Apa Itu 3R?
kurangi Merupakan kegiatan dimana kita secara
(reduce) sadar mengurangi produksi sampah yang
kita hasilkan. caranya? kurangi konsumsi
kita terhadap barang-barang sekali pakai.
contohnya? kurangi membeli makanan kecil
dalam kemasan, biasakan membawa botol
minum sehari-hari agar mengurangi membeli
air minum dalam kemasan, menggunakan
kantung kain sebagai pengganti kantong plastik
(kresek), dan seterusnya.
guna ulang Memanfaatkan kembali benda-benda yang
(reuse) sudah terpakai secara langsung, baik itu untuk
pemanfaatan yang sama maupun berbeda.
masih ingat cerita pak syahbandar dan taman
berhias pot dari kemasan botol air mineral
bekas?
daur-ulang Kegiatan merubah bentuk sampah sehingga
(reCYCLE) menjadi barang baru sama sekali untuk
kemudian digunakan sesuai fungsi barunya.
contohnya adalah barang-barang hasil kerajinan
dari kemasan berbentuk sachet yang diubah
bentuknya menjadi beraneka ragam tas.
43BAGIAN 2 • MENGELOLA SAMPAH /
Apa Yang Dibutuhkan
untuk mengelola Sampah Dengan Benar?
apa yang DiButuhKan untuK
mengelola sampah Dengan Benar?
1. Kemauan kita sendiri tidak cukup untuk
KEMAUAN mengembangkan pengelolaan sampah yang baik.
BERSAMA Kita tentu dapat melakukan sistem pengelolaan
sampah secara perorangan di rumah kita
masing-masing, hanya saja dampak positifnya
tidak akan maksimal untuk lingkungan kita.
Diperlukan keterlibatan seluruh anggota
dan lapisan masyarakat untuk mendapatkan
hasil yang maksimal. Pengelolaan sampah
tidak cukup dilakukan sendiri-sendiri, semakin
banyak masyarakat yang berpartisipasi dan
bekerjasama untuk mencapai lingkungan
yang bersih dan sehat, maka semakin mudah
pengelolaan sampah yang baik dilakukan.
44 / BAGIAN 2 • MENGELOLA SAMPAH
Apa Yang Dibutuhkan
untuk mengelola Sampah Dengan Benar?
2. Setelah kemauan bersama tercapai,
KESEPAKATAN masyarakat perlu bersama-sama menetapkan
BERSAMA kesepakatan-kesepakatan yang akan mengawal
pelaksanaan sistem pengelolaan sampah.
Kesepakatan ini bertujuan agar seluruh anggota
masyarakat memiliki cara pandang yang sama
tentang tujuan dan tata cara pengelolaan
sampah dan mampu mengawasi pelaksanaannya
agar sesuai dengan peraturan yang disepakati
dan keinginan kolektif.
45BAGIAN 2 • MENGELOLA SAMPAH /
Apa Yang Dibutuhkan
untuk mengelola Sampah Dengan Benar?
3.
PEMBIAYAAN
Sistem pengelolaan sampah yang baik yang tidak bersedia memilah sampah di
membutuhkan pembiayaan, misalnya untuk rumahnya perlu membayar iuran lebih besar
menyediakan wadah sampah, sapu, truk dibandingkan masyarakat yang bersedia
pengangkut sampah, upah bagi para pekerja melakukan pemilahan di rumah.
seperti petugas pengumpul dan pengangkut
sampah, petugas di tempat penampungan Sumber biaya pengelolaan sampah juga bisa
sampah sementara atau penyimpanan terpilah, berasal dari pendapatan yang bersumber dari
petugas pengolah sampah, dan seterusnya. hasil pemanfaatan sampah, seperti kompos,
kreasi daur ulang, penjualan sampah daur
Bagaimana masyarakat mendapatkan dan ulang ke lapak, dsb. Hanya saja, masyarakat
mengelola pendanaan untuk mengelola sampah perlu mengetahui bahwa pendapatan tersebut
mempengaruhi teknis operasional, misalnya biasanya tidak bisa menutupi keseluruhan biaya
pengadaan gerobak ataupun sekat dan juga sistem pengelolaan sampah.
pengadaan tempat pengolahan swadaya di RW
masing-masing. Pembiayaan sistem pengelolaan Jadi, walaupun sampah yang dikelola
sampah ini sebaiknya berasal dari atau mendatangkan hasil, dana yang didapat
ditanggung oleh masyarakat, misalnya melalui sebaiknya tidak dijadikan sumber pembiayaan
iuran. Besar iuran masyarakat tergantung pada utama pengelolaan sampah. Penghasilan ini
tingkat partisipasi masyarakat dalam mengelola akan lebih bermanfaat jika dijadikan sebagai
sampah masing-masing. Misalnya, masyarakat keuntungan dari sistem pengelolaan sampah
bersama.
46 / BAGIAN 2 • MENGELOLA SAMPAH
Apa Yang Dibutuhkan Dalam sistem pengelolaan sampah yang baik,
untuk mengelola Sampah Dengan Benar? organisasi atau lembaga merupakan sekelompok
masyarakat yang memiliki kesadaran untuk
4. mengelola sampah yang dihasilkan dari suatu
ORGANISASI lingkup kawasan. Peran terbesar adalah sebagai
penggerak anggota masyarakat lain di kawasan
tersebut sehingga lebih banyak lagi masyarakat
yang mau berpartisipasi dalam mengelola
sampahnya.
Jika di sebuah kawasan telah ada kelompok
masyarakat yang aktif melakukan kegiatan
kemasyarakatan bersama, maka kelompok
ini dapat dijadikan sebagai lembaga yang
bertanggungjawab untuk pengelolaan sampah
di kawasan tersebut. Kelompok masyarakat
ini misalnya karang taruna, kelompok
keagamaan dan kader posyandu. Lembaga baru
perlu dibentuk apabila belum ada kelompok
masyarakat yang aktif melaksanakan kegiatan
bersama.
