The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by heriy5302, 2021-09-10 02:53:02

ANTROPOLOGI BUDAYA SIKKA

Buku Antrologi Budaya Sikka

Keywords: #ABS

Ama moan kedong leder ayahanda kedong leder
Kedong leder more human ayah kedong leder seorang pemarah
Wuat ene nodin hoit tidak suguhi sirih pinang
Bako ene bajak papan tanah yang datar dan rata

Au ledu segung ripa a ku menyusur ke timur
Lowe jok ngore ngoong jalan terlunta-lunta
Ei erit nara nanen di kampung bei dan nara
Wolon gelot betan dadin memotong bukit wolon gelot

Au tuku ripa a kukayuh menuju timur
Saing dobo dora nata ulu tiba di dobo dora nata ulu
Nian e detun epan bumi ini datar bagus
Tana e desan wohon dan tanah ini rata baik

Nian e detun epan bumi ini datar bagus
Tana e desan wohon tanah ini rata bagus
Gea wot boter too makan sisa beli emas
Minu olik hebu balik minum sisa beli gading

Tiga simpulan yang dapat dibuat berdasarkan dua syair adat tersebut sebagai berikut:
1. Masyarakat setempat meyakini adanya daya magis yang ada pada Ian Tena, yaitu

mendatangkan hujan dan angina badai.
2. Syair adat itu memperlihatkan bahwa perahu dan masyarakat yang membawanya

berasal dari tempat lain. Dalam kisah diceritakan secara turun temurun dan hidup
dalam ingatan kolektif masyarakat disebutkan tempat-tempat singgahan, antara
lain: siam sina, malaka, Bima, Manggarai, Labuan Bajo, Reo, Ruteng, Soge (Ende).
3. Masyarakat yang muncul dalam kleteng latar itu adalah mereka yang sudah
mengenal pertanian. Mereka itu mencari tanah yang subur dan kediaman yang
lebih baik.

E. WARISAN KEBUDAYAAN DONGSON
Menurut Theodor Verhoeven, SVD (seorang etnolog) yang banyak melakukan

penyelidikan kepurbakalaan di Flores dan juga pendiri “museum blikon blewut” di
Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero mengatakan bahwa perahu ini berasal dari zaman
Dongson. Ian Tena adalah salah satu dari sekian artefak perungu yang terletak sekitar 8
km dari Maumere ke arah barat. Selain itu, ditemukan juga artefak metal di Bajawa
kabupaten Ngada, sebuah pisau belati yang dianggap sebagai satu dari peralatan metal
yang tertua di Indonesia. Kebudayaan logam yang terkenal di Indonesia berasal dari
Dongson, nama lembah sungai dan kota kuno di Tongkin yang menjadi pusat kebudayaan

perunggu di Asia Tenggara. Kebudayaan ini telah dibawa masuk ke Indonesia pada tahun
500 SM oleh para migran Deutro Melayu.

F. MASYARAKAT PERAHU
Menurut Bernhard A.G. Vreklage, SVD (seorang etnolog) yang melakukan

penelitian lapangan di Nusa Tenggara pada tahun 1930-an yang kemudian menjadi
professor etnografi pertama di Universitas Nijmegen Belanda, paling kurang menerbitkan
dua laporan penelitian tentang masyarakat perahu. Dari penelitian itu beliau
menyimpulkan bahwa dalam masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, gambaran
tentang masyarakat sebagai suatu perahu sudah berkembang sekitar tahun 200 SM.

Secara umum laporan singkat mengenai penelitiannya tentang perahu dalam
kebudayaan Flores darat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu:
1. Berkembangnya ide masyarakat perahu di Indonesia pada umumnya. Ide tentang

masyarakat perahu itu ditemukan dalam studi oleh Tilman tentang gambaran perahu
sebagai kapal jiwa-jiwa di atas kain-kain tua dari Sumatra Selatan (1938) Penelitian
Roeder (1939) tentang pelataran megalithis di Ambon yang disebut perahu,
penelitian Maasland (1939) di kepulauan Batu bahwa peti jenasah biasanya
berbentuk sebuah perahu.
Umumnya di Sikka, kampung-kampung tradisional dibagi atas bagian, yaitu: “reta
wolo, natar lorang, lau wai”. Orang-orang mati biasa dikuburkan dalam posisi seperti
letak kampung ini, yaitu: kepala ke arah gunung dan kaki kearah laut. Rupanya nama
yang bisa merujuk ke masyarakat perahu seperti digambarkan oleh Profesor Vroklage
adalah nama salah satu jabatan di kampung, yaitu: “mangun lajar”, yang dalam
Bahasa Sikka berarti tiang utama atau tiang agung kapal.
2. Hasil penelitian mengenai tena itu di Flores Tengah dan Flores Timur. Beliau memberi
perhatian khusus pada pelataran megalitis dan rumah. Bahwa ditemukan balok
korke, rumah adat flores timur menyerupai perahu dan korke itu sendiri disebut:
jangkar kampung, ujung-ujung balok korke diukir menyerupai perahu.
3. Beliau memberikan perhatian khusus pada Ian Tena, yaitu tentang awalnya menurut
cerita masyarakat setempat, detil-detil perahu dan perbandingannya dengan detil
pada salah satu relief di Candi Borobudur. Menurutnya, detil-detil pada miniature Ian
Tena, yang tidak mempunyai tiang layar dan layar, memperlihatkan kesamaan denga
perahu komunal di wilayah Indonesia Timur pada masa lalu. Bentuk luar dan garis-
garis melengkung ke bawah dari arah depan ke belakang dari Ian Tena mempunyai
kesamaan dengan relief perahu di Candi Borobudur.

G. TANA PUAN DAN TUAN PIREN
1. Tana Puan
Daerah pemukiman pertama dihuni oleh sepasang keluarga (mencari daerah subur)
sampai turun temurun. Kemudian disusul oleh keluarga yang lain dan sahabat
kenalan. Penghuni pertama disebut: “Tana Puan”. Salah satu legenda lisan atau asal-

usul mitologis yang menyebut nama: Ama Lago dan Dua Bela. Dalam cerita lisan secra
turun-temurun, Eban Watan seagai leluhur orang Dobo. Nama lengkapnya: “Eban
Watan Tana Rewu, Eban Watan Rotan Loro”. Eban Watan menikah dengan Koi Neni
Ian. Anak-anak mereka adalah: Dua Wigu Wara, Gola Guer Dua Hape, dan Sado Alok
Meteng. Nama anak laki-laki mereka Alok yang menjadi nama awal pemukiman yang
dikenal nama Maumere.
Sekarang ini ahli waris sekaligus pemilik Ian Tena adalah Lepo Tana Puan Dobo.
Umumnya diyakini bahwa leluhur Tana Puan adalah orang pertama yang mendiami
suatu kampung atau Kloang. Sebab-sebab terjadinya pemukiman, sebagai berikut:
a. Mencari daerah subur
b. Karena bencana alam
c. Karena terserang wabah penyakit
d. Karena peperangan
e. Karena program pemerintah (transmigrasi).
Tugas Tanah Puan adalah sebagai berikut:
a. Pemegang hak ulayat.
b. Penentu batas wilayah (beak bewer).
c. Mengadakan ritual.

2. Tuan Piren
Tuan Piren atau olang piren (ber man) adalah tempat seperti ini dihuni oleh Makhluk
halus yang disebut “Ubek manar”. Kemudian secara defakto, tuan piren adalah
tempat pemujaan komunitas setempat. Masyarakat setempat meyakini bahwa nitu
noan/ubek manar (roh-roh) yang berdiam di batu-batu, pohon-pohon besar, yang
umumnya ada di tuan piren / olang / olang piren.

