia tak peduli hal itu tanpa
berpamitan Cimut tetap pergi bermain mencari rumah
teman yang pintunya terbuka.
Tanpa Cimut sadari langkah kakinya menjahui rumah
sarangnya, Cimut tak menyadari. Saat akan pulang dia
bingung kemana harus menentukan arah. Hutan yang
luas ada yang belum Cimut singgahi membuatnya
tersesat.
Tiba-tiba Cimut terpeleset dan jatuh diatas daun yang
kemudian menggelincir jatuh ke selokan.
Daun itu terbawa arus selokan yang deras membawa
Cimut yang ketakutan.
“Tolong-tolong ....,” tak ada yang mendengar
teriakannya.
Sepasang mata menatapnya tajam.
Tiba-tiba sepasang kaki mencengkeram Cimut dan
membawanya terbang.
Cimut meronta-ronta ketakutan, “Jangan makan aku
tolong ampuni jangan mangsa aku aku ingin pulang
Yanda ... Bunda ... tolong aku!”
Cimut menangis menjerit-jerit.
Ternyata dia dibawa kupu-kupu menuju pohon
rumahnya. Kupu-kupu itu saat berteduh dirumah
mendengar tangis Yanda dan Bunda yang bingung harus
mencari Cimut kemana karena pergi tanpa pamit.
Kupu-kupu ditengah rinai gerimis terbang mencari
Cimut dan akhirnya melihatnya terpeleset.
Untung kupu-kupu segera menemukan coba kalau
terlambat sedikit Cimut bisa terbawa arus sungai yang
meluap.
Yanda dan Bundanya memeluk tubuhnya yang basah
kuyup, “ Nak kemana saja kamu .... kami bingung
mencarimu.”
Cimut menggigil ketakutan akhirnya sadar ternyata
kupu-kupu sangat baik. Dia telah berprasangka buruk
padanya. Kupu-kupu tersenyum dan mengelus
kepalanya, “ Besok kalau pergi pamit yanda dan Bunda
ya Cimut.”
Cimut mengangguk dan berlari memeluk Kupu-Kupu
mengucapkan terima kasih. Kemudian Kupu-kupu
berpamitan meneruskan perjalanannya karena hari
sudah terang.
Suatu hari Cimut, Yanda dan Bunda pergi mencari
makanan untuk bekal dimusim hujan yang kian ramai
oleh hujan.
Mereka melihat seorang anak membawa sebuah galah
yang ada jaringnya. Anak itu ingin menangkap Kupu-
kupu indah yang bertengger diatas bunga. Kupu-kupu
tak meyadari bahaya yang mengintainya dia malah
tertidur diatas putik bunga.
“Aw ... aw ... aduuh ....” teriak anak itu.
Kupu-kupu terperanjat dan segera terbang.
Ternyata Cimut, Yanda dan Bunda menggingit kuat-kuat
anak itu agar dia kaget dan mereka kemudian berlari
sembunyi dibawah daun kering.
Anak itu gagal menangkap kupu-kupu.
Dia mendengus kesal kemudian lari pulang takut digigit
hewan lagi yang tak dia ketahui rupanya.
Setelah anak itu pergi keluarga Cimut keluar dan
mereka tos bersama rayakan keberhasilan mereka
menyelamatkan Kupu-kupu.
Sejak itu Kupu-kupu bersahabat saling megunjungi,
kadang cimut naik ke sayap kupu-kupu diajak terbang
mengitari hutan yang luas membuat Cimut bahagia bisa
kelilingi dunia.
Mimpi Ucil
Pucuk daun yang segar melambai-lambai menarik Ulil
yang kelaparan. Ia memanjat ujung pohon dengan nafas
terengah-engah. Keringat membasahi tubuhnya yang
gemuk, matahari memanggang bulu-bulunya yang
berkilau kena cahaya matahari.
Ulil terus naik pucuk daun yang hijau, dia tertantang
mencapai makanan yang menggiurkan. Air liurnya tak
berhenti menentes membayangkan lezatnya daun muda
itu dimulutnya.
Hewan-hewan yang dilewati semut, nyamuk dan
burung-burung tertawa melihat kelucuan ulil memanjat
pohon. Kadang mereka menghina ulil sebagai hewan
yang jelek tak punya teman dan miskin. Hanya bisa
makan dari satu pohon tak bisa kemana-mana karena
kegemukan.
Ulil tak peduli dia tutup telinganya agar semua hinaan
itu tak masuk kehatinya. Dia hanya tersenyum dan terus
menuju keujuung pohon. Dan akhirnya dia mencapainya
dengan perjuangan keras dan dilecehkan teman-
temannya.
Kupu-kupu yang melihatnya tersenyum dan
menghampiri. Mengajaknya bercakap-cakap untuk
menghiburnya.
“Hai Ulil apa kabar!” sapa Kutik.
“Halo Kutik. Aku baik-baik saja bagaimana kabarmu
sehat to!” jawab Ulil
“Alhamdulillaah aku baik sehat dan gembira!” seru
Kutik sambil terbang mengitari Ulil yang makan lahap.
“Kamu kemana saja lama ndak kelihatan”
“Aku baru saja mencari madu di seberang sungai itu.
Disana banyak bunga-bunga yang sedang mekar.”
“Waah .... luar biasa sekali. Kapan ya aku bisa seperti
kamu mengelilingi dunia,” Ulil memandangi Kutik
dengan rasa iri.
“Sabar kamu akan melewati semua rasa sakit dulu
dihina, puasa dan kelak kamu akan seperti aku
mengelilingi dunia,” hibur Kutik.
“Benarkah...?”
“Ya yakinlah semua akan indah pada saatnya.”
