PELAJARAN
ANTROPOLOGI BUDAYA SIKKA
SERI 2
Oleh
PETRUS PETU, S.Pd
UNTUK KALANGAN SENDIRI
KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan rahmat, bimbingan, dan pertolongan-Nya
sehingga modul Muatan Lokal “Antropologi Budaya Sikka” ini dapat diselesaikan.
Modul ini sengaja disusun untuk memenuhi kebutuhan siswa SMA Negeri 1 Maumere
sebagai pedoman dalam Mata Pelajaran Muatan Lokal “Antropologi Budaya Sikka”.
Diharapkan dengan hadirnya modul ini, siswa tidak lagi dibebani dengan tugas mencatat
materi yang sedang diajarkan, tetapi justru lebih dapat ditingkatkan penguasaan materi
penguasaan materi antara lain melalui diskusi kelompok. Dengan cara itu, siswa tidak hanya
menguasai pengetahuan dari materi yang disajikan tetapi juga memiliki dasar-dasar
pemikiran mengenai peristiwa-peristiwa budaya yang terjadi sepanjang abad di wilayah
Nuhan Ular Tana Leran (Kabupaten Sikka).
Modul ini lahir karena dalam Kurikulum 2013 tercantumlah mata pelajaran Muatan Lokal,
dan dalam mata pelajaran tersebut yang harus diajarkan tentang budaya daerah setempat,
misalnya sejarah Sikka, kleteng latar, duan moan, tami met, pantun dendang, adat dalam
kehidupan manusia, ritual-ritual adat, dan sebagainya.
Akhirnya kami menyadari bahwa modul ini jauh dari sempurna, karena itu penulis sangat
mengharapkan sumbang saran dari para pengguna dan pendidik untuk penyempurnaan
modul ini.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I ADAT PERKAWINAN
A. Tulung Dalang
B. Pete Wua Taa Diri Mipin
C. Poto Wua Taa Gete
D. Perceraian
E. Jenis-jenis Perkawinan
BAB II GOPI UMA DAN SAKOSENG
A. Gopi Uma
B. Sakoseng
BAB III PANDANGAN ADAT TERHADAP ALAM DAN LINGKUNGAN
A. Pengertian
B. Ata Bian
C. Sisa Soba
D. Daerah Garapan, Perburuan dan Larangan
BAB IV PATAR ALU, MAGEMOT DAN TUA RETA LOU
A. Tarian Patar Alu
B. Tarian Magemot
C. Tarian Tua Reta Leu
BAB V TARIAN BEBING
A. Sepintas Seni dan Tarian Bebing
B. Hokor Watu Apar Berperang Dalam Tarian
C. Bebing Sebagai Ingatan Kolektif Orang-Orang Hokor
D. Gong Waning
BAB VI IAN TENA
A. Letak Geografis Kampung Dobo
B. Ian Tena, Perahu Perunggu
C. Watu Mahe dan Kumbang Kecil
D. Berasal dari Siam Sina
E. Warisan Kebudayaan Dongsen
F. Masyarakat Perahu
G. Tana Puan dan Tuan Piren
BAB VII PERMAINAN SEGA
A. Pengertian
B. Waktu
C. Latar Belakang Sosial Budaya
D. Latar Belakang Sejaran Perkembangannya
E. Peralatan
F. Jalannya Permainan
BAB VIII WATU MAHE
A. Pengertian
B. Macam-Macam Watu Mahe
BAB IX STATUS MANUSIA MENURUT ADAT
A. Status Istri
B. Status Anak
C. Status Keponakan
BABA X KEPERCAYAAN
A. Amapu
B. Uhek Manar
C. Ata Bian
D. Nitu
E. Noan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
ADAT DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
ADAT PERKAWINAN
Setelah pelajaran ini selesai, kamu diharapkan mampu :
1. Menjelaskan tulung dalang.
2. Menjelaskan pete wua tae diri mipin.
3. Menjelaskan wua taa gete.
4. Menjelaskan proses pelaksanaan wetik wawi waten.
5. Mengucapkan syair adat wetik wawi waten untuk pengantin pria.
6. Mengucapkan syair adat wetik wawi waten untuk pengantin wanita.
7. Menjelaskan tujuan wetik wawi waten.
8. Mengucapkan syair untuk menasihati kedua pengantin.
9. Mengucapkan syair sebelum bertunangan.
10. Mengucapkan syair pada waktu pernikahan (wehak pare weran nara bunga).
11. Mengucapkan syair tama ola unen.
12. Menjelaskan dua di lee, lai di lee.
13. Menjelaskan blawir nora blawir di du alai.
14. Menjelaskan dua di wai buan, lai di tibolamen.
15. Menjelaskan kawin keluar.
16. Menjelaskan kawin masuk.
17. Menjelaskan paga lian puan wair matan.
18. Menjelaskan perkawinan di luar proses adat.
19. Menjelaskan perkawinan yang dilarang oleh adat dan agama.
Adat perkawinan terbagi dalam tiga tahap yaitu
A. Tulung Dalang
Tulung dalang adalah tenggang waktu bagi kedua remaja untuk saling mempelajari sifat
dan tata cara. Tenggang waktu untuk kenal-mengenal ini butuh waktu sekitar setengah
tahun. Maksudnya kalau ada hal-hal yang tidak berkenan mereka bias bubar dengan
tanpa resiko.
Jika masing-masing menunjukkan sikap yang berkenan maka akan dilanjutkan dengan
tahap yang kedua yaitu “pete wua taa diri mipin” (Sirih pinang meminta restu).
Jika mimpi baik maka dilanjutkan dengan hubungan pertunangan. Jika bayangan buruk
maka hubungan mereka terpaksa dihentikan. Tahap ini disebut tahap seleksi. Selain sifat
juga kesehatan dan jaminan masa depan.
B. Pete Wua Taa Diri Mipin
Setelah melewati tahap seleksi dilanjutkan dengan tahap pete wua taa diri mipin
(sirih pinang meminta restu). Saat pete wua taa diri mipin hanya dibawa 1 ekor ayam dan
sirih pinang yang dibungkus dalam sapu tangan atau kain. Penerimaan calon suami hanya
makan-makan seperti biasa (nasi dengan ikan kering). Jika ada mipin baik dari pihak
perempuan dilanjutkan dengan pati wawi dadi (babi pernyataan resmi jadi tunangan).
Jika mipin goit, maka lamaran ditolak dengan ungkapan " ele apa Iwa Ita tema nara wine,
luat tema rua raik au ma mala dua, au apu ma pu, raik au ala lai, au gea manu. (Jika
engkau jodoh dengan orang lain saya dukung, jika saya jodoh dengan lain engkau datang
urus).
Jika memperoleh mimpi baik, maka pihak perempuan melaporkan ke pihak
pelamar. Calon keluarga datang bawa dengan keluarga lengkap yaitu wakil dari bapak,
saudari, dan peserta lain yang menarik kuda pisang dengan ayam hidup, ditambah
delegasi dan seorang pendamping calon suami. Pihak laki-laki disebut: “me pu” dan pihak
perempuan disebut “ina ama”. Pihak ina ama terima pihak me pu dengan membunuh 1
ekor babi besar namanya “wawi dadi” (wawi tali huat menong) artinya babi pengikat
kedua calon.
sampai dengan saat ini kedua pasangan calon tidak boleh bimbang lagi. Jika salah
satunya belok haluan atau tidak mau lagi nanti merugi dua kali lipat karena dendanya
sangat berat saat ini langsung dibicarakan persiapan untuk sirih pinang nikah adat tetapi
realisasi pembicaraannya nanti dilanjutkan pada saat antar tempat kosong.
Saat me pu mau pamit pulang delegasi meminta sebuah piring kosong dan
meletakkan sejumlah uang yang disebut baku atau halo baku artinya uang rokok.
Masing-masing mampu mendapatkan kain lipa dan baju kemeja. Bapak dan mama yang
tunggu di rumah juga mendapatkan jatah dari mantu calon istri.
Selain kain ina ama menyerahkan juga babi besar yang hidup dengan beras kurang
lebih 50 kg dan tua kurang lebih 20 liter satu kumbang termasuk makanan yang sisa juga
dibawa pulang oleh mepu karena yang disiapkan untuk mepu, ina ama haram untuk
makan. Saat kembali kerumah tidak jalan sendiri tetapi diantar oleh utusan dari ina ama
keluarga calon suami yang tunggu di rumah menyiapkan nasi dan daging ayam titik nasi
dan daging ayam yang disiapkan ini untuk disuguhkan kepada pihak pengantar di rumah.
Ketika pihak pengantar pamit pulang keluarga laki-laki menyerahkan sejumlah uang
namanya uang rokok. Setelah 1 minggu kemudian pihak keluarga lelaki mengantar
pulang tempat bersama delegasi untuk membicarakan tahap selanjutnya.
Tempat yang diantar berisi sirih pinang, nasi dan daging ayam juga telur. Pihak ina
ama terima mereka dengan 1 ekor babi titik tetapi kebiasaan meminta agar babi tersebut
jangan dibunuh supaya mereka bisa bawa hidup-hidup. Kalau ina ama yang mampu akan
menjawab bahwa babi untuk kamu bawa sebentar itu ada titik yang ini untuk buat kuah.
Nanti dalam pembicaraan belis baru diperhitungkan.
Tetapi jika berhadapan dengan ina ama yang kurang mampu, maka babi tersebut
tetap bawah dan dan mereka terima seperti biasa saja dalam kurung hanya disuguhkan
nasi dan ikan kering dan minuman ala kadarnya.
Setelah selesai makan minum, dilanjutkan dengan pembicaraan belis. Hal-hal yang
dibicarakan menyangkut jumlah belis waktu pembayaran dan jumlah yang datang.
Mengenai jumlah minggu ini perlu diketahui, karena menyangkut persiapan seperti
jumlah kursi piring sendok gelas juga persiapan kain-kain untuk dibagikan.
Setelah ada kesepakatan delegasi dari pihak KPU meminta sebuah piring kosong
untuk diletakkan sejumlah uang rokok. Setelah itu mereka pamit pulang dengan
membawa babi yang hidup dan sisa makanan yang mereka makan.
C. Pete Wua Taa Gete
Pelaksanaan kawin adat disebut juga wua taa gaer. Gaer artinya campur. Belis yang
telah disepakati dibayar pada saat itu titik pembayaran belis bukan selamanya harus
lunas artinya sampai pohon lontar menjulang tinggi sampai parang pun aus. Artinya belis
berjalan sepanjang manusia hidup. Saat itu juga dilaksanakan nikah adat (wetik wawi
waten). Wetik artinya suap, wawi waten artinya hati babi, daging babi yang sudah masak.
Artinya pengantin disuap dengan nasi dan daging hati babi disertai dengan nasihat
sebagai berikut:
“Gea wawi api ara plangan
Dena jaji wai nora lai
Minu sai tua gahu supa
Dena supa lihan nora lalan
Tua adat memberi nasihat kepada kedua pengantin, sebagai berikut:
1) Untuk pengantin pria dengan lantunan syair sebagai berikut :
“Himo sai wai aun
Himo tio to mate
Dear belang grengan lebe
Ma geu lau leman
Naha mai saing wain
Bata reta tana maran
Naha mai toma men
Nian waun wair mai hading ata
Lero wawa ai mai tegu lewu
Liri goit au naha helu
Ata dadak au heluk
Nian poa lero hae
Reging taka rema poron
Gopi rein rodo kabor
Gua uma kare tua
Dena bihing wain
Mole bekat men
Dena gea naha to
To dogo nora wain
Dena minu daha hae
Hae depar nora liman
Dena moret tiang tajang
Saing dua sape dading”
Artinya semua hasil usaha baik di laut, juga di darat rumah harus diserahkan kepada
anak dan istri karena merekalah yang berhak untuk menggunakan.
Setiap sore bawa air dan sandarkan di dinding rumah serta kayu api disimpan di
bawah kolong rumah.
Jika menggarap ladang gunakan jam pagi. Di siang hari pergilah ke kebun. Sadap lah
nira dan petiklah buah-buahan untuk dibawa ke rumah; dikasih makan anak dan istri.
Sebagai suami harus berhati-hati. Jangan tergoda wajah ayu, jangan terpancing mulut
manis nanti keluargamu jadi kacau balau.