BAB VII
PERMAINAN SEGA

Setelah pelajaran ini selesai, siswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan pengertian sega.
2. Menjelaskan waktu/peristiwa permainan sega dilakukan.
3. Menjelaskan latar belakang sosial budaya permainan sega.
4. Menjelaskan latar belakang sejarah perkembangan.
5. Menentukan jumlah peserta/pelaku dalam permainan sega.
6. Menjelaskan alat/perlengkapan dalam permainan sega.
7. Menjelaskan jalannya permainan.
8. Menjelaskan peranan masa kini dalam permainan sega.
9. Menjelaskan tanggapan masyarakat terhadap permainan sega.

A. Pengertian
Permainan ini berasal dari Kabupaten Sikka. Kata Sega atau segong berasal dari Bahasa
Sikka Krowe. Kata sega / segong artinya berlari / berlompat hanya satu kaki. Dalam
permainan sega / segong sebelah kaki terangkat, selain melompat, pemain pun harus
mengangkat salah satu kaki. Dengan demikian sega/sogeng berarti melompat sambil kaki
sebelah diangkat. Permainan ini dikenal di Kabupaten Flores Timur dengan nama
“kasegek” yang berarti jalan/lompat dengan satu kaki, sedangkan di Kabupaten Kupang
dikenal dengan nama “siki loka”.

B. Peristiwa / Waktu
Permainan sega/segeng dapat dilakukan dalam waktu manapun baik pada musim
kemarau maupun pada musim hujan pada pagi atau sore hari. Pada musim hujan
permainan ini dapat dimainkan di dalam rumah misalnya di teras rumah.

C. Latar Belakang Sosial Budaya
Permainan sege/segeng tidak mengandung suatu resiko dan dimainkan setelah selesai
bekerja. Fungsinya untuk mengisi waktu kosong, sifatnya rekreatif, biasanya dimainkan
oleh anak-anak yang tempat tinggalnya berdekatan atau sekelas. Permainan ini sudah
bersifat umum dan tidak membedakan pesertanya dalam kelompok sosial tertentu.
Gunanya untuk mempererat hubungan anak-anak sekelas atau anak-anak yang
bertetangga.

D. Latar Belakang Sejarah Perkembangan.
Menurut cerita,permainan sega/segeng sudah ada sejak dahulu tetapi tidak diketahui
dengan pasti kapan mulai dimainkan, bukan merupakan asli daerah sikka. Tempat asal
dan pembawa permainan inipun tidak dapat diketahui,dan permainan ini masih digemari
sampai sekarang.

E. Peserta/Pelaku
1. Jumlah
Peserta berjumlah 2 atau 4 orang yang dibagi dalam 2 kelompok. Lebih sering
dimainkan dengan jumlah peserta 2 orang.
2. Umur
Usia peserta 5 sampai 12 tahun.
3. Jenis kelamin
Peserta hanya anak-anak wanita,kadang-kadang juga diikuti anak laki-laki yang
berumur 5 sampai 6 tahun.
4. Kelompok sosial
Peserta tidak dibedakan menurut kelompok sosial masyarakat

F. Peralatan/perlengkapan
Perserta berpakian biasa.setiap peserta menyediakan untuk dirinya sebuah batu(Watu
edan). Edan yang dipakai selalu berupa benda yang ceper seperti batu atau pecahan
periuk tanah, kumbang,dan lain-lain.dalam permainan ini dalam suatu bunyi musik atau
lagu tertentu.

G. Jalannya permainan
1. Persiapan
a. Lapangan atau tempat
b. Tempat yang digunakan tidak terlalu luas :
Panjangnya kurang lebih 2,5 meter dan lebar kurang lebih 0,75 meter, dengan
ukuran ini peserta membuat denahsesuai kemauan mereka. Permainan
sega/segeng memiliki dua bentuk,yaitu :
- Bentuk empat persegi panjang lapangan dan campurannya dengan bentuk
lingkaran. Dalam bentuk empat persegi panjang lapangan dibagi dalam 8
kotak dengan rincian 4 kotak tunggal dan 2 kotak rangkap.
- Bentuk campuran empat persegi dan lingkaran, lapangan dibagi dalam 4
kotak persegi panjang dan 8 kotak yang berasal dari 1 lingkaran

2. Aturan permainan
Aturan dalam permainan sega/segeng sebagai berikut :
a. Pemain dilarang menginjak garis batas kotak lapangan. Sering diadakan aturan
yang lebih ketat yaitu jarak antara garis kotak denagn kaki pemain harus lebih
dari lebar tiga jari.
b. Edan pemain tidk boleh mengenai garis kotak atau melewati garis kotak dan
jaraknya dengan garis kotak harus melebihi lebar tiga jari.
c. Pemain yang telah memenangkan satu ronde permainan berhak memperoleh
satu kotak (istilahnya “rumah”) dan pemain tersebut berhak menginjakkan
dengan kedua kakinya, sedangkan lawannya tidak boleh menginjak kotak
tersebut.

d. Permainan dapat dilanjutkan tahap yang telah dicapai walau salah satu pemain
memenangkan satu ronde.

e. Edan tidak boleh jatuh,misalnya pada tahap edan diletakkan di atas ubun-uban.
f. Penentuan kalah menang didasarkan atas jumlah kotak yang diperoleh.
g. Tangan pemain tidak boleh menyentuh pada waktu mengambil edan (maksutnya

tangan yang tidak dipakai untuk mengambil edan).
h. Jika edan telah diletakkan pada salah satu anggota badan sesuai tahap maka

pemain juga dapat melakukannya jalan tanpa melihat kotak asalkan setelah
sampai ke kotak satu kakinya di angkat dan selanjutnya pergantian kaki sampai
mencapai finis.
i. Pemain di larang menginjak kotak ysng ada edan lawan kecuali dalam bentuk
campuran dengan lingkaran.
j. Edan pemin tidak boleh mengenai edan lawan bila sama-sama meletakkan edan
dalam kotak yang sama.
k. Pemain mengambil edan dengan berpijak pada kotak terdekat.
l. Dalam permainan yang memakai bentuk empat persegi semua gerakan selalu
denagn sebelah kaki terangakat,kecuali dalam kotak yang berasal dari lingkaran.
Dalam bentuk lingkaran kedua kaki pemain menginjak masing-masing satu kotak.
Untuk pindah ke kotak lain maka kaki kanan mundur ke tempat kaki kiri yang
terletak di depannya. Apabila terjadi kesalahan seperti yang disebutkan maka
terjadi pertukaran giliran bermain.

Yang mendapat giliran pertama ditentukan melalui sut-sutan.

3. Tahap permainan
Permainan ini dibagi dalam tahap-tahap yang dapat dibedakan berdasarkan tempat
meletakkan edan,sebagai berikut :
a. Tahap edan di kotak
Pada saat ini edan dibuang ke kotak yang terdekat sampai yang terjual.
Gerakan yang dilakukan setelah membuang edan ialah melompat dari satu
kotak ke kotak lain. Setelah sampai ke kotak terujung,pemain kembali lagi ke
kotak yang terdekat dengan edannya untuk mengabil edannya lalu kembali ke
tempat semula.jika ia berhasil, ia dapat melanjutkan membuang edannya ke
kotak kedua dan seterusnya sampai semua kotak mendapat giliran lalu dapat
melanjutkan ke tahap kedua.
b. Tahap edan diletakkan pada anggota badan.
1. Tahap kaki
Pada tahap ini edan diletakan pda jari kaki. Pemain melompat dari satu
kotak ke kotan lain. Edannya diletakkan pada kaki yang diangkat. Setelah
sampai ketempat semula edan dilambungkan dan harus ditangkap
olehnya. Jika berhasil ia dapat maju ke tahap tangan.
2. Tahap tangan
Pada tahap ini edan diletakkan pada jari tangan. Pada tahap tangan, ada
dua cara yaitu : edan diletakkan dalam tangan terbuka dan tertutup.