“Baiklah ... aku akan tabah hadapi semua hinaan dan
rasa sakit ini.”
“Oke Ulil aku pergi dulu ya mencari madu kapan-kapan
kita bertemu lagi”
“Oke Kutik selamat jalan sampai jumpa”
Ulil memandangi Kutik yang terbang meninggalkannya.
Dia kembali memakan daun-daun muda yang sangat
lezat itu.
Tak ada yang mau menyapanya, apalagi mendekatinya.
Jika dia diganggu bulunya akan lepas dan membuat
gatal hewan-hewan yang menyentuhnya.
Mereka tak berani mendekati Ulil hanya
menertawakannya dari jarak jauh. Ulil sangat kesepian
hanya Kutik yang mau menghiburnya jika dia ada waktu
mengunjungi.
Ulil hanya diam dia kerjaaanya hanya makan dan makan
saja. Dia selalu ingat pesan Kutik sabar dan semua akan
indah pada saatnya.
Saat semua daun-daun muda itu habis Ulil merasa
mengantuk sekali. Tubuh gemuknya tak mampu
berjalan lagi. Dia kemudian ingin berpuasa agar tidak
gemuk lagi.
Dibawah dahan pohon ada lubang kecil Ulil
bersembunyi disitu berlindung dari panas matahari dan
hujan. Tak ada hewan yang bisa melihatnya. Dia tertidur
lelap hingga bermimpi. Tubuhnya semakin mengeras
namun dia tak mampu bergerak. Matanya terasa berat
dia menikmati tidurnya yang nyenyak.
Rasa lapar atau haus tidak menghantui Ulil. Sebulan
berlalu Ulil terbangun tapi dunianya gelap sekali. Ujung
jarinya merobek selaput yang membungkus tubuhnya.
Sakit tak terkira saat dia keluar dari selaput itu. Tak dia
pedulikan perihnya, kehidupan telah menempanya
untuk tidak menangis hadapi hidupnya.
Saat Ulil keluar tiiba-tiba ada sayap indah
dipunggungnya mengembang
“Woiiii .... aku punya sayap,” Ulil kembangkan sayapnya
“Subhannallaah ...indah sekali sayap ini alhamdulillaah.”
Seru Ulil
Ulil kemudian bersujud syukur dan bahagia. Dia tak
mengira dirnya akan berubah jadi kupu-kupu yang
indah.
Kemudian Ulil terbang mengitari pohon yang dia
tinggali. Hewan-hewan tidak ada yang mengenalinya
dan heran dengannya.
“Hai Sera ... apa kabar,” sapa Ulil ke semut merah yang
bernama Sera.
“Siapa kamu tahu namaku,” sahut ketus Sera.
“Aku Ulil ...”
“Ah masa ..” mata Sera menatap iri Ulil yang menawan.
“Ia ini aku, “ mana teman-temanmu.
“Aku tersesat ...”
Ooo baklah ayo aku antar kerumahmu
“ba ..baiklah...,” jawab Sera malu. Ulil yang dia hina dulu
kini menjadi penolongnya.
Ulil menggendong Sera berkumpul dengan keluarganya
yang menantinya. Mereka berterima kasih pada Ulil dan
berjanji tidak akan menghina hewna-hewan yang buruk
rupa.
Hewan-hewan di pohon itu hidup rukun, mereka saling
tolong menolong dalam kebaikan.
Lajo yang Tamak
Pada suatu hari disebuah gundukan sampah yang kotor
dan berbau sekelompok lalat berputar-putar mengkais
makanan. Ada seekor lalat yang bernama Lajo diam
menekuri makananannya sendiri.
Lajo sangat sombong dia tak mau menyapa temannya
tau berbagi makanan. Lajo sering menghinan teman-
temannya yang miskin dan menguasai daerah yang
penuh sampah untuk dirinya sendiri.
“Hai siapa kamu... pergi ini wilayahku,” usir Lajo ke
temannya yang kelaparan
Lajo hidup mewah dengan menguasai daerah makanan
busuk itu. Dia tidak punya teman, hanya teman yang
kaya raya saja yang mau dia sapa.
Beda dengan Leti si lebah yang baik hati. Leti sangat ramah
dan suka berbagi dengan makhluk lain. Bunga-bunga
bahagia sekali jika Leti bertengger diputiknya. Leti
membantu bunga-bunga melakukan penyerbukan dengan
menaburkan benang sari ke putik bunga. Sebagai rasa
terima kasih Leti mendapat madu dari bunga yang dia
simpan di sarangnya. Saat ada yang membutuhkan Leti
berbagi merelakan madunya di bagi dengan teman-
temannya.
Suatu hari Lajo sedang berjalan-jalan di depan rumah Leti.
Dia mengintip sarang Leti dari balik pintu rumah Leti. Dia
kaget dan terkesima melihat tabungan madu Leti yang
banyak sekali.
Madu itu berlapis-lapis dan terlihat segar sekali. Lajo ingin
meminta tapi malu karena selama ini dia tak pernah berbagi
dengan temannya.
Leti yang pulang dari kerjanya melihat Lajo yang
termenung.
“Hai Lajo sedang apa kamu,” sapa Leti
“Aku baru saja jalan-jalan dan lewat depan rumahmu,”
jawab Lajo.
“Ayo masuk rumahku nanti aku kasih madu.”
“Ah aku mau ada acara agak tergesa-gesa, selamat tinggal
Leti.”
Lajo tidak berani sombong terhadap Leti yang dia pikir kaya
raya rumahnya penuh dengan madu. Timbul hasrat jahat
ingin menguasai madu Leti tapi tidak tahu bagaimana
caranya. Menikahi Leti tidak mungkin mereka hewan yang
berbeda.