2) Untuk pengantin wanita dengan lantunan syair sebagai berikut :
“Ma huu beli sai ata wungun
Huu sai reta alan
Konor beli sai ata kuat
Kobor sai wali palik
Tiat nora oni kewun
Moni beli sai ata wisung
Dokang weli nora orok jawa
Orok beli sai ata wangan
Wisung wawa poa woer
Lopa pulu watu utur
Orok beli sai ata wangan
Wangan wawa tige dele
Lopa klorot dabak apar
Deri beli sai ata lewun
Gera beli sai ata dan
Meru beli sai ata teman
Wiwir wawa lopa gurin
Rait beli ata bihan
Bihan reta lopa leder
Nian waun lero wawa
Api maha bara
Damar maha nilo
Utan naha blain
Lohor beli ata wawa
Lema beli ata reta
Penun beli ata benun
Kesa beli ata nora
Bua beli ata deot
Gae beli ata doda
Teri leu nete etin
Era leu nete ean
Artinya wanita masuk ke dalam suku laki-laki dan bertanggung jawab penuh. Sapu
halaman dan merawat membersihkan kan rumah di waktu senja pasanglah lampu,
dan siapkan makanan untuk suami dan anak-anak. Bila matahari terbit persiapkan
perkakas tenun, rentangkan benang tenun lah kain buat sarung untuk suami dan
anak-anakmu. Membantu keluarga bila dibutuhkan, dan beranak cuculah. Jauhkan
dirimu bila ada godaan yang yang bakal menghancurkan keluargamu.
Lantunan syair sebelum pertunangan sebagai berikut:
“Raik au gai beta wain
Nian waun naha plaha oti ola
Diri mipin kiring rena
Sape tana inga salang
Gu reta man geu
Wua reta lekon pitu
Rape teking nora rinan
Gu lau ma lema rinan
Raik au gai heron men
Lero wawa naha sorong oti loni
Plaha oti ola diri mipin
Dadi blawong odi hagong wohon
Sape nian e poa
Gu reta ma bata taa
Bata taa reta liman walu
Nata taa nora ruin
Gu lau rawit woga heron men
Gu wua udek ganu wain
Taa pahar ganu men”
Artinya apabila mau bertunangan, hendaklah malam bentang tikar, dengarkan mimpi
baik atau buruk. Jika bayangan mimpi baik siangnya petik sirih pinang utuslah orang
pergi meminang.
3) Nasihat untuk kedua pengantin dengan lantunan syair sebagai berikut:
“Lemer watu miu ruam
Bawak papan miu ruam
Ganu manu nora ogon
Ganu wawi nora talin
Lohor wawa miu ruam
Lema reta miu ruam
Dua baa deri lepo
Lopa giluk gebi rebong
Tipang human kle bleler
Moan baa plamang woga
Lopa lohor human lema human
Man human main human
Raik wair eo gahu
Mole utan ene blatan
Tutur wiin doi-doi
Ganu hepun glepu papan unen
Harang wiin mawe-mawe
Ganu hewong blebo tua ubun
Lopa tutur deten wawa loan blon
Odi tilu riwun wawa diri rena
Odi ita wae e meang
Odi ita meang mate ta
Lopa harang lasa reta tali teten
Odi mata ngasun le nia ita
Odi ita mata e dadi berat
Mata berat ganu bunu
Hugu gua sai nane uma
Hewot kare nane tua
Ihin naha pi pitu
Dolo naha lape walu
Gea dena menu tain
Minu dena blatan boir
Gea wot boter too
Too dena dong widen
Minu elik hobu balik
Balik dena lapang boir
Ma bua bur sai ganu arung
Ma gae tete ganu atong
Teri leu nete etin
Era leo nete ean
Wawi lopa lema etin
Wero lopa bleba oat
Wutung tosi ami neni
Neni mora ina nian tana wawa
Plawo mora ama lero wulan reta
Kamang sube beli luen blon
Kamang tati beli lalan dadin
Daa blupur reti tio
Daa gahar odo korak
Artinya: mereka berdua harus sama-sama menerima baik yang susah maupun yang
senang. Mereka berdua baik tinggal dirumah maupun pergi harus bersama-sama.
Bagi wanita sebagai ibu rumah tangga tidak boleh bertingkah laku seperti masih gadis
dan bagi laki-laki juga tidak boleh bertingkah laku atau pergi datang atau keluar
masuk rumah seperti masih bujang. Bagi wanita sebagai ibu hendaklah berbicara
halus bagaikan bunyi nyamuk dalam tabung titik bagi pria sebagai bapak hendaklah
menegur secara pelan, bagaikan kumbang di pohon tua. Jangan berbicara dan
menegur di luar rumah nanti dilihat dan didengar oleh orang banyak akan sangat
memalukan. Berpucuk lah dan bertumbuh dengan subur berakar lah sampai ke
dalam bertunas lah pada buku bertumbuhlah pada mata. Berbungalah yang indah
jelita, buah muda bertumbuh lebat, lebat sampai tersandar ke bukit. Semoga
berkembang biak sebanyak bintang di langit dan sejumlah planet di bulan. Kamu
harus menggarap ladang dan menyadap tuak menyadap tuak rawatlah anak dan
istrimu, jangan biarkan mereka lapar dan haus. Jangan malas mencari nafkah untuk
menghidupi keluargamu, agar anak dan istrimu jangan kelaparan dan kehausan.
Terakhir kami mohon kepada Allah bapak agar memberikan mereka umur panjang.
D. Perceraian
Yang dimaksud dengan perceraian adalah perpisahan antara suami dan istri yang
menimbulkan pembatalan atau mengubah keputusan yang telah disepakati dalam adat.
Akibat dari perceraian maka keluarga menjadi pecah. Suami dan istri berpisah.
Mereka harus tinggal di tempat yang berbeda dan dan tidak boleh bertemu dan
berhubungan kembali titik menceritakan namanya saja tidak boleh nanti denda dua kali
lipat
Memang adat tidak menghendaki perceraian tetapi jika terjadi perceraian dalam
sebuah keluarga maka harus diselesaikan secara adat bukan secara perkara.
Jika adat diperkarakan maka harus diundang semua tokoh adat yang berada di
wilayah kecamatan dari kedua belah pihak dalam pihak yang bercerai untuk secara
bersama menyelesaikannya menurut hukum adat yang berlaku.
Ada tiga macam perceraian adalah sebagai berikut:
1) Dua di lee, lai di lee (sama-sama tidak mau)
Adapun sebab yang menimbulkan perceraian semacam ini antara lain:
a. Perkawinan ini dilaksanakan secara paksa oleh suatu sebab.
b. Pasangan suami dan istri kurang selektif saat berkenalan (masa seleksi).
c. Pada masa seleksi, keduanya lebih banyak menunjukkan sikap sikap semu.
Setelah hidup bersama ternyata tidak bisa bertemu pendapat dan demi
menjaga agar jangan terjadi kecelakaan dalam keluarga maka mereka terpaksa harus
bercerai. Karena keduanya punya ulah, keduanya menghendaki perceraian, maka
denda adat pun tidak diperhitungkan dengan istilah: “Ae tera manu-manu”, artinya
bawa pulang ayam masing-masing.
Suami tinggal di rumahnya dan istri pulang kerumah orang tuanya memang
kerugian belis dan ongkos tidak diperhitungkan, tetapi karena ulah keduanya dalam
kurung suami dan istri yang merepotkan seluruh keluarga dan tokoh-tokoh adat yang
menyelesaikan perkara mereka maka pihak suami dan istri harus tanggung denda
yang namanya: “siko makok, beli ata mean”. Siko makok artinya api deun
(manghidangkan / kasi makan).
Tokoh adat yang menyelesaikan perkara masing-masing pulang ke rumah
dengan membawa Jatah. Kepala binatang yang dibunuh diantar ke perbatasan yang
namanya: “Heak hewer”. Artinya hal yang buruk harus dibuka dan digantungkan ke
tempat itu. Upacara dilaksanakan di tengah kampung (di mahe mean).
2) Blawir nora blawir di dua lai
Biar jauh sama jauh tetapi tetap suami dan istri. Artinya tidak mempunyai
alasan yang mendasar titik hanya demi keamanan keluarga, untuk sementara mereka
boleh berpisah ranjang. Jika di suatu saat mereka telah sadar; mereka boleh bersatu
lagi. Selama berpisah ranjang mereka tetap suami dan istri titik jadi antara mereka
harus betul-betul menjaga diri dan tidak boleh tersalah dengan orang lain. Jika
bersalah dengan orang lain menurut adat pihak pelanggar harus mengembalikan
kerugian korban dengan denda adat sebagai berikut:
a. Kalau pelanggar adalah suami, maka denda adatnya: “naha riwa lepe lin woga
welin” dengan mengembalikan semua kerugian dari pihak perempuan.
b. Jika pelanggar adalah istri, maka k pihaknya harus mengembalikan semua
kerugian belis, ditambah dengan denda adat: “ru umin poto wutuk”. Artinya
lestarikan jenggot dan merapihkan destar. Lepe lin woga welin, juga ru umin pete
wutuk mempunyai pengertian yang sama adalah menyangkut harga diri manusia
(ata bian mein bait etan belar).
3) Dua di wai buan, lai di tibo lamen
Dua di wai buan, lai di tibo lamen artinya istri kembali seperti gadis dan suami
kembali seperti bujang. Perceraian semacam ini hanya atas kehendak sepihak.
Biasanya keluarga juga dan tokoh adat berusaha untuk rujuk kembali. Tetapi bila
yang bersangkutan tetap berkeras untuk bercerai maka keputusan yang akan diambil
pihak pelaku harus mengembalikan semua kerugian pihak korban ditambah dengan
denda adat seperti: ru umin pete wutuk atau lepe lin woga welin. Setelah selesai
pembayaran atau denda adat, langsung diadakan sumpah oleh ketua adat dengan
lantunan syair sebagai berikut:
Ena bedi sina di lin
Watu jawa di lahim
Luat rema rua
Bo eo beta nga eo heron
Raik hai at abo beta nga heron
Naha riwa raong daa puat waet
Artinya hari ini telah terjadi kesepakatan atas sebuah perceraian. Pihak yang
menyatakan cerai telah menggenapi semua tuntutan dengan membayar kembali
semua kerugian pihak yang diceraikan dan melunaskan semua tuntutan denda ada.
Kita semua yang hadir disini menjadi saksi perceraian mereka.
Mulai besok dan selanjutnya, diantara kedua mantan suami-istri ini tidak boleh saling
menjelekkan satu sama lain. Jika melanggar pesanan ini akan dikenakan hukuman
harus membayar denda sebesar 2 kali lipat kerugian pengembalian.
E. Jenis-jenis perkawinan
Menurut adat jenis perkawinan dibagi atas:
1. Perkawinan melalui proses adat
Perkawinan melalui-proses adat dibagi atas:
a. Kawin keluar
Kawin keluar berlaku di wilayah penganut hukum patrilineal. Setiap anak
perempuan yang sudah menikah harus keluar rumah dan mengikuti suaminya.
Andaikan suami meninggal duluan, ia tetap di rumah suami dengan tidak berubah
statusnya.
b. Kawin masuk
Kawin masuk berlaku di wilayah penganut hukum matrilineal. Setiap anak laki-laki
kalau sudah nikah harus keluar dari rumah, pergi tinggal di rumah istrinya.
Mereka hidup dari harta istrinya. Andaikan istri meninggal duluan, suami tetap
tinggal bersama anak-anaknya
c. Paga lian puan wair matan
Paga lian puan wair matan berasal dari bahasa Sikka Krowe yang terdiri dari:
Paga artinya mencari tahu tentang hubungan keluarga.
Lian puan wair matan, artinya pusat mata air keluar.
Paga lian puan wair matan, artinya perkawinan yang terjadi antara pasangan yang
masih ada hubungan darah yang sudah berlapis jauh. Syaratnya calon suami
harus dari turunan tanta (saudari opa). Jalan istri harus dari turunan paman
(saudaranya Oma). Tujuan perkawinan ini untuk mendekatkan kembali hubungan
keluarga yang sudah jauh. pemberian belis berdasarkan apa adanya dan penuh
rasa kekeluargaan.
2. Perkawinan di luar proses adat
Perkawinan diluar proses adat dibagi atas:
a. Kawin lari
Sebab terjadinya kawin lari sebagai berikut:
1. Perempuan tidak tahu jaga diri
2. Laki-laki tak sanggup menahan hawa nafsu
3. Orang tua si gadis terlalu keras.
4. Tuntutan belis terlalu tinggi.
5. Pergaulan bebas dan nonton film porno.
Perkawinan di luar proses adat disebut “wain lain puen laen tudi lede manu
horon”, artinya pisau jatuh ayam pun terbang.
b. Perkawinan yang dilarang oleh adat
Jenis perkawinan yang dilarang oleh adat antara lain:
1) Babut yang disebut incest
Babut ganu ahu dohan ganu manu, teki leu telon tama baleng atan. Die leu
lian puan dau leu wair matan.
Perkawinan antara pasangan yang hubungan darah masih sangat dekat.
