The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Amirrudin Lesmana, 2020-12-27 23:57:58

tugas

tugas

HAKEKAT PENIDIKAN ISLAM

A. Hakekat Pendidikan Islam
Agama adalah risalah yang disampaikan Tuhan kepada Nabi sebagai petunjuk

bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam
menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dengan dan
tanggung jawab kepada Allah, kepada masyarakat serta alam sekitarnya.1 Agama Islam
adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai
aspek kehidupan baik duniawi maupun ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah
mewajibkan kepada umat Islam untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan
pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan terarah.2
Bilamana pendidikan kita artikan sebagai latihan mental, moral dan fisik (jasmaniah)
yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan
tanggung jawab dalam masyarakat selaku hamba Allah, maka pendidikan berarti
menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggung jawab. Usaha
kependidikan bagi manusia menyerupai makanan yang berfungsi memberikan vitamin
bagi pertumbuhan manusia.3

Pendidikan pada dasarnya adalah ikhtiar manusia untuk membantu dan
mengarahkan fitrah manusia supaya berkembang sampai kepada titik maksimal yang
dapat dicapai sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Islam sendiri sebagai agama
wahyu yang memberi bimbingan kepada manusia mengenai aspek hidup dan
kehidupannya, dapat diibaratkan seperti jalan raya yang lurus dan mendaki, memberi
peluang kepada manusia yang melaluinya sampai ketempat yang dituju, tempat tertinggi
dan mulia. Sehingga dapat diartikan bahwa agama Islam berarti bidang garapnya adalah
bidang kepercayaan dan kesadaran manusia supaya semakin hari semakin bertambah
terdidik menjadi orang yang beragama tegasnya seorang muslim. Pendidikan Agama
Islam pada hakekatnya adalah pendidikan yang bersumber pada ajaran-ajaran Islam yakni
Al-Qur'an dan Hadits, yang terbagi lagi dalam bidang pendidikan muamalah. Dalam hal
ini Dr. Muhammad Al-Jamaly berpendapat bahwa Pendidikan Agama Islam adalah upaya

1 Ahmadi, Ahmad, Drs dan Noor Salimi, 1991, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, hal: 4, 198.
2 Zuhairini, Dra, Dkk, 1992, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, hal: 98.
3 Arifin, Muhammad, M. Ed, 1994, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, hal 16

pengembangan, mendorong serta mengajak manusia lebih maju dengan berlandaskan
nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Sehingga terbentuk pribadi yang lebih
sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan.4 Pendidikan
Agama Islam dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang
memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita
Islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran
Islam.5

Perumusan pendidikan Islam harus berorientasi pada hakikat pendidikan yang
meliputi beberapa aspeknya, misalnya tentang: Pertama, tujuan dan tugas hidup manusia.
Manusia hidup bukan karena kebetulan dan sia-sia. la diciptakan dengan membawa
tujuan dan tugas hidup tertentu (QS. Ali Imran: 191). Tujuan diciptakan manusia hanya
untuk mengabdi kepada Allah SWT.. Indikasi tugasnya berupa ibadah (sebagai 'abd
Allah) dan tugas sebagai wakil-Nva di muka bumf (khalifah Allah). Firman Allah SWT:

Artinya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”(Q.S. Al-An’am: 162).

Kedua, memerhatikan sifat-sifat dasar (nature) manusia, yaitu konsep tenting
manusia sebagai makhluk unik yang mempunyai beberapa potensi bawaan, seperti fitrah,
bakat, minat, sifat, dan karakter, yang berkecenderungan pada al-hanief (rindu akan
kebenaran Hari Tuhan) berupa agama Islam (QS. al-Kahfi: 29) sebatas kemampuan,
kapasitas, dan ukuran yang ada. Ketiga, tuntutan masyarakat. Tuntutan ini baik berupa
pelestarian nilai-nilai budaya yang telah melembaga dalam kehidupan suatu masyarakat,
maupun pemenuhan terhadap tuntutan kebutuhan hidupnya dalam mengantisipasi
perkembangan dunia modern.

Keempat, dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam. Dimensi kehidupan dunia ideal Islam
mengandung nilai yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia untuk
mengelola dan memanfaatkan dunia sebagai bekal kehidupan di akhirat, serta mengandung nilai
yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan di akhirat yang lebih
membahagiakan, sehingga manusia dituntut agar tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi
atau materi yang dimiliki. Namun demikian, kemelaratan dan kemiskinan dunia harus diberantas,
sebab kemelaratan dunia bisa menjadikan ancaman yang menjerumuskan manusia pada

4 Muhaimin, Drs, dan Abdul Mujib, 1993, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Tigenda Karya, hal: 134.
5 Ibid, 134

keklifuran. Dalam Hadis dlisebtakan: "kada al-farq an yakuna kufran", kemelaratan itu hampir
Baja mendatangkan kekafiran. Dimensi tersebut dapat memadukan antara kepentingan hidup
duniawi dan ukhrawi (QS. Al-Qashash: 77). Keseimbangan dan keserasian antara kedua
kepentingan hidup ini menjadi daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari berbagai
gejolak kehidupan yang menggoda ketenteraman dan ketenangan hidup manusia, baik yang
bersifat spiritual, sosial, kultural, ekonomi, maupun ideologis dalam hidup pribadi manusia.6

6 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: al-Ma'arif, 1989), h. 46

RUANG LINGKUP, SUMBER DAN METODE

PENGEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM

A. Ruang Lingkunp Pendidikan Islam
Bahwasanya ada beberapa ruang lingkup pendidikan Islam antara lain :
1. Tujuan Pendidikan Ilmu
Secara umum, pendidikan Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman,

penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia
muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam
kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (GBPP PAI, 1994). Tujuan
pendidikan Islam harus berorientasi pada hakekat pendidikan yang meliputi beberapa
aspeknya, misalnya tentang :
a. Memperhatikan sifat-sifat dasar manusia yaitu konsep tentang manusia sebagai makhluk
unik yang mempunyai potensi bawaan seperti fitrah, bakat minat, dan karakter yang
berkecenderungan pada Al-Hanif (rindu akan kebenaran dari Tuhan) berupa agama Islam
sebatas kapasitas dan ukuran yang ada. Allah SWT.
b. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam
mengandung nilai yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia untuk
mengelola dan memanfaatkan dunia sebagai bekal kehidupan di akherat.

2. Pendidik
Saat ini pendidik diposisikan sebagai fasilitator/mediator yang bertugas menfasilitasi
atau membantu siswa selama proses penbelajaran berlangsung. Pendidik tidak lagi dianggap
sebagai satu-satunya sumber informasi, sebab informasi juga bisa diperoleh dari peserta
didik. Penciptaan suasana menyenangkan dan adanya kesadaran emosional yang tidak dalam
keadaan tertekan akan mengaktifkan potensi otak dan menimbulkan daya berpikir yang
intuitif dan holistik.
3. Peserta Didik
Siswa sebagai objek utama dalam pendidikan memegang peranan yang sangat strategis.
Artinya bahwa siswa dapat dijadikan sebagai salah satu indikator terwujudnya sekolah
berkualitas. Siswa sebagai salah satu input di sekolah, sangat mempengaruhi pembentukan
sekolah yang berkualitas. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya latar
belakang peserta didik, kemampuan peserta didik, prinsip hidup, dan sebagainya.
4. Model Pendidikan Islam
Model-model pembelajaran :
1. Model pemprosesan informasi guru menjelaskan bagaimana siswa selaku individu
memberi respon yang datang dari lingkungannya.
2. Model pribadi diorientasikan kepada perkembangan diri siswa selaku individu.
3. Model interaksi sosial menekankan hubungan siswa dengan lingkungannya di
sekolah, terutama di dalam kelas.
4. Model perilaku siswa diarahkan kepada suatu pola belajar yang lebih terfokus pada
hal-hal yang spesifik.
5. Materi Pendidikan Islam
Materi pendidikan Islam yang harus dipahami oleh peserta didik adalah Al-Qur’an.
Baik ketrampilan membaca, menghafal, menganalisa, dan sekaligus mengamalkan ajaran-
ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar ajaran yang terkandung di
dalam Al-Qur’an tertanam dalam jiwa anak didik sejak dini.
6. Alat Pendidikan Islam

Merupakan alat-alat yang dapat digunakan selama melaksanakan pendidikan Islam,
agar tujuan pendidikan Islam tersebut lebih berhasil.

7. Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran pada khususnya, dan
sistem pendidikan pada umumnya. Artinya evaluasi merupakan suatu kegiatan yang tidak
mungkin dielakkan dalam setiap proses pembelajaran. Dengan kata lain, kegiatan evaluasi,
baik evaluasi hasil belajar maupun evaluasi pembelajaran, merupakan bagian integral yang
tidak terpisahkan dari kegiatan pendidikan.

B. Sumber ilmu pendidikan islam

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 1986, sumber adalah asal sesuatu.
Jika dikaitkan dengan ajaran Islam, sumber berarti asal ajaran Islam, yang termasuk sumber
agama Islam didalamnya. Sehingga antara sumber ajaran agama Islam dengan sumber ajaran
Islam mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan, dikarenakan
ajaran Islam adalah pengembangan agama Islam[1].

Umat Islam mempercayai bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah
yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dan sebagai wahyu pertama yang
diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat
1-5.

METODE DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Metode dalam pendidikan islam (Umum dan Agama Islam) mempunyai peranan

penting dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang diciptakan bersama. Karena itu metode
menjadi sebuah sarana yang bermakna dalam menyajikan pelajaran, sehingga dapat
membantu siswa memahami bahan-bahan pelajaran untuk mereka. Arifin Muzayin
mengingatkan, bahwa tanpa metode suatu materi pelajaran tidak akan dapat memproses
secara efisien dan efektik dalam pendidikan.

Ada tiga pendekatan dalam kajian pendidikan yaitu pendekatan historis, filosofis, dan
sosiologis. Pendekatan historis adalah pendekatan keilmuan dengan sejarah. Pendidikan ini di
komparasikan dengan fakta yang terjadi dan berkembang dalam waktu dan tempat-tempat
tertentu un tuk mengetahui persamaan dan perbedaan dalam suatu permasalahan pendekatan
filosofis adalah pendekatan yang berhubungan dengan kehidupan sosial. ketiga pendekatan
ini sangat berguna untuk mempelajari data yang relevan dengan permasalahan pendidikan.

Ada beberapa metode dalam melaksanakan pendidikan islam, setidaknya ada 15
metode, yaitu : ceramah, tanya, kunjungan ilmiah, korespondensi, hafalan, memberi
pemahaman, memberikan jawab, mengambil pelajaran, mengkongkritkan masalah,
penugasan, peragaan, diskusi, mmemberi perumpamaan pengalaman, mempermudah, dan
mengembirakan. Arifin Muzain, membagi metode-metode pendidikan Islam menjadi 16
macam, yaitu : berfikir, induktif deduktif, praktik, jihad, situasional, kelompok, intruksional,
cerita, bimbingan, dan penyuluhan, pemberian contoh dan teladan, diskusi, soal-jawab,
imstal, khitbah, targhib dan tarhieb, dan acquistion selaf education, serta taubat dan ampunan.