“Ah bersahabat dengan Leti saja, pasti aku nanti dikasih.”
niat Lajo.
Tetapi setiap bertemu Leti Lajo malah bersikap sombong
menghina Leti.
“Hai Leti kamu tuh kok kerja terus tidak lelah apa? Aku nih
tanpa kerja makananku dah bannyak.”
Leti hanya tersenyum tak menjawab hinaan Lajo.
“Aku suka bekerja biar tubuhku sehat dan bisa berbagi.”
“Berbagi apa ... pikirkan perutmu sendiri emang mereka
mau memikirkan kamu.”
Leti tidak memperdulikan hinaan Lajo dia setiap hari terus
bekerja membantu penyerbukan bunga-bunga dan pulang
membawa madu.
Suatu hari Lajo terkapar dibawah rumah Leti. Tak ada
hewan yang mau membantunya karena selama ini Lajo suka
menghina teman-temannya. Wajahnya membiru, sayapnya
lemas tak mampu tegak. Lajo sudah tidak mampu terbang
lagi.
Leti yang kembali kesarangnya heran melihat Lajo terkapar
dibawah pohon.
“ Lajo ada apa wajahmu membiru,” tanya Leti.
“Ndak tahu aku tadi makan sesuatu yang aneh tiba-tiba aku
lemas seperti ini”
“Tunggu sebentar aku ambilkan madu.”
Leti membawa sekantung madu dan dia minumkan ke bibir
Lajo yang kering dan biru.
“Terima kasih Leti ... “ malu sekali Lajo. Leti yang dia hina
tiap hari yang menolong dia disaat sekarat.
Leti membuat kasur dari rumput ilalalng yang kering diatas
pohon yang berlubang. Lajo dia angkat sayapnya bersama
teman-temannya dibawa ketempat persembunyianya yang
aman dan hangat.
Tiap hari Leti merawat Lajo dan memberi madu hingga Lajo
sembuh dan segar. Lajo sangat berterima kasih dan terharu
dengan sikap Leti.
Sejak itu Lajo berubah baik tidak sombong dan menghina
teman-temannya. Dia mau berbagi makanan dengan teman-
temannya dan semakin banyak teman yang mau bermain
dengannya.
Dari cerita itu kita diharapkan tidak sombong, tidak
menghina orang lain, saling berbagi dan tolong menolong
agar hidup jadi damai.
Tantangan hari ke 1 4052020
Persahabatan Kumbang, Lebah dan Mawar
Matahari mengintip di balik cakrawala, ucapkan selamat
pagi buat semesta alam. Burung-burung berkicau
menyambut sang mentari yang bangunkan tidurnya.
Bunga mawar bernyanyi dan menari-nari hembuskan bau
wangi. Semerbak segar menambah keindahan di taman.
Seekor lebah terbang cepat dan jatuh dikelopak Mawar.
Wajahnya pucat ketakutan. Keringat membanjiri tubuhnya
yang mungil.
"Ada apa Lebah kenapa kau ketakutan?"
"Aku dikejar Kumbang."
"Kenapa apa yang kau lakukan?"
"Aku tadi bernyanyi mengganggu tidurnya," sahut Lebah
tersipu malu.
"Ooo .... Begituuu .... hi ...hi...hi...," kedua makhluk itu tertawa
sendiri.
"Tolong aku mawar harus bagaimana," tanya Lebah
bingung.
"Dah istirahat dulu di dalam kelopakku nantj tak nasehati Si
Kumbang."
Lebah kemudian masuk kedalam kelopak Mawar agar tak
terlihat di luar. Dia langsung tertidur lelap karena kelelahan.
"Hai Lebah lari kemana kau," tak berapa la Kumbang datang.
Wajahnya merah membuat semakin hitam saja tubuhnya.
"Selamat pagi Kumbang yang ganteng," sapa Mawar.
"Pagi ..."
"Jutek amat kamu pagi-pagi. Lum makan po."
"Iya ... Eh ndak ni aku kesal."
"Kesal ma siapa," Mawar pura-pura tidak tahu.
"itu si Lebah ganggu tidurku saja!"
"Haloooo .... Jam berapa ni masih molor."
"A...aku tadi bergadang jadi pengen tidur aja."
"Makanya saat malam segera tidur ndak baik bergadang."
"Jika marah ambil nafas dan istighfar."
"Astaghfirullaahaladzijm....'"
"Nah gitu dong."
"Kau dan Lebah sahabat baikku tidak baik berselisih."
"Aku ingin pukul lebah jengkelkan orang."
"Apa jika kau pukul lebah kau jadi perkasa. Dia bukan
lawanmu, lebah lebih kecil dan tak berdaya. Jika ingin
kelihatan hebat bantu dan tolong makhluk lain."
"Iya ya...."
"Dah damai saja bantu aku penyerbukan aja, pasti tambah
kece kalian."
"Lebah keluarlah minta maaf ke Kumbang."
Lebah keluar menundukkan kepalanya. Airmatanya
mengalir deras karena menyesal dan ketakutan.
"Kumbang maafkan aku ganggu tidurmu."
"Iya Lebah ndak papa aku juga emosi tadi."
Ketiga makhluk hidup itu berpelukan mereka bahagia
punya sahabat yang baik saling menasehati dan tolong
menolong.
Tantangan hari ke 2
05052.20
Balada Kuku dan Kamta
Langit semakin gelap seakan menahan amarah. Suara
gemuruh memenuhi angkasa. Kilat petir memecah kesepian
alam. Tidak berapa lama titik-titik air hujan berkejar-
kejaran untuk bisa sampai ke bumi. Seakan ait ketakutan
dan ingin bersembunyi dalam perut bumi.