ERSERI
47BAGIAN 2 • MENGELOLA SAMPAH /
Nah teman-teman, setelah memahami
pengelolaan sampah pola lama dan
baru, mari kita bertanya pada diri kita
masing-masing:
48 / BAGIAN 2 • MENGELOLA SAMPAH
Apakah dalam Sudahkah kita mulai
keseharian kita masih mengelola sampah
dengan pola 3R?
menjalankan pola
Kumpul-Angkut-Buang?
Adakah hambatan yang
ditemui dalam mencoba
menerapkan pengelolaan
sampah dengan pola 3R?
49BAGIAN 2 • MENGELOLA SAMPAH /
3/
Pemilahan
50 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Kenapa Perlu Memilah Sampah?
KENAPA PERLU
MEMILAH SAMPAH?
Seperti telah dibahas sebelumnya, prinsip Manfaat pemilahan yakni terutama:
utama mengelola sampah yang baik 1. Mengurangi timbulan sampah di TPA.
adalah pemisahan jenis sampah yang bisa 2. Meningkatkan efisiensi pengolahan
dimanfaatkan seawal mungkin agar tidak
tercampur dengan jenis sampah lainnya yang sampah, baik secara kuantitas maupun
akan dibuang. Inilah yang dikenal dengan kualitas pengolahan sampah (pengomposan,
pemilahan. daur ulang). Mengingat hasil pengomposan/
daur ulang dari sampah yang terpilah akan
memiliki nilai/kualitas yang lebih tinggi/
baik karena tidak tercampur dengan jenis
sampah lainnya.
Semakin awal kita memilah sampah, semakin efisien dan murah
biaya pengelolaan sampah kita.
SAMPAH TERPILAH
DENGAN BAIK
– kompos dari sampah mudah terurai
- uang dari sampah daur ulang/pakai ulang
TPA tertata rapi, lingkungan bersih
51BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Bagaimana Cara Memilah Sampah?
Bagaimana Cara
Memilah Sampah?
Pemilahan sampah pada umumnya dilakukan dalam dua langkah, yaitu pemilahan awal dan
pemilahan lanjutan. Dalam pengelolaan sampah yang ideal, pemilahan awal dilakukan di sumber
sampah dan pemilahan lanjutan kemudian dilakukan oleh institusi pengelolaan sampah baik swasta
ataupun milik pemerintah. Pemilahan awal sangatlah mudah dan dapat kita lakukan di mana saja,
baik di rumah, di tempat kerja, di sekolah, atau di manapun kita hendak membuang sampah.
Pemilahan PEMILAHAN PENGOLAHAN
awal LANJUTAN
Di sumber DI TPS
Namun demikian, karena kondisi pengelolaan sampah kita yang saat ini belum ideal, maka seringkali
pemilahan awal belum dilakukan di sumber sampah dan terpaksa dilakukan di institusi-institusi
pengelolaan sampah seperti TPS dan TPA.
PEMILAHAN PEMILAHAN DI TPS/ PEMILAHAN
DI RUMAH TEMPAT PENGOLAHAN TINGKAT KOTA
Menurut PP Nomor 81 Tahun 1. setiap orang pada
2012 Pasal 17, Pemilahan sumbernya;
sampah dilakukan oleh:
2. pengelola kawasan
permukiman, kawasan
komersial, kawasan industri,
kawasan khusus, fasilitas
umum, fasilitas sosial, dan
fasilitas lainnya; dan
3. pemerintah kabupaten/kota.
52 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
PEMILAHAN AWAL/
PEMILAHAN DI SUMBER
Pemilahan awal atau pemilahan di sumber adalah langkah pertama yang sangat penting
untuk pengelolaan sampah ideal. Pemilahan tahap ini sangat mudah dan telah diatur dalam
Peraturan Pemerintah sebagai panduan bagi warganya.
Untuk penerapan di rumah, kita dapat menyediakan empat
buah wadah sebagai tempat sampah terpilah kita dengan
menggabungkan wadah untuk sampah yang dapat diguna-
ulang dan sampah yang dapat didaur-ulang dalam satu
wadah. Hal ini dapat mempermudah kita tanpa mengurangi
fungsi dari pemilahan awal.
PP Nomor 81 tahun 2012 a. sampah yang mengandung
Pasal 17: bahan berbahaya dan
beracun serta limbah bahan
Pemilahan dilakukan melalui berbahaya dan beracun;
kegiatan pengelompokan
sampah menjadi paling sedikit 5 b. sampah yang mudah terurai;
(lima) jenis sampah yang terdiri c. sampah yang dapat
atas:
digunakan kembali;
d. sampah yang dapat didaur
ulang; dan
e. sampah lainnya.
53BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
Paga bagian 2, kita sudah membahas pemilahan secara sekilas, sekarang mari kita segarkan kembali
ingatan kita tentang jenis wadah sampah yang sebaiknya kita sediakan untuk pemilahan yang baik.
Wadah Sampah Wadah Sampah
Mudah Terurai. Sulit Terurai.
Berisikan sampah sisa makanan atau sampah Berisikan sampah seperti plastik, kertas,
kemasan makanan, kemasan air mineral, logam,
taman berupa dedaunan. Sampah jenis ini dapat karet, ataupun kaca yang sudah tidak terpakai.
Sampah jenis ini dapat diolah dengan proses
diolah menjadi kompos ataupun energi. daur ulang atau juga bisa digunakan ulang oleh
orang lain yang masih membutuhkan.
Wadah Sampah Sisa Wadah Sampah B3.
atau Sampah Lainnya.
Berisikan sampah bahan berbahaya dan
Berisikan sampah yang sudah tidak dapat beracun, yang apabila dibuang begitu saja
diolah lagi dan terpaksa dibuang ke Tempat akan membahayakan manusia dan lingkungan.
Pembuangan Akhir. Contoh sampah jenis Contoh sampah dalam kategori ini adalah
ini adalah tisu bekas, popok, pembalut, dan baterai, lampu, obat nyamuk, dan kemasan
permen karet bekas. pembersih kamar mandi.