Perkawinan semacam ini ditolak oleh alam, adat dan agama.
2) Pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur
Pelecehan seksual yang dimaksud adalah perkawinan yang dilakukan oleh
orang dewasa terhadap anak dibawah umur lelaki bermoral bejat cepat
terangsang melihat bentuk tubuh anak wanita. Lelaki tersebut tak sanggup
mengendalikan diri dan memaksakan kehendaknya dengan melakukan
hubungan seks dengan anak di bawah umur perbuatan semacam ini adalah
perbuatan terkutuk yang dilarang oleh adat dan agama.
3) Kawin Liar
Perkawinan liar yang biasa dilakukan oleh laki-laki berhidung belang bersama
perempuan hiperseks. Perbuatan mereka semata-mata terdorong oleh naluri
kebinatangan. Harga diri dan perasaan malu sama sekali tidak ada pada
mereka. Mereka bergonta-ganti pasangan dengan memilih tempat seperti di
rumah kosong di hutan di pantai dan di tempat-tempat yang tidak terlihat
orang lain. Perkawinan semacam ini dilarang oleh adat dan agama.
BAB II
GOPI UMA DAN SAKO SENG
Setelah pelajaran ini selesai, kamu diharapkan:
1. Menjelaskan Gopi uma
2. Menjelaskan upacara tung goit
3. Mengucapkan syair adat dengan benar.
4. Menjelaskan patin dan gopi.
5. Menjelaskan tei dan holo
6. Menjelaskan tege hokot dan duen klaper
7. Menjelaskan noo nena dan noti.
8. Menjelaskan poru eta.
9. Menjelaskan pengertian sako seng.
10. Menjelaskan tujuan nyanyian sako seng.
I. Gopi Uma
A. Pengertian
Kata “gopi” berasal dari bahasa Sikka Krowe, yang terdiri dari dua kata, yaitu :
1. Gopi, artinya menebas rumput
2. Uma, artinya hutan, kebun atau ladang.
B. Langkah-langkah gopi uma
Langkah-langkah gopi uma sebagai berikut:
1. Patin dan diri mipin
Patin biasa dilakukan pada hari kamis, dan malamnya untuk diri mipin. Kalau
mipin baik, maka besoknya akan dilakukan patin (tebas rumptu kurang lebih 2x2
meter di tengah ladang tersebut. Tetapi jika mipin goit, maka patin ditunda dulu.
Tetapi sebelumnya masing-masing orang atau tuan kebun mengambil tanah di
higun hutu dan wali klora (bahasa Sikka Krowe) dan untuk roga goit dengan
lantunan syair adatnya sebagai berikut :
Bait au plepeng leu
Ma deri le herin
Belar au heleng leu
Ma gera le kolor
Au nona nean naha tawa
Au daruk wini naha tubuk
Tawa gata nete lian
Tubuk gata nete kewo
Ubut naha lebuk
Ganu tebuk lau detun
Bakut naha plia
Ganu baki reta ilin
Ubut naha were hukang
Ugo reta lero wali wulan
Puhut naha jiro jaro
Klekot naha jiro jaro
Klekot naha paga liga
Tujuan syair tersebut agar bibit yang ditanam tumbuh dari setiap lubang dengan
subur dan buah yang banyak atau berlimpah.
Pada saat diri mipin, jika bermimpi baik misalnya jika melihat seseorang memakai
pakaian hitam dan tertutup, artinya bahwa tanaman padi akan ditanam nanti
bertumbuh dengan subur dan dapat menghasilkan panen berlimpah.
Tetapi jika orang bermimpi buruk, misalnya jika melihat orang telanjang (lewa
holar), maka patin tidak dilakukan karena akan membawa kegagalan panen atau
musibah lain. Dan pada saat melakukan ritual adat (topo tora ata e hulu higun
atau nitu nean dengan lantunan syair sebagai berikut:
Ami gopi baa roin
Sako baa tana teman
Diat ihit naha gete
Bokan dolo naha mosan
Ina dua e mai
Ama moa e bawo
Ami diat baa miu gea
Ami dokang baa dolo linak
Setelah piong tewok e ulu higun, dan dilakukan saat mulai gopi dengan lantunan
syairnya sebagai berikut :
“Reta man roa lorak
Lorak reta napun blatan
Reta man gopi roin
Roin reta wolon bliran”
2. Gopi
Pada saat gopi tidak dilakukan upacara adat, karena upacara adatnya sudah
dilakukan pada saat Fatin gopi dimulai dari uma Erin terus ke reta wolon. Rumput
dan semak belukar ditebas habis, sedangkan kayu dan pohon akan dipotong
kemudian. Setelah rumput dan semak belukar sudah ditebas, kemudian mulai
dengan rea (tebang pohon) dan haut (dahan dan ranting dipotong kecil-kecil).
Setelah rea, rumput dan kayu dijemur sampai kering kurang lebih 3 sampai 4
Minggu.
3. Tei (penjemuran)
Pada tahap ini rumput dan kayu yang sudah ditebas dan dipotong dijemur sampai
kering. Lama penjemuran ini sampai 3 atau 4 Minggu sampai rumput dan kayu
kering betul baru dibakar.
4. Holo atau bakar
Halo (pembakaran) dilakukan mulai dari wawa uma erin dipasang api di beberapa
titik (api matan). Kita mohon supaya rumput dan kayu terbakar habis, maka ada
lantunan syair sebagai berikut:
Api wain e mai
Goo makar goo jogang
Olan gete au goo
Klereng ketik au goo
Goo naha pepuk-pepuk
Pada saat holo atau pembakaran, apabila kita takut akan terjadi kebakaran yang
hebat merambat ladang di sekitarnya maka kita melakukan upacara ritual dengan
lantunan syair adat sebagai berikut:
“Goo dut poi en bau
Goo naha pepuk-pepuk
Lau nan di loar
Reta nan di loar
Ripa nan di loar
Wali nan di loar”
5. Tege Hokot
Tege Hokot berasal dari bahasa sikka krowe yang terdiri dari 2 kata yaitu:
a. Tege : membersihkan rumput dan kayu sisa dari pembakaran.
b. Hokot: mencangkul rumput dan akar akar rumput dan membalikkan tanah.
Jadi Tege Hokot adalah membersihkan rumput, kayu sisa pembakaran serta
mencangkul akar-akar rumput dan juga membalikan tanah. Setelah tege Hokot
selesai kita masuk pada tahap berikutnya yaitu duren klaper.
6. Duen Klaper
Duen klaper terdiri dari dua kata, yaitu:
a. Duen : artinya batas titik memberi batas dengan kayu keliling ladang tersebut
dan jangan lewat tanah orang di sebelahnya.
b. Klaper: artinya tanah tersebut dibagi dalam bentuk petak atau bedeng.
Jadi duen klaper adalah tanah tersebut diberi batas keliling dan dibagi atas
beberapa petak (klaper). Setelah duen klaper kita masuk ke tahap berikutnya
yaitu Noo Nona.
7. Noo Nona
Noo Nona berasal dari bahasa sikka krowe yang terdiri dari 2 kata yaitu:
a. Noo : artinya tanam untuk padi
b. Nona: artinya tanam untuk jagung, kacang-kacangan.
Cara menanam untuk padi ada dua cara yaitu:
a. Noo
Noo adalah seseorang menggali lubang sendiri memasukkan bibit padi ke
lubang tersebut.
b. Pahe
Pahe adalah orang lain (pria) yang menggali lubang dengan babak dan wanita
yang mengisi bibit padi ke lubang yang digali tersebut titik sedangkan
jewawut dan jagung solor ditaburkan saja di ladang tersebut.
Lantunan syair adat pada saat noo nona sebagai berikut :
“Au nona nean naha tawa
Au daruk wini naha tubuk
Tawa gata nete lian
Tubuk gata nete kewe
Ubut naha lebuk
Ganu tebuk lau detun
Bakut naha plia
Ganu baki reta ilin
Ubut naha were hukang
Uge naha reta lero wali wulan
Puhut naha jiro jaro
Klekot naha paga liga
Nona oa pare apa
Kama beta beli nora naran
Nona oa pare ropo
Ropo eta mokot leu”
Setelah padi itu tumbuh apabila muncul anakan baru, berarti bertanda baik dan
apabila muncul kulit padi berada di ujung daun berarti bertanda tidak baik. Dan
harus dilaksanakan ritual adat dengan persiapan sebagai berikut :
1. Wua taa
2. Bake apur
3. Ian keker pare hoban
4. Bahar bala
5. Seng / heang
6. Nora manu ha
Upacara dilakukan di bawah padi huu ulun, dengan lantunan syair sebagai
berikut:
“Heing leu goit
Ma deri le herin
Plepang leu raat
Ma gera le duen
Ihin miu ganu tewu
Mai tuke e tuan puan
Dolo mepik ganu muu
Mai tubar e uma loran
8. Noti
Noti artinya membersihkan rumput. Pada saat noti kita membutuhkan banyak
orang karena rumput-rumput itu harus segera dibersihkan supaya padi jagung
dan lain-lain tumbuh dengan baik dan subur tidak terganggu atau terhimpit
dengan rumput titik lantunan syair rumput sebagai berikut:
“Au runu gonang inan
Goot miu wain kalir”
Setelah selesai dibersihkan tanaman tersebut segera diberikan dengan pupuk,
supaya tanaman tersebut tumbuh dengan subur dan sehat. Maka tanaman-
tanaman tersebut menari dan menyanyi dengan lantunan syair sebagai berikut :
“pun gagang liman rua
Reging dekak miu nete keler
Miu runu gonang inan
Batu wauk nete kolor
Kisak dadak nete herin”
9. Pupu eta atau ou mekot
Menjelang pera eta atau eu mekot butuh persiapan makan minum, oha, kara,
liun, taping dan rumah atau ronan, dan sebagainya. Sebelum poru dilaksanakan
piong tewek di watu mahang ulu higun maupun di watu mahang ai pua.
Persiapan persiapan pada saat peru eta atau ou mekot antara lain:
a. Ronan : rumah untuk menyimpan padi atau lumbung
b. Oha : tikar untuk ri pare atau tego. Sebelumnya oha di tilu dengan klakat
dari keempat sudut dan di tengah eha simpan watu wua untuk pare bakar.
c. Lida : Nyiru digunakan untuk memisahkan butir padi yang tak berisi,
sebelumnya ditiup dengan jahe.
d. Taping : kipas untuk membersihkan padi yang tidak ada isi.
e. Liun /tepa : bakul untuk isi bulir padi waktu panen
f. Kara : bakul besar untuk isi yang sudah ada dalam renan.
Setelah selesai panen, padi disimpan di ronan atau gudang untuk makan setiap
hari, dan yang lain disimpan untuk bibit dan kebutuhan lainnya.
II. Sako Seng
A. Pengertian.
Kata sako seng berasal dari bahasa Sikka Krowe yang terdiri dari 2 kata yaitu:
a. Sako artinya cangkul
b. Seng artinya gotong royong atau bekerjasama
Secara etimologi “sako seng” berarti mencangkul bersama-sama. kata “cangkul” ini
sendiri mengandung arti yang mendasar serta menjadi sebuah terminologi yang tidak
bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat agraris khususnya bagi para petani yang
masih akrab dengan sistem pertanian tradisional. Sementara kata “seng” (gotong
royong atau bersama-sama) memberi arti yang sudah dapat dipahami dan dimengerti
dengan baik oleh masyarakat di sebagian besar daerah-daerah di Indonesia ini. Oleh
karena itu, sako seng dapat dipahami lebih mendalam sebagai bagian dari kehidupan
masyarakat agraris sebagai sebuah kegiatan bersama-sama bergotong-royong untuk
mengolah lahan pertanian dengan menggunakan sebuah alat dalam dunia pertanian
yaitu cangkul.
Namun, bila ditinjau dan dipahami secara lebih mendalam, sako seng bukanlah
sekadar kegiatan mengolah tanah dengan menggunakan cangkul. Sako seng menjadi
sebuah identitas masyarakat khususnya orang-orang Sikka Krowe (Kangae, Nita,
Koting, Nele, dan Iwan gete). Sako seng dalam masyarakat Sikka Krowe ini telah
menjadi sebuah tradisi karena memang sudah dijalankan kan secara turun-temurun
sejak zaman nenek moyang. Sako seng menyangkut seluruh proses persiapan dan
pengolahan lahan bahkan sampai dengan masa panen.
B. Langkah-langkah sakusen.
Sako seng merupakan satu rangkaian kegiatan yang melewati tahap-tahap tertentu.