Disebuah kandang yang hangat tinggal seekor induk
kambing hitam yang sedang hamil. Walau hitam dia
makhluk yang baik. Sayang manusia menyebut kambing
hitam sebagai ungkapan tidak baik pada orang yang
disalahkan atas suatu kejadian.
Kamta memandangi hujan sambil berdoa,"Allahumma
shoyyiban naafian. Ya Allah semoga hujan ini membawa
berkah."
"Meong ....meong ...hatsi ...," seekor anak kucing berbulh
kuning basah kuyub dipinggir kandang.
"Masya allah ... Nak sini berteduh di kandangku nanti kamu
sakit!"
"Terima kasih bu ...," Kuku yang basah kuyup menggigil
kedinginan.
Kamta meminta Kuku ke sudut kandangnya yang hangat.
Pak Karto sering membuat diang perapian untuk mengusir
nyamuk mendekati Kamta.
"Kamu dari mana kok hujan-hujanan."
"Aku dibuang manusia bund gara-gara berak dan kencing
sembarangan. Mereka tidak betah dengan bauku. Aku
dibuang ke tepi sawah agar bisa cari tikus."
"Hmmm kamu harus belajar simpan pembuanganmu agar
tidak bau."
"Tinggalah di sini tapi makananmu serangga yang ada
disekitar. Baunya juga gini kau tahu sendiri."
"Tidak apa-apa bund aku senang da tempat berteduh."
Kuku tinggal di kandang Kamta. Setiap hari dia makan
serangga yang hinggap di daun-daun makanan Kamta. Pak
Karto yang tau ada kucing di kandang kadang bawakan
makanan sisa dari dapur. Ia sebenarnya tertarik bawa
pulang Kuku namun istrinya sakit asma tidak boleh dekat
dengan kucing.
Kamta sedang hamil besar, setiap hari sebelum tidur Kamta
mendongengkan Kuku cerita-cerita lucu. Kamta senang
sekali mendapatkan ibunya lagi. Dia tidak tahu kemana
mencari ibunya. Kuku diminta oleh orang dipisahkan dari
induknya.
Suatu hari Kamta meringis kesakitan. Rupanya Kamta mau
melahirkan Kuku bingung tidak tau harus bagaimana.
Kuku berlari mencari Pak Karto yang rumahnya tak jauh
dari kandang. Sampai di rumah dia mengeong dengan keras
memanggil Pak Karto.
Pak Karto yang tertidur terkejut mendengar suar Kuku. Dia
keluar membawa batere dan sabit.
"Ada apa Kuku ...."
"Ngeong ...ngeong ...ngeong," Kuku berputar-putar di kali
Pak Karto.
Kemudian digigit dan diseretnya celana Pak Karto agar
menuju ke kandang. Pak Karto ingat Kamta sedang hamil
besar saatnya melahirkan.
Segera Pak Karto ke kandang dan membantu Kamta
melahirkan anaknya. Setelah anak kambing keluar
dipotonglah tali pusarnya
"Berikan minum air susumu ya," kata Pak Karto bernafas
lega. Anak kambing lahir selamat diberinya nama Kamni.
"Terima kasih Kuku."
"Terima kasih nak kau telah menolong ibu."
"Ah bunda ini belum seberapa. Bunda dan Pak Karto banyak
menolong aku."
Sejak itu Kuku dan Kamni bersahabat. Mereka bermain-
main diluar berlari-lari menikmati indahnya alam. Kamta,
Kuku dan Kamni hidup rukun dan mereka bahagia dapat
hidup bersama dalam satu kandang.
#Tantangan hari ke 3
Kendal, 6052020
Kisah Leci dan Ila
Alkisah disebuah danau yang indah dan jernih airnya
sekelompok ikan berenang dengan gembira. Banyak
makanan yang dapat mereka makan karena kadang
manusia sering menyebarkan palet untuk membuat mereka
semakin gemuk.
Ila si ikan nila merah menyanyi dengan merdu teman-
temanya terkesima mendengar lagu Ila yang dilantunkan.
Mereka melihat pertunjukan Ila sambil menari-nari.
“Huh ... gitu aja apa bagusnya,” umpat Gari ikan gurameh.
Dia bersembunyi dibalik enceng gondok yang menutupi
wajahnya.
“Merdu sekali suara Ila, dan wajahnya cantik banget ...” seru
Leci ikan lele.
Leli menyadari wajahnya jelek dan hitam kulitnya
dibanding Ila yang cantik tubuhnya bersinar. Semua ikan
mengagumi kecantikan dan suaranya.
“Hai Leci kenapa diam sendiri dipojokan ayo main ke
rumahku,” kata Ila.
“Terima kasih Ila kamu baik banget. Ayo kita main petak
umpet,” saut Leci.
“Ayo ...,” Ila semangat sekali bermain petak umpet.
Saat Ila bersembunyi Leci selalu dapat menemukan namun
saat Leci sembunyi Ila tidak dapat menemukan.
Gura yang melihatnya geregetan sekali dan ingin ikut.
“Hai temen-temen aku ikut petak umpet ya,” kata Gura.
“Boleh ya Leci ...,” kata Ila sambil melirik Leci yang diam
saja.
“Baiklah tapi tidak boleh curang ya kamu Gura,” jawab Leci.
“Oke ... jangan khawatir,” sahut Gura walau dalam hatinya
dia tertawa, “suka-suka aku gitu aja repot.”
Saat itu Ila yang menjadi orang pencari menutupi wajahnya
sampai hitungan 10. Teman-temanya mencari tempat
sembunyi. Mereka akan menyentuh Hong tanpa diketahui
Ila jika ingin menang dalam permainan.
Gura dan Leli bersembunyi Ila mencarinya, dan dengan
mudah bisa mencari Gura namun tidak bisa menemukan
Leci.