Dari dua teori diatas tampaknya metode-metode pendidikan islam cukup banyak,
namun dalam keragaman metode tersebut antara yang satu dengan yang lainnya memiliki
kesamaan. Jika dikombinasikan berdasarkan dua teori diatas, maka metode-metode

pendidikan Islam dan dibagi kedalam 11 macam, sesuai dengan metode-metode tersebut
adalah :
1. Metode ceramah adalah cara penyampaian materi pendidikan melalui komunikasi satu arah
yaitu dari pendidik kepada peserta didik (one way traffic comunication). Metode ini agak
identik dengan tausiyah (memberi nasihat), dan khutbah.
2. Metode soal jawab adalah dengan cara, satu pihak memberikan pertanyaan sementara
piahak lainnya memberikan jawaban. Dalam pengajaran, guru dan atau peserta didik dapat
memberikan pertanyaan ataupun jawaban.
3. Metode I’tibar adalah pendidikan yang dilakukan dengan cara mengambil pelajaran,
hikmah, dan pengartian dari sebuah peristiwa dan atau kisah yang terjadi. Biasanya metode
ini terkait dengan penyampaian metode Cerita atau Ceramah.
4. Metode Resitasi adalah metode pendidikan dengan pemberian tugas. Biasanya metode ini
terdiri dari tugas individu dan kerja kelompok. Metode ini dimaksudkan agar proses
mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan lebih efektif.
5. Metode diskusi adalah pendidikan yang dilakukan dengan cara bertukar pikiran, pendapat
dengan menetapkan pengertian dan sikap terhadap suatu masalah. Dengan metode ini peserta
didik akan mencapai titik kebenaran.
6. Metode tamsiliyah adalah cara memberikan perumpamaan kepada yang lebih faktual.
Pendidikan dengan metode ini dapat memberikan pelajaran-pelajaran berharga dari
perumpamaan-perumpamaan kepada peserta didik.
7. Metode mukatabah adalah pendidikan dengan cara korespondensi atau membuat surat-
menyurat dalam berbagai tema (bahan pelajaran). Dengan metode ini hasil pengajaran yang
disampaikan oleh pendidik akan lebih berkesan dan terkumpul dalam tulisan.
8. Metode tafhim adalah pendidikan dengan cara memahami apa-apa yang telah diperoleh dari
belajar sendiri atau dengan guru pendidik. Dengan metode ini peserta didik dituntut untuk
lebih aktif mendapatkan makna secara mendalam terhadap bahan yang diterimanya.
9. Metode cerita adalah pendidikan dengan membacakan sebuah cerita yang mengandung
pelajaran baik. Dengan metode ini peserta didik dapat menyimak kisah-kisah yang
diceritakan oleh guru, kemudian mengambil pelajaran dari cerita tersebut.
10. Metode pemberitahuan contoh dan tauladan adalah pendidikan yang dilakukan dengan cara
memberikan contoh-contoh yang baik (uswahtun al-hasanah) berupa prilaku nyata,
khususnya ibadah dan akhlak. Contoh tauladan ini merupakan pendidikan yang mengandung
nilai paradadogis tinggi bagi peserta didik.
11. Metode aquistion atau self education adalah metode pendidikan diri sendiri. Pendidikan
dengan metode Self Education dilakukan dengan memberikan dorongan agar peserta didik
dapat belajar dan membina diri mereka sendiri, setelah itu barulah dapat membina orang
lainnya.

Berdasarkan dari penjelasan diatas jelaslah bahwa pentingnya metode dalam
pendidikan. Karena dalam melakukan kegiatan belajar mengajar seorang guru menjalankan
metode pembelajaran yang beraneka ragam akan membuat sarana kelas menjadi baik dan
kelangsungan pembelajaran menjadi nyaman. Khususnya dalam pendidikan Islam.

LANDASAN DAN PENDEKATAN PENDIDIKAN
ISLAM

Landasan Ilmu Pendidikan Islam

1. Alqur’an

Al-Qur’an adalah landasan utama dalam ilmu pendidikan islam. Al-qur’an
merupakan kebenaran yang disampaikan oleh Allah SWT dan dengan demikian
Allah adalah pendidik utama manusia yang memberikan ilmu dan ajaran
kebenaran agar manusia dapat menjalani hidupnya dengan baik dan sesuai
syariat agama islam (baca manfaat membaca Al-qur’an setiap hari). Hal ini
disebutkan dalam firman Allah surat Al-baqarah ayat 2

‫ٰﺫَ ِﻟ َﻚ ﺍ ْﻟ ِﻜﺘَﺎ ُﺏ َﻻ َﺭ ْﻳ َﺐ ۛ ِﻓﻴ ِﻪ ۛ ُﻫﺪًﻯ ِﻟ ْﻠ ُﻤﺘﱠ ِﻘﻴ َﻦ‬

“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa” (QS Al-baqarah :2)

2. Hadits

Hadits atau sunnah Rasulullah yang diartikan sebagai segala perkataan dan
tindakan Rasulullah SAW, merupakan landasan pendidikan islam yang kedua
setelah Alqur’an. Rasulullah SAW adalah suri tauladan yang baik atau uswatun
hasanah bagi seluruh umat manusia dan beliau hidup dalam naungan kebenaran
dan kemuliaan yang patut di contoh oleh semua umat manusia. Sesuai dengan
firman Allah berikut ini

‫ َﻛ ِﺜﻴ ًﺮﺍ‬Jَ ‫َ َﻭﺍ ْﻟ َﻴ ْﻮ َﻡ ﺍ ْﻵ ِﺧ َﺮ َﻭﺫَ َﻛ َﺮ ﱠ‬J‫ِ ﺃُ ْﺳ َﻮﺓٌ َﺣ َﺴ َﻨﺔٌ ِﻟ َﻤ ْﻦ َﻛﺎ َﻥ َﻳ ْﺮ ُﺟﻮ ﱠ‬J‫َﻟ َﻘﺪْ َﻛﺎ َﻥ َﻟ ُﻜ ْﻢ ِﻓﻲ َﺭ ُﺳﻮ ِﻝ ﱠ‬

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS Al Ahzab :21)

Dalam ilmu pendidikan islam hadits atau sunnah rasulullah memiliki dua
fungsi yakni menjelaskan hal yang ada dalam Al-qur’an yang bersifat umum
dan memberi pengertian tentang cara hidup Rasulullah SAW serta bagaimana
perlakuannya terhadap orang lain.

3. Ijtihad

Adapun landasan ketiga dalam ilmu pendidikan islam adalah ijtihad para
sahabat, ulama, dan para cendekiawan muslim. Para sahabat Rasulullah SAW
adalah manusia-manusia hebat hasil didikan Rasulullah sendiri sebagaimana
Umar bin Khatab yang senantiasa dapat mengambil ijtihad dan menghendaki
kemaslahatan umat. Ijtihad diperlukan mengingat tidak semua kejadian di masa
modern ini dijelaskan secara rinci dalam Alqur’an dan hadits.

4. Warisan pemikiran islam

Warisan pemikiran islam juga dapat dijadikan landasan atau dasar dalam
ilmu pendidikan islam untuk dapat mengatasi masalah di kemudian hari.
Warisan pemikiran islam dari para ulama juga merupakan wujud refleksi ilmu
pendidikan islam itu sendiri dan dinamika islam yang senantiasa mengikuti
perkembangan zaman.

· Landasan Filosofis

Landasan filosofis pendidikan Islam adalah asumsi filsafat yang menjadi
titik tolak dalam pendidikan Islam. Landasan filosofis berkenaan dengan tujuan

filosofis praktik pendidikan sebagai sebuah ilmu. Oleh karena itu, kajian yang
dapat dilakukan untuk memahami landasan filosofis pendidikan adalah
menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang meliputi tiga bidang kajian yaitu
ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Landasan filosofis pendidikan Islam
memberikan rambi-rambu yang seharusnya dilaksanakan dalam pendidikan
Islam. Filosofis pendidikan Islam merupakan kerangka landasan yang sangat
fundamental bagi sistem pendidikan dan para pendidik. Ilmu pendidikan Islam
hakikatnya bersumber dari filosofi tentang Tuhan dan hal tersebut dapat melatih
perasaan para siswa dengan berbagai cara sehingga dalam sikap hidup,
tindakan, keputusan dan pendekatan terhadap seala jenis pendidikan, mereka
dipengaruhi oleh nilai spiritural dan sadar akan nilai etisreligiusitasnya.
Menurut Abdurrahman an-Nahlawi, “Pendidikan mengantarkan manusia pada
perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada tuntunan Allah”.

· Landasan Yuridis

Landasan yuridis adalahseperangkat konsep peraturan perundang-undangan
yang menjadi titik tolak system pendidikan. Pendidikan harus dilandasi dengan
dasar yuridis untuk sanksi. Dalam UUD ’45 pasal 31 ayat 5 dijelaskan bahwa
“Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung
tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta
kesejahteraan umat manusia. Ada beberapa jenis landasan yuridis, yaitu,
landasan yuridis pelaksanaan pendidikan global, landasan yuridis pelaksanaan
pendidikan nasional, landasan yuridis pelaksanaan pendidikan daerah dan
landasan yuridis pelaksanaan pendidikan lokal.

· Landasan Sosiologis-Budaya

Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan
pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari
dalam sosiologi pendidikan meliputi empat bidang:

1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek yang masyarakat lain

2. Hubungan kemanusiaan disekolah

3. Pengaruh sekolah pada prilaku anggotanya

4. Sekolah dalam komunitas

Kajian sosiologi tentang pendidikan pada prinsipnya mencakup semua jalur
pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan di luar sekolah.

Landasan Pendidikan Islam secara garis besar adalah dasar atau pijakan
seorang muslim untuk mencapai tujuan pendidikan Islam agar mendapat
keridhoan Allah dunia wal akhirat. Landasan Pendidikan Islam ini dibagi
menjadi beberapa landasan-landasan pendukung, diantaranya adalah landasan
filosofis Islam, landasan yuridis Islam, landasan psikologi Islam, landasan
sosiologis-budaya Islam dan landasan lainnya. Indonesia sendiri menerapkan
landasan pendidikan Islam untuk kemajuan pendidikan bangsa seperti yang
sudah tercantum dalam UUD Negara pasal 31 ayat 5.

Pendekatan berarti proses, perbuatan, dan cara mendekati. Dari pengertian
ini pendekatan pendidikan' dapat diartikan sebagai suatu proses, perbuatan, dan
cara mendekati dan mempermudah pelaksanaan pendidikan. Jika
dalam kegiatan pendidikan, metode berfungsi sebagai cara mendidik, maka
pendekatatan berfungsi sebagai alat bantu agar penggunaan metode
tersebut mengalami kemudahan dan keberhasilan. Selain metode-
metode memiliki peranan penting dalam kegiatan pendidikan Islam,
pendekatan-pendekatan juga menempati posisi yang berarti pula untuk
memantapkan penggunaan metode-metode tersebut dalam proses pendidikan,
terutama proses belajar mengajar.

Pendekatan pembelajaran dapat berarti aturan pembelajaran yang
berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan
psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar.
Pengertian lain dari pendekatan pembelajaran adalah jalan atau cara yang
digunakan oleh guru atau pembelajar untuk memungkinkan siswa belajar.

Interaksi dalam pembelajaran adalah bagaimana cara guru dapat
meningkatkan motivasi belajar dari siswa. Hal ini berkaitan dengan strategi apa
yang dipakai oleh guru, bagaimana guru melakukan pendekatan terhadap
siswanya. Dalam sebuah pembelajaran yang baik guru berperan sebagai
pembimbing dan fasilitator. Dan proses interaksi pembelajaran yang mampu
meningkatkan hasil belajar pada siswa ialah bagaimana cara guru melakukan
pendekatan yang sesuai dengan karakter pembelajaran.

Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan,
yaitu:
1. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (stude
nt centered approach).
2. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher
centered approach.

Jenis-jenis pendekatan dalam Islam

1. Pendekatan Individual
Pendekatan individual merupakan pendekatan langsung dilakukan guru

terhadap anak didiknya untuk memecahkan kasus anak didiknya tersebut.
Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan
pengajaran.

Atau pendekatan individual adalah suatu pendekatan yang melayani
perbedaan-perbedaan perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga dengan
penerapan pendekatan individual memungkinkan berkembangnya potensi
masing-masing siswa secara optimal.

Melihat dari pengertian diatas bahwa pembelajaran individual
merupakan salah satu cara guru untuk membantu siswa membelajarkan siswa,
membantu merencanakan kegiatan belajar siswa sesuai dengan kemampuan dan
daya dukung yang dimiliki siswa. Pendekatan individual akan melibatkan
hubungan yang terbuka antara guru dan siswa, yang bertujuan untuk
menimbulkan perasaan bebas dalam belajar sehingga terjadi hubungan yang
harmonis antara guru dengan siswa dalam belajar.
2. Pendekatan Kelompok

Dalam kegiatan belajar mengajar terkadang ada juga guru yang
menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan
kelompok memang suatu waktu diperlukan dan pelu digunakan untuk
membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik.
3. Pendekatan Bervariasi

Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang
bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan permasalahan yang bervariasi.
Setiap masalah yang dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama, terkadang ada
perbedaan. Dengan adanya perbedaan masalah itulah guru menggunakan
pendekatan bervariasi.
4. Pendekatan Edukatif

Pendekatan edukatif yaitu Setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan
guru harus bernilai pendidikan dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar
menghargai norma hukum, norma susila, norma sosial dan norma agama.

5. Pendekatan Keagamaan

Pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya
jiwa agama didalam diri siswa, agar nilai-nilai agamanya tidak dicemoohkan
dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami,dihayati dan diamalkan secara hayat
siswa dikandung badan.
6. Pendekatan Kebermaknaan

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan
pikiran, pendapat, dan perasaan, secara lisan atau tulisan. Bahasa merupakan
alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata
bahasa dan kosa kata). Dengan demikian struktur berperan sebagai alat
pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan). Jadi
pendekatan kebermaknaan adalah pendekatan yang memasukkan unsur-unsur
terpenting yaitu pada bahasa dan makna. Untuk itu ada konsep
penting yang menyadari pendekatan kebermaknaan ini.