Biasanya diawali dengan upacara persembahan kepada para leluhur dan memohon
doa badi kelancaran seluruh proses mulai dari membuka ladang sampai dengan
masa panen. Proses awal ini dilakukan dengan sajian atau upacara persembahan
kepada para leluhur, yaitu piong tewok biasanya berupa daging ayam, daging babi
yang disembelih kemudian darahnya dipercikkan pada “watu mahang” di Ai Pua
yang ada di tengah-tengah lahan yang akan dijadikan ladang. Juga pada keempat
sudut lahan yang menjadi batasnya. Tujuan diadakan upacara sebelum sako seng ini
dimulai yakni memohon kepada Tuhan yang maha esa (Tuhan Langit dan Bumi)
dengan lantunan syair adat sebagai berikut:
“Ina nian tana wawa
Ama lero wulan reta”
Agar diberikan cuaca yang baik dijauhkan dari hama penyakit dan pada akhirnya
dapat memperoleh hasil panen yang baik pula.
1. Opi tuan
Kegiatan membuka lahan baik lahan baru maupun lahan lama dilakukan sendiri
oleh pemilik lahan, bisa juga bersama-sama selama beberapa hari atau beberapa
minggu tergantung luasnya lahan. Proses ini dilakukan antara bulan Agustus
sampai Oktober ketika musim kemarau akan berakhir. Setelah pohon serta
semak-semak ditebang, biasanya langsung dirapikan dibiarkan beberapa hari
sampai kering kemudian dikumpulkan bekas-bekas atau berkumpul-kumpul
(waan utun) dan dibakar, sehingga tidak merambat ke lahan milik orang lain.
Selanjutnya dibuat semacam teras (blepeng) karena tanah tidak datar.
2. Sako
Lahan yang sudah dibersihkan kemudian dicangkul secara bersama-sama.
Biasanya dilakukan ketika telah turun hujan pertama. Mencangkul pada
umumnya dilakukan oleh kaum pria sementara kaum wanita menyiapkan
makanan dan minuman.
3. Nona
Setelah dicangkul, lahan dibiarkan sambil menunggu hujan berikutnya dan
langsung ditanami jagung atau padi. Selain padi dan jagung di lahan tersebut
juga ditanami dengan tanaman lain, seperti titik2 singkong, keladi, kacang-
kacangan, dan lain-lain titik kegiatan menanam biasa dilakukan oleh kaum
wanita yang dalam bentuk kelompok-kelompok seperti yang dilakukan kaum
laki-laki ketika membuka, mencangkul.
4. Noti
Setelah tanaman padi dan jagung berumur antara 2 sampai 4 Minggu banyak
juga rumput liar yang tumbuh seiring pertumbuhan padi dan jagung tersebut.
Maka di tahap ini yang dikerjakan adalah membersihkan rumput tersebut
dengan mencangkul yang ukurannya lebih kecil (Taka). Ini dilakukan bersama-
sama, entah pria maupun wanita secara bersama-sama gotong royong antar
warga dalam kampung tersebut.
5. Pori eta
Tahap terakhir dari Sako seng yakni kegiatan memanen secara bersama-sama
gotong royong titik pada saat panen inilah, tua-muda, besar kecil, laki-laki atau
perempuan semuanya turun ke ladang mengumpulkan hasil dari ladang
tersebut. Dan juga dilakukan secara bergilir karena jangka waktu panen selalu
berdekatan titik seiring juga dilaksanakan syukuran dengan menyembelih babi
atau kambing untuk makan bersama dengan mengundang tetangga sekitarnya.
6. Nyanyian Sako seng
Tujuan menyanyi sakusen sebagai berikut: untuk memberi semangat dalam
bekerja beramai-ramai. Untuk menanamkan rasa kekeluargaan yang tinggi.
Nyanyian sako seng sebagai berikut:
a. Lagu Sako seng
Reff: Siga lori lolo.... lamen lori lolo .... koko manu go... (2x)
Le.... Leru ..... Le, Wula le .... Leru le.
b. Pantun
1. Oa dena higo hagong
Manu koko roo inga
Odo hogor wara sako
Mole rema sai taka
2. Bati ai le wolon
Ubun pitu bakut walu
Wara naha hugun bagu
Toma moret kasan epan
3. Ti le lora lunun
Lunun baa nora imung
Mai ita lunun wiit
Ta ua ropo sawe
4. Mapi tara ilin gahar
Hae reta telan reta
Wara sako meti taka
Ma sako ma dekit
5. Tahi lau gake galeng
Gake galeng tota inan
Galeng sai wini nean
Mai sai nona mai daruk
6. Mai nona pare gai
Pare gai tawa tana
Mai tuke e tua puan
Mai tubar e uma loran
7. Pare ropo nora odang
Odang loda wawa dan
Mai ita eta pare
Eta nora unen meret
8. Lamen hai wain gain
Gopi wali he wali
Gopi wali uma tuan
Uma tuan ihin wair
9. E manu aman koko
Koko wawa higo hagong
Rego reong sai imung
Pano ta sako uma itan
10. Dadi ma holo hening
Ganu dua pu moa itan
Ganu sai ena hua
Puda duan tana kokak
11. Bai murin tei
Sako uma nora traktor
Ami le Tetang Brai
Sako seng ganu nulun
12. Bait au plepang leu
Ma deri le herin
Belar au heleng leu
Ma gera le kolor
13. Au nona nean naha tawa
Au daruk wini naha tubuk
Tawa gata nete lian
Tubuk gata nete kewo
14. Ubut naha lebuk
Ganu tebuk lau detun
Bakut naha plia
Ganu baki reta ilin
15. Ubut naha wore hukang
Ugo reta lero wali wulan
Puhut naha jiro jaro
Klekot naha paga liga
16. Ani gopi baa roin
Sake baa tana teman
Diat ihit naha gete
Dokang dolo naha mosan
17. Ina dua e mai
Ama moa e bawo
Ami diat baa miu gera
Ami dokang baa dolo linek
18. Reta ma roa lorak
Lorak reta napun blatan
Reta ma gopi roin
Roin reta wolon bliran
19. Ap wain e mai
Goo mokar goo jogang
Olan gete au goo
Klereng ketik au goo
20. Goo dut poi en bau
Goo naha pepuk-pepuk
Lau nan di loar
Reta nan di loar
21. Nona oa pare apa
Kamang beta beli nora naran
Nona oa pare ropo
Ropo ota mekot leu
22. Heing leu goit
Ma deri le herin
Plepang leu raat
Ma gera le duen
23. Ihin min ganu tewu
Mei tuke e tua puan
Dolo menik ganu muu
Mai tubar e uma loran
24. Au runu gonang inan
Tawa gata nete lian
Tubuk gata nete kewo
25. Pun gagang liman rua
Reging dekak nete kolor
Miu runu gonang inan
Batu wauk nete herin
c. Lagu Oam Mbele
Reff : Oa …… mbele oa nara, oa …… mbele oa le (2x)
26. Sako sina wawa jawa
Sako sina wawa jawa
Gopi nian dena hokot
Geri tana dena kare
27. Oa le mananggo
Koko le manunggo
Hokot pare naha menik
Kare tua naha gahu
28. Le leru le..
E wula leru le
Lau watu toa
Toa toki nong danani
29. Le leru le..
E wula leru le
Le liwu bao
Wuan eo taa iwa
30. Nara odo wine
Wine na gajeng tua
Tua rubi kubang
Le reta adonara
31. Tuku nete liman
Buang lau dadi bado
Loning poi hama-hama
Berat lau dadi heak
32. Manunggo eo rase manunggo
Le leru le, e wula leru le
Wair ba sara epan
Ba maa wiri wana
33. Tibo lamen tana nulun
Blugung blapin ua uma
Imung sako rame-rame
Nora orong wano koko lerule
34. Rimu bou kalu laen
Sako sentak hama-hama
Orang betan hama-hama
Manu koko lerule
35. Wai buan tama nulun
Dena pesta legon ala
Legen ala mapir mepok
Mai koko manunggo
36. Au lair meha gai
Au lala meha glegan
Au dalang baa ala golo
Manu koko lerule
37. Heret inan poi au meha
Au huk unen galek waten
Janji mate ita ruat
Mai koko manunggo
38. Nong witan poi au meha
Au tue guman mipin ita
Guman kela beli ita ruat
Manu koko leru le
GAMBAR KELOMPOK SAKOSENG
BAB III
PANDANGAN ADAT TERHADAP ALAM LINGKUNGAN
Setelah pembelajaran ini kamu diharapkan mampu:
1. menjelaskan adat terhadap alam dan lingkungan.
2. Menjelaskan tentang ata bian
3. Menjelaskan ata bian berdamai dengan makhluk ciptaan tuhan lainnya.
4. Menjelaskan sebab-sebab terjadi sebuah daerah pemukiman (kloang)
5. Menjelaskan pemimpin-pemimpin yang memimpin sebuah kloang.
A. Pengertian
Adat terhadap alam dan lingkungan merupakan realisasi program dalam rangka
mengagungkan ciptaan Tuhan. Karena manusia diciptakan oleh Tuhan untuk melindungi
dan melestarikan alam ciptaannya.
B. Ata Bian
Ata bian adalah manusia makhluk ciptaan yang tertinggi dari ciptaan lainnya.
Manusia memiliki akal budi dan diberikan kuasa untuk menggunakan ciptaan lainnya
sesuai dengan kebutuhannya. Walaupun demikian ata bian dilarang untuk merusakkan
ciptaan lainnya. Menyangkut hubungan antara ata bian dengan amapu adalah vertikal.
Artinya dalam bertindak dan bertanggung jawab ata bian bertanggung jawab kepada
amapu reta seu. Tetapi sebagai makhluk yang berakal budi manusia harus mengenal dan
mampu berakomodasi dengan makhluk ciptaan lainnya seperti “uhek manar” yang
berada di masing-masing tempat, karena mereka juga tentu mengawasi setiap tempat
dimana mereka berada. Hal ini perlu dijaga, agar semua yang berada di dunia ini dapat
berjalan dengan tertib dan aman.
Perusakan pohon dan rimba dilarang karena pohon-pohon besar termasuk tempat
tinggal roh-roh. Jika di tebang sebaiknya diadakan ritual terlebih dahulu (memindahkan).
Kalau tidak sama seperti mengusir mereka dengan cara kasar. Akibatnya kemungkinan
mereka bisa lawan. Jika Ubed Manar sudah marah nanti pelaku perusakan akan
mendapat ganjaran berupa sakit atau gila dan lain-lain. Apabila ata bian (manusia) sudah
sadar akan perbuatannya, maka diadakan ritus sisa soba. Sisa mitan wai pitu, soba maran
wai walu. Pitu: 7x, dan walu : 8x. Berarti bertobat sungguh-sungguh (ruku mai gapu wain,
kongong mai piru liman): merapat memeluk kaki, menunduk mencium tangan. Artinya
berdamai dengan semua makhluk ciptaan. Ata bian (manusia) harus mampu bersaudara
dengan ciptaan lainnya.
C. Sisa Soba
Upacara sisa soba sama seperti upacara bura maring, namun ada perbedaan,
yaitu: upacara bura maring adalah menolak bala terhadap mimpi buruk, sedangkan
upacara sisa soba adalah upacara menolak bala mengenai pelanggaran terhadap alam
atau perusakan tempat-tempat terlarang / angker.
Upacara sisa soba merupakan upacara pertobatan sebagai pemulihan kembali
hubungan antara manusia dengan alam lingkungan yang telah dirusakkan. Mengapa?
Karena manusia telah merusakkan lingkungan, maka manusia mendapat kutukan dari
roh roh atau makhluk halus. Pelaku/perusak mengalami sakit yang aneh-aneh walaupun
diperiksa dokter tidak ditemukan penyakit semakin hari sakitnya semakin parah. Setelah
diadakan ritual sisa soba baru kesehatannya pulih kembali.
Karena manusia merusakkan lingkungan, maka alam ini tidak bersahabat lagi
dengan manusia sehingga terjadi bencana dimana-mana. Seperti polusi udara kotor yang
mendatangkan bermacam-macam penyakit, hujan dan badai, banjir dan longsor.
Kalau pelanggaran di tempat angker maka acara sisa soba diadakan di tempat
tersebut. Kalau pelanggaran karena pencemaran maka upacara sisa soba diadakan di
Nuba Nanga (muara sungai). Bahan untuk upacara antara lain: sirih, bintang, kapur
tembakau, emas, gading, beras, ekor ikan /telur, anjing 1 ekor (anjing itu hanya diambil /
dipotong 4 tapak kaki, ekor, dua telinga dan mulut / remung).
D. Kloang (Daerah Pemukiman)
Sebab-sebab terjadinya sebuah kloang adalah sebagai berikut:
a. Mencari daerah subur.
b. Karena bencana alam.
c. Karena terserang wabah penyakit.
d. Karena peperangan.
e. Karena program pemerintah (transmigrasi).