Gura marah sekali dia harus jadi pencari kemudian Ila dan
Leci bersembunyi. Leci selalu tidak bisa ditemukan oleh
teman-temannya. Walau mereka semakin banyak pemain
dan berusaha mencarinya.
Mengapa karena Leci pintar bersembunyi didalam lumpur,
Leci mempunyai alat pernapasan labirin yang membuatnya
bisa bersembunyi di lumpur.
Teman-teman Ila dan Gura semakin banyak yang ikut
bermain petak umpet mereka tertawa bersama menikmati
sinar matahari yang menyehatkan tubuh mereka.
Matahari akhir-akhir ini bersinar terik sekali. Air kolam
yang jernih semakin berkurang airnya. Sumber mata air
seperti kelelahan mengeluarkan air terus. Manusia juga
banyak yang datang ke kolam mengambil air untuk
kebutuhan hidupnya. Bahkan mobil-mobil tangki kadang
datang mengeruk air kolam itu.
Leci termenung menyaksikan air yang debitnya semakin
lambat memenuhi kolam.
“Leci ada apa kenapa kau melamun,” tanya Ila.
“Ndak papa aku sedih air kolam kita semakin berkurang
manusia mengambil terus tiap hari,” jawab Leci.
“Iya ... ya. La kita harus bagaimana, lini dah suratan alam,”
Ila menjawab dengan sedih.
Ila sedang mengandung membawa telur yang banyak
diperutnya. Dia juga bingung bagaimana supaya telurnya
menetas.
“Leci kau sedang apa membuat gua di pojok kolam.”
“Aku sedang membuat tempat persembunyian jika kolam
nanti kering.”
“O ... kalau kering duh gimana nanti telurku menetas ya,”
sahut Ila.
“Leci nanti aku titip telur-telurku ya di tempat
persembunyianmu jika air menyusut. Biarkan mereka nanti
menetas saat musim hujan.”
“Baik Ila jangan khawatir aku akan simpan telurmu,” jawab
Leci.
“Semoga teman-temanku tidak tahu mereka bisa
memakannya.”
Leci bersama saudaranya membuat gua di dinding dalam
kolam sebagai tempat persembunyiannya. Jika musim
kemarau panjang tidak segera berakhir maka anak cucunya
akan kehilangan tempat tinggal dan menjadi santapan
manusia.
Dan musim kemarau panjang pun tiba. Seorang anak sedang
membawa jaring penangkap ikan ke kolam. Dia dapat
menangkap Gura dan Ila kemudian dia bawa pulang kedua
ikan itu.
Sampai di rumah Gura dimasak ibunya, namun saat melihat
Ila tidak jadi dimasak. Ila dimasukkan ke kolam kecil depan
rumahnya yang disitu banyak ikan-ikan cantik ahsil
penangkapan ikan anak itu.
Leci bersembunyi di gua bersama saudara-saudaranya
tanpa diketahui manusia. Mereka bisa bertahan di lumpur
walau airnya sedikit. Leci menyembunyikan telur Ila supaya
tidak diketahui teman-temanya. Karena jika mereka tahu
telur itu akan dimakannya.
Saat musim hujan tiba danau sudah mulai penuh airnya.
Leci dan teman-temanya keluar dari gua persembunyian
mereka. Tiba-tiba segerombolan bayi ikan nila kecil keluar
dari persembunyian Leci. Teman-teman Leci hanya bisa
menatap heran mengapa mereka tidak tahu tempat
persembunyian mereka.
“Hai Leci jumpa lagi kita,” seru Ila mengejutkan Leci.
“Halo Ila bagaimana kabarmu kau masih tetap hidup dan
gemuk,” jawab Leci gembira sekali bertemu Ila.
“Aku punya kejutan untukmu,” kata Leci, “hai anak-anak
keluarlah lihat bundamu datang menjengukmu.”
Tiba-tiba segerombol ikan nila kecil keluar dari goa
persembunyian Leci. Mereka menatap Ila dengan penuh
kerinduan.
“Bunda ...,” ikan-ikan kecil itu menangis terharu. Mereka
tidak menyangka akan bertemu bundanya yang sudah
ditangkap manusia.
“Alhamdulillaah anak-anakku bunda masih bisa
menyaksikan kalian tumbuh.”
“Terima kasih Leci semoga Allah yang akan membalas
kebaikanmu.”
Mereka berpelukan dan tinggal bersama memenuhi danau
itu dengan anak-anak mereka yang kian banyak.
#Tantangan Hari ke 4
Kendal 7052020
Rejeki Lewa
Pada suatu hari di sebuah gua yang gelap dan pengap
bersembunyi segerombol kelelawar. Mereka menempati
ruang yang gelap dan tak terjamah mahkluk lain. Mereka
ingin tidur nyenyak disiang hari tanpa terganggu suara
bising hewan lain.
Musim buah-buhan sedang membanjiri hutan. Hewan-
hewan sedang berpesta pora. Keru sedang menikmati
setandan buah pisang di atas pohon dengan teman-
temannya.
Mereka berebutan takut tidak kebagian padahal pisang itu
belum matang.
“Hai aku kok ndak dikasih,” keluh Kera yang baru bangun
tidur.
“Kamu jam segini baru bangun, temanmu dah cari makan
kamu ndak kebagian.”
“Masak habis semua buah dihutan ini kan lagi musim.”
“Memang kamu mau makan buah mentah.”
“Iya sih ... baiklah aku tak puasa nuunggu buah ini matang.”
Keru yang tidak tega melihat Kera lapar akhirnya memberi
Kera pisangnya.