Gerakan sama dengan tahap kaki, jika kedua cara ini dapat dilaksanakan
dengan baik pemain dapat maju ke tahap berikutnya.
3. Tahap meletakkan edan dipertengahan tulang tangan (antara siku dan jari
tangan dibuka). Gerakan yang dilakukan sama dengan tahap kaki. Setelah
sampai ke tempat semula, edan harus ditangkap oleh pemain.
4. Tahap meletakan edan di persambungan tulang lengan dan tangan
(tangan terbuka). Gerakan yang dilakukan sama seperti tahap kaki.
Setelah kembali ke tempat semula edan harus ditangkap oleh pemain.
5. Tahap dahi.
Edan diletakkan di dahi atau dekat mata. Gerakan dapat dilakukan dengan
melompat atau berjalan tetapi kaki sebelah tetap diangkat. Setelah
kembali ke tempat semula edan harus dapat ditangkap oleh pemain.
6. Tahap Ubun-ubun
Edan diletakkan di ubun-ubun. Gerakan seperti pada tahap dahi. Setelah
pemain kembali ke tempat semula, pemain berusaha dapat menangkap
edannya. Selanjutnya setelah berhasil menangkap, pemain membelakangi
kotak lapangan dan membuang edannya ke kotak lapangan. Bila berhasil
maka pemain tersebut dapat memiliki satu kotak atau satu rumah.

4. Konsekuensi Kalah Menang
Pemain yang kalah tidak menginjak kotak yang telah digaris oleh lawannya. Apabila
kedua pemain itu sama trampil maka ada kemungkinan keduannya memperoleh
jumlah rumah yang sama banyak. Namun keadaan seperti ini jarang terjadi karena
memakan waktu yang sangat lama. Banyak kali setelah tiga atau empat ronde,
mereka berhenti bermain. Kemenangan dihitung sesuai dengan jumlah rumah yang
diperoleh. Biasanya setelah selesai permainan, mereka saling berjanji untuk bermain
lagi hari mendatang.

H. Peranan Masa Kini
Dalam kehidupan sehari-hari wanita biasanya dapat melaksanakan pekerjaan dalam satu
waktu, misalnya memasak sambal menggendong bayi, memasak sambal memintal
benang dan sabagainya. Keseimbangan perlu ada dalam hal seperti ini. Permainan ini
pada dasarnya bersifat latihan keseimbangan bagi anak anak wanita untuk dapat
melaksanakan tugasnya pada masa mendatang. Peranannya dari dulu sampai sekarang
tetap walaupun zaman sekarang pekerjaan wanita sudah berkurang dengan adanya
pembantu atau dibantu laki-laki.

I. Tanggapan masyarakat.
Menurut masyarakat, permainan ini memberikan anak wanita bekal ketrampilan untuk
dapat melakukan tugasnya kemudian hari. Permainan ini juga mempunyai fungsi
mempererat hubungan antara anak-anak wanita, mengisi kekosongan waktu, dan
membina ketelitian.

GAMBAR PERMAINAN SEGA
SEGA KRUS

SEGA ROK

SEGA SURAT

BAB VIII
WATU MAHE

Setelah pelajaran ini selesai, siswa diharapkan dapat:
1. Menyebutkan macam-macam watu mahe.
2. Menjelaskan bentuk dan macam watu mahe.
3. Menjelaskan jenis dan letak watu mahe.
4. Menjelaskan tentang pihak yang berperan dalam ritual adat di watu mahe.
5. Mengucapkan kata-kata adat dalam ritual di watu mahe.

A. Pengertian watu mahe
Watu mahe terdiri dari dua kata, yaitu “watu”, artinya batu mahe (menhir). Jadi watu
mahe adalah batu berbentuk dolmen (pelataran) yang dipasang di tengah kampung.
Sebagaimana diketahui, latar belakang warisan megalitik ini mempunyai kaitan dengan
upacara penyembahan leluhur dan penguburan.
Kampung-kampung (kloang-kloang) tradisional di Kabupaten Sikka mempunyai watu
mahenya masing-masing.

B. Macam-Macam Mahe
Watu mahe itu dapat dibagi sebagai berikut:
1. Mahe suku (mahe wisung)
Mahe suku dibangun suatu pelataran di tengah kampung dan menjadi pusat
pemujaan komunitas (suku tertentu) di dalam kampung tersebut. Misalnya lodo
huer. Lodo huer terdiri dari kata lodo artinya melepaskan, dan huer artinya
membayar, menebus. Lodo huer artinya usaha menebus atau membebaskan nitu
(arwah), dari segala kesalahan agar memperoleh keselamatan abadi.
Fungsi ritual lodo laka (lodo huer) sebagai berikut:
a. Untuk membersihkan nitu (arwah) dari segala dosa yang telah diperbuat di dunia.
b. Untuk nitu (arwah) tersebut dapat masuk ke nian seu.
Pelaksanaan lodo laka (lodo huer) sebagai berikut:
a. Lodo
Persiapan lodo antara lain: nasi, daging, ebu, kabor, padi, watan, watar gahar,
dan lain-lain. Bahan-bahan yang telah dilepaskan di halar robong (kolong tempat
tidur).
b. Loka
Persiapan loka antara lain: nasi, daging, moke, dan lain-lain piong tewek di mahe
wisung.
Leluhur mempunyai kepercayaan bahwa setelah hidup di dunia masih ada kehidupan
baru di dunia lain yang mereka sebut: “nian tana ha mamat” (di dunia sebelah) yaitu:
Lau nian nitu natar” (kampung arwah).

Menurut kepercayaan leluhur bahwa melalui ritual yang dilaksanakan dengan istilah:
“meluk wair den lengi”, bersih dan mulus berarti watu loe tersebut telah dikuduskan
(disakralkan) sehingga mau dibebaskan dari beban duniawi, dan watu loe sudah layak
menjadi tempat peletakan sesajian. Watu loo adalah symbol si mati. Watu loe
diletakkan di wua mahe yang di kebun, dengan lantunan syairnya sebagai berikut:
“Nimu naa giit nora nian
Nian nata mangan nara tana
Ita ua uma nata mai piong
Kare tua naha mai tewok
Tau glabe nabe mai saing
Tena gewong naha wai tenan
Weke tahi naha mai neni
Pano lalan naha wai haweng
Artinya mencapai sesuatu menyangkut keperluan apa saja kita harus dating
mengadakan upacara di tempat tersebut (neni not e wua mahe).
Dengan demikian maka noan yang bersangkutan sudah bisa menembus wula wutu
dan layak menjadi penghuni nian seu olang sareng (surga tempat kudus), dan watu
loe sekarang sudah berubah fungsi dari batu biasa menjadi saran komunikasi antara
orang hidup dan orang mati. Ini merupakan rahasia yang memiliki makna terdalam
yang perlu diwariskan kepada anak cucu.

2. Mahe Noan (Mahe Lere Wulan Nian Tana)
Selain mahe suku, ada juga mahe noan (mahe watu pitu) dibangun di suatu pelataran
tengah kampung dan menjadi tempat pertemuan antara Moan Gai dan watu pitu
(ketujuh dewan adat). Mahe noan terdiri dari kata, mahe artinya menhir, mean artiya
pemimpin. Jadi mahe moan adalaran pelataran batu yang dibuat dalam bentuk segi
empat dan di ujung pelataran tersebut didirikan tujuh batu (7 tumok)
melambangkan tujuh dewan adat (atau watu pitu) sebagai tempat musyawarah atau
siding antara pemerintah dan dewan adat dalam menetapkan dan memutuskan
peraturan-peraturan yang berlaku di wilayah tersebut.