Daerah pemukiman pertama dihuni oleh sepasang keluarga (mencari daerah subur)
sampai turun temurun. Kemudian disusul oleh keluarga yang lain dan sahabat kenalan.
Penghuni pertama disebut : tuan puan (tuan tanah).
Daerah pemukiman bisa juga ditempati oleh sekelompoj orang yang mengungsi dari
tempat lain. Hal ini bisa terjadi misalnya karena ada perang, penyakit, juga bencana
alam.
Pendatang baru ini terdiri dari berbagai suku yang memiliki wungun kuat yang berbeda.
Masing-masing suku mendirikan rumah adat yang disebut lepo. Setiap lepo dikepalai
oleh seorang kepala suku. Di depan setiap lepo didirikan menhir yang disebut mahe.
Mahe yang didirikan di depan setiap lepo merupakan lambang suku dan tempat untuk
mereka mengadakan upacara (ritual).
Di setiap wilayah pemukiman membutuhkan seorang pemimpin yang disebut: Gai (Moan
Gai).
Moan Gai mempunyai perangkat yang terdiri dari:
a. Watu pitu (ketujuh dewan adat terdiri dari tujuh lepo).
b. Dua litin moan ler, yang terdiri dari tokoh-tokoh terpandang dan orang-orang
mengerti.
c. Koko Kek (juru penerangan sekaligus merangkap sebagai humas).
d. Tana Puan (Tuan Tanah).
Tugas dari Moan Gai adalah untuk memimpin masyarakat (gai gaeng riwun; gai : rotan,
gaeng: merangkul, riwun: rakyat). Gai gaeng riwun artinya rotan untuk merangkul rakyat
agar tetap bersatu.
Tugas dari watu pitu adalah :
a. Memberi nasihat kepada gai, baik diminta maupun tidak diminta.
b. Bersama moan gai menyelesaikan perkara. Hukuman yang dipakai adalah hukum
perdamaian.
c. Membuat aturan (undang-undang wilayah).
Tugas dari Dua litin moan ler adalah: turut memberikan pendapat jika diminta, karena
mereka dipandang sebagai orang-orang yang mengerti.
Tugas dari Koko kek adalah menyampaikan pengumuman dari gai kepada masyarakat,
sebagai berikut:
“Kawu kobe nian bliran
Manu koko dope hogor lober
Hu wau lero wawa
Wawi kek hele tama natar”
Tugas Tana Puan adalah:
a. Pemegang hak ulayat
b. Penentu batas wilayah (beak bewer)
c. Mengadakan ritual.
Catatan :
1. Gai : Kepala Kampung
2. Watu Pitu : ke 7 dewan adat yang terdiri dari tujuh lepo
3. Dua litin mean ler: terdiri dari pemuka masyarakat yang terpandang.
4. Koka kek : juru penerangan dan humas.
5. Tana Puan : penghuni perdana / tuan tana.
Tana puan ini telah mengenal betul keadaan alam dan lingkungan di wilayah pemukiman.
Ia telah menyatu dengan alam dan lingkungan. Tana Puan bertugas mengadakan ritual
penyelamatan. Ia merupakan humas antara manusia dengan alam lingkungan.
Latihan :
1. Jelaskan adat terhadap alam dan lingkungan!
2. Jelaskan tentang ata bian!
3. Jelaskan tujuan ruku mai gapu wain, kongeng mai piru liman!
4. Jelaskan upacara sisa soba!
5. Sebutkan bahan-bahan yang diperlukan dalam upacara sisa soba!
6. Sebab-sebab terjadinya sebuah kloang!
7. Sebut dan jelaskan pemimpin dan aparat yang memimpin kloang!
Derah garapan perburuan dan larangan
Setelah pembelajaran ini, kamu diharapkan mampu:
1. Menjelaskan tentang daerah garapan
2. Sebut dan jelaskan daerah garapan
3. Sebut dan jelaskan macam-macam daerah perburuan
4. Sebut dan jelaskan macam-macam daerah larangan
a. Daerah garapan
Daerah garapan adalah wilayah yang bisa digarap yang bisa memberkan penghasilan bagi
manusia. Menurut pandangan adat bahwa daerah garapan itu terbagi atas dua tempat
yaitu:
1. Wilayah pedalaman
Wilayah pedalaman dapat dibagi atas :
1. Nian opi uma kare tua (wialayah untuk menanam padi, jagung, dan umbi-umbian)
2. Nian lema muu rode kaber (mula ongen) kebun, yaitu tempat yang ditanami
dengan kelapa, pisang, dan pohon-pohon penghasil buah-buahan, seperti:
nangka, kemiri, kakao, cengkeh, dan lain-lain.
2. Wilayah pantai
Nian tu bini rope apur adalah tempat untuk memasak garam dan membakar kapur.
Garam dimasak pakai air laut. Kapur dibakar pakai batu karang. Karena tiu maka
tempatnya di pesisir pantai.
b. Daerah perburuan
Daerah perburuan terdapat di hutan sabana, di atas tanah, di atas pohon, di sungai, dan
di laut.
Macam-macam daerah perburuan sebagai berikut :
1. Di hutan sabana
Di hutan sabana disebut: Nian Uter Lego abu laan, artinya tempat untuk pelepasan
anjing dan anak panah. Binatang yang hidup di padang sabana, seperti rusa, kancil,
babi hutan, dan lain-lain.
2. Di atas tanah
Di atas tanah disebut: Nian seda sepet belo baur, artinya tempat untuk dipasang jerat
untuk dipasang jerat dan ranjau. Binatang yang hidup di tempat ini adalah babi
hutan, landak, tikus dan tupai.
3. Di atas pohon
Di atas pohon disebut : nian ilu beret lait labang, artinya tempat untuk menjerat
burung dan serangga (pakai lem dari nanah kayu dan bulu ekor kuda dipintal).
4. DI sungai
Di sungai disebut: nian pepi plea neng ale, artinya tempat untuk merendam akar
tuba dan rumput ale (tuba adalah pahit, dan ale adalah sejenis rumput yang pedis
dipakai sebagai sayur pengobat penyakit caccing. Binatang-binatang yang hidup di
sungai seperti: udang, belut, dan ketam, matanya akan terasa pedis dan mereka
keluar dari air dan menggelepar di pasir atau batu. Di saat itulah permburunya bisa
menangkapnya dengan mudah.
5. Di laut
Di laut disebut: nian eba rabang lela kawir, artinya tempat untuk menebarkan jala
dan membuang pancing. Banyak ikan akan terjerat.
c. Daerah larangan
Daerah larangan disebut : nian opi dun kare taden, artinya kawasan terlarang, seperti:
1. Ilin puan wair matan adalah daerah pegunungan dan tempat mata air. Tempat-
tempat tersebut tidak boleh digarap. Jika digarap akan mendatangkan bencana
longsor dan keringnya mata air. Leluhur percaya bahwa ada roh yang disebut uhek
manar. Di nian wula wutu, ada uhek nanar untuk matahari, ada uhek manar untuk
bulan dan ada uhek manar untuk bintang.
Di nian tana ada uhek manar utuk mengawasi wilayah pegununganan, ada uhek
manar untuk mengawasi mata air, ada uhek manar untuk mengawasi laut dan danau,
ada uhek manar untuk menjaga di bukit, ada yang menjaga di lembah dan ada yang
menjaga di sungai.
Uhek manar di nian wula wutu disebut : “Tana Uhek Manar”.
Uhek manar adalah roh-roh. Roh itu ada yang baik (roh penolong) dan ada yang jahat
(pemangsa). Uhek manar yang baik bertampang putih, uhek manar yang jahat
bertampang hitam. Uhek manar yang bertampang putih bertugas mencatat segala
perbuatan manusia yang baik. Uhek manar yang bertampang hitam bertugas
mencatat semua perbuatan yang jelek.
Menurut leluhur bahwa seua data mengenai perbuatan manusia selama hidup akan
ditayangkan kembali kepadanya pada hari pertama saat manusia menghembuskan
nafas terakhir.
Menurut leluhur bahwa nian seu (surga) berada di atas wula wutu (di atas langit).
Amapu noran reta seu lape pitu, reta kota lape walu, artinya: Bapak di surga (Tuhan
Allah) berada di tempat yang paling tinggi. Surga berada di atas segala yang ada di
atas, di atas surga tidak ada lagi wilayah lain.
Amapu (Tuhan Allah) ada di tempat yang palling tinggi dari segala yang tertinggi
untuk memantau segala hal yang terjadi di dunia. Karena itu leluhr menyebutnya
dengan istilah: Amapu matan gete, nia gita nete nian tana sawe, artinya: Bapak di
surga punya mata yang sangat besar dan bisa melihat segala yang ada di dunia.
Amapu reta seu noran nete olang sawe, artinya : Bapa di surga berada di mana-
mana.
Leluhur menyebutnya dengan istilah: Amampu gete tana teker, gahar dugi wulan,
artinya: Bapa di surga besarnya memenuhi jagat tingginya melampaui langit.
Amapu puan eon, Amapu moret main, artinya : Amapu (Tuhan Allah) tak berawal dan
tak berakhir.
2. Olan piren
Olan piren artinya : tempat angker. Tempat-tempat seperti ini dihuni oleh makhluk
halus yang disebut: Uhek Manar, yang bertugas mengawasi alam lingkungan.
3. Napun Wiwir tea week, artinya: pinggir kali dan parit. Tempat-tempat tersebut harus
dilindungi dengan pohon-pohon dan jenis rumput yang memiliki akar penahan tanah.
Tujuan agar tempat-tempat seperti ini tidak mudah longsor.
4. Kokong repit tanah redin
Kokong repit = pinggir jurang. Tana redin = tanah keras yang berbentuk batu napal.
Tempat seperti ini perlu dilindungi dengan pohon-pohon perdu dan jenis rumput
yang memiliki akar penahan tanah. Batu-batu yang menempel di pinggir jurang tidak
boleh dicungkil/diambil nanti berakibat longsor.
5. Nian sisa mitan soba meran
Nian sisa mitan soba meran adalah tempat pelaksanaan ritual pemulihan terhadap
bencana/kutukan alam. Tempat-tempat itu seperti: Per maan dan Nuba nanga.
6. Nian ogor wokor siot linek
Nian ogor wokor siot linek adalah tempat pembuangan kotoran manusia. Tempat
tersebut terletak di pinggir kiri kanan kampung, di bawah pohon-pohon besar.
Manusia yang hendak membuang kotoran duduk dengan menginjakkan kaki pada
akar pohon yan mencuat yang ditumbuhi dengan rumput talas (lepo). Pohon talas
merupakan dinding yang melindungi manusia saat membuang kotoran.
Latihan :
1. Sebut dan jelaskan wilayah-wilayah daerah garapan !
2. Sebut dan jelaskan macam-macam daerah perburuan!
3. Sebut dan jelaskan macam-macam daerah larangan!
BAB IV
PATAR ALU, MAGET MET DAN TUA RETA LEU
TARIAN PERANG
Setelah pembelajaran ini selesai kamu diharapkan :
1. Menjekaskan pengertian Patar Alu, Maget Met dan Tua Reta Leu.
2. Menjelaskan tujuan Patar Alu.
3. Menjelaskan tujuan tarian Maget Met.
4. Menjelaskan tujuan tarian Tua Reta Leu.
5. Menjelaskan tanggapan massyarakat terhadap tarian tersebut.
A. Tarian Patar Alu
1. Pengertian
Patar alu terdiri dari dua kata dalam bahasa Sikka Krowe sebagai berikut :
Kata “alu” : kayu yang panjangnya kurang lebih satu setengah meter yang digunakan
untuk menumbuk padi, jagung dan lain-lain. Sedangkan kata “patar” : artinya dua alu
yang dijepitkan atau dihentakkan pada kaki. Tarian ini awal latihan dalam tarian
perang. Penamaan tarian perang ini sesungguhnya didasarkan pada gerak yang
ditunjukkan penari dalam tarian. Tarian ini merupakan tarian tradisional orang
Watublapi Hewokloang, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka.
2. Pakaian dan Ragam Gerak Tarian
a. Pakaian
1. Pakaian dan perlengkapan yang digunakan penari laki-laki, antara lain:
a. Ragi Mitan, yaitu sarung hitam yang menjadi simbol keberanian
menghadapi kematian.
b. Lado, bulu ayam jantan yang diikat pada kepala sebagai lambang
kejantanan atau keperkasaan seorang dalam menghadapi perang.
c. Gili, yaitu perisai depan dipegang bersamaan dengan tombak dan ditaruh
dengan lue. Ini terbuat dari kulit kerbau.
d. Klebi, yaitu perisai belakang.
e. Wuli, yaitu maink-manik yang dikalungkan pada leher prajurit.
f. Sebe liman, yaitu kulit kambing dan bulu ayam yang dililitkan pada lengan.
g. Huit, yaitu kain berwarna hitam, panjang 5-7 meter dan lebar 20 cm. Ini
dililitkan pada pinggang sebagai pengganti celana. Ujung yang satu ditaruh
pada bagian depan, sedangkan yang lain atau selebihnya digantung.
h. Ole, yaitu tombak dan poron soda.
i. Wuter kuper, yaitu busur anak panah.