“Besok jangan bangun siang ya, nanti kuajak jalan-jalan
hutan di sebelah lagi musim rambutan.”
“Mata Kera bersinar liurnya menetes bayangkan rambutan
yang merah merona. Manis di mulut dan segar sekali.”
“Oke aku besok tak bangun pagi-pagi.”
Saat malam tiba sepasang mata bercahaya menyinari
gelapnya malam. Bagai sinar x mata itu bisa menatap
sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Kemudian
Lewa mengeluarkan gelombang untuk memantau buah
matang jaraknya berapa dari rumahnya.
Buah-buah yang ranum manis dan matang itu
mengeluarkan sinar ultraviolet.
Lewa menangkap sinar itu dalam kegelapan dan
menghampiri buah yang sedang harum dan enak-enak itu.
Lewa selalu mendapat buah yang berkualitas bagus
dibandiing Kera.
Pagi harinya Kera terkejut buah pisang yang kemarin dia
tunggu-tunggu matang sudah habis dimakan kelelawar.
Kera geram sekali dia ingin mengintip siapa yang
mengambil buah pisang kesayangannya. Kera bersembunyi
dipohon lebat agar tak terlihat. Sampai sore hari tidak
satupun hewan mendekati pisangnya yang ranum Kera pun
pe tertidur karena malam menjelang.
Keesokan hari pisang itu juga habis dimakan sekelompok
kelelawar kera tak habis pikir siapa yang mengambilnya.
Kemudian dia akan bergadang malam nanti untuk
menghadang pencuri pisangnya.
Siang ini Kera makan pisang sisa yang ada kemudian dia
tertidur agar malam bisa bergadang.
Saat malam tiba Kera bersembunyi dan pura-pura tertidur
dilihatnya Lewa sedang mendekati pisangnya. Kera terkejut
ternyata Lewa bisa melihat walau malam dan gelap padahal
Kera tidak bisa melihat.
“Hai siapa kamu kenapa kau habiskan pisangku,” tanya
Kera.
“Ooo ini pisangmu to, ini kan hutan siapapun bisa ambil,”
sahut Lewa sambil makan pisang matang itu.
“Yah ndak bisa ini wilayahku,” kata Kera.
“He... bangun kamu! Allah menciptakan hutan untuk semua
makhluk. Jika kau ingin milikmu ya simpan di gudang
makananmu.”
“Betul juga katamu,” sahut Kera malu.
Pagi harinya Kera memetik setandan pisang dan dibawa ke
rumahnya untuk diperam agar matang. Dia tak mau makan
buah mentah sisa makan Lewa.
Lewapun tak peduli dia mencari buah-buah lain yang
matang dan segar. Kemampuan ekolokasinya membuat
Lewa selalu dapatkan buah yang segar dan lezat.
#Tantangan Hari Ke 5
Kendal, 8052020
Jangan Takut
Pada suatu hari disudut atap rumah tinggal sekeluarga
cicak. Ibu Cicak baru saja melahirkan anaknya yang diberi
nama Ciki. Mereka hidup bahagia karena bisa memakan
nyamuk yang banyak sekali di rumah itu. Pemilik rumah
ternyata malas membersihkan rumahnya.
Kamar Tono penuh dengan pakaian yang digantungkan.
Nyamuk-nyamuk suka bersembunyi di pakaian yang
tergantung itu. Ciki dan teman-temannya suka bermain
disitu nyamuk-nyamuk sedang tertidur saat Ciki dan teman-
temanya berburu mereka.
Suatu hari Ciki tersesat di kebun saat bermain dengan
teman-temanya. Dia bermain petak umpet tapi tempat
persembunyiannya sangatlah jauh.
“Aduh aku harus gimana nih ndak tau jalan pulang ....,” keluh
Ciki kebingungan.
Sepasang mata bercahaya menatapnya garang.
Seekor anak kucing tertarik ada hewan bergerak-gerak.
Cingni mengendap-endap hendak menangkap Ciki.
“Hai kucing imut kamu mau apa,” tanya Ciki sambil
menahan takut.
“Tentu menangkapmu sepertiya kau enak di makan,” goda
Cingni. Sebenarnya Cingni masih kenyang karena baru saja
menyusu induknya.
“Aku kan kecil tidak bisa mengenyangkanmu. Lepaskan aku
ya,” sahut Ciki.
“Enak saja aku akan menangkapmu dan kuhadiahkan pada
mamakku.”
Ciki ketakutan dia berlari kesana-sini menghindari
terkaman Cingni. Cingni sangat gembira mepunyai teman
bermain. Dia mencoba keahliannya menangkap Ciki.
Akhirnya Cingni bisa menangkap ekor Ciki dan digigitnya
ekor itu.
“Adow .... sakit ...,” tiba-tiba ekor Ciki terputus. Ciki dapat
menyelamatkan diri naik kedinding rumah dan lari terbirit-
birit tak tentu arah.
“Kemana cicak itu ... yah Cuma ekornya ndak bisa dibuat
mainan Cicak itu.”
Ibunya menghampiri Cingni yang kesal masih menggigit
ekor Ciki.
“Ada apa nak apa itu dimulutmu,” sapa Mamak Cingni.
“Ekor cicak Mak.”
“Buang ke kolam saja ikan lele tuan kita senang makan itu.”
“Iya mak,” sahut Cingni.
Ciki yang terbirit-birit tiba-tiba menubruk sesuatu.
“Ah ... jangan ...jangan makan aku.” Seru Ciki.
“Ada apa Ciki sayang,” suara berat sapa Ciki.
Perlahan-lahan Ciki membuka kelopak matanya ternyata itu
ayahnya yang sedang bingung mencari Ciki.
“Ayah .... Ciki takut ... hwa ....hwa ....hwa...,” Ciki menangis
histeris.