3. Mahe Nuku
Mahe nuku terdiri dari dua kata, yaitu mahe artinya menhir, dan nuhu artinya
perang. Mahe nuhu berarti perang mahe perang.
Pada zaman dahulu lebih banyak terjadi perang local atau perang antara suku dengan
suku, kampung dengan kampung. Dalam perang tersebut untuk memperebutkan
wilayah, harta, atau mempertahankan harga diri.
Dalam perang ini komandan dan pasukan maju ke medan laga. Pertempuran berakhir
setelah kepala hulubalang (komandan) musuh dipenggal. Pemenggalan ini disambut
dengan sorak-sorai dan nyanyian kemenangan:

Contoh : Lamen hokor watu apar
Guman gogo leron lolor
Tubu nabe rebu
Kota nane kawat

4. Mahe Dara Uran
Wate mahe uran dara terdiri dari empat kata. Watu artinya batu, mahe artinya
menhir (pelataran), uran artinya hujan, dara artinya panas.
Kampung-kampung (kloang) tradisional di sikka mempunyai watu mahe dara uran
masing-masing. Watu mahe dara uran dibangun di tempat tertentu. Di Kabupaten
Sikka ini dikenal dua musim, yaitu enam bulan musim hujan (bulan November,
Desember, Januari, Februari, Maret, April), sedangkan musim panas/kemarau (bulan
Mei, Juni, Juli, Agustus, September dan Oktober). Tetapi kadang-kadang dialami
misalnya musim kemarau lebih lama (panjang) atau sebaliknya musim hujan lebih
lama (panjang). Maka Tana Puan atau Pamong mengadakan upacara / ritual,
misalnya minta hujan.
Persiapan : ian kekor, pare beban, tempurung/korak 1 buah yang disebut luli.
Disiarkan dengan kabor kubar 1 buah, kemudian Tana Puan melaksanakan upacara
dengan lantunan syair sebagai berikut :

Au neni ora ina
Ina nian tana wawa
Au plawi ora ama
Ama lero wulan reta

Ina reta klu wutun
Deri kodong deri mot
Jeka beli nora kowa
Kowa ola gemu uran

Ama reta kowa lolo
Gera teleng gera boleng
Jeka beli nora klu
Klu ola lua apun

Kowa mai soba tana
Klu mai putung watu
Gebu kewut gen kewot
Begu dedo wula wutu

Hile pleak ilin watan
Wangak mapitara ola nitit ola pedet
Uran sina kimang buleng
Do nurung ha negar

Setelah selesai lantunan syair tana puan desak kabor di watu mahe dara uran
tersebut, kemudian akan turun hujan lokal di wilayah tersebut.
Kemudian upacara minta panas dengan bahan persiapan sebagai berikut : Ian keker,
pare hoban, luli, dan nyalakan api di tempat tersebut. Kemudian tuan tana (tana
puan) melaksanakan ritual dengan lantunan syair sebagai berikut :

Au neni ora ina
Ina nian tana wawa
Au plawi ora ama
Ama lere wulan reta

Au neni e ina dua
Neni du mihin plahi
Au plawi e ama moa
Plawi du glekun glerek

Ina reta klu wutun
Deri kodong deri mot
Doe nora uran puan
Nadar reta ene plaar

Amar eta kowa lolo
Gera teleng gera boleng
Nadir nora wair matan
Gegun reta ene belung

Ami neni e ina dua
Ami plawi e ata moa
Kamang poto leu oti uran sina
Long beli ami dara jawa

Setelah upacara selesai tana puan membakar pare koban dengan luli sekaligus, tidak
lama kemudian hujan akan berhenti dan diganti panas secara lokal saja di tempat
tersebut.
Mahe nubu mempunyai kekuatan gaib apabila mahe tersebut didarahi dengan darah
manusia (mein ata bian). Pada zaman dahulu orang kaya bisa beli maba (hamba),
sehingga maba tersebut disembelih dan darahnya didarahi pada watu mahe nuhu
tersebut.
Di setiap kampung / kloang tradisional banyak terdapat watu mahe gete (watu mahe
suku, watu mahe lero wulan nian atau watu mahe moan) dan watu mahe ketik
(mahe-mahe maten).



BAB IX
STATUS MANUSIA MENURUT ADAT

Setelah pembelajaran ini selesai kamu diharapkan mampu :
1. Menjelaskan status Wai Gete dalam keluarga.
2. Menjelaskan status aid oi dalam keluarga.
3. Menjelaskan status wai erom deo.
4. Menjelaskan Me Buan dalam keluarga.
5. Menjelaskan Me Pi Ara dalam keluarga.
6. Menjelaskan Me Bekat dalam keluarga.
7. Menjelaskan Me Heten dalam keluarga.
8. Menjelaskan Me Wihi tai teme dulak dalam keluarga.
9. Menjelaskan Me Dopo Aman dalam keluarga.
10. Menjelaskan Me Eron Deo dalam keluarga.
11. Menjelaskan Pu gete dalam keluarga.
12. Menjelaskan Pu Sakang duen dalam keluarga.
13. Menjelaskan Pu Lepe Laban dalam keluarga.
14. Menjelaskan Pu Bekat dalam keluarga.
15. Menjelaskan dua wen det dalam keluarga.
16. Menjelaskan dua deri lepo dalam keluarga.

Status manusia menurut adat adalah mengenai peran serta kedudukan seseorang sesuai
aturan adat yang menyangkut hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya terhadap sebuah
keluarga besar atau suku. Menurut pandangan adat bahwa status manusia itu terbagi atas :

A. Status Istri
Status istri dalam keluarga terbagi atas :
1. Wai Gete
Wai gete adalah istri yang dipinang melalui proses adat yang sah. Istri pertama (Wai
gete) ini mempunyai hak penuh atas suami serta semua hak miliknya. Dan anak-anak
dari istri pertama ini menjadi pewaris harta bapak.
2. Wai Dei
Wai dei adalah istri kedua.
Yang menjadi sebab adanya istri kedua adalah :
a. Istri pertama tidak mampu mengurus keluarga. Hal ini menimbulkan kekecewaan
pihak suami. Suami terpaksa melamar perempuan lain lagi yang bisa mengurus
keluarga. Dan istri pertama tetap menjadi istri pertama. Menyangkut jaminan
untuk anak-anak dari istri kedua, diatur oleh keluarga besar dalam suku.
b. Istri pertama tidak sanggup memberikan turunan (mandul). Hal semacam ini juga
dapat menimbulkan kekecewaan pihak suami. Maka atas kesepakatan bersama
istri pertama, pihak suami melamar lagi perempuan lain. Istri pertama yang
membawa sirih pinang dengan tidak mengubah statusnya sebagai istri pertama.