2. Pakaian dan perlengkapan yang digunakan oleh penari perempuan, antara
lain:
1. Perempuan memakai utan (sarung), labu gete (baju wanita) yang pada
bagian depan berbentuk segi empat, kalar (gelang) gading perhiasan
tangan, sembar (selendang), soking (tusuk konde), suweng (anting-
anting), lodan (kaling), lensu (sapu tangan).
2. Ikun, yaitu pisau kecil yang terbuat dari kayu, yang pada ujungnya
dikenakan rumbai. Rumbai ini biasanya dari bulu ekor kuda.
b. Ragam Gerak Tarian
Disebut tarian Patar alu karena alat yang digunakan dalam tarian ini adalah alu
sungguhan. Perlu enam buah alu untuk bisa menari patar alu. Dua alu pertama
digunakan sebagai alas paling bawah dengan posisi melintang utara-selatan, dua
alu yang lain melintang timur-barat, dan dua alu terakhir melintang utara-selatan
lagi. Perlu empat penari laki-laki untuk bisa menari dalam hentakan-hentakan alu.
Para penari yang menari dalam tarian tersebut berdiri pada posisi utara-selatan.
Dibutuhkan empat pria untuk menghentakkan alu tersebut. Pria-pria yang
menghentakkan alu dalam posisi duduk dengan kaki sebagai tumpuan dan pantat
tidak menyentuh tanah pada arah timur-barat dan utara-selatan. Keempat pria
tersebut masing-masing memegang dua ujung alu, dan alu-alu tersebut
dihentakkan ke bawah sebanyak dua kali, lalu ditubrukan satu sama lain, sekali,
dengan alu paling bawah tidak digerakan. Hentakan-hentakan tersebut yang
kemudian ditubrukan menghasilkan bunyi-bunyian serasi. Hentakan-hentakan alu
tersebut membuat beberapa penari yang berdiri di dalam posisi utara selatan
muai menari. Mereka harus bergerak bersama-sama, selain untuk
mempertontonkan keindahan, kelincahan kaki, juga menjaga harmoni. Sebab,
bila tidak melaksanakan gerakan secara bersama-sama, maka akan terjadi
kecelakaan, maka alu berhenti dihentakan. Penari yang cedera akan diganti oleh
penari lain sehingga tarian dapat dilanjutkan. Para penari gagah yang
menghentak alu akan terus menghentakan alu tersebut hingga penari yang
tersisa satu orang. Penari yang hingga akhir menyisihkan saingan-saingannya dan
punya hak untuk diangkat menjadi komandan (hulubalang). Baik tarian patar alu,
mage mot maupun tua reta leu merupakan latihan perang, yaitu melatih
kecepatan kaki, leher dan kepala serta melatih prajurit rahasia mengintai,
mendeteksi keberadaan musuh.
Gambar Tarian Patar Alu
B. Tarian Mage Mot
1. Pengertian
Mage Mot terdiri dari dua kata bahasa Sikka Krowe sebagai berikut :
Kata “Mage” artinya pohon asam, sedangkan “Mot” artinya kelihatan hanya
ujungnya saja.
Dalam ceritanya masyarakat di desa Nenbura, Kecamatan Doren, Kabupaten Sikka
terdapat suatu tempat yang agak curam sehingga kita berdiri di atas melihat poon-
pohon asam di bawah pantai hanya ujungnya saja, maka tempatnya itu disebut:
“Mage Mot”.
2. Pakaian dan Ragam Gerak Tarian
a. Pakaian
Pakaian sama dengan pakaian yang dipakai oleh penari patar alu.
b. Ragam Gerak Tarian
1. Alat yang digunakan alu, seperti pada tarian patar alu.
2. Pada tarian patar alu, yang dilatih kelincahan pada kaki, sedangkan Mage Mot
yang dilatih kelincahan kepala dan leher.
Kesimpulan :
1. Tarian patar alu dlatih kelincahan pada kaki, sedangkan pada saat maju di medan
perang kaki tak dapat ditebas oleh musuh.
2. Tarian mage mot dilatih kecepatan / kelincahan pada leher dan kepala agar tak
dapat ditebas oleh musuh.
3. Pada jaman sekarang tidak lagi perang antar suku, antar kampung, dan antar
golongan, namun tarian ini dilestarikan sebagai seni budaya.
4. Dulu penarinya adalah calon-calon prajurit, sedangkan sekarang penarinya muda-
mudi sebagai ajang cari jodoh.
Gambar Tarian Magemot
C. Tarian Tua Reta Lou
1. Pengertian
Tua reta lau terdiri dari tiga kata dalam bahasa Sikka Krowe sebagai berikut:
Kata “Tua” artinya pohon lontar, “reta” artinya di atas, “lou” artinya puncak tertinggi.
Jadi “tua reta leu” artinya naik di atas pohon lontar atau pohon kayu yang tertinggi
dan melihat/mengintai musuh.
2. Pakaian dan ragam gerak tarian
a. Pakaian
Pakaian tarian tua reta lou sama dengan tarian patar alu.
b. Ragam gerak tarian
Tarian tua reta lou, penari menari di atas ujung bambu, gerakan kai dan tangan
sesuai dengan irama gong waning. Dan ia menari berputar keliling bambu
tersebut.
Gambar Tarian Tua Reta Lou
BAB V
TARIAN BEBING
Setelah selesai pelajaran ini kamu dapat :
1. Menjelaskan tentang seni
2. Mendefinisikan tarian bebing
3. Menjelaskan letak geografis kampung Hokor
4. Mengucapkan lantunan syair asal orang Hokor
5. Memberikan contoh kahe orang Hokor
6. Menceritakan tarian bebing
7. Menjelaskan busana dan perlengkapan yang digunakan oleh hulubalang.
8. Menjelaskan busana dan perlengkapan yang digunakan prajurit.
9. Menjelaskan busana dan perlengkapan yang digunakan perempuan.
10. Menjelaskan ragam gerak dan tahapan-tahapan dalam perang guna menaklukkan
musuh.
11. Mengumumkan kepada massa lewat nyanyian gurna menyatakan diri siap berperang.
12. Menjelaskan macam-macam alat musik / gong waning.
A. Sepintas Seni dan Tarian Hebing
1. Seni
Seni atau karya seni tak lahir dari kekosongan. Seni kata Aristoteles, tidak lahir begitu
saja, melainkan melukiskan, menggambarkan dan memantulkan realitas yang ada
dan dihidupi oleh senimannya. Seni itu mewujud dari pantulan alamnya, tempat dan
kejadian beradanya karya dan senimannya. Alam tempat dan kejadian adalah latar
yang menginspirir dan mendorong sang seniman atau pencipta seni untuk berartistik
dan mengabadikan apa yang sempat menggumpal dalam imaginasi dan pikirannya
atau yang pernah terlintas dalam sejarah. Jadi seni itu mengingatkan, berdaya
anamnetis bagi penciptanya (pemiliknya).
Namun mesti diingat bahwa daya anamnetis itu tampak tidak hanya dengan
menciptakan seni, memberikan guratan-guratan artistik pada apa yang terlintas
dalam imaginasi dan pikiran sang seniman maupun sejarah, melainkan terutama
ketika seni itu dihadirkan, diungkapkan terus. Pengungkapan yang kontinu, selain
memungkinkan seseorang untuk terus mengingat, juga agar seni itu tetap memiliki
daya menarik. Upaya untuk mempertahankan agar seni itu tidak kehilangan generasi
pemiliknya / penikmatnya, juga tidak kehilangan fungsi amnetisnya. Karena itu, seni
lebih tepat ada dan hidup sebagai tradisi, yang olehnya lebih mengikat dan
mendorong seniman maupun generasi pemiliknya untuk secara rutin
menghadirkannya, menjadikan sebagai ingatan.
2. Tarian Bebing
Di kampung Hokor, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, ada seni tari
perang yang bernama “Bebing”, yang sudah sejak lama dihidupi oleh orang-orang
Hokor sebagai tradisi kampung itu. Tarian Bebing adalah sebuah rekaman artistik
yang mengingatkan oragng-orang Hokor tentang perang dan tentang sorak-sorai
kemenangan melawan musuh pada masa lalu. Tarian bebing telah menjadi sebuah
ingatan kolektif yang menunjukkan bagaimana identitas dan keberadaan orang-orang
Hokor sebagai satu kampung dipertahankan dan ditegaskan di hadapan musuh.
B. Hokor Watu Apar, Berperang Dalam Tarian
1. Letak geografis kampung Hokor
Kampung Hokor terletak di wilayah selatan kabupaten Sikka, berjarak 39 km dari
Maumere, Ibu kota Kabupaten Sikka, berbatasan dengan kampung Sikka dan Pomat.
Topografi kampung Hokor adalah kampung berbatu, diapiti oleh dua bukit batu, yaitu
bukit Ilin Lorat dan Ilin Pigang. Karena itulah, Hokor sering dijuluki “Kampung Watu
Apar” (Kampung Berbatu). Daerah berbukit dan berbatu ini merupakan wilayah
pengungsian orang-orang Hokor yang lari dan mencari keamanan diri dari perang
antar kampung, tetapi selanjutnya dipilih sebagai tempat menetap dengan nama
“Kampung Hokor”.
2. Asal-usul orang Hokor
Nenek moyang orang Hokor semula mendiami wilayah yang sekarang didiami oleh
orang-orang Sikka, yaitu Kampung Sikka. Diceritakan bahwa karena ulan Moan Baga
Giluk bersama orang-orang sekampungnya (mereka yang mendiami kampung sikka
sekarang) yang menggulingkan tempayan berisi kotoran manusia, orang-orang Hokor
terpaksa melarikan diri dan berdiam di daerah yang sekarang dikenal dengan nama
Hokor.
Lantunan syair berikut menunjukkan asal-usul orang Hokor sebagai berikut:
Au desa au Nita
Desa Nita gaur giit
Gaur giit ora nian
Reket mangan ora tana
Deker au le ia
Le nian Sikka nata wutung
Teri giit golo ora nian
Nian aun detun epan
Nian aun koben bue
Diri ata topo wong
Topo reta napun leman
Ata bura wenu boleng wenu
Hura wenu matan daan
Gu witit wain heking alan
Lewe ngen tota nian
Lewe bar tota tana
Au luju dua limek
Limek wai tula lat
Ora sase wai datang
Hat wai dire areng
Bira aun le ia
Le tana tulin regan gahar
Ata apur bunu mekong bunu
Ganu blega makang apur
Gu rema uben beak bekok
Au ngen tota ora nian
Au bar tota ora tana
Au pano ngen ngerang bar tana
Maksud syair tersebut adalah: leluhur orang Hokor adalah dengan Nita. Mereka
berasal dan menetap dahulu di negeri Sikka sekarang. Mereka dihalaukan oleh Moan
Baga Giluk merampas kampung halamannya. Oleh sebab itu mereka lari mengungsi
ke tempat yang sekarang bernama Hokor. Mereka terkenang akan negerinya yang
rata dan memberikan hasil padi dan kacang. Dari bukit yang tinggi dan lekuk dalam,
mereka mendengar teriakan orang dengan menggulingkan tempayan berisi kotoran
yang membusuk yang dapat membahayakan. Jadi mereka tinggalkan kampung
halaman dan mencari tanah Hokor sekarang.
Kahe orang Hokor sebagai berikut :
Hokor watu apar
Guman gege leren tolor
Tubu nane rebu
Kota nane korak
Penun punan helang ilin
Ga ata waten, gatang ata moret
Hokor kampung berbatu
Malam runtuh, siang terguling
Berpagar besi bertahtakan tempurung
Asal mula jin dari gunung
Melahap yang mati, menantang yang hidup
Dikisahkan secara turun temurun perang dan kemenangan pun dibentukkan secara
artistik menjadi tarian perang khas orang-orang Hokor, yang dikenal dengan nama
“Tarian Bebing”.
C. Bebing sebagai ingatan kolektif orang-orang Hokor
1. Pengertian
“Bebing berarti berlari-lari kecil mendekati musuh untuk mengalahkannya.