“Kenapa kan ada ayah disini sayang, Yanda memeluk Ciki
dengan penuh kasih. Diciumnya Ciki yang berderai airmata.
‘Ekor ...ekor ...ekorku putus ....” isak Ciki ketakutan.
Yanda tersenyum menatap Ciki dengan penuh kasih. “Ciki
sayang anak Ayah yang cakep cup jangan menangis,” hibur
Yanda.
“Kau ndak usah khawatir. Ekormu nanti akan tumbuh 1
minggu lagi. Kau mempunyai kemampuan autotomi yaitu
memutus ekor saat dalam bahaya. Ayo pulang Bunda
menunggumu.”
“Benarkah Yanda ...” hati Ciki lega sekali.
Yanda mengangguk kemudian digendongnya Ciki di pundak
Yanda agar segera sampai rumah.
Ciki seminggu di rumah saja karena malu ekornya putus.
Setelah seminggu ekornya tumbuh lagi Ciki sangat gembira.
Dia berjanji untuk hati-hati tidak bermain yang jauh-jauh
lepas dari pengawasan orang tuanya mengingat Ciki masih
kecil dan tubuhnya masih lemah.
#Tantangan Hari ke 6
Si Pengintai
Suatu hari hewan-hewan di hutan sedang gembira berpesta
pora. Mereka hidup rukun saling tolong menolong. Raja
Hutan Harimau memimpin hutan dengan arif dan bijaksana.
Siapa yang salah dihukum dan yang memberi manfaat
makhluk lain diberi hadiah.
“Ayo ke hutan aku tadi melihat banyak hewan,” kata
pemburu 1.
“Bentar tak siapin senjatanya aku baru saja membeli
peluru,” sahut pemburu 2.
Mereka gembira membayangkan akan memakan daging
hewan hutan yang lezat dibakar.
Bunglon yang mendengar disamping para pemburu itu
kaget. Dia segera masuk hutan hendak melapor ke Raja
Hutan.
Diliatnya hewan-hewan berkumpul berpesta pora dia
berteriak, “Lari-lari akan ada pemburu!”
Namun hewan-hewan itu tidak memperdulikannya.
“Dor ....dor...,” suara senapan angin menggema memecah
hutan yang sedang bergembira.
“Tolong ...tolong ...,” semua hewan berlari mencari tempat
persembunyian.
Harimau hanya menyaksikan dari atas pohon melihat
rakyatnya yang ketakutan.
“Segera sembunyi cepat aummmm.”
“Anakku ....anakku ayo cepat sembunyi nak,” Rusa menyeret
anaknya. Dia paling takut dengan manusia yang mengincar
dirinya.
Pemburu-pemburu itu gagal padahal mereka melihat
banyak sekali hewan-hewan itu. Kemudian mereka
membuat kemah dipinggir hutan untuk persiapan esok
berburu lagi.
Harimau yang melihat tak berdaya karena para pemburu itu
membawa senjata api yang bisa menembak siapa saja yang
melawannya.
“Salam Raja yang baik.”
“Eh kau Bunglon mengagetkanku saja kau tak terlihat
lewat.”
“Saya disamping paduka sejak tadi.”
“Oh iya ya kamu punya kemampuan menyamar mimikri ya.”
“Betul paduka walau saya kecil Tuhan menganugerahi saya
mimikri bisa menyerupai warna tempat yang saya tapak.”
“Aku ada akal.”
“Apa paduka ...?”
“Kamu jadi pengintai pemburu itu kapan mereka akan
masuk hutan biar aku beritahu hewan-hewan lain agar
sembunyi.”
“Baik paduka hanya titah paduka yang mereka dengar.”
Bunglon mendekati kemah pemburu itu, mereka sedang
membuat mie dan kopi. Bunglon naik ke atas rumah kemah
dan para pemburu tidak menyadari. Kemampuan
mimikrinya memang pantas menjadikannya pengintai.
Mereka berencana ke hutan lagi esok hendak menangkap
rusa. Hanya hewan itu yang enak dimakan, dan Pemburu 1
tahu dimana sarang rusa.
“Paduka ...paduka gawat,” terengah-engah Bunglon
melaporkan ke Harimau.
“Ada apa bunglon?”
“Mereka akan menangkap Rusa bagaimana ini.”
“Hmmmm aku akan mencari akal.”
Mereka kemudian pergi ke sarang Rusa dan menceritakan
rencana Pemburu. Gerombolan Rusa itu pucat pasi, Harimau
menyuruh para Rusa pergi ke hutan seberang malam itu
juga. Rusa-rusa itupun mengikuti titah Raja mereka. Walau
Harimau suka makan daging, paduka hanya makan Rusa
yang sudah mati. Mereka tidak akan kawatir dimakan
Harimau raja mereka.
Sarang mereka kemudian dipenuhi ular-ular berbisa agar
pemburu itu ketakutan.
Esok harinya pemburu itu bangun dan menyiapkan senjata
apinya dipenuhi amunisi. Mereka mulai menyiapkan
peralatan dan memasuki sarang Rusa.
Sampai disana mereka terkejut dilihatnya banyak sekali
ular-ular berbisa sedang memenuhi sarang itu. Mereka
berlari ketakutan keluar dari hutan karena takut dipatuk
ular.
Hutanpun kembali damai dan Raja Hutan menjadikan
Bunglon sebagai teliksandi pengintai keamanan hutan.
Hewan-hewan kemudian menghormati Bunglon demi
melaksanakan titah sang Raja Hutan.
#Tantangan Hari ke 7
Kendal, 10052020
Pahlawan Bu Guru
Guti adalah gurita putih yang malas. Setiap hari kerjaannya
tidur apalagi ditengah covid-19 ini dia semakin tenggealam
pada kemalasannya.