7. Pendekatan pengalaman
Pendekatan pengalaman yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada

peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan baik secara
individual maupun secara kelompok. Syaiful Bahri Djamrah menyatakan bahwa
pengalaman yang dilalui seseorang adalah guru yang baik. Pengalaman
merupakan guru tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapapun juga, belajar
pengalaman adalah lebih baik dari sekedar bicara dan tidak pernah berbuat
sama sekali. Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup,
namun tidak semua pengalaman dapat bersifat mendidik, karena ada
pengalaman yang tidak bersifat mendidik. Suatu pengalam dikatakan tidak
mendidik jika pendidik tidak membawa peserta didik kearah tujuan pendidikan
akan tetapi ia menyelewengkan peserta didik dari tujuan itu.

Betapa tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akaan
pentingnya pengalaman bagi perkembangan jiwa peserta didik sehingga
dijadikanlah pengalaman itu sebagai suatu pendekatan.

8. Pendekatan emosional
Pendekatan emosional adalah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi

peserta didik dalam menyakini ajaran agama islam serta dengan merasakan
mana yang baik dan yang buruk. Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada
didalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan perasaan, seseorang yang
mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu, baik persaan jasmani,
maupun rohani. Emosi berperan dalam pembentukan karakter seseorang.

JENIS-JENIS PENDIDIKAN ISLAM

Ada berbagai bentuk pendidikan Islam di Indonesia, antara lain adalah pondok
pesantren dengan berbagai variannya, sekolah Islam atau Madrasah dengan berbagai jenjang
dan modelnya, dan perguruan tinggi dengan berbagai program studinya.
1. Pondok Pesantren

Pesantren merupakan bentuk lembaga pendidikan Islam yang pertama di Indonesia.
Berdasarkan Pendataan DEPAG pada tahun 1984-1985.1 Istilah pondok berarti rumah
atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Disamping itu kata Pondok
mungkin berasal dari bahasa arab “Funduq” yang berarti Asrama. Sedangakan Pesantren
menurut Mastuhu adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari,
memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan najaran Islam dengan
menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.2

Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, telah
tumbuh dan berkembang sejak masa penyiaran Islam dan telah banyak berperan dalam
mencerdaskan kehidupan masyarakat. Sejarah perkembangan Pondok Pesantren
menunjukkan bahwa lembaga ini tetap eksis dan konsisten menjalankan fungsinya
sebagai pusat pengajaran ilmu-ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) sehingga dari
pesantren lahir kader ulama, guru agama, mubaligh, tokoh politik dan lain-lain yang
dibutuhkan masyarakat.

Pada sejarah berdirinya pesantren, awalnya pesantren didirikan dengan misi khusus,
yaitu: pertama, sebagai wahana kaderisasi ulama’ yang nantinya diharapkan mampu
menyebarkan agama di tengah-tengah masyarakat; kedua, membentuk jiwa santri yang
memiliki kualifikasi moral dan religius; ketiga, menanamkan kesadaran holistik bahwa
belajar merupakan kewajiban dan pengabdian kepada tuhan, bukan hanya untuk meraih
prestasi kehidupan dunia3 Kemampuan pesantren untuk tetap survive hingga kini tentu
merupakan kebanggaan tersendiri bagi umat Islam, terutama kalangan pesantren. Hal ini
sangat beralasan, sebab ditengah derasnya arus modern dan globalisasi, dunia pesantren
masih konsis dengan kitab kuning4 dan konsep pendidikan yang mungkin oleh sebagian

1 Hasbullah , Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 1996), 41
2 Mastuhu, Dinamika Sistem pendidikan Pesantren; Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS,
1994), 55
3 Ainur Rofiq Dawam, Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Bebasis Pesantren, (Listafariska, 2005), 6
4 Amin Haedari dkk, Masa Depan Pesantren. (Jakarta: IRD Press, 2004), 37

orang dianggap tradisional. Begitu pula dengan pelajaran kitab-kitab kuning (klasik)
merupakan salah satu elemen dasar dari tradisi pesantren. Seluruh sisi kehidupan
pesantren bersifat religius-teosentris yang merujuk kepada al-Qur’an dan Hadis, sehingga
semua aktivitas pendidikan dipandang sebagai ibadah kepada Tuhan.

Seiring dengan perkembangan zaman dan cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, serta arus informasi global, pendidikan di pondok pesantren juga
mengalami perubahan dalam rangka penyesuaian, khususnya menyangkut kurikulum dan
metode serta teknik pembelajarannya. Aktifitas belajar bukan hanya diposisikan sebagai
media (alat), tetapi sekaligus sebagai tujuan, karena itu proses belajar mengajar di
pesantren sering tidak mengalami dinamika dan tidak mempertimbangkan waktu, strategi,
dan metode yang lebih kontekstual dengan perkembangan zaman5. Padahal, seiring
dengan pergeseran zaman santri membutuhkan formalitas, sebut saja Ijazah serta
penguasaan bidang keahlian lain yang dapat mengantarnya agar mampu menjalani
kehidupan. Di era modern, santri tidak cukup hanya berbekal nilai dan norma moral saja,
tapi perlu pula dilengkapi dengan keahlian yang relevan dengan dunia kerja modern.

Hal demikian inilah yang kemudian mengharuskan pendidikan di Pondok Pesantren
mengalami perubahan dan pengembangan khususnya kurikulum dan metode
pembelajarannya. Sejak tahun 1970-an bentuk-bentuk pendidikan yang diselenggarakan
di pesantren sudah sangat bervariasi. Bentuk-bentuk pendidikan dapat diklasifikasikan
menjadi empat tipe, yakni:
a. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum

nasional, baik yang hanya memilki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA. Dan PT.
Agama Islam) maupun yang juga memilki sekolah umum (SD, SMP, SMA, dan PT
Umum).
b. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah
dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional.
c. Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrsah diniyah.
d. Pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian.6
Pesantren jenis yang ketiga dan keempat ini masih mempertahankan pola pendidikan
khas pesantren yang telah lama berlaku di pesantren, baik kurikulum atau metode
pembelajarannya, sehingga disebut Pondok Pesantren Salafiyah. Berbeda dengan Pondok
pesantren jenis pertama, Pesantren ini tidak menggunakan kurikulum pemerintah dan

5 Muhibbuddin, “Modernisasi Manajemen Pendidikan Pesantren” Mozaik Pesantren, Edisi 02/Th.I/November 2005, 36.
6 Amin Haedari, Panorama Pesantren Dalam Cakrawala Moderen. (Jakarta: Diva Pustaka, 2004),16.

hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan mengkaji kitab-kitab klasik atau yang
disebut kitab Kuning. Metode pembelajarannya pun menggunakan metode khas
pesantren tradisional yaitu sorogan, bandongan dan halaqoh.7 Kebanyakan santrinya
belum mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan dasar, sehingga
keluaran/lulusan Pesantren Salafiyah tersebut tidak mendapatkan Surat Tanda Tamat
Belajar (STTB) atau Ijazah sebagaimana lulusan pendidikan formal yang dapat
digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau untuk
memenuhi tuntutan pekerjaan.

Berdasarkan Pendataan pada tahun 2011/2012 Jumlah pondok pesantren di Indoensia
mencapai 27.230 pondok pesantren yang tersebar di sekuruh Indonesia Populasi Pondok
Pesantren terbesar berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten
yang berjumlah 78,60% dari jumlah seluruh Pondok Pesantren di Indonesia. Dengan
rincian Jawa Barat 7.624 (28,00%), Jawa Timur 6.003 (22,05%), Jawa Tengah 4.276
(15,70%), dan Banten 3.500 (12,85%). Dari seluruh Pondok Pesantren yang ada,
berdasarkan tipologi Pondok Pesantren, terdapat sebanyak 14.459 (53,10%) Pondok
Pesantren Salafiyah, dan 7.727 (28,38%) Khalafiyah/Ashriyah, serta 5.044 (18,52%)
sebagai Pondok Pesantren Kombinasi.8
2. Sekolah Islam

Sekolah Islam merupakan bentuk dari modernisasi pendidikan Islam. Awal
munculnya Sekolah Islam berawal dari adanya sekelompok masyarakat yang berlatar
belakang agama yang mempuntai gagasan membuka sekolah dengan sistem “sekolah
belanda” dengan tambahan pelajaran Agama. Pemrakarsa Utama dalam modernisasi
Pendidikan Islam adalah organisasi mordernis Islam seperti Jami’at Khair, Al-Irsyad, dan
Muhammadiyah.9

Dalam perkembangannya, pendirian pendidikan Islam ini menjadi inspirasi bagi
hampir semua organisasi pergerakan Islam seperti Nahdlotul Ulama’ (NU) dengan
Pendidikan Maarif tahun 1926 di Jawa timur, Persatuan Islam (Persis), Persatuan Umat Islam
(PUI), Al-Washliyah, Matalaul Anwar, dan Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti) dengan corak
dan ciri khas masing-masing. Sekolah yang mereka dirikan merupakan sekolah umum dengan

7M.Habib Chirzin, “Agama, Ilmu dan Pesantren” dalam M.Dawam Raharjo (ed), Pesantren dan Pembaharuan. ( Jakarta: LP3ES), 87-88.
8Analisis dan Interpretasi Data pada Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) Tahun Pelajaran
2011-2012 pendis.kemenag.go.id/file/dokumen/pontrenanalisis.pdf
9 Muhammad Kholid Fathoni, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional [paradigma Baru], (Jakarta: Departemen Agama RI,
2005), 70

memasukkan pengajarah Agama dan menambahkan nama Islam di belakangnya sehingga
menjadi SD Islam, SMP Islam, dan SMA Islam. Selain itu, ada yang menggunakan nama
organisasi penyelenggara seperti SD Muhammadiyah, SMP Maarif NU, SMA Al-Irsyad. Ada
pula yang menggunakan perlambang berbahasa Arab, misalnya SD Al-Falah, SMP
Futuhiyah. Dan belakngan ini muncul nama SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) SMPIT
(Sekolah Menengah Pertama Islam terpadu).10 Belakangan ini muncul sekolah Islam dengan
model fullday atau Boarding Scholl.

Perkembangan Sekolah Islam saat ini mendapat Animo dari masyarakat yang cukup
besar. Hal ini terjadi sebagai imbas dari kekurangan yang ada pada Madrasah atau Sekolah.
Banyak masyarakat menilai bahwa pendidikan di madrasah kurang profesioanl dalam
biadang materi umum sehingga tertinggal dengan sekolah, sementara sekolah umum kurang
dalam memberikan layanan pendidikan Agama. Sekolah Islam muncul sebagai alterntif bagi
masyarakat yang ingin mendapatkan pendidikan Agama yang baik dan pendidikan umum
yang profesional.
3. Perguruan Tinggi Islam

Pendirian lembaga pendidikan tinggi Islam sudah dirintis sejak zaman
pemerintahan Hindia Belanda, dimana Dr. Satiman Wirjosandjoyo pernah
mengemukakan pentingnya keberadaan lembaga pendidikan tinggi Islam untuk
mengangkat harga diri kaum muslim di Hindia Belanda yang terjajah itu. Bagi Indonesia,
kebutuhan Pendidikan tinggi Islam sudah sanagat mendesak untuk mendidik tenaga ahli
dalam bidang Ilmu agama Islam dan sebagai pusat pengembanagan intelektualisme
agama Islam. Keinginan tersebut berhasil direalisasi di Minangkabau dengan didirikannya
sekolah Tinggi oleh persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di Padang yang
diresmikan pada tanggal 9 Desember 194011. Sekolah Tinggi Islam ini merupakan
Sekolah Tinggi Islam yang pertama kali berdiri di Indonesia dan menjadi cikal bakal
Sekolah Tinggi Islam yang lain baik negeri maupun swasta.

Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasioanl pasal 19
ayat 1 menyatakan “Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan
menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan
doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi”. dari pernyataan tersebut dapat
dipahami bahwa yang dimaksud dengan perguruan tinggi Islam adalah jenjang

10 Ibid,,,. 71
11 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: Mutiara Sumberwidya, 1992), 117

pendidikan setelah pendidikan menengah (SMA/MA) yang mencakup program
pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang berciri khas Islam.

Saat ini Pendidikan Tiggi Islam (PTI) di Indonesia baik yang negeri maupun yang
swasta terus berkembang dengan berbagai program studi dan jurusan. Saat ini Pergurun
Tinggi Islam Swasta se-Indonesia berjumlah 272 lembaga sementara Perguruan Tinggi
Islam Negeri berjumlah 52.12.

12 DG Ryan, System Analisis in Educational Planning dalam Ramayulis, Ilmu Pendidikanm Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), cet VI,
hlm. 3

ORIENTASI DAN TUJUAN PENDIDIKAN

ISLAM

Orientasi pendidikan Islam adalah yang menjadi ciri khas dari Islam
adalah sikap adaptif dan toleran terhadap adanyanya perkembangan-
perkembangan sosial budaya manusia. Sikap ini telah mengukuhkan Islam
menjadi agama yang siap untuk menghadapi seluruh perubahan waktu yang
diiringi dengan perkembangan dan kemajuan teknologi dan informasi. Karena itu
ada semacam keyakinan dari seluruh mereka yang memeluk agama Islam bahwa
agama ini adalah agama yang al-Islam shalih li kuli zaman wa makan (Agama
yang sesuai di setiap waktu dan di setiap tempat).