54 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
Wadah untuk tempat sampah terpilah ini tidak perlu mahal dan bagus, cukup gunakan barang-
barang yang dapat ditemui sehari-hari untuk menjadi wadah terpilah ini.
Satu hal yang perlu diperhatikan, wadah untuk sampah mudah terurai dan sampah sisa sebaiknya
kedap air.
Berikut contoh barang-barang yang dapat digunakan untuk wadah terpilah.
KANTONG SAMPAH KARUNG GONI KANTONG SAMPAH TONG SAMPAH
untuk sampah mudah untuk sampah sulit untuk sampah sisa BEKAS
terurai. terurai. untuk sampah B3.
Setelah kita sukses melakukan pemilahan tahap awal
di rumah kita, tentu kita tidak rela apabila sampah kita
diangkut seperti biasa sebelum kita memilah.
Apa sih yang terjadi dengan empat wadah terpilah kita ini?
Mari perhatikan gambar-gambar di halaman berikut.
55BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
Sampah Mudah Terurai setelah Jika menggunakan cara individual, ada
beberapa metode yang bisa digunakan, antara
terpilah dapat langsung diolah dengan cara lain Takakura, Biopori dan Pupuk Cair. Jika
individual (di rumah tangga) ataupun komunal memilih menggunakan cara komunal, ada
(di komunitas/masyarakat). beberapa metode juga yang dapat diterapkan,
antara lain dengan Teknik Windrow, Drum
Berputar, ataupun Biogas.
INDIVIDU
TAKAKURA BIOPORI PUPUK CAIR
Sampah KOLEKTIF
Mudah
TerurAI
WINDROW DRUM BERPUTAR BIOGAS
Hasil dari pengolahan sampah mudah terurai sebagian besar
adalah kompos yang baik sebagai agen penyubur tanah dan
tanaman. Dengan membuat kompos, kita dapat mengurangi
sampah sekaligus menghijaukan lingkungan kita. Lebih lanjut
tentang kompos dapat dilihat pada Bagian 4 buku ini.
56 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
Sampah Sulit Terurai dapat Sekarang pun kita dipermudah dengan
kehadiran Bank Sampah. Di bank sampah kita
mengalami perjalanan yang cukup menarik dan dapat menukarkan sampah sulit terurai kita
bercabang setelah kita pilah. Apabila di daerah menjadi tabungan dalam nilai uang, praktis
kita telah tersedia pengangkutan terpilah bukan?
dari pemerintah maka sampah tersebut akan
langsung dibawa ke TPS pemerintah. Namun, Terlepas dari jalur distribusi yang berbeda-
apabila di daerah kita belum ada pengangkutan beda, sampah sulit terurai pada umumnya
terpilah, jangan berkecil hati, sampah ini dapat akan mengalami pemilahan lanjutan baik di
kita serahkan ke pemulung, di mana pemulung TPS pemerintah, bandar/lapak, ataupun bank
menyalurkannya ke bandar atau lapak di daerah sampah. Selanjutnya, sampah sulit terurai yang
sekitar. telah terpilah lebih lanjut akan diolah sesuai
karakter bahannya dan bisa menjadi barang
baru untuk kita pakai kembali.
PENGANGKUTAN KE TPS
Sampah PEMULUNG KE BANDAR/LAPAK
SULIT
PEMILAHAN LANJUTAN
TerurAI
BANK SAMPAH
57BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
Sampah lainnya, atau biasa juga disebut sebagai
sampah sisa, hanya memiliki satu tujuan
akhir, yaitu TPA (Tempat Pemrosesan Akhir)
di mana sampah tersebut diletakkan dalam
lapisan geomembran dan kemudian dilapisi
dengan tanah agar tidak mencemari lingkungan
sekitarnya.
SAMPAH
SISA
SAMPAH DIANGKUT KE TPA
SUASANA PEMROSESAN DI SEBUAH TPA
PENIMBUNAN TPA DENGAN GEOMEMBRAN
58 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun atau terbatas, beberapa produsen telah
menggencarkan program EPR (Extended
Sampah B3 biasanya berupa barang- Producer Responsibility). Melalui program ini
mereka menerima pengembalian produk-
barang elektronik dan kimia. Apabila di produk mereka yang sudah rusak atau tidak
lingkungan kita sudah ada pengangkutan resmi terpakai lagi. Beberapa produsen perangkat
sampah B3 dari pemerintah, kita dapat lang- elektronik (lampu, ponsel, baterai, dsb)
sung menyerahkan ke petugas pengangkut. menerima pengembalian ini di gerai-gerai
Namun, apabila belum terdapat pengangkutan, servis mereka.
ada beberapa cara yang dapat kita lakukan:
Bila tidak terdapat satupun cara yang dapat
• Serahkan ke bank sampah terdekat. kita terapkan, maka simpanlah terlebih dahulu
Apabila bank sampah tersebut menyatakan sampah B3 kita dalam wadah yang tertutup
menerima sampah B3. dengan baik.
• Kembalikan ke poin-poin pengumpulan
yang disediakan oleh produsen penghasil
produk tersebut. Walaupun masih
BANK SAMPAH PENGANGKUTAN KE
SAMPAH PENGOLAHAN LIMBAH
B3
POIN PENGUMPULAN OLEH PRODUSEN
59BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
Huaa, setelah mencoba
melakukan pemilahan, ternyata
sampah yang kita hasilkan
beragam sekali. Terkadang jadi
bingung sampah apa ditempatkan
pada wadah yang mana..
Ya, sampah yang kita hasilkan memang
sangat beragam dan justru beberapa
diantaranya masih dapat digunakan
kembali. Tabel berikut ini dapat menjadi
pedoman kita dalam menempatkan sampah
pada wadah yang tepat. Tetap ingat, barang
yang masih dapat digunakan, jangan buru-
buru dibuang. Biasakan perilaku guna-
ulang untuk mengurangi sampah kita.