Penamaan tarian perang ini sesungguhnya didasarkan pada gerak yang ditunjukkan
penari dalam tarian. Diceritakan bahwa tarian Bebing merupakan karya artistik Moat
Sai. Moat Sai adalah orang Bola, yang mengambil istri orang Bera dan karena itu
memilih tinggal di Hokor. Selama di Hokor, Moat Sai turut terlibat bersama orang-
orang Hokor dalam perang melawan musuh. Dari keterlibatan itu, Moat Sai
mendapatkan inspirasi untuk menciptakan tarian perang dengan “bebing”. Bebing
masih memiliki warna perang yang sangat tajam.
2. Properti tarian dan ragam gerak tarian
Properti tarian dan ragam gerak tarian yang digunakan oleh penari sebagai berikut:
a. Properti tarian
Berkenaan denga properti tarian, tampak ada perbedaan antara yang digunakan
oleh penari pria (hulubalang dan prajurit) dan penari perempuan, sebagai berikut:
1) Busana dan perlengkapan yang digunakan oleh hulubalang, antara lain:
➢ Ragi mitan, yaitu sarung hitam yang menjadi simbol keberanian
menghadapi kematian.
➢ Lado, bulu ayam jantan yang diikat pada kepala sebagai lambang
kejantanan atau keperkasaan seorang pemimpin perang.
➢ Gili, yaitu perisai depan yang dipegang bersamaan dengan tombak dan
ditaruh dengan lue. Ini terbuat dari kulit kerbau.
➢ Klebi, yaitu perisai belakang.
➢ Wuli, yaitu manik-manik yang dikalungkan pada leher hulubalang. Jumlah
manik-manik sebagai tanda kemenangan.
➢ Seke liman, yaitu kulit kambing dan bulu ayam yang dililitkan pada lengan.
➢ Huit, yaitu kain berwarna hitam dengan panjang 5-7 m, dan lebar 20 cm.
Ini dililit pada pinggang sebagai pengganti celana. Ujung yang satu ditaruh
pada bagian depan, sedangkan yang lain atau selebihnya digantung.
Dengan mengenakan ini pada saat tempur, hulubalang akan tampak
seperti seekor cendrawasih yang terbang.
➢ Sede wain, yaitu kuilit kambing yang dililit pada kaki sebagai tanda
kebolehan dan kekuatan.
➢ Soda, yaitu parang panjang atau pedang.
➢ Rebing, yaitu tas kecil dari kulit kambing yang berisi jimat, boban dan
dokumen-dokumen penting lainnya.
➢ Lue, yaitu daun lontar berbentuk simpul (disimpulkan), jumlahnya tidak
ditentukan. Ini sebagai penentu hari perang. Lue diikatkan pada tombak.
Ketika masih terjadi perang, Lue dibawa oleh utusan yang memiliki tanda
pengenal (berwarna merah) kepada pihak musuh untuk memberitahukan
tentang perang, kapan perang akan dilangsungkan.
Contoh: bila ada dua simpul yang dibawa, maka dua hari lagi, terhitung
mulai sejak lue itu dikirim, akan ada perang. Bila lue itu ditambah satu
oleh musuh, maka musuh menghendaki agar tiga hari lagi nanti perang
dilaksanakan, bukan dua hari sebagaimana yang dikehendaki pihak yang
pertama mengirim lue itu.
➢ Ole, yaitu tombak.
➢ Peket merah, yaitu kain merah yang melilit pada tubuh sebagai lambang
keberanian.
2) Busana dan perlengkapan yang digunakan oleh prajurit, antara lain: ragi
mitan, peket merah, gili, soda, seke, wuter huper (busur anak panah).
3) Busana dan perlengkapan yang digunakan oleh penari perempuan, antara
lain: utan (sarung), labu gete (baju wanita) yang pada bagian depan
berbentuk segi empat, kalar (gelang gading perhiasan tangan), suweng
(anting-anting), lodan (kalung), lensu (sapu tangan), sembar (selendang),
soking (tusuk konde), iku (pisau kecil yang terbuat dari kayu yang pada
ujungnya dikenakan rumbai. Rumbai ini biasanya dari bulu ekor kuda).
b. Ragam Gerak Tarian
Tarian bebing memiliki 5 ragam gerak, yang menunjukkan dengan jelas tahap-
tahap atau babak-babak dalam perang yang dilancarkan orang-orang Hokor guna
menaklukan musuh, sebagai berikut :
1) Tahap pertama doa. Para penari memasuki arena pentas. Penari perempuan
masuk melalui bagian kiri arena pentas, sedangkan penari laki-laki (prajurit
dan hulubalang) masuk melalui bagian kanan arena pentas. Setibanya di
arena pentas, para prajurit dan penari perempuan membentuk lingkaran
untuk melingkari hulubalang. Penari perempuan mengapiti penari laki-laki
dalam lingkaran itu. Pada tahap ini hulubalang melantunkan doa mohon
perlindungan dan restu dari leluhur dan dewa-dewa. Dahulu ketika perang
masih berlangsung, para leluhur ini disembah di “Mahe” sebelum turun ke
medan laga. Selain para leluhur, penyembahan juga dibuat kepada dewa-
dewa yang mendiami raga (tempat yang dianggap angker). Ada beberapa raga
yang dikenal dan dipuja oleh orang-orang Hokor, antara lain:
a. Raga Rengut, artinya raga yang cepat marah.
b. Raga Lapa, artinya raga pendamai atau suka damai.
c. Raga Natar, artinya raga yang dekat denga kampung Hokor.
Dalam tarian, doa ini dibuat secara simbolis dan dikemas secara artistik.
Sebelum doa, hulubalang akan menyerukan kepada massa lewat nyanyian
agar berkumpul guna menyatakan diri siap untuk berperang, sebagai berikut :
Begana o…o…a…o
Dota o…. au degan
Dota au degan kletak
Dola dota gerok degan
Dota lau goan mai
Lit ditik lit dear
Lit sape napun pitu
Lit lema wolon walu
Ode gong waning lin
Palu-palu perdengarkan bunyimu
Bunyi yang nyaring melengking
Pukul palu baru berdentum
Palu berasal dari tanah goa
Bunyi menggelitik merinding
Menggaung sampai ke delapan bukit
Mohon gamelan dan tambur berbunyi
2) Tahap kedua, pemilihan prajurit
Tahap ini, penari perempuan meninggalkan arena pentas, sedangkan penari
laki-laki (prajurit) berbaris menghadap hulubalang. Pemilihan prajurit mulai
dilaksanakan. Salah memilih prajurit yang akan turun ke medan laga bisa
berakibat fatal, kekalahan. Karena itu, jika ada prajurit yang dilihat hulubalang
tidak mampu atau tidak kuat untuk berperang, maka prajurit bersangkutan
tidak boleh diikutsertakan dalam perang. Prajurit yang tidak mampu ditandai
dengan kapur sirih. Pada masa perang dahulu, dari bagian tubuh prajurit yang
diberi tanda dengan kapur sirih akan keluar darah. Ini menunjukkan bahwa
prajurit itu tidak lagi masuk di medan tempur. Dengan itu, kemenangan selalu
menjadi akhir dari perang orang-orang Hokor.
3) Tahap ketiga, latihan perang.
Setelah memilih prajurit, hulubalang memimpin latihan perang. Hulubalang
memperagakan bagaimana menghadapi atau menaklukan musuh, selanjutnya
diikuti oleh para prajurit. Kepatuhan pada hulubalang menjadi tuntutan yang
harus dipenuhi seorang prajurit. Pada tahap ini hulubalang berada di depan
dan para prajurit berada di belakang hulubalang.
Latihan ini diiringi dengan nyanyian sebagai berikut:
O….. hele … aa….a…..
Loning nuhu kei ewawi inan
Aii, lere oral ere leen
Aii klobi ora klobi uta
Klobi uta laman dua
Aii lau wai tau ngawun
Aii oba lau ewan potat
Datu lau lena raban
Lema nora rahan heret
Toma lau mada wat …. O….oa..
Karena lawan sudah terkumpul
Aku meraut mengasah senjata tajam
Aku berpakaian alas belakang
Alas belakang berlapis dua
Aku turun menyerang kekayaan
Aku dapat memukul/membasmi
Sampai jatuh terlentang
Terlentang berdada memar
Ada pada pintu gerbang
4) Tahap keempat, tahap perang
Para prajurit maju ke medan laga dibawah pimpinan hulubalang. Para prajurit
bergerak, berputar sekeliling arena pentas sambil mengayunkan parang dan
tombak seolah-olah sedang bertempur dengan musuh. Pertempuran berakhir
setelah kepala hulubalang musuh dipenggal. Pemenggalan ini disambut
dengan sorak-sorai dan nyanyian kemenangan.
Lamen hokor watu apar
Guman gogo leron tolor
Tubu nane rebu
Kota nane korak
Penun punan belang ilin
Ga ata maten gating ata moret
Raga edo dara anak
Darat ata ele teng
Naha edo gu teng doi
Bakat bura belanda
Blau blau raning raning
Kelang mitan raga rengut
Raning naha geba mate
Jigo jago jawa rewo
Api waran korak nurak
Lere ha puit bara ha puit
Artinya :
Patriot hokor kampung berbatu
Malam runtuh siang berguling
Berpagar besi
Bertatakan tempurung
Asal mula jin dari gunung
Melahap yang mati
Menantang yang hidup
Raga edo putra matahari
Panasnya orang tak mampu menantang
Meski gempa mampu sedikit
Putih bersih seperti belanda
Maju enggan mundurpun malu
Hitam pekat raga rengut
Berani mati menantang maut
Jigo jago jawa rewo
Panasnya bagai bara tempurung
Mudah disangka sudah mati Padahal masih hidup.
5) Tahap kelima, tahap kemenangan
Para penari laki-laki (prajurit) mengarak kepala hulubalang musuh yang
dipenggal sebagai tanda kemenangan. Bersamaan dengan itu para penari
perempuan memasuki lagi arena pentas dan bersam mengarak kepala dengan
tarian sejenis hegong. Mereka meluapkan kegembiraan karena telah
mengalahkan musuh. Nyanyian yang mengungkapkan kegembiraan sebagai
berikut:
O au pati ala ata men
Lori lolo o dae
Au pati lete lau mi kleteng
Lori lolo ea o dae
Au pati oba lau mi tena
Lori lolo
Aku memenggal kepala lawan
Aku memotongnya
Pada tempat persembunyian
Aku membunuhnya di atas perahu
Sesudah arakan dilaksanakan di sekeliling arena pentas, para penari
meninggalkan arena pentas.
3. Gong Waning
Pada setiap tahap, para penari diiringi dengan gong waning. Alat musik gong waning
antara lain:
a. Gong inan : 2 buah
b. Gong depan : 1 buah
c. Gong udeng : 1 buah
d. Gong weng : 1 bua
e. Gong anak : 1 buah
f. Waning inan : 1 buah
g. Waning dedor: 1 buah
h. Saur : 1 buah (bambu yang ujungnya-ujungnya dipecahkan, fungsinya
untuk mengatur ritme pukulan/tabuhan).
Ada tujuh jenis pukulan dengan notasi sendiri. Para penabuh selain memiliki
pengetahuan tentang notasi iringan, juga harus lincah untuk mengintegrasikan
iringan dalam tiap adegan perang. Dalam tiap iringan itu, tempo tabuhan atau
pukulan berubah dengan itu gerak pun berubah.
BAB VI
IAN TENA
Setelah pelajaran ini selesai, kamu dapat:
1. Menjelaskan letak geografis kampong Dobo.
2. Mengungkapkan asal-usul mitologis warga kampong Dobo.
3. Menjelaskan ukuran, besar dan gambar yang terdapat dalam artefak Ian Tena (Jong
Dobo).
4. Menjelaskan watu mahe dan kumbang kecil sebagai pelataran megalithis.
5. Mengungkapkan syair adat yang merupakan awal mula dan asal dari Ian Tena (Jong
Dobo).
6. Simpulan yang dapat dibuat berdasarkan dua syair adat Ian Tena (Jong Dobo).
7. Kemukakan pendapat para ahli tentang darimana asala perahu perunggu ini.
8. Menjelaskan tentang tana puan dan tuan piren.
A. Letak Geografis Kampung Dobo
Nama lengkap kampong itu adalah Dobo Dora Nata Ulu yang artinya puncak Dobo
kampung pertama. Beberapa kampung yang terletak tak jauh dari kampung itu adalah
Piring, Bao Batun, Wolea, Mera, Magepedar, watukebu, dan habibager. Nama Dobo ini
juga adalah nama bukit di daerah itu. Tinggi puncak bukit Dobo itu adalah 810 meter di
atas permukaan laut. Dan daerah sekitarnya seluas 360 ha pada tahun 1932 oleh
pemerintah Belanda dijadikan hutan lindung. Dari segi wilayah administrative
pemerintahan, kampung ini adalah bagian dari desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante,
Kabupaten Sikka.