Namun sikap adaptif dan toleran yang sering disebutkan dengan
univarsalisme Islam itu sering sekali menjadi pertanyaan yang mendasar bagi
Islam itu sendiri dan lebih khusus kepada Pendidikan Agama Islam, yaitu
pertanyaan tentang benarkah Islam memiliki konsep tersendiri tentang Pendidikan
Agama Islam itu sendiri. Dan pertanyaan ini pernah dilontarkan oleh Syed Hossen
Naser yang beranggapan bahwa Islam hanya mengadaptasi bahkan mengadopsi
sistem dan lembaga pendidikan yang berasal dari lingkungan sosial budaya dan
masyarakat yang dijumpainya.1 Pernyataan ini jika dipahami secara literal, maka
akan membenarkan suatu anggapan bahwa memang pendidikan agama Islam
adalah pendidikan yang tidak memiliki orientasi yang jelas, karena sifatnya yang
elastis dan multi tafsir. Namun jika dipahami secara universal, maka
sesungguhnya orientasi pokok dari pendidikan Islam adalah universalisme itu
sendiri. Adanya sikap adaptif dan akomodatif itu sendiri menegaskan relevansi
dan sekaligus signifikansi nilai-nilai Islam terhadap perkembangan.

Di dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam, Islam telah memaikan
perannya tidak hanya pada aspek ritual keagamaan, tetapi di bidang-bidang lain
keadaannya tumbuh seiring dengan pertumbuhan pemeluk Islam itu sendiri. Pada

1 Syed Hoosen Nasr, Islamic Life and Thought (London: George Allen and Unwin, 1981), hal. 9.

masa-masa awal tidak terdapat penolakan dari pihak manapun tentang perlunya
ilmu pengetahuan bagi pemeluk Islam. Dan pemahaman ini kemudian
berkembang dengan pesat pada dinasti-dinasi Islam ditandai dengan lahirnya
institusi-institusi Pendidikan Islam, seperti observatorium, maktab-maktab, dan
kuttab-kuttab yang menandai kejayaan Islam.

Secara operasional pendidikan Islam diorientasikan kepada dua hal
sekaligus :

1. Mendidik manusia untuk menjadi hamba Allah yang tugasnya mengabdi
kepada Allah ( ‘abd Allah) dan menghadirkan dirinya sendiri sebagai manusia
di muka bumi (khalfah fi- alrd). Sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an :

‫َﻭ َﻣﺎ َﺧ َﻠ ْﻘ ُﺕ ﺍ ْﻟ ِﺟ ﱠﻥ َﻭﺍ ْ ِﻹ ْﻧ َﺱ ﺇِ ﱠﻻ ِﻟ َﻳ ْﻌ ُﺑ ُﺩﻭ ِﻥ‬

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku. QS al-Dzariyat : 56

‫ﯨ َﻛ ِﺔ ِﺍ ِّﻧ ْﻲ َﺟﺎ ِﻋ ٌﻝ ِﻓﻰ ﺍ ْﻻَ ْﺭ ِﺽ َﺧ ِﻠ ْﻳ َﻔﺔً ۗ َﻗﺎﻟُ ْٓﻭﺍ ﺍَﺗَ ْﺟ َﻌ ُﻝ ِﻓ ْﻳ َﻬﺎ َﻣ ْﻥ ﱡﻳ ْﻔ ِﺳ ُﺩ‬/ ‫َﻭﺍِ ْﺫ َﻗﺎ َﻝ َﺭ ﱡﺑ َﻙ ِﻟ ْﻠ َﻣ ٰۤﻠ‬
‫ِﻓ ْﻳ َﻬﺎ َﻭ َﻳ ْﺳ ِﻔ ُﻙ ﺍﻟ ِّﺩ َﻣ ۤﺎ ۚ َء َﻭ َﻧ ْﺣ ُﻥ ُﻧ َﺳ ِّﺑ ُﺢ ِﺑ َﺣ ْﻣ ِﺩ َﻙ َﻭ ُﻧ َﻘ ِّﺩ ُﺱ َﻟ َﻙ ۗ َﻗﺎ َﻝ ِﺍ ِّﻧ ْٓﻲ ﺍَ ْﻋ َﻠ ُﻡ َﻣﺎ َﻻ ﺗَ ْﻌ َﻠ ُﻣ ْﻭ َﻥ‬

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui." QS. Al-Baqarah (2): 30.
Dua ayat di atas menunjukkan secara jelas orientasi pendidikan Islam, yaitu
sebagai hamba yang mengabdi secara utuh kepada Allah dan menjalankan
fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Untuk mewujudkannya ,
maka sistem dan tradisi serta lingkungan sosial budaya anak harus mengacu
dan menghasilkan pribadi yang muttaqin, yaitu kokok secara intelektual,

moral, dan spiritual serta kematangan profesional. Hal ini yang kemudian
dikenal dengan penguasaan akan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.2
Orientasi pendidikan Islam yang pertama ini jika mengacu kepada Undang-
Undang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya
potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertakwa kepada
Tuhan Yana Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warta negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam konteks ini Pendidikan agama Islam karena itu diorentasikan pada
pembentukan manusia atau pemimpin bagi orang-orang yang beriman dan
bertakqwa (imam li al-muttaqin).3

‫َﻭﺍ ﱠﻟ ِﺫﻳ َﻥ َﻳ ُﻘﻭﻟُﻭ َﻥ َﺭ ﱠﺑ َﻧﺎ َﻫ ْﺏ َﻟ َﻧﺎ ِﻣ ْﻥ ﺃَ ْﺯ َﻭﺍ ِﺟ َﻧﺎ َﻭ ُﺫ ِّﺭ ﱠﻳﺎ ِﺗ َﻧﺎ ﻗُ ﱠﺭﺓَ ﺃَ ْﻋ ُﻳ ٍﻥ َﻭﺍ ْﺟ َﻌ ْﻠ َﻧﺎ ِﻟ ْﻠ ُﻣﺗﱠ ِﻘﻳ َﻥ‬
‫ِﺇ َﻣﺎ ًﻣﺎ‬

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada
kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami),
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.QS. al-Furqan :
74
Orientasi yang pertama ini biasanya berguna untuk memuluskan jalan bagi
problematika manusia dewasa ini yaitu relasi yang kurang harmonis dengan
sesamanya dan lemahnya apresiasi terhadap ajaran akhlak. 4 Hal ini dapat
terjadi karena adanya keyakinan-keyakinan yang dipahami secara salah oleh
manusia itu sendiri atau bersumber dari ajaran-ajaran yang memang telah
salah terlebih dahulu bukan dengan orientasi meninggikan orientasi
kemanusiaan tetapi lebih kepada orientasi politik dan ekonomi.
Keyakinan adalah unsur terpenting dari keseluruhan tindakan manusia.
Keyakinan adalah sesuatu yang dapat menggerakkan keseluruhan potensi
manusia untuk berbuat. Keyakinan merupakan orientasi pertama dalam diri
manusia yang dipakainya dalam pembenaran seluruh tindakan nya. Karena itu

2 Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Membiasakan Tradisi Agama ( Jakarta: Depag RI, 2004),
hal 28.
3 Ibid., hal. 29.
4 A. Qodri Azizy, Pendidikan (Agama) untuk membangun Etika Sosial (Semarang: Aneka Ilmu, 2002), hal.
63.

Jenny Teichman dalam karyan Social Ethic : A Student’s Guide mengatakan
bahwa semua tindakan dan cara orang bertindak dipengaruhii oleh keyakinan-
keyakinan mengenai apa yang baik dan jahat.5
2. Mendidik manusia dalam rangka menumbehkembangkan kelengkapan dasar
dan potensi fitrah anak didik secara optimal untuk menuju kedewasaan
intelektual (intelectual ability) dan kematangan emosional (emotional
maturity). Dalam orientasi ini akan menyarankan desain operasional
yangproposionl dan proporsional. Dalam arti konsepsi ideal Pendidikan
Agama Islam harus bisa dilaksanakan dalam kerangka manajemen
profesioanl mulai dari perencanaan, strategi, metode, dan evaluasinya.6

Pendidikan sebagaimana diyakini adalah usaha untuk memenuhi
kebutuhan anak, memuaskan minatnya, menghormati kepribadiannya, dan
senantiasa memberikan kepadanya kesempatan untuk berkembang dengan baik.
Setelah itu anak tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baik .
Untuk tercapainya tujuan itu, maka tidak hanya sekedar materi yang baik saja
yang perlu disajikan kepada anak didik, tetapi perlu pula disajikan metode, dan
strategi yang baik agar materi tersebut dapat diinternalisasikan di dalam diri anak
didik. Materi yang baik yang tidak diiringi dengan penyajian yang baik pula,
maka akan menjadikan pekerjaan itu sia-sia belaka. Guru bukanlah faktor utama
karena faktor utama terletak pada siswa, yaitu sejauh mana siswa mampu
mempresentasikan keterampilan, pemahaman dan kebiasaannya.7

Mengacu pada orientasi kedua yaitu fitrah anak didik, maka yang menjadi
substansial adalah di dalam Pendidikan Agama Islam sangat diperlukan
pemahaman terhadap anak didik secara utuh. Karena setiap anak didik pasti
memiliki fitrah yang berbeda. Hal ini sesuai dengan ungkapan yang mengatakan
bahwa anak didik itu tidak seperti gerigi sebuah sisir yang sama rata, melainkan
sosok utuh yang mandiri dan berbeda satu sama lainnya dalam berbagai

5 Jenny Teichman, Social Ethic : A Student’s Guide terj. A. Sudiarja SJ (Cet. III; Yogyakarta: Kanisius,
2003), hal. 3.
6 Ahmad Barizi dan Syamsul Arifin, Paradigma Pendidikan Berbasis Pluralisme dan Demokrasi (Malang :
UMM Prss, 2001), hal. 146-152.
7 Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, op. cit., hal. 28.

hal. 8 Untuk itu di dalam penyajian materi-materi pendidikan Islam harus
disesuaikan dengan karakter dan kepribadian anak didik yang sangat khas dan
unik.

Selama ini, penyajian-penyajian materi Pendidikan Agama Islam
cenderung mengabaikan fitrah anak didik, dan selalu mengedepankan isi materi
dan muatan materi daripada proses dan metodologis yang mengedepankan fitrah
kemanusiaan. Aspek penguatan berpikir (formalistic) telah mengakibatkan siswa
menjadi kaku dan tertutup dalam pergaulan sosial. Usaha-usah konstruktif dan
inovatif secara simultan dan berkesinambungan dalam rangka keberhasilan
Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang mutlak harus ada untuk menemukan
kerangka epistemology dan metodologi Pendidikan Agama Islam yang relevan
dengan perubahan dan perkembangan untuk menjauhkan diri dari mengakhiri
keberlangsungan yang tradisional dan konvensional.

8 Ma’ruf Mushtafa Zuraiq, Sukses Mendidik Anak: Mencipta Generasi Cerdas Moral dan Spiritual, terj.
Badruddin (Jakarta: Serambi, 2003), hal. 10.

Tujuan Pendidikan Islam

Sebelum membahas lebih jauh tentang tujuan pendidikan Islam, terlebih
dahulu penulis mengemukakan tentang tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.9

Pendidikan adalah sebuah proses kegiatan menuju suatu tujuan karena
pekerjaan tanpa tujuan yang jelas akan menimbulkan suatu ketidak menentuan
dalam prosesnya. Lebih-lebih dalam proses pendidikan yang bersasaran pada
kehidupan psikologi peserta didik yang masih berada pada taraf perkembangan,
maka tujuan merupakan faktor yang paling penting dalam proses kependidikan itu.
Karenanya dengan adanya tujuan yang jelas, materi pelajaran dan metode-metode
yang digunakan, mendapat corak dan isi serta potensialitas yang sejalan dengan
cita-cita yang terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan Islam
mengandung di dalamnya suatu nilai-nilai tertentu sesuai dengan pandangan Islam
sendiri yang harus direalisasikan melaluiproses yang terarah dan konsisten dengan
menggunakan berbagai sarana fisik dan nonfisik yang sama dengan nilai-nilainya.