Dalam mengurus dan mengatur rumah tangga, istri pertama berlaku sebagai
mama. Semua anak yang dilahirkan oleh istri kedua, semuanya diurus oleh istri
pertama. Sehingga tidak heran kalau anak-anak istri kedua kemudian lebih saying
dan hormat kepada istri pertama termasuk sanak saudara istri pertama juga
sangat dihormati oleh anak-anak dari istri kedua.
c. Sebab lain terjadi istri kedua adalah:
1. Karena suami tidak tahu diri. Sudah mempunyai istri mengaku bujangan.
2. Ketika masih gadis, istri kedua tergila-gila dengan suami orang. Istri kedua

semacam ini rata-rata kurang diperhitungkan oleh keluarga, karena dinilai
merampas suami orang, walaupun suami yang membohongi dia. Sebutan
untuk istri kedua tersebut adalah “Huma ata lain”.
3. Wai Eron Deo
Wai eron deo adalah istri hasil selingkuhan, karena mau sama mau. Sebab-
sebab terjadinya wai eren deo antara lain :
a. Perempuan tertipu suami orang yang mengaku masih bujang.
b. Perempuan tergila-gila dengan suami orang.
c. Perempuan telah berhutang budi dengan suami orang dan terpaksa

menyerahkan diri.
Lalu bagaimana dengan anak-anak eren deo? Biar bagaimanapun di suatu
saat bila mereka sudah dewasa, maka anak-anak eren deo ini akan mencari
bapaknya. Dan pihak keluarga bapak akan terima mereka dengan senang hati.
Menyangkut warisan, kalau lebih, biar ala kadarnya keluarga bapak akan
berusaha supaya anak-anak eron deo ini juga mendapat bagian (topo aman
hama-hama).

B. Status Anak
Menurut pandangan adat, status anak terbagi atas :
1. Me Buan
Me buan adalah anak kandung yang bakal menggantikan orang tua untuk mengurus
dan mengatur sebuah keluarga besar.

2. Me Piara
Me piara adalah anak tiri. Anak dari istri dengan suaminya sudah meninggal, atau
anak dari suami dengan istrinya yang sudah meninggal. Me piara ini tidak
memperoleh warisan dari bapak tiri. Tetapi ada bapak tiri yang sangat baik, bisa
mewariskan hasil keringatnya untuk anak tiri. Biasanya anak tiri yang berasal dari
mama, bila telah dewasa mereka pulang ke paman mereka. Karena rata-rata cinta
kasih dari paman adalah lebih besar dari pada keluarga bapak.

3. Me bekat
Me bekat atau me piara tetapi bukan anak tiri. Biasanya nenek-nenek kalau sudah
tinggal sendirian, mereka membawa cucu-cucu dan memeliharanya dengan penuh
kasih saying (tena mata naran). Cucu-cucu lebih saying pada nenek. Kadang kala
keluarga baru yang belum punya anak, mereka membawa anak dari kakak adik dan
dijadikan me bekat. Kalau me bekat tersebut adalah seorang putri, maka ketika anak
itu dipinang mereka juga mendapat penghargaan, dengan istilah “Bahar unu klotong”
(bahar artinya mas, unu klotong artinya periuk kecil).
Ada bahar unu klotong dan ada bahar huru tawu. Kalau bahar unu klotong adalah
jatah belis untuk orang yang pelihara. Sedangkan bahar buru tawu adalah jatah belis
untuk putri sulung yang capeh merawat adik-adiknya. Jadi setiap adik yang dipinang,
maka putri sulung berhak terima belis penghargaan (bahar huru tawa). Bahar artinya
mas, huru artinya senduk, tawu adalah sejenis salur yang berbuah ceper. Bahar huru
tawu adalah mas pengawasan. Juga keluarga yang tidak mempunyai turunan, mereka
memelihara anak dari kakak adik yang dijadikan “me bekat”. Me ini yang kemudian
bertanggung jawab di hari tua mereka. Semua harta warisan mereka menjadi milik
me bekat tersebut.

4. Me betan (Me weling heling)
Me artinya anak, beton artinya liar, wihing artinya memberi makan, baling artinya
himpun, terpaksa dihimpun karena sudah terlantar. Me betan atau me wihing heling
adalah anak yang sudah tidak betah lagi dengan keluarga dan orang tuanya, lalu
memilih jalan untuk hidup berkelana. Anak tersebut nyasar di keluarga lain yang
sama sekali tidak mempunyai darah dengannya. Sejak kanak-kanak hingga dewasa
tidak pernah ada satu orang pun dari keluarganya yang dating mencari anak tersebut.
Dan anak ini merasa bahwa keluarga yang menampungnya adalah orangtuanya.
Setelah dewasa, keluarga menampungnya, menjodohkan anak tersebut dengan gadis
kampung mereka, dengan membayar belis dan membagikan harta warisan. Anak
tersebut (me betan) telah menjadi keluarga dengan keluarga yang menampungnya
hingga turun temurun.

5. Me wihi wai tai teme dulak
Me artinya anak, wihi artinya isi, tai artinya perut, teme artinya menyimpan ke
dalam, dulak artinya usus besar. Jadi me wihi tai teme dulak adalah anak yang
dipandang seperti anak yang dilahirkan dari rahim sendiri.
Me wihi wai tai teme dulak ialah sepasang anak (laki-laki dan perempuan) yang
dipelihara dan dijadikan anak, sama seperti anak kandung, karena istri tidak
memberikan turunan (tain tema loran kloban). Me wihi wai tai teme dulak ini
biasanya dua orang. Yang laki-laki diambil dari anak ipar (saudara dari istri) dan yang
perempuan diambil dari anak kakak adik dalam keluarga. Kedua anak ini dinobatkan

menjadi anak kandung mereka. Kedua anak inilah yang kelak akan bertanggung
jawab terhadap mereka di hari tua. Mereka diserahi dengan warisan.

6. Me dopo aman
Me dopo aman (anak memanggil bapak), karena si bapak pernah kawin dengan
mamanya anak ini sampai melahirkan anak tersebut. Me dopo aman artinya anak
hasil selingkuhan (me eron deo), yang setelah dewasa mereka mencari tahu siapakah
bapak mereka. Biasanya yang pergi mencari bapak adalah anak laki-laki. Siasatnya
anak tersebut bukan langsung memperkenalkan diri bahwa dia adalah anak dari
bapak tersebut. Pertama ia pura-pura datang melamar salah seorang putri dari bapak
tersebut. Biar bagaimanapun si bapak tersebut tetap mengenalnya tapi bapak pura-
pura diam dulu. Hanya si mama dengan anak-anaknya tamu baru ini dengan serius.
Nanti sehabis makan minum baru si bapak menjawab bahwa kamu tidak bisa menjadi
suami dan istri, karena kamu adalah anak-anak bapak sendiri. Suasana berubah
menjadi sepih, diiringi dengan isak tangis karena terharu. Kesempatan itulah anak
langsung menanyakan, “jika benar saya adalah anak bapak, dimanakah hak saya?”

7. Me eron deo
Me eron deo adalah anak dari hasil perselingkuhan. Mengenai ini sdah dijelaskan
tentang wai eron deo.

C. Status Keponakan
Menurut pandangan adat bahwa status keponakan itu terbagi atas :
1. Pu Gete
Yang dimaksud dengan pu gete adalah ponakan sulung (ponakan laki-laki). Biasanya
hubungan antara paman dan ponakan sulung rasanya sangat akrab. Mereka seperti
kakak dan adik saja. Rasa belasungkawa dari pu gete terhadap paman adalah sangat
besar. Bila paman tertimpa suatu masalah, secara ikhlas pu gete tersebut selalu
berada di depan.
Di saat meminang nona, walaupun yang bertanggung jawab atas belis adalah pihak
keluarga bapak, tetapi paman dan tanta (aa/naa) mereka selalu hadir di depan,
karena peranan yang cukup penting. Istilah adatnya “Naha dopo mora Aan duan, wai
litin naha giit. Ble mora pu lamen, mai ler beli naha mangan”. Artinya panggilah
tantamu dan pamanmu datang pertahankan menjadi kokoh (kuat).