60 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
JENIS SAMPAH MUDAH SULIT SISA B3
TERURAI TERURAI
Teh celup
Tulang ayam
Dedaunan basah
Isi perut ikan
Kulit buah
Kulit telur
Kulit udang
Roti
Santan
Sisa daging
Sisa nasi
Sisa sayuran
Susu basi
Dedaunan kering
Boneka bekas
Botol kaca
Botol plastik kemasan air mineral
Botol sampo
Bungkus rokok
Gelas plastik kemasan air mineral
Isi hecter
Kain perca
Kaleng minuman ringan
Kantong kresek
Kardus
Kemasan bekas isi ulang minyak
Kemasan mie instan
Kemasan minuman bubuk
Mainan bekas
Selebaran/pamflet/undangan
Spidol
Styrofoam
61BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Awal/Pemilahan Di Sumber
JENIS SAMPAH MUDAH SULIT SISA B3
TERURAI TERURAI
Baju bekas
Pemantik
Radio rusak
Beling
Paku
Pisau
Buku tulis bekas
Kertas HVS bekas
Kertas koran
Kertas koran bekas bungkus makanan
Kertas minyak bungkus makanan
Korek api
Kotak nasi (kardus)
Plastik bekas jajanan
Popok
Puntung rokok
Rambut
Tisu
Kondom
Pembalut
Permen Karet Bekas
Baterai
Kabel
Kaleng obat nyamuk
Kemasan bekas oli
Lampu bekas
Obat
Obat nyamuk bakar
Ponsel bekas
62 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Di Kawasan
PEMILAHAN DI KAWASAN
Pengelolaan sampah pola baru yang ideal Dikarenakan sampah tidak terpilah dari
meliputi pemilahan awal di sumber (rumah/ sumber, maka sampah akan datang ke TPS
kantor/fasum fasos) dan pemilahan lanjutan dalam keadaan tercampur, oleh karena itu pada
di TPS. Namun apabila pemilahan awal TIDAK metoda ini membutuhkan prasarana penunjang
DAPAT dilakukan di sumber, maka pemilahan seperti bangunan beratap, peralatan sederhana
awal dapat dilakukan ditingkat kawasan. untuk pemilahan, dan tentu saja para petugas
pemilah sampah.
Pemilahan awal di tingkat kawasan dapat
dilakukan secara terpusat di TPS (Tempat
Pengolahan Sampah 3R) yang terdapat pada
suatu kawasan perumahan, perbelanjaan,
perkantoran ataupun industri.
63BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Di Kabupaten/Kota
PEMILAHAN
DI KABUPATEN/KOTA
Apabila sampah tidak dapat dipilah sama sekali baik di sumber ataupun di tingkat kawasan, maka
pemilahan terpaksa dilakukan pada tingkat kabupaten atau kota. Perlu diingat, situasi ini akan
memerlukan biaya untuk memilah yang sangat tinggi.
Metoda ini dilakukan secara terpusat, berlokasi di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) atau SPA
(Stasiun Peralihan Sementara). Teknis pemilahan di kabupaten/kota mirip dengan pemilahan di
kawasan. Hanya saja, dengan jumlah sampah yang jauh lebih besar, tentu diperlukan petugas yang
lebih banyak dan sarana serta prasarana pendukung yang lebih lengkap.
64 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Lanjutan
PEMILAHAN LANJUTAN
Pemilahan lanjutan dilakukan terhadap sampah yang telah dipilah di sumber dan pada umumnya
difokuskan pada sampah dalam wadah sulit terurai atau sampah yang dapat didaur-ulang.
Pemilahan lanjutan bertujuan agar masing-masing material dapat didaur-ulang sesuai sifatnya dan
dibagi antara lain menjadi kategori plastik, kertas, logam dan kaca.
Pemilahan lanjutan biasanya mengambil tempat di TPS ataupun bank sampah. TPS atau Tempat
Penampungan Sementara adalah tempat di mana sampah dikumpulkan sebelum disalurkan ke
tempat-tempat pengolahan ataupun tempat pembuangan akhir, TPS dapat ditemui dalam bentuk
formal maupun informal.
TPS Formal TPS Informal
(Milik Pemerintah) (Bandar/Lapak)
Merupakan TPS resmi milik pemerintah Meskipun merupakan sektor informal, pada
yang dikelola oleh Dinas Kebersihan Daerah dasarnya lapak dan bandar melakukan kegiatan
dan berfungsi sebagai tempat pengumpulan yang sama dengan TPS resmi milik pemerintah.
sampah dari area pemukiman dan perkantoran Lapak dan bandar berfungsi sebagai tempat
sebelum dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir singgah sementara sampah-sampah yang
yang lebih besar ataupun ke pabrik-pabrik yang dikumpulkan pemulung untuk kemudian dipilah
membutuhkannya sebagai bahan baku. dan dijual ke bandar yang lebih besar ataupun
ke pabrik-pabrik yang membutuhkannya
sebagai bahan baku.
65BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Lanjutan
Sementara itu Bank Sampah juga melakukan Setiap TPS dan Bank Sampah memiliki
pemilahan lanjutan, namun dengan metode pemilahan lanjutan yang berbeda-
mekanisme yang berbeda dan lebih beragam beda, disesuaikan dengan akses yang mereka
dari TPS. Perbedaan pertama terletak dari miliki ke unit pengolahan sampah. Namun,
sumber sampah. Bank sampah mendapatkan rata-rata TPS dan Bank Sampah memilah
sampah langsung dari tangan pertama, yaitu dengan sangat rinci untuk memenuhi
nasabahnya. Sementara itu, TPS, baik formal permintaan dari unit pengolahan.
maupun informal, mendapat sampah dari
tangan kedua, yaitu petugas pengangkut Salah satu contoh pemilahan lanjutan yang
untuk TPS formal atau pemulung untuk telah berjalan dan terdokumentasi dengan
TPS informal. Perbedaan kedua, tidak baik adalah pemilahan di Bank Sampah
seperti pada TPS, sampah yang masuk ke Malang. Bank Sampah Malang memilah
dalam Bank Sampah akan dihitung sebagai sampah sulit terurai menjadi 71 jenis yang
tabungan dari penyetor dalam bentuk uang. dikelompokkan menjadi 4 bagian besar, yaitu
Perbedaan ketiga terletak pada ruang bahan plastik, kertas, logam, dan kaca. Tabel
penyimpanannya. TPS selalu memiliki berikut memuat sebagian besar pemilahan
ruangan penyimpanan. Sedangkan, Bank yang dilakukan di Bank Sampah Malang,
Sampah tidak diwajibkan untuk memiliki disertai dengan gambar contoh-contoh jenis
ruang penyimpanan. Salah satu contohnya sampah yang dipilah sebagai acuan untuk
adalah Bank Sampah komunitas di mana mempermudah kita memahami pemilahan
pengurus dan nasabah bertemu pada lokasi lanjutan.
dan waktu yang telah ditentukan kemudian
pengurus langsung menjual sampah yang
terkumpul ke lapak/bandar terdekat.