Idealitas tujuan dalam proses kependidikan Islam mengandung nilai-nilai Islami
yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam
secara bertahap. 10 Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam merupakan
penggambaran nilai-nilai Islam yang hendak diwujudkan dalam pribadi peserta
didik pada akhir dari proses kependidikan. Dengan kata lain, tujuan pendidikan
Islam adalah perwujudan nilai-nilai Islami dalam pribadi peserta didik yang
diperoleh dari pendidik muslim melalui proses yang terfokus pada pencapaian
hasil (produk) yang berkepribadian Islam yang berimandan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,

9 Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasionaldan Undang-Undang RI
Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen(Cet. I; Jakarta: Visimedia, 2007), h. 5.
10 H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam-Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner,
(Cet.II,Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006), h. 53-54.

dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sehingga
sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah yang taatdanmemiliki
ilmu pengetahuan yang seimbang dengan duniaakhirat sehingga terbentuklah
manusia muslim paripurna yang berjiwa tawakkal secaratotal kepada Allah
swt,sebagai mana firman-Nya dalam QS Al-An’am/6: 162

‫ﻗُ ْﻝ ِﺇ ﱠﻥ َﺻ َﻼ ِﺗﻲ َﻭ ُﻧ ُﺳ ِﻛﻲ َﻭ َﻣ ْﺣ َﻳﺎ َﻱ َﻭ َﻣ َﻣﺎ ِﺗﻲ ِ ﱠ ِ@ َﺭ ّ ِﺏ ﺍ ْﻟ َﻌﺎ َﻟ ِﻣﻳ َﻥ‬

“Katakanlah (Muhammad): "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.11

Dengan demikian tujuan pendidikan Islam sama luasnya dengan
kebutuhan manusia modern masa kini dan masa yang akan datang karena manusia
tidak hanya memerlukan iman atau agama melainkan juga ilmu pengetahuan dan
teknologi sebagai alat untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia sebagai
sarana untuk mencapai kehidupan yang bahagia di akhirat.

Berkaitan dengan tujuan pendidikan Islam, Muhammad Athiyyah Al-
Abrasyi berpendapat bahwa:

1. Tujuan pendidikan Islam adalah akhlak. Menurutnya, pendidikan budi
pekertimerupakan jiwa dari pendidikan Islam. Islam telah memberi
kesimpulan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah ruh (jiwa)
pendidikan Islam, dan tujuan pendidikan Islam yang sebenarnya adalah
mencapai suatu akhlak yang sempurna. Akan tetapi, hal ini bukan berarti
bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani, akal, ilmu maupun ilmu
pengetahuan praktis lainnya, melainkan bahwa kita sesungguhnya
memperhatikan segi-segi pendidikan akhlak sebagaimana halnya
memperhatikan ilmu-ilmu yang lain. Anak-anak membutuhkan kekuatan
dalam jasmani, akal, ilmu, dan juga membutuhkan pendidikan budi pekerti,

11 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 201.

cita rasa dan kepribadian.12 Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam adalah
mendidik budi pekerti dan pembentukan jiwa.
2. Memperhatikan agama dan dunia sekaligus. Sesungguhnya ruang lingkup
pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada pendidikan agama dan tidak pula
terbatas hanya pada dunia semata-mata. Rasululllah SAW pernah
mengisyaratkan setiap pribadi dari umat Islam supaya bekerja untuk agama
dan dunianya sekaligus, sebagaimana sabdanya:
“Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup untuk selama-
lamanyadan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok
hari”

Berdasarkan hadis di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW tidak
hanya memikirkan dunia semata, tetapi beliau juga memikirkan untuk bekerja dan
beramal bagi kehidupan akhirat. Karena itu tujuan pendidikan Islam bukan hanya
untuk pencapaian kebahagiaan duniatetapi juga untuk pencapaian kebahagiaan
akhirat.

12 Muhammad Athiyyah al-Abrasyi, At-Tarbiyah al-Islamiyah, terjemahan oleh; Abdulllah Zaky
Alkaaf(Cet.I;Bandung: CV Pustaka Setia, 2003), h. 13.

MANUSIA SEBAGAI PELAKU PENDIDIKAN

A. Hakikat Manusia

Manusia adalah makhluk bertanya yang selalu ingin tahu tentang berbagai
hal.Tidak hanya ingin mengetahui tentang segala sesuatu yang ada di luar dirinya,
manusia juga berusaha mencari tahu tentang siapa dirinya sendiri.

Dalam kehidupannya yang nyata, manusia mempunyai banyak sekali perbedaan,
baik tampilan fisik, strata sosial, kebiasaan maupun pengetahuannya. Tetapi, dibalik
perbedaan itu terdapat satu hal yang menunjukkan kesamaan di antara semua manusia,
yaitu semua manusia adalah manusia. Berbagai kesamaan yang menjadi karakteristik
esensial dari setiap manusia itulah yang kemudian disebut hakikat manusia. Atau
dengan kata lain hakikat manusia adalah seperangkat gagasan tentang “sesuatu yang
olehnya” manusia menjadi apa yang terwujud, “sesuatu yang olehnya”manusia
memiliki karakteristik yang khas, “sesuatu yang olehnya” ia merupakan sebuah nilai
yang unik, yang memiliki sesuatu martabat khusus(Wahyudin, 2008: 1.4).

Sementara itu Tirtahardja dan La Sulo (2010: 3) mengungkapkan bahwa hakikat
manusia adalah ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipiil membedakan manusia
dengan hewan. Wujud hakikat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan) menurut
paham eksistensialisme adalah sebagai berikut.

1. Kemampuan menyadari diri;
2. Kemampuan bereksistensi;
3. Pemilikan kata hati;
4. Moral;
5. Kemampuan bertanggung jawab;
6. Rasa kebebasan (kemerdekaan);
7. Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak; dan
8. Kemampuan menghayati kebahagiaan.

Hakikat manusia merupakan inti dari kemanusiaan manusia yang di dalamnya
terkandung harkat dan martabat manusia dari awal penciptaannya di muka bumi sampai
perjalanannya kembali ke hadapan Sang Maha Pencipta (Prayitno, 2009: 14)

Berbeda dengan yang di atas, Mudyahardjo (2012: 17) mengungkapkan pandangan
ilmiah dan filosofis tentang manusia. Secara ilmiah manusia adalah homo sapiens;
organisme sosiobudaya; individu yang belajar; animal sociale (binatang yang hidup
bermasyarakat); animal politicon(binatang yang hidup berpolitik); dan animal
economicus (binatang yang terus berusaha memperoleh kemakmuran materiil).
Sedangkan secara filosofis manusia adalah binatang yang berbuat; makhluk yang
berpikir dan beriman/percaya; binatang yang berevolusi fisik, psikis, dan sosial;
binatang yang bebas mewujudkan dirinya; animal symbolicum (mempunyai
kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk mengkomunikasikan pikirannya).

Manusia adalah makhluk Allah yang sangat mulia, karena ia telah dilengkapi sejak
awal penciptaannya dengan akal pikiran, sehingga atas dasar ini pula, ia sanggup
memikul amanah Tuhan sebagai khalifah fi al-Ardl. Di samping itu, manusia
dilengkapi dengan fitrah yang selalu cenderung kepada kebenaran. Artinya bahwa
manusia adalah makhluk yang senantiasa cenderung untuk mengetahui siapa Tuhannya,
di samping juga terdapat kecenderungan untuk beragama (Ahnan dan Syafa, 1994:
204).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat manusia adalah
segala sesutu yang mendasar dari manusia yaitusebagai makhluk ciptaan Allah yang
sangat mulia dan paling sempurna di alam dunia serta memiliki ciri-ciri karakteristik
yang membedakannya dengan makhluk lain di alam dunia. Manusia adalah makhluk
yang mampu berpikir, makhluk yang memiliki akal budi, makhluk yang mampu
berbahasa, dan makhluk yang mampu membuat perangkat peralatan untuk memenuhi
kebutuhan dan mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan.
B. Hakikat pendidikan

Pendidikan adalah humanisasi (upaya memanusiakan manusia), yaitu suatu upaya
dalam rangka membantu manusia (peserta didik) agar mampu hidup sesuai martabat
kemanusiaannya. Pendidikan bersifat personalisasi atau individualisasi, yaitu bertujuan
agar manusia menjadi pribadi atau individu yang mantap (Wahyudin, 2008: 1.29).

Pendidikan dalam arti luas adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman
belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan
adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Sedangkan
dalam arti sempit pendidikan adalah sekolah. Pendidikan adalah pengajaran yang
diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah

segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan
kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap
hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka. Dan dalam arti luas terbatas
pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan
pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/ atau latihan, yang
berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan
peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara
tepat di masa yang akan datang (Mudyahardjo, 2012: 3).

Sementara itu Tirtahardja dan La Sulo (2010: 33) mengemukakan bahwa
pendidikan mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sifatnya
yang kompleks itu, maka tidak sebuah batasan pun yang cukup memadai untuk
mejelaskan arti pendidikan secara lengkap. Adapun batasan-batasan tersebut adalah
sebagai berikut.

1) Pendidikan sebagai proses transformasi budaya, yaitu sebagai kegiatan pewarisan
budaya dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya. Ada tiga bentuk
transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai
kejujuran, rasa tanggung jawab dan lain-lain, yang kurang cocok diperbaiki,
misalnya tata cara pesta perkawinan, dan yang tidak cocok diganti misalnya
pendidikan seks yang dahulu dianggap tabu diganti dengan pendidikan seks melalui
pendidikan formal.

2) Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi, yaitu sebagai suatu kegiatan yang
sistematis dan sistemik terarah kepada terbukanya kepribadian peserta didik.
Sistematis disebabkan karena proses pendidikan berlangsung melalui tahap-tahap
bersinambungan (prosedural) dan sistemik disebabkan karena berlangsung dalam
semua situasi, di semua lingkungan yang saling mengisi baik lingkungan rumah,
sekolah maupun masyarakat.

3) Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara, yaitu sebagai suatu kegiatan
yang terencana untuk menyiapkan peserta didik agar menjadi warga negara yang
baik sesuai dengan tuntutan bangsa masing-masing. Bagi bangsa kita hal ini
bertujuan agar peserta didik tahu hak dan kewajiban sebagai warga negara, hal
ini sesuai denganUUD 1945 Pasal 27 yang menyatakan bahwa setiap warga negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung
hukum dan pemerintahan itu dengan tak ada kecualinya.

4) Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja, yaitu sebagai suatu kegiatan
membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar berupa pembentukan
sikap, pengetahuan, dan keterampilan untuk siap bekerja.Hal ini sejalan dengan
UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2 yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak
atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

5) GBHNmemberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan
nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonsia dan berdasarkan Pancasila
serta UUD 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan
martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman
dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, dan mandiri sehingga
mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi
kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa.

C. Manusia dan pendidikan

Manusia sebagai makhluk yang diberikan kelebihan oleh Allah dengan suatu bentuk
akal pada diri manusia yang tidak dimiliki makhluk Allah yang lain dalam
kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirannya manusia memerlukan pola
pendidikan melalui suatu proses pembelajaran. Hubungan manusia dengan pendidikan
sangat erat karena mempunyai ikatan yang tidak dipisahkan antara satu dengan yang
lainnya. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia
yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan
hidupnya. Manusia disebut juga “Homo Sapiens ” yang artinya sebagai makhluk yang
mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia adalah
selalu cenderung ingin mengetahui segala sesuatu disekelilingnya, yang belum
diketahuinya. Berawal dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi
bisa. Dari rasa ingin tahu maka timbulah ilmu pengetahun yang bermanfaat untuk
manusia itu sendiri.