2. Pu sakang duen
Pu artinya ponakan, sakang artinya menunggang, duen artinya batas. Pu sakang duen
artinya ponakan yang berada di tengah-tengah antara pihak bapak dan pihak paman.
Warisan dari ….. dia dapat.
Terjadi sakang duen karena pihak paman (pu lame) yang menghendaki keponakan
sulung tersebut untuk dijadikan kakak adik (wue wari). Tetapi menurut adat bahwa

putra sulung statusnya tidak boleh keluar dari keluarga, karena putra sulung tersebut
bakal jadi pengganti bapak untuk menangani semua urusan dalam keluarga wua
mahe (perkampungan arwah). Karena paman memilih yang sulung maka dia harus
berada di tengah-tengah. Karena statusnya berada di tengah-tengah inilah maka
keponakan tersebut disebut: “pu sakang duen”. Pu sakang duen bertugas
memperhatikan keluarga bapak juga keluarga paman.

3. Pu lepo laban
Pu lepo laban (pu laban meran) adalah ponakan yang diangkat oleh paman untuk
dijadikan kakak adik dan bertanggung jawab atas keluarga paman. Statusnya sebagai
kakak dan adik dari paman. Pu lepo laban tidak mendapat warisan dari bapak. Ia
hanya mendapat warisan dari paman. Jika melamar istri semua belis ditanggung oleh
paman. Pihak bapak boleh bantu apa adanya. Garis keturunan dari pu lepo laban ini
berpindah jalur dari bapak ke jalur paman. Bila sesewaktu ia pergi mengunjungi
orang tua, maka ia diterima sebagai saudara dari mama dan sebagai ipar dari bapak.
Oleh-oleh untuk ia kembali adalah uang dana yam.
Apakah bedanya pu sakang duen dan pu lepo laban??
Jika yang dipilih adalah putra sulung, maka statusnya adalah pu sakang duen.
Tugasnya memperhatikan keluarga bapk juga keluarga paman. Ia mendapat warisan
dari bapak, juga warisan dari paman.
Jika yang dipilih adalah putra di luar putra sulung, maka statusnya adalah pu lepe
laban. Tugasnya memperhatikan keluarga paman. Ia memperoleh warisan hanya dari
paman. Mama memandangnya sebagai saudara dan bapak memandangnya sebagai
ipar. Menyangkut jalur hak dan kuasa, sudah berpindah dari pihak bapak ke pihak
paman. Bai pu sakang duen maupun pu lepe laban menyangkut belis (a lin weta
welin), keduanya mempunyai hak yang sama dengan paman.

4. Pu bekat
Pu bekat adalah ponakan kesayangan paman, yang dipilih dan dijadikan sebagai anak.
Status pu bekat ini sama sekali tidak mempengaruhi statusnya sebagai anak dalam
keluarga bapak. Ia dipilih oleh paman atas dasar kasih saying. Karena paman telah
memilihnya maka paman pun secara ikhlas turut memperhatikan dan memikirkan
masa depan, kelangsungan hidup dan kesejahteraannya.
Pu bekat ini kemudian akan bertanggung jawab memperhatikan paman di saat hari
tuanya. Penyerahan hak milik dari paman pengasuh kepada pu bekat untuk
selamanya menjadi milik pu bekat. Kakak adik sepupu dari paman pengasuh tidak
punya hak untuk intervensi. Mereka boleh campur tangan kalau penyerahan tersebut
diambil dari harta pusaka.

D. Status Anak Perempuan
Menurut adat bahwa status anak perempuan itu terbagi atas :
1. Dun wen det
Dun artinya perempuan, wen det artinya berpindah tempat / keluar rumah. Dun wen
det artinya perempuan yang kalau sudah nikah harus keluar dari rumah dan pergi
tinggal di rumah suaminya. Dalam hidup setiap hari ia bertugas mengatur dan
mengurus rumah tangganya. Ia boleh datang ke rumah orangtua nya kecuali ada
perlu penting.
2. Dun deri lepo
Dun deri lepo adalah perempuan yang setelah menikah tidak bisa keluar rumah
bersama suaminya karena dalam rumah tidak ada saudara lelaki. Dua deri lepo
adalah putri sulung yang harus menetap di rumah untuk mengurus orang tua dan
adik-adiknya. Laki-laki calon suami sudah disampaikan pada saat ia datang melamar.
“Jika engkau betul mencintai putriku, maka engkau harus bersedia tinggal di rumah
ini, karena saya tidak mempunyai anak laki-laki untuk mengurus kami”.
Dalam hal bertanggung jawab, status dua deri lepo ini disamakan dengan kakak
adiknya bapak (dadi wue wari e lepo). Semua harta warisan dari bapak menjadi milik
dua deri lepo (kecuali wua mahe). Jika dua deri lepo melahirkan anak laki-laki, maka
putra sulung langsung diberi nama yang sama dengan nama neneknya (baak dari dua
deri lepo). Putra sulung dari dua deri lepo ini bakal menggantikan neneknya (bapak
dari mamanya) dengan menguasai semua warisan dari nenek. Statusnya tidak beda
dengan paman-paman di dalam suku.

Latihan:
1. Jelaskan status Wai Gete dalam keluarga.
2. Jelaskan status wai doi dalam keluarga.
3. Jelaskan status wai eron deo dalam keluarga.
4. Jelaskan Me Buan dalam keluarga.
5. Jelaskan Me Piara dalam keluarga.
6. Jelaskan Me Bekat dalam keluarga.
7. Jelaskan Me Heton dalam keluarga.
8. Jelaskan Me Wihi tai teme dulak dalam keluarga.
9. Jelaskan Me Dopo Aman dalam keluarga.
10. Jelaskan Me Eron Deo dalam keluarga.
11. Jelaskan Pu gete dalam keluarga.
12. Jelaskan Pu Sakang duen dalam keluarga.
13. Jelaskan Pu Lepo Laban dalam keluarga.
14. Jelaskan Pu Bekat dalam keluarga.
15. Jelaskan dua wen det dalam keluarga.
16. Jelaskan dua deri lepo dalam keluarga.

BAB X
KEPERCAYAAN

Setelah pembelajaran ini selesai, siswa diharapkan mampu:
1. Menjelaskan tentang Amapu.
2. Menjelaskan tentang Uhek Manar.
3. Menjelaskan tentang ata bian.
4. Menjelaskan tentang nitu.
5. Menjelaskan tentang noan.

Leluhur mempunyai kepercayaan bahwa :
➢ Ada bapa pencipta yang disebut Amapu
➢ Ada surga yang disebut seu
➢ Ada dunia yang disebut nian tana dan wula wutu
➢ Ada lero wulan yang dianggap sebagai Bapa, yang dinamai Ama Lero Wulan.
➢ Ada bumi yang dianggap sebagai ibu, yang dinamai Ina Nian Tana.
➢ Ada roh yang disebut Uhek Manar.
➢ Ada arwah orang mati yang disebut Nitu.
➢ Ada perubahan wujud nitu yang disebut nean.
➢ Ada manusia yang merupakan makhluk ciptaan tertinggi yang disebut Ata Bian.