66 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Plastik
plastik
NO. G KLASIFIKASI KODE
1 Daun P1
PP Bening (Toko)
Daun P2
2
PP Bening Kotor Daun P3
3 Daun P4
PP Sablon
4
PP Blok
67BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Plastik
NO. G KLASIFIKASI KODE
5 Daun P5
Naso (Kresek)
Daun P6
6
PE Bersih Daun P7
7 Daun P8
PE Kotor
Daun P9
8
Plastik Sunlight Besar
9
PE Slopan (Bimoli)
68 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Plastik
NO. G KLASIFIKASI KODE
10 Gls P10
PP Aqua Gelas Bersih
Gls P11
11
PP Aqua Gelas Kotor Gls P12
12 Botol P13
Gelas Ale-ale
Botol P14
13
PET Botol Bening Bersih
14
PET Botol Bening Kotor
69BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Plastik
NO. G KLASIFIKASI KODE
15 Botol P15
PET Botol Warna Bersih
Botol P16
16
PET Botol Warna Kotor Inj P17
17 Inj P18
PP Bak Warna
Blw P19
18
PP Bak Hitam
19
HDPE Blowing
70 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Plastik
NO. G KLASIFIKASI KODE
20 Blw P20
Jurigen
21 PVC P21
Kulit Kabel
22 PVC P22
Paralon
23 Blw P23
LDPE Infus
24 Inj P24
Karpet/Talang Plastik/ Jas hujan
71BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Plastik
NO. G KLASIFIKASI KODE
25 Inj P25
Tutup Aqua Galon
Inj P26
26
Tutup Botol Warna PVC P27
27 PP P28
Tali PET
PP P29
28
Selang Air
29
Glangsi Utuh 50kg/biji
72 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Plastik
NO. G KLASIFIKASI KODE
30 PP P30
Glangsi Utuh 25kg/biji
PP P31
31
Glangsi Utuh 10kg/biji PP P32
32 PVC P33
Glangsi Rusak
Krs P34
33
Mika 73BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
34
Plastik Keras
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Plastik
NO. G KLASIFIKASI KODE
35 Krs P35
Plastik Keras Bening
36 P36
CD/DVD/MP3/Kaset PS
36 P37
Galon PC Rusak Utuh/Tidak putus/biji
38 P38
Gembos Sepatu/Sendal
74 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Kertas
PEMILAHAN LANJUTAN SAMPAH KERTAS
NO. G KODE NO. G KODE
1 K1 5 K5
Buku Tulis Majalah/Duplek
2 K2 6 K6
HVS Karton/kardus Bagus
3 K3 7 K7
Koran Kertas Campur
4 K4 8 K8
Kertas semen Kertas Buram/CD
75BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Logam
PEMILAHAN LANJUTAN SAMPAH LOgAM
NO. G KODE NO. G KODE
1 S1 1 KN
Seng Omplong Kuningan T1
T2
2 S2
Seng Biasa 2
Tembaga Biasa
3 BS1
Besi Super 3
Tembaga Super
4 BS2
Besi Biasa/Monel Maspion
76 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Pemilahan Lanjuta Pemilahan Lanjutan Sampah Logam
NO. G KODE
1 A1
Slender Cop/Seker
2 A6
Tutup Botol Alumnium
3 A7
Perunggu
4 A8
Stenlis Monel
77BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
Pemilahan Lanjutan Pemilahan Lanjutan Sampah Kaca
PEMILAHAN LANJUTAN SAMPAH KACA
NO. JENIS BOTOL DAN KODE NO. JENIS BOTOL DAN KODE
KACA KACA
1 B1 5 B5
Botol kecil/buah Botol bensin/buah
2 B2 6 B6
Botol Marjan/buah Botol bir/buah
3 B3 7 B7
Botol orson/buah Botol coca cola/buah
4 B4 8 B8
Botol kecap/buah Beling/KG
78 / BAGIAN 2 • PEMILAHAN
Sangat menarik bukan pemilahan yang telah Silahkan lanjutkan ke Bagian 4 dan 5 untuk
dilakukan oleh Bank Sampah Malang? Dengan mengetahui lebih lanjut apa saja yang
pemilahan serinci ini, tentunya lingkungan kita diperlukan dalam melakukan pengolahan
lambat-laun akan menjadi asri dan bebas dari sampah di masyarakat.
sampah. Apakah kita bisa melakukan hal ini di
area kita?
Semakin awal kita memilah, maka semakin
mudah kita memilah tanpa membutuhkan
peralatan khusus. Oleh karena itu dalam
kegiatan memilah sampah, komitmen
lebih penting daripada sarana/prasarana.
Sudahkah kita berkomitmen untuk
melakukan pemilahan?
Apabila sudah berkomitmen, mari kita
berdiskusi untuk menentukan langkah-
langkah apa yang diperlukan untuk
memulai memilah sampah di rumah dan
di lingkungan masyarakat kita.
79BAGIAN 3 • PEMILAHAN /
4/
Mari
Mengolah
Sampah!
80 / BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH!
Apa Bedanya Mengelola Sampah dan Mengolah Sampah?
Apa Bedanya
Mengelola Sampah dan
Mengolah Sampah?
Pada pembicaraan sehari-hari, kita sering tertukar antara istilah
“mengelola” dengan “mengolah” sehingga terkadang membuat
kebingungan pada saat penerapan di lapangan.
Mengolah sampah adalah bagian dari Mengolah sampah merupakan tahap penting
kegiatan mengelola sampah. Pengolahan dapat dari pengelolaan sampah dengan pola
dilakukan dengan mengubah karakteristik, baru, yang memungkinkan berkurangnya
komposisi dan jumlah sampah dengan maksud jumlah sampah, menjadikan sampah dapat
agar sampah dapat diproses lebih lanjut, dimanfaatkan sebagai sumber daya, atau
dimanfaatkan, atau dikembalikan ke media dikembalikan ke media lingkungan dengan
lingkungan secara aman bagi manusia dan aman.
lingkungan.
Jadi dapat disimpulkan:
Contoh dari mengolah sampah antara lain apabila kita mengolah sampah belum tentu
membuat kompos dari sampah mudah terurai kita mengelola sampah, tapi apabila kita
dan membuat kerajinan daur ulang dari sampah mengelola sampah maka sudah pasti kita
sulit terurai. mengolah sampah.
`
Mengelola sampah merupakan keseluruhan
rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengurangi sampah melalui kegiatan 3R
dan pelaksanaan 5 kegiatan utama yakni;
pemilahan, pengumpulan, pengangkutan,
pengolahan, dan pemrosesan akhir.
Menurut UU Nomor 18 Tahun
2008 tentang Pengelolaan
Sampah Pasal 22:
Pengolahan dilakukan
dalam bentuk mengubah
karakteristik, komposisi, dan
jumlah sampah
81BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH! /
Apa Manfaat Mengolah Sampah?
ApA MAnfAAt
MengolAh SAMpAh?
123
Mengurangi dampak Mendapatkan kegunaan atau Mengurangi jumlah sampah
merugikan sampah, seperti fungsi tambahan yang dapat yang dibuang ke TPA (Tempat
bau tak sedap dan penyebaran digunakan dalam kehidupan Pemrosesan Akhir). Jika
penyakit serta kesan kumuh. sehari-hari. sampah mudah terurai diolah
menjadi kompos, sampah sulit
terurai didaur-ulang, maka
sisa sampah yang dibuang ke
TPA hanya sampah yang tidak
bisa diolah
N
tpA
N tpA
NG
SAMpAh SISA
SAMpAh B3 pengolAhAn
lIMBAh B3
NG
82 / BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH!
Bagaimana Cara Mengolah Sampah Mudah Terurai? Pengomposan
BAgAIMAnA CARA
MengolAh SAMpAh
MUdAh teRURAI?
Beberapa jenis sampah dapat kita olah sendiri, antara lain sampah mudah terurai yang berupa
sisa makanan dan sampah taman.
pengoMpoSAn
Pengomposan merupakan salah satu cara mendaur ulang jenis sampah yang mudah terurai.
Karena komposisi sampah di Indonesia sebagian besar merupakan sisa-sisa makanan,
khususnya sampah dapur, maka teknik pengomposan menjadi salah satu jalan keluar untuk
mengurangi jenis sampah yang mudah terurai semakin menumpuk di TPA.
Pengomposan merupakan proses dekomposisi atau penguraian yang dilakukan oleh
mikroorganisme terhadap sampah yang sifatnya mudah terurai atau mudah terurai.
Apakah pengomposan SAMpAh
itu sulit? oRgAnIK
Jawabannya bisa iya dan bisa tidak. mikroba UDARA (O2)
Pengomposan terasa sulit apabila KELEMBABAN SUHU
kita tidak mengetahui faktor- NUTRISI (C/N)
faktor yang mempengaruhi kompos FAKTOR LAIN
dan cara mengompos yang tepat. (WAKTU, pH)
Pengomposan menjadi mudah apabila
kita sudah mengetahui enam faktor yang KoMpoS
mempengaruhi pengomposan.
Nah, apa saja sih enam faktor
pengomposan itu?
Mari simak gambar di samping:
83BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH! /
Bagaimana Cara Mengolah Sampah Mudah Terurai? Pengomposan
Untuk menjadi kompos, sampah mudah terurai atau mudah terurai harus
melewati proses yang di dalamnya terdapat enam faktor berikut:
ikroba dapat diperoleh dari kompos yang sudah jadi
ataupun lapisan tanah yang gembur (humus).
Makhluk hidup dengan ukuran sangat kecil Nah karena mikroba ini adalah pekerja kita
yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop, yang akan mengolah sampah menjadi kompos,
seperti bakteri dan jamur. Mikroba ini maka kita perlu memperhatikan kelangsungan
berperan sebagai pemakan sampah dan hasil hidup mikroba kita, yang membawa kita ke
pencernaan dari mikroba ini adalah kompos. faktor 2 sampai 6.
Semakin banyak mikroba, semakin baik proses
pengomposan yang akan terjadi. Mikroba ini
UDARA dengan mikroba jenis lain (yang tidak baik
untuk komposting). Oleh karena itu pastikan
Kompos yang kita buat mengeluarkan kompos kita mendapat asupan udara yang
aroma yang tidak sedap? Itu disebabkan cukup, baik dengan menempatkan pada wadah
kompos tersebut kekurangan udara. Proses yang belubang ataupun dengan pengadukan
pengomposan membutuhkan udara layaknya teratur sehingga selalu terjadi pertukaran
manusia membutuhkan udara. Proses seperti udara.
ini disebut sebagai proses aerob. Kebalikan dari
proses aerob adalah proses anaerob (proses
yang tidak membutuhkan udara) yang berjalan
elembaban akan terburai digenggaman kita, apabila bakal
kompos terlalu basah maka ia akan meneteskan
Proses pengomposan berlangsung optimal air pada saat diremas. Jika bakal kompos
dalam kelembaban antara 50-70%. Keadaan kita terlalu kering, percikkan air secukupnya,
terlalu lembab akan menghambat udara untuk sedangkan jika bakal kompos kita terlalu basah,
masuk, sedangkan keadaan terlalu kering juga tambahkan sekam atau bubuk gergaji, atau
tidak disarankan karena mikroba pun butuh tanah kering untuk menyebarkan kelembaban
air untuk bertahan hidup. Lalu bagaimana cara kompos.
untuk mengetahui kadar kelembaban kompos
kita sudah cukup sesuai? Caranya mudah saja,
ambil segenggam bakal kompos kita dan remas
genggaman kita, apabila terlalu kering maka ia
84 / BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH!
Bagaimana Cara Mengolah Sampah Mudah Terurai? Pengomposan
Suhu oleh mikroba. Kisaran suhu pada saat proses
pengomposan adalah antara 45-70 derajat
Proses penguraian materi organik oleh mikroba celcius.
akan menyebabkan suhu yang cukup tinggi
yang biasa disebut sebagai fase aktif atau
fase dimana mikroba sedang giat-giatnya
memakan sampah mudah terurai kita. Suhu
lama kelamaan akan turun secara bertahap
menandakan fase pematangan kompos, dimana
telah cukup banyak sampah yang dicerna
Nutrisi
Setelah mendapatkan cukup udara dan air,
mikroba juga membutuhkan nutrisi untuk
membuatnya tumbuh dan berkembang. Nutrisi
untuk mikroba adalah kandungan karbon dan
nitrogen yang berada pada sampah mudah
terurai. Perbandingan kedua unsur ini akan
berubah saat komposting berakhir.
pH & Ukuran PARtikel mempercepat proses penguraian. Ukuran
Sampah partikel sampah juga mempengaruhi waktu
yang diperlukan untuk pengomposan, mikroba
Faktor lainnya adalah waktu, derajat keasaman, akan lebih mudah memakan sampah mudah
dan ukuran partikel sampah organik. Rata-rata terurai apabila ukuran sampah tersebut kecil-
proses pengomposan memakan waktu 6-8 kecil, maka ada baiknya melakukan pencacahan
minggu. Perbedaan dalam waktu pengomposan sampah sebelum kita dimasukkan ke dalam
dapat terjadi berdasarkan jenis sampah mudah komposter.
terurai yang dikomposkan serta ada atau
tidaknya unsur tambahan yang mempercepat
proses komposting seperti EM4. EM4 adalah
efektif mikroorganisme lokal yang berperan
sebagai mikroorganisme tambahan untuk
85BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH! /
Pengomposan Skala Individual - Takakura
Pengomposan Skala Individual— Takakura
Model pengomposan Takakura cocok untuk:
Sisa buah-buahan Sisa sampah taman
Sisa sayur-sayuran
Sisa nasi
Metode pengomposan dengan Takakura (dalam jumlah sedikit)
biasanya dilakukan untuk skala individu di
lingkup rumah tangga. Tempat komposnya sampah basah di kota itu. Sehingga muncul ide
sangat praktis yaitu keranjang dan tidak untuk mendaur ulang sebagian sampah rumah
memerlukan biaya yang mahal. Metode tangga sejak di dapur. Maka, dirancanglah
kompos Takakura pertama kali diperkenalkan sebuah metode pembuatan kompos yang bisa
di Surabaya pada tahun 2004 oleh seorang dilakukan di dapur. Syaratnya harus higienis,
Jepang bernama Mr. Takakura. Waktu itu, tidak berbau dan tidak jorok, mengingat dapur
beliau mencoba mencari solusi terhadap merupakan tempat mengolah makanan (http://
penumpukan sampah yang mudah terurai atau www.alamtani.com/pupuk-kompos-takakura.
html).
Tutup keranjang sampah
Kain hitam berpori
Keranjang sampah plastik
Lapisan kardus
Bantal sekam atas
Sampah organik
Kompos jadi
Bantal sekam bawah
Gambar Alat dan bahan untuk komposter Takakura (kiri) dan susunan bagian dalam keranjang Takakura
(Sumber: ESP, 2006)
86 / BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH!
Pengomposan Skala Individual - Takakura Alat Dan Bahan Komposter Takakura
a
1 KERANJANG 2 BANTAL SEKAM
Alat yang dibutuhkan pertama tentunya adalah Selanjutnya adalah bantal sekam. Bantal
keranjang. Agar proses aerob berlangsung sekam ini diletakkan di bawah dan di atas
dengan baik, pilihlah keranjang yang berlubang, keranjang. Fungsi bantal sekam adalah sebagai
dan lapisi dengan kardus. Fungsi kardus ini tempat mikrobakteri yang akan mempercepat
adalah untuk membatasi gangguan serangga, pembusukan sampah, menyerap air dan bau
mengatur kelembaban, dan berpori-pori sampah karena bantal sekam berongga besar,
sehingga dapat menyerap serta membuang dan sifat sekam yang kering akan memudahkan
udara dan air. pengendalian kelembaban sampah yang akan
menjadi kompos.
3 BAHAN KOMPOS JADI 4 KAIN HITAM BERPORI
Berikutnya merupakan bahan kompos jadi. Alat yang diperlukan setelah itu adalah kain
Media kompos jadi yang berasal dari sampah hitam berpori. Pilih kain penutup yang serat
rumah tangga diisikan 1/2 sampai 2/3 bagian atau berpori besar. Tutupkan kain di atas bantal
keranjang. Kompos yang ada dalam keranjang sekam agar lalat tidak dapat bertelur dalam
berfungsi sebagai aktivator/ragi bagi sampah keranjang, serta mencegah metamorfosis
baru. (perubahan) dari belatung menjadi lalat, karena
lalat tidak dapat keluar dan mati di dalam
5 TUTUP KERANJANG 3 keranjang.
Terakhir adalah tutup keranjang. Tutup
keranjang bagian atas sebagai pemberat agar
tidak diganggu oleh predator (pemangsa)
seperti kucing/anjing. Pilih tutup yang
berlubang agar udara dapat keluar masuk.
Disadur dari modul pelatihan pengelolaan sampah berbasis masyarakat ESP_USAID, 2006.
87BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH! /
Pengomposan Skala Individual - Takakura Teknik Pengomposan dengan Keranjang Takakura
Teknik Pengomposan
dengan Keranjang Takakura
12
Cacah sampah sayur sebelum dimasukkan ke Masukkan sisa makanan yang akan
dalam keranjang. dikomposkan ke dalam keranjang, usahakan
sampah yang akan dimasukkan adalah sampah
baru.
34
Tekan-tekan atau masukkan sampah ke dalam Tutup dengan bantal sekam hingga rapat untuk
materi kompos dalam keranjang atau aduk- mencegah lalat dan binatang lain masuk.
aduk sehingga materi sampah tertutup oleh
kompos dan keranjang.
5
Tutup dengan kain hitam. Berdasarkan modul pelatihan pengelolaan sampah berbasis
masyarakat ESP_USAID, 2006.
88 / BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH!
Pengomposan Skala Individual — Lubang Resapan Biopori
Pengomposan Skala Individual—
Lubang Resapan Biopori (LRB)
Jika kita mendengar Lubang Resapan Biopori LUBANG RESAPAN
(LRB) maka yang terlintas dipikiran kita adalah BIOPORI
lubang yang berfungsi untuk meningkatkan
resapan air dan lubang untuk mengatasi
genangan air. Namun ternyata ada satu lagi
fungsi LRB ini, yaitu untuk pengomposan
sampah yang mudah terurai. LRB merupakan
lubang berbentuk silider/silindris yang
dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan
diameter lubang sebesar 10–30 cm, dan lubang
kedalaman sekitar 100 cm atau tidak melebihi
kedalaman muka air tanah.
Sumber: http://www.biopori.com/resapan_biopori.php
Sampah yang mudah terurai dapat dimasukkan ke dalam lubang ini dengan tujuan
untuk menghidupkan mikroorganisme tanah, seperti cacing. Cacing tanah ini nantinya
akan membentuk pori-pori atau terowongan dalam tanah (biopori) yang berfungsi
untuk mempercepat resapan air ke dalam tanah secara horizontal.
ø 10-30 cm Sampah organik
80 - 100 cm
BIOPORI terbentuk
karena aktivitas
mikroorganisme
tanah
Pengomposan
89BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH! /
Pengomposan Skala Individual — Lubang Resapan Biopori
Dengan penerapan LRB ini kita dapat
merasakan berbagai manfaat, yaitu sebagai
berikut:
Meningkatkan daya Melalui keberadaan LRB, secara langsung
resapan air akan menambah bidang resapan air. Hal
ini disebabkan karena adanya aktivitas
mikroorganisme tanah yang membentuk lubang
biopori dimana aktivitas mikroorganisme tanah
ini dapat sekaligus memelihara keberadaan
lubang tersebut. Oleh karena itu bidang
resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya
dalam meresapkan air, sehingga secara tidak
langsung cadangan air bersih akan meningkat.
Mencegah genangan Melalui LRB, keberadaan genangan air dapat
dan banjir dicegah, sehingga masalah yang diakibatkan
Mengubah sampah genangan air seperti mewabahnya penyakit
mudah terurai malaria, demam berdarah, dan kaki gajah dapat
menjadi kompos dicegah.
Sampah mudah terurai yang dimasukkan ke
dalam lubang merupakan aktivator untuk
mengaktifkan LRB. Sampah ini berfungsi
sebagai sumber energi bagi mikroorganisme
tanah untuk melakukan kegiatannya dalam
proses penguraian, sehingga akibat aktivitas
mikroorganisme dalam mengurai sampah
mudah terurai ini maka kompos akan terbentuk.
Kompos dapat dipanen setiap periode tertentu
dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik
pada berbagai jenis tanaman.
90 / BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH!
Pengomposan Skala Individual — Lubang Resapan Biopori
Membantu Melalui LRB, sampah mudah terurai dapat
mengurangi menjadi kompos. Sehingga emisi gas metana
pemanasan global. (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang
dihasilkan sampah dapat berkurang diemisikan
ke atmosfer sebagai Gas Rumah Kaca (GRK)
penyebab pemanasan global.
Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh
jika LRB diterapkan. Kita dapat membuat
LRB ini pada tempat-tempat tertentu, bisa
di pekarangan rumah masing-masing, di
pekarangan pekantoran, taman kota, dan
sebagainya. Namun lokasi pembuatan LRB ini
harus dibuat di tempat yang bebas dari lalu-
lalang orang terutama anak-anak.
Oleh sebab itu penempatannya harus diatur
sedemikian rupa. Karena fungsi utamanya adalah
sebagai peresap air, maka penempatan LRB ini
sebaiknya diletakkan dimana air secara alami
akan cenderung mengalir ke tempat dimana LRB
berada. Air dapat diarahkan dengan membuat alur
dan LRB dibuat pada dasar alur tersebut.
91BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH! /
Pengomposan Skala Individual — Lubang Resapan Biopori
12
3
1 > LRB pada dasar saluran pembuang air hujan
2 > LRB di sekeliling pohon
3 > LRB pada batas tanaman
Sumber: http://www.biopori.com/resapan_biopori.php
Pada Gambar (1) dapat dilihat bahwa LRB dapat dibuat pada dasar saluran pembuangan air hujan.
Ini bisa diterapkan pada saluran pembuangan air hujan di rumah masing-masing. Fungsi saluran
ini akan berubah menjadi saluran peresap air hujan. Dengan demikian paling tidak kita akan
mengurangi jumlah air yang dialirkan di saluran air umum dan tdak menjadi salah satu penyumbang
genangan atau bahkan banjir di tempat lain. Selain itu pada Gambar (2) dan (3) LRB dapat juga
dibuat di sekitar pohon pada pekarangan dan pada batas tanaman. Hal ini menguntungkan
karena di sekitar pohon dan tanaman akan tercipta suatu siklus hara yang baik, dimana proses
penguraian oleh mikroorganisme tanah yang dilakukan pada sampah di dalam LRB akan membantu
memberikan kesuburan tanah di sekitar pohon dan tanaman tersebut.
92 / BAGIAN 4 • MARI MENGOLAH SAMPAH!