Untuk memasuki kampung Dobo, tak lebih sejam perjalanan dengan mobil dari
Maumere kea rah timur berdiri sebuah gapura yang dipuncaknya diletakkan sebuah
ukiran miniature sebuah perahu. Di tiang gapura tertulis kata-kata sebagai berikut: “UHE
DIEN DAN HADING”. Secara bebas kata-kata ini dapat diterjemahkan sebagai
berikut:”Pintu kediaman selalu dibuka, tangga rumah selalu kami pasang”. Lazimnya di
Sikka ada satu ungkapan lagi yang disampaikan kepada tamu ketika berpamitan,
yaitu:”ma mai”, artinya “sekarang anda pergi tetapi tak boleh lupa untuk kembali lagi”.
Di pintu masuk gapura selamat dating itu dipasang juga ukiran dari besi berupa
dua ekor ular naga yang mengungkap asal-usul mitologi dari warga kampung itu. Dahulu
kala, di gua yang terletak sekitar 200 meter jauhnya dari kampung kea rah bukit Dobo,
ada seekor ular naga yang bernama ama logo yang memberikan harta kekayaan untuk
tuan tanah di kampung itu. Tempat dimana ular naga tinggal adalah watu wega hele
gole. Menurut legenda, lubang atau tempat tinggal naga itu sangat dalam dan
menembus hingga ke watu bura nada di kampung hewokloang. Juga menurut legenda
ular naga dan gua itu masih dapat ditemui kalua tuan tanah membawa ian keker, pare
hoban, manu teleh (sesajen) beserta emas yang pernah diberikannya.
Ular naga itu sebagai penjelmaan dari leluhur pertama daru masyarakat kampung
Dobo yang bernama Ama Lago (lengkapnya: Moan Lago Wair Amat) dan Dua Bela
(lengkapnya: Dua Bela Balik Inat) yang mana pada awalnya tinggal di bukit Dobo sebelum
pindah ke kampung yang ada sekarang ini. Karena alasan itu, hingga kini masyarakat
setempat, lebih khusus lagi turunan tuan tanah tidak membunuh ular-ular, apalagi ular-
ular yang ada di kebun atau di sekitar kampung. Dan puncak bukit Dobo itu sendiri
dianggap sebagai tempat yang keramat.
B. IAN TENA (PERAHU PERUNGGU)
Di kampung Dobo tersimpan sebuah artefak yang diberi nama: “Ian Tena”. Nama
itu kemudian diabadikan dengan desa Ian Tena, kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.
Kemudian seputar Tahun 2005 nama artefak tersebut disamakan dengan nama kampung
itu, yaitu Jong Dobo. Ian artinya ikan. Tena adalah kata Bahasa Sikka untuk perahu atau
kapal. Tena atau Jong adalah Bahasa Sikka untuk kapal-kapal besar yang terbuat dari
kayu yang membuat daya angkut bisa mencapai 500 ton yang melayani perdagangan
khususnya di utara jawa menjelang abad 15 dan 16. Kata Dobo yang tak mempunyai arti
khusus dalam Bahasa Sikka. Masyarakat setempat mengenal juga nama lain untuk
artefak ini, yaitu: Jong gelang. Gelang adalah kata Bahasa Sikka untuk perunggu.
Miniatur perahu ini terbuat dari perunggu. Pengukuran pada tahun 1982 yang
dilakukan oleh Prof. Soejono, kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, menunjukkan
ukuran sebagai berikut:
Panjang : 60 cm
Tinggi : 12 cm
Lebar bagian tengah : 8 cm
Awak kapal dalam bentuk patung sebanyak 22 orang. Enam orang awak
pendayung ada pada masing-masing sisi kapat. Empat orang penari ada di atas geladak
kapal di antaranya seorang penari perempuan yang sedang duduk, empat orang lainnya
adalah tentara yang menjaga perahu tersebut bersenjatakan busur, anak panah, bertopi
jembul ayam jago.
C. WATU MAHE DAN KUMBANG KECIL (SENTRUM PEMUJAAN)
1. Watu Mahe
Di kampung Dobo terdapat juga pelataran megalithis yaitu watu mahe. Watu mahe
adalah batu berbentuk dolmen dan menhir yang dipasang di tengah kampung.
Sebagaimana diketahui, latar belakang warisan megalitik ini mempunyai kaitan
dengan upacara penuembahan leluhur dan penguburan.
Kampung-kampung tradisional di Sikka mempunyai batu mahe masing-masing. Watu
mahe itu dapat dibagi ke dalam dua macam, yaitu:
a. Mahe gete
Mahe gete dibangun di suatu pelataran tengah kampung dan menjadi sentrum
pemujaan komunitas. Persembahan seperti hewan kerbau yang ditujukan kepada
arwah leluhur dan wujud tertinggi biasanya dibawakan di sini. Di sekitar mahe
dan pelatarannya, komunitas mengadakan upacara adat yang biasanya berkaitan
dengan kesuburan lading, tolak bala, syukur panen, lado loka, dan pergantian
musim. Sementara itu, keluarga mempunyai mahe-mahe kecil. Di Dobo, mahe-
mahe kecil itu dipasang di depan lopo (rumah). Pada umumnya di setiap
kampung dipasang tiga buah watu mahe, yaitu:
1. Watu mahe lopo
2. Watu mahe wulan
3. Watu mahe nian tana
Di sekelilingnya dipasang tujuh buah batu yang artinya “Dua mean watu pitu”.
Sementara itu di bagian-bagian yang mengitarinya ada pekuburan batu dari para
petinggi kampung. Di wilayah lio, kabupaten Sikka, watu mahe dikenal dengan
nama “musu mase”. Sedangkan di Flores Timur dikenal dengan nama “nuba
nara”.
2. Kumbang Kecil
Di kampung Dobo terdapat juga sebuah kumbang kecil yang diperkirakan berasal dari
“Dinasti Tsing”, dengan ukurannya sebagai berikut:
Tingginya : 25 cm
Lebar mulutnya : 10 cm
Kumbang ini pecah waktu gempa bumi tahun 1992 dan kini tersisa adalah kepingan-
kepingan kumbang yang terletak di bawah batu besar itu. Menurut keyakinan
masyarakat setempat, kumbang itu muncul dengan sendirrinya di sekitar mahe itu.
Dan kumbang itu diyakini mempunyai kekuatan yang dapat membawa penyakit.
Diceritakan bahwa dahulu kalau mulut kumbang mengeluarkan semacam asap atau
busa warna putih maka itu adalah pertanda akan adanya wabah penyakit.
D. BERASAL DARI SIAM SINA (TRADISI LISAN)
Awal mula da nasal dari Ian Tena menyata dalam syair adat yang dikenal dalam Bahasa
Sikka dengan sebutan “Kleteng Latar”, yaitu prosa liris parallel berikut ini merupakan
legenda tentang terjadinya da nasal mula Ian Tena. Muatan syair itu kelihatannya lebih
merupakan suatu legenda dari pada mitos, dalam artian bahwa yang menonjol ialah
pribadi-pribadi historis entah real atau yang dibayangkan.
Umumnya syair adat itu sendiri berisikan tentang asal-usul keluarga dan kampung.
Kleteng latar tentang asal-usul itu biasanya disampaikan oleh pemimpin suku atau kepala
keluarga pada upacara kelahiran, pernikahan dan kematian. Ia menjadi media untuk
terus menghidupkan ingatan kolektif dan menguatkan identitas sosio kultural suatu
masyarakat.
Avelinus Eting, mantan kepala desa Ian Tena yang pertama dengan tegas mengatakan
bahwa Ian Tena adalah nama asli perahu perunggu di kampung Dobo, Desa Ian Tena,
Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, sekaligus mengucapkan syair adatnya:
Saing gun tana nulun blikon blewut
Saing puda duan koka her iro are
Ami beta Ian Tena
Ian Tena puan tea
Ian Tena watu woga
Watu woga bale hele
Artinya:
Sejak zaman dulu zaman purba
Sejak zaman leluhur purba
Kami menyebutnya Ian Tena
Ian Tena terbuat dari perunggu
Ian Tena di watu woga
Watu woga bale hele
Fakta sejarah lainnya lagu: “Ian Tena Reta”, pada tahun 1944 ketika duduk di SRK Ili, kami
diajarai lagu tersebut. Dan syairnya sebagai berikut:
Lamen hai wain gain
Hae reta Ian Tena
Ian tena reta
Siko sakak manu ladon
Artinya
Pemula siapa ringan kaki
Marilah ke Ian Tena
Ian Tena di atas
Berulir bagai ekor ayam jantan
Saya menemui tua adat dari Krea Maget Baomekot, bapak Mangun Raga, pada tahun
1973 pada saat itu saya masih duduk di Kelas II SMP Yapenthom. Beliau mengucapkan
syair adat tentang Ian Tena, sebagai berikut :
1. Syair adat pertama berbunyi: Orang Soge dan Numba
Soge ata numba Soge punya kadal tembaga
Soge jong gelang reta Kapal tembaga
Jong gelang reta Memberi hujan dan panas
Beli uran nora dara
Pete watu ia dobo Mengangkat batu di Dobo
Poi inga ia dobo Menjelang siang di Dobo
Jong baler dadi gelang Kapal ubah jadi tembaga
2. Syair adat kedua berbunyi: Aku woga pigang
Au moan woga pigang Suka mencari bumi
Ngen tota ora nian 2x berkelana mencari tanah
Bar tota ora tana
Aku berlayar dari barat sana
Aku tuku wawa main Menjelang siang di Dobo
Au wohe wawa main Dari tanah siam sina
Wawa tana siam sina Dari bumi malaka
Wawa nian malaka
aku temui, aku tiba
Mai saing sape genang di biung dua bima
Wawa biung dua bima 2x di bima ada letusan gunung
Bima bitak male roja
aku takut nanti mati
Au blau pora mate takut kaki tangan gemetar
Blau wai lima lelin bumi sudah pecah
Nian e bitak nan tanah menjadi lebur
Tana e lalang nan
bumi sudah pecah
Nian e bitak nan seperti piring pecah
Bitak nan ganu pigang tanah menjadi lebur
Tana e lalang nan lebur seperti bera
Lalang nan ganu bera
aku berlayar terus ke mari
Aku tuku lekuk wawa main aku temui aku tiba
Mai saing sape genang di manggarai Labuan bajo
Wawa manggarai Labuan bajo reo dan ruteng
Wawa reo wawa ruteng
di manggarai Labuan bajo
Wawa manggarai Labuan bajo ada perang saudara
Wawa buang wawa bajo 2x
Buang bajo wawa juang aku menyusur dari barat
tiba di soge tanah puan
Au mapa bapan wawa mai tidak disuguhi sirih pinang
Mai saing soge tana puan dan rokok
Wuat ene nodin hoit
Bako enen bajak papan aku temui, aku tiba
di sada watu manuk
Au tuku a saing bumi ini tidak rata
Saing sada watu manuk tanah ini juga tidak rata
Nian ene detun epan
Tana ene desan wohon
Aku tuku lekuk le a kukayuh terus kemari
E nian nita karang jawa di bumi nita karang jawa
Natar gahar ili gai natar gahar ili gai
Wawa du napu nao di du napu nao
Natar gahar ili gai natar gahar ili gai
Wawa du napu nao di du napu na
Nian ene detun epan bumi ini tidak rata
Tana ene desan wohon tanah ini juga tidak rata
Tana bao puhun dapa tanah bao mekar indah
Kiman kiwan wolon bulen hutan kimang bukit buleng
Urun pigan tana rakan urun pigan tanah berburu
Waidoko klai iren waidoko bagi hasil buruan
Aku tuku au wohe aku berlayar, aku mengayuh
Tuku lekuk le a berlayar terus ke mari
Mai saing moan kolitatit tiba di moan kalitatit
Kolitatit more human kolitatit seorang pemarah
Wua ene nodin hoit tak menyuguhkan sirih pinang
Bako ene bajak papan dan rokok
Au lekuk le a aku terus ke mari
Le soda ota bola wolon sampai di soda ota bola wolon
Soda ota bola wolon di sota ota bola wolon
sutun satat wai pare bisik bisik di waipare
watu milok meluk meten watu milok meluk meten
long leu watu tara kuturunkan jangkar
du guman ka daa poa sampai semalam suntuk
au dadi gurun an aku jadi benang
au dadi tali an dan jadi tali
au bae reta wawo ku daki ke atas
e ili koli kokowahor lewat ili koli kokowahor
nian apin goet tana getan bumi apin goot tana getan
tana detun desan wohen tanah yang datar dan rata