A. Amapu
Kata Amapu berasal dari bahasa Sikka Krowe. Ama adalah panggilan untuk seorang
bapak, sedangkan pu adalah kepunyaan atau milik. Amapu artinya kepunyaan bapak atau
milik bapak. Berarti segala yang ada di dunia ini adalah milik bapak. Bapak pemilik segala
yang ada ini oleh leluhur disebut “Amapu”, artinya pusat segala yang ada.
“Amapu kela nete naruk sawe”, artinya Bapa menciptakan segala sesuatu yang ada di
dunia ini.
“Amapu kela baa seu mole dunia nora kenaha sawe”, artinya Bapa menciptakan surga
dan dunia dengan segala isinya. Seu atau surga berada di atas wula wutu.
Dunia ini terbagi atas langit yang disebut “wula wutu” dan bumi yang disebut “nian
tana”. Nian tana wula wutu, artinya bumi dan langit.
Benda-benda yang ada di wula wutu adalah matahari, yang disebut lere, bulan yang
disebut wulan, dan bintang yang disebut dala. Yang ada di wula wutu ialah lere, wulan,
dala. Yang ada di nian tana atau bumi ialah tanah maran (darat), tahi (laut), dan wair
(air). Wilayah di langit disebut nian wulu wutu. Wilayah di bumi disebut nian tana.

B. Uher Manar
Leluhur percaya bahwa ada roh yang disebut uher manar. Di nian wula wutu, ada uhek
manar untuk matahari, ada uhek manar untuk bulan, dan uhek manar untuk bintang. Di
nian tana ada uhek manar untuk mengawasi wilayah di pegunungan, ada uhek manar

untuk mengawasi mata air, ada uhek manar untuk mengawasi laut dan danau, ada yang
menjaga di bukit, ada yang menjaga di lembah dan yang menjaga di sungai.
Uhek manar di nian wulu wutu disebut moan wulan, dan uhek manar di nian tana
disebut tana uhek manar.
Uhek manar adalah roh-roh. Roh-roh itu ada yang baik (roh penolong) dan ada yang
jahat (roh pemangsa). Uhek manar yang baik bertampang putih, uhek manar yang jahat
bertampang hitam. Uhek manar yang bertampang putih bertugas mencatat perbuatan
manusia yang baik, dan uhek manar yang bertampang hitam bertugas mencatat semua
perbuatan yang jelek.
Menurut leluhur bahwa semua data mengenai perbuatan manusia selama hidup akan
ditayangkan kembali kepadanya pada hari pertama saat manusia menghembuskan nafas
terakhir.
Menurut leluhur bahwa nian seu berada di atas wula wutu (di atas langit). Amapu noran
reta seu lape pitu, reta keta lape walu, artinya Bapak di Surga (Tuhan Allah) berada di
tempat yang paling tinggi. Surga berada di atas segala yang di atas. Di atas surga tidak
ada lagi wilayah lain.
Amapu (Tuhan Allah) ada di tempat yang paling tinggi dari segala yang tertinggi untuk
memantau segala hal yang terjadi di dunia.
Karena itu leluhur menyebutnya dengan istilah Amapu matan gete, nia gete nian tana
sawe, artinya Bapak di Surga punya mata yang sangat besar dan bisa melihat segala yang
ada di dunia. “Amapu reta seu noran nete olang sawe”, artinya Bapak di surga berada
dimana-mana.
Leluhur menyebutnya dengan istilah “Amapu gete tana teker, gabar dugi wulan”, artinya
Bapak di surga besarnya memenuhi jagat dan tingginya melampaui langit.
“Amapu puan eon”, Amapu moret nain”, artinya Amapu (Tuhan Allah) tak berawal dan
berakhir.

C. Ata Bian
Ata bian adalah manusia makhluk ciptaan yang tertinggi dari ciptaan lainnya. Manusia
memiliki akal budi dan diberi kuasa untuk menggunakan ciptaan lainnya sesuai dengan
kebutuhannya. Walaupun demikian, ata bian dilarang untuk merusakkan ciptaan lainnya.
Menyangkut hubungan antara ata bian dengan Amapu (Tuhan) adalah vertical. Artinya
dalam bertindak dan bertanggung jawab, ata bian (mausia) langsung bertanggung jawab
kepada Amapu reta seu. Tetapi sebagai makhluk yang berakal budi manusia harus
mengenal dan mampu berakomodasi dengan makhluk ciptaan lainnya seperti uhek
manar yang berada di masing-masing tempat, karena mereka juga tentu mengawasi
setiap tempat di mana mereka berada. Hal ini perlu dijaga agar semua yang berada di
dunia ini dapat berjalan dengan tertib dana man.
Perusakan pohon dan rimba dilarang karena pohon-pohon besar termasuk tempat
tinggal uhek manar (roh-roh). Jika ditebang sebaiknya diadakan ritual terlebih dahulu

untuk memudahkan. Kalau tidak sama seperti mengusir mereka dengan cara kasar,
akibatnya kemungkinan mereka bias lawan. Jika uhek manar sudah marah nanti pelaku
perusakan akan mendapat ganjaran berupa sakit atau gila dan lain-lain. Apabila ata bian
(manusia) sudah sadar akan perbuatannya maka akan diadakan ritual “sisa soba”.
“sisa mitan wai pitu,
Soba maran wai walu”.
Berarti bertobat sungguh-sungguh.
“ruku mai gape wain
Kongong mai piru liman”
Artinya berdamai dengan semua makhluk ciptaan.

D. Nitu
Nitu adalah sebutan untuk arwah orang yang telah meninggal. Leluhur mempunyai
kepercayaan bahwa setelah hidup di dunia ini masih ada kehidupan baru di dunia lain
yang mereka sebut: Nian tana ha papat (di dunia sebelah), yaitu “lau nian nitu natar”
(wilayah arwah).
Prosesnya, setelah meninggal arwah si mati bukan langsung ke nian nitu, tetapi masih
bersama keluarga yang berduka. Kadang-kadang si mati berusaha untuk kembali ke
dalam tubuh yang sudah kaku lalu bangun dan duduk.
Setelah penguburan, arwah si mati pergi ke nian nitu tetapi bukan menetap di sana.
Sleama minggu pertama arwah masih pergi dating mengunjungi keluarga yang
ditinggalkan. Setelah hari ke tujuh, baru arwah tersebut menetap di nian nitu natar. Di
nian nitu, arwah harus melewati penderitaan sebagai tebusan atas segala dosa dan
kesalahan yang pernah dilakukan selama hidup di dunia dengan mengalami proses
pergantian kulit yang disebut “leguk”, kulit pertama yang dianggap sudah najis
ditinggalkan. Setelah tujuh hari, kulit yang baru tadi ditanggalkan lagi dan diganti dengan
kulit baru yang lebih bersih lagi. Proses pergantian kulit ini berlangsung sampai tujuh kali
yang disebut : “Nitu leguk daa wai pitu”.
Setelah mengalami pergantian kulit yang ketujuh, nitu tadi akan berpindah dari nian nitu
natar menuju ke tempat lain dengan berubah wujud.
Di nian nitu telah terentangkan seutas benang dari kutub utara ke kutub selatan. Untuk
menentukan ke tempat mana nitu tersebut berada dan berubah wujud seperti apa,
tergantung dari perjuangannya meniti benang yang direntangkan daru kutub ke kutub
tadi. Hal tersebut tergantung dari perbuatannya selama masih hidup di dunia fana,
ditunjang lagi soal beres atau tidak beresnya ritus yang diadakan oleh orang hidup, juga
penderitaan yang dialami melalui proses leguk setelah menjadi nitu. Jika selama hidup di
dunia ini ata bian selalu berbuat jahat, maka setelah meninggal dunia, nitunya tidak lolos
meniti benang yang direntangkan dan pasti jatuh. Jika jatuh ke laut akan menjadi “noan
tahi loran” dalam wujud binatang-binatang laut. Jika jatuh ke darat akan menjadi “nean
ulu higun” dalam wujud binatang-binatang di darat.