Dalam hidupnya manusia digerakan sebagian oleh kebutuhan untuk mencapai
sesuatu dan sebagian lagi oleh tanggung jawab sosial dalam bermasyarakat. Manusia
bukan hanya mempunyai kemampuan -kemampuan, tetapi juga mempunyai
keterbatasan -keterbatasan. Manusia tidak hanya memiliki sifat-sifat yang baik namun
juga mempunyai sifat-sifat yang kurang baik. Menurut pandangan pancasila manusia
mempunyai keinginan untuk mempertahankan hidup dan menjaga kehidupan lebih

baik. Setiap manusia itu membutuhkan pendidikan. Karena melalui pendidikan
manusia dapat mempunyai kemampuan - kemampuan untuk mengatur dan mengontrol
serta menentukan dirinya sendiri. Melalui pendidikan pula perkembangan kepribadian
manusia dapat diarahkan kepada yang lebih baik. Dan melalui pendidikan kemampuan
tingkah laku manusia dapat didekati dan di analisis secara murni. Kemampuan seperti
itulah yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia dapat tumbuh
dan berkembang melalui pendidikan, karena manusia dapat tumbuh berkembang
melalui suatu proses alami menuju kedewasaan baik itu bersifat jasmani maupun
bersifat rohani. Oleh sebab itu manusia memerlukan Pendidikan demi mendapatkan
perkembangan yang optimal sebagai manusia. Dalam ajaran

Agama Islam memandang bahwa manusia sebagai tubuh, akal dan hati nurani.
Potensi dasar manusia yang dikembangkan itu tidak lain adalah bertuhan dan cenderung
kepada kebaikan bersih dari dosa, berilmu pengetahuan serta bebas memilih dan
berkreasi. Kemampuan kreatif manusia pun berkembang secara bertahap sesuai ukuran
tingkat kekuatan dan kelemahan unsur penunjang kerativitas seperti pendengaran,
pengelihatan serta pola piker manusia tersebut. Berdasarkan undang-undang Sisdiknas
No 20 tahun 2003 BAB I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Manusia lahir telah dikaruniai dimensi hakikat manusia tetapi masih dalam wujud
potensi, belum teraktualisasi menjadi wujud kenyataan atau “aktualisasi”. Dari kondisi
“potensi” menjadi wujud aktualisasi terdapat rentangan proses yang mengundang
pendidikan untuk berperan dalam memberikan jasanya. Seseorang yang dilahirkan
dengan bakat seni misalnya, memerlukan pendidikan untuk diproses menjadi seniman
terkenal (Tirtahardja dan La Sulo, 2010: 24).

a) Perlunya Pendidikan Bagi Manusia
Sejak kelahirnannya manusia memang adalah manusia, tetapi ia tidak secara

otomatis menjadi manusia dalam arti dapat memenuhi berbagai aspek hakikat
kemanusiaan. Dalam konteks ini dapat dipahami bahwa manusia hidup di dunia dalam
keadaan belum tertentukan menjadi apa atau menjadi siapa nantinya, karena itu hakikat

manusia pada dasarnya merupakan potensi sekaligus adalah sebagai tugas yang harus
diwujudkan oleh setiap manusia. Adapun untuk menjadi manusia yang sesungguhnya
diperlukan pendidikan atau harus dididik. “Man can become man through education
only”, demikian pernyataan Immanuel Kant dalam teori pendidikannya (Wahyudin,
2008: 1.21).
b) Asas-Asas Kemungkinan Pendidikan

Manusia perlu dididik, implikasinya manusia harus melaksanakan pendidikan
dan mendidik diri. M.J. Langeveld (1980) menyatakan bahwa manusia adalah animal
educantum, dan ia memang adalah animal educabile. Ada lima asas antropologis yang
mendasari kesimpulan bahwa manusia dapat dididik, yaitu sebagai berikut.
1) Asas potensialitas, menyatakan bahwa manusia dapat dididik karena ia memiliki potensi
untuk dapat menjadi manusia.
2) Asas dinamika, menyatakan bahwa manusia dapat dididik karena ia memiliki dinamika
untuk menjadi manusia yang ideal.
3) Asas individualitas, menyatakan bahwa manusia dapat dididik karena ia memiliki
kedirisendirian (subjektivitas), ia berbeda dari yang lainnya dan memiliki keinginan untuk
menjadi seseorang sesuai keinginan dirinya sendiri.
4) Asas sosialitas, menyatakan bahwa manusia dapat dididik karena ia hidup bersama dengan
sesamanya, ia bergaul dengan orang lain, dan ada pengaruh timbal balik dari pergaulan
tersebut.
5) Asas moralitas, menyatakan bahwa manusia dapat dididik karena manusia memiliki
kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk, dan pada dasarnya ia berpotensi
untuk berperilaku baik atas dasar kebebasan dan tanggung jawabnya (aspek moralitas).

ILMU SEBAGAI KURIKULUM MATERI PENDIDIKAN

A. Pengertian, Fungsi, Dan Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
1. Pengertian kurikulum pendidikan
Didunia pendidikan sekarang ini, telah dihebohkan dengan adanya
kurikulum baru yaitu kurikulum 2013, dimana proses perubahan yang terjadi
untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Di Indonesia sendiri memiliki
perubahan kurikulum mulai dari kurikulum 1947 atau disebut Rentjana pelajar
1947, kurikulum 1952 atau rentjana pelajar terurai 1952, kurikulum 1964 atau
tentjana pendidikan 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984,
kurikulum 1994 dan suplemen kurikulum 1999, kurikulum 2004 atau KBK
(kurikulum berbasis kompetensi), kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum
tingkat satuan pendidik), sampai yang sekarang ini kurikulum 2013.
Pada dasarnya istilah “kurikulum” berasal dari bahasa yunani, yaitu
curir (pelari) dan curere (tempat berpacu), dan pada awalnya digunakan dalam
dunia olahraga pada jaman yunani kuno. Dan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, kurikulum berarti perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada
lembaga pendidikan atau perangkat kuliah mengenai keahlian khusus. Dan
menurut UU No 20 tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana serta
harapan pengaturan yang berkaitan dengan isi, tujuan, cara serta bahan ajar
yang digunakan untuk pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan belajar
mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Pengertian kurikulum sejalan dengan tujuan pendidikan yang
menjadikan manusia sebagai khalifah dibumi. Dan Ki Hajar Dewantara
menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendidik anak agar
menjadi manusia yang sempurna hidupnya, yaitu kehidupan dna penghidupan
manusia yang selaras dengan alamnya (kodratnya) dan masyarakat. Fitrahnya
manusia memiliki kemampuan yang di berikan oleh Allah SWT sejak lahir,

yang harus di kembangkan dan dioptimalkan agar manusia dapat mencapai
tingkat kesempurnaan.
2. Fungsi pendidikan islam

Pada hakekatnya pendidikan islam adalah suatu proses yang sifatnya
berkelanjutan dan berkesinambungan. Berdasarkan hal ini maka tugas dan
fungsi pendidikan islam adalah pendidikan manusia seutuhnya dan
berlangsung sepanjang kehidupan manusia tersebut. konsepsi ini selaras
dengan perkembangan jasmani dan rohani manusia yang senantiasa dinamis
dan berkembang dari waktu ke waktu sampai akhir hayat. 1

Dalam menjalankan fungsinya pendidikan islam tidak begitu saja
dapat dilaksanakan dengan baik tanpa adanya situasi dan kondisi yang
kondusif. Berdasarkan pertimbangan ini maka fungsi pendidikan islam dapat
ditinjau dari segi struktural dan segi institusional. Dimensi struktural,
pendidikan menuntut adanya struktur organisasi yang mengatur jalannya
proses pendidikan. Sedangkan dimensi institusional mengisyaratkan tuntunan
bagi pendidikan islam untuk dapat memenuhi kebutuhan dan mengikuti
perkembangan jaman. 2

Adapun menurut Abdul Rahman Shaleh dalam bukunya.... pendidikan
Agama Islam & pembangunan watak bangsa, fungsi pendidikan agama islam
yaitu : 3
a. Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta akhlak

mulia
b. Kegiatan pendidikan dan pengajaran
c. Mencerdaskan kehidupan bangsa
d. Membangkitkan semangat studi keilmuan dan IPTEK

1 Nik Haryanti. Ilmu Pendidikan Islam. (Malang: gunung samudera, 2014) Hlm 39
2 Ibid Hlm 40
3 Ibid Hlm 41

Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi kurikulum
pendidikan islam adalah membimbing dan mengarahkan peserta didik secara
dengan menyediakan fasilitas agar tujuan pendidikan dapat berjalan dengan
lancar dan tercapai secara optimal.
3. Prinsip pendidikan islam

Syaifuddin Sabda mengemukakan bahwa Alqur’an adalah kitab
terbesar yang menjadi sumber filsafat pendidikan dan pengajaran bagi umat
islam. Sudah seharusnya kurikulum pendidikan islam disusun sesuai Alqur’an
dan ditambah dengan hadist yang melengkapinya. Sebab didalam dua pusaka
umat islam itu telah tersedia kerangka dasar pedoman dan penyusunan
kurikulum pendidikan islam yang diantaranya adalah.4
a. Sesuai dengan Alqur’an bahwa yang menjadi kurikulum ini pendidikan

Islam adalah Tauhid dan harus dimantafkan sebagai unsur pokok yang
tidak dapat dirubah. Pemantapan kalimat tauhid sudah mulai sejak bayi
dengan mendengarkan lafadz azan dan iqomah seketika saat bayi
dilahirkan.
b. Kurikulum inti selanjutnya adalah perintah “membaca” ayat-ayat Allah
yang meliputi tiga macam ayat Allah yaitu: ayat Allah yang berdasarkan
wahyu, ayat Allah yang berada pada diri manusia, dan ayat Allah yang
terdapat dibumi semesta di luar manusia.

Sepintas dua konsep tauhid merupakan dua prinsip yang tidak dapat
dibantah lagi. Keduanya merupakan prinsip kurikulum islam yang normatif.
Dan kajian historis ayat tersebut merupakan fakta yang sudah ada di zaman
Rasulullah SAW. Yang menjadikan tradisi belajar sebagai program prioritas
dalam kesehariannya yang menampilkan manusia penuh dengan kegairahan
dalam hidup, semangat dalam berjuang dan energi yang begitu besar untuk
berprestasi.

4 Muhammedi. Perubahan Kurikulum di Indonesia. Vol IV, No 1, januari-juni 2016 Hal 64

Dalam pandangan filosofis kekuatan manusia dalam memegang
prinsip dan nilai-nilai kebenaran sangat ditentukan oleh kualitas ilmu
pengetahuan yang dimilikinya. Semakin dalam pengetahuan yang dimiliki
maka semakin kokoh keberpihakannya terhadap nilai-nilai yang dianggapnya
benar pada saat yang sama diyakini dan tumbuh kesadaran untuk
mensosialisasikannya. Dengan kata lain, seseorang akan benar-benar kokoh
prinsip dan keyakinannya mana kala secara teoritis, filosofis dan praktis. Dia
memiliki sistem penjelasan yang rasional dalam menjawab tantangan
kehidupan yang dihadapi. Walaupun sepintas dia terlihat sebagai manusia
yang biasa-biasa saja.5

Pada intinya kurikulum pendidikan islam harus memenuhi unsur
ketauhidan, keagamaan, pengembangan potensi manusia sebagai khalifah
Allah, pengembangan hubungan antar manusia dan pengembangan diri
sebagai individu. Serta memegang erat prinsip-prinsip yang dirumuskan
dalam pendidikan islam yakni prinsip pertautan yang sempurna dengan
agama, ajaran dan nilai-nilai menyeluruh (universal) pada tujuan dan
kandungan kurikulum, tujuan relatif yang berkesinambungan, peningkatan
minat dan bakat masing-masing individu, memiliki keterkaitan antara
pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum dengan zaman
dan tempat yang berbeda demi tujuan pendidikan Islam dapat tercapai.
B. Ilmu Dalam Perspektif Islam Dan Klasifikasinya

Dalam perspektif islam, studi keilmuan akan lebih baik apabila dipahami
denganmerujuk pada sumber utamanya yaitu Alqur’an dan Hadist. Pada dasarnya
ilmu pengetahuan sangat terkait dengan akidah. Karena penguasaan ilmu
berdampak langsung apada prilaku seseorang. Imam Al-Ghazali membagi ilmu
dalam dua klasifikasi utama yaitu: ilmu fardu ain, dan ilmu fardu kifayah.6

5 Ibid hal 65
6 Kkholil Hasib. Filsafat ilmu dan problem metodologi pendidikan islam. Universutas Gontor. Vol 9
No 2 Desember 2014 hal 155-156

Allah berfirman “Allah SWT akan menginggikan orang-orang yang
beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat, dan Allah SWT maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(QS. Al-Majadalah: 11) dalam Hadispun dijelaskan “barang siapah yang
mencari ilmu maka ia di jalan Allah SWT sampai ia pulang” (HR. Tarmidzi).

Ilmu dalam islam tidak hanya sekedar informasi, tapi ilmu itu
memancarkan pengenalan terhadap sesuatu. Orang yang bertambah ilmunya
maka bertambah pula keimanannya. Ilmu itu meramgkum keyakinan dan
kepercayaan yang benar (iman) (alattas). Tujuan mencari ilmu adalah untuk
menanamkan kebaikan dan keadilan kepada manusia, sebagai manusia dan
pribadi dalam rangka mencari Rido Allah SWT dan meraih kebahagiaan dunia
dan akhirat.

Tujuan ilmu untuk menghilangkan kekeliruan iman, dan bisa
membedakan antara yang haq dan bathil. Kategorisasi utama dari segi kewajiban
mencari ilmu adalah pembagian ilmu menjadi fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
Ilmu fardhu‘ain adalah ilmu yang wajib bagi tiap-tiap individu muslim
mengetahuinya. Mencakup ilmu yang berkenaan dengan i’tiqad (keyakinan).
Ilmu-ilmu yang menyelamatkan dari keraguan (syakk) iman. Tujuan ilmu ini
untuk menghilangkan kekeliruan iman, dan bisa membedakan antara yang haq
dan bathil. Dimensi lain – dari ilmu fardhu ‘ain – adalah ilmu-ilmu yang
berkenaan dengan perbuatan yang wajib akan dilaksanakan. Misalnya, orang
yang akan berniaga wajib mengetahui hukum-hukum fiqih perniagaan, bagi yang
akan menunaikan haji wajib baginya memahami hukum-hukum haji. Dan ilmu-
ilmu yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang harus ditinggalkan seperti
sifat-sifat tidak terpuji dan lain-lain.

Sedang ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang wajib dipelajar oleh
sebagian masyarakat Islam, bukan seluruhnya. Dalam fardhu kifayah, kesatuan
masyarakat Islam secara bersama memikul tanggungjawab kefardhuan untuk
menuntutnya (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin jilid 1). Dinamisasi konsep

fardhu ‘ain dan fardlu kifayah sangat signifikan menunjang pembaharuan
pendidikan yang lebih beradab. Dalam perspektif Imam al-Ghazali, pengajaran
yang baik itu bukan bersifat juz’i (parsial) tapi kulli (komprehensif).
C. Contoh Kurikulum Pendidikan Islam (Klasik Dan Modern)
Membanding konsep pendidikan modern dengan pendidikan klasik.

Faktor Pendidikan modern Pendidikan klasik
No

pembanding

1 Pendidikan Penanaman Humanisme Penanaman

Moral dengan cara Anti Kekerasan Humanisme dengan

menggunakan

Kekerasan dalam taraf

wajar

2 Fungsi guru Sebagai Motivator dan Pusat segala aktivitas

Fasilitator. pendidikan baik di

lingkungan sekolah

maupun luar sekolah.

3 Penerapan Etika Tergantung pada masing- Wajib diterapkan di

masing individu peserta dalam maupun luar

didik lingkungan sekolah.

4 Punishment and berupa himbauan dan Berupa himbauan dan

Reward. apresiasi sesuai dengan apresiasi sesuai

kompetensi peserta didik. dengan kompetensi

peserta didik.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan

produk budaya Indonesia. Keberadaannya pesantren di Indonesia di mulai sejak

Islam masuk di negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan.

Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama ada di negeri ini, pondok pesantren

diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa.

Pesantren tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh nasional yang paling berpengaruh
di negeri ini, tetapi juga diakui telah berhasil membentuk watak tersendiri, di
mana bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam yang dapat
menyesuaikan diri dan penuh tenggang rasa.7

Modernisasi pendidikan Islam pertama kali setidaknya mempunyai dua
kecenderungan, antara lain: pertama, adopsi sistem dan lembaga pendidikan
modern secara hampir menyeluruh yang bertitik tolak pada sistem kelembagaan
pendidikan modern (Belanda), misalnya yang dilakukan oleh Abdullah Ahmad
melalui Madrasah Adabiyah yang kemudian diubah menjadi Sekolah Adabiyah.
Di sekolah ini mengadopsi seluruh kurikulum Belanda; dan hanya menambahkan
pelajaran agama 2 jam dalam sepekan. Kedua, modernisasi pendidikan Islam
yang bertitik tolak dari sistem dan kelembagaan pendidikan Islam sendiri.
Modernisasi ini dilakukkan di dunia pesantren, surau, melalui adopsi aspek-
aspek tertentu dari sistem pendidikan modern, khususnya dalam kandungan
kurikulum, teknik dan metode pembelajaran.8

7 Amin Haedari, Transformasi Pesantren: Pengembangan Aspek Pendidikan, Keagamaan
dan Sosial. (Jakarta: LeKDiS & Media Nusantara, 2006) Cet Ke-1 hal 3

8 Ibid hal 10-11

SISTEM PEMBELAJARAN DALAM

PENDIDIKAN ISLAM

A. PENGERTIAN SISTEMA, PENGERTIAN PENDIDIKAN,
PENDIDIKAN NASIONAL DAN PENDIDIKAN ISLAM
Sistem berasal dari bahasa yunani yaitu system yang berarti “cara strategi”.

Dalam bahasa inggris system bearti “ sistim, susunan, jaringan, cara” sistem juga
diartikan suatu strategi, cara berfikir atau model berfikir”.

Defenisi tradisional bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau
unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya mobil
adalah suatu sistem, yang meliputi komponen seperti roda, rem, kemudi, rumah-
rumah, mesin dan sebagainya nya. Dalam artian yang luas, mobil sebenarnya adalah
suatu subsistem atau komponen dalam sistem trasportasi, disamping alat-alat
trasportasi lainnya yaitu sepeda, motor, pesawat terbang dan sebagainya, dan dalam
arti lebih luas lagi trsaportasi adalah sub sistem atau komponen dari sistem ekonomi,
sedangkan ekonomi adalah komponen-komponen atau subsistem dari sistem
kehidupan.

Defenisi modern juga tidak jauh berbeda dengan defenisi tradisional seperti
dikemukakan oleh para pakar secara terperinci, seperti :

1. Roger A kaufan mendefinisikan sistem yaitu suatu totalitas yang tersusun dari
bagian-bagian yang bekerja secara sendiri-sendiri ( independent) atau bekerja
secara bersama-sama untuk mencapai hasil .atau tujuan yang diinginkan
berdasarkan kebutuhan.
2. Immegart mendefinisikan esensi sistem adalah suatu keseluruhan yang tersusun
secara sistematis, bagian-bagian, itu terelasi antara satu dengan yang lain, serta
peduli terhadap konteks lingkungannya. Dan pendapat di atas dijelaskan bahwa
sistem itu memiliki stuktur yang teratur yang saling terikat dan saling bekerjasama
dalam mencapia tujuan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara. PendidikanbNasional berdasarkan Pancasila dan
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada
nilai-nilai agama, kebudayaan nasional dan tanggap terhadap tuntutan perubahan
zaman.

Pendidikan Islam menurut Zakiah Darajat adalah adalah pembentukan
kepribadian muslim.Atau perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan petunjuk
ajaran Islam. Muhammad Quthb yang dikutip oleh Abdullah Idi, menyatakan
Pendidikan Islam adalah usaha melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap
wujud manusia, baik dari segi jasmani maupun ruhani, baik dari kehidupan fisik
maupun mentalnya, dalam kegiatan di bumi ini.

Dari definisi-definisi di atas, baik yang dikemukakan UU Sisdiknas 2003
maupun para tokoh pendidikan, dapat disimpulkan bahwa tujuan akhir pendidikan
adalah pembentukkan tingkah laku islami (akhlak mulia) dan kepasrahan
(keimanan) kepada Allah berdasarkan pada petunjuk ajaran Islam (Al-Qur’an dan
Hadis).

Pendidikan Islam adalah kegiatan yang dilaksanakan secara terencana dan
sistematis untuk mengembangkan potensi anak didik berdasarkan pada kaidah-
kaidah agama Islam. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk
mencapai keseimbangan pertumbuhan pribadi manusia secara menyeluruh melalui
latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan serta panca indera yang
dimilikinya. Dalam Perspektif budaya, pendidikahn Islam adalah sebagai pewarisan
budaya, yaitu sebagai alat transmisi unsur-unsur pokok budaya kepada para
generasi, sehingga identitas umat tatap terpelihara dalam tangangan zaman, bahkan
dalam terma sosio kultural yang plural dikatakan pendidikan Islam tanpa daya
sentuhan budaya akan kehilangan daya tarik yang pada akhinya hanya akan menjadi
tontonan artifisial yang membosankan ditengah percaturan arus globalisasi.

Semantara dalam persepektif teknologi dan industri, Pendidikan Islam
memiliki kompetensi strategis dalam memanifestasikan pendidikan agama yang
mengantarkan peserta didik sebagai sosok yang mampu menjadi pelaku
pembangunan yang mengadopsi, megidensitifikasi dan mengkonsumsi
diverssifikasi dinamika kultural, sosial, ekonomi, politik dan prosuk sain dan
teknologi, tetapi sekaligus mengendalikan, menguasai, memimpin, seperti
mengarahkan dan mendistribusikannya kedalam aktivitas yang bermanfaat baik
secara pribadi, sosial maupun organisasis, agar peserta didik tidak dangkal karena
penettrasi yang berkaraktristik dinamis, sekaligus tidak kropos dalam bidang
moralitas.

Pendidikan seharusnya bertujuan menimbulkan pertumbuhan kepribadian
total manusia secara seimbang, melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri,
perasaan, dan kepekaan tubuh manusia, makapendidikan seharusnya menyediakan
jalan bagi pertumbuhan manusia dalam aspeknya: spiritual, intelektual, imajinasi,
fisik, ilmiah, linguistikbaik secara individual maupun secara kolektif, dan
memotivasi semua aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan.
Tujuan akhir pendidikan Muslim terletak pada realitas kepasrahan mutlak kepada
Allah pada tingkat individual, masyarakat, dan kemanusian pada umumnya.

Dilihat dari tuntutan internal dan eksternal global, diantara keunggulan-
keunggulan yang harus dimiliki bangsa adalah keunggulan sumber daya manusia
(SDM). Maka suatu bangsa khususnya bangsa Indonesia harus memiliki lembaga
pendidikan yang menjadi filter yang mampu menyaring dan benteng bagi dampak
negatif dari arus globalisasi, sehingga mampu untuk melahirkan sumber daya
manusia yang handal dan unggul dengan tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa
yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Maka sistem pendidikan islam adalah seperangkat unsur yang terdapat
dalam pendidikan yang berorientasi pada ajaran islam yang saling berkaitan
sehingga membentuk satu kesatuan dalam mencapai satu tujuan. Sistem Pendidikan
Islam merupakan cara dan langkah yang tersusun berdasarkan sumber-sumber
ajaran islam dengan dalam melaksanakan pendidikan secara baik dan teratur dalam
mencapai tujuan pendidikan islam.

Hubungan antara nilai-nilai dan unsur-unsur dalam suatu Sistem pendidikan
Islam merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antar satu dengan
lainnya, ibarat gula dengan manisnya dan garam dengan asinnya.
B. Ciri Suatu Sistem Dan Komponennya
Secara teori menurut Reja Mudyaharjo mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Keseluruhan adalah hal yang utama dan bagian- bagian adalah hal yang kedua
2. Integrasi adalah kondisi saling hubungan antara bagian-bagian dalam satu sistem
3. Bagian-bagian membentuk sebuah keseluruhan yang tak dapat dipisahkan
4. Begian-bagian memainkan peran mereka dalam kesatuannya untuk mencapai
tujuan dan keseluruhan
5. Sifat dan bagian dari fungsinya dalam keseluruhan dan tingkah lakunya diatur
oleh keseluruhan terhadap hubungan- hubungan bagiannya
6. Keseluruhan adalah sebuah sistem atau sebuah kompleks atau sebuah konfigurasi
dan energi dan prilaku seperti sesuatu unsur tunggal yang tidak kompleks
7. Segalah sesuatu haruslah dimulai dan keseluruhan sebagai suatu dasar dan
bagian- bagian serta hubungan- hubungan serta baru kemudian terjadi secara
berangsur-angsur.

Sebuah sistem terdiri atas bebarapa sub-sistem, setiap sub-sistem mungkin
terdiri dari beberapa sub- sub sistem, selanjutnya setiap sub-sub sistem mungkin
terdiri dari beberapa sub-sub-subsistem, begitu seterusnya sampai bagian itu tidak
dapat dibagi lagi yang disebut komponen. Setiap sub-sistem itu dlama
kemandiriannya merupakan satu sistem pula.

Sedangkan J.W Getzel dan E.G Guba menyatakan bahwa umumnya system
sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1.Terdiri atas unsur-unsur yang berkaitan antara satu sama lain.
2.Berorientasi kepada tujuan yang ditetapkan.
3.Didalamnya terdapat peraturan-peraturan dan tata tertib kegiatan dan sebagainya.

Bila diaplikaskan dalam sistem pendidikan seperti yang dikemukakan para pakar
sebagai berikut:
~Neong muhadjir membagi komponen sistem kepada tiga kategori yaitu:
1. Bertolak dari lima unsur dasar pendidikan, meliputi: yang memberi, yang
menerima, tujuan, cara/jalan, dan konteks positif
2.Bertolak dari empat komponen pendidikan yaitu kurikulum, subjek didik,
personifikasi pendidik, dan konteks belajar mengajar
3. Bertolak dari tiga fungsi pendidikan yaitu pendidikan kreativitas, pendidikan
moralitas, dan pendidikan produktif.

~Prof.Dr.H.Ramayulis membagi sistem pendidikan tersebut atas empat unsur,
yaitu :
1.Kegiatan pendidikan yang meliputi: pendidikan diri sendiri, pendidikan oleh
lingkungan, pendidikan oleh seseorang terhadap orang lain
2.Binaan pendidika , mencangkup: jasmani akal dan galbu
3.Tempat pendidikan mencnagkup: rumah tangga, sekolah, dan masyarakat
4.Komponen pendidikan mencangkup: dasar, tujuan, materi, metode, media,
evaluasi, administrasi, dan dan sebagainya

C. Pendekatan Sistem
Pendekatan Sistem adalah suatu proses kegiatan yang mengidentifikasi

kebutuhan, memilih problem mengidentifikasi syarat-syarat pemecahan problem
serta memilih alternative pemecahan problem yang paling tepat mengevaluasi hasil
dan merevisi sebagian atau seluruh sistem yang dilaksanakan sehingga memenuhi
kebutuhan dalam memecahkan masalah dengan baik.

Menurut Reja Mudyaharja pendekatan sistem adalah cara-cara berfikir dan
bekerja yang menggunakan konsep-konsep teori sistem yang relevan dalam
memecahkan masalah.

Dengan demikian pendekatan sistem merupakan proses pemecahan masalah
yang logis untuk mencapai hasil pendidikan secara efektif dan efisien. Sistem
menurut Reja Mudyaharja yaitu:

Sistem Tertutup : Sistem yang struktur organisasi bagian-bagiannya tidak mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sekurang-kurangnya dalam jangka
pendek. Struktur bagian-bagiannya tersusun secara tetap dan bentuk operasinya
berjalan otomatis.
Sistem Terbuka : Sistem yang bagian depannya terus menyesuaikan diri dengan
masukan dan lingkungan secara terus-menurus, berubah dalam usaha untuk
mencapai kapasitas optimal. Struktur bagiannya bersifat lentur dan bentuk
operasinya dinamis karena bagian-bagian dalam system dapat berubah karakteristik
dan posisinya.

Pendidikan Islam itu bisa dikategorikan sebagai sistem tertutup karena ada
prinsip-prinsip dasar dalam sistem tersebut yang sudah baku(tidak berubah dan
tidak boleh berubah) yaitu al-quran dan hadist, tetapi dalam system lain pendidikan
islam dikategorikan sebagai system terbuka karena dalam perkembangannya selalu
berkaitan dengan berbagai system dalam masyarakat yang mempengaruhi sistem
pendidikan islam.
D. Model Perumusan Sistem Pendidikan Islam

Sebagai suautu sistem, pendidikan islam berbeda dengan sistem pendidikan
non-islam sebab pendidikan islam memiliki dua model yaitu :

1. Model idealistik
Model idealistik adalah model yang lebih mengutamakan penggalian sistem

pendidikan islam dari ajaran islam sendiri yaitu alquran dan hadist yang
menggandung prinsip-prinsip pokok berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek
pendidikan. Menurut aryumani arza, dasar-dasar pembentukan dan pengembangan
pendidikan islam yang pertama dan utama dalam al-quran dan sunnah.

Model lain menggunakan pola deduktif, dengan membangun premis mayor
( sebagai postulat) yang dikaji dari nash.bangunan premis mayorini digunakan
sebagai “kebenaran universal dan mutlak” untuk diterapkan pada premis minornya ,
dan proses ini mendapatka konglusi mengenai sistem pendidikan islam,
Menurut abdul mujib prosedur penyusunan model ini sebagai berikut:

1. Digali pemecahan persoalan kependidikan islam berdasarkan nash secara
langsung. Prosedur ini biasanya menggunakan pendekatan maudhu’i (tematik)
yaitu mengklafisikasikan ayat atau hadist menurut katagorinya lalu menyimpulkan
2. Digali dari hasil interpretasi nash para ahli filosofis islam seperti konsep jiwa
manusia menurut al-farabi, al-kindi, ibn sina, ibn maskawaih, ibn thufail dan
sebagainya konsep ini berkaitan dengan komponen peserta didik dan pendidik. Ciri
utama interpretasi kelompok ini adalah sangat mengutamakan pendidikan
intelektual(al-agl)
3. Digali dari hasil interpresati para sufi muslim seperti konsep jiwa dan konsep
ilmu menurut al-gasali dan lainnya. Konsep ini berkaitan dengan komponen peserta
didik, pendidik, kurikulum, metode, alat pendidikan. Ciri utama interpresati dangat
mengutamakan pendidikan intuisi(al-gaib)
4. Digali dari hasil interpertasi para musafir dan para ahli pendidikan modern,
seperti mahammad abduh, rasyid ridha, igbal dan sebagainnya. Ciri utama
kelompok ini adalah hasill interpretasi nash-nya didukung oleh data ilmiah, seperti
yang tertulis di dalam tafsir al-manar. Model idealistik ini lebih didasarkan atas
kerangkah dasar yang diyakini kebenarannya sehingga Ia becolak se-islam mungkin.
Namun untuk merumuskannay memerlukan metosologi yang tepat dan benar. Di
indonesia sabagian pakar pendidikan islam lemah dalam penguasaan metodologi.

5.Model Pragmatis
Model pragmatis adalah model yang lebih mengutamakan aspek praktis dan

kegunaannya artinya formulasi sisetem pendidikan itu diambil dari sistem
pendidikan kontemorer dapat dikembangkan dalam pendidikan islam, selalam tidak
bertentangan dengan prinsip-prisnsip dasar yang terdapta dalam alquran dan sunnah.
Model pragmatis dilakukan dengan cara :
1. Adobsi yaitu mengambil secara utuh sistem pendidikan non-islam
2. Asimilasi yaitu mengambil sistem pendidikan non-islam dengan

menyesuaikannya disana sini
3. Legitimasi yaitu mengambil sistem pendidikan no-islam kemudian dicarikan

nash untuk justifikasinya

Menurut abd mujib sistem pendidikan yang didasarkan model ini bersumber
dair pemikiran filsafat pendidikan, psikologi pendidikan kontemporer. Sistem
pendidikan yang terdapat di dalam aliran progrevisme, esensisalisme, dan
rekontruksionisme.

Model pragmatis paling banyak diminati pakar pendidikan islam. Disamping
efektif dan efisiensinya, model ini tekh diuji keunggulannya. Sistem penddikan
islam yang dikembangkan melalui model ini memiliki posisi tersendir bahkan
mampu menjadi alternatif bagi keberadaan sistem pendidikan kontemporer.
Perbedaan Sistem Pendidikan Islam Dengan Sistem Pendidikan Non Islam

1. Sistem Ideologi
Islam memiliki ideology al-tauhid yang bersumber dari al-Quran dan

Sunnah. Sedangkan non-islam memiliki berbagai macam ideologi yang bersumber
dari isme-isme materialis, komunis, ateis, sosialis, kapitalis dan sebagainya.

2. Sistem Nilai
Sistem Islam bersumber dari nilai al-Quran dan sunnah, sedangkan non-

islam bersumber dari nilai hasil pemikiran, hasil penelitian para ahli, dan adat
kebiasaan masyarakat. Dalam Islam nilai-nilai pada al-Quran dan Sunnah tersebut
diinternalisasikan kepada peserta didik melalui proses pendidikan.

3. Orientasi Pendidikan
Pendidikan Islam berorientasi kepada pada kedua kehidupan yaitu duniawi

dan ukhrawi, sedangkan pendidikan non-islam orientasinya duniawi semata.
Didalam islam kehidupan akhirat merupakan kelanjutan dari kehidupan dunia,
bahkan suatu mutu kehidupan akhirat konsekuensi dari mutu kehidupan dunia.

METODE PENDIDIKAN ISLAM

Dalam pendidikan islam, menurut Abudin Nata dan An-Nahlawi seorang
pakar pendidikan Islam mengemukakan metode pendidikan yang berdasarkan
metode Al-qur’an dan hadist yang dapat menyentuh perasaan, yaitu sebagai
berikut:1
1. Metode Hiwar (percakapan)

Metode hiwar adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau
lebih mengenai suatu topik dan sengaja diarahkan pada satu tujuan yang
dikehendaki oleh pendidik. Jenis-jenis hiwar ada 5 macam, yaitu sebagai
berikut:
a. Hiwar Khitabi merupakan dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan

dan hamba-Nya.
b. Hiwar Washfi yaitu dialog antara Tuhan dan makhluk-Nya. Seperti yang

terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 30-31.
c. Hiwar Qishashi adalah percakapan yang baik bentuk maupun rangkaian

ceritanya sangat jelas. Hiwar ini merupakan bagian dari uslub kisah dalam
Al-Qur’an. Misalnya, kisah Syu’aib dan kaumnya yang terdapat dalam
surah Hud ayat 84-85.
d. Hiwar Jadali adalah hiwar yang bertujuan untuk memantapkan hujjah,
baik dalam rangka menegakkan kebenaran maupun kebathilan.
e. Hiwar Nabawi adalah hiwar yang digunakan oleh Nabi dalam mendidik
sahabat-sahabatnya.
2. Metode kisah Qur’ani dan nabawi yaitu penyajian bahan pembelajaran yang
menampilkan cerita-cerita yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadist Nabi
Muhammad Saw. kisah Qur’ani bukan semata-mata karya seni yang indah,
tetapi juga mendidik umat agar beriman kepada-Nya. Dalam pendidikan Islam,
kisah merupakan metode yang sangat penting karena dapat menyentuh hati
manusia. Kisah menampilkan tokoh dalam konteks menyeluruh sehingga

1 Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV.
Diponegoro, 1982)

pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati, seolah-olah ia sendiri yang
menjadi tokohnya.
3. Metode Amtsal (perumpamaan) Al-Qur’ani adalah penyajian bahan
pembelajaran dengan mengangkat perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an.
Metode ini mempermudah peserta didik dalam memahami konsep yang
abstrak. Selain itu, dapat pula membawa pemahaman rasional yang mudah
dipahami sekaligus dapat menumbuhkan daya motivasi untuk meningkatkan
imajinasi yang baik dan meninggalkan imajinasi yang tercela.
4. Metode keteladanan (uswah hasanah) adalah metode yang memberikan
keteladanan atau contoh yang baik kepada peserta didik dalam kehidupan
sehari-hari. Metode ini merupakan pedoman untuk bertindak dalam
merealisasikan tujuan pendidikan, baik secara institusional maupun nasional.
Metode ini secara sederhana merupakan cara memberikan contoh teladan yang
baik, tidak hanya memberi didalam kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-
hari. Dengan begitu peserta didik tidak segan-segan untuk meniru dan
mencontohnya. Menurut Abdurrahman Annahlawi, tujuan dari sudut ilmiah
menunjukkan bahwa pada dasarnya keteladanan memiliki sejumlah asas
kependidikan, yaitu sebagai berikut:
a. Pendidikan islami merupakan konsep yang senantiasa menyeru pada jalan

Allah.
b. Sesungguhnya islam telah menjadikan kepribadian Rasulullah Saw

sebagai teladan abadi dan aktual bagi pendidik dan generasi muda
sehingga setiap kali kita membaca riwayat beliau, semakin bertambahlah
hasrat dan kecintaan beliau meneladani.2
5. Metode pembiasaan

Metode pembiasaan adalah membiasakan peserta didik untuk melakukan
sesuatu sejak ia lahir. Inti dari pembiasaan ini adalah pengulangan. Jadi,
sesuatu yang dilakukan peserta didik hari ini akan diulang keesokan harinya

2 Annahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Bandung: CV. Diponegoro,
1982), Hlm. 263

dan begitu seterusnya. Metode ini akan semakin nyata manfaatnya jika
didasarkan pada pengalaman. Artinya, peserta didik dibiasakan untuk
melakukan hal-hal yang bersifat terpuji. Pembiasaan ini juga dapat diartikan
dengan pengulangan. Oleh karena itu, metode ini juga berguna untuk
menguatkan hafalan peserta didik.
6. Metode Ibrah dan Mau’izah

Metode ibrah adalah penyajian bahan pembelajaran yang bertujuan
melatih daya nalar pembelajar dalam menangkap makna terselubung dari suatu
pernyataan atau kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari
sesuatu yang disaksikan. Sementara itu, metode mau’izah adalah pemberian
motivasi dengan menggunakan keuntungan dan kerugian dalam melakukan
perbuatan.
7. Metode targhib dan tarhib

Metode targhib dan tarhib adalah penyajian pembelajaran dalam konteks
kebahagiaan hidup akhirat. Targhib berarti janji Allah terhadap kesenangan
dan kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Sedangkan, tarhib adalah
penyajian bahan pembelajaran dalam konteks hukuman (ancaman Allah)
akibat perbuatan dosa yang dilakukan.3
8. Metode ceramah (khutbah) adalah cara yang paling banyak digunakan dalam
menyampaikan atau mengajak orang lain mengikuti ajaran yang telah
ditentukan.
9. Metode diskusi. Metode diskusi digunakan dalam pendidikan Islam adalah
untuk mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan
pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah.
10. Metode hukum dan ganjaran. Metode hukuman ini digunakan dalam
pendidikan Islam adalah sebagai sarana untuk memperbaiki tingkah laku
manusia yang melakukan pelanggaran dan dalam taraf sulit untuk dinasehati.
Sedangkan, metode ganjaran diberikan sebagai hadiah atau penghargaan

3 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2013), Hlm. 162-164


Click to View FlipBook Version