Beda dengan Udi si udang hitam yang sangat rajin. Setiap
hari dia mengerjakan tugas yang diberikan gurunya.
“Hai Guti ayo belajar bersama,” ajak Udi.
“Ah males aku mau tidur aja. Mending main game online aja
dari pada belajar. Toh kita ndak diijinkan ke sekolah,” sahut
Guti.
“Ya udah aku belajar sendiri aja,” kesal banget Udi dengan
Guti yang malas.
“Jangan marah ya Udi, sabar nanti jika Guti kepepet akan
cari kamu buat belajar,” kata Induknya Guti.
“Iya Bund semoga Guti cepat sadar ya.”
Udi rumahnya hanya yang paling dekat dengan Guti lainya
jauh-jauh di belajar mengandalkan android saat ayahnya
sudah pulang. Dirumah Udi hanya rajin membaca buku-
buku dari sekolah dan yang dibelikan ayahnya.
Sedangkan Kepi si kepiting dan Bintan si bintang laut
kerjasama saat mengerjakan tugas dari Bu Guru. Saat
upload tugas mereka menyetorkan ada yang cepat ada yang
lambat Hanya Guti yang tidak setor.
Bu Guru mencari tahu, Ibunya bilang Guti malas belajar
kerjaaanya tidur dan main saja.
Kemudian Bu Guru Video Call dilihatnya Guti masih tidur.
“Guti .... Guti ayo bangun,” kata Bu Guru.
Guti diam saja masih hanyut dalam mimpinya. Semalam dia
bergadang menonton TV sampai malam hari. Siang tidak
mampu membuka matanya.
Saat Guti bangun ibu berkata,”Tadi Bu Guru video call Guti.
Kamu tidur saja dipanaggil.”
“Ah masak bener Bund Bu Guru VC.”
“Benarlah masak ibu bohong lihat tuh di HP da historinya.”
Guti kaget masak Ibu Gurunya VC dia sebenarnya malu. Guti
takut dia tak mengerjakan tugas yang harus disetor.
Kemarin dia diajak Udi belajar bersama tidak mau. Saat ini
sedang musim covid-19 jadi harus belajar di rumah dan
menyetorkan tugas via online.
Kemudian Guti mengendap-ngendakp ke sarang bu Guru.
Dilihatnya sekelompok ikan akan memakan Bu Guru. Guti
kemudian mengeluarkan tinta untuk melindungi Bu Guru.
Bu Guru pun pingsan terkena tinta Guti.
Ikan-ikan itu keracunan air menjadi gelap kena tinta.
Guti menggendong bu Guru yang pingsan ke kandangnya
ibunya mengobati bu guru.
“Dimana aku ini,” kata Bu Guru setelah sadar.
“Ibu dikandang Guti Bu, tadi Guti ke rumah Ibu ada ikan-
ikan besar mau menangkap Ibu. Untung Guti datang tepat
waktu. Tapi maaf Ibu keracunan tinta Guti.”
“Guti yang mengintip di balik pintu tidak berani mendekati
Bu Guru. Dia malu dan takut karena tidak setor tugas ke Bu
Guru.
“Sini Guti kenapa kamu takut sayang. Ibu Guru ingin
berterima kasih padamu,” kata Bu Guru.
“Maaf Bu saya belum buat tugas.”
“Tidak apa-apa sayang masih ada waktu besok belajar lagi.
Jika ada kesulitan Ibu bantu bimbing.”
“Terima kasih Nak kamu hebat berani melawan Ikan-ikan
besar itu. Kau anak yang baik suka menolong.”
Hati Guti bangga ternyata dia masih bisa berguna dan bisa
menjadi pahlawan bagi Bu Gurunya.
“Baik Bu Guru saya tak main ke rumah Udi belajar
dengannya. Permisi ya BU.”
Guti segera pergi ke rumah Udi. Dia menceritakan
perjuangannya menolong Bu Guru ke Udi. Udi kagum
dengan keberanan Guti yang tidak takut melawan ikan-ikan
nakal itu.
Mereka kemudian belajar bersama. Sejak itu Guti jadi anak
yang rajin dan suka menolong teman-temannya yang
terkena musibah.
#Tantangan Hari ke 8
Kendal, 11052020
Serakah Bawa Bencana
Hujan deras mengguyur bumi di sore hari. Semua makhluk
berteduh dari basah. Tapi tidak buat Ucil semut mungil yang
usil. Dia malah hujan-hujanan menikmati tetesan air dengan
gembira. Ayah bundanya sudah ingatkan tapi Ucil tidak
peduli.
“Ucil cepat berteduh nak, nanti sakit lo, seru Bunda.
“Mumpung hujan Bund bentar aja kok, kata Ucil.
Akhirnya ucil dibiarkan hujan-hujanan sambil diawasi dari
jauh oleh Bundanya. Sesekali Bundanya berteriak kaget saat
Ucil jatuh terpeleset, namun Ucil malah tertawa-tawa.
Setelah puas hujan-hujanan Ucil kelaparan. Dia mengintip
dapur mencari gula di toples yang sering lupa di tutup Bu
Ani. Dapur terlihat sepi Bu Ani masih sibuk melihat sinetron
di televisi. Ucil mengendap-endap mendekati toples gula.
Dilihatnya segerombol semut hitam besar juga sedang
mengerumuti gula itu. Ucil ikut berpesta nikmati lezatnya
gula dimulutnya. Setelah kenyang dia ajak teman-temannya
pergi.
“Teman-teman kalo sudah kenyang ayo pergi. Nanti Bu Ani
datang marah lo bisa-bisa kita buat air minum nanti.”