Jika selama hidup di dunia ini manusia (ata bian) selalu berbuat baik maka setelah mati
nitunya akan lolos meniti benang yang direntangkan sampai ke ujung kutub. Setelah tiba
di ujung kutub, nitu yang berhasil dijemput oleh “uhek manar lere wulan” dalam wujud
benda-benda di langit:
“Miu ei nian tana
Raik telan gita dala
Kawa huk mora ami
Ami ei wula wutu”

E. Noan
Noan adalah nitu yang sudah berubah wujud. Nitu yang berubah wujud menjadi binatang
laut disebut “noan tahi loran”. Nitu yang berubah wujud menjadi binatang di darat
disebut: “noan ulu higun”. Nitu yang berubah wujud menjadi benda-benda di langit
disebut “noan lero wulan”. Walaupun nitu telah berubah menjadi noan, dengan tampang
yang paling bersih, namun bisa memasuki nian seu (surge) karena seu itu sangat kudus
(seu olang sareng), dan letaknya di atas wula wutu (di atas ujung bulan). Untuk mencapai
seu, maka noan harus menembus wual wutu dan wula wutu masih tertutup.
Wula wutu bisa terbuka kecuali sudah ada pelaksanaan ritus yang dibuat oleh orang
hidup. Karena itu maka keluarga yang masih hidup harus mengadakan ritus “lodo huer”
yang disebut :”meluk wair den lengi”.
Syair yang dilantunkan sebagai berikut :
“Naha meluk ganu wair
Ganu wair matan wawa napan
Naha den ganu lengi
Den ganu lengi petin”
Artinya air keluar dari batu wadas, minyak yang baru disaring dari kuali.
Upacara lodo huer harus dilaksanakan secara benar menurut petunjuk leluhur. Jika
dilaksanakan tidak benar atau rekayasa, “buut e unet, rema e palik”, maka pintu wula
wutu tidak akan terbuka bagi noan yang bersangkutan, maka noan tersebut akan tetap
mengeluh dan imbasnya keluarga yang masih hidup akan mendapat halangan
bermacam-macam.
Menurut leluhur bahwa untuk bisa masuk di seu (surge), arwah yang disebut nitu tadi
harus bersih sampai sebersih-bersihnya, agar benar-benar bersih, sebab seu itu sangat
kudus. Leluhur menyebutnya “reta seu olang sareng”, artinya surge adalah tempat
terkudus.
Usaha penyucian yang dilakukan oleh leluhur sebagai berikut :
1. Pada saat sebelum penguburan, diadakan upacara penyucian (ritus kematian) agar
arwah si mati dengan mulus melewati perjalanan menuju nian nitu natar (tempat
penyucian atau pengolahan diri).

2. Setelah tiba di nian nitu, arwah mengalami proses penyucian diri selama tujuh kali
yaitu leguk daa wai pitu (berganti kulit sampai tujuh kali), untuk memperoleh kulit
yang paling bersih agar layak menjadi penghuni “nian seu olang sareng (surga)”.

3. Pada saat mau masuk ke seu olang sareng (surga tempat terkudus), arwah yang
disebut noan disucikan oleh keluarga yang masih hiduo dengan ritus penyucian
arwah yang disebut “meluk wair den lengi (lodo huer)”.

Peristiwa pengadaan ritus kematian oleh nenek moyang membuktikan bahwa sejak
dahulu kala, leluhur benar-benar mempunyai kepercayaan mengenai amapu reta seu
olang sareng (Bapa yang ada di surge). Surga yang disebut seu itu adalah tempat
terkudus (seu olang sareng). Karena itu setiap arwah (noan) yang akan menuju ke seu
(surga) harus dicuci bersih betul-betul melalui ritual-ritual agar benar-benar bersih, perti
tukang emas menginginkan mas murni, maka mas tersebut harus disepuh sampai
berulang kali.

Latihan:
1. Jelaskan tentang Amapu!
2. Jelaskan tentang uhek manar!
3. Jelaskan tentang ata bian!
4. Jelaskan tentang Nitu!
5. Jelaskan tentang Noan!
6. Jelaskan tentang usaha-usaha yang dilakukan agar nitu bisa masuk seu!

DAFTAR PUSTAKA

1. Dinas Pariwisata Pemkab Sikka Provinsi NTT. 2006. Pesona Sikka.
2. Da Gomez E.P. dan Oscar P. Mandalangi.2006. Don Thomas Peletak Dasar Sikka

Membangun.
3. Effendhie, Mahmoed. 1999. Sejarah Budaya.
4. Parera, M. Mandalangi. 1993. Tati Lalang Sara Sikka Krowe.
5. Parera, M. Mandalangi. 1998. Kantate / Ngaji Sara Sikka.
6. Parera, M. Mandalangi dan Edmundus Parera. 1981. Kleter Latang.
7. Diogo, Longginus. 2011. Mengenal Sejarah Kabupaten Sikka Secara Utuh.
8. Diogo, Longginus. 2013. Ian Tena Cermin Jati Diri Masyarakat Wolon Dobo.
9. Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN). 2018. Ensiklopodi NTT, Budaya dan

Kesenian.
10. UPTD Arkeologi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional NTT. 2004. Himpunan Permainan

NTT.
11. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2014. Sejarah Indonesia

Kelas X SMA/MA.
12. Brata, Nugroho. Trisnu. 2007. Antropologi Budaya Kelas X SMA.
13. Dasi, Simplysius. 2013. Mengenal Budaya Leluhur.
14. Warta Flobamor. Edisi 44 September 2016.
15. Catatan Harian Penulis.

BIOGRAFI SINGKAT

Nama : PETRUS PETU, S.Pd

TTL : Maget Legar, 24 Agustus 1965

I. Pendidikan

1966 – 1971 : SDK Maget Legar

1972 – 1974 : SMPK Yapenthom Maumere

1975 – 1979 : SMA PGRI Maumere (Pergeseran tahun Pendidikan bulan Januari

dipindahkan ke bulan Juli).

1979 – 1983 : UNDANA Kupang NTT – FKIP Jurusan Bahasa dan Seni, Program

Studi Bahasa Indonesia – D3.

2007 – 2009 : UNFLOR Ende – FKIP – Jurusan Bahasa dan Seni – Program Studi

Bahasa Indonesia – S1.

II. Pekerjaan

1983 – 1984 : Mengajar di SPG Bhaktyarsa Maumere

1984 – 2016 : Mengajar di SMA Negeri 1 Maumere sebagai Pegawai Negeri

Sipil (PNS)

2016 – sekarang : Mengajar di SMA Negeri 1 Maumere sebagai Guru Honor.

1988 – 1991 : Mengajar di SMIP Budi Luhur Maumere sebagai guru tidak

tetap.

1989 – 1991 : Mengajar di SMIP Santo Thomas sebagai guru tidak tetap.

2003 – 2013 : Mengajar di SMAK St. Yohanes Paulus II sebagai guru tidak

tetap.

2014 – 2015 : Mengajar di SMA Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere.

2009 – 2014 : Mengajar di UT SMAN 1 Maumere sebagai tutor.

2014 – sekarang : Mengajar di UT Pokja Dinas PPO, SD Tingkat Maumere.

III. Pendidikan dan Latihan
20 Maret 1996 : MGMP Bahasa Indonesia diselenggarakan oleh Depdikbud
Kabupaten Sikka di Maumere.
15 November 2005 : Pendidikan dan Pelatihan Guru Bahasa Indonesia KTI
Program Kemitraan Kepala Sekolah KTI dan KBI diselenggarakan
oleh Direktorat Tenaga Kependidikan Nasional.
07 Desember 2007 : MGMP Bahasa Indonesia diselenggarakan oleh Dinas PPO
`Kabupaten Sikka.

IV. Penghargaan
13 April 2011 : Satya Lencana diberikan oleh Presiden Republik Indonesia.


Click to View FlipBook Version