kepada orang yang melakukan kebaikan atau ketaatan atau berprestasi yang
baik.4
4 Abudin nata, Filsafat Pendidikan Islam I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, Cet. I, 1997), hlm. 95-107
EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
A. PENGERTIAN EVALUASI
Pengertian evaluasi dapat dijelaskan secara bahasa maupun secara harfiah.
Secara bahasa, evaluasi berasal dari kata bahasa inggris “evaluation” yang artinya
penaksiran atau penilaian. Sedangkan secara harfiah, evaluasi adalah proses
menentukan nilai untuk suatu hal atau objek berdasarkan acuan tertentu untuk
mencapai tujuan tertentu.
Evaluasi diadakan untuk mengumpulkan dan mengombinasikan data
dengan standar tujuan yang hendak dicapai sehingga dapat dijadikan dasar dalam
pengambilan keputusan.
Dalam istilah perusahaan, evaluasi merupakan proses pengukuran akan efektivitas
strategi yang dijalankan untuk mencapai tujuan perusahaan. Hasil dari evaluasi
selanjutnya akan digunakan sebagai analisis program selanjutnya.
B. PENGERTIAN EVALUASI MENURUT PARA AHLI
Para ahli memiliki beberapa pemahaman teori mengenai evaluasi. Berikut
terdapat beberapa versi pengertian evaluasi menurut para ahli:
1. Sudjiono
Evaluasi adalah sebuah interpretasi atau penafsiran yang bersumber pada
data – data kuantitatif, menurut pengertiannya sendiri kuantitatif merupakan hasil-
hasil dari pengukuran.
2. Stufflebeam dkk
Evaluasi merupakan the proses of obtaining, delineating, and providing
useful information for judging decision alternative. Artinya, evaluasi adalah sebuah
proses, penggambaran, perolehan, dan penyedia informasi yang berguna dan
alternatif keputusan.
3. Worthen and Sanders
Evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga. Sesuatu yang berharga ini
dapat berupa suatu program atau informasi, produksi serta alternatif prosedur
tertentu. Evaluasi bukanlah merupakan hal baru dalam kehidupan manusia, sebab
hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang.
4. Purwanto
Pengertian evaluasi, secara garis besar, dapat dikatakan bahwa pemberian
nilai terhadap kualitas tertentu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang
sebagai proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang
diperlukan dalam membuat keputusan alternatif.
5. Rooijackers Ad
Pengertian evaluasi sebagai suatu proses atau usaha dalam menentukan nilai.
Secara khusus penilaian atau evaluasi juga diartikan sebagai proses pemberian nilai
didasarkan pada data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan
keputusan.
C. TUJUAN EVALUASI
Dalam suatu lingkup organisasi, perusahaan dan kegiatan struktural lainnya,
kegiatan evaluasi beberapa kali diadakan. Hal ini tidak terlepas dari tujuan
dilakukannya evaluasi itu sendiri.
Berikut beberapa tujuan diadakannya kegiatan evaluasi:
1. Mengetahui tingkat pemahaman dan penguasaan seseorang dalam suatu
bahasan atau kompetensi.
2. Menemukan kesulitan seseorang dalam suatu kegiatan, sehingga evaluasi
diadakan guna memecahkan masalah dan kesulitan yang dihadapi dalam
suatu kegiatan.
3. Memahami tingkat keefektifan suatu metode, cara, atau sumber daya yang
terlibat dalam suatu kegiatan.
4. Evaluasi berperan sebagai umpan balik untuk melakukan perbaikan pada
suatu kegiatan sehingga bisa dijadikan acuan dalam kegiatan selanjutnya.
D. FUNGSI EVALUASI
Keberadaan hasil akhir laporan tidak pernah terlepas dari proses evaluasi.
Oleh karena itu, evaluasi memiliki bermacam fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi Pengukuran Keberhasilan
Mengukur keberhasilan sebuah kegiatan atau program merupakan fungsi
evaluasi yang paling utama. Pengukuran tingkat keberhasilan dilakukan pada
berbagai komponen, termasuk metode yang digunakan, penggunaan sarana, dan
pencapaian tujuan.
2. Fungsi Seleksi
Melalui fungsi selektif, kegiatan evaluasi dapat digunakan untuk
menyeleksi seseorang, metode, atau alat sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan sebelumnya. Contohnya adalah dalam memutuskan apakah seseorang
layak atau tidak untuk diterima bekerja, naik jabatan, dan sebagainya.
3. Fungsi Diagnosis
Evaluasi juga dapat digunakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
seseorang atau sebuah alat dalam bidang kompetensi tertentu. Contoh fungsi
diagnosis dari kegiatan evaluasi adalah untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangan seorang siswa dalam mata pelajaran yang dipelajarinya.
4. Fungsi Penempatan
Proses evaluasi berfungsi untuk mengetahui posisi terbaik untuk seseorang
sesuai kapabilitas dan kapasitas yang dimilikinya. Dengan melakukan evaluasi,
manajemen perusahaan dapat menempatkan setiap karyawan di posisi yang paling
tepat sehingga menghasilkan kinerja yang optimal.
E. SASARAN EVALUASI
Merupakan tindakan yang harus ditempuh oleh pendidik dalam
mengadakan evaluasi. Menurut Tabrani Rusyan dalam Abuddin Nata yang menjadi
sasaran pokok evaluasi tersebut, yaitu:
1. Segi tingkah laku yaitu segi-segi yang menyangkut sikap, minat, perhatian,
keterampilan peserta didik sebagai akibat dari proses belajar mengajar.
2. Segi pendidikan yaitu penguasaan materi pelajaran yang diberikan oleh
pendidik dalam proses belajar mengajar.
3. Segi-segi yang menyangkut proses belajar mengajar, yaitu bahwa proses
belajar mengajar perlu diberi penilaian secara objektif dari pendidik.
F. TAHAP-TAHAP EVALUASI
Evaluasi memiliki beberapa tahapan yang perlu untuk diperhatikan. Hasil
akhir dari evaluasi diharapkan mampu digunakan sebagai perbaikan di masa
mendatang dari suatu acara. Berikut tahap – tahap evaluasi yang perlu diperhatikan
ketika hendak melakukan evaluasi.
1. Apa Saja yang Dievaluasi
Hasil akhir suatu kegiatan atau program kerja selalu berkaitan dengan
evaluasi. Oleh karena itu, sebelum evaluasi hendaknya memaparkan dengan jelas
poin penting apa saja yang perlu dievaluasi.
2. Merancang Kegiatan Evaluasi
Sebagaimana program kerja, ketika hendak melakukan kegiatan evaluasi
baiknya ditentukan dulu rancangan kegiatan evaluasi. Hal ini akan mempermudah
proses evaluasi. Selain menghindari pembicaraan out of topic, rancangan kegiatan
evaluasi akan menciptakan pembahasan intens selama kegiatan evaluasi.
Hal-hal semacam desain evaluasi seperti apa yang akan dilaksanakan, agar
data-data apa saja yang diperlukan, tahap-tahap kerja apa yang saya yang dilalui,
dan siapa saja yag dilibatkan, serta apa saja yang dihasilkan harus jelas sebelum
melaksanakan kegiatan evaluasi ini.
3. Pengumpulan Data Evaluasi
Setelah rancangan kegiatan evaluasi ditentukan, selanjutnya adalah proses
pengumpulan data yang diperlukan selama kegiatan evaluasi. Dengan proses
pengumpulan data maka proses evaluasi akan berjalan lebih efisien dan efektif.
4. Analisis Data dan Pengolahannya
Jika data yang diperlukan selama proses evaluasi telah dikumpulkan, maka
tahap selanjutnya yaitu menganalisis data yang telah diterima. Data yang terkumpul
kemudian diolah dan dikelompokkan agar mudah dalam proses analisis sehingga
menghasilkan hasil akhir sesuai fakta data. Hasil dari analisis data kemudian
dibandingkan dengan harapan atau rencana awal kegiatan.
5. Pelaporan Hasil Evaluasi
Sebagaimana proses akhir dalam suatu kegiatan, evaluasi berakhir dengan
laporan hasil kegiatan evaluasi. Hal ini penting karena hasil akhir laporan akan
digunakan sebagai dokumen oleh pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu, hasil
evaluasi harus dikomentasikan secara tertulis agar bisa di manfaatkan sebagaimana
mestinya.
G. PENGERTIAN PENILAIAN
Menurut Permendikbud No.23 Tahun 2016, Penilaian adalah proses
pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar
peserta didik. Kegiatan Penilaian memerlukan instrumen penilaian dan teknik
penilaian. Penilaian tidak hanya difokuskan pada hasil belajar tetapi juga pada
proses belajar.
H. FUNGSI PENILAIAN
Penilaian berfungsi mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik.
Selain itu, penilaian dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam belajar.
Penilaian dilakukan melalui 3 pendekatan, yaitu penilaian akhir pembelajaran
(assessment of learning), penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning)
dan penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning). Penilaian akhir
pembelajaran adalah penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran
selesai. Penilaian untuk pembelajaran merupakan penilaian dilakukan selama
proses pembelajaran berlangsung dan digunakan sebagai dasar untuk melakukan
perbaikan proses belajar mengajar.
I. EVALUASI DAN PENILIAIAN PENDIDIKAN ISLAM
Evaluasi dalam wacana keislaman terdapat beberapa padanan kata. Kata-
kata tersebut adalah; al-hisab yang berarti perkiraan, penafsiran, perhitungan. Al-
bala’ yang berarti percobaan dan pengujian, Al-hukm yang berarti pemutusan, Al-
qadha yang berarti keputusan, Al-nazhr yang berarti penglihatan dan al-imtihan
yang berarti pengujian (Ramayulis, 1994).
Penilaian dalam pendidikan islam berarti seperangkat tindakan atau proses
untuk menetukan nilai sesuatu yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Kata
evalauasi jika dihubungkan dengan pendidikan, maka dapat diartikan sebagai
proses atau upayaa penilaian atau penaksiran akan kemajuan, pertumbuhan,
perkembangan dalam suatu program pendidikan, terutama yang bersangkutan
dengan kemajuan dan perkembangan peserta didik dan proses belajar mengajar di
sekolah. Dengan diadakan evaluasi dalam ranah pendidikan maka dapat diketahui
tingkat keberhasilan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran,
sehingga dapat diketahui kelemahan dan kekurangan dalam proses mengajar
yang telah dilaksanakannya, baik dalam hal yang menyangkut materi, fasilitas,
sarana dan prasarana, bahkan dengan lingkungan sekolah (Nata, 2010).
Jika dihubungkan dengan pendidikan Islam, maka evaluasi itu berarti suatu
kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan di dalam pendidikan
islam, al-wahab (Al-Salam & Al-Wahab, 1418) menyatakan bahwa evaluasi atau
taqwim itu adalah sekumpulan kegiatan-kegiatan pendidikan yang menentukan
atas suatu perkara untuk mengetahui tercapainya tujuan akhir pendidikan dan
pengajaran sesuai dengan program-program pelajaran yang beraneka ragam
(Ramayulis, 1994).
Evaluasi menurut pendidikan islam ialah cara atau upaya penilaian
tingkah laku peserta didik berdasarkan perhitungan yang bersifat menyeluruh,
meliputi aspek-aspek psikologis dan spiritual, karena pendidikan islam tidak hanya
melahirkan manusia didik yang berilmu saja atau bersikap religius saja namun juga
manusia didik yang memiliki keduanya yakni manusia didik yang berilmu serta
bersikap religius, beramal baik dan berbakti kepada tuhan serta masyarakat (Nata,
2010). Dengan demikian evaluasi yang diterapkan pendidikan islam bukan hanya
sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insedental, melainkan
merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu dengan terencana, sistematik,
berdasarkan tujuan yang jelas dan komprehensif mencakup keseluruhan aspek yang
ada dalam siswa baik secara psikologis, religius maupun segi keilmuan (Suharna,
2016).
KELEMBAGAAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian lembaga pendidikan islam
Lembaga pendidikan islam adalah wadah atau tempat berlangsungnya
proses pendidikan islam yang bersamaan dengan proses pembudayaan dan itu
di mulai dari lingkungan keluarga seperti dalam firman Allah dalam Qs. At-
Tahrim ayat 6 yang artinya :”Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu
dan kelurgamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang di perintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang di perintahkan.”
Pada ayat ini di perintahkan untuk memberi peringatan dakwah pada
keluarga.
B. Sejarah dan Perkembangan Pondok-Pesantren
Pondok pesantren merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata
pondok dan pesantren. Kedua kata ini memiliki makna yang berbeda. Pondok
dalam bahasa Arab funduk yang berarti tempat singgah, sedangkan pesantren
adalah lembaga pendidikan Islam yang dalam pelaksanaan pembeajarannya tidak
dalam bentuk klasikal. Jadi, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam
nonklasikal yang peserta didiknya disediakan tempat singgah atau pemondokan1.
Menurut Lathiful Khuluq,2 pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisonal
yang sudah ada sejak sekitar abad XIII M. Dalam perkembangannya, pesantren
menjadi lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang subur di daerah
pedesaan atau di daerah terpencil.
Pondok Pesantren dalam tinjauan historis pada mulanya merupakan
lembaga pendidikan penyiaran agama Islam konon tertua di Indonesia. Sejalan
dengan dinamika kehidupan masyarakat, fungsi itu telah berkembang menjadi
semakin kaya dan bervariasi, walaupun pada intinya tidak lepas dari fungsi
semula. Berdirinya suatu pesantren mempunyai latar belakang yang berbeda, yang
pada intinya adalah memenuhi kebutuhan masyarakat yang haus akan ilmu. Pada
umumnya diawali karena adanya pengakuan dari suatu masyarakat tentang sosok
kyai yang memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi. Kemudian masyarakat
belajar kepadanya baik dari sekitar daerahnya, maupun luar daerah. Oleh karena
itu mereka membangun tempat tinggal disekitar tempat tinggal kyai. Sedangkan
mengenai asal-usul berdirinya suatu pondok pesantren di Indonesia, dalam
Eksiklopedi Islam disebutkan terdapat dua versi pendapat mengenai asal usul dan
latar belakang berdirinya pondok pesantren di Indonesia.
_______________________
1 Taqiyuddin, Sejarah Pendidikan, Melacak Geologi Pendidikan Islam di indonesia, (Bandung:
Mulia Press, 2008), H. 177-178.
2.Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama Biografi K.H. Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta : LKIS :
2000), h.5.
Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar
daritradisi tarekat. Kedua, pondok pesantren yang kita kenal sekarang ini pada
mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem pesantren yang diadakan dari
orang-orang Hindu Nusantara.
Pada pendapat pertama menjelaskan bahwa penyiaran Islam di
Indonesia pada awalnya banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini
ditandai oleh terbentuknya kelompok-kelompok tarekat yang melaksanakan
amalanamalan dzikir dan wirid-wirid tertentu. Pemimpinnya dinamakan kyai,
yang mewajibkan pengikut-pengikutnya untuk melaksanakan suluk selama empat
puluh hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama dengan anggota tarekat
lain dalam sebuah masjid untuk melaksanakan ibadah-ibadah dibawah bimbingan
kyai. Untuk keperluan suluk ini, para kyai menyediakan ruang khusus untuk
penginapan dan tempat memasak, yang terletak dikiri kanan masjid. Disamping
mengajarkan amalan-amalan tarekat para pengikut ini juga diajarkan kitab-kitab
agama dalam berbagai cabang ilmu pendidikan Islam. Aktifitas yang dilakukan
oleh pengikut tarekat ini kemudian disebut pengajian. Dalam perkembangannya
lembaga ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren.
Para kyai sangat menekankan pentingnya shalat dan zikir sebagai cara
utama dalam meningkatkan kehidupan spiritualitas seseorang. Shalat dan dzikir
pada dasarnya menyebut-nyebut nama Tuhan untuk melepaskan ketertarikan
dirinya dengan alam duniawi, dan menyadari hakikatnya sebagai makhluk Allah.
Kyai Syansuri Badawi (Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng) menjelaskan
bahwa para kyai mengikuti tradisi Imam Malik yang mengajarkan bahwa seorang
muslim yang mempelajari syari’ah Islam tetapi melupakan aspek tasawuf, akan
menjadi munafik. Seorang Muslim yang mempelajari tasawuf tetapi mengabaikan
syariah akan Kafir Zindiq, dan seorang Muslim mempelajari kedua-duanya
(syari’ah dan tasawuf) akan memperoleh kesempurnaan dalam keislaman.
Sedangkan pada pendapat yang kedua berdasarkan fakta bahwa jauh
sebelum Islam datang ke Indonesia lembaga pesantren sudah ada di negeri ini.
Pendidikan pesantren pada masa itu dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan
ajaran-ajaran agama Hindu dan tempat membina kader-kader penyebar Hindu.
Fakta lain mengatakan bahwa pesantren bukan berakar dari tradisi Islam, karena
tidak ditemukan lembaga pesantren di negeri Islam lainnya. Sementara ditemukan
dalam masyarakat Hindu dan Budha seperti di Indian, Myanmar dan Thailand.
Pendapat diatas diperkuat oleh dikatakan oleh Nurcholish Madjid,
secara historis, lembaga pesantren telah dikenal lebih luas dikalangan masyarakat
Indonesia pra Islam. Islam datang dan tinggal mengislamkan. Dengan kata lain,
pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung
makna keaslian Indonesia (indigenous), lantaran lembaga yang merupakan
pesantren ini sebenarnya sudah ada sejak masa kekuasaan Hindu Budha.
Menurut Hasbullah, pesantren di Indonesia memang tumbuh dan
berkembang pesat pada abad 19. Di Jawa terdapat tidak kurang 1.853 pesantren,
dengan jumlah santri tidak kurang dari 16.500 santri. Jumlah tersebut belum
termasuk pesantren-pesantren yang berkembang di luar Jawa seperti di Sumatra,
Kalimantan dan lain-lain. Sedangkan dari segi materi, perkembangannya terlihat
pada tahun 1920-an di pondok-pondok pesantren Jawa Timur, antara lain seperti:
Pesantren Tebuireng di Jombang, pesantren Singosari di Malang yang
mengajarkan ilmu-ilmu pendidikan Umum, seperti matematika, bahasa Indonesia,
bahasa Belanda, berhitung, ilmu bumi dan sejarah. Pesatnya perkembangan
pesantren pada masa ini antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: (1)
para ulama dan kyai mempunyai kedudukan yang kokoh dilingkungan kerajaan
dan keraton, yakni sebagai penasehat raja atau sultan, oleh karena itu pembinaan
pondok pesantren mendapat perhatian besar dari para raja dan sultan; (2)
kebutuhan umat Islam akan sarana pendidikan yang mempunyai ciri khas
keislaman semakin meningkat, sementara sekolah-sekolah Belanda waktu itu
hanya diperuntukkan untuk golongan tertentu; (3) hubungan transformasi antara
Indonesia dan Mekkah semakin lancar sehingga memudahkan pemuda-pemuda
Islam Indonesia menuntut ilmu di Mekkah.
Berkaitan dengan perkembangan pondok pesantren yang diuraikan di
atas, menurut Hadi Mulyo bahwa sejak tahun 1960-an pondok pesantren
mengalami perkembangan baru dengan melembagakan diri dalam bentuk yayasan.
Berikut adalah contoh tipe pondok pesantren yang berada di bawah naungan
yayasan; pondok pesantren Asy-syafii’iyayah Ibrahimyah (Situbondo, Jawa
Timur). Bahkan, berdasarkan hasil penelitiannya tentang perubahan pondok
pesantren ini, ditemukan lima macam pola pondok pesantren dari yang paling
sederhana sampai yang paling maju. Kelima pondok pesantren yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
Pesantren pola I ialah pesantren yang memiliki unit kegiatan dan elemen
berupa masjid dan rumah kyai. Pesantren ini masih sederhana; kyai menggunakan
masjid atau rumahnya untuk tempat mengaji, dan pengajian tersebut dilaksanakan
secara kontinyu dan sistematik.
Pola kedua, pesantren ini terdiri dari masjid, rumah kyai, dan pondok/ dalam
pola ini pesantren telah memiliki pondok atau asrama yang telah disediakan bagi
para santri yang datang dari daerah lain.
Pola ketiga, pesantren ini terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok dan
madrasah. Pesantren ini telah memakai sistem klasikal, santri yang mondok
mendapat pendidikan madrasah. Adakalanya santri madrasah itu datang dari
daerah pesantren itu sendiri. Pengajar madrasah biasanya disebut guru agama atau
ustadz.
Pola keempat, pesantren ini terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok, madrasah,
dan tempat keterampilan. Pesantren ini disamping elemen-elemen pesantren
sebagaimana pola ketiga juga terdapat tempat-tempat untuk latihan keterampilan
seperti peternakan, kerajinan rakyat, sawah, dan lain sebagainya.
Pola kelima, pesantren ini terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok, madrasah,
tempat keterampilan, universitas, gedung pertemuan, tempat olahraga dan sekolah
umum. Dalam pola yang kelima ini, pesantren merupakan pesantren yang telah
berkembang modern. Di samping itu, bangunan-bangunan yang disebutkan itu
mungkin terdapat pula bangunan-bangunan lain seperti perpustakaan, dapur
umum, ruang makan, kantor administrasi, rumah penginapan tamu, dan
sebhagainya. Terdapat pula sekolah-sekolah umum atau kejuruan seperti SLTA/
SLTP, STM, dan lain sebagainya
B. Sejarah dan Perkembangan Madrasah
Kata madrasah dalam bahasa Arab madrasatun berarti tempat atau
wahana untuk mengenyam proses pembelajaran. Dalam bahasa Indonesia
madrasah disebut dengan sekolah yang berarti bangunan atau lembaga untuk
belajar dan memberi pengajaran. Karenanya, istilah madrasah tidak hanya
diartikan sekolah dalam arti sempit, tetapi juga bisa dimaknai rumah, istana,
kuttab, perpustakaan, surau, masjid, dan lain-lain, bahkan seorang ibu juga bisa
dikatakan madrasah pemula19.
Dari pengertian di atas maka jelaslah bahwa madrasah adalah wadah
atau tempat belajar ilmu-imu keislaman dan ilmu pengetahuan keahlian lainnya
yang berkembang pada zamannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
istilah madrasah bersumber dari Islam itu sendiri. Dalam perkembangannya di
Indonesia, madrasah islamiyah ini merupakan lembaga yang berdiri jauh sebelum
SD, SMP, SMU/ SMK, atau perguruan tinggi/ Universitas. Sebab madrasah
adalah salah satu sarana atau media tempat yang strategis bagi kyai/ ustadz
dengan masyarakat dalam rangka menyampaikan aspek-aspek ajaran islam.
Melalui madrasah juga, para raja muslim, menyampaikan program kenegaraan
dan keagaman yang dianutnya. Sejarah dan perkembangan madrasah akan dibagi
dua periode, yaitu:
1. Periode Sebelum Kemerdekaan
Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berfungsi
menghubungkan sistem lama dengan sistem baru dengan jalan
mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik dan masih dapat
dipertahankan dan mengambil sesuatu yang baru dalam ilmu, teknologi, dan
ekonomi yang bermanfaat bagi kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, isi
kurikulum madrasah pada umumnya adalah apa yang diajarkan di lembaga-
lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, ditambah dengan beberapa materi
pelajaran yang disebut dengan ilmu umum. Latar belakang pertumbuhan
madrasah di Indonesia dapat dikembalikan pada dua situasi yaitu;
a. Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia
Gerakan pembaruan Islam di Indonesia muncul pada awal abad ke
20 yang dilatarbelakangi oleh kesadaran dan semangat yang kompleks
sebagaimana diuraikan oleh Karel A Steenbrink dengan mengidentifikasi
empat faktor yang mendorong gerakan pembaruan Islam di Indonesia,
antara lain;
1). Keinginan untuk kembali kepada Al-Quran dan Hadits
2). Semangat nasionalisme dalam melawan penjajah
3). Memperkuat basis gerakan sosial, budaya, dan politik
3). Pembaruan pendidikan Islam di Indonesia.
Bagi tokoh-tokoh pembaruan, pendidikan kiranya senantiasa dianggap
sebagai aspek yang strategis untuk membentuk sikap dan pandangan keislaman
masyarakat. Oleh karena itu, pemunculan madrasah tidak bisa lepas dari gerakan
pembaruan Islam yang dimulai oleh usaha beberapa orang tokoh-tokoh intelektual
agama Islam yang selanjutnya dikembangkan oleh organisasiorganisasi Islam.
b.Respon pendidikan Islam terhadap kebijakan pendidikan Hindia Belanda
Pertama kali Belanda datang ke Nusantara hanya untuk berdagang,
tetapi karena kekayaan alam Nusantara yang sangat banyak maka tujuan
utama untuk berdagang berubah untuk menguasai wilayah Nusantara dan
menanamkan pengaruh Nusantara sekaligus dengan mengembangkan
pahamnya yang terkenal dengan semboyan 3G yaitu, Glory (kemenganan
dan kekuasaan), Gold (emas atau kekayaan bangsa Indonesia), dan Gospel
(upaya selibisasi terhadap umat Islam di Indonesia).
Pada perkembangan selanjutnya di awal abad ke-20 atas pemerintah
Gubernur Jenderal Van Heutsz sistem pendidikan diperluas dalam bentuk sekolah
desa, walaupun masih diperuntukkan terbatas bagi kalangan anak-anak
bangsawan. Namun pada masa selanjutnya, sekolah ini dibuka secara luas untuk
rakyat umum dengan biaya yang murah. Dengan terbukanya kesempatan yang
luas bagi masyarakat umum untuk memasuki sekolah-sekolah yang
diselenggarakan secara tradisional oleh kalangan Islam mendapat tantangan dan
saingan berat, terutama karena sekolahsekolah pemerintah Hindia Belanda
dilaksanakan dan dikelola secara modern terutama dalam hal kelembagaan,
kurikulum, metodologi, sarana, dan lain-lain.
Perkembangan sekolah yang demikian jauh dan merakyat menyebabkan
tumbuhnya ide-ide di kalangan intelektual Islam untuk memberikan respon dan
jawaban terhadap tantangan tersebut dengan tujuan untuk memajukan pendidikan
Islam. Ide-ide tersebut muncul dari tokoh-tokoh yang pernah mengenyam
pendidikan di Timur Tengah atau pendidikan Belanda. Mereka mendirikan
lembaga pendidikan baik secara perorangan maupun secara kelompok/ organisasi
yang dinamakan madrasah atau sekolah. Madrasahmadrasah yang didirikan
tersebut antara lain:
1). Madrasah (Adabiyah School). Madrasah ini didirikan oleh syekh Abdullah
Ahmad pada tahun 1907 di Padang Panjang. Belum cukup satu tahun madrasah
ini gagal berkembang dan dipindahkan ke Padang. Pada tahun 1915 madrasah
ini mendapat pengakuan dari Belanda dan berubah menjadi Hollands Inlandshe
School (HIS).
2). Sekolah Agama (Madras School). Didirikan oleh syekh M. Thaib Umar di
Sungayang, Batusangkar pada tahaun 1910. Madrasah ini pada tahun 1913
terpaksa ditutup karena alasan kekurangan tempat. Namun pada tahun 1918,
Mahmud Yunus mendirikan Diniyah School sebagai kelanjutan dari Madrasah
School.
3). Madrasah Diniyah (Diniyah School). Madrasah Diniyah didirikan pada
tanggal 10 Oktober 1915 oleh Zainuddin Labai El Yunisiy di Padang Panjang.
Madrasah ini merupakan madrasah sore yang tidak hanya mengajarkan
pelajaran agama tetapi pelajaran umum.
4). Madrasah Muhammadiyah. Madrasah ini tidak diketahui berdirinya dengan
pasti, namun diperkirakan berdiri pada tahun 1918. Yang didirikan oleh
organisasi Muhammadiyah.
5). Arabiyah School. Madrasah ini didirikan pada tahun 1918 di Ladang Lawas
oleh Syekh Abbas. Madrasah-madrasah di atas merupakan pionir dalam
pendirian madrasahmadrasah lain di berbagai daerah lainnya untuk melakukan
pembaruan pendidikan Islam di Indonesia.
2. Periode Sesudah Kemerdekaan
Setelah kemerdeaan Indonesia, kemudian pada tanggal 3 Januari 1946
dibentuklah Departemen Agama yang akan mengurus masalah-maslah
keberagaman agama termasuk di dalamnya pendidikan, khususnya madrasah.
Namun pada perkembangan selanjutnya madrasah walaupun sudah berada di
bawah naungan Departemen Agama tetapi hanya sebatas pembinaan dan
pengawasan saja. Keadaaan ini masih berlangsung sampai dengan
dikeluarkannya SKB 3 Menteri tanggal 24 maret 1975, yang berusaha
mengembalikan ketertinggalan pendidikan Islam untuk memasuki mainstream
pendidikan Nasional. Kebijakan ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi
madrasah, karena pertama, ijazah dapat mempunyai nilai yang sama dengan
sekolah umum yang sederajat, kedua, lulusan sekolah madrasah
dapatmelanjutkan ke sekolah umum yang setingkat lebih tinggi, dan yang
ketiga, siswa madrasah dapat pindah ke sekolah umum yang setingkat. Dengan
SKB tersebut, madrasah memperoleh definisi yang semakin jelas sebagai
lembaga pendidikan yang setara dengan sekolah sekalipun pengelolaannya
tetap berada di bawah DEPAG.
PENDIDIKAN ISLAM DAN PENGEMBANGAN ILMU
PENGETAHUAN DAN PERADABAN MANUSIA
A. pendidikan Islam
Islam adalah agama global dan universal, yang bertujuan untuk menghadirkan risalah
peradaban Islam yang sempurna dan menyeluruh, baik secara spirit, akhlak maupun materi. Di
dalamnya ada aspek duniawi dan ukhrawi yang saling melengkapi. Keduanya merupakan satu
kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, utuh dan integral. Universalitas atau globalitas Islam
menyeru semua manusia kepada kebenaran, tanpa memandang suku, bangsa, warna kulit dan
perbedaan lainnya.
Disamping itu, Islam juga agama pembebasan, diantara misi penting Islam adalah
membela, menyelamatkan, membebaskan, memuliakan dan melindungi orang-orang tertindas.
Dengan kata lain, Islam adalah agama yang tujuan dasarnya adalah membangun literasi moral
masyarakat terhadap nilai-nilai persaudaraan yang global, kesamaan hak (equality), dan keadilan
sosial (social justice).
Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks Islam inheren dengan
konotasi istilah “tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib” yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga
istilah ini mengandung makna yang mendalam menyangkut manusia dan masyarakat serta
lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah-
istilah itu pula sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam: informal, formal dan non
formal.
Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai suatu proses penyiapan
generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang
diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
Dari berbagai literatur terdapat berbagi macam pengertian pendidikan Islam. Menurut Athiyah
Al-Abrasy, pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna
dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola pikirnya
teratur dengan rapi, perasaannya halus, profesiaonal dalam bekerja dan manis tutur sapanya.
Sedang Ahmad D. Marimba memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah
bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum islam menuju kepada terbentuknya
kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Sedangkan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah suatu proses
penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode dan sistem penamaan secara
bertahap, dan kepada manusia penerima proses dan kandungan pendidikan tersebut.
Dari definisi dan pengertian itu ada tiga unsur yang membentuk pendidikan yaitu adanya
proses, kandungan, dan penerima. Kemudian disimpulkan lebih lanjut yaitu ” sesuatu yang
secara bertahap ditanamkan ke dalam diri manusia”. Jadi definisi pendidikan Islam adalah,
pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia,
tentang tempat tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga
membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan
wujud dan kepribadian.
Jadi pendidikan ini hanyalah untuk manusia saja. Kembali kepada definisi pendidikan
Islam yang menurut Al-Attas diperuntutukan untuk manusia saja. menurutnya pendidikan Islam
dimasukkan dalam At-ta’dib, karena istilah ini paling tepat digunakan untuk menggambarkan
pengertian pendidikan itu, sementara istilah tarbiyah terlalu luas karena pendidikan dalam istilah
ini mancakup juga pendidikan kepada hewan. Menurut Al-Attas Adabun berarti pengenalan dan
pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hierarkis sesuai
dengan beberapa tingkat dan tingkatan derajat mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat
dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kepastian dan potensi jasmaniah,
intelektual, maupun rohaniah seseorang.
Dari pengertian Al-Attas tersebut dibutuhkan pemahaman yang mendalam, arti dari
pengertian itu adalah, “pengenalan” adalah menemukan tempat yang tepat sehubungan denagn
apa yang dikenali, sedangkan “pengakuan” merupakan tindakan yang bertalian dengan
pengenalan tadi. Pengenalan tanpa pengakuan adalah kecongkakan, dan pengakuan tanpa
pengenalan adalah kejahilan belaka. Dengan kata lain ilmu dengan amal haruslah seiring. Ilmu
tanpa amal maupun amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Kemudian tempat yang tepat adalah
kedudukan dan kondisinya dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarga, kelompok,
komunitas dan masyarakatnya, maksudnya dalam mengaktualisasikan dirinya harus berdasarkan
kriteria Al-Quran tentang ilmu, akal, dan kebaikan (ihsan) yang selanjutnya mesti bertindak
sesuai dengan ilmu pengetahuan secara positif, dipujikan serta terpuji.2
B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Secara global, dunia mengalami perubahan-perubahan mendasar terutama ditandai oleh
kecendrungan dunia yang semakin terbuka dan tanpa batas (borderless), persaingan
(competitiveness) serta perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat. Teknologi
modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua dan negara, menerobos
berbagai pelosok baik perkotaan maupun pedesaan melalui media audio (radio) dan audio visual
(televisi, internet, dan lainlain). Fenomena modern yang terjadi di era millennium ini popular
dengan sebutan globalisasi. Sebagai akibatnya, media ini dapat dijadikan alat yang sangat ampuh
untuk menanam, atau sebaliknya merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau
mengontrol pola fikir seseorang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan terhadap media
tersebut.
Bagaimanapun juga perkembangan intelektual seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor
kebudayaan dan faktor-faktor lain yang bersifat teologis, sosiologis, maupun politis. Dan juga
sangat dipengaruhi oleh kecanggihan dalam mengadopsi dan mengadaptasikan secara kreatif
fenomena-fenomena yang ada disekitarnya, termasuk perkembangan teknologi dan informasi
yang begitu cepat, semua itu saling berkaitan satu sama lain.
Sebuah produk pemikiran tidak bisa dilepaskan dari latar belakang kehidupan di mana dia
hidup dan lingkungan yang mengelilinginya, yang pada gilirannya akan sangat mempengaruhi
cara pandang dan konsep yang dirumuskan oleh seorang intelektual. Dalam situasi dan kondisi
seperti ini, ketika teknologi muslim jauh tertinggal dari Barat. Usaha mengejar ketinggalan ini
kaum muslim memberi tanggapan pada dua hal, yaitu merumuskan sikap terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi peradaban Barat Modern, dan terhadap tradisi Islam. Kedua
unsur ini masih mewarnai pemikiran muslim sampai sekarang.
Teknologi sebagai cabang ilmu telah memberikan kontribusi yang sangat positif dalam
kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana
bagi kesempurnaan manusia di dunia ini. Tetapi disamping itu, teknologi juga dianggap telah
menghasilkan dampak negatif bagi kelestarian alam semesta, baik berupa pencemaran
lingkungan, bencana alam maupun pada kerusakan moralitas manusia. Namun demikian
persoalan ini tidak berdiri sendiri, karena tentu ada persoalan epistemologis dan ontologis yang
berada di belakangnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya
berbagai penemuan-penemuan dan ide-ide baru. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi
dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong
manusia untuk berkembang lebih maju lagi.
Islam merupakan agama yang memiliki tradisi keilmuan yang besar. Seperti diketahui
dari kenyataan sejarah bahwa peradaban Barat dapat mengalami kemajuan seperti saat ini setelah
mengadopsi keilmuan yang berkembang di dunia Islam. Dan berkat tradisi keilmuan yang
berkembang dalam dunia Islam, Barat dapat mengembangkan kemajuan teknologi yang pesat
seperti hari ini. Peradaban Arab (Islam) telah memberikan kontribusi yang mendalam kepada
peradaban Eropa, dan kenyataan ini dengan amat jelas dicerminkan dalam banyak kata-kata
penting yang dipinjam dari bahasa Arab. Kebanyakan tidak datang langsung ke bahasa Inggris
tetapi dipinjam melalui bahasa Turki, Itali, Spanyol, dan Perancis. 1 Islam pernah besar dan maju
dalam berbagai dimensi kehidupan, baik secara ekonomi, politik, pendidikan, dan lain
sebagainya. Ini disebabkan karena banyaknya jumlah kaum Muslimin yang mempunyai prestasi
dalam berbagai ilmu pengetahuan. Ini adalah sebuah fakta masa lalu. Ini seharusnya menjadi
tantangan bagi kaum Muslimin untuk lebih maju dalam menghadapi era globalisasi dan teknologi
hari ini.
C. Peradaban Manusia
Agama Islam adalah agama yang lengkap, bukan hanya agama akidah dan syariah, tetapi
juga dinul ilmi wa tsaqafah (Agama Ilmu dan Peradaban). Islam lahir di tengah masyarakat
Jahiliyah, dengan dipimpin oleh seorang Nabi yang sangat revolusioner, namun mengubah
tatanan masyarakat secara radikal dari masyarakat jahiliyah yang serba terbelakang, serba bobrok
menjadi masyarakat Islamiyah yang maju dan berperadaban tinggi, yang semula hanya mengenal
suku tetapi kemudian menjadi kiblatnya dunia. Pengaruhnya terbentang luas mulai dari Masyrik
hingga Magrib. Keberhasilan misi Nabi Muhammad itu diakui Allah sendiri bahkan diabadikan
dalam ayat al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:
ٱ ۡﻟ َﻴ ۡﻮ َﻡ ﺃَ ۡﻛ َﻤۡﻠ ُﺖ َﻟ ُﻜ ۡﻢ ِﺩﻳ َﻨ ُﻜ ۡﻢ َﻭﺃَ ۡﺗ َﻤ ۡﻤ ُﺖ َﻋ َﻠ ۡﻴ ُﻜ ۡﻢ ِﻧ ۡﻌ َﻤ ِﺘﻲ َﻭ َﺭ ِﺿﻴ ُﺖ َﻟ ُﻜ ُﻢ ٱ ۡ ِﻹ ۡﺳ َٰﻠ َﻢ ِﺩﻳ ٗﻨ ۚﺎ
1 Peter Davies, Success with Words, Pleasantville. New York: Readers‟s Diges
Association, 1983
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah:3)
Kesempurnaan Islam itu tidak hanya tercermin dalam kelengkapan akidah dan syariah serta
tatanan moral yang dibangun, tetapi juga sistem pengetahuan yang berhasil dikembangkan,
sepanjang sejarah, sehingga terbangunlah peradaban Islam yang besar. Hal itu bisa dibuktikan
bahwa para penemu keilmuan dan teknologi adalah para tokoh ilmuwan Muslim seperti aljabar,
optik, penemuan kompas, alat navigasi, penemu piano dan sebagainya. Hasil penemuan itu
kemudian ditransfer ke Barat dan dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan modern. Kemajuan
Islam setara dengan peradaban Yunani bahkan lebih sempurna. Semuanya ini merupakan hasil
revolusi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, yang membawa perubahan dari zaman
jahiliah ke Islamiah. Apa yang disumbangkan berupa spirit mencari pengetahuan dan moral yang
menuntun perkembangannya.
Kekhasan peradaban yang dikembangkan Islam dengan peradaban lain adalah Islam tidak
pernah memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama dan moral. Sebagaimana ditegaskan oleh
Allah Swt. Dalam firman-Nya:
َﻭ ِﻟ َﻴ ۡﻌ َﻠ َﻢ ٱ ﱠﻟ ِﺬﻳ َﻦ ﺃُﻭﺗُﻮﺍْ ٱ ۡﻟ ِﻌۡﻠ َﻢ ﺃَ ﱠﻧﻪُ ٱ ۡﻟ َﺤ ﱡﻖ ِﻣﻦ ﱠﺭ ِّﺑ َﻚ َﻓﻴُ ۡﺆ ِﻣﻨُﻮ ْﺍ ِﺑ ِﻪۦ َﻓﺘُ ۡﺨ ِﺒ َﺖ َﻟ ۥﻪُ ﻗُﻠُﻮﺑُ ُﻬ ۡۗﻢ
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak
dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya.” (QS. Al-Hajj:54).
Keterkaitan ilmu, iman dan etika itu yang menjiwai dan menginspirasi perkembangan
keilmuan dan peradaban Islam. Ilmu dilandasi dengan keimanan, kemudian dilaksanakan dengan
kerendahan hati bahwa ilmu ini dari Allah dan ditasarufkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan
umat manusia. Dengan prinsip semacam itu, maka ilmuwan yang beriman saat mencapai karir
keilmuannya bukan semakin congkak, bukan semakin feodal, tetapi semakin merunduk hatinya,
baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan sesama manusia. Karena itu sangatlah arif apa yang
diajarkan oleh para pujangga kita, yaitu ilmu padi, semakin tua dan semakin berisi maka semakin
merunduk. Ini sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan al-Qur’an.
Berbeda dengan peradaban Yunani sebelumnya, Islam menekankan tentang pentingnya
iman dan moral dalam ilmu pengetahuan, karena itu tidak ada ulama yang ingin menciptakan
senjata pembunuh massal, karena ada iman dan moral. Sebaliknya kalangan ilmuwan sekuler
sekarang ini baik dari dunia Barat, maupun dari dunia Timur, mereka mengembangkan ilmu
terlepas dengan iman, dan tidak disertai etika ilmu pengetahuan. Dengan tidak ada landasan
moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dengan dalih bahwa ilmu pengetahuan itu
objektif netral tidak terikat oleh etika tertentu, maka ilmu dikembangkan menjadi teknologi dan
industri yang tidak membawa kemaslahatan, tetapi malah membawa malapetaka bagi umat
manusia dengan diciptakan senjata pembunuh massal, bom atom senjata kimia, senjata biologi
dan sebagainya. Doktrin netralitas etika itu bertentangan dengan doktrin Islam yang menekankan
ilmu pengetahuan etis.
Karena itu menurut Islam bahwa seorang di samping perlu berilmu, juga perlu beriman dan
dilandasi dengan kerendahan hati, sehingga mereka tidak congkak baik di hadapan
Tuhan maupun di hadapan umat manusia, sehingga ilmunya benar-benar diabdikan untuk
kepentingan kesejahteraan manusia. Dalam Islam betapa pentingnya moral dan etika itu,
sehingga etika menjadi tujuan utama misi kenabian Muhammad Saw. “aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak manusia”. Penegakan makarimal akhlaq (moral yang paling luhur) dan
sekaligus moralitas yang paling baik (mashalihal akhlaq).
Saat ini Barat menjadi peradaban yang maju menjadi pusat peradaban dunia, sehingga
mempengaruhi seluruh peradaban umat manusia saat ini. Tidak terkecuali perguruan tinggi kita
bahkan hampir seluruh paradigma pendidikan kita, kita adopsi dari peradaban Barat. Padahal
walau banyak kesamaan antara Islam dengan Barat, tetapi tidak bisa diingkari bahwa banyak
perbedaan prinsip, yang ini kadang kita lupakan. Ketika para ilmuwan kita sudah terpukau oleh
kemajuan yang mereka capai, mereka kehilangan daya kritis, bahkan kemudian menjadi sangat
jumud dan konservatif, mereka mempelajari, menerima dan kemudian mengembangkan ilmu
pengetahuan tanpa memperhatikan dengan dasar dan tujuan apa sistem ilmu pengetahuan itu
dirumuskan dan dikembangkan.
Ilmu pengetahuan Barat modern dikembangkan dari abad Renaisans yang menolak
metafisika yang berbasis agama dalam ilmu pengetahuan, mereka hanya berlandaskan pada
filsafat Yunani dan Romawi, hal itu kemudian dikembangkan lebih ekstrem pada masa
Afklarung (zaman pencerahan) yang menempatkan manusia -bukan Tuhan- sebagai pusat segala
sesuatu. Akal berkuasa mutlak dengan menyingkirkan wahyu. Kalau kita lihat dalam
perkembangan akal pemikiran manusia yang dirumuskan ilmuwan Prancis Auguste Comte,
pemikiran manusia itu dibangun mulai pertama dari tahap teologis, mitis, kedua tahap metafisik
dan ketiga mencapai puncaknya pada pemikiran positif. Dalam pemikiran positif itu semua bisa
diindera dan diukur, tidak ada lagi keterkaitan dengan metafisika atau keimanan, dan apa yang
mereka sebut sebagai obyektif itu juga terlepas dari ikatan nilai atau moral.
Perdebatan hubungan ilmu dengan agama dan etika ini sebenarnya merupakan persoalan
klasik, tetapi perlu kita ketengahkan di tengah perkembangan kapitalisme global dewasa ini,
dimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai sarana pengembangan kapitalisme, dan sarana
pendukung imperialisme, bukan untuk menyejahterakan manusia tetapi sebagai sarana untuk
menindas dan menghisap sesama manusia. Saat ini berbagai teori politik dan teori ekonomi yang
dikembangkan koperasi internasional benar-benar dijadikan sebagai sarana penundukan, sarana
hegemoni, bukan sebagai sarana emansipasi manusia. Untuk membebaskan manusia dari
keterbelakangan, ketertindasan dan keterhisapan. Sistem politik kita memecah belah dan
menindas rakyat, sistem ekonomi kita yang hanya peduli pada kelompok elit, telah
menelantarkan kelompok miskin sehingga terjadi kesenjangan sosial dan kemiskinan yang luar
biasa. Ini memang semuanya mendapatkan legitimasi dari sistem keilmuan yang berkembang.
Padahal Islam menegaskan bahwa ilmu pengetahuan haruslah dikembangkan berdasarkan
nilai-nilai agama atau keimanan. Itulah ilmu pengetahuan profetik yang bertujuan membebaskan
manusia dari keterbelakangan dan ketertindasan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera.
Semua aktivitas keilmuan ketika merantau bertahun-tahun melakukan penyelidikan, ketika
berbulan-bulan suntuk di perpustakaan dan laboratorium, mereka jalankan dengan tulus ikhlas,
yang kesemuanya diniati dengan ibadah, maka hasilnya sangat maksimal. Dengan cara pandang
seperti itu maka mereka tidak pernah meminta royalti dari apa mereka kembangkan, karena
memang ilmu bukan komoditi (barang dagangan), tetapi merupakan bentuk kearifan dan
sekaligus kekuasaan yang perlu ditasyarufkan dan diabdikan bagi kepentingan masyarakat dan
negara.
Dengan memahami bahwa antara ilmu, iman dan amal shalih tidak terpisah, maka disitu
dipahami pula bahwa tidak ada dikotomi antar ilmu umum dan ilmu agama Islam, semuanya
terintegrasi dalam keimanan dan moral. Agama Islam memiliki dimensi pengetahuan dan
kepercayaan, sebagai sistem kepercayaan, maka pendidikan Islam haruslah bisa memperkuat
iman seseorang, ilmu agama yang dipelajari hendaklah dalam upaya meningkatkan keimanan
dan ketakwaan. Selanjutnya Islam juga merupakan sistem pengetahuan, karena itu pengajaran
Islam mesti diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan Islam. Karena itu kajian keislaman
jangan sampai mengabaikan persoalan konkrit masalah kehidupan kemasyarakatan yang sedang
penuh dengan problem ini, dimana agama dituntut untuk memberikan kepedulian. Demikian juga
disiplin ilmu-ilmu sosial, humaniora dan eksakta haruslah tetap merupakan sarana pemantapan
keimanan dan sekaligus sebagai metode dan teori untuk menyejahterakan umat manusia.
Walaupun dikatakan Islam itu telah sempurna, tetapi para ulama dan ilmuwan masih punya
tanggung jawab untuk lebih menyempurnakan ilmu pengetahuan itu, mengingat persoalan dan
kebutuhan yang dihadapi manusia berkembang sehingga perlu terus penyempurnaan. Sebab
istilah sempurna itu sendiri bukan statis, tetapi dinamis dan kontekstual, karena itu tugas para
ilmuwan untuk melakukan berbagai riset untuk mengembangkan dan menyempurnakan ilmu
pengetahuan yang sudah ada agar bisa menjadi sarana untuk membantu meningkatkan
kesejahteraan umat manusia, lahir dan batin. Saat ini batin manusia sedang merana dilanda oleh
kehampaan, kecemasan, para ilmuwan diminta untuk mengatasi problem sosial, problem
psikologis yang dihadapi manusia modern dewasa ini, yang semakin teralienasi di tengah
keramaian. Dengan menjalankan amanah ini maka perguruan tinggi tidak akan ditinggalkan
masyarakat, sebaliknya akan berperan sebagai pendorong kemajuan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Ahmad, Drs dan Noor Salimi, 1991, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam,
Jakarta: Bumi Aksara.
Zuhairini, Dra, Dkk, 1992, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Muhammad, M. Ed, 1994, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
Muhaimin, Drs, dan Abdul Mujib, 1993, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung:
Tigenda Karya.
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: al-Ma'arif, 1989).
Hasan Langgulung,1986.
Drs. Hasan Basri, M.Ag. Landasan Pendidikan (Bandung;2013 cet.ke1).
Drs.H. Hamdani Ihsan.
Drs. Hasan Bakri, M.Ag. Landasan Pendidikan.Bandung;2013 Cet.ke-1.
Djamarah syaiful bahri. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (suatu
pendekatan teoritis psikologis). (Jakarta; Rineka Cipta.2005).
Djamarah syaiful bahri. Strategi belajar mengajar. (Jakarta; Rineka Cipta.2010).
Ramayulis,2006.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : kalam mulia.
Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo, 1996
Mastuhu, Dinamika Sistem pendidikan Pesantren; Suatu Kajian tentang Unsur dan
Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta: INIS, 1994
Dawam, Ainur Rofiq, Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Bebasis Pesantren,
Listafariska, 2005
Haedari, Amin dkk, Masa Depan Pesantren. Jakarta: IRD Press, 2004
Muhibbuddin, “Modernisasi Manajemen Pendidikan Pesantren” Mozaik Pesantren,
Edisi 02/Th.I/November 2005
Haedari, Amin dkk, Panorama Pesantren Dalam Cakrawala Moderen. Jakarta: Diva
Pustaka, 2004
Chirzin, M.Habib, “Agama, Ilmu dan Pesantren” dalam M.Dawam Raharjo (ed),
Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3ES
Analisis dan Interpretasi Data pada Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah (Madin),
Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) Tahun Pelajaran 2011-2012
Fathoni, Muhammad Kholid, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional
paradigma Baru, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Hida Karya Agung, 1985
Ramayulis, Ilmu Pendidikanm Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006
Syed Hoosen Nasr, Islamic Life and Thought (London: George Allen and Unwin,
1981).
Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Membiasakan Tradisi Agama
( Jakarta: Depag RI, 2004).
A. Qodri Azizy, Pendidikan (Agama) untuk membangun Etika Sosial (Semarang:
Aneka Ilmu, 2002).
Jenny Teichman, Social Ethic : A Student’s Guide terj. A. Sudiarja SJ (Cet. III;
Yogyakarta: Kanisius, 2003).
Ahmad Barizi dan Syamsul Arifin, Paradigma Pendidikan Berbasis Pluralisme dan
Demokrasi (Malang : UMM Prss, 2001).
Ma’ruf Mushtafa Zuraiq, Sukses Mendidik Anak: Mencipta Generasi Cerdas Moral
dan Spiritual, terj. Badruddin (Jakarta: Serambi, 2003).
Departemen Agama RI. Al-Quran dan Terjemahnya. CV. Nala Dana, 2007.
Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan Islam I. Cet. III; Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dan Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.Cet. I;
Jakarta: Visimedia, 2007.
Arifin, H. M. Ilmu Pendidikan Islam; Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan
Pendekatan Interdisipliner.Cet.II; Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006.
al-Abrasyi, Muhammad Athiyyah. At-Tarbiyah al-Islamiyah. Terjemahan oleh;
Abdulllah Zaky Alkaaf. Cet. I; Bandung: CV Pustaka Setia, 2003.
Umar Tirta Raharja, Lasulo. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Pidarta, Made. 1997. Landasan Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Anomi, Andri. 2015. Hakikat Manusia dan Pendidikan.
Ariningsih, Reni. 2012. Hubungan Manusia Dan Pendidikan.
Diamanti, Fani. 2012. Manusia Dan Pendidikan.
Nik Haryanti. 2014. Ilmu Pendidikan Islam. Malang: gunung samudera.
Kkholil Hasib. Filsafat ilmu dan problem metodologi pendidikan islam.
Universutas Gontor. Vol 9 No 2 Desember 2014
Muhammedi. Perubahan Kurikulum di Indonesia. Vol IV, No 1, januari-juni 2016
Amin Haedari, Transformasi Pesantren: Pengembangan Aspek Pendidikan,
Keagamaan dan Sosial. (Jakarta: LeKDiS & Media Nusantara, 2006) Cet Ke-1.
Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam,
(Bandung: CV. Diponegoro, 1982)
Annahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Bandung: CV.
Diponegoro, 1982)
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2013)
Abudin nata, Filsafat Pendidikan Islam I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, Cet. I,
1997)
Lia Mega Sari Evaluasi dalam Pendidikan Islam January 2019Al-Tadzkiyyah
Jurnal Pendidikan Islam 9(2):211
(https://www.researchgate.net/publication/330190106_Evaluasi_dalam_Pendidika
n_Islam)
Ismail Marzuki* Lukmanul Hakim EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM Dosen
Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Tangerang PDF
setiawati, M.Pd ,dkk, wiwik (2019). Buku Penilaian Berorientasi Higher Order
Thinking Skills , Program PKB melalui PKP Berbasis Zonasi. Direktorat Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan Kemdikbud
Taqiyuddin, Sejarah Pendidikan, Melacak Geologi Pendidikan Islam di indonesia,
(Bandung: Mulia Press, 2008)
Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama Biografi K.H. Hasyim Asy’ari,
(Yogyakarta : LKIS : 2000)
Abu Ahmadi, Filsafat Islam. Semarang: Toha Putra, 1982
Ahmad, Zainal Abidin. Riwayat Hidup Ibnu Rusyd (Averoes) Filosof Islam
Terbesar di Barat. Jakarta: Bulan Bintang, 1975
Al-Ahwani, Ahmad Fuad. Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985
Daudy, Ahmad (ed). Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin
ArRaniry. Jakarta: Rajawali, 1983
-------------------, Segi-segi Pemikiran Falsafi dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang,
1984
Edward, Paul (ed). The Encyclopedia of Philosophy. VOL 1 & 2, New York:
Macmillan
Golshani, Mehdi. Issues in Islam and Science. Tehran: IHCS, 2004
Hanafi, A., Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1976, I.
Ibnu Rusyd, Abu al-Walid. Faslu al-Maqal fima baina al-Hikmati wa al-Syari’ati
min al-Ittisal. Mesir: Dar al-Ma‟arif, 1198
-----------. Bidayatu ‘l-Mujtahid. Jakarta: Bulan Bintang, 1971
-----------. Kaitan Fisafat dengan Syari’at. terj. Ahmad Shodik Noor, Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1996
Al-„Iraqy, Muhammad „Athif. Al-Naz’atu al-‘Aqliyah fi Falsafati Ibnu Rusydi.
Mesir: Dar al-Ma‟arif, 1119 H
Al-Jabiri, M. Abed. Fomasi Nalar Arab, terj. Imam Khoiri. Yogyakarta: Ircisod,
2003
-----------. Kritik Pemikiran Islam, terj. Sunarwoto Dema & Mosiri. Yogyakarta:
Belukar, 2004
Kartanegara, Mulyadi. Panorama Filsafat Islam. Bandung: Mizan, 2005
Leaman, Oliver. An Introduction to Mediaval Islamic Philosophy, Source-book,
Cambridge: Cambrige University Press, 1985
Lewis, B., dkk, The Encyclopaedia of Islam. Tuta Sub, Accide palls, EJB., Leiden
1971
Majid, Nurcholis (ed). Khazanah Intelectual Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984
------------. Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 1987
Mutahhari, Murtada. Perspektif Al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama
(Pengantar Jalaluddin Rahmad). Bandung: Mizan, 1984
Musa, Muhammad Yusuf. Baina al-Din wa al-Falasifah fi Ra’yi Ibnu Rusyd wa
‘l-Falasifati ‘l-Wasiti. Mesir: Dar al-Ma‟arif, 1119
Nasution, Harun. Islam Rasional, Bandung: Mizan, 1996
Negoro, Adi. Kamus pengetahuan Umum. Jakarta: Bulan Bintang, 1952
Othman, Ali Issa. Manusia Menurut Al-Ghazali. Bandung: Pustaka Salam, 1981
Davies, Peter. Success with Words. Pleasantville, New York: Readers‟s Diges
Association, 1983
Shariati, Ali. Tugas Cendikiawan Muslim. Jakarta: Rajawali, 1984
Syamsu, Nazwar. Al-Qur’an Tentang Manusia dan Masyarakat. Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1983
Syarif, M.M. (ed), Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung 1979
---------------. Alam Fikiran Islam (Peranan Umat Islam Dalam Pengembangan Ilmu
Pengetahuan. Bandung: Diponogoro, 1979
Titus, Harol H., dkk. Persoalan-Persoalan Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang, 1984
Urvoy, Dominique., Ibnu Rusyd (Averoes), Routledge, London